of 70 /70
BAB I PENDAHULUAN Masalah kejang, convulsion, seizure, atau insult pada anak sering kali merupakan gejala atau keluhan utama yang menyebabkan orang tua berusaha mendapatkan pertolongan antara lain dengan membawa berobat ke tempat layanan kesehatan. Keluhan tersebut mungkin disertai dengan keluhan tambahan misalnya demam, sakit kepala, tidak nafsu makan, batuk, tidak sadar, dan lain-lain. Kejang merupakan suatu manifestasi klinis yang sering dijumpai di ruang gawat darurat. Hampir 5% anak berumur di bawah 16 tahun setidaknya pernah mengalami sekali kejang selama hidupnya. Kejang penting sebagai suatu tanda adanya gangguan neurologis. Keadaan tersebut merupakan keadaan darurat. Kejang mungkin sederhana, dapat berhenti sendiri dan sedikit memerlukan pengobatan lanjutan, atau merupakan gejala awal dari penyakit berat, atau cenderung menjadi status epileptikus. Tatalaksana kejang seringkali tidak dilakukan secara baik. Karena diagnosis yang salah atau penggunaan obat yang kurang tepat dapat menyebabkan kejang tidak terkontrol, depresi nafas dan rawat inap yang tidak perlu. Langkah awal dalam menghadapi kejang adalah memastikan apakah gejala saat ini kejang atau bukan. Selanjutnya melakukan identifikasi kemungkinan penyebabnya. 1

preskas kejang

Embed Size (px)

DESCRIPTION

fgg

Text of preskas kejang

BAB IPENDAHULUAN

Masalah kejang, convulsion, seizure, atau insult pada anak sering kali merupakan gejala atau keluhan utama yang menyebabkan orang tua berusaha mendapatkan pertolongan antara lain dengan membawa berobat ke tempat layanan kesehatan. Keluhan tersebut mungkin disertai dengan keluhan tambahan misalnya demam, sakit kepala, tidak nafsu makan, batuk, tidak sadar, dan lain-lain.Kejang merupakan suatu manifestasi klinis yang sering dijumpai di ruang gawat darurat. Hampir 5% anak berumur di bawah 16 tahun setidaknya pernah mengalami sekali kejang selama hidupnya. Kejang penting sebagai suatu tanda adanya gangguan neurologis. Keadaan tersebut merupakan keadaan darurat. Kejang mungkin sederhana, dapat berhenti sendiri dan sedikit memerlukan pengobatan lanjutan, atau merupakan gejala awal dari penyakit berat, atau cenderung menjadi status epileptikus. Tatalaksana kejang seringkali tidak dilakukan secara baik. Karena diagnosis yang salah atau penggunaan obat yang kurang tepat dapat menyebabkan kejang tidak terkontrol, depresi nafas dan rawat inap yang tidak perlu. Langkah awal dalam menghadapi kejang adalah memastikan apakah gejala saat ini kejang atau bukan. Selanjutnya melakukan identifikasi kemungkinan penyebabnya. Kejang adalah perubahan aktivitas motorik dan atau perilaku yang bersifat bangkitan (paroxysmal) dalam waktu terbatas akibat dari adanya aktivitas listrik abnormal di dalam otak. Kejang terdapat pada anak dengan frekuensi sampai 10%. Kejang pada anak umumnya disebabkan oleh provokasi yang dapat berasal dari tubuh sendiri di luar otak seperti suhu meningkat, infeksi, sinkop, trauma kepala, hipoksia, toksin, aritmia jantung, atau karena obat. Sepertiga dari kasus kejang disebabkan oleh ayan (epilepsy) yaitu kejang yang terjadi karena letupan pelepasan muatan listrik di sel saraf secara berulang tanpa ada provokasi. Setelah mengalami kejang yang pertama, kemungkinan selanjutnya ialah anak tidak mengalami kejang lagi, atau kejang pertama tersebut merupakan awal dari epilepsi.1

