of 37 /37
0 LEMBAR PERSETUJUAN PROPOSAL Proposal atas nama: Nama : Muhammad Asy’ari NIM : 210307160 Jurusan : Tarbiyah Program Studi : Pendidikan Agama Islam Judul : Pengembangan Bahan Ajar Visual (Gambar Cetak) dalam Pembelajaran Agama Islam di SMA Negeri 1 Kedunggalar Telah diperiksa dan disetujui: Pembimbing 1 Dr. H. M. Miftachul Ulum, M.Ag Tanggal, ................................ NIP. 197403062003121001 Pembimbing II Kurnia Hidayati, M.Pd Tanggal, ................................. NIP. 198106202006042001 Mengetahui, Ketua program studi PAI

Proposal Anyar

Embed Size (px)

Text of Proposal Anyar

LEMBAR PERSETUJUAN PROPOSAL Proposal atas nama: Nama NIM Jurusan Program Studi Judul : Muhammad Asyari : 210307160 : Tarbiyah : Pendidikan Agama Islam : Pengembangan Bahan Ajar Visual (Gambar Cetak) dalam Pembelajaran Agama Islam di SMA Negeri 1 Kedunggalar

Telah diperiksa dan disetujui: Pembimbing 1

Dr. H. M. Miftachul Ulum, M.Ag NIP. 197403062003121001 Pembimbing II

Tanggal, ................................

Kurnia Hidayati, M.Pd NIP. 198106202006042001

Tanggal, .................................

Mengetahui, Ketua program studi PAI STAIN Ponorogo

Dr. H. M. Miftachul Ulum, M.Ag NIP. 197403062003121001

1

PROPOSAL SKRIPSI

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR VISUAL (GAMBAR CETAK) DALAM PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM DI SMA NEGERI 1 KEDUNGGALAR

Oleh: Muhammad Asyari NIM: 210307160

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN TARBIYAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PONOROGO 2012

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara, pernyataan tersebut merupakan definisi pendidikan yang terkandung dalam ketentuan umum Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.1 Pendidikan merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik dalam upaya membantu peserta didik menguasai tujuan-tujuan pendidikan. Dalam setiap proses pembelajaran, guru tetap memegang peranan yang penting. Seorang guru harus menyampaikan dan mengajarkan suatu bahan kepada murid. Bahan tersebut meliputi pengetahuan, keterampilan, sikap dan norma atau nilai-nilai yang diharapkan, dimiliki, dan diamalkan.2 Bahan pelajaran yang diberikan akan lebih terasa manfaatnya bagi siswa jika dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Bahan belajar merupakan suatu unsur belajar yang penting mendapat perhatian dari guru. Dengan bahan itu para siswa dapat mempelajari hal-hal yang diperlukan dalam upaya mencapai tujuan belajar.3 Bahan ajar tersebut memungkinkan siswa dapat mempelajari suatu kompetensi atau kompetensi dasar secara runtut dan sistematis sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh danUndang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab I: Ketentuan Umum (Pasal 1) 2 Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama/IAIN di Jakarta, Metode Pengajaran Agama Islam, (TT: TP, 1983), 206. 3 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), 51.1

3

terpadu.4 Oleh karena itu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan diperlukan bahan ajar sebagai salah satu alat bantu dalam proses penyampaian materi kepada siswa. Menurut Oemar Hamalik, bahan pengajaran merupakan bagian yang penting dalam proses belajar mengajar, yang menempati kedudukan yang menentukan keberhasilan belajar mengajar yang berkaitan dengan

ketercapaian tujuan pengajaran, serta menentukan kegiatan-kegiatan belajar mengajar.5 Bahan ajar merupakan segala bentuk bahan yang digunakan oleh guru untuk membantu menyampaikan materi dalam proses belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun tidak tertulis.6 Berdasarkan penjajagan awal di lapangan, di SMA Negeri 1 Kedunggalar saat kegiatan belajar mengajar Agama Islam (PAI) berlangsung, masih terdapat siswa yang mengantuk, ramai, melamun, tidak memperhatikan, dan malu untuk bertanya. Kendala lainnya adalah lemahnya sumber daya guru dalam mengembangkan sumber bahan ajar.7 Hal ini mengakibatkan siswa sulit menjelaskan kembali (review) pelajaran yang baru disampaikan, padahal pelajaran Agama Islam merupakan pelajaran yang penting dalam peningkatan dan pengembangan pemahaman siswa dalam kehidupan religius sehari-hari

Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standar Kompetensi Guru (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), 173. 5 Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), 139. 6 Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran ... , 174. 7 Hasil observasi di SMA Negeri 1 Kedunggalar Selasa, 3 April 2012 pukul 09.30 wib.

