of 29 /29
Larva cutaneous migrans

PLENO SKEN 5

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: PLENO SKEN 5

Larva cutaneous migrans

Page 2: PLENO SKEN 5

Gatal yang berpindah-pindah• Seorang ibu membawa anak laki-lakinya umur 5 tahun,

berobat ke Puskesmas dengan keluhan utama gatal sekali dan merah yang pindah-pindah di bagian samping tungkai bawah sebelah. Keluhan ini sudah dirasakan 1 bulan yang lalu sejak liburan di perkebunan karet di Subang. Pada awalnya terdapat bintik merah disertai bercak kecil, yang makin hari makin banyak, walaupun sudah diberi salep. Menurut ibunya, anak tersebut gemar bermain dengan kucing kesayangannya. Pada pemeriksaan fisik dibagian lateral ekstremitas inferior sinistra tampak papula eritema sebagian linier, sebagian serpiginosa. Pada bagian tertentu ditemukan vesikel dan pustula.

Page 3: PLENO SKEN 5

Perumusan masalah

1. Apa penyebab gatal dan merah yang berpindah?2. Adakah hubungan riwayat kebiasaan dengan

keluhan?3. Mengapa bintik merah disertai bercak

kecil,makin hari makin banyak?4. Mengapa pemberian salep tidak memperbaiki

keadaan pasien?5. Mengapa terdapat papula,pustula dan vesikel

pada pasien tsb?

Page 4: PLENO SKEN 5

pembahasan

1. a. Karena memicu pengeluaran histamin b. Karena pergerakan larva dan munculnya reaksi imun

2. ada, karena hospes definitifnya salah satu adalah kucing

3. Bintik merah itu menandakan tempat masuknya larva, kemudian bertambah banyak karena pergerakan larva tsb

4. Karena pemberian salep hanya mengurangi gejala tanpa mengobati penyebabnya (mematikan larva cacing)

Page 5: PLENO SKEN 5

5. Karena reaksi inflamasi

Page 6: PLENO SKEN 5

Penataan hipotesa

• Ada hubungan antara riwayat kebiasaan dan keluhan pasien

Page 7: PLENO SKEN 5

Mind Mapping

Creeping Eruption

Page 8: PLENO SKEN 5

Tujuan Pembelajaran

Mengetahui, memahami, dan menjelaskan mengenai :1.Etiologi (siklus hidup)2.Faktor predisposisi dan epidemiologi3.Patofisiologi4.Pemeriksaan5.Penatalaksanaan, Pencegahan dan edukasi6.Diagnosis Banding7.Komplikasi dan Prognosis8.Penyakit-penyakit zoonosis

Page 9: PLENO SKEN 5

Lidya wulandari

Etiologi, faktor presdiposisi, dan epidemiologi(cutaneous larva migrans)

Page 10: PLENO SKEN 5

• Penyebab• etiologies umum dan di mana parasit dari kulit

larva migrans (CLM) yang paling sering ditemukan adalah sebagai berikut:– braziliense Ancylostoma (cacing tambang dan

domestik anjing liar dan kucing) adalah penyebab paling umum. Hal ini dapat ditemukan di Amerika Serikat tengah dan selatan, Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan Karibia.

– Ancylostoma caninum (cacing tambang anjing) ditemukan di Australia.

– Uncinaria stenocephala (cacing tambang anjing) ditemukan di Eropa.

– Bunostomum phlebotomum (ternak cacing tambang)

Etiologi

Page 11: PLENO SKEN 5

• etiologies Langka meliputi:– Ancylostoma ceylonicum– Ancylostoma tubaeforme (cacing tambang kucing)– Necator americanus (cacing tambang manusia)– Strongyloides papillosus (parasit domba, kambing,

dan sapi)– Strongyloides westeri (parasit kuda)– Ancylostoma duodenale

• Pelodera (Rhabditis) strongyloides• Cutaneous Larva Migrans atau Cacing Kulit

disebabkan oleh infeksi cacing jenis Ancylostoma braziliense dan sejenisnya, yakni cacing berukuran kecil yang hanya dapat dilihat melalui mikroskop

Page 12: PLENO SKEN 5

Cara penularan manusia

Page 13: PLENO SKEN 5

Cara penularanhewan

Page 14: PLENO SKEN 5

Contoh yg sudah terkena cutaneous larva migrans

Page 15: PLENO SKEN 5

• Sejarah• Kesemutan / menusuk-nusuk di tempat paparan dalam waktu 30 menit penetrasi

larva, timbulnya kulit larva migrans-an (CLM)• Intense pruritus• Eritem, sering linier lesi yang memajukan• Sering dikaitkan dengan riwayat berjemur, berjalan dengan kaki telanjang di

pantai, atau kegiatan serupa di lokasi yang tropis• Kecenderungan untuk tertular larva migrans kulit adalah sebagai berikut:

– Hobi dan pekerjaan yang melibatkan kontak dengan hangat, tanah lembab, berpasir

– Tropical / perjalanan iklim subtropis– Barefoot beachgoers / sunbathers– Anak-anak di kotak pasir– Tukang kayu– Montir listrik– Tukang ledeng– Petani– Tukang kebun– Pembasmi hama

faktor presdiposisi

Page 16: PLENO SKEN 5

FrekuensiCuntaneus larva migrans paling sering terjadi di daerah dengan iklim

tropis atau subtropis yang hangat dan lembab• cutaneous larva migrans dinilai kedua antara infeksi cacing keremi

di negara maju.• Mortalitas / Morbiditas

larva migrans cutaneous adalah jinak dan self-terbatas namun dapamenyebabkan pruritus mengganggu.

