27
1 POTENSI GEOPOLITIK DUNIA ISLAM DAN HEGEMONI KEKUATAN GLOBAL ( Expanded Revised Edition) Oleh : Fika Monika, ST 1 Yoyok Tindyo Prasetyo, ST 2 “...wajib bagi generasi kaum muslim untuk menjadikan kesadaran politik sebagai hal pertama yang harus dimiliki di antara konsepsi politik. Wajib pula kesadaran politik itu menjadi asas aktifitas-aktifitas politik mereka. Wajib pula mereka berusaha agar kesadaran politik menjadi tersebar luas di antara manusia, dan menjadi salah satu kebutuhan mendasar bagi masyarakat , bahkan menjad santapan harian bagi para politisi....Taqiyuddin An Nabhani, Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir I. POSISI DUNIA ISLAM : SEBUAH PENGANTAR Dalam sejarah pidato pelantikan kepresidenan Amerika Serikat, untuk pertama kalinya seorang presiden AS terpilih menyatakan secara spesifik istilah ”Dunia Islam”. Pernyataan tersebut keluar dari lisan Barrack Hussein Obama, seorang presiden terpilih AS ke-44 dalam pelantikannya di Washington DC beberapa waktu lalu. Peristiwa tersebut sontak mendapat perhatian luar biasa dari para pengamat politik di seantero dunia. Beragam analisis dan pembahasan tentang pernyataan tersebut disampaikan oleh para pengamat politik di luar negeri, termasuk di tanah air. Bisa dimaklumi, sebab pernyataan tersebut lahir dari seorang pemimpin negara Adidaya dunia di dua dekade terakhir ini. Pernyataan Obama ini sebenarnya mencerminkan betapa krusialnya posisi dunia Islam saat ini. Terutama apabila ditarik pada konteks kontestasi dunia Islam dengan dunia Barat yang semakin eskalatif pasca pemerintahan George W. Bush. Sebenarnya teori-teori paska era Perang Dingin sudah lama menjelaskan hal ini, bahwa Islam dinilai oleh Barat sebagai tantangan fundamental ke era baru abad liberalisme dan kapitalisme global. Islam ternyata memiliki kekuatan ideologis yang telah banyak dicermati para teoritikus dan elit politik, sehingga mereka memposisikan Islam sebagai tantangan baru terhadap tatanan sistem dunia saat ini. 1 Mahasiswa Pasca Sarjana Kajian Strategik Ketahanan Nasional Universitas Indonesia Angkatan 27, Peneliti Imperialism Watch Forum Rumah Muslim Yogyakarta 2 Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta, Peneliti Imperialism Watch Forum Rumah Muslim Yogyakarta

Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

  • Upload
    fikamon

  • View
    697

  • Download
    5

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

1

POTENSI GEOPOLITIK DUNIA ISLAM DAN

HEGEMONI KEKUATAN GLOBAL ( Expanded Revised Edition)

Oleh :

Fika Monika, ST1 Yoyok Tindyo Prasetyo, ST2

“...wajib bagi generasi kaum muslim untuk menjadikan kesadaran politik sebagai hal pertama

yang harus dimiliki di antara konsepsi politik. Wajib pula kesadaran politik itu menjadi asas

aktifitas-aktifitas politik mereka. Wajib pula mereka berusaha agar kesadaran politik menjadi

tersebar luas di antara manusia, dan menjadi salah satu kebutuhan mendasar bagi masyarakat ,

bahkan menjad santapan harian bagi para politisi....”

Taqiyuddin An Nabhani, Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir

I. POSISI DUNIA ISLAM : SEBUAH PENGANTAR

Dalam sejarah pidato pelantikan kepresidenan Amerika Serikat, untuk pertama kalinya

seorang presiden AS terpilih menyatakan secara spesifik istilah ”Dunia Islam”. Pernyataan

tersebut keluar dari lisan Barrack Hussein Obama, seorang presiden terpilih AS ke-44 dalam

pelantikannya di Washington DC beberapa waktu lalu.

Peristiwa tersebut sontak mendapat perhatian luar biasa dari para pengamat politik di

seantero dunia. Beragam analisis dan pembahasan tentang pernyataan tersebut disampaikan oleh

para pengamat politik di luar negeri, termasuk di tanah air. Bisa dimaklumi, sebab pernyataan

tersebut lahir dari seorang pemimpin negara Adidaya dunia di dua dekade terakhir ini.

Pernyataan Obama ini sebenarnya mencerminkan betapa krusialnya posisi dunia Islam

saat ini. Terutama apabila ditarik pada konteks kontestasi dunia Islam dengan dunia Barat yang

semakin eskalatif pasca pemerintahan George W. Bush. Sebenarnya teori-teori paska era Perang

Dingin sudah lama menjelaskan hal ini, bahwa Islam dinilai oleh Barat sebagai tantangan

fundamental ke era baru abad liberalisme dan kapitalisme global. Islam ternyata memiliki

kekuatan ideologis yang telah banyak dicermati para teoritikus dan elit politik, sehingga mereka

memposisikan Islam sebagai tantangan baru terhadap tatanan sistem dunia saat ini.

1 Mahasiswa Pasca Sarjana Kajian Strategik Ketahanan Nasional Universitas Indonesia Angkatan 27, Peneliti Imperialism Watch Forum Rumah Muslim Yogyakarta 2 Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta, Peneliti Imperialism Watch Forum Rumah Muslim Yogyakarta

Page 2: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

2

Adalah benar bahwa Islam membentuk sebuah ideologi yang koheren dan sistematis,

sebagaimana liberalisme dan komunisme, dengan sistem kodenya sendiri tentang moralitas,

ketauhidan, doktrin politik dan keadilan sosial. Perhatian Islam adalah secara potensial universal

untuk semua manusia, tanpa perbedaan kasta, kelas sosial maupun posisi struktural etnik atau

kelompok bangsa tertentu, kecuali ketaatan dan kepasrahan penuh kepada Sang Pencipta semata.

Juga telah disaksikan, Islam bahkan mengalahkan demokrasi liberal di beberapa bagian

dari dunia Islam seperti di Aljazair, Sudan dan Turki -yang menyikapi sebuah tantangan berat

kepada praktek liberal- di Negara-negara dimana liberalisme tidak memperoleh kekuasaan politik

secara langsung. Akhir perang dingin di Eropa segera diikuti oleh sebuah tantangan terhadap

Barat dari Negara Irak, Iran dan Libya, yang mana Islam diidentikkan sebagai kekuatan terorisme

melawan hegemoni Barat.

Pendek kata memetakan dan memotret dunia Islam adalah penting dan mendesak. Tidak

hanya bagi musuh-musuh Islam, namun juga bagi umat Islam itu sendiri.

Bagaimana memotret dunia Islam, adalah sebuah pekerjaan yang telah dilakukan dengan

berbagai sudut pandang dan metode. Pembedaan antara Sunni dan Syiah adalah salah satu

contoh metode memotret dunia Islam yang sangat tua usianya. Sebuah metode yang beranjak

dari sudut pandang ketersediaan varian pemikiran di dalam memahami Islam itu sendiri. Metode

yang sama tuanya adalah perbandingan mazhab, cara memotret umat Islam yang lebih menukik

pada perbedaan fiqhiyyah umat Islam. Kedua metode tersebut di atas selama ini bisa dianggap

tidak terlalu bermasalah, karena memang lahir dari rahim worldview Islam itu sendiri.

Hanya saja, tidak selalu cara memetakan umat Islam adalah lahir dari worldview Islam,

cukup banyak pemetaan umat Islam dilakukan berbasiskan pada cara pandang yang berbeda dan

bahkan bertentangan dengan Islam itu sendiri. Gelombang serangan pasukan Salib adalah salah

satunya. Perang Salib adalah peristiwa sejarah yang membuktikan bahwa terdapat pemetaan dunia

Islam yang berdasarkan sudut pandang Kristen. Dalam hal ini adalah sudut pandang extra ecllesian

nula sallu, atau doktrin di luar gereja tidak ada keselamatan.

Memang Barat, dalam ujud dan watak sebagai sebuah peradaban, adalah pihak yang

amat rajin memperhatikan dan memetakan dunia Islam ( disusul dengan Jepang3 ). Seolah tidak

peduli dengan kuatnya dinamika umat Islam, Barat selalu saja meluangkan waktu untuk

memodelkan umat Islam. Untuk itu ratusan bahkan ribuan pusat studi Islam telah didirikan

dipelbagai Universitas4 di Barat. Meskipun tentusaja dalam rangka untuk menaklukan dan

menguasai umat Islam. Sejarah panjang orientalisme adalah buktinya. Terlepas dari berbagai 3 Contohnya adalah CISMOR, sebuah pusat studi agama monotheisme yang salah satunya adalah Islam. Lembaga ini dirikan di Univeritas Doshisha, sebuah universitas kristen di Jepang 4 Salah satunya yang cukup disegani adalah SOAS ( School of Oreintalism and African Studies ) di Univeritas London atau Islamic Studies di Universitas McGill Canada ( tempat banyak dosen UIN di Indonesia melanjutkan studi )

Page 3: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

3

macam kritikan yang tertuju pada proyek ini5, terbukti bahwa hasil kerja orientalisme memang

membawa hasil bagi Barat, dan bahkan tidak sedikit pula yang kemudian diacu oleh kaum

muslimin sendiri.

