Preskas saraf dopller kranial

  • Published on
    01-Dec-2015

  • View
    22

  • Download
    2

DESCRIPTION

jurnal doppler

Transcript

STATUS PASIEN RUANGAN

I. IDENTITAS PENDERITA

Nama

: Zulkarnaini

Umur

: 30 tahun

Alamat

: Ulhee KarengJenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: IslamSuku

: Aceh

Pekerjaan

: PNSTanggal pemeriksaan

: 30 Maret 2012II. ANAMNESIS

1. Keluhan Utama : Nyeri Pinggang2. Riwayat Penyakit Sekarang :

Penderita datang dengan keluhan utama nyeri pada pinggang yang dirasakan memberat selama beberapa minggu sebelum masuk rumah sakit. Nyeri pinggang tersebut diakui pasien sudah dialaminya selama 10 tahun terakhir sejak tahun 2001. Nyeri terasa terasa tumpul atau pegal, hilang timbul terutama bila bekerja mengangkat barang berat serta banyak berjalan dan hanyaterbatas pada pinggang bagian bawah saja. Sebelumnya pasien mengaku pernah jatuh di kamar mandi dan dibawa ke panti pijat untuk diurut. Namun, pasien tidak merasakan adanya perbaikan pada sakitnya. Jenis obat yang diminum tidak diketahui. Demam (-), batuk-batuk (-), penurunan berat badan (-).

Pekerjaan penderita sekarang pegawai negeri tapi penderita juga pernah ber profesi sebagai atlit karate selama 12 tahun yang lalu. 3. Riwayat Penyakit Dahulu :

Disangkal3. Riwayat Penyakit Keluarga :DisangkalIII. PEMERIKSAAN FISIK

Kesadaran

: Compos Mentis

Tekanan Darah: 130/80 mmHg

Nadi

: 76 x/ menit, reguler

Pernafasan

: 20 x / menit

Suhu

: Afebris

IV. STATUS INTERNUS

a. Kulit

Warna

: Sawo matang

Turgor

: Cepat kembali

Sianosis

: (-)

Ikterus

: (-)

Oedema

: (-)

Anemia

: (-)

b. Kepala

Rambut:Hitam, sukar dicabut

Wajah:Simetris, edema (-), deformitas(-).

Mata:Conjunctiva pucat (-/-), ikterik (-/-), refleks cahaya langsung (+/+), refleks cahaya tidak langsung (+/+)

pupil isokor 3 mm / 3 mm, diplopia (-)

Telinga:Serumen (-/-)

Hidung:Sekret (-/-)

Mulut

Bibir:Bibir pucat (-), mucosa basah (+), sianosis (-)

Lidah:Tremor (-), hiperemis (-)

Tonsil: Hiperemis (-/-)

Faring: Hiperemis (-)

c. Leher

Inspeksi

: Simetris

Palpasi

: JVP (N) R-2 cm H2O. Pembesaran KGB (-d. Thorax

InspeksiStatis : kesan normal

Dinamis : kesan normal

Axilla : Pembesaran KGB (-)

Palpasi :

Stem FremitusParu KananParu Kiri

Lapangan Paru AtasNormalNormal

Lapangan Paru TengahNormalNormal

Lapangan Paru BawahNormalNormal

Perkusi :

Paru KananParu Kiri

Lapangan Paru AtasSonorSonor

Lapangan Paru TengahSonorSonor

Lapangan Paru BawahSonorSonor

Auskultasi :

Suara Nafas PokokParu KananParu Kiri

Lapangan Paru AtasVesikulerVesikuler

Lapangan Paru TengahVesikulerVesikuler

Lapangan Paru BawahVesikulerVesikuler

Suara Nafas TambahanParu KananParu Kiri

Lapangan Paru AtasRh (-), Wh (-)Rh (-), Wh (-)

Lapangan Paru TengahRh (-), Wh (-)Rh (-), Wh (-)

Lapangan Paru BawahRh (-), Wh (-)Rh (-), Wh (-)