• Rastidak ada predileksi ras tertentu ,

• Sekstergantung pada paparan.• Umur

lebih sering daripada orang dewasa.

epidemiologi

Page 17: PLENO SKEN 5

Patfis

Page 18: PLENO SKEN 5

A B

Gambar 1. (A) Siklus hidup cacing (B) Fotomikrograf kulit yang menunjukkan nematoda creeping eruption dalam terowongan dengan pembesaran 480x (Kirby – Smith, et al)

Page 19: PLENO SKEN 5

• PATOGENESIS

• Penyebab utama adalah larva yang berasal dari cacing tambang binatang anjing dan kucing, yaitu Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum. Selain itu dapat pula disebabkan oleh larva dari beberapa jenis lalat, seperti Castrophillus (the horse bot fly) dan cattle fly. Biasanya larva ini merupakan stadium ketiga siklus hidup. Nematoda hidup pada hospes (anjing, kucing atau babi), ovum terdapat pada kotoran binatang dan karena kelembapan berubah menjadi larva yang mempu mengadakan penetrasi kekulit. Larva ini tinggal di kulit berjalan – jalan tanpa tujuan sepanjang dermo – epidermal, setelah beberapa jam atau hari, akan timbul gejala di kulit4.

• Reaksi yang timbul pada kulit, bukan diakibatkan oleh parasit, tetapi disebabkan oleh reaksi inflammasi dan alergi oleh sistem immun terhadap larva dan produknya3. Pada hewan, Larva ini mampu menembus dermis dan melengkapi siklus hidupnya dengan berkembang biak di organ dalam. Sedangkan pada manusia, larva memasuki kulit melalui folikel, fissura atau menembus kulit utuh menggunakan enzim protease, tapi infeksi nya hanya terbatas pada epidermis karena tidak memiliki enzym collagenase yang dibutuhkan untuk penetrasi kebagian kulit yang lebih dalam2.

Page 20: PLENO SKEN 5
Page 21: PLENO SKEN 5

Pengobatan Cutaneous Larva Migran

Page 22: PLENO SKEN 5

Medikamentosa

Thiabendazole• Dosis: 25-50 mg/kg berat badan/hari, diberikan 2 kali

sehari selama 2-5 hari. • Tidak diperkenankan melebihi 3 gram perhari.

Dapat juga diberikan secara topikal (obat luar) 10-15% dalam larutan.

Page 23: PLENO SKEN 5

Albendazole. ( pilih yang ini )Dosis dewasa dan anak di atas 2 tahun: 400 mg perhari, dosis tunggal, selama 3 hari atau 200 mg dua kali sehari selama 5 hari.Dosis anak kurang dari 2 tahun: 200 mg perhari selama 3 hari.Atau 10-15 mg per kg berat badan, 4 kali perhari selama 3-5 har

Page 24: PLENO SKEN 5

MebendazoleDosis dewasa dan anak di atas 2 tahun: 100-200 mg dua kali sehari, selama 4 hari .Anak kurang dari 2 tahun: tidak dianjurkan

Page 25: PLENO SKEN 5

Anti alergi, untuk mengurangi alergi lokal, misalnya menggunakan hidrokortison cream atau sejenisnya.

Page 26: PLENO SKEN 5

Antibiotika, diberikan bila ada infeksi sekunder (bernanah)

Selama ini, untuk pasien di praktek, hasil terbaik adalah Albendazole.

Page 27: PLENO SKEN 5

Diagnosis Banding1. Skabies : Pada skabies terowongan

yang terbentuk tidak sepanjang seperti pada penyakit ini

2. Dermatofitosis : Bentuk polisiklik menyerupai dermatofitosis

3. Dermatitis insect bite : Pada permulaan lesi berupa papul, yang dapat menyerupai insect bite

4. Herpes zooster : Bila invasi larva yang multipel timbul serentak, papul – papul lesi dini dapat menyerupai herpes zooster

Page 28: PLENO SKEN 5

Komplikasi

• Ekskoriasi dan infeksi sekunder oleh bakteri akibat garukan. Infeksi umumnya disebabkan oleh streptokokus pyogenes. Bisa juga terjadi selulitis dan reaksi alergi

Page 29: PLENO SKEN 5

Prognosis

• Prognosis biasanya baik. Ini merupakan penyakit yang self limited. Manusia merupakan hospes asidental yang dead end di mana larva akan mati dan lesi membaik dalam waktu 4-8 minggu. Dengan pengobatan progresi lesi dan rasa gatal akan hilang dalam waktu 48 jam. Bisa terjadi reaksi hipersensitivitas. Sering terjadi eosinofilia perifer. Tidak terjadi imunitas protektif sehingga bisa terjadi infeksi berulang pada pajanan berikutnya