of 159 /159
KAJIAN TERHADAP MAKNA HIDUP DOA DALAM KARYA PELAYANAN PARA SUSTER FRANSISKUS DINA (SFD) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh: Berliana Simbolon NIM: 091124037 PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

KAJIAN TERHADAP MAKNA HIDUP DOA DALAM KARYA PELAYANAN

PARA SUSTER FRANSISKUS DINA (SFD)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

Oleh:

Berliana Simbolon

NIM: 091124037

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN

KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2014

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 2: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

ii

SKRIPSI

KAJIAN TERHADAP MAKNA HIDUP DOA DALAM KARYA PELAYANAN

PARA SUSTER FRANSISKUS DINA (SFD)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 3: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

iii

SKRIPSI

KAJIAN TERHADAP MAKNA HIDUP DOA DALAM KARYA PELAYANAN

PARA SUSTER FRANSISKUS DINA (SFD)

Dipersiapkan dan ditulis oleh

Berliana Simbolon

NIM : 091124037

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 4: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

iv

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan kepada:

Seluruh anggota Kongregasi Suster Fransiskus Dina,

yang telah memberi perhatian, cinta, doa, serta dukungan kepada saya selama

menjalani kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sanata Dharma.

Komunitas Fonte Colombo, keluargaku, sahabat dan teman-temanku yang telah

memberi dukungan dan kepercayaan dengan caranya masing-masing.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 5: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

v

Motto

“Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu”

(Ams 16:3)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 6: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak

menurut karya atau bagian dari karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam

kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 19 Desember 2014

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 7: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

vii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta:

Nama: Berliana Simbolon

Nim : 091124037

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul KAJIAN TERHADAP

MAKNA HIDUP DOA DALAM KARYA PELAYANAN PARA SUSTER

FRANSISKUS DINA (SFD). Dengan demikian saya memberi hak kepada

Universitas Sanata Dharma untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain

demi kepentingan akademis tanpa meminta ijin dari penulis maupun memberikan

royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya perbuat terimakasih.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 8: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

viii

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul KAJIAN TERHADAP MAKNA HIDUP DOA DALAM

KARYA PELAYANAN PARA SUSTER FRANSISKUS DINA (SFD). Penulis

memilih judul ini bertolak dari kesan pribadi akan para SFD yang sedang berkarya

pada saat ini, yakni kurang menghayati makna doa dalam hidup hariannya. Hal ini

dapat disebabkan oleh kesibukan dalam berkarya sehingga ada kecenderungan untuk

memprioritaskan pekerjaan dari pada doa.

Para SFD mesti bercermin pada hidup Kristus yang selalu menyediakan waktu

untuk berdoa. St. Fransiskus dan Sr. Pendahulu (Muder Yohanna Yesus, dan Muder

Constantia van der Linden) juga meneladan hidup Yesus. Mereka meneladani hidup

Yesus yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah lewat sikap dan

tindakannya dalam karya pelayanan-Nya. Untuk menimba kekuatan dari hidup doa,

para SFD diharapkan berusaha terus-menerus meneladani Yesus, Sang Pendoa.

Menanggapi situasi dan permasalahan di atas, penulis menggunakan kajian

pustaka dengan metode deskriptif. Penulis mempelajari dan mendalami buku-buku

spiritualitas yang diterbitkan oleh kongregasi dalam membantu menghayati hidup doa

berdasarkan spiritualitas SFD. Selain itu, penulis juga menggunakan buku-buku dari

sumber lain yang relevan untuk memperkaya dan memperdalam gagasan-gagasan dan

refleksi rohani guna membantu para SFD untuk semakin memaknai hidup doa dalam

karya pelayananya.

Maka, untuk membantu para SFD dalam meningkatkan hidup doa, penulis

mengusulkan program pendalaman iman dalam bentuk katekese dengan model SCP.

Model ini dianggap relevan karena menggarisbawahi peran-keberadaan peserta

sebagai subyek yang bebas dan bertanggungjawab. Berdasar pada refleksi kritis atas

pengalaman hidupnya dalam kaitannya dengan situasi konkret, peserta sebagai subyek

secara aktif dan kreatif menghayati imannya dan dapat mewujudkan dalam

pelayanannya. Melalui katekese ini, para SFD diharapkan terbantu dalam menghayati

dan meningkatkan makna hidup doa dalam karya pelayanan melalui tugas perutusan

yang sudah dipercayakan kepada masing-masing anggota SFD.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 9: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

ix

ABSTRACT

This writing entitled KAJIAN TERHADAP MAKNA HIDUP DOA DALAM

KARYA PELAYANAN PARA SUSTER FRANSISKUS DINA (SFD) (The

Explanation of Purpose of the Life of Prayer in the Mission of Sisters Franciscan

Minor). The author chose this title based on the personal impression towards the

sisters who are now in their ministries, it seems that they have such a lack of

“awareness” of the purpose of prayer in their daily lives. This might be caused by their

businesses in ministries that they have such a tendency to give priority for the work

than the prayer.

The sisters have to reflect to Christ’s life who always spares his time to pray.

St. Francis of Asisi and the Former Sister (Sr. Yohanna of Jesus and Sr. Constantia

van der Linden) also imitated that Jesus’ lifestyle. This thing became real in

surrendering His will according to God’s through his actions in His missions. To have

such power from the life of prayer, the Sisters continuously are suggested to able to

imitate Jesus, the Man of Prayer.

To respond the situation and problem above, the author (in this writing) uses

descriptive method that needs some literatures. The author learned and studied some

spirituality books which are published by the order in helping the Sisters to live the life

of prayer according to the spirituality of SFD. The author also uses some books from

another sources which are relevant to enrich and deepen the thought and spiritual

reflection to help the Sisters to define the life of prayer in their ministries.

For that reason, to help the Sisters in increasing the life of prayer, the author

proposes a program of growth of faith in a form of catechesi with model SCP. This

model is seen as a relevant form because stresses the action and the present of the

members as a free and responsible subject. Based on critical reflection on his life

experience and in line with the concrete situation, the member as subject actively and

creatively live his faith and can fulfill it. Through this program, the Sisters should feel

helped in living and increasing the purpose of life of prayer in their missions which are

given to each sister of SFD.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 10: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 11: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah yang mahabaik, berkat bimbingan-Nya penulis

dapat menyelesaikan tulisan skripsi ini dengan judul KAJIAN TERHADAP

MAKNA HIDUP DOA DALAM KARYA PELAYANAN PARA SUSTER

FRANSISKUS DINA (SFD). Penulisan skripsi ini untuk memenuhi salah satu syarat

kelulusan sarjana sastra 1 pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi

Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta.

Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis menghadapi kesulitan, tantangan

kegembiraan sukacita dan semua pengalaman teresebut memperkaya wawasan penulis.

Pengalaman-pengalaman tersebut dapat dilalui karena bantuan dan dukungan serta

doa-doa dari berbagai pihak. Untuk itu penulis menghaturkan banyak terimakasih

kepada:

1. Rm. Drs. F.X. Heryatno Wono Wulung., SJ., M.Ed, selaku dosen pembimbing

utama yang telah meluangkan waktu, perhatian, membimbing penulis dengan

penuh kesabaran, memberi gagasan, refleksi, inspirasi dan kritikan yang

membangun sehingga memotivasi penulis menuangkan ide dalam menyelesaikan

skripsi ini sampai akhir.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 12: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

iii

2. Bpk. FX. Dapiyanta, SFK., M.Pd, selaku dosen penguji kedua sekaligus dosen

pembimbing akademik yang telah memberikan perhatian, dukungan, semangat

kepada penulis sampai penyelesaian penulisan sikripsi ini.

3. Bpk. Yoseph Kristianto, SFK., M.Pd, selaku dosen penguji ketiga yang telah

mendukung dan memotivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan sikripsi ini.

4. Segenap Staf Dosen dan karyawan Prodi IPPAK yang telah mendampingi,

membekali, pengetahuan dan ketrampilan kepada penulis selama menjalani masa

studi hingga akhir penyelesaian sikripsi ini.

5. Sr. Adriana Turnip SFD, selaku pemimpin kongregasi SFD yang telah memberi

kesempatan kepada penulis untuk menjalani studi di Program studi Ilmu

Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma.

6. Para saudariku komunitas Fonte Colombo serta semua suster yang pernah tinggal

bersama dengan penulis selama studi di Yogyakarta yang memberi dukungan,

perhatian dan doa selama menempuh studi.

7. Teman-teman mahasiswa angkatan 2009/2010 (Fery Fredericus, Sr. Felisitas, PIJ,

Sr. Verena, SSps, Tri Agnes, Bernadetta Linda Kusumawati, Maria Herlina Nahak,

Yosefina Serfiana Mea) yang telah memberi perhatian, dukungan dan bantuan

kepada penulis dalam studi dan atas kerjasama yang baik selama perjalanan studi.

8. Sahabat dan kenalan serta siapa saja yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu

yang selama ini dengan tulus membantu dan memberikan perhatian kepada penulis

sehingga selesainya skripsi ini.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 13: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

iv

9. Orang tua dan seluruh anggota keluarga yang dengan setia memberikan dukungan,

doa, cinta, perhatian dan motivasi selama ini.

10. Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan namanya yang selama ini

memberikan perhatian dan dukungan kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh

karena itu penulis terbuka untuk menerima kritikan dan saran dari pembaca demi

perbaikan lebih lanjut. Penulis berharapa semoga sikripsi ini dapat bermanfaat bagi

para pembaca khususnya bagi para suster SFD.

Yogyakarta, 19 Desember 2014

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 14: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

v

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................................... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................................... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ....................................................................................... iv

MOTTO ............................................................................................................................. v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................................................... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ............................. vii

ABSTRAK ..................................................................................................................... viii

ABSTRACT ....................................................................................................................... ix

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... x

DAFTAR ISI ................................................................................................................... xii

DAFTAR SINGKATAN ............................................................................................... xvii

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ...................................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ................................................................................................. 4

C. Tujuan Penulisan ................................................................................................... 5

D. Manfaat Penulisan ................................................................................................. 5

E. Metode Penulisan .................................................................................................. 5

F. Sistematika Penulisan ............................................................................................ 6

BAB II. DOA DAN KARYA PELAYANAN DALAM HIDUP RELIGIUS

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 15: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

vi

A. Doa dalam Hidup Religius .................................................................................... 8

1. Pengertian Doa ................................................................................................ 9

2. Fungsi doa ..................................................................................................... 12

3. Bentuk-bentuk Doa ....................................................................................... 13

a. Doa Lisan ................................................................................................ 14

b. Doa Renung ............................................................................................. 15

c. Doa Batin ................................................................................................. 15

4. Ciri-ciri Doa Kristen ...................................................................................... 17

a. Doa kepada Allah Bapa ........................................................................... 17

b. Doa dalam Nama Yesus .......................................................................... 18

c. Doa Pengantaraan Yesus Kristus ............................................................ 19

d. Doa dalam Roh Kudus ............................................................................ 20

5. Persoalan Doa ................................................................................................ 21

a. Kesukaran-kesukaran Doa ...................................................................... 22

b. Pergumulan dalam Doa ........................................................................... 23

6. Peran Doa dalam Hidup Religius .................................................................. 24

a. Doa Berakar dalam Hidup Religius......................................................... 25

b. Hidup Berakar dalam Doa ....................................................................... 26

B. Karya Pelayanan Religius ................................................................................... 27

1. Misi Pelayanan Religius ................................................................................ 27

2. Pelayanan yang Profetis ................................................................................ 29

3. Macam-macam Karya Pelayanan Religius.................................................... 30

a. Liturgi ..................................................................................................... 31

b. Pewartaan ............................................................................................... 31

c. Persekutuan ............................................................................................ 32

d. Pelayanan ............................................................................................... 32

e. Kesaksian ............................................................................................... 33

C. Hubungan Doa dan Karya Pelayanan .................................................................. 34

1. Praktek Doa di Tengah-tengah Pelayanan Religius ...................................... 34

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 16: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

vii

2. Peran Doa dalam Pelayanan Religius ............................................................ 35

3. Pelayanan sebagai Wujud Doa ...................................................................... 36

a. Hubungan yang Akrab dengan Tuhan ..................................................... 37

b. Relasi terhadap Sesama ........................................................................... 38

BAB III. MAKNA HIDUP DOA DALAM KARYA PELAYANAN PARA SUSTER

FRANSISKUS DINA

A. Sejarah Awal Berdirinya Kongregasi SFD ......................................................... 40

B. Visi dan Misi SFD .............................................................................................. 47

C. Spiritualitas Kongregasi Suster Fransiskus Dina ................................................ 50

1. Semangat Cinta Kasih ................................................................................... 51

2. Kesederhanaan Kristiani yang Sejati ............................................................. 53

3. Semangat Rajin dan Giat ............................................................................... 54

4. Lepas Bebas ................................................................................................... 55

5. Semangat Doa ............................................................................................... 56

D. Doa dan Karya Pelayanan dalam Kongregasi SFD ............................................. 60

1. Doa dalam Kongregasi SFD .......................................................................... 60

2. Pengertian Pelayanan .................................................................................... 61

3. Pelayanan dalam Gereja ................................................................................ 62

4. Pelayanan sebagai Fransiskan ....................................................................... 63

5. Tujuan Pelayanan .......................................................................................... 64

a. Demi Terwujudnya Nilai-nilai Kerajaan Allah ....................................... 65

b. Mendampingi dan Memberdayakan Orang-orang Kecil ......................... 66

6. Tantangan dalam Pelayanan Kongregasi SFD .............................................. 67

a. Tantangan Internal ................................................................................... 68

b. Tantangan Eksternal ................................................................................ 68

7. Jenis-jenis Karya Pelayanan dalam Kongregasi SFD ................................... 70

a. Karya Pelayanan di Bidang Pendidikan .................................................. 70

b. Karya Pelayanan di Bidang Kesehatan ................................................... 71

c. Karya Pelayanan di Bidang Sosial .......................................................... 72

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 17: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

viii

d. Karya Pelayanan di Bidang Pastoral ....................................................... 73

E. Makna Doa dalam Karya Pelayanan Para SFD ................................................... 73

1. Doa sebagai Penopang dalam Pelayanan Para SFD ..................................... 74

2. Doa sebagai Sumber Kekuatan bagi Para SFD dalam Berkarya ................... 75

3. Doa sebagai Sumber Cinta Kasih dalam Pelayanan Para SFD ..................... 76

4. Doa sebagai Sumber Persatuan dengan Umat dalam Mewartakan Kerajaan

Allah .............................................................................................................. 77

BAB IV KATEKESE MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS SEBAGAI USAHA

MENINGKATKAN HIDUP DOA PARA SUSTER SFD DALAM KARYA

PELAYANAN

A. Komponen pokok dalam Katekese Shared Christian Praxis (SCP) ................... 78

1. Praksis ........................................................................................................... 78

2. Kristiani ......................................................................................................... 79

3. Shared ............................................................................................................ 80

4. Langkah-langkah Shared Christian Praxis (SCP) ........................................ 81

a. Langkah I: Pengungkapan Pengalaman Hidup Faktual .......................... 82

b. Langkah II: Refleksi Kritis atas Sharing Pengalaman Hidup Faktual .... 83

c. Langkah III: Mengusahakan supaya Tradisi dan Visi Kristiani Lebih

Terjangkau ............................................................................................... 84

d. Langkah IV: Interpretasi/Tafsir Dialektis antara Tradisi dan Visi

Kristiani dengan Tradisi dan Visi Peserta ............................................... 85

e. Langkah V: Keterlibatan Baru demi makin Terwujudnya Kerajaan

Allah di Dunia ini .................................................................................... 86

B. Alasan Katekese Shared Christian Praxis (SCP) Digunakan sebagai Usaha

Meningkatkan Hidup Doa dalam Karya Pelayanan Para SFD ............................ 87

C. Usulan Program Katekese ................................................................................... 90

1. Pengertian program ....................................................................................... 90

2. Tujuan Program ............................................................................................. 91

3. Rumusan Tema dan Tujuan ........................................................................... 91

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 18: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

ix

4. Petunjuk Pelaksanaan Program Kegiatan Katekese Umat Model SCP ......... 93

5. Matriks Program ............................................................................................ 94

6. Contoh Persiapan Katekese Model SCP ....................................................... 98

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ........................................................................................................ 121

B. Saran .................................................................................................................. 123

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 125

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Lirik Lagu ................................................................................................. (1)

Lampiran 2 : Teks Injil ................................................................................................... (3)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 19: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

x

DAFTAR SINGKAT

A. Singkatan Kitab Suci

Seluruh singkatan Kitab Suci dalam sikripsi ini mengikuti Kitab Suci

Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab

Indonesia ditambah dengan Kitab-kitab Deuterokanonika yang diselenggarakan oleh

Lembaga Biblika Indonesia.

Ams : Amsal

Ef : Efesus

Flp : Filipi

Kid : Kidung Agung

Kis : Kisah Para Rasul

Luk : Lukas

Mat : Mateus

Mrk : Markus

Rm : Roma

Yoh : Yohannes

1 Sam : 1 Samuel

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 20: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

xi

B. Singkatan Dokumen Resmi Gereja

CT : Catechesi Tradendae, Anjuran Apostolik Paus Yohannes Paulus II

kepada para uskup, klerus, dan segenap umat beriman tentang katekese masa

kini, 16 Oktober 1979.

GS : Gaudium Et Spes, Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II mengenai tentang

Gereja di Dunia Dewasa ini, 7 Desember 1965.

KGK : Katekismus Gereja Katolik

KHK : Kitab Hukum Kanonik

KWI : Konfrensis Wali Gereja Indonesia

RM : Redemptoris Missio. Enssiklik (Surat Edaran) Bapa Suci Yohannes paulus

II tentang Amanat Misioner Gereja, 7 Desember 1990

VC : Vita Consecrata, Anjuran Apostolik Paus Yohannes Paulus II tentang

Hidup Bakti bagi para religius, 25 Maret 1996.

C. Singkatan Lain

AD : Anggaran Dasar dan cara hidup ordo ketiga regular Santo Fransiskus Asisi.

diberikan di Roma oleh Paus Yohannes Paulus II pada 8 Desember 1982

AngTBul : Anggaran Dasar tanpa bulla

Art : Artikel

FAK : Fransiskus Asisi Karya-karyanya. Buku yang berisi karya-karya St.

Fransiskus Asisi semasa Hidupnya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 21: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

xii

Konst : Konstitusi.

SCP : Shared Christian Praxis

SEKAFI : Sekretariat Keluarga Fransiskan Indonesia

SFD : Suster Fransiskus Dina

Tkapitel : Tengah Kapitel

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 22: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 23: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam Konstitusi SFD (2007 art, 30-31) dirumuskan:

Keyakinan penuh kepercayaan bahwa Allah adalah dasar penopang hidup

dan bahwa dia adalah basis yang diandalkan oleh persekutuan kita,

membutuhkan bentuk ungkapan yang nyata. Karena itu doa pribadi dan doa

bersama pada hakekatnya termasuk cara hidup kita. Dalam injil kita

berjumpa dengan Yesus yang pada banyak saat kehidupan-Nya bersatu

dengan Bapa dalam doa (Luk 11:1-4) Fransiskus dalam memuji dan

bersyukur tidak mempunyai cukup perkataan untuk melagukan cinta kasih

Tuhan terhadap manusia dan seluruh ciptaan-Nya (AngTBul 23). Tentang

pendiri kongregasi kita tertulis, bahwa dalam hidup membiara mereka yang

diperbaharui dan aktif, doa tetap mendapat tempat yang penting. Semua

karya mereka ditopang oleh doa dan dalam segala kebutuhan mereka, doa

itu menjadi pernaungan mereka yang besar.

Pernyataan di atas menegaskan tentang betapa pentingnya doa bagi

kehidupan para SFD. Doa menjadi penopang dan dasar hidup para SFD dalam

seluruh hidup dan karyanya. Seperti Yesus atau juga seperti para kudus, pendiri

dalam kongregasi SFD yang menjadikan doa sebagai sumber kekuatan

spiritualnya, demikian juga doa merupakan kekuatan dan nafas hidup bagi para

SFD.

Dalam doa, umat beriman mempererat relasinya dengan yang ilahi. Dalam

doa, umat beriman berjumpa dengan Allahnya. Hayon (1987:125) menyatakan

“Doa adalah pengalaman perjumpaan dengan Allah dan sesama”. Dalam doa, para

SFD mengungkapkan dirinya di hadapan Allah dan sekaligus menerima pernyataan

diri Allah kepadanya. Dalam doa, para SFD mendengar sabda Tuhan dan menaruh

perhatian terhadap karya-Nya. “Bersabdalah Tuhan, sebab hambamu

mendengarkan” ( 1 Sam 3: 10).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 24: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

2

Darminta (1983: 38-41) merumuskan:

Doa merupakan gerak Allah menuju kepada manusia dan manusia menuju

kepada Allah. Dalam doa ada ritme pertemuan yang terdiri dari sapaan dan

jawaban. Dalam doa manusia diajak untuk melihat Allah, mengalami Allah

dalam kemuliaan-Nya. Doa baru sungguh berarti bila berdampak dalam

kehidupan nyata. Doa membuat orang lebih efektif dalam berkarya di

tengah dunia. Doa mendorong kita untuk semakin mengusahakan

perkembangan dan pembebasan manusia sepenuhnya, baik secara material

maupun spiritual.

Kutipan tersebut menegaskan bahwa hubungan personal antara manusia

dengan Allah yang terbina melalui doa akan meningkatkan efektivitas hidup para

SFD, serta menjadikan hidup seseorang memiliki dampak positif, baik bagi dirinya

maupun bagi sesamanya. Melalui doa, para SFD didorong untuk semakin

melibatkan diri dalam karya pembebasan dan penyelamatan sesama. Disadari atau

tidak, hidup doa dan karya pelayanan saling mendukung dan menyuburkan. Hidup

doa merupakan tiang dan tempat menimba kekuatan bagi pengabdian kepada

Tuhan lewat pelayanan kepada sesama.

Penulis, sebagai salah satu anggota Kongregasi Suster Fransiskus Dina

(SFD), berusaha terus-menerus mengikuti Yesus seturut teladan dan semangat

Santo Fransiskus Asisi, Muder Yohanna Yesus dan pendiri kongregasi dalam hal

mendasarkan karya kerasulan pada doa. Santo Fransiskus berusaha keras untuk

menyerupakan hidupnya dengan hidup Yesus Kristus sendiri dengan mencintai

kemiskinan dan kerendahan hati serta melalui semangat doa yang tak kunjung

putus. Santo Fransiskus menyadari bahwa berkat doa, ia dimampukan untuk

melihat karya Allah dalam dirinya, serta diteguhkan untuk mengikuti Yesus secara

total.

Demikian juga Muder Yohana Yesus dan pendiri kongregasi menghayati

hidupnya sebagai seorang abdi Tuhan yang melaksanakan karyanya atas dasar doa.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 25: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

3

Doa yang dihidupi oleh ibu pendiri sungguh memberi makna dalam pelayanan dan

dalam hidup para suster Peniten Rekolek pada waktu itu. Bagi Muder Yohanna

Yesus, doa adalah hal yang wajib dilakukan pada setiap jam doa yang sudah

ditentukan dalam aturan komunitas.

Semangat doa yang diwariskan oleh Santo Fransiskus dan Muder Yohanna

Yesus dan pendiri SFD menjadi inspirasi yang menjiwai para Suster Fransiskus

Dina, sebab doa yang tulus akan mengubah cara pandang para Suster Fransiskus

Dina untuk berpikir pada hal-hal yang positif bagi perkembangan kongregasi

melalui karya pelayanan. Doa menjadi dasar yang pertama dan utama dalam hidup

Para Suster Fransiskus Dina.

Di lain pihak, dalam situasi sekarang ini, penulis melihat dan merasakan,

bahwa semangat doa Santo Fransiskus, Muder Yohanna Yesus dan pendiri SFD

(Muder Constantia van der Linden) mengalami kemunduran dalam diri para Suster

Fransiskus Dina. Waktu-waktu doa yang disepakati dalam komunitas sering

dilanggar/tidak ditepati dengan alasan karena tugas pelayanan. Kerap kali doa

dianggap hanya sebagai rutinitas saja; bahkan ada yang menjalankan doa karena

merasa terpaksa atau bahkan supaya dilihat orang hadir waktu berdoa padahal hati

dan pikiran entah kemana-mana. Doa seakan-akan hanya suatu tradisi yang harus

dilakukan tanpa ada maknanya.

Penulis melihat dan mengalami bahwa kemunduran hidup doa para SFD

juga berpengaruh pada orientasi hidup mereka, yaitu bahwa sangat sering doa

dinomorduakan daripada karya. Padahal, pendiri dan para pendahulu tarekat,

seperti Santo Fransiskus dari Asisi, Muder Yohana dan Muder Constantia van der

Linden sangat menekankan keterkaitan erat antara doa dan karya, yaitu bahwa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 26: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

4

karya pelayanan SFD harus dilandaskan pada doa. Sayangnya, keheningan doa

sebagai dasar, sering berubah menjadi kegaduhan karya. Akibatnya bisa fatal dan

berdampak negatif bagi panggilan, pelayanan dan juga dalam persaudaraan. St.

Yohanes dari salib berkata bahwa siapa menjauhi doa, menjauhi segala yang baik.

Berangkat dari keprihatinan tersebut penulis terdorong untuk

menyumbangkan suatu pemikiran penting lewat karya tulis ini untuk menemukan

kembali makna luhur kehidupan doa yang mendasari karya. Kehidupan doa para

SFD turut memengaruhi karya pelayanan mereka. Doa merupakan hal pokok yang

perlu mereka hidupi, sebagaimana semangat awal para pendahulunya yang

sungguh-sungguh mengutamakan doa dalam hidup mereka. Apabila doa dihayati

dengan baik, maka doa akan menjadi daya yang mengembangkan persaudaraan

dan karya pelayanan para SFD. Buku Konstitusi SFD (2007 art 31) menegaskan

bahwa semua karya para SFD harus ditopang oleh doa, dan dalam segala

kebutuhan, doa itu menjadi pernaungan para SFD yang besar.

Dalam rangka penemuan kembali makna hidup doa seperti yang telah

diteladankan oleh para pendahulu SFD, maka penulis membuat karya tulis ini

dengan judul: “KAJIAN TERHADAP MAKNA HIDUP DOA DALAM KARYA

PELAYANAN PARA SUSTER FRANSISKUS DINA (SFD)

A. RUMUSAN MASALAH

Secara garis besar penulis merumuskan beberapa permasalahan yang akan

dibahas dalam karya tulis ini sebagai berikut:

1. Bagaimana pengertian hidup doa dan karya pelayanan dalam hidup religius ?

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 27: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

5

2. Unsur-unsur apa saja yang perlu dipahami, dimengerti dan dihayati untuk dapat

memaknai hidup doa dalam karya pelayanan para SFD?

3. Apa yang dapat disumbangkan untuk meningkatkan semangat hidup doa dalam

karya pelayanan para suster SFD untuk zaman sekarang ini?

B. TUJUAN PENULISAN

1. Menguraikan/menjelaskan pengertian hidup doa dan karya pelayanan dalam

hidup kaum beriman /religius.

2. Memaparkan unsur-unsur hidup doa dan karya pelayanan para suster SFD

sesuai dengan semangat pelayanan St. Fransiskus dari Asisi dan para suster

pendahulu (Muder Yohanna Yesus dan Sr. Constantia van der Linden).

3. Memberikan sumbangan pemikiran bagi para suster SFD dalam usaha

meningkatkan doa dalam karya pelayanan.

C. MANFAAT PENULISAN

Adapun manfaat penulisan ini adalah sebagai berikut

1. Memberi masukan kepada tarekat SFD agar semakin memahami dan

memaknai betapa pentingnya doa dalam karya pelayanan.

2. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi penulis betapa pentingnya hidup

doa dalam karya pelayanan untuk zaman sekarang ini.

3. Menambah wawasan para pembaca tentang makna doa dalam karya pelayanan.

D. METODE PENULISAN

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 28: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

6

Metode penulisan skripsi ini menggunakan kajian pustaka dengan metode

deskriptif. Penulis mempelajari dan mendalami buku-buku spiritualitas dan hasil

kapitel yang diterbitkan oleh kongregasi untuk membantu dan menghayati hidup

doa berdasarkan spiritualitas SFD. Dalam penulisan ini penulis memaparkan

tentang spiritualitas para suster pendahulu. Artinya supaya setiap anggota kembali

kepada semangat awal, bertanggung jawab dalam tugas perutusan dengan

meneladani cara hidup para suster pendahulu dan Yesus sebagai pendoa. Penulis

juga mengamati, mengalami sendiri bagaimana para suster yang sedang berkarya

menghayati hidup doanya kemudian penulis memberi sumbangan kepada para SFD

dalam usaha meningkatkan hidup doa supaya seimbang dengan pelayanannya.

Selain itu, penulis juga menggunakan buku-buku dari sumber lain yang relevan

untuk memperkaya dan memperdalam gagasan-gagasan dan refleksi rohani guna

membantu para SFD untuk semakin memaknai hidup doa dalam karya pelayanan

para religius.

E. SISTEMATIKA PENULISAN

Secara garis besar, skripsi ini dibagi ke dalam lima bab. Bab pertama,

pendahuluan; terdiri dari latar belakang penulisan, rumusan permasalahan, tujuan

penulisan, metode penulisan, manfaat penulisan, dan sistematika penulisan. Bab

kedua menguraikan tentang doa dan karya dalam kehidupan para religius.

Pembahasan dimulai dengan menjelaskan doa dalam hidup religius, karya

pelayanan religius, dan hubungan doa dan karya pelayanan. Bab ketiga berisi

gambaran tentang makna hidup doa dalam karya pelayanan para suster SFD.

Dalam bab ini, penulis memaparkan sejarah awal berdirinya kongregasi SFD, visi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 29: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

7

dan misi, spiritualitas kongregasi Suster Fransiskus Dina, karya pelayanan dalam

kongregasi SFD dan makna doa dalam karya pelayanan para Suster SFD. Bab

keempat berupa sumbangan pemikiran dalam bentuk katekese model Shared

Christian Praxis (SCP) sebagai usaha untuk meningkatkan hidup doa para SFD

yang sedang berkarya. Akhir dari keseluruhan pemaparan ini adalah bab kelima,

bab penutup. Bagian ini berisikan kesimpulan mengenai isi penulisan dan saran.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 30: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 31: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

BAB II

DOA DAN KARYA PELAYANAN

DALAM HIDUP RELIGIUS

Pada bab II ini, penulis akan membahas tentang doa dan karya dalam

kehidupan para religius. Pembahasan dimulai dengan menjelaskan doa dalam

hidup religius, yang mencakup tentang pengertian doa, fungsi doa, bentuk-bentuk

doa, ciri-ciri doa Kristen, persoalan doa dan peran doa dalam hidup religius.

Pembahasan dilanjutkan dengan penjelasan mengenai karya pelayanan religius,

yang mencakup tentang misi pelayanan religius, pelayanan yang profetis (sebagai

nabi) dan macam-macam karya pelayanan religius. Pembahasan selanjutnya ialah

mengenai hubungan doa dan karya pelayanan. Juga akan dibahas mengenai praktek

doa di tengah-tengah pelayanan religius, peran doa dalam pelayanan religius dan

pelayanan sebagai wujud doa.

A. Doa dalam Hidup Religius

Hidup doa para religius merupakan sebuah warisan dari Yesus Kristus.

Dalam Injil Markus dikatakan bahwa Yesus mengawali kegiatan-Nya dengan

berdoa. “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia

pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana” (Mrk 1:35). Di tengah-tengah

kesibukan-Nya, Yesus tetap menyediakan waktu hening untuk berdoa kepada

Bapa-Nya. Yesus sungguh menghayati hidup doa dalam keseharian-Nya.

Yesus menjadi teladan bagi para religius. Hidup doa yang dijalani-Nya,

juga merupakan sumber teladan hidup doa para religius yang mengabdikan dirinya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 32: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

9

untuk Allah dan pelayanan seumur hidup pada sesama. Pelayanan yang dilakukan

oleh para religius sungguh terkait dengan hidup doa yang dihayatinya.

Ada beberapa bentuk hidup doa yang bisa dilakukan oleh para religius

misalnya; dengan menciptakan waktu hening sejenak, membaca Kitab Suci,

merenungkan teks doa dan lain sebagainya. Dalam suasana doa tersebut, para

religius diharapkan dengan rendah hati mampu mengungkapkan berbagai suasana

hati atau perasaan yang sedang dialaminya. Perasaan tersebut bisa berupa

ungkapan syukur, permohonan atau pun kegelisahan. Inilah yang menjadi

persembahannya bagi Allah. Di sinilah juga tampak peran serta Allah dalam

kehidupan para religius. Dalam doa, setiap religius dengan bantuan Allah, mampu

merasakan campur tangan Allah dalam setiap tindakannya. Dengan kata lain,

setiap pengalaman hidup manusia akan menjadi bermakna apabila dihubungkan

dengan Allah melalui doa.

1. Pengertian Doa

Dalam Katekismus Gereja Katolik disebutkan bahwa doa merupakan suatu

pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-

hal yang baik (KGK, 1995: 2559). Pengangkatan jiwa berarti suatu pengarahan

atau penyerahan diri seutuhnya kepada Allah. Dalam hal ini, setiap religius

diharapkan dengan sepenuh hati menyerahkan dirinya kepada Allah. Istilah

pengangkatan jiwa mengajarkan kepada kita bahwa: 1) Tuhan itu mahabaik,

mahapengasih, mahamurah dan tahu apa yang dibutuhkan setiap orang; 2) doa itu

mengandaikan usaha dari pihak manusia; 3) doa itu melibatkan hati dan budi

manusia, yakni pengertian, perasaan dan kemauannya (Green, 1988: 28).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 33: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

10

Doa merupakan bagian hidup keagamaan yang sentral atau penting dalam

hidup Kristiani karena merupakan bentuk kerinduan manusia untuk berjumpa

dengan Allah (Harjawiyata, 1979: 63-64). Kesatuan relasi antara Allah dan

manusia tersebut kemudian tampak nyata dalam pelaksanaan kehendak Allah

dalam hidup manusia. Inilah yang dipandang sebagai buah dari doa.

Sebagai bentuk percakapan jiwa manusia dengan Allah, doa dipahami juga

sebagai jalan persatuan jiwa manusia dengan Allah. Melalui persatuannya dengan

Allah, manusia selanjutnya terdorong untuk melakukan kehendak Allah yang telah

memenuhi dirinya (Lukasik, 1991:26). Muder Teresa (1994:13), sebagai salah

seorang pribadi yang memiliki kedekatan yang intim dengan Kristus berpendapat

bahwa doa adalah penyerahan diri seluruhnya, kesatuan yang menyeluruh dengan

Kristus. Melalui doa, setiap orang diajak untuk menyerahkan hidupnya kepada

penyelenggaraan Ilahi dan melalui doa, setiap orang secara penuh bersatu bersama

dengan Kristus menjalin relasi dengan Allah. Doa dipandang sebagai suatu

dorongan hati untuk mengungkapkan pengalaman-pengalaman iman yang

menyertai perjalanan hidup keseharian seseorang berhadapan dengan orang-orang

di sekitar. Melalui pengalaman tersebut, dia diajak untuk bersyukur kepada Allah.

Selain sebagai bentuk perjumpaan rohani manusia dengan Allah, doa juga

sering dimaknai sebagai permohonan, harapan, pujian, atau syukur kepada Tuhan.

Kebanyakan orang berdoa untuk menyampaikan permohonan, harapan, pujian dan

syukur kepada Tuhan. Dalam permohonan tersebut, setiap orang berharap supaya

apa yang diinginkan dan diharapkannya dipenuhi oleh Tuhan. Harapan dan

keinginan yang terkabul itu selanjutnya mendorongnya untuk bersyukur dan

berterimakasih kepada Tuhan dengan menyampaikan doa pujian dan syukur

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 34: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

11

(Hendrik, 2003; 3). Dalam hal ini, baik permohonan maupun ungkapan syukur

dipandang sebagai jalan untuk berkomunikasi dengan Allah. Manusia

mencurahkan isi hatinya kepada Allah dan dalam keheningan mendengarkan

sapaan dan jawaban Allah atas pengungkapan hatinya (Agudo, 1988; 176). Doa

menjadi lambang kedekatan manusia dengan Allah. Kehadiran-Nya dirasakan

ketika doa dipanjatkan dan dialamatkan kepada Allah sendiri (Joice, 1987; 221).

Dalam Konstitusi SFD (Suster-suster Fransiskus Dina) 2007 art 30

disebutkan bahwa doa merupakan cara hidup para suster SFD. “Keyakinan penuh

bahwa Allah adalah dasar penopang hidup dan bahwa Dia adalah basis yang

diandalkan oleh persekutuan kita, membutuhkan bentuk ungkapan yang nyata,

karena itu doa pribadi dan bersama pada hakekatnya termasuk cara hidup kita”.

Apa yang tertulis dalam artikel ini, selanjutnya ditegaskan lagi dalam artikel no.

34: “Pada waktu pagi dan malam kita berkumpul untuk menghaturkan puji dan

syukur bagi Tuhan dan membawa kebutuhan kita sendiri dan kebutuhan semua

orang ke hadapan-Nya. Dalam doa berkala tersebut, kita mengindahkan tradisi doa

yang berabad-abad, dan mendengarkan apa yang sekarang ini hendak disampaikan

Tuhan kepada kita”. Kedua artikel ini ingin menyatakan bahwa bagi para suster

SFD, doa merupakan suatu bentuk keyakinan penuh dan kepercayaan bahwa Allah

adalah dasar, pusat dan penopang kehidupan setiap hari.

Hal ini diinspirasikan oleh tindakan Yesus sendiri yang senantiasa berdoa

kepada Bapa-Nya dalam menjalankan tugas perutusan-Nya. Secara khusus

disebutkan bahwa doa yang berpusat pada perayaan Ekaristi kudus merupakan

dasar hidup para Suster Fransiskus Dina. Perayaan Ekaristi mengingatkan para

religius akan pentingnya kenangan, kebaikan dan keagungan kasih Kristus bagi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 35: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

12

dunia dalam karya penyelamatan-Nya. Di dalam doa, kita dituntut untuk senantiasa

membangun relasi yang intim dengan Allah. Dengan demikian, doa akhirnya

dipandang sebagai ungkapan kerinduan atau cinta manusia kepada Allah dan hidup

di hadirat-Nya (Darminta, 1982; 49).

Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa doa merupakan

suatu perjumpaan pribadi manusia dengan Allah. Perjumpaan itu menjadi kekuatan

bagi manusia untuk mengubah dan mengolah hidupnya. Selain itu, doa juga

dimengerti sebagai kebiasaan untuk menjalin relasi dengan Tuhan.

Doa dilakukan secara sadar dan dalam bimbingan Roh Kudus. Komunikasi

yang terjalin antara manusia dengan Allah merupakan hakikat dari doa. Dari pihak

Allah, Allah sendiri selalu berusaha menyapa manusia terlebih dahulu dan

mengajak manusia untuk selalu bersatu dengan-Nya. Sementara itu, sebagai

makhluk yang diciptakan oleh Allah, manusia berusaha untuk memohon, memuji,

memuliakan Allah, menyerahkan diri pada-Nya dan menjawab sapaan Allah lewat

pengalaman hidupnya.

2. Fungsi Doa

Doa merupakan ungkapan kenyataan hidup manusia sebagai mahluk sosial

kepada Allah. Doa manusia mengandung dua hal pokok, yaitu permohonan kepada

Allah dan pengangkatan jiwa kepada Allah. Yang dimaksud dengan permohonan

kepada Allah menunjuk pada isi doa yang meliputi; ungkapan syukur, pujian, dan

tobat sedangkan pengangkatan jiwa kepada Allah menjelaskan doa sebagai

kegiatan manusia yang dialami oleh manusia sehari-hari yang bergerak menuju

Allah. Artinya doa dapat dilihat sebagai suatu tindakan yang dilakukan oleh

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 36: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

13

manusia. Hal ini mau menunjukkan bahwa dalam diri manusia ada kemampuan

dan kemungkinan untuk berdoa mengembangkan hidup rohani dengan

mempersatukan diri dengan Allah. Dengan demikian doa berfungsi sebagai

penuntun dalam hidup manusia termasuk para religius (Darminta, 1983:29-30).

Doa tidak terpisahkan dari realita kerohanian manusia yang berhadapan

dengan Allah. Doa berfungsi sebagai pengubahan rohani (transformasi) hidup

dalam diri manusia yang dilandasi oleh iman yang realistis tahu akan “tanah” hati

sendiri, sehingga mampu membentuk kesadaran yang mendalam atas inti dan

makna hidup manusia dengan Allah. Di sini Allah tampak sebagai suatu kekuatan

yang memberi religius tanggung jawab untuk mengarahkan hidupnya kepada

Allah, supaya semakin mengenal, dan bersatu dengan-Nya (Darminta, 1983:61-

63).

Kekuatan dan semangat diperoleh dari doa. Dalam doa terdapat seribu

macam jawaban atas apa yang dialami dan dipikirkan manusia. Pengalaman akan

Allah dalam hidup membuat manusia semakin dewasa dalam mengatur, menata

pribadi dan hidup manusia baik internal maupun eksternal. Fungsi doa

mengungkapkan cinta, kepercayaan dan harapan kita dengan Tuhan. Doa menjadi

penggerak dalam setiap langkah hidup religius. Dalam hal ini dapat dilihat

bagaimana doa itu berfungsi dalam diri para religius yang memampukan mereka

melihat dimensi baru dalam hidupnya. Di dalam doa-doanya, terpancar kasih Allah

yang tidak berkesudahan.

3. Bentuk-Bentuk Doa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 37: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

14

Bentuk-bentuk doa dapat dilihat dari subyek dan cara mendoakannya.

Bentuk doa dilihat dari cara mendoakannya dibagi menjadi tiga bentuk yaitu; doa

lisan, doa renung, dan doa batin.

a. Doa Lisan

Doa lisan merupakan ungkapan spontan yang diungkapkan, sama seperti

Yesus mengajar para murid-Nya tentang doa yang hendak disampaikan kepada

Bapa. Kristus mengajar murid-murid-Nya dengan doa lisan yang bermakna dan

menyentuh hati para murid ketika Dia mendoakannya. Doa itu ialah Doa Bapa

Kami (KGK, 1995:2701). Dalam doa-Nya, Yesus menggunakan sebutan Bapa

untuk menyapa Allah. Jika dilihat dari latar belakang doa dan hidup Yesus, sebutan

ini mengungkapkan hubungan dan kedekatan Yesus dengan Bapa-Nya. Dengan

meniru tindakan Yesus, yaitu dengan menyebut Allah sebagai Bapa, manusia dapat

sepenuhnya menggantungkan dirinya pada kuasa Allah. Tujuan Yesus dalam

mengajarkan para murid dengan menyebut Allah sebagai Bapa ialah untuk

mengembalikan manusia ke dalam hubungan yang intim dengan Allah, yang telah

dirusak oleh Adam.

Selain doa Bapa kami, terdapat beberapa contoh doa lisan yang lain atau

doa berumus yang bisa digunakan untuk berdoa, yaitu; doa rosario, mazmur dan

doa-doa yang terdapat dalam doa pagi, siang dan malam. Doa lisan merupakan

salah satu bentuk doa yang biasa digunakan oleh para religius dalam menjalin

relasi dengan Allah. Melalui doa lisan, seorang religius berdoa kepada Allah Bapa

dengan kesungguhan hatinya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 38: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

15

b. Doa Renung

Doa renung biasa juga disebut sebagai doa hening. Dasar dari doa renung

ialah pencarian kehendak Allah dalam Sabda-Nya. Doa renung atau doa hening

bertujuan untuk mengajak kaum religius masuk dalam penyadaran diri dan

merasakan campur tangan Tuhan dalam hidup sehari-hari. Penyadaran tersebut

dapat dilakukan dengan merenungkan ayat-ayat Kitab Suci yang cocok atau

menyentuh, teks-teks liturgi pada hari yang bersangkutan atau pun memandang

ikon/gambar kudus. Doa renung disebut juga dengan meditasi, karena dalam

meditasi, si pendoa dibawa masuk dalam keheningan yang sungguh-sungguh

supaya benar-benar mampu menemukan dan menjawab apa yang dikehendaki

Allah dalam dirinya.

Dalam keheningan, si pendoa diajak untuk bersatu dengan Allah. Dalam

artian ini, keheningan batin perlu diperhatikan dan dijaga supaya si pendoa benar-

benar bisa menemukan rencana Allah, melepaskan segala keterikatan dan

keegoisan yang membuat diri larut dalam khayalan atau pikiran yang mengacau.

Harapannya ialah bahwa dalam keheningan, kita dapat berbicara dengan Allah dari

hati ke hati. Melalui cara inilah, para religius akan dengan mudah bermeditasi

tentang “misteri Kristus” dalam hidup manusia sejati (KGK; 1995: 2705-2708).

c. Doa Batin

Santa Theresia dari kanak-kanak Yesus menuliskan, “Doa batin tidak lain

dari suatu pergaulan yang sangat ramah, di mana kita sering kali berbicara seorang

diri dengan Dia, tentang siapa Dia, dan kita tahu bahwa Ia mencintai kita” (KGK,

1995: 2709). Doa batin bertujuan untuk mencari Dia, "yang jiwaku cintai" (Kid

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 39: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

16

1:7; 3: 1-4). Kita mencari Dia, karena secara rohani, hati kita rindu kepada-Nya.

Kerinduan inilah yang menjadi awal cinta kasih kepada-Nya. Kita mencari Dia

dalam iman yang murni, dan dalam iman juga kita dilahirkan dari Dia dan hidup di

dalam Dia. Dalam doa batin, seluruh pandangan hidup kita diarahkan sepenuhnya

kepada Tuhan.

Oleh karena menekankan kedekatan dengan Tuhan, maka doa batin, secara

langsung membantu religius untuk menemukan campur-tangan Allah dalam

hidupnya. Doa batin dapat diibaratkan sebagai doa seorang anak Allah, doa

seorang pendosa yang dosanya sudah diampuni dan menghendaki supaya

menerima cinta kasih Allah. Melalui doa batin, si pendoa merasa dicintai dan

terdorong untuk membalasnya dengan cinta kasih yang lebih besar lagi. Akan

tetapi, dia mengetahui bahwa cinta kasih balasannya itu berasal dari Roh Kudus,

yang mencurahkannya ke dalam hatinya, karena segala-galanya ialah rahmat Allah.

Doa batin berarti penyerahan diri secara rendah hati kepada Bapa Yang penuh

cinta, dalam persatuan yang semakin dalam dengan Putera terkasih-Nya. (KGK,

1995: 2712).

Dalam doa batin, yang terpenting ialah mendengarkan Sabda Allah,

merenungkan dan memandang Yesus dengan penuh iman dan mencintai-Nya tanpa

banyak kata. Santa Teresa dari Avila berkata bahwa yang terpenting dalam doa

bukanlah berkata banyak, tetapi mencintai banyak.

Doa batin adalah puncak doa, karena di dalamnya Allah mempersatukan

kita dengan kekuatan Roh-Nya, supaya “manusia batin” diperkuat di dalam diri

setiap manusia, sehingga Kristus tinggal di dalam hati manusia oleh iman, dan

“berakar serta berdasar di dalam kasih” (Ef 3:16-17). Untuk berakar dan berdasar

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 40: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

17

dalam kasih dibutuhkan Roh Tuhan di dalam batin hingga si pendoa dikuatkan dan

diteguhkan menurut kekayaan kemuliaan-Nya, mengijinkan Kristus tinggal dalam

hati dan menguasai seluruh bidang kehidupannya, dan memahami serta mengenal

kasih Kristus. Oleh karena itulah dalam doa batin tidak dibutuhkan kata-kata yang

panjang lebar, melainkan suasana hening untuk merenung (Hetu, 2007:29-31)

Katekismus Gereja Katolik memberikan cara atau langkah untuk masuk

dalam doa batin. Adapun langkah itu dijelaskan sebagai berikut: di bawah

dorongan Roh Kudus, kita “mengarahkan” hati dan seluruh diri kita, hidup dengan

penuh kesadaran dalam kediaman Tuhan, dan menghidupkan iman untuk masuk ke

hadirat-Nya yang menantikan kita. Dalam proses ini, kita diajak untuk membuka

topeng kita dan mengarahkan kembali hati kepada Tuhan yang telah mencintai kita

dan menyerahkan diri kepada-Nya (KGK, 1995:2711 ).

4. Ciri-ciri Doa Kristiani

Yesus pernah bersabda kepada para murid-Nya, “Jika engkau berdoa,

masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu, dan berdoalah kepada Bapamu yang

ada di tempat tersembunyi. Dia akan membalasnya kepada-Mu” (Mat 6:6). Melalui

perkataan ini, Yesus ingin menyampaikan kepada para pengikut-Nya bagaimana

cara berdoa. Yesus menyebutkan sejumlah ‘kriteria’ atau ciri yang hendak

dilakukan ketika berdoa. Dalam berdoa dibutuhkan sikap dan kesungguhan hati

yang mendalam. Doa orang Kristen hendaknya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Doa kepada Allah Bapa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 41: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

18

Doa Kristen selalu bergerak dalam dua lingkup; lingkup obyektif yang

berarti masuk dalam hidup Kristus dan lingkup subyektif yang berarti bahwa doa

itu digerakkan oleh rahmat-Nya. Dalam hal ini, Roh Kudus sendirilah yang

mempertemukan kedua lingkup itu menjadi satu realita hidup. Roh Kudus itu pula

yang mengarahkan manusia kepada Allah Bapa. Doa kepada Allah Bapa itu

berasal dari Bapa dan menuju kepada Bapa (Ef 1:4-14). Allah Bapa merupakan

sumber kehidupan, segala kebaikan sekaligus tujuan akhir dari kerinduan manusia

(Darminta, 1982; 21).

Doa kepada Allah Bapa ini juga merupakan suatu bentuk ungkapan syukur

sekaligus harapan atas tindakan Allah (Bapa) yang mau menyelamatkan manusia

melalui Yesus Kristus Putera-Nya dalam Roh Kudus. Hal ini dihadirkan dan

dinyatakan dalam bentuk doa yang dialamatkan kepada Allah Bapa. Doa berarti

pengangkatan, penyerahan, pengungkapan hati manusia kepada kehendak Allah,

agar manusia mengalami kemerdekaan sebagai anak-anak Allah (Darminta, 1983:

23).

Dalam arti tertentu, doa kepada Allah Bapa merupakan sebuah bentuk

sapaan yang intim antara Bapa dengan Anak, yang tidak dapat dipisahkan

melainkan suatu kesatuan yang utuh. Berkat Yesus yang menyebut Allah sebagai

Bapa-Nya, kita juga ikut dipersatukan atau diikutsertakan dalam keputeraan-Nya,

sehingga setiap orang (Kristen) disebut sebagai anak Allah (Bapa) juga.

b. Doa dalam Nama Yesus

Doa dalam nama Yesus Kristus mengungkapkan kesatuan orang Kristen

dengan Yesus Kristus. Wajar bila dalam berdoa, Gereja selalu menyebutkan nama

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 42: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

19

Yesus. Yesus menghendaki agar doa dalam nama-Nya dilandasi oleh semangat

cinta Kasih. Tanpa cinta kasih doa tidaklah bermakna.

Sebagai seorang religius yang mau hidup selaras dengan Kristus, seseorang

perlu menekuni apa yang dikehendaki-Nya seperti ditulis dalam Kitab Suci.

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul

salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:23). Mengikut Yesus berarti

menyesuaikan dan menyatukan pilihan hidup religius dengan pilihan-Nya dan

menghidupi nilai-nilai yang Ia wariskan. Dalam hal ini, doa dalam nama Yesus

mengungkapkan kesatuan orang Kristen dengan Yesus Kristus. Orang-orang

Kristen selalu berdoa dengan menyebut nama Yesus Kristus (Kis 7:59; 9:14).

Mereka berkumpul dalam nama Yesus dan berdoa dalam nama-Nya. Yesus ada di

tengah-tengah mereka (Mat 18:20). Dengan demikian, sebagai pengikut Kristus,

seorang religius perlu menghayati hidup doa sebagai kesatuan iman dengan Yesus

Kristus (Darminta, 1982: 20).

c. Doa dengan Pengantaraan Yesus Kristus

Doa Kristen merupakan doa yang dilakukan dalam kesatuan dan

persekutuan rohani dengan Kristus. Yesus dilihat tidak hanya sebagai guru doa

orang Kristen, tetapi juga pengantara. Doa-doa orang Kristen selalu dihubungkan

dengan pribadi Yesus Kristus. Dialah pengantara setiap doa dan permohonan. Doa

dengan pengantaraan Kristus ini mengungkapkan terlaksananya rencana

keselamatan Allah dalam diri Yesus. Doa ini tumbuh dari kesadaran iman bahwa

dengan kekuatan Yesus, keselamatan menjadi nyata dalam hidup manusia

(Darminta, 1981: 21). Berdoa dengan perantaraan Yesus Kristus mengungkapkan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 43: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

20

kesatuan dengan-Nya. Oleh karena itu, sebagai pengikut Yesus, orang Kristen

perlu menyatukan diri dengan Allah melalui Yesus Kristus sebagai penyelamat

dunia.

Keberadaan Yesus sebagai pengantara merupakan sebuah amanat yang

pernah disampaikan oleh Yesus sendiri. Dia berkata, “Di luar Aku, kamu tak dapat

berbuat apa-apa” (Yoh 15: 5). Ia adalah satu-satunya jalan untuk sampai pada

Allah (Yoh 14: 6). Itulah sebabnya, dalam setiap doa termasuk doa-doa dalam

perayaan Ekaristi (doa pembuka, persiapan persembahan, sesudah komuni) atau

pun doa-doa pribadi lainnya, Yesus disebut sebagai pengantara. Hal ini

diungkapkan dengan jelas dalam perumusan, “Kami menghaturkan doa ini dengan

pengantaraan Yesus Kristus Juru Selamat kami” (KWI, 2005: 61). Rumusan ini

menjelaskan identitas Yesus sebagai pengantara. Yesus bertindak sebagai utusan

Bapa yang menyelamatkan manusia dari dosa (KWI, 1996: 196).

d. Doa dalam Roh Kudus

Sebelum Yesus menjalankan penderitaan-Nya, dalam amanat perpisahan

bersama dengan para murid-Nya, Ia bersabda, “Namun benar yang kukatakan ini

kepadamu; adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku

tidak pergi, Penghibur tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku

akan mengutus Dia kepadamu (Yoh 16: 7). Ini berarti bahwa Roh yang akan diutus

akan membimbing serta menguatkan para murid-Nya. Perkataan Yesus ini

digenapi-Nya pada hari raya Pentakosta, Hari Turunnya Roh Kudus. Para murid

yang mula-mula mengalami ketakutan, akhirnya bersukacita karena Roh Kudus

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 44: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

21

yang dicurahkan atas diri mereka masing-masing, sehingga mereka berani untuk

bersaksi tentang kebangkitan Yesus.

Dalam Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (8: 26-27) dikatakan;

Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita: sebab kita tidak

tahu, bagaimana harus berdoa: tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada

Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang

menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia,

sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.

