Presus Dhf Ranggit

  • View
    41

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of Presus Dhf Ranggit

BAB I KASUS

I. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan Agama Alamat Tanggal masuk Tanggal pemeriksaan : Nn. Y : 15 tahun : Perempuan : Pelajar : Islam : Jambu Rt. 5 Giricahyo Purwosari : 7 Januari 2013 : 11 Januari 2013

II. ANAMNESIS A. Keluhan Utama B. Keluhan Tambahan mata C. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien mengeluhkan demam tinggi sejak 4 hari yang lalu. Demam selama 4 hari tersebut sering tinggi dan pernah turun setelah minum obat penurun panas tetapi tidak sampai normal. Pasien juga mengeluh rasa pusing seperti akan jatuh, mual, dan badan terasa malas serta lemah untuk beraktivitas. Nyeri di belakang mata dan nyeri di seluruh sendi tubuh dan otot terutama kaki dirasakan sejak 2 hari yang lalu. Tidak ada riwayat mimisan, perdarahan gusi, atau muncul bintik-bintik merah pada kulit. Buang air kecil (+) warna kuning, tidak sakit dan tidak panas. Buang air besar (+) tidak diare dan frekuensi seperti sebelum sakit. Nafsu makan turun dan minum (+) sedikit. Os mengaku ada beberapa tetangga yang mengalami gejala sama dan dirawat di rumah sakit. : Demam : Pusing, mual, muntah, nyeri di sendi dan belakang bola

D. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat penyakit yang serupa

:

Pasien

belum

pernah

menderita sakit yang serupa. 1

Riwayat penyakit hipertensi Riwayat penyakit DM Riwayat penggunaan obat-obatan

: Disangkal : Disangkal :Pasien tidak pernah obat-obatan

mengkonsumsi Riwayat alergi Riwayat penyakit jantung Riwayat penyakit hati Riwayat trauma Riwayat mondok di RS Riwayat operasiE. Riwayat Penyakit Keluarga

dalam jangka waktu lama. : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal

Riwayat penyakit yang serupa Riwayat penyakit hipertensi Riwayat penyakit DM Riwayat penyakit jantung Riwayat penyakit hati Riwayat penyakit gastrointestinalIII. PEMERIKSAAN FISIK

: Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal

A. Keadaan umum B. Kesadaran C. Vital sign

: lemah : kompos mentis : Tekanan darah Nadi Suhu : 100/70 mmHg : 100 x/menit, reguler : 38,3 oC

Frekuensi pernafasan : 20 x/menit

D. Status Umum 1. Pemeriksaan Kepala

-

Kepala : mesochepal, simetris, tumor (-), tanda radang (-), bekas luka (-)

2

-

Rambut : distribusi merata, tidak mudah dicabut Mata : konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), kelopak edema (-/), mata cowong (-/-) Hidung : discharge (-), perdarahan (-), deviasi septum (-), nafas cuping () Mulut : mukosa pucat (-), sianosis (-), lidah kotor bagian tengah (-), darah mengalir di posterior faring (-)

-

Telinga : discharge (-), deformitas (-)

2. Pemeriksaan leher Kaku kuduk (-), deviasi trakhea (-), pembesaran limfonodi (-), pembesaran kelenjar thyroid (-), massa (-), JVP tidak meningkat.

3. Pemeriksaan thoraks Pulmo - inspeksi : bentuk dada normal, kedua hemithoraks simetris, tidak ada bekas luka, ketinggalan gerak (-), retraksi (-) - palpasi - perkusi - auskultasi Cor - inspeksi - perkusi : Ictus cordis tidak tampak Kanan atas Kiri atas Kanan bawah Kiri bawah - palpasi : SIC II LPS Sinistra : SIC II LPS Dextra : SIC IV LPS Dextra : SIC V 1 jari medial LMC Sinistra : vokal fremitus kanan kiri sama, nyeri tekan (-) : sonor kedua lapangan paru : suara dasar suara tambahan : vesikuler : wheezing (-/-), ronkhi (-/-)

: Ictus cordis tidak kuat angkat

- auskultasi : S1 - S2 murni reguler, bising (-)

4. Pemeriksaan Abdomen - inspeksi : dinding perut lebih rendah daripada dinding dada, flat, tidak ada luka,

3

- auskultasi: bising usus (+) normal - palpasi : supel, permukaan perut setinggi dada, nyeri tekan epigastrum (+), hepar dan lien tidak teraba dan nyeri tekan (-) - perkusi : timpani

5. Pemeriksaan Ekstremitas - udem (-/-) , ekstremitas hangat (+), nadi kuat - uji torniquet positif (+) - gerakan B B - kekuatan 5 5 B B 5 5