4

sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dari kurikulum pendidikan Islam yaitu membentuk anak didik berakhlak mulia.8 Kendala-kendala tersebut mengakibatkan hasil yang dicapai siswa kurang maksimal, padahal bahan pelajaran merupakan unsur inti yang ada dalam kegiatan belajar mengajar karena memang bahan pelajaran itulah yang diupayakan untuk dikuasai oleh siswa.9 Dengan materi atau bahan ajar tersebut dapat membantu siswa untuk mencapai indikator-indikator yang telah ditetapkan dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta

memudahkan guru dalam menyampaikan materi dan membuat kondisi kelas tidak monoton. Oleh karena itu guru yang juga sebagai pengembang kurikulum harus memikirkan sejauh mana sumber bahan ajar yang digunakan sesuai dengan tujuan belajar yang akan dicapai. Jelaslah bahwa sumber bahan ajar merupakan alat yang penting dalam pencapaian tujuan pendidikan. Dalam survey pendahuluan yang peneliti lakukan, peneliti menemukan bahwa guru Agama Islam di SMA Negeri 1 Kedunggalar juga mengembangkan sumber bahan ajar pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan gambar cetak. Dari temuan tersebut, maka peneliti mengadakan penelitian dengan judul Analisis Pengembangan Bahan Ajar Visual (Gambar Cetak) dalam Pembelajaran Agama Islam di SMA Negeri 1 Kedunggalar.

8 Prof. Dr. H. Abdullah Idi, M.Ed, Pengembangan Kurikulum: Teori & Praktik (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), 62. 9 Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), 104.

5

B. Fokus Penelitian Setelah melihat realitas yang ada di lapangan, maka disitulah fokus penelitian ini diarahkan. Dalam hal ini peneliti memfokuskan penelitian pada organisasi bahan ajar visual pada mata pelajaran Agama Islam serta kompetensi yang hendak dicapai oleh guru dalam mengembangkan bahan ajar Agama Islam. C. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan fokus masalah penelitian di atas, maka penulis merumuskan masalah menjadi sebagai berikut: 1. Bagaimana organisasi bahan ajar visual (gambar cetak) dalam

pembelajaran PAI di SMA Negeri 1 Kedunggalar?2.

Apakah kompetensi yang hendak dicapai dalam pengembangan bahan ajar visual (gambar cetak) dalam pembelajaran PAI di SMA Negeri 1 Kedunggalar?

D. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk menjelaskan dan mendiskripsikan organisasi bahan ajar visual (gambar cetak) dalam pembelajaran PAI di SMA Negeri 1 Kedunggalar. 2. Untuk menjelaskan dan mendiskripsikan kompetensi yang hendak dicapai dalam pengembangan bahan ajar visual (gamber cetak) dalam

pembelajaran PAI di SMA Negeri 1 Kedunggalar.

E. Manfaat penelitian Dari hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk penulis dan pembaca yaitu: 1. Manfaat Teoritis Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan untuk pengembangan khazanah keilmuan dalam Pendidikan Agama Islam yang dapat diterapkan dalam masyarakat pada umumnya dan terutama sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Sekolah Agar hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai pendorong dalam usaha peningkatan kualitas pendidikan di lembaga pendidikan tersebut, serta untuk menentukan langkah-langkah yang tepat dalam

pengambilan kebijakan. b. Bagi Guru Diharapkan menjadi masukan bagi guru agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar, sehingga dapat mengantarkan peserta didik dalam pengembangan profesi yang dimiliki. c. Bagi Peneliti Selain sebagai syarat formal dalam menempuh sarjana strata 1 (S1), juga untuk mengembangkan kemampuan intelektual yang telah diperoleh.

