Click here to load reader

PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA MENURUT LEECH PADA …€¦ · Indonesia. Pada siswa SMA kelas XI terdapat pelajaran tentang “menceritakan isi novel”, maka dapat dijadikan media

  • View
    2

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA MENURUT LEECH PADA …€¦ · Indonesia. Pada siswa SMA kelas XI...

  • PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA MENURUT LEECH PADA NOVEL

    PERTEMUAN DUA HATI KARYA NH. DINI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP

    PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA

    Skripsi

    Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

    untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana

    Pendidikan

    Oleh

    Mia Nurdaniah

    NIM 1110013000095

    JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

    FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF

    HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    2014

  • i

    ABSTRAK

    MIA NURDANIAH. NIM: 1110013000095. Skripsi. Prinsip Kesantunan Berbahasa

    Menurut Leech pada Novel Pertemuan Dua Hati Karya Nh. Dini dan Implikasinya

    Terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA, Program Studi Bahasa dan Sastra

    Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif

    Hidayatullah Jakarta. Dosen Pembimbing: Djoko Kentjono, M. A.

    Kesantunan berbahasa merupakan aspek yang sangat penting saat berinteraksi

    dengan lawan tutur. Apalagi pada dunia pendidikan, kesantunan berbahasa memiliki

    peran penting dalam kemampuan berbahasa siswa. Novel sebagai media ajar dapat

    digunakan pengajar untuk menyampaikan pengajaran mengenai kesantunan

    berbahasa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prinsip kesantunan

    berbahasa menurut Leech dalam novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini dan

    implikasinya terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA. Manfaat dari

    penelitian ini meliputi dua hal, yaitu manfaat teoritis yang dapat memberikan

    wawasan tentang kesantuan berbahasa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di

    Sekolah Menengah Atas dan manfaat praktis yang dapat memberikan sumber

    referensi baru untuk penelitian selanjutnya.

    Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan pragmatik.

    Sumber data yang digunakan pada penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu sumber

    data primer yang merupakan sumber data pokok berupa novel karya Nh. Dini yang

    berjudul Pertemuan Dua Hati dan sumber sekunder yang merupakan buku ataupun

    sumber lain yang berhubungan dengan permasalahan objek penelitian. Metode

    pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut (1)

    membaca keseluruhan data primer sambil memahami isi dari data tersebut, (2)

    pengumpulan data, yaitu menandai hal-hal penting yang terdapat pada sumber primer.

    Hasil penelitian menunjukkan lebih banyak tuturan yang mematuhi maksim

    kesantunan berbahasa menurut Leech. Berikut adalah jumlah hasil penelitian, terdapat

    45 tuturan yang mematuhi prinsip kesantunan dan 38 tuturan yang melanggar prinsip

    kesantunan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat dikatakan bahwa novel Pertemuan

    Dua Hati karya Nh. Dini sangat layak untuk dijadikan bahan ajar Bahasa Indonesia

    pada materi yang berhubungan dengan novel, terutama mengenai membaca novel.

    Walaupun novel Nh. Dini adalah novel lama, namun Nh. Dini sangat piawai

    menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca dan memiliki nilai

    kehidupan untuk pembacanya, terutama untuk guru dan orang tua dalam mendidik

    anak-anak. Selain siswa dapat mengusai materi pelajaran mengenai membaca novel,

    siswa pun dapat mempelajari kesantunan berbahasa yang terdapat dalam novel dan

    dapat langsung dipraktekkan pada kehidupan sehari-harinya dalam segala situasi

    sosial, baik dalam lingkungan masyarakat ataupun di lingkungan sekolah.

    Kata kunci: kesantunan berbahasa, prinsip kesantunan, novel Pertemuan Dua Hati

  • ii

    ABSTRACT

    MIA NURDANIAH. NIM: 1110013000095. The title of the research paper is

    “Language Politeness Principle Based on Leech in the Novel Entitled Pertemuan Dua

    Hati by Nh. Dini and its Implication towards Teaching Learning Process in Senior

    High School”, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu

    Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dosen

    Pembimbing: Djoko Kentjono, M. A.

    Language politeness is the important aspect when someone interact with other

    people. In the education environment, language politeness has an important role in

    the students speaking ability. Novel as the media of teaching learning process can be

    used by the teacher to convey materials about language politeness. The aim of this

    research is to know language politeness principle based on Leech in the novel entitled

    Pertemuan Dua Hati by Nh. Dini and its implication towards teaching and learning

    process in Senior High School. The benefit of this research includes two aspects; the

    theoretic benefit which could give knowledge about language politeness on teaching

    and learning process in Senior High School, and practical benefit which could give

    new reference source for the next research.

    This research used descriptive method with pragmatic approach. The source

    of data that used in this research is divided into two: the primary source of the data

    that is the main source in the form of novel by Nh. Dini entitled Pertemuan Dua Hati,

    and secondary source of the data in the form of book or another source related to the

    problem of object research. Collecting data technique that is used in this research

    were in this following list; (1) read overall the primary source and try to understand

    about its content, (2) collected the data, marking important things in the primary

    source.

    Result of the research showed that most of the discourses obey the language

    politeness maxim based on Leech. The following is the amount of research result,

    there were forty-five discourses which obey the politeness principle and thirty-eight

    discourses which contravene the politeness principle. Based on the result of the

    research, it could be said that the novel entitled Pertemuan Dua Hati by Nh. Dini is

    very suitable to be used as a material for teaching and learning Bahasa Indonesia in

    the topic related with novel, especially about reading a novel. Even though this novel

    belongs to old novel, Nh. Dini is very adept of using language style that is easy to be

    understood by the readers and has so many life values for the readers, especially for

    the teacher and the parents who educate their children. Students are not only able to

    acquir the material about reading novel, but also able to study about language

    politeness from the novel and able to practice it directly in their daily life in every

    social situation, not only in the society environment but also in the school

    environment.

    Keywords: language politeness, politeness principle, novel entitle Pertemuan Dua

    Hati

  • iii

    KATA PENGANTAR

    Segala puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang Maha Pengasih

    lagi Maha Penyayang, atas segala nikmat dan karunia-Nya serta limpahan

    rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang

    yang berjudul ”Prinsip Kesantunan Berbahasa Menurut Leech Pada Novel

    Pertemuan Dua Hati Karya Nh. Dini dan Implikasinya Terhadap

    Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA”, sebagai salah satu syarat untuk

    menyelesaikan Program Sarjana Strata (S1) pada jurusan Pendidikan Bahasa

    dan Sastra Indonesia, Faktultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas

    Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Dalam penulisan skripsi ini, penulis tidak luput dari berbagai

    hambatan dan rintangan. Tanpa bantuan dan peran serta berbagai pihak,

    skripsi ini tidak mungkin terwujud. Oleh karena itu, pada kesempatan

    inipenulis menyampaikan rasa terima kasih kepada:

    1) Dra. Nurlena Rifai, M. A., P.h.D., selaku Dekan FTIK UIN Syarif

    Hidayatullah Jakarta;

    2) Didin Syafruddin, M. A., Ph.D., selaku PLT Ketua Jurusan Pendidikan

    Bahasa dan Sastra Indonesia;

    3) Dra. Hindun, M. Pd., selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa dan

    Sastra Indonesia yang telah memberikan dukungan kepada penulis

    untuk menyelesaikan skripsi;

    4) Djoko Kentjono, M.A selaku dosen pembimbing yang telah

    memberikan ilmu, bimbingan serta kesabaran dalam membimbing

    penulis;

    5) Bapak dan Ibu dosen Jurusan Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia,

    yang telah membekali penulis berbagai ilmu pengetahuan;

  • iv

    6) Ayahanda Cuparno, S. Sos dan Ibunda Aidah selaku orangtua penulis,

    serta adik-adik Agung Permana dan M. Argya. Raffa yang senantiasa

    mendoakan, memberikan dorongan moral, dan moril, serta memotivasi

    penulis sehingga penelitian dapat terselesaikan dengan baik;

    7) Seluruh mahasiswa PBSI, khususnya kelas C angkatan 2010,

    terimakasih atas pengalaman dan pembelajaran berharga yang penulis

    dapatkan selama ini;

    8) Aris Fadilah, Deby Rachma Rizka, Nisa Kurniasih, Rizka Amalia

    Sapitri, Widia Cahya Pratami, Ajeng Rosmala, Siti Halimatussadiah,

    Anggi Pramesti. Terimakasih telah mundukung, mengingatkan,

    membantu, menyemangati penulis dalam proses pembuatan skripsi;

    9) Serta kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

    Semoga semua bantuan, dukungan, dan partisipasi yang diberikan

    kepada penulis, mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT.

    Amin.

    Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari

    pembaca, dan semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua,

    khususnya bagi para pembaca.

    Jakarta, 21 November 2014

    Penulis

  • v

    DAFTAR ISI

    ABSTRAK ............................................................................................. i

    KATA PENGANTAR ............................................................................... iii

    DAFTAR ISI ............................................................................................. v

    DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ vii

    BAB I PENDAHULUAN .............................................................. 1

    A. Latar Belakang Masalah ................................................ 1 B. Identifikasi Masalah ...................................................... 4 C. Pembatasan Masalah ..................................................... 4 D. Perumusan Masalah ...................................................... 5 E. Tujuan Penelitian .......................................................... 5 F. Manfaat Penelitian ........................................................ 5 G. Sistematika Penulisan ................................................... 5

    BAB II LANDASAN TEORI ......................................................... 7

    A. Pragmatik ...................................................................... 7 1. Pengertian Pragmatik .............................................. 7 2. Kesantunan .............................................................. 8 3. Prinsip Kesantunan Menurut Leech ........................ 8 4. Konteks ................................................................... 15

    B. Sastra .............................................................................. 17

    a. Pengertian Sastra ..................................................... 17 b. Pengertian Novel .................................................... 18 c. Jenis-Jenis Novel ..................................................... 20 d. Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel ...................... 21 e. Biografi Nh. Dini ..................................................... 23 f. Sinopsis Novel Pertemuan Dua Hati Karya Nh.

    Dini ........................................................................ 25

    C. Penelitian Relevan ......................................................... 28

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...................................... 30

    A. Metode Penelitian.......................................................... 30 B. Sumber Data .................................................................. 31 C. Metode Pengumpulan Data ........................................... 31 D. Teknik Analisis Data ..................................................... 31

  • vi

    BAB IV HASIL PENELITIAN ....................................................... 33

    A. Tabel Tuturan dalam Novel Pertemuan Dua Hati Karya Nh. Dini .............................................................. 33

    B. Analisis Deskriptif Prinsip Kesantunan Berbahasa Menurut Leech pada Novel Pertemuan Dua Hati

    Karya Nh. Dini .............................................................. 60

    C. Hasil Analisis Prinsip Kesantunan dalam Novel Pertemuan Dua Hati Karya Nh. Dini ............................ 103

    D. Implikasi Penelitian dengan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA ......................................................... 103

    BAB V SIMPULAN DAN SARAN ............................................... 106

    A. Simpulan ....................................................................... 106 B. Saran .............................................................................. 107

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN-LAMPIRAN

  • vii

    Daftar Lampiran

    Lampiran 1 Surat Pernyataan Karya Sendiri

    Lampiran 2 Lembar Uji Referensi

    Lampiran 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

    Lampiran 4 Surat Bimbingan Skripsi

    Lampiran 5 Cover novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini

    Lampiran 6 Profil Penulis

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Pragmatik merupakan salah satu cabang ilmu tata bahasa yang

    berkaitan erat dengan tindak tutur. Konteks dalam suatu tindak tutur

    adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Apabila seorang mitra tutur

    menafsirkan maksud dari penutur tanpa memperhatikan konteks maka

    dapat dikatakan orang itu belum sepenuhnya menangkap informasi atau

    tujuan apa yang disampaikan oleh penutur. Begitu pula dengan penutur,

    jika ia berbicara seenaknya saja sekedar basa-basi tanpa memperhatikan

    konteks, maka tujuan dari tuturan tersebut pun tidak tercapai.