Orang-orang Kristen termasuk para religus diminta untuk selalu tekun

berdoa dalam Roh Kudus, sebab Roh Kudus adalah Roh Kristus dan jiwa dari

tubuh mistik-Nya, yaitu Gereja. Roh Kudus membantu untuk menyempurnakan

doa yang dipanjatkan kepada Allah. Ia mempersatukan kita dengan Kristus, dan

dalam Kristus satu dengan yang lainnya (Jacobs, 1988: 119).

Sebagaimana telah dijelaskan, seorang religius tidak lepas dari doa, sebab

dalam doa, orang menerima kekuatan yang tidak pernah habis. Kekuatan itu

berasal dari Roh Kudus. Kekuatan bisa bertahan apabila Roh Allah menjadi

penggerak di dalamnya. Roh Kudus membimbing seorang religius agar sadar akan

hidupnya secara mendalam. Roh Kudus membimbing dan mengajar religius dalam

menanti saat terjadinya keselamatan (Darminta, 1983: 22). Oleh karena itu agar

sampai pada penghayatan doa, dibutuhkan suatu pengosongan diri dan sikap

keterbukaan akan datangnya Roh Kudus dalam dirinya. Dengan demikian, seluruh

gerak dan langkah hidup religius selalu diprakarsai oleh Roh Kudus.

5. Persoalan dalam Doa

Hidup doa tidak selalu berjalan mulus. Dalam berdoa terkadang muncul

‘persoalan’ yang membuat kita tidak bisa berdoa. Ada banyak faktor yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 45: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

22

menyebabkannya. Persoalan-persoalan tersebut bisa muncul karena banyaknya

pekerjaan, pergulatan atau masalah pribadi, kesulitan untuk hening, tempat berdoa

kurang nyaman, dan lain sebagainya. Kejadian-kejadian seperti ini perlu

diperhatikan dan disadari supaya doa tidak menjadi sesuatu yang sulit dihidupi,

melainkan suatu ungkapan cinta yang menggembirakan dan menyenangkan untuk

berjumpa dengan Allah.

a. Kesukaran-kesukaran Doa

Setiap orang mempunyai pengalaman yang berbeda-beda dalam

menghadapi kesukaran dalam berdoa. Banyaknya pikiran atau pekerjaan terkadang

bisa menyulitkan si pendoa untuk masuk dalam suasana doa yang tenang. Tidak

jarang juga banyaknya pikiran dan juga pekerjaan sering mengganggu kita dalam

berdoa, sehingga yang muncul bukanlah ketenangan melainkan kekhawatiran.

Secara khusus, kekhawatiran di sini lebih dipandang sebagai ketidakmampuan

serta kekurangberanian si pendoa menenangkan pikirannya. Dia lebih memberikan

dirinya dikuasai oleh pikiran-pikiran yang tidak membangun dalam berdoa.

Dalam arti tertentu, orang sulit berdoa karena jiwa dan badannya dirasa

belum terintegrasikan atau menyatu sepenuhnya (Darminta, 1983: 50). Dia kurang

sadar bahwa doa itu membutuhkan ketenangan batin. Dia masih mengikuti

kecenderungan-kecenderungan pribadi yang tidak mendukung dalam berdoa.

Dalam Katekismus Gereja Katolik disebutkan, “kita juga harus menghadapi sikap-

sikap mental “dunia ini”, kalau tidak berjaga-jaga, sikap itu akan merembes masuk

ke dalam kita” (KGK, 1995: 2727). Doa seringkali juga dipersulit oleh pikiran

yang tidak terkonsentrasi. Dalam doa lisan, kesulitan ini dapat menyangkut kata-

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 46: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

23

kata (KGK, 1995: 2729). Penyebab kesulitan lainnya ialah mengenai ‘kekeringan’

yang dialami. Kekeringan ini, dalam doa batin, terjadi oleh karena hati kita seakan-

akan terpisah dari Allah dan tanpa kerinduan akan pikiran, kenangan dan perasaan

rohani (KGK, 1995: 2731).

Sebagai religius yang selalu memperhatikan hidup doa, penyebab atau

sumber dari kesukaran-kesukaran tersebut perlu disadari. Tanpa penyadaran,

kesukaran dalam berdoa tersebut bisa melumpuhkan si pendoa (seorang religius)

dan bahkan membuat putus asa karena dalam doa, dia seolah-olah “tidak

menemukan” apa-apa. Untuk mengatasi kesukaran tersebut, seorang religius perlu

meninggalkan kecenderungan-kecenderungan yang tidak membangun dalam

kehidupan rohani religius. Kedewasaan diri dalam bersikap dan bertindak sangat

membantu untuk keluar dari kesukaran tersebut. Dibutuhkan kerja keras dan juga

kreativitas pribadi dalam mendisiplinkan diri serta membagi waktu dan mencari

keheningan dalam berdoa, serta terus berusaha dan berjuang dalam doa.

b. Pergumulan dalam Doa

Pergumulan dalam doa kerap dirasakan oleh setiap pendoa termasuk para

religius sebagai salah satu bentuk kekosongan rohani. Di dalamnya, si pendoa

merasakan kekeringan, kekurangpuasan, kekecewaan sehingga ia berhenti dan

malas berdoa karena mengalami banyak kegagalan (Hayon, 1992: 132). Suasana

yang demikian tentulah tidak menciptakan kenyamanan dan juga keintiman dalam

menjalin relasi dengan Tuhan lewat doa yang dipanjatkan. Hal-hal yang demikian

ini perlu disadari oleh si pendoa sebagai suatu sikap yang tidak membangun dalam

berdoa.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 47: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

24

Berhadapan dengan situasi di atas, pada dasarnya ada satu jalan yang

kiranya bisa membuat si pendoa berhasil mengalahkan pergumulan-pergumulan

dalam doa tersebut. Si pendoa dianjurkan untuk berani menyerahkan diri seutuhnya

kepada Allah, termasuk pergumulan yang dialaminya. Penyerahan diri tersebut,

juga dapat dipandang sebagai persembahannya kepada Allah, dan dapat membantu

para religius menghadapi serta mengurangi kesulitan-kesulitan dalam hidup doa.

Kepasrahan diri seutuhnya, yang dibarengi dengan ketekunan dalam keheningan

batin, dapat memperkuat kesatuannya dengan Allah (Breemen, 1983: 66).

Kesadaran semacam ini, secara tidak langsung mengajak si pendoa kembali untuk

‘mencari’ Allah sebagai sumber hidupnya.

6. Peran Doa dalam Hidup Religius

Doa selalu dihubungkan dengan jalinan hubungan antara Allah dan

manusia, maka, doa selalu bersifat rohani. Doa menjadi salah satu lambang

pertumbuhan dan perkembangan rohani setiap orang (Darminta, 1983: 86).

Perkembangan hidup rohani religius berhubungan langsung dengan jalinan relasi

bersama Allah. Allah menjadikan hidup rohaninya bertumbuh dan berkembang

dari waktu ke waktu sehingga semakin mendalam.

Dalam kehidupan religius doa memegang peranan penting untuk menata

kelangsungan dan keutuhan dalam perjalanan hidupnya. Para religius mengakui

ketergantungan hidupnya kepada Allah sehingga mampu mengagumi ciptaan-Nya

dan kebaikan Allah dalam hidupnya. Melalui doa para religius mengungkapkan

“isi hatinya” perasaan suka maupun duka kepada Tuhan. Melalui ungkapan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 48: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

25

tersebut para religius semakin sadar akan tugas dan tanggung jawabnya kepada

Tuhan dan sesama.

Doa juga berperan dalam menghadapi masalah atau persoalan dalam

kehidupan religius. Dalam injil Matius 11: 28-30 disebutkan

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan

memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah

pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan

mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-

Kupun ringan.

Di sini Yesus mengajak para religius untuk mau diikat dengan kuk bersama

Dia untuk menyatukan hidup kita dengan hidup-Nya, kehendak kita dengan

kehendak-Nya, dan hati kita dengan hati-Nya. Diikat dan disatukan dengan Yesus

artinya bersatu dengan Dia dalam hubungan cinta, kepercayaan, dan ketaatan di

dalam doa. Jadi tidak ada beban yang terlalu berat jika dipanggul dengan kasih dan

dibawa dalam cinta. Oleh sebab itu peran doa dalam hidup religius sangat penting.

a. Doa Berakar dalam Hidup Religius

Sebagaimana telah disebutkan, doa selalu bersifat pribadi. Doa selalu

berkaitan erat dengan perasaan-perasaan yang dialami si pendoa. Perasaan senang,

sedih, gembira, susah, dan perasaan-perasaan yang lain, merupakan hal yang tidak

boleh disingkirkan ketika seseorang sedang berdoa (Breemen, 1983: 55). Perasaan-

perasaan tersebut justru membantu para religius bertumbuh dan berkembang dalam

iman melalui pengenalan-pengenalan akan perasaannya. Perasaan-perasaan inilah

yang menjadi jalan bagi seseorang untuk berkomunikasi dengan Allah. Hal ini

menunjukkan bahwa situasi-situasi konkret, mengajak para religius untuk

memandang segala sesuatu dengan mata iman, sehingga lebih mudah melihat

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 49: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

26

campur tangan Allah dalam setiap bentuk kehidupan. Dalam Kisah Para Rasul

disebutkan bahwa Allah tidak jauh dari umat-Nya. “Dalam Dia kita hidup, kita

bergerak, kita ada” (Kis 17:27-28). Setiap peristiwa selalu berbicara tentang

tindakan Allah, dan para religius diharapkan mampu untuk mengenal dan

mendengarkan Dia.

Melalui doa, seorang religius dapat dibantu untuk memandang secara

positif segala kenyataan yang terjadi, menyadari cinta dan bimbingan Allah dalam

setiap aspek kehidupan, termasuk dalam kesusahan sekali pun. Dalam doa, setiap

religius membiarkan diri dicintai oleh Allah. Dia dapat merasakan kehadiran Allah

dalam diri orang lain. Dalam doa, seorang religius bertindak sebagai penerima

rahmat, karunia, dan bimbingan Allah dengan hati terbuka di hadapan-Nya.

Keterbukaan hati ini membuat para religius membiarkan dirinya dicintai oleh

Allah.

b. Hidup Berakar dalam Doa

Karena doa merupakan tanda kehadiran Allah yang terwujud dalam

komunikasi, maka orang yang berakar dalam doa akan hidup dalam hadirat Bapa

Sang Pencipta. Dia adalah cinta dan dasar segala sesuatu, termasuk dasar

kehidupan setiap manusia (Breemen, 1983: 61). Sabda Allah yang direnungkan

sebagai tanda kehadiran Allah itu menggema dalam hati para religius, dan dengan

demikian membiarkan Kerajaan Allah bertumbuh di dalam dirinya. Hidup berakar

dalam doa berarti hidup yang dipersatukan dengan Allah, dan dalam kesatuan itu,

setiap orang akan menyadari dirinya, keberadannya di hadapan Allah.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 50: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

27

Pengalaman jatuh bangun dalam menjalin relasi dengan Allah tentu dialami

oleh setiap manusia termasuk religius. Untuk membina hubungan dengan Allah

dibutuhkan perjuangan dan niat dari diri sendiri untuk bangkit lagi bila jatuh.

Dalam doa, seseorang tekun mengisi diri dalam keheningan untuk menemukan

Tuhan dalam hidupnya. Dia menyadari bahwa Allah selalu setia kepada umat-Nya.

Oleh karena itu, dalam situasi apa pun, seseorang juga dituntut untuk tetap setia

kepada Dia. Dalam kesetiaan inilah tampak kehadiran Allah yang nyata (Breemen,

1983: 64). Seorang religius menjadi tanda kehadiran Allah bagi orang lain melalui

kesaksian hidupnya sebagai buah dari doanya. Hidup yang berakar dalam doa

dapat dirasakan melalui pelayanan para religius kepada orang lain.

A. Karya Pelayanan Religius

Pada dasarnya, hidup religius ditandai dengan kaul-kaul dan hidup bersama

yang merupakan saksi kehidupan dalam tubuh Gereja di dunia. Kehadiran tarekat

religius bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk mengembangkan Gereja di dunia.

Hidup religius ikut ambil bagian dalam tugas Gereja, yakni menyebarkan iman dan

memperjuangkan keadilan bagi orang yang lemah dan tertindas. Para religius

menghadirkan cinta melalui karya pelayanan terhadap masyarakat. Dasar dari

pelayanan itu adalah bahwa hidup religius merupakan hidup yang mengikuti

Kristus, yaitu hidup bersama Yesus dan hidup berjuang bersama Yesus (Darminta,

1982: 25).

1. Misi Pelayanan Religius

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 51: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

28

Setiap religius mempunyai tanggung jawab dan kewajiban dalam

membangun keutuhan ciptaan Allah. Dengan kewajiban tersebut, semua orang

mempunyai tanggung jawab masing-masing dalam melayani dan memperhatikan

orang yang lemah. Keadilan dalam dunia sekarang ini mulai mengendor, sebab

sikap mementingkan diri sendiri semakin tinggi. Tingginya perhatian kepada diri

sendiri secara langsung akan mengurangi semangat pelayanan dalam diri

seseorang.

Dalam Gaudium et Spes dikatakan: “Keadilan yang lebih sempurna,

persaudaraan yang lebih luas, cara hidup sosial yang lebih manusiawi, semua itu

lebih berharga dari pada kemajuan di bidang tehnologi” (GS, art 35). Ini

dimaksudkan untuk menyadarkan manusia, bahwa sebagai mahluk sosial dia

dipanggil untuk melakukan kegiatan yang terarah kepada kehidupan yang lebih

manusiawi. Bila dia bekerja, dia bukan hanya mengubah hal-hal tertentu dalam

masyarakat, melainkan ikut juga menyempurnakan dirinya sendiri. Ia banyak

belajar dalam mengembangkan bakat dan kemampuannya, serta berani keluar dari

dirinya (melampaui diri). Semuanya itu dilakukan demi sebuah misi atau

pelayanan bagi sesamanya. Pengembangan diri dan bakat-bakatnya pertama-tama

bukan digunakan demi kemuliannya semata, tetapi demi membantu orang lain

‘keluar’ dari persoalan hidupnya. Hal ini tentu terkait dengan hakikat manusia

sebagai makhluk sosial. Demikian juga, misi dan pelayanan para religius ditujukan

pertama-tama pada pengabdiannya kepada sesamanya, bukan kepada dirinya.

Dalam Injil Lukas, Yesus berkata, “Apabila kamu telah melakukan segala

sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: kami adalah hamba-

hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang “harus” kami

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 52: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

29

lakukan” (Luk 17: 10). Hal ini menegaskan keberadaan para murid Kristus yang

harus hadir untuk melayani. Pelayanan yang dilakukan bukan sesuatu yang sangat

istimewa melainkan pengorbanan dan perjuangannya sebagai pengikut Kristus

(KWI, 1996: 450). Melayani berarti mengikuti dan meneladani jejak Kristus yang

melayani dengan penuh ketulusan dan rela mengorbankan diri-Nya demi sesama-

Nya.

2. Pelayanan yang Profetis

Gereja mengakui dan menyadari bahwa manusia termasuk para religius

tidak sendirian di dunia untuk mewartakan keselamatan. Melainkan, Gereja

mengharapkan ada pihak-pihak lain baik dalam Gereja maupun di luar Gereja yang

melayani dengan tulus. Pelayanan profetis/kenabian secara hakiki bersifat terbuka

bagi siapa saja.

Gereja menyadari bahwa pelayanan kenabian ini dapat juga mengalami

ketidaksempurnaan sebagaimanan yang diharapkan, maka perlu membuka diri

terhadap kritik dan tanggapan, entah dari berbagai pihak supaya arah pelayanan

kenabiannya jelas. Pelayanan profetis ini dipahami sebagai sumbangan untuk

berpartisipasi dalam usaha memajukan masyarakat dan Gereja (Dopo, 1992: 38-

40).

Pelayanan yang dilakukan oleh para religius kerap dihubungkan dengan

sikap untuk meneladani Yesus Kristus, Sang Guru. Salah satu tanggapan khalayak

ramai ketika menyaksikan apa yang diperbuat Yesus ialah, “seorang nabi besar

telah muncul di tengah-tengah kita dan Allah telah melawat umat-Nya” (Luk 7:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 53: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

30

16). Dia kemudian dikenal sebagai nabi, dan Yesus tidak keberatan jika orang

banyak menyebut diri-Nya sebagai nabi.

Nabi adalah seorang utusan Allah yang mewartakan keselamatan dari

Allah, membawa pembebasan, dan melepaskan orang-orang yang terbelenggu

kesusahan dan kesengsaraan (Darminta, 1994; 31). Dalam konteks situasi

sekarang, tampilnya para nabi sebagai penyambung lidah Allah, tampak dalam

karya pelayanan yang mereka lakukan. Mereka berkarya demi kesejahteraan hidup

manusia dan keadilan bagi mereka yang menjadi korban seperti para pengungsi,

kelompok-kelompok minoritas dan tertindas. Dalam hal ini, para religius dan

tokoh-tokoh Gereja Katolik, melalui pelayanan sosial mereka, bisa disebut sebagai

nabi yang hadir dan berkarya sebagai penyambung lidah Allah, mewartakan

Kerajaan Allah dan keselamatan-Nya.

3. Macam-macam Karya Pelayanan

Katekismus Gereja Katolik (1995: 777) merumuskan Gereja sebagai

“himpunan orang-orang yang digerakkan untuk berkumpul oleh Firman Allah,

yakni, berhimpun bersama untuk membentuk Umat Allah dan yang diberi santapan

dengan Tubuh Kristus, menjadi Tubuh Kristus”. Eksistensi himpunan Umat Allah

ini diwujudkan secara lokal dalam hidup berparoki. Di dalam paroki inilah

himpunan Umat Allah mengambil bagian dan terlibat dalam menghidupkan

peribadatan yang menguduskan (liturgia), mengembangkan pewartaan kabar

gembira (kerigma), menghadirkan dan membangun persekutuan (koinonia),

memajukan karya cinta kasih/pelayanan (diakonia) dan memberi kesaksian sebagai

murid-murid Tuhan Yesus Kristus (martyria).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 54: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

31

a. Liturgi

Liturgi berarti ikut serta dalam perayaan ibadat resmi yang dilakukan Yesus

Kristus dalam Gereja-Nya kepada Allah Bapa. Ini berarti mengamalkan tiga tugas

pokok Kristus sebagai Imam, Guru dan Raja. Dalam kehidupan menggereja,

peribadatan menjadi sumber dan pusat hidup beriman. Melalui bidang karya ini,

setiap anggota menemukan, mengakui dan menyatakan identitas Kristiani mereka

dalam Gereja Katolik. Partisipasi aktif umat beriman dalam bidang ini diwujudkan

dalam memimpin perayaan liturgis tertentu seperti: memimpin ibadat Sabda/doa

bersama; membagi komuni; menjadi: lektor, pemazmur, organis, mesdinar, paduan

suara, penghias altar dan sakristi; dan mengambil bagian secara aktif dalam setiap

perayaan dengan berdoa bersama, menjawab aklamasi, bernyanyi dan sikap badan.

b. Pewartaan

Pewartaan berarti ikut serta membawa kabar gembira bahwa Allah telah

menyelamatkan dan menebus manusia dari dosa melalui Yesus Kristus, Putera-

Nya (RM, 39). Melalui bidang karya ini, para religius diharapkan dapat membantu

Umat Allah untuk mendalami kebenaran Sabda Allah, menumbuhkan semangat

untuk menghayati hidup berdasarkan semangat Injil, dan mengusahakan

pengenalan yang semakin mendalam akan pokok iman Kristiani supaya tidak

mudah goyah dan tetap setia. Ensiklik (RM, 43) menegaskan:

Gereja dipanggil untuk memberi kesaksian tentang Kristus dengan

mengambil sikap yang berani dan profetis, di hadapan kebejatan kekuasaan

politik ataupun kekuasaan ekonomi: dengan tidak mencari kemuliaan dan

kekayaan materialnya sendiri; dengan menggunakan sumber-sumber

penghasilannya sendiri untuk melayani orang-orang yang termiskin dan

dengan meniru kesederhanaan hidup Kristus sendiri.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 55: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

32

Kehadiran para religius diharapkan turut serta dalam mewartakan Injil

Yesus Kristus. Beberapa karya yang termasuk dalam bidang ini, misalnya:

pendalaman iman, katekese para calon baptis dan persiapan penerimaan sakramen-

sakramen lainnya.

c. Persekutuan

Persekutuan berarti ikut serta dalam persekutuan atau persaudaraan sebagai

anak-anak Allah dengan pengantaraan Kristus dalam kuasa Roh Kudus-Nya.

Sebagai orang beriman, kita dipanggil dalam persatuan erat dengan Allah Bapa dan

sesama manusia melalui Yesus Kristus, Putera-Nya, dalam kuasa Roh Kudus.

Bidang karya ini, dapat menjadi sarana untuk membentuk jemaat yang berpusat

dan menampakkan kehadiran Kristus (RM, 26). Oleh karena itu, para religius

diharapkan dapat menciptakan kesatuan: antar umat, umat dengan

paroki/keuskupan dan umat dengan masyarakat. Paguyuban ini diwujudkan dalam

menghayati hidup menggereja baik secara territorial (keuskupan, paroki, stasi

/lingkungan, keluarga) maupun dalam kelompok-kelompok kategorial yang ada

dalam Gereja.

d. Pelayanan

Pelayanan merupakan suatu bentuk kesaksian hidup tentang kebenaran

pewataan Injil. Pelayanan dapat terjadi melalui karya karitatif/cinta kasih dalam

aneka kegiatan amal kasih Kristiani, khususnya kepada mereka yang miskin,

telantar dan tersingkir. Melalui bidang karya ini, umat beriman menyadari

tanggungjawab pribadi mereka akan kesejahteraan sesamanya. Oleh karena itu,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 56: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

33

dibutuhkan adanya kerjasama dalam kasih, keterbukaan yang penuh empati,

partisipasi dan keikhlasan hati untuk berbagi satu sama lain demi kepentingan

seluruh jemaat (bdk. Kis 4: 32-35). Dasar pelayanan dalam Gereja adalah semangat

pelayanan Kristus sendiri yang bertujuan demi kebaikan dan kebahagiaan umat

pilihan-Nya.

Diakonia harus bersifat melupakan diri sendiri, yang berarti bahwa ia akan

membantu setiap orang yang berada dalam kekurangan. Kehadiran para religius

bergerak dalam berbagai bidang: bidang kebudayaan; bidang pendidikan: bidang

kesejahteraan: bidang kesehatan: bidang politik dan hukum dan lain sebagainya

(Conterius, 2001: 94-96).

e. Kesaksian

Kesaksian berarti ikut serta dalam menjadi saksi Kristus bagi dunia. Hal ini

dapat diwujudkan dalam menghayati hidup sehari-hari sebagai orang beriman di

tempat kerja maupun di tengah masyarakat, ketika menjalin relasi dengan umat

beriman lain, dan dalam relasi hidup bermasyarakat. Melalui bidang karya ini, para

religius diharapkan dapat menjadi saksi, ragi, garam dan terang di tengah

masyarakat sekitarnya. Menjadi saksi Kristus berarti menyampaikan atau

menunjukan apa yang dialami dan diketahui tentang Kristus kepada orang lain.

Gereja juga mewartakan injil kepada dunia dengan kesaksian hidup yang setia pada

Tuhan Yesus (RM, 24). Menjadi saksi Kristus harus siap menanggung banyak

resiko. Yesus berkata "Kamu akan dikucilkan bahkan akan datang saatnya bahwa

setiap orang yang membunuhmu akan menyangka ia berbuat bakti pada Allah."

(Yoh 16: 2).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 57: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

34

B. Hubungan Doa dan Karya Pelayanan

Doa dan karya merupakan dua hal yang akrab dalam hidup para religius.

Hidup doa merupakan simbol keterbukaan hati dan jiwa kepada karya

keselamatan; kepada rahmat Allah dan kekuatan-Nya. Sementara itu, karya

pelayanan sendiri didasarkan pada kelekatan hati manusia kepada Allah dan karya-

Nya (Darminta, 1982; 51-52). Dengan kata lain, hidup doa dan karya pelayanan

dihubungkan dengan relasi terhadap sesama. Karya pelayanan merupakan buah

atau hasil dari hidup doa. Hidup doa dan karya pelayanan seorang religius perlu

diseimbangkan. Keduanya tidak boleh dipisahkan karena doa dan karya merupakan

satu kesatuan. Dalam doa, para religius mampu mengarahkan diri kepada persatuan

dengan Tuhan. Persatuan dengan Tuhan akan terlaksana apabila religius

melaksanakan kehendak Allah yang menyelamatkan, sebab doa mengarahkan

manusia kepada karya keselamatan Allah dalam Gereja. Dengan demikian, doa dan

karya pelayanan merupakan satu kesatuan dalam memahami kehendak Allah

dalam karya keselamatan (Darminta, 1982: 51-52).

1. Praktek Doa di Tengah-tengah Pelayanan

Setiap tarekat religius biasanya mempunyai konstitusi dan aturan-aturan

tertentu guna menjaga keseimbangan antara karya pelayanan dan doa. Karya

pelayanan dan doa diatur menurut spiritualitas tarekat masing-masing (Darminta

1982: 53). Aturan-aturan tersebut dibuat supaya dalam tarekat tersebut, setiap

anggota tetap memperhatikan hidup doa di tengah-tengah pelayanannya.

Kesibukan karena pekerjaan, tanpa disadari bisa meninggalkan waktu doa begitu

saja. Supaya doa dan pelayanan religius dapat seimbang, para religius perlu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 58: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

35

meluangkan waktu secara teratur dan penuh kesadaran. Dalam hal ini, hidup doa

perlu disadari kegunaannya, terutama dalam hal pemeriksaan batin supaya

motivasi pelayanan yang dilakukan senantiasan dimurnikan.

Tujuan dari doa dalam kehidupan para religius ialah melaksanakan

kehendak Allah. Oleh karena itu, sangat penting bahwa para religius membina

hidup doa terus-menerus untuk mendukung karya pelayananya. Kedalaman doa

seorang religius akan terbukti juga dalam karya pelayanannya. Karena pelayanan

yang sungguh-sungguh disertai dengan doa, tentu akan membawa keselamatan

bagi banyak orang. Kesatuan antara doa dan karya pelayanan dapat terjadi apabila

pelayanan yang dilakukan itu dilandasi oleh iman, pengharapan dan cinta kepada

Allah.

2. Peran Doa dalam Pelayanan Religius

Apabila seorang religius melakukan tugas pelayananya hanya sekadar

mengejar prestasi, ia hanya akan menjadi hamba dari karyanya. Tidak jarang juga

ditemukan bahwa ada banyak religius yang bekerja dengan rela membaktikan diri

dalam tugas sehari-hari, sehingga tidak memiliki waktu istirahat untuk hening dan

berdoa. Di sisi lain, ada juga religius yang melakukan karya pelayanannya hanya

sebagai rutinitas saja, tanpa ada usaha untuk memajukan karya tersebut.

Berhadapan dengan situasi ini, para religius hendaknya menyadari

pentingnya hidup doa di tengah-tengah karya pelayanan. Karya kerasulan

merupakan ciri pokok yang mewarnai seluruh hidup tarekat religius. Kerasulan

merupakan puncak hidup. Meskipun demikian doa tidak boleh dilalaikan, sebab

doa menunjang karya itu sendiri. Doa berguna untuk karya pelayanan, bukan demi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 59: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

36

doa itu sendiri. Oleh karena itu, tiap-tiap orang harus bertanggung jawab atas karya

dan doa serta pengaturannya (Darminta, 1982: 54-55).

Dengan kata lain, doa berperan sebagai penggerak seluruh pelayanan para

religius. Dalam keadaan apa pun, mereka perlu menyempatkan diri untuk

merenung, meluangkan waktu untuk berdoa dan berefleksi di sela-sela

pekerjaannya. Keseriusan dalam doa di tengah-tengah karya pelayanan akan

membantu para religius menemukan kehendak Allah dalam karya pelayanannya.

