Proposal Skrpsi

  • View
    73

  • Download
    13

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Unit Peremeuk Batubara

Text of Proposal Skrpsi

TOSHIBA

Judul Penelitian

Analisis Produktivitas Unit Peremuk Batubara (Coal Crushing Plant) Untuk Pencapaian Target Produksi di PT. X

Latar Belakang

Seiring dengan meningkatnya permintaan batubara oleh para konsumen yang merupakan tantangan terhadap perusahaan pertambangan batubara untuk memenuhi permintaan dengan melakukan usaha pencapaian target batubara yang dihasilkan dengan memperhatikan berbagai hal. Salah satunya adalah unit coal crushing plant atau unit peremuk batubara yang bertugas untuk mengolah batubara.

Pada kegiatan penambangan, keberadaan unit peremuk sangat dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan operasi penambangan. Walaupun demikian dalam penggunaannya perlu dilakukan perencanaan secara tepat agar kemampuan unit peremuk dapat digunakan secara optimal serta mempunyai tingkat efisiensi yang tinggi.

Unit peremuk adalah tahapan mekanik pertama dalam proses kominusi. Proses peremukan harus dilakukan dengan perencanaan secara tepat. Hal ini yang menjadi salah satu dasar untuk dilakukannya analisis terhadap unit peremuk. Analisis tersebut meliputi tingkat kesediaan dan penggunaan alat, efektifitas alat, efisiensi alat serta produktifitas alat peremuk batubara.

Dalam mencapai target produksi permasalahan yang dihadapi adalah adanya penundaan waktu baik yang dapat dihindari maupun tidak. Contoh seperti alat pengolahan batubara yang sedang breakdown, hopper penuh, sedang hujan, dan atau alat pengolahan batubara sedang maintenance. Terhadap keadaan ini tentunya diperlukan optimalisasi untuk mendapatkan waktu kerja yang produktif yang diinginkan.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari Penelitian ini adalah :

Mengetahui produktivitas crushing plantMengetahui faktor-faktor hambatan produksi crushing plantMengetahui kemampuan produktivitas optimum crushing plantMengoptimalkan waktu kerja produktif. Perumusan Masalah

Masalah yang diamati antara lain :

Mengetahui produktivitas crushing plant batubara PT. XMenganalisis faktor-faktor yang menghambat produksi crushing plantMengetahui apakah kegiatan yang berlangsung dapat memenuhi target produksi yang telah ditetapkanOptimalisasi waktu kerja produktif dengan mengurangi penundaan waktu yang dapat dihindari.Ruang Lingkup / Batasan MasalahRuang lingkup penelitian dibatasi pada masalah:Evaluasi produktivitas crusherMenghitung produksi crusherPenelitian dilakukan dengan mengamati waktu hambatan pada proses peremukan batubara

Tinjauan Pustaka

Kegiatan Pengolahan Batubara

Tujuan Proses PengolahanDikaitannya dengan rencana pemasaran dan operasi penambangan batubara, maka pengadaan proses pengolahan batubara (Coal ProcessingPlant/CCP) bertujuan untuk mengolah batubara menjadi produk batubara (product area) yang sesuai dengan permintaan pasar. Dengan mempertimbangkan beberapa hal, misalnya kualitas atau mutu cadangan batubara, metode penambangan yang terpilih, serta kualitas permintaan pasar, maka proses pengolahan batubara, meliputi ruang lingkup proses sebagai berikut:

Melakukan reduksi ukuran (size reduction) melalui penggerusan (crushing)Melakukan pemisahan (clasification) melalui pengayakan (screening)Melakukan pencampuran (blending) batubaraMelakukan penimbunan/penumpukan batubara (stockpilling)Melakukan penanganan limbah air (water pollution treatment).Desain Pengolahan Batubara

Dalam upaya mengolah batubara menjadi produk akhir yang diminati konsumen perlu rancangan pengolahan yang komprehensif agar pelayanannya memuaskan. Rancang bangun unit pengolahan didasarkan pada faktor-faktor antara lain: target atau permintaan pasar rata-rata, kualitas batubara dari tambang (raw coal), spesifikasi produk akhir yang diminta, ketersediaan lahan untuk area pengolahan termasuk tempat penimbunan (stockpile) dan ketersediaan air disekitar area pengolahan. Semua faktor tersebut diatasakan menentukan jenis, dimensidan kapasitas peralatan atau mesin pengolahan yang dibutuhkan serta flowsheet pengolahan yang sesuai dengan memperhatikan unsur keselamatan kerja.