    Agar tercapainya tujuan penutur kepada mitra tutur maka penutur

    harus memiliki kesantunan dalam berbahasa. Kesantunan bukan hal yang

    asing lagi bagi masyarakat, apalagi masyarakat Indonesia yang kental akan

    budaya dan adat istiadat. Kesantunan dapat berupa tindak tutur, sikap dan

    sebagainya yang menggambarkan identitas diri seseorang. Maka dari itu

    kesantunan merupakan hal yang sangat penting saat berinteraksi dengan

    orang lain agar hubungan baik selalu terjaga. Pragmatik, dalam hal ini

    kesantunan berbahasa dapat dilihat dari karya sastra, misalnya novel.

    Sastra merupakan karya lisan ataupun tulisan yang

    menggambarkan, dan membahas segala macam kehidupan manusia.

    Kehidupan dalam sastra dibangun oleh tema, penokohan, alur cerita, latar

    maupun gaya bahasa pengarang dalam penciptaannya. Bahasa yang

    digunakan pada sastra pun bukan bahasa sehari-hari, tapi bahasa yang

    memiliki ciri khas, ciri khas tersebut diciptakan oleh para pengarang agar

    menambah keindahan dari karya sastra yang dihasilkan.

    Novel berisi tentang gambaran kehidupan sehari-hari yang

    biasanya diangkat dari realitas sosial yang ada dalam masyarakat. Ide-ide

    yang pengarang ekspresikan dalam karyanya tidak dapat dipisahkan dari

    situasi kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, pengalaman, kejadian,

  • 2

    dan situasi yang pengarang alami diolah sedemikian rupa sehingga

    menciptakan karya sastra berupa novel.

    Totalitas ekspresi pengarang yang dituangkan dalam karyanya

    yang berupa novel menjadi lebih hidup karena disisipkan interaksi antar

    tokoh dalam suatu konteks atau situasi kehidupan sehari-hari. Konteks

    atau situasi kehidupan sehari-hari pada novel biasanya berkaitan dengan

    masalah pendidikan, percintaan, kemiskinan, kekuasaan, kekeluargaan,

    dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, novel dapat dikaji menggunakan ilmu

    pragmatik tentang kesantunan berbahasa karena terdapat interaksi antar

    tokoh dengan konteks atau situasi seperti pada kehidupan sehari-hari.

    Aspek kesantunan sangat penting saat berinteraksi dengan lawan

    tutur. Apalagi pada dunia pendidikan, aspek kesantunan memiliki peran

    penting dalam kemampuan berbahasa siswa. Hal tersebut berkaitan dengan

    buku yang digunakan dalam pengajaran terutama pada pelajaran Bahasa

    Indonesia. Pada siswa SMA kelas XI terdapat pelajaran tentang

    “menceritakan isi novel”, maka dapat dijadikan media untuk siswa

    mendapatkan pengajaran kesantunan. Siswa dapat mengetahui kesantunan

    dari buku yang bahasanya santun, dan memiliki amanat yang bermanfaat

    bagi kehidupan siswa.

    Novel yang dianalisis dalam penelitian ini adalah Pertemuan Dua

    Hati karya seorang pengarang wanita bernama Nh. Dini. Novel ini

    bertema tentang kehidupan guru sekolah dasar yang mengalami konflik

    batin dengan siswa, dan keluarganya. Walaupun novel ini bukan novel

    yang baru, karena cetakan pertamanya tahun 1986, namun konflik yang

    terkandung dalam novel ini masih menarik pada era modern ini yaitu

    masalah pada dunia pendidikan, keprofesionalan guru yang dipertaruhkan.

    Sekilas tentang novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini

    menceritakan tentang kehidupan guru Sekolah Dasar yang bijak, dan

    sepenuh hati dalam menjalankan tugasnya. Ia menjadi guru baru di suatu

    sekolah dasar, ada siswa yang menarik perhatiannya bernama Waskito.

    Waskito merupakan murid yang nakal. Hati bu Suci pun tergerak untuk

  • 3

    menyelesaikan masalah Waskito, dan ingin membantu membimbingnya

    agar menjadi anak yang lebih baik. Namun, disaat yang bersamaan anak

    kedua bu Suci dinyatakan menyidap penyakit ayan oleh dokter, maka

    harus dijaga dan tidak boleh beraktivitas. Bu Suci pun merasa ingin di

    kelas untuk mengetahui perkembangan Waskito, namun di sisi lain dia

    harus mengantar anaknya ke rumah sakit. Karena bu Suci tidak memiliki

    informasi yang cukup tentang Waskito, akhirnya ia memutuskan untuk ke

    kediaman kakek, dan nenek Waskito. Di sana bu Suci mendapatkan

    informasi, bahwa Waskito sebenarnya bukanlah anak nakal hanya saja

    orangtuanya salah mendidiknya. Dari situ bu Suci mulai mendekati

    Waskito, ia membuat Waskito lebih dianggap ada keberadaannya oleh

    teman-teman sekelasnya. Waskito dipercayakan oleh bu Suci melakukan

    hal-hal yang sebelumnya belum pernah ia lakukan, termasuk

    mengantarkan makanan kepada anak bu Suci yang sedang di rumah sakit.

    Di akhir cerita, Waskito berhasil menjadi anak yang baik, dan dapat naik

    kelas.

    Terdapat banyak nilai kehidupan dari novel Pertemuan Dua Hati

    karya Nh. Dini, sehingga penulis tertarik memilih novel ini sebagai

    sumber penelitian. Perjuangan seorang guru untuk muridnya sangat

    terlihat pada novel ini. Selain isi dari novel ini peneliti pun tertarik karena

    pengarang novel ini adalah Nh. Dini, seorang sastrawan wanita yang

    berjaya pada masanya. Novel ini pun bisa menjadi bahan bacaan siswa

    pada pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA dalam materi yang

    membahas novel. Maka dari itu peneliti memilih judul Prinsip

    Kesantunan “Berbahasa Menurut Leech Pada Novel Pertemuan Dua

    Hati Karya N.H Dini dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran

    Bahasa Indonesia di SMA”.

  • 4

    B. Identifikasi Masalah

    Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat diidentifikasi

    beberapa masalah sebagai berikut.

    1. Kurangnya siswa dalam menggunakan kesantunan dalam berbahasa.

    2. Kurangnya minat siswa terhadap pembelajaran bahasa.

    3. Keterbatasan kemampuan siswa dalam memahami kesantunan

    berbahasa.

    4. Rendahnya minat siswa dalam membaca karya sastra.

    5. Kurangnya presentase pengajaran sastra pada siswa SMA.

    6. Tindak tutur tidak hanya terjadi pada karya sastra.

    C. Pembatasan Masalah

    Pembatasan suatu masalah dalam suatu penelitian sangat penting

    agar permasalahan yang akan diteliti lebih terarah dan tidak menyimpang

    dari masalah yang diterapkan. Peneliti lebih berfokus pada prinsip

    kesantunan menurut Leech pada novel Pertemuan Dua Hati karya Nh.

    Dini yang diimplikasikan terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di

    Sekolah Menengah Atas.

    D. Perumusan Masalah

    Untuk mencapai hasil penelitian yang maksimal dan terarah, maka

    diperlukan rumusan masalah dalam suatu penelitian. Adapun rumusan

    masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana prinsip kesantunan

    berbahasa menurut Leech pada novel Pertemuan Dua Hati karya N.H Dini

    dan implikasinya terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah

    Menengah Atas?

    E. Tujuan Penelitian

    Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan sebelumnya maka

    tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan prinsip kesantunan

  • 5

    berbahasa menurut Leech dalam novel Pertemuan Dua Hati karya Nh.

    Dini dan implikasinya terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah

    Menengah Atas.

    F. Manfaat Penelitian

    Manfaat teoretis

    Dapat memberikan wawasan tentang kesantunan berbahasa

    terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Atas.

    Manfaat praktis

    Dapat memberikan sumber referensi baru untuk mahasiswa lain

    yang ingin meneliti hal yang sama dengan penelitian ini.

    G. Sistematika Penulisan

    Untuk mempermudah pembahasan dalam skripsi ini penulis membagi

    dalam lima bab, yaitu:

    BAB I : Pendahuluan

    Dalam bab pendahuluan ini penulis akan memaparkan

    tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah,

    pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan

    penelitian, manfaat penelitian serta sistematika penulisan.

    BAB II : Landasan Teori

    Dalam bab ini penulis akan memaparkan pengertian sastra,

    pengertian novel, jenis-jenis novel, unsur intrinsik dan

    ekstrinsik novel, biografi Nh. Dini, sinopsis novel

    Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini, pengertian

    pragmatik, kesantunan, prinsip kesantunan Leech,

    penelitian relevan, serta implikasi penelitian dengan

    pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA.

    BAB III : Metodologi Penelitian

    Dalam bab ini penulisakan menguraikan tentang metode

    penelitian, sumber data, metode pengumpulan data, dan

  • 6

    teknik analisis data.

    BAB IV : Hasil Penelitian

    Dalam bab ini penulis akan menguraikan tentang

    gambaran umum prinsip kesantunan berbahasa dalam

    novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini serta deskripsi,

    data, analisis data dan interpretasi data.

    BAB V : Penutup

    Dalam bab ini penulis memberikan kesimpulan dan saran-

    saran.

  • 7

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Pragmatik

    1. Pengertian Pragmatik

    Menurut Leech pada tahun 1983, fonologi, sintaksis dan semantic

    merupakan bagian dari tata bahasa atau gramatika, sedangkan pragmatik

    merupakan bagian dari pengunaan tata bahasa (language use).1 Telah banyak

    ahli yang mendefinisikan pengertian pragmatik. Istilah pragmatik berasal dari

    pragmatika diperkenalkan oleh Charles Moris (1938).2 Dalam sumber lain

    dikatakan pula, :‖… pragmatik adalah tindakan aliran struktural yang

    berkonteks, dan yang pada hakikatnya ada karena digunakan di dalam

    komunikasi.‖3

    Pragmatik adalah telaah umum tentang cara kita menafsirkan kalimat

    dalam suatu konteks (unsur waktu dan tempat mutlak dituntut oleh suatu

    ujaran).4 Menurut Heatherington (1980:155), pragmatik adalah ilmu yang

    menelaah mengenai ucapakan-ucapan khusus dalam situasi-situasi tertentu dan

    memandang performasi ujaran sebagai suatu kegiatan sosial yang ditata oleh

    aneka ragam konvensi sosial.5 Pragmatik adalah studi tentang makna dalam

    hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situations). 6 Menurut Ninio

    dan Snow pada tahun 1998 dan Verschueren pada tahun 1999, pragmatik

    adalah studi tentang penggunaan bahasa dalam hubungannya dengan orang lain

    dalam masyarakat yang sama. 7

    Dari beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan pragmatik adalah ilmu

    yang merupakan bagian dari linguistik, meneliti ujaran yang memiliki konteks

    dan digunakan dalam berkomunikasi. Cara penutur menafsirkan kalimat dalam

    1 Kunjana Rahardi, Sosiopragmatik, (Yogjakarta: Penerbit Erlangga, 2009), h.20.

    2 Fatimah Djajasudarma, Wacana dan Pragmatik (Bandung: PT Refika Aditama, 2012),

    h.60.

    3 Bambang Kaswanti Purwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa: Menyibak Kurikulum

    1984 (Yogyakarta: Kanisius, 1990), h.16.

