99
POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM PROSES PENYEMBUHAN DI KLINIK MAKMUR JAYA Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Islam (S.Sos.I) Oleh: Putri Rachmania NIM: 106054002030 JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM (KPI) FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UIN SYARIF HIDAYAHTULLAH JAKARTA 2011 M / 1432 H

POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

  • Upload
    others

  • View
    19

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

POLA KOMUNIKASI DOKTER

TERHADAP PASIEN DALAM PROSES PENYEMBUHAN

DI KLINIK MAKMUR JAYA

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana

Ilmu Komunikasi Islam (S.Sos.I)

Oleh:

Putri Rachmania

NIM: 106054002030

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM (KPI)

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UIN SYARIF HIDAYAHTULLAH

JAKARTA

2011 M / 1432 H

Page 2: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

POLA KOMUNIKASI DOKTER

TERHADAP PASIEN DALAM PROSES PENYEMBUHAN

DI KLINIK MAKMUR JAYA

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi

Untuk Memenuhi Syarat Meraih

Gelar Sarjana Ilmu Sosial Islam (S.Sos.I)

Oleh:

Putri Rachmania

206051104346

Di bawah bimbingan

Dra. Musfirah Nurlaily, MA.

NIP: 1971041222000032

JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM (KPI)

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UIN SYARIF HIDAYAHTULLAH

JAKARTA

2011 M / 1432 H

Page 3: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

i

ABSTRAK

Putri Rackmania

“POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM PROSES

PENYEMBUHAN DI KLINIK MAKMUR JAYA”

Komunikasi dan pengaruhnya terhadap proses penyembuhan pasien adalah

komunikasi yang melibatkan dua individu yang berbeda, dan disebut sebagai

komunikasi antar pribadi. Komunikasi menjadi piranti utama dalam bagi dokter

untuk menyampaikan pesan dan keinginan dokter terhadap pasien ataupun

sebaliknya. Komunikasi menjadi mediator bagi dokter dalam menyampaikan

simbol-simbol atau arti yang dimaksudkan oleh dunia kesahatan dalam mencapai

tujuan yang diinginkan pasien, yaitu penyembuhan. Komunikasi digunakan

sebagai alat pendekatan sosial oleh dokter demi mencapai satu stabilitas objektif

dari obyek penelitian untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan dokter. Oleh sebab

itu, komunikasi dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dokter dan pasien yang

dapat berpengaruh pada proses penyembuhan yang tengah dilakukan. Dengan

demikian, peranan lembaga pelayanan menjadi penting untuk menyelaraskan

komunikasi sebagai alat yang dapat memberikan perubahan terhadap prilaku,

pandangan, dan budaya masyarakat sebagai obyek yang dilayani (pasien).

Tujuan dari penelitian ini adalah; untuk mengetahui pola komunikasi

dalam upayanya memberikan dampak penyembuhan. Mengetahui bagaimana

penerapan komunikasi dalam proses penyembuhan. Mendapatkan satu pola

komunikasi yang berpengaruh pada proses penyembuhan. Tujuan lain, untuk

mengetahui peran penting komunikasi sebagai media yang mampu mempengaruhi

proses kesembuhan pasien. Selain itu, adalah untuk mengetahui pendekatan-

pendekatan sosial komunikasi yang diciptakan oleh Klinik Makmur Jaya.

Metodologi penelitian karya ilmiah ini menggunakan pendekatan

kualitatif. Dimana pendekatan kualitatif menurut Taylor yang dikutip oleh Lexsi J.

Moleong, adalah “prosedur sebuah penelitian yang menghasilkan data deskriptif

berupa kata-kata, tertulis atau lisan dari orang dan prilaku yang dapat diamati.

Hasil penelitian yang penulis temukan terkait dengan pola komunikasi

dokter terhadap proses penyembuhan pasien di Klinik Makmur Jaya adalah

komunikasi berperan sangat signifikan dalam proses penyembuhan pasien,.

Pendekatan-pendekatan komunikasi pada penerapannya mampu sangat

berpengaruh terhadap perubahan psikologi dan perilaku pasien yang sedang

menjalani proses pengobatan,

Dengan demikian, Pola Komunikasi Dokter Terhadap Proses

Penyembuhan Pasien adalah untuk mengupayakan perubahan sikologis dan

perilaku pasien terhadap apa yang terjadi didalam diri mereka sendiri. Bahwa,

selain dokter, pasien juga harus berperan aktif, memahami, dan bertanggung

jawab terhadap kesembuhan diri mereka. Dan komunikasi dalam hal ini mencoba

mambangun, mengembangkan, dan membina hubungan keduanya secara

responsif terhadap problem sosial apa pun yang tengah mereka hadapi.

Page 4: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

ii

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmannirrahim

Segala puja dan puji bagi Allah SWT sebagai pagar penjaga nikmatNya,

Zat Yang Maha menggenggam segala sesuatu yang ada dan tersembunyi di balik

jagad semesta alam, zat yang Maha Meliputi segala sesuatu yang terfikir maupun

yang tidak terfikir. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah atas sang

Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan bagi seluruh Umat Islam

yang terlena maupun terjaga atas sunnahnya.

Alhamdulillahirrabil ‘alamin, penulis mengucapkan rasa syukur kepada

Allah SWT atas segala rahmat dan pertolonganNya, sehingga skripsi ini dapat

diselesaikan. Karena tanpa rahmat pertolonganNya tidaklah mungkin penulis

dapat menyelesaikan skripsi ini.

Dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati, penulisan skripsi ini tidak

akan terselesaikan bila tanpa bantuan serta dukungan dari berbagai pihak, baik

secara moril maupun materil. Sudah sepatutnya penulis mengucapkan terima

kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan serta dukungannya,

sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan. Penulis mengucapkan terima

kasih sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Dr. Arief Subhan, M.Ag, selaku Dekan Fakultas Dakwah dan

Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pembantu Dekan Bidang

Akademik Bapak Drs Wahidin Saputra, MA. Pembantu Dekan Bidang

Administrasi Umum dan Keuangan Bapak Drs. H. Mahmud Jalal, MA., serta

Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan Bapak Drs. Study Rizal LK., MA.

2. Ibu Hj. Asriati Jamil, M.Hum, selaku Ketua Jurusan Koordinator Teknis

Program Non Reguler, Ibu Hj. Musfirah Nurlaily, MA., selaku Sekretaris

Program Non Reguler.

3. Dosen Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) angkatan 2007. Serta

Bapak/Ibu Dosen Fakultas dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah

ii

Page 5: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

iii

yang telah mengarahkan, mendidik, membimbing, dan memberikan ilmu

yang sangat bermanfaat untuk hidup penulis.

4. Ibu Dra. Musfirah Nurlaily, MA., sebagai Dosen Pembimbing skripsi, yang

tidak pernah menutup pintu keluasan waktunya untuk membimbing dan

memberikan semangat dan arahan dalam penulisan skripsi ini.

5. Seluruh karyawan Perpustakaan Utama UIN Jakarta, dan Perpustakaan

Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Konunikasi UIN Jakarta.

6. Dokter Ayat Rahayu yang telah bersedia meluangkan waktu. Dan para

fasilitator buku-buku tentang komunikasi dan kesehatan, yang memberikan

kesempatan pada penulis untuk menyelami buku-buku tentang komunikasi

(umum dan khusus) dokter terhadap pasien, tanpa batas waktu

7. Karyawan dan Staff Klinik Makmur Jaya yang telah memberikan kesempatan

kepada penulis untuk melakukan observasi dan dan wawancara.

8. Bapakku yang terkasih, Budi Marwoto dan Ibunda tercinta Rosmilawati, yang

telah memberikan terkasih kebebasan untuk memilih jalan hidup, hampir

setiap nafas yang terlewati ini penulis merasakan lantunan doa yang begitu

kuat, semoga pintu Rahman dan RahimNya Allah senantiasa dibukakan bagi

kesabaran dan pengorbanamu. Amin.

9. Adik-adikku tercinta, Rosafina Shabira, Raniah Farah Nadhifa, dan Irsya

Budi, yang telah banyak memberikan keluasan waktu dan yang selalu

menciptakan ketenangan dalam rumah yang menjadi surga bagi keluarga.

Terima kasih atas doa dan dukungan yang terucap maupun tidak.

10. Teman-teman KPI Program Non Reguler angkatan 2006 atas keakraban dan

kerja sama di masa-masa kita masih sempat selalu berkumpul, dan teman-

teman lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Hanya ucapan

terima kasih yang bisa saya sampaikan.

Page 6: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

iv

11. Dan kepada semua pihak yang telah membantu serta memberikan dukungan

kepada penulis baik secara moril maupun materil, penulis ucapkan terima

kasih yang sebesar-besarnya, hanya Allahlah yang dapat membalasnya.

Ciputat, 15 Februari 2011

Penulis

Page 7: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

v

DAFTAR ISI

ABSTRAK……………………………………………………………………i

KATA PENGANTAR……………………………………………………….ii

DAFTAR ISI………………………………………………………………….v

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang……………………………………………………..1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah………………………………10

C. Tujuan dan Manfaat penelitian……………………………………..10

D. Metodologi penelitian……………………………………………....11

E. Tinjauan Pustaka…………………………………………………....15

F. Sistemetika penulisan……………………………………………….16

BAB II LANDASAN KOMUNIKASI

A. Komunikasi……………………………………………………...…18

1. Pengertian……………………………………………………...18

2. Unsur-unsur Komunikasi………………………………………21

3. Fungsi Komunikasi……………………………………………26

B. Pola Komunikasi………….………………………………….........28

C. Pola Komunikasi Antar Pribadi…………………………………...32

D. Hubungan Dokter dengan Pasien………………………………….41

BAB III GAMBARAN UMUM KLINIK MAKMUR JAYA

A. Profil Klinik Makmur Jaya……………………………………........48

B. Sejarah Berdirinya Klinik Makmur Jaya…………………………...48

C. Sarana dan Prasarana……………………………………………….52

D. Dokter dan Tenaga Medis………………………………………….53

v

Page 8: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

vi

BAB IV HASIL TEMUAN dan ANALISA DATA

A. Pola Komunikasi Dokter dan Pasien di Klinik Makmur Jaya………55

B. Penerapan Komunikasi Terhadap Pasien di Klinik Makmur Jaya….66

C. Komunikasi Antar Pribadi Sebagai Media Klinik Makmur Jaya Dalam

Meningkatkan Kesembuhan Pasien……….………………………..71

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran-Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Page 9: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di beberapa negara, menunjukkan bahwa adanya hari-hari produktif yang

hilang atau Dissabiliiy Adjusted Life Years (DALY's) yang disebabkan oleh

masalah kesehatan. Sementara kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan,

jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial

dan ekonomis. Atas dasar ini, maka manusia selalu dilihat sebagai satu kesatuan

yang utuh (holistik), dari unsur “badan” (organobiologik), “jiwa” (psiko-edukatif),

dan “sosial” (sosio-kultural), yang tidak dititik beratkan pada “penyakit” saja,

tetapi pada kualitas hidup yang terdiri dari “kesejahteraan” dan “produktivitas

sosial ekonomi. Dengan demikian, kesehatan adalah suatu kondisi yang

memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari

seseorang, dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain.1

Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat-sifat yang harmonis (serasi) dan

memperhatikan semua segi dalam kehidupan manusia dan dalam hubungannya

dengan manusia lain. Untuk mendapatkan kesehatan jiwa, maka perlu ada

terselenggaranya pelayanan kesehatan yang bermutu dan merata untuk seluruh

masyarakat. Pembangunan kesehatan Indonesia beberapa dekade yang lalu harus

diakui relatif berhasil, terutama pembangunan infrastruktur pelayanan kesehatan

yang telah menyentuh sebagian besar wilayah kecamatan dan pedesaan. Namun

1 Studi Bank Dunia (World Bank) pada tahun 1995-2000 di beberapa negara (Eropa,

Amerika, Afrika, dan Asia), dalam

http://kesmas.depkes.go.id/index.php?option=comcontent&task=view&id =61&Itemid=79.

(diambil pada hari senin tanggal 11 Januari 2011, jam 19:00).

1

Page 10: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

2

keberhasilan yang sudah dicapai belum dapat menuntaskan problem kesehatan

masyarakat secara menyeluruh, bahkan sebaliknya tantangan sektor kesehatan

cenderung semakin meningkat.2

Transisi epidemiologis, yang di tandai dengan semakin berkembangnya

penyakit degeneratif dan penyakit tertentu yang belum dapat diatasi sepenuhnya

(seperti TBC, DHF dan malaria); hal ini merupakan sebagian tantangan kesehatan

di masa depan. Tantangan lainnya yang harus ditanggulangi antara lain adalah

meningkatnya masalah kesehatan kerja, kesehatan lingkungan, masalah obat-

obatan; dan perubahan dalam bidang ekonomi, kependudukan, pendidikan, sosial

budaya; dan dampak globalisasi yang akan memberikan pergaruh terhadap

perkembangan keadaan kesehatan masyarakat. Karena kesehatan merupakan

kebutuan yang sangat mendasar secara fisik maupun dalam hal psikis. Kesehatan

sangat esensial untuk mencapai berbagai tujuan, sebab dengan kesehatan manusia

dapat melakukan aktifitas sehari-hari tanpa adanya satu hambatan.3

Berdasarkan penjelasan di atas sangat diperlukan upaya agar masalah

kesehatan di masa depan dapat ditanggulangi dengan baik sehingga mencapai

kualitas kesehatan masyarakat yang diinginkan. Beberapa upaya yang dapat

dilakukan antara lain meliputi pengembangan organisasi dan manajemen

pelayanan kesehatan, pengembangan institusi pendidikan, peningkatan orientasi

penelitian dan peningkatan partisipasi masyarakat. Pengembangan organisasi

pelayanan kesehatan merupakan suatu keharusan. Pendekatan organisasi birokrasi

yang selama ini berlaku dan bersifat sangat hirarkis (top down) atau sentralistis

2 Ibid.

3 Media Indonesia; Wajah Buram Keseshatan Bangsa Kita.

http://www.aidsindonesia.or.id. (diambil pada hari senin tanggal 11 Januari 2011, jam 18:30).

Page 11: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

3

haruslah dirubah menjadi suatu tatanan organisasi pelayanan yang lebih

mengutamakan pendekatan psikologis komunikasi yang lebih efektif, mudah, dan

menumbuhkembangkan kesadaran menjaga kesehatan.4

Keberhasilan pembangunan kesehatan yang telah dicapai pada berapa

bidang (terutama pembangunan sarana fisik) merupakan suatu hal yang tidak

dapat dipungkiri. Namun berdampingan dengan keberhasilan yang ada, banyak

fakta menunjukkan bahwa kegagalan pembangunan kesehatan tidak kalah

besarnya. Salah satu faktor sulitnya mencapai prestasi optimum organisasi

pelayanan adalah organisasi kesehatan dianggap terlalu elit (birokratis) dan ruwet

(mahal) bagi masyarakat.5

Hal ini menimbulkan kematian inisiatif dan menghidupkan sikap pasif,

sehingga sekat antara masyarakat dengan organisasi kesehatan menjadi semakin

lebar. Fenomena ini harus segera dirubah melalui pengembangan organisasi dan

manajemen agar lebih siap menghadapi tantangan di masa depan untuk memenuhi

kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Pengembangan

organisasi adalah suatu proses sadar dan terencana untuk mengembangkan

kemampuan suatu organisasi sehingga mampu mencapai suatu tingkat optimum

prestasi dan efisiensi, efektifitas, dan kesehatan organisasi. Pengembangan

manajemen ditekankan pada upaya memperbaiki pengetahuan dan keterampilan

para pimpinan dan paramedis.

Dengan demikian, pengembangan organisasi kesehatan harus mengacu

pada strategi reedukasi dan normatif yang ditujukan untuk mempengaruhi sistem

4 Ibid.

5 Paper Surya utama; Upaya Menghadapi Masalah Kesehatan Di Masa Depan, Fakultas

Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara, dalam surya_utamablogspot. (diambil pada

hari senin tanggal 11 Januari 2011, jam 18:35).

Page 12: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

4

kepercayaan, nilai, dan sikap dalam organisasi sehingga dapat beradaptasi lebih

baik terhadap akselerasi laju perubahan teknologi lingkungan industri dan

lingkungan masyarakat umumnya. Pengembangan organisasi mencakup pula

penataan kembali organisasi formal yang sering mulai, diperlancar dan diperkuat

oleh perubahan normatif dan perilaku. Salah satu yang harus menjadi

pertimbangan organisasi kesehatan (Rumah Sakit, Klinik, Puskesmas, dan lain

sebagainya) adalah otonomi organisasi dalam hal pelayanan kesehatan terhadap

masyarakat.6

Efisiensi dan efektifitas pelayanan merupakan sasaran utama

pengembangan organisasi birokrasi pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk

menjamin kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara terus menerus.

Dengan demikian otonomi sebagai perwujudan pengembangan organisasi

haruslah direncanakan dan dilaksanakan dengan benar dan sungguh-sungguh,

untuk menciptakan suatu organisasi pelayanan kesehatan yang siap menghadapi

tantangan untuk menyelesaikan masalah kesehatan agar senantiasa berkembang

(terutama di daerah-daerah). Pengembangan organisasi pelayanan kesehatan yang

dilakukan harus dapat menghilangkan berbagai penyimpangan perilaku birokrasi

kesehatan yang tidak bermoral, seperti tidak efisien, tidak efektif, korupsi, kolusi,

dan mengabaikan kualitas pelayanan.

Upaya pemerintah untuk mencapai sasaran dan tujuan pembangunan

kesehatan maupun pembangunan bidang lainnya yang terkait dengan kesehatan

masyarakat antara lain dilakukan dengan meningkatkan kuantitas sumber daya

manusia melalui perencanaan kebutuhan dan peningkatan kualitas melalui jalur

6 Ibid.

Page 13: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

5

pendidikan. Melalui pendidikan diharapkan dapat terbentuk manusia (tenaga

medis) yang berkualitas, mampu memanfaatkan, mengembangkan, dan menguasai

ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan untuk mendukung pembangunan

seluruh sektor kehidupan msyarakat. Dengan demikian pendidikan merupakan

wahana dan sekaligus cara untuk membangun manusia baik sebagai insan maupun

sebagai sumber daya pembangunan.7

Pentingnya sumberdaya manusia yang berkualitas merupakan syarat utama

pengembangan organisasi kesehatan, upaya untuk mendorong terciptanya

organisasi pelayanan kesehatan yang mampu mencapai dan mempertahankan

prestasi, menghendaki sumber daya manusia yang berkualitas. Peningkatan

kualitas sumberdaya manusia dari organisasi pelayanan kesehatan, haruslah

diantisipasi oleh institusi pendidikan kesehatan masyarakat. Artinya, jika

organisasi pelayanan kesehatan telah siap untuk melaksanakan pengembangan

organisasi dan manajemen sebagai antisipasi untuk menghadapi tantangan

kesehatan masyarakat yang semakin kompleks; maka institusi pendidikan

kesehatan masyarakat juga harus melakukan pengembangan organisasi dan

manajemen untuk menghadapi tantangan kesehatan yang semakin kompleks.8

Institusi pendidikan kesehatan masyarakat harus mampu menciptakan

ilmuan dan praktisi kesehatan yang dapat menopang pengembangan organisasi

dan manajemen pelajaran kesehatan yang dapat membantu memecahkan masalah

kesehatan masyarakat. Selain itu, peran serta masyarakat merupakan syarat mutlak

untuk mencapai keberhasilan pembangunan. Hal ini menegaskan bahwa

7 Ibid.

8http://indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=7660&Itemid=

821. (diambil pada tanggal 12, jam: 20:30. 2011).

Page 14: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

6

partisipasi aktif masyarakat dalam proses pembangunan menempati posisi yang

sangat penting. Pandangan bahwa masyarakat adalah semata-mata objek

pembangunan harus diganti dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian dari

pelaku (subjek) pembangunan.9

Masyarakat harus ikut serta dalam proses pembangunan kesehatan sesuai

kondisinya. Situasi dan kondisi masyarakatlah yang seharusnya menentukan

secara objektif tingkat posisi partisipasinya dalam proses pembangunan; bukan

keputusan sepihak birokrasi yang selalu cenderung menafikan potensi masyarakat

yang pada akhirnya sering menempatkan masyarakat sebagai objek pembangunan.

Jika tidak ada pemahaman yang sama (antara dokter dengan pasien), maka

masyarakat Indonseia akan selalu berada dalam sebuah dunia yang saling tarik

menarik, dunia yang menghisap habis energi kebaikan, kebenaran dan kejujuran

menjadi energi yang sangat negatif. Dan masyarakat akan menjadi pribadi-pribadi

yang akan kehilangan diri, tidak produktif, dan perangkat penghubung

(komunkasi) yang memadai.

Dan untuk membangun semua hal di atas, maka dibutuhkan sebuah

jembatan atau instrumen yang dapat mengkomunikasikan hal-hal terkait.

Instrumen tersebut adalah komunikasi, pola komunikasi, dan strategi pelaksanaan

komunikasi. Komunikasi menjadi penting sebagai alur transformasi pendidikan

dan informasi agar tidak semakin rumit. Oleh karenanya, sebuah sistem

komunikasi sangat diperlukan untuk melancarkan mekanisme kerja organisasi

kesehatan (kedokteran) yang ada. Pola komunikasi sangat membantu dalam

memudahkan pencapaian tujuan dari sistem kesehatan yang hendak mencapai

9 Ibid.

Page 15: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

7

kesamaan dan keserasian dalam pembangunan. Komunikasi dapat dijadikan

pedoman dalam proses interaksi antar individu dan kelompok di masyarakat.

Dalam kehidupan, komunikasi merupakan rumusan baru meskipun

pelaksanaannya secara implisit telah dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan

sehari-hari.10

Untuk mendapatkan satu sistem (pola) komunikasi yang bekerja selaras

dengan organisasi kesehatan agar mampu memberikan dampak positif

(penyembuhan, kesadaran, ketenangan) terhadap perkembangan kesahatan

masyarakat. Maka, perlu adanya peranan lembaga kesehatan11

dan dokter yang

mampu menggunakan komunikasi sebagai perangkat (alat atau media) pelayanan

yang paling efektif dan efisien untuk mengetahui kebutuhan dan mendapatkan

keluhan masyarakat.