Thorak Belakang

Inspeksi : Kesan normalStem FremitusParu KananParu Kiri

Lapangan Paru AtasNormalNormal

Lapangan Paru TengahNormalNormal

Lapangan Paru BawahNormal

Normal

Perkusi :

Paru KananParu Kiri

Lapangan Paru AtasSonorSonor

Lapangan Paru TengahSonorSonor

Lapangan Paru BawahSonorSonor

Auskultasi

Suara Nafas PokokParu KananParu Kiri

Lapangan Paru AtasVesikulerVesikuler

Lapangan Paru TengahVesikulerVesikuler

Lapangan Paru BawahVesikuler Vesikuler

Suara Nafas TambahanParu KananParu Kiri

Lapangan Paru AtasRh (-), Wh (-)Rh (-), Wh (-)

Lapangan Paru TengahRh (-), Wh (-)Rh (-), Wh (-)

Lapangan Paru BawahRh (-), Wh (-)Rh (-), Wh (-)

Jantung

Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Ictus cordis di ICS V 1 jari di dalam LMCS. Perkusi

:

Atas

: Sela iga III

Kiri : Linea Mid Clavikula Sinistra

Kanan : Linea Para Sternal Dextra

Auskultasi

: BJ I > Bj II, regular, bising (-)e. Abdomen

Inspeksi

: Simetris, distensi (-), tumor (-), vena collateral (-) Palpasi: Nyeri tekan (-), defans muscular (-) Hepar

: Tidak teraba

Lien

: Tidak teraba

Ginjal

: Ballotement (-)

Perkusi

: Timpani, shifting dullness (-)

Auskultasi

: Peristaltik usus normal

f. Genitalia

: Tidak diperiksa

g. Anus

: Tidak diperiksa

h. Tulang Belakang

: Kesan normali. Kelenjar Limfe

: Pembesaran KGB (-)

j. Ekstremitas

: SuperiorInferior

KananKiriKananKiri

Sianosis - - - -----

Oedema - - - -----

Fraktur - --

-----

V. STATUS NEUROLOGIS

A. G C S : E4 M6 V5 = 15 Pupil

: isokor 3 mm / 3 mm

Reflek Cahaya Langsung

: +/+

Reflek Cahaya Tidak Langsung

: +/+

Tanda Rangsang Meningeal

Laseque

: (-) Tanda Laseque kontralateral

: (-) Tanda Laseque terbalik

: (-)-Neris sign

: (-)B. Nervi CranialesKelompok Optik

Kanan

Kiri

Nervus II (visual) : Visus

Kesan Normal

Kesan Normal Lapangan Pandang

Kesan Normal

Kesan Normal Melihat Warna

Kesan Normal

Kesan Normal Nervus III (otonom) :

Ukuran Pupil

3 mm

3 mm

Bentuk Pupil

Bulat Bulat

Reflek Cahaya Langsung +

+

Reflek Cahaya Tidak Langsung +

+

Nistagmus

(-)

(-) Strabismus

(-)

(-) Nervus III, IV, VI (gerakan okuler)

Pergerakan bola mata :

Lateral

dbn

dbn

Atas

dbn

dbn

Bawah

dbn

dbn

Medial

dbn

dbn

Diplopia

-

-

Kelompok Motorik

Nervus V ( fungsi motorik)

Membuka mulut

: dalam batas normal Menggigit dan mengunyah: dalam batas normal Nervus VII (fungsi motorik)

Mengerutkan dahi

: dalam batas normal Menutup mata

: dalam batas normal Menggembungkan pipi: dalam batas normal Memperlihatkan gigi

: dalam batas normal Sudut bibir

: dalam batas normal Nervus IX & X (fungsi motorik)

Bicara

: dalam batas normal Reflek menelan

: dalam batas normal Nervus XI (fungsi motorik)

Mengangkat bahu : dalam batas normal Memutar kepala

: dalam batas normal Nervus XII (fungsi motorik)

Artikulasi lingualis

: dalam batas normal Menjulurkan lidah

: dalam batas normalKelompok Sensoris

Nervus I (fungsi penciuman)