    4 Hindun, Pragmatik untuk Perguruan Tinggi (Depok: Nofa Citra Mandiri, 2012), h.3.

    5 Ibid., h. 3.

    6 Geoffrey Leech, Prinsip-Prinsip Pragmatik, Terj. Dari The Principles Of Pragmatics oleh

    M. D. D. Oka, (UI-Press, 2011), h.8.

    7 Soenjono Dardjowidjojo, Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia,

    (Yayasan Obor Indonesia, 2005), h. 264.

  • 8

    suatu konteks bergantung pada tanda yang melibatkan unsur waktu dan tempat

    yang digunakan setiap ujaran.

    2. Kesantunan

    Leech mengatakan bahwa ―kesantunan merupakan ujaran yang membuat

    orang lain dapat menerima dan tidak menyakiti perasaannya.‖ Sedangkan Yule

    menyatakan bahwa ―kesantunan adalah usaha mempertunjukan kesadaran yang

    berkenaan dengan muka orang lain. Kesantunan dapat dilakukan dalam situasi

    yang bergayut dengan jarak sosial dan keintiman.‖8 Selanjutnya, Baryadi

    dalam PELBBA 18 mengartikan kesantunan sebagai ―salah satu wujud

    penghormatan seseorang kepada orang lain‖.9

    Berdasarkan pemaparan para ahli di atas, kesantunan adalah suatu usaha

    pola penyampaian pesan dengan menjaga perasaan mitra tutur dengan

    menghomati mitra tutur agar tidak menyakiti perasaannya dalam situasi

    tertentu. Cara penghormatan guna menjaga perasaan mitra tutur dilakukan

    dengan menjaga bahasa yang digunakan dalam berinteraksi, tidak asal bicara

    dan menyampaikan ujaran dengan bahasa yang sopan.

    3. Prinsip Kesantunan Menurut Leech

    Prinsip kesantunan yang dianggap paling lengkap adalah prinsip

    kesantunan menurut Leech pada tahun 1983. Prinsip kesantunan ini dituangkan

    dalam enam maksim.

    Maksim merupakan kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual.

    Kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan

    interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucaapan mitra tuturnya.

    Selain itu, maksim juga disebut sebagai bentuk pragmatik berdasarkan prinsip

    kerja sama dan prinsip kesantunan. Berikut ini enam maksim yang merupakan

    prinsip kesantunan menurut Leech:

    8 George Yule dalam buku Hindun, “Pragmatik untuk Perguruan Tinggi”, (Depok: Nofa

    Citra Mandiri, 2012), h. 67.

    9 Yassir Nasanius (peny.), PELBBA 18:Pertemuan Linguistik Pusat Kajian Bahasa dan

    Budaya Atmajaya (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007), h.101.

  • 9

    1) Maksim Kebijaksanaan (Tact Maxim)

    Kurangi kerugian orang lain, tambahi keuntungan orang lain.

    Contoh:

    Ibu : ―Ayo dimakan bakminya! Di dalam masih banyak, kok.‖

    Rekan Ibu : ―Wah, segar sekali. Siapa yang memasak ini tadi, Bu?‖

    Informasi Indeksal: Dituturkan oleh seorang ibu kepada teman dekatnya pada

    saat ia berkunjung ke rumahnya.

    Kalau dalam tuturan penutur berusaha memaksimalkan keuntungan orang

    lain, maka mitra tutur harus pula memaksimalkan kerugian dirinya, bukan

    sebaliknya.. Bandingkan pertuturan (25) yang mematuhi maksim

    kebijaksanaan dan petuturan (26) yang melanggarnya.

    (25) A: Mari saya bawakan tas Bapak!

    B: Jangan, tidak usah!

    (26) A: Mari saya bawakan tas Bapak!

    B: Ini, begitu dong jadi mahasiswa!10

    2) Maksim Kedermawanan (Generosity Maxim)

    Menurut Leech dalam The Principles Of Pragmatics, maksim

    kedermawanan mengacu pada, “Minimize benefit to self: maximize cost to

    self.”11

    Kurangi keuntungan diri sendiri, tambahi pengorbanan diri sendiri.

    Contoh:

    Bapak A : ―Wah, oli mesin mobilku agak sedikit kurang.‖

    Bapak B : ―Pakai oliku juga boleh. Sebentar, saya ambilkan dulu!‖

    Informasi Indeksal: Dituturkan oleh seseorang kepada tetangga dekatnya di

    sebuah perumahan ketika mereka sedang sama-sama merawat mobil masing-

    masing di garasi.12

    10 Abdul Chaer, Kesantunan Berbahasa, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 57.

    11

    Geoffrey Leech, The Principles Of Pragmatics (London and New York: Longman, 1989), h. 133.

  • 10

    Menurut Abdul Chaer dalam Kesantunan Berbahasa, maksim ini disebut

    juga sebagai maksim penerimaan, yaitu maksim yang menghendaki setiap

    peserta pertuturan untuk memaksimalkan kerugian diri sendiri dan

    meminimalkan keuntungan diri sendiri. Tuturan (27) dan (28) dipandang

    kurang santun bila dibandingkan dengan tuturan (29) dan (30).

    (27) Pinjami saya uang seratus ribu rupiah!

    (28) Ajaklah saya makan di restaurant itu!

    (29) Saya akan meminjami Anda uang seratus ribu rupiah.

    (30) Saya ingin mengajak Anda makan siang di restaurant.

    Tuturan (27) dan (28) serasa kurang santun karena penutur berusaha

    memaksimalkan keuntungan untuk dirinya dengan mengusulkan orang lain.

    Sebaliknya tuturan (29) dan (30) serasa lebih santun karena penutur berusaha

    memaksimalkan kerugian diri sendiri.13

    3) Maksim Penghargaan (Approbation Maxim)

    Menurut Leech pada The Princiles Of Pragmatics, approbation maxim adalah

    sebagai berikut.

    Minimize dispraise of other; maximize praise of other. An unflattering subtitle

    for the Approbation Maxim would be „the Flattery Maxim‟ – but the term

    „flattery‟ is generally reserved for insincere approbation. In its more important

    negative aspect, this maxim says „avoid saying unpleasant things about others,

    and more particulary, about h‟. Hence whereas a compliment like What a

    marvelous meal you cooked! Is highly valued according to the Aprobation

    Maxim, †What an awful meal you cooked! Is not.14

    Approbation maxim yang telah dijelaskan di atas berarti kurangi cacian pada

    orang lain, tambahi pujian pada orang lain. Approbatin maxim bisa diberi nama

    lain, namun kurang baik, yaitu, ‗Maksim Rayuan‘ – tetapi istilah ‗rayuan‘

    biasanya digunakan untuk pujian tidak tulus. Pada approbation maxim, aspek

    negatif yang paling penting, yaitu jangan mengatakan hal-hal yang tidak

    menyenangkan mengenai orang lain, terutama mengenai mitra tutur. Karena

    itu, menurut approbation maxim, sebuah pujian seperti ―Masakanmu enak

    12 Kunjana Rahardi, Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia (Jakarta:

    Erlangga, 2005), h.59.

    13 Chaer, op. cit., h.57.

    14

    Leech, op. cit., h. 135.

  • 11

    sekali‖ sangat dihargai, sedangkan ucapan ―Masakanmu samasekali tidak

    enak!‖ tidak dihargai.

    Contoh:

    Dosen A : ―Pak, aku tadi sudah memulai kuliah perdana untuk kelas

    Business English.‖

    Dosen B : ―Oya, tadi aku mendengar Bahasa Inggrismu jelas sekali dari

    sini.‖

    Informasi Indeksal:

    Dituturkan oleh seorang dosen kepada temannya yang juga seorang dosen

    dalam ruang kerja dosen pada sebuah perguruan tinggi.

    Abdul Chaer menyatakan bahwa Approbation Maxim disebut juga maksim

    kemurahan. Maksim kemurahan menuntut setiap peserta pertuturan untuk

    memaksimalkan rasa hormat kepada orang lain dan meminimalkan rasa tidak

    hormat kepada orang lain.

    (31) A: Sepatumu bagus sekali!

    B: Wah, ini sepatu bekas; belinya juga di pasar loak.

    (32) A: Sepatumu bagus sekali!

    B: Tentu dong, ini sepatu mahal; belinya juga di Singapura!

    Penutur A pada (31) dan (32) bersikap santun karena berusaha

    memaksimalkan keuntungan pada (B) mitra tuturnya. Lalu, mitra tutur pada

    (31) juga berupaya santun dengan berusaha meminimalkan penghargaan diri

    sendiri; tetapi (B) pada (32) melanggar kesantunan dengan berusaha

    memaksimalkan keuntungan diri sendiri. Jadi, (B) pada (32) tidak berlaku

    santun.15

    4) Maksim Kesederhanaan (Modesty Maxim)

    15 Chaer, op. cit., h. 58.

  • 12

    Kurangi pujian pada diri sendiri, tambahi cacian pada diri sendiri.

    Contoh:

    Sekretaris A: ―Dik, nanti rapatnya dibuka dengan doa dulu, ya! Anda yang

    memimpin!

    Sekretaris B: ― Ya, Mbak. Tapi, saya jelek, lho.‖

    Informasi Indeksal:

    Dituturkan oleh seorang sekretaris kepada sekretaris lain yang masih junior

    pada saat mereka bersama-sama bekerja di ruang kerja mereka.

    Dalam Kesantunan berbahasa, Modesty Maxim disebut sebagai maksim

    kerendahan hati. Maksim kerendahan hati menuntut setiap peserta pertuturan

    untuk memaksimalkan ketidakhormatan pada diri sendiri, dan meminimalkan

    rasa hormat pada diri sendiri.

    (40) A: Kamu memang sangat berani.

    B: Ah tidak; tadi ‗kan cuma kebetulan saja.

    5) Maksim Permufakatan (Agreement Maxim)

    Kurangi ketidaksesuaian antara diri sendiri dengan orang orang lain, tingkatkan

    persesuaian antara diri sendiri dengan orang lain.

    Contoh:

    Noni: ―Nanti malam kita makan bersama ya, Yun!‖

    Yuyun: ―Boleh. Saya tunggu di Bambu Resto.‖

    Informasi Indeksal:

    Dituturkan oleh seorang mahasiswa kepada temannya yang juga mahasiswa

    pada saat mereka sedang berada di sebuah ruang kelas.16

    16 Ibid,. h. 64.

  • 13

    Abdul Chaer dalam Kesantunan Berbahasa menyebut Agreement Maxim

    dengan sebutan maksim kecocokan, yang berarti menghendaki agar setiap

    penutur dan mitra tutur memaksimalkan kesetujuan di antara mereka; dan

    meminimalkan ketidaksetujuan di antara mereka.

    (41) A: Kericuhan dalam Sidang Umum DPR itu sangat

    memalukan.

    B: Ya, memang!

    (42) A: Kericuhan dalam Sidang Umum DPR itu sangat

    memalukan.

    B: Ah, tidak apa-apa. Itulah dinamikanya demokrasi.

    Tuturan B pada (41) lebih santun dibandingkan dengan tuturan B pada

    (42), mengapa? Karena pada (42), B memaksimalkan ketidaksetujuan dengan

    pernyataan A. Namun bukan berarti orang harus senantiasa setuju dengan

    pendapat atau pernyataan mitra tuturnya. Dalam hal ia tidak setuju dengan

    pernyataan mitra tuturnya, dia dapat membuat pernyataan yang mengandung

    ketidaksetujuan parsial (partial agreement) seperti tampak pada pertuturan

    berikut.

    (43) A: Kericuhan dalam siding umum DPR itu sangat

    memalukan.