Unit Pengolahan Batubara (Coal Processing Plant)

Prosedur pengolahan memperlihatkan tahapan proses pengolahan batubara mulai dari penimbunan raw coal di lokasi pabrik pengolahan sampai produk akhir. Unit peremukan (crushing plant) merupakan rangkaian peralatan mekanis yang digunakan untuk mereduksi ukuran batubara hasil penambangan. Pengolahan yang dilakukan pada saat ini hanya dilakukan pengecilan ukuran (peremukan). Batubara dari pit atau yang berada di ROM stockpile diloading dengan wheel loader, kemudian dimasukkan ke hopper untuk selanjutnya akan dilanjutkan dengan proses peremukan untuk mereduksi ukuran batubara. Outlet crusher selanjutnya melalui belt conveyor akan dibawa ke mine stockyard.Penimbunan BatubaraRun Of Mine (ROM) StockpileRun of mine stockpile adalah tempat penumpukan sementara batubara hasil dari penambangan yang berada dekat dengan lokasi hooper, jika pada saat unit pengolahan sedang memproses suatu produk batubara dengan kualitas tertentu maka batubara yang tidak sama kualitasnya untuk sementara di tumpuk di ROM stockpile. Atau jika terjadi kerusakan pada unit pengolahan sehingga unit pengolahan tidak dapat bekerja. Dan selain itu proses pengangkutan batubara dari ROM stockpile sangat mempengaruhi kelancaran supplay batubara menuju ke hooper, apalagi jika ada masalah pada pengangkutan batubara dari pit.

Stockpile

Stockpile berfungsi sebagai penyangga antara pengiriman dan proses, sebagai persediaan yang baik, strategis dan meminimmalkan gangguan yang bersifat jangka pendek atau jangka panjang. Selain itu juga berfungsi tempat pencampuran dan pembagian menurut jenis batubara agar sesuai dengan permintaan yang disyaratkan. Disamping tujuan tersebut, stockpile juga digunakan untuk mencampur batubara agar homogenasi sesuai dengan kebutuhan. Homogenasi bertujuan untuk menyiapkan produk dari satu tipe material dimana fluktuasi dalam kualitas batubara dan distribusi ukuran disamakan. Dalam proses homogenisasi ada dua tipe yaitu blending dan mixing.

Stockpile Management

Stockpile management adalah suatu proses pengaturan atau prosedur yang terdiri dari pengaturan kuantitas, pengaturan kualitas dan prosedur penumpukan batubara di stockpile. Stockpile management merupakan suatu upaya agar batubara yang diproduksi dapat dikontrol, baik kuantitasnya maupun kualitasnya. Selain itu stockpile management juga dimaksudkan untuk mengurangi kerugian yang mungkin muncul dari proses handling atau penanganan batubara di stockpile. Seperti misalnya terjadi penyusutan kuantitas batubara baik yang diakibatkan oleh erosi pada musim hujan, debu pada saat musim kering, atau terbuang yang disebabkan oleh terbakarnya batubara di stockpile. Kegiatan stockpile management meliputi :

Pengaturan Penimbunan Batubara

Merupakan pengaturan bagaimana cara menyimpan (menimbun) batubara di stockpile yang aman, baik bagi kualitas batubaranya maupun aman dari kontaminasi. Dalam mengatur penimbunan batubara di stockpile, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah desain stockpile, metode penimbunan dan pembongkaran, serta sistem penimbunan.

Desain StockpilePada umumnya stockpile batubara berbentuk kerucut dan limas terpancung. Bentuk kerucut biasanya terbentuk dari curahan belt conveyor, dan hanya digunakan sementara pada stockpile. Ditinjau dari panjang bidang miring dan sudut yang dibentuk, limas terpancung dianggap lebih efisien untuk menyimpan batubara dalam waktu lama.

Desain dari suatu stockpile ditentukan oleh beberapa hal berikut ini :

Kapasitas penyimpanan batubara

Kapasitas penyimpanan batubara di stockpile menentukan desain suatu stockpile. Stockpile yang berkapasitas kecil dengan kapasitas besar mungkin berbeda khususnya dalam penyiapan lahan dan preparasi lahan tersebut. Pada stockpile dengan kapasitas yang besar, dasar stockpile harus benar-benar kuat dan kokoh menahan beban yang besar. Kalau tidak, base stockpile tersebut akan turun di bagian tengah, dan juga akan ikut menurunkan batubara yang ada di atasnya. Dalam kondisi seperti itu akan terjadi kehilangan batubara di stockpile.

