5
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK) KEPERAWATAN SIROSIS HEPATIS 1. Pengertian (Definisi) Istilah Sirosis hati diberikan oleh Laence tahun 1819, yang berasal dari kata Khirros yang berarti kuning orange (orange yellow), karena perubahan warna pada nodul-nodul yang terbentuk. Pengertian sirosis hati dapat dikatakan sebagai berikut yaitu suatu keadaan patologis yang menggambarkan stadium akhir fibrosis hepatik dimana terjadi disorganisassi yang difuse dari struktur hati yang normal akibat nodul regeneratif yang dikelilingi jaringan fibrosis dan berlangsung progresif. Gambaran ini terjadi akibat adanya nekrosis hepatoselular (Siti Nurdjanah, 2009) 2. Masalah Keperawatan Aktifitas istirahat: Mudah lelah dan lemas, letargi, penurunan massa otot Makanan dan cairan : selera makan berkurang (anoreksia), perasaan perut kembung, mual/muntah, berat badan menurun kulit dan mata berwarna kuning (ikterik), perdarahan gusi, epistaksis, air kemih berwarna seperti teh pekat, hematemesis, melena, bengkak pada tungkai dan kaki Neurosensori : perubahan mental, meliputi mudah lupa, sukar konsentrasi, bingung,

PPK SH

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ppk

Citation preview

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)KEPERAWATAN

SIROSIS HEPATIS

1. Pengertian (Definisi)Istilah Sirosis hati diberikan oleh Laence tahun 1819, yang berasal dari kata Khirros yang berarti kuning orange (orange yellow), karena perubahan warna pada nodul-nodul yang terbentuk. Pengertian sirosis hati dapat dikatakan sebagai berikut yaitu suatu keadaan patologis yang menggambarkan stadium akhir fibrosis hepatik dimana terjadi disorganisassi yang difuse dari struktur hati yang normal akibat nodul regeneratif yang dikelilingi jaringan fibrosis dan berlangsung progresif. Gambaran ini terjadi akibat adanya nekrosis hepatoselular (Siti Nurdjanah, 2009)

2. Masalah KeperawatanAktifitas istirahat: Mudah lelah dan lemas, letargi, penurunan massa otot

Makanan dan cairan : selera makan berkurang (anoreksia), perasaan perut kembung, mual/muntah, berat badan menurunkulit dan mata berwarna kuning (ikterik), perdarahan gusi, epistaksis, air kemih berwarna seperti teh pekat, hematemesis, melena, bengkak pada tungkai dan kaki

Neurosensori : perubahan mental, meliputi mudah lupa, sukar konsentrasi, bingung, agitasi, sampai koma

Nyeri/kenyamanan: nyeri tekan abdomen/nyeri kuadran atas akibat pembesaran hati, gatal (pruritus) pada tangan dan kaki yang dapat berlanjut ke seluruh tubuh, nyeri lambung dan munculnya jaringan darah mirip laba-laba di kulit (spider angiomas)

Pernafasan : sesak nafas karena ekspansi paru terbatas akibat asites (cairan di dalam rongga abdomen)

3. Diagnosa Keperawatan1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh2. Intoleransi aktivitas 3. Ketidakefektifan pola nafas 4. Kelebihan volume cairan 5. Nyeri akut

4. Intervensi Keperawatan1. Monitor tanda-tanda vital2. Monitor intake dan output3. Monitor perubahan hasil laboratorium4. Kaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan5. Monitor respon kardiovaskuler terhadap aktifitas (takikardi, sesak nafas, diaphoresis, pucat)6. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekensi, kualitas dan faktor presipitasi7. Ajarkan teknik non farmakologi (nafas dalam, relaksasi, distraksi)8. Kolaborasi dalam pemberian analgesik9. Monitor respirasi dan status O210. Kolaborasi dalam pemberian cairan yang sesuai dengan kondisi pasien11. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara nafas tambahan12. Atur posisi pasien head up (15 atau 30) untuk memaksimalkan ventilasi13. Pasang urin kateter jika diperlukan14. Monitor indikasi retensi atau kelebihan volume cairan (CVP, cracles, edema, distensi vena leher serta asites)15. Berikan diuretik sesuai instruksi 16. Monitor mual dan muntah17. Monitor pucat, kemerahan dan kekeringan pada konjungtiva18. Kolaborasi dengan dokter tentang kebutuhan suplemen makanan seperti NGT sehingga intake cairan yang adekuat tetap dipertahankan

5. Observasi1 Pemeriksaan darah lengkap2 Fungsi hati 3 Pemeriksaan albumin 4 Pemeriksaan kimia darah 5 Pemeriksaan USG6 Pemeriksaan urin lengkap

6. Evaluasi1. Pasien tampak rileks2. Tanda-tanda vital dalam batas normal 3. Hasil laboratorium dalam batas normal4. Paham tentang penyakit dan prosedur tindakan yang akan dilakukan

7. Informasi & Edukasi1. Makan sesuai dengan diet yang dianjurkan2. Menganjurkan untuk banyak istirahat dan tidur yang cukup3. Edukasi mengenai penyakit sirosis hepatis dan tindakan yang akan dilakukan

8. Discharge Planning1. Rawat inap2. Rawat intensif3. Rujuk4. Pulang

9. Nasehat pulang/Instruksi kontrol1. Obat diminum secara teratur2. Istirahat yang cukup 3. Makanan yang adekuat dan seimbang4. Kondisi darurat yang mengharuskan segera ke RS

10. PrognosisBaik/sembuhBurukTidak tentu/ragu-ragu

11. Penelaah Kritis1. SpPD penyakit dalam

12. IndikatorKondisi stabil, keadaan tidak tentu/ragu-ragu: rawat inapTidak terjadi kegawatan, kondisi stabil, baik/sembuh: pulangKondisi stabil, buruk: rawat intensifKondisi stabil, buruk, tidak ada fasilitas: rujuk

13. KepustakaanSiti Nurdjanah. Sirosis Hepatis. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alvi I, Simadibrata MK, Setiati S (eds). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 5th ed. Jakarta; Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia. 2009. Page 668-673.

Nursing Outcome Classification (NOC)

Nursing Intervention Classification (NIC)