    B: Memang, tetapi itu hanya melibatkan beberapa oknum

    anggota DPR saja.

    Pertuturan (43) terasa lebih santun daripada pertuturan (42) karena

    ketidaksetujuan B tidak dinyatakan secara total, tetapi secara parsial sehingga

    tidak terkesan bahwa B adalah orang yang sombong.17

    6) Maksim Simpati (Sympathy Maxim)

    17 Abdul Chaer, Kesantunan Berbahasa, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h.59-61.

  • 14

    Kurangi antipati antara diri sendiri dengan orang lain, perbesar simpati antara

    diri sendiri dengan orang lain. (Tarigan, 1990: 82-83).

    Contoh:

    Ani: ―Tut, nenekku meninggal.‖

    Tuti: ―Innalillahiwainnailaihi rojiun. Ikut berduka cita.‖

    Informasi Indeksal:

    Dituturkan oleh seorang karyawan kepada karyawan lain yang sudah

    berhubungan erat pada saat mereka berada di ruang kerja mereka. 18

    Menurut Abdul Chaer dalam Kesantunan Berbahasa, Sympathy Maxim

    disebut juga sebagai maksim kesimpatian. Maksim ini mengharuskan semua

    peserta pertuturan untuk memaksimalkan rasa simpati, dan meminimalkan rasa

    antipasti kepada mitra tuturnya. Bila mitra tutur memperoleh keberuntungan

    atau kebahagiaan penutur wajib memberikan ucapan selamat. Jika mitra tutur

    mendapat kesulitan atau musibah penutur sudah sepantasnya menyampaikan

    rasa duka atau bela sungkawa sebagai tanda kesimpatian. Simak pertuturan

    (45) dan (46) yang cukup santun karena si penutur mematuhi maksim

    kesimpatian, yakni memaksimalkan rasa simpati kepada mitra tuturnya yang

    mendapatkan kebahagiaan pada (45) dan kedukaan pada (46).

    (45) A: Bukuku yang kedua puluh sudah terbit.

    B: Selamat ya, Anda memang orang hebat.

    (46) A: Aku tidak terpilih jadi anggota legislatif; padahal uangku sudah banyak

    keluar.

    B: Oh, aku ikut prihatin; tetapi bisa dicoba lagi dalam pemilu

    mendatang.19

    Berdasarkan pemaparan di atasa dapat disimpulkan bahwa

    menurut Leech prisip kesantunan ada 6, yaitu tact maxim (maksim

    kebijaksanaan), generosity maxim (maksim kedermawanan atau maksim

    penerimaan), approbation maxim (maksim penghargaan atau maksim

    18 Kunjana Rahardi, Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia (Jakarta:

    Erlangga, 2005), h.59.

    19

    Chaer, op.cit., h. 61

  • 15

    kemurahan), modesty maxim (maksim kesederhanaan atau maksim kerendahan

    hati), agreement maxim (maksim permufakatan atau maksim kecocokan), dan

    sympathy maxim (maksim simpati atau maksim kesimpatian). Keenam maksim

    pada prinsip kesantunan, dilihat dari keuntungan terhadap diri sendiri,

    pengorbanan, pujian, cacian, penyesuaian diri dan simpati serta antisimpati.

    Maksim kemufakatan dan maksim simpati berhubungan dengan

    penilaian penutur kepada dirinya sendiri ataupun pada mitra tuturnya.

    Sedangkan maksim kebijaksanaan dan maksim kesederhanaan mempunyai

    kesamaan, karena keduanya berpusat pada orang lain. Maksim kedermawanan

    dan maksim kesederhanaan berpusat pada diri sendiri, baik penutur ataupun

    mitra tutur.

    4. Konteks

    Dalam pragmatik, konteks sangatlah penting dan tidak dapat dipisahkan.

    Menurut KBBI, konteks adalah bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat

    mendukung atau menambah kejelasan makna.20

    Sedangkan menurut Mey pada

    tahun 1993, dalam F.X. Nadar adalah the surrounding, in the widest sense, that

    enable the participants the communication process their interaction

    intelligible, yang berarti situasi lingkungan dalam arti luas yang

    memungkinkan peserta pertuturan untuk dapat berinteraksi, dan yang membuat

    ujaran mereka dapat dipahami. Selain itu, pentingnya konteks dalam pragmatik

    ditekankan oleh Wijana pada tahun 1996, yang menyebutkann bahwa

    pragmatik mengkaji makna yang terikat konteks.21

    Leech mengartikan konteks

    sebagai suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh

    penutur dan mitra tutur, dan yang membantu mitra tutur menafsirkan makna

    tuturan.22

    Sehingga, dapat disimpulkan bahwa konteks sangat penting dalam

    pragmatik yang mengkaji makna dari setiap ujaran dalam suatu situasi.

    Konteks merupakan latar belakang yang sama-sama diketahui oleh penutur dan

    mitra tutur.

    20 Pusat Bahasa Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,

    2002), Edisi ke-3, h. 728.

    21 F.X. Nadar, Pragmatik & Penelitian Pragmatik, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), h.3-4.

    22

    Geoffrey Leech, Prinsip-Prinsip Pragmatik, Terj. Dari The Principles Of Pragmatics oleh M. D. D. Oka, (UI-Press, 2011), h.20.

  • 16

    Menurut John. J. Gumperz dan Dell Hymes, konteks dapat mempermudah

    pola-pola komunikatif dengan menggunakan klasifikasi kisi-kisi yang diajukan

    Hymes yang dikenal dengan istilah SPEAKING. Istilah SPEAKING,

    merupakan akronim yang tiap hurufnya merupakan unsur dari konteks. Unsur-

    unsur itu adalah:

    1) Setting dan scene / adegan (S). Setting mengacu pada waktu dan tempat.

    Contohnya adalah lingkungan yang secara fisik dapat dilihat pada

    peristiwa tutur berlangsung. Sedangkan dapat pula terjadi suatu ujaran

    tertentu menjelaskan scene/ adegan.

    2) Participant/ peserta (P), termasuk penutur dan mitra tutur, yang

    menuturkan dan yang mendengarkan, pengirim dan penerima. Tuturan

    tersebut antara penutur dan mitra tutur dan pedengar yang saling berganti

    peran.

    3) End/ hasil akhir (E), mengacu pada hasil akhir dari respon dalam

    percakapan yang dilakukan dan juga tujuan akhir personal yang dicari oleh

    peserta percakapan.

    4) Act sequence/ urutan tindakan (A), mengacu pada bentuk dan isi yang

    actual dari kata-kata yang digunakan, sehingga terhubung antara apa yang

    dituturkan dengan urutan tindakan dengan tema yang actual saat itu.

    5) Key/ Kunci (K), mengacu pada nada/ tone, perilaku atau semangat saat

    pesan tersebut digunakan, di antaranya adalah serius, bahagia, mencekam,

    menakutkan, kegembiraan, kelembutan. Kunci yang dimaksud adalah

    body language atau bahasa tubuh yaitu dengan perilaku gerak tubuh.

    6) Instrument (I), mengacu pada pilihan channel/ jalur yaitu sesuatu yang

    digunakan agar pesan itu dapat tersampaikan seperti ujaran lisan, tulisan,

    sms, dan bentuk ujaran yang digunakan seperti bahasa, simbol-simbol,

    kode dan dialek.

    7) Norm/ cara interaksi dan interpretasi (N), merupakan perilaku tertentu

    yang berkaitan erat dengan peristiwa tutur, baik dari volume suara,

    ekspresi dan gerak tubuh bahkan diam.

    8) Genre (G), merupakan jenis bahasa ujaran, seperti ungkapan pantun,

    peribahasa, motto, nasihat, lelucon, kampanye yang keseleluruhannya

  • 17

    ditandai dengan cara yang tidak biasa. 23

    Menurut Swales pada tahun 1990

    dirangkum dalam bahasa Indonesia, menyatakan bahwa suatu genre terdiri

    atas suatu kelas peristiwa-peristiwa komunikatif yang para anggotanya

    bersama-sama memiliki beberapa perangkat tujuan komunikatif.24

    Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Hymes memberikan penjelas

    pada setiap unsur dengan akurat. Unsur dari akronim SPEAKING tersebut

    digunakan untuk memperjelas konteks setiap tuturan dalam analisis deskriptif

    pada BAB IV, yaitu peristiwa tutur, tempat, waktu, tujuan, mitra tutur dan

    situasi.

    B. Sastra

    1. Pengertian Sastra

    Sastra adalah bahasa, kata-kata, gaya bahasa yang dipakai dalam kitab-

    kitab, bukan bahasa sehari-hari.25

    Karya sastra adalah karya imajinatif

    pengarang yang menggambarkan kehidupan masyarakat pada waktu karya

    sastra itu diciptakan.26

    Secara etimologis sastra atau sastera berasal dari bahasa Sansekerta yang

    terdiri dari akar kata Ças atau sâs dan –tra. Ças dalam bentuk kata kerja yang

    diturunkan memiliki arti mengarahkan, mengajar, memberikan suatu petunjuk

    ataupun intruksi. Akhiran –tra menunjukan satu sarana atau alat. Sastra secara

    harfiah berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku intruksi ataupun

    pengajaran.27

    Karya sastra (novel, cerpen, dan puisi) adalah karya imajinatif, fiksional,

    dan ungkapan ekspresi pengarang. Karya sastra adalah produk budaya, dan

    sebagai produk budaya karya sastra mencerminkan ataupun merepresentasikan

    realitas masyarakat sekitarnya dan pada zamannya. Dengan asumsi itu, karya

    23 Nuri Nurhaidah, Wacana Politik Pemilihan Presiden di Indonesia, (Yogyakarta: Smart

    Writing, 2014), h. 55-56.

    24 Fatimah Djajasudarma, Wacana- Pemahaman dan Hubungan Antarunsur, (Bandung:

    Refika Aditama, 2006), h.29.

    25

    A.A. Waskito, Kamus Praktis Bahasa Indonesia, (Jakarta: WahyuMedia, 2009), h. 508.

    26 Yuana Agus Dirgantara, Pelangi Bahasa Sastra dan Budaya Indonesia, (Garudhawaca,

    2012), h. 123.

    27 Dwi Susanto S.S., M. Hum. Pengantar Teori Sastra, (Yogyakarta: Caps, 2012), h. 1

  • 18

    sastra hanya mencerminkan jiwa zamannya saja.28

    Dapat dikatakan bahwa sastra adalah karya imajinatif yang

    menggambarkan kehidupan sehari-hari namun bahasa yang digunakannya

    bukan bahasa sehari-hari. Bahasa yang digunakan pada karya sastra adalah

    bahasa yang mempunyai ciri khas pengarang, karena itu karya sastra disebut

    karya yang mempunyai keorsinilan pada penciptaannya. Bahasa yang

    digunakan mempunyai ciri khas karena sastra diciptakan untuk dinikmati

    pembacanya.

    2. Pengertian Novel

    Kata novel berasal dari bahasa latin novellus yang diturunkan pula dari

    kata novies yang berarti ―baru‖. Dikatakan baru karena jika dibandingkan

    dengan jenis-jenis sastra lainnya seperti puisi, drama dan lain-lain maka jenis

    novel ini muncul kemudian. 29

    Novel merupakan genre sastra baru dibandingkan puisi, drama, dan lain-

    lain, karena novel baru muncul setelah jenis sastra lainnya. Novel merupakan

    karya sastra yang mempunyai konteks seperti kehidupan sehari-hari. Ada

    beberapa pengertian novel yang dikemukakan oleh para ahli.