Dalam Perjanjian Lama, kita bisa menemukan tokoh-tokoh yang tekun

berdoa dalam melakukan tugas mereka; misalnya, Nabi Musa, Elia, Yeremia, dan

nabi-nabi yang lain. Hidup dan karya mereka selalu disertai dengan doa.

Sedangkan dalam Perjanjian Baru, yang menjadi teladan pendoa ialah: Bunda

Allah dan Yesus Kristus. Mereka mengajarkan supaya setiap orang berjuang

melawan diri sendiri dan godaan setan yang melakukan segala cara untuk

mencegah supaya hubungan manusia dengan Tuhan tidak terwujud (KGK, 1995:

2725).

Beberapa teladan pendoa, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian

Baru, membantu si pendoa bagaimana berdoa dengan baik. Mereka berdoa dengan

caranya masing-masing dan percaya bahwa Allah akan mendengarkan dan

mengabulkan doanya. Religius yang mengabdikan diri untuk Tuhan dapat

meneladani pendoa-pendoa tersebut sehingga dalam tugas pelayanan menghasilkan

buah yang berlimpah.

3. Pelayanan sebagai Wujud Doa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 60: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

37

Pengalaman hidup para religius yang dijiwai dengan doa akan berdampak

pada karya-karya pelayanan yang sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah.

Hidupnya akan menjadi bagian dari doanya dan doa menjadi kekuatan di dalam

hidupnya, sehingga mampu melaksanakan kehendak Allah dalam hidup bersama

maupun dalam karya pelayanannya (Darminta, 1997: 22-27).

Doa mengarahkan setiap orang kepada persatuan dengan Allah, dan dari

kesatuan ini lahirlah cinta kepada sesama. Hidup doa merupakan ungkapan cinta

manusia kepada Tuhan dengan tiada batasnya. Setiap manusia mempunyai

kerinduan untuk hidup bahagia dalam hadirat Allah dan bersatu dengan Allah.

Kerinduan tersebut akan terwujud dengan melaksankan kehendak Allah dengan

penuh cinta kasih. Cinta kasih itu diungkapkan melalui pelayanan manusia kepada

Allah sehingga menjadi sarana untuk mengabdikan diri kepada Tuhan dan sesama.

Dalam VC art. 77 dikatakan bahwa, “Mereka yang mengasihi Allah, Bapa semua

orang tentu mengasihi sesamanya juga, yang mereka pandang sebagai saudara-

saudari”. Artinya bahwa karya pelayanan didasarkan pada kedekatan dengan Allah,

sehingga pelayanannya turut mewartakan karya Kristus di tengah-tengah dunia.

Pewartaan Kristus dalam karya pelayanan berarti memancarkan kasih dalam sikap

dan perutusan dengan melayani orang-orang kecil dan sederhana.

a. Hubungan yang Akrab dengan Tuhan

Dalam Kitab Hukum Kanonik Kanon 657 art 2 disebutkan bahwa,

”Kegiatan kerasulan hendaknya selalu mengalir dari kesatuannya yang mesra

dengan Allah, dan memperteguh serta menunjang kesatuan itu”. Cinta kepada

Allah dan sesama dihayati sebagai ungkapan dari pengalamannya. Pengalaman

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 61: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

38

yang dimaksud adalah pengalaman akan penyertaan Allah yang bersumber pada

doa yang dijalin terus-menerus. Dalam hal ini, para religius harus mendekatkan diri

kepada Allah, Sang Pemberi kehidupan dan keselamatan bagi banyak orang.

Seluruh pelayanan yang dilakukan Yesus ingin mengajak para pengikut-

Nya terlibat di dalam-Nya dan masuk dalam keselamatan yang diwartakan-Nya.

Yesus datang tidak hanya untuk membebaskan kita dari dosa dan kematian,

melainkan juga membawa kita kepada kehidupan. Segala milik Yesus diberikan

kepada manusia/para religius untuk diterima dan dikerjakan. “Barang siapa

percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku

lakukan” (Yoh 14: 12). Yesus menghendaki supaya kita bersama-Nya. Dalam doa-

Nya, Ia menjelaskan maksud-Nya; “… supaya mereka semua menjadi satu sama

seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka

juga di dalam kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang mengutus Aku…

(Yoh 17: 21-26). Kata-kata ini mengungkapkan hakikat pelayanan Yesus. Ia tidak

hanya mempertahankan kesamaan-Nya dengan Allah saja tetapi Ia mau dan rela

mengosongkan diri dan menjadi sama seperti kita sehingga kita dapat menjadi

serupa dengan-Nya (Nouwen, 1986: 29-30).

b. Relasi terhadap Sesama

Kadar hidup doa seseorang juga dipengaruhi oleh hubungannya dengan

sesama (Agudo, 1988: 179-180). Kristus menandaskan hal ini dengan jelas ketika

dia mengatakan pentingnya berdamai sebelum orang mempersembahkan korban

kepada Tuhan. Yang dimaksud ialah bahwa Tuhan menghendaki supaya para

pengikut-Nya benar-benar tulus hatinya untuk mempersembahkan apa yang ada

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 62: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

39

padanya tanpa mengabaikan yang lain. Dalam sabda-Nya, Yesus mengatakan “Apa

yang kamu lakukan kepada salah yang terkecil dari saudaraku ini, kamu lakukan

kepada-Ku” (Mat 25: 41). Ketidak-pedulian terhadap sesama akan merusak

hubungan dengan Tuhan untuk melanjutkan karya pelayanan.

Setiap orang termasuk para religius dipanggil untuk melayani kerajaan

Allah (sesuai dengan kharisma pendiri masing-masing). Pelayanan diwujudkan

dengan karya-karya yang ada dalam setiap kongregasi. Tugas pelayanan menjalin

relasi yang akrab dengan orang lain merupakan bentuk nyata relasi dengan Tuhan.

Karya pelayanan dapat terlaksana dengan baik apabila ada hubungan yang baik

dengan rekan kerja. Kehadiran rekan kerja membantu dalam mengembangkan

karya. Karena itu, dibutuhkan sikap kerendahan hati agar setiap orang mampu

menjalin relasi dengan baik kepada siapa saja, juga sebagai bukti terjalinnya relasi

yang baik dengan Allah.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 63: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 64: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

BAB III

MAKNA HIDUP DOA DALAM KARYA PELAYANAN

PARA SUSTER FRANSISKUS DINA

Pada bab ini, penulis akan membahas tentang makna hidup doa dalam

karya pelayanan para suster SFD. Pembahasan dimulai dengan pemaparan sejarah

awal berdirinya kongregasi SFD, visi dan misi, serta spiritualitasnya. Selanjutnya

akan dijelaskan tentang karya pelayanan dalam kongregasi SFD yang meliputi

pengertian pelayanan, pelayanan dalam Gereja, pelayanan sebagai Fransiskan,

tujuan pelayanan, tantangan dalam pelayanan kongregasi SFD dan jenis-jenis

karya pelayanan. Bab ini ditutup dengan pemaparan tentang makna doa dalam

karya pelayanan para suster SFD.

A. Sejarah Berdirinya Kongregasi SFD

Para pengikut St. Fransiskus Asisi terdiri dari tiga kelompok (Ordo); Ordo

Pertama, Ordo Kedua dan Ordo Ketiga. Kelompok yang termasuk Ordo Pertama

ialah Saudara-Saudara Dina (Ordo Fratrum Minorum, OFM), Saudara-Saudara

Dina Conventual (Ordo Fratrum Minorum OFM Conv) dan Saudara-Saudara Dina

Capusin (Ordo Fratrum Minorum OFM Cap). Meskipun berbeda nama, namun

secara praktis cara hidup mereka tidaklah jauh berbeda satu dengan yang lain. Di

antara mereka tetap terjalin hubungan kekeluargaan. Mereka ialah para biarawan

Fransiskan (sebutan untuk para pengikut St. Fransiskus) yang diutus untuk

mewartakan Injil kepada segala bangsa (biarawan aktif kontemplatif).

Ordo Kedua adalah para Klaris, yaitu para rubiah (pertapa perempuan)

yang hidup dalam komunitas dan terikat klausura (tertutup). Karena berciri

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 65: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

41

kontemplatif, komunitas ini membaktikan hidup mereka kepada Allah dan tinggal

sepenuhnya dalam biara. Sementara itu, Ordo Ketiga terdiri dari dua kelompok,

yaitu Ordo Ketiga Sekular dan Ordo Ketiga Regular. Ordo Ketiga Sekular ialah

sekelompok wanita atau pria yang hidup di luar komunitas dan tidak mengucapkan

kaul-kaul religius (kemiskinan, ketaatan dan kemurnian). Mereka hidup sebagai

awam yang berkeluarga.

Kelompok lain yang juga termasuk dalam Ordo Ketiga ialah Ordo Ketiga

Regular. Ordo ini merupakan kelompok aktif yang hidup di tengah-tengah dunia

dan dalam komunitas yang ingin mengabdi Allah dan dengan saksama menuruti

tiga nasihat Injil dalam penghayatan kaul-kaul religius mereka. Di antara ketiga

ordo ini, Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina termasuk dalam kelompok

Ordo Ketiga Regular, suatu kongregasi yang aktif dan kontemplatif, yang berkarya

dan tetap menjalankan hidup doa secara berkala (Dister, 2008: 8).

Pada awalnya kelompok SFD ini menamakan diri sebagai tertiaris peniten

(anggota ordo ketiga yang menghayati anggaran dasar laku tapa atau mati raga).

Komunitas ini berciri kontemplatif dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk berdoa

dan tinggal dalam biara. Hanya beberapa suster yang diberi kesempatan untuk

mengabdikan diri pada sesama melalui karya sosial, selebihnya tinggal dalam biara

secara penuh. Untuk menjernihkan situasi dan memberikan kedudukan resmi

kepada kelompok ordo ketiga yang berkaul, pada tahun 1521 Paus Leo X

meresmikan suatu Anggaran Dasar khusus bagi mereka yang berkaul, rohaniwan

maupun awam (Dister, 2008: 10).

Sejarah berdirinya ordo ketiga regular dimulai dari ordo ketiga sekulir yaitu

orang-orang yang berkeluarga (awam) dan mempunyai kewajiban dalam mengurus

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 66: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

42

rumah tangga mereka. Mereka rindu menjalani hidup Kristiani secara lebih mantap

sesuai dengan semangat Injil. Bentuk hidup seperti ini sudah ada di sejumlah kota

sebelum Fransiskus tampil. Orang-orang ini menyebut dirinya sebagai “orang

pertapa”. Mereka dikenal dari cara hidup mereka yang baik dan cara berpakaian

yang sederhana. Pada abad ke-XIII, sebagian besar dari mereka dipengaruhi cara

hidup Saudara Dina Kapusin (Ordo Fratrum Minorum OFM Cap). Dari sinilah

dibentuk ordo ketiga sekular; yaitu kelompok pria dan wanita. Dalam waktu yang

singkat, dibuatlah peraturan-peratuan untuk kelompok ini sehingga muncullah ordo

ketiga regular. Pendiri pertama ordo ketiga regular ialah Beata Angelina de

Marciano di kota Foligno pada tahun 1397. Hidup mereka didukung oleh kaul

kebiaraan, kepatuhan terhadap peraturan, ibadat harian, hidup bersama dan lain

sebagainya (Dister, 2008; 10).

Pembaruan dalam Gereja yang diserukan dan dirintis oleh Konsili Trente

(1545-1563) berpengaruh juga dalam “biara”. Selain itu dalam Gereja muncul juga

suatu kerinduan untuk lebih “mengasingkan” diri dari dunia dan menjaga ketat

komunitas sebagai “tempat tertutup” untuk mencapai kontemplasi yang lebih

mendalam. Pada tahun 1604 Johanna-Babtista Neerinck bergabung dengan suster-

suster Tertiaris Peniten di kota Gent (Belgia). Ia mengadakan pembaruan dalam

komunitasnya tetapi usaha tersebut tidak berhasil. Pada tahun 1623 Johanna-

Babtista Neerinck dengan beberapa suster yang merindukan kesunyian dan suasana

kontemplasi meninggalkan biara Gent dan menetap di Limburg (Belgia). Mereka

mengundurkan diri dari keramaian dunia. Johanna-Babtista Neerinck menekankan

agar para suster harus menjalani hidup penuh mawas diri, meditasi dan doa. Dia

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 67: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

43

mempertahankan tradisi klausura agar dapat mengarahkan diri kepada doa,

kehidupan batin dan rohani (Raat, 2000: 17).

Secara historis, keberadaan kelompok Suster Peniten Rekolek ini memiliki

pengaruh terhadap lahirnya kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina. Kongregasi

Suster-Suster Fransiskus Dina lahir dari situasi dan perkembangan Kongregasi

Suster-suster Fransiskan Dongen yang telah berusia 200 tahun. Kongregasi Suster-

suster Fransiskan Dongen mulai terbentuk pada tahun 1789 akibat Revolusi

Perancis. Sejak pecahnya Revolusi Perancis, Gereja dan hidup religius mengalami

kekacauan. Tarekat Religius dibubarkan, semua religius secara paksa diusir ke luar

dari biara mereka. Pada tanggal 8 Nopember 1796 pukul 11.00 para Suster Peniten

Rekolek diusir dari biara mereka di Leuven. Semua harta benda disita. Mereka

menyaksikan sendiri mebel mereka dijual oleh pemerintah (Clementina, 1983:8).

Pada tanggal 12 Nopember 1796, Pastor J. Proost memberi surat-surat

resmi, juga untuk Muder Constantia van der Linden dan Sr. Coletta Coopmans.

Surat itu menyebutkan bahwa mereka benar-benar suster profes dari biara Leuven

dan sekaligus menjadi surat rekomendasi untuk setiap orang yang dimintai

pertolongan oleh para suster itu.

Dalam situasi keterpecahan (porak-poranda), Roh Pemersatu tetap

berbicara dalam lubuk hati Muder Constantia van der Linden, Sr. Coletta

Coopmans, Sr. Agustine Janssens dan Sr. Francoise Timmermants. Kerinduan

yang besar untuk tetap hidup di dalam persekutuan religius mendorong keempat

suster itu untuk bersatu. Maka Sr. Francoise dan Sr. Agustine dari Tarekat

Agustines membina hubungan baik dengan Muder Constantia dan Sr. Coletta

Coopmans dari Peniten Rekolek. Mereka sering bertemu di rumah keluarga

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 68: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

44

Timmermants untuk berbicara dan mencari kesempatan untuk meneruskan hidup

membiara di luar negeri. Muder Constantia menjadi penggerak utama dalam usaha

ini.

Pastor Antonius van Gills dari Tilburg dan Pater Kapusin, Linus van

Oederode, Gardian di Leuven sangat berperan bagi mulainya kembali Reformasi

Limburg di Belanda. Para suster yakin meskipun situasi politik negeri sedang

kacau, namun hidup religius harus tetap hidup, bila tidak mungkin di Belgia, di

Belanda saja. Sebagaimana Abraham meninggalkan negeri, sanak saudara dan

rumah bapanya untuk pergi ke tanah yang akan ditunjukkan oleh Tuhan, demikian

pula para pendiri SFD meninggalkan tanah kelahiran mereka dan melanjutkan

`perjalanan` menuju tempat yang akan ditunjukkan oleh Tuhan.

Pada tahun 1798, Muder Constantia van der Linden tiba di Belanda. Karena

tidak memiliki biara, untuk sementara itu dia tinggal di Pastoran Bokhoven sebagai

pembantu rumah. Tidak lama kemudian, Nyonya Olifers de Bruyn (saudari

kandung Pastor de Bruyn) mengundang para Suster pergi ke Waalwijk untuk

mencari rumah yang mungkin dapat dipakai sebagai tempat tinggal.

Dalam keadaan amat miskin, mereka hanya mendiami sebuah kamar besar

terbuat dari kayu di desa Besooyen. Mereka tidak mempunyai apa-apa, tidak ada

kursi, meja, tempat tidur atau pun selimut. Mereka tidur di lantai tanpa selimut.

Namun mereka membuat banyak orang kagum karena kesabaran, ketabahan, dan

cara mereka menerima kemiskinan ini dengan gembira. Segera Muder Constantia

van der Linden mulai mengajar anak-anak dengan tenaga yang ada dan segala

kebutuhan yang serba kurang. Akan tetapi, meskipun hidup dalam kekurangan dan

kemiskinan, masyarakat Waalwijk sungguh mencintai para Suster.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 69: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

45

Pada tanggal 9 Nopember 1800, Muder Constantia dan Sr. Francoise

berangkat dari Waalwijk ke Breda untuk mencari rumah yang agak besar. Pada

saat itu, cuaca sangat buruk tetapi kedua suster telah merencanakan perjalanan itu

maka harus terjadi. Taufan dan badai yang mengamuk selama perjalanan tidak

menjadi penghalang bagi mereka. Ketika sampai di Dongen, roda kereta kuda yang

mereka tumpangi putus. Kusir tidak sanggup lagi meneruskan perjalanan. Melalui

peristiwa taufan dan badai yang mengamuk dalam perjalanan itu Allah berbicara.

Kedua Suster berdiri di pinggir jalan waktu hujan lebat. Beberapa orang setempat

menunjukkan rumah pastor paroki. Para suster pun menemui pastor paroki,

menceritakan siapa mereka, dari mana tempat asalnya dan apa maksud tujuan

perjalanan mereka. Mendengar kisah para suster ini, sang pastor, Pastor van Gils

kemudian mengucapkan kata-kata yang bersejarah ini, "Suster-suster tidak perlu

pergi lebih jauh. Tempat ini sangat cocok untuk suster. Aku membutuhkan orang

seperti kalian. Di sini ada kemungkinan yang sesuai dengan rencana suster"

(Clementina, 1983: 9-11).

Pada tanggal 26 Maret 1801, saat Gereja merayakan Pesta Tujuh Kedukaan

Maria, keempat suster bersama seorang novis, seorang postulan dan tujuh anak

asrama berangkat ke Dongen. Pada saat itulah kongregasi berdiri di Dongen.

Kongregasi hidup menurut Peraturan Reformasi Limburg dari tahun 1634.

Terdorong oleh keyakinan bahwa para suster harus tetap memperbarui hidup dalam

roh, maka para pendiri kongregasi tidak hanya berpedoman pada apa saja yang

telah mendarah daging bagi mereka, melainkan juga menjadi peka terhadap

kebutuhan masyarakat zaman mereka, sampai mereka malah mengorbankan cara

hidup kontemplatif yang sangat mereka cintai.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 70: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

46

Setelah melewati masa-masa sulit penuh pergulatan dan perjuangan yang

berat selama beberapa puluh tahun, kongregasi mulai lebih leluasa memberikan

pelayanan kepada masyarakat melalui pendidikan. Selain itu, kongregasi juga

mendapat peluang untuk menyebarkan hidup religius dengan membuka komunitas

di Etten pada tahun 1920. Karena dituntut oleh situasi saat itu, komunitas yang

baru itu menjadi komunitas mandiri, terlepas dari induknya di Dongen. Didukung

oleh dana yang ada, kongregasi sanggup mengutus para Suster untuk mewartakan

iman Katolik ke daerah misi, termasuk ke Indonesia (Clementina, 1983: 12-15).

Pada tanggal 17 Maret 1923 para suster berangkat dari Dongen dan sebulan

kemudian, pada tanggal 17 April 1923 mereka tiba di Medan, Sumatera Utara.

Beberapa tahun kemudian, novisiat dibuka di Kabanjahe pada tahun 1954. Empat

belas tahun kemudian Kongregasi mulai melebarkan sayapnya ke Kalimantan.

Pada tanggal 11 Oktober 1937, para suster tiba di Banjarmasin. Keinginan untuk

mengikutsertakan pemudi-pemudi pribumi dalam pelayanan di Kalimantan

mendorong pemimpin kongregasi untuk membuka novisiàt di Jawa Tengah. Pati

merupakan kota pilihan tempat para calon akan dididik dan dipersiapkan. Pada

tanggal 14 Juli 1958 tiga suster datang dari Banjarmasin ke Pati untuk membuka

novisiat. Dengan penyebaran dan perkembangan di Indonesia, maka pada tahun

1969 status komunitas-komunitas di Indonesia ditingkatkan menjadi regio, yaitu

regio Sumatera Utara dan regio Jawa-Kalimantan. Masing-masing pemimpin regio

bertanggungjawab langsung kepada Pemimpin Umum di Dongen.

Selama beberapa tahun di Dongen, jumlah suster tidak bertambah karena

tidak ada anggota baru. Suster-suster yang masih ada semakin lanjut usia.

Mengingat situasi yang demikian dan karena regio-regio di Indonesia telah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 71: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

47

dianggap mampu untuk mandiri, maka Dewan Pimpinan Umum mempersiapkan

para suster Indonesia agar siap untuk menangani sendiri otoritas kepemimpinan

kongregasi di Indonesia (Konst, 2007: 13)

Roh Pemersatu yang menjiwai para pendiri kongregasi mendorong

terwujudnya unifikasi Regio Sumatera Utara dan Regio Jawa-Kalimantan.

Penyatuan regio dimulai pada tanggal 15 Juli 1998. Sebagai persiapan

kemandirian, pada tanggal yang sama ditetapkan nama baru bagi kongregasi di

Indonesia, meski kharisma dan spritualitas tetap sama. Nama yang

mengungkapkan spiritualitas kongregasi seturut teladan St. Fransiskus Assisi

adalah Suster-suster Fransiskus Dina.

Pada tanggal 17 April 2007, Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina di

Indonesia resmi menjadi kongregasi mandiri di bawah wewenang yurisdiksi

Keuskupan Agung Semarang dan dinyatakan dalam dekrit dari Tahta Suci di Roma

melalui kongregasi untuk Evangelisasi Bangsa-Bangsa, Prot. N. 1534/ 07

tertanggal 31 Maret 2007 (Konst, 2007; 14).

A. Visi dan Misi SFD

Rumusan visi, misi, dan kharisma SFD berawal dari keprihatinan,

pertanyaan, kebingungan dan kerinduan mendalam para suster SFD. Namun, sudah

sejak semula pendiri kongregasi SFD percaya telah disemangati dan dijiwai oleh

Roh Allah yang dikenal sebagai Roh Pemersatu. Mereka berkarya dengan

berlandaskan semangat cinta kasih, kesederhanaan Kristiani yang sejati, semangat

rajin dan giat, sikap lepas bebas dan semangat doa (Raat, 2000; 60-62). Rumusan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 72: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

48

visi, misi dan kharisma SFD itu kemudian dirumuskan pada kapitel regio 2001 di

Girisonta, Semarang.

Dari pertemuan itu, visi SFD pun dapat dirumuskan, yaitu “Persekutuan

membangun persaudaraan yang mengimani bahwa Tuhan adalah Bapa semua

orang, mencintai dan meninggikan setiap orang” (Konst, 2007 art 9). Dalam hal

ini, cara hidup sederhana St. Fransiskus Asisi dan para suster pendahulu

merupakan perwujudan kasih Allah sebagai Bapa bagi semua orang. Kongregasi

SFD membangun persaudaraan dan persekutuan dengan saling memperhatikan,

dan saling melayani dalam kebutuhan setiap hari. Dengan keyakinan bahwa

persaudaraan dibangun atas iman bahwa Tuhan adalah Bapa semua orang, maka

semua orang adalah saudara, semartabat dan setara. Tuhan yang diimani adalah

Bapa yang mencintai setiap orang, sehingga setiap orang pun harus bersikap

seperti Bapa yang mencintai setiap orang dan meninggikannya. Para SFD

mencintai dan meninggikan orang bukan hanya dalam persaudaraan dalam

kongregasi saja, tetapi juga semua orang yang kepada mereka para SFD diutus.

Dengan meneladan sikap Yesus, para SFD diajak untuk menghargai, mengangkat

harkat dan martabat manusia yang diciptakan oleh Allah dan secitra dengan-Nya

(SFD, 2007: 17).

Berangkat dari pertimbangan di atas, maka rumusan misi SFD pun

disebutkan, “Siap dan terbuka bagi kebutuhan zaman seraya meneladan Yesus

Kristus dalam keprihatinan-Nya terhadap manusia dengan mendampingi,

memberdayakan, menghimpun: kaum muda, perempuan, orang kecil, orang sakit

bersama saudara lain” (Konst, 2007 art 11). Para suster SFD berusaha untuk

membuka diri terhadap kebutuhan orang lain dan terbuka dengan situasi zaman.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 73: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

49

Siap dan terbuka berarti memiliki cinta yang mendalam kepada Tuhan dan sesama.

Keterbukaan terhadap kebutuhan zaman menuntut untuk tidak memilih kesenangan

pribadi tetapi lebih memerhatikan kepentingan umum.

Misi yang diiemban oleh para Suster Fransiskus Dina berkaitan erat dengan

pesan yang terdapat dalam dalam injil Lukas 4:18-19 yang berbunyi:

Roh Tuhan ada pada-Ku oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk

menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, dan Ia telah

mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang

tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan

orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah

datang.

Hal ini menegaskan bahwa tujuan Roh Allah dianugerahkan kepada Yesus

ialah demi keselamatan semua orang, terutama orang-orang lemah, miskin secara

ekonomis, fisik, dan sosial. Yesus yang diurapi menampilkan tugas-Nya sebagai

nabi, sebagaimana dituliskan dalam kitab Yesaya. Yesus tidak menjauh dari realita

sosial, melainkan Ia mengangkat situasi ini menjadi visi dan misi pelayanan-Nya

yaitu mewartakan Kerajaan Allah. Arah misi Yesus di sini adalah menyampaikan

kabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang

tawanan, memberikan penglihatan bagi orang buta dan membebaskan orang-orang

tertindas dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.

Tahun rahmat Tuhan yang dimaksud adalah saat keselamatan melalui

Kristus/Mesias yang dipakai Allah untuk memberitakan kabar baik bagi orang

yang sengsara, merawat orang yang remuk hati, pembebasan pada orang tawanan,

pembebasan pada orang yang terkurung dalam penjara, penglihatan pada orang

buta, pembebasan orang-orang yang tertindas.

Yesus menyerukan bahwa Dia adalah Mesias yang Diurapi, yang diutus

untuk membawa kabar baik. Di sini tersirat pernyataan diri-Nya sebagai Mesias

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 74: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

50

yang dinanti-nantikan sebagaimana diwartakan dalam kitab Yesaya. Yesus

melaksanakan semua ini dengan penuh belaskasih, cinta dan mengandalkan

kekuatan dari Bapa-Nya. Kedatangan-Nya memberikan karunia istimewa kepada

semua orang yang percaya kepada-Nya. Dengan tampilnya Yesus sebagai seorang

Pewarta, nyatalah bahwa dalam diri-Nya, Allah telah menggenapi segala janji-Nya.

Arah misi Yesus ini, sudah sejak awal mula telah mewarnai usaha dan

karya tarekat SFD dalam menjawab dan melayani kebutuhan masyarakat yang

dihadapi demi pembangunan Kerajaan Allah serta kemuliaan-Nya. Dengan

meneladani Dia, kongregasi SFD berusaha hadir di tengah-tengah masyarakat

terutama yang menderita, lemah, kecil, miskin, tersingkir dan difabel (LKMTD).

Demi mewujudkan misi-Nya itu para SFD dituntut untuk memiliki sikap berani

meninggalkan segala sesuatu demi pelayanan seperti yang dituntut Yesus pada

para murid-Nya. Dalam Injil Lukas 9: 59-62, dikatakan:

Lalu Ia berkata kepada seorang yang lain, ikutlah Aku! Tetapi orang itu

berkata, Tuhan ijinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku. Tetapi

Yesus berkata kepadanya, biarlah orang mati menguburkan orang mati;

tetapi engkau pergilah dan beritakanlah Injil dimana-mana. Lalu seorang

lain lagi berkata, Aku akan mengikuti Engkau, Tuhan, tetapi ijinkanlah aku

pamitan dahulu dengan keluargaku. Tetapi Yesus berkata kepadanya, setiap

orang yang siap membajak tetapi menoleh kebelakang, tidak layak untuk

Kerajaan Allah.