Banyaknya jenis product yang akan dipisahkan pada stockpileBanyaknya jumlah product yang akan dipisahkan menentukan luasan stockpile yang diperlukan. Semakin banyak jumlah product yang dipisahkan semakin besar areal yang diperlukan.Fasilitas dan sistem penumpukan dan pemuatan

Alat yang digunakan dalam sistem penumpukan dan pemuatan batubara di stockpile juga mempengaruhi desain atau area stockpile yang digunakan. Penggunaan stacker-reclaimer dalam sistem penumpukan dan pemuatan, membuat desain dan sistem penumpukan memanjang. Stacker-reclaimer juga mempermudah dalam pemisahan batubara yang memiliki kualitas yang berbeda dan sekaligus juga mempermudah dalam blending batubara-batubara tersebut.

Metode Penimbunan dan Pembongkaran Batubara

Metode penimbunan yang biasa digunakan pada stockpile batubara yaitu :Cone

Batubara secara berkesinambungan ditumpuk pada satu titik. Metode ini sangat tidak efisien untuk blending batubara dan dapat menimbulkan segregasi yang tinggi.

Strata

Batubara yang ditumpukan membentuk lapisan horizontal, sehingga dengan metode ini blending dapat dilakukan dengan cukup baik dan batubara dapat tercampur dengan merata. Metode ini terdiri dari :

Chevron, sistem yang paling simple dimana hanya diperlukan satu titik tengah pada stockpileWindrow, sistem ini menggunakan pola baris segitiga dan bentuk belah ketupat

Chevron-Windrow, sistem ini adalah gabungan dari kedua jenis diatas dan akan menghasilkan segregasi ukuran butir yang sangat minimum, tapi jenis alat yang digunakan sangat mahal.

Gambar 6.1 Metode Penimbunan pada Batubara

Sedangkan dalam pembongkaran timbunan terdapat beberapa macam metode, yaitu :

FIFO (First in, first out), dimana batubara yang terlebih dahulu ditimbun akan dibongkar terlebih dahulu

LIFO (Last in, first out), dimana batubara yang terakhir ditimbun akan dibongkar terlebih dahulu

SIRO (Service in random order), dimana batubara yang ditimbun akan dibongkar dengan urutan yang tidak tentu atau secara acak.

Metode pembongkaran timbunan batubara yang baik adalah mengikuti metode FIFO. Apabila metode pembongkaran mengikuti metode FIFO, maka akan didapatkan waktu penimbunan yang minimal. Sehingga degradasi ukuran serta waktu yang tersedia unutk reaksi pembentukan air asam dan swabakar selama di timbunan akan semakin sedikit.

Kontrol Terhadap Penyimpanan Batubara Produk

Berdasarkan kenyataan bahwa batubara adalah suatu kumpulan dari mineral yang beragam, maka untuk mendapatkan kualitas batubara dan kualitas produk hasil yang baik, perlu dilakukan kegitan control ataupun monitoring secara berkala. Selain itu yang menjadi pertimbangan yaitu bila waktu penyimpanan menjadi terlalu lama, maka kondisi batubara akan menurun. Karena itu, perlu dicari titik temu antara tuntutan pembeli dengan kondisi batubara hasil produksi. Kegiatan tersebut meliputi :

Monitoring quantity (inventory) dan movement batubara di stockpile, meliputi recording batubara yang masuk (coal in) dan recording batubara yang keluar (coal out) di stockpile, termasuk recording batu bara yang tersisa (remnant of coal)

Menghindari batubara terlalu lama di stockpile, dapat dilakukan dengan penerapan aturan FIFO (first in fist out)

Mengusahakan pergerakan batu bara sekecil mungkin di stockpile, termasuk diantaranya mengatur posisi stock dekat dengan reclaimer, monitoring effectivity dozing di stockpile dengan maksud mengurangi degradasi batu bara

Monitoring quality batubara yang masuk dan yang keluar dari stockpile, termasuk diantara control temperatur untuk mengantisipasi spontaneous combustionPengawasan yang ketat terhadap kontaminasi, meliputi :

Pelaksanaan housekeeping, tidak diperkenankan membuang sampah sembarangan di area stockpileInspeksi langsung adanya kotoran yang terdapat di stockpile. Menentukan sumber kontaminasi dan kemudian melaporkan kepada pihak yang berkompeten untuk tindakan preventive.

Perhatian terhadap faktor lingkungan yang bisa ditimbulkan, dalam ini mencakup usaha :

Pengontrolan debu, penerapan dan pengawasan penggunaan spraying & dust supressantAdanya tempat penampungan khusus (fine coal trap) untuk buangan / limbah air dari drainage stockpilePenanganan waste coal (remnant & spillage coal).

