Pola Pertumbuhan Dan Perkembangan Pada Remaja

Embed Size (px)

Citation preview

Pola Pertumbuhan dan Perkembangan pada Remaja

Pola Pertumbuhan dan Perkembangan pada RemajaStanley Timotius

A8/102012320Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jalan Arjuna utara nomor 6, Jakarta Barat

[email protected]

Setiap manusia pasti akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan dalam kehidupannya. Dimulai dari saat terbentuknya janin dalam rahim, kemudian lahir menjadi seorang bayi, dan berkembang menjadi seorang anak, remaja, dewasa, dan akhirnya menjadi tua. Dalam kehidupan setiap manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan, dimana pertumbuhan sebagai suatu peningkatan jumlah dan ukuran, sedangkan perkembangan menitikberatkan pada perubahan yang terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah menuju ke tingkat yang paling tinggi dan kompleks.1 Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya antara lain genetik, hormonal, gizi, lingkungan, dan sosial budaya.2 Faktor ini yang kelak akan menentukan akan menjadi seperti apa seseorang. Tahap perkembangan dan pertumbuhan anak juga akan berubah sesuai dengan tahapan usianya. Namun, tidak setiap manusia mengalami perkembangan yang sempurna. Ada juga beberapa manusia yang mengalami gangguan dalam perkembangannya, baik perkembangan fisik, maupun perkembangan mental dan emosinya. Gangguan yang terjadi bisa terjadi karena berbagai macam faktor baik eksternal, maupun internal.1Faktor faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anakFaktor Genetik

Gen terdapat dalam kromosom, yang dimiliki oleh setiap manusia dalam setiap selnya. Baik sperma maupun ovum masing masing mengandung 23 pasang kromosom. Jika ovum dan sperma bergabung maka akan terbentuk 46 pasang kromosom, yang kemudian akan terus membelah untuk memperbanyak diri smpai akhirnya terbentuk janin, bayi. Setiap kromosom mengandung gen yang mempunyai sifat diturunkan. Misalnya saja suatu abnormalitas kromosom dapat diturunkan pada anak dari keluarga yang memiliki keabnormalitasan tersebut.2Faktor Hormonal

Kelenjar putuitari anterior mengeluarkan hormon pertumbuhan ( growth hormone, GH) yang merangsang pertumbuhan epifise dari pusat tulang panjang, tanpa GH anak akan tumbuh dengan lambat dan kematangan seksualnya terhambat. Pada keadaan hipopituitarisme terjadi gejala gejala anak bertubuh pendek, alat genetalia kecil, umur tulang melambat, dan hipoglikemia berat. Hal sebaliknya terjadi pada hiperfungsi pituitari, kelainan yang timbul adalah akromegali yang di akibatkan oleh hipersekresi GH dan pertumbuhan linier serta gigantisme bila terjadi sebelum pubertas.2Faktor Gizi

Proses tumbuh kembang anak berlangsung pada berbagai tingkatan sel, organ dan tubuh dengan penambahan jumlah sel, kematangan sel dan pembesaran ukuran sel. Selanjutnya setiap organ dan bagian tubuh lainnya mengikuti pola tumbuh kembang masing masing.2Faktor Lingkungan

Lingkungan fisik termasuk sinar matahari, udara segar, sanitasi, plusi, iklim dan teknologi.

Lingkungan biologis, termasuk di dalamnya hewan dan tumbuhan; lingkungan yang sehat antara lain membuat rumah idak didekat rawa atau genangan air, pabrik dan lapangan udara. Rumah harus mempunyai ventilasi yang baik pembuangan sampah dan air limbah rumah tangga harus baik serta halaman rumah yang baik.

Lingkungan psikososial, termasuk di dalamnya latar belakang keluarga, hubungan dalam keluarga, cara anak dibesarkan dan interaksi dengan masyarakat sekitarnya.2Faktor Sosial Budaya

Faktor ekonomi, dangat mempengaruhi keadaan sosial keluarga. Keadaan ekonomi keluarga yang baik dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok setiap anggota keluarga. Dengan demikian akan lebih terjamin bagi anggota keluarga untuk mendapatkan pendidikan yang baik pula.

Faktor politik serta keamanan dan perthanan, keadaan politik dan kemanan suatu negara juga sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang seorang anak.