Sebagai murid-murid Yesus, para SFD pun harus berani meninggalkan

tanah air, kampung halaman, keluarga, kesenangan pribadi dan meninggalkan

segala-galanya demi Kristus, Sang penyelamat dunia. Dengan kata lain, visi misi

dan kharisma kongregasi SFD menjadi pendorong dan kekuatan untuk

melaksanakan tugas perutusannya di tengah Gereja dan masyarakat.

B. Spiritualitas Kongregasi Suster Fransiskus Dina

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 75: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

51

Dalam buku catatannya, Suster Marie Joseph (Mary Raaymakers) menulis

sejarah awal berdirinya kongregasi di Dongen yang dipimpin oleh Mere Constantia

van der Linden pada tahun 1801. Dia menyampaikan bahwa semangat hidup

religius harus diperbarui, dan pembaruan hidup itu harus didasari dengan tradisi

Injili-Fransiskan. Artinya para Suster Fransiskus Dina harus hidup seturut nasihat

Injil Suci, yakni dalam ketaatan, hidup tanpa milik, kesederhanaan dan dalam

kemurnian (Ladjar, 1988: 90). Cara hidup yang demikian ini merupakan bentuk

simbolis dari usaha untuk menyerupai cara hidup Kristus.

Pada tanggal 1 April 1991, dalam rangka memperingati 190 tahun

berdirinya kongregasi, para SFD mengadakan kapitel di Dongen. Dalam kapitel

itu, mereka mendiskusikan dan mendalami catatan Suster Marie Joseph di atas.

Catatan tersebut dilengkapi dengan teks-teks Perjanjian Baru dan karangan-

karangan St. Fransiskus Asisi. Melalui kapitel ini, rumusan spiritualitas kongregasi

SFD pun semakin diperjelas dan dibagi dalam lima bagian, sebagai berikut:

semangat cinta kasih, kesederhanaan Kristiani yang sejati, semangat rajin dan giat,

lepas bebas dan semangat doa (Raat, 2000: 60-63). Kelima sikap inilah yang

menjadi daya-gerak hidup pendiri kongregasi SFD dan para anggotanya.

1. Semangat Cinta Kasih

Pendiri kongregasi (Suster Mere Constantia Van Der Linden) menyadari

secara baru bahwa kehidupan religius harus mewujudkan pembaharuan yang

sungguh-sungguh nyata. Menurutnya, untuk memperbarui hidup religius tersebut,

para suster harus kembali ke sumber-sumber asli yaitu Kitab Suci. Dalam Kisah

Para Rasul 2: 42-47 dituliskan:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 76: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

52

Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam perekutuan. Dan

mereka selalu berkumpul, untuk memecahkan roti dan berdoa. Maka

ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak

mujizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap

bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan

selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-

bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.

Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam

bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara

bergilir dan makan bersama-sama sambil memuji Allah. Dan mereka

disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka

dengan orang yang diselamatkan.

Semangat hidup para rasul ini menjadi teladan bagi umat Kristen. Semangat

cinta kasih itu juga menjadi tanda pengenal mereka. Mereka semua bersatu hati.

Seperti jemaat Kristiani perdana, demikian juga para SFD diharapkan mampu

menempatkan cinta kasih menjadi dasar yang menopang hidup kongregasi.

Cinta kasih menjadi tanda pengenal dalam persekuatuan SFD, sebagaimana

komunitas para rasul yang dikenal karena cinta kasih satu sama lain. Cinta itu suka

memberi sebagaimana para rasul membagi apa yang dimilikinya. Demikian juga

para SFD menjadikan segala yang ada menjadi milik bersama. Selain itu, cinta

kasih juga menuntut kesabaran. Dalam hidup bersama para SFD dilatih untuk

sabar, menerima sesama dalam kelemahannya sebagaimana dia pun ingin diterima

oleh sesama dengan sabar.

Suster Marie Yoseph menemukan motivasi untuk mewujudkan cinta kasih

di luar komunitasnya seperti yang dihidupi Gereja Perdana. Menurutnya,

komunitas perdana adalah komunitas yang paling ideal untuk diteladani. Belajar

dari komunitas perdana hendaknya komunitas SFD, yang terdiri dari beraneka

ragam suku, latar belakang, dan hidup dalam satu ikatan kasih, saling mendukung

dan saling melayani. Persaudaraan dalam komunitas harus dapat saling mendukung

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 77: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

53

sesuai dengan anggaran dasar yang dijanjikan dan dengan setia mengikuti jejak

Tuhan Yesus Kristus (Raaymakers, 1991: 11-13).

2. Kesederhanaan Kristiani yang Sejati

Kesederhanaan merupakan ciri khas para pengikut Fransiskus, termasuk

para SFD. Nilai ini mendapat tempat khusus dalam tarekat SFD. Kesederhanaan

sejati mengandaikan kejujuran dalam tindakan maupun kata-kata yang mengikuti

bimbingan Roh Kudus. Sikap sederhana terungkap dalam tutur kata yang

sederhana, tulus, dan apa adanya.

Sehubungan dengan sikap sederhana ini, St. Fransiskus pernah berkata,

“Salam ratu kebijaksanaan, semoga Tuhan melindungi engkau bersama saudarimu,

kesederhanaan yang suci murni”. Kesederhanaan baginya adalah saudari

kebijaksanaan. Kesederhanaan memungkinkan religius untuk mengikuti Kristus

yang ditolak di dunia namun menjadi jalan kebenaran dan hidup (Yoh 14: 6).

Dengan demikian, seorang SFD hanya boleh mempunyai satu tujuan yaitu

“melaksanakan kehendak Allah”. Sikap sederhana dalam hidup serta karya

pelayanan menuntut para SFD untuk selalu membuka mata terbuka terhadap

kebutuhan dunia dan dengan cinta memperlakukan bumi dan lingkungan hidup

(Raaymakers, 1991: 14-19).

Ketiga kaul yang diungkapkan para SFD kepada Tuhan dalam kongregasi

SFD dapat menjadi dasar untuk tetap hidup sederhana. Dengan kaul kemiskinan,

para SFD hanya berpegang pada Yesus, karena Dialah nilai tertinggi dalam hidup

para SFD, sehingga barang dunia dan hal-hal lain menjadi relatif bagi para SFD.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 78: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

54

Bahkan Rasul Paulus mengatakan” semuanya menjadi sampah, sewaktu aku sudah

mengenal Kristus”.

Dalam kaul ketaatan, para SFD hanya mengutamakan kehendak Tuhan dari

pada kehendak sendiri. Dalam hidup ini para SFD berusaha, untuk mencari,

menemukan dan melakukan kehendak Tuhan. Oleh karena menekankan kehendak

Tuhan melalui kongregasi, maka para SFD juga rela mentaati konstitusi

kongregasi, yang mengajak para SFD untuk hidup sederhana, berpegang dan

berharap kepada Tuhan, dan dengan kaul ketaatan para SFD berjanji kepada Allah

untuk taat kepada pemimpin yang sah dalam segala sesuatu yang mereka

perintahkan sesuai peraturan Konstitusi.

Dengan kaul kemurnian/keperawanan, para SFD mau menyerahkan diri

secara penuh kepada Tuhan yang memanggil, sehingga para SFD rela diutus

kemanapun melalui kongregasi SFD. Karena Tuhan adalah pegangan utama dan

arah hidup para SFD, maka para SFD ingin meniru dan meneladan hidup Tuhan

sendiri yang memang sederhana demi membantu dan menyelamatkan orang lain

dari belenggu kedosaan.

Ketiga kaul ini mau menekankan bahwa para SFD diajak untuk berpegang

teguh pada Tuhan dan menyatukan diri dengan-Nya. Pegangan hidup para SFD

adalah Yesus sebagai sumber kekuatan. Oleh sebab itu para SFD diajak untuk

semakin meniru hidup Yesus yang sederhana, yang mau merendahkan diri-Nya

bahkan sampai mati di salib.

3. Semangat Rajin dan Giat

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 79: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

55

Hidup dalam pengabdian untuk melayani Tuhan dan sesama harus ditopang

sikap rajin dan giat. Sikap ini menunjukkan rasa terikat satu sama lain dan rasa

keterlibatan dalam aneka usaha dalam persaudaraan. Keberagaman anggota dalam

komunitas memberi semangat untuk melayani Tuhan.

Suster Marie Joseph menganjurkan supaya semua anggota kongregasi SFD

tidak menganggap pekerjaan sebagai suatu keharusan atau keterpaksaan untuk

mengerjakannya, melainkan sebagai kewajiban cinta kasih (Raaymakers, 1991:

20). Pekerjaan akan semakin berkembang apabila setiap orang mampu memberi

kebahagian kepada orang lain, bukan karena ingin menyenangkan orang lain tetapi

karena melaksankan pesan Injil. Yesus adalah Guru dan teladan para SFD. Ia

memberi kebahagiaan kepada orang lain karena “tergerak hati-Nya oleh belas

kasihan kepada orang banyak” (Mrk 8: 2).

St. Fransiskus dari Asisi juga mengajak saudara-saudaranya melakukan

pekerjaan tangan sebagaimana layaknya karena belas kasih. Saudara yang belum

menguasai pekerjaan hendaknya mau belajar bukan karena ingin mendapat upah

tetapi menjauhkan sikap bermalas-malasan (Ladjar, 1988: 161).

Dalam hal ini, para SFD dipanggil untuk melibatkan diri secara sunguh-

sungguh melayani orang lain. Sikap rajin dan giat penting dimiliki oleh setiap

orang sebab di mana tidak ada keterlibatan, daya gerak persaudaraan pun akan

hilang. Dengan demikian, pekerjaan harus dianggap bukan sebagai suatu bentuk

pelarian tetapi demi pelayanan kapada Tuhan (Raaymakers, 1991: 26).

4. Sikap Lepas Bebas

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 80: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

56

Jemaat perdana telah menjadikan milik mereka menjadi milik bersama.

Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul serta menjalankan cinta kasih sejati

(Kis 2: 43). Mereka melepaskan segala sesuatu yang bersifat duniawi dan mengikat

diri kepada Allah dalam hidup persekutuan. Sikap lepas bebas seperti inilah yang

harus menjadi ciri khas komunitas-komunitas Kristiani. Sikap lepas bebas bukan

berarti suatu kehilangan karena telah melepaskan semuanya, tetapi sebaliknya,

dengan melepaskan hal-hal duniawi berarti para SFD memperoleh dan

memenangkan kehidupan sejati.

Sikap lepas bebas menjadi hal yang hakiki bagi para religius yang mau

mengikuti Kristus. Mengikuti Kristus berarti berani melepaskan semua harta milik

pribadi dan mulai memasuki hidup baru (Raaymakers, 1991; 32). Melepaskan

kepemilikan pribadi bukan hanya yang bersifat kelihatan tetapi secara utuh,

termasuk kemauan diri sendiri.

Tujuannya ialah agar hidup para SFD bebas dari keterikatan diri dan

mampu menyerahkan diri seutuhnya kepada kehendak Allah. Dengan keadaan

yang bebas, para SFD mampu memberi peluang bagi Tuhan untuk memenuhi

hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Sikap lepas bebas memberi sayap pada jiwa

untuk terbang menuju kesempurnaan (Raaymakers, 1991; 33). Sikap lepas bebas

Kristiani bukanlah prestasi, melainkan keutamaan yang terpancar untuk bebas

memberi peluang bagi Tuhan karena Dialah satu-satu-Nya yang sanggup secara

benar memenuhi hidup para suster SFD.

5. Semangat Doa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 81: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

57

Yesus pernah bersabda, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.

Sama seperti ranting yang tidak berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal

pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal

di dalam Aku” (Yoh 15: 4). Hal ini menegaskan betapa pentingnya persatuan batin

dengan Allah, menjalin relasi dengan-Nya akan menghasilkan buah berlimpah

yang tidak pernah berkesudahan.

Yesus juga menggambarkan diri-Nya sebagai pokok anggur dan kita adalah

ranting-ranting-Nya. Agar berbuah, kita harus tinggal di dalam Dia, seperti ranting

pada pokok anggurnya. Syarat mutlak untuk kita bisa berbuah adalah jangan

pernah meninggalkan Pokok Anggur itu dan menempel kepada pokok anggur yang

lain.

Kehidupan berlimpah yang kita terima dari Allah hendaknya dijaga dan

dibagikan kepada sesama, sebab Allah menghendaki agar masing-masing orang

menjadi saluran rahmat bagi sesama. Oleh karena itu, setiap orang yang dipanggil-

Nya mempunyai tanggungjawab memberi hidup yang bersumber dari hidup Roh

dan mengalir melalui peran para SFD khususnya dalam karya pelayanan. Buah

yang kita terima akan bertumbuh dan berkembang apabila didasari dengan doa.

Demikian juga dengan pengalaman St. Fransiskus dari Asisi. Sejak

pertobatannya sekitar tahun 1204 sampai akhir hidupnya, Fransiskus

mengutamakan Allah di atas segala-galanya. Allah telah menjumpainya dan

dijumpainya terutama dalam Kristus yang merendah, dina dan tersalib. Seluruh

jiwanya haus akan Kristus dan seluruh dirinya terserap oleh kehadiran Allah dalam

Kristus dan dia mendedikasikan tidak hanya seluruh hatinya, tetapi juga seluruh

tubuhnya kepada-Nya (Celano, 2008: 94).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 82: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

58

Bagi Fransiskus, doa itu sangat penting. Ia bukan saja mengucapkan doa,

melainkan seluruh dirinya menjadi doa itu sendiri. Artinya doa Fransiskus kembali

kepada dirinya; dia menjadi apa yang dilakukannya dan didoakannya. Fransiskus

memiliki kemauan untuk berkanjang dalam doa dan mengikut-sertakan tubuhnya

untuk berperan dalam doa tersebut. Seluruh dirinya memperlihatkan bahwa dia

bersatu dengan Allah. Walaupun seluruh dirinya dan seluruh hidupnya adalah doa

itu sendiri, namun ia juga menyediakan waktu-waktu tertentu untuk berdoa. Dalam

periode “hidup dalam pertobatan” pada tahun 1204 sampai akhir hidupnya,

Fransiskus sering mencari tempat-tempat sunyi untuk berdoa.

Pada awal pertobatannya, ketika Fransiskus belum begitu teguh pada

pilihan pertobatannya dan terutama ketika mengalami halangan dan ancaman dari

ayahnya, ia bersembunyi di gua-gua sekitar Asisi dan berdoa terus-menerus.

Dalam doanya ia memohon terang dan kekuatan Roh Allah berhubungan dengan

pilihan pertobatannya. Ia merasa yakin bahwa doanya dikabulkan Tuhan, ketika ia

tiba-tiba merasa kuat, berani dan mengecam ketakutannya sendiri (Celano, 1984:

10-11). Ia keluar dari persembunyian, menjumpai ayahnya dan dengan tegas

mengutarakan pendiriannya, yaitu hidup untuk Allah saja (Celano, 1984: 13-15).

Dua tahun sebelum wafatnya, Fransiskus mengadakan retret pribadi

panjang di gunung La Verna. Di sana dia merasa telah berusaha mengikuti jejak

Kristus dengan sebaik-baiknya dan memohon kepada Tuhan agar ia boleh

mengalami keserupaan yang lebih lagi secara rohani dan secara jasmani. Pada

akhir retret ia mendapat stigmata, yaitu lima luka Kristus tertera pada tubuhnya

(Celano, 1984: 94-96).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 83: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

59

Bagi Fransiskus, doa berkaitan erat dengan pilihannya untuk mengarahkan

hidup pada Allah dan bersatu dengan Allah. Doa membuatnya semakin jelas

membuat pilihan mengikuti Kristus. Doa memberikan kepadanya kekuatan dan

keberanian untuk menempuh pilihan itu secara konsekwen serta siap menanggung

segala resiko berkaitan dengan pilihan tersebut. Doa itu pada akhirnya membuat

persatuannya dengan Allah, dalam segala keadaan menjadi semakin erat. Persatuan

erat itu memberikan kepadanya kebahagian, damai dan membuat dia melihat

semuanya secara baru. Dari hal-hal ini kita dapat memahami cinta-persaudaraan

universal Fransiskus.

Pengalaman pribadi yang indah akan doa itu mendorong Fransiskus untuk

mendesak saudara-saudaranya agar berdoa, menjalankan doa-doa yang sudah

ditentukan atau doa-doa liturgis (AD III 1-9) tetapi lebih dari pada itu ia mendesak

mereka untuk berdoa pribadi dan melakukan apa saja dengan setia dan bakti tanpa

kehilangan semangat doa serta kebaktian suci (AD V 1-2). Doa harus menjadi

pusat kehidupan para saudara, sebagaimana ditekankannya dalam Anggaran Dasar

yang tidak pernah dimintakan pengesahannya ke Takhta Suci (ADtB psl 23: 9-11).

Bagian yang sama berhubungan dengan doa ditemukan juga dalam

Anggaran Ordo III Religius St. Fransiskus, yang menjadi Anggaran Dasar para

SFD juga. Di situ ditekankan semangat doa, menyembah Tuhan dengan hati yang

suci dan budi yang jernih. Dasar sikap itu menjadi pola hidup (khususnya para

pengikut St. Fransiskus) untuk bertemu dan berhadapan dengan Allah yang

mahabaik, asal segala kebaikan. Cara hidup Kristus yang ia teladani menjadi

cerminan dalam hidup para pengikutnya, berani membela kebenaran demi kerajaan

Allah.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 84: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

60

C. Doa dan Pelayanan dalam Kongregasi SFD

1. Doa dalam Kongregasi SFD

Pola hidup pengikut St. Fransiskus adalah kesatuan antara hidup doa dan

hidup karya. Hal ini juga dihidupi oleh Muder Yohanna Yesus dan pendiri

kongregasi SFD yang selalu menyisihkan waktu untuk berdoa. Doa batin menjadi

doa yang tidak kalah pentingnya untuk memupuk hidup rohaninya. Dister (2011:

87) menyatakan:

Doa yang benar itu terdiri dari gerak turun naik. Ada pun “turun” artinya

secara kontinu melayangkan pandangan kepada ketidakberdayaan kita.

Gerak “naik” itu kita langsungkan dalam roh yang mengagumi keagungan

dan kebaikan Bapa di surga, yang dengan penuh kasih sayang memimpin

kita oleh ketuhanan-Nya.

Dengan latarbelakang ketidakberdayaan pribadi dan juga kebaikan Allah

yang tak terhingga maka berdoa berarti kesediaan yang tak putus-putusnya untuk

mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah. Berdoa bukan pertama-tama

berarti sibuk bercakap-cakap dengan Tuhan, melainkan dengan tenang dan penuh

perhatian mendengarkan suara dan bisikan Allah yang berbicara dalam keheningan

hati. Mutu setiap doa dikenal lewat buahnya yaitu sikap lepas bebas sambil secara

tulus ikhlas “menganggap orang lain lebih utama dari pada diri sendiri” (Flp 2: 3),

sabar dan baik hati terhadap sesama, melepaskan rasa nikmat dalam kesalehan, pun

pula tidak menghiraukan kata orang. Dari sinilah kemudian dapat dilihat hubungan

antara doa dan pelayanan saling memengaruhi. Melalui doa, kita menjadi rendah

hati, bersabar terhadap sesama, berpikir positif terhadap sesama, dan menganggap

orang lain lebih utama dari diri kita sendiri. Hal yang mutlak dilakukan ialah tetap

membina sikap samadi (meditasi-kontemplasi) terus-menerus dan melihat apa yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 85: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

61

mesti dibersihkan dari dalam hati untuk menyambut kedatangan Tuhan dengan

sukacita.

Selain doa batin para SFD mendoakan doa vokal bersama berupa ibadat

pagi dan sore bersama. Selain ibadat resmi Gereja, para SFD juga mempunyai

rumusan doa bersama, misalnya Devosi kepada Sakramen Mahakudus, doa

penyerahan kepada perawan Maria, doa St. Fransiskus Asisi, ujud-ujud doa dalam

ibadat pagi, mendoakan keluarga atau kerabat yang meninggal dunia (Statuta,

2007: 34). Dengan adanya rumusan doa ini, para SFD semakin berusaha dan

bijaksana menyeimbangkan hidup doa dengan kerasulannya.

2. Pengertian Pelayanan

Pelayanan diartikan sebagai sarana perpanjangan tangan Tuhan dalam

melayani dan mencintai sesama yang sungguh membutuhkan perhatian sehingga

harus dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab (Kapitel, 2011: 90). Menjadi

suatu kegembiraan apabila setiap anggota SFD melayani Tuhan yang hadir dalam

diri sesama dengan tulus dan penuh suka cita. Jadi, sikap pelayanan perlu

diperhatikan sebagaimana intisari sikap pelayanan Kristus yang melayani. Yang

menjadi pokok dalam pelayanan para SFD, yakni mengangkat harkat, martabat dan

harga diri seseorang dalam melayani. Pelayanan dalam tugas perutusan merupakan

wujud nyata dari cinta dan perhatian terhadap sesama yang dilayani para SFD.

Pelayanan tidak hanya berhenti pada perayaan liturgi di sekitar altar atau

ritual gereja saja, tetapi juga dilaksanakan demi keselamatan umat manusia

seluruhnya. Para SFD dituntut untuk menunjukkan pelayanan dengan berbuat

sesuatu yang nyata bagi sesama terutama yang miskin dan menderita. Sikap

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 86: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

62

pelayanan kongregasi SFD berdasar pada sikap pelayanan Yesus sendiri yaitu

melayani dengan cinta kasih.

3. Pelayanan dalam Gereja

Tarekat religius bersama dengan seluruh anggota Gereja dipanggil untuk

melayani Kerajaan Allah. Gerakan pelayanan itu berakar pada pelayanan Yesus

Kristus, yakni pelayanan dengan cinta kasih. Pelayanan cinta kasih yang terpancar

dalam diri Yesus yang menyelamatkan dan menyembuhkan banyak orang.

Pelayanan yang dilakukan oleh Yesus sendiri tidak terlepas dari pelaksanaan

kehendak Bapa-Nya.

Seperti Yesus yang melaksanakan misi-Nya atas kehendak Bapa, pelayanan

yang dilakukan oleh Gereja juga didasarkan pada ketaatan kepada kehendak Allah.

Tentang hal ini, Yesus bersabda, “Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap akal

budimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mrk 12: 30-31).

Kasih berasal dan tertuju kepada Allah. Allah senantiasa memanggil para SFD

untuk membagikan kasih-Nya kepada sesama, terutama dalam kehadiran-Nya di

tengah kemiskinan, ketidakberdayaan dan penderitaan orang lemah. Untuk itu

mengenal Dia dan menjumpainya dalam diri mereka yang miskin merupakan

langkah untuk mencintai-Nya. Rasul Paulus (Flp 1:9) menuliskan, ”Inilah doaku,

semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam

segala macam pengertian”. Kasih seperti inilah yang menjadikan hidup kita

semakin terdorong untuk melayani Gereja melalui sesama manusia.

Sehubungan dengan sikap pelayanan yang dilakukan oleh para SFD, dalam

Konstitusi (2007 art 44 ) dituliskan:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 87: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

63

Pendiri Kongregasi kita berpendapat bahwa hidup mereka sebagai Peniten

Rekolek seharusnya ditandai dengan "kegiatan penuh rajin" dalam

pengabdian kepada sesama. Mereka yakin, bahwa pencurahan tenaga yang

dituntut oleh pekerjaan merupakan suatu jalan untuk berlepas diri,

mengarahkan diri kepada orang lain, dan dengan demikian mengabdi

Tuhan. Dalam pencurahan tenaga itu mereka mengalami, bahwa pekerjaan

di mana mereka begitu saling membutuhkan, mempererat ikatan satu sama

lain dan menciptakan suasana penuh rasa terima kasih dan rela mengabdi

(bdk. Mère Marie Yosef, Verlichtingen, hal 19+20 dan Karangan-karangan

hal. 35).

Hal ini ingin menunjukkan bahwa para SFD melayani Gereja dengan

sungguh-sungguh dan tidak membeda-bedakan. Para SFD mengabdi Tuhan dan

sesama mewujudkan cinta kasih dalam pelayanan, membagikan apa yang

dimilikinya seperti bakat dan talenta untuk mereka yang miskin dan yang

membutuhkan.

4. Pelayanan sebagai Fransiskan

Pelayanan yang rendah hati dan penuh cinta menjadi ciri hidup sebagai

Fransiskan demi kepentingan bersama. Fransiskus Asisi memahami bahwa tugas

pelayanan Gereja merupakan lanjutan dari tugas perutusan Yesus sendiri.

Demikian juga tugas pelayanan sebagai Fransiskan, tujuannya sama yaitu ikut

ambil bagian dalam penyaluran kasih Kristus. “Aku datang bukan untuk dilayani

melainkan untuk melayani” (Mrk 10: 45). Yesus menunjukkan bagaimana

melayani dengan tulus dan rendah hati. Ia melayani tanpa menuntut balas jasa dari

orang yang dilayani-Nya.

Sikap Yesus ini menjadi teladan bagi pelayanan Fransiskan termasuk para

SFD dalam hal kerendahan hati dalam pelayanan. Melayani dengan rendah hati

berarti mencintai dan meninggikan setiap orang. “Mereka dipanggil untuk menjadi

pelayan dalam persaudaraan dan berusaha hidup seturut teladan St. Fransiskus

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 88: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

64

supaya mereka tidak salah mempergunakan jabatan dengan menguasai orang lain,

tetapi memenuhi tugasnya dengan penuh pengabdian” (ADtB V 9-12).

Fransiskus menasihati para anggotanya supaya dalam melayani, mereka

tidak mencari kekuasaan sekalipun ia sebagai pemimpin. Sebaliknya, hendaklah

dia rendah hati mengabdi sebagaimana Yesus Kristus yang selalu merendahkan

diri-Nya demi kemuliaan Allah. Pelayanan yang dilakukan oleh para SFD, baik

dalam komunitas maupun dalam masyarakat merupakan pengabdian yang tulus

kepada Allah.

Seorang SFD perlu memiliki kerendahan hati demi kesejahteraan bersama

dan sosial, sebagaimana para rasul berani hidup, menjual hartanya dan berbagi

kepada yang miskin dan segala sesuatu dijadikan sebagai milik bersama (Kis 2:

14). Para SFD juga perlu menyiapkan diri supaya siap sedia untuk menerima

dengan rendah hati tugas perutusan yang baru. Dengan demikian, pelayanan dapat

dihayati sebagai bentuk pengabdian dan berani melepaskan kelekatan diri sendiri

demi perkembangan Gereja dan masyarakat (Kapitel, 2011: 110-11).

5. Tujuan Pelayanan

Dalam Injil Lukas 7: 21-22 dituliskan, “Dalam pergaulan dengan manusia,

Yesus menaruh perhatian khusus bagi sesama manusia yang miskin, sakit,

kesepian, terluka, dan bagi mereka yang menanggung beban kesalahan mereka”.

Melalui baptisan yang diterima, setiap orang termasuk para SFD mempunyai tugas

dan tanggung jawab dalam melanjutkan pelayanan yang dilakukan oleh Yesus.

Maka sejak semula tarekat SFD dipanggil untuk mengikuti jejak Yesus dalam

keprihatinan-Nya terhadap manusia, dengan meneladani semangat St. Fransiskus

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 89: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

65

dan para pendiri. Para suster SFD diajak untuk berperan serta dalam mewujudkan

suatu kerjasama yang subur di dalam Gereja.