Dalam hubungan ini, perangkat (sarana dan prasarana) kesehatan berperan

penting bagi manusia untuk menemukan kembali kebugaran (kesehatan) jiwa

raganya dalam kehidupan sehari-hari. Klinik atau sejenis, merupakan salah satu

faktor pendukung manusia yang dapat membantu pemenuhan kebutuhan manusia

akan kesehatan. Sarana-sarana di atas adalah wadah sosial yang secara langsung

berhadapan dengan kebutuhan masyarakat. Klinik menjadi salah satu organisasi

sosial masyarakat yang mengandaikan adanya hubungan (komunikasi) sosial yang

seimbang dan searah, karena antara masyarakat dengan wadah sosial (kesehatan)

tersebut selalu akan memiliki hubungan timbal-balik (feedback), saling

membutuhkan satu sama lain.

10 Ibid.

11 Rumah Sakit, Klinik, Puskesmas, Posyandu dan lain sebagainya.

Page 16: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

8

Sedangkan komunikasi merupakan kebutuhan dasar (kodrati/asali)

manusia sebagai prasyarat mutlak bagi perkembangan manusia, baik sebagai

individu, kelompok, maupun bermasyarakat. Dengan komunikasi, manusia dapat

menyampaikan perasaan, pikiran, pendapat, sikap dan informasi kepada

sesamanya secara timbal balik. Misalnya, komunikasi yang digunakan di dalam

kedokteran, seorang dokter dituntut memiliki pola komunikasi yang baik, lancar,

dan dapat dipahami oleh pasien. Komunikasi yang mudah dimengerti merupakan

salah satu keahlian yang harus dikuasai oleh seorang dokter. Keahlian dalam

komunikasi sangat menentukan keberhasilan seorang dokter dalam mengarahkan

atau menyelesaikan permasalahan sosial (kesehatan) masyarakat sebagai penderita

(pasien).12

Akan menjadi tidak mudah bagi dokter dalam melakukan identifikasi

mengenai permasalahan kesehatan masyarakat apabila tidak memiliki kecerdasan

(kelebihan) dalam mengkomunikasikan gejala-gejala yang dirasakan oleh pasien,

atau menjelaskan secara logika (masyarakat awam), sebab-akibat dari suatu

penyakit (berat) yang dialami. Di dalam sistem komunikasi kedokteran, ada

beberapa unsur komunikasi yang dibangun atas dasar saling percaya, keterbukaan,

kejujuran, dan pengertian akan kebutuhan pasien, harapan, dan juga kepentingan

dari masing-masing. Komunikasi harus berlangsung dalam kedudukan yang

setara. Memiliki cukup pengertian yang sama-sama dipahami.13

Tidak ada pembatas yang membedakan, adanya kepercayaan dan

kesepakatan bahwa komunikasi merupakan pertukaran informasi yang saling

12 http://fasilitator-masyarakat.org/index.php?pg=artikel_detail&id=190. Peranan Pekerja

Sosial Dalam Pendampingan, (diambil pada tanggal 12, jam: 20:30. 2011). 13

Ibid.

Page 17: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

9

menguntugkan satu sama lain. Dengan adanya hubungan yang dilandasi saling

percaya serta saling mengerti akan kebutuhan masing-masing, maka pasien akan

dengan mudah memberikan keterangan dari gejala yang dirasakan, sehingga

dokter sebagai tenaga medis yang melayani kebutuhan pasien dapat mengarahkan

kebutuhan pasien pada solusi yang dapat meringankan problem kesehatan pasien.

Komunikasi efektif juga dibutuhkan dalam kerangka kerja kesehatan dan

kedokteran, efektif dalam arti, komunikasi yang selalu terkait pada keluhan

pasien, sehingga kendala dapat diatasi secara spesifik dan cepat. Jika ada opini

yang menyatakan bahwa komunikasi yang dikembangkan dengan cara-cara yang

lebih efektif dapat menyita waktu, adalah menjadi tugas ilmu kesehatan modern

untuk mengembangkan metodologi atau sistem dan pola komunikasi yang lebih

efektif bagi dunia kesehatan, misalnya, menggunakan simbol-simbol (verbal dan

non-verbal) yang lebih sederhana agar supaya dapat secara luas mencegah hal-hal

negatif yang ditimbulkan oleh kesalahan pengertian dan penerimaan komunikasi

antara kedua belah pihak.

Dari berbagai permasalahan di atas, penulis ingin menuangkan

problematika kehidupan sosial masyarakat dalam bernegara (kesehatan) juga

berbangsa (komunikasi) ke dalam satu karya tulis yang berjudul; “POLA

KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM PROSES

PENYEMBUHAN DI KLINIK MAKMUR JAYA”.

Page 18: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

10

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Mengingat luasnya pembahasan yang akan diteliti, maka penelitian ini

akan dibatasi pada : “Pola Komunikasi Dokter Terhadap Pasien Dalam Proses

Penyembuhan.”

Selanjutnya untuk mempermudah pembahasan, maka di sini penulis

memberikan perumusan, antara lain: Bagaimana Pola Komunikasi Dokter

Terhadap Pasien dalam Proses Penyembuhan di Klinik Makmur Jaya?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Dengan memahami latar belakang seperti di atas, maka dalam penelitian

karya ilmiah ini, terdapat beberapa tujuan yang mendasar dan manfaat/kegunaan

dari penelitian tersebut. Adapun tujuannya, antara lain:

1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui pola komunikasi dokter terhadap pasien

dilaksanakan di Klinik Makmur Jaya.

b. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh komunikasi dokter terhadap

proses penyembuhan pasien.

c. Dan terakhir, mendapatkan informasi tentang bagaimana pentingnya

komunikasi bagi dokter dan pasien dalam kehidupan sosial

masyarakat.

2. Kegunaan Penelitian

a. Kegunaan Teoritis: Sebagai sumbangan pemikiran bagi pengembangan

disiplin ilmu dalam Komunikasi Penyiaran Islam.

Page 19: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

11

b. Kegunaan Praktis: Sebagai bahan masukan bagi pengelola Klinik

Makmur Jaya tentang pola komunikasi di dalam melakukan pelayanan

terhadap pasien (masyarakat) demi terciptanya kesehatan yang

optimal.

D. Metodologi Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Untuk penelitian ini penulis menggunakan penelitian kualitatif.

Pendekatan kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa

kata-kata, tertulis atau lisan dari orang dan prilaku yang dapat diamati.

Kirk dan Miller memberikan pengertian penelitian kualitatif sebagai tradisi

penelitian yang tergantung pada pengamatan sesuai dengan orang-orang di sekitar

objek penelitian dalam bahasa dan peristilahan sendiri.14

Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk

mengeksplorasi dan mengklasifikasikan suatu fenomena atau kenyataan sosial,

dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah

dan unit yang diteliti.15

Berdasarkan beberapa definisi di atas, peneliti melakukan penelitian

dengan menguraikan fakta-fakta yang didapat di lapangan berdasarkan hasil dari

penelitian lapangan (field research) yang kemudian diolah, dikaji dan dianalisis

agar dapat menghasilkan suatu kesimpulan.

14 Lexy J. Moloeng, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,

2009), edisi revisi cet. Ke 26, h. 3. 15

Prof. Dr. H. Syamsir Salam, MS dan Jaenal Aripin, M.Ag, Metodologi Penelitian

Sosial, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), h. 13.

Page 20: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

12

2. Sumber Data

Adapun sumber data pada penelitian ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu

data primer dan data sekunder.

Data Primer diperoleh melalui proses penelitian langsung dari partisipan

atau sasaran penelitian, yaitu data yang berasal dari pasien yang berkunjung atau

berobat di Klinik Makmur Jaya, pengelola atau pengurus Klinik, dan pimpinan

Klinik.

Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari catatan-catatan atau

dokumen yang terkait dengan penelitian dari lembaga yang diteliti ataupun

referensi dan buku-buku dari perpustakaan.

1. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian

Penelitian ini berlokasi di Klinik Makmur Jaya, Jl. Kertamukti no. 84A,

Ciputat Tangerang Selatan Banten. Penelitian ini dilakukan bulan November 2010

sampai pada Februari 2011.

Alasan peneliti memilih lokasi tersebut adalah karena tempat tersebut

mudah diakses oleh peneliti, dan tempatnya pun strategis. Hal tersebut yang

membuat penulis melakukan penelitian di lokasi tersebut.

2. Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang objektif, penulis menggunakan teknik:

a. Observasi, adalah pengamatan langsung dengan menggunakan seluruh

panca indera (melihat, mendengar, dan merasakan)16

dan pencatatan

16 Indriati Yulistiani, Ragam Penelitian Kualitatif: Penelitian Lapangan, (Fakultas Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik: UI, 2001), h. 16.

Page 21: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

13

secara sistematis gejala-gejala yang terjadi di lapangan penelitian,17

yaitu dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap pelaksanaan

pelayanan pasien, yaitu proses komunikasi (prosedur) dokter dengan

pasien serta kegiatan pengurus (dokter dan tenaga medis) di Klinik

Makmur Jaya. Dalam melakukan observasi tersebut, keberadaan

penulis diketahui oleh pengelola, tutor, dan pasien.

b. Wawancara adalah salah satu alat untuk mengumpulkan (memperoleh)

informasi langsung tentang beberapa jenis data18, yang berkaitan

dengan permasalahan penelitian sehingga dapat menemukan data atau

keterangan mengenai kegiatan pelayanan Klinik Makmur Jaya. Dalam

penelitian ini penulis mewawancarai pimpinan Klinik, tenaga medis,

pengurus, dan pasien yang berkunjung (berobat) di Klinik Makmur

Jaya atau unsur-unsur yang berhubungan dengan penelitian atau

berkaitan dengan permasalahan yang ingin digali.

c. Dokumentasi

Dokumentasi adalah pengumpulan data yang diperoleh melalui

dokumen-dokumen dan pustaka sebagai bahan analisis dalam

penelitian ini. Yang memfokuskan masalah mengenai pola komunikasi

dokter terhadap pasien. Kajian dokumen ini seperti didefinisikan oleh

Barelson (1952, dalam Guba dan Lincoln, 1981:240)19

sebagai teknik

penelitian untuk keperluan mendeskripsikan secara objektif, sistematis,

dan kuantitatif tentang manifestasi komunikasi.

17 Husaini Usman dan Purnomo Setiadi Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta:

Bumi aksara, 1998). Cet. Ke-2 h. 54. 18

Sutrisno Hadi, “Metodologi Research,” Jogjakarta: Andi Offset, 1983), hal. 49. 19

Lexy J. Moloeng, Metode Penelitian Kualitatif, h. 220.

Page 22: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

14

3. Subjek dan Objek Penelitian

Sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif teknik pemilihan subjek

dan objek penelitian ini adalah dokter dan pasien yang menurut peneliti dapat

memberikan data dan informasi tentang bagaimana pola komunikasi dokter

terhadap pasien memberikan dampak kesembuhan terhadap proses masa

penyembuhan di Klinik Makmur Jaya.

Dalam mencari data peneliti mewawancarai Pimpinan dari Klinik Makmur

Jaya sekaligus dokter, yaitu Dr. Ayat Rahayu, Sp. Rad. M. Kes, beberapa staf

(perawat) Klinik Makmur Jaya, yaitu, Novi Anggraini, dan Sulistia Velasiva,

peneliti juga mewawancarai beberapa pasien Klinik Makmur Jaya yang

berkunjung ke Klinik Makmur Jaya, yaitu Fenny, Zaskyah, Ilham, Reza Fahlevi.

4. Teknik Analisis Data

Yakni menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber dengan

hasil yang diperoleh dari pengamatan peneliti secara langsung di lapangan.

Analisis data adalah proses penyusunan data agar bisa ditafsirkan, dan

memberikan makna. Model analisis yang dipakai dalam penelitian ini adalah

teknik analisis deskriptif. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa sasaran

penelitian ini adalah kegiatan analisis data yang meliputi kegiatan reduksi data,

reduksi yaitu menganalisa sesuatu secara keseluruhan kepada bagian-bagiannya

atau menjelaskan tahap akhir dari proses perkembangan sebelumnya yang lebih

sederhana.20

20 A. Pius Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya:

Arkola,1994) Cet. ke-1.

Page 23: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

15

E. Tinjauan Pustaka

Ada beberapa hasil penelitian yang hampir sama dengan penelitian yang

akan penulis jadikan bahan perbandingan. Pertama, Skripsi berjudul ”Pola

Komunikasi Dokter Dalam Proses Penyembuhan Pasien di Klinik Yasmin” 2007,

yang disusun oleh Bani, UHAMKA. Skripsi berisi mengenai pola komunikasi

melalui pendekatan psikologi dan therapy sebagai upaya memberikan stimulasi

dalam proses penyembuhan terhadap pasien.

Kedua, skripsi yang berjudul “Komunikasi Dokter dan Pasien dalam

Pelayanan Medis di Rumah Sakit UIN”, 2010, yang disusun oleh Susanti. Skripsi

ini berisi tentang peran komunikasi yang diterapkan Rumah Sakit UIN sebagai

media pelayanan yang dapat memberikan dampak pada proses kesembuhan jiwa

maupun pikiran dari pasien, tentang bagaimana pola komunikasi dokter dalam

mendiagnosa pasien agar mendapatkan kesembuhan, dan tidak takut mengahadapi

problem kesehatan.

Skripsi yang penulis bahas adalah mengenai pola komunikasi dokter

terhadap pasien dalam proses penyembuhan di Klinik Makmur Jaya. Fokus Klinik

tersebut adalah memberikan pelayanan kesehatan dengan cara-cara dialogis.

Fokus penulis pada skripsi ini adalah pola komunikasi dokter terhadap pasien

yang mempengaruhi proses penyembuhan yang ada di Klinik Makmur Jaya.

Page 24: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

16

F. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pembahasan masalah dalam penelitian ini, penulis

berusaha membuat sistematika khusus dengan jalan mengelompokkan

berdasarkan kesamaan dan hubungan masalah yang ada. Sistematika skripsi ini

dalam penulisannya akan dibagi menjadi 5 (Lima) bab, dan masing-masing bab

akan dibagi lagi menjadi su-sub bab, yaitu sebagai berikut;

BAB I Pendahuluan, yang meliputi Latar Belakang Masalah, Pembatasan

dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian,

Metodologi Penelitian, Tinjauan Pustaka, dan Sistematika

Penulisan.

BAB II Landasan Komunikasi yang mencakup: Pengertian Komunikasi,

Unsur-unsur Komunikasi, Fungsi Komunikasi, Pola Komunikasi,

Pola Komunikasi Antar Pribadi, dan Hubungan Dokter dengan

Pasien.

BAB III Gambaran Umum Klinik Makmur Jaya yang membahas tentang;

Profil Klinik Makmur Jaya, Sejarah Singkat Klinik Makmur Jaya,

Sarana dan Prasarana, Dokter dan Tenaga Medis..

BAB IV Hasil penelitian terdiri dari: Pola Komunikasi Dokter dan Pasien di

Klinik Makmur Jaya, Penerapan Komunikasi Terhadap Pasien di

Klinik Makmur Jaya, Komunikasi Antar Pribadi Sebagai Media

Page 25: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

17

Klinik Makmur Jaya dalam Meningkatkan Kesembuhan Pasien,

dan segala hal yang terkait atau berhubungan dengan penelitian

yang tengah dilakukan.

BAB V Penutup, yang terdiri dari kesimpulan, saran-saran, dan kritik.

DAFTAR PUSTAKA

Page 26: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

18

BAB II

LANDASAN KOMUNIKASI

A. Komunikasi

1. Pengertian Komunikasi

Secara etimologis, istilah komunikasi (communication) berasal dari bahasa

Latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama

di sini maksudnya adalah sama makna.1 Komunikasi akan terjadi atau

berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan.

Kesamaan bahasa yang dipergunakan dalam percakapan belum tentu

menimbulkan kesamaan makna.2 Dengan kata lain, memahami satu bahasa tidak

mengandaikan pemahaman akan makna yang dimaksudkan. Dan percakapan

dapat dikatakan komunikatif apabila kedua belah pihak, selain mengerti bahasa

yang digunakan, juga mengerti makna dari bahan yang diperbincangkan.

Pengertian komunikasi yang dipaparkan di atas sifatnya dasariah, dalam

arti kata bahwa komunikasi minimal harus mengandung makna, kesamaan makna

antara dua pihak yang terlibat. Karena kegiatan komunikasi tidak hanya bersifat

informatif, agar orang mengerti dan tahu, tetapi juga persuasif, yaitu orang lain

bersedia menerima suatu paham atau keyakinan, melakukan suatu perbuatan atau

kegiatan, dan lain-lain.3

1 Djamalul Abidin Ass, Komunikasi dan Bahasa Dakwah, (Jakarta: Gema Insani Press,

1996), h. 6. 2 Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi; Teori dan Praktek, (Bandung: PT Remaja

Rosdakarya, 2009), cet. Ke-22, h. 9. 3 Ibid, h. 9.

18

Page 27: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

19

Kata komunikasi menjadi salah satu kata yang paling sering digunakan

dalam percakapan baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Para ahli

telah melakukan berbagai upaya untuk mendefinisikan komunikasi, namun

membangun suatu definisi tunggal mengenai komunikasi terbukti tidak mungkin

dilakukan dan mungkin juga tidak terlalu bermanfaat. Frank Dance (1970)4

melakukan terobosan penting dalam upayanya memberikan klarifikasi terhadap

pengertian komunikasi. Ia mengklasifikasikan teori komunikasi yang banyak itu

berdasarkan sifat-sifatnya.

Dance mengajukan sejumlah elemen dasar yang digunakan untuk

membedakan komunikasi. Ia menemukan tiga hal yang disebutnya dengan

“diferensiasi konseptual kritis” (critical conceptual differentiation) yang

membentuk dimensi dasar teori komunikasi yang terdiri atas: 1) Dimensi level

observasi, komunikasi yang bersifat sangat luas (inclusive). Misalnya, definisi

komunikasi yang menyatakan komunikasi adalah: proses yang menghubungkan

bagian-bagian terputus dari dunia hidup satu sama lainnya;5

2) Dimensi kesengajaan, adalah komunikasi yang dikemukakan para ahli

yang hanya memasukkan faktor pengiriman dan penerimaan pesan yang memiliki

kesengajaan atau maksud tertentu (purposeful), misalnya: komunikasi adalah

situasi dimana sumber mengirimkan pesan kepada penerima dengan sengaja untuk

mempengaruhi tingkah laku penerima.

4 Theodore Clevenger Jr, Can One Not Communicate? A Conflict of Model,

Communication Studies, dalam Stephen W. Littlejohn, Theories of Human Communication, (New

Jersey: Wadsworth Publication, 1991), h. 6. 5 Terjemahan yang lebih sederhana, komunikasi adalah proses yang menghubungkan

antara berbagai makhluk hidup di dunia untuk saling memberikan pemahaman dan pengertian di

antara satu sama lain.

Page 28: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

20

Sedangkan yang tidak memerlukan kesengajaan atau maksud tertentu

misalnya; komunikasi yang membuat dua atau beberapa orang memahami apa

yang menjadi monopoli satu atau beberapa orang lainnya); dan 3) Dimensi

penilaian normatif, adalah komunikasi yang memasukkan pernyataan

keberhasilan atau keakuratan (accuracy), misalnya, menganggap proses

komunikasi selalu berakhir dengan kesuksesan. Karena komunikasi adalah

pertukaran verbal dari pemikiran dan gagasan, asumsi ini diyakini bahwa

pemikiran atau gagasan itu selalu berhasil dipertukarkan.

Secara terminologi, menurut Carl I Hovland6 adalah: Upaya yang

sistematis untuk merumuskan secara tegar asas-asas penyampaian informasi

serta pembentukan pendapat dan sikap. Definisi Hovland, menunjukkan bahwa

yang dijadikan objek studi ilmu komunikasi bukan saja penyampaian informasi,

melainkan juga pembentukan pendapat umum (public opinion) dan sikap publik

(public attitude) yang dalam kehidupan sosial dan kehidupan politik memainkan

peranan yang amat penting. Hovland mengatakan bahwa komunikasi adalah

proses mengubah perilaku orang lain.

Sedangkan menurut Charles H. Cooley yang dikutip oleh Djoenaesih,

(1991 :15)7 mengemukakan konsep komunikasi, menurut definisnya yakni:

mekanisme yang mengadakan hubungan antara manusia mengembangkan semua

lambang dari pkiran bersama dengan arti yang menyertainya dan melalui

keleluasaan yang menyediakan tepat pada waktunya. Definisi lain seperti yang

6 Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi, h. 9-10.

7 Tommy Suprapto dan Fahrianoor, Komunikasi Penyuluhan; Dalam Teori dan Praktek,

(Jogjakarta: Arti Bumi Intaran, 2004), cet. I, h. 2.

Page 29: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

21

dikemukakan oleh Moor8 (1993: 78), yaitu penyampaian pengertian antar

individu. Menurutnya semua manusia dilandasi kapasitas untuk menyampaikan

maksud, hasrat, perasaan, pengetahuan dan pengalaman kepada orang lain. Wilbur

Schramm, menjelaskan komunikasi adalah proses saling berbagi informasi secara

bersama.9

Berdasarkan beberapa uraian tentang definisi dan pengertian komunikasi

tersebut di atas, jika disimpulkan, maka dapat digeneralisasi secara tegas, bahwa

komunikasi adalah proses penyampaian pesan dalam bentuk simbol atau lambang

yang melibatkan dua orang atau lebih yang terdiri atas pengirim (komunikator)

dan penerima (komunikan) dengan maksud untuk mencapai tujuan bersama

mengenai masalah atau persoalan masing-masing pihak.

2. Unsur-unsur Komunikasi

Komunikasi telah di definisikan sebagai usaha penyampaian pesan antar

manusia, dari pengertian komunikasi tersebut, tampak adanya sejumlah komponen

komunikasi yang pada dasarnya merupakan suatu persyaratan terjadinya proses

komunikasi, yang menjelaskan siapa? mengatakan apa? dengan saluran apa?

kepada siapa? dengan akibat atau hasil apa? (who? says what? in which channel?

to whom? with what effect?). (Lasswell 1960)10

. Lasswell mencoba menjelaskan

enam unsur komunikasi, yang diantaranya adalah:

8 Ibid, h. 3.

9 D. Lawrence Kincaid dan Wilbur Schramm, Azas-azas Komunikasi antar Manusia.

Penerjemah Agus Setiadi (Jakarta: LP3ES bekerja sama dengan East-West Communication

Institute, 1977), h. 6. 10

Djamalul Abidin Ass, Komunikasi dan Bahasa Dakwah, h. 16-17.