Faktor lain juga memberikan pengaruh dalam tumbuh kembang anak adalah pelayanan kesehatan yang di dapat selama masa tumbuh kembangnya.Pola Asuh

Pola asuh adalah pola pengasuhan anak yang berlaku dalam keluarga, yaitu bagaimana keluarga membentuk perilaku generasi berikut sesuai dengan norma dan nilai yang baik dan sesuai dengan kehidupan masyarakat. Secara garis besar pola pengasuhan orang tua terhadap anak dapat dibedakan menjadi tiga tipe, yaitu otoriter/otoritarian (authoritarian), autoritatif (authoritative), dan permisif (permissive).a. Otoriter

Orang tua yang memiliki pola asuh jenis ini berusaha membentuk, mengendalikan, dan mengevaluasi perilaku serta sifat anak berdasarkan serangkaian standar mutlak, nilai-nilai kepatuhan, menghormati kepatuhan, menghormati otoritas, kerja, tradisi, serta tidak saling memberi dan menerima dalam komunikasi verbal. Orang tua kadang-kadang menolak anak dan menerapkan hukuman.

b. Autoritatif

Orang tua yang memiliki pola asuh jenis ini berusaha mengarahkan anaknya secara rasional, berorientasi pada masalah yang dihadapi, menghargai komunikasi yang saling memberi dan menerima , menjelaskan alasan rasional yang mendasari tiap-tiap permintaan atau disiplin tetapi juga menggunakan kekuasaan bila perlu, mengharapkan anak untuk mematuhi orang dewasa tetapi juga mengharapkan anak untuk mandiri dan mengarahkan diri sendiri, saling menghargai antara anak dan orang tua, memperkuat standar-standar perilaku. Orang tua tidak mengambil posisi mutlak, tetapi juga tidak mendasarkan pada kebutuhan anak semata.2c. Permisif

Orang tua yang memiliki pola asuh jenis ini berusaha berperilaku menerima dan bersikap positif terhadap impuls (dorongan emosi), keinginan-keinginan dan perilaku anaknya, hanya sedikit menggunakan hukuman, berkonsultasi kepada anak, hanya sedikit memberi tanggung jawab rumah tangga, membiarkan anak untuk mengatur aktivitas sendiri dan tidak mengontrol, berusaha mencapai sasaran tertentu dengan memberikan alasan, tetapi tanpa menunjukkan kekuasaan.2

Pada dasarnya hubungan antara orang tua dan anak merupakan hubungan yang timbal balik. Sehingga dengan demikian dalam usaha untuk dapat menciptakan hubungan yang memuaskan kedua belah pihak, maka peranan orang tua dan anak sangatlah besar. Adapun yang dimaksud dengan hubungan yang dapat memuaskan orang tua maupun anak adalah hubungan yang ditandai dengan adanya saling percaya, saling mengerti, dan saling menerima. Dalam mengasuh dan mendidik anak, sikap orang tua ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, yakni :a. Pengalaman masa lalu yang berhubungan erat dengan pola asuh ataupun sikap orang tua mereka. Biasanya dalam mendidik anaknya, orang tua cenderung untuk mengulangi sikap atau pola asuh orang tua mereka dahulu apabila hal tersebut dirasakan manfaatnya. Sebaliknya, mereka cenderung pula untuk tidak mengulangi sikap atau pola asuh orang tua mereka bila tidak dirasakan manfaatnya.b. Nilai-nilai yang dianut oleh orang tua. Misalnya orang tua yang mengutamakan segi intelektual dalam kehidupan mereka, atau segi rohani, dan lain-lain. Hal ini tentunya akan berpengaruh pula dalam usaha mendidik anak-anaknya.

c. Tipe kepribadian dari orang tua. Misalnya orang tua yang selalu cemas dapat mengakibatkan sikap yang terlalu melindungi anak.

d. Kehidupan perkawinan orang tua dan alasan memiliki anak.2

Perkembangan Psikososial Perkembangan psikososial adalah perkembangan mental emosianal seseorang dalam usahanya menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pengalamannya. Perkembangan psikososial menurut freud di bagi menjadi 5 tahap:1. Tahap oral (0-1 tahun)

Fase pertama yang menunjukkan bahwa bayi tersebut mendapatkan kepuasan melalui mulutnya. Rasa lapar mendorongnya mengenal dunia luar melalui mulutnya. Menelan sesuatu berarti memberi kepuasaan dan memuntahkan sesuatu mengakibatkan ketegangan. Ibunya dikenal sebagai sumber makanan dan kenikmatan erotik yang di dapatinya dengan jalan menetek. Dengan demikian maka ibunya menjadi objek cinta pertama.3 Dan apabila proses ini tidak tercapai maka akan timbulnya rasa tidak percaya dari seorang anak.22. Tahap anal (2-4 tahun)

Pada fase ini menunjukkan pada kesenangan dalam mengeluarkan tinja dan kencing. Bila dalam fase oral bayi sangat pasif dan bergantung kepada ibunya maka dalam fase anal ia dituntut agar melepaskan salah satu aspek kebebasannya, yaitu ia harus menyutujui keinginan ibunya dengan mengeluarkan tinja dan air seninya pada waktu dan tempat tertentu.3 Pada fase ini juga keinginan anak bersifat autoerotik, karena kesenangan dalam mengeluarkan atau menahan tinjanya sama sekali tidak memerlukan bantuan dari luar, namun apabila tujuan dari fase ini tidak tercapai maka anak tersebut akan menjadi malu dan ragu ragu.

