of 156 /156
PENGGUNAA MEMBANTU TE DAN WUJUDNYA F PR JURUSAN PENDIDI FAKUL AN DUAL SITUATED LEARNING MODEL ERJADINYA PERUBAHAN KONSEP TEN A PADA SISWA KELAS VII SMP JOANN YOGYAKARTA SKRIPSI DISUSUN OLEH : FA. DIMAS ANDIKA WAHYUANTO NIM : 081424014 ROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA IKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGET LTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2013 Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Fisika L DALAM NTANG ZAT NES BOSCO TAHUAN ALAM AN PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI · Program Studi Pendidikan Fisika PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN

  • Author
    ngocong

  • View
    245

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI · Program Studi Pendidikan Fisika PLAGIAT MERUPAKAN...

PENGGUNAAN DUAL SITUATED LEARNING MODEL DALAM

MEMBANTU TERJADINYA PERUBAHAN KONSEP TENTANG ZAT

DAN WUJUDNYA PADA SISWA KELAS VII SMP JOANNES BOSCO

YOGYAKARTA

SKRIPSI

DISUSUN OLEH :

FA. DIMAS ANDIKA WAHYUANTO

NIM : 081424014

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2013

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Fisika

PENGGUNAAN DUAL SITUATED LEARNING MODEL DALAM

MEMBANTU TERJADINYA PERUBAHAN KONSEP TENTANG ZAT

DAN WUJUDNYA PADA SISWA KELAS VII SMP JOANNES BOSCO

YOGYAKARTA

SKRIPSI

DISUSUN OLEH :

FA. DIMAS ANDIKA WAHYUANTO

NIM : 081424014

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2013

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Fisika

PENGGUNAAN DUAL SITUATED LEARNING MODEL DALAM

MEMBANTU TERJADINYA PERUBAHAN KONSEP TENTANG ZAT

DAN WUJUDNYA PADA SISWA KELAS VII SMP JOANNES BOSCO

YOGYAKARTA

SKRIPSI

DISUSUN OLEH :

FA. DIMAS ANDIKA WAHYUANTO

NIM : 081424014

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2013

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Fisika

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

i

PENGGUNAAN DUAL SITUATED LEARNING MODEL DALAM

MEMBANTU TERJADINYA PERUBAHAN KONSEP TENTANG ZAT

DAN WUJUDNYA PADA SISWA KELAS VII SMP JOANNES BOSCO

YOGYAKARTA

SKRIPSI

DISUSUN OLEH :

FA. DIMAS ANDIKA WAHYUANTO

NIM : 081424014

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2013

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Fisika

i

PENGGUNAAN DUAL SITUATED LEARNING MODEL DALAM

MEMBANTU TERJADINYA PERUBAHAN KONSEP TENTANG ZAT

DAN WUJUDNYA PADA SISWA KELAS VII SMP JOANNES BOSCO

YOGYAKARTA

SKRIPSI

DISUSUN OLEH :

FA. DIMAS ANDIKA WAHYUANTO

NIM : 081424014

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2013

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Fisika

i

PENGGUNAAN DUAL SITUATED LEARNING MODEL DALAM

MEMBANTU TERJADINYA PERUBAHAN KONSEP TENTANG ZAT

DAN WUJUDNYA PADA SISWA KELAS VII SMP JOANNES BOSCO

YOGYAKARTA

SKRIPSI

DISUSUN OLEH :

FA. DIMAS ANDIKA WAHYUANTO

NIM : 081424014

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2013

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Fisika

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

iv

Halaman Persembahan

Karya ini kupersembahkan untuk:

Yesus Kristus & Bunda Maria yang selalu menyertaiku

Bapak FX. Daryanto, Ibu CH. Tri Purwantini, serta adikku

Praska yang selalu mendoakan dan memberikan semangat

Keluarga besar Mbah Atmo Diharjo dan Mbah Wiryo Sutarjo

Lentera jiwaku yang telah menerangiku selama ini

Almamaterku Universitas Sanata Dharma yang telah mendidik

dengan cerdas & humanis

Bentuk ucapan syukur dan tanda terima kasih atas bakti serta cinta,didikan dan motivasi yang selama ini telah diberikan dengan tulus ikhlas

dan tanpa pamrih guna memperoleh hasil yang terbaik.

Menaklukkan orang lain membutuhkan paksaan,

Menaklukkan diri sendiri membutuhkan kekuatan

iv

Halaman Persembahan

Karya ini kupersembahkan untuk:

Yesus Kristus & Bunda Maria yang selalu menyertaiku

Bapak FX. Daryanto, Ibu CH. Tri Purwantini, serta adikku

Praska yang selalu mendoakan dan memberikan semangat

Keluarga besar Mbah Atmo Diharjo dan Mbah Wiryo Sutarjo

Lentera jiwaku yang telah menerangiku selama ini

Almamaterku Universitas Sanata Dharma yang telah mendidik

dengan cerdas & humanis

Bentuk ucapan syukur dan tanda terima kasih atas bakti serta cinta,didikan dan motivasi yang selama ini telah diberikan dengan tulus ikhlas

dan tanpa pamrih guna memperoleh hasil yang terbaik.

Menaklukkan orang lain membutuhkan paksaan,

Menaklukkan diri sendiri membutuhkan kekuatan

iv

Halaman Persembahan

Karya ini kupersembahkan untuk:

Yesus Kristus & Bunda Maria yang selalu menyertaiku

Bapak FX. Daryanto, Ibu CH. Tri Purwantini, serta adikku

Praska yang selalu mendoakan dan memberikan semangat

Keluarga besar Mbah Atmo Diharjo dan Mbah Wiryo Sutarjo

Lentera jiwaku yang telah menerangiku selama ini

Almamaterku Universitas Sanata Dharma yang telah mendidik

dengan cerdas & humanis

Bentuk ucapan syukur dan tanda terima kasih atas bakti serta cinta,didikan dan motivasi yang selama ini telah diberikan dengan tulus ikhlas

dan tanpa pamrih guna memperoleh hasil yang terbaik.

Menaklukkan orang lain membutuhkan paksaan,

Menaklukkan diri sendiri membutuhkan kekuatan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

vii

ABSTRAK

Dimas Andika Wahyuanto, 2013. Penggunaan Dual SituatedLearning Model Dalam Membantu Terjadinya Perubahan Konsep TentangZat Dan Wujudnya Pada Siswa Kelas VII SMP Joannes Bosco Yogyakarta.Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Matematika danIlmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui bagaimana konsep awal siswa (2)apakah terjadi peningkatan pemahaman siswa (3) mengetahui bagaimana konsepakhir dan perubahan konsep siswa. Dengan sampel penelitian diberikan kepada 23siswa kelas VII Compassion SMP Joannes Bosco Yogyakarta. Jenis penelitianadalah kuantitatif dan deskripsi kualitatif. Dengan Dual Situated Learning Modelsebagai treatment. Penelitian dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran2012/2013.

Dengan menggunakan test awal, wawancara dan test akhir sebagaiinstrumen. Tes dianalisis menggunakan uji test t dependent untuk mengetahuipeningkatan pemahaman siswa dan deskripsi kualitatif dengan teknik kodinguntuk mengetahui konsep awal, konsep akhir dan perubahan konsep yang terjadi.

Hasilnya diperoleh bahwa terjadi peningkatan pemahaman siswa mengenaikonsep zat dan wujudnya dengan uji test t dependent dan terjadi perbedaan yangsignifikan antara hasil tes awal dan tes akhir. Dari hasil penelitian diperolehbahwa rata-rata hasil tes siswa mengenai konsep zat dan wujudnya berubah dari10,13 % menjadi 36,36 %. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi perkembangankonsep dari konsep awal mereka dari konsep yang salah menjadi benar danlengkap, serta dari konsep kurang lengkap menjadi lebih lengkap. Namun masihada siswa yang tetap mempertahankan konsep awal mereka yang salah. Dengankata lain perubahan konsepnya belum optimal.

Kata kunci : konsep awal, Dual Situated Learning Model, konsep akhir,perubahan konsep.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

viii

ABSTRACT

Dimas Andika Wahyuanto, 2013. The Application of Dual SituatedLearning Model to Help the Occurrence of the Conceptual Change ofSubstance and its Form in the VII grades of Joannes Bosco Junior HighSchool of Yogyakarta. Physics Education Study Program, Department ofMathematics Education and Science, Faculty of Teacher and TrainingEducation, Sanata Dharma University Yogyakarta.

The aims of this study were to (1) find out how the students initialconcept (2) find out whether there was an improvement of the studentsunderstanding (3) find out howthe final concept and the students conceptualchange. The sample was given to 23 students of VII compassion class of JoannesBosco Junior High School Yogyakarta. The types of this research werequantitative and qualitative description. This research used and Dual SituatedLearning Model as the treatment.It was conducted in semester 1 academic year2012/2013.

This research used pretest, interview and postest as the instruments. Thetests were analyzed using dependent t-test to find out the students improvementof their understanding and using qualitative description with coding methods toknow initial concept, final concept and conceptual change.

The results of this research showedthat there was an improvement of thestudents' understanding of the concept of substance and its form with dependent t-test and there was a significant difference between pretest and posttest scores.From the result, it also showed that the result test average students on substanceand its form changed from10,13 % to 36,36 %. This showed that there was aconcept development of their initial concept, wrong concept becoming right andcomplete, and also lacking completeness becoming more complete. However,there were some students who still defended their initial concept which waswrong.In other words, the concept of change has not been optimal.

Key words : initial concept, Dual Situated Learning Model, final concept,conceptual change.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ix

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus. Terima kasih atas

penyertaanmu selama ini sehingga penulis mampu menyelesikan tugas akhir ini

dan berjalan dengan sebagaimana mestinya.

Tugas akhir ini dikerjakan demi memenuhi salah satu syarat guna

memperoleh gelar sarjana Pendidikan di Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan. Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini bukanlah tujuan akhir dari

belajar karena belajar merupakan sesuatu yang tidak terbatas.

Terselesaikan tugas akhir ini tentunya tidak dapat berjalan dengan baik

tanpa proses panjang dan dukungan dari berbagai pihak, baik secara langsung

maupun tidak langsung. Maka pada kesempatan yang berbahagia ini, penulis

secara khusus mengucapkan terima kasih, kepada:

1. Pak Drs. T. Sarkim. M.Ed., Ph.D. yang telah memberikan waktu luang

untuk membimbing saya disela kesibukan beliau yang sangat padat.

Terima kasih atas bimbingan dan perhatiannya Pak Sarkim.

2. Kepala sekolah SMP Joannes Bosco Yogyakarta yang telah dengan suka

cita memberikan ijin penelitian.