: Kesan normal

Nervus V (fungsi sensasi wajah): Kesan normal

Nervus VII (fungsi pengecapan): Kesan normal

Nervus VIII (fungsi pendengaran): Kesan normal

C. Badan

Motorik

Gerakan respirasi

: Abdominothoracal

Bentuk columna vertebralis

: Dalam batas normal

Gerakan columna vertebralis

: SimetrisSensibilitas

Rasa suhu

: Dalam batas normal

Rasa nyeri

: Dalam batas normal

Rasa raba

: Dalam batas normal

D. Anggota Gerak Atas

Motorik

Pergerakan

: normal/normal

Kekuatan

: sdn/sdn

Tonus

: dalam batas normal

Atrofi

: -/- Refleks

Biceps

: +/+

Triceps

: +/+

E. Anggota Gerak Bawah

Motorik

Pergerakan

: normal /normal

Kekuatan

: 55555555

55555555 Tonus

: dalam batas normal

Atrofi

: -/- Jalan jinjit

: dbn Jalan dengan tumit

: dbn Refleks

Patella

: +/+

Achilles

: +/+

Babinski

: -/-

Chaddok

: -/-

Schaeffer : -/-

Gordon

: -/-

Oppenheim : -/-

Klonus

Paha

: -/-

Kaki

: -/-

Tanda Laseque

: (-)

Tanda Laseque kontralateral

: (-)Tanda Laseque terbalik

: (-)Neris sign

: (-)Sensibilitas

Rasa suhu

: dbn

Rasa nyeri

: dbn

Rasa raba

: dbnF. Gerakan Abnormal

: (-)

G. Fungsi Vegetatif

Miksi

: Inkontinensia Urin (-)

Defekasi

: Inkontinensia Alvi (-)

H. Koordinasi, Cara Berjalan dan Keseimbangan Koordinasi

: dalam batas normalCara berjalan

: dalam batas normalKeseimbangan

: dalam batas normalA. Fungsi Luhur Memori

: dalam batas normal

Fungsi bahasa

: dalam batas normal

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG

MRI : Kesan Herniasi Nukleus Pulposus L4-5VII. RESUME

Tn.Z, seorang laki-laki usia 30 tahun bersuku Aceh datang dengan keluhan utama nyeri pinggang yang dirasakan memberat selama beberapa minggu sebelum masuk rumah sakit. Nyeri pinggang tersebut diakui pasien sudah dialaminya selama 10 tahun terakhir sejak tahun 2001. Nyeri terasa tumpul atau pegal, hilang timbul terutama bila bekerja mengangkat barang berat serta banyak berjalan dan hanyaterbatas pada pinggang bagian bawah saja. Sebelumnya pasien mengaku pernah jatuh di kamar mandi dan dibawa ke panti pijat untuk diurut. Namun, penderita tidak merasakan adanya perbaikan pada sakitnya. Penderita tidak mengkonsumsi obat untuk mengatasi rasa nyerinya. Demam (-), batuk-batuk (-), penurunan berat badan (-). Riwayat penyakit dahulu disangkal. Riwayat penyakit keluarga disangkal.Pada pemeriksaan umum didapatkan kesadaran composmentis , TD : 130/80 mmHg, frekuensi nadi : 76 x/menit, frekuensi napas : 20 x/menit, suhu : afebris, keadaan umum : baik, mata : konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik, jantung : bunyi jantung I dan bunyi jantung II normal, murmur (-), gallop (-). Paru : vesikular, rh -/-, wh -/-. Abdomen : datar, lemas, nyeri tekan (-), defans (-), bising usus (+) normal, ekstremitas : akral hangat, perfusi perifer baik. Pada pemeriksaan neurologi didapatkan GCS : E4M6V5, TRM : kaku kuduk (-); Nn. Craniales : pupil bulat isokor ( 3 mm/3 mm, RCL +/+, RCTL +/+, Motorik : ektremitas atas 5555/5555; ektremitas bawah 5555/5555, refleks fisiologis +/+, refleks patologis -/-, sensorik: normal, fungsi otonom baik.DiagnosisKlinis