3. Tahap falik (3-6 tahun)

Selama tahap falik, genital menjadi alat tubuh yang menarik dan sensitif. Anak mengetahui perbedaan jenis kelamin dan menjadi ingin tahu tentang perbedaan tersebut. Pada periode ini terjadi masalah yang kontroversi tentang komplex oedipus dan Electra kompleks, pelvis envy, dan kompleks kastrasi.4. Periode laten (6-12 tahun)

Selama periode laten anak-anak melakukan sifat dan keterampilan yang telah diperoleh. Energi fisik dan psikis diarahkan guna mendapatkan pengetahuan dan bermain.

5. Tahap genital (12 tahun keatas)

Tahap signifikan yang terakhir dimulai pada saat pubertas dengan maturasi sistem reproduksi dan produksi hormon-hormon seks. Organ genital menjadi sumber utama ketegangan dan kesenangan seksual, tetapi energi juga digunakan untuk membentuk persahabatan dan persiapan pernikahan.4Perkembangan psikoseksual menurut Erik Erikson

Teori perkembangan kepribadian yang paling banyak diterima adalah teori yang dikembangkan oleh Erikson (1963). Meskipun dibuat berdasarkan teori Freud, teori ini dikenal sebagai teori perkembangan psikososial dan menekankan pada kepribadian yang sehat, bertentangan dengan pendekatan patologik. Erikson juga menggunakan konsep-konsep biologis tentang periode kritis dan epigenesis, menjelaskan konflik atau masalah inti yang harus dikuasai individu selama periode kritis dalam perkembangan kepribadian. Pendekatan tentang kehidupan Erikson terhadap perkembangan kepribadian terdiri atas delapan tahap; namun, hanya lima yang berkaitan dengan masa anak sampai remaja, yaitu: Percaya vs tidak percaya (lahir-1 tahun)

Hal pertama yang paling penting bagi perkembangan kepribadian yang sehat adalah rasa percaya dasar. Pembentukan rasa percaya dasar ini mendominasi tahun pertama kehidupan dan menggambarkan semua pengalaman kepuasan anak pada usia ini. Berkaitan dengan tahap oral Freud, saat ini merupakan saat untuk mendapatkan dan mengambil apapun melaui semua indera. Hal ini hanya terjadi dalam kaitannya dengan sesuatu atau seseorang; oleh karena itu asuhan yang konsisten dan penuh kasih oleh orang yang berperan sebagai ibu merupakan hal yang sangat penting bagi perkembangan rasa percaya. Rasa tidak percaya terjadi jika pengalaman yang meningkatkan tidak terpenuhnya rasa percaya atau jika kebutuhan dasar tidak dipenuhi secara konsisten atau adekuat.

Meskipun pecahan-pecahan rasa tidak percaya terjadi di seluruh kepribadian, namun rasa percaya dasar terhadap orang tua membentuk rasa pecaya terhadap dunia, orang lain, dan diri sendiri. Hasilnya adalah kepercayaan dan optimisme.

Autonomi vs malu-malu dan ragu-ragu

Jika dikaitkan dengan tahap anal Freud, masalah autonomi dapat diartikan dengan menahan atau merelakan otot sfingter. Perkembangan autonomi selama periode todler berpusat pada peningkatan kemampuan anak untuk mengendalikan tubuh mereka, diri mereka dan lingkungan mereka.

Mereka ingin melakukan hal-hal untuk diri mereka sendiri, menggunakan keterampilan motorik yang baru mereka peroleh seperti berjalan, memanjat, dan memanipulasi, serta menggunakan kekuatan mental mereka dalam memilih dan membuat keputusan. Pembelajaran yang mereka peroleh sebagian besar didapat dari meniru aktivitas dan perilaku orang lain. Perasaan negatif seperti ragu dan malu muncul ketika anak-anak diremehkan, ketika pilihan-pilihan mereka membahayakan, atau ketika merek dipaksa untuk bergantung dalam beberapa hal yang sebenarnya mereka mampu melakukannya. Hasil yang diharapkan adalah kontrol diri dan ketekunan.

Inisiatif vs rasa bersalah (3-6 tahun)

Tahap inisiatif berkaitan dengan tahap falik Freud dan dicirikan dengan perilaku yang inisiatif dan penuh semangat, berani berupaya dan imajinasi yang kuat. Anak-anak mengeksplorasi dunia fisik dengan semua indera dan kekuatan mereka. Mereka membentuk suara hati. Tidak lagi hanya dibimbing oleh pihak luar, terdapat suara dari dalam yang memperingatkan dan mengancam. Anak-anak terkadang memiliki tujuan atau melakukan aktivitas yang bertentangan dengan yang dimiliki orang tua atau orang lain, dan dibuat merasa bahwa aktivitas atau imajinasi mereka merupakan hal yang buruk sehingga menimbulkan rasa bersalah. Anak-anak harus belajar mempertahankan rasa inisiatif tanpa mengenai hak dan hak istimewa orang lain. Hasil akhirnya adalah arahan dan tujuan. Industri vs inferioritas (6-12 tahun)

Tahap industri adalah epriode laten dari Freud. Setelah mencapai tahap yang lebih penting dalam perkembangan kepribadian, anak-anak siap untuk bekerja dan berproduksi.