Page 30: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

22

1. Who? (siapa atau sumber atau komunikator)

Sumber atau komunikator adalah pelaku utama atau pihak yang

mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi atau yang memulai suatu komunikasi

(berbicara atau menulis), bisa seorang individu, kelompok, organisasi (surat kabar,

radio, televisi, film11

) dan lain sebagainya. Dalam proses komunikasi ini, arus

pesan tidak hanya datang dari satu arah saja yaitu dari sumber ke sasaran,

melainkan ada suatu proses interaktif dan konvergen. Ini berarti komunikator dan

komunikan bisa berganti peran (karena ada proses feedback yang terjadi).

Ada beberapa ciri yang dilakukan komunikator dalam melakukan

kegiatannya, sesuai dengan situasi yang dihadapi. Ciri-cirinya dapat dibedakan

dalam beberapa model seperti:12

a. Komunikator yang membangun: 1) Mau mendengar pendapat orang

lain; 2) Saling pengertian; 3) Mengadakan komunikasi timbal balik;

dan 4) Menganggap orang lain memiliki pikiran yang lebih baik.

b. Komunikator yang mengendalikan: 1) Pendapatnya dianggap paling

baik; dan 2) Meninginkan komunikasi satu arah saja.

c. Komunikator yang melepaskan diri: 1) Banyak menerima; 2) Merasa

rendah diri; 3) Lebih suka mendengar; dan 4) Suka melempar

tanggung jawab.

d. Komunikator yang menarik diri: 1) Bersifat pesimis; 2) Suka melihat

keadaan seadanya; dan 3) Jarang memberikan buah pikiran.

11 A. W. Widjaja, Komunikasi dan Hubungan Masyarakat (Jakarta: PT. Bina Aksara,

1986), h. 12. 12

Ibid, h. 13-14.

Page 31: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

23

2. Says What? (pesan)

Adapun yang dimaksud pesan dalam proses komunikasi adalah suatu

informasi yang akan dikirimkan kepada si penerima.13

Pesan dapat berupa verbal

atau non-verbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan atau maksud dari sumber.

Pesan verbal dapat berupa tulisan, seperti: surat, buku, majalah, memo, sedangkan

secara lisan dapat berupa percakapan tatap muka, melalui telepon, radio dan

sebagainya. Sedangkan pesan non verbal dapat berupa isyarat, gerakan badan,

ekpresi muka dan nada suara.14

Pesan yang disampaikan komunikator adalah pernyataan sebagai panduan

pikiran dan perasaan, dapat berupa ide, informasi, keluhan, keyakinan, imbauan,

anjuran, dan lain sebagainya. Pesan dapat disampaikan secara panjang, tetapi

perlu diperhatikan dan diarahkan pada tujuan dari komunikasi.15

Adapun pesan

yang dianggap berhasil disampaikan oleh komunikator harus memenuhi beberapa

syarat sebagai berikut:16

a) Pesan direncanakan secara baik serta sesuai dengan

kebutuhan pembaca; b) Pesan menggunakan bahasa yang dimengerti; dan c)

Pesan harus menarik minat dan kebutuhan pribadi penerima (kepuasan).

Pendapat lain mengatakan syarat-syarat pesan harus memenuhi:17

a)

Umum, Berisikan hal-hal umum dan mudah dipahami; b) Jelas dan gamblang,

tidak samar-samar, agar tidak salah tafsir; c) Bahasa yang jelas, menggunakan

istilah yang mudah dipahami; d) Positif; e) Seimbang, agar tidak berubah makna;

dan f) Penyesuaian dengan keinginan komunikan.

13 Anri Muhammad, Komunikasi Organisasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 17.

14 Ibid., h. 18.

15 Onong Uchyana Effendy, Dinamika Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,

2004), cet. Ke-6, h. 4. 16

Ibid., h. 15. 17

Ibid., h. 15-16.

Page 32: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

24

3. In Which Channel? (saluran atau media)

Adapun yang dimaksud media di sini adalah saluran yang digunakan untuk

menyampaikan pesan dari sumber kepada penerima.18

Wahana atau alat untuk

menyampaikan pesan dari komunikator (sumber) kepada komunikan (penerima)

baik secara langsung (tatap muka) maupun tidak langsung, menyangkut semua

peralatan mekanik. Tanpa saluran (media), pesan-pesan tidak dapat menyebar

secara cepat dan luas.19

Dengan demikian media dapat dibedakan menjadi dua, yaitu media massa

(surat kabar, majalah, radio, televisi) dan media personal (surat, telepon,

telegram).20

Pada dasarnya komunikasi yang sering dilakukan dapat berlangsung

menurut dua saluran, yaitu: 1) Saluran formal (resmi), mengikuti garis wewenang

dari suatu organisasi (dari tingkat paling tinggi ke tingkat paling bawah atau dari

bawah ke tingkat atas). Juga terdapat saluran yang bersifat mendatar (horisontal).

Saluran yang dipakai dalam berkomunikasi dapat terjadi 3 arah, yaitu: ke atas, ke

bawah, dan ke samping (disebut tiga dimensi);21

dan 2) Saluran informal (tidak

resmi) Saluran informasi ini berbentuk dari kabar angin yang timbul karena orang

ingin mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan dirinya, kelompoknya dan

lain-lain.22

18 I.B. Mantra, Komunikasi, (Jakarta: DepKes RI {Pusat Penyuluhan Kesehatan

Masyarakat}, 1994), h. 3. 19

Wiryanto, Teori Komunikasi Massa, (Jakarta: PT Grasindo, 2000), h. 7. 20

Onong Uchyana Effendi, Dinamika Komunikasi, h. 10. 21

A.W. Widjaja, Komunikasi dan Hubungan Masyaraka, h. 17. 22

Ibid., h. 18.

Page 33: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

25

4. To Whom? (untuk siapa atau penerima)

Komunikan atau penerima pesan adalah orang yang menjadi sasaran

kegiatan komunikasi. Komunikasi atau penerima pesan bisa bertindak sebagai

pribadi atau orang banyak.23

Komunikasi atau penerima pesan dapat dibedakan

menjadi 3 jenis yaitu sebagai berikut:24

1) Individu (sasaran tunggal); 2) Group

(kelompok), yang dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu: a) Kelompok kecil (small

group) yaitu sejumlah orang yang terlibat dalam interaksi satu sama lain dalam

suatu pertemuan yang bersifat tatap muka;25

b) Kelompok besar (large group)

adalah sekumpulan orang banyak (di sebuah lapangan); dan 3) Organisasi

(kumpulan sistem) yang berusaha mencapai tujuan tertentu.

5. With What Effect? (dampak atau efek)

Dampak atau efek dari suau komunikasi, yakni sikap atau tingkah laku

orang sebagai komunikan, sesuai atau tidak dengan yang diinginkan oleh

komunikator. Efek yang ditimbulkan dapat diklasifikasikan menurut kadarnya,

yakni:26

1) Dampak Kognitif, meningkatnya intelektual; 2) Dampak Afektif,

menimbulkan perasaan tertentu (misalnya, iba, terharu, sedih dan sebagainya; dan

3) Dampak Behavioral, dampak dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan.

23 YS. Gunadi, Himpunan Istilah Komunikasi, (Jakarta: Gramedia, 1998), h. 71

24 Stewart L. Tubbs-Sylvia Moss, Human Communication; Konteks-konteks Komunikasi,

Penerjemah Deddy Mulyana (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), h. 164. 25

Onong Uchyana Effendi, Dinamika Komunikasi, h. 72. 26

A.W. Widjaja, Komunikasi dan hubungan Masyarakat, h. 20.

Page 34: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

26

6. Umpan Balik (feed back)

Umpan balik (feed back) adalah tanggapan (reaksi) dari penerima kepada

pengirim. Kemudian dapat pula timbul tanggapan atau reaksi kembali dari

pengirim kepada penerima. Maka terjadilah komunikasi timbal balik. Dengan

adanya umpan balik inilah yang menjadikan komunikasi menjadi dinamis.27

Umpan balik memainkan peranan yang amat penting dalam komunikasi, sebab ia

menentukan berlanjutnya atau berhentinya komunikasi yang dilancarkan.28

Umpan balik dapat berwujud verbal dan non-verbal.29

Secara verbal misalnya

dengan menggunakan bahasa, sedangkan secara non-verbal misalnya dengan

isyarat.

3. Fungsi Komunikasi

Dalam kajian ilmu komunikasi banyak ahli mengemukakan pendapatnya

tentang fungsi-fungsi komunikasi. Dari berbagai pendapat yang berkembang,

misalnya pendapat Harold D. Laswell (1948)30

, yang secara terperinci fungsi-

fungsi komunikasi31

dikemukakan sebagai berikut: 1) Penjajagan (pengawasan

lingkungan); 2) Menghubungkan bagian-bagian yang terpisah dari msyarakat; dan

3) Menurunkan warisan sosial dari generasi ke generasi berikutnya.

27 Sutarto, Dasar-dasar Komunikasi Administrasi, (Yogyakarta: Duta Wacana University

Press, 1991), h. 46. 28

Onong Uchyana Effendi, Dinamika Komunikasi, h. 14. 29

A.W. Widjaja, Ilmu Komunikasi; Pengantar Studi, (Yogyakarta: Rineka Cipta, 2002),

h. 45. 30

Onong Uchaja Effendy, Ilmu Komunikasi, h. 27. 31

Paul Lazarfeld dan Robert K Merton mengemukakan fungsi komunikasi antara lain

penganugerahan status (status conferral), pengukuhan norma-norma, mengakhlakkan (ethcizing),

Jhon Vivian dalam bukunya The Media of Mass Comunication (1991) menyebutkan; (1) providing

information, (2) providing entertainment, (3) helping to persuade, dan (4) contributing to social

cohesion {mendorong kohesi sosial}. (Nurudin, 2010).

Page 35: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

27

Charles R. Wright (1988)32

menambahkan satu fungsi, yakni entertaiment

(hiburan) yang menunjukan pada tindakan-tindakan komunikatif yang terutama

sekali dimaksudkan untuk menghibur dengan tidak mengindahkan efek-efek

instrumental yang dimilikinya. Fungsi pengawasan yang menunjukkan

pengumpulan dan distribusi informasi baik di dalam maupun di luar masyarakat

tertentu. Tindakan menghubungkan bagian-bagian meliputi interpretasi informasi

mengenai lingkungan dan pemakainnya untuk berperilaku dalam reaksinya

terhadap peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian. Adapun fungsi warisan sosial

berfokus pada pengetahuan, nilai dan norma sosial.

Apabila komunikasi dipandang dari arti yang lebih luas, tidak hanya

diartikan sebagai pertukaran berita dan pesan, tetapi sebagai kegiatan individu dan

kelompok mengenai tukar menujar data, fakta, dan ide, maka fungsi komunikasi

dalam tiap sistem sosial adalah sebagai berikut:33

(a) Informasi, pengumpulan,

penyimpanan, penyebaran (berita, data, gambar, fakta dan pesan, opini dan

komentar); (b) Sosialisasi (pemasyarakatan), Penyediaan sumber ilmu

pengetahuan yang memungkinkan orang sadar akan fungsi sosial, sehingga ia

dapat aktif di dalam masyarakat; (c) Motivasi, Mendorong orang menentukan

pilihannya dan keinginannya; (d) Perdebatan dan diskusi, saling menukar fakta;

(e) Pendidikan: Pengalihan ilmu pengetahuan; (f) Memajukan kebudayaan; (g)

Hiburan; (h) Integrasi, menyediakan berbagai pesan yang diperlukan, agar saling

kenal dan mengerti dan menghargai kondisi, pandangan, dan keinginan orang lain.

dari beberapa pendapat.

32 Nurudin, Sistem Komunikasi Indonesia, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010), h.

16. 33

Onong Uchaja Effendy, Ilmu Komunikasi, h. 27-28.

Page 36: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

28

B. Pola Komunikasi

Komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada

satu penerima atau lebih dengan maksud mengubah perilaku. Sehubungan dengan

kenyataan bahwa komunikasi adalah suatu yang tidak bisa dipisahkan dari

aktivitas seorang manusia34

. Maka, ilmu komunikasi adalah bagian dari ilmu

sosial. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa sistem komunikasi menjadi

subsistem dari sistem sosial Indonesia.35

Artinya, corak sistem komunikasi dalam

masyarakat Indonesia akan sangat ditentukan oleh corak, bentuk dan keragaman

masyarakat Indonesia itu sendiri. 36

Dalam komunikasi dikenal pola-pola tertentu sebagai manifestasi perilaku

manusia dalam berkomunikasi. Ditinjau dari pola yang dilakukan, ada beberapa

jenis yang dikemukakan. Beberapa sarjana Amerika membagi pola komunikasi

menjadi lima, yakni komunikasi antar pribadi (interpersonal communication),

komunikasi kelompok kecil (small group communication), komunikasi organisasi

(organizational communication), komunikasi massa (mass communication) dan

komunikasi publik (public communication).37

Istilah pola komunikasi biasa

disebut sebagai model, yaitu sistem yang terdiri atas berbagai komponen yang

berhubungan satu sama lain untuk mencapai tujuan secara bersama. Joseph A.

Devito membagi pola komunikasi menjadi empat, yakni komunikasi antarpribadi,

komunikasi kelompok kecil, komunikasi publik, dan komunikasi massa.38

34 Nurudin, Sistem Komunikasi Indonesia, h. 26-27.

35 Ibid, h. 6.

36 Ibid, h. 7.

37 Ibid, h. 27-28.

38 Ibid, h. 28

Page 37: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

29

Pola komunikasi yang menjadi fokus penulis dalam menyusun karya tulis

ini adalah, dibatasi pada pola komunikasi antar pribadi. Namun, guna

membedakan pola komunikasi yang berkembang di dunia (khususnya di

Indonesia) saat ini, penulis akan coba membahas secara ringkas, beberapa pola

komunikasi yang ada, antara lain komunikasi dengan diri sendiri, komunikasi

kelompok dan komunikasi massa. Beberapa pola komunikasi tersebut, nyata telah

mampu membentuk sebuah arus komunikasi tersendiri. Sementara “komunikasi

antarpribadi” akan penulis bahas secara terpisah demi kesempurnaan (kebutuhan)

karya tulis yang ini. Pola-pola komunikasi tersebut antara lain:

a. Komunikasi dengan Diri Sendiri

Menurut Hafied Changara,39

dalam buku ilmu Komunikasi (28:2000),

terjadinya proses komunikasi ini karena adanya seseorang yang

menginterpretasikan sebuah objek dan dipikirkannya. Objek tersebut bisa

berwujud benda, informasi, alam, peristiwa, pengalaman, atau fakta yang

dianggap berati bagi manusia. Berbagai objek tersebut bisa terjadi pada diri

sendiri dan di luar manusia. Kemudian objek itu diberi arti, diinterpretasikan

berdasarkan pengalaman yang berpengaruh pada sikap dan perilaku dirinya. Oleh

karena masing-masing orang berbeda dalam memberi interpretasi dan kepekaan

diri, maka masing-masing orang berbeda pula dalam proses penentuan tindakan

apa yang akan dilakukan.

Ada tanda-tanda umum, dimana komunikasi dengan diri sendiri dapat

dibedakan, yaitu; 1) keputusan merupakan hasil berpikir atau hasil usaha

39 Ibid, h. 30.

Page 38: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

30

intelektual; 2) keputusan selalu melibatkan pilihan dari berbagai alternatif; 3)

keputusan selalu melibatkan tindakan nyata, walaupun pelaksanaannya boleh

ditangguhkan atau dilupakan (Rakhmat, 1999).

b. Komunikasi Kelompok

Sesuatu dikatakan komunikasi kelompok karena, pertama, proses

komunikasi hal mana pesan-pesan yang disampaikan oleh seorang kepada

khalayak dalam jumlah yang lebih besar pada tatap muka. Kedua, komunikasi

berlangsung kontinyu dan bisa dibedakan mana sumber dan mana penerima. Hal

ini menyebabkan komunikasi sangat terbatas sehingga umpan baliknya juga tidak

leluasa karena waktu terbatas dan khalayak relatif besar. Ketiga, pesan yang

disampaikan terencana (dipersiapkan) dan bukan spontanitas untuk segmen

khalayak tertentu.40

Dalam komunikasi kelompok kita mengenal seminar, diskusi panel,

pidato, simposium, forum, curahsaran, rapat akbar, pentas seni tradisional di desa,

pengarahan dan ceramah dengan khalayak besar. Dengan kata lain komunikasi

sosial antara tempat, situasi, dan sasarannya jelas.41

c. Komunikasi Massa

Para ahli komunikasi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan

komunikasi massa (mass communication) adalah komunikasi melalui media

massa. Jelasnya merupakan singkatan dari komunikasi media massa (mass media

40 Ibid.

41 Onong Uchaja Effendy, Ilmu Komunikasi, h. 7.

Page 39: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

31

communication).42

Para ahli komunikasi membatasi pengertian komunikasi massa

pada komunikasi dengan menggunakan media massa, misalnya surat kabar,

majalah, radio, televisi, atu film.43

Sehubungan dengan itu, dalam berbagai

literatur sering dijumpai istilah mass communications (pakai s) selain mass

communication (tanpa s). Arti mass communications sama dengan mass media

atau dalam bahasa Indonesia media massa. Sedangkan yang dimaksud dengan

mass communication adalah proses, yakni proses komunikasi melalui media

massa.

Seperti ditegaskan di atas, media massa dalam cakupan pengertian

komunikasi massa adalah surat kabar, majalah, radio, televisi, atau film.44

Menurut Michael W. Gamble dan Teri Kwal Gamble (1986)45

dalam bukunya

Introducing Mass Communication. Sesuatu bisa dikatakan komunikasi massa jika

mencakup; 1) Peralatan modern; 2) Berbagi pengertian dengan jutaan orang46

; 3)

Pesan adalah publik. Artinya, diidapatkan oleh banyak orang (bukan untuk

sekelompok orang); 4) Sebagai sumber, komunikator massa biasanya organisasi

formal seperti jaringan, ikatan atau perkumpulan; 5) Komunikasi massa dikontrol

oleh gate keeper (pentapis informasi). Artinya, pesan yang disampaikan atau

dipancarkan dikontrol oleh sejumlah individu dalam lembaga tersebut; dan, 6)

Umpan balik dalam komunikasi massa sifatnya tertunda.

42 Hal ini berbeda dengan pendapat ahli psikologi sosial yang menyatakan bahwa

komunikasi massa tidak selalu menggunakan media massa. Menurut mereka pidato di hadapan

sejumlah orang banyak di sebuah lapangan, misalnya, asal menunjukan perilaku massa (mass

behavior), itu dapat dikatakan komunikasi massa. (Onong U. Effendy, 2009:20). 43

Onong Uchaja Effendy, Ilmu Komunikasi, h. 20. 44

Ibid. 45

Nurudin, Sistem Komunikasi Indonesia, h. 35-36. 46

Anonomitas audience dalam komunikasi massa inilah yang membedakan jenis

komunikasi ini dengan yang lain.

Page 40: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

32

C. Pola Komunikasi Antar Pribadi

Menurut sifatnya komunikasi antar persona dibedakan menjadi dua, yakni

komunikasi diadik (dyadic communication) dan komunikasi kelompok kecil

(small communication group). Komunikasi diadik adalah proses komunikasi yang

berlangsung antara dua orang dalam situasi tatap muka yang dilakukan melalui

tiga bentuk percakapan, wawancara, dan dialog. Adapun komunikasi kelompok

kecil adalah proses komunikasi yang berlangsung antara tiga orang atau lebih

secara tatap muka, dan anggota-anggotanya berinteraksi satu sama lain.47

Contoh di atas dikatakan sebagai komunikasi antar pribadi. Sebab

pertama, anggotanya terlibat dalam proses komunikasi tatap muka. Kedua,

pembicaraan berlangsung secara terpotong-potong karena peserta bebas berbicara

disebabkan kedudukannya relatif sama. Dengan kata lain tidak ada pembicara

tunggal yang mendominasi. Ketiga, sumber dan penerima sulit dibedakan dan

diidentifikasi. Antar anggota saling mempengaruhi satu sama lain.48

Sebagai sebuah komunikasi tatap muka, tujuan komunikasi antarpribadi

adalah untuk49

: 1) Mengenal diri sendiri dan orang lain; 2) Mengetahui dunia luar;

3) Menciptakan dan memelihara hubungan menjadi bermakna; 4) Mengubah sikap

dan perilaku; 5) Bermain dan mencari hiburan; dan 6) Membantu orang lain

(Widjaja, 2000). Komunikasi antar pribadi merupakan satu proses sosial di mana

orang-orang yang terlibat di dalamnya saling mempengaruhi. Sebagaimana

diungkapkan oleh Devito yang dikutip oleh Alo Liliweri dalam buku Komunikasi

Antar Pribadi, bahwa komunikasi antar pribadi merupakan pengiriman pesan-

47 Ibid, h. 31-32.

48 Ibid, h. 31

49 Ibid.

Page 41: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

33

pesan dari seseorang dan diterima oleh orang lain, atau sekelompok orang dengan

efek dan umpan balik yang langsung.50

Asumsi dasar komunikasi antar pribadi adalah bahwa setiap orang yang

berkomunikasi akan membuat prediksi tentang efek atau perilaku komunikasinya,

yaitu bagaimana pihak yang menerima pesan memberikan reaksi. Jika menurut

persepsi komunikator reaksi komunikan menyenangkan atau positif, maka itu

merupakan suatu pertanda bagi komunikator, komunikasinya berhasil. Menurut

Gerald R. Miller dan Mark Steinberg, ada tiga tingkatan analisis yang digunakan

dalam melakukan prediksi, yaitu tingkat kultural, tingkat sosiologis, dan tingkat

psikologis.51

Tiap tingkat dapat dibedakan oleh jenis data yang digunakan dalam

melakukan prediksi. Tingkatan-tingkatan analisis dikaitkan dengan jumlah

informasi yang diperoleh pada tiap tingkatan. Jika komunikasi makin mengarah ke

tingkat individu, maka makin banyak informasi yang diperlukan. Pada umumnya

dalam interaksi komunikasi, individu akan bergerak dari tingkat kultural ke

sosiologis dan akhirnya ke tingkat psikologis.

a. Analisis Pada Tingkat Kultural

Pada analisis tingkat kultural, guna mencapai efek yang diharapkan,

komunikator dalam melakukan prediksi paling tidak harus mengerti dan

memahami kultur, terutama yang bersifat imaterial dari pihak yang diajak

berkomunikasi. Dengan mengenali atau menguasai kultur yang imaterial (bahasa

50 Alo Liliweri, Komunikasi Antar Pribadi, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1991), h. 12.

51 M. Budyatna dan Nina Mutmainnah, Komunikasi Antar Pribadi, (Jakarta: Universitas

Terbuka, 2004), h. 1-4.