: Low Back Pain Topis

: Lumbal4-5Patologis: TraumatikEtiologi : Herniasi Nukleus Pulposus (HNP) Pemeriksaan PenunjangMRI: Kesan Hernia Nukleus Pulposus

Penatalaksanaan :Gabexal 2 x 300 mgSohobion 2 x 1Selama kunjungan ke Poli Saraf pasien difollow up sebagai berikut :Tanggal (hari perawatan ke-)SubjektifPemeriksaan fisikTerapiPemeriksaan penunjang

1 Desember 2010Nyeri PinggangComposmentis, TD : 140/90 mmHg , FN : 78x/mnt, FP : 18 x/mnt, T: 36,5oC, GCS: E4M6V5, TRM: Lasegue >700/>700, Tanda Laseque kontralateral (-)Tanda Laseque terbalik (-) Neris sign (-)Nn. Craniales : pupil bulat isokor ( 3 mm/3 mm, RCL +/+, RCTL +/+, Motorik : ekstremitas atas 5555/5555, ektremitas bawah 5555/5555 , Refleks fisiologis : +/+, Refleks patologis -/-, sensorik : normal, fungsi otonom : normal.

Meloxicam 2x1Lansoprazole 1x1

MRI

8 Desember 2010Kontrol Ulang, Nyeri PinggangComposmentis, TD : 130/90 mmHg , FN : 80x/mnt, FP : 18 x/mnt, T: 36,5oC, GCS: E4M6V5, TRM: Lasegue >700/>700, Tanda Laseque kontralateral (-)Tanda Laseque terbalik (-), Neris sign (-)

Nn. Craniales : pupil bulat isokor ( 3 mm/3 mm, RCL +/+, RCTL +/+, Motorik: ekstremitas atas 5555/5555, ektremitas bawah 5555/5555, Refleks fisiologis : +/+, Refleks patologis -/-, sensorik : normal, fungsi otonom normal.Amitriptilin 1x2,5 mgSohobion 1x1

Hasil MRI, Kesan: HNP L4-5

8 Februari 2012Kontrol Ulang, Nyeri PinggangComposmentis, TD : 130/90 mmHg , FN : 86x/mnt, FP : 18 x/mnt, T: 36,5oC, GCS: E4M6V5, TRM: Lasegue >700/>700, Tanda Laseque kontralateral (-) Tanda Laseque terbalik: (-), Neris sign (-).Nn. Craniales : pupil bulat isokor ( 3 mm/3 mm, RCL +/+, RCTL +/+, Motorik : ekstremitas atas 5555/5555, ektremitas bawah 5555/5555 , Refleks fisiologis : +/+, Refleks patologis -/-, sensorik : normal, fungsi otonom normal.Metylprednisolon 2x1Lansoprazole 1x1

Sohobion 1x1

Planning : Fisioterapi

22 Februari 2012Kontrol ulang, Nyeri PinggangComposmentis, TD : 130/90 mmHg , FN : 86x/mnt, FP : 18 x/mnt, T: 36,5oC, GCS: E4M6V5, TRM: Lasegue >700/>700, Tanda Laseque kontralateral (-)Tanda Laseque terbalik (-), Neris Sign (-)Nn. Craniales : pupil bulat isokor ( 3 mm/3 mm, RCL +/+, RCTL +/+, Motorik : ekstremitas atas 5555/5555, ektremitas bawah 5555/5555 , Refleks fisiologis : +/+, Refleks patologis -/-, sensorik : normal, fungsi otonom normal.Metylprednisolon 2x1

Lansoprazole 1x1

Sohobion 1x1

Planning:

Fisioterapi

1 Maret 2012 Kelemahan anggota gerak berkurangComposmentis, TD : 140/90 mmHg , FN : 78x/mnt, FP : 18 x/mnt, T: 36,5oC, GCS: E4M6V5, TRM: Laseque >700/>700, Tanda Laseque kontralateral (-)Tanda Laseque terbalik (-), Neris sign (-).Nn. Craniales : pupil bulat isokor ( 3 mm/3 mm, RCL +/+, RCTL +/+, Motorik : ekstremitas atas 5555/5555, ektremitas bawah 5555/5555 , Refleks fisiologis : +/+, Refleks patologis -/-, sensorik : normal, fungsi otonom normal.Amitriptilin tablet (malam)Fitbon 1x1