Mereka mau terlibat dalam tugas dan aktivitas yang dapat mereka lakukan sampai selesai; mereka memerlukan dan menginginkan pencapaian yang nyata. Anak-anak belajar berkompetisi dan bekerja sama dengan orang lain, dan mereka juga mempelajari aturan-aturan. Periode ini merupakan periode pemantapan dalam hubungan sosial mereka dengan orang lain.

Rasa ketidakadekuatan atau inferioritas dapat terjadi jika terlalu banyak yang diharapka dari mereka atau jika mereka percaya bahwa mereka tidak dapat memenuhi standar yang ditetapkan orang lain untuk mereka. Kualitas ego yang berkembang dari rasa industri adalah kompetensi.

Identitas vs kebingungan (12-18 tahun)

Berhubungan dengan periode genital Freud, perkembangan identitas dicirikan dengan perubahan fisik yang cepat dan jelas. Rasa percaya terhadap tubuh mereka yang sudah terbentuk sebelumnya mengalami kegoncangan, dan anak-anak menjadi sangat terpaku dengan penampilan mereka di mata orang lain dibandingkan dengan konsep diri mereka. Remaja berusaha menyesuaikan diri dengan peran yang mereka mainkan dan mereka berharap dapat bermain dalam peran dan gaya terbaru yang dilakukan oleh teman-teman sebaya mereka, untuk mengintegrasikan konsep dan nilai-nilai mereka terhadap lingkungan, dan pembuatan keputusan tentang okupasi. Ketidakmampuan untuk menyelesaikan konflik ini menyebabkan terjadinya kebingungan peran. Hasil dari penguasaan yang sukses adalah kesetiaan dan ketaatan terhadap orang lain serta terhadap nilai-nilai dan ideologi.4Perkembangan Kognitif

Perkembangan kognitif berpusat pada perkembangan cara penerimaan dan mental anak. Menurut Piaget, anak-anak mencoba berusaha memahami hal-hal baru untuk mengembangkan pola pikir anak dan jika pemahaman anak tidak tercapai, maka anak akan berusaha untuk menyesuaikannya dengan cara membatasinya. Piaget mengidentifikasi 4 (empat) tahapan utama perkembangan kognitif yaitu sensorimotor, pra-operasional, operasional konkrit dan operasional formal.5 Tahap Sensorimotor (lahir 2 tahun)

Perkembangan kognitif bayi sampai kira-kira berusia 2 tahun pada umumnya mengandalkan observasi dari panca indera dan gerakan tubuh mereka. Satu tanda dari perkembangan ini adalah memahami objek tetap / permanen. Bayi berkembang dengan cara merespon kejadian dengan gerak refleks atau pola kesiapan. Mereka belajar melihat diri mereka sebagai bagian dari objek yang ada di lingkungan.

Tahap Pra-operasional (2 7 tahun)

Pra-operasional ditandai oleh adanya pemakaian kata-kata lebih awal dan memanipulasi simbol-simbol yang menggambarkan objek atau benda dan keterikatan atau hubungan di antara mereka. Pemikiran atau sifat anak yang aneh /ganjil menunjukkan fakta bahwa mereka pada umumnya tidak mampu menunjukkan operations (eksploitasi) atau jika mereka bisa menunjukkan operation maka keadaannya akan terbatas. Mental operations pada tahap ini sifatnya fleksibel dan dapat berubah. Tahap pra-operasional ini juga ditandai oleh beberapa hal, antara lain : egosentrisme, ketidakmatangan pikiran / ide / gagasan tentang sebab-sebab dunia di fisik, kebingungan antara simbol dan objek yang mereka wakili, kemampuan untuk fokus pada satu dimensi pada satu waktu dan kebingungan tentang identitas orang dan objek.

Tahap Concrete Operational (6 atau 7 th 12 tahun)

Pada tahap konkrit operasional, penambahan dan pengurangan dalam hitung-hitungan bukan merupakan aktivitas yang mudah. Konkrit operasional anak mengenal bahwa ada hubungan antara angka-angka dan bahwa operasi dapat dilaksanakan menurut aturan tertentu. Pada tahap ini anak menunjukkan permulaan dari kapasitas logika orang-orang dewasa. Mereka mengerti aturan dasar dari logika. Bagaimanapun juga, proses berfikir, atau operasi, pada umumnya melibatkan objek yang kelihatan (konkrit) daripada ide yang abstrak. Egosentrisme pada tahap ini sudah mulai berkurang. Kemampuan mereka untuk menggunakan peran dari orang lain dan melihat dunia, dan mereka sendiri, dari perspektif orang-orang lain sudah berkembang dengan pesat. Mereka mengenal bahwa orang melihat sesuatu dengan cara yang berbeda, karena perbedaan situasi dan perbedaan nilai. Mereka dapat fokus pada lebih dari satu dimensi pada beberapa waktu. Pada tahap ini juga sudah menunjukkan pemahaman akan hukum kekekalan (konservasi).