7

F. Landasan Teori Bahan ajar merupakan salah satu komponen dalam perencanaan pengajaran yang dibuat oleh guru. Bahan ajar merupakan unsur inti yang ada dalam kegiatan belajar mengajar. Bahan ajar didefinisikan oleh Abdul Majid sebagai segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar dikelas. Bahan tersebut bisa disebut bahan tertulis maupun tidak tertulis.10 Sedangkan bahan ajar didefinisakan oleh Mimin Haryati sebagai pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus diajarkan oleh guru dan dipelajari siswa sebagai sarana untuk mencapai indikator-indikator yang telah ditetapkan dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar, kemudian dievaluasi dengan menggunakan perangkat penilaian yang disusun berdasarkan indikator pencapaian hasil belajar.11 Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan bahan ajar adalah segala sesuatu yang hendak dipelajari dan dikuasai oleh siswa, baik berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai sarana untuk mencapai indikator-indikator yang telah ditetapkan dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar. Bahan ajar tersebut bisa berupa bahan tertulis maupun tidak tertulis. Guru dapat memusatkan perhatian pada pengembangan kompetensi peserta didik dengan menyediakan aneka ragam kegiatan belajar mengajar dan

Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran ... , 174. Mimin Haryati, Model dan Teknik Penilaian pada Tingkat Satuan Pendidikan (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007), 10.11

10

mengembangkan sumber bahan ajar.12 Sumber bahan ajar ini digunakan agar dalam penyusunan silabus dapat terhindar dari kesalahan konsep. Menurut Abdul Majid, sumber bahan ajar secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori, yaitu: a. Bahan ajar cetak antara lain handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, dan foto atau gambar. b. c. Bahan ajar audio seperti kaset dan radio. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video atau film, orang atau narasumber. d. Bahan ajar interaktif yaitu multimedia yang merupakan kombinasi dari dua atau lebih media.13 G. Metode Penelitian 1. Pendekatan dan Jenis Penelitian Dalam penelitian ini digunakan metodologi penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif,14 dengan karakteristik-karakteristik (a) penelitian kualitatif menggunakan latar alami (natural setting) sebagai sumber data langsung dan peneliti sendiri merupakan instrumen kunci. Sedangkan instrumen lain sebagai instrumen penunjang, (b) penelitian

kualitatif bersifat deskriptif. Data yang dikumpulkan disajikan dalam bentuk kata-kata dan gambar-gambar. Laporan penelitian memuat kutipan-kutipan

Muhammad Joko Susilo, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), 96. 13 Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran ... , 61. 14 Pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang-orang dan perilaku yang dapat dialami. Lihat Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2000), 3.

12

9

data sebagai ilustrasi dan dukungan fakta pada penyajian. Data ini mencakup transkrip wawancara, catatan lapangan, dokumen dan rekaman lainnya. Dan dalam memahami fenomena, peneliti berusaha melakukan analisis sekaya mungkin mendekati bentuk data yang telah direkam, (c) dalam penelitian kualitatif proses lebih dipentingkan dari pada hasil. Sesuai dengan latar yang bersifat alami, penelitian kualitatif lebih memperhatikan aktifitas-aktifitas nyata sehari-hari, prosedur-prosedur dan interaksi yang terjadi, (d) analisis dalam penelitian kualitatif cenderung dilakukan secara analisa induktif, (e) makna merupakan hal yang esensial dalam penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mempelajari secara intensif mengenai unit sosial tertentu, yang meliputi individu, kelompok, institusi atau masyarakat, dalam penelitian studi kasus akan dilakukan penggalian data secara mendalam dan menganalisis intensif faktor-faktor yang terlibat di dalamnya.15 2. Kehadiran Peneliti Ciri khas penelitian kualitatif tidak dapat dipisahkan dari pengamatan berperan serta, sebab peranan penelitilah yang menentukan keseluruhan skenarionya.16 Untuk itu, dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen kunci, partisipan penuh sekaligus pengumpul data yang mana informan mengetahui bahwa peneliti melakukan penelitian agar15 16

Yatim Riyanto, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Surabaya: SIC, 2001), 24. Moleong, Metodologi ....., 117.