21 Maret 2012 Kontrol Ulang, nyeri pinggangComposmentis, TD : 140/90 mmHg , FN : 78x/mnt, FP : 18 x/mnt, T: 36,5oC, GCS: E4M6V5, TRM: Lasegue >700/>700, Tanda Laseque kontralateral (-)Tanda Laseque terbalik (-), Neris sign (-).Nn. Craniales : pupil bulat isokor ( 3 mm/3 mm, RCL +/+, RCTL +/+, Motorik : ekstremitas atas 5555/5555, ektremitas bawah 5555/5555 , Refleks fisiologis : +/+, Refleks patologis -/-, sensorik : normal, fungsi otonom normal.Gabexal 2 x 300mgSohobion 1x1

Prognosa :Quo ad vitam

: dubia ad bonam

Quo ad functionam: dubia ad bonamQuo ad sanactionam: dubia ad bonamBAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Low Back Pain adalah nyeri yang dirasakan daerah punggung bawah, dapat merupakan nyeri lokal maupun nyeri radikuler atau keduanya. Nyeri ini terasa diantara sudut iga terbawah sampai lipat bokong bawah yaitu di daerah lumbal atau lumbo-sakral dan sering disertai dengan penjalaran nyeri ke arah tungkai dan kaki. LBP yang lebih dari 6 bulan disebut kronik.12.2 Insidensi

LBP sering dijumpai dalam praktek sehari-hari, terutama di negara-negara industri. Diperkirakan 70-85% dari seluruh populasi pernah mengalami episode ini selama hidupnya. Prevalensi tahunannya bervariasi dari 15-45%, denganpoint prevalencerata-rata 30%.Di AS nyeri ini merupakan penyebab yang urutan paling sering dari pembatasan aktivitas pada pendudukdengan usia 80o), obesitas, tinggi badan yang berlebihan, hal yang berhubungan pekerjaan seperti duduk dan mengemudi dalam waktu lama, duduk atau berdiri berjam-jam (posisi tubuh kerja yang statik), getaran, mengangkat, membawa beban, menarik beban, membungkuk, memutar, dan kehamilan.1,52.5 DiagnosaA. AnamnesisHarus dilakukan anamnesis yang teliti yang biasanya nantinya akan dilengkapi oleh pemeriksaan fisik, disertai pemeriksaan radiologis dan elektrodiagnosis.

Nyeripinggang bawahdapat dibagi dalam 6 jenis nyeri, yaitu:61.Nyeri pinggang lokal

Jenis ini paling sering ditemukan. Biasanya terdapat di garis tengah dengan radiasi ke kanan dan ke kiri. Nyeri ini dapat berasal dari bagian-bagian di bawahnya seperti fasia, otot-otot paraspinal, korpus vertebra, sendi dan ligamen.

2.Iritasi pada radiks

Rasa nyeri dapat berganti-ganti dengan parestesi dan dirasakan pada dermatom yang bersangkutan pada salah satu sisi badan. Kadang-kadang dapat disertai hilangnya perasaan atau gangguan fungsi motoris. Iritasi dapat disebabkan oleh proses desak ruang pada foramenvertebra atau di dalam kanalis vertebralis.

3. Nyeri rujukan somatis

Iritasi serabut-serabut sensoris dipermukaan dapat dirasakan lebih dalam pada dermatom yang bersangkutan. Sebaliknya iritasi di bagian-bagian dalam dapat dirasakan di bagian lebih superfisial.

4.Nyeri rujukan viserosomatis

Adanya gangguan pada alat-alat retroperitonium, intraabdomen atau dalam ruangan panggul dapat dirasakan di daerah pinggang.

5. Nyeri karena iskemia

Rasa nyeri ini dirasakan seperti rasa nyeri pada klaudikasio intermitens yang dapat dirasakan di pinggang bawah, di gluteus atau menjalar ke paha. Dapat disebabkan oleh penyumbatan pada percabangan aorta atau pada arteri iliaka komunis.