Salah satu pemodelan umat Islam yang paling mutakhir adalah yang diluncurkan oleh

sebuah lembaga pemikiran di USA yang bernama RAND Corporation. Beberapa hasil laporan

mereka menunjukkan hasil kerja yang serius dari Barat. Untuk proyek ini cukup banyak kalangan

pemikir muslim6 yang membantu penelitian yang dilakukan oleh para peneliti RAND ( Angel

Rabasa, Cherryl Bernard dan sebagainya ). Pemetaan yang dipicu oleh peistiwa 11 September ini,

ternyata cukup sulit untuk dikatakan lahir dari doktrin extra ecllesian nula sallu. Apa yang lebih

nampak adalah kategorisasi umat Islam yang berdasarkan pada jarak dengan Barat atau

penerimaan atas nilai-nilai sekuler Barat ( baca Demokrasi ).Kalangan Islam yang anti Demokrasi

disebut oleh mereka sebagai Fundamentalis7, yang menerima Demokrasi karena latah disebut

Tradisionalis, yang menerima karena mengangkap tidak ada masalah dengan Demokrasi

dinamakan Moderat dan yang mengatakan Islam adalah Demokrasi itu sendiri atau demokrasi

lebih baik dari Islam disebut dengan kalangan Liberal. Rekomendasi yang penting dari group

RAND ini adalah bagaimana membenturkan kalangan Fundamentalis dengan Tradisionalis untuk

menaikkan posisi kalangan Moderat.

Disisi lain, kemerosotan pemikiran umat Islam telah menjadikan umat Islam tertinggal

dalam banyak bidang, termasuk dalam persoalan peta-memeta ini. Alih-alih memetakan musuh-

musuhnya, memetakan dirinya sendiri saja amat jarang dilakukan. Dibutuhkan kerja intelektual

yang lebih banyak dan lebih berbobot untuk bisa mengambil manfaat dari model-memodelkan

ini. Dalam jangka pendek, bermanfaat bagi menangkis serangan pemikiran, politik dan ekonomi

Barat dan dalam jangka panjang adalah dalam rangka membuka dan meng-Islamkan Barat

dengan dakwah dan jihad. Meskipun untuk yang jangka panjang tersebut hanya sedikit dari kaum

muslimin yang masih memimpikannya.

Hanya saja agenda harmonisasi hubungan AS (Barat) dan dunia Islam yang semakin

diinternasionalisasi (internationalization issue) oleh Obama semakin menunjukkan betapa krusialnya

posisi dunia Islam di mata dunia saat ini. Hal tersebut seharusnnya mendorong para pemikir dan

politisi muslim untuk bersegera melakukan pemetaan dunia Islam yang lebih bermanfaat bagi

kebangkitan umat Islam sendiri. Apalagi posisi single polar kekuatan dunia yang selama ini

5 Salah satu yang sangat terkenal adalah kritikan Edward Said dalam bukunya Orientalism. Said mengatakan bahwa orientalisme adalah cara memandang Islam namun dengan menggunakan kacamata Barat. Terdapat cukup banyak piula kritik terhadap orientalisme yang dilontarkan pemikir Muslim. Misal oleh Prof Musthofa Azami, Prof Musthofa Siba’i dan sebagainya 6 Ahmad Syafii Maarif adalah salah satu yang cukup penting untuk disebutkan. Baca lebih lanjut Muslim World After 911, Rand Corp. 7 Baca lebih lanjut Civil Democratic Islam, Rand Corp

Page 4: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

4

disandang AS, mulai terganggu dengan munculnya Uni Eropa dan China. Atau kata lain mulai

tercipta multipolar kekuatan adidaya. Akhirnya menjadi penting dan mendesak untuk mengkaji

kondisi Dunia Islam dan tentu saja sekaligus peradaban Barat.

Diantara metode yang cukup mutakhir dalam memetakan dunia Islam adalah dengan

pendekatan Geopolitik dan Geostrategis. Metode ini diharapkan dapat memberi analisis yang

lebih deskriptif tentang dunia Islam dan hubungannya dengan dunia Barat. Tentu saja informasi

yang diperoleh dalam kajian awal (dengan pendekatan geopolitik ini) diharapkan mampu

memberikan kontribusi bagi penumbuhan semangat kaum muslimin untuk mewujudkan Islam

sebagai kutup kekuatan dunia yang mandiri.

II. BATASAN MASALAH

Pertama, tulisan ini hendak mengkaji parameter-parameter geopolitik kawasan Dunia Islam

yang terbentang dari Maroko hingga Indonesia, yaitu keterkaitan antara tiga (3) faktor penting

yaitu;

1. Pertumbuhan Ekonomi (Economic Growth)

2. Keamanan Energi (Energy Security)

3. Ketidakamanan Geostrategis (Geostrategic In Security).

Kedua, kajian bagaimana parameter dan pengaruh hegemoni Barat dalam mengendalikan

Dunia Islam sebagai bagian dari perannya dalam membangun tatanan dunia. Dalam hal ini perlu

pembahasan yang terintegrasi terkait dengan politik luar negeri suatu negara, khusu Barat. Ada 4

faktor penting yang perlu dikaji :

1. Konsep utama dan dominan dalam negara, lahir dari worldview yang dianut bangsa (

disebut Fikrah)

2. Metode baku dalam mewujudkan konsep ( disebut Thariqah ),

3. Metode tidak baku dalam mewujudkan konsep, berbentuk rencana strategis ( disebut

Khittah Siyasi )

4. Implementasi teknis dalam mewujudkan konsep ( disebut Uslub Siyasi)

III. KERANGKA TEORITIK PARAMETER GEOPOLITIK.

Teori yang dipaparkan di bawah memang bukan lahir dari pemikir muslim,

namun karena obyek yang dikaji adalah sesuatu yang dekat dengan fakta georafis/kondisi

alam, maka bias subyektifitas Baratnya diharapkan tidak terlalu kental. Di bagian awal

akan disajikan asal konsep geopolitik dilanjutkan dengan penelitian yang obyeknya adalah

kawasan dunia Islam.

Page 5: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

5

a. Konsep Geopolitik

a. Geopolitik secara etimologi berasal dari kata geo (bahasa Yunani) yang berarti

bumi yang menjadi wilayah hidup. Sedangkan politik dari kata polis yang berarti

kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri atau negara ; dan teia yang berarti urusan

(politik) bermakna kepentingan umum warga negara suatu bangsa (Sunarso, 2006:

195)

b. Istilah Geopolitik pertama kali digunakan oleh Rudolf Kjéllen, seorang ahli politik

dari Swedia pada tahun 1905. Sebagai cabang dari geografi politik, geopolitik

fokus pada perkembangan dan kebutuhan akan ruang bagi suatu negara.

Geopolitik mengkombinasikan teorinya Friedrich Ratzel’s tentang perkembangan

alami sebuah negara dengan Heartland Theory (teori kawasan inti) dari Sir Halford J.

Mackinder’s untuk membenarkan praktek-praktek yang bersifat ekspansionis dari

beberapa negara. Sir Halford John Mackinder adalah ahli geografi dari Inggris yang

menulis paper pada tahun 1904 “The Geographical Pivot of History.” Dalam papernya

Mackinder mengatakan bahwa menguasai Eastern Europe adalah perkara yang

penting untuk menguasai dunia. Dia mengformulasikan hipothesisnya: Who rules

East Europe commands the Heartland, Who rules the Heartland commands the World-

Island, Who rules the World-Island commands the world. Mackinder’s Heartland (juga

disebut sebagai the Pivot Area) adalah daerah ini dari Eurasia, dan yang dimaksud

dengan the World-Island adalah seluruh daerah Eurasia (Eropa dan Asia).

c. Geopolitik dimaknai sebagai ilmu penyelenggaraan negara yang setiap

kebijakannya dikaitkan dengan masalah-masalah geografi wilayah atau tempat

tinggal suatu bangsa. Frederich Ratzel mengenalkan istilah ilmu bumi politik

(political geography), Rudolf Kjellen menyebut geographical politic dan disingkat

geopolitik.

b. Korelasi Antara Pertumbuhan Ekonomi, Keamanan Energi Dan Ketidakamanan

Geostrategis

Kajian serius terhadap keterkaitan antara pertumbuhan ekonomi, keamanan

energi dan ketidakamanan geostrategis sudah pernah dilakukan di kawasan Asia,

khususnya Asia Timur Laut di dalam buku Asia’s Deadly Triangle (Segitiga Maut Asia),

oleh Kent E.Calder. Direktur Hubungan AS-Jepang di Princeton ini memperlihatkan

Page 6: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

6

bagaimana gabungan pertumbuhan ekonomi yang pesat, kekurangan energi di masa

mendatang, dan ketidakamanan geopolitis dapat menimbulkan percepatan pembangunan

persenjataan dan memperparah permusuhan geopolitis. Bagaimana dengan Dunia Islam?

a. Pertumbuhan Ekonomi

Meski masih debatable, secara umum Pendapatan Domestik Bruto (PDB) diterima

sebagai sebuah indikator untuk mengukur pendapatan nasional suatu negara dalam

satu tahun8. Selama hampir setengah abad, perhatian utama masyarakat

perekonomian dunia tertuju pada cara-cara untuk mempercepat tingkat pertumbuhan

pendapatan nasional. Pada setiap akhir tahun, masing-masing negara selalu

mengumpulkan data-data statistik tingkat pertumbuhan PDB relatifnya. Ada tiga (3)

faktor utama dalam pertumbuhan ekonomi, yaitu : (1) Akumulasi Modal, (2)