Page 42: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

34

dan adat istiadat) seseorang mampu berkomunikasi dengan pihak lain secara baik.

Yang diperlukan untuk dapat berkomunikasi dengan pihak lain adalah adanya

persamaan kultur.

Bila tidak memiliki persamaan kultur, maka pelaku komunikasi mampu

memahami kultur pihak lain (bahasa) sebagai alat komunikasi. Selain itu,

penguasaan norma dan adat istiadat pihak lain sangat membantu untuk kelancaran

proses dan interaksi komunikasi. Prediksi mengenai efek komunikasi yang

diharapkan pada tingkatan kultural ini akan mengalami kegagalan, bila

mengabaikan pengalaman atau kultur pihak lain. Hal ini juga disebabkan oleh

pemaksaan pengalaman komunikator kepada komunikan. Terutama bila

komunikator berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda kultur.

b. Analisis Pada Tingkat Sosiologis

Apabila komunikator melakukan prediksi mengenai reaksi komunikan

terhadap pesan yang ia sampaikan berdasarkan keanggotaan komunikan dalam

kelompok sosial tertentu, maka dapat dikatakan bahwa komunikator melakukan

prediksi pada tingkat sosiologis. Keanggotaan kelompok terdiri dari mereka yang

memiliki kesamaan karakteristik tertentu. Sama halnya dengan keanggotaan

seseorang dalam kultur tertentu, maka anggota kelompok menampilkan pula pola-

pola perilaku dan nilai-nilai yang membedakannya dengan kelompok lain. Para

anggota dalam kelompok atau suatu kultur tertentu harus menaati norma-norma

dan nilai-nilai tertentu yang dikenakan kepadanya.

Adapun yang membedakan antara kelompok dengan kultur adalah pada

segi jumlah. Pada umumnya, jumlah anggota kelompok lebih kecil daripada

Page 43: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

35

anggota dalam kultur tertentu. Para anggota dari suatu kultur tertentu dapat

menjadi anggota dari berbagai kelompok. Namun, prediksi terhadap reaksi

komunikan pada tingkat sosiologis mengandung kelemahan, karena prediksi yang

dilakukan hanya menyangkut aspek nilai dan norma yang dianut oleh suatu

kelompok yang dijadikan obyek prediksi. Oleh karena itu, ketelitian dalam

melakukan prediksi terhadap suatu kelompok merupakan suatu keharusan.

c. Analisis Pada Tingkat Psikologis

Apabila prediksi yang dibuat komunikator terhadap reaksi komunikan

sebagai akibat menerima suatu pesan yang didasarkan pada analisis pengalaman

individual yang unik dari komunikan, maka dapat dikatakan komunikator

melakukan prediksi pada tingkat psikologis. Dua atau lebih individu yang

seringkali melakukan interaksi komunikasi yang mendasarkan prediksinya

terhadap satu sama lain dengan menggunakan data psikologis ini menunjukkan

bahwa mereka telah mengerti dengan baik karakteristik yang unik dan kepribadian

masing-masing dan bukan hanya sekedar mengenal satu sama lain dengan atribut

kultural atau peran psikologis.

Tiap individu mempunyai kepribadian dan watak yang tidak pernah sama

dengan yang lain, dan ini merupakan hasil tempaan atau terbentuk berdasarkan

pengalaman masa lalu. Apabila dua individu satu sama lain bisa saling mengerti

serta memahami kepribadian dan watak masing-masing, dapat dikatakan bahwa

satu sama lain berkomunikasi melakukan prediksi atas data psikologis. Namun,

analisis pada tingkatan psikologis memiliki hambatan berupa kecenderungan

Page 44: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

36

komunikator untuk melihat orang lain pada pola yang terbentuk pada diri

komunikator berdasarkan pengalaman kontak dengan orang-orang sebelumya.

Prediksi pada tingkatan psokologis memerlukan analisis yang cermat dan

hati-hati mengenai perilaku seseorang dan tidak boleh dikaitkan dengan perilaku

orang lain yang pernah melakukan kontak dengan komunikan sebelumnya. Pada

tingkat ini, dalam melakukan prediksi, komunikator melakukan generalisasi

rangsangan, yakni mencari kesamaan di antara para pelaku komunikasi lain.

Komunikasi antar pribadi jauh lebih jarang dilakukan daripada komunikasi non

antar pribadi. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: a) Butuh waktu

lama (mengenal watak pribadi masing-masing): b) kecenderungan memilih

tingkat kultural dan sosiologis dalam melakukan prediksi pertama terhadap reaksi

komunikan; dan c) kemampuan individu yang berbeda untuk berkomunikasi.

Hubungan komunikasi antar pribadi maupun non antar pribadi dapat

dibedakan berdasarkan tiga hal, yaitu: 1) Norma yang mengatur hubungan; 2)

Kriteria untuk menentukan hubungan; dan 3) Tingkat kebebasan individu. Pada

setiap bentuk komunikasi memperlihatkan adanya gaya-gaya kognitif tertentu

yang dimiliki oleh seseorang. Gaya kognitif tersebut dapat menentukan arah

perkembangan komunikasi menuju ke arah komunikasi antar pribadi atau justru

menghambatnya. Dalam proses komunikasi antarpribadi, di mana individu

berusaha membangun (membentuk) keyakinan dan sikapnya tentang dunia

sekitarnya dan cara-cara ia memproses dan memberikan reaksi terhadap informasi

yang masuk (diterimanya).

Gaya kognitif yang menunjukkan toleransi rendah dalam komunikasi

terdiri dari otoriter dan dogmatis. Hal tersebut berakibat pada hilangnya

Page 45: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

37

kesempatan untuk mengembangkan hubungan antar pribadi yang penuh arti.

Sedangkan orang yang bersifat dogmatis cenderung melakukan suatu generalisasi

yang salah. Adapun gaya kognitif yang positif dapat membantu pencapaian tahap

komunikasi antar pribadi yang empati. Empati terjadi jika dua individu saling

mengenali kebutuhan satu sama lain dan memberikan respon terhadap hal

tersebut. Proses empati meliputi dua tahap, yaitu:52

1) Pengempati yang prospektif

harus mampu membedakan secara tepat bahwa cara-cara bermotivasi dan bersikap

setiap individu akan berbeda dengan individu lainnya; dan 2) Pembedaan secara

tepat harus diikuti oleh perilaku yang diinginkan atau bermanfaat bagi mereka

yang menjadi objek suatu prediksi.

Umunya, tahap pertama tersebut berhasil dilewati oleh komunikator, tetapi

kebanyakan mengalami kegagalan pada tahap kedua. Hal ini disebabkan oleh

persepsi komunikator yang tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan atau

bermanfaat bagi komunikan. Proses empati dapat dilihat dari segi transaksional

yang melibatkan empat unsur penting yaitu, 1) rangsangan yang memaksa

seseorang untuk melakukan suatu tindakan; 2) mengarahkan perilaku, yang sering

diartikan dengan isyarat; 3) Respon, yaitu perilaku yang diakibatkan oleh isyarat;

dan 4) imbalan, sebagai akibat dari respon tertentu. Dan hal terpenting yang harus

dilakukan oleh komunikator adalah mengembangkan kemampuan membedakan

isyarat.53

Kecakapan empati juga harus didukung oleh konsep diri (self concept)

yang positif agar proses komunikasi tersebut berjalan lancar, karena salah satu ciri

dari konsep diri yang positif adalah keterbukaan.54

52 Ibid., h. 5.14.

53 Ibid., h. 15.

54 Ibid., h. 16.

Page 46: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

38

Adapun untuk melihat tingkat keterbukaan dan kesadaran tentang self

(diri), dapat digunakan model Johari Window. Model ini mengatakan bahwa

manusia terdiri dari empat self, yaitu: open (aspek diri yang kita ketahui dan juga

diketahui oleh orang lain), blind (aspek diri yang tidak kita ketahui tapi diketahui

oleh orang lain), hidden (aspek diri kita yang tersembunyi dari orang lain, dan

hanya kitas sendiri yang mengetahuinya), dan unknown (aspek diri kita yang tidak

diketahui oleh siapapun baik oleh diri kita sendiri maupun orang lain). Masing-

masing self saling bergantung satu sama lain, karena perubahan pada satu daerah

self akan menimbulkan perubahan di tempat lainnya.55

Aspek lain yang menjadi ciri dari tercapainya tahap komunikasi antar

pribadi selain self concept adalah perilaku komunikasi di mana individu

menyampaikan informasi tentang dirinya kepada orang lain secara sengaja dan

sukarela. Biasanya, informasi yang diungkapkan adalah yang bersifat sangat

pribadi.56

Perilaku ini memiliki berbagai dimensi, yaitu, ukuran (kualitas positif

atau negatif), kecermatan dan kejujuran, tujuan, dan keintiman. Sedangkan faktor-

faktor yang mempengaruhi adalah efek diadik, ukuran audience, topik yang

dibahas, kualitas, jenis kelamin, rasa dan kebangsaan, usia, serta mitra. Meskipun

amat positif bagi keberhasilan komunikasi antar pribadi, tetapi perilaku ini jarang

dilakukan individu. Terdapat hambatan yang sering menghalangi individu untuk

melakukannya, di antaranya adalah kekhawatiran akan hukuman dan pengetahuan

diri.57

55 Ibid., 7.4.5.6.

56 Ibid., h. 11.

57 Ibid., h. 19-20.

Page 47: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

39

Terdapat beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam melakukan self

disclosure, antara lain adalah: motivasi, ketepatan, membuka kesempatan untuk

respon yang terbuka, kejelasan dan kelangsungan sikap orang lain, dan

mempertimbangkan kemungkinan timbulnya masalah. Adapun sebagai mitra, ada

beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu58

: 1) Mendengar secara efektif dan aktif;

2) Mendukung pembicara; 3) Memperkuat perilaku; 4) Menjaga kerahasiaan; dan

5) Tidak menggunakan penyingkapan diri yang dilakukan seseorang sebagai

senjata untuk melawannya. Proses munculnya konsep diri dan perilaku diri

merupakan upaya untuk meningkatkan arah hubungan komunikasi menjadi

komunikasi antar pribadi yang ditandai dengan meningkatnya keintiman antara

komunikator dengan komunikan.

Proses meningkatnya keintiman dalam hubungan tersebut diistilahkan

dengan penetrasi sosial, yang memiliki dua anggapan. Pertama, interaksi yang

bersifat antar pribadi mengalami kemajuan (perkembangan) secara bertahap,

Altman dan Taylor menyatakan bahwa ada empat tahap perkembangan yang

berkaitan dengan anggapan pertama, yaitu:59

1) Orientasi ; berisi komunikasi yang

impersonal (mengemukakan informasi yang umum); 2) Menuju pertukaran afektif

(bergerak ke tahap yang lebih dalam); 3) Pertukaran afektif (memusatkan

perasaan pada tingkat yang lebih dalam) dan 4) Pertukaran stabil atau tetap

(ditandai oleh derajat keintiman yang tinggi, para partisipan berhak untuk

memprediksikan perilaku mitranya dan memberikan respon).

58 Ibid.

59 Ibid., h. 9.4.

Page 48: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

40

Kedua, peningkatan dari suatu hubungan sangat bergantung kepada jumlah

dan sifat dari imbalan (reward) dan biaya (cost). Pada setiap hubungan yang

dikembangkan, individu selalu mempertimbangkan kemungkinan yang muncul

berdasarkan imbalan dan biaya dari hubungan tersebut. Imbalan mengacu pada

kenikmatan, kepuasan, dan imbalan yang dinikmati oleh seseorang. Adapun biaya

mengacu pada faktor yang menghambat, seperti kegelisahan atau hal-hal yang

memalukan. Dalam proses penetrasi sosial perlu dilihat struktur kepribadian

individu, yakni kumpulan dan gagasan, perasaan, dan emosi individu tentang

dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungan (dunia luar). Struktur kepribadian

individu memiliki dua dimensi, yaitu : dimensi luas dan dimensi dalam. Dimensi

luas memiliki dua aspek kategori luas dan frekuensi luas. Kategori luas adalah

daerah-daerah umum yang berisi aspek-aspek tertentu, seperti keluarga.60

Frekuensi luas adalah aspek-aspek yang khusus dalam kategori luas,

seperti ukuran keluarga atau hubungan antara anggota keluarga. Salah satu aspek

penting dalam hal ini adalah luas waktu, yaitu jumlah waktu yang digunakan

dalam suatu interaksi.61

Dimensi kedalam (depth) dari kepribadian menyebutkan

bahwa struktur kepribadian berlapis-lapis, dari yang paling permukaan hingga

yang paling dalam (intim). Dalam interaksi, setiap orang bergerak dari hal-hal

yang impersonal ke bagian kepribadian yang makin dalam secara timbal balik.62

Setiap hubungan tidak selalu makin intim atau mengalami proses

penetrasi. Hal yang sebaliknya juga bisa terjadi, yang dikenal sebagai depenetrasi.

Suatu hubungan bisa melemah dan putus dengan proses yang merupakan

60 Ibid., h. 9.10-9.11.

61 Ibid., h. 9.11.

62 Ibid.

Page 49: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

41

pembalikan dari penetrasi. Dalam depenetrasi, hubungan bergerak dari tingkat

yang akrab ke tingkat yang tidak akrab atau dari tingkat pribadi ke tingkat yang

impersonal sifatnya. Tingkat melemah (putusnya hubungan) diprediksikan sebagai

fungsi dari sifat imbalan dan biaya dalam suatu hubunga. Jika suatu hubungan

antar pribadi diprediksikan tidak menghasilkan keuntungan, maka peluang

putusnya suatu hubungan makin besar dibandingkan jika hubungan tersebut

menguntungkan. Begitu pula sebaliknya, yaitu bahwa semakin besar keuntungan

yang diperoleh dalam suatu hubungan antar pribadi, maka makin besar peluang

suatu hubungan diteruskan.

D. Hubungan Dokter dengan Pasien

1. Komunikasi antara Dokter dengan Pasien sebagai bentuk Hubungan

Komunikasi Antar Pribadi

Pada hakekatnya, hubungan antar dokter dengan pasien tidak dapat terjadi

tanpa melalui komunikasi, termasuk dalam pelayanan medis, komunikasi

merupakan proses timbal balik yang berkesinambungan yang menyangkut dua

pihak.63

Pihak-pihak yang bersangkutan secara bergantian berperan menjadi

pemberi informasi (pembicara/komunikator) dan penerima informasi (penerima).

Secara umum, dalam berkomunikasi orang berusaha menyampaikan pandangan,

perasaan dan harapannya kepada orang lain. Komunikasi ini dapat terjadi antara

dua individu, antar kelompok atau antar individu dan kelompok. Hal-hal seperti

ini dapat menimbulkan kerancuan dalam proses komunikasi, sehingga pesan yang

63 Veronica Komalawati, Peranan Informed Consent Dalam Transaksi Terapeutik;

Persetujuan dalm Hubungan Dokter dan Pasien; Suatu Tinjauan Yuridis, (Bandung: Citra Aditya

Bakti, 1999), h. 47.

Page 50: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

42

ingin disampaikan oleh kedua belah pihak tidak dapat mencapai sasaran seperti

yang diharapkan.

Menurut Persons yang dikutip oleh Solita Sarwono dalam buku Sosiologi

Kesehatan, bahwa antara dokter dengan pasien berada dalam sistem emosional :

sakit, bingung, takut, depresif atau bahkan pasien sudah tidak dapat

berkomunikasi karena dalam keadaan tidak sadar.64

Berdasarkan keterangan

tersebut, jelas terlihat bahwa hubungan dokter dengan pasien dapat berbeda-beda

sifatnya, dan untuk setiap model diperlukan teknik komunikasi yang berbeda pula.

Jika dokter dan paramedis tidak memperhitungkan hal ini, maka komunikasi

dengan pasien tidak akan efektif dan optimal.

Hal-hal yang dapat menghambat komunikasi antara dokter dan paramedis

dengan pasien, antara lain adalah:65

1) penggunaan sombol (istilah-istilah medis

atau ilmiah yang diartikan secara berbeda, tidak dimengerti oleh pasien); 2)

Pseudo-komunikasi (tetap berkomunikasi dengan perbedaan persepsi atau

pemahaman tentang hal yang dibicarakan). Karakter-karakter dokter yang tidak

tepat dapat menghambat terjalinnya komunikasi secara baik dengan pasien

(masyarakat). Antara lain, perbedaan status sosial, harapan masyarakat terhadap

kemampuan dokter serta kecenderungan sikap otoriter, terutama dalam mengatasi

penyebaran penyakit akut. Selain itu, di Indonesia seringkali dokter ditempatkan

di daerah yang keadaan sosial dan budayanya tidak sama dengan latar belakang

sosial budaya dokter.

64 Ibid., h. 46.

65 Ibid., h. 48.

Page 51: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

43

Dengan demikian kesulitan berkomunikasi akan bertambah, sebab dokter

tidak menguasai bahasa setempat dan tidak mnegenal budaya masyarakat dimana

ia ditempatkan. Untuk itu diperlukan kemauan untuk mempelajari bahasa dan

budaya masyarakat setempat, agar dokter tidak dianggap orang lain (asing) oleh

penduduk asli. Sehingga komunikasi dengan masyarakat (pasien) dapat menjadi

lebih baik dan lancar.

2. Peran Dokter dalam Proses Penyembuhan

Dalam melakukan perannya sebagai seorang yang memiliki kopetensi

untuk mengobati orang-orang yang sakit, dokter melaksanakan beberapa fungsi

utama, sebagai berikut:66

a) Menerapkan peraturan umum atau khusus yang harus

ditaati oleh pasien; b) Membina interaksi dengan pasien secara luas dan membaur,

atau terbatas pada fungsinya sebagai dokter; c) Melibatkan emosi atau perasaan

dan bersikap netral dalam hubungannya dengan pasien. Mengutamakan

kepentingan diri sendiri atau kepentingan bersama; dan d) Memandang manusia

berdasarkan kualitas atau prestasinya.

Pengetahuan dan keterampilan khusus dalam penyembuhan penyakit yang

dimiliki oleh dokter menjadikannya mendapat kepercayaan dari pasien untuk

melakukan tindakan yang dalam situasi biasa tidak dapat diterima oleh norma

sosial, misalnya memeriksa bagian tubuh yang paling pribadi. Meskipun dokter

menganggap dirinya serba tahu, kebanyakan pasien, apalagi pasien yang sangat

66 Solita Sarwono, Sosiologi Kesehatan; Beberapa Konsep Beserta Aplikasinya,

(Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1997), h. 42.

Page 52: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

44

percaya kepada keahliannya, akan menganggap dokter sebagai orang yang tahu

tentang segala hal dan dapat menyembuhkan segala penyakit.67

Dalam kenyataannya, di lapangan, tugas dokter kadang-kadang memaksa

mereka untuk memperlakukan pasiennya secara berbeda, tergantung dari tingkat

sosial pasien.68

Misalnya, jika seseorang yang status sosialnya lebih tinggi

mengalami gangguan kesehatan di kediamannya, dokter akan dengan mudah

meluang waktu datang ke rumah tersebut untuk mengobati gangguan kesahatan

orang-orang kaya. Berbanding terbalik dengan orang-orang yang berstatus sosial

rendah, masyarakat biasa diminta bahkan harus datang sendiri ke rumah sakit, bila

ingin berobat (sembuh).

Hal ini menunjukan bahwa dokter tidak lagi bersikap netral dalam

menggunakan tanggung jawab, dokter lebih menggunakan afeksinya. Kesuksesan

dokter dalam menangani keluhan pasien tidak saja terletak pada hasil pendidikan

dan kemahirannya dalam bidang kedokteran, melainkan ditentukan oleh unsur-

unsur pribadi dokter itu sendiri dan harapan atau pandangan pasien dan

masyarakat yang dilayaninya.69

Peran dokter dalam hubungannya dengan pasien

dapat dikategorikam menurut intensitas harmoni atau adanya konflik antara kedua

belah pihak. Menurut Parsons, meskipun keduanya mempunyai tujuan yang sama,

yaitu kesembuhan si pasien, hubungan antara dokter dengan pasien bersifat

asimetris.70

Dalam hal ini, dokter mempunyai kedudukan yang lebih kuat atau lebih

tinggi karena pengetahuannya di bidang medis, sedangkan si pasien biasanya

67 Ibid., h. 43.

68 Ibid., h. 44.

69 Ibid., h. 45.

70 Ibid., h. 46.

Page 53: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

45

awam dalam bidang itu serta sangat membutuhkan pertolongan dokter. Pada

dasarnya ada tiga pola dasar hubungan dokter dengan pasien, yaitu;

a. Pola dasar hubungan aktif-pasif

Secara historis, hubungan ini paling dikenal dan merupakan pola klasik

sejak profesi kedokteran mulai mengenal kode etik yaitu sejak zaman Hipokrates,

sekitar 25 abad yang lalu.71

Hubungan aktif-pasif terjadi bilamana pasien berada

dalam kondisi yang bereaksi atau turut berperan serta dalam relasi itu. Dalam hal

ini pasien benar-benar merupakan obyek yang hanya menerima apa saja yang

diberikan dokter kepadanya.72

Secara sosial, hubungan ini bukanlah hubungan

yang sempurna, karena hubungan ini menandakan hubungan satu arah, yaitu, dari

dokter kepada pasien, sehingga pihak yang lain tidak dapat melakukan fungsi dan

peran secara aktif. Dalam keadaan tertentu, pasien tidak dapat berbuat sesuatu,

hanya berlaku sebagai resipien atau penerima belaka, seperti pada waktu pasien

diberi anestesi atau narkose ketika pasien dalam keadaan tidak sadarkan diri atau

koma dan pada waktu pasien diber pertolongan darurat setelah kecelakaan.

Berdasarkan contoh tersebut, pasien sekedar menjadi penerima pelayanan,

tidak dapat memberikan respon dan tidak dapat menyampaikan satu pesan.