3. Pak Raharjo selaku guru mata pelajaran fisika di SMP Joannes Bosco yang

telah berkenan dalam memberikan kesempatan dan memberikan masukan

dalam pelaksanaan penelitian

4. Romo Prof. Dr. Paul Suparno, S.J., MST sebagai dosen pembimbing

akademik yang telah membimbing saya selama kurang lebih 4,5 tahun.

5. Para dosen pengajar prodi PFIS yang telah memberikan ilmu dan

membimbing untuk menjadi calon guru yang cerdas dan humanis.

6. Para staf karyawan JPMIPA yang telah melayani dengan sepenuh hati.

7. Simbah Uti, Ayahanda pak FX. Daryanto dan ibunda bu CH.

Tripurwantini serta Praska yang telah memberikan motivasi selama ini.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

x

8. Temen PFIS 2008 yang telah bersama-sama menempuh suka duka dalam

perkuliahan

9. Genk S.I.P: AtmaMbah, Alex sipit, Ryan mbink, Arnold kopral,

Antonkriting, Edwin (makasih win mbantu dampingi penelitian) yang

telah menyemangati satu sama lain.

10. PFIS futsal FC yang telah meluangkan waktu untuk menyalurkan hobi

bermain futsal bersama-sama.

11. Anak-anak kost rafli wawan (matur nuwun pinjaman printernya wan),

satrio, ganda, mas riki, heri yang telah memberikan semangat.

12. Temen-temen UKM Sekar (pak pelatih: mas eko, mas jenthik, mbk esti,

mbk, petra, mbk winda, mbk tina, novie, fael, edo, pinka, anik, betrik,

klara, rian dsb)

13. PPL lovers SMA Taman Madya Jetis (riska, mbk agnes, laras, evi, emi,

ratna, ratih, tian, mas arif, dll)

14. KKNers kelompok 11 Gading (yoyok, tina,tia, yulia, putri,seto, elis,meta)

15. Anak-anak Trah Siesen & Siesen Insadha 2012 ( Mas Banu, Anyak,

Fembri, Yudha, Sam, Radyt, Rita, Bogi, Tisa, Ayuk, Ucok, dll)

Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh

sebab itu, peneliti mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun serta

menyempurnakan tulisan ini. Akhir kata semoga penelitian ini bermanfaat dan

menjadi berkat untuk setiap pembaca.

Penulis

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

xi

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i

LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................................ ii

HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .......................................................... v

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI........................................... vi

ABSTRAK ........................................................................................................ vii

ABSTRACT ...................................................................................................... viii

KATA PENGANTAR ...................................................................................... ix

DAFTAR ISI..................................................................................................... xi

DAFTAR TABEL ............................................................................................ xiii

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xiv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah................................................................................. 1

B. Rumusan masalah.......................................................................................... 3

C. Tujuan Penelitian........................................................................................... 3

D. Manfaat Penelitian......................................................................................... 4

BAB II KAJIAN TEORI

A. Konsep dan Konsepsi ................................................................................... 5

B. Miskonsepsi.................................................................................................. 7

C. Perubahan Konsep ........................................................................................ 9

D. Pemahaman Konsep ..................................................................................... 15

E. Dual Situated Learning Model ..................................................................... 16

F. Materi Zat dan Wujudnya............................................................................. 18

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

xii

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian ............................................................................................. 27

B. Sampel Penelitian ......................................................................................... 27

C. Tempat dan Waktu Penelitian ...................................................................... 27

D. Treatment...................................................................................................... 27

E. Instrumentasi ................................................................................................ 29

F. Validitas Instrumen ...................................................................................... 31

G. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data ...................................................... 32

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Penelitian ..................................................................................... 34

B. Pelaksanaan Penelitian ................................................................................. 35

C. Data, Analisis dan Pembahasan

C.1 Konsep Awal Siswa............................................................................... 36

C.2 Peningkatkan pemahaman konsep siswa

mengenai zat dan wujudnya.. ...................................................................... 45

C.3 Konsep Akhir siswa dan Perubahan Konsep......................................... 47

D. Keterbatasan Penelitian ................................................................................. 64

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................................................... 66

B. Saran .............................................................................................................. 67

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 69

LAMPIRAN...................................................................................................... 71

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

xiii

DAFTAR TABEL

TABEL 1. Kisi-kisi pembuatan soal pretes dan postes.................................... 30

TABEL 2. Rubrik penilaian pretes dan postes................................................. 32

TABEL 3. Tanggal, jam, kegiatan penelitian .................................................. 34

TABEL 4. Ketentuan penilaian skor pretes dan postes.................................... 36

TABEL 5. Data skor hasil pretes ..................................................................... 37

TABEL 6. Rangkuman variasi jawaban konsep awal siswa............................ 38

TABEL 7. Skor total pretes dan postes............................................................ 45

TABEL 8. Paired samples statistics, paired samples test.................................46

TABEL 9. Data skor hasil postes..................................................................... 47

TABEL 10. Rangkuman konsep awal, dan konsep akhir siswa.........................48

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

xiv

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR 1. Diagram perubahan wujud ........................................................ 20

GAMBAR 2. Susunan partikel zat padat ......................................................... 23

GAMBAR 3. Susunan partikel zat cair............................................................ 23

GAMBAR 4. Susunan partikel gas .................................................................. 23

GAMBAR 5. Meniskus pada zat cair .............................................................. 25

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

xv

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 Suratpermohonan ijin penelitian dariUNIVERSITAS.......... 72

LAMPIRAN 2 Surat Keterangan telah melakukan penelitian ....................... 74

LAMPIRAN 3 Rancangan soal pretes dan postes ......................................... 76

LAMPIRAN 4 Pedoman jawaban soal pretes dan postes.............................. 80

LAMPIRAN 5 Data skor hasil pretes ............................................................ 85

LAMPIRAN 6 Hasil lengkap wawancara dua siswa ..................................... 89

LAMPIRAN 7 Rancangan peristiwa/gejala................................................... 96

LAMPIRAN 8 Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)....................... 107

LAMPIRAN 9 Data skor Hasil Postest.......................................................... 113

LAMPIRAN 10 Hasil pekerjaan siswa ............................................................ 117

LAMPIRAN 11 Dokumentasi saat penelitian.................................................. 139

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

1

BAB IPENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam proses pembelajaran fisika siswa perlu mengalami perubahan

konsep, karena inti belajar fisika adalah terjadinya perubahan konsep pada diri

seseorang yang sedang belajar (Suparno, 2000: 15). Perubahan yang pertama

adalah perubahan dalam arti siswa memperluas konsep, dari konsep yang

belum lengkap menjadi lebih lengkap, dari belum sempurna menjadi lebih

sempurna. Perubahan yang lain adalah merubah dari konsep yang salah

menjadi benar atau sesuai dengan konsep para ahli fisika. Pembelajaran yang

hanya membuat konsep tetap saja atau bahkan menjadi menjauh dari yang

diterima para ahli, dapat dikatakan pembelajaran yang tidak sukses.

Sedangkan pembelajaran fisika yang baik adalah yang memungkinkan

perubahan itu secara cepat dan efisien (Suparno, 2000: 18).

Sementara itu dalam bidang fisika, terjadi salah konsep hampir di semua

sub bidang seperti mekanika, termofisika, bunyi dan gelombang, optika, listrik

dan magnet, dan fisika modern (Suparno, 2005: 8). Salah konsep disebabkan

oleh berbagai hal, antara lain dapat disebabkan oleh siswa sendiri, guru yang

mengajar, konteks pembelajaran, cara mengajar, dan buku teks. Menurut

Brown dan Gil Perez (dalam Suparno 2005: 7) salah konsep itu juga

menghinggapi semua level siswa, mulai dari SD sampai dengan mahasiswa.

Oleh sebab itu pembetulan miskonsepsi perlu dilakukan di semua level dan

sasaran tersebut.

Untuk memperbaiki salah konsep pada siswa, sering dilakukan secara

spontan dalam proses pembelajaran. Upaya perbaikan secara spontan ini tidak

melalui rancangan perubahan konsep yang ilmiah dan efektivitas

perbaikannya tidak diamati secara terencana (Domi & Sarkim, 2009). Adapun

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2

untuk mengatasi masalah salah konsep, terutama pada siswa supaya terjadi

perubahan konsep secara umum tentang konsep fisika, salah satu caranya

adalah dengan menggunakan sebuah model ataupun metode pembelajaran

yang dapat membantu siswa untuk mengubah miskonsepsi mereka. Pada

dasarnya, salah konsep dapat diatasi secara dini dengan menekankan konsepsi

fisika yang benar sejak awal misalnya sejak SD atau SMP, supaya salah

konsep itu tidak dibawa berlarut-larut sampai ke jenjang pendidikan yang

lebih tinggi.

Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya mengenai perubahan konsep

tentang sains, di antaranya adalah Pembinaan perubahan konsep radikal

melalui Dual Situated Learning Model (dilaporkan dalam Jurnal of Research

In Science Teaching, 2004, Vol. 41, no.2 : 142-164), Pengaruh penggunaan

Dual Situated Learning Model terhadap pemahaman konsep siswa mengenai

potosintesis dan respirasi (dilaporkan dalam Jurnal of Baltic Science

Education, 2007, Vol.6, no.3), Perubahan konsep radikal tentang listrik

arus searah menggunakan Dual Situated Learning Model (dilaporkan dalam

Jurnal Penelitian Widya Dharma, 2009, Vol.23 : 1-22) di mana ada suatu

model pembelajaran yang dirancang khusus untuk mengupayakan perubahan

konsep pada bidang sains termasuk fisika. Model pembelajaran itu dikenal

sebagai Dual Situated Learning Model (DSLM) yang mana seperti yang

dikutip Domi & Sarkim (Domi & Sarkim, 2009) model ini sejak tahun 2001,

telah dikembangkan oleh Hsiao Ching She dari Institute of Education,

National Chiao-Thung University, Taiwan. Berdasarkan hasil penelitian

mengenai perubahan konsep melalui DSLM disimpulkan bahwa DSLM

sangat efektif dalam upaya perubahan konsep fisika untuk siswa maupun

mahasiswa.

Oleh karena itu, berdasarkan uraian di atas peneliti berminat untuk

mengkaji sejauh mana penggunaan Dual Situated Learning Model pada

pembelajaran fisika di tingkat SMP dalam upaya memperbaiki konsep fisika

tentang Zat dan Wujudnya, di mana pada konsep Zat dan Wujudnya

merupakan salah satu materi fisika yang erat kaitannya dengan kehidupan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

3

sehari-hari dan memungkinkan sudah adanya konsep awal dasar pada diri

siswa. Dari uraian di atas maka peneliti mengangkat hal tersebut sebagai tugas

akhir skripsi dengan judul PENGGUNAAN DUAL SITUATED LEARNING

MODEL (DSLM) DALAM MEMBANTU TERJADINYA PERUBAHAN

KONSEP TENTANG ZAT DAN WUJUDNYA PADA SISWA KELAS VII

SMP JOANNES BOSCO YOGYAKARTA.

A. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka

rumusan masalah penelitian ini adalah:

1. Bagaimana pemahaman konsep awal siswa tentang Zat dan

Wujudnya?

2. Apakah penggunaan Dual Situated Learning model dapat

meningkatkan pemahaman konsep siswa mengenai Zat dan

Wujudnya?

3. Bagaimana konsep akhir dan perubahan konsep yang terjadi pada

siswa mengenai Zat dan Wujudnya setelah mengikuti pembelajaran

menggunakan Dual Situated learning Model?

B. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini

adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimana pemahaman konsep awal siswa tentang Zat

dan Wujudnya

2. Untuk mengetahui apakah penggunaan DSLM dapat meningkatkan

pemahaman konsep siswa mengenai zat dan wujudnya.

3. Untuk mengetahui bagaimana konsep akhir dan perubahan konsep siswa

pada materi Zat dan Wujudnya setelah mengalami pembelajaran

menggunkan DSLM

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

4

C. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh setelah melakukan penelitian ini, antara lain:

1. Bagi Guru:

a. Membantu dalam mengetahui dan memahami salah konsep yang

terjadi pada siswa

b. Sebagai alternatif model pembelajaran guna meningkatkan

pemahaman konsep yang dimiliki siswa

2. Bagi peneliti:

a. Sebagai alternatif model pembelajaran guna meningkatkan

pemahaman konsep yang dimiliki siswa jika kelak menjadi guru.

b. Memiliki pengalaman mengajar menggunakan model pembelajaran

yang baru.

3. Bagi siswa:

a. Memiliki pengalaman belajar menggunakan Dual Situated Learning

Model.

b. Mengalami variasi kegiatan, sehingga diharapkan mengurangi

kejenuhan, dan meningkatkan minat serta mampu meningkatkan

pemahaman konsep fisika siswa.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

5

BAB IIKAJIAN TEORI

A. Konsep dan Konsepsi

A.1 Konsep

Menurut Ausabel (dalam Berg, 1991) konsep merupakan benda-

benda, kejadian-kejadian, situasi-situasi, atau ciri-ciri yang memiliki

ciri-ciri khas dan yang terwakili dalam setiap budaya oleh suatu tanda

atau simbol. Misalnya, meja adalah sebuah benda yang mempunyai

bentuk persegi panjang, segitiga, dan bundar, dengan warna, bahan dan

ukuran yang berbeda-beda, serta dengan 1, 2, 3, 4 kaki atau banyak

kaki, di sini meja menunjukkan sebuah konsep. Jadi konsep merupakan

abstraksi ciri-ciri sesuatu yang mempermudah komunikasi antara

manusia dan memungkinkan manusia berfikir. Menurut Neil Bolton

(dalam Suparno, 2005) konsep diklasifikasi menjadi 3 kelompok yaitu

konsep fisis, konsep logika matematik dan konsep filosofis. Konsep

fisis merupakan konsep yang berkaitan langsung atau mengacu pada

obyeknya seperti benda, besaran, proses dari benda atau besaran, atau

relasi antara besaran-besaran. Konsep logika matematis merupakan

konsep yang tidak berkaitan langsung dengan obyeknya, namun

mengacu pada perilaku dan operasi dalam menangani obyek, misalnya

konsep penjumlahan komutatif dan konsep perkalian. Konsep filosofis

merupakan konsep yang berhubungan dengan kualitas sifat manusia,

misalnya baik, jujur, bijaksana.

A.2 Konsepsi

Konsepsi merupakan proses pembentukan konsep atau

pengetahuan pada umumnya, yang dilakukan oleh orang yang belajar

(Domi & Sarkim, 2009). Menurut Berg (1991) konsepsi merupakan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

6

tafsiran perorangan dari suatu konsep ilmu. Berg memberikan contoh

mengenai konsepsi misalnya, inti konsep massa jenis adalah bahwa

untuk jenis bahan tertentu hasil bagi massa dan volume selalu tetap dan

bahwa tetapan itu berbeda untuk setiap unsur/senyawa/campuran,

maka unsur/senyawa dapat dikenal dari massa jenisnya. Tetapi banyak

siswa mempunyai konsepsi yang berbeda, mereka cenderung berfikir

bahwa jika jumlah zat ditambah, maka massa jenisnya juga bertambah.

Sementara teori dari Piaget menjelaskan konsepsi melalui pengertian-

pengertian skema, asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi.

Skema merupakan suatu struktur mental atau kognitif yang

dengannya seseorang secara intelektual beradaptasi dan

mengkoordinasi lingkungan sekitarnya. Skema itu akan beradaptasi

dan berubah selama perkembangan mental anak. Skema bukanlah

benda nyata yang dapat dilihat, melainkan suatu rangkaian proses

dalam sistem kesadaran orang, maka tidak memiliki bentuk fisik dan

tidak dapat dilihat (Suparno, 1997:30).Sedangkan menurut Wadsworth

seperti yang dikutip pada Suparno (1997:31) skema adalah hasil

simpulan atau bentuk mental, konstruksi hipotesis, seperti intelek,

kreativitas, kemampuan, dan naluri. Skema tidak pernah berhenti

berubah atau menjadi lebih rinci. Skema juga dapat dipikirkan sebagai

suatu konsep atau kategori (Suparno, 1997:31).

Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang

mengitegrasikan persepsi, konsep, ataupun pengalaman baru ke dalam

skema atau pola yang sudah ada di dalam pikirannya. Asimilasi dapat

dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan

mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan yang baru dalam skema

yang telah ada. Proses asimilasi ini berjalan terus menerus,dimana

proses asimilasi ini tidak mengakibatkan perubahan skema, melainkan

mengembangkan skema yang telah ada dengan diperluas dan diperinci

menjadi lebih lengkap. Asimilasi adalah salah satu proses individu

dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

7

lingkungan baru sehingga pengertian itu berkembang (Suparno,

1997:31).

Dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman yang baru, jika

seseorang tidak dapat mengasimilasi pengalaman yang baru itu dengan

skema yang telah dipunyai. Dalam keadaan seperti ini, orang itu akan

mengadakan akomodasi, yaitu (1) membentuk skema baru yang dapat

cocok dengan rangsangan yang baru atau (2) memodifikasi skema

yang ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Proses akomodasi ini

akan terus berjalan dalam diri seseorang seperti yang dikatakan oleh

Piaget dalam Suparno (1997:32).

Ekuilibration merupakan pengaturan diri secara mekanis untuk

mengatur keseimbangan antara proses asimilasi dan akomodasi.

Dimana pada proses asimilasi dan akomodasi perlu untuk

perkembangan kognitif seseorang, dan dalam perkembangan intelek

seseorang, diperlukan keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi

tersebut.

B. Miskonsepsi

Menurut Lev Vygosky (dalam Domi & Sarkim, 2009)berdasarkan

proses konsepsinya, membedakan konsep yang dihasilkan atas dua

jenis yaitu konsep spontan dan konsep ilmiah. Konsep spontan adalah

hasil generalisasi dan internalisasi pengalaman pribadi sehari-hari.

Konsep spontan tidak diperoleh melalui pembelajaran sistematis

sehingga bisa keliru. Konsep ilmiah adalah generalisasi atas

pengalaman manusia yang dibakukan dalam ilmu pengetahuan dan

diajarkan melalui pembelajaran yang sistematis sehingga lebih

terjamin kebenarannya Supratiknya (dalam Domi & Sarkim, 2009).

Dapat terjadi bahwa konsep spontan yang dibangun seseorang tidak

lengkap atau bahkan tidak sesuai dengan konsep ilmiah. Gejala ini

dikenal sebagai salah konsep (misconception).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

8

Seperti yang dikutip oleh Suparno (2005:4-6) ada beberapa

pandangan para ahli mengenai apa itu miskonsepsi. Seperti Novak

mendefinisikan miskonsepsi sebagai suatu interpretasi konsep-konsep

dalam suatu pernyataan yang tidak dapat diterima. Brown menjelaskan

bahwa miskonsepsi sebagai suatu pandangan yang naif dan

mendefinisikan sebagai suatu gagasan yang tidak sesuai dengan

pengertian ilmiah yang sekarang diterima. Feldsine mengemukakan

miskonsepsi sebagai suatu kesalahan dan hubungan yang tidak benar

antara konsep-konsep. Fowler menjelaskan miskonsepsi sebagai

pengertian yang tidak akurat akan konsep, penggunaan konsep yang

salah, klasifikasi contoh-contoh yang salah, kekacauan konsep-konsep

yang berbeda dan hubungan hierarkis konsep-konsep yang tidak benar.

Menurut Clement bahwa jenis miskonsepsi yang paling banyak terjadi

adalah, bukan pengertian yang salah selama proses belajar mengajar,

tetapi suatu konsep awal (prakonsepsi) yang dibawa siswa ke kelas

formal. Sedangkan menurut Suparno sendiri (2005:95) miskonsepsi

atau salah konsep adalah suatu konsep yang tidak sesuai dengan

pengertian ilmiah atau pengertian yang diterima para pakar pada

bidang itu. Bentuknya dapat berupa konsep awal, kesalahan, hubungan

yang tidak benar antara konsep-konsep, gagasan intuitif atau

pandangan yang naif.

Miskonsepsi dapat disebabkan oleh siswa sendiri, guru yang

mengajar, konteks pembelajaran, cara mengajar, dan buku teks.

Filsafat konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan itu dibentuk

oleh siswa sendiri dalam kontak dengan lingkungan, tantangan, dan

bahan yang dipelajari (Suparno,1997). Siswa membentuk sendiri

pengetahuannya sehingga tidak mustahil dapat terjadi kesalahan dalam

mengkontruksi. Oleh karena siswa sendiri yang mengkonstruksi, dapat

saja terjadi siswa telah melakukan konstruksi itu sejak awal sebelum

mereka mendapatkan pelajaran formal tentang bahan tertentu

(Suparno, 2005: 30). Mereka mengkonstruksi sendiri hal itu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

9

karenapengalaman hidup mereka. Inilah yang disebut prakonsepsi atau

konsep awal siswa.

C. Perubahan Konsep

Perubahan konsep adalah proses yang diupayakan agar konsep

spontan yang kurang lengkap dilengkapi, konsep yang salah diperbaiki

sehingga sesuaidengan konsep ilmiah atau konsep para ahli (Domi &

Sarkim, 2009). Sebelum mengetahui ada tidaknya perubahan konsep

pada diri siswa, guru harus terlebih dahulu mendeteksi prakonsepsi

atau konsep awal siswa. Carey seperti dikutip oleh Suparno (1997:51)

mendefinisikan perubahan konsep dari konsep yang kurang lengkap

menjadi lebih lengkap sebagai retrukturisasi lemah, sedang perubahan

konsep dari konsep yang tidak sesuai dengan konsep ilmiah menjadi

konsep yang sesuai dengan konsep ilmiah sebagai retrukturisasi kuat

atau disebut juga perubahan konsep radikal.