Tidak dianjurkan menggunakan area stockpile untuk parkir dozer, baik untuk keperluan maintenance dozer atau overshift operator. Kecuali dalam keadaan emergency dan setelah itu harus diadakan housekeeping secara teliti

Menanggulangi batubara terbakar di stockpile. Dalam hal ini penanganan yang diajurkan adalah sebagai berikut :

Melakukan spreading / penyebaran untuk mendinginkan batubara

Bila kondisi cukup parah, maka bagian batubara yang terbakar dapat dibuang

Memadatkan (kompaksi) batubara yang mengalami self heating atau spontaneous combustionTidak diperbolehkan menggunakan air dalam memadamkan batubara yang mengalami spontaneous combustionBatubara yang mengalami spontaneous combustion tidak diperboleh langsung diangkut ke tongkang sebelum dilakukan pendinginan terlebih dahulu

Untuk penyetokan yang relatif lama bagian atas stockpile harus dipadatkan (kompaksi), guna mengurai resapan udara dan air ke dalam stockpile.

Sebaiknya tidak membentuk stockpile dengan bagian atas yang cekung, hal ini untuk menghindari swamp di atas stockpile.

Mengusahakan kontur permukaan basement berbetuk cembung atau minimal datar, hal ini berkaitan dengan kelancaran sistem drainage.

Unit Peremukan (Crushing Plant)

Unit peremukan (crushing plant) merupakan rangkaian peralatan mekanis yang digunakan untuk mereduksi ukuran hasil penambangan. Pengolahan batubara hasil penambangan perlu dilakukan terutama untuk memenuhi atau menyesuaikan dengan permintaan konsumen akan kualitas dan ukuran butiran. Secara umum peralatan yang digunakan didalam proses pengolahan ialah semua peralatan yang dipakai dan diperlukan didalam siklus kegiatan pengolahan bahan galian. Adapun peralatan yang dipakai pada siklus pengolahan bahan galian antara lain terdiri dari :

HopperHopper adalah alat untuk menampung batubara dari ROM stock untuk diperoses lebih lanjut. hopper terdiri dari satu unit yang dilengkapi dengan grizzly yang terbuat dari baja seperti anyaman dengan ukuran lubang tertentu untuk mensortasi ukuran batubara yang akan masuk ke crusher menunju ke feeder breaker.

Grizzly

Merupakan susunan batang-batang baja yang membentuk ukuran lubang bukaan tertentu. Grizzly berfungsi untuk menahan ukuran bongkah batubara tertentu yang diijinkan lolos ke dalam hopper. Anyaman besi siku disusun bersilangan saling sejajar pada jarak yang ditentukan dan ditempatkan di lubang masuk hopper.

Crusher

Proses pereduksian ukuran butir ini disebut kominusi. Pereduksian ukuran terdiri dari primary crushing dan secondary crushing.

Primary crushingMerupakan tahap penghancuran tahap pertama dengan umpan yang digunakan biasanya berasal dari hasil penambangan dengan ukuran berkisar 300 mm. Alat-alat yang digunakan pada tahap ini adalah jaw crusher dan gyratory crusher.

Jaw crusherJaw crusher terdiri dari 2 plate yang berhadap hadapan membentuk sudut yang kecil ke arah bawah, yang dapat membuka dan menutup seperti rahang binatang (jaw). Salah satu jaw diam tertahan pada crusher frame (kerangka jaw crusher) disebut fixed jaw, sedang yang satu lagi ditahan pada sumbunya dan dapat bergerak sedikit mendekat dan menjauh dari fixed jaw, disebut swing jaw, batuan batuan (feed) yang masuk diantara kedua jaw mendekat dan dilepaskan pada saat jaw menjauh.

Gaya pemecah atau penghancur dari jaw crusher adalah sebagai hasil tekanan terhadap batuan oleh swing jaw kepada fixed jaw. Batuan yang dijepit diantara fixed jaw dan swing jaw mendapat gaya tekan dan gaya pukulan (compression and impact) dari kedua jaw yang mendekat. Kedua gaya tersebut dapat memecahkan batuan kalau melebihi batas elastisitas dari batuan yang mendapatkan tekanan dengan keras.

Gambar 6.2 Jaw Crusher

Gyratory crusher

Gyratory crusher dipakai untuk memecah batuan berbentuk bongkah besar maupun kecil, yaitu sebagai primary crushing dan secondary crushing, mempunyai kapasitas lebih besar dibanding jaw crusher.

Gyratory crusher terdiri dari 2 cronical shells (dinding berbentuk kerucut terpancung) yang berdiri vertikal, dinding luar (outer shell) yang diam tidak dapat bergerak dengan puncak kerucut sebelah bawah, sedang dinding dalam (inner shell) dengan puncaknya sebelah atas dapat dibuat berkisar sambil berputar pada asnya. Dinding dalam dan dinding luar (shells) dibuat dari besi atau baja cor dan dilapisi besi alloy yang dapat diganti ganti (mantle).