Pertumbuhan Penduduk, (3) Kemajuan Teknologi9. Pertumbuhan Ekonomi juga

sering dikaitkan dengan kemampuan industrialisasi suatu negara.

b. Keamanan Energi (Energy Security)

• ”Economies – all economies – run on energy. Energy is needed to produce food and manufacture

goods, power machines and appliances, transport raw materials and finished products, and

provide heat and light. The more energy available to a society, the better its prospects for

sustained growth; when energy supplies dwindle, economies grind to a halt and the affected

populations suffer.” ( Thomas P. Bennet)10

• “If you want to rule the world you need to control the oil. All the Oil. Anywhere.” (Michael

Collon, Monopoly)11

• “Ketahanan Energi Nasional adalah kondisi dinamis di bidang energi yang

mengandung upaya penyediaan energi, baik dengan memproduksikan (dan

mengimpor) jenis energi dalam jumlah, mutu, harga, daerah dan waktu sesuai

dengan kebutuhan” (Rustam, 2002)12

c. Ketidakamanan Geostrategis (Geostrategic Insecurity)

• Makna Geostrategi adalah : cara pengarahan dan pengerahan sumberdaya yang

tersedia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan berdasarkan prinsip

Geopolitik tertentu13

8 http://www.sesrtcic.org/imgs/news/Image/indicator_GDP_final.pdf 9 Todaro & Smith, Pembangunan Ekonomi Dunia ke Tiga, Edisi ke Delapan, Jilid 1, Erlangga 2003 10 Dirgo D. Purbo, Makalah “Energy Security” Merupakan Faktor Strategis untuk Visi Indonesia 2030 11 Dirgo D. Purb., idem 12 Rustam, Tesis : Sumbangan Batubara Dalam Upaya Meningkatkan Ketahanan Energi Nasional”, 2002 13 Sutoyo, bahan diktat kuliah Geopolitik & Lingkungan Strategis, Pasca Sarjana Kajian Strategik Ketahanan Nasional, 2009.

Page 7: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

7

• Geostrategic Insecurity of the state defined in the absence of strategic depth, lack of natural

resources, demographic asymmetry, and super power involvement has been further amplified by

security uncertainties reflected in the continuous presence of multiple security threats, ranging

from conventional, low-intensity, asymmetrical, to non linear risks14

• Istilah “Ketidakamanan Geostrategis” yang secara kontekstual dibahas oleh Kent

E.Calder dalam bukunya lebih bermakna pada pola lingkungan strategis di suatu

kawasan yang berpotensi konflik baik konflik terbuka maupun tertutup.

IV. KAJIAN PERTAMA : KAWASAN DUNIA ISLAM15

Gambar 1. Peta Dunia Berdasarkan Agama

Dewasa ini ada 57 negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI). Negara-

negara ini dijuluki “Dunia Islam”, karena penduduknya mayoritas atau 50% lebih Muslim. Jadi,

sekitar 148 juta Muslim India (13,4% populasi) dan 26 juta Muslim Cina (2% populasi) belum

terhitung.

Luas wilayah 57 negara OKI ini adalah 32 juta km2, lebih luas daripada AS atau Uni

Eropa. Kepadatan penduduk rata-ratanya adalah 38 orang perkilometer persegi. Kepadatan

tertinggi ada di Bahrain yang hanya merupakan “negara kota”, yaitu 1055 jiwa perkilometer

persegi, diikuti Maladewa (933), Bangladesh (817) dan Palestina (626).

14 Michael Raska, Working Paper :The Revolution in Military Affairs and Security of Small States : Israel’s RMA Trajectory and Force Modernization Programs (1995-2008), Lee Kuan Yew School of Public Policy, 2009 15 Diambil dari buku yang ditulis Ajid Thohir yang berjudul Studi Kawasan Dunia Islam, Perspektif Etno-Linguistik dan Geopolitik, Rajawali Pers, 2009 Halaman 96. (Seorang dosen Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung)

Page 8: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

8

1. Nasionalisme, Realitas Baru Pemetaan Kawasan Dunia Islam

Pendekatan Geopolitik dalam studi kawasan Dunia Islam, adalah pendekatan yang sama

sekali baru, karena sebenarnya pendekatan ini lahir dan berkembang akibat kepentingan

imperialisme dan kolonialisme abad ke-18. Sejak kelahirannya bersama risalah Muhammad Saw,

umat Islam selalu dalam kondisi satu, bukan hanya satu kesatuan Aqidah (kepercayaan) tetapi

juga satu kesatuan sistem kehidupan. Sementara paham nasionalisme yang tumbuh di Dunia

Islam adalah realitas baru bagi pemetaan kawasan Dunia Islam.

L. Stoddard, pengarang buku “the New World of Islam” yang terbit sekitar 1920-an

mengatakan dengan nada yang provokatif “Seluruh Dunia Islam dewasa ini sedang mengalami

pergolakan yang maha dahsyat! 250.000.000 umat Islam yang tersebar antara Maroko dan Tiongkok, antara

Turkestan dan Konggo, sedang bergerak menuju ide baru, stimulan baru dan aspirasi baru, satu perubahan

maha dahsyat yang kelak akan dirasakan oleh seluruh umat manusia!.” Perubahan besar yang dimaksud

adalah “nasionalisme”.

Padahal sebelumnya Umat Islam adalah umat yang satu, dimana sekitar abad ke-8 hingga

abad ke- 18, kepemimpinan dan pusat pemerintahannya berada di bawah satu sistem

kekhalifahan (the super state). Sekarang, dengan jumlahnya yang lebih dari 1 milliar, umat Islam

sekarang berada di masing-masing wilayah kebangsaannya, menjalankan pemerintahan sendiri-

sendiri, menerapkan aturan agama mereka berdasarkan persoalan yang ada di lingkungan

masing-masing.

Hal ini terjadi sejak masuk dan berkembangnya imperialisme Barat di dunia Islam,

terutama sejak abad ke-18 sampai awal abad ke-20, yang ternyata secara tidak langsung telah

menumbuhkan semangat fragmentasi politik di kalangan umat Islam. Khususnya dalam semangat

kebangsaan di masing-masing wilayah dunia Islam. Secara langsung, imperialisme Barat di dunia

Islam, telah melahirkan rangsangan yang sangat signifikan bagi terbentuknya paham

nasionalisme, termasuk juga tentang konsep-konsep pemerintahan dan sistem parlemen yang

dikembangkan.16

2. Pemetaan Kawasan Dunia Islam

Merujuk pada Ajid Thohir, dengan menggunakan pendekatan regionalisme budaya yang

didasari etno linguistik-historik, secara general bisa ditentukan corak ragam perbedaan kawasan

Dunia Islam. Dimana setelah paham nasionalisme masuk ke Dunia Islam maka terbentuk

pemetaan baru secara spesifik yang dipotret dan dikaji dari perspektif nasionalismenya, dengan

pendekatan yang menitikberatkan pada batasan-batasan wilayah, administrasi politik,

perkembangan dan potensi daerah, serta pembangunan dan penduduk yang ada di dalamnya.

16 Ajid Thohir, Studi Kawasan Dunia Islam, Perspektif Etno-Linguistik dan Geopolitik, Rajawali Pers, 2009

Page 9: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

9

Konsep regionalisme budaya yang didasari pada studi nasionalisme (negara-bangsa) Dunia Islam

semakin memperjelas objek kajian wilayah Islam secara objektif dan spesifik.

Kawasan Dunia Islam dibagi ke dalam 5 (lima) tipologi kawasan, yaitu :

1) ETNIS ARAB / KAWASAN TIMUR TENGAH

Timur Tengah (Arab Saudi, Syria, Libanon, Yordania, Yaman, dan Irak)

2) ETNIS PERSIA /KAWASAN IRAN -SEMENANJUNG INDIA

Irano-Persia (Iran, Afghanistan, dan Pakistan)

3) ETNIS TURKI / KAWASAN EURASIA

Eurasia; Eropa dan Asia (Turki Modern, negara-negara Balkan, dan etnik Turki di

Asia Tengah dan Timur)

4) ETNIS NEGRO / KAWASAN AFRIKA

Afrika Hitam (Afrika Timur, Afrika Barat, Afrika Selatan, Afrika Utara, Aljazair,

Maroko, Sudan, dan Lybia)

5) ETNIS MELAYU / KAWASAN ASIA TENGGARA

Asia Tenggara (Malaysia, Brunei, Muangthai, Filipina, Kamboja, Singapura, dan

Indonesia).