Aplikasinya pada pembelajaran fisika (Suparno, 2000: 18)

menjelaskan bahwa proses pembelajaran fisika yang benar haruslah

mengembangkan perubahan konsep. Dalam hal tersebut dibagi

menjadi dua bagian yaitu membantu proses perluasan konsep dan

membetulkan konsep yang salah. Pada proses pertama yaitu proses

memperluas konsep yang sudah ada, Suparno mengemukakan

beberapa cara yang dapat membantu siswa menambah konsep atau

pengetahuan mereka tentang bahan fisika, antara lain:

1. Memberikan informasi baru yang belum pernah diketahui oleh

siswa. Pemberian informasi baru atau tambahan konsep-

konsep baru dapat dilakukan, antara lain guru menjelaskan

konsep yang baru sesuai dengan urutan kurikulum yang telah

direncanakan. Sistem pengajaran bab per bab adalah lebih

untuk menambah konsep siswa agar lebih luas. Model

pengajaran ceramah dimasukkan disini.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

10

2. Siswa diberi bahan baru dan diajak untuk mempelajari sendiri

bahan itu sehingga konsepsinya bertambah. Disini diperlukan

bantuan pengarahan dari guru. Inilah model pembelajaran

mandiri.

3. Siswa diberi kesempatan untuk mencari bahan-bahan baru

yang telah disediakan baik dari buku maupun multimedia

fisika.

Pembelajaran untuk menambah konsep diatas juga dapat

mengakibatkan bertambahnya salah konsep. Guru perlu jeli mengamati

apakah siswa dengan bertambahnya konsep baru juga bertambah salah

pengertian mereka. Bila hal ini terjadi, guru perlu menggunakan model

pembelajaran yang dapat menghilangkan salah konsep sebagai salah

satu alternatif pembelajaran.

Proses yang kedua adalah proses membetulkan konsep yang

salah, di manadigunakan strategi pembelajaran yang menyediakan

pengalaman anomali bagi siswa(Suparno, 2000: 19). Pertama siswa

disadarkan bahwa konsep awal mereka itu tidak tepat, atau salah atau

tidak cocok dengan situasi yang ada. Cara penyadaran dapat dengan

menyediakan data anomali. Dapat juga siswa diajak untuk menjelaskan

masalah baru dengan konsep lamanya yang memang ternyata tidak

mencukupi, maka ia tertantang untuk mengubah konsepnya. Dengan

eksperimen yang hasilnya berlainan dengan konsep awal siswa,

maupun melalui diskusi dengan orang yang mempunyai konsep lain,

siswa ditantang untuk memikirkan kembali konsep awalnya. Dari sini,

siswa terbantu untuk merubah konsep awal mereka.

Beberapa metode pembelajaran fisika yang telah diteliti dapat

membantu perubahan konsep jenis kedua ini adalah sebagai berikut ini

(Suparno,2005):

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

11

a. Bridging Analogy (Analogi Penghubung)

Model penjelasan analogis banyak digunakan untuk

menjelaskan konsep fisika yang sulit dan abstrak kepada

siswa. Misalnya, karena sulit menjelaskan mengenai konsep

tegangan listrik, guru menggunakan analogi dengan bak air.

Menurut Brown dan Clement seperti yang dikutip oleh

Suparno (2005: 104), contoh-contoh biasa tidak akan

membantu siswa mengatasi salah pengertiannya, kecuali

bila contoh-contoh itu punya tiga ciri:

1. contoh itu masuk akal bagi siswa,

2. secara explisit contoh punya hubungan analogis

dengan persolan yang dihadapi siswa,

3. contoh itu membantu siswa membentuk suatu

model mental secara kulitatif.

Penjelasan bridging analogy mempunyai tiga sifat diatas,

maka dapat membantu salah konsep. Dalam model ini, guru

tidak hanya memberikan contoh, tetapi juga memilih

contoh yang dapat menghubungkan contoh-contoh itu

dengan persoalan pokoknya dan membangun suatu

konstruksi model.

b. Simulasi komputer

Banyak penelitian yang menemukan bahwa simulasi

komputer dapat membantu siswa menghilangkan salah

pengertian yang mereka dapatkan. Dalam simulasi itu siswa

dapat memanipulasi data, mencari data, mengumpulkan

data dan mengambil kesimpulan. Bila dalam simulasi siswa

menemukan data yang sungguh berbeda dengan yang

mereka pikirkan sebelumnya, maka siswa akan mengalami

konflik dalam pikirannya. Konflik inilah yang memacu

bertanya, mengapa demikian.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

12

Ada baiknya bahwa guru memilih beberapa simulasi

yang memang menyajikan hasil yang berlawanan dengan

konsep awal siswa. Dengan pengalaman itu, konsep awal

siswa ditantang untuk disesuaikan atau malah dirubah.

Penggunaan simulasi komputer ini sangat menguntungkan,

karena siswa dapat melakukannya sendiri berkali-kali tanpa

harus ditunggui guru seperti pelajaran dalam kelas. Oleh

karena siswa dapat mengulanginya sendiri diluar kelas,

maka mereka akan lebih cepat merubah gagasan mereka

yang tidak benar. Dengan demikian mereka lebih cepat

untuk mengerti konsep yang sedang dpelajarinya secara

tepat.

c. Diskusi kelompok

Menurut Farmer seperti dikutip Suparno (2005:

110) diskusi dengan siswa-siswa lain adalah cara yang baik

untuk mengungkapkan pengetahuan siswa. Dengan

berdiskusi mengenai konsep yang baru dipelajari mereka

akan tertantang mengerti lebih dalam dan saling

mengungkapkan konsep dan gagasan masing-masing, serta

bila ada perbedaan pandangan mengenai konsep tersebut

mereka saling mendebatkannya secara argumentatif. Dari

perdebatan itu, mereka yang mempunyai gagasan tidak

benar, dapat memperbaiki gagasannya dengan mengambil

gagasan teman lain yang benar. Sedangkan kalau gagasan

mereka sudah benar, mereka menjadi lebih yakin akan

kebenaran gagasan itu.

Yang lebih diperlukan dalam diskusi kelompok

adalah bahwa mereka dipacu untuk terlibat aktif dalam

diskusi. Mereka perlu dibiasakan mengekspresikan apa

yang mereka pikirkan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

13

d. Peta konsep

Peta konsep juga dapat digunakan untuk membantu

mengatasi salah pengertian. Dalam peta konsep siswa

menuliskan gagasan pokoknya dan relasi konsep-

konsepnya. Siswa diajak melihat sendiri bahwa beberapa

hubungan tidak jalan dan tidak dapat diterima, maka perlu

didiskusikan untuk diubah. Lalu ia diminta membuat peta

konsep yang baru.

Agar guru lebih mengerti maksud siswa dengan peta

konsepnya, sangat baik bila guru mengadakan wawancara

dengan siswa tentang peta konsepnya. Siswa diminta

menjelaskan peta konsepnya kepada guru dan guru dapat

menanyakan lebih mendalam tentang konsep-konsep yang

tidak sesuai dan hubungan antar konsep yang tidak cocok

dengan pengertian para ahli fisika. Berdasarkan alasan-

alasan yang dikemukakan siswa, alasan salah konsep

diketahui, dan guru dapat menentukan bantuan yang lebih

sesuai dengan penyebabnya.

e. Problem solving

Problem solving dapat juga membantu mengatasi

salah pengertian. Siswa mengerjakan beberap soal untuk

mencek apakah gagasan mereka benar atau tidak. Dengan

membuat soal, mereka dilatih untuk mengorganisasikan

pengertian mereka dan kemampuan mereka. Juga baik

kalau mereka diberi waktu untuk menjelaskan pemecahan

soal mereka di depan kelas dan teman-teman lain dapat

menanyainya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

14

Dengan melihat bagaimana cara siswa memecahkan

persoalan, dapat dengan mudah dilihat siswa mempunyai

salah pengertian dalam langkah yang mana. Bila salah

pengertian diketahui, guru juga menanyakan kepada siswa

mengapa mereka mempunyai pengertian atau langkah

seperti itu. Sekaligus dalam wawancara itu, guru dapat

melihat sumber salah pengertian yang dibuat. Langkah

selanjutnya adalah menentukan bantuan yang sesuai.

f. Percobaan atau pengalaman lapangan

Menurut penelitian Gilbert, Watts, Osborne;

Brouwer; McClelland seperti dikutip oleh Suparno (2005:

114) percobaan ataupun pengalaman lapangan adalah cara

yang baik untuk mengkontraskan pengertian siswa tentang

kenyataan. Percobaan dan pengamatan dapat

menghilangkan salah pengertian intuitif siswa. Percobaan

dapat menantang intuisi mereka apakah benar atau tidak.

Untuk dapat lebih cepat menyadarkan siswa akan

salah pengertian mereka yang tidak jalan atau tidak tepat,

ada baiknya bila eksperimen yang diambil adalah yang

memberikan hasil berbeda dengan yang mereka pikirkan

atau konsepkan. Demikian juga dengan pengalaman yang

dihadapkan pada siswa agar dipilih pengalaman yang

memang sungguh menantang konsep awal mereka yang

tidak tepat. Dengan mengalami dan mengamati percobaan

yang hasilnya lain terus menerus, maka siswa tertantang

untuk merubah gagasan atau konsep mereka.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

15

D. Pemahaman Konsep

Seseorang dapat dikatakan memahami suatu konsep apabila: 1) dapat

mendefinisikan konsep yang bersangkutan, 2) menjelaskan perbedaan

antara konsep yang bersangkutan dengan konsep-konsep lain, 3)

menjelaskan hubungan-hubungan dengan konsep-konsep yang lain, 4)

menjelaskan arti konsep dalam kehidupan sehari-hari (Berg V.D, 1991).

Menurut Kartika Budi seperti yang dikutip Kurniawan (2011: 23), untuk

dapat memutuskan apakah siswa memahami konsep atau tidak diperlukan

kriteria atau indikator-indikator yang menunjukkan pemahaman tersebut.