Permukaan yang berhadapan dari 2 shells yang dipasang terbalik satu sama lain merupakan crushing surface dari gyratory crusher, dimana terjadi penghancuran, pada gyratory crushing action (penghancuran) berjalan terus menerus selama inner shell (dinding dalam) berkisar dan berputar pada as nya, sedang pada jaw crusher action hanya terjadi pada saat swing jaw mendekat pada fixed jaw. Alat gyratory crusher dikembangkan terus sampai sekarang sehingga dengan tenaga yang lebih kecil diperoleh kapasitas yang lebih besar dibanding jaw crusher.

Gambar 6.3 Gyratory CrusherSecondary Crushing

Merupakan tahapan peremukan yang kedua kelanjutan dari primary crushing, secondary crusher mempunyai beban yang lebih ringan dari primary crusher yang termasuk heavy duty machine. Produk dari primary crushing merupakan umpan (feed) dari secondary crusher dengan ukuran diameter biasanya kurang dari 150 mm. Benda-benda yang membahayakan crusher seperti logam, kayu, lempeng dan butiran sangat halus (slimes) telah lebih dahulu dikeluarkan. Secondary crusher di operasikan dalam keadaan kering, tujuannya untuk memeperkecil (mereduksi) ukuran batuan sehingga sesuai untuk dijadikan umpan (feed) bagi tertiary crushing. Secondary crushing dapat dilakukan dengan menggunakan alat :

Jaw crusherDengan ukuran kecil (peremuk kasar) gaya yang bekerja adalah sistem tekan.Gyratory crusherUkuran kecil (peremuk kasar) gaya yang bekerja adalah sistem tekan /geser.

Hammer mill (peremuk sangat halus)Gaya yang bekerja adalah sistem tumbuk/gesek/geser.

Gambar 6.4 Hammer Mill

Roll crusher (peremuk sedang /halus)Gaya yang bekerja adalah sistem tekan /geser/ gesek roller crusher merupakan alat yang terdiri dari tiga buah silinder baja dan masing-masing dihubungkan pada as (poros) sendiri-sendiri. Silinder ini hanya satu saja yang berputar dan lainnya diam tapi karena adanya material yang masuk dan pengaruh silinder lainnya maka silinder ini ikut berputar pula. Putaran masing-masing silinder tersebut berlawanan arahnya sehingga material yang berada di atas roll akan terjepit dan hancur. Roller biasanya digunakan untuk batuan keras dan lunak seperti sand stone, shale, lempung, dan material lengket sampai setengah keras termasuk batubara.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan produksi crusher adalah sebagai berikut :

Sifat fisik material yang akan direduksi, sifat fisik ini meliputi kekerasan, berat jenis, dan kandungan air.Impirities yaitu ada tidaknya pengotor yang terdapat pada batubara.

Kondisi roll crusher.

Kemampuan feeding batubara baik dari tambang maupun ROM stockpile ke hopper.

Gambar 6.5 Roll Crusher

Produktivitas crusher dibedakan menjadi dua macam yaitu produktivitas desain dan produktivitas nyata. produktivitas desain merupakan kemampuan produksi yang seharusnya dicapai oleh alat tersebut dan dapat diketahui spesifikasi alat yang dibuat oleh pabrik, sedangkan produktivitas nyata merupakan kemampuan produksi alat peremuk sesungguhnya yang didasarkan pada sistem produksi yang diterapkan. Alat peremuk batubara masih digunakan dalam beberapa penggilingan, walaupun crusher telah digantikan menjadi banyak instalasi oleh roll crusher.

Sistem ConveyorConveyor adalah salah satu jenis alat pengangkut yang berfungsi untuk mengangkut bahan-bahan industri yang berbentuk padat. Pemilihan alat transportasi (conveying equipment) material padatan antara lain tergantung pada :

Kapasitas material yang ditangani

Jarak pemindahan material

Arah pengangkutan, yaitu horizontal, vertikal dan inklinasi

Ukuran (size), bentuk (shape), dan sifat dari material (properties)

Secara umum conveyor diklasifikaikan sebagai berikut :

Belt conveyor

Chain conveyor, terdiri dari berbagai tipe yaitu :

Scraper conveyorAppron conveyorBucket conveyorScrew conveyor

Pneumatic conveyor

Keuntungan dalam menggunakan conveyor adalah :

Menurunkan biaya dan waktu dalam memindahkan material

Meningkatkan efisiensi pemindahan material

Menghemat ruang

Meningkatkan kondisi lingkungan kerja

Komponen-komponen utama belt conveyor dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 6.6 Komponen-Komponen Sistem ConveyorCounterweight / Belt Scale

Belt scale ini antara lain adalah untuk menunjukkan kecepatan belt, kapasitas conveyor (ton/jam) dan jumlah total batubara yang lewat ke conveyor.Jenis-jenis pulley yaitu sebagai berikut :

Drive pulley

Pulley yang dipasang sistem penggerak untuk menggerakkan seluruh sistem conveyor.