Kongregasi SFD menegaskan arah dan tujuan pelayanan yang hendak

dicapainya melalui semangat “Semangat rajin dan giat”. Arah dan tujuan dari

pelayanan SFD yaitu pelayanan demi terwujudnya nilai-nilai kerajaan Allah,

mendampingi dan memberdayakan orang-orang kecil dan lemah.

a. Demi Terwujudnya Nilai-nilai Kerajaan Allah

Pelayanan dalam tugas perutusan merupakan wujud nyata dari cinta dan

perhatian terhadap sesama yang kita layani, terkhusus mereka yang menderita,

miskin, terlantar, dan difabel. Kongregasi SFD menegaskan arah dan tujuan

pelayanan yang hendak dicapai melalui semangat awal pendiri yaitu “semangat

rajin dan giat” (Raaymakers, 1991: 20). Artinya setiap anggota hendaknya

menganggap tugas atau pekerjaan bukan suatu keharusan atau keterpaksaan

melainkan sebagai kewajiban cinta kasih. Adapun wujud dari cinta kasih itu,

berusaha menghadirkan kerajaan Allah dalam sikap hidup sehari-hari. Meneruskan

tugas perutusan dan misi Kerajaan Allah yang dilakukan Yesus demi keselamatan

dan pembebasan manusia dan ciptaan.

Peran serta para SFD dalam pelayanan demi Kerajaan Allah adalah ikut

ambil bagian dalam meneruskan karya penciptaan menuju penyempurnaan

manusia dan alam ciptaan (Kej 2: 15). Karya ini tidak hanya tertuju untuk manusia

tetapi juga untuk menyempurnakan seluruh alam semesta. Para SFD diharapkan

melayani dan memperhatikan banyak orang, terlebih bagi mereka yang lemah,

menderita, dan tersingkir, dan tidak dihargai hak serta martabat hidupnya, sebagai

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 90: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

66

sesama saudara di hadapan Allah. Hal ini selaras dengan misi pelayanan Gereja

sendiri, yaitu menegakkan keadilan, kerajaan damai, kasih, penebusan dan

pembebasan. Rasul Paulus (Rm 14: 17) mengungkapkan “Sebab Kerajaan Allah

bukan soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan

sukacita oleh Roh Kudus”.

Para SFD diharapkan menghadirkan Kerajaan Allah di mana ia diutus dan

menemukan nilai-nilai Kerajaan Allah itu dalam diri semua orang dan berjumpa

dengan-Nya. Kerajaan Allah itu diungkapkan dalam kata dan tindakan nyata

seperti melayani orang sakit, mendampingi kaum buruh, dan memberdayakan

orang lemah dan lain sebagainya.

b. Mendampingi dan memberdayakan orang-orang kecil.

Kongregasi SFD adalah bagian dari Gereja dan Masyarakat. Dalam hidup

sehari-hari para suster tidak terpisah secara eksklusif dari ‘mereka’, melainkan para

suster dipanggil dan diutus ke tengah-tengah mereka untuk mewujudkan cinta

Tuhan di dunia. “Dalam pergaulan dengan manusia, Yesus menaruh perhatian

khusus bagi sesama manusia yang miskin, sakit, kesepian dan terluka” (Konst,

2007: art 42). Dalam karya pelayanan ini para SFD mengandalkan kekuatan dari

Allah sendiri dengan meneladan Kristus yang menjadi pelayan sejati.

Mengandalkan Kristus dalam mewujudkan cinta kepada semua orang khususnya

orang lemah dan kecil.

Bertitik tolak dari cinta Kristus yang melayani, kongregasi SFD

mempunyai tujuan untuk terlibat dalam mendampingi, memberdayakan dan orang

kecil. Keprihatinan tersebut diwujudkan dengan mendampingi keluarga-keluarga

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 91: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

67

yang sedang dalam kesulitan dalam memecahkan persoalan. Para SFD hadir

sebagai sebagai sahabat, mendengarkan keluh kesah, berjalan bersama dan

mendekati mereka dengan penuh cinta dan kerahiman; memberdayakan artinya

membuat orang menjadi berdaya, memiliki kemampuan sehingga mampu

menghidupi diri sendiri; menghimpun berarti menghimpun siapa saja seperti kaum

perempuan, orang kecil dan orang sakit bersama saudara lain (Konst, art 9).

Keterlibatan para SFD kepada orang kecil dilihat dari pelayanan yang tulus dan

penuh sukacita.

Para SFD menyadari panggilannya untuk mewartakan karya keselamatan

dengan membaktikan diri kepada Allah serta mengikuti Kristus secara total untuk

mengejar kesempurnaan yaitu cinta kasih dalam pelayanan. Para SFD hadir untuk

merangkul semua mahluk sebagai saudara dalam Tuhan khususnya bagi orang-

orang yang kecil sebagaimana Fransiskus Asisi dipanggil dan dipilih oleh Allah

untuk bekerja di kebun anggur-Nya. St. Fransiskus yang miskin dan rendah hati

mampu berjumpa dengan Kristus dalam diri orang miskin dan orang kusta.

Kepedulian St. Fransiskus Asisi dengan orang kecil juga ditanamkan kepada para

pengikutnya termasuk para SFD supaya pelayanan terhadap orang kecil lebih

diperhatikan dan diutamakan.

6. Tantangan dalam Karya Pelayanan Kongregasi SFD

Karya pelayanan para suster SFD merupakan salah satu bentuk

keikutsertaan kongregasi dalam memperkembangkan, mengarahkan hidup yang

lebih manusiawi menuju Kerajaan Allah. Dalam menjalankan misinya, para SFD

menyadari bahwa dalam mengembangkan karya pelayanan sesungguhnya Allah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 92: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

68

terlibat di dalamnya. Akan tetapi sebagai sebuah usaha, pelayanan yang dilakukan

itu pun tidaklah lepas dari tantangan internal dan eksternal yang dihadapi para SFD

terutama pada zaman sekarang ini.

a. Tantangan Internal

Dalam pedoman pembinaan dan pendidikan SFD, terdapat warisan para

suster pendahulu. Isinya ialah “Dalam pengabdian kepada Tuhan, semuanya harus

dilakukan pada tujuan yang luhur dengan kerajinan yang sempurna” (SFD,

2007:108). Para SFD memiliki karya yang dititipkan oleh Allah untuk diteruskan

dan dikembangkan demi Kerajaan Allah dan kesejahteraan masyarakat. Akan

tetapi dalam perkembangan zaman, tampaknya para SFD mengalami kemunduran

dalam mengembangkan karya-karya tersebut. Hidup doa berkurang, tak jarang juga

kadang terjadi persaingan tidak sehat antar sesama. Salah satu penyebab

kemunduran ialah karena melemahnya penghayatan spiritualitas kongregasi dan

juga berkurangnya kesadaran akan hidup religius. Selain itu SDM (Sumber Daya

Manusia) yang sudah disiapkan kurang professional karena tidak mengembangkan

diri, talenta, kehendak dan keinginan yang baik (Kapitel, 2011: 97). Penghayatan

spiritualitas kongregasi yang lemah membuat daya juang para anggota SFD dalam

melayani menjadi kurang maksimal. Akhirnya beberapa karya mengalami

kemunduran. Inilah tantangan bagi para SFD sekaligus juga sebagai peluang untuk

berbenah diri dalam melaksanakan tugas pelayanan dengan tetap belajar dari

semangat para pendahulu.

b. Tantangan Eksternal

Ada sejumlah kesulitan dan hambatan yang ditemukan dalam karya

pelayanan yang dikelola oleh para SFD. Hal ini dapat dilihat dari hasil kapitel

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 93: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

69

umum Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina (SFD) Indonesia tahun 2011 yang

menemukan berbagai macam tantangan. Tantangan itu antara lain; menjamurnya

lembaga-lembaga pendidikan dan kesehatan yang bermodal besar dengan fasilitas

lengkap dan SDM yang sesuai dengan tuntutan zaman dan pelayanan modern yang

memenuhi standar pemerintah. Sekolah-sekolah negeri dan puskesmas yang bebas

biaya dan semakin berkualitas pelayanannya. Munculnya sekolah-sekolah

berstandar internasional serta adanya dilema dalam melaksanakan karya yang

berhadapan dengan arus zaman yang segala sesuatunya dapat dibeli dengan uang,

berkembangnya tehnologi dengan pesat sehingga segala sesuatu mudah ditemukan

(Kapitel, 2011: 98).

Situasi tersebut mengajak para SFD untuk mencari jalan supaya karya

pelayanan yang ditangani SFD tetap berlangsung baik. Oleh karena itu untuk

menjawab tantangan zaman yang semakin berat dan juga untuk menjawab

kebutuhan Gereja, maka setiap suster dilibatkan dalam tugas perutusan Gerejani

(SFD, 2007: 108-109). Setiap suster melaksanakan tugas perutusannya dengan giat

dan rajin serta suka cita dalam pengabdian kepada Tuhan dan sesama dengan

penuh rasa syukur.

Untuk mendukung tugas dan perutusan, kongregasi menyiapkan tenaga

suster-suster melalui pendidikan formal, dan non formal dengan harapan supaya

para SFD semakin cakap dalam melaksanakan tugas perutusan. Maka di tengah

tantangan yang dialami oleh kongregasi, para SFD berusaha untuk tetap peka

terhadap kebutuhan-kebutuhan masyarakat dan Gereja, dengan mencurahkan

tenaga sesuai dengan kemampuan kongregasi dan dengan demikian para SFD turut

membangun masa depan Gereja dan masyarakat. Tujuannya ialah supaya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 94: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

70

pelayanan para SFD tetap bisa diterima oleh masyarakat umum dan juga Gereja

sebagai bukti perhatiannya terhadap pengembangan Kerajaan Allah di dunia.

7. Jenis-jenis Pelayanan dalam Kongregasi SFD

Kehadiran dan keberadaan SFD di Indonesia merupakan berkat dan

anugerah Tuhan bagi masyarakat, Gereja dan negara. Di setiap tempat di mana

SFD hadir, hadir pula karya pelayanan untuk masyarakat baik formal maupun non

formal. Sesuai dengan spritualitas pendiri yang selalu siap dan terbuka untuk

kebutuhan dan perkembangan zaman. Dalam pelayanannya para SFD mencoba

untuk mengikuti semangat para pendiri dalam melaksanakan berbagai jenis karya.

Nilai atau keutamaan ‘semangat rajin dan giat’ yang diwariskan oleh para pendiri

kepada para SFD sekarang ini dilaksanakan berdasarkan semangat cinta kasih

kepada Allah dan sesama tanpa adanya unsur keterpaksaan.

Adapun karya-karya pelayanan yang ditangani oleh para SFD di Indonesia

meliputi; pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan di bidang pastoral.

a. Karya Pelayanan di Bidang Pendidikan

Sudah sejak zaman pendiri para suster memulai pelayanannya di bidang

pendidikan di Dongen. Mereka mendidik anak-anak bangsawan dan anak-anak

orang kaya. Buah dari pendidikan turut membawa perkembangan bagi anak-anak

dan bagi keluarga di mana mereka tinggal. Semangat pelayanan para suster

pendahulu, digunakan dan dipertahankan oleh para SFD Indonesia dan dirasa

cocok sesuai dengan permintaan masyarakat sekitar, juga pihak keuskupan di mana

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 95: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

71

para SFD berdomisili. Sekolah-sekolah yang dikelola oleh kongregasi SFD mulai

dari; Play Group, TK, SD, SMP dan SMA.

Kehadiran para SFD di bidang pendidikan tidak lepas dari semangat dan

daya juang pendiri yang memperjuangkan pendidikan bagi anak-anak asrama di

berbagai tempat. Dengan latar belakang tersebut kongregasi SFD Indonesia

semakin berkembang dan menyebarkan sayapnya ke beberapa pulau (Sumatera,

Jawa, Lombok dan Kalimantan) untuk melanjutkan misi pelayanan Yesus lewat

pendidikan. Untuk mempermudah kinerja pelayanan pendidikan di tiap-tiap pulau,

kongregasi SFD sepakat supaya tiap-tiap pulau mempunyai yayasan sendiri untuk

mempermudah sistim pengelolaan.

b. Karya Pelayanan di Bidang Kesehatan

Pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh para SFD terkait dengan

pengalaman St. Fransiskus Asisi bertemu Yesus Kristus yang hadir dalam diri

seorang kusta. Ketika Fransiskus berjumpa dengan Yesus dalam diri orang kusta,

dia mendapat anugerah untuk menyadari bahwa Allah hadir di dunia dalam

manusia yang terluka (Konst, 2007 art 43). Perjumpaan Fransiskus dengan

penderita kusta membawa perubahan dalam diri Fransiskus untuk menyerahkan

apa yang ada padanya kepada orang kusta tersebut. Teladan St. Fransiskus ini yang

kemudian mendasari pelayanan para SFD dalam bidang kesehatan. Namun di luar

itu semua, kesehatan merupakan salah satu kebutuhan yang paling mendasar bagi

setiap orang. Oleh karena itu, kongregasi SFD turut ambil bagian dalam pelayanan

kesehatan dengan maksud mewartakan serta menghadirkan Kasih Allah yang

menyembuhkan dan menyelamatkan. Dalam hal ini orang sakit dipandang sebagai

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 96: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

72

orang yang lemah fisik jasmani maupun rohani. Hingga saat ini, karya yang

dikelola oleh para suster diawali dengan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA),

poliklinik dan menampung titipan anak terlantar dan para jompo.

c. Karya Pelayanan di Bidang Sosial

Pelayanan di bidang sosial berawal dari pengalaman masa lampau para

suster pendahulu yaitu pengajaran dan penampungan kepada kaum muda yang

tidak mendapat tempat dalam keluarganya. Pada saat sekarang ini pelayanan di

bidang sosial berkembang dan diperluas sesuai dengan kebutuhan zaman. Karya-

karya sosial kongregasi diungkapkan dalam bentuk pelayanan rumah lansia,

rehabilitasi untuk orang kusta, menampung asrama dengan mengajar berbagai

macam ketrampilan, memperhatikan masyarakat yang miskin dan lemah, sekolah

luar biasa (SLB) serta karya sosial lainnya. Bentuk kegiatan dan karya sosial

tergantung dari situasi tempat di mana kongregasi tinggal.

Sebagai kongregasi yang aktif kontemplatif melalui pelayanannya, SFD

turut memberikan perhatian pada karya pelayanan yang sungguh berpihak pada

orang yang lemah dan miskin. Dalam konstitusi SFD disebutkan, “Kongregasi

menyiapkan para SFD untuk perawatan orang sakit, lanjut usia, orang cacat, tugas-

tugas pastoral dan beraneka tugas pelayanan yang lain” (Konst, 2007: 45).

Konstitusi ini ingin menunjukkan bahwa kehadiran kongregasi SFD merupakan

sarana untuk bersaksi dan mewartakan cinta kasih Allah di tengah-tengah dunia.

Sebagaimana Allah mengasihi dan peduli terhadap orang-orang lemah dan

tersingkir, demikian juga para SFD turut memberikan diri untuk memperhatikan

orang-orang yang lemah miskin dan terlantar.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 97: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

73

d. Karya Pelayanan di Bidang Pastoral

Sebagai anggota Gereja, para suster SFD dipanggil secara khusus untuk

ikut ambil bagian dalam misi Gereja. Gereja mengharapkan kehadiran para suster

untuk terlibat dan bertanggung jawab dalam “membangun” Gereja yakni turut

ambil bagian untuk melayani umat di bidang pastoral. Dalam pelayanan pastoral

ini para SFD dilibatkan untuk memperhatikan perkembangan iman umat, baik di

paroki maupun di keuskupan. Karya pastoral (kerasulan) yang dilakukan misalnya,

pendalaman iman (katekese), kerasulan keluarga, bidang liturgi dan kerasulan-

kerasulan lainnya.

Perkembangan hidup umat beriman mendorong para SFD untuk berusaha

membawa Kristus ke tengah-tengah dunia agar setiap orang merasakan kebahagian

dan ketenangan dalam hidup. Dalam mengembangkan karya pastoral, para SFD

bekerjasama dengan pastor paroki di mana para suster berada. Untuk

memperkembangkan karya pastoral tersebut, kongregasi mempersiapkan

anggotanya untuk studi pada bagian pastoral (Konst, 2007 art 45). Sebagai

pelayan-pelayan pastoral, para SFD harus memiliki sikap siap sedia, pengabdian,

kerendahan, serta ketulusan hati yang menggambarkan pelayanan Yesus.

D. Makna Doa dalam Karya Pelayanan Para Suster SFD

Doa merupakan sumber atau nafas hidup para SFD. Sebagai sumber hidup,

doa mengalirkan rahmat yang dibutuhkan dalam menjalani hidup panggilan.

Rahmat ini dapat tampak dalam kesabaran, kepekaan, ketekunan, tanggung-jawab,

kesetiaan, cinta kasih dan kebahagiaan para SFD. Sebagai penopang dalam hidup

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 98: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

74

para suster, doa menjadi hal yang pertama dan utama dari segala kegiatan apa pun

yang dilakukan para SFD. Setiap kegiatan selalu diarahkan pada doa sebagaimana

diteladankan oleh Yesus Kristus.

Para SFD diharapkan mampu menanggapi rahmat yang diterima melalui

Ekaristi demi meningkatkan hidup rohani dan juga pengembangan karya pelayanan

mereka. Para SFD mewujudkan rahmat tersebut melalui karya pelayanan yang

dipercayakan kepada mereka. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang

dialami oleh penulis, penulis menemukan sejumlah makna doa yang dihidupi para

SFD dalam karya pelayanan:

1. Doa sebagai Penopang dalam Pelayanan Para SFD

Sebagaimana dirumuskan dalam kapitel pada tahun 2013, bagi para SFD,

doa disebut sebagai penopang hidup dan dihadirkan dalam setiap pribadi dan

peristiwa harian. Oleh karena itu, perlu ada niat dan kemauan yang besar untuk

bertekun dan mengutamakan hidup doa (Kapitel 2013: 1). Doa menjadi sarana

perjumpaan setiap orang (termasuk para SFD) dengan Allah.

Pengalaman perjumpaan akan kehadiran Allah dalam doa, secara praktis

kemudian ditunjukkan dalam pelaksanaan karya pelayanan para suster, seperti

pendidikan, kesehatan, kegiatan sosial dan pastoral. Selain itu, setiap orang (para

SFD) perlu berdoa untuk keselamatan saudara-saudarinya dan juga supaya

hubungannya dengan Allah melalui putera-Nya terus-menerus terjalin. Dalam doa,

setiap orang diharapkan mampu melibatkan Allah dalam pengalaman hidupnya.

Doa tidak hanya turut membantu dalam melakukan sesuatu atau membuat

keputusan, tetapi juga turut membantu dalam penghayatan suatu makna hidup. St.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 99: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

75

Paulus pernah menulis, “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena

itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia

dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah

diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur” (Kol 2: 6-

7).

Ayat ini hendak mengingatkan setiap orang yang telah dibabtis supaya

tidak lagi hidup menurut kehendaknya sendiri, tetapi hidup dalam iman kepada

Yesus Kristus. Kepenuhan Kristus di dalam diri setiap pengikut-Nya merupakan

satu-satunya yang dibutuhkan dan tidak dapat digantikan oleh apa pun juga.

Demikian juga dengan iman akan Yesus Kristus. Sebagai seorang Kristiani, setiap

orang harus melekat dan bersatu dengan-Nya. Iman akan Yesus Kristus akan

semakin teguh, semakin kuat, dan semakin mantap apabila seluruh aspek hidupnya

digantungkan pada Kristus. Inilah tanda seorang murid Kristus yang sejati, yang

mampu mewujud-nyatakan imannya dalam kehidupan dan tindakannya setiap hari.

2. Doa sebagai Sumber Kekuatan bagi Para SFD dalam Berkarya

Bagi setiap orang beriman, doa merupakan sumber kekuatan dalam

menjalani hidup. Injil Lukas 6: 12-19 mengisahkan bagaimana Yesus berdoa

semalaman kepada Allah sebelum menetapkan dua belas rasul-Nya. Dia memohon

petunjuk dari Bapa-Nya dalam memilih para murid yang nantinya akan diserahi

tanggung-jawab untuk mewartakan Kabar Gembira tentang Kerajaan Allah.

Teladan Yesus ini (berdoa sebelum melakukan sesuatu) memberikan inspirasi

kepada setiap orang beriman (para SFD) betapa penting peran sebuah doa.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 100: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

76

Sebagai orang beriman, para SFD juga meneladani cara Yesus dalam

mengambil keputusan yang tepat, yakni dengan berdoa. Setiap mengambil

keputusan misalnya dalam berkaul, menjalankan tugas perutusan yang baru, para

SFD selalu diajak untuk merenung, berdoa dan berefleksi untuk memperoleh

kekuatan. Injil Lukas menginspirasi para SFD untuk menyadari betapa penting

hidup doa, yakni sebagai sarana untuk menimba kekuatan dari Allah dalam

mengambil suatu keputusan.

3. Doa sebagai Sumber Cinta Kasih dalam Pelayanan Para SFD

Selain sebagai penopang hidup dan juga sumber kekuatan, para SFD juga

menghayati doa sebagai sumber cinta kasih. Hal ini menjadi nyata melalui

pengalaman dicintai, mencintai, diterima dan dihargai, baik dalam komunitas

maupun lingkungan sekitar. Pengalaman dicintai, diterima dan dihargai merupakan

tanda berkat Allah melalui orang-orang yang hidup bersama dengan mereka. Para

SFD menyadari kehadiran cinta itu sebagai motivasi untuk tetap hidup di hadirat

Allah terutama melalui doa dan Ekaristi.

Penghayatan para SFD akan doa sebagai sumber cinta kasih mendorong

mereka untuk senantiasa menjalin relasi dengan Tuhan, secara khusus melalui doa,

refleksi, meditasi-kontemplasi, adorasi, rekoleksi dan juga ret-ret tahunan. Relasi

yang intim dan terus-menerus dengan Tuhan menjadikan para SFD senantiasa setia

dalam panggilan mereka sebagai religius dan mampu membagikan cinta kasih itu

kepada sesama. Cinta kasih itu pulalah yang mempersatukan para SFD dalam

melaksanakan tugas pelayanan yang dipercayakan kepada mereka. Cinta kasih itu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 101: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

77

jugalah yang kemudian menjadi buah dari doa pribadi maupun bersama yang

dihidupi para SFD di mana pun mereka berada.

4. Doa sebagai Sumber Persatuan dengan Umat dalam Mewartakan

Kerajaan Allah

Para SFD turut menghayati doa sebagai sumber pesatuan dengan umat. Hal

ini tampak dalam kehadiran dan keterlibatan mereka dalam kegiatan hidup

menggereja. Selain bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan, para SFD juga

terlibat dalam kegiatan pastoral di paroki maupun di stasi. Mereka juga terlibat

dalam kepanitiaan atau seksi-seksi, khususnya pada saat perayaan-perayaan besar

dalam Gereja Katolik. Sejak awal, para SFD sudah dibiasakan mengikuti kegiatan

lingkungan di mana mereka berdomisili.

Para SFD menerima dan menjalani tugas ini sebagai salah satu bentuk

kesadaran akan tanggung jawab mereka sebagai anggota Gereja. Sebagai anggota

Gereja, mereka perlu dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan menggereja. Melalui

kehadiran dan keterlibatan mereka, mereka tentunya akan semakin mengenal dan

mencintai umat Allah. Keterlibatan ini juga turut mempersatukan umat Allah

sebagai saudara seiman.

Dalam Kapitel 2013 : 28-34 dituliskan, “Kehadiran para suster di tengah-

tengah umat memberi warna kehidupan yang dapat dirasakan oleh banyak orang”.

Kehidupan yang dimaksud ialah bahwa kehadiran para SFD dapat mempersatukan

umat yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Hal ini dapat dilaksanakan

dengan memberi perhatian dan dukungan kepada mereka melalui karya yang

dikelola oleh para suster. Dalam hal ini, para SFD memaknai doa sebagai sumber

persatuan, baik dalam komunitas maupun dalam setiap karya yang dikelola.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 102: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 103: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

BAB IV

KATEKESE DENGAN MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS (SCP)

SEBAGAI USAHA MENINGKATKAN MAKNA HIDUP DOA PARA

SUSTER SFD DALAM KARYA PELAYANAN

Bab ini akan diuraikan dalam tiga bagian. Bagian pertama menjelaskan

komponen pokok dalam katekese Shared Christian Praxis (SCP), yaitu tentang

Praksis, Kristiani dan Shared dilanjutkan dengan pemaparan langkah-langkah

Shared Christian Praxis SCP. Bagian kedua berisi tentang alasan katekese Shared

Christian Praxis (SCP) digunakan sebagai usaha meningkatkan hidup doa dalam

karya pelayanan para SFD. Bab ini ditutup dengan usulan program katekese yang

meliputi; pengertian program, rumusan tema dan tujuan program, petunjuk

pelaksanaan program kegiatan katekese model SCP, matriks program dan contoh

persiapan katekese SCP.

A. Komponen Pokok dalam Katekese Shared Christian Praxis (SCP)

Groome, (1997) menuliskan tiga komponen pokok dalam Katekese Shared

Christian Praxis (SCP) yaitu praksis, Kristiani, shared.

1. Praksis

Dikatakan praksis, artinya, mengacu pada tindakan konkrit manusia yang

bertujuan untuk mencapai suatu transformasi. Melalui proses refleksi kritis. Di

dalam unsur praksis, terdapat tiga komponen yang saling berhubungan, yaitu:

aktivitas, refleksi dan kreativitas. Ketiga unsur ini berfungsi membangkitkan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 104: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

79

perkembangan daya imajinasi, meneguhkan kehendak, dan mendorong praksis

baru yang dapat dipertanggungjawabkan secara etis dan moral.

Komponen aktivitas yang dimaksud, meliputi kegiatan mental dan fisik,

tindakan personal dan sosial, hidup pribadi dan kegiatan publik yang semuanya

merupakan medan perwujudan diri manusia sebagai subyek. Sedangkan komponen

refleksi menekankan analisis kritis terhadap tindakan historis pribadi dan sosial,

terhadap praksis pribadi dan kehidupan masyarakat serta terhadap Tradisi dan Visi

Kristiani sepanjang sejarah. Unsur refleksi kritis memungkinkan peserta mampu

menganalisa perannya, serta memahami masyarakat dan permasalahannya.

Selanjutnya, unsur kreativitas merupakan perpaduan antara aktivitas dan refleksi

yang menggarisbawahi “sifat transenden” manusia. Komponen ini juga

menekankan dinamika praksis di masa depan yang terus berkembang sehingga

melahirkan praksis baru (Groome, 1997; 2).

1. Kristiani

Komponen ini menekankan dua unsur penting yaitu pengalaman iman

Kristiani sepanjang sejarah (Tradisi) dan visinya. Tradisi Kristiani mengungkapkan

realitas iman jemaat Kristiani yang hidup dan sungguh dihidupi. Tradisi ini

dipahami sebagai perjumpaan antara rahmat Allah dalam Kristus dan tanggapan

manusia terhadap rahmat Allah itu. Tradisi tidak hanya berupa pengajaran Gereja

tetapi meliputi Kitab Suci, spiritualitas, refleksi teologis, sakramen dan lain

sebagainya. Tradisi dihidupi untuk memupuk identitas Kristiani dan memberi

inspirasi dan makna bagaimana hidup menurut nilai-nilai tersebut.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 105: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

80

Visi Kristiani menekankan janji yang terkandung dalam tradisi, tanggung

jawab dan pengutusan sebagai jalan menghidupi semangat kemuridan. Visi

Kristiani yang paling hakiki adalah terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di

dalam kehidupan manusia. Visi ini lebih menunjuk pada proses sejarah hidup

manusia yang berkesinambungan, bersifat dinamis, dan mengundang penilaian,

penegasan pilihan dan pengambilan keputusan (Groome, 1997: 3).