mempermudah dalam melakukan pengumpulan data. Adapun instrumen yang lain hanya sebagai penunjang. 3. Lokasi Penelitian Penelitian ini berlokasi di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 kedunggalar Ngawi. Alasan pemilihan lokasi ini karena ingin mengetahui pelaksanaan pembelajaran Agama Islam dan sekaligus pengembangkan bahan ajar Agama Islam di sekolah serta kompetensi yang hendak dicapai dalam pengembangan bahan ajar di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 kedunggalar Ngawi yang berada di Jln. Raya Solo Km. 12, Trinil Ngawi. Telp. (0351) 7705064. 4. Sumber Data Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah tambahan seperti dokumen data lainnya. Sedangkan sumber data tertulis dan statistik adalah sebagai sumber data tambahan.17 Jadi untuk memperoleh data dalam penelitian kualitatif, peneliti memanfaatkan dua sumber data yaitu manusia (hasil wawancara) dan nonmanusia yang merupakan dokumentasi yang berkaitan dengan penelitian (foto, catatan tertulis, dan bahan-bahan lain yang berhubungan dengan penelitian).

17

Moleong, Metodologi ....., 112.

11

5. Teknik Pengumpulan Data Untuk itu teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik tersebut digunakan peneliti, karena fenomena akan dapat dimengerti maknanya secara baik, apabila peneliti melakukan interaksi dengan subjek penelitian dimana fenomena tersebut berlangsung. a. Teknik Wawancara Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Maksud digunakan wawancara antara lain adalah: (a) menkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian, dan lain-lain; (b) merekonstruksi kebulatan-kebulatan demikian sebagai yang dialami masa lalu; (c) memproyeksikan kebulatan-kebulatan sebagai yang telah diharapkan untuk dialami pada masa yang akan datang; (d) memverifikasi, mengubah, dan memperluas informasi yang diperoleh dari orang lain; dan (e) memverifikasi, mengubah, dan memperluas konstruksi yang dikembangkan oleh peneliti sebagai pengecekan anggota.18 Dalam penelitian ini, teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara mendalam, artinya metode yang selaras dengan perspektif interaksionalisme simbolik, karena hal tersebut memungkinkan pihak yang diwawancarai untuk mendefinisikan dirinya sendiri dan

18

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), 206.

lingkungannya,19 untuk menggunakan istilah-istilah mereka sendiri mengenai fenomena-fenomena yang diteliti, tidak sekedar menjawab pertanyaan. Orang-orang yang dijadikan informan dalam penelitian ini adalah 5 informan yang diambil secara purposive, yaitu sebagai berikut: 1) Wawancara dengan kepala sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kedunggalar. 2) Wawancara dengan wakka kurikulum Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kedunggalar. 3) Wawancara dengan guru mata pelajaran Agama Islam Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kedunggalar. 4) Wawancara dengan siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kedunggalar. 5) Observasi dalam kegiatan pembelajaran Agama Islam. b. Teknik observasi Observasi adalah sebagai aktivitas untuk memperhatikan sesuatu dengan menggunakan alat indra, yaitu melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap.20 Ada beberapa alasan mengapa teknik observasi atau pengamatan digunakan dalam penelitian ini. Pertama, pengamatan didasarkan atas pengalaman secara langsung. Kedua, pengamatan memungkinkan peneliti untuk melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatatDedi Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), 183. 20 Suharsimi Arikunto, Prosedur ....., 107.19

13

perilaku, dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya. Dengan teknik ini, peneliti mengamati aktivitas-aktivitas seharihari objek penelitian karakteristik fisik situasi sosial, dan perasaan pada waktu menjadi bagian dari situasi tersebut. Selama peneliti di lapangan, jenis observasinya tidak tetap. Dalam hal ini peneliti mulai dari observasi deskriptif (deskriptif observations) secara luas, yaitu berusaha

