Presus Regina

  • View
    234

  • Download
    7

Embed Size (px)

Text of Presus Regina

Samsung Sutiasih

LAPORAN KASUS

DERMATITIS KONTAK IRITANKepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Kulit dan KelaminRSUD AmbarawaDiajukan Kepada:

Pembimbing: dr. Hiendarto Sp.KK

Disusun Oleh:Regina Lisa PermataFAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTAPERIODE Maret April 2016LEMBAR PENGESAHAN KOORDINATOR KEPANITERAAN ILMU KULIT DAN KELAMINLaporan Kasus dengan judul:

DERMATITIS KONTAK IRITANDiajukan untuk Memenuhi Syarat mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik di Departemen Ilmu Kulit dan KelaminRumah Sakit Umum Daerah AmbarawaDisusun Oleh:

Regina Lisa PermataPembimbing:Dr. Hiendarto, Sp. KKKATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul DERMATITIS KONTAK IRITAN ini telah diselesaikan dengan baik. Laporan kasus ini saya susun untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik Bagian Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa.

Saya mengucapkan terimakasih kepada pembimbing saya yaitu dr. Hiendarto Sp.KK yang telah membimbing, memberikan saran untuk referat saya sampai penyusunan laporan kasus ini selesai dengan baik.

Selanjutnya saya berterimakasih kepada kedua orang tua, teman-teman dan semua pihak yang mendukung dalam penyelesaian tugas saya.Semoga laporan kasus ini dapat menambah wawasan bagi penulis dan pembaca di kepaniteraan klinik Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa dan para pembaca.

Jakarta, Maret 2016

PenulisDAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.

DAFTAR ISI

BAB I

PENDAHULUAN . 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA..2

BAB IIILAPORAN KASUS13

BAB IV PEMBAHASAN 17

BAB VKESIMPULAN..19

DAFTAR PUSTAKA.20BAB I

PENDAHULUAN

Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respon terhadap pengaruh faktor eksogen dan atau faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama, likenifikasi) dan keluhan gatal.1 Dermatitis kontak adalah reaksi fisiologik yang terjadi pada kulit karena kontak dengan substansi tertentu, dimana sebagian besar reaksi ini disebabkan oleh iritan kulit dan sisanya disebabkan oleh alergen yang merangsang reaksi alergi dan suatu respon inflamasi dari kulit terhadap antigen atau iritan yang bisa menyebabkan ketidaknyamanan dan rasa malu dan merupakan kelainan kulit yang paling sering pada para pekerja.1,2,3

Dermatitis kontak iritan (DKI) merupakan inflamasi pada kulit yang bermanifestasi sebagai eritema, edema ringan dan pecah-pecah. DKI merupakan respon non spesifik kulit terhadap kerusakan kimia langsung yang melepaskan mediator-mediator inflamasi yang sebagian besar berasal dari sel epidermis.6 DKI dapat diderita oleh semua orang dari berbagai golongan umur, ras dan jenis kelamin.1 DKI merupakan hasil klinik dari inflamasi yang berasal dari pelepasan sitokin-sitokin proinflamasi dari sel-sel kulit (prinsipnya kerartinosit), biasanya sebagai respon terhadap rangsangan kimia. Bentuk klinik yang berbeda-beda bisa terjadi. Tiga perubahan patofosiologi utama adalah disrupsi sawar kulit, perubahan seluler epidermis dan pelepasan sitokin. Iritan pada DKI meliputi yang ditemui sehari-hari seperti air, deterjen, berbagai pelarut, asam, basa, bahan adhesi, cairan bercampur logam dan friksi. Sering bahan-bahan ini bekerja bersama untuk merusak kulit. Iritan merusak kulit dengan cara memindahkan minyak dan pelembab dari lapisan terluar, membiarkan iritan masuk lebih dalam dan menyebabkan kerusakan lebih lanjut dengan memicu inlamasi.7 DKI masih belum banyak diketahui bila dibandingkan dengan dermatitis kontak alergi (DKA). Kebanyakan artikel tentang dermatitis kontak konsern pada DKA. Tidak ada uji diagnostik untuk DKI. Diagnosis adalah berdasarkan ekslusi penyakit kutan lainnya (khususnya DKA) dan pada penampakan klinis dermatitis pada tempat yang terpapar dengan cukup terhadap iritan yang diketahui.6 Terkadang penampakan klinis DKI kronik mirip dengan DKA. Beberapa sumber menyatakan DKI kronik pada telapak tangan dan telapak kaki sulit dibedakan dengan DKA.7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Dermatitis Kontak IritanDKI merupakan reaksi peradangan kulit non imunologik, dimana kerusakan kulit terjadi langsung tanpa didahului proses sensitisasi. Dermatitis kontak iritan (DKI) merupakan inflamasi pada kulit yang bermanifestasi sebagai eritema, edema ringan dan pecah-pecah dan merupakan respon non spesifik kulit terhadap kerusakan kimia langsung yang melepaskan mediator-mediator inflamasi yang sebagian besar berasal dari sel epidermis.6 2.2 Epidemiologi