BAB IIKASUS

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAKFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTIRS PENDIDIKAN : RSUD BUDHI ASIHSTATUS PASIEN KASUS II

Nama Mahasiswa: Tezar Andrean .BPembimbing: dr. Daniel E, Sp.ANIM: 030. 09. 253Tanda tangan: IDENTITAS PASIENNama : An. MFFUmur: 1 tahun 5 bulan Tempat / tanggal lahir: Jakarta, 1 Februari 2013Alamat: Jln. Otista Raya 99, Tanjung Lekong, RT 4/ 7, Kel. Bidara Cina, Kec. Jatinegara Pendidikan Terakhir: -Jenis Kelamin : Laki-lakiSuku Bangsa : JawaAgama: IslamMasuk Bangsal Tanggal: 30 Juni 2014 IDENTITAS ORANG TUA/ WALIAyah:Ibu :

Nama : Tn. SUmur: 23 tahunPekerjaan: WiraswastaPendidikan: SMASuku bangsa: JawaAgama: IslamPenghasilan : Rp. 1.500.000,00/ bulanAlamat: Jln. Otista Raya 99, Tj. Lekong, RT 4/ 7, Kel. Bidara Cina, Kec. Jatinegara.Nama : Ny. NUmur: 20 tahunPekerjaan: Ibu Rumah TanggaPendidikan: SMASuku bangsa: JawaAgama: IslamPenghasilan : -Alamat: Jln. Otista Raya 99, Tj. Lekong, RT 4/ 7, Kel. Bidara Cina, Kec. Jati Negara

Hubungan dengan orang tua : Pasien merupakan anak kandung I. ANAMNESISDilakukan secara autoanamnesis dan alloanamnesis dengan Ny. N (ibu kandung pasien).Lokasi : Bangsal lantai V Timur, kamar 511Tanggal / waktu: 1 Juni 2014Tanggal masuk : 30 Juni 2014 pukul 09. 08 WIBKeluhan utama: Kejang sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakitKeluhan tambahan: Demam, diare

A. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG :Pasien dirawat di bangsal RSUD Budhi Asih melalui UGD pada hari Senin tanggal 30 Juni 2014 dengan keluhan kejang sejak dua hari SMRS. Pasien sudah kejang 14 kali dalam dua hari, timbul mendadak. Awalnya pasien sedang tiduran seperti biasa kemudian tiba-tiba kejang. Kejang kelojotan, baik kaki maupun tangan, mata mendelik keatas, kurang dari dua menit, tapi tidak disertai busa. Dalam dua hari itu, jarak antara kejang tidak menentu, kurang lebih setengah sampai setengah sampai dua jam, atau lebih. Setelah kejang pasien selalu menangis, tapi akhir-akhir ini pasien menjadi lemas setelah kejang. Riwayat jatuh dan membentur daerah kepala disangkal. Ibu pasien mengaku ini bukan kali pertama anaknya sakit seperti ini, sebelumnya pasien juga pernah mengalami kejang seperti ini sejak umur 11 bulan. Pada saat umur 11 bulan, pasien kejang serupa dengan frekuensi 3 kali dirumah dan satu kali di UGD RSBA dalam satu hari. Dahulu kejangnya diawali demam dan diare, sempat dirawat juga sampai sekitar 5 hari. Kemudian pulang dan mendapat obat. Pada umur satu tahun, pasien mengalami kejang serupa lagi dengan durasi yang agak lebih lama sampai dua menit dan frekuensinya dalam satu hari adalah dua kali dirumah dan enam kali di rumah sakit daerah Bangka Belitung. Saat itu tidak diawali demam. Ibu pasien mengaku pada saat itu bibir pasien sampai menjadi biru. Ibu pasien kontrol untuk kejang anaknya dan mendapatkan obat depaken sejak pertama kali demam atau umur 11 bulan, tiga kali sehari tapi untuk dosisnya tidak diketahui. Pasien pernah diperiksa menggunakan EEG dan MRI dan didiagnosis epilepsi.Selain kejang, pasien juga disertai demam dan diare sejak 4 hari SMRS. Demam dirasakan timbul perlahan, dan tinggi terus menerus, turun saat diberi obat penurun panas tapi lekas naik lagi. Timbul bintik merah disangkal, keluhan mimisan, gusi berdarah disangkal. Nyeri sendi disangkal. Mata tidak merah ataupun berair. Keluar cairan dari telinga disangkal. Batuk sesekali, pilek atau sesak nafas disangkal. Lidah yang berselaput (kotor di tengah berwarna putih tapi pinggir warna merah dan terlihat bergetar sendiri) sejak sakit disangkal. Berpergian ke tempat endemis malaria disangkal. Demam diakui berbarengan dengan diare yang menyertai pasien. Diare dikeluhkan sejak 4 hari SMRS juga, bersamaan dengan demam. Frekuensi kurang lebih 10 kali dalam sehari, tiap kali sekitar seperempat gelas aqua, konsistensi cair, ampas (+), lendir (-), darah (-), bau busuk. Nafsu makan pasien menurun, tapi masih mau minum susu. Pasien tampak rewel dan gelisah. Sudah dibawa ke klinik umum dan mendapat obat penurun panas dan diarenya tapi tidak ada perubahan. Saat dirumah, selain obat dari klinik, pasien hanya diberi minum dan kompres air hangat. Pasien hanya diberi makan bubur halus dan susu soya dan susu LLM yang disarankan bidan, tapi karena pasien tidak mau minum susu LLM pasien diberikan susu soya. Buang air kecil (BAK) tidak ada keluhan, diakui produksi banyak, warna kuning jernih.