Berikut daftar negara-negara di 5 (lima) kawasan Dunia Islam :

NO TIMUR TENGAH

SEMENANJUNGINDIA

EURASIA AFRIKA ASIA TENGGARA

1. Arab Saudi Iran Turki Sudan Indonesia

2. Uni Emirat Arab Afghanistan Tirgistan Libya Malaysia

3. Yordania Pakistan Kazagstan Tunisia Philipina

4. Lebanon India Armenia Maroko Singapura

5. Kuwait Bangladesh Tazikistan Aljazair Brunei Darusa

6. Yaman Sri Langka Mongolia Mauritania Thailand

7. Oman Uzbekistan Turkmenistan Sahara

8. Bahraen Albania Somalia

9. Syria Senegal

10. Qattar Gambia

11. Palestina Tanzania

12. Irak Kenya

13. Mesir Ethiopia

14. Nigeria

15. Niger

Page 10: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

10

16. Mali

17. Burkina Faso

18. Ghana

19. Guinea

20. Chad

21. Uganda

22. Kamerun

Gambar 2. Peta Dunia Islam berdasarkan Prosentase Penduduk Muslim

3. Potensi Strategis Kawasan Dunia Islam

Di antara lembaga yang mengumpulkan data sosial ekonomi Dunia Islam adalah

Statistical, Economic, and Social Research & Training Center for Islamic Countries (SESRTC) di Turki.

Data yang dikumpulkan dapat diakses melalui alamat :

www.sesrtcic.org/statistics/byindicators.php.

Potensi yang dimiliki dunia Islam secara geo-politik, geo-ekonomi dan geo-strategis sungguh luar

biasa, setidaknya bisa nampak dari 3 (tiga) faktor, di antaranya :

Pertama, faktor geografis. Faktor ini sangat berperan menambah kekuatan sebuah

negara. Dunia Islam mempunyai suatu lokasi geografis yang paling memungkinkan untuk

memelihara dan membangun aliansi strategis kekuatan maritim, dan sekaligus continental. Hal ini

sangat krusial dan kontras, karena kelemahan mendasar dari kekuatan-kekuatan hegemonik Barat

selama 2 abad terakhir ini adalah tidak tersedianya kapasitas geografis untuk membangun sebuah

Page 11: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

11

strategi maritim dan continental. Misalnya, Inggris dan AS telah mengaplikasikan strategi maritim

ketika Jerman dan Rusia berkonsentrasi membangun strategi continental yang didasarkan atas

kekuatan-kekuatan darat. Ini adalah fakta yang diciptakan agar suatu keseimbangan geo-strategis

dan konflik internal di antara kekuatan –kekuatan hegemonik tersebut melibas perbatasan-

perbatasan dan wilayah-wilayah Muslim, di pinggiran dan pusat Eurasia. 17 Kalaulah seluruh

wilayah Dunia Islam bersatu, mereka akan memiliki posisi geografis yang sangat menguntungkan

sebagai negara adidaya.

Dunia Islam secara geografis menempati posisi yang strategis jalur laut dunia. Mereka

mengendalikan Selat Gibraltar di Mediterania Barat, Terusan Suez di Mediterania Timur, Selat

Balb al-Mandab yang memiliki teluk-teluk kecil di Laut Merah, Selat Dardanelles dan Bosphorus

yang menghubungkan jalur laut Hitam ke Mediterania, serta Selat Hormus di Teluk. Selat Malaka

merupakan lokasi strategis di Timur Jauh. Dengan menempati posisi yang strategis ini, kebutuhan

masyarakat internasional akan wilayah Dunia Islam pastilah tinggi mengingat mereka harus

melewati jalur laut strategis tersebut. Di samping itu, mereka akan sulit menaklukkan negeri-

negeri Islam, karena pintu-pintu strategis laut dikuasai oleh Dunia Islam.

Negara-negara Muslim mempunyai area inti dan strategis dari Timur ke Barat, sebagaimana

meliputi wilayah strategis dari Utara ke Selatan, dari pusat Eurasia ke Laut panas melalui

Kaukasia ke Selatan dalam lingkaran Asia Tengah dan Afghanistan. Negara-negara Muslim juga

secara penuh menguasai semenanjung Arabia dan Anatolia, dan sebagian mengontrol anak benua

India dan Indo-Cina dan pulau-pulau penting seperti Siprus, Jawa, Sumatra, Borneo dan

Mandanao yang memiliki akses dari wilayah pusat Eurasia ke samudra-samudra lautan lepas.18

Kedua, faktor sumberdaya alam & energi (SDAE). Negeri-negeri Islam dianugerahi sang

Pencipta sebagai negeri-negeri yang kaya-raya dengan sumberdaya alamnya. Contohnya adalah

kekayaan akan sumber pangan. Negara yang memiliki sumber pangan yang besar jelas akan

memperkuat posisi negara tersebut, karena akan terhindar dari ketergantungan pada negara lain.

Negeri-negeri Islam dikenal sebagai wilayah yang subur untuk bercocok tanam pangan. Negara

yang kelangkaan pangannya permanen menjadi sumber kelemahan permanen pula dalam politik

internasional.19 Sumberdaya alam kedua yang penting adalah bahan mentah. Dunia Islam

mengendalikan cadangan minyak dunia (60%), boron (40%), fosfat (50%), perlite (60%),

strontium (27%), dan tin ( 22%). Di antara bahan mentah tersebut, minyak memiliki posisi yang

sangat strategis. Sejak Perang Dunia I, minyak merupakan sumber energi yang sangat penting

17 Mohammad Safari, COMES : Center for Middle East Studies/www.infopalestina.com 18 Mohammad Safari, ibidem. 19 Hans J. Morgenthau, Politics Among Nations, terj. hlm.175

Page 12: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

12

untuk industri dan perang; seperti kata Clemenceau pada waktu Perang Dunia I, “Setetes minyak

sama nilainya dengan setetes darah prajurit kita.”

Munculnya minyak sebagai bahan mentah yang mutlak diperlukan telah menimbulkan

pergeseran dalam kekuatan relatif negara-negara yang secara politis terkemuka. Uni Soviet (masa

komunis) menjadi demikian kuat sejak negeri itu berswasembada minyak. Sebaliknya, Jepang

semakin melemah saat itu karena tidak mengandung endapan minyak.20 Kekuatan minyak ini

pernah ditunjukkan oleh negeri-negeri Arab dalam embargo minyak tahun 1973-1974. Embargo

tersebut mampu menimbulkan keguncangan ekonomi Amerika Serikat dan negara-negara Eropa

saat itu.

Ketiga, faktor jumlah penduduk. Memang, jumlah penduduk bukanlah satu-satunya faktor

pendukung kekuatan sebuah negara. Hanya saja, seperti yang ditulis oleh H.J.Morgenthau, tidak

ada negara yang dapat tetap atau menjadi kekuatan tingkat pertama jika negara tersebut tidak

tergolong sebagai negara yang memiliki jumlah penduduk lebih banyak di dunia. Tanpa

penduduk yang banyak tidak mungkin suatu negara mendirikan dan terus menjalankan pabrik

industri yang diperlukan untuk melaksankan perang modern dengan berhasil. 21

Penduduk AS yang berjumlah 278.058.881 jiwa (CIA The World Factbook) jelas menjadi salah

satu faktor kekuatan negara tersebut. Kalaulah Dunia Islam bersatu di seluruh dunia, jumlah

penduduknya tentu sangat luar biasa. Saat ini Dunia Islam jumlah penduduknya lebih kurang 1

miliar atau 20% dari populasi di dunia.

Gambar 3. Perbandingan Populasi Dunia22

V. KONDISI GEOPOLITIK DUNIA ISLAM

Meskipun potensi Dunia Islam sangat besar, namun ternyata di dalam batas-batas

parameter yang digunakan oleh Sistem Internasional saat ini, sangat sukar untuk berargumentasi

20 Hans J. Morgenthau, ibidem, terj. hlm. 178 21 Hans J. Morgenthau, Politics Among Nations, terj. hlm.192 22 http://www.sesrtcic.org/imgs/news/Image

Page 13: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

13

bahwa dunia Islam mampu membangun sebuah strategi global independent sebagai kekuatan

anti-sistemik di dalam keterlibatannya dengan sistem dunia. Kenyataannya, mayoritas Negara-

negara Muslim mempunyai ranking paling bawah di dalam tatanan sistem dunia. Bisa dilihat dari

3 (tiga) parameter berikut :

1) Pertumbuhan Ekonomi Dunia Islam

Menurut laporan yang dikeluarkan CIA the World Factbook dalam

http://en.wikipedia.org/wiki/Economy_of_the_OIC, produk domestik bruto (GDP) Dunia

Islam adalah US$ 5,54 triliun US$ pertahun atau setara dengan 9,14% GDP dunia. Sebagai

perbandingan, GDP Uni Eropa atau AS adalah sekitar 12 triliun US$.

Jika dibagi dengan penduduknya yang pada 2005 ditaksir 1,24 miliar didapatkan GDP/kapita

sebesar US$ 4.454/tahun; atau dengan kurs sekarang berarti setara dengan Rp 3,3 juta/orang

perbulan. Namun, distribusi harta ini amat tidak merata. GDP/kapita tertinggi diraih Uni-

Emirat Arab (US$ 45.200/tahun atau Rp 34 juta/bulan) dan terendah di Somalia (US$

600/tahun (Rp 450.000/bulan).

Di dalam parameter pertumbuhan ekonomi memang ada perbedaan cukup tajam antara

kawasan Timur Tengah dengan kawasan lainnya, khususnya kawasan Afrika. Disebabkan

kawasan Timur Tengah menjadi sumber terbesar minyak dunia, sehingga sebagian negaranya

meraih pendapatan nasional yang besar karena ekspor minyak.

Tetapi tetap saja berdasarkan kelompok negara, Rata-rata GDP negeri-negeri Islam masih

tertinggal jauh dengan kelompok negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and

Development) yang terdiri dari 30 negara maju sekaligus negara industri, juga masih tertinggal dari

kelompok negara Uni Eropa (sebanyak 15 negara).