melukiskan secara umum situasi sosial dan apa yang terjadi di sana. Kemudian, setelah perekaman dan analisis data pertama, peneliti menyempitkan pengumpulan datanya dan mulai melakukan observasi terfokus (focused observations). Dan akhirnya, setelah dilakukan lebih banyak lagi analisis dan observasi yang berulang-ulang di lapangan, peneliti dapat menyempitkan lagi penelitiannya dengan melakukan obsevasi selektif (selective observations). Sekalipun demikian, peneliti masih terus melakukan observasi deskriptif sampai akhir pengumpulan data. Hasil observasi dalam penelitian ini dicatat dalam catatan lapangan, sebab catatan lapangan merupakan alat yang sangat penting dalam penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualitatif, peneliti mengandalkan pengamatan dan wawancara dalam pengumpulan data di lapangan. Pada waktu di lapangan peneliti membuat catatan, setelah pulang ke rumah atau tempat tinggal barulah menyusun catatan lapangan.

Dapat dikatakan bahwa dalam penelitian kualitatif, jantungnya adalah catatan lapangan. Catatan lapangan pada penelitian ini bersifat deskriptif. Artinya bahwa catatan lapangan ini berisi gambaran tentang latar pengamatan, orang, tindakan, dan pembicaraan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan fokus penelitian. Dan bagian deskriptif tersebut berisi beberapa hal, diantaranya adalah gambaran dari fisik, rekonstruksi dialog, deskripsi latar fisik, catatan tentang peristiwa khusus, gambaran kegiatan dan perilaku pengamat. Format rekaman hasil observasi (pengamatan) catatan lapangan dalam penelitian ini

menggunakan format rekaman hasil observasi. c. Teknik Dokumentasi Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda, dan sebagainya. Dibandingkan dengan yang lain metode ini agak tidak begitu sulit, dalam arti apabila ada kekeliruan sumber datanya masih tetap, belum berubah.21 Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen biasa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang.22 Teknik dokumentasi ini digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber non insani, sumber ini terdiri dari dokumen dan rekaman. Rekaman sebagai tulisan atau pernyataan yang dipersiapkan oleh atau untuk individual atau organisasi dengan tujuan membuktikan21 22

Riyanto, Metodologi Penelitian Pendidikan, 80. Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2007), 240.

15

adanya suatu peristiwa. Sedangkan dokumen

digunakan untuk

mengacu atau bukan selain rekaman, yaitu tidak dipersiapkan secara khusus untuk tujuan tertentu, seperti surat-surat, buku harian, catatan khusus, foto-foto, dan sebagainya. Teknik dokumentasi ini sengaja digunakan dalam penelitian ini sebab: Pertama, sumber ini selalu tersedia dan murah terutama ditinjau dari konsumsi waktu. Kedua, rekaman dan dokumen merupakan sumber informasi yang stabil, baik keakuratannya dalam merefleksikan situasi yang terjadi di masa lampau, maupun masa depan, dan dianalisis kembali tanpa mengalami perubahan. Ketiga, rekaman dan dokumen merupakan sumber informasi yang kaya, secara kontekstual relevan dan mendasar dalam konteksnya. Keempat, sumber ini sering merupakan pernyataan yang legal yang dapat memenuhi akuntabilitas. Hasil pengumpulan data melalui cara dokumentasi ini, dicatat dalam format rekaman

dokumentasi. 6. Analisis Data Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahanbahan lain, sehingga dapat mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang

akan dipelajari dan membuat kesimpulanya dapat diceritakan kepada orang lain. Teknik menggunakan analisis konsep data yang yang digunakan Miles dalam & penelitian ini yang

diberikan

Huberman

mengemukan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus pada setiap tahapan penelitian sehingga sampai tuntas, dan datanya sampai jenuh. Aktivitas dalam analisis data, meliputi data reduction, data display, dan conclusion. Langkah-langkah analisis ditunjukkan pada gambar berikut:23Pengumpulan Data Penyajian Data Reduksi Data Kesimpulan

Keterangan: a. Reduksi Data (Data Reduction) Mereduksi data dalam konteks penelitian yang dimaksud adalah merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, membuat kategori. Dalam penelitian ini setelah seluruh data yang berkaitan dengan pengembangan bahan ajar visual dalam pembelajaran Agama Islam terkumpul, maka akan memudahkan melakukan analisis data-data yang masih kompleks tersebut dipilih dan difokuskan sehingga menjadi lebih sederhana. Dengan demikian data

23

Miles, A Huberman, Analisa data Kualitatif (Jakarta: UI-Press, 1992), 20.