B. RIWAYAT KEHAMILAN / KELAHIRANKEHAMILANMorbiditas kehamilanTidak ada

Perawatan antenatalRutin kontrol ke bidan, imunisasi TT (+)

KELAHIRANTempat persalinanPraktek bidan

Penolong persalinanBidan

Cara persalinanSpontan

Penyulit : lahir lama

Masa gestasi36 minggu

Keadaan bayiBerat lahir : 2900 gram

Panjang lahir : 49 cm

Lingkar kepala : Ibu OS tidak tahu

Langsung menangis (+)Kemerahan (+)Nilai APGAR : (tidak tahu)Kelainan bawaan : -

Kesimpulan riwayat kehamilan / kelahiran : Kehamilan kurang bulan tidak disertai kelainan yang lainnya.

C. RIWAYAT PERKEMBANGANPertumbuhan gigi I: Umur 9 bulan(Normal: 5-9 bulan)Gangguan perkembangan mental : Tidak adaPsikomotorTengkurap: Umur 8 bulan(Normal: 3-4 bulan)Duduk: -(Normal: 6-9 bulan)Berdiri: -(Normal: 9-12 bulan)Berjalan: -(Normal: 13 bulan)Bicara: -(Normal: 9-12 bulan)Perkembangan pubertasRambut pubis: -Kesimpulan riwayat pertumbuhan dan perkembangan : Pada pasien didapatkan keterlambatan perkembangan. Ibu pasien mengaku anaknya baru bisa tengkurap padahal umurnya sudah mencapat satu tahun lima bulan.

D. RIWAYAT MAKANANUmur (bulan)ASI/PASIBuah / BiskuitBubur SusuNasi Tim

0 2ASI---

2 4ASI+PASI ---

4 6PASI+++

6 8PASI+++

8 10PASI++ +

10 -12PASI+++

Jenis MakananFrekuensi dan Jumlah

Nasi / Pengganti3x/hari (bubur halus), sekali makan 1/2 piring

Sayur-

Daging-

Telur-

Ikan-

Tahu-

Tempe-

Susu (merk / takaran)Susu soya, 7 x/hari (botol 120 ml)

Lain lainBiskuit

Kesimpulan riwayat makanan : Asupan makanan dinilai kurang karena kurang variasi, dan cenderung terlalu banyak diberikan susu. Tidak ditemukan adanya kesulitan makan.