Gambar 4. Rata-rata PDB Riil berdasarkan Kelompok Negara23

23 http://www.sesrtcic.org/imgs/news/Image/indicator_GDP_final.pdf

Page 14: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

14

Fakta ini menunjukkan bahwa faktor kekayaan SDAE di dunia Islam sama sekali tidak

berkorelasi pada tingkat pertumbuhan ekonominya yang terlihat dari pendapatan nasionalnya.

Bahkan karena parameter pertumbuhan ekonomi ini juga, hampir semua negara-negara Islam

digolongkan sebagai negara berkembang yang ciri-cirinya adalah :

• Standar hidup relatif rendah

• Sektor industri yang kurang berkembang

• Skor Indeks Pembangunan Manusia atau Human Development Index (HDI) berada pada

tingkat menengah ke bawah

• Rendahnya pendapatan perkapita

Sebaliknya, justru fakta di atas sekaligus menunjukkan bahwa ada keterkaitan yang erat antara

pendapatan nasional dengan kemapanan sistem industri suatu negara. Kebanyakan negeri-negeri

Islam tidak memiliki sektor industri yang mapan, sementara bisa dilihat rata-rata negara industri

maju yaitu Barat memiliki pendapatan nasional yang tinggi, meskipun kekayaan alam mereka

tidak sebanyak Dunia Islam.

Gambar 5. Peta Sebaran Negara Maju dan Negara Berkembang

Dari peta di atas, bisa dilihat hampir semua negeri-negeri Muslim termasuk negara yang

sedang berkembang. Kenapa bisa demikian? Karena Dunia Islam telah tertinggal jauh dari

Page 15: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

15

negara-negara industri di dunia. Sementara Barat telah melewati fase industrialisasi 150 tahun

yang lalu, Dunia Islam tetap ter-“deindustrialisasi” secara besar-besaran. Hal inilah yang

menyebabkan kenapa tingkat pertumbuhan ekonomi Dunia Islam selalu jauh tertinggal

dibandingkan dengan dengan negara-negara maju.

Industrialisasi bisa diartikan sebagai keadaan dimana sebuah perekonomian dilengkapi

dengan mesin/pabrik, yang kemudian hal tersebut menjadi stimulus bagi sektor-sektor lain

perekonomian. Contohnya adalah Kerajaan Inggris, yang memusatkan manufaktur pada

perekonomiannya, industri perkapalan, amunisi dan pertambangan yang mendorong Inggris

menjadi sebuah kekuatan global yang mempunyai kemampuan mobilisasi perang dan penjajahan

yang cepat. Di saat perdamaian, industri-industri tersebut dipakai untuk kepentingan masyarakat.

Hal ini adalah alasan fundamental bagi setiap bangsa yang menginginkan industrialisasi.

Mempunyai dasar industri membuat sebuah bangsa bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dan

mandiri dari bangsa lainnya. Tanpa industrialisasi suatu bangsa akan tergantung secara politik dan

ekonomi pada negara lain dalam kebutuhan-kebutuhan vital seperti pertahanan, industri dan

produktivitas perekonomian.

2) Energi Security Dunia Islam

Kenaikan harga minyak yang selalu mengancam stabilitas ekonomi, politik dan sosial semakin

membuktikan bahwa minyak merupakan faktor yang fundamental bagi setiap negara, dimana saat

ini dunia sudah tidak bisa lepas dari ketergantungan bahan bakar fosil (energi primer – non

renewable energy). Kondisi ini mendorong negara untuk selalu berusaha memperoleh jaminan akses

energi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Fenomena inilah yang kemudian melahirkan

konsep keamanan energi atau energy security.

Terkait dengan Energy Security, seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya bahwa kawasan

Dunia Islam memiliki potensi SDAE (Sumber Daya Alam dan Energi) yang luar biasa. Sumber-

sumber minyak dunia hampir seluruhnya berada di kawasan Dunia Islam yang rawan konflik:

Timur-tengah, Afrika, Asia Tengah dan sejumlah wilayah di Asia Timur.

Page 16: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

16

Gambar 6. Lokasi Cadangan Minyak Dunia24

Akan tetapi meski Dunia Islam memiliki tingkat energy security yang tinggi, yang terjadi

sebenarnya energi itu tidak dikonsumsi sendiri oleh Dunia Islam, melainkan oleh negara-negara

industri besar seperti Amerika Serikat, dll untuk kebutuhan industri raksasa mereka. Sementara

Dunia Islam hanya sekedar menjadi pensuplai bahan bakar untuk sistem Industri mereka.

Gambar 7. Konsumsi Minyak Dunia25

24 http://www.pbs.org/frontlineworld/stories/colombia/oilb.html 25 http://www.pbs.org/frontlineworld/stories/colombia/oilb.html

Page 17: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

17

Bagi seorang pengamat yang netral, adalah mengejutkan jika Dunia Islam, yang

mempunyai berbagai hasil tambang dan sumberdaya yang melimpah, sangatlah miskin dan gagal

berindustrialisasi. Sebagai contoh, Irak saja mempunyai 10% cadangan minyak dunia. Juga

sebuah fakta yang tidak aneh bahwa Kuwait juga memiliki 10% cadangan minyak dunia. Dengan

mempelajari semua kejadian pada semua negara tersebut, yang membentuk Dunia Islam seperti

Afrika Utara, Timur Tengah, Asia Selatan, Indonesia dan Malaysia, sangatlah jelas terlihat sederet

kesalahan dan contoh kesalahan manajemen perekonomian yang luas.

Negara-negara Arab tidak pernah mengembangkan industri manufaktur, meskipun dalam

sektor perminyakan, dikarenakan keinginan perusahaan-perusahaan minyak Barat yang ingin

mengontrol penyulingan minyak mentah dan melalui kemampuannya mengontrol produksi

minyak dan negara-negara penghasil minyak. Pada tahun 2006 Timur Tengah memproduksi

31,2% minyak mentah dunia. Hanya 3,2% yang diolah di kawasan tersebut. Indonesia selama

tahun 1980-an dan 1990-an meliberalisasikan perekonomiannya dan membuka semuanya bagi

investasi asing, yang menimbulkan Krisis Asia pada tahun 1997, yang sampai sekarang masih

belum pulih. Saat ini mereka terlilit utang lebih dari 140 miliar dolar.

3) Geostrategic Insecurity Dunia Islam

Ketika didefinisikan ketidakamanan geostrategis suatu negara itu adalah sebagai absennya

kedalaman strategi, kekurangan sumberdaya alam, kondisi demografis yang asimetris, dan

semakin jauhnya keterlibatan peran negara adidaya dikarenakan terciptanya kondisi

ketidakpastian keamanan yang ditandai dengan hadirnya multi ancaman di kawasan secara

kontinyu. Maka faktor dominan yang menyebabkan geostrategic insecurity di Dunia Islam ada dua

faktor yaitu :

• Absennya kedalaman strategi; yang diakibatkan lemahnya kepemimpinan politik

Dunia Islam

• Keterlibatan penuh negara adidaya dalam menjalankan operasi-operasi ekonomi dan

militernya di negara-negara dunia Islam

Dari pemetaan Dunia Islam, sebagian besar kawasan Dunia Islam adalah kawasan rawan

konflik, dimana Negara-negara pemilik kekuatan-kekuatan besar (Great Powers) sistemik,

cenderung menjalankan operasi-operasi strategis dan militer di dalam area-area konflik yang

selalu terjadi di wilayah dunia Islam. Kawasan dunia Islam yang agak sepi konflik dan relatif

damai hanya di wilayah Asia Tenggara, selebihnya adalah kawasan konflik dengan intensitas

tinggi.

Page 18: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

18

Bahkan kawasan Timur Tengah dan Eurasia, merupakan wilayah paling dinamis di dunia.

Wilayah ini mencakup sepanjang batas-batas blok bangsa-bangsa Muslim dari Afrika ke Asia

Tengah. Kekacauan dan kejahatan politik selalu terjadi terhadap bangsa-bangsa Muslim. Kaum

ortodok Serbia di Negara-negara Balkan, Yahudi di Palestina, Hindu di India, Budha di Birma

dan Katolik di Pilipina. Paska runtuhnya kekhalifahan Otoman, Islam memiliki batas-batas yang

berdarah. Karena itu, koneksi militer Islam dan Konfusian muncul sebagai jawaban terhadap

ketidakseimbangan kekuatan-kekuatan politik-militer global. Koneksi ini didisain untuk

mempromosikan akuisisi oleh anggota-anggotanya dalam teknologi persenjataan yang

dibutuhkan untuk menghadapi kekuatan militer dari Barat. Sebuah bentuk baru kompetisi militer

terjadi antara Negara-negara Islam-Konfusian dan Aliansi Barat.

Invasi ke Afghanistan dan Irak, ancaman militer terhadap Iran, Libya dan Suriah,

tuduhan kepada Saudi Arabia sebagai biang terrorist dan ditundanya Turki masuk ke Uni Eropa

merupakan upaya Barat untuk menghancurkan koneksi strategis Islam-Konfusian. Sehingga

diperlukan kajian dan observasi yang lebih sungguh-sungguh tentang realitas politik yang ada

terhadap posisi strategis dunia Islam paska invasi AS ke Irak dan Afghanistan.