Beberapa indikator yang menunjukkan pemahaman siswa akan suatu

konsep antara lain:

a. Dapat menyatakan pengertian konsep dalam bentuk definisi

menggunakan kalimat sendiri.

b. Dapat menjelaskan makna dari konsep bersangkutan kepada

orang lain.

c. Dapat menganalisis hubungan antara konsep dalam suatu

hukum.

d. Dapat menerapkan konsep untuk (1) menganalisis gejala-gejala

alam, (2) untuk memecahkan masalah fisika baik secara teoritis

maupun secara praktis, (3) memprediksi kemungkinan-

kemungkinan yang bakal terjadi pada suatu sistem bila kondisi

tertentu dipenuhi.

e. Dapat mempelajari konsep lain yang berkaitan dengan lebih

cepat.

f. Dapat membedakan konsep satu dengan konsep lain yang

saling berkaitan.

g. Dapat membedakan konsepsi yang benar dengan konsepsi yang

salah, dan dapat membuat peta konsep dari konsep-konsep

yang ada dalam suatu pokok bahasan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

16

E. Dual Situated Learning Model (DSLM)

Dual Situated Learning Model merupakan suatu model pembelajaran

yang pada proses pembelajaran yang dilakukan memperoleh fungsi ganda

dalam beberapa aspeknya (Domi & Sarkim, 2009). Model ini

dikembangkan sejak tahun 2001 oleh Hsiao Ching She seorang pendidik

dari Institute of Education National Chiao-Tung University, Taiwan.

Menurut She (2004) DSLM ini telah terbuktimemiliki potensiuntuk

mempromosikanperubahankonseptualsiswa.

Situated learning memiliki makna bahwa proses perubahan

konseptual mengenai konsep sains dan keyakinan siswa terhadap konsep-

konsep sains harus berasal dari kehidupan sehari-hari untuk menentukan

mental set apa yang penting dan diperlukan untuk membangun pandangan

yang lebih ilmiah mengenai konsep tersebut (She, 2004).

Dualberartibahwa model inimemilikidua fungsidalam

beberapaaspeknya. She menyatakan fungsi ganda itu dapat dilihat dalam

beberapa aspeknya sebagai berikut.

1) Konsep yang dikaji bersifat ganda yaitu konsep ilmiah yang

seharusnya dikuasai siswa dan konsep (prakonsep) siswa yang

senyatanya dimiliki siswa.

2) Kajian atas prakonsep siswa ditujukan pada dua fungsi ganda yaitu

mengidentifikasi salah konsep yang terjadi dan mengembangkan

teknik yang memberi peluang kepada siswa untuk mengkonstruksi

konsep ilmiah yang benar.

3) Identifikasi salah konsep ditujukan pada dua fungsi yaitu,

menyadarkan siswa bahwa prakonsep yang dimiliki itu salah, dan

membangkitkan minat dan atau menantang siswa untuk

merekonstruksi prakonsepnya menjadi konsep ilmiah yang benar.

4) Proses rekonstruksi prakonsep, melibatkan dua aspek ganda yaitu

aspek ontologis (isi konsep) dan aspek epistemologis (cara

membangun konsep).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

17

Berdasarkan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa Dual Situated

Learning Model merupakan sebuah model pembelajaran yang bertujuan

untuk mengupayakan terjadinya proses perubahan konsep kepada siswa

dengan cara mengkaji konsep ilmiah dan prakonsep, mengidentifikasi

prakonsep yang salah dan mengembangkan teknik remidiasi, menyadarkan

siswa akan kesalahannya dan menantangnya untuk memperbaiki,

mengupayakan agar perubahan konsep yang terjadi mencakup aspek

ontologis dan epistemologis.

DSLM dilaksanakan dalam 6 tahapan sebagai berikut.

Tahap 1

Mengidentifikasi konsep-konsep yang harus dikuasai oleh siswa.

Pada tahap 1 ini, guru menentukan dan merumuskan konsep-konsep yang

harus dikuasai oleh siswa pada materi yang akan diteliti.

Tahap 2

Mencari bagaimana konsep awal dan salah konsep yang terjadi

pada siswa. Pada tahap ini guru melaksanakan proses pencariankonsep

awal dan salah konsep yang terjadi pada siswa berhubungan dengan

konsep-konsep yang sudah ditentukan pada tahap 1. Proses pencarian ini

dapat dilakukan dengan tes tertulis secara klasikal, dan / atau wawancara

secara individual.

Tahap 3

Menganalisis konsep awal dan salah konsep yang terjadi. Pada

tahap ini guru menganalisis tentang konsep-konsep awal mana yang terjadi

salah konsep, bagaimana kesalahannya, dan apa yang menjadi sumber atau

penyebab terjadinya salah konsep pada siswa.

Tahap 4

Merancang gejala ataupun peristiwa yang dapat dimanfaatkan saat

proses pembelajaran dimana peristiwa ataupun gejala tersebut digunakan

untuk memperbaiki salah konsep pada siswa.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

18

Tahap 5

Melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan gejala atau

peristiwa yang sudah dirancang pada tahap 4.

Tahap 6

Pemantapan konsep. Pada tahap keenam ini siswa diberikan

kesempatan untuk memantapkan dan mengaplikasi konsep yang sudah

dikuasai siswa. Tahap ini guna meyakinkan guru bahwa proses perubahan

konsep memang sudah terjadi.

F. Materi Zat dan Wujudnya

Materi ini diambil dan diringkas dari buku IPA SMP untuk SMP

kelas VII karya Marthen Kanginan penerbit Erlangga hal 76-89

IPA Fisika GASING untuk SMP kelas VII karya Yohanes Surya

penerbit Grasindo hal 96-112

1. Wujud Zat

Zat didefinisikan sebagai sesuatu yang memiliki massa dan

menempati ruang. Pada prinsipnya ada tiga jenis wujud zat, yaitu

padat, cair, dan gas. Di rumah, di sekolah, di jalan, dan di sekitarmu

terdapat benda-benda. Beberapa benda, seperti pulpen, buku, kayu,

dan tas termasuk zat padat. Beberapa benda, seperti air, alkohol, dan

minyak termasuk zat cair. Beberapa zat, seperti udara di sekitar kita

dan gas LPG yang digunakan untuk kompor gas termasuk zat gas.

Ketiga wujud zat ini dapat kita lihat pada bahan-bahan yang

membentuk sebuah mobil.

Apakah zat padat memiliki massa dan menempati ruang? Tidak

sukar untuk membuktikannya karena kita telah mengenal zat padat

dalam keseharian kita. Kursi belajar yang di duduki jelas menempati

sebagian ruang kelas. Kursi itu juga memiliki massa.

Apakah zat cair memiliki massa dan menempati ruang? Air yang

dituang ke dalam gelas jelas menempati ruang gelas. Jia air dalam

gelas di timbang dengan neraca, air juga memiliki massa.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

19

Apakah gas memiliki massa dan menempati ruang? Kita dapat

bernafas karena ada udara yang memenuhi ruangan tempat kita

berada. Jelas bahwa gas menempati ruang.

b. Sifat Zat berkaitan dengan volume dan bentuknya

Sebuah pulpen termasuk zat padat, ketika pulpen kamu taruh di

gelas, kemudian kamu pindahkan ke atas meja, baik volume maupun

bentuk pulpen tidak berubah. Jadi zifat zat padat baik volume maupun

bentuknya tetap.

Misalkan sejumlah air mula-mula kamu tuang ke dalam botol,

kemudian kamu pindahkan ke dalam gelas minum, kemudian kamu

pindahkan lagi ke dalam mangkuk. Hasil pengamatan menunjukkan

bahwa volume air tak berubah sedangkan bentuk air mengikuti bentuk

wadahnya. Jadi sifat zat cair adalah volume tetap tetapi bentuknya

mudah berubah mengikuti bentuk wadahnya.

Jika farfum kita semprotkan ke dalam suatu ruangan maka uap

farfum segera mengisi seluruh ruang yang ditempatinya. Jadi, sifat gas

adalah volumenya berubah mengikuti volume ruang yang

ditempatinya dan bentuknya juga berubah mengikuti bentuk ruang

yang ditempatinya.

c. Perubahan wujud zat

Apakah wujud zat dapat berubah? Jawabannya adalah dapat.

Contohnya ketika kita melakukan perubahan wujud pada es. Dengan

memberi energi kalor pada es maka es (wujud padat) berubah menjadi

air (wujud cair). Selanjutnya air (wujud cair) berubah menjadi uap air

(wujud gas). Hal tersebut menunjukkan bahwa bagaimana air dalam

tiga wujud, yaitu padat, cair dan gas sekaligus di suatu tempat.

Apakah zat padat dapat langsung berubah wujud menjadi gas tanpa

melalui zat cair? Tentu saja bisa. Berikut ini contoh perubahan-

perubahan wujud zat

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

20

Gas

ZatPadat

ZatCairdepo

sisi

men

guap

mem

beku

men

cair

Mm

enge

m-

bun

Gambar 1. Diagram perubahan wujud. (sumber : http//staf.uny.ac.id)

1. Melebur/ Mencair adalah peristiwa perubahan wujud zat dari

padat ke cair. Contohnya adalah es yang meleleh ketika

dipanasi. Dalam peristiwa ini zat memerlukan energi panas.

2. Menguap adalah peristiwa perubahan wujud zat dari cair ke

gas. Contohnya : memasak air. Dalam peristiwa ini zat

memerlukan energi panas.

3. Mengembun adalah peristiwa perubahan wujud zat dari gas

menjadi cair. Contohnya peristiwa terjadinya hujan. Dalam

peristiwa ini zat melepaskan energi panas.

4. Membeku adalah peristiwa perubahan wujud zat dari cair

menjadi padat. Contohnya air yng dimasukkan ke dalam

freezer berubah menjadi es.Dalam peristiwa ini zat melepaskan

energi panas.

5. Menyublim adalah peristiwa perubahan wujud zat dari padat

menjadi gas. Contohnya kapur barus yang ditaruh di lemari

lama-kelamaan akan habis. Dalam peristiwa ini zat

memerlukan energi panas.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

21

6. Deposisi/mengkristal adalah peristiwa perubahan wujud zat

dari gas menjadi padat. Contohnya adalah perubahan uap air

menjadi salju. Dalam peristiwa ini zat tidak memerlukan

energi atau melepas kalor.

2. Teori partikel zat

Ketika kamu mengambil sebatang kapur tulis. Kamu potong kapur

itu menjadi dua potong. Kemudian potongannya kamu potong lagi menjadi

dua. Jika potongan ini terus dilakukan maka suatu saat kamu tidak dapat

lagi memotong kapur itu. Bagian terakhir dari kapur yang tidak dapat

dipotong lagi dan masih memiliki sifat kapur dapat kamu identifikasikan

sebagai partikel.

a. Definisi partikel

Sebagai contoh, ketika kamu membuka tutup botol minyak wangi,

minyak wangi menguap. Partikel-partikel minyak wangi dalam wujud gas

bergerak ke seluruh ruangan, sehingga kamu dapat mencium bau wangi.

Banyaknya partikel minyak wangi dalam wujud gas sama dengan ketika

berwujud cair. Hal ini menunjukkan bahwa jarak antar partikel dalam gas

lebih jauh daripada jarak antar partikel zat cair.