E. RIWAYAT IMUNISASIVaksinDasar ( umur )Ulangan ( umur )

BCG2 bulan--

DPT / PT2 bulan4 bulan6 bulan

Polio0 bulan2 bulan4 bulan6 bulan

Campak--9 bulan

Hepatitis B0 bulan1 bulan6 bulan

Kesimpulan riwayat imunisasi : Pasien telah mendapatkan 5 imunisasi dasar dan sesuai jadwal yang ada.

F. RIWAYAT KELUARGAa. Corak ReproduksiNoTanggal lahir (umur)Jenis kelaminHidupLahir matiAbortusMati (sebab)Keterangan kesehatan

11 Februari 2013LV---Pasien

b. Riwayat Pernikahan Ayah / WaliIbu / Wali

NamaTn. SNy. N

Perkawinan ke-11

Umur saat menikah22 tahun19 tahun

Pendidikan terakhirTamat SMATamat SMA

AgamaIslamIslam

Suku bangsaJawaJawa

Keadaan kesehatanSehatSehat

Kosanguinitas--

Penyakit, bila ada--

Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat kejang dan riwayat epilepsi dalam keluarga disangkal. Riwayat darah tinggi, kencing manis, penyakit paru, dan penyakit jantung disangkal.

Kesimpulan Riwayat Keluarga : Tidak terdapat riwayat penyakit yang sama dengan pasien.

G. RIWAYAT PENYAKIT YANG PERNAH DIDERITAPenyakitUmurPenyakitUmurPenyakitUmur

Alergi(-)Difteria(-)Penyakit jantung(-)

Cacingan(-)Diare(+)Penyakit ginjal(-)

DBD(-)KejangPada usia 11 bulan, dan dirawat selama 5 hari karena kejang demam + diareRadang paru(-)

Otitis(-)Morbili(-)TBC(-)

Parotitis(-)Operasi(-)Lain-lain: (-)

Kesimpulan Riwayat Penyakit yang pernah diderita : Pasien pernah mengalami kejang disertai demam dan diare juga pada usia 11 bulan.

H. RIWAYAT LINGKUNGAN PERUMAHAN Pasien tinggal bersama ayah dan ibunya di rumah berlantai 1, dengan dua kamar, 1 kamar mandi, dan 1 dapur. Menurut pengakuan, ventilasi di rumah cukup baik, pencahayaannya baik, sumber air bersih berasal dari air PAM, dan sumber air minum berasal dari air galon. Diakui lingkungan sekitar rumah cukup baik, merupakan kawasan padat penduduk.Kesimpulan Keadaan Lingkungan : Lingkungan rumah cukup baik. Tapi daerah tempat tinggal merupakan tempat padat penduduk.

I. RIWAYAT SOSIAL DAN EKONOMIAyah pasien saat ini bekerja sebagai wiraswasta, dengan penghasilan Rp 1.500.000,00/ bulannya. Sedangkan ibu pasien sebagai ibu rumah tangga, yang mengurus anaknya.Kesimpulan sosial ekonomi: dilihat dari riwayat sosial ekonomi, mungkin menjadi faktor resiko dalam pemenuhan kebutuhan gizi selama kehamilan maupun setelah lahir yang bisa menjadi kelainan pada otak.