Tail pulley

Pulley yang terletak bagian belakang conveyor. Untuk beberapa kasus berfungsi sebagai pulley penggerak atau pengencang pulley (take-up)

Snub pulley

Pulley yang berfungsi untuk memperluas bidang kontak antara belt dengan drive pulley.

Bend pulley

Pulley yang digunakan untuk mengubah arah belt.

Take-up Pulley

Pulley yang memiliki sistem pengencang belt. Fungsi dari take-up pulley yaitu ;

Untuk menjaga tension belt pada saat loading.

Untuk mencegah belt kendor.

Untuk kompensasi perubahan panjang belt.

Untuk mencegah belt slippage. Untuk kemudahan repair.

Jenis take-up pulley ada bermacam-macam, yaitu :

Screw take-up

Counterweight (gravity) take-up, yang inipun ada dua macam, yaitu:

Vertical gravity take-up

Horizontal (carriage) gravity take-up

Gambar 6.7 Jenis-jenis Pemberat (take-up)

Feeder (pengumpan)

Adalah alat untuk pemuatan material ke atas belt dengan kecepatan yang teratur. Dari pengumpanan dapat langsung ke belt atau melalui corongan untuk mengurangi benturan pada waktu material jatuh ke atas belt.

Macam-macam pengumpanan yang pernah digunakan yaitu :

Apron feeder

Reciprocating feeder

Rotary vane feeder

Rotary plow feeder

Gambar 6.8 Beberapa Tipe Pengumpan (feeder)

Idler

Berguna untuk menahan atau menyangga belt. Menurut letak dan fungsinya, maka idler dibagi menjadi :

Impact roller

Roll penunjang daerah bermuatan material, biasanya roller ini diselimuti dengan rubber untuk mengurangi impact langsung dengan roller.

Gambar 6.9 Impact Roller

Carrier roller

Roll penunjang belt yang bermuatan material. Ada dua macam, yaitu :

Throughting idler, untuk belt yang melengkung.

Flat idler, untuk belt yang datar.

Gambar 6.10 Carrier Roller (throughting idler)Return roller

Roll penunjang belt yang tidak bermuatan material.

Gambar 6.11 Return Roller

Return training idle

Roll untuk membantu kelurusan belt dengan alat bantu pelurus (guide roller).

Gambar 6.12 Return Training IdleBelt Belt adalah permukaan yang bergerak dan digunakan untuk menyangga material yang akan diangkut di atasnya dan berfungsi sebagai pengangkut material yang telah direduksi sebelumnya. Permukaan atas dan bawah belt dilapisi karet untuk melindungi tulangan terhadap keausan dan kerusakan akibat benturan material ketika dimuati.

Kontruksi belt, yaitu sebagai berikut :

Top cover, memproteksi carcass terhadap kondisi operasiSkim coat, compound sebagai adhesive antar plyCarcass, penguat/kekuatan beltBottom cover, memproteksi terhadap abrasi dan gesekan dari pulley dan roller

Gambar 6.13 Conveyor Belt Construction

Skirt board

Skirts adalah semacam sekat yang dipasang dikiri kanan belt pada tempat pemuatan (loading point) yang terbuat dari logam atau kayu dan dapat dipasang tegak atau miring yang dipergunakan untuk mencegah terjadinya ceceran (spills) pada saat curah dan membentuk curahan keposisi tengah ban berjalan.

Gambar 6.14 Skirt board

Belt scraper

Kriteria pemilihan belt scraper :

Nilai abrasion lossKekerasan yang tidak terlalu tinggi dan tidak boleh terlalu kaku Tensile strength dan parameternya Bentuk bladeBelt cleaner

Primary belt cleaner

Sisa material/carry-back/spillage yang tidak terkendali akan mengakibatkan :

Lingkungan kerja penuh dengan tumpahan material dari sisi balik

Spillage menyebabkan penumpukan material pada roller dan pulley sehingga diameter komponen tidak sama dan mengakibatkan belt berjalan tidak lurus

Spillage mengeras pada komponen yang bergesekan dengan belt dan akan menyebabkan keausan yang tidak wajar dan memperpendek usia beltKerusakan pada komponen lainnya.

Gambar 6.15 Primary Belt CleanerSecondary cleaner

Sebagai pembersih belt.