    The American College Dictionary of Current English yang disebut dalam

    buku Henry Guntur Tarigan, menyebut novel adalah suatu cerita yang fiktif

    dalam panjang yang tertentu, yang menuliskan para tokoh, gerak, serta adegan

    kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang

    agak kacau atau kusut.30

    Dewasa ini novella dan novelle mengandung pengertian yang sama dengan

    istilah Indonesia novelette (Inggris: novelette, yang berarti sebuah karya prosa

    fiksi yang panjangnya cukup, tidak terlalu panjang namun tidak juga terlalu

    pendek.31

    Novel merupakan cerita fiktif yang panjang. Di dalam novel terdapat

    28 Ibid., h. 32-33.

    29

    Henry Guntur Tarigan, Prinsip-Prinsip Dasar Sastra, (Bandung: Penerbit Angkasa,

    2011), h. 164.

    30

    Ibid,. h. 164.

    31

    Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2012), h. 9-10.

  • 19

    tokoh, gerakan, dan kehidupan nyata yang diwakilkan pada jalan cerita yang

    mempunyai konflik.

    Pengertian selanjutnya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, novel

    adalah karangan prosa yang panjang yang mengandung rangkaian cerita

    kehidupan seseorang dengan orang sekelilingnya dengan menonjolkan watak

    sifat pelaku.32

    Pengertian novel menurut R.J. Rees pada tahun 1973, “A

    fictitious prose narrative of considerable length in which characters and

    actions representative of real life are portrayed in a plot of more or less

    complexity.” Dapat diartikan, menurut R.J. Rees novel merupakan sebuah

    cerita fiksi dalam bentuk prosa yang cukup panjang, yang tokoh dan

    perilakunya merupakan cerminan kehidupan nyata, dan yang digambarkan

    dalam suatu plot yang cukup kompleks.33

    Berdasarkan penjabaran dari beberapa ahli, dapat disimpulkan bahwa

    novel merupakan karangan prosa yang mencerminkan kehidupan seseorang

    dengan orang-orang di sekelilingnya yang digambarkan dalam suatu alur yang

    cukup kompleks dengan beragam bahasa keseharian yang mengandung ciri

    khas dari kepribadian pengarangnya. Dalam novel, setiap pelaku mempunyai

    watak dan berinterkasi antara tokoh satu dengan tokoh lainnya, hal itu yang

    menonjol dalam novel dibandingkan dengan puisi. Dapat dibuktikan pada puisi

    tidak terdapat tokoh pun bisa dinikmati oleh pembaca.

    3. Jenis-Jenis Novel

    Novel memiliki kategori yang beragam, walaupun kategorisasi novel kerap

    kali menimbulkan pertentangan karena perbedaan pendapat antara pihak satu

    dengan pihak lainnya. Namun kategorisasi novel sangatlah diperlukan untuk

    mengetahui serta memahami karakteristik, dan cerita novel. Berikut ini adalah

    jenis novel dalam Teori Pengkajian Fiksi.

    a. Novel serius

    Novel serius biasanya berusaha mengungkapkan sesuatu yang baru

    32 Pusat Bahasa Depdiknas, op.cit., h. 788.

    33

    Furqonul Aziez dan Abdul Hasim, Menganalisis Fiksi Sebuah Pengantar, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), h. 1.

  • 20

    dengan cara pengucapan yang baru pula. Novel serius memerlukan daya

    konsentrasi yang tinggi, dan kemauan jika ingin memahaminya. Novel ini

    merupakan makna sastra yang sebenarnya. Pengalaman, dan permasalahan

    kehidupan yang ditampilkan dalam novel jenis ini disoroti, dan diungkapkan

    sampai ke inti hakikat kehidupan yang bersifat universal. Novel serius

    mengambil realitas kehidupan ini sebagai model, kemudian menciptakan

    sebuah ―dunia-baru‖ lewat penampilan cerita dan tokoh-tokoh dalam situasi

    yang khusus.34

    Novel serius biasanya mengangkat cerita yang lebih kompleks,

    bukan hanya kisah asmara antara sejoli. Kisah asmara atau kisah cinta yang

    diangkat pada novel serius bukan hanya kepada pasangan tetapi bisa saja

    kepada keluarga, orang tua, teman dan lain sebagainya. Cerita yang disuguhkan

    dalam novel popular pun lebih rumit. Novel popular tidak berkiblat pada selera

    pembaca seperti novel popular. Karya novel popular biasanya lebih abadi dari

    novel popular yang tidak akan diingat pembaca dalam waktu yang lama.

    b. Novel Populer

    Novel populer adalah novel yang populer pada masanya dan

    banyak penggemarnya. Khususnya pembaca dikalangan remaja. Ia

    menampilkan masalah-masalah yang aktual dan selalu menzaman, namun

    hanya sampai pada tingkat permukaan. Novel populer tidak menampilkan

    kehidupan secara intens, tidak berusaha meresapi hakikat kehidupan. Novel ini

    pada umumnya bersifat artifisial, hanya bersifat sementara, cepat ketinggalan

    zaman, dan tidak memaksa orang untuk membacanya sekali lagi. Biasanya

    banyak dilupakan orang, apalagi denhan munculnya novel-novel baru yang

    lebih populer pada asa sesudahnya. Menurut Stanton dalam Teori Pengkajian

    Fiksi, novel popular lebih mudah dibaca, dan lebih mudah dinikmati karena ia

    memang semata-mata menyampaikan cerita.35

    Novel popular tidak masuk dalam masalah kehidupan yang rumit,

    kebanyakan novel popular hanya menunjukan emosi-emosi yang biasa remaja

    34 Nurgiyantoro, op. cit., h. 18-20.

    35

    Ibid., h. 18.

  • 21

    alami, misalnya masalah asmara. Maka dari itu, jenis novel ini banyak diminati

    oleh kalangan remaja. Jika sudah habis jamannya, novel jenis ini tidak lagi

    diingat lagi. Jalan cerita novel popular biasanya sederhana karena novel

    popular mengincar selera pembaca.

    Dari jenis-jenis novel yang disampaikan, maka novel Pertemuan

    Dua Hati karya Nh. Dini merupakan novel serius. Hal tersebut karena

    Pertemuan Dua Hati mengangkat masalah yang perlu direnungkan oleh para

    pembaca. Novel ini memiliki nilai kehidupan, dan nilai pendidikan yang tidak

    habis dimakan zaman.

    4. Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel

    Unsur-unsur pembangun sebuah novel—yang kemudian secara bersama

    membentuk sebuah totalitas itu— di samping unsur formal bahasa, masih

    banyak lagi macamnya. Namun, secara garis besar berbagai macam unsur

    tersebut secara tradisional dapat dikelompokan menjadi dua bagian, walau

    pembagian ini tidak benar-benar pilah. Pembagian unsur yang dimaksud adalah

    unsur intrinsik dan ekstrinsik.

    a. Unsur Intrinsik

    Unsur Intrinsik (intrinsic) adalah unsur-unsur yang membangun karya

    sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir

    sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang

    membaca karya sastra. Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang

    (secara langsung) turut serta membangun cerita. 36

    Unsur intrinsik yang

    dimaksud dalam Wellek & Warren adalah sebagai berikut,

    1) Sastra dan seni;

    2) modus keberadaan karya sastra;

    3) efoni, irama dan matra;

    4) gaya dan stilistika;

    5) citra, metafora, symbol, dan mitos;

    6) sifat dan ragam fiksi naratif;

    7) genre sastra;

    36 Ibid., h. 23.

  • 22

    8) penilaian;

    9) sejarah sastra;37

    b. Unsur Ekstrinsik

    Unsur ekstrinsik (extrinsic) adalah unsur-unsur yang berada di luar

    karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau

    sistem organisme karya sastra. Atau, secara lebih khusus ia dapat dikatakan

    sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra,

    namun sendiri, tidak ikut menjadi bagian di dalamnya. Walau demikian, unsur

    ekstrinsik cukup berpengaruh (untuk tidak dikatakan: cukup menentukan)

    terhadap totalitas bangun cerita yang dihasilkan. Sebagaimana halnya unsur

    intrinsik, unsur ekstrinsik juga terdiri dari sejumlah unsur. Unsur-unsur yang

    dimaksud (Wellek & Warren, 1956 : 75—135) antara lain adalah keadaan

    subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan

    pandangan hidup yang kesemuanya itu akan mempengaruhi karya yang

    ditulisnya. Pendek kata, unsur biografi pengarang akan turut menentukan corak

    karya yang dihasilkannya. Unsur ekstrinsik berikutnya adalah psikologi, baik

    psikologi pengarang, psikologi pembaca, maupun penerapan prinsip psikologi

    dalam karya. 38

    5. Biografi Nh. Dini

    Bernama pena Nh. Dini atau N.H Dini, penulis novel dan biografi yang

    bernama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin, lahir di Sekay Semarang,

    Jawa Tengah pada tanggal 29 Februari 1936. Ia mengenyam pendidikan di

    SMA Sastra Bojong pada tahun 1956, selanjutnya Kursus Pramugari Darat

    GIA Jakarta pada tahun 1956, dan dilanjutkan Kursus B-1 Jurusan Sejarah

    pada tahun 1957.

    Nh. Dini menikah dengan Yves Coffin, seorang diplomat yang bekerja di

    Konsulat Perancis di Kobe, Jepang pada tahun 1960, namun bercerai pada

    37Renne Wellek and Austin Wareen, Teori Kesusastraan, oleh Melani Budianta, (Jakarta:

    PT Gramedia Pusaka Utama, 1993), h.160-338

    38Nurgiyantoro, op.cit., h. 23-24.

  • 23

    tahun 1984. Dari pernikahannya tersebut Nh. Dini dikaruniai dua orang anak

    bernama Marie Claire Lintang dan Pierre Louis Padang Coffin, sutradara dan

    animator film Despicable Me dan Despicable Me 2.

    Nh. Dini diakui sebagai salah seorang penulis pertama yang

    mengetengahkan pengalaman wanita Indonesia secara blak-blakan ke dalam

    tulisan. Kini ia tinggal di Yogyakarta walaupun kenangannya berpusat pada

    kehidupannya di Semarang dan Paris. Ia mulai menulis sajak dan prosa

    berirama pada tahun 1951 dan membacakannya sendiri di RII Semarang, Jawa

    Tengah.

    Pada tahun 1952, ia mengirimkan sajak-sajaknya ke siaran nasional RRI

    Jakarta, dan karyanya mulai ditebitkan di majalah. Cerita-cerita pendeknya

    mulai diterbitkan majalah Kisah, Mimbar Indonesia, dan Siasat pada tahun

    1953. Nh. Dini menulis naskah sandiwara radio yang dimainkan oleh

    kelompoknya sendiri yang diberi nama Kuncup Berseri di RRI Semarang, Jawa

    Tengah (1953). Ia sempat membentuk sandiwara di sekolahnya, SMA Sastra

    Bojong dan diberi nama Pura Bhakti pada tahun 1954. 39

    Lebih dari 20 tahun ia berpindah-pindah tinggal di Jepang, Kamboja,

    Filipina, Amerika Serikat, Belanda, dan Prancis. Tahun 1980 kembali ke

    Indonesia dan segera aktif dalam Wahana Lingkungan Hidup dan Forum

    Komunikasi Generasi Muda Keluarga Berencana. Tahun 1986 ia mendirikan

    Pondok Baca Nh. Dini, taman bacaan untuk anak-anak.

    Pada tahun 1988, ia memenangkann hadiah pertama lomba penulisan

    cerpen dalam bahasa Prancis yang diselenggarakan surat kabar Le Monde,

    Kedutaan Prancis di Jakarta, dan Radio Franche Internationale, dengan cerpen

    berjudul Le Nid de Poison dans le Bale de Jakarta.