II. PEMERIKSAAN FISIK (Tanggal 1 Juli 2014 jam 07.00 WIB)Keadaan UmumKesan Sakit: Tampak sakit sedangKesadaran: Compos mentisKesan Gizi: Gizi cukupData AntropometriBerat Badan sekarang: 10,4 kgPanjang Badan: 79 cmLingkar Kepala : 44 cm (Mikrosephali, terletak dibawah -2 dan +2 SD Kurva Neillhaus)Status GiziKeadaan lain: Anemis (-), ikterik (-), sianosis (-), dyspnoe (-) BB / U = 10,4 / 10,8 x 100 % = 96,29 % (Gizi baik) TB / U = 79 / 81 x 100 % = 97,53 % (Tinggi baik) BB / TB = 10,4/ 11 x 100 % = 94,54 % (Gizi baik)Status gizi diatas berdasarkan kurva NCHS, dapat disimpulkan bahwa pasien gizi baik dengan tinggi normal.Tanda VitalTekanan Darah : - mmHgNadi : 76 x / menit, kuat, isi cukup, ekual kanan dan kiri, regularNafas : 32 x / menit, tipe abdomino-torakal, inspirasi : ekspirasi = 1 : 2Suhu : 37,5C, axilla (diukur dengan termometer air raksa)

Status GeneralisKEPALA: Mikrosephali, ubun-ubun besar sudah menutupRAMBUT: Rambut hitam, distribusi merata dan tidak mudah dicabutWAJAH: wajah simetris, tidak ada pembengkakan, luka atau jaringan parutMATA:Visus : tidak dilakukanPtosis: -/-Sklera ikterik: -/-Lagofthalmus: -/-Konjunctiva anemis: -/-Cekung: -/- Exophthalmus: -/-Kornea jernih : +/+Strabismus: -/+Lensa jernih: +/+Nistagmus: -/-Pupil: bulat, isokorRefleks cahaya: langsung +/+ , tidak langsung +/+Cekung: -/-TELINGA :Bentuk : normotiaTuli: -/-Nyeri tarik aurikula: -/-Nyeri tekan tragus: -/-Liang telinga: sempitMembran timpani: sulit dinilaiSerumen: -/-Refleks cahaya: sulit dinilaiCairan: -/-HIDUNG :Bentuk: simetrisNapas cuping hidung: -/-Sekret: -/-Deviasi septum: -Mukosa hiperemis: -/-Konka eutrofi: -BIBIR : mukosa berwarna merah muda, kering (-), sianosis (-)MULUT: trismus (-) , oral hygiene cukup baik, tidak terdapat caries pada gigi-geligi, mukosa gusi berwarna merah muda, mukosa pipi berwarna merah muda, arcus palatum simetris dengan mukosa palatum berwarna merah muda

LIDAH: Normoglotia, mukosa berwarna merah muda, hiperemis (-), atrofi papil (-), tremor (-), lidah kotor (-)TENGGOROKAN : tonsil T1/T1, tidak hiperemis, faring tidak hiperemis, uvula terletak di tengah LEHER : Bentuk tidak tampak kelainan, edema (-), massa (-), tidak tampak dan tidak teraba pembesaran tiroid maupun KGB, trakea tampak dan teraba di tengahTHORAKS : Inspeksi : Bentuk thoraks simetris pada saat statis dan dinamis, tidak ada pernafasan yang tertinggal, pernafasan abdomino-torakal, tidak didapatkan adanya retraksi sela iga, warna kulit sawo matang, sternum mendatar, tulang iga normal, ictus cordis terlihat pada ICS V linea midclavicularis kiri, pulsasi abnormal (-) Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan dan benjolan, gerak napas simetris kanan dan kiri, vocal fremitus sulit dinilai, teraba ictus cordis pada ICS V linea midclavicularis kiri, denyut kuat Perkusi : sonor di kedua lapang paru, jantung dalam batas normal Auskultasi : suara napas vesikuler, reguler, ronchi (-/-), wheezing (-/-), bunyi jantung I-II reguler, punctum maksimum pada ICS V 1 cm linea midclavicularis kiri, murmur (-), gallop (-)ABDOMEN : Inspeksi : perut buncit, warna kulit sawo matang, tidak dijumpai adanya efloresensi pada kulit perut, kulit keriput (-), umbilicus normal, gerak dinding perut saat pernapasan simetris, tidak tampak bagian yang tertinggal, gerakan peristaltik (-) Palpasi : supel, nyeri tekan (-) hampir menyeluruh di regio abdomen, turgor kulit baik. Hepar tidak teraba membesar. Lien tidak teraba membesar. Perkusi : timpani pada seluruh lapang perut Auskultasi : bising usus (+), frekuensi 5 x / menitGENITALIA : tidak ditemukan adanya kelainanKGB :Preaurikuler: tidak teraba membesarPostaurikuler: tidak teraba membesarSubmandibula: tidak teraba membesarSupraclavicula: tidak teraba membesarAxilla: tidak teraba membesarInguinal: tidak teraba membesarANGGOTA GERAK :Ekstremitas : simetris, tidak terdapat kelainan pada bentuk tulang, posisi tangan dan kaki, serta sikap badan, tidak terdapat keterbatasan gerak sendi, akral hangat pada keempat ekstremitas.