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan

7/1/2013

Nilai Rujukan 12,0-16.0 36-46 4.,0-5,0 4-10 150-450 2-4 0-1 2-5 51-67

Satuan

Hb Hct AE AL AT Eosinofil Basofil Batang Segmen

16,9 50,6 6,21 5,5 32 0 1 10 29

gr/dl % 106/uL 103/uL 103/uL % % % %

4

Limfosit Monosit GDS Ureum Darah Kreatin Darah Sgot Sgpt Asam urat

53 7 106 26 0,60 85 33 3,03

20-35 4-8 - 20% dibanding hematokrit rata-rata pada usia, jenis kelamin, dan populasi yang sama b. Hematokrit turun hingga >- 20% dari hematokrit awal, setelah pemberian cairan c. Terdapat efusi pleura, efusi perikard, asites, dan hipoproteinemi

Pemeriksaan laboratorium: Leukopenia, pada kasus dengue, tes ini akan menunjukkan gambaran leukopenia. Oleh karena itu jika ditemukan adanya leukositosis dan neutrofilia maka kemungkinan infeksi dengue dapat disingkirkan. Thrombocytopenia (< 100.000 /mm3) Hematocrit (micro-hematocrit). Ditemukannya hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit >20%). Hipoproteinemia, akibat dari kebocoran plasma.

Kriteria WHO Sindroma Syok Dengue:

Nadi yang cepat dan lemah, Perbedaan antara sistole dan diastole rendah (2 cm - Pemeriksaan laboratorium : peningkatan HCT dengan penurunan jumlah trombosit 2. Dengue berat Dibagi menjadi: a. Kebocoran plasma berat, yang mengarah pada: - Syok - Akumulasi cairan dengan distress pernapasan b. Perdarahan hebat c. Gangguan organ berat - Liver : AST/ALT > 1000 - CNS : penurunan kesadaran - Jantung dan organ lainnya

E. PENATALAKSANAAN Protokol 1 Pasien Tersangka DBD Protokol 1 ini dapat digunakan sebagai petunjuk dalam memberikan pertolongan pertama pada pasien DBD atau yang diduga DBD di Puskesmas atau Istalasi Gawat Darurat untuk dipakai sebagai petunjuk dalam memutuskan indikasi rujuk atau rawat. Seseorang yang tersangka menderita DBD diruang gawat darurat dilakukan pemerisaan hemoglobin, hematokrit dan trombosit. Bila: a. Hb, Ht, dan trombosit normal atau trombosit antara 100.000-150.000, pasien dapat dipulangkan dengan anjuran control dan berobat jalan ke poliklinik damam waktu 24jam berikutnya, dan bila keadaan memburuk segera kembali ke instalasi gawat darurat. b. Hb, Ht normal tetapi trombosit 20% Meningkatnya Ht >20% menunjukkan bahwa tubuh mengalami defisit cairan sebanyak 5%. Pada keadaan ini terapi awal pemberian cairan adalah dengan memberikan infus cairan kristaloid sebanyak 6-7 ml/kgBB/jam. Pasien kemudian dipantau selama 3-4 jam pemberian cairan. Bila terjadi perbaikan yang ditandai dengan tanda-tanda hematokrit turun, frekuensi nadi turun, tekanan darah stabil, produksi urin meningkat, maka jumlah cairan infus dikurangi menjadi 5 mk/kgBB/jam. 2 jam kemudian dilakukakan pemantauan kembali dan bila keadaan tetap menunjukkan perbaikkan maka jumlah cairan infus dikurangi menjadi 3ml/kbBB/jam. Bila dalam pemantauan keadaan tetap membaik maka pemberian cairan dapat dihentikan 24-48jam kemudian. Apabila setelah pemberian terapi cairan awal 6-7 ml/kgBB/jam tadi keadaan tidak membaik, yang ditandai dengan hematokrit dan nadi meningkat, tekanan nadi menurun 20%

Protokol 4 DBD dengan Perdarahan Spontan Perdarahan spontan dan massif pada penderita DBD dewasa, jumlah dan kecepatan pemberian cairan tetap seperti keadaan DBD tanpa syok. Pemeriksaan tekanan darah, nadi, pernafasaan, dan urin dilakukan sering dengan kewaspadaan Hb, Ht, dan trombosit serta pemeriksaan Hb, Ht, dan trombosit diulang setiap 4-6jam. Pemberian heparin diberikan apabila secara klinis dan laboratoris didapatkan tanda-tanda koagulasi intravaskuler diseminata (KID). Tranfusi komponen darah diberikan sesuai indikasi. FFP diberikan bila didapatkan defisiensi faktor pembekuan (PT dan aPTT yang memanjang), PRC diberikan bila nilai Hb