6.Nyeri psikogen

Rasa nyeri yang tidak wajar dan tidak sesuai dengan distribusi saraf dan dermatom dengan reaksi wajah yang sering berlebihan.

Harus dibedakan antara LBP dengan nyeri tungkai, mana yang lebih dominan dan intensitas dari masing-masing nyerinya, yang biasanya merupakan nyeri radikuler. Nyeri pada tungkai yang lebih banyak dari pada LBP dengan rasio 80-20% menunjukkan adanya radikulopati dan mungkin memerlukan suatu tindakan operasi. Bila nyeri LBP lebih banyak daripada nyeri tungkai, biasanya tidak menunjukkan adanya suatu kompresi radiks dan juga biasanya tidak memerlukan tindakan operatif.

Gejala LBP yang sudah lama dan intermiten, diselingi oleh periode tanpa gejala merupakan gejala khas dari suatu LBP yang terjadinya secara mekanis.

B. Pemeriksaan Fisik1. Inspeksi

Pemeriksaan fisik dimulai dengan inspeksi dan bila pasien tetap berdiri dan menolak untuk duduk, maka sudah harus dicurigai adanya suatu herniasi diskus. Gerakan aktif pasien harus dinilai, diperhatikan gerakan mana yang membuat nyeri dan juga bentuk kolumna vertebralis, berkurangnya lordosis sertaadanya skoliosis. Berkurang sampai hilangnya lordosis lumbal dapat disebabkan oleh spasme otot paravertebral.Gerakan-gerakan yang perlu diperhatikan pada penderita:Keterbatasan gerak pada salah satu sisi atau arah.Ekstensi ke belakang(back extension)seringkali menyebabkan nyeri pada tungkai bila ada stenosis foramen intervertebralis di lumbal dan artritis lumbal, karena gerakan ini akan menyebabkan penyempitan foramen sehingga menyebabkan suatu kompresi pada saraf spinal.Fleksi ke depan(forward flexion) secara khas akan menyebabkan nyeri pada tungkai bila ada HNP, karena adanya ketegangan pada saraf yang terinflamasi diatas suatu diskus protusio sehingga meninggikan tekanan pada saraf spinal tersebut dengan jalan meningkatkan tekanan pada fragmen yang tertekan di sebelahnya (jackhammer effect).Lokasi dari HNPbiasanya dapat ditentukan bila pasien disuruh membungkuk ke depan ke lateral kanan dan kiri. Fleksi ke depan, ke suatu sisi atau ke lateral yang meyebabkan nyeri pada tungkai yang ipsilateral menandakan adanya HNP pada sisi yang sama.Nyeri LBP pada ekstensi ke belakangpada seorang dewasa muda menunjukkan kemungkinan adanya suatu spondilolisis atau spondilolistesis, namun ini tidak patognomonik.2. PalpasiPemeriksaan motoris Harus dilakukan dengan seksama dan harus dibandingkan kedua sisi untuk menemukan abnormalitas motoris yang seringan mungkin dengan memperhatikan miotom yang mempersarafinya.Pemeriksaan sensorik

Pemeriksaan sensorik akan sangat subjektif karena membutuhkan perhatian dari penderita dan tak jarang keliru, tapi tetap penting arti diagnostiknya dalam membantu menentukan lokalisasi lesi HNP sesuai dermatom yang terkena. Gangguan sensorik lebih bermakna dalam menunjukkan informasi lokalisasi dibanding motoris.5Tanda-tanda perangsangan meningealTanda Laseque atau modifikasinya yang positif menunjukkan adanya ketegangan pada saraf spinal khususnya L5 atau S1. Secara klinis tanda Laseque dilakukan dengan fleksi pada lutut terlebih dahulu, lalu di panggul sampai 900lalu dengan perlahan-lahan dan graduil dilakukan ekstensi lutut dan gerakan ini akan menghasilkan nyeri pada tungkai pasien terutama di betis (tes yang positif) dan nyeri akan berkurang bila lutut dalam keadaan fleksi. Terdapat modifikasi tes ini dengan mengangkat tungkai dengan lutut dalam keadaan ekstensi (stright leg rising). Modifikasi-modifikasi tanda laseque yang lain semua dianggap positif bila menyebabkan suatu nyeri radikuler. Cara laseque yang menimbulkannyeri pada tungkai kontra lateral merupakan tandakemungkinanherniasi diskus.3