MAURICE KING SCORE012

Keadaan umumSehatanak cengeng, apatis dan ngantukanak mengigau, koma atau syok.

Kekenyalan kulitNormalSedikit kurangSangat kurang

MataNormalSedikit cekungSangat cekung

Ubun ubun besarNormalSedikit cekungSangat cekung

MulutNormalKeringKering dan sianosis

Denyut nadi / menitKuat ( < 120 kali / menit)sedang (120 140 kali / menit)lemah (> 140 kali / menit.)

Pada pasien skornya: 1 (tanpa dehidrasi)

STATUS NEUROLOGIS Refleks FisiologisKananKiri

Biseps++

Triceps++

Patella++

Achiles++

Refleks PatologisKananKiri

Babinski--

Chaddock--

Oppenheim--

Gordon--

Schaeffer--

Rangsang meningeal

Kaku kuduk-

KananKiri

Kerniq--

Laseq--

Brudzinski I--

Brudzinski II--

Saraf cranialis- N. I (Olfaktorius)Tidak dilakukan pemeriksaan

- N. II dan III (Opticus dan Occulomotorius)Pupil bulat isokor 3mm / 3mm, RCL +/+, RCTL +/+- N. IV dan VI (Trochlearis dan Abducens)Gerakan bola mata baik ke segala arah, kedudukan mata kiri esotrophia- N. V (Trigeminus)Tidak ada gangguan sensibilitas wajah- N. VII (Facialis)Wajah simetrisMotorik: dapat menutup mata sempurna, dapat mengernyitkan dahi, dan dapat tersenyum dengan baikSensorik: tidak ada gangguan pengecapan- N. VIII (Vestibulo-kokhlearis)Tidak dilakukan pemeriksaan- N. IX, X (Glosofaringeus, Vagus)Tidak ada gangguan menelan- N. XI (Aksesorius)Gerakan leher dan bahu tidak terganggu- N. XII (Hipoglosus)Gerakan lidah tidak tergangguKULIT : warna sawo matang merata, pucat (-), tidak ikterik, tidak sianosis, turgor kulit baik, lembab, pengisian kapiler < 2 detik, petechie (-)TULANG BELAKANG : bentuk normal, tidak terdapat deviasi, benjolan (-), ruam (-), nyeri tekan (-)

III. PEMERIKSAAN PENUNJANG(Lab. Dari IGD pada tanggal 30 Juni 2014)HematologiHasilNilai Normal

Leukosit 7,2 ribu/ L6 17

Eritrosit4.2 jt/ L3.6 - 5.2

Hemoglobin11,5 g/ dL10,8-12,8

Hematokrit33 %35-43

Trombosit293 ribu / L217 497

MCV79.0 fL73 101

MCH27.1 pg23 31

MCHC34.5 g/dL26 34

RDW14,9 %5 tahun 5-10 mg im/iv, anak 1 bulan-5 tahun 0,2-2 mg im/ivd. Golongan suksinimidEtosuksimidIndikasi : epilepsi petit mal murniDosis : 20-30 mg.kgBB/harie. Golongan anti epilepsi lainnya- Sodium valproatIndikasi : epilepsi petit mal murni, dapat pula untuk epilepsi mempunyai cara kerja menstabilkan keluar masuknya natrium pada sel otakDosis : sehari total 8-30 mg/kgBB KarbamazepinIndikasi : epilepsi lobus temporalis dengan epilepsi grandmalDosis : dewasa 800-1200 mg/hari