    Berbagai penghargaan telah diterimanya, antara lain: ―Hadiah Seni untuk

    Sastra, 1989‖ (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan); ―Bhakti Upapradana

    39Taman Ismail Marzuki, ‘Tokoh nh dini’, 2013, h.1,

    (http://www.tamanismailmarzuki.com).

    http://www.tamanismailmarzuki.com/

  • 24

    Bidang Sastra‖ (1991, Pemerintah Daerah Jawa Tengah); dan ―South-East Asia

    Writes‘ Award‖ (2003).

    Karya:

    a) Seri Cerita Kenangan

    Sebuah Lorong di Kotaku (1989)

    Padang Ilalang di Belakang Rumah (1987)

    Langit dan Bumi Sahabat Kami (1988)

    Sekayu (1988)

    Kuncup Berseri (1996)

    Kemayoran (2000)

    Jepun Negerinya Hiroko (2001)

    Dari Parangakik ke Kampuchea (2003)

    Dari Fontenay ke Magallianes (2005)

    La Grande Borne (2007)

    Hidup Memisahkan Diri (2008)

    b) Novel-novel lain

    Pada Sebuah Kapal (1985)

    Pertemuan Dua Hati (1986)

    Namaku Hiroko (1986)

    Keberangkatan (1987)

    Tirai Menurun (1993)

  • 25

    Jalan Bandungan (2009)40

    Nh. Dini merupakan pengarang wanita yang menempati kedudukan

    istimewa. Nh. Dini berhasil menerobos dan menempatkan dirinya sebagai

    novelis wanita yang sejajar dengan novelis pria pada zamannya.41

    6. Sinopsis Novel Pertemuan Dua Hati Karya Nh. Dini

    Bu Suci adalah seorang guru Sekolah Dasar di Purwodadi. Purwodadi

    merupakan kota kecil yang gersang tetapi kota itu tempat kelahirannya. Ia

    adalah seorang guru yang bijak dan sangat menyayangi keluarganya serta

    murid-muridnya.

    Bu Suci pindah ke Semarang karena tempat bekerja suaminya dipindahkan

    ke sana. Di Semarang ia tinggal dengan suami, ketiga anaknya, dan bibi yang

    menjaga anak-anaknya. Suami bu Suci orang yang pengertian dan selalu

    mendukung keinginan bu Suci. Semenjak pindah ke Semarang, bu Suci belum

    bekerja hanya di rumah saja menjaga anak-anaknya. Ia pun rindu dengan

    pekerjaannya, hingga suatu hari ia mengantar anaknya ke Sekolah dan ditawari

    menjadi guru di sana, bu Suci pun menerimanya.

    Hari pertama dilalui bu Suci baik-baik saja, namun ada yang mengganjal

    dalam pikirannya. Hari kedua pun dilalui bu Suci dengan lancar, namun ia

    mulai mengetahui apa yang mengganjal dalam pikirannya itu. Seorang murid

    bernama Waskito telah menarik perhatiannya. Ia pun bertanya tentang Waskito

    pada teman-teman sekelasnya, namun tidak ada yang mau membuka mulut. Bu

    Suci semakin bingung dengan apa yang terjadi pada Waskito.

    Sampai suatu saat, bu Suci akhirnya mendapatkan jawaban atas

    pertanyaan-pertanyaannya. Ternyata Waskito adalah anak yang sukar,

    begitulah bu Suci menyebutnya. Sukar menurut bu Suci adalah anak yang

    nakal dan selalu membuat keonaran. Teman-teman Waskito merasa segan dan

    tidak mau bermasalah dengannya. Mengetahui hal tersebut, bu Suci semakin

    40 Nh. Dini, Pertemuan Dua Hati, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009), h. 87-88.

    41

    Maman S. Mahayana, Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia, (Jakarta: PR Raja Grafindo Persada, 2007), h. 60-61.

  • 26

    ingin masuk lebih dalam ke masalah Waskito dan ingin menyelesaikannya.

    Hatinya terdorong untuk melakukan lebih dari apa yang dilakukannya

    sekarang.

    Seolah-olah cobaan sedang menghampiri bu Suci. Anak kedua bu Suci

    dinyatakan mengidap penyakit ayan oleh dokter, sehingga harus dijaga dan

    tidak boleh banyak beraktivitas. Bu Suci pun harus menjaga anaknya, tapi di

    sisi lain, ia ingin sekali di kelas mengetahui perkembangan Waskito dan dia

    pun harus mengantar anaknya ke rumah sakit untuk berobat.

    Untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut, bu Suci mendatangi rumah

    kakek dan nenek Waskito. Ia pun mendapatkan informasi tentang asal usul

    kenapa Waskito bersikap seperti itu. Menurut kakek dan neneknya, Waskito

    sebenarnya adalah anak yang baik tetapi karena orangtuanya

    memperlakukannya kurang baik maka Waskito menjadi anak yang nakal.

    Neneknya mengatakan bahwa ayahnya sering memukuli Waskito tanpa sebab

    yang jelas ketika Waskito melakukan kesalahan, bukan pengarahan yang

    diberikannya malah pukulan. Sementara ibunya terlalu memanjakan Waskito

    sehingga ia tidak mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Dahulu,

    sewaktu Waskito tinggal bersama kakek dan neneknya Waskito jadi anak yang

    disiplin dan tahu aturan, namun semenjak ia kembali kepada orang tuanya ia

    kembali menjadi anak yang nakal.

    Bu Suci berusaha membantu permasalahan Waskito. Ia selalu

    memperhatikan sikap Waskito ketika sedang berada di kelas. Perlahan bu Suci

    mendekati Waskito, lalu memintanya mengantarkan makanan ke anaknya yang

    sedang sakit di rumah sakit. Hal tersebut dimaksudkan bu Suci agar Waskito

    tahu bahwa ia masih beruntung karena masih diberikan kesehatan dan dapat

    menjalankan aktivitas sebagaimana mestinya tanpa harus melakukan hal-hal

    yang tidak berguna dalam hidupnya.

    Awalnya keberadaan Waskito tidak dihiraukan oleh teman-temannya,

    namun kini bu Suci membuat Waskito ada keberadaannya. Waskito dipercayai

  • 27

    bu Suci untuk membuat sesuatu, hingga pekerjaannya mendapatkan

    penghargaan dari teman-temannya.

    Kini Waskito tinggal bersama bibinya, sehingga sudah mulai mendapatkan

    pelajaran tentang kasih sayang. Waskito senang tinggal di sana meskipun

    keadaan ekonomi mereka sulit, bahkan kadang mereka harus berbagi makanan.

    Bu Suci mulai sedikit tenang melihat perubahan yang Waskito tunjukan.

    Namun hal itu tidaklah berlangsung lama. Pada suatu hari, Waskito marah

    kepada seeorang yang menghina tanaman yang ia tanam. Padahal maksud dari

    seseorang itu hanyalah bercanda. Waskito mengacungkan sebuah cutter,

    namun bu Suci mengambil cutter dari tangan Waskito dengan berani. Karena

    kejadian tersebut, semua guru di sekolah sepakat untuk mengeluarkan Waskito

    dari sekolah. Hal itu dihalangi oleh bu Suci, ia meminta agar diberi waktu

    untuk membimbing Waskito dan mempertaruhkan pekerjaannya jika ia gagal.

    Ia pun menekankan kepada Waskito bahwa ia bisa berubah, jika ia gagal, selain

    Waskito harus pindah dari sekolah itu, pekerjaannya pun dipertaruhkan.

    Hal buruk tersebut membuat Waskito dan bu Suci semakin dekat. Waskito

    sudah mulai memberanikan diri berbagi cerita kepada bu Suci. Waskoto naik

    kelas pada akhir semester, seluruh keluarganya sangat berterimakasih kepada

    bu Suci karena dapat membuat Waskito mengubah sikapnya bahkan dapat naik

    kelas. Seusai itu, Waskito ikut berlibur ke desa Purwodadi bersama keluarga bu

    Suci sesuai dengan janji bu Suci. Semenjak bertemu dengan Waskito, bu Suci

    merasa hatinya telah dipertemukan dengan hati Waskito.

    C. Penelitian Relevan

    Suatu penelitian yang baik, merupakan penelitian hasil dari diri sendiri,

    tidak boleh menyadur dari hasil penelitian orang lain. Sebuah penelitian

    diharapkan mampu memberikan informasi baru. Informasi baru tentu saja

    didapatkan dari penelitian yang baru. Untuk menghindari adanya penyaduran,

    maka diperlukan penelitian yang relevan.

    Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, peneliti menemukan

    beberapa judul skripsi yang terkait dengan permasalahan serupa. Berikut ini

  • 28

    adalah judul skripsi yang terkait.

    Pertama, Skripsi yang berudul ‗Realisasi Kesantunan Berbahasa Anak

    Kelas X di SMA Muhammadyah 8 Ciputat‘ disusun oleh Lilis Suci Melati pada

    tahun 2012, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jurusan Pendidikan Bahasa dan

    Sastra Indonesia. Peneliti menganalisis kesantunan berbahasa menggunakan

    prinsip kesantunan Geoffrey Leech. Hasil dari analisis peneliti adalah bentuk

    petuturan yang terjadi pada kelas X-A di SMA Muhammadiyah 8 Ciputat

    menunjukan lebih banyak yang melanggar prinsip kesantunan (politeness

    principle) di bandingkan yang mematuhinya.

    Kedua, Skripsi yang berjudul ‗Bentuk Kesantunan Berbahasa Dalam

    Interaksi Verbal Pada Kegiatan Pembelajaran Nonformal Sanggar Kegiatan

    Belajar (SKB), Studi Kasus pada Kelas VII SMP Cilandak Jakarta Selatan

    Tahun Pelajaran 2011-2012‘ di susun oleh Ina pada tahun 2012, UIN Syarif

    Hidayatullah Jakarta Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Peneliti

    menganalisis bentuk kesantunan berbahasa pada kegiatan pembelajaran

    nonformal Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Dalam penelitiannya, peneliti

    memasukan empat maksim, yaitu maksim kedermawanan, maksim

    penghargaan, maksim kebijaksanaan, dan maksim kesederhanaan.

    Ketiga, skripsi yang berjudul „Kesantunan Berbahasa Dalam Novel Saman

    Karya Ayu Utami (Suatu Kajian Pragmatik) dan Implementasinya terhadap

    Pembelajaran Sastra di SMA‘ disusun oleh Nurul Syaefitri pada tahun 2012,

    UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra

    Indonesia. Penulis memfokuskan permasalahan pada penelitian pragmatik

    terkait kesantunan berbahasa dalam tindak tutur percakapan antar tokoh di

    dalam novel Saman karya Ayu Utami dengan menggunakan prinsip kesantunan

    yang dirumuskan oleh Leech. Penulis juga mengaitkannya dengan

    implementasi pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang ada di SMA

    dengan membuat RPP. Kesimpulan yang penulis peroleh adalah tidak

    selamanya kata-kata seks atau segala sesuatu yang berhubungan dengan seks

    itu menjadi kata-kata yang tidak sopan dalam prinsip maksim kesantunan

    berbahasa menurut Leech.

    Berdasarkan tiga penelitian relevan yang peneliti temukan, maka

  • 29

    penelititian yang berjudul Prinsip Kesantunan Berbahasa Menurut Leech Pada

    Novel Pertemuan Dua Hati Karya N.H Dini dan Implikasinya Terhadap

    Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA) penting

    dilakukan. Hal tersebut karena penelitian ini diimplikasikan pada pembelajaran

    bahasa Indonesia siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Peneliti juga belum

    menemukan adanya penelitian tentang prinsip kesantunan berbahasa yang

    dikaji melalui novel Pertemuan Dua Hati karya Nh.Dini. Prinsip kesantunan

    sangat penting diketahui oleh siswa SMA, dengan penelitian ini guru dapat

    menjadikan novel Pertemuan Dua Hati sebagai buku bacaan siswa pada saat

    pembelajaran tentang novel berlangsung.