Tanda Neri(Neris sign): bisa ditimbulkan bila pasien membungkuk ke depan dan dikatakan positif bila akan terjadi fleksi lutut pada sisi yang terkena.C. Pemeriksaan Penunjang1. LaboratoriumPada pemeriksaan laboratorium rutin penting untuk melihat; laju endap darah (LED), kadar Hb, jumlah leukosit dengan hitung jenis, dan fungsi ginjal.2. Pungsi Lumbal (LP) :LP akan normal pada fase permulaan prolaps diskus, namun belakangan akan terjadi transudasi darilow molecular weight albuminsehingga terlihat albumin yang sedikit meninggi sampai dua kali level normal.3. Pemeriksaan RadiologisFoto rontgen biasa(plain photos) sering terlihat normal atau kadang-kadang dijumpai penyempitan ruangan intervertebral, spondilolistesis, perubahan degeneratif,dan tumor spinal. Penyempitan ruangan intervertebral kadang-kadang terlihat bersamaan dengan suatu posisi yang tegang dan melurus dan suatu skoliosis akibat spasme otot paravertebral.

CT scanadalah sarana diagnostik yang efektifbila vertebra dan level neurologis telah jelas dan kemungkinan karena kelainan tulang.

CT mielografidilakukan dengan suatu zat kontras berguna untuk melihat dengan lebih jelas ada atau tidaknya kompresi nervus atau araknoiditis pada pasien yang menjalani operasi vertebra multipel dan bila akan direncanakan tindakan operasi terhadap stenosis foraminal dan kanal vertebralis.MRI(akurasi 73-80%) biasanya sangat sensitif pada HNP dan akan menunjukkan berbagai prolaps. Namun para ahli bedah saraf dan ahli bedah ortopedi tetap memerlukan suatu EMG untuk menentukan diskus mana yang paling terkena.

MRIsangat berguna bila:

vertebra dan level neurologis belum jelas

kecurigaan kelainan patologis pada medula spinal atau jaringan lunak

untuk menentukankemungkinan herniasi diskus post operasi

kecurigaan karena infeksi atau neoplasma.Elektromiografi (EMG) adalah suatu pemeriksaan yang non-invasif. Dalam bidang neurologi, maka pemeriksaan elektrofisiologis/neurofisiologis sangat berguna pada diagnosis sindroma radiks. Pemeriksaan EMG dilakukan untuk :Menentukanlevel dariiritasi atau kompresi radiksMembedakan antaralesi radiksdenganlesi saraf periferMembedakan adanyairitasi atau kompresi radiks2.6 Penatalaksanaan

Konservatif

Tujuan penatalaksanaan secara konservatif adalah menghilangkan nyeri dan melakukan restorasi fungsional. Harus diberikan penerangan yang jelas tentang perjalanan penyakitnya, tes-tes diagnostik, cara-cara pencegahan, peran pembedahan sehingga pasien dapat menilai keadaan dirinya dan mengerti tindakan yang diambil oleh dokter dengan konsekuensi dari terapi yang dipilih.Dalam penanganan umum penderita diberikan informasi dan edukasi tentang hal-hal seperti: sikap badan, tirah baring dan mobilisasi.Medikamentosa diberikan terutama untuk mengurangi nyeri yaitu dengan analgetika.Cara pemberian analgetik mengacu seperti pada petunjuk tiga jenjang terapi analgetik WHO. Sering obat yang sesuai untuk penanganan dimulai dengan asetaminofen dan/ataunonsteroidal anti-inflammatory drug(NSAID). Untuk LBP akut secara fakta didapatkan bahwa tidak terdapatNSAID spesifik yang lebih efektif terhadap yang lainnya.8Medikasi lain yang dapat diberikan sebagai tambahan adalah relaksan otot, antidepresan trisiklik, dan antiepileptika seperti fenitoin, karbamazepin, gabapentin, dan topiramat.Dari segi rehabilitasi, modalitas penanganan penderita HNP tergantung dari stadium dampak dari penyakit tersebut yang dibedakan atas:9Stadiumimpairment; fisioterapiStadiumdisabilitas; latihan penguatan ototStadiumhandicap; analisa sifat pekerjaan dan diikuti penyesuaian cara bekerja/alih pekerjaan.Modalitas yang dapat diberikan pada HNP seperti:-Traksi lumbal-Terapi termal (panas dan dingin)-Hidroterapi-Masase-TENS (Transcutaneus electrical nerve stimulaton)-Latihan-Korset (Back braces/Corset)Operatif