17

yang telah direduksikan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah selanjutnya. b. Penyajian Data (Data Display) Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data untuk menyajikan data ke dalam pola yang dilakukan dalam bentuk uraian singkat. Setelah seluruh data tentang penelitian untuk melakukan pengumpulan data

pengembangan bahan ajar visual dalam pembelajaran Agama Islam terkumpuldan melalui proses reduksi data, maka data tersebut kemudian disusun secara sistematis agar lebih mudah dipahami. c. Kesimpulan (Conclusion) Langkah yang terakhir dalam penelitian ini adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif yang diharapkan adalah temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa diskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas.24 7. Pengecekan Keabsahan Temuan Keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbaharui dari konsep keshahihan (validitas) dan keandalan (realibilitas).25 Derajat kepercayaan keabsahan dan (kredibilitas data) dapat diadakan pengecekan dengan teknik pengamatan yang tekun dan triangulasi.Tim Penyusun, Buku Pedoman Penulisan Skripsi (Syariah, Tarbiyah, Ushuluddin) Kuantitatif, Kualitatif, Kajian Pustaka (Ponorogo: Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, 2009), 35. 25 Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, 17124

Ketekunan pengamatan adalah menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang relevan dengan persoalan dan isu yang sedang dicari.26 Ketekunan ini dilaksanakan peneliti dengan cara mengadakan pengamatan dengan teliti dan rinci secara berkesinambungan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan pengembangan bahan ajar visual (gambar cetak) dalam pembelajaran Agama Islam di SMA Negeri 1 Kedunggalar. Teknik triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut.27 Perpanjangan keikutsertaan peneliti akan memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan. Karena dengan keikutsertaan yang diperpanjang, peneliti akan lebih memahami kondisi di lokasi penelitian dan dapat menguji ketidak benaran informasi yang ada. 8. Tahapan-Tahapan Penelitian Dalam proses penelitian, peneliti akan melalui tahapan-tahapan penelitian sebagai berikut: a. Tahap Pra Lapangan, dalam tahap ini peneliti melakukan serangkaian kegiatan yaitu: menyusun rancangan penelitian, memilih lapangan penelitian, mengurus perijinan, menjajaki dan menilai keadaan lapangan, memilih informan, dan menyiapkan perlengkapan penelitian.

26 27

Ibid, 177. Ibid, 178.

19

b. Tahap Pekerjaan Lapangan, yang meliputi: memahami latar penelitian dan persiapan diri, memasuki lapangan dan berperan serta sambil mengumpulkan data. c. Tahap Analisis Data, dalam tahap ini peneliti melakukan analisis terhadap data-data yang telah dikumpulkan dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pekerjaan analisis ini meliputi: mengatur dan mengorganisasi data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, memilih mana yang penting dan membuat kesimpulan. d. Tahap Penulisan Laporan, pada tahap ini peneliti menuangkan hasil penelitian ke dalam suatu bentuk laporan penelitian yang sistematis sehingga dapat difahami dan diikuti alurnya oleh pembaca. H. Sistematika Pembahasan Pada penyusunan penelitian kualitatif ini terdapat lima (5) bab pembahasan yang saling berkaitan antara satu dengan lainnya: Pada bab I yaitu pendahuluan, pendahuluan ini berfungsi sebagai pola dasar pemikiran penulis dalam menyusun skripsi. Dalam bab ini akan membahas tentang; pertama, latar belakang mengapa peneliti mengambil judul skripsi tersebut, kedua, fokus penelitian yaitu membahas batasan atau fokus penelitian yang terdapat dalam situasi sosial. Ketiga, rumusan masalah yaitu membahas rumusan-rumusan masalah yang diambil dari latar belakang dan fokus penelitian. Keempat, tujuan penelitian yaitu membahas sasaran yang akan dicapai dalam proposal penelitian, sesuai dengan fokus penelitian yang telah dirumuskan dalam rumusan masalah. Kelima, manfaat penelitian yaitu membahas manfaat penelitian baik secara teoritis maupun praktis. Keenam,