Tampaknya konsolidasi kekuatan koneksi Negara-negara Islam-Konfusian dipandang

berbahaya bagi kekuatan-kekuatan hegemonik maritime dan darat yang kini membangun aliansi

TRANS-ATLANTIK. Hal itu secara praktis bermakna kontrol strategis terhadap Negara-negara

Muslim disebabkan Negara-negara Muslim mempunyai area inti dan strategis dari Timur ke

Barat, sebagaimana meliputi wilayah strategis dari Utara ke Selatan, dari pusat Eurasia ke Laut

panas melalui Kaukasia ke Selatan dalam lingkaran Asia Tengah dan Afghanistan. Negara-negara

Muslim juga secara penuh menguasai semenanjung Arabia dan Anatolia, dan sebagian

mengontrol anak benua India dan Indo-Cina dan pulau-pulau penting seperti Siprus, Jawa,

Sumatra, Borneo dan Mandanao yang memiliki akses dari wilayah pusat Eurasia ke samudra-

samudra lautan lepas.

Disisi lain, kekuatan Konfusian di bawah kendali Cina tampil dan berkembang secara

mengesankan, baik secara ekonomi, militer maupun budaya. Tampaknya, gabungan continental

Cina dan dunia Islam boleh jadi akan melahirkan konsolidasi strategis yang dapat mengganggu

kenyamanan kekuasaan hegemonik Negara-negara besar saat ini.26

VI. KERANGKA TEORITIK POLITIK LUAR NEGERI

Telah dipahami oleh hampir seluruh pakar ilmu politik, termasuk ilmu politik luarnegeri

bahwa pemikiran politik modern yang maju dan berkembang di dunia Barat Modern adalah

26 Mohammad Safari, KURBAN PERTARUNGAN GEO-POLITIK GLOBAL, COMES ( Center of Middle East Studies)

Page 19: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

19

Machiavellisme. Sebuah teori politik yang berusaha melepaskan etika27, dan mendewakan

kepentingan. Pengaruh Machiavellis di Barat sudah berumur lebih dari 500 tahun lebih28.

Sehingga analisis politik selalu berputar pada kepentingan apa dan oleh siapa. Namun dalam

tulisan ini memang sengaja tidak menggunakan teori kepentingan tersebut sebagai landasannya.

Menurut hemat penulis dibutuhkan analisis yang berbeda untuk bisa mengurai perangai politik

luar negeri sebuah bangsa, terutama Barat. Berbeda dalam arti lebih tajam dan lebih tepat.

Berbeda juga dalam arti lebih obyektif.

Obyektifitas ini, akan lebih mudah tercapai apabila tidak terpaku pada analisis yang

dikembangkan para pemikir Barat. Mengapa ? Karena yang hendak dikaji adalah pola dan model

peradaban Barat. Akan menjadi bias kalau kemudian menggunakan analisis yang lahir dari

worldview Barat. Boleh dikatakan bahwa Barat akan lebih nampak jelas gambaran keseluruhannya

apabila diamati oleh pemikir yang bukan penganut aliran-aliran pemikiran Barat (Sebuah pola

yang selama ini juga sering dipakai oleh pemikir Barat Sekuler dalam melihat Islam). Seberapa

tinggi tingkat obyektifitassannya dan seberapa tepat tingkat kebenarannya tentunya dikembalikan

kembali kepada fakta dan sejarah Barat itu sendiri.

Tidak banyak pemikir Islam yang mampu melepaskan diri dari hegemoni pemikiran Barat

ketika melihat Barat ( lebih banyak yang terhegemoni Barat dalam melihat Islam ). Walaupun

demikian sampai saat ini paling tidak terdapat dua mazhab pemikiran ( bukan mazhab fiqh ) yang

bisa dianggap mampu melepaskan diri dari hegemoni pemikiran Barat. Pertama adalah mazhab

yang dipelopori oleh Syed Naquib al Attas dan kedua adalah mazhab yang dipelopori oleh Syekh

Taqiyuddin An Nabhani. Keduanya mampu memotret Barat secara tepat dan jitu29. Sebagai

seorang pemikir Islam, keduanya berusaha menelaah dan berbicara tentang semua aspek

peradaban, namun Mazhab Al Attas memberikan porsi yang amat banyak untuk persoalan

filsafat Islam dan pendidikan, sedang Mazhab An Nabhani pada memberikan porsi yang sangat

banyak pada persoalan politik dan ekonomi.

Terkait persoalan poltik luar negeri, salah satu metode yang bisa digunakan adalah apa

yang diusulkan oleh Taqiyuddin An Nabhani dalam bukunya yang berjudul Mafahim Siyasiyah Li

Hizbittahrir. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Konsepsi

Politik Islam”. Dalam buku ini Nabhani memperkenalkan istilah fikrah, thariqah, khittah siyasi dan

uslub siyasi30 dalam membaca pergerakan dan dinamika politik luarnegeri suatu bangsa/peradaban,

27 Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Hal 19 28 Quentin Skinner, Macchiavelli A Very Short Introduction, Oxford University Press, 2000 29 Potret Al Attas atas Barat bisa di baca pada buku Islam dan Sekulerisme, sedang potret An Nabhani atas Barat bisa dibaca pada buku Peraturan Hidup Dalam Islam. 30 An Nabhani, Konsepsi Politik Islam, HTI Press, hal 18

Page 20: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

20

termasuk Barat, termasuk Islam. Bagaimana contoh-contoh analisisnya banyak dipaparkan dalam

buku tersebut. Mulai dari pergerakan AS, Eropa, Asia dan sebagainya.

Kemudian beliau melanjutkan dengan pemetaan posisi negara-negara di dunia

berdasarkan ideologi yang dianut dan upaya penyebaran ideologinya. Salah satu contoh yang

disebutkan dalam buku tersebut bahwa negara seperti AS disebut dengan negara kesatu, dengan

kriteria , karena secara pasti AS mengemban ideologi dan secara pasti pula mengembannya

keseluruh dunia. Namun China belum bisa disebut negara kesatu, karena meskipun menganut

ideologi khas ( Komunisme ), Cina belum menampakkan agresifitasnya dalam menyebarkan

komunisme di dunia31.

Dapat dibaca pada buku ini bahwa An Nabhani sama sekali tidak menggunakan kerangka

teoritis analisis hubungan politik luar negeri ala Barat. Bisa dibuktikan dengan

membandingkannya dengan literature yang disusun para pemikir Barat. Salah satu yang bisa

dikaji adalah buku yang berjudul Introduction to International Relations, tulisan Robert Jackson dan

Georg Sorensen. Buku ini diterbitkan oleh Oxford University Press, 1999 dan diterjemahkan oleh

Pustaka Pelajar dengan judul Pengantar Studi Hubungan Internasioanal, pada tahun 2005. Sorensen (

2005 ) menyebutkan bahwa hubungan internasional dapat dianalisis dengan menggunakan 4 teori

pendekatan, yaitu : Realisme, Liberalisme, Masyarakat Internasional dan Ekonomi Politik

Internasional32. Dapat disimpulkan pula dari Sorensen (2005) bahwa teori tentang Hubungan

Internasional yang dianut oleh Barat kebanyakan lahir dari pengalaman dan sejarah Barat sendiri.

Dengan kata lain artinya bukan sesuatu yang bersifat universal. Wajar jika kemudian kerangka

teroritik yang dibangun tersebut selanjutnya sering digunakan untuk memahami politik luarnegeri

Barat. Namun yang bisa menimbulkan persoalan adalah jika teori tersebut juga digunakan untuk

memetakan dunia Islam. Dengan demikian bisa dipahami kalau An Nabhani lebih memilih untuk

membangun kerangka analisis sendiri. Dimana inti analisis yang ditawarkan adalah memandang

dunia berbasiskan pergerakan Ideologi, bukan yang lain.

Sistematika metode yang ditawarkan an Nabhani adalah sebagai berikut :

Langkah pertama adalah dengan memahami mana yang merupakan fikrah (konsep

utama dan dominan), thariqah (metode baku dalam mewujudkan konsep ), khittah siyasi ( rencana

strategis, tidak baku dalam mewujudkan konsep ) dan uslub siyasi ( implementasi teknis dalam

mewujudkan konsep ) yang diemban oleh sebuah peradaban Barat. Berbeda dengan Machiavellis

yang memahami bahwa poros aktifitas politik adalah kepentingan, Nabhani lebih percaya bahwa

31 Selain Negara kesatu, Nabhani juga menawarkan istilah Negara satelit, Negara pengikut dan sebagainya. Lebih lanjut lihat Konsepsi Politik Islam, HTI Press 32 Robert Jackson dan Georg Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasioanal, Pustakan Pelajar 2005

Page 21: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

21

poros aktifitas politik adalah ideologi33. Bagi Nabhani sebuah negara yang sadar berideologi akan

memainkan percaturan di dunia secara efektif ( apalagi bila ditopang dengan industri militer yang

kuat ) sedang negara yang tidak sadar berideologi atau bahkan tidak punya ideologi hanya akan

menjadi penggembira bahkan korban dari permainan negara yang berideologi.

Secara khusus Nabhani tidak memberikan istilah tersendiri pada model/analisis yang

ditawarkannya ini. Mungkin Analisis Politik Luarnegeri Nabhani cukup bagus untuk istilah

bagi gagasan-gagasan tersebut.