Tindakan operatif pada HNP harus berdasarkan alasan yang kuat yaitu berupa:7 Skiatika dengan terapi konservatif selama lebih 4 minggu: nyeri berat/intractable/menetap/ progresif. Defisit neurologik memburuk Sindroma kauda ekuina. Stenosis kanal; setelah terapi konservatif tak berhasil. Terbukti adanya kompresi radiks berdasarkan pemeriksaan neurofisiologik dan radiologik.2.7 Prognosis

Menurut Anderson, faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan/prognosis adalah: diagnosis etiologi spesifik, usia lanjut, pernah nyeri pinggang sebelumnya dan gangguan psikososial.Sebagian besar pasien sembuh secara cepat dan tanpa gangguan fungsional. Rata-rata 60-70% sembuh dalam 6 minggu, 80-90% dalam 12 minggu. Penyembuhan setelah 12 minggu berjalan sangat lambat dan tak pasti. Diagnosis sangat berkaitan dengan penyembuhan, penderita nyeri pinggang bawah dengan iskialgia membutuhkan waktu lebih lama dibanding dengan tanpa iskialgia.2Dari penelitian Weber, tahun pertama terdapat perbaikan secara signifikan pada kelompok yang dioperasi dibanding tanpa operasi, namun kedua kelompok baik dioperasi maupun tidak, pada observasitahun ke 4-10 terlihat perbaikan yang ada tidak berbeda secara signifikan.3DAFTAR PUSTAKA

1. Sadeli HA, Tjahjono B. Nyeri punggung bawah. Dalam: Nyeri Neuropatik, patofisioloogi dan penatalaksanaan. Editor: Meliala L, Suryamiharja A, Purba JS, Sadeli HA. Perdossi, 2001:145-167.2. Anderson GBJ. Epidemiological features of chronic low back pain. Lancet 1999; 354:581-5.

3. Wheeler AH, Stubbart JR. Pathophysiology of Chronic Back Pain. (Cited March 2012) Available from: URLhttp://www.emedicine.com/neuro/topic516.htm.4. Sidharta P. Anamnesa kasus nyeri di ekstermitas dan pinggang. Sakit pinggang. In: Tata pemeriksaan klinis dalam neurologi. Jakarta : Pustaka universitas, 1980: 64-75.5. Feske SK, Greenberg SA. Degenerative and compressive structural disorders. In: Textbook of Clinical Neurology. 2ndEd., Ed. Goetz CG. Philadelphia: Saunders 2003; 583-600.6. Rumawas RT.Nyeri pinggang bawah (Pandangan umum). Kumpulan makalah lengkap Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Saraf Indonesia (PERDOSSI). Palembang, 8-12 Desember 1996.7. Meliala L, Suryamiharja A, Purba JS, Anggraini H. Penuntun praktis penanganan nyeri neuropatik. Kelompok Studi Nyeri PERDOSSI2000.8. Cohen RI, Chopra P, Uphshur C. Low back pain, part 2: Guide to conservative, medical, and procedural therapies. Geriatrics 2001; 11: 38-47.9. Widjaja S. Aspek rehabilitasi low back pain. Kumpulan makalah lengkap Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Saraf Indonesia (PERDOSSI). Palembang, 8-12 Desember 1996.16