DKI dapat diderita oleh semua orang dari berbagai golongan umur, ras dan jenis kelamin. Jumlah penderita DKI diperkirakan cukup banyak terutama yang berhubungan dengan pekerjaan (DKI akibat kerja), namun dikatakan angkanya secara tepat sulit diketahui. Hal ini disebabkan antara lain oleh banyaknya penderita dengan kelainan ringan tidak datang berobat, atau bahkan tidak mengeluh. Di Amerika, DKI sering terjadi di pekerjaan yang melibatkan kegiatan mencuci tangan atau paparan berulang kulit terhadap air, bahan makanan atau iritan lainnya. Pekerjaan yang berisiko tinggi meliputi bersih-bersih, pelayanan rumah sakit, tukang masak, dan penata rambut. 80% Dermatitis tangan okupasional karena iritan, lebih sering mengenai tukang bersih-bersih, penata rambut dan tukang masak. Prevalensi dermatitis tangan karena pekerjaan ditemukan sebesar 55,6% di ICU dan 69,7% pada pekerja yang sering terpapar (dilaporkan dengan frekuensi mencuci tangan >35 kali setiap pergantian). Penelitian menyebutkan frekuensi mencuci tangan >35x tiap pergantian memiliki hubungan kuat dengan dermatitis tangan karena pekerjaan (OR=4,13). Di Jerman, angka insiden DKI adalah 4,5 setiap 10.000 pekerja, dimana insiden tertinggi ditemukan pada penata rambut (46,9 kasus per 10.000 pekerja setiap tahunnya), tukang roti dan tukang masak.6,7

Berdasarkan jenis kelamin, DKI secara signifikan lebih banyak pada perempuan dibanding laki-laki. Tingginya frekuensi ekzem tangan pada wanita dibanding pria karena faktor lingkungan, bukan genetik. Berdasarkan usia, DKI bisa muncul pada berbagai usia. Banyak kasus karena dermatitis diaper (popok) terjadi karena iritan kulit langsung pada urine dan feses. Seorang yang lebih tua memiliki kulit lebih kering dan tipis yang tidak toleran terhadap sabun dan pelarut. DKI bisa mengenai siapa saja, yang terpapar iritan dengan jumlah yang sufisien, tetapi individu dengan dengan riwayat dermatitis atopi lebih mudah terserang.6,7

2.3 Etiologi Zat yang menyebabkan DKI akut adalah zat yang cukup iritan untuk menyebabkan kerusakan kulit bahkan dalam satu pajanan. Mencakup di dalamnya adalah asam pekat, basa pekat, cairan pelarut kuat, zat oksidator dan reduktor kuat. Sedangkan pada DKI kumulatif (DKIK) kerusakan terjadi setelah beberapa kali pajanan pada lokasi kulit yang sama , yaitu terhadap zat zat iritan lemah seperti : air, deterjen, zat pe;arut lemah, minyak dan pelumas. Zat zat ini tidak cukup toksik untuk mneimbulkan kerusakan kulit pada satu kali pajanan, melainkan secara perlahan lahan hingga pada sutau saat kerusakannya , mampu menimbulkan inflamsi. Penyebab DKI kumulatif biasanya bersifat multifaktorial.6,9Faktor faktor pencetus terjadinya DKIK berhubungan dengan zat iritan, pajanan (waktu dan frekuensi) lingkungan ( tekanan mekanis, suhu dan kelembaban ) serta bergantung pada faktor predisposisi yaitu karakteristik individu ( umur, jenis kelamin, etnis, penyakit kulit yang telah ada, atopi, lokasi anatomis yang terpajan dan profesi).1,2Faktor zat iritan mencakup sifat fisik dan kimia zat tersebut seperti : ukuran molekul, ionisasi, polarisasi, PH dan kelarutan. Sedangkan faktor pajanan meliputi konsentrasi , volum, waktu aplikasi serta durasi pajanan. Umumnya , waktu pajanan yang lama dan volum yang besar meningkatkan penetrasi. Pengaruh lingkungan , seperti kelembaban yang rendah dan suhu yang dingin, merupakan faktor penting dalam menurunkan kadar air stratum korneum. Suhu yang dingin saja dapat menurunkan kelenturan lapisan tanduk, sehingga menyebabkan retaknya stratum korneum. Oklusi meningkatkan kadar air strtaum korneum sehingga menurunkan fungsi efisiensi sawarnya.2,6Hal ini mengakibatkan peningkatkan absorpsi perkutan zat zat yang larut dalam air. Penderita atopi rentan terhadap efek iritasi zat iritan. Kandungan zat iritan juga penting dalam meningkatkan iritasi. Kebanyakan produk pembersih kulit di pasaran dapat menyebabkan efek iritasi primer jika digunakan berulang ulang atau berlebihan, akan tetapi jika digunakan sesuai aturan, kulit normal tidak akan teriritasi.4,6Kulit normal memiliki PH berkisar sekitar 5,5 meski beberapa penelitiberpendapat bahwa PH kulit berkisar antara 6 -7. Kisaran PH kulit natara lain ditentukan oleh adanya mantel asam yaitu lapisan tipis yang ditinggalkan oleh keringat dan bersifat asam. Bakteri anggota mikroflora kulit memerlukan PH tertentu untuk dapat melaksanakan pertumbuhan optimum. Terdapat perbedaan PH untuk pertumbuhan setiap jenis bakteri, misalnya S.aureus membutuhkan PH 7,5 untuk pertumbuhannya, sedangkan P.aureus memerlukan PH antara 6 6.5. Larutan deterjen memiliki PH 9,5 dan jika digunakan berulang ulang selama beberapa hari PH kulit akan naik menjadi 8. Kondisi kulit yangd emikian tidak menjadi sarana yang baik bagi pertumbuhan mikroflora yang penting untuk menjaga lapisan matel asam. Saat terpajan dengan iritan yang sama dengan kondisi yang sama pula,perkembangan tingkat iritasi tiap individu berbeda beda. Faktor faktor yang berpengaruh terhadap kerentanan individu meliputi :8,9 Umur dan lokasi

Kerentanan kulit terhadap efek iritasi zat iritan menurun seiriing dengan usia. Hal ini disebabkan oleh penurunan fungsi sawar.Penelitian menunjukkan bahwa iritabilitas kulit t