Kedua unsur pokok ini diharapkan mampu mewujudkan nilai-nilai

Kerajaan Allah yang sungguh dihidupi dan terus-menerus diusahakan. Visi dan

tradisi Kristiani menjadi unsur penting dalam berdialog. Di dalam visi dan tradisi

peserta diajak untuk menemukan nilai kritis dan transformatif, artinya pengalaman

yang direfleksikan berdasar terang iman, sehingga meneguhkan dan menantang

peserta untuk berbuat secara konkret sekaligus menolong mereka untuk

mengembangkan kepribadiannya (Groome, 1997: 3).

2. Shared

Istilah ‘shared’ menunjuk pada pengertian komunikasi timbal balik, di

mana para peserta aktif saling membagi atau bertukar pengalaman. Di sini proses

katekese menekankan aspek dialog, kebersamaan, keterlibatan dan solidaritas.

Dalam dialog ini ada dua unsur penting yang digunakan yaitu; terbuka dan siap

mendengar dengan hati dan berkomunikasi dengan kebebasan hati (Groome, 1997:

4). Terbuka artinya peserta menyampaikan apa yang terjadi atas pengalamannya

dan mengatakan apa dalam dirinya. Sedangkan mendengarkan di sini, tidak hanya

dengan telinga, tetapi juga hati yang simpati atas apa yang dikomunikasikan oleh

orang lain.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 106: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

81

Dalam pelaksanaan ini baik peserta maupun pendamping dapat menjadi

narasumber. Hubungan antara pendamping dan peserta mendatangkan perjumpaan

antar pribadi untuk menyadarkan peserta betapa pentingnya unsur keterlibatan

dalam kebersamaan. Semua peserta menjadi patner yang aktif dan kritis mengolah

pengalaman serta keadaan faktual mereka. Dengan kesadaran yang kritis-reflektif,

peserta didorong untuk membuat penegasan dan penilaian serta mengambil

keputusan yang mendorong keterlibatan baru.

Dalam proses dialog ini diharapkan ada kejujuran, keterbukaan dan

kepekaan serta saling menghormati di antara peserta. Dialog ini menekankan

hubungan dialektis antara praksis faktual peserta dengan nilai dan semangat

Kristiani. Dialog mengandung unsur peneguhan, penegasan, dan keinginan untuk

maju secara bersama. Setelah melakukan interpretasi kritis terhadap pengalaman

pribadi, berdasar refleksinya peserta mengkonfrontasikannya dengan tradisi dan

visi hidup Kristiani. Untuk menginterpretasi tradisi dan visi Kristiani, peserta

menggunakan pemahaman kritis, pengenangan yang analistis dan imajinasi yang

kreatif (Groome, 1997: 4).

Maka kekhasan katekese ini adalah sharing pengalaman iman atau tukar

pengalaman hidup dalam sikap kerendahan hati mau menerima dan membagikan

pengalaman pribadi yang melibatkan kepercayaan kepada orang lain dengan jujur

dan terbuka, dalam suasana saling berharap akan kekuatan dan dukungan dari

sesama.

3. Langkah-langkah (Shared Christian Praxis) SCP

Katekese dengan model SCP dimulai dari langkah pendahuluan. Langkah

ini merupakan langkah untuk mendorong peserta menemukan topik berdasarkan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 107: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

82

pengalaman hidup konkret. Diharapkan agar topik pertemuan sungguh-sungguh

mencerminkan pengalaman hidup peserta, sehingga mendorong mereka untuk

semakin terlibat aktif.

Groome, (1997) mengatakan bahwa lima langkah katekese model Shared

Christian Praxis (SCP) yang saling berurutan, dalam prakteknya bisa tumpang

tindih, terulang kembali, atau langkah satu tergabungkan dengan langkah lainnya.

a. Langkah Pertama: Pengungkapan Pengalaman Hidup Faktual

Kekhasan dalam langkah pertama ini yaitu mengajak peserta

mengungkapkan pengalaman hidupnya, bisa pengalaman diri sendiri ataupun

permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Pengungkapan pengalaman ini

dapat diungkapkan dalam bentuk cerita, puisi, tarian, nyanyian, maupun dalam

gambar sehingga mempermudah peserta untuk menghayatinya (Groome, (1997:

10). Ketika peserta membagikan pengalaman hidupnya semua peserta

mendengarkan. Dalam proses pengungkapan itu, peserta dapat menjelaskan

perasaan mereka, nilai, sikap dan keyakinan yang melatarbelakanginya. Dengan

cara demikian peserta diharapkan menjadi sadar dan bersikap kritis atas

pengalaman hidupnya sendiri dan juga pengalaman orang lain. Langkah ini

bertujuan untuk membantu dan mendorong peserta supaya menyadari pengalaman

mereka dan dapat membagikannya pada peserta lainnya. Hasil sharing yang

sungguh dialami peserta akan memperkaya satu sama lain sehingga dapat saling

meneguhkan (Groome, 1997: 11).

Pada langkah ini peran pendamping berperan sebagai fasilitator yang

menciptakan suasana pertemuan yang menjadi hangat dan mendukung peserta

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 108: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

83

dalam membagikan pengalaman hidupnya. Pendamping membagikan pertanyaan-

pertanyaan yang jelas, terarah, tidak menyinggung harga diri seseorang, sesuai

dengan latar belakang peserta, bersifat terbuka dan obyektif. Langkah ini bersikap

obyektif, yakni mengungkapkan apa yang sesungguhnya tejadi. Guna membantu

jalanya dialog, pendamping perlu bersikap ramah, sabar, hormat, bersahabat dan

peka dengan situasi peserta.

b. Langkah kedua: Refleksi Kritis atas Sharing Pengalaman Hidup Faktual

Kekhasan dalam langkah ini adalah bahwa peserta diajak merefleksikan

secara kritis, praksis faktual yang telah mereka komunikasikan. Peserta kembali

mempertajam dan mengolah pengalaman mereka bersama. Adapun maksud utama

dari refleksi kritis adalah mendorong peserta supaya sampai pada suatu proses

dialektis dari refleksi pengalaman hidup mereka.

Refleksi kritis ini membantu peserta untuk mengetahui dan menggali secara

lebih dalam pemahaman mereka bersama (pertimbangan, alasan, asumsi, ideologi),

segi kenangan (mempertanyakan tentang sejarah hidup, keberadaan sebagai subyek

mendapat bentuk dan wujudnya dari perbuatan yang dilakukan), dan segi imajinasi

(menyadari konsekwensi, kemungkinan, dan tanggung jawab dari praksis faktual

yang bersifat personal maupun sosial). Dengan kata lain refleksi kritis bukan

semata-mata aktivitas rasio/pikiran saja, tetapi mencakup seluruh keberadaan

peserta sebagai subyek.

Segi kenangan membantu peserta untuk sampai pada analisa kritis akan

sumber dan faktor historis dari fraksis factual mereka. Refleksi kritis membantu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 109: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

84

peserta menyadari konsekwnsi pengalaman hidupnya, dan mendorong mereka

untuk menentukan pertimbangan dan alasan praksisnya (Groome, 1997: 14-18).

Adapun tujuan dari langkah ini adalah mengajak para peserta untuk

memperdalam refleksi dan mengantar peserta pada suatu kesadaran kritis akan

keterlibatan peserta untuk menemukan makna dari pengalaman hidupnya, serta

memiliki visi hidup baru yang lebih jelas. Satu hal pokok yang tidak dapat

dilupakan oleh peserta dan pendamping pada langkah kedua ini adalah tercapainya

kesadaran kritis dan kreatif. Berdasarkan tema utama, refleksi kritis diarahkan

supaya peserta mengadakan penegasan bersama sehingga memperoleh suatu

kesadaran akan Tradisi dan visi praksis faktual mereka.

Pada langkah ini, pendamping bertanggung jawab untuk menciptakan

suasana saling menghormati, akrab dan mendukung setiap gagasan maupun

sumbangan para peserta, agar peserta dapat sampai pada refleksi kritis atas

pengalamannya. Selain itu, pendamping diharapkan mampu mendorong peserta

supaya mengadakan dialog dan penegasan bersama guna memperdalam

pemahaman dan imajinasi peserta. Pendamping perlu menyadari kondisi setiap

peserta, terlebih mereka yang tidak bisa melakukan refleksi kritis terhadap

pengalaman hidupnya.

c. Langkah Ketiga: Mengusahakan supaya Tradisi dan Visi Kristiani Lebih

Terjangkau

Kekhasan dalam langkah ini adalah peserta diajak untuk mendialogkan

“tradisi” dan “visi” hidup peserta dengan tradisi Gereja sepanjang sejarah dan

visinya (Groome, 1997: 19). Langkah ini bertujuan untuk mengkomunikasikan

nilai-nilai Tradisi dan Visi Kristiani supaya lebih terjangkau dan lebih mengena

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 110: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

85

untuk kehidupan setiap peserta. Pada langkah ini, pendamping diharapkan dapat

membuka jalan sehingga para peserta mempunyai peluang untuk menemukan nilai-

nilai dari Tradisi dan Visi Kristiani. Tradisi adalah iman Kristiani yang dihidupi

dan diperkembangkan Gereja dalam sejarah. Tradisi tidak hanya sebatas

pengajaran Gereja (dogma) tetapi juga berkaitan dengan Kitab Suci, spritualitas,

devosi, kebiasaan hidup beriman, aneka kesenian Gereja, liturgi dan lain

sebagainya. Sementara itu, visi merefleksikan harapan dan janji, mandat serta

tanggung jawab yang muncul dari Tradisi yang bertujuan untuk mendorong dan

meneguhkan iman peserta dalam keterlibatan mewujudkan nilai-nilai Kerajaan

Allah (Groome, 1997: 19).

Pada langkah ini, pendamping dituntut memiliki latarbelakang yang cukup

untuk dapat menafsirkan Tradisi dan Visi Kristiani bagi kehidupan peserta. Secara

singkat pada langkah ketiga ini, pendamping berperan menginterpretasi dan

mengkomunikasikan aspek-aspek Tradisi dan Visi Kristiani dengan tradisi dan visi

peserta. Pendamping menjadi jembatan penghubung antara nilai Tradisi dan visi

kristiani dengan “tradisi dan visi” hidup peserta. Pendamping membuka jalan,

menghilangkan segala hambatan, mendorong partisipasi aktif dan kreatif (Groome

1997: 28).

d. Langkah Keempat: Interpretasi/Tafsir Dialektis antara Tradisi dan Visi

Kristiani dengan Tradisi dan Visi peserta

Kekhasan langkah keempat adalah bahwa peserta diajak untuk

mendialogkan hasil pengolahan mereka pada pokok-pokok penting yang telah

ditemukan pada langkah pertama dan kedua. Pokok-pokok penting tersebut

dikonfrontasikan dengan hasil interprestasi terhadap Tradisi dan visi Kristiani dari

langkah ketiga. Dasar dialog peserta adalah mempertanyakan bagaimana nilai-nilai

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 111: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

86

Tradisi dan visi Kristiani meneguhkan, mengkritik atau mengundang kesadaran

peserta untuk melangkah pada kehidupan baru demi terwujudnya nilai-nilai

Kerajaan Allah di dunia (Groome, 1997: 29).

Tujuan utama dalam langkah ini yakni memampukan peserta untuk

menghayati dan mensosialisasikan visi dan tradisi Kristiani menjadi miliknya

sendiri atau milik peserta. Dengan demikian peserta sampai pada suatu

perkembangan hidup yang lebih dewasa. Dalam langkah ini, pendamping berusaha

menghargai hasil penegasan peserta serta meyakinkan bahwa mereka mampu

mempertemukan nilai pengalaman hidupnya dengan visi dan tradisi Kristiani

(Groome, 1997: 30). Dari langkah tersebut, peserta dapat secara aktif menemukan

kesadaran atau sikap baru yang hendak diwujudkan. Dengan demikian para peserta

lebih bersemangat dalam mewujudkan imanya, sehingga nilai-nilai kerajaan Allah

makin dapat dirasakan di tengah-tengah kehidupan bersama. Yang menjadi pokok

penting dalam langkah ini adalah wujud dari kesadaran iman yang baru, dapat

memperkaya Tradisi dan Visi Kristiani sehingga peserta menjadi lebih aktif,

dewasa dan misioner.

e. Langkah Kelima: Keterlibatan Baru demi Makin Terwujudnya Kerajaan Allah

di Dunia ini

Kehasan langkah ini adalah terciptanya suatu dialog dan dinamika yang

secara eksplisit mengundang peserta untuk sampai pada keputusan, baik secara

pribadi maupun secara bersama sebagai puncak dan hasil nyata dari model SCP ini.

Keterlibatan baru demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah mendorong peserta

untuk sampai pada keputusan praktis yang dipahami sebagai tanggapan peserta

terhadap pewahyuan Allah. Keputusan praktis berarti sampai pada suatu niat yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 112: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

87

akan diwujudkan secara pribadi maupun bersama ke dalam suatu tindakan konkret

dan mudah dijangkau (Groome, 1997: 34). Langkah ini bertujuan membantu

peserta dalam mengambil keputusan secara moral, konseptual, social dan politis

sesuai dengan nilai iman Kristiani, sehingga peserta dapat mewujudkan nilai

Kerajaan Allah ke dalam tindakan konkret dengan jalan melakukan pertobatan

setiap hari.

Peran pendamping dalam langkah ini adalah mengusahakan lingkungan

yang dialogis yang mendukung setiap peserta sehingga secara antusias bersedia

saling menerima sumbangan dan menunjukkan sikap empati, mendengarkan dan

mendukung setiap keputusan yang muncul (Groome, 1997: 37).

A. Alasan Pemilihan Shared Christian Praxis (SCP) Sebagai Model Katekese

untuk Meningkatkan Hidup Doa dalam Karya Pelayanan Para SFD

Ada banyak model katekese yang dapat digunakan dalam proses membantu

para SFD dalam meningkatkan hidup doa, misalnya model (Shared Christian

Praxis) SCP, model pengalaman hidup, model biblis, model campuran, naratif

eksperensial dan lain sebagainya. Dalam bab ini penulis menawarkan model

katekese SCP yang menekankan proses berkatekese bersifat dialogal dan

partisipatif yang bermaksud mendorong peserta berdasarkan konfrontasi antar

tradisi dan visi hidup peserta dengan Tradisi dan Visi Kristiani agar secara pribadi

maupun bersama mampu mengadakan penegasan dan pengambilan keputusan

demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah (Groome, 1997: 1).

Shared Christian Praxis (SCP) menekankan keberadaan peserta sebagai

subyek yang bebas dan bertanggung jawab dalam mengungkapkan

pengalamannya. Berdasar pada refleksi kritis terhadap pengalaman hidupnya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 113: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

88

dalam kaitannya dengan situasi konkret masyarakat dan komunikasinya dengan

iman dan visi Gereja, peserta secara aktif dan kreatif menghayati imannya dalam

kehidupannya. Dialog yang ditekankan dalam model ini tidak hanya terjadi antar

peserta dengan pendamping, melainkan, juga antar peserta itu sendiri. Maka

pendekatan ini sifatnya multi arah (Groome, 1997: 1).

Katekese model SCP merupakan suatu pendekatan berkatekese yang

bersifat komprehensif. Dikatakan komprehensif karena memiliki dasar teologis

yang kuat, mampu memanfaatkan perkembangan ilmu pendidikan dan memiliki

keprihatinan dalam pelayanan pastoral. Salah satu yang ditekankan dalam model

SCP ini adalah sifatnya yang dialogis partisipatif, sedangkan sarana dan prasarana

SCP bukanlah hal yang utama dalam berlangsungnya katekese melainkan

penghayatan iman peserta yang menjadi pusat katekese.

Katekese model SCP memiliki kekhasan, dengan berpusat pada peserta.

Peserta sungguh menjadi subyek katekese itu sendiri. Dalam proses

pelaksanaannya, model ini menekankan pentingnya kemitraan dan peran

keberadaan peserta sebagai subyek dengan harapan, hidup peserta mendapat peran

penting (Groome, 1997: 1). Dalam langkah-langkah SCP terlihat sangat jelas

kekhasan ini. Langkah pertama menjadikan pengalaman peserta sebagai titik tolak

di mana pengalaman peserta diungkapkan dengan kreatifitas masing-masing

sehingga peserta semakin menyadari dan menemukan nilai-nilai dari pengalaman

hidupnya. Kelima langkah model SCP ini dapat menyentuh setiap pribadi peserta

baik segi pemahaman, kenangan, pemikiran, imajinasi, pelayanan maupun

perwujudan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 114: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

89

Melalui pemahaman, peserta didorong mengungkapkan dan menilai

pengalaman faktual (aspek kognitif). Peserta memiliki kebebasan dan terbuka

dalam menilai, mempertimbangkan, mengambil keputusan dan mengaktualisasikan

Tradisi dan Visi Kristiani serta mengkonfrontasikan tradisi dan visi mereka dengan

Tradisi dan Visi Kristiani (aspek kognitif dan afektif). Peserta diajak untuk

mengambil keputusan secara pribadi dan bersama dalam keterlibatan di tengah

masyarakat.

Hal-hal di atas mendorong penulis memilih SCP (Shared Christian Praxis)

sebagai model berkatekese bagi para SFD dalam rangka membantu para SFD

meningkatkan dan memperdalam penghayatan hidup doa St. Fransiskus dan

spiritualitas kongregasi SFD. Dengan model katekese ini Tradisi dan Visi Kristiani

direfleksikan dan dikomunikasikan dalam pengalaman doa dan karya pelayanan.

Oleh sebab itu para SFD diharapkan semakin memahami dan menghidupi

kharisma mereka.

Model SCP ini salah satu contoh katekese yang tepat digunakan para SFD

untuk membantu meningkatkan semangat hidup doa mereka sebab, model ini

didasarkan pada kekuatan pengalaman peserta yang menjadi titik tolak utama.

Peserta dilibatkan secara aktif untuk mengungkapkan pengalaman hidupnya, lalu

direfleksikan dan dikonkritkan dalam aksi nyata. Di samping itu penulis melihat

bahwa katekese model SCP sesuai dengan pembahasan tentang bagaimana hidup

doa saling mendukung dengan karya pelayanan para SFD.

Dalam realita hidup, para SFD telah menghidupi doa dengan terlibat dalam

berbagai kegiatan seperti dalam karya pastoral, pendidikan, kesehatan dan sosial.

Para SFD melaksanakan pekerjaannya dengan penuh kesadaran dan tanggung

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 115: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

90

jawab bukan karena supaya dipuji, terkenal dan dianggap lebih mampu dari saudari

yang lain tetapi karena kesadaran sungguh akan tugas dan tanggung jawab sebagai

seorang religius yaitu mewartakan nilai Kerajaan Allah ke seluruh dunia.

Kehidupan rohani menjadi kekuatan dalam setiap karya pelayanan para SFD. Akan

tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang ada dari sebagian para SFD

melaksanakan doa sebagai rutinitas saja yang penting hadir dalam doa sehingga

tidak mengherankan berbagai alasan dan cara untuk tidak hadir berdoa dengan

sepenuh hati. Bahkan para SFD kadangkala kurang menyadari dan menghayati

makna doa sebagai penopang dalam hidup panggilannya. Hal ini nyata dialami dan

disaksikan oleh penulis ketika mengikuti doa bersama terkadang ada suster

terlambat waktu berdoa, mengantuk berdoa, kurang aktif dalam mendaraskan

mazmur, bernyanyi dan lain sebagainya.

Bertolak dari pengalaman ini, Shared Christian Praxis merupakan salah

satu katekese yang sesuai untuk membantu para SFD supaya semakin menghayati

hidup doa dalam hidupnya. Melalui Shared Christian Praxis para SFD diajak

untuk merubah pola hidupnya untuk lebih baik dan melakukan aksi-aksi konkret

yang ditemukan melalui refleksi kehidupannya. Shared Christian Praxis sebagai

model katekese yang kontekstual mampu mempertemukan pergulatan hidup para

SFD dengan kekayaan iman Gereja, sehingga hidup rohani dan iman para SFD

semakin diperkembangkan, dan menemukan semangat baru dan usaha untuk hidup

jauh lebih baik.

B. Usulan Program Katekese

1. Pengertian Program

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 116: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

91

Program adalah landasan untuk menentukan isi dan urutan-urutan rencana

yang akan dilakukan. Pada umumnya, istilah program ada kaitannya dengan

rencana dari suatu kegiatan tertentu. Kata program pada umumnya menyangkut

sesuatu yang menyeluruh, yaitu sejumlah rangkaian kegiatan. Istilah program yang

dimaksud di sini ialah berupa perencanaan yang sistematis dengan tujuan dan arah

yang jelas. Program ini disebut sebagai prosedur yang dijadikan landasan untuk

menentukan isi dan urutan acara-acara yang akan dilaksanakan (Suhardiyanto,

2010: 4).

Menurut Mangunhardjana (1986: 16), program merupakan prosedur untuk

menentukan isi dan urutan yang akan dilaksanakan demi pencapaian suatu tujuan.

Program adalah sebuah rangkaian kegiatan yang disusun secara sistematis yang

mencakup tentang tema, tujuan, isi, metode, sarana yang ingin dicapai.

2. Tujuan Program

Tujuan dari program ini adalah untuk membantu meningkatkan semangat

hidup doa, agar umat beriman, secara khusus para SFD, untuk semakin

bersemangat dalam melaksanakan tugas pelayanan dengan didasari oleh kasih yang

berasal dari Allah sendiri. Selain itu supaya para SFD semakin mendalami dan

merefleksikan panggilannya sebagai perpanjangan tangan Tuhan dalam

mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah melalui karya pelayanan yang ada dalam

kongregasi SFD. Penulis berharap supaya para SFD mampu menyatukan hidup

doa dan karya pelayanan.

3. Rumusan Tema dan Tujuan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 117: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

92

Tema Umum : Doa sebagai daya kekuatan dalam hidup serta karya

pelayanan para Suster Fransiskus Dina (SFD)

Tujuan Umum : Bersama peserta mampu meningkatkan hidup

doa dan pelayanan dengan mendalami dan menghidupi

spiritualitas SFD yang bersumber pada warisan rohani

St. Fransiskus Asisi dan para suster pendahulu.

Dengan demikian, para SFD mampu melayani dengan

sungguh-sungguh.

Sub tema I : Relasi dengan Tuhan dijalin melalui

doa-hening dan pertobatan terus-menerus

seturut teladan St. Fransiskus Asisi.

Tujuan : Bersama peserta, memahami dan menyadari betapa

pentingnya menjalin relasi yang akrab dengan Tuhan

melalui doa-hening serta pertobatan terus-menerus,

untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhan sehingga

mampu bersyukur atas kebaikan-Nya.

Sub tema II : Kepedulian St. Fransiskus terhadap orang kecil

menjadi sumber inspirasi bagi para SFD untuk berbagi

dengan orang yang membutuhkan.

Tujuan : Bersama peserta, menyadari bahwa kepedulian

St. Fransiskus Asisi dalam berbagi menjadi inspirasi

dalam meningkatkan pelayanan para SFD dalam hidup

sehari-hari.

Sub tema III : Mengikuti Kristus yang miskin dalam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 118: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

93

semangat kesederhanaan seturut teladan St. Fransiskus

Asisi.

Tujuan : Bersama peserta, berusaha meneladani Kristus

yang miskin sehingga semakin mampu mengalami

Yesus dalam kesederhanaan-Nya seturut teladan St.

Fransiskus Asisi.

Sub tema IV : Menjadi pelayan bagi Tuhan dan sesama

Tujuan : Bersama peserta, menyadari panggilannya

untuk melayani Tuhan dan sesama, sehingga dari hari

ke hari semakin bersedia untuk melayani demi

kemuliaan Tuhan dan sesama.

4. Petunjuk Pelaksanaan Program Kegiatan Katekese Umat Model SCP

Agar pelaksanaan katekese ini berlangsung dengan baik maka dibutuhkan

suatu persiapan yang mantap dalam pembuatan program. Program ini disusun

berdasarkan hasil refleksi penulis atas keprihatinan dan masalah yang dihadapi

para suster SFD di dalam doa dan karya pelayanan. Program ini akan dilaksanakan

sesuai dengan waktu yang sudah disepakati bersama.

Sasaran dari katekese ini adalah seluruh anggota SFD, baik suster yunior,

medior maupun senior, khususnya di Sumatera Utara. Dalam pelaksanaan katekese

model SCP ini, para SFD akan dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama

dikhususkan untuk para suster yunior. Kedua ditujukan bagi para suster medior,

sedangkan kelompok ketiga adalah para suster senior. Apabila dalam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 119: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

94

pelaksanaanya jumlahnya terlalu banyak, maka pendamping akan membagi

beberapa kelompok lagi sesuai dengan kebutuhan peserta.

Pelaksanaan katekese ini diadakan setiap bulan dengan catatan bahwa

pemandu berkeliling ke tempat para SFD yang sudah disepakati komunitas untuk

diadakan katekese model SCP. Tempat pelaksanaan di ruang pertemuan para SFD

di Sumatera Utara per rayon. Waktu pelaksanaan diadakan mulai bulan Februari

2015 setiap bulan pada pekan ketiga pukul 19.30-21.00 wib.

5. Matriks Program

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 120: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 121: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

95

6. Matriks Program SCP

Tema : Doa sebagai daya kekuatan dalam hidup serta karya pelayanan para Suster Fransiskus Dina (SFD)

Tujuan Umum : Bersama peserta mampu meningkatkan hidup doa dan pelayanan dengan mendalami dan menghidupi spiritualitas SFD

yang bersumber pada warisan rohani St. Fransiskus Asisi dan para suster pendahulu. Dengan demikian, para SFD mampu

melayani dengan sungguh-sungguh.

No Tema Tujuan Uraian Materi Metode Sarana Sumber Bahan

1 Relasi dengan Tuhan

dijalin melalui doa-

hening dan pertobatan

terus-menerus seturut

teladan St. Fransiskus

Asisi.

Bersama peserta,

memahami dan

menyadari betapa

pentingnya menjalin

relasi yang akrab

dengan Tuhan melalui

doa-hening serta

pertobatan terus-

menerus, untuk

semakin mendekatkan

diri pada Tuhan

sehingga mampu

bersyukur atas

kebaikan-Nya.

- Fransiskus Asisi

teladan hidup SFD

dalam mengikuti

Kristus

- Semangat doa dan

keheningan batin

- Perjalanan

pertobatan

- Buah-buah

pertobatan

- Tindakan –tindakan

pertobatan

- Sharing,

- Refleksi

pribadi,

- Informasi,

- gerak dan

lagu,

- Tanya

Jawab

- Teks

perikop Injil

Markus

1:35-39

- Teks lagu

- Laptop dan

LCD

- Film St.

Fransiskus

dari Asisi

- Lilin dan

Salib

- Alat tulis

dan kertas

Hvs

- Konst SFD art 30-33

- Kitab Suci

- Stefan Leks (2003).

Tafsir Injil Markus,

Yogyakarta Kanisius.

- Martino Conti (2006)

Identitas Fransiskan

hal 49-60, 65-75

2 Kepedulian St.

Fransiskus terhadap

orang kecil

menjadi sumber

inspirasi bagi para SFD

untuk berbagi dengan

Bersama peserta,

menyadari bahwa

kepedulian

St. Fransiskus Asisi

dalam berbagi menjadi

inspirasi dalam

- Lima sikap dasar

spiritualitas SFD

- Membangun

persaudaraan yang

mendukung

pelayanan cintakasih

- Sharing

- Refleksi

pribadi

- Informasi

- Gerak dan

lagu,

- Teks lagu

- Lilin dan

Salib

- Spidol dan

kertas flap

- Musik

- Mat 25:31-46

- Thomas Celano (1984)

Riwayat hidup St.