Langkah kedua adalah menempatkan berbagai peristiwa dunia dan kebijakan luarnegeri

negara-negara di dunia dalam kerangka Analisis Politik Luarnegeri Nabhani.. Terutama

menganalis berdasar kawasan. Menurut beliau terdapat 6 kawsan penting didunia yang rawan

dengan konflik antara lain Eropa, Timur Tengah, Asia Tengah, Anak Benua India, Timur Jauh

dan Afrika. Setiap kawasan memiliki dinamika yang berbeda. unik dan berubah-ubah. Faktor

geografisnya memang bisa jadi tetap namun bila telah berubah menjadi faktor geopolitik

dibutuhkan pengamatan secara terus-menerus terhadap kawasan-kawasan tersebut. Dalam

konteks hegemoni Barat, faktor geopolitik ini perlu dikaitkan dengan kepentingan-kepentingan

Barat terutama AS. Itu semua dimungkinkan apabila secara terus-menerus pula mengikuti beragai

peristiwa di tiap-tiap kawasan.

VII. KAJIAN KEDUA : IDEOLOGI DAN HEGEMONI DUNIA BARAT

Dunia Islam telah mengalami kemunduran peran politik internasional. Peran politik

internasional sebuah negara sangat dipengaruhi oleh kekuatan negara tersebut. Negara yang

lemah pasti tidak memiliki peran yang penting dalam kontelasi internasional. Negara itu hanya

menjadi pengekor atau bahkan ditindas oleh negara yang kuat. Faktor utama yang membuat

sebuah negara kuat adalah kekuatan ideologi (mabda’)-nya. Tanpa ideologi atau menjadi pengekor

ideologi asing, sebuah negara akan menjadi lemah. Lihat saja, semua negara adidaya atau yang

pernah menjadi negara adidaya pastilah merupakan negara yang dibangun di atas satu ideologi

tertentu. Contohnya adalah Uni Sovyet—sebelum runtuh—dengan ideologi sosialisme-

komunisnya, AS dengan ideologi kapitalisme-sekularnya, dan Khilafah Islamiyah pada masa lalu

dengan ideologi Islamnya.

Dengan demikian, ideologi adalah faktor dominan yang membuat sebuah negara menjadi

kuat sehingga mampu berperan secara dominan pula dalam percaturan politik internasional.

Sayang, saat ini, di Dunia Islam tidak ada satupun negara yang menjadikan Islam sebagai

33 Istilah yang biasa beliau pakai adalah Mabda, namun kalangan aktifis Islam lebih familiar menerjemahkan Mabda menjadi “Ideology”, meskipun secara akademis terjemahan bagi Mabda yang lebih tepat adalah “Worldview”

Page 22: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

22

ideologinya sekaligus menerapkannya dalam seluruh kehidupannya. Negara-negara Muslim

sebagian besar adalah negara pengekor ideologi kapitalisme-sekular.34

Memang, tidak bisa dipungkiri, Islam sebagai ideologi secara nyata bertentangan dengan

ideologi kapitalisme yang diusung oleh AS. Setelah komunisme runtuh, satu-satunya musuh

ideologis AS adalah Islam. Islam ideologis inilah yang oleh Barat sering disebut dengan

fundamentalis, radikal, dan militan; dengan ciri-ciri utamanya adalah menolak sistem kapitalisme

dan ingin menegakkan syariat Islam secara menyeluruh dalam sebuah negara.

Henry Kesingger, dalam bukunya Diplomacy, menulis, “Kita harus mencegah Islam

fundamentalis berubah menjadi sebuah ideologi yang menentang Dunia Barat dan kita.” Hal

senada pernah diungkap oleh Willi Claes, mantan sekjen NATO, “Muslim Fundamentalis

setidak-tidaknya sama bahayanya dengan komunisme pada masa lalu. Harap jangan menganggap

enteng risiko ini….Itu adalah ancaman yang serius karena memunculkan terorisme, fanatisme

agama, serta eksploitasi terhadap keadilan sosial dan ekonomi.”

Bahkan, Samuel Huntington tidak menyebut sebagai ancaman adalah Fundamentalisme

Islam, tetapi Islam itu sendiri. Dalam bukunya, The Clash of Civilitation and the Remaking of World

Order, ia menulis, “Problem mendasar bagi Barat bukanlah Fundamentalisme Islam, tetapi adalah

Islam sebagai sebuah peradaban yang penduduknya menyakini ketinggian kebudayaan mereka

dan dihantui oleh rendahnya kekuataan mereka.” Bush sendiri, saat mengomentari Serangan 11

September, menyatakan bahwa perang yang dilakukannya adalah Perang Salib.

Kekuatan ideologi Islam ini secara jujur diakui oleh banyak pihak. Carleton S, saat

mengomentari peradaban Islam dari tahun 800 hingga 1600, menyatakan, “Peradaban Islam

merupakan peradaban yang paling besar di dunia. Peradaban Islam sanggup menciptakan sebuah

negara adidaya kontinental (continental super state) yang terbentang dari satu samudera ke samudera

yang lain; dari iklim utara hingga tropik dan gurun dengan ratusan juta orang tinggal di dalamnya,

dengan perbedaan kepercayaan dan asal suku….Tentaranya merupakan gabungan dari berbagai

bangsa yang melindungi perdamaian dan kemakmuran yang belum dikenal sebelumnya.” 35

Hanya saja apabila melihat kondisi dunia Islam yang mengalami kemunduran, akan

menimbulkan pertanyaan, dimana ideologi Islam ? Mengapa umat Islam kalah dalam percaturan

politik internasional ? Untuk menjawabnya, terdapat dua aspek yang perlu dilihat. Aspek pertama

adalah umat Islam sendiri dan kedua adalah pergerakan politik yang dimainkan oleh negara-

negara Barat.

Jika yang pertama telah banyak dibahas ( salah satunya melalui pisau analisis geopolitik di

atas ), maka untuk yang kedua dibutuhkan penelaahan yang tidak kalah pentingnya. Dalam hal ini 34 Farid Wadjdi, Menyatukan Kekuatan Dunia Islam, www.farid1924.wordpress.com 35 Ceramahnya tanggal 26 September 2001, dengan judul “Technology, Business, and Our Way of Life: What’s Next”

Page 23: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

23

umat Islam menjadi perlu untuk melakukan kontak dengan peristiwa-peristiwa di dunia,

menyadari keadaan-keadaan negara-negara di dunia, memahami problem-problemnya,

mengungkap motif-motif mereka dan mengikuti aktifitas-aktifitas mereka, khususnya di dunia

Islam. Kemudian dapat menempatkannya dalam kerangka Analisis Politik Luarnegeri

Nabhani sebagai salah satu metode untuk bisa memahami gerak dan menemukan kelemahan

Barat. Berikut ini adalah contoh untuk pergerakan politik luar negeri hegemonik Amerika Serikat.

a. Fikrah, Konsep utama dan dominan dalam negara,

• Sekulerisme yang melahirkan Kapitalisme adalah ideologi sekaligus fikrah utama

dari Barat, termasuk AS. Meskipun mayoritas Nasrani, namun wajah Peradaban

Barat/AS adalah Sekuler-Kapitalistik, bukan Nasrani. Bahkan Kristenpun telah

tersekulerkan. Bukan hanya itu, bisa dikatakan pula bahwa Sekuler-Kapitalistik

adalah keniscayaan bagi Barat Modern, terutama pasca kegagalan hegemoni gereja

di masa kegelapan36.

• Salah satu konsep yang kemudian lahir dari sekulerisme yang cukup penting

adalah Demokrasi. Gagasan yang mengalihkan kedaulatan kepada rakyat ini,

terbukti cukup efektif sebagai alat bagi AS untuk mengendalikan negara-negara

lain.

b. Thariqah, Metode baku dalam mewujudkan konsep,

• Penyebaran konsep sekulerisme dalam satu kesempatan akan berujung pada

imperialisme atau penjajahan. Contohnya adalah penebaran salah satu konsep

turunan sekuerisme yaitu semangat kemerdekaan nasional, di antara wilayah-

wilayah bekas jajahan Inggris atau Perancis. Banyaknya negara bangsa yang lahir

atas semangat tersebut memudahkan bagi AS untuk mendepak Eropa sekaligus

menciptakan ketergantungan terhadap AS. Penyedotan SDA terutama minyak

di negara-negara Timur Tengah secara langsung tanpa ada gangguan adalah

buktinya. Bahkan menjadi salah satu tujuan penting hadirnya AS di kawasan itu.

Minyak merupakan harga mati bagi AS, mengingat kebutuhan energi AS yang

amat besar hanya bisa dipenuhi apabila pasokan dari wilayah Timur Tengah tetap

terkendali.

• Contoh yang lainnya adalah memainkan posisi37 WTO, IMF dan World Bank,

dalam membangun kesepakatan-kesepakatan yang menguntungkan

perekonomian AS. Penebaran kebijakan-kebijakan Neoliberalisme melalui ketiga

36 Baca “Mengapa Barat Menjadi Sekuler ?” dalam Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, GIP 37 Baca I. Wahono, Neoliberalisme, Pustaka Cindelaras 2003

Page 24: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

24

lembaga tersebut terbukti cukup ampuh dalam membuka pasar dunia ketiga bagi

produk-produk AS.