Ketika gula pasir dilarutkan ke dalam air panas, gula pasir mencair

(berubah wujud dari padat menjadi cair). Partikel-partikel gula dalam

wujud cair bergerak ke seluruh air yang terdapat dalam gelas, sehingga air

terasa manis. Banyaknya partikel gula pasir dalam wujud cair sama dengan

ketika berwujud padat. Hal ini menunjukkan bahwa jarak antarpartikel

dalam zat cair lebih jauh daripada jarak antarpartikel dalam wujud zat

padat.

Partikel-partikel minyak wangi ataupun gula tidak bisa dilihat

dengan mata telanjang karena ukuran partikel sangatlah kecil dan baru bisa

terlihat jika diletakkan di bawah mikroskop elektron. Bagian terkecil zat

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

22

yang kita sebut partikel ini disebut molekul. Jadi partikel atau molekul

adalah bagian terkecil zat yang masih memiliki sifat zat tersebut.

b. Susunan dan gerak partikel

Zat padat

Dalam zat padat, partikel-partikel saling berdekatan dalam suatu

susunan yang teratur, dan diikat cukup kuat oleh gaya tarik-menarik

antarpartikel tersebut(lihat gambar 2). Partikel-partikel dapat bergetar dan

berputar di tempatnya tetapi tidak bebas untuk mengubah kedudukannya.

Itulah sebabnya zat padat memiliki volume dan bentuk yag tetap. Pada

berbagai bahan padat, partikel-partikel tersusun dengan suatu pola tertentu.

Pola tertentu dari susunan partikel zat padat ini dinamakan kristal.

Zat cair

Dalam zat cair, jarak antarpartikelnya lebih jauh dibandingkan

dengan zat padat (gambar 3). Partikel-partikel zat cair dapat berpindah-

pindah tempat tetapi tidak mudah meninggalkan kelompoknya. Dengan

kata lain, zat cair dapat mengalir. Hal ini karena gaya tarik-menarik yang

mengikat partikel-partikel tidak sekuat seperti pada partikel-partikel zat

padat. Gaya ini mengikat partikel-partikel zat cair tetap pada

kelompoknya, tetapi zat cair mengalir untuk mengambil bentuk sesuai

dengan wadahnya. Jadi, dengan teori partikel dapatlah dijelaskan mengapa

zat cair memiliki volume tetap, tetapi bentuknya mudah berubah.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

23

Gambar 2. Susunan partikel zat padat Gambar 3. Susunan partikel zat cair

Gambar 4.Susunan partikel gas

Gas

Dalam gas, jarak antarpartikel sangat berjauhan, sehingga gaya

tarik-menarik dapat diabaikan (gambar 4). Partikel-partikel bebas untuk

bergerak dalam wadahnya. Partikel-partikel bergerak dengan sangat cepat

dan bertumbukan satu sama lain dan juga bertumbukan dengan dinding

wadahnya. Inilah yang menyebabkan gas menghasilkan tekanan. Dengan

teori partikel ini, kamu dapat menjelaskan mengapa gas memiliki volume

tidak tetap dan dengan cepat mengisi wadah (ruang) yang ditempatinya

(dengan kata lain, bentuknya tidak tetap).

c. Teori partikel menjelaskan perubahan wujud

Ketika es (zat padat) dipanaskan, energi partikel-partikel

bertambah, sehingga partikel-partikel bergerak lebih cepat dan jarak

antarpartikel makin jauh. Pada suhu tertentu, gaya tarik-menarik yang

menahan (mengikat) partikel-partikel zat padat tetap pada tempatnya tidak

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

24

dapat lagi mengatasi gerakan partikel-partikel. Akibatnya, partikel-partikel

dapat berpindah tempat; kita katakan es (zat padat) telah berubah wujud

menjadi air (zat cair).

Jika air (zat cair) dipanaskan, kejadian yang sama terjadi. Pada

suhu tertentu, energi partikel-pertikel cukup besar untuk melawan gaya

tarik-menarik antarpartikel zat cair yang menahan partikel tetap pada

kelompoknya. Akibatnya, partikel-partikel bebas untuk bergerak; kita

katakan air (zat cair) telah berubah wujud menjadi up air (gas).

Kejadian sebaliknya terjadi ketika air kamu simpan ke dalam

kulkas. Gerak-gerak partikel air (zat cair) menjadi lebih lambat dan jarak

antarpartikel makin dekat. Jarak antarpartikel makin dekat berarti gaya

tarik-menarik antarpartikel makin besar. Pada suhu tertentu, gaya tarik-

menarik antarpartikel cukup besar untuk mengikat partikel-partikel tetap

pada tempatnya (tidak dapat berpindah). Kita katakan air (zat cair) telah

berubah wujud menjadi es (zat padat). Jadi, perubahan wujud terjadi

karena perubahan kebebasan gerak partikel-partikel yang menyebabkan

perubahan jarak antarpartikel.

3. Kohesidan Adhesi

Dalam bahasan sebelumnya telah diketahui bahwa terdapat gaya

tarik-menarik antara partikel-partikel zat. Ada dua jenis gaya tarik-menarik

antarpartikel, yaitu kohesi dan adhesi. Kohesi adalah gaya tarik-menarik

antara partikel-partikel zat yang sejenis. Adhesi adalah gaya tarik-menarik

antara partikel-partikel zat yang tidak sejenis.

Ketika suatu zat cair, misalkan air dituangkan ke dalam tabung

reaksi, maka terihat dari samping tabung bahwa permukaan zat cair

tidaklah datar tetapi sedikit melengkung pada bagian zat cair yang

menempel pada kaca. Kelengkungan permukaan zat cair di dalam sebuah

tabung reaksi inilah yang disebut meniskus.

Ada dua macam meniskus, yaitu menikus cekung dan meniskus

cembung. Meniskus cekung tampak pada permukaan air dalam tabung

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

25

reaksi yaitu cekung. Sedangkan meniskus cembung tampak pada

permukaan raksa dalam tabung reaksi yaitu cembung. Perbedaan yang

mendasari kedua hal tersebut dijelaskan berdasarkan gaya tarik-menarik

antarpartikel, yaitu kohesi dan adhesi.

Untuk air dalam tabung reaksi, kohesi antarpartikel air lebih kecil

daripada adhesi antarpartikel air dan kaca. Sehingga sebagai akibatnya,

permukaan air dalam tabung berbentuk cekung (menikus cekung) dan air

membasahi dinding kaca.

Gambar 5. Meniskus pada permukaan zat cair: (a) air membentuk meniskus cekung dan(b) raksa membentuk meniskus cembung.(sumber : http//staf.uny.ac.id)

Untuk raksa dalam tabung reaksi, kohesi antarpartikel raksa lebih

besar daripada adhesi antarpartikel raksa dan kaca. Sebagai akibatnya,

permukaan raksa, dalam tabung berbentuk cembung (menikus cembung)

dan raksa tidak membasahi dinding kaca. Sifat raksa yang tidak

membasahi dinding kaca membuat raksa dimanfaatkan sebagai zat cair

pengisi termometer.

4. Kapilaritas

Kapilaritas merupakan peristiwa naik atau turunya zat cair dalam

pipa kapiler. Penyebab terjadinya kapilaritas adalah adanya kohesi dan

adhesi. Air naik dalam pipa kapiler karena adhesi lebih besar daripada

kohesi. Sedangkan raksa turun dalam pipa kapiler karena kohesi lebih

besar daripada adhesi.

Kapilaritas dalam kehidupan sehari-hari banyak dijumpai seperti

dalam peristiwa naiknya minyak tanah melalui sumbu kompor. Bagian

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

26

bawah sumbu tercelup dalam wadah minyak tanah yang terdapat dalam

bagian dasar kompor. Minyak segera meresap ke atas melalui sumbu

karena gejala kapiler dan membasahi seluruh sumbu. Di sini sumbu

berfungsi sebagai pipa kapiler. Contoh lainnya mengenai gejala kapiler

adalah pengisapan air dalam tumbuh-tumbuhan, pengisapan air pada kain

atau kertas isap.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

27

BAB IIIMETODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Pada penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan yaitu

kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Riset kuantitatif digunakan untuk

mengetahui peningkatan pemahaman siswa baik secara individual maupun

secara kelompok setelah mengikuti proses pembelajaran dengan Dual

Situated Learning Model dan riset deskriptif kualitatif untuk mengetahui

konsep awal siswa, konsep akhir dan perubahan konsep yang terjadi

setelah mengikuti proses pembelajaran dengan Dual Situated Learning

Model.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat penelitian : SMP Joannes Bosco Yogyakarta (Jln. Melati

wetan no. 51 Baciro)

2. Waktu penelitian : Bulan September - Nopember Tahun pelajaran

2012/2013

C. Sampel penelitian

Sampel penelitian ini adalah siswa kelas VII Compassion SMP

Joannes Bosco Yoyakarta tahun ajaran 2012/2013 dengan jumlah 26

siswa.

D. Treatment

Treatment yang diberikan pada siswa adalah proses pembelajaran

fisika pada materi Zat dan Wujudnya menggunakan Dual Situated

Learning Model. Dimana proses pembelajaran menggunakan DSLM

dilaksanakan dalam 6 tahapan sebagai berikut:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

28

Tahap 1

Mengidentifikasi konsep-konsep yang harus dikuasai oleh siswa.

Pada tahap 1 ini, guru menentukan dan merumuskan konsep-konsep yang

harus dikuasai oleh siswa pada materi yang akan diteliti.

Tahap 2

Mencari bagaimana konsep awal dan salah konsep yang terjadi

pada siswa. Pada tahap ini guru melaksanakan proses pencarian konsep

awal dan salah konsep yang terjadi pada siswa berhubungan dengan

konsep-konsep yang sudah ditentukan pada tahap 1. Proses pencarian ini

dapat dilakukan dengan tes tertulis secara klasikal, dan / atau wawancara

secara individual.

Tahap 3

Menganalisis konsep awal dan salah konsep yang terjadi. Pada

tahap ini guru menganalisis tentang konsep-konsep awal mana yang terjadi

salah konsep, bagaimana kesalahannya, dan apa yang menjadi sumber atau

penyebab terjadinya salah konsep pada siswa.

Tahap 4

Merancang gejala ataupun peristiwa yang dapat dimanfaatkan saat

proses pembelajaran dimana peristiwa ataupun gejala tersebut digunakan

untuk memperbaiki konsep awal dan salah konsep pada siswa.

Tahap 5

Melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan gejala atau

peristiwa yang sudah dirancang pada tahap 4.

Tahap 6

Pemantapan konsep. Pada tahap keenam ini siswa diberikan

kesempatan untuk memantapkan dan mengaplikasi konsep yang sudah

dikuasai siswa. Tahap ini guna meyakinkan guru bahwa proses perubahan

konsep memang sudah terjadi. Yang kemudian dilakukan tes akhir untuk

mengetahui bagaimana konsep akhir siswa.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

29

E. Instrumentasi

Instrumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan

bentuk instrument berupa tes pilihan ganda dengan alasan dan wawancara.