Tahap Formal Operational ( 12 tahun ke atas)

Tingkat operasi formal merupakan tahapan terakhir dari skema Piaget, yang merupakan tingkatan dari kedewasaan kognitif. Formal operational biasanya dimulai pada masa pubertas, sekitar umur 11 atau 12 tahun. Akan tetapi tidak semua anak memasuki tingkatan ini pada saat pubertas, dan beberapa orang tidak pernah mencapainya. Tugas utama pada tahap ini meliputi kemampuan klasifikasi, berpikir logis, dan kemampuan hipotetis.5

Ada beberapa fitur yang memberi remaja kapasitas lebih besar untuk memanipulasi dan menghargai lingkungan luar dan dunia imajinasi yang mencakup pemikiran hipotesis, penyelesaian masalah yang sistematis, kemampuan untuk menggunakan simbol dan pemikiran deduksi. Remaja dapat memproyeksikan dirinya pada situasi yang melebihi pengalaman mereka saat itu, dan untuk alasan itu, mereka terbungkus dalam fantasi yang panjang.5Perkembangan Moral

Secara sederhana, moralitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membedakan yang benar atau baik dan yang salah atau buruk. Namun dalam kenyataan, tidaklah sesederhana itu, karena konsep tersebut mencakup tiga aspek kemampuan seseorang, yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek perilaku. Seseorang dikatakan memiliki norma moral yang tinggi, bila ia mempunyai kesadaran dan pengertian mengenai kebutuhan atau perasaan orang lain, memiliki kepedulian dan mampu merasakan (affection, empathy) perasaan orang lain, dan mampu mengungkapkan pengertian dan empati itu dalam perilakunya terhadap orang lain. Menurut Kohlberg, perkembangan moral itu terjadi secara gradual melalui 6 fase, menurut orientasi moralitas yang dominan digunakan :a. Level penalaran pra-konvensional ( 0 - 9 tahun )

Pada tahap ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nila-nilai moral- penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman eksternal. Aturan dikontrol oleh orang lain (eksternal) dan tingkah laku yang baik akan mendapat hadiah dan tingkah laku yang buruk akan mendapatkan hukuman6 Fase 1 : Orientasi hukuman dan ketaatan (Punishment and Obedience orientation)

Fase ini penalaran moral didasarkan atas hukuman dan anak taat karena orang dewasa menuntut mereka untuk taat

Fase 2 : Orientasi Individualisme dan tujuan (Satisfaction of own needs orientation)

Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah.6b. Level penalaran Konvensional ( 9 13 tahun )

Penalaran konvensional menaati standar-standar internal tertentu, tetapi tidak menaati standar-standar orang lain (eksternal) seperti orang tua atau aturan-aturan masyarakat

Fase 3: Norma-norma Interpersonal (Good boy, good girl orientation)

Seseorang menghargai kebenaran/kepedulian/kesetiaan kepada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral. Seorang anak mengharapkan dihargai oleh orang tuanya sebagai yang terbaik

Fase 4: Orientasi Moralitas Sistem Sosial (Law and Order Orientation)

Mulai ada pemahaman aturan sosial, hukum-hukum, keadilan, dan kewajiban.

c. Level Penalaran Pasca-konvensional ( 13 tahun meninggal )

Moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seseorang mengenal tindakan-tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode6 Fase 5: Orientasi Hak-hak Masyarakat versus hak-hak individual (Social Contract Orientation)

Nilai-nilai dan aturan-aturan adalah bersifat relative dan bahwa standar dapat berbeda dari satu orang ke orang lain

Fase 6 : Orientasi Prinsip-prinsip etis universal (Universal Good Orientation)

Seseorang telah mengembangkan suatu standar moral yang didasarkan pada hak-hak manusia universal. Bila seseorang menghadapi konflik antara hukum dan suara hati, seseorang akan mengikuti suara hati.6Faktor lingkungan

Perilaku remaja sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan, disatu pihak remaja mempunyai keinginan kuat untuk mengadakan interaksi sosial dalam upaya mendapatkan kepercayaan dari lingkungan, di lain pihak ia mulai memikirkan kehidupan secara mandiri, terlepas dari pengawasan orang tua dan sekolah. Salah satu bagian perkembangan masa remaja yang tersulitadalah penyesuaian terhadap lingkungan sosial. Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam hubungan interpersonal yang awalnya belum pernah ada, juga harus menyesuaikan diri dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah.7Untuk mencapai tujuan pola sosialisasi dewasa, remaja harus membuat banyak penyesuaian baru. Ia harus mempertimbangkan pengaruh kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, membentuk kelompok sosial baru dan nilai-nilai baru memilih teman.