Hubungan aktif-pasif ini juga dapat terlihat pada hubungan orang tua dengan

anaknya yang masih kecil yang hanya menerima semua hal yang dilakukan orang

tua terhadapnya. Anak tidak dapat memberikan respon atau berperan aktif

sehingga seluruh interaksi hanya bergantung pada orang tua.

71 Benyamin Lumentu, Pasien; Citra, Peran dan Perilaku; Tinjauan Fenomena Sosial,

(Yogyakarta: Kanisius, 1989), h. 46 72

Solita Sarwono, Sosiologi Kesehatan, h. 46.

Page 54: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

46

b. Pola dasar hubungan membimbing-kerja sama

Pola dasar ini ditemukan pada sebagian besar hubungan pasien dengan

dokter, yakni, bila keadaan penyakit pasien tidak terlalu berat, misalnya penyakit

infeksi dan berbagai penyakit akut lainnya.73

Dalam hal ini, walaupun pasien

sakit, ia tetap sadar dan tetap memiliki perasaan dan kemauan pribadi. Hubungan

tersebut serupa dengan hubungan orang tua dengan anak remaja. Orang tua

memberi nasehat dan membimbing, sedangkan anak yang sudah remaja akan

bekerja sama dengan mengikuti nasehat dan bimbingan orang tuanya. Hubungan

membimbing-kerja sama ini, sama juga dengan hubungan pimpinan perusahaan

dengan pegawai, yang satu memberikan bimbingan, yang lain bekerja sama

sebagai suatu respon aktif. Adapun yang membedakan kedua pihak dalam

hubungan ini ialah adanya kekuasaan yang dimiliki pihak yang satu (pengetahuan

kedokteran, kepemimpinan) dan kemampuan atau kemauan yang dimiliki pihak

lain untuk menuruti (nasehat atau bimbingan).74

c. Pola dasar hubungan saling berperan serta

Secara filosofis, pola ini berdasarkan pada pendapat bahwa semua manusia

memiliki hak dan martabat yang sama. Hubungan ini lebih berdasar pada struktur

sosial yang demokratis dan yang merupakan perjuangan hidup bagi sebagian besar

umat manusia sepanjang masa.75

Pola hubungan ini terjadi antar dokter dengan

pasien yang ingin memelihara kesehatannya, yakni pada waktu pemeriksaan

medis (medical check up) misalnya, atau dengan pasien berpenyakit menahun

73 Benyamin Lumentu, Pasien, h. 73.

74 Ibid., h. 74.

75 Ibid.

Page 55: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

47

(kronis) seperti penyakit gula, jantung koroner, dan sebagainya. Dalam hubungan

semacam ini, pasien dapat menceritakan pengalamannya sendiri berkaitan dengan

penyakitnya dan pengobatan yang tepat.76

Dalam ketiga jenis ini, perilaku dokter

dapat sangat berlainan, dan akibatnya bagi kesembuhan pasien dapat dinilai baik

dan kurang baik. Tergantung bagaimana sikap dan perilaku dokter memahami

peran, tanggung jawab, dan komunikasinya terhadap pasien.

76 Ibid., h. 75.

Page 56: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

48

BAB III

GAMBARAN UMUM KLINIK MAKMUR JAYA

A. Profil Klinik Makmur Jaya

Nama Lembaga : Klinik Makmur Jaya

Akte Notaris : No. Tanggal Desember 200

Alamat : Jl. Kertanukti No. 84A Ciputat Tangsel

(Depan Kampus 2 UIN).

Telp. : 021 - 742 1146

B. Sejarah Berdirinya Klinik Makmur Jaya

Klinik Makmur Jaya berdiri pada tahun 2007 oleh Yayasan UIN Syarif

Hidayahtullah, karena proses pendirian klinik mensyaratkan adanya yayasan yang

menaunginya sebagai bentuk pengejahwantahan peraturan pemerintah. Yayasan

Makmur merupakan wadah untuk membantu para dokter yang ingin mendirikan

klinik, tetapi belum memiliki yayasan sebagai wadahnya. Oleh karena itu,

Yayasan UIN tidak hanya menaungi Klinik Makmur Jaya saja, tetapi juga

menaungi Rumah Sakit UIN. Yayasan UIN dipimpin langsung oleh Rektor UIN

yang kemudia memberikan hak kepada dr. Ayat Rahayu untuk mendirikan Klinik

Makmur Jaya di kawasan Ciputat pada bulan maret 2007.

Pada tanggal 03 Maret 2008, Klinik Makmur Jaya baru memperoleh izin

oprasional dengan status izin operasional sementara. Izin tetap untuk

menyelenggarakan Klinik Makmur Jaya akhirnya keluar pada tanggal 15

September 2008 dengan surat pengesahan Akta Pendirian Klinik Makmur Jaya,

48

Page 57: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

49

dengan No. NPWP : 02.879.988.0-045.000. Dan Surat Keputusan Menteri

Kesehatan Republik Indonesia, No : MJ-724.AHA.01.04. Tahun 2008.1

1. Struktur Organisasi

STRUKTUR ORGANISASI KLINIK MAKMUR JAYA2

2. Visi dan Misi

Sejak Klinik Makmur Jaya berdiri Mei 2007, Klinik Makmur Jaya

memiliki visi, misi dan tujuan yang menjadi acuan dalam pelaksanaan teknis

operasional di Klinik Makmur Jaya. Visi Klinik Makmur Jaya yaitu Klinik yang

menjadi pilihan utama masyarakat sekitar dalam mendapatkan pelayanan

kesehatan dengan bertumpu pada terwujudnya kesehatan masyarakat.

1 Klinik Makmur Jayadan AKTA NOTARIS Klinik Makmur Jaya, Tahun 2009, h. 1.

2 Hasil Wawancara pribadi dengan Dokter Ayat Rahayu tanggal 1 Februari 2011, di

Klinik Makmur Jaya.

Managemen

Administrasi

Dan

Keuangan

Poli Gigi Poli Umum Spesialis Apotik

Obat-obatan Dokter Umum Dokter Gigi Sp. Radiologi Akses

Page 58: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

50

Misi mencerminkan peran, fungsi dan kewenangan dokter dan paramedis

yang bertanggung jawab terhadap perwujudan visi Klinik Makmur Jaya, yaitu :3

Menjadi klinik swasta yang melayani pengobatan dasar dan promosi

kesehatan masyarakat dengan pendekatan kasih sayang dan empati, serta dengan

biaya terjangkau dan murah sesuai kemampuan sosial-ekonomi masyarakat.

Misinya. menjadi klinik pengobatan terdepan terutama dalam melayani pasien

tidak mampu, pasien ekonomi lemah, dan pasien dengan sistem asuransi

kesehatan. menjadi klinik dengan pendekatan dokter keluarga khususnya pasien

asuransi kesehatan. menjadi klinik dengan pengobatan dasar yang mampu

melayani pasien rawat jalan yang tidak perlu rawat inap. menjadi klinik perujukan

bagi pengobatan lanjutan yang diperlukan dengan perawatan ke Rumah Sakit.

Secara umum, tujuan pembangunan Klinik Makmur Jaya adalah

terwujudnya visi dan misi yang mandiri tertumpu pada potensi pendapatan Klinik

Makmur Jaya.

3. Unit Program dan Kerja Sama

Klinik Makmur Jaya telah melayani pasein dalam waktu 24 jam dengan

dokter jaga yang siap di tempat; baik bagi pasien umum atau peserta ASKES,

Jamsostek. Suatu hal yang memiliki nilai lebih bagi peserta ASKES-Jamsostek

adalah waktu pelayanan yang tidak terbatas, baik setiap hari kerja atau hari libur.

bila dahulu dibatasi pada jam tertentu dan harus antri lama, sekarang bisa lebih

lenggang waktunya atau tidak terlalu antri.

3 Dr Ayat Rahay Blogspot.com. (diambil pada tanggal 17 Januari 2011, jam 18:20).

Page 59: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

51

Diakui oleh dokter Ayat Rahayu bahwa secara tidak langsung Klinik

Makmur Jaya tidak memiliki kerjasama dengan Rumah Sakit Umum manapun,

namun Klinik Makmur Jaya memiliki akses ke Rumah Sakit sekita untuk menjadi

Rumah Sakit rujukan, semisal Rumah Sakit UIN dan Fatmawati.4

Namun lebih lanjut, dalam perkembangan waktu Klinik Makmur Jaya

memiliki hubungan kerjasama dengan PT ASKES, JAMSOSTEK dan merupakan

terobosan baru yang dilakukan sebagai bentuk pro-pasien atau peserta yang lebih

baik dari sebelumnya. hal ini sesuai dengan visi dan misi dari klinik makmurjaya-

yang menjadikan pasien bukan sebagai objek tapi sebagai patner, subjek dalam

sistem pelayanan kesehatan. diharapkan dengan interaksi klinik-pasien-asuransi

terjadi secara baik dengan dimensi timbal-balik, maka tujuan-masing masing

dapat tercapai.arti sehat menjadi tidak sekedar mengobati yang sakit secara fisik,

tetapi juga dalam arti psikis, sosial-ekonomi, sistem pengolahan kesehatan yang

baik. mudah-mudahan klinik makmurjaya menjadi bagian dalam solusi kesehatan

masyarakat seterusnya.

Secara khusus, tugas pokok Klinik Makmur Jaya adalah melaksanakan

upaya kesehatan secara berdayaguna dan berhasilguna dengan mengutamakan

upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu

dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya-upaya yang

terbaik bagi masyarakat sekitar.

Adapun Program lain semacam Pengobatan Gratis (Bakti Sosial) juga

menjadi fokus perhatian Klinik Makmur Jaya, misalnya; 1) Program Kesehatan

4 Wawancara pribadi dengan Dr. Ayat Rahayu di Klinik Makmur Jaya, pada hari Rabu

Tanggal 23 Februari 2011.

Page 60: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

52

Terjangkau Ekonomi-Lemah; 2) Program Kesehatan Komunikasi, Edukasi, dan

Informasi; 3) Program Kesehatan CSR (Coorporation Social Responsibility); dan

4) Program Peningkatan SDM, ALkes (Alat Kesehatan), dan Sasaran program.

Dari berbagai unit program di atas, hasil yang telah dicapai adalah

bertambahnya jumlah peserta askes, Jamsostek, dan Bluedot. Kemudian

terpenuhinya sarana dan prasarana Klinik Makmur Jaya semacam ALkes dan juga

meningkatnya Sumber Daya Manusia (SDM).

C. Sarana dan Prasarana

Klinik Makmur Jaya beroperasi dengan berbagai sarana dan prasaran yang

ada, dan sudah menjadi kewajiban bagi Klinik Makmur Jaya untuk menyediakan

sarana umum maupun khusus bagi pasien dan masyarakat. Adapun sarana dan

prasarana Klinik atau lebih tepat disebut fasilitas pelayanan tersebut adalah:

1. Dokter Umum

2. Dokter Gigi

3. Konsultasi Radiologi

4. Pemeriksaan USG

5. Apotik

Sementara yang menjadi fokus utama Klinik Makmur Jaya adalah Poli

Umum dan Poli Gigi. Dengan pelayanan 24 jam untuk Poli Umum (Dokter

Umum) dan Apotik. Sedangkan untuk Poli Gigi hanya beroperasi sampai pukul

22.00 (10 malam).

Page 61: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

53

Adapun yang menjadi sasaran Klinik Makmur Jaya dalam melayani

masyarakat adalah masyarakat umum, peserta askes, dan Jamsostek. Dilihat dari

visi-misi maupun tujuan Klinik Makmur Jaya agar terjangkau oleh lapisan

masyarakat bawah dan menengah, maka biaya pengobatan di Klinik Makmur Jaya

dengan rata Rp. 35.000, termasuk obat dan jasa dokter.

Jika dikalkulasi pengunjung per-minggu yang mengunjungi Klinik

Makmur Jaya, baik untuk berobat maupun untuk berkonsultasi rata-rata, 50%

orang dewasa, datang dengan maksud berobat dan konsultasi, sedangkan orang

tua sebanyak 30% yang berobat dan sedikit yang berkonsultasi, dan 20% anak-

anak dengan maksud untuk berobat.

D. Dokter dan Tenaga Medis

Secara regular dokter Klinik Makmur Jaya ada 4 (empat) orang dokter

umum dan 2 (dua) orang dokter gigi. Namun, jika dijumlahkan secara keseluruhan

dokter, pramedis, staff pengurus yang bertugas di Klinik Makmur Jaya kurang

lebih ada 12 orang. Dengan komposisi 8 (delapan) orang wanita dan 4 (empat)

orang laki-laki.

Staff sekaligus Paramedis yang bertugas di Klinik Makmur Jaya sebanyak

6 (enam) orang. Dengan memaksimalkan jumlah dokter, paramedis, dan staff

kepenggurusan Klinik, diharapkan akan mampu memenuhi kebutuhan pengunjung

yang bermaksud untuk berobat maupun berkonsultasi di Klinik Makmur Jaya.

Dokter Klinik Makmur Jaya memiliki harapan agar Klinik Makmur Jaya

dapat terjangkau oleh masyarakat bawah dan menengah, baik dari segi biaya dan

waktu maupun pelayanan kesehatan yang disediakan oleh Klinik. Meski diakui

Page 62: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

54

oleh dokter Ayat Rahayu sebagai penggelola Klinik Makmur Jaya, bahwa yang

mungkin menghambat kegiatan Klinik ke depan akan diusahakan agar sekecil

mungkin diminimalisir.

Misalnya, sarana gedung Klinik yang masih bukan menjadi milik sendiri

(atau disewa), dan pendukung lain semacam tempat yang strategis, sehingga dapat

dijangkau secara baik dan cepat. Maka komunikasi yang dibangun oleh dokter

terhadap pengunjung (pasien) Klinik Makmur Jaya adalah komunikasi empati,

dua arah, secara verbal, fisik, psikis, maupun spiritual.5

5 Dari hasil wawancara pribadi dengan Dokter Ayat Rahayu, di Klinik Makmur Jaya pada

tanggal 1 Februari 2011.

Page 63: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

55

BAB IV

HASIL TEMUAN dan ANALISA DATA

A. Pola Komunikasi Dokter dan Pasien di Klinik Makmur Jaya

Pada dasarnya pola komunikasi dicirikan oleh sejumlah atribut tertentu.

Pemahaman atas atribut-atribut itu besar artinya bagi peningkatan pengertian

dalam memahami komunikasi dan prosesnya. Terjadinya komunikasi tidak dapat

dihindari, sebab hampir tidak ada orang yang mampu menghindarkan diri dari

aktivitas bermasyarakat. Orang selalu berusaha mencari interaksi sosial. Di saat

interaksi terjadi, komunikasi tidak dapat dihindari dan akan menimbulkan kontak

sosial. Jika terjadi kontak sosial segala atribut harus dapat memberikan

pemahaman atau pengertian terhadap komunikasi yang sedang dilaksanakan.

Pertemuan antara dokter dan pasien meniscayakan adanya suatu

komunikasi bila masing-masing mampu mengadakan transformasi pesan. Salah

satu bentuk komunikasi yang terjadi ketika adanya wawancara pengobatan. Sebab

wawancara pengobatan ini merupakan hal yang sangat penting dalam peristiwa

pertemuan antara dokter dan pasien, termasuk di Klinik Makmur Jaya. Semua

perilaku dalam peristiwa komunikasi yang berlangsung memiliki potensi sebagai

pesan, sebab komunikasi merupakan transaksional yang efektif untuk

menyampaikan tujuan dan maksud. Sebab pasien yang diperiksa oleh dokter dan

paramedis bukan merupakan makhluk pasif, bukan perantara (host) yang tidak

bertenaga, bukan mesin, dan bukan pula merupakan benda-benda non-aktif,

pasien adalah makhluk aktif, dengan dan untuk siapa dokter dan paramedis

bekerja mengatasi penyakit.

55

Page 64: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

56

Sebagai konsep yang merujuk pada proses interaksi tak terputus dari

sejumlah variabel yang tidak terhitung. Pola komunikasi yang dibangun antara

dokter dengan pasein di klinik Makmur Jaya adalah komunikasi tanpa putus yang

saling mempengaruhi perilaku, perasaan, pandangan satu sama lain. Karena

komunikasi tidak dapat berdiri sendiri. Apabila dikaitkan dengan proses persuasif,

kita dapat mengatakan bahwa komunikasi dokter dan pasien terjadi sebab faktor-

faktor dan konteks yang determinan di dalam satu pihak yang memerlukan umpan

balik (tanggapan).

Sebagaimana dikatakan oleh dr. Ayat Rahayu, Sp. Rad. M. Kes., sebagai

dokter sekaligus pengelola (pimpinan) Klinik Makmur Jaya:

“Bahwa komunikasi yang dibangun antara dokter dengan pasien di Klinik

Makmur Jaya adalah komunikasi yang memberikan perhatian lebih, dalam

arti lebih dari apa yang diperkirakan oleh pasien…sehingga pasien mau

memberikan keluhan mereka, melebihi dari apa yang diinginkan oleh

dokter atau paramedis…”1

Proses komunikasi dokter dengan pasien di Klinik Makmu Jaya dimulai

ketika pasien memasuki ruang pemeriksaan, meskipun dokter mengetahui gejala

penyakit yang diderita oleh pasien berdasarkan informasi yang didapatkan dari

paramedis yang menginverisasi data pasien yang berkunjung, dokter menanyakan

keluhan penyakit, seperti dengan ucapan : “keluhannya apa?”. Pertanyaan tersebut

diajukan setelah dokter mempersilahkan pasien duduk di kursi yang telah tersedia

di ruang pemeriksaan, kemudian dokter memeriksa tekanan darah dan denyut

jantung pasien.2

1 Wawancara pribadi dengan Dokter Ayat Rahayu tanggal 3 Februari 2011, jam 13:30, di

Klinik Makmur Jaya. 2 Wawancara pribadi dengan Dokter Ayat Rahayu tanggal 3 Februari 2011, jam 13:30, di

Klinik Makmur Jaya.

Page 65: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

57

Informasi awal yang didapat tersebut kemudian dijadikan sebagai bahan

diagnosa dan penentuan tindakan medis yang diperlukan dalam pengobatan

pasien. Setelah dokter melakukan hal tersebut, dokter akan menanyakan kepada

pasien untuk mengerjakan langkah-langkah penyembuhan terhadap penyakit yang

didertia.

Komunikasi yang diberlakukan dokter terhadap pasien secara efektif di

atas, menandakan bahwa komunikasi yang diterapkan stidaknya telah (harus)

melalui empat tahap komunikasi, yaitu; pengumpulan fakta (fact finding) oleh

paramedis, komunikasi dengan pasien, perencanaan langkah-langkah

penyembuhan, kemudian evaluasi. Di dalam pengumpulan fakta, paramedis

sebelumnya mencari data dan fakta mengenai keluhan dan potensi (keadaan)

penyakit pasien. Kemudian dengan data dan fakta pasien dokter membuat

perencanaan langkah-langkah penyembuhan. Lalu langkah beringkutnya, dokter

mengevaluasi penyakit dan pengobatan sesuai kebutuhan pasien.

Efek positif dari komunikasi yang dibangun di Klinik Makmur Jaya,

didapatkan dari prosedur yang ditempuh melalui perhatian, kepentingan,

keinginan, keputusan, dan tindakan dari kedua pihak. Dalam prakteknya, dokter

membangkitkan perhatian pasien agar terfokus pada keadaan yang dialami,

sehingga timbul kepentingan pasien untuk benar-benar mengungkapkan keluhan

yang dirasakan. Tahap berikutnya, dokter mengembangkan keinginan pasien

terhadap penyakit pasien dan juga terhadap keinginan dokter sebagai penerima

keluhan. Kemudian pada tahap selanjutnya pasien dan dokter memutuskan satu

keputusan yang akan melahirkan tindakan3.

3 Hasil wawancara. misalnya, pasien yang memiliki penyakit kronis, tidak mampu

berobat atau alasan lainnya, dan cenderung tidak berani (menutup-nutupi) melakukan pengobatan

Page 66: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

58

Jumlah pasien yang berkunjung ke Klinik Makmur Jaya setiap hari, antara

7 hingga 15 orang, yang berkunjung, beberapa untuk berobat, kemudian ada juga

yang hanya ingin konsultasi. Waktu yang tersedia untuk melakukan wawancara

pengobatan untuk masing-masing pasien yang berobat dibutuhkan waktu selama

10 hingga 15 menit. Dari waktu yang telah ditentukan tersebut, dokter

mendapatkan data awal tentang keluhan pasien yang akan dijadikan dasar pijakan

untuk menganalisa penyakit dan hubungan antara pribadi yang terjadi dalam

proses pengobatan antara dokter dengan pasien di Klinik Makmur Jaya.

Dalam wawancara pengobatan, dokter sedapat mungkin menghindari

konflik antara dokter dengan pasien (misalnya tidak menyinggung perasaan atau

hal-hal yang sensitive), terutama terkait dengan proses penyembuhan yang akan

dijalankan. Dokter berusaha menyenangkan pasien untuk memberikan rasa aman

(akrab) agar apa yang ingin dikeluhkan bisa diungkapkan. Karena komunikasi

antara dua pribadi merupakan aspek yang tidak bisa dipisahkan dari kegiatan

pengobatan yang akan dilakukanr. Maka seminim mungkin dokter tidak membuat

kesalahan dengan salah memberika pertanyaan yang tidak dimengerti.

Sebagaimana diungkapkan oleh dr Ayat Rahayu :

“Di dalam wawancara pengobatan atau diagnosa penyakit, dokter atau

paramedis yang menjalankan tugas tersebut melakukan wawancara dengan

baik, yang berhubungan dengan tugas, peran dan fungsi, serta tanggung

jawabnya. Tidak menyinggung perasaan atau hal-hal yang sensitif yang

dapat membuat pasien tertutup…”4

yang lebih jauh, meka tugas dokter, melalui komunikasi untuk membangkitkan semangat pasien

bahwa segala penyakit pasti bisa disembuhkan, maka dokter Klinik akan menganjurkan pasien

untuk dirujuk ke Rumah Sakit terdekat. Sebab alasan pasien sangat beragam, karena kekurangan

biaya, keadaan yang bertilak belakang, atau ketakutan pada prosedural yang rumit. 4 Wawancara pribadi dengan Dokter Ayat Rahayu tanggal 3 Februari 2011, jam 13:30, di

Klinik Makmur Jaya.