Peneliti memilih menggunakan instrumen berupa tes pilihan ganda karena

tes pilihan ganda merupakan bentuk instrumen yang paling banyak

digunakan dan dikembangkan oleh peneliti dalam mendeteksi terjadinya

miskonsepsi pada peserta didik (Salirawati, 2010). Seperti penelitian Amir,

et al. yang menggunakan tes pilihan ganda dengan alasan terbuka. Peserta

didik harus menjawab dan menjelaskan mengapa ia menjawab seperti itu.

Jawaban yang salah digunakan sebagai bahan tes selanjutnya. Bentuk tes

pilihan ganda atau esai disertai alasan terbuka juga digunakan dalam

penelitian Krishnan & Howe dengan memperkenalkan two-tier multiple

choice items (Salirawati, 2010).

1. Tes awal dan Tes akhir

Tes awal (Pretest) dilakukan sebelum kegiatan pembelajaran dalam

kelas pada materi Zat dan Wujudnya dimulai. Tes awal ini dimaksudkan

untuk mengetahui pemahaman konsep awal (prakonsep) siswa tentang

materi yang akan dipelajari. Pertanyaan yang dibuat dalam bentuk pilihan

ganda disertai alasan disesuaikan dengan isi materi pelajaran yang

disajikan serta disesuaikan dengan beberapa aspek, yaitu ingatan,

pemahaman, dan penerapan (Triana, 2007: 37). Kemudian, setelah tes

awal (pretest) diberikan kepada siswa, selanjutnya hasil pretes dianalisis

untuk mengetahui seberapa pemahaman konsep awal siswa, dan salah

konsep apa yang terjadi pada siswa.

Test akhir (posttest) diberikan setelah dilakukannya pembelajaran

Dual Situated Learning Model pada materi Zat dan Wujudnya. Dari test

akhir tersebut kemudian diperoleh seberapa tingkat pemahaman akhir

siswa mengenai materi yang sudah dipelajari dan bagaimana perubahan

konsep yang terjadi.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

30

Dari uraian singkat di atas, kemudian tersusunlah bentuk soal

pretest dan postest sama. Jumlah soal terdiri dari soal pada materi yang

telah dibagi menjadi beberapa indikator pencapaian antara lain.

Tabel 1. Kisi-kisi pembuatan tes awal dan tes akhir

No Indikator pencapaian jumlah soal No.soal

1. Menyelidiki perubahan

wujud zat

6 1, 5,7,8, 9,10

2. Menafsirkan susunan gerakpartikel pada berbagai wujudzat melalui penalaran

1 2, 3

3. Membedakan kohesi danadhesi berdasarkanpengamatan

1 6

4. Mengaitkan peristiwakapilaritas dalam peristiwakehidupan sehari-hari

1 4

Dari kisi-kisi di atas maka tersusulah 10 soal pilihan ganda disertai alasan

mengenai konsep Zat dan Wujudnya. Kriteria soal disusun berdasarkan nomor

urut adalah sebagai berikut :

a. Mengenai keterlibatan perubahan wujud (penguapan, pengembunan)air pada peristiwa hujan

b. mengenai kecepatan larutnya gula karena panas

c. mengenai ciri zat (gas) yang mudah dimampatkan

d. contoh peristiwa kapilaritas (naiknya minyak pada sumbu kompor)

e. mengenai penyubliman pada kapur barus

f. Peristiwa kohesi dan adhesi

g. pengembunan pada dinding tembok saat musim hujan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

31

h. Penguapan yang terjadi pada alkohol

i. perubahan wujud saat es dipanasi terus-menerus

j. mengenai suhu es saat dipanasi terus menerus

(Untuk bentuk soal lebih lengkap bisa dilihat pada lampiran 3.)

2. Wawancara

Untuk menggali bagaimana konsep awal salah konsep yang terjadi

pada siswa, maka diadakan wawancara kepada beberapa siswa untuk

mengetahui sebab dan dari mana salah konsep itu terjadi. Wawancara

diberikan kepada beberapa siswa yang mempunyai nilai paling rendah.

Wawancara ini bersifat sebagai pelengkap dalam artian untuk lebih

meyakinkan peneliti mengenai bagaimana pandangan konsep awal siswa

mengenai materi. Apakah sungguh-sungguh tidak mengerti, belum

mengerti atau sekedar jawaban spontan. Hasil wawancara lengkap bisa

dilihat pada lampiran 6.

Dari hasil tes awal dan wawancara tersebut, kemudian peneliti

dapat merancang peristiwa atau gejala dan ilustrasi yang dapat

dimanfaatkan dalam proses pembelajaran untuk memperbaiki prakonsep

yang salah atau kurang tepat. Dimana hal ini, sesuai dengan tahapan

penjelasan tentang model pembelajaran yang akan digunakan yaitu Dual

Situated Learning Model. Untuk merancang peristiwa atau gejala dan

ilustrasi tersebut, maka dibuatlah rancangan pelaksanaan pembelajaran

(RPP) beserta LKS yang lebih lanjut bisa dilihat pada lampiran 7 dan 8.

F. Validitas Instrumen

Pada penelitian ini validitas yang digunakan adalah validitas isi,

dimana sebuah instrumen yang baik dalam suatu penelitian sangat penting

karena akan menentukan hasil penelitian itu valid atau tidak (Suparno,

2007: 67). Menurut Chabib Thoha dalam Haryanti (2009: 27) suatu alat

ukur disebut memiliki validitas bilamana alat ukur terebut isinya layak

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

32

mengukur obyek yang seharusnya diukur dan sesuai dengan kriteria

tertentu.

Untuk menjamin validitas instrumen, maka dilakukan dengan penyusunan

kisi-kisi soal seperti pada tabel.1 karena menurut Sumadi Suryabrata,

(dalam Haryanti, 2009: 27) dijelaskan bahwa tujuan penyusunan kisi-kisi

soal adalah merumuskan setepat mungkin ruang lingkup, tekanan, dan

bagian-bagian tes sehingga perumusan tersebut dapat menjadi petunjuk

yang efektif bagi si penyusun tes.

G. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data

Untuk teknik pengumpulan data, pada penelitian ini dibagi menjadi

dua bagian dimana,

1). Data prakonsep dan salah konsep siswa mengenai materi Zat dan

Wujudnya, dikumpulkan menggunakan tes awal yang diberikan

sebelum proses pembelajaran menggunakan Dual Situated

Learning Model dilaksanakan.

2). Data konsep siswa mengenai materi Zat dan Wujudnya, sesudah

proses pembelajaran menggunakan Dual Situated Learning Model

dilaksanakan dikumpulkan menggunakan tes akhir yang diberikan

sesudah proses pembelajaran dilaksanakan.

Dengan Rubrik penilaian tes awal dan tes akhir diberikan pada tabel 2.

Pilihan

(obyektif)

Penjelasan (Esai) Kategori

jawaban

Skor

Benar Benar A 3

Benar Kurang lengkap dengan unsur benar > 50 % B 2

Benar Kurang lengkap dengan unsur benar < 50 % C 1

Benar Salah D 0

Salah Benar B 2

Salah Kurang lengkap dengan unsur benar > 50 % C 1

Salah Kurang lengkap dengan unsur benar < 50 % D 0

Salah Salah D 0

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

33

Rubrik penilaian dengan kriteria seperti yang ada pada tabel 2.

Dimaksudkan agar benar-benar terlihat bagaimana dan apa alasan siswa

memilih pilihan obyektif tersebut. Apakah hanya asal memilih atau

memang benar-benar mengerti alasan pemilihan jawaban dengan alasan

baik lengkap, kurang lengkap dengan unsur kelengkapan lebih dari 50

persen, kurang lengkap dengan unsur kelengkapan kurang dari 50 persen.

Sementara untuk teknik analisis data menggunakan analisis

deskriptif kualitatif dan analisis kuantitatif.

Analisis deskriptif kualitatif dengan teknik coding dikenakan pada

data hasil tes awal mengenai prakonsep dan salah konsep siswa, serta data

tes akhir mengenai konsep yang dibangun setelah proses pembelajaran.

Analisis deskriptif kualitatif teknik coding ini digunakan untuk

mengungkap konsep awal, salah konsep dan perubahan konsep pada siswa

yang terjadi.

Analisis kuantitatif dikenakan pada data hasil tes awal dan tes akhir

dengan menggunakan statistik prosentase dan testT untuk kelompok

dependent. Statistik prosentase digunakan untuk mengetahui seberapa

prosentase skor siswa secara klasikal untuk konsep awal dan konsep akhir

siswa. Sedangkan untuk mengetahui apakah penggunaan DSLM dapat

meningkatan pemahaman siswa digunakan test-T kelompok dependent

dengan mengetes dua kelompok yang dependent, atau satu kelompok yang

di test dua kali, yaitu pada tes awal dan tes akhir. Kelompok dependent

merupakan kelompok yang saling tergantung, berkaitan, atau bahkan sama

(Suparno, 2006). Digunakan significant level = 0.05, bila probabilitas p

lebih kecil dari significant level , maka sigificant dalam artian ada

perbedaan antara hasil skor tes awal dan tes akhir. Bila probabilitas p lebih

besar dari significant level, maka tidak significant dalam artian tidak ada

perbedaan antara hasil skor tes awal dan tes akhir. Perhitungan uji-t

menggunakan program SPSS 16.0 compared means kemudian paired

samples t test.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

34

BAB IV

DATA, ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai dengan

Nopember. Sebelum melakukan kegiatan pembelajaran menggunakan

Dual Situated Learning Model, peneliti melakukan tes awal sebagai

langkah mengetahui seberapa pemahaman konsep awal siswa mengenai

materi ajar dan observasi kelas guna mengetahui situasi dan kondisi di

kelas yang akan di ajar.

Berikut ini adalah jalannya penelitian yang dilakukan di kelas VII

Compassion di SMP Joannes Bosco Yogyakarta yang disusun pada tabel

dibawah ini :

Tabel 3. Tanggal, jam, kegiatan penelitian

No Tanggal Jam kegiatan penelitian

1 17 September 2012 09.55-10.25 Tes awal

2 17 September 2012 10.25-11.15 Observasi kelas VII

Compassion

3 27,28 September

2012

09.40-09.55 Wawancara

4 22 Oktober 2012

29 Oktober 2012

09.55-11.15

09.55-11.15

Pembelajaran dengan DSLM

5 5 Nopember 2012 09.55-10.25 Tes akhir

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

35

B. Pelaksanaan Penelitian

Karena untuk proses pembelajaran ini dengan menerapkan DSLM yang

dilakukan dalam 6 tahap, maka peneliti menguraikan hasil penelitian juga

disampaikan tahap demi tahap.

