Click here to load reader

Profil Kesehatan Anak

  • View
    55

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of Profil Kesehatan Anak

KATA PENGANTAR

BAB I

PENDAHULUAN1.1LATAR BELAKANG

Pada 27th United Nations General Assembly Special Session negara-negara peserta menegaskan kembali dan mendeklarasikan komitmen terhadap kesejahteraan anak. Komitmen tersebut dikenal sebagai A World Fit for Children (WFC). Selain berisi pernyataan tentang tekad berbagai negara untuk terus memperjuangkan kesejahteraan dan kemaslahatan anak, dokumen tersebut juga berisi hasil telaah terhadap kemajuan yang telah dicapai dan rencana aksi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

Sebagai pengejawantahan komitmen terhadap deklarasi WFC tahun 2001, setiap negara yang terlibat dan meratifikasinya perlu menyusun suatu program nasional bagi anak. Dokumen tentang program nasional tersebut sangat diperlukan sebagai pedoman bagi berbagai pihak yang berkepentingan dan terlibat dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ada 4 bidang pokok yang mendapat perhatian khusus dalam deklarasi WFC tahun 2001, yaitu promosi hidup sehat (promoting healthy lives), penyediaan pendidikan yang berkualitas (providing quality education), perlindungan terhadap perlakuan salah (abuse), eksploitasi, dan kekerasan (protecting against abuse, exploitation and violence), dan penanggulangan HIV/AIDS (combating HIV/AIDS). Dokumen ini berisi tentang Program Nasional bagi Anak Indonesia (PNBAI), yang mencakup keempat bidang tersebut, dan dengan masa pelaksanaan hingga tahun 2015.

1.2LandasanPNBAI 2015 dikembangkan berlandaskan pada beberapa prinsip dan kebijakan yang telah dikembangkan sebelumnya. Pertama-tama, program ini dikembangkan dengan berlandaskan pada Undang-undang Dasar 1945 pasal 28b dan 28c.Landasan kedua adalah Undang-undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UU PA). Undang-undang tersebut menegaskan hak-hak anak untuk memiliki tingkat kesehatan yang optimal, memperoleh pendidikan dan mendapatkan perlindungan. Ditegaskan pula tanggung jawab dan kewajiban orang tua dan/atau wali/pengasuh anak, keluarga, pemerintah dan masyarakat dalam pemenuhan hak-hak anak tersebut.

Penyusunan PNBAI 2015 juga memperhatikan sepenuhnya Konvensi Hak-hak Anak (Convention on the Rights of the Child). Konvensi Hak-hak Anak menekankan beberapa prinsip dasar dalam pemenuhan hak-hak anak, yaitu:

non-diskriminasi;

kepentingan yang terbaik bagi anak;

hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan

penghargaan terhadap pendapat anak.

Millenium Development Goals (MDG) merupakan salah satu rujukan dalam mengembangkan PNBAI. MDG menetapkan 8 tujuan utama, yaitu:

eradikasi kemiskinan yang ekstrim dan kelaparan;

penyelenggaraan pendidikan primer secara universal;

promosi kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan;

penurunan kematian anak;

peningkatan kesehatan ibu;

pemberantasan HIV/AIDS, malaria dan penyakit-penyakit lain;

pemastian kesinambungan lingkungan; dan

pengembangan kemitraan global untuk pembangunan

Dalam deklarasi yang dicanangkan pada tahun 2001, WFC menekankan beberapa prinsip yang mendasari gerakan global untuk menciptakan dunia yang aman bagi anak. Prinsip-prinsip yang juga menjiwai PNBAI adalah:

Mengutamakan (kepentingan) anak-anak (put the children first).

Membasmi kemiskinan, berinvestasi untuk (kepentingan) anak-anak (eradicate poverty: invest in children).

Tidak seorang anak pun boleh ditinggalkan dan/atau tertinggal (leave no child behind).

Memberikan perhatian dan pengasuhan bagi semua anak (care for every child).

Memberikan pendidikan bagi semua anak (educate every child).

Melindungi anak-anak dari segala bahaya dan eksploitasi (protect children from harm and exploitation).

Melindungi anak-anak dari peperangan (protect children from war).

Memberantas HIV/AIDS (combat HIV/AIDS).

Mendengarkan anak-anak dan pastikan partisipasi mereka (listen to children and ensure their participation).

Melindungi bumi (sumberdaya alam) untuk (kepentingan) anak-anak (protect the earth for children).

1.3Prinsip-prinsip DasarBatasan Usia

Berdasarkan Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pada Bab I Ketentuan Umum, pasal 1 ayat 1, yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Anak Sebagai Modal Dasar

Hasil Sensus Penduduk tahun 2000 menunjukkan bahwa proporsi jumlah anak dan remaja berusia 0-14 tahun mencapai hampir 30 persen dari jumlah total penduduk, dan dengan menambahkan jumlah anak yang berusia antara 15-18, jumlah anak secara keseluruhan lebih dari 1/3 jumlah total penduduk Indonesia. Anak merupakan tumpuan masa depan bangsa. Mereka harus dipersiapkan sedemikian rupa sehingga kelak di kemudian hari mampu berkontribusi maksimal bagi kemaslahatan bangsa dan negara. Di lain pihak, karena masih berusia muda, anak merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap berbagai masalah, seperti kesehatan, pendidikan, hukum, ketenagakerjaan, dan lain-lain.