• Dalam kesempatan lain AS menggunakan imperialisme sebagai sarana untuk

menebarkan gagasan-gagasannya. Kasus ini bisa dilihat pada invasi AS ke Iraq

dan Afghanistan. Berbagai kesepakatan pasca jatuhnya Baghdad ke AS berujuang

pada implementasi konsep-konsep demokrasi. Tentu saja proses demokrasi yang

bisa memastikan terpilihnya atau naiknya pemimpin yang pro AS.

c. Khittah Siyasi, Metode tidak baku dalam mewujudkan konsep, berbentuk rencana strategis.

Bisa dibaca bahwa AS memainkan khittah siyasi yang berbeda untuk kawasan-kawasan

yang ada. Meskipun tujuannya adalah satu, yaitu penguasaan atau penjajahan.

Beberapa contohnya adalah sebagai berikut :

• Menciptakan instabilitas di Timur Tengah, mencegah munculnya rasa aman

diantara negara kawasan Timur Tengah. Membiarkan Israel tetap berdiri di

tengah bangsa Arab, sembari memastikan Iran tetap membahayakan bagi Israel

dan Arab Saudi. Sehingga akhirnya baik Israel, Iran, Saudi dan lain-lain tetap

butuh AS

• Menciptakan instabilitas di anak benua India. Membiarkan Al Qaidah, Osama bin

Laden dan Taliban tetap eksis, diantara Afghanistan, Pakistan dan India. Sekaligus

pekerjaan rumah ketiga negara tersebut. Sehingga ketiganya butuh AS untuk di

wilayahnya.

• Mencegah bersatunya kembali Malaysia dan Indonesia sebagai kekuatan dunia

Islam yang amat besar. Kedua kawasan tersebut berpotensi sebagai tempat

alternatif lahirnya kebangkitan Islam. Potensi tersebut muncul akibat proses

demokratisasi yang disambut gegap gempita di wilayah tersebut, hanya saja proses

tersebut dicegah jangan sampai melahirkan kebangkitan Islam yang hakiki.

• Memecah-belah ala Neoliberalisme. Setelah berhasil memecah-belah dunia Islam

menjadi negara bangsa, dilanjutkan dengan memecah lagi negara bangsa melalui

konsep otonomi daerah. Tidak hanya itu, upaya memecah-belah juga diterapkan

dalam bidang listrik ( memprivatisasi sektor pembangkitan, transmisi, distribusi

dan konsumen ). Sektor sumber daya air juga tidak ketinggalan, yaitu dengan cara

memisahkan sektor hulu, aliran dan hilir sungai.

d. Uslub Siyasi, Langkah teknis dalam mewujudkan konsep, biasanya mengikuti khittah siyasinya.

Hal yang selalu mudah berubah adalah uslub siyasi yang diterapkan oleh negara-negara

yang berpengaruh di dunia. Sehingga dibutuhkan pengamatan secara terus-menerus.

Page 25: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

25

• Untuk khittah siyasi “Menciptakan instabilitas di Timur Tengah”, AS menjalankan

uslub siyasinya dengan cara :

i. Solusi Palestina adalah dua negara, dalam hal ini untuk memastikan

eksistensi Negara Israel di tengah-tengah bangsa Arab.

ii. Membiarkan Presiden Ahmadinejad berbicara soal illusi Holocaust

Yahudi oleh Nazi. Hal ini berakibat kegusaran di Israel

iii. Memberi angin positif bagi terpilihnya kembali Ahmadinejad

• Untuk khittah siyasi “Mencegah bersatunya Malaysia dan Indonesia”, AS

menjalankan uslub siyasinya dengan cara :

i. Mengangkat isu pelanggaran wilayah, salah satunya Ambalat

ii. Mengangkat kasus penganiyaan perempuan, baik artis ataupun TKW

iii. Mengangkat isu klaim atas hasil karya seni dan budaya.

• Untuk khittah siyasi “Memecah-belah ala Neoliberalisme”, AS menjalankan uslub

siyasinya dengan cara :

i. Mengucurkan dana yang besar untuk penelitian tentang Otonomi Daerah.

ii. Membantu penyusunan draft UU Ketenagalistrikan di Indonesia

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

Apa yang bisa ditarik dalam melihat hubungan / korelasi antara pertumbuhan ekonomi,

keamanan energi dan ketidakamanan geostrategis di Dunia Islam, adalah akan tampaknya sebuah

profil dari kawasan dunia yang menjadi sekedar objek kepentingan dari negara-negara Barat.

Dalam konteks ini, dunia Islam dijadikan kurban atau dikurbankan demi memuaskan ambisi-

ambisi global kekuatan-kekuatan super power dan hegemonik Negara-negara Barat.

Gabungan interaksi antara pertumbuhan ekonomi yang rendah karena lemahnya

perindustrian di Dunia Islam, juga potret kekayaan Energi yang berlimpah tetapi ternyata tidak

mampu diolah dan dikonsumsi sendiri oleh negeri-negeri Islam, serta profil kawasan rawan

konflik yang paling tinggi intensitasnya di dunia.

Pola geostrategi Dunia Islam seperti ini menunjukkan telah terjadi kevakuman geopolitik

di Dunia Islam, yaitu miskinnya visi politik dan arah yang jelas di wilayah Muslim dan kekukuhan

pemimpin Muslim yang lebih banyak menerapkan kebijakan untuk mengejar target jangka

pendek yang pragmatis dan tidak memiliki arah Ideologi yang jelas.

Kepemimpinan geopolitik yang lemah ini sejatinya terjadi sejak saat paham nasionalisme

masuk ke dunia Islam – seperti yang telah diceritakan Ajid Thohir dalam bukunya yang berjudul

Page 26: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

26

Studi Kawasan Dunia Islam, Perspektif Etno-Linguistik dan Geopolitik. Yaitu saat dunia Islam tidak lagi

bersatu dengan kepemimpinan politik tunggal.

Hanya saja, kepemimpinan tunggal yang diharapkan jadi kutup baru kekuatan dunia

tersebut akan membutuhkan negarawan-negarawan yang lahir dari lingkungan politik yang secara

sadar diciptakan. Negarawan yang dibutuhkan adalah yang siap membangun tegaknya kembali

poros baru dan sekaligus mampu menjalankannya. Sehingga upaya mencetak negarawan menjadi

prioritas bagi perjuangan membebaskan dunia Islam dara cengkeraman dunia Barat.

Negarawan tersebut adalah adalah sosok yang memiliki kesadaran politik yang matang.

Kesadaran politik tersebut bermakna kemampuan untuk memandang dunia secara keseluruhan

dengan sudut pandang yang khas ( baca worldview/mabda ). Kemampuan memandang dunia secara

keseluruhan dilakukan dengan selalu meluaskan cakrawala dengan mengikuti peristiwa-peristiwa

di dunia secara terus-menerus. Sedangkan sudut pandang yang khas bagi seorang muslim adalah

Aqidah Islam itu sendiri, yang termanifestasi dalam kalimat syahadat. Hal tersebut seharusnya

menjadi santapan sehari-hari bagi setiap politisi muslim.

Lebih lanjut lagi, pengamatan terhadap peristiwa-peristiwa di dunia tidak hanya sebagai

pemuas pengetahuan semata namun perlu dibingkai dengan analisis yang lebih sistemik, yaitu

fikrah, thariqah, khittah siyasi, dan uslub siyasi. Analisis ini dibutuhkan untuk membaca gerak

musuh-musuh Islam sekaligus untuk membangun gerak politik luarnegeri Khilafah Islam di masa

yang akan datang. Insya Allah.

Page 27: Potensi Geopolitik Kawasan Dunia Islam Oke Print

27

DAFTAR PUSTAKA

Calder, Kent. E., Asia’s Deadly Triangle Segitiga Maut Asia (Jakarta : PT. Prenhallindo, 1998) Huntington, Samuel P., Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia (Yogyakarta : CV.

Qalam, 2003) Wahono, Ignatius,. Neoliberalisme, Pustaka Cindelaras 2003 Morgenthau, Hans J., Politik Antar Bangsa, Buku Pertama (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia,

1990) Nabhani, T., Konsepsi Politik Islam, HTI Press, 2006 Purbo, Dirgo D., Makalah “Energy Security” Merupakan Faktor Strategis untuk Visi Indonesia

2030 Purbo, Dirgo D., Pengamanan Sumber Energi Merupakan Bagian Terpenting dari Grand Strategy

Ketahanan Nasional, (Jurnal Paskal no.3 tahun 2003) Robert Jackson dan Georg Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasioanal, ( Pustaka Pelajar 2005) Rustam, Sumbangan Batubara Dalam Upaya Meningkatkan Ketahanan Energi Nasional, (Jakarta : Pasca Sarjana Kajian Strategik Ketahanan Nasional UI, 2002) Raska, Michael., Working Paper :The Revolution in Military Affairs and Security of Small States : Israel’s RMA Trajectory and Force Modernization Programs (1995-2008), (Singapura : Lee Kuan Yew School of Public Policy, 2009) Skinner, Q., Macchiavelli A Very Short Introduction, Oxford University Press, 2000 Thohir, Ajid. Studi Kawasan Dunia Islam, Perspektif Etno-Linguistik dan Geopolitik (Jakarta : PT.

Rajagrafindo Persada, 2009) Todaro & Smith, Pembangunan Ekonomi Dunia ke Tiga, Edisi ke Delapan, Jilid 1, (Jakarta : Erlangga, 2003)