Lingkungan keluarga

Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi perkembangan anak. Umur 4 6 tahun dianggap sebagai titik awal proses identifikasi diri menurut jenis kelamin, peranan ibu dan ayah atau orang tua pengganti ( nenek, kakek dan orang dewasa lainnya ) sangat besar. Peran sebagai wanita dan Prias harus jelas. Dalam mendidik, ibu dan ayah harus bersikap konsisten , terbuka, bijaksana, bersahabat, ramah, tegas, dan dapat lancar, maka dapat timbul proses identifikasi yang salah. Masa remaja merupakan pengembangan identitas diri, dimana remaja berusaha mengenal diri sendiri, ingin mengetahui bagaimana orang lain menilainya, dan mencoba menyesuaikan diri dengan harapan orang lain.7 Lingkungan Sekolah

Pengaruh yang juga cukup kuat dalam perkembangan remaja adalah lingkungan sekolah. Umumnya orang-tua menaruh harapan yang besar pada pendidikan di sekolah, oleh karena itu dalam memilih sekolah orangtua perlu mempertimbangkan hal sebagai berikut :81. Susunan Sekolah

Prasyarat terciptanya lingkungan kondusif bagi kegiatan belajar mengajar adalah suasana sekolah, Baik buruknya suasana sekolah sangat tergantung pada kepemimpinan kepala sekolah, komitmen guru, sarana pendidikan dan disiplin sekolah Suasana sekolah sangat berpengaruh terhadap perkembangan jiwa remaja yaitu dalam hal :

a. Kedisiplinan

Sekolah yang tertib dan teratur akan membangkitkan sikap dan perilaku disiplin pada siswa. Sebaliknya suasana sekolah yang kacau dan disiplin longgar akan berisiko, bahwa siswa dapat berbuat semaunya dan terbiasa dengan hidup tidak tertib, tidak memiliki sikap saling menghormati, cenderung brutal dan agresif.

b. Kebiasaan belajarSuasana sekolah yang tidak mendukung kegiatan belajar mengajar akan berpengaruh terhadap menurunnya minat dan kebiasaan belajar. Akibatnya, prestasi belajar menurun dan selanjutnya diikuti dengan perilaku yang sesuai dengan norma masyarakat, misalnya sebagai kompensasi kekurangannya di bidang akademik,siswa menjadi nakal dan brutal.

c. Pengendalian diriSuasana bebas di sekolah dapat mendorong siswa berbuat sesukanya tanpa rasa segan terhadap guru. Hal ini akan berakibat siswa sulit untuk dikendalikan , baik selama berada di sekolah maupun di rumah. Suasana sekolah yang kacau akan menimbulkan hal-hal yang kurang sehat bagi remaja, mosalnya penyalahgunaan Napza,perkelahian, kebebasan seksual, dan tindak kriminal lainnya.7 Bimbingan Guru

Di sekolah remaja menghadapi beratnya tuntutan guru, Orang tua dan saratmya kurikulum sehingga dapat menimbulkan beban mental. Dalam hal ini peran wali kelas dan guru pembimbing sangat berarti Apabila guru pembimbing sebagai konselor sekolah tidak berperan, maka siswa tidak memperoleh bimbingan yang sewajarnya. Untuk menyalurkan minat, bakat dan hobi siswa, perlu dikembangkan kegiatan ekstrakurikuler dengan bimbingan guru. Dalam proses belajar mengajar, guru tidak sekedar mengalihkan ilmu pengetahuan yang terkandung dalam kurilukum tertulis (Written Curriculum), melainkan juga memberikan nilai yang terkandung didalamnya (hidden curriculum), misalnya kersama, sikap empati, mau mendengarkan orang lain, menghargai dan sikap lain yang dapat membuahkan kecerdasan emosional. Apabila guru tidak peduli terhadap hal tersebut, sulit diharapkan perkembangan jiwa siswa secara optimal. Oleh sebab itu dalam upaya mengoptimalkan perkembangan jiwa remaja di sekolah guru diharapkan : Memperhatikan ,pendekatan yang berbeda.

Bersedia mendengarkan dan memperhatikan keluhan siswa individual ,karena setiap siswa memiliki sifat, bakat,minat dan kemampuan

Memiliki kepekaan membaca kondisi batin ( mood ) siswa

Perilaku guru dapat dijadikan teladan bagi siswa.

Memperhatikan dan menciptakan rasa aman bagi seluruh siswa di sekolah.

Menanamkan nilai-nilai budi pekerti melalui proses pembiasaan misalnya sopan santun , menghargai orang lain ,bekerja sama,mengendalikan emosi, kejujuran dan sebagainya.

Berpikir positif ( positive thinking ) terhadap siswa

Memberikan penghargaan atas keberhasilan siswa

Bersikap sadar,dewasa dan terbuka dalam menilai perilaku siswa.

Memahami prinsip dasar perkembangan jiwa remaja agar dapat memahami dan menghargai siswa

Menghindari sikap mengancam terhadap siswa.

Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaktualisasi kan diri

Mengendalikan emosi dan menyusuaikan diri dengan cara siswa berkomunikasi.7 Lingkungan Teman Sebaya

Remaja lebih banyak berada diluar rumah dengan teman sebaya, Jadi dapat dimengerti bahwa sikap, Pembicaraan, minat, Penampilan dan perilaku teman sebaya lebih besar pengaruhnya daripada keluarga misalnya, jika remaja mengenakan model pakaian yang sama dengan pakaian anggota kelompok yang populer, maka kesempatan baginya untuk dapat diterima oleh kelompok menjadi lebih besar Demikian pula bila anggota kelompok mencoba minum alkohol. rokok atau zat adiktif lainnya, maka remaja cenderung mengikuti tanpa mempedulikan akibatnya. Didalam kelompok sebaya, remaja berusaha menemukan dirinya. Disini ia dinilai oleh teman sebayanya tanpa mempedulikan sanksisanksi dunia dewasa. Kelompok sebaya memberikan lingkungan yaitu dunia tempat remaja dapat melakukan sosialisasi dimana nilai yang berlaku bukanlah nilai yang ditetapkan oleh orang dewasa melainkan oleh teman seusianya, Disinilah letak berbahayanya bagi perkembangan jiwa remaja, apabila nilai yang dikembangkan dalam kelompok sebaya adalah nilai yang negatif, akan lebih berbahaya apabila kelompok sebaya ini cenderung tertutup (closed group), dimana setiap anggota tidak dapat terlepas dari kelompok nya dan harus mengikuti nilai yang dikembangkan oleh pimpinan kelompok, sikap, pikiran, perilaku, dan gaya hidupnya merupakan perilaku dan gaya hidup kelompoknya.7 Lingkungan Masyarakat

Dalam kehidupanya, manusia dibimbing oleh nilai-nilai yang merupakan pandangan mengenai apa yang baik dan apa yang buruk. Nilai yang baik harus diikuti, dianut, sedangkan yang buruk harus dihindari, sesuai dengan aspek rohaniah dan jasmaniah yang ada pada manusia, maka manusia dibimbing oleh pasangan nilai materi dan nonmateri. Apabila manusia hendak hidup secara damai di masyarakat, maka sebaiknya kedua nilai yang merupakan pasangan tadi diserasikan akan tetapi kenyataan dewasa ini menunjukkan bahwa nilai materi mendapat tekanan lebih besar daripada nilai non-materi atau spiritual. hal ini terbukti dari kenyataan bahwa sebagai tolok ukur peranan seseorang dalam masyarakat adalah kebendaan dan kedudukan. Lingkungan masyarakat terdiri dari Sosial Budaya dalam era globalisasi, dunia menjadi sempit, budaya lokal dan budaya nasional akan tertembus oleh budaya universal, dengan demikian akan terjadi pergeseran nilai kehidupan, kemajuan ilmu Pengetahuan dan teknologi sangat berpengaruhterhadap pesatnya informasi. Segala sesuatu yang terjadi di muka bumi dengan sekejap diketahui oleh seluruh penghuni bumi. Di rumah dan di sekolah, Orang tua dan guru, lebih banyak mengharapkan nilai spiritual menjadi pegangan remaja. Namun, kenyataan membuktikan sebaiknya ini karena yang diajarkan berbeda dengan yang dilihat di luar rumah dan di luar sekolah. Remaja menjadi bingung, mana yang harus dilakukan. Situasi ini menimbulkan konflik nilai yang dapat berakibat terjadinya penyimpangan perilaku, seperti yang terlihat di masyarakat, misalnya waria, pergaulan bebas, mabuk, dan homoseksualitas. Dalam era globalisasi pengakuan akan hak asasi manusia mulai memasyarakat. Bagi Indonesia yang kini sedang dalam era reformasi, pelaksanaan hak asasi manusia merupakan masalah tersendiri. Nilai sosial yang selama ini diutamakan bergeser pada nilai individual. Bagi remaja yang sedang dalam masa mencari identitas diri dan penyesuaian sosial, situasi Ini merupakan titik kritis, Bukan tidak mungkin hal ini akan berakibat terjadinya konflik kejiwaan pada sebagian remaja, Remaja akan merasakan adanya nilai kekolotan pada orang dewasadan nilai inovatif atau Pembaharuan pada orang dewasa dan nilai inovatif atau pembaharuan pada generasinya.7Sementara itu ada tuntutan dari pihak orang dewasa agar remaja mengikuti aturan budaya, kecemasan akan menghadapi hukuman, ancaman dan tidak adanya kasih sayang merupakan dorongan yang menyebabkan remaja terpaksa mengikuti tuntutan lingkungan budaya (socialized anxity) . Kalau kecemasan ini terlalu berat, akibat yang ditimbulkan adalah hambatan tingkah laku. Remaja yang bersangkutan jadi serba ragu, serba takut, dan dapat menjurus kepada keadaan cemas yang patologis. Tetapi dalam kondisi yang tepat, Kecemasan ini mendorong remaja untuk lebih bertanggung jawab, hati-hati dan menjaga tingkah lakunya agar selalu sesuai dengan norma yang berlaku. Remaja dapat bertingkah laku normal sesuai dengan harapan masyarakat.Sebenarnya remaja sadar akan pentingnya kebudayaan sebagai tolok ukur terhadap tingkah laku sendiri. Kebudayaan memberikan pedoman arah, persetujuan, pengingkaran, dukungan, kasih sayang dan perasaan aman kepada remaja. Akan tetapi mereka juga punya keinginan untuk mandiri. Inilah yang menyebabkan remaja membuat tolak ukur mereka sendiri, yang berbeda dari tolak ukur orang dewasa, Mereka membuat kebudayaan sendiri yang berbeda dari kebudayaan masyarakat umumnya. Kebudayaan yang menyimpang inilah yang dikenal sebagai kebudayaan anak muda (youth culture). Nilai yang dominan dalam budaya anak muda adalah keunggulan dalam olah raga, disenangi teman, senang hura-hura senang pesta, tidak dianggap pengecut, dan sebagainya.7Tatalaksanaan