Penghapusan Ketidakadilan dan Pemenuhan Hak

Ketidakadilan adalah salah satu faktor yang menghambat pencapaian pertumbuhan dan perkembangan anak. Konvensi Hak-hak Anak dan berbagai instrumen internasional mengenai hak-hak asasi manusia telah menekankan perlunya dilakukan tiga pendekatan pokok dalam penghapusan ketidakadilan dan pemenuhan hak, yaitu:

mengurangi dampak kemiskinan terhadap kelangsungan hidup dan perkembangan anak;

mengurangi ketidaksetaraan gender dan mengurangi dampaknya terhadap kelangsungan hidup dan perkembangan anak; dan

menghapus diskriminasi.

BAB II

ANALISIS SITUASI

2.1 Kesehatan Anak

Data terakhir yang diperoleh dari Susenas 2001 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia adalah 202.707.418 jiwa, dengan rasio laki-laki/perempuan yang hampir seimbang (1,003). Anak umur 0-4 tahun mencapai 5,8 persen dari total penduduk Indonesia, sedangkan anak umur sekolah 5-14 tahun mencapai 20,76 persen. Dengan proporsi penduduk berumur lebih dari 65 tahun sebesar 4,6 persen, komposisi ini menghasilkan angka beban tanggungan (dependency ratio) sebesar 52,44. Data kependudukan menunjukkan bahwa angka beban tanggungan dari tahun 1996 relatif tidak berubah banyak.

Walaupun proporsi anak umur 0-19 tahun dari seluruh penduduk Indonesia sejak tahun 1996 relatif tetap, seiring dengan pertambahan jumlah penduduk Indonesia jumlah anak Indonesia umur 0-19 tahun dari tahun 1996-2002 juga terus meningkat. Hal ini berarti bahwa populasi anak Indonesia yang harus diperhatikan dan diperjuangkan kesejahteraannya terus meningkat. Beban untuk menanggulangi masalah kesehatan anak juga terus meningkat.

A. Kematian, Kesakitan, dan KecacatanSebagai indikator tingkat kesehatan anak, Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Balita telah mencapai perbaikan yang berarti, setidaknya sampai sebelum Indonesia ditimpa krisis multi-dimensi pada tahun 1997. AKB telah turun dari 68 per 1000 kelahiran hidup pada awal tahun 1990-an menjadi 46 per 1000 kelahiran hidup pada pertengahan dekade (1992-1997). Begitu juga dengan Angka Kematian Balita, yang telah turun dari 97 menjadi 58 pada periode yang sama.

Di samping kemajuan yang cukup bermakna tersebut, tingkat kematian bayi dan balita di Indonesia masih yang tertinggi di antara negara-negara anggota Association of South-East Asian Nations (ASEAN). Masalah lain timbul dari besarnya variasi antarpropinsi, serta relatif besarnya perbedaan tingkat kematian antara daerah perkotaan dan pedesaan.

Tabel 2.1

AKB, AKA, dan AKBA di Indonesia Menurut Tempat Tinggal

Hasil SUSENAS 1995, 1998 dan 2001Tempat tinggalSUSENAS 1995SUSENAS 1998SUSENAS 2001

Angka Kematian Bayi

Perkotaan

Pedesaan

Kota + Desa45

66

6035

54

4939

59

51

Angka Kematian Anak

Perkotaan

Pedesaan

Kota + Desa13

26

228

19

1510

21

17

Angka Kematian Balita

Perkotaan

Pedesaan

Kota + Desa58

90

8142

74

6549

78

68

Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan, 2002. Laporan Data SUSENAS 2001

Menurut Susenas 2001 penyebab utama kematian bayi kurang dari 1 tahun adalah kematian perinatal (36 persen), diikuti oleh pneumonia (28 persen), diare (9 persen), penyakit saluran cerna (4 persen), tetanus (3 persen), dan penyakit syaraf (3 persen).

Grafik-1: Penyebab utama kematian bayi kurang dari 1 tahun (Susenas 2001)

Lima penyebab kematian utama pada bayi baru lahir umur 0-28 hari adalah prematuritas disertai berat lahir rendah (29,2 persen), asfiksia lahir (27 persen), tetanus neonatorum (9,5 persen), masalah pemberian makan (9,5 persen), dan kelainan kongenital (7,3 persen). Sumber yang sama menunjukkan bahwa penyebab utama kematian balita usia 1-4 tahun adalah pneumonia (23 persen), diare (13 persen), penyakit syaraf (12 persen), tifus (11 persen) dan penyakit saluran cerna (6 persen). Keberhasilan program imunisasi telah menurunkan mortalitas akibat difteri, pertusis, dan campak dengan cukup tajam, yaitu dari 52,6 (SKRT 1996) menjadi 1,4 per 1000 penduduk (SKRT/Susenas 2001). Penyebab kematian anak umur 5-14 tahun adalah tifus (15 persen), kecelakaan (13 persen), neoplasma (11 persen), penyakit saluran cerna (9 persen), dan diare dan penyakit saluran nafas (masing-masing 8 persen). Sedangkan untuk anak umur lebih dari 15 tahun penyebab utama kematian adalah kecelakaan, tuberkulosis, dan komplikasi maternal (pada remaja perempuan).

Menurut SDKI 1997 prevalensi diare masih sekitar 10 persen, dan prevalensi pertusis sekitar 9 persen. Hasil Suse