Page 67: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

59

Dari apa yang diungkapkan oleh dokter diatas, bahwa omunikasi yang

dibangun secara baik oleh dokter dan paramedis di Klinik Makmur Jaya,

menciptakan hubungan yang harmonis antar dokter dan pasien. Keberhasilan

komunikasi ini bila ditinjau dari segi keilmuan, maka tidak terlepas dari unsur-

unsur komunikasi yang ada di dalamnya, yang diterap di Klinik Makmur Jaya.

Dalam kaitannya dengan hal di atas, dalam hubungannya dengan kegiatan

komunikasi yang melibatkan dua individu, antara dokter dan pasien sebagai

sasaran yang bisa bertukar peran ini, dokter harus bersedia menerima reaksi

pasien, tidak bersikap selektif dalam menimbang kebutuhan dan keluhan pasien,

kemampuan dokter dalam memberikan informasi sebagai bahan (pesan) yang

akan dikomunikasikan. Dokter sebagai komunikator, harus mampu

mengorelasikan keinginan dan keluhan pasien secara sistematis, kemudian

mengembangkannya hingga menjadi suatu proses (solusi) penyembuhan.

Sebagaimana dikatakan oleh Dr. Ayat Rahayu:

“Bahwa seorang dokter sebagai komunikator yang baik tentunya harus

mempunyai sifat yang menunjang jalannya komunikasi dengan pasien,

misalnya: pengenalan diri, kepercayaan (credibility), daya tarik

(attractive), kekuatan (power), dan yang dibutuhkan dokter untuk

membangun komunikasi yang baik, ya…., keterampilan berkomunikasi,

keterampilan berbicara, menulis, mendengar, membaca. Selain itu dokter

harus mempunyai sikap (attitudes) yang baik dan bertanggung jawab,

walaupun pendidikan dan tingkat sosial berbeda, sikap yang wajar dan

sama sejajar harus yang ditampakkan, karena sikap ini penting untuk

menghantarkan informasi sesuai dengan yang diinginkan oleh kedua

pihak…jika sikap terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain buruk maka

pesan penting yang seharusnya diterima oleh pasien (receiver).”5

Dengan demikian, terjadinya pola komunikasi yang seimbang antara kedua

belah pihak, dokter dan pasien, harus didukung oleh sikap dan kepentingan yang

5 Wawancara pribadi dengan Dokter Ayat Rahayu tanggal 3 Februari 2011, jam 13:30, di

Klinik Makmur Jaya.

Page 68: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

60

sama. Sehingga proses komunikasi mendapatkan feedback yang dapat

memberikan dampak terhadap proses penyembuhan pasien, sesuai keinginan

dokter.

Ada beberapa pola komunikasi yang dilaksanakan di Klinik Makmur Jaya

dalam proses penyembuhan pasien, antara lain sebagai berikut:

1. Komunikasi Antar Diri Sendiri

Pada umumnya, pemahaman yang lebih tentang komunikasi terletak pada

hakekat fungsional manusia itu sendiri terhadap dirinya sendiri. Diri manusia

memiliki peran paling penting dalam proses penyembuhan, sebab pribadi manusia

itu sendiri tidak terlepas dari proses komunikasi antar dirinya sendiri. dalam hal

ini proses penyembuhan berkaitan dengan persoalan interpretasi pribadi manusia

itu sendiri terhadap diri pribadinya. Efek komunikasi antar diri sendiri akan

berpengaruh pada proses komunikasi antar pribadi.

Sebagaimana dikatakan oleh dokter Ayat Rahayu :

“Peran diri pasien itu sendiri juga menentukan bagaimana berjalannya

proses komunikasi terhadap penyembuhan, bagaimanapun peran dan

fungsi dokter terhadap penyembuhan tidak akan berarti, jika komunikasi

antar diri sendiri tidak berjalan dengan baik, pasien harus memahami apa

yang sedang dirasakan oleh dirinya, kemudian komunikasi meningkat

pada dua pribadi (dokter dan pasien), yang disebut komunikasi antar

pribadi…”6

Oleh karenanya, diri pribadi pasien diarahkan untuk memahami dirinya

berdasarkan pengalaman yang mempengaruhi sikap dan perilakunya. Sehingga

pengalam dan perilaku tersebut dapat memberikan efek yang juga mempengaruhi

proses penyembuhan pasien. Komunikasi sebagai mediator dalam proses

6 Wawancara pribadi dengan Dokter Ayat Rahayu tanggal 3 Februari 2011, jam 13:30, di

Klinik Makmur Jaya.

Page 69: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

61

penyembuhan menjadi alat pasien dan juga dokter untuk mengetahui diri mereka

sendiri. Dalam konteks inilah komunikasi tidak hanya persoalan medis, tetapi juga

menyangkut aspek perawatan mental pasien, sehingga pasien memiliki keinginan

untuk sembuh dan bersikap positif terhadap dirinya sendiri.

Zaskyah, salah satu pasien Klinik Makmur Jaya, mengatakan :

“Pengobatan di Klinik Makmur Jaya, terasa nyaman, karena dokter dan

perawatnya ramah dan enak diajak ngobrol…dalam proses pengobatan,

dokternya sangat perhatian, baik, kadang humoris…ada juga nasehat-

nasehat keagamaan dan mental, ya, untuk penyadaran dirilah…setidaknya

saya lebih perhatian juga terhadap kesehatan diri saya sendiri…”7

Sehingga dalam melakukan proses penyembuhan, dokter berkomunikasi

secara interaktif dan efektif, sehingga dapat mempengaruhi persepsi pasien

terhadap diri mereka sendiri. Dokter menginginkan pasien memiliki penilaian

yang baik terhadap diri mereka, paling tidak memiliki kesan bahwa dokter

konsisten dengan tujuan pelayanan, yaitu, memberikan efek kesembuhan terhadap

penyakit yang sedang dialami pasien.

2. Komunikasi Antar Pribadi

Proses komunikasi yang melibatkan dua orang adalah komunikasi dua

pribadi yang berbeda dan harus sama-sama dikenali, yaitu diri dokter dan diri

pasien. Meskipun bukan hal mudah untuk dilakukan. Dalam hal ini, ada dua jenis

informasi yang digunakan Klinik Makmur Jaya untuk mencapai tujuan

komuniaksi antar pribadi tersebut, yaitu : 1) Menyusun mekanisme untuk

mendapatkan hal-hal yang ingin diketahui dan apa yang diharapkan pasien

melalui komunikasi (dengan keluhannya); 2) Memahami tujuan pasien, sehingga

7 Wawancara pribadi dengan pasien pada tanggal 4 Februari 2011, jam 11:30, di Klinik

Makmur Jaya.

Page 70: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

62

langkah-langkah untuk penyembuhan dapat dievaluasi dengan kesungguhan dan

akurasi prediksi penyembuhan pasien.8

Ketika dokter atau paramedis bertemu dengan pasien, sejumlah pertanyaan

diberikan untuk mendiagnosa pasien, sejumlah jawaban pasien menjadi acuan

lebih lanjut dalam proses penyembuhan. Dalam proses diagnosa, Dokter berusaha

mempengaruhi keadaan, perasaan, dan perilaku pasien terhadap yang dialaminya.

Pola komunikasi ini adalah usaha dokter mengurangi ketidakpastian yang

dirasakan pasien. Upaya ini pada dasarnya merupakan proses pemaknaan, yaitu

menghilangkan makna-makna yang tidak sesuai dengan pengertian pasien.

Terkait dengan komunikasi antar dua pribadi yang berbeda yang saling

mempengaruhi satu sama lain, ada satu proses perbandingan sosial sebagai

perbandingan antara diri dokter, pasien satu dengan pasien lain.

Fenny salah satu pasien mengatakan :

“Saya suka datang ke Klinik Makmur Jaya karena banyak yang ingin

dikomunikasikan, saya banyak mendapatkan informasi seperti melakukan

evaluasi diri, mengetahui diri sendiri…selain itu juga, saya dapat

memahami orang lain, setidak-tidaknya berusaha memahami apa yang

menjasi keinginan dokter dari perilaku kita sebagai pasien…”9

Komunikasi yang digunakan dokter ini sebagai alat bagi pasien

mengetahui bagaimana menilai dirinya sendiri (self esteem). Walaupun

perbandingan sosial cenderung membandingkan dengan yang setara yang ada

pada dirinya. Artinya orang cenderung tidak melakukan evaluasi diri secara

objektif. Pengaruhnya terhadap diri pribadi adalah suatu ukuran kualitas yang

8 Wawancara pribadi dengan Dokter Ayat Rahayu tanggal 3 Februari 2011, jam 13:30, di

Klinik Makmur Jaya. 9 Wawancara pribadi dengan pasien pada tanggal 4 Februari 2011, jam 13:30, di Klinik

Makmur Jaya.

Page 71: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

63

memungkinkan seseorang untuk dianggap dan dikenali sebagai individu yang

berbeda dengan individu lainnya.

Sebagaimana dikatakan oleh dokter Ayat Rahayu :

“Bahwa pengalaman dalam kehidupan membentuk diri pribadi setiap

orang, tetapi setiap orang juga harus menyadari apa yang sedang dan telah

terjadi pada diri pribadinya dan orang lain. Kesadaran terhadap diri pribadi

ini pada dasarnya adalah suatu proses persepsi yang ditujukan pada dirinya

sendiri dan apa yang sedang dialaminya...”10

Dalam hal ini, terdapat satu proses analisa yang dilakukan oleh dokter

Klinik Makmur Jaya, pada tingkatan psikologis yang diasosiasikan dengan

interpretasi dan pemberian makna terhadap orang atau objek tertentu, yang

dikenal dengan persepsi. Adanya objek eksternal yang dapat ditangkap oleh

indera, menjadikan informasi dapat diinterpretasi, meskipun pada dasarnya,

persepsi tidak lebih dari sekedar pengetahuan mengenai apa yang tampak sebagai

realitas pasien. Realitas yang dipersepsikan adalah yang paling jelas, pribadi,

penting dan terpercaya bagi pasien. Persepsi dilakukan oleh dokter sebagai

individu yang mempersepsi (penerima keluhan), bukan pasien sebagai objek

(yang memiliki keluhan).

Maka dalam hal ini, apa yang mudah menurut dokter belum tentu mudah

bagi pasien, atau apa yang jelas menurut dokter mungkin terasa membingungkan

bagi pasien. Dalam konteks inilah dokter perlu memahami sifat pasien. Dokter

mempersepsikan hanya yang diinginkan atas dasar sikap, nilai dan keyakinan

yang ada dalam diri dokter, dan mengabaikan karakteristik yang berlawanan

dengan keyakinan atau nilai yang dokter miliki, yang menjadi kebutuhan pasien.

10

Wawancara pribadi dengan Dr Ayat Rahayu pada tanggal 4 Februari 2011, jam 13:30,

di Klinik Makmur Jaya.

Page 72: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

64

Sebagaimana dikatakan oleh dokter Ayat Rahayu :

“Di dalam menarik kesimpulan tentang apa yang dibutuhkan pasien,

dokter harus menarik kesimpulan melalui suatu proses yang logis. Karena

interpretasi yang dihasilkan melalui persepsi biasanya kensimpulan atas

dasar informasi yang tidak lengkap, artinya dokter mempersepsikan makna

dengan melompat pada satu kesimpulan yang tidak sepenuhnya

didasarkan atas data sesungguhnya dari pasien, tapi hanya berdasar

penangkapan indra yang terbatas, melalui diagnosa…”11

Pengaruhnya dapat menjadi tidak akurat, karena bisa mengandung

kesalahan dalam kadar tertentu. Hal ini dapat terjadi apabila jarak dokter dengan

pasiennya berjauhan, maka peran dan fungsi komunikasi yang dapat

mempengaruhinya jelas dibutuhkan untuk memberi satu kesimpulan yang

dibutuhkan pasien. Meski, persepsi tidak pernah objektif, namun dapat dijadikan

sebagai bahan evaluasi bagi dokter, karena sebagian interpretasi dilakukan

berdasarkan pengalaman dan merefleksikan sikap, nilai dan keyakinan pribadi

yang digunakan untuk memberi makna pada objek yang dipersepsi, dampak dari

hal ini, bisa menimbulkan hubungan baik atau sebaliknya.

Di antara kedua pihak yang sedang menjalankan proses komunikasi,

pengaruh persepsi merupakan proses awal yang dilalui individu sebagai stimuli

yang datang dari luar. Secara sederhana hal dapat dikatakan sebagai proses saling

pengaruh-mempengaruhi individu dalam melakukan kontak atau hubungan dalam

proses pengobatan.

Komunikasi yang saling mempengaruhi, mengembangkan makna yang

dirasa ke dalam aktivitas. Artinya, dokter belajar memberikan makna pada

persepsi pasien yang dianggap masuk akal jika dihubungkan dengan perasaan,

tindakan dan tujuan. Satu hal pokok dalam makna ini adalah sistem kode bahasa

11

Wawancara pribadi dengan Dr Ayat Rahayu pada tanggal 4 Februari 2011, jam 13:30,

di Klinik Makmur Jaya.

Page 73: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

65

atau komunikasi (simbol). Dengan kemampuan bahasa, dokter dan pasien dapat

menangkap stimulasi yang diberikan. Maka, pengaruh dari pola komunikasi yang

dibangun bisa dikatakan berhasil.

Dalam tahap ini, dokter menciptakan struktur, stabilitas, dan makna

komunikasi yang dapat mempengaruhi proses kesembuhan pasien yang ditangani.

Meski dalam sehari-harinya, dokter menerima begitu banyak masukan pesann,

misalnya keluhan pasien, selain pengetahuan yang dipelajari, dokter juga

menerima pesan lain seperti reaksi dan respon pasien (verbal dan non-verbal),

dari kondisi kursi yang diduduki, intonasi suara pasien, ataupun bahasa pasien

yang terbata-bata. Semua stimulus ini secara bersamaan akan ikut mempengaruhi

proses kegiatan yang diciptakan dari komunikasi antar pribadi.

Namun demikian, dalam praktiknya tidak mungkin dokter mengolah

semua masukan pesan yang diterima. Dengan kata lain, dokter melakukan

penyeleksian terhadap semua stimulus yang diterima dengan proses penyeleksian

secara cepat (biasanya dalam beberapa detik saja).

Sebagaimana dikatakan oleh dokter Ayat Rahayu :

“Kami menerima begitu banyak keluhan…keluhannya pasien sangat

beragam, dari penyakit, ekonomi, perasaan, tertekan, kurang percaya diri,

dan lain sebagainya. Di dalam hal ini, kami sebagai dokter harus mampu

menciptakan stabilitas, struktur dan makna komunikasi yang dapat

mempengaruhi kesembuhan pasien, dari banyaknya pesan, kami harus

memutuskan apa yang terbaik, yang menjadi kebutuhan pasien secara

cepat…”12

Keputusan menyeleksi semua masukan pesan berhubungan dengan

pemahaman dokter terhadap perilaku dan persepsi pasien. Ini berarti bahwa

komunikasi yang dilakukan dalam wawancara pengobatan mempunyai pengaruh

12

Wawancara pribadi dengan Dr Ayat Rahayu pada tanggal 4 Februari 2011, jam 13:30,

di Klinik Makmur Jaya.

Page 74: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

66

pada proses pemberian pengobatan. Prinsip stimulus respon dari komunikasi

merupakan suatu prinsip sederhana, dimana efek merupakan satu reaksi terhadap

stimuli tertentu. Dengan demikian, dokter mengharapkan keterkaitan antara pesan

yang diberikan dengan reaksi yang ada pada perilaku dan persepsi pasien.

Untuk mempengaruhi proses penyembuhan, dokter mendidistribusikan

pesan secara sistematik. Sehingga secara serempak pesan mempengaruhi pasien.

Dari perilaku dan persepsi yang tampak tersebut, maka dokter mengambil satu

kesimpulan untuk dikomunikasikan dengan kebutuhan atau keinginan pasien.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa komunikasi yang diterapkan oleh dokter di

Klinik Makmur Jaya memberikan pengaruh yang signifikan terhadap proses

penyembuhan pasien.

B. Penerapan Komunikasi Terhadap Pasien di Klinik Makmur Jaya

Tindak komunikasi dalam pola komunikasi antar pribadi berkaitan dengan

pemahaman mengenai peristiwa komunikasi yang terjadi didalamnya, seperti

apakah pesan komunikator sudah diterima dengan benar oleh komunikan atau

sebaliknya (misalnya, pasien menyampaikan keluhan kepada dokter),

memungkinkan tujuan komunikasi yang telah ditetapkan dapat tercapai sesuai

dengan hasil yang diharapkan. Ini hanya satu contoh sederhana untuk

memperlihatkan bahwa komunikasi merupakan aspek penting dalam suatu

hubungan.

Sebagaimana telah disebut terdahulu, bahwa arus komunikasi meliputi

komunikasi vertikal, komunikasi diagonal, dan komunikasi horisontal, Masing-

masing arus komunikasi tersebut mempunyai perbedaan fungsi yang sangat tegas.

Page 75: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

67

Masing-masing memiliki fungsi : misalnya dalam komunikasi vertikal, Pemberian

atau penyimpanan instruksi kerja, mengapa tugas perlu dilaksanakan,

Penyampaian informasi mengenai peraturan yang berlaku.

Di Klinik Makmur Jaya, misalnya, fungsi arus komunikasi dari staf ke

pimpinan atau dokter adalah untuk menyampaikan informasi tentang pekerjaan

ataupun tugas yang sudah dilaksanakan, atau untuk menyampaikan persoalan-

persoalan yang tidak dapat diselesaikan, untuk menyampaikan saran-saran

maupun keluhan. Kemudian fungsi komunikasi horizontal yaitu, untuk

memperbaiki koordinasi tugas, upaya pemecahan masalah, saling berbagi

informasi, upaya pemecahan konflik, dan membina hubungan melalui kegiatan

bersama.

Sebagaimana diungkapkan oleh Novi Anggraini, salah satu staf pengurus

di Klinik Makmur Jaya:

“Di sini kami sebagai staf pengurus juga berhak memberikan saran

maupun keluhan yang berkaitan dengan Klinik Makmur Jaya, tidak hanya

pasien yang menjadi fokus kerja…kami sebagai pengurus juga wajib

mengkomunikasikan diri kami dan pekerjaan, tugas, masalah atau konflik

yang terjadi…kami menjaga agar hubungan lebih dekat, dapat

memecahkan masalah, dan mendapatkan solusi dari tugas yang kami

jalankan…”13

Dalam pembahasan pola komunikasi yang diterapkan di Klinik Makmur

Jaya, ada dua unsur yang mendapatkan perhatian dokter, yaitu: 1) kognitif, dokter

dalam hal ini menggunakan unsur yang mewakili penggunaan lambang-lambang

(symbols) untuk mencapai kesamaan makna komunikasi dalam berbagi informasi;

2) perilaku, perilaku pasien dijadikan sebagai komunikasi verbal atau simbolik

dimana dokter berusaha mendapatkan satu efek yang dikehendakinya pada pasien.

13

Wawancara pribadi dengan staf pengurus pada tanggal 7 Februari 2011, jam 13:30, di

Klinik Makmur Jaya.

Page 76: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

68

Dari kedua unsur di atas menandakan bahwa komunikasi adalah adanya

satu respons melalui lambang-lambang verbal di mana simbol verbal tersebut

bertindak sebagai stimuli untuk memperoleh respons. Perilaku (wawancara) lebih

praktis, karena tujuan dokter adalah untuk mempengaruhi penerima (pasien

sebagai receiver) agar lebih aktif dalam menerima pesan yang disampaikan. Satu

respons khusus diharapkan oleh pengirim pesan (dokter atau sender) dari setiap

pesan yang disampaikannya.

Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh dokter Ayat Rahayu :

“Antara kognitif dan perilaku…kami melihat bahwa perilaku lebih unggul

untuk membentuk satu kesimpulan pasien, walaupun semetara waktu. Jika

pemaknaan lambing-lambang tidak dapat dimengerti maka kita dapat

melihatnya pada perilaku…”14

Dengan memahami perilaku pasien, dokter dapat membangun hubungan

yang lebih erat dengan pasien atau yang lebih jauh dari hal itu, misalnya keluarga

pasien atau masyarakat umum lainya. Hal ini diharapkan, agar masyarakat sebagai

pasien tidak canggung, dan mau mengutarakan keluhan-keluhan serta persoalan-

persoalan yang dihadapi oleh mereka. Sehingga pada tahap ini, dokter sedapat

mungkin mendengarkan keluhan pasien dengan seksama, baik keluhan-keluhan

yang berhubungan dengan penyakit maupun persoalan yang menyangkut

kehidupan pribadi pasien.

Sehingga dalam pelayanan medis, dokter tidak hanya dituntut memiliki

kemampuan dan keterampilan intelektual serta profesional, tetapi juga memiliki

kemampuan dan keterampilan berkomunikasi dalam menyampaikan informasi

mengenai kesehatan yang dibutuhkan, baik oleh individu maupun oleh

14

Wawancara pribadi dengan Dr Ayat Rahayu pada tanggal 7 Februari 2011, jam 14:00,

di Klinik Makmur Jaya.

Page 77: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

69

masyarakat. Proses komunikasi ini, diawali oleh dokter (source) baik kepada

individu ataupun masyarakat yang berusaha berkunjung ke Klinik Makmur Jaya,

langkah-langkah yang dilakukan, sebagaimana diutarakan oleh dokter Ayat

Rahayu, sebagai berikut:

“Yang dilakukan dokter adalah memilih seperangkat informasi untuk

dikomunikasikan, kemudian menciptakan suatu pesan yang dapat

diterjemahkan, misalnya dari tanda atau lambang baik melalui bahasa

lisan, tulisan, dan perilaku nonverbal seperti bahasa isyarat, ekspresi wajah

atau gambar-gambar dan lain sebagainya…”15

Penerapan komunikasi di Klinik Makmur Jaya, adalah upaya dokter

bagaimana memberikan pelayanan dan fungsi sosial yang melibatkan berbagai

pihak, dalam hal ini adalah dokter dan masyarakat sebagai pasien. Klinik Makmur

Jaya dapat dikatakan sebagai suatu sistem pemrosesan informasi (information-

processing system). Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu masyarakat

berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan lebih

tepat dalam mendapatkan solusi dari apa yang mereka inginkan. Adapun

keharusan atau kewajiban memberikan informasi dikaitkan dengan kemampuan

dan keterampilan dokter untuk berkomunikasi.