Psikoterapi dibagi atas beberapa macam seperti (1) terapi kognitif-perilaku, (2) psikoterapi remedial, edukasional, dan patterning psychoterapy, (3) release therapy, (4) psikoanalisis anak, dan (5) terapi kognitif. Terapi kognitif dan perilaku adalah suatu campuran terapi perilaku dan psikologi kognitif. Terapi ini menekankan kepada kemungkinan cara anak menggunakan proses berpikir dan modalitas kognitif untuk memningkai kembali, merestrukturisasi, dan menyelesaikan masalah. Strategi terapi ini berfungsi untuk terapi gangguan mood dan gangguan ansietas. Psikoterapi remedial, edukasional, dan patterning psychoterapy difokuskan untuk mengajari perilaku dan pola perilaku baru pada anak yang mempertahankan penggunaan pola yang imatur karena keterlambatan pematangan. Release therapy memfasilitasi luapan emosi yang terpendam. Terapi ini diindikasikan untuk anak usia prasekolah yang memiliki gangguan reaksi emosional terhadap trauma terpendam. Terapi kognitif digunakan pada anak, remaja, dan dewasa. Pendekatan berupaya untuk memperbaiki distorsi kognitif, khususnya pengonsepan negatif dalam darah, dan terutama digunakan pada gangguan despresif.9Pencegahan

Cara yang paling efektif untuk mencegah anak agar tidak mengalami gangguan psikologik khususnya dalam berinteraksi dengan orang lain adalah dari dalam keluarga. Pola asuh keluarga sangat menentukan bagaimana sifat anak tersebut. Orang tua bisa memberikan nasehat secara halus kepada anak, tidak bersifat mengintrograsi, tidak langsung menuduh dan menyalahkan mendengarkan apa yang mereka rasakan.PENUTUP Remaja perempuan berusia 15 tahun, pemalu, jarang bergaul di sekolah, sedangkan dirumah selalu marah-marah dan menentang orangtua, mengalami gangguan tingkah laku karena beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut. Remaja ini mengalami masalah dalam perkembangan psikososialnya yang didasarkan pada teori Erikson. Pada tahap autonomi vs malu dan ragu-ragu (1-3 tahun) anak ini kurang untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk mengendalikan diri, tubuh dan lingkungan mereka. Rasa ragu dan malu dari diri mereka muncul karen mereka merasa diremehkan atau mereka tidak diberikan kesempatan untuk mencobanya. Pada tahap industri vs inferioritas (6-12 tahun) remaja ini kurang mau terlibat dalam tugas dan aktivitas kelompok. Ketidakadekuatan atau inferioritas dapat terjadi jika terlalu banyak yang diharapkan dari mereka. Selain itu juga bisa karena mereka tidak percaya diri mereka bisa melakukan itu. Selain itu faktor dari keluarga yang tidak harmonis dan kurangnya interaksi antara anak dan orangtua juga menjadi salah satu penyebab anak ini bisa mengalami gangguan perkembangan pada karakter dan tingkahlakunya.Daftar Pustaka

1. Supartini Y, Ester M (editor). Buku ajar konsep dasar keperawatan anak. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC ; 2004. h.49

2. Suryanah. Keperawatan Anak untuk Siswa SPK. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1996. h.42

3. Maramis WF. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 2. Surabaya : Pusat Penerbitan dan Percetakan (AUP); 2009. h.34-64. Widyarini N. Relasi orang tua dan anak. Jakarta: Elex Media Komputindo; 2009.h.11.

5. Elvira D, Hadisukanto G. Buku Ajar Psikiatri. Cetakan ke-1. Jakarta : FKUI; 2010. h. 393-7.

6. Suparno P. Teori perkembangan kognitif. Yogyakarta: Kanisius; 2001. h.26-88

7. Behrman, Kliegman, Arvin. Nelson ilmu kesehatan anak. Volume 3. 2002. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. h. 2319-21.

8. Santock JW. Adolescence Perkembangan Remaja. Edisi ke-6. Jakarta: Erlangga; 2003. h.82-4

9. Sadock BJ, Sadovk VA. Kaplan & sadocks concise textbook of clinical psychiatri. 2nd ed. USA : Lippincot Williams & Willkins Inc ; 2004.

5