Pemakaian Obat Anti Epilepsi pada AnakPenderita epilepsi cenderung untuk mengalami serangan kejang secara spontan, tanpa faktor provokasi yang kuat atau yang nyata. Timbulnya bangkitan kejang yang tidak dapat diprediksi pada penderita epilepsi selain menyebabkan kerusakan pada otak, dapat pula menimbulkan cedera atau kecelakaan. Kenyataan inilah yang membuat pentingnya pemberian antikonvulsan pada pasien epilepsi. Antikonvulsi digunakan terutama untuk mencegah dan mengobati bangkitan epilepsi (epileptic seizure). Golongan obat ini lebih tepat dinamakan anti epilepsi sebab jarang digunakan untuk gejala konvulsi penyakit lain. Terdapat dua mekanisme anti epilepsi yang penting yaitu:1) Mencegah timbulnya letupan depolarisasi eksesif pada neuron epileptik dalam focus epileptik2) Mencegah letupan depolarisasi pada neuron normal akibat pengaruh dari fokus epilepsi, Bagian terbesar antiepilepsi yang dikenal termasuk dalam golongan terakhir ini.Berbagai obat antiepilepsi diketahui mempengaruhi berbagai fungsi neurofisiologik otak, terutama yang mempengaruhi sistem inhibisi yang melibatkan GABA dalam mekanisme kerja berbagai antiepilepsi.Akhir-akhir ini karbamazepin dan asam valproat memegang peran penting dalam pengobatan epilepsi; karbamazepin untuk bangitan parsial sederhana maupun kompleks, sedangkan asam valproat terutama untuk bangkitan lena maupun bangkitan kombinasi lena dengan bangkitan tonik klonik.

Penghentian Obat Anti EpilepsiTerdapat dua hal yang perlu diperhatikan dalam menghentikan terapi obat antiepilepsi, yaitu:1) Syarat umum untuk menghentikan pemberian obat antiepilepsi : Pasien menjalani terapi secara teratur dan telah bebas dari bangkitan selama minimal dua tahun Gambaran EEG normal Dilakukan secara bertahap, pada umumnya 25% dari dosis semula setiap bulan dalam jangka waktu 3-6 bulan Penghentian dimulai dari satu obat antiepilepsi yang bukan utama.2) Kekambuhan setelah penghentian obat antiepilepsi Kekambuhan setelah penghentian obat antiepilepsi akan lebih besar kemungkinannya pada keadaan sebagai berikut: Semakin tua usia Epilepsi simptomatik Gambaran EEG yang abnormal Semakin lama adanya bangkitan sebelum dapat dikendalikan Tergantung banyak sindrom epilepsi yang diderita; sangat jarang pada sindrom epilepsi benigna dengan gelombang tajam pada daerah sentro-temporal, 5-25% pada epilepsi lena masa kanak-kanak, 25-75% epilepsi parsial kriptogenik/simptomatik, 85-95% pada epilepsi mioklonik pada anak. Penggunaan lebih dari satu obat antiepilepsi Masih mendapatkan satu atau lebih bangitan setelah memulai terapi Mendapat terapi 10 tahun atau lebih.Kemungkinan untuk kambuh lebih kecil pada pasien yang telah bebas dari bangkitan selama 3-5 tahun, atau lebih dari 5 tahun. Bila bangkitan timbul kembali makagunakan dosis efektif terakhir (sebelum pengurangan dosis obat anti terapi), kemudian dievaluasi kembali.12,13,14