Dalam hal ini, pasien dan masyarakat berhak menerima informasi tanpa

diminta tentang segala sesuatu mengenai dirinya serta berhak menerima jawaban

dari pertanyaan yang diajukan (dalam hal apapun); masyarakat sebagai pihak yang

dilayani tidak boleh dirugikan dalam hal memberikan pelayanan, baik medis

maupun non-medis. Memberikan informasi yang didapat memungkinkan setiap

anggota masyarakat dapat melaksanakan aktivitasnya secara lebih pasti. Pada

15

Wawancara pribadi dengan Dr Ayat Rahayu pada tanggal 7 Februari 2011, jam 14:00,

di Klinik Makmur Jaya.

Page 78: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

70

dasarnya, adalah informasi yang dibutuhkan oleh semua masyarakat yang

mempunyai persoalan dalam kehidupan sehari-harinya.

Selian hal di atas, fungsi komunikasi ini berkaitan dengan peraturan-

peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi kedokteran. Pada Klinik Makmur

Jaya, misalnya; atasan atau orang yang berada dalam tataran manajemen, mereka

memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang

disampaikan. Kewenangan memberi instruksi atau perintah, dan ditempatkan pada

lapis atas supaya perintahnya dilaksanakan sebagaimana semestinya.

Namun demikian, sikap bawahan untuk menjalankan perintah banyak

bergantung pada; keabsahan pimpinan dalam penyampaikan perintah, kekuatan

pimpinan dalam memberi sanksi, kepercayaan bawahan terhadap atasan sebagai

seorang pemimpin sekaligus sebagai pribadi, dan tingkat kredibilitas pesan yang

diterima bawahan. Berkaitan dengan pesan, pada dasarnya berorientasi pada

kerja, artinya, pasien membutuhkan kepastian peraturan-peraturan tentang

tindakan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.

Berdasarkan hal tersebut, dokter bukan hanya melaksanakan pekerjaan

melayani atau memberikan pertolongan semata-mata, tetapi juga melaksanakan

pekerjaan profesi (ahli) yang terikat pada suatu kode etik. Karena pasien sebagai

komunikan memiliki tingkat ekspektasi yang tinggi terhadap hasil komunikasi

dengan dokter sebagai komunikator. Baik dalam menyampaikan pesan (tentang

penyakit maupun hal lain, seperti memberikan nasehat atau semangat untuk

kesembuhan pasien).

Page 79: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

71

C. Komunikasi Antar Pribadi Sebagai Media Klinik Makmur Jaya Dalam

Memberikan Penyembuhan Terhadap Pasien

Berbagai aspek yang dibahas di atas menegaskan bahwa suatu proses

komunikasi secara fisik terlihat sederhana, namun jika dilihat dari pola, fungsi,

dan pengaruh komunikasi yang terjadi, maka komunikasi adalah sesuatu yang

sangat rumit. Komunikasi antarpribadi bukanlah sesuatu yang mudah dan

sederhana. Oleh karenanya, hubungan antara dokter dengan pasien merupakan

hubungan antar pribadi yang rumit.

Hasil penelitian yang penulis lakukan di Klinik Makmur Jaya menunjukan

bahwa yang menjadi dasar proses penyebuhan pasien adalah hubungan dokter

dengan pasien yang terletak pada wawancara (komunikasi) pengobatan. Keadaan

seperti ini mencerminkan bagaimana pengaruh komunikasi begitu sangat penting

dalam menentukan kesembuhan pasien. Karenanya, berkaitan dengan pola

komunikasi yang dapat mempengaruhi proses penyembuhan pasien tersebut, maka

Klinik Makmur Jaya menggunakan komunikasi sebagai media yang dapat

menjebatani hubungan dokter dengan pasien melalui tiga cara, diantaranya:

Pertama, komunikasi digunakan secara objektifitas, yang menekankan

prinsip standarisasi dan konsistensi kerja kesehatan. Dalam hal ini, pasien

dipandang dalam bentuk dan struktur yang secara individual adalah pasien (objek)

atau hal yang ingin diketahui dan diteliti, pendekatan komunikasi ini digunakan

sebagai metode eksperimen. Melalui metode ini dokter secara sengaja

(mengetahui respon balik jika ditanyakan hal-hal yang sifatnya rahasia dan

pribadi) melakukan suatu percobaan terhadap pasien-pasien yang diobatinya.

Page 80: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

72

Sebagaimana dikatakan oleh dokter Ayat Rahayu :

“Bahwa pendekatan ilmiah perlu dilakukan terhadap pasien sebagai obyek

pengobatan, dengan pendekatan ini, dokter berusaha mendapatkan data

atau apapun yang dibutuhkan dalam proses pengembangan ilmu

pengetahuan khususnya di dunia kesehatan dari hasil proses penyembuhan

pasien…”16

Tujuannya adalah untuk mengukur ada tidaknya pengaruh atau hubungan

sebab-akibat di antara dua variabel atau lebih, dengan mengontrol pengaruh dari

variabel lain. Prosedur yang umum dilakukan adalah dengan cara memberikan

atau mengadakan suatu perlakuan khusus kepada pasien (objek), baik dampak

atau pengaruhnya.

Contoh yang diberikan dokter Ayat Rahayu adalah sebagai berikut:

“5 (lima) orang pasien diberi nasehat (resep tertentu) X, sementara 5

(lima) orang pasien lainnya tidak. Setelah kurun waktu tertentu

dibandingkan ada tidaknya perbedaan di antara dua kelompok pasien

tersebut. Kalau ternyata terdapat perbedaan, dapat ditarik kesimpulan

bahwa perbedaan tersebut terjadi karena pengaruh dari nasehat (resep

tertentu) X tersebut...”17

Pemahaman ini didasarkan pada kesimpulan bahwa stimuli komunikasi

menciptakan efek atau dampak terhadap kesembuhan, sehingga dokter dapat

menduga atau memperkirakan adanya hubungan erat antara isi pernyataan

(nasehat) dan reaksi pasien.

Kedua, komunikasi sepihak, hal ini bertujuan untuk memahami tanggapan

pasien dan hasil temuan dokkter pada individu pasien. Dokter memfokuskan

perhatian terhadap pasien sebagai bagian dari dirinya. Pendekatan komunikasi ini

dilakukan sebagai bentuk partisipasi (observasi). Melalui pendekatan ini, dokter

16

Wawancara pribadi dengan Dr Ayat Rahayu pada tanggal 9 Februari 2011, jam 10:00,

di Klinik Makmur Jaya. 17

Wawancara pribadi dengan Dr Ayat Rahayu pada tanggal 9 Februari 2011, jam 10:00,

di Klinik Makmur Jaya.

Page 81: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

73

dapat mengamati sikap dan perilaku pasien dengan membaur dan melibatkan diri

secara aktif di lingkungan masyarakat sekitar.

Sebagaimana diungkapkan dokter Ayat Rahayu:

“Membangun komunikasi secara aktif ketika ada kegiatan-kegiatan sosial,

ikut dalam aktivitas yang dibangun oleh masyarakat itu sendiri, hubungan

baik itu kan sudah diperoleh melalui wawancara atau tanya jawab saat

proses berlangsungnya pengobatan selama pasien berkunjung ke Klinik

Makmur Jaya...”18

Terkait dengan hal di atas, diungkapkan pula oleh Ilham, salah satu pasien

Klinik Makmur Jaya :

“Saya sering datang berobat atau sekedar konsultasi tentang hal yang saya

alami…kadang dokter sering juga menanyakan keadaan saya dan keluarga

ketika berobat, kalau ngobrolnya lama, kadang kerja, tempat tinggal,

kondisi masyarakat juga ditanyakan…” 19

Ketiga, pola komunikasi digunakan untuk memahami tingkah laku pasien.

Yang diperlukan adalah mengamati pasien secara cermat dan akurat. Untuk hal

ini, pengamatan dilakukan seobjektif mungkin agar hasilnya dapat berlaku umum

dan tidak bersifat kasus. Karena menurut dokter Ayat, pasien adalah manusia yang

aktif, memiliki daya pikir, berprinsip terhadap nilai-nilai tertentu, serta sikapnya

dapat berubah-ubah sewaktu-waktu. Karenanya, selain pengukuran yang cermat

dan akurat diperlukan terhadap kondisi dan tingkah laku pasien yang jadi objek

pengamatan

Dari ketiga hal ini, maka esensi komunikasi antara dokter dengan pasien

akan terfokus pada hubungan komunikasi antar individu, kelanjutan dari hal ini

18

Wawancara pribadi dengan Dr Ayat Rahayu pada tanggal 9 Februari 2011, jam 10:00,

di Klinik Makmur Jaya. 19

Wawancara pribadi dengan pasien pada tanggal 9 Februari 2011, jam 11:30, di Klinik

Makmur Jaya.

Page 82: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

74

didasarkan pada perubahan sikap pasien sebagai ukuran bagi perubahan kesehatan

yang ada pada pasien.

Sebagaimana dikatakan oleh dokter Ayat Rahayu :

“Bahwa hal-hal yang berkaitan dengan sikap dan pikiran menjadi fokus

utama untuk melihat dan mengkaji perkembangan perilaku pasien…sejak

komunikasi terjalin diantara dokter dan pasien, perubahan perilaku

menjadi awal dalam mengembangkan pengobatan, baru kemudian

memasukan norma-norma yang berlaku dalam dunia kedokteran…”20

Dari hal di atas, dapat dikatakan bahwa komunikasi tidak hanya memiliki

pengaruh terhadap individu pasien, tetapi juga mempengaruhi kultur,

pengetahuan, norma serta nilai-nilai dari suatu masyarakat. Dengan demikian,

karakteristik komunikasi dokter yang berpengaruh terhadap proses penyembuhan

pasien pada dasarnya diukur dan berlangsung melalui pendekatan-pendekatan

komunikasi yang dibangun secara utuh dan sempurna berdasarkan tujuan akhir

dari komunikasi tersebut.

20

Wawancara pribadi dengan Dr Ayat Rahayu pada tanggal 9 Februari 2011, jam 11:30,

di Klinik Makmur Jaya.

Page 83: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

75

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:

1. Pola Komunikasi yang digunakan dalam proses penyembuhan di Klinik

Makmur Jaya adalah pola komunikasi antarpribadi. Pola komunikasi

antarpribadi bagi dokter Klinik Makmur Jaya, adalah komunikasi yang

memiliki peranan yang signifikan bagi proses penyembuhan pasien, karena

berpengaruh langsung dengan pola perubahan dan sikap-perilaku pasien

dalam menghadapi keadaan yang dirasakan.

2. Pola komunikasi dokter terhadap pasien merupakan kegiatan komunikasi

dengan berbagai pendekatan, yang menghubungkan bagian-bagian tertentu

antara satu sama lain. Pendekatan secara emosional, empati, maupun rasa

simpati seorang dokter terhadap pasien menjadi dasar bagi penyembuhan

pasien.

3. Komunikasi antarpribadi bagi Klinik Makmur Jaya adalah media bagi

dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan terhadap pasien serta

jembatan untuk mengembangkan pengetahuan tentang kepribadian

manusia. Sehingga pemahaman dokter terhadap perilaku, mental, dan

pikiran pasien dapat menjadi sarana pendukung untuk membangun dunia

kesehatan maupun penyembuhanan pasien itu sendiri.

75

Page 84: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

76

B. Saran-Saran

Peranan yang cukup signifikan, yang diperankan oleh Klinik Makmur Jaya

sebagaimana yang diuraikan dalam penulisan karya ilmiah ini, pada prinsipnya

harus dilaksanakan seoptimal mungkin, agar pelayanan mampu menjadi jembatan

bagi masyarakat dalam meningkatkan aktifitasnya sehrai-hari. Namun penulis

menyadari bahwa peranan ini tidak serta merta membuat setiap lembaga

pelayanan sosial menyalah gunakan kewenangannya, untuk itu penulis

mengharapkan ada strategi-strategi katau upaya yang lebih optimal untuk lebih

meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat.

Untuk lebih meningkatkan pelaksanaan pelayanan pasien dalam proses

penyembuhan, komunikasi harus disampaikan dengan mudah, tidak dengan

simbol-simbol atau angka-angka yang sulit dipahami oleh masyarakat awam.

Maka transformasi pengetahuan harus lebih diupayakan peningkatannya melalui

komunikasi yang lebih meningkatkan pemahaman masyarakat.

Walaupun pengaruh komunikasi cukup penting dalam proses

penyembuhan pasien. Hendaknya dokter dan paramedis mencoba mencari hal-hal

baru untuk mendukung komunikasi antara dokter terhadap pasien agar masyarakat

mampu mengupayakan peningkatan kesehatan secara sadar dan mandiri. Selain

itu, pemanfaatan terhadap komunikasi, hendaknya tidak hanya digunakan sebagai

sarana untuk mendiagnosa penyakit pasien, akan tetapi juga harus dimanfaatkan

sebagai sarana untuk menerangkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan dunia

kesehatan, misalnya obat-obatan yang dibutuhkan.

Komunikasi tidak hanya penting untuk mendukung proses penyembuhan

pasien di dunia kesehatan, tetapi juga mampu menjadi sarana utama untuk

Page 85: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

77

memahami berbagai kondisi masyarakat sosial secara umum, maupun berbagai

kondisi yang tengah dialami oleh pasien secara khusus. Komunikasi dapat

menjadi perangkat atau penghubung bagi lembaga-lembaga sosial yang

memberikan pelayanan masyarakat, guna mendapatkan gambaran fisik maupun

non-fisik bagi lembaga pelayanan.

Page 86: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

DAFTAR PUSTAKA

Abidin Ass. Djamalul, Komunikasi dan Bahasa Dakwah, Jakarta: Gema Insani

Press, 1996.

Bachtiar. Wardi, Metode Penelitian Ilmu Dakwah, Jakarta: Logos, 1997, cet.

Pertama.

Budyatna. M. dan Nina Mutmainnah, Komunikasi Antar Pribadi, Jakarta:

Universitas Terbuka, 2004.

Clevenger Jr. Theodore, Can One Not Communicate? A Conflict of Model,

Communication Studies, dalam Stephen W. Littlejohn, Theories of Human

Communication, New Jersey: Wadsworth Publication, 1991

Effendy. Onong Uchjana, Ilmu Komunikasi; Teori dan Praktek, PT Remaja

Rosdakarya : Bandung, 2009, cet. Ke-22.

, Dinamika Komunikasi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004, cet. Ke-6.

Gunadi. YS., Himpunan Istilah Komunikasi, Jakarta: Gramedia, 1998.

Hadi, Sutrisno. Metodologi Research, Jogjakarta: Andi Offset, 1983.

Kincaid. D. Lawrence dan Wilbur Schramm, Azas-azas Komunikasi antar

Manusia. Penerjemah Agus Setiadi, Jakarta: LP3ES bekerja sama dengan

East-West Communication Institute, 1977.

Komalawati. Veronica, Peranan Informed Consent Dalam Transaksi Terapeutik;

Persetujuan dalm Hubungan Dokter dan Pasien; Suatu Tinjauan Yuridis,

Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999.

Liliweri. Alo, Komunikasi Antar Pribadi, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1991.

Lumentu. Benyamin, Pasien; Citra, Peran dan Perilaku; Tinjauan Fenomena

Sosial, Yogyakarta: Kanisius, 1989.

Mantra. I.B., MPH, Komunikasi, Jakarta: DepKes RI (Pusat Penyuluhan

Kesehatan Masyarakat), 1994.

Moloeng, Lexy J., Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosda

Karya, 2009, edisi revisi cet. Ke 26.

Muhammad. Anri, Komunikasi Organisasi, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.

Page 87: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

Nurudin, Sistem Komunikasi Indonesia, PT RajaGrafindo Persada : Jakarta, 2010,

cet. Ke-V.

Partanto, Pius, A dan Al-Barry, Dahlan, M., Kamus Ilmiah Populer, Surabaya:

Arkola,1994.

Stewart L. Tubbs-Sylvia Moss, Human Communication; Konteks-konteks

Komunikasi, Penerjemah Deddy Mulyana, Bandung: Remaja Rosdakarya,

2000.

Sarwono. Solita, Sosiologi Kesehatan; Beberapa Konsep Beserta Aplikasinya,

Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1997.

Syamsir Salam dan Jaenal Aripin, Metodologi Penelitian Sosial, Jakarta: UIN

Jakarta Press, 2006.

Sutarto, Dasar-dasar Komunikasi Administrasi, Yogyakarta: Duta Wacana

University Press, 1991.

Tommy Suprapto dan Fahrianoor, Komunikasi Penyuluhan; Dalam Teori dan

Praktek, Arti Bumi Intaran : Jogjakarta, 2004, cet. I.

Usman, Husaini. dan Setiadi Akbar, Purnomo. Metodologi Penelitian Sosial,

Jakarta: Bumi aksara, 1998.

Widjaja. A. W., Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Jakarta: PT. Bina

Aksara, 1986.

, Ilmu Komunikasi; Pengantar Studi, Yogyakarta: Rineka Cipta, 2002.

Wiryanto, Teori Komunikasi Massa, Jakarta: PT Grasindo, 2000.

Yulistiani, Indriati. Ragam Penelitian Kualitatif: Penelitian Lapangan, Fakultas

Ilmu Sosial dan Ilmu Politik: UI, 2001.

Sumber Lain :

Ahmad Mulyana, M.Si., Memahami Diri dan orang lain Dalam komunikasi Antar

pribadi. http://www.morrisan.web.id/Memahami Diri dan orang lain

Dalam komunikasi Antar pribadi, (diambil pada tanggal 25 November

2010).

………,dalam Teori Komunikasi (2008), Pengaruh Komunikasi Massa Terhadap

Individu, http://www.morrisan.web.id/ Pengaruh Komunikasi Massa

Terhadap Individu (diambil pada tanggal 25 November 2010).

Page 88: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

Hasil Wawancara Pribadi dengan Dokter Ayat Rahayu, dokter Klinik (umum dan

gigi), paramedis sekaligus staff pengurus Klinik, maupun pengunjung

(pasien) yang ada di Klinik Makmu Jaya.

http://www.morrisan.web.id/upaya merumuskan definisi mengenai komunikasi,

(diambil pada hari Jum’at tanggal 26 November 2010, pukul 21.30).

Studi Bank Dunia (World Bank) pada tahun 1995-2000 di beberapa negara

(Eropa, Amerika, Afrika, dan Asia), dalam

http://kesmas.depkes.go.id/index.php?option=comcontent&task=view&id

=61&Itemid=79. (diambil pada hari senin tanggal 11 Januari 2011, jam

19:00).

Media Indonesia; Wajah Buram Keseshatan Bangsa Kita.

http://www.aidsindonesia.or.id. (diambil pada hari senin tanggal 11

Januari 2011, jam 18:30).

Paper Surya utama; Upaya Menghadapi Masalah Kesehatan Di Masa Depan,

Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara, dalam

surya_utamablogspot. (diambil pada hari senin tanggal 11 Januari 2011,

jam 18:35).

http://indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=7660&It

emid=821. (diambil pada tanggal 12, jam: 20:30. 2011).

Rumah Sakit, Klinik, Puskesmas, Posyandu dan lain sebagainya. 1 http://fasilitator-masyarakat.org/index.php?pg=artikel_detail&id=190. Peranan

Pekerja Sosial Dalam Pendampingan, (diambil pada tanggal 12, jam:

20:30. 2011).

Page 89: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya yang bernama:

Nama : Putri Rachmania

Status : Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Jurusan : Komunikasi Penyiaran Islam (KPI)

Semester : VIII (Delapan)

Dengan ini menerangkan bahwa saya sedang menyelesaikan penelitian di Klinik

Makmur Jaya yang berjudul:

“POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM PROSES

PENYEMBUHAN DI KLINIK MAKMUR JAYA; Study Kasus pada Klinik

Makmur Jaya di Kertamukti Ciputat Tangsel”

Untuk keperluan skripsi ini saya mohon kesediaan dari Bapak/Ibu/Saudara/i

meluangkan waktu untuk wawancara. Dan atas kesediaan Bapak/Ibu/Saudara/i

meluangkan waktu untuk wawancara seyogyanya saya ucapkan terima kasih.

Semoga hasil wawancara ini dapat membantu penyelesaian skripsi saya.

Wassalam

(Putri Rachmania)

Page 90: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

PEDOMAN WAWANCARA

DENGAN PIMPINAN KLINIK MAKMUR JAYA

Data Singkat Informan

Nama : Ayat Rahayu, Sp. Rad. M. Kes.

Umur : 38 Tahun

Jabatan : Pimpinan dan dokter Klinik Makmur Jaya

Tanggal Wawancara : 18 Desember 2010

Tempat Wawancara : Klinik Makmur Jaya

1. Bagaimana sejarah berdirinya Yayasan Kumala ini?

Klinik Makmur Jaya berdiri pada tahun 2007 sebagai bentuk upaya kita

membantu serta meningkatakan kesehatan masyarakat..

2. Apa yang menjadi tujuan utama dari Yayasan Kumala ini?

Tujuan dari berdirinya Klinik Makmur Jaya adalah menjadi Klinik pilihan

masyarakat sekitar dalam pelayanan kesehatan yang mandiri.

3. Apa saja yang visi dan misi Yayasan Kumala ini?

Klinik Makmur Jaya memiliki visi dan misimenjadi Klinik Swasta yang

melayani pengobatan kesehatan masyarakat dengan pendekatan kasih saying

dan empati, serta dengan biaya terjangkau (murah) sesuai kamampuan sosial-

ekonomi masyarakat.

4. Berapa jumlah dokter, paramedis, dan pengurus di Klinik Makmur Jaya?

Dokter ada 2 orang, selain saya ada juga dokter Ari Setiawan. Sementara

paramedis ada sekitar 2 orang. Sedangkan pengurus berjumah 2 orang.

Masing-masing tugas diberlakukan secara bergantian…karena waktu

operasinya 24 jam, maka kerja dibagi menjadi siang malam.

5. Berapa jumlah poli yang ada di Klinik Makmur Jaya?

Ada Poli Umum, Poli Gigi, dan Spesialisasi Radiologi

6. Bagaimana pola komunikasi yang terbangun antara dokter dan pasien di

Klinik Makmur Jaya?

Bahwa komunikasi yang dibangun antara dokter dengan pasien di Klinik

Makmur Jaya adalah komunikasi yang memberikan perhatian lebih, dalam

arti lebih dari apa yang diperkirakan oleh pasien…sehingga pasien mau

memberikan keluhan mereka, melebihi dari apa yang diinginkan oleh dokter

atau paramedis.