Gambar 6.16 Secondary Belt CleanerDrive unit

Motor yang digunakan sebagai sumber penggerak, umumnya dipakai electric motor atau diesel. Besar kecilnya daya mesin tergantung pada :

Beban material yang akan diangakut di atas belt.Kecepatan belt.

Lebar dan macam belt.

Diameter roda drive pulley dan roda tail pulley.

Luas bidang kontak antara drive pulley dengan belt.

Kerangka (frame)

Konstruksi baja yang menyangga belt conveyor dan harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga jalannya belt yang berada di atasnya tidak terganggu. Hal ini sangat tergantung kepada medan operasinya, yaitu apakah mendatar, miring atau kombinasi keduanya.

Efisiensi Kerja

Efisiensi kerja merupakan elemen produksi yang harus diperhitungan di dalam upaya mendapatkan harga produksi alat per satuan waktu yang akurat. Sebagaian besar harga efisiensi kerja diarahkan terhadap operator, yaitu orang yang menjalankan atau mengoperasikan unit alat. Walaupun demikian, apabila ternyata efisiensi kerjanya rendah belum tentu penyebabnya adalah kemalasan operator yang bersangkutan. Ada penyebab yang tidak bisa dihindari seperti cuaca, kerusakan mendadak, kabut dan lain-lain. Untuk meningkatkan efisiensi kerja operator kadang-kadang perlu semacam perangsang atau bonus yang mendidik dari perusahaan dengan harapan operator dapat mempertinggi etos kerja, lebih bertanggungjawab dan termotivasi.

Pekerjaan mekanik untuk perawatan alat tidak dapat dimasukkan sebagai penyebab berkurangnya efisiensi kerja operator, karena pekerjaan perawatan alat (maintenance( harus sudah terjadwal untuk masuk bengkel (workshop(. Oleh sebab itu sebab itu untuk memperoleh harga efisiensi kerja operator yang mewakili perlu diberikan batasan batasan pekerjaan dan itu semua harus dipahami oleh seluruh jajaran karyawan operasional maupun mekanik.

Tabel 6.1 Parameter pengukur efisiensiBeberapa pengertian yang dapat menunjukkan keadaan alat mekanis dan efektifitas penggunaannya antara lain :

Kesediaan Mekanis (Mechanical Availability), merupakan cara untuk mengetahui kesediaan mekanis yang sesungguhnya dari alat yang digunakan, persamaannya adalah sebagai berikut :

(6.1)dimana :

W= Jumlah jam kerja, yaitu waktu yang dibebankan pada alat dalam kondisi dapat beroperasi, dalam arti tidak rusak (jam), hal ini termasuk juga hambatan yang di alami alat ketika dalam melakukan kerja.

R = Jumlah jam untuk perbaikan ( repair hours )

Ketersediaan Fisik (Physical Availability), merupakan catatan mengenai keadaan fisik dari alat yang sedang dipergunakan, persamaannya adalah sebagai berikut :

(6.2)dimana :

S= Stand by hours, atau jumlah jam suatu alat yang tidak dapat dipergunakan padahal alat tersebut tidak rusak dan dalam keadaan siap beroperasi

W+R+S = Schedule hours, atau jumlah seluruh jam jalan dimana alat dijadwalkan untuk beroperasi.

Physical availability pada umumnya selalu lebih besar daripada mechanical availability. Tingkat effesiensi dari sebuah alat mekanis naik jika angka physical availability mendekati mechanical availability.Kesediaan Digunakan (Use of availability), adalah menunjukkan berapa persen waktu yang digunakan alat untuk beroprasi pada saat ia dapat digunakan (available), persamaannya adalah sebagai berikut :

(6.3)Use of availability biasanya dapat memperhitungkan seberapa efektif suatu alat yang tidak sedang rusak dapat dimanfaatkan, hal ini dapat menjadi ukuran seberapa baik pengelolaan (management) peralatan yang dipergunakan.

Efesiensi Alat (Effective Utilization), menunjukkan persen dari seluruh waktu kerja yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk kerja produktif. Effective utilization sebenarnya sama dengan pengertian effesiensi kerja, persamaanya adalah sebagai berikut :

(6.4)6.7Produktifitas CrusherUntuk menghitung produktivitas alat crusher dapat menggunakan rumus, yaitu :

(6.5)Untuk menghitung produktivitas crusher terdapat dua rumus sebagai perbandingan yaitu sebagai berikut :

Perhitungan Target Produktifitas

(6.6)

Perhitungan Produktivitas Aktual

(6.7)Untuk menghitung target produksi rencana crusher dapat menggunakan rumus, yaitu :

(6.8)