4.7 PROGNOSISPasien epilepsi yang berobat teratur, 1/3 akan bebas dari serangan paling sedikit 2 tahun dan bisa lebih dari 5 tahun sesudah serangan terakhir obat dihentikan, pasien tidak mengalami serangan epilepsi lagi, dikatakan telah mengalami remisi. Diperkirakan 30% pasien tidak mengalami remisi meskipun minum obat dengan teratur. Sesudah remisi, kemungkinan munculnya serangan ulang paling sering didapat pada epilepsi tonik-klonik dan epilepsi parsial kompleks. Demikian pula usia muda lebih mudah mengalami relaps sesudah remisi.13

BAB VKESIMPULAN

Masalah kejang, convulsion, seizure, atau insult pada anak sering kali merupakan gejala atau keluhan utama yang menyebabkan orang tua berusaha mendapatkan pertolongan antara lain dengan membawa berobat ke tempat layanan kesehatan. Pada saat pasien datang dengan keluhan kejang, maka kita harus memilah apakah kejang tersebut dikarenakan infeksi atau non infeksi. Apabila dikarenakan non infeksi, maka harus dicari apakah terdapat kelainan metabolik, kelainan elektrolit, keganasan atau epilepsi. Hal yang terpenting dalam kejang sendiri adalah tatalaksana kejang saat kejang itu sendiri terjadi dan pencarian etiologi serta tatalaksana etiologinya. Untuk semua tatalaksana awal kejang adalah sama sesuai dengan algoritme yang ada, yang berbeda adalah pada saat penatalaksanaan etiologinya.

BAB VIDAFTAR PUSTAKA

1. Widagdo. Tatalaksana masalah penyakit anak dengan kejang. Jakarta: Sagung Seto. 2011. P. 4-8; 31-42; 47-58.2. Johnston MV. Seizures in childhood. In: Behrman RE, Kliegman RM, and Jenson HB, editors. Nelson textbook of pediatric. 17th ed. India: Elsevier. 2004. p. 1993-2009. 3. UNDIP. Kejang pada anak. Available at: http://eprints.undip.ac.id/29064/2/Bab_2.pdf. Accessed on June 19th, 2014.4. Ginsberg L. Lecture notes neurologi. 8th ed. Jakarta: Erlangga. 2008. p. 79-88; 122-33.5. Raftery AT, Lim E, and Ostor AJ. Differential diagnosis. UK: Elsevier. 2010. p.80-3.6. Price Sylvia A, Wilson Lorraine M. Patofisiologi Konsep klinis proses-proses penyakit, Volume 2 Edisi 6. Jakarta: ECG, 2006.p.1157-66.7. Pusponegoro H., Widodo D., Ismael S. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. Jakarta: Badan Penerbit IDAI;2006.p.1-2.8. Fuadi, Bahtera T, Wijayahadi N. Faktor Risiko Bangkitan Kejang Demam pada Anak.Sari Pediatri 2010; 12(3): 142-9.9. Baumann R., Duffner P. Treatment of Children with Simple Febrile Seizures. The AAP Practice parameter. Pediatr Neurol 2000; 23: 11-17.10. Suwarba IGNM. Insidens dan Karakteristik Klinis Epilepsi pada Anak. Sari Pediatri 2011; 13(2): 123-8.11. Octaviana F. Epilepsi. Medicinus. Vol 21 Desember 2008. FKUI.12. Pudjiaji, Antonius. Buku Ajar Pediatri Gawat Darurat: Kejang. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2013. p. 31-8.13. Lazuardi S. Buku Ajar Neurologi Anak. In: Soetomenggolo T, Ismael S, editors. Pengobatan Epilepsi. Jakarta: BP IDAI; 2000. p. 237-38.14. Widagdo. Masalah dan tatalaksana penyakit anak dengan demam. Jakarta: Sagung Seto. 2012. p. 90-9.15. Tidy C. Encephalitis and Meningoencephalitis. Available at. http://www.patient.co.uk. Accessed on June 20th, 2014.

43