  • 30

    BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

    A. Metode Penelitian

    Metode penelitian merupakan alat, prosedur, dan teknik yang

    dipilih dalam melaksanakan penelitian (dalam mengumpulkan data).1

    Metode penelitian yang dipakai peneliti adalah metode deskriptif dengan

    pendekatan pragmatik. Metode deskriptif merupakan suatu cara yang

    digunakan untuk membahas objek penelitian secara apa adanya

    berdasarkan data-data yang diperoleh. Metode deskriptif disebut juga

    sebagai metode yang bertujuan membuat deskripsi; maksudnya membuat

    gambaran, lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai data,

    sifat-sifat serta hubungan fenomena-fenomena yang diteliti.2

    Pendekatan pragmatik mempelajari strategi-strategi yang ditempuh oleh

    penutur di dalam mengkomunikasikan maksud-maksud pertuturannya

    (I Dewa Putu Wijana dalam Kris Budiman (ed.), 2002: 57-58).

    Pendekatan Pragmatik mengasumsikan bahwa setiap tuturan dilandasi

    tujuan tertentu, dan setiap peserta tutur bertanggung jawab atas segala

    penyimpangan bentuk tuturan yang dibuatnya. Berdasarkan pernyataan

    tersebut, maksud-maksud tuturan, terutama maksud yang tersirat, hanya

    dapat teridentifikasi melalui penggunaan bahasa secara konkret dengan

    mempertimbangkan secara seksama komponen situasi tutur atau

    konteks (I Dewa Putu Wijana, 1996:3). 3

    Pendekatan pragmatik mempelajari proses penutur dalam

    berkomunikasi untuk menyampaikam maksud pada tuturannya. Pada

    pendekatan pragmatik, semua tuturan memiliki maksud tertentu dan

    dipertimbangkan konteks ujaran saat tuturan berlangsung.

    1 Fatimah Djajasudarma, Metode Linguistik- Ancangan Metode Penelitian dan Kajian,

    (Bandung: PT Refika Aditama, 2006), h.4

    2 Ibid,. h.9

    3 Nurhayati, “Realisasi Kesantunan Berbahasa dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya

    Ahmad Tohari”, 2014, h.57, (http://eprints.uns.ac.id/9482/1/185730811201110211.unlocked.pdf).

  • 31

    B. Sumber Data

    Terdapat dua sumber data pada penelitian ini, yaitu sumber data

    primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer adalah data-data

    yang didapatkan dari sumber data yang utama. Adapun sumber data primer

    dalam penelitian ini adalah

    Judul Buku : Pertemuan Dua Hati

    Penulis : N.H Dini

    Jumlah Halaman : 88 Halaman

    Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

    Cetakan : Keempat belas, Desember 2009

    Sumber data sekunder adalah sumber data yang digunakan peneliti

    untuk menganalisis sumber data primer. Adapun data sekunder dalam

    penelitian ini adalah sumber yang berhubungan dengan permasalahan

    objek penelitian.

    C. Metode Pengumpulan Data

    1. Membaca

    Membaca adalah melihat lalu melafalkan apa yang tertulis. Dalam

    membaca, seorang pembaca bukan hanya melafalkan namun harus

    memahami isi dari yang tertulis. Pada penelitian ini, peneliti membaca

    sumber primer yaitu novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini.

    2. Pengumpulan data

    Pengumpulan data dilakukan setelah peneliti membaca sumber

    primer. Pada tahap ini peneliti menentukan klasifikasi maksim kesantunan

    yang terdapat pada sumber primer.

    D. Teknik Analisis Data

    Dalam teknik analisis data, peneliti berusaha untuk memberikan

    uraian mengenai hasil penelitian. Tahap ini merupakan tahap lanjutan

  • 32

    setelah peneliti membaca novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini.

    Teknik ini dilakukan dengan mendata hasil temuan satu persatu, lalu

    menganalisisnya. Agar pembaca lebih mudah memahami analisis, maka

    penulis memberi kode penamaan tuturan untuk setiap bagian dari novel,

    beserta halamannya. Terdapat enam bagian dalam novel, yaitu dengan

    judul Pindah, Waskito, Tugas, Perkenalan, Lingkungan, dan Pertemuan.

    Maka penulis memberi kode sebagai berikut: B.1: untuk tuturan yang

    terdapat pada bagian berjudul Pindah; B.2: untuk tuturan yang terdapat

    pada bagian yang berjudul Waskito; B.3: untuk tuturan yang terdapat pada

    bagian yang berjudul Tugas; B.4: untuk tuturan yang terdapat pada bagian

    yang berjudul Perkenalan; B.5: untuk tuturan yang terdapat pada bagian

    yang berjudul Lingkungan; B.6: untuk tuturan yang terdapat pada bagian

    yang berjudul Pertemuan.

    1. Tuturan (B.2, hlm.23)

    “Disana lebih banyak pohon buah ya, Bu,” kata sulungku.

    “Karena kebanyakan rumah di sana punya pekarangan,” sahutku.

    “Di rumah kita malahan ada tiga macam: golek, lalijiwo, lalu apa Bu

    satunya lagi?”

    “Gadung.” Jawabku, dan kuteruskan, “Di tempat kakek lebih banyak

    lagi. Hampir semua jenis mangga, ada.”

    “Di sana itu bukan rumah kita, Sayang. Sekarang, di Semarang inilah

    rumah kita!”4

    Konteks: (1) Peristiwa tutur: Tokoh anak sulung dan Bu Suci

    membandingkan tempat tinggalnya yang dulu (Purwodadi) dengan tempat

    tinggal yang sekarang (Semarang); (2) tempat: becak; (3) waktu: pagi

    hari, saat perjalan menuju sekolah; (4) tujuan: untuk mengenang

    Purwodadi; (5) mitra tutur: Bu Suci; (6) situasi: non formal.

    Analisis: ….

    4 Nh. Dini, Pertemuan Dua Hati, (Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama, 2009), h. 23

  • 30

  • 33

    BAB IV

    HASIL PENELITIAN

    A. Tabel Tuturan dalam Novel Pertemuan Dua Hati Karya Nh. Dini

    Berdasarkan landasan teori pada Bab II, maka diperoleh tabel tuturan sebagai

    berikut.

    No.

    Kode,

    Hlm

    Penutur Tuturan Keterangan

    1.

    B.2,

    hlm. 23

    Anak

    Sulung Bu

    Suci

    Disana lebih banyak pohon

    buah ya, Bu.

    Bu Suci Karena kebanyakan rumah di

    sana punya pekarangan.

    Mematuhi maksim

    kesederhanaan dan

    maksim

    permufakatan

    Anak

    Sulung Bu

    Suci

    Di rumah kita malahan ada

    tiga macam: golek, lalijiwo,

    lalu apa Bu satunya lagi?

    Bu Suci Gadung. Di tempat kakek

    lebih banyak lagi. Hampir

    semua jenis mangga, ada.

    Mematuhi maksim

    kesederhanaan

    Anak

    Sulung Bu

    Suci

    Karena tempat kakek lebih

    luas dari rumah kita di sana.

    Mematuhi maksim

    kesederhanaan dan

    permufakatan

    Bu Suci Di sana itu bukan rumah kita,

    Sayang. Sekarang, di

    Semarang inilah rumah kita!

    Melanggar maksim

    permufakatan

    2. B.2,

    hlm. 23

    Anak

    Sulung Bu

    Suci

    Di Purwodadi, Bapak tidak

    pernah pulang terlambat

    Bu Suci Purwodadi kota kecil. Kantor

    Bapak dipergunakan hanya

    sebagai tempat singgah. Di

    sini lain halnya. Semua

    kendaraan berangkat dari sini,

    atau menuju kemari.

    Mematuhi maksim

    kesimpatisan

    3. B.2,

    hlm.24

    Bu Suci Lihat! Di Purwodadi tidak

    ada sekolah sebagus ini!

    Anak

    Sulung Bu

    Apanya yang bagus? Melanggar maksim

    permufakatan

  • 34

    Suci

    Bu Suci Perhatikan baik-baik!

    Atapnya lain dari atap yang di

    sana itu. Gedungnya

    demikian pula. Bentuk tiang

    dan pintunya! Tidakkah kamu

    menyukainya? Di zaman

    sekarang tidak banyak gedung

    seperti ini.

    4. B.2,

    hlm. 24

    Kepala

    Sekolah

    Ini Bu Suci. Selama beberapa

    hari, dua kelas digabung.

    Berusahalah tenang, jangan

    nakal. Tunjukkan kepada Bu

    Suci bahwa kalian anak-anak

    kota besar juga sepatuh anak-

    anak kota kecil Purwodadi di

    mana Bu Suci sudah

    mengajar sepuluh tahun

    lamanya.

    Mematuhi maksim

    penghargaan

    Murid-

    murid

    (diam) Mematuhi maksim

    kedermawanan

    5. B.2,

    hlm.25-

    26

    Bu Suci Siapa tahu di mana rumah

    Waskito?

    Murid-

    murid

    (Tangan-tangan juga tidak

    diacungkan, dua kelompok

    berbisik-bisik).

    Melanggar maksim

    kedermawanan

    Bu Suci Ya? Siapa yang tahu?

    Rumahnya jauh atau dekat?

    Murid-

    murid

    (Tidak ada jawaban). Melanggar maksim

    kedermawanan

    Bu Suci Kalau ada yang tahu, cobalah

    menengok ke sana. Jangan-

    jangan dia sakit.

    Mematuhi maksim

    kesimpatisan

    6. B.2,

    hlm. 26

    Bu Suci Raharjo! Pergilah ke rumah

    Waskito sepulang dari

    sekolah nanti! Atau sore,

    sambil jalan-jalan! Tanyakan

    mengapa dia lama tidak

    masuk!

    Mematuhi maksim

    kesimpatisan

    Raharjo (Tidak menjawab) Melanggar maksim

    kedermawanan

    Bu Suci Ya Raharjo?

  • 35

    Raharjo (Menghindari pandangan Bu

    Suci)

    Melanggar maksim

    kedermawanan

    Bu Suci Mengapa tidak menjawab,

    Raharjo? Kamu tidak tahu

    rumah Waskito?

    Raharjo Tahu, Bu. Mematuhi maksim

    permufakatan Bu Suci Lalu? Terlalu jauh buat

    kamu?

    Raharjo Oh, tidak, Bu! Saya selalu

    melaluinya kalau berangkat

    atau pulang!

    Melanggar maksim

    permufakatan

    7. B.2,

    hlm. 26

    Bu Suci Mengapa kamu tidak singgah

    selama ini? Apakah kamu

    tidak ingin mengetahui

    mengapa dia tidak masuk?

    Raharjo (Menggerakan badan ke

    kanan, ke kiri).

    Melanggar maksim

    kedermawanan

    Bu Suci Siapa lagi yang mengetahui

    rumah Waskito?

    Murid-

    murid

    (Tidak ada yang

    mengacungkan lengan).

    Melanggar maksim

    kedermawanan

    8. B.2,

    hlm. 27

    Bu Suci Marno! Coba, tolonglah Bu

    Suci! Beritahu mengapa kamu

    tidak mau menengok

    Waskito.

    Marno Takut, Bu. Mematuhi maksim

    kesederhanaan

    Bu Suci Mengapa? Raharjo! Ganti

    kamu yang menjelaskan!

    Mengapa kalian takut pergi ke

    rumah Waskito!

    Raharjo Marno saja, Bu! Melanggar maksim

    kedermawanan

    Bu Suci Kamu yang menjadi ketua

    kelas di sini. Saya kira kamu

    seharusnya memberitau apa

    yang terjadi di dalam

    kelasmu. Bu Suci orang baru

    di sini, bukan? Kamulah yang

    memberi penjelasan apa yang

    saya perlukan mengenai kelas

  • 36

    ini.