Tahap 1

Mengidentifikasi konsep-konsep yang harus dikuasai siswa.

Hasil dari proses tahap 1 adalah 4 konsep Zat dan Wujudnya, yang

kemudian dijabarkan dalam 10 soal tes awal. Soal-soal tes awal dapat

dilihat pada lampiran 3.

Tahap 2

Mencari bagaimana konsep awal dan salah konsep yang terjadi

Proses ini dilaksanakan melalui tes awal. Data hasil tes awal dapat

dilihat pada tabel 4 (data mentah hasil tes awal pada lampiran 5).

Tahap 3

Menganalisis konsep awal dan salah konsep yang terjadi

Analisis dilakukan terhadap hasil tes awal. Dari analisis itu

diketahui keseluruhan siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal

tes awal. Dari proses analisis ini, kemudian diambil 2 orang siswa dengan

nilai terendah untuk dilakukan analisis lebih lanjut.

Tahap 4

Merancang peristiwa/gejala dan ilustrasi yang dapat dimanfaatkan

dalam proses pembelajaran untuk memperbaiki konsep awal dan salah

konsep. Daftar peristiwa/ gejala dan ilustrasi tersebut secara lengkap dapat

dilihat pada lampiran 7.

Tahap 5

Melaksanakan pembelajaran

Pembelajaran dilaksanakan selama 4x40 menit, dalam 2

pertemuan. Untuk rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) dapat

dilihat pada lampiran 8. Dengan metode pembelajaran yang digunakan

adalah sebagai berikut.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

36

1). Metode Ceramah interaktif

2). Metode Demonstrasi

3). Metode Tanya jawab

4). Metode Simulasi komputer

Tahap 6

Pemantapan konsep

Pemantapan konsep dilakukan melalui tanya jawab. Setelah tanya

jawab, diadakan tes akhir, untuk mengukur konsep akhir siswa.

Setelah 6 tahap ini selesai, kemudian dilakukan analisis hasil tes akhir

untuk apakah model DSLM dapat meningkatkan pemahaman konsep

siswa dan untuk mengetahui perubahan konsep yang terjadi.

C. Data, Analisis dan Pembahasan

C.1 Konsep awal siswa

Konsep awal siswa diperoleh melalui tes awal. Tes awal yang digunakan

adalah berupa 10 soal dengan pilihan ganda beserta alasan.

Tabel 4. Ketentuan penilaian skor tes awal&tes akhir

Pilihan

(obyektif)

Penjelasan (Esai) Kategori

jawaban

Skor

Benar Benar A 3

Benar Kurang lengkap dengan unsur benar > 50 % B 2

Benar Kurang lengkap dengan unsur benar < 50 % C 1

Benar Salah D 0

Salah Benar B 2

Salah Kurang lengkap dengan unsur benar > 50 % C 1

Salah Kurang lengkap dengan unsur benar < 50 % D 0

Salah Salah D 0

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

37

Dari jawaban hasil tes awal tersebut kemudian dilakukan analisis secara deskriptif

untuk mengenahui bagaimana saja konsep awal siswa mengenai zat dan

wujudnya. Berikut ini dataskor hasil tes awal.

Tabel 5. Data skor hasil tes awal

SoalSiswa

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1 1 1 0 0 2 0 1 0 0 0 52 1 1 0 0 1 0 1 0 0 0 43 2 1 1 0 2 0 1 0 0 0 74 0 1 0 0 0 0 0 0 2 0 35 0 1 0 0 1 0 1 1 0 0 46 1 1 0 0 1 0 0 0 2 0 57 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 38 0 2 0 0 2 0 1 0 0 0 59 1 0 0 0 1 0 0 0 2 0 410 0 0 0 0 1 0 1 0 2 0 411 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 212 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 213 0 1 0 0 0 0 0 0 2 0 314 0 2 0 0 0 0 1 0 0 0 315 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 216 1 0 0 0 2 0 0 0 0 0 317 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 018 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 319 0 1 0 0 0 0 0 0 2 0 320 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 121 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 122 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 223 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1

13 15 4 0 14 0 9 1 13 1Rata2 =3.04

Dari data skor tes awal, teridentifikasi bahwa pemahaman awal siswa

mengenai zat dan wujudnya yang dijabarkan lewat soal-soal diperoleh banyak

siswa yang menjawab salah atau kurang lengkap. Ada 23 siswa, dan setiap soal

skor maksimumnya 3, maka skor pencapaian maksimumnya adalah 69.Pada soal-

soal ini dianalisis jawaban siswa untuk melihat pola kesalahan yang dilakukan

siswa.

Dari hasil tes awal ternyata diperoleh bahwa nilai rata-rata kelas adalah 3,04

atau 10,13 % dari skor maksimal yaitu 30.Dengan nilai tertinggi hanya terdapat

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

38

dari soal no 2 dengan nilai 15. Dari hal tersebut dikatakan bahwa pemahaman

awal siswa mengenai zat dan wujudnya adalah sangat buruk.

Dari jawaban tes awal siswa tersebut dianalisis kemudian dirangkum dan

dideskripsikan sehingga terlihat bagaimana konsep awal siswa yang salah, kurang

lengkap dan yang sudah benar mengenai Zat dan Wujudnya. Berikut ini konsep

awal siswa yang salah dan kurang lengkap dan benar pada tiap-tiap soal beserta

deskripsinya.

Tabel 6. Rangkuman variasi konsep awal yang salah, kurang lengkap

No Topik/hal Konsep awal(yang salah, kurang lengkap)1 Mengenai keterlibatan

perubahanwujud(penguapan,pengembunan)airpada peristiwa hujan

1. penguapan dan pengembunan, tetapi kuranglengkap dalam menjelaskan alasan mengenaiterjadinya pengembunan (10)

2. penguapan, pencairan dengan alasan yangbahwa mencairnya titik-titik airdiawan(seharusnya pengembunan) (10)

3. Peleburan,pengembunan(1),pengembunan,pencairan (1) dengan alasanyang tidak kuat

4. Satu siswa tidak memberikan jawaban

2. mengenai kecepatan larutnyagula karena panas

1. gula cepat larut dalam teh panas denganalasanyang kurang kuat yaitu karena denganair panas/hangat gula mudah larut , sifat gulaadalah larut (9).

2. Hanya 3 siswa yang menjelaskan lebihlengkap bahwa gula yang berwujud padatakan cepat larut karena berubah wujudmencair pada air teh panas

3. Sedangkan 11 siswa menjawab tepat tapialasan pemilihan jawaban tidak menjawabpertanyaan

3 mengenai ciri zat (gas) yangmudah dimampatkan

1. Hanya 11 siswa yang menjawab udara dalambotol, dengan 4 siswa memberikan alasankurang lengkap dengan tidak menyertakansifat gas (pengaruh jarak dan gerak partikelgas).

2. Sedangkan 7 siswa sisanya beralasankarenaudara di dalam balonringan/menyebar/ elastis tanpa alasantambahan yang kuat

3. Duabelas siswa salah menjawab denganalasan yang tidak kuat seperti karenatembaga mudah ditekuk, air sumber

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

39

No Topik/hal Konsep awal(yang salah, kurang lengkap)kehidupan,

4 contoh peristiwa kapilaritas(naiknya minyak pada sumbukompor)

Hampir semua siswa tidak/belum mengerti mengenaiapa itu kapilaritas dan contoh nya. Sebagian besar darimereka menanyakan tentang apa itu kapilaritas.Kemungkinan besar jawaban mereka adalah menerka.

5 mengenai penyubliman padakapur barus

1. Sebagian besar siswa (20) menjawabmenyublim: dengan alasan yang kuranglengkap yaitu kapur barus menyublim karenalama-kelamaan mengeluarkan bau harumakan terkikis, (6),

2. Masih mencampurkan antara penyublimandan penguapan dilemari (2),

3. Hanya 4 siswa yang menjelaskan perubahandari padat ke gas karena terkena udara masuk(4).

4. siswa lainnya dengan alasantidak menjawabpertanyaan (8)

5. Sedangkan 3 siswa menjawab salah yaitu,menguap dengan alasan yang tidak kuat:Kapur barus menguap karena bersifat gas danpadat dan tidak ada udara masuk (2), seringtertiup angin (1)

6 Peristiwa kohesi dan adhesi Kebanyakan siswa pada saat mengerjakan bertanyamengenai apa itu kohesi & adhesi. Barangkali siswatidak mengerti atau belum mengerti. Sehinggajawaban dan alasan asal menjawab

7 pengembunan pada dindingtembok saat musim hujan

1. Alasan siswa kurang lengkap : karena airhujan meresap dan cat jadi terkelupas (11),suhunya rendah (6), akibat suhu tinggi (1)

2. Siswa yang lain menjawab mengembuntetapi tidak disertai alasan yang jelas

3. Sedangkan 1 siswa menjawab deposisi, 1siswa menyublim dengan alasan yang tidakkuat

8 Penguapan yang terjadi padaalkohol

1. Sebagian besar siswa sudah menjawab tepat,yaitu alkohol menguap, alkohol menyerappanas dari kulit tetapi dengan alasan yangtidak menjawab pertanyaan (13).

2. Hanya 1 siswa yang menjawab kuranglengkap : karena alkohol bersuhu rendahdaripada kulit tanpa penjelasan yang lebihlengkap

3. Sedangkan 6 siswa menjawab salah yaituAlkohol membeku kulit menyerap panasdarialkoholdengan alasan karena kulit dapatmenyerap cairan apapun dan menstrerilkan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

40

No Topik/hal Konsep awal(yang salah, kurang lengkap)luka

4. Lalu 2 siswa menjawab salah yaituAlkoholmembeku dan alkohol menyerap panas darikulit dengan alasan karena sifat alkoholdingin

5. Sisanya siswa tidak menjawab alasan9 perubahan wujud saat es

dipanasi terus-menerus1. Kebanyakan siswa (16) menjawab salah

(Padat, cair)dengan alasan kurang lengkapkarena es semula padat dipanaskan teruskemudian mencair (tidak menyebutkan unsurgas)

2. Hanya 7 siswa yang menjawab Padat, gas,cair karena perubahan wujud es padat terkenapanas berupa gas kemudian mencair (2)Padat, cair, gas karena es padat dipanaskanmenjadi cair dan dipanaskan akan menguap(5)

10 mengenai suhu es saatdipanasi terus menerus

1. Suhu akan selalu naik karena tingginya panasdan membuat es mencair (11)

2. Suhu es akan turun karena suhu es menjadipanas es mencair (9)

3. Suhu es akan selalu turun karena es dinginjika dipanasi suhu menjadi hangat (2)

4. Hanya 1 siswa menjawab tepat yaitu Suhu estetap saat terjadi perubahan wujud tetapitidak dijelaskan kenapa, hanya dijelaskankarena tekanan berbeda

a. Dari tabel d