metodologi penelitian yaitu membahas metode-metode yang digunakan untuk menyusun teori-teori yang meliputi pendekatan dan jenis penelitian, instrumen penelitian, sumber dan teknik pengumpulan data, analisis data, pengecekan kredibilitas data, dan tahapan penelitian. Ketujuh, sisitematika pembahasan menjelaskan tentang alur bahasan sehingga dapat diketahui logika penyusunan skripsi dan koherensi antara bab satu dengan bab yang lain. Pada bab II Landasan Teori. Karena dalam penelitian kualitatif bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas dan berakhir dengan suatu teori, oleh karena itu ditulis berdasarkan data yang ditemukan melalui proses penelitian (Proses induktif). Pada bab III Temuan Penelitian, yaitu membahas gambaran umum lokasi penelitian di lapangan yang meliputi bagaimana organisasi bahan ajar visual dalam pembelajaran Agama Islam di SMA Negeri 1 Kedunggalar dan kompetensi apa yang hendak dicapai dalam pengembangan bahan ajar visual tersebut. Pada bab IV Analisis, pada bab ini akan analisis dalam pengembangan bahan ajar visual di SMA Negeri 1 Kedunggalar. Pada bab V Penutup, pada bab ini akan membahas mengenai kesimpulan sebagai jawaban dari pokok-pokok permasalahan dan saran-saran yang berhubungan dengan penelitian sebagai masukan-masukan untuk berbagai pihak yang terkait.

21

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta: Rineka Cipta, 1993. Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta, 1997. Hamalik, Oemar. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara, 2001. Hamalik, Oemar. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: Bumi Aksara, 2002. Idi, Abdullah. Pengembangan Kurikulum: Teori & Praktik. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011. Majid, Abdul. Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007. Miles, A Huberman. Analisa data Kualitatif. Jakarta: UI-Press, 1992. Mulyana, Dedi. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003. Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama/IAIN di Jakarta. Metode Pengajaran Agama Islam. TT: TP, 1983. Riyanto, Yatim. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: SIC, 2001. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif. Bandung: Alfabeta, 2007. Susilo, Muhammad Joko. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007. Tim Penyusun. Buku Pedoman Penulisan Skripsi (Syariah, Tarbiyah, Ushuluddin) Kuantitatif, Kualitatif, Kajian Pustaka. Ponorogo: Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, 2009. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bab I: Ketentuan Umum (Pasal 1)

DAFTAR WAWANCARA

A. Wawancara dengan Kepala Sekolah 1. Bagaimana peran pihak sekolah dalam meningkatkan bahan ajar Agama Islam di sekolahan ini? B. Wawancara dengan Waka Kurikulum 1. Bagaimana kondisi obyektif bahan ajar Agama Islam? 2. Kendala apa saja yang dihadapi guru dalam mengembangkan bahan ajar Agama Islam? C. Wawancara dengan Guru Mata Pelajaran Agama Islam 1. Bagaimana kondisi obyektif bahan ajar Agama Islam? 2. Bagaimana bahan ajar tersebut disusun? 3. Bagaimanakah pengorganisasian bahan ajar Agama Islam? 4. Kompetensi apa yang ingin dicapai oleh guru Agama Islam dalam mengembangkan bahan ajar Agama Islam? D. Wawancara dengan Siswa 1. Manfaat apa yang dirasakan ketika guru menggunakan bahan ajar dalam kelas? 2. Metode apa saja yang digunakan guru dalam menyampaikan materi?

23

GUIDE OBSERVASI

No. 1. 2. 3. 4.

List Pelatihan Workshop KBM Bahan Ajar

Ada

Tidak

Keterangan

5.

Lain-lain

DAFTAR DOKUMENTASI

No 1. 2. 3. 4. 5.

Bentuk Dokumentasi Tulisan Tulisan Bagan Tulisan Tulisan

Jenis Dokumentasi Letak Geografis SMA Negeri 1 Kedunggalar Visi dan Misi SMA Negeri 1 Kedunggalar Struktur Organisasi SMA Negeri 1 Kedunggalar Kurikulum SMA Negeri 1 Kedunggalar Sarana dan Prasarana SMA Negeri 1 Kedunggalar