Untuk waktu produktif aktual diperoleh dari persamaan di bawah ini :

(6.9)

Sedangkan untuk menghitung waktu produksi yang terkoreksi alat crusher tersebut dapat menggunakan rumus sebagai berikut :

(6.10)6.8Efektifitas Alat Peremuk

Efektifitas alat peremuk berhubungan dengan produksi yang dihasilkan dari peralatan tersebut. Efektivitas alat peremuk ini pada umumnya merupakan perbandingan antara kapasitas nyata dengan kapasitas desain dinyatakan dengan persen. Efektifitas crusher dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

(6.11)Metodologi

Penelitian dilakukan dengan menggunakan secara teori dengan data-data yang diperoleh di lapangan, sehingga dari keduanya didapatkan pendekatan masalah. Adapun urutan pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

Studi literatur tentang

Studi literatur dengan mencari bahan pustaka maupun laporan-laporan yang berhubungan dengan masalah yang ada, antara lain :

Kualitas batubara

Spesifikasi teknis alat peremuk

Pengamatan di Lapangan

Melakukan pengamatan di lapangan yang meliputi kinerja alat, kondisi alat, waktu produksi peremukan dan waktu hambatan pada proses peremukan.

Pengambilan dan Analisa Sampel Batubara

Pengambilan data meliputi :

Data primer, seperti :

Produksi unit peremuk

Waktu tunda :- Cycle Time Loading Dump Truck di hopper Stockpil.

- Cycle Time Loading Trailer di Silo.- Cycle Time Loading Trailer ke hopper pelabuhan.

Data sekunder, seperti :

Target produksi

Jam kerja efektif

Produksi harian

Spesifikasi alat

Pengolahan data

Pengolahan data dilakukan secara matematis dengan menggabungkan data-data yang diperoleh baik data primer maupun sekunder, dengan mengacu pada teori yang diperoleh melalui literatur, kemudian dianalisa secara kualitatif maupun kuantitatif sehingga diperoleh hasil yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Kesimpulan dan saran

Setelah diperoleh korelasi antara hasil pengolahan data dengan permasalahan yang ada, maka kesimpulan dan saran dapat diambil sesuai dengan keadaan dan kondisi lapangan.

Gambar 6.17 Diagram Alir Penelitian

Relevansi

Manfaat yang diharapkan dari studi ini adalah meningkatnya waktu produktif crushing plant berpengaruh pada meningkatnya produksi crushing plant.Jadwal Kegiatan

Rencana penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juni 2014 sampai dengan bulan Juli 2014 dan disesuaikan dengan kebijakan perusahaan.

Tabel 9.1 Jadwal Kegiatan Penelitian

KegiatanMinggu 1 Minggu 2Minggu 3Minggu 4

Studi Literatur

Pengamatan lapangan

Evaluasi dan pengolahan data

Pembuatan Skripsi

Penyerahan

Daftar Pustaka

Ajie, Mokh Winanto. 2001. Pengolahan Bahan Galian. Teknik Pertambangan FTM, UPN Veteran. Yogyakarta

Manual Book STAMLER Feeder Breaker BF - 29C - 59 - 76F. Pt. Kideco Jaya Agung, Batukajang

Prodjosumarto, Partanto. 1993. Pemindahan Tanah Mekanis. Teknik Pertambangan, ITB. Bandung

Sudarsono, A. 1989. Pengolahan Bahan Galian Umum, Jurusan Teknik Pertambangan, Institut Tegnologi Bandung, Bandung

Sukmono, Eko. 2007. Produktifitas Crusher Coal Proccesing Plant 1 Pada Triwulan Pertama Tahun 2010 PT Indominco Mandiri Bontang Laporan PKL. Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Mulawaran

Suwandhi, Awang. 2004. Rencana Pengolahan Batubara, Diktat Diklat Perencanaan Tambang Terbuka. Unisba. Bandung

COAL

Cone

Chevron

Chevron-Windrow

Windrow

Top Cover

Skim coat

Carcass

Analisis Produktifitas Unit Peremuk Batubara (Coal Crushing Plant) Untuk Pencapaian Target Produksi

Pengamatan dan Kegiatan Lapangan

Proses kerja unit peremukan

Efektivitas unit alat peremuk

Pengambilan Data

Data Sekunder

Produksi unit peremuk pada waktu kerja, spesifikasi alat alat yang digunakan

Data Primer

Jam kerja

Produktivitas crusher

Waktu hambatan unit peremukan

Pengolahan Data

Kesediaan unit

Produktifitas unit

Waktu kerja terkoreksi

Belum optimal

Optimal

Analisis Permasalahan

Usaha optimalisasi

Kesimpulan

281