    Raharjo (Menghindari pandangan Bu

    Suci)

    Melanggar maksim

    kedermawanan

    9. B.2,

    hlm. 27

    Raharjo Rumahnya besar, Bu. Selalu

    ada anjing yang

    menggonggong di

    halamannya.

    Murid lain Dia orang kaya, Bu.

    Bu Suci Hanya itu? Apa lagi lain-

    lainnya? Tentunya kalian

    sudah mengetahui bahwa

    orang kaya tidak perlu

    ditakuti. Kalau takut kepada

    anjing, lain persoalannya.

    Melanggar maksim

    permufakatan

    10. B.2,

    hlm.

    27-28

    Murid

    perempuan

    Biar Waskito tidak masuk,

    Bu! Kami malahan senang!

    Melanggar maksim

    kedermawanan

    Murid laki-

    laki

    Ya betul, Bu! Kelas tenang

    kalau dia tidak ada.

    Mematuhi maksim

    permufakatan

    Bu Suci O, ya? Mengapa? Karena

    Waskito suka bergurau?

    Membikin keributan?

    Murid

    perempuan

    Oh, tidak! Bukan bergurau!

    Kalau itu, kami juga suka!

    Melanggar maksim

    permufakatan

    Murid

    perempuan

    Dia jahat! Jahat sekali, Bu! Melanggar maksim

    penghargaan

    Bu Suci Ah, masa! Tidak ada anak-

    anak yang jahat, kalian masih

    tergolong tingkatan umur

    yang dapat dididik. Memang

    kalian bukan kanak-kanak

    lagi! Tetapi kalian sudah bisa

    diajar berpikir teratur,

    ditunjukkan mana yang baik

    dan mana yang buruk. Jadi,

    Bu Suci beritahu sejelas-

    jelasnya: tidak ada anak jahat.

    Kalaupun seandainya terjadi

    kenakalan yang keterlaluan,

    anak itu mempunyai kelainan.

    Tapi dia nakal. Bukan jahat!

    Melanggar maksim

    permufakatan

  • 37

    Seorang

    murid

    Waskito jahat atau nakal, saya

    tidak tahu, Bu! Tapi dia

    mempunyai kelainan. Suka

    memukul! Menyakiti siapa

    saja!

    Mematuhi maksim

    kesederhanaan

    Melanggar maksim

    penghargaan

    11. B.2,

    hlm. 28

    Bu Suci Siapa yang pernah dipukul?

    Disakiti?

    Murid-

    murid

    (Sepertiga kelas

    mengacungkan lengan)

    Bu Suci Bagaimana terjadinya? Kalian

    bergelut? Bertengkar

    kemudian berkelahi?

    Murid Tidak, Bu! Melanggar maksim

    permufakatan

    Raharjo Kalau saya, memang

    bertengkar! Lalu dipukul!

    Mematuhi maksim

    permufakatan

    Raharjo Kebanyakan kali tanpa ada

    yang dipersoalkan, Bu. Tiba-

    tiba saja saya memecut atau

    memukul. Yang paling sering

    menjegal. Sesudah itu dia

    pura-pura tidak tahu!

    Bu Suci Bagaimana dia memukul?

    Sampai berdarah?

    Murid-

    murid

    (Tidak ada jawaban) Melanggar maksim

    kedermawanan

    Bu Suci Menurut peraturan, kalau ada

    luka berdarah, harus lapor

    kepada Kepala Sekolah.

    12. B.2,

    hlm. 29

    Seorang

    murid

    Satu kali, dahi saya dipukul.

    Sorenya, bengkak sebesar

    telur!

    Bu Suci Apa kata orang tuamu?

    Seorang

    murid

    Saya bilang jatuh, Bu. Melanggar maksim

    kebijaksanaan

    Bu Suci Mengapa berdusta?

    Seorang

    murid

    Saya takut dimarahi karena

    bertengkar di sekolah.

    Mematuhi maksim

    kesederhanaan

  • 38

    13. B.2,

    hlm. 29

    Bu Suci Siapa lagi yang pernah

    berurusan dengan Waskito?

    Murid Saya dilempari batu-batu

    besar, Bu. Untung tidak kena.

    Tetapi lampu sepeda saya

    pecah. Saya kena marah di

    rumah!

    Bu Suci Kamu katakan bahwa

    Waskito yang

    memecahkannya?

    Murid Saya bilang tabrakan dengan

    teman.

    Melanggar maksim

    kebijaksanaan

    Bu Suci Mengapa?

    Murid Saya tidak suka Bapak bikin

    perkara di sekolah.

    14. B.2,

    hlm. 29

    Seorang

    murid

    Lebih baik dia tidak masuk,

    Bu!

    Murid lain Ya, mudah-mudahan dia

    pindah!

    Mematuhi maksim

    permufakatan

    Murid lain

    (2)

    Untung kalau begitu! Tanpa

    dikeluarkan, dia keluar

    sendiri!

    Melanggar maksim

    kedermawanan

    15. B.2,

    hlm. 29

    Raharjo Dulu dia pernah dikeluarkan

    sekolah lain.

    Bu Suci Dari sekolah mana?

    Raharjo Sekolah swasta, Bu.

    Murid lain Bukan! SD negeri juga tapi di

    kota.

    Melanggar maksim

    permufakatan

    Murid lain

    (2)

    Sekolah swasta, betul! Mematuhi maksim

    permufakatan

    Raharjo Memang SD swasta. Mematuhi maksim

    permufakatan

    Raharjo Neneknya yang memasukan

    dia di sana. Tetapi karena

    sering membolos, lalu

    dikeluarkan.

  • 39

    16. B.2,

    hlm.

    29-30

    Bu Suci Waskito tinggal bersama

    neneknya?

    Murid

    perempuan

    Dulu, Bu. Sekarng sudah

    diambil kembali oleh bapak

    dan ibunya.

    Bu Suci Diambil kembali?

    Raharjo Ya, Bu. Mematuhi maksim

    permufakatan

    Bu Suci Apakah orang tuanya pernah

    pindah ke kota lain atau

    bagaimana?

    Raharjo Tidak tahu, Bu!

    Bu Suci Dari siapa kalian mengetahui

    semua ini?

    Raharjo (Tidak menjawab)

    17. B.2,

    hlm. 30

    Bu Suci Kamu pernah ke rumah

    neneknya? Lalu pindah ke

    tempat orang tuanya?

    Raharjo Tidak, Bu. Saya belum kenal

    ketika dia tinggal bersama

    neneknya.

    Melanggar maksim

    permufakatan

    Bu Suci Jadi dari mana kamu tahu

    semua itu?

    Raharjo Waskito sendiri yang

    mengatakannya. Setiap dia

    kambuh menjadi bengis, lalu

    berteriak-teriak. Macam-

    macam yang dikatakan. Yang

    sering diulang-ulang: Seperti

    barang. Nih, begini, dilempar

    ke sana kemari. Dititipkan!

    Apa itu! Persetan! Aku tidak

    perlu kalian semua!

    Murid

    lelaki

    Kemudian menyebut

    kakeknya, neneknya, orang

    tuanya. Semua dicaci-maki!

    Kami yang ada di dekatnya

    terkena cambukan atau

    pukulan.

    Bu Suci Apa kata-kata lainnya lagi?

  • 40

    Murid

    Perempuan

    Tidak semua jelas, Bu.

    Paling-paling: aku benci! Aku

    benci!

    18. B.2,

    hlm. 30

    Murid

    perempuan

    Anehnya, kalau dia kambuh

    begitu, yang menjadi sasaran

    pertama selalu Raharjo,

    Marno, Denok.

    Rini Aku juga! Selalu kalau aku

    berada jauh pun, seolah-olah

    dia sengaja mencari aku untuk

    kena sabetannya!

    Mematuhi maksim

    permufakatan

    Marno Saya tidak pernah tahu apa

    kesalahan saya.

    Mematuhi maksim

    kesederhanaan

    Raharjo Saya juga tidak tahu. Mematuhi maksim

    permufakatan

    Denok Apalagi kami anak

    perempuan! Kami tidak

    pernah main dengan dia!

    Mematuhi maksim

    permufakatan

    19. B.3,

    hlm. 36

    Bu Suci Tua-tua masih paktek, Jeng.

    Nenek

    Waskito

    Hanya dua kali seminggu. Dia

    bergantian dengan dokter

    muda, muridnya sendiri.

    Sekalian menolong, hasilnya

    buat tambah-tambah belanja.

    Mematuhi maksim

    kesedrhanaan

    Bu Suci Di samping itu Bapak tidak

    bekerja di mana-mana lagi,

    Bu?

    Nenek

    Waskito

    Masih. Setiap pagi ke Rumah

    Sakit Karyadi. Gaji

    pemerintah, Jeng! Katanya

    hanya supaya tidak

    ketinggalan metode-metode

    baru. Diminta ke rumah sakit

    lain yang lebih dapat

    menghasilkan uang, tetapi

    sudah cape. Katanya biar

    yang muda-muda saja. Yang

    pentingkan sekarang

    mengajar.

    Mematuhi maksim

    kesederhanaan

    20. B.3,

    hlm. 36

    Nenek

    Waskito

    Bekas sopir kami tadi datang,

    Jeng. Memberitahu anaknya

    ketabrak kolt, sekarang di

    rumah sakit. Dia sama tua

    dengan Bapak, tidak bekerja

  • 41

    lagi. Jaga warung bersama

    isterinya. Bayangkan, akan

    masuk rumah sakit orang

    harus bayar dulu sebagian.

    Mau cari hutangan ke mana!

    Bu Suci Untung dia kenal Anda

    berdua!

    Mematuhi maksim

    penghargaan

    Nenek

    Waskito

    Ya, kami bantu sebisanya.

    Tadi Bapak sudah menelepon

    rumah sakit. Kami yang

    menanggung pondokan dan

    dokternya. Tapi pengeluaran

    untuk lain-lainnya pasti juga

    bertambah. Harus menengok

    setiap hari, naik bis atau

    Daihatsu.

    Mematuhi maksim

    kesederhanaan

  • 42

    21. B.3,

    hlm.

    37-38

    Nenek

    Waskito

    Anak kami belum pernah

    menghukum, apalagi memukul

    Waskito! Barangkali inilah

    kesalahannya. Ada anak-anak

    yang memerlukan perhatian,

    yang menganggap hukuman

    jasmaniahsebagai ganti

    perhatian yang diinginkan. Saya

    pernah menyaksikan sendiri

    anak-anak saudara saya. Mereka

    baru sadar akan kekeliruannya

    jika kena tangan ayah dan ibu

    mereka. Waskito sudah terlanjur

    tidak mendapatkan kata-kata

    manis atau bujukan, dia

    mungkin harus dipukul. Ah,

    kalau Anda melihat dia di

    rumah mereka, Jeng! Tidak

    pernah ditegur, tidak pernah

    diberitahu mana yang baik dan

    mana yang jelek. Seumpama

    anak berjalan, kaki menyuntuh

    pot sehingga jatuh pecah. Di

    rumah kami, saya bilang: hati-

    hati kalau berjalan, Sayang!

    Tolong sekarang tanaman dan

    pot pecah itu dibenahi!

    Seumpama ibunya ada,

    langsung dia akan membela: ah,

    enggak apa-apa, nanti saya

    ganti. Biar pembantu yang

    membenahi! Nah begitu setiap

    kali waskito berbuat kekeliruan.

    Maksud saya, saya hanya ingin

    mendidik anak bersikap rapi dan

    teratur, Jeng.

    Bu Suci (Menden