7. Kapan pola komunikasi dirasakan sangat berperan bagi proses penyembuhan

pasien?

Page 91: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

Di dalam wawancara pengobatan atau diagnosa penyakit, dokter atau

paramedis yang menjalankan tugas tersebut melakukan wawancara dengan

baik, yang berhubungan dengan tugas, peran dan fungsi, serta tanggung

jawabnya. Tidak menyinggung perasaan atau hal-hal yang sensitif yang dapat

membuat pasien tertutup.

8. Hal apa saja yang dibutuhkan dokter dalam proses wawancara untuk

mendiagnosa pasien, dok?

Bahwa seorang dokter sebagai komunikator yang baik tentunya harus

mempunyai sifat yang menunjang jalannya komunikasi dengan pasien,

misalnya: pengenalan diri, kepercayaan (credibility), daya tarik (attractive),

kekuatan (power), dan yang dibutuhkan dokter untuk membangun komunikasi

yang baik, ya…., keterampilan berkomunikasi, keterampilan berbicara,

menulis, mendengar, membaca dan bernalar.

9. Selain hal-hal di atas, ada tidak hal-hal lain yang menyangkut teknis,

misalnya, untuk dipersipkan, dok?

Selain itu, masalah teknis, mungkin catatan atau alat-alat tulis saja…yang

paling penting dokter harus mempunyai sikap (attitudes) yang baik dan

bertanggung jawab, walaupun pendidikan dan tingkat sosial berbeda, sikap

yang wajar dan sama sejajar harus yang ditampakkan, karena sikap ini

penting untuk menghantarkan informasi sesuai dengan yang diinginkan oleh

kedua pihak…jika sikap terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain buruk

maka pesan penting yang seharusnya diterima oleh pasien (receiver) tidak

sepenuhnya diterima karena pergeseran nilai kepentingan ataupun yang

lainnya.

10. Hal apa saja yang diperhatikan selain keluhan pasien dalam komunikasi atau

wawancara pengobatan, dok?

Antara kognitif dan perilaku…kami melihat bahwa perilaku lebih unggul

untuk membentuk satu kesimpulan pasien, walaupun semetara waktu. Jika

pemaknaan lambing-lambang tidak dapat dimengerti maka kita dapat

melihatnya pada perilaku.

11. Selain komunikasi secara langsung, saat berhadapan dengan pasien alat-alat

kesehatan kan cenderung pake angka atau yang lain, semacam tanda atau

simbol dipertunjukan ke pasien apa tidak, dok?

Yang dilakukan dokter adalah memilih seperangkat informasi untuk

dikomunikasikan, kemudian menciptakan suatu pesan yang dapat

diterjemahkan, misalnya dari tanda atau lambang baik melalui bahasa lisan,

tulisan, dan perilaku nonverbal seperti bahasa isyarat, ekspresi wajah atau

gambar-gambar dan lain sebagainya.

12. Sejauhmana peran diri pribadi pasien terhadap proses penyembuhan dirinya,

dok?

Peran diri pasien itu sendiri juga menentukan bagaimana berjalannya proses

komunikasi terhadap penyembuhan, bagaimanapun peran dan fungsi dokter

terhadap penyembuhan tidak akan berarti, jika komunikasi antar diri sendiri

Page 92: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

tidak berjalan dengan baik, pasien harus memahami apa yang sedang

dirasakan oleh dirinya, kemudian komunikasi meningkat pada dua pribadi

(dokter dan pasien), yang disebut komunikasi antar pribadi.

13. Hal apa saja yang mendukung proses penyembuhan pasien melalui

komunikasi, dok?

Hal yang mendukung adalah, pengalaman dan pendidikan. Bahwa

pengalaman dalam kehidupan membentuk diri pribadi setiap orang, tetapi

setiap orang juga harus menyadari apa yang sedang dan telah terjadi pada

diri pribadinya dan orang lain. Kesadaran terhadap diri pribadi ini pada

dasarnya adalah suatu proses persepsi yang ditujukan pada dirinya sendiri

dan apa yang sedang dialaminya. Hal ini, menjadi hal utama yang

mendukung respon dokter atau pasien itu sendiri dalam mempercepat proses

kesembuhan penyakitnya.

14. Bagaimana cara dokter menyimpulkan penyakit, dan keinginan pasien dalam

proses penyembuhan dengan komunikasi?

Di dalam menarik kesimpulan tentang apa yang dibutuhkan pasien, dokter

harus menarik kesimpulan melalui suatu proses yang logis. Karena

interpretasi yang dihasilkan melalui persepsi biasanya kensimpulan atas

dasar informasi yang tidak lengkap, artinya dokter mempersepsikan makna

dengan melompat pada satu kesimpulan yang tidak sepenuhnya didasarkan

atas data sesungguhnya dari pasien, tapi hanya berdasar penangkapan indra

yang terbatas, melalui diagnosa.

2. Apakah keluhan pasien tidak menganggu kestabilan berpikir dokter, misalnya

dengan masalah pribadi, mungkin, dok?

Kami menerima begitu banyak keluhan…memang keluhan pasien sangat

beragam, dari penyakit, ekonomi, perasaan, tertekan, kurang percaya diri,

dan lain sebagainya. Di dalam hal ini, kami sebagai dokter harus mampu

menciptakan stabilitas, struktur dan makna komunikasi yang dapat

mempengaruhi kesembuhan pasien, dari banyaknya pesan, kami harus

memutuskan apa yang terbaik, yang menjadi kebutuhan pasien secara cepat.

3. Sejauhmana peran komunikasi dalam proses kesembuhan pasien, menurut

dokter?

Peran penting komunikasi terhadap proses penyembuhan pasien tidak

terlepas dari peran seorang dokter, bagaimana peran dan fungsi dokter

terhadap penyampaian komunikasi agar sesuai dengan keadaan pasien,

memahami apa yang sedang dirasakan pasien, dan juga mengerti apa yang

menjadi keinginan pasien.

4. Selain komunikasi, dok., adakah hal lain semacam tindakan-tindakan tertentu,

misalnya?

Tindakan yang dilakukan oleh kami dalam proses penyembuhan pasien tidak

jauh dari pendekatan-pendekatan yang bersifat komunikasi, simpati, nasehat,

dan lain-lain semacamnya…Bahwa upaya penyembuhan pasien dengan

komunikasi ditentukan oleh bagaimana gaya komunikasi yang disampaikan

Page 93: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

agar dapat mempengaruhi situasi yang berdampak pada kesembuhan pasien.

Gaya komunikasi sangat berperan dalam keberhasilan komunikasi terhadap

proses penyembuhan pasien, komunikasi yang santun dan membangun lebih

berperan bila dibandingkan dengan menganggap pasien sebagai obyek dari

komoditas...gaya komunikasi mengindikasikan bahwa dokter mampu

mengendalikan diri dan kepetingannya di atas kepetingan pasien yang

menjadi tugas dan tanggung jawabnya.

5. Sejauhmana komunikasi dipandang efektif bagi proses penyembuhan pasien,

menurut dokter?

Komunikasi sejauh ini efektif. Bahwa komunikasi akan lebih efektif jika kami

sedang melakukan pengobatan dengan pasien yang memiliki pendidikan,

pengalaman, dan juga bertanggung jawab terhadap kesembuhannya…tujuan

komunikasi yang dilakukan antara dokter dan pasien adalah untuk

memberikan perintah dan pengontrolan terhadap proses penyembuhan

pasien.

6. Proses penyembuhan pasien yang dilakukan dengan pendekatan komunikasi,

apa bisa disebut dengan pendekatan ilmiah, dok?

Di dalam dunia kesehatan, komunikasi untuk mendapatkan data dari keluhan

pasien itu penting dan merupakan hal yang utama…ilmiah apa tidaknya, yang

jelas kami melakukannya dengan cara-cara ilmu pengetahuan…Bahwa

pendekatan ilmiah perlu dilakukan terhadap pasien sebagai obyek

pengobatan, dengan pendekatan ini, dokter berusaha mendapatkan data atau

apapun yang dibutuhkan dalam proses penyembuhan pasien.

7. Pengaruhnya pada perkembangan kesembuhan pasien, dok?

Sangat berpengaruh, terutama pada sikap dan mental pasien…Bahwa hal-hal

yang berkaitan dengan psikologis menjadi fokus utama untuk melihat dan

mengkaji perkembangan perilaku pasien…sejak komunikasi terjalin diantara

dokter dan pasien, perubahan perilaku menjadi awal dalam mengembangkan

pengobatan, baru kemudian memasukan norma=norma yang berlaku dalam

dunia kedokteran.

Data Singkat Informan

Nama : Novi Anggraini

Umur : 22 Tahun

Jabatan : Staf pengurus dan paramedis

Tanggal Wawancara : 19 Desember 2010

Tempat Wawancara : Klinik Makmur Jaya

1. Sudah berapa lama Mbak di sini?

Sudah satu tahun, mbak.

2. Mbak, tinggalnya di mana?

Page 94: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

Di sekitar sini, di belakang MP (Madrasah Pembangunan).

3. Sebelum menjadi staf pengurus di Klinik Makmur Jaya, mbak kerja atau

kuliah?

Kuliah tahap ahir di Kedokteran UIN.

4. Bagaimana Klinik Makmur Jaya, menurut Mbak,?

Yang saya rasakan bagus dan nyaman mbak. Klinik Makmur Jaya sangat

membantu masyarakat sekitar yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

Apalagi Klinik Makmur Jaya jam kerjanya selama 24 jam, ya…, sangat

membatu aja, mbak.

5. Apakah ada kendala yang mbak rasakan dengan jam kerja Klinik Makmur

Jaya?

Di Klinik Makmur Jaya semua sudah terstruktur atau teratur, masalah jam

kerja tidak ada kendala karena kita memakai sistem roling, ada yang masuk

siang dan ada yang kebagian jam kerja pada malam hari.

6. Bagaimana penerapan atau proses komunikasi dokter dengan pasien yang

mbak amati di Klinik Makmur Jaya?

Yang saya rasakan baik-baik saja…antara dokter dan pasien tidak yang

menghambat…mungkin karena sama-sama tau apa yang menjadi tugas dan

peran masing-masing mbak…jadi lancar dan akrab aja.

7. Pola komunikasi yang diterapkan di Klinik Makmur Jaya, menurut Mbak?

Di sini kami sebagai staf pengurus juga berhak memberikan saran maupun

keluhan yang berkaitan dengan Klinik Makmur Jaya, tidak hanya pasien yang

menjadi fokus kerja…kami sebagai pengurus juga wajib mengkomunikasikan

diri kami dan pekerjaan, tugas, masalah atau konflik yang terjadi…kami

menjaga agar hubungan lebih dekat, dapat memecahkan masalah, dan

mendapatkan solusi dari tugas yang kami jalankan.

8. Ada tidak, pengaruh komunikasi yang berdampak pada kesembuhan penyakit

pasien, menurut mbak?

Menurut saya ada mbak…walaupun tidak bisa diukur sejauhmana tingkat

keberhasilannya secara cepat, namun secara perlahan ada perubahan yang

terjadi baik dari segi mental maupun perilaku pasien…pasien yang datang

berkunjung selain berobat, mereka juga senang berkonsultasi di sini. Dan

saya pikir itu memberikan nilai positif bagi Klinik Makmur Jaya. Karena

komunikasi yang dibangun oleh dokter terhadap pasiennya sangat baik.

9. Pendekatan yang dilakukan dengan komunikasi seperti apa, mbak?

Ya…pendekatan secara sikologis, komunikasi yang laksanakan memberikan

dampak perubahan terhadap tindakan penyembuhan yang diinginkan

pasien…bisa melalui nasehat, dialog atau dokter membuat jadwal berkunjung

ke rumah-rumah pasien yang ditangani oleh Klinik Makmur Jaya.

Page 95: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

Data Singkat Informan

Nama : Fenny

Umur : 20 Tahun

Jabatan : Pasien Klinik Makmur Jaya

Tanggal Wawancara : 19 Desember 2010

Tempat Wawancara : Klinik Makmur Jaya

1. Seberapa sering mbak berkunjung ke Kilinik Makmur Jaya?

Kalau berobat tak tentu juga. Pas kalau sakit-sakit aja…tapi kalau Cuma

konsultasi dengan dokter di sini kadang dua minggu sekali atau seminggu

sekali.

2. Hal apa saja yang dikonsultasikan, mbak?

Yaaa, hal-hal pribadi aja. Yang menyakut dengan kesehatan wanita ataupun

beban pikiran aja mbak.

3. Memang mbak sakit apa, sehingga rutin berkonsultasi ke Klinik Makmur

Jaya?

Alergi mbak.

4. Apa saja yang didapat oleh mbak selama berkonsultasi?

Dapat berkomuniaksi soal kesehatan dengana dokter…nambah pengetahuan

dan pengalaman juga.

5. Bagaimana perhatian dokter terhadap penyakit pasien di Klinik Makmur Jaya?

Saya ke Klinik Makmur Jaya karena banyak yang ingin dikomunikasikan,

saya banyak mendapatkan informasi untuk melakukan evaluasi diri,

mengetahui diri sendiri…selain itu juga, saya dapat memahami orang lain,

setidak-tidaknya berusaha memahami apa yang menjasi keinginan dokter dari

perilaku kita sebagai pasien.

6. Menurut mbak, komunikasi yang dibangun dengan dokter bagaimana, ada

perubahan tidak, terhadap proses penyembuhan mbak?

Buat saya pribadi ada pengaruhnya…dapat nasehat atau resep-resep obat

dari dokter di Klinik Makmur Jaya sangat membantu, selain meringankan

beban pikiran dan mental, kesembuhan yang ada pada diri saya juga ada

yang berubah… yang saya rasakan sedikit tidaknya ada…itu saya pribadi lho,

mbak. Gak tau orang lain.

7. Kinerja dokter di Klinik Makmur Jaya, menurut mbak?

Bagus dan bersahabat…perhatian dan nasehat-nasehat yang membangun

yang sering dimunculkan.

8. Pelaksanaan komunikasinya bagaimana mbak?

Page 96: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

Komunikasi atau diskusi aja…dokter menanyakan hal-hal yang berkaitan

dengan penyakit yang saya rasakan…tapi selain itu, dokter juga menanyakan

hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat dan keluarga…

9. Harapan mbak ke depan untuk Klinik Makmur Jaya, bagaimana?

Adanya peningkatan dari segi pelayanan, dalam arti pasien yang tidak

mampu diberikan pelayanan yang memadai dan

gratis....hehehe…bertambahnya kepercayaan masyarakat sekitar terhadap

Klinik Makmur Jaya aja.

Data Singkat Informan

Nama : Zaskyah

Umur : 20 Tahun

Jabatan : Pasien Klinik Makmur Jaya

Tanggal Wawancara : 19 Desember 2010

Tempat Wawancara : Klinik Makmur Jaya

1. Mbak sering berkunjung ke Klinik Makmur Jaya?

Sering, gak juga sih. Kalau sakit-sakit aja atau ada keperluan lain.

2. Keperluan lain misalnya apa, mbak?

Konsultasi mengenai kesehatan aja.

3. Selain berobat di Klinik Makmur Jaya, di mana mbak biasanya berobat?

Selain di sini, yaaa, di Rumah Sakit UIN atau Fatmawati. Kalau bareng

keluarga aja kadang-kadang ke Fatmawati.

4. Menurut mbak, Klinik Makmur Jaya, bagaiamana?

Yaaa, walaupun kecil tapi bersih…enaknya membuka pelayanan selama 24

jam.

5. Menurut mbak, komunikasi mbak dengan dokter di sini bagaimana?

Baik-baik aja…bersahabat dan nyaman…mungkin karena tugas dokter yang

memang harus begitu kali mbak...

6. Bentuk komunikasi yang dilakukan seperti apa, mbak?

Semacam diskusi Tanya jawab aja…tentang masalah kesahatan dan resep-

resep obat yang dibutuhkan oleh saya atau pasien lainnya.

7. Komunikasi yang dibangun apa sebatas di Klinik Makmur Jaya aja, atau ada

hal lain atau waktu-waktu tertentu?

Yaaa, yang saya alami sih, Cuma sebatas di Klinik aja…tapi dokter atau

paramedis di sini sering juga menanyakan hal-hal diluar yang saya

konsultasikan.

Page 97: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

8. Hal yang ditanyakan seperti apa mbak?

Kebiasaan saya di rumah atau sama teman-teman saya...kadang juga pola

hidup dan pola makan serta cara saya bergaul di masyarakat sekitar.

9. Hal itu, positif apa negative, menurut mbak?

Mmmm...negatif sih gak juga…tapi kadang gak ngerti aja.

10. Gak ngerti terhadap pertanyaan dokter apa tehadap jawaban yang diberikan

dokter untuk mbak?

Gak ngerti aja, kalau maksud saya konsultasi yang lain tapi dapatnya

pertanyaan atau nasehat lainnya….apalagi kalau dengar nama obat atau

resep-resep dokter…nasehatnya juga pake istilah Inggris atau apa gitu…ada

yang saya pahami ada juga yang tidak.

11. Tapi, bagaimana cara komunikasi dan pengobatan yang selama ini Mbak

rasakan di Klinik Makmur Jaya?

Pengobatan di Klinik Makmur Jaya, terasa nyaman, karena dokter dan

perawatnya ramah dan enak diajak ngobrol…dalam proses pengobatan,

dokternya sangat perhatian, baik, dan kadang humoris…ada juga nasehat-

nasehat keagamaan dan mental, ya, untuk penyadaran dirilah…setidaknya

saya lebih perhatian juga terhadap kesehatan dan lain sebagainya.

12. Harapan mbak untuk Klinik Makmur Jaya dan dokternya apa?

Harapanya…ke depan lebih baik dan bagus aja…oh ia, kalau memberikan

saran atau resep supaya ditulis dengan jelas…atau dijelaskan dengan bahasa

yang mudah dimengerti aja…soalnya susah bahasanya pake bahasa yang

aneh.

Data Singkat Informan

Nama : Reza

Umur : 25 Tahun

Jabatan : Pasien Klinik Makmur Jaya

Tanggal Wawancara : 19 Desember 2010

Tempat Wawancara : Klinik Makmur Jaya

1. Reza sering dating untuk berobat di sini?

Baru 3 kali ma ini, mbak.

2. Memang sebelum ini, mas Reza berobat kemana?

Di Rumah Sakit UIN.

3. Mas Reza tinggal di mana?

Page 98: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

Kertamukti mbak, di situ dekat.

4. Mas Reza mau berobat apa konsultasi?

Berobat mbak.

5. Sakit apa, mas. Kan dekat, kok baru 3 kali?

Demam aja. Yaaa, sakitkan gak setiap hari, mbak.

6. Menurut mas Reza, Klinik Makmur Jaya, bagaimana?

Baguslah...jadi bisa dekat, tinggal lurus aja…gak usah jauh-jauh ke Rumah

Sakit UIN…di sini juga lumayan nyaman tidak ribet.

7. Selama masa Reza berobat di Klinik Makmur Jaya, apa yang mas Reza

rasakan, misalnya, dokternya baik, ramah, atau berkomunikasinya lancar,

menunjukan perhatian ke mas Reza atau yang lainya?

Yang saya rasakan sih enak-enak aja. Dokternya ramah dan enak diajak

ngobrol. Dokter sih lancar-lancar aja kalau lagi nanya-nanya mah.

8. Yang ditanya soal apa saja mas?

Soal penyakit yang dirasakan.

9. Peran dokter terhadap kesembuhan mas, menurut mas bagaimana?

Yaaa, dokter pentinglah mbak. Sedikit banyak dokter yang saya rasakan

sangat membantu saya dalam berobat.

10. Selain berobat, apa dokter sering menasehati mas untuk menjaga kesahatan

atau yang lainnya?

Dokter pasti memberikan nasehat pada saya, misalnya menjaga lebih baik

daripada mengobati…yaaa, bertanggung jawab terhadap diri sendiri untuk

menjaga kesehatan.

Data Singkat Informan

Nama : Ilham

Umur : 20 Tahun

Jabatan : Pasien Klinik Makmur Jaya

Tanggal Wawancara : 19 Desember 2010

Tempat Wawancara : Klinik Makmur Jaya

1. Sudah berapa kali mas Ilham berkunjung ke sini?

Lebih dari lima kali lah.

2. Mas Ilham tinggal di mana?

Di belakang Pasca UIN.

Page 99: POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM …

3. Mas Ilham ke sini untuk berobat apa konsultasi?

Berobat aja, mbak.

4. Sakit apa mas?

Sakit panas.

5. Kalau mas Ilham sudah lebih dari lima kali berobat ke sini, menurut mas

Ilham Klinik Makmur Jaya, bagaimana?

Bagaimana apanya, mbak.

6. Bagaimana dokter dan pelayanan yang dirasakan mas Ilham yang diberikan

oleh Klinik Makmur Jaya?

Baguslah, seperti klinik-klinik lain juga. Tapi di sini lebih nyaman dan

gampang aja. Tidak ribet dan tidak lama, harus menunggu giliran berjam-jam

gitu, mbak.

7. Sebelum-sebelumnya, hal apa saja yang ditanyakan dokter terhadap mas Ilham

jika sedang berhadapan?

Yaaa, tentang penyakit yang dirasakan, mbak.

8. Hal lain?

Saya sering datang berobat atau sekedar konsultasi tentang hal yang saya

alami…kadang dokter sering juga menanyakan tempat tinggal, keluarga, dan

kondisi sosial masyarakat.

9. Seperti apa, mas?

Yaaa, seperti keadaan masyarakat atau tetangga menurut saya pribadi

bagaimana…misalnya kalau mereka mengalami sakit yang sama seperti yang

saya rasakan…apakah mereka berobat atau beli obat warung gitu, mak.

10. Menurut mas Ilham, hal yang ditanyakan positif apa negatif?

Tidak juga sih, malah bagus…berarti dokter perhatian sama masyarakat

sekitar…tapi saya gak taulah kenapa.

11. Menurut mas Ilham, nasehat yang diberikan dokter terhadap mas Ilham

bagaimana, dampaknya buat penyembuhan mas Ilham berpengaruh apa tidak?

Saya sih senang aja, mbak…karena saya gak ma terus-terusan sakit…buat

saya pribadi sih…ada…walaupun tidak langsung sembuh…yaaa, nasehat

dokter Klinik Makmur Jaya memberikan keringanan pikiran, mbak. Sehingga

memberikan kepercayaan diri bahwa sakit pasti ada obatnya.