Fransiskus yang

pertama dan kedua pasal

28 no 76

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 122: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

96

orang yang

membutuhkan.

meningkatkan

pelayanan para SFD

dalam hidup sehari-

hari.

- Anugerah untuk

mengabdi dan

bekerja

- Tanya

Jawab

- Potongan

gambar

instrument

-

- Konstitusi (2007) art 41-

42

- Martino Conti (2006)

Identitas Fransiskan hal

112

- Judith de Raat (2000)

Sebuah Harta

Tersembunyi:

Spiritualitas Suster-

Suster Fransiskanes

Dongen, Etten, dan

Roosendal. Jakarta.

Luceat

3 Menjadi pelayan bagi

Tuhan dan sesama

Bersama peserta,

menyadari

panggilannya

untuk melayani Tuhan

dan sesama, sehingga

dari hari ke hari

semakin bersedia untuk

melayani demi

kemuliaan Tuhan dan

sesama.

- “Mother Teresa”

teladan pelayanan bagi

orang-orang kecil,

miskin dan terlantar

- Orang Samaria yang

murah hati (Luk

10:25-37)

- Kerendahan hati dan

kemurahan hati dan

kemurahan hati dalam

pelayanan

- Pelayan yang sejati

- Kristus sebagai teladan

utama melayani

sesama

- Informasi

- Sharing

- Diskusi

film

- Tanya

jawab

- Refleksi

- Peneguhan

- Lagu dan

gerak

- Teks lagu

- Alat tulis

- Kertas flep

- Film Mother

Theresia dari

Kalkuta

- Teks Kitab

Suci Injil

- Laptop &

LCD

- Lilin dan

Salib

- Kitab Suci

- Ladjar, 1998: Fransiskus

dan Karya-karya-Nya.

Yogyakarta; Kanisius

- Yohannes Paulus II 1990;

Redemtoris Missio art 20

- Soenarja,SJ (1987):

Inspirasi

batin.Yogyakarta:

Kanisius.

- Eko Riyadi, Pr (2011):

Tafsir Injil Yohannes.

Yogyakarta: Kanisius.

- T. Krispurwana Cahyadi,

SJ. (2003). Jalan

Pelayanan Ibu Teresa

Jakarta: Obor

4 Mengikuti Kristus yang Bersama peserta, - Keterlibatan dalam - Sharing - Teks lagu - Mat 4:18-12

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 123: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

97

miskin dalam

semangat

kesederhanaan seturut

teladan St. Fransiskus

Asisi.

berusaha meneladani

Kristus yang miskin

sehingga semakin

mampu mengalami

Yesus dalam

kesederhanaan-Nya

seturut teladan St.

Fransiskus Asisi.

perayaan Ekaristi

- Kemiskinan Muder

Yohanna Yesus di

hadapan Allah menjadi

sumber inspirasi bagi

para SFD

- Sabda bahagia

- Diskusi

- Tanya

jawab

- Refleksi

- Peneguhan

- Lagu dan

gerak

- Lilin dan

Salib

- Alat tulis dan

kertas hvs

- Musik

instrument

- Laptop &

LCD

- Anggaran Dasar Ordo III

Regular St. Fransiskus

Asisi (2002) Jakarta

SEKAFI

- Kontitusi (2007) art 18-

25

- Judith de Raat (2000)

Sebuah Harta

Tersembunyi:

Spiritualitas Suster-

Suster Fransiskanes

Dongen, Etten, dan

Roosendal. Jakarta.

Luceat

- Martino Conti (2006)

Identitas Fransiskan hal

132-143

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 124: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

98

1. Contoh Persiapan Katekese Model SCP

a. Identitas

1) Pelaksana : Sr. Skolastika, SFD

2) Nim : 091124037

3) Tema : Menjalin relasi yang akrab dengan Tuhan melalui

doa-hening dan pertobatan terus-menerus seturut teladan

St. Fransiskus Asisi.

4) Tujuan : Bersama peserta, memahami dan menyadari bahwa

menjalin relasi yang akrab dengan Tuhan melalui doa-

hening serta pertobatan terus-menerus akan dapat semakin

mendekatkan diri pada Tuhan dan selalu bersyukur atas

kebaikan-Nya dalam hidup sehari-hari.

5) Peserta : Para Suster Fransiskus Dina (SFD)

6) Waktu : 90 Menit.

7) Metode : Cerita, sharing, refleksi pribadi, informasi, gerak

dan lagu, game/permainan, Tanya Jawab

8) Model : Shared Christian Praxis (SCP).

9) Sarana : - Teks Injil Markus 1:35-39

- Teks lagu

- Film St. Fransiskus dari Asisi

- Laptop & LCD

- Lilin dan Salib

10) Sumber bahan : - Konstitusi SFD art 30-33

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 125: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

99

- Stefan Leks (2003). Tafsir Injil Markus, Yogyakarta

Kanisius.

- Kisah Ketiga Sahabat, (2000) Riwayat Hidup St.

Fransiskus Asisi; terjemahan (Cletus Groenen, OFM)

Jakarta SEKAFI

b. Pemikiran Dasar

Kita menyaksikan saat ini, ada begitu banyak peristiwa sosial-ekonomi-

politik yang negatif seperti korupsi yang semakin merajalela, perang yang

membawa kehancuran dan kematian, persaingan ekonomi yang semakin tinggi dan

lain sebagainya. Hal ini membuat manusia semakin tidak peduli dengan orang lain.

Hati nurani manusia sudah mulai tertutup oleh keegoisan dan keangkuhan hingga

menganggap diri sendiri lebih hebat dibandingkan dengan karya Allah. Waktu

untuk bekerja dirasa kurang. Setiap hari manusia berlomba-lomba untuk bekerja

demi memperoleh harta duniawi sebanyak mungkin. Kesempatan untuk bersyukur

kepada Tuhan tidak ada lagi karena semua waktu digunakan untuk bekerja dan

bekerja. Padahal, jika disadari, setiap orang perlu menimba kekuatan dari Tuhan

sebagai pemberi kehidupan.

Gejala itu juga terjadi dalam diri para SFD, sehingga kedisiplinan untuk

hadir menggunakan waktu berdoa sudah mulai mulai menurun. Kesibukan dan

kemapanan dalam pekerjaan menjadi penghalang untuk bertemu dengan Tuhan.

Kecenderungan seperti ini bukan saja mengganggu hidup rohani pribadi tetapi

akan mengganggu pula hidup persaudaraan bahkan dalam tugas pelayanan sebagai

SFD. Padahal, keheningan batin perlu diperhatikan dan dipupuk terus-menerus.

Godaan-godaan perlu diwaspadai dan dicari solusinya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 126: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

100

Dalam konstitusi dikatakan bahwa doa adalah cara hidup kita. Doa adalah

dasar dan penopang hidup kita, karena dalam keheningan dan doa kita dapat

merasakan kehadiran Allah. Sebagai seorang religius doa adalah juga nafas hidup

kita.

Yesus selalu mengawali karya-Nya dengan doa. Dalam Injil Markus 1:35-

39 dituliskan, “pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi

keluar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana”. Dengan bercermin pada

Yesus, para SFD yang hidup aktif kontemplatif, perlu memberi waktu untuk

menimba kekuatan dari Tuhan melalui doa. Doa mengarahkan kita pada karya

keselamatan Allah dalam Gereja-Nya. Doa mendorong karya keselamatan, dan

karya mendorong untuk memahami keselamatan itu.

c. Pengembangan Langkah-langkah

1) Pembukaan

Para suster yang terkasih, selamat malam dan selamat berjumpa untuk kita

semua. Syukur pada Tuhan karena kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul

berbagi pengalaman iman sebagai saudara sepanggilan. Sebagai religius SFD kita

dipanggil dan diutus untuk menjadi pewarta kabar gembira kepada semua orang.

Di samping kesibukan kita sehari-hari, kita perlu menggali dan menimba kekuatan

dari Tuhan, seperti St. Fransiskus Asisi yang mempunyai kerinduan untuk menjalin

relasi dengan Yesus. Doa-hening selalu menjiwai seluruh hidupnya. Ia telah

meninggalkan harta duniawi demi Yesus yang tersalib. Baginya penyerahan diri

Yesus kepada kehendak Bapa-Nya menjadi inspirasi dalam hidupnya untuk

mengabdi Tuhan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 127: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

101

Yesus telah memberi contoh untuk kita teladani, bahwa di tengah

kesibukannya Ia selalu menyediakan waktu untuk berdoa, bertemu dengan Bapa-

Nya. Kiranya model doa dan pelayanan Yesus ini menjadi contoh bagi kita dalam

hidup sehari-hari sehingga dalam situasi apapun kita tetap menjalin kesatuan

dengan-Nya.

2) Lagu Pembuka: “Ku Bersyukur pada-MuYesus” (teks)

3) Doa Pembuka

Allah Bapa yang mahabaik, Engkau telah membuktikan kasih setia-Mu

kepada kami hingga sampai saat ini. Kami bersyukur ya Bapa atas kemurahan dan

kebaikan-Mu yang kami rasakan sepanjang hari ini, sehingga saat ini Engkau

mengumpulkan kami di tempat ini. Bapa yang mahabaik, pada kesempatan ini

datanglah di tengah kami, agar kami mampu mengikuti Putera-Mu seperti yang

diteladani St. Fransiskus Asisi yang setia dalam doa dan dalam karya pelayanan.

Berilah kami sikap peka terhadap kebutuhan sesama kami dan jadikanlah hati kami

menjadi tempat kediaman Putera-Mu agar kami mampu memancarkan kasih yang

berasal dari pada-Mu. Dan kuasailah hati, budi dan pikiran kami semua, supaya

melalui SCP ini kami semakin dikuatkan satu dengan yang lain. Doa dan harapan

ini kami mohonkan dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

Langkah I: Pengungkapkan Pengalaman hidup Faktual

Pemandu memutar film St. Fransiskus Asisi dan mengajak peserta untuk

menyimak film tersebut

Pemandu meminta satu atau dua orang peserta untuk menceritakan kembali

isi dari film St. Fransiskus Asisi secara singkat.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 128: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

102

Intisari film St. Fransiskus Asisi (oleh pemandu)

Fransiskus adalah seorang anak bangsawan. Ayahnya bernama Pietro

Bernardone, ibunya Dona Picca. Pada masa mudanya, ia hidup dengan penuh

kemewahan karena orang tuanya pedagang kain yang amat kaya. Ia disenangi oleh

teman-temannya karena murah hatinya, dan tangannya yang boros. Setiap malam

Fransiskus bersama teman-temannya meramaikan jalan-jalan di Asisi. Pada waktu

itu, dunia diliputi perang. Semua pemuda, termasuk Fransiskus ikut berperang. Ia

bercita-cita menjadi seorang satria yang terkenal, tetapi tidak tercapai karena ia

merasa terpanggil untuk terlibat dalam karya keselamatan oleh Tuhan. Fransiskus

melepaskan dan memberikan seluruh peralatan perang yang dibawanya kepada

temannya.

Suatu ketika Fransiskus meninggalkan rumah dan pergi mencari orang

miskin dan sakit kusta. Hasil jualan kain dibagi-bagikan kepada orang miskin.

Melihat kejadian itu Pietro marah besar dan mempermalukan Fransiskus di depan

orang banyak. Pada saat itu juga Fransiskus memberikan segala yang ada dalam

tubuhnya kepada ayahnya.

Seorang perempuan bernama Clara terpikat dengan cara hidup Fransiskus

yang sederhana dan periang. Clara memberanikan diri dan bergabung dengan

Fransiskus. Suatu ketika, Fransiskus mendengar berita bahwa seekor serigala

memakan banyak korban dan semua orang takut keluar rumah. Mendengar berita

itu, Fransiskus pergi ke tempat serigala itu. Ia mendekati serigala dan mengajaknya

untuk berdamai. Akhirnya serigala itu pun tunduk kepadanya.

Menjelang akhir hidupnya, Fransiskus menderita sakit parah. Ia dirawat oleh para

pengikutnya termasuk Clara. Sebelum meninggal, Fransiskus menyuruh saudara

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 129: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

103

Leo menuliskan wejangan untuk para pengikutnya. Jenasah Fransiskus

dimakamkan dekat biara St. Clara.

Panduan pertanyaan

Apa yang terjadi dalam diri Fransiskus sehingga perlengkapan perang dan

segala yang ada padanya ditinggalkannya?

Apakah para suster mempunyai pengalaman yang mirip dengan

pengalaman Fransiskus meninggalkan segalanya karena menjadi pengikut-

Nya?

Suatu contoh arah rangkuman

Para suster yang terkasih dalam Kristus, dalam film tadi, Fransiskus lebih

memilih mengabdi Allah dari pada menjadi seorang satria yang terkenal. Allah

telah mengubah keinginannya untuk memperbaiki gereja-Nya yang sudah roboh.

Sehingga segala perlengkapan perang tidak lagi menjadi hal yang utama dalam

dirinya. Ia menanggapi tawaran Allah dengan bahagia. Fransiskus memberikan apa

yang ada padanya kepada temannya dan juga kepada orang tuanya termasuk

pakaiannya dan mengikuti Yesus yang miskin dan sederhana.

Kita semua mempunyai pengalaman berbeda-beda, misalnya; mempunyai

kesulitan dalam meninggalkan orang tua, sahabat, saudara/i, kebiasaan-kebiasaan

kita dan lain sebagainya. Perasaan takut dalam memulai hal yang baru terkadang

muncul. Tetapi juga ada orang yang merasa senang meninggalkan segalanya dan

tidak mau terikat dengan orang tua, sanank saudara dan lain sebagainya.

Langkah II: Refleksi Kritis atas Pengalaman Hidup Faktual

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 130: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

104

Peserta diajak untuk merefleksikan sharing pengalaman cerita di atas

dengan dibantu beberapa pertanyaan:

Bagaimana sikap dan cara para suster dalam menghadapi kesulitan atau

kesalahpahaman dalam komunitas dan dalam karya pelayanan.

Mengapa bersikap demikian?

Rangkuman singkat.

Para suster yang terkasih, setelah kita berefleksi atas pengalaman hidup kita

sendiri, tampaklah begitu banyak kemungkinan sikap dan cara yang dapat kita

ambil. Ada orang yang cepat putus asa dan kecewa karena problema yang

dihadapi, baik itu dari diri sendiri, sesama, maupun karena pekerjaan kurang baik,

namun ada juga orang yang bersikap penuh iman kepada kehendak Tuhan, dan

dengan kerendahan hati mau bertobat dan memafkan, berdoa mohon kekuatan dan

ketabahan dari-Nya supaya dapat mencari solusi yang terbaik.

Allah selalu menyadarkan kita entah dalam peristiwa apapun itu.

Tergantung pribadi kita menyadari atau tidak. Pengalaman dalam hidup bersama,

kerja lapangan seperti; merawat orang sakit, mendampingi anak-anak sekolah,

anak-anak asrama dan lain sebagaianya, menuntut sikap pengorbanan. Sikap dan

perilaku mereka terkadang menyadarkan dan menguatkan hati kita supaya kita

melayani dengan tulus. Selain dalam pekerjaan kita juga disadarkan oleh Allah

dengan pengalaman yang beranekaragam itu untuk tetap rajin dan giat dalam

berdoa dan bekerja. Doa sangat membantu kita untuk keluar dari kesulitan atau

permasalahan dalam hidup. Inilah cara yang dapat membantu kita untuk bisa

melaksanakan tugas pelayanan dengan tulus. Dalam keheningan dan ketenangan

batin kita dapat melihat karya Allah dalam diri kita juga dalam diri sesama.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 131: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

105

Kehadiran Allah dapat kita rasakan apabila kita memberi tempat untuk Dia

bersemayam dalam hati kita.

Langkah III: Mengali Pengalaman Iman Kristiani

Salah seorang peserta diminta untuk membaca Injil Markus 1:35-39. Para

peserta diberi kesempatan hening sejenak untuk membaca dalam hati dan

merenung sabda Tuhan dengan bantuan beberapa pertanyaan:

Ayat mana yang menunjukan bahwa Yesus selalu bersekutu dengan Bapa-

Nya sebelum memulai karya-Nya?

Mengapa Yesus mengajak Simon dan pengikut lainnya pergi ke tempat

lain untuk memberitakan Injil?

Apa yang dapat kita teladani dari makna doa dan pelayanan Yesus untuk

kita zaman sekarang ini?

Rangkuman singkat

Para saudari yang terkasih. Ayat yang menunjukkan Yesus bersekutu

dengan Bapa-Nya sebelum memulai pekerjaan-Nya terdapat dalam ayat 35

dikatakan ‘pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi keluar. Ia

pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Setelah Yesus “berkomunikasi”

dengan Bapa-Nya, Ia dikuatkan dan disemangati dalam mewartakan Injil keseluruh

dunia.

Yesus mempunyai komitmen dalam tugas yang diemban dari Bapa-Nya:

mewartakan Injil Kerajaan Allah. Yesus mengharuskan diri-Nya untuk

mewartakan Injil bukan karena orang lain yang mengharuskan tetapi karena misi-

Nya. Ia berkeliling mewartakan kerajaan Allah dengan berkotbah, mengajar,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 132: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

106

menyembuhkan orang sakit serta mengusir roh-roh jahat. Yang sakit disembuhkan,

yang putus harapan diberi peneguhan.

Sebagai pengikut Kristus kita pantas meneruskan komitmen Yesus ini. Kita

mesti terlibat dalam mewartakan Kerajaan Allah dengan penuh suka cita, bukan

hanya karena tugas kita, dan bukan pula karena orang lain memberikan tugas itu

kepada kita. Kita harus memberitakan Injil sesuai tugas dan tanggung jawab kita

sebagai para SFD yang dipanggil Tuhan. Sebagaimaan Yesus sendiri berkeliling

untuk mewartakan Kerajaan Allah, kita pun dipanggil Tuhan untuk melayani dan

berbuat baik kepada semua orang.

Langkah IV: Interprestasi/Tafsir Dialektis antara Tradisi dan Visi Kristiani dengan

Tradisi dan Visi Peserta

1) Pengantar

Para suster yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,

Dalam pembahasan sebelumnya kita akan menemukan tuntutan Yesus bagi

para pengikutnya yaitu supaya mengambil waktu untuk beristirahat, berdoa sejenak

sebelum memulai pekerjan. Kita sebagai pengikut-Nya dituntut supaya senantiasa

berdoa dan menyerahkan kehendak dan kebebasan pribadi kepada-Nya. Meskipun

dalam perjalanan hidup, kita sering kurang mampu untuk melasanaknnya karena

kita kurang rela untuk menyerahkan kehendak dan kebebasan kita. Namun pada

saat ini, Yesus menyadarkan kita kembali kepada panggilan kita sebagai murid-

Nya supaya kita berdoa menjalin relasi dengan-Nya dan menyerahkan hidup kita

kepada-Nya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 133: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

107

Agar kita semakin mampu menghayati dan menyandarkan diri kepada-Nya

maka, dalam saat hening ini, terlebih dahulu kita akan secara pribadi merenungkan

pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

Apa makna doa dalam hidup panggilan kita sebagai SFD?

Bagaimana kita meningkatkan hidup doa menjadi bagian yang terpenting

dalam hidup kita?

(Saat Hening diiringi dengan musik Instrumental untuk mengiringi renungan

secara pribadi akan pesan Injil dalam situasi konkret. Kemudian diberi kesempatan

untuk mengungkapkan hasil renungan pribadinya).

Suatu contoh rangkuman

Para suster yang terkasih, dengan jelas Yesus memberi pesan kepada para

pengikut-Nya supaya tetap menjalin relasi yang akrab dengan-Nya. Doa adalah

sebagai penopang dan kekuatan dalam hidup kita. Doa adalah nafas hidup kita,

inspirasi dalam hidup yang membantu kita untuk semakin dekat dengan-Nya.

Tanpa doa kita gagal menjadi murid-Nya sebab kita tidak mampu melihat kebaikan

Tuhan dalam hidup ini. Oleh karena itu, kita harus berusaha untuk menyerahkan

kehendak dan kebebasan pribadi kita kepada-Nya.

Kemalasan untuk menjalin relasi dengan Allah adalah akibat dari kelekatan

pada kehendak kebebasan pribadi kita. Maka kita perlu memupuk hidup rohani kita

misalnya membuat komitmen dalam diri sendiri untuk menggunakan waktu berdoa

dengan baik, mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada dalam kongregasi seperti

rekoleksi, retret, seminar dan lain sebagainya. Selain itu, kita juga terlibat dalam

kegiatan pastoral dan sosial sebagaimana yang sudah kita mulai. Perlu kita sadari

doa tidak bisa lepas dari karya pelayan kita.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 134: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

108

Langkah V Keterlibatan baru demi makin terwujudnya Kerajaan Allah.

Pengantar

Para suster yang dikasihi Tuhan, kita telah menggali pengalaman iman kita

dengan kisah St. Fransiskus yang menemukan Allah dalam doanya dan

menyadarkan dia untuk bertobat. Buah dari pertobatannya ia melayani Tuhan

dengan tulus. Sikap yang kita bangun apabila menghadapi

kesulitan/kesalahpahaman adalah berani berkorban, berani berubah dan

memasrahkan segalanya kepada rencana dan kehendak Tuhan.

Dalam Injil Markus, kita melihat bahwa sebelum memulai karya-Nya,

Yesus selalu berdoa. Kita semua adalah orang yang dipanggil secara khusus, diberi

kuasa dan diutus mewartakan Kerajaan Allah. Kita telah menemukan bersama

bagaimana doa itu, sungguh bermakna dalam hidup kita yaitu sebagai penopang

dan kekuatan dalam hidup kita. Sekarang marilah kita hening sejenak untuk

merenung dan memikirkan hal apa yang akan kita buat untuk meningkatakan doa-

doa kita supaya doa itu sungguh menjiwai seluruh hidup kita. Dan kita pun

melakukan doa itu dengan bahagia.

(Suasana hening diiringi instrument, pendamping memberi tuntunan

pertanyaan untuk memikirkan niat-niat pribadi, maupun bersama dalam bentuk

keterlibatan baru sebagai berikut):

Keputusan konkret apa yang dapat dipetik untuk meningkatkan hidup doa

kita?

Apa langkah-langkah untuk mewujudkan rencana konkret kita membantu

mereka yang miskin?

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 135: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

109

(Hening sejenak, kesempatan untuk doa umat spontan yang di awali oleh

pendamping kemudian dilanjutkan oleh peserta dan dilanjutkan dengan doa Bapa

kami.

4) Doa Penutup

Allah Bapa yang mahabaik dan kekal, puji syukur kami haturkan kepada-

Mu atas rahmat, bimbingan dan kehadiran-Mu dalam pertemuan ini. Kami telah

disadarkan kembali akan panggilan dan perutusan kami sebagai SFD. Kami mohon

ampun ya Tuhan atas sikap dan kelalaian kami selama ini.

Kami bersyukur pula karena kami telah Kau kuatkan kembali lewat sabda dan

pengalaman iman yang telah kami bagi bersama saat ini. Bimbinglah kami dengan

Roh kudus-Mu agar kami tetap setia dan mau berkorban dalam tugas pelayanan

sesuai dengan kehendak-Mu. Doa ini kami sampaikan kepada-Mu dengan

perantaraan Kristus Tuhan kami Amin.

5) Lagu Penutup: Betapa Kita tidak Bersyukur (MB 489)

Contoh persiapan II

a. Identitas

1) Pelaksana : Berliana Simbolon (Sr. Skolastika, SFD)

2) Nim Pelaksana : 091124037

3) Tema : Menjadi pelayan bagi Tuhan dan sesama

4) Tujuan : Bersama peserta menyadari panggilannya

untuk melayani Tuhan dan sesama, sehingga semakin

menghayati panggilan dalam hidup dan karya pelayanan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 136: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

110

setiap hari dengan demikian semakin bersedia untuk

melayani demi kemuliaan Tuhan dan sesama.

5) Peserta : Para Suster Fransiskus Dina (SFD)

6) Waktu : 90 Menit

7) Model : Shared Christian Praxis (SCP)

8) Metode : Sharing, informasi, tanya jawab, refleksi pribadi

9) Sarana : - Teks lagu

- Film Mother Theresia dari Kalkuta

- Teks Kitab Suci Injil Yohanes 15: 9 -17

- Laptop & LCD

- Lilin dan Salib

10) Sumber Bahan :- Soenarja, SJ. (1987): Inspirasi batin.

Yogyakarta: Kanisius.

- Eko Riyadi, Pr. (2011): Tafsir Injil Yohannes.

Yogyakarta: Kanisius.

b. Pemikiran dasar

Kini masyarakat hidup dalam situasi kurang atau bahkan tidak mengenal

kasih dan persaudaraan. Orang-orang sedemikian individualis, tidak ada tempat

lagi bagi orang lain dalam hatinya. Orang disibukkan untuk mengejar karier, uang,

kuasa dan melakukan apa saja demi tujuan-tujuan di atas. Kasih menjadi slogan,

sebatas ungkapan indah saja dan berhenti pada taraf kata-kata.

Situasi semacam ini juga sudah mulai merasuk kedalam kehidupan kita

sebagai religius; di mana kita kurang memberi perhatian, kurang mendengarkan,

kurang saling membantu. ’Kasih’ terkikis oleh situasi hidup kita; tantangan-

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 137: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

111

tantangan dari luar, godaan-godaan dari dalam diri kita sendiri, misalnya rasa

egois, gengsi, gila prestasi sehingga semua waktu dihabiskan untuk belajar dan

bekerja sehingga tidak ada waktu untuk orang lain. Persaudaraan menjadi mimpi di

awang-awang entah kapan terwujud dalam hidup kita. Makna kata ‘kasih’ dan

‘persaudaraan’ menjadi hambar dan tidak mempunyai kekuatan dalam hati dan

hidup kita baik sebagai pribadi maupun bersama.

Bagi kita kaum religius ‘kasih’ seharusya tetap menjadi esensi dari hidup

kita; dan ‘kasih’ hanya mungkin bila kita mau saling menerima, mendengarkan,

membantu dan melayani satu sama lain. Adapun wujud dari kasih itu ialah

melayani Tuhan melalui sesama lewat kehadiran kita di dalam hidup sehari-hari

seperti yang diserukan oleh suster pendiri kita yaitu semangat rajin dan giat.

Injil Yohanes 15:9-17 dengan amat indah menguraikan bagaimana Yesus

menghendaki kita untuk saling mengasihi sebagai anak-anak yang dikasihi-Nya.

Dia mengasihi kita sebagaimana Bapa mengasihi Dia. Oleh sebab itu kita diundang

untuk saling mengasihi dalam hidup kita setiap hari. Allah adalah kasih sehingga

Ia tidak pernah memperhitungkan dosa kita dihadapan-Nya, justru kita di sebut

sebagai ‘sahabat‘. Adapun esensi dari kasih itu ialah melayani sesama kita. Yesus

menjadi teladan kasih bagi kita. Di masa hidup-Nya, Ia mengasihi dengan

melayani banyak orang. Ia sendiri menghadirkan kerajaan Allah yang penuh kasih

dengan semangat pelayanan-Nya. Oleh karena itu sebagai pengikuti-Nya lebih-

lebih sebagai religius kita hendaknya seperti Yesus menjadi pelaksana kasih

dengan melayani sesama lewat kehadiran kita di dalam kehidupan sehari-hari.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 138: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

112

Melalui pertemuan ini kita berharap semakin menyadari serta meneladani

Yesus yang ‘mengasihi’ semua orang sebagai saudara. Dengan demikian kita

semakin mampu saling mengasihi sesama lewat karya pelayanan kita.

c. Pengembangan langkah-langkah

Pengantar

1) Pengantar

Para suster yang terkasih dalam Yesus Kristus, kita bersyukur pada Tuhan

yang telah mengumpulkan kita di tempat ini. Sebagai SFD kita dipanggil untuk

hidup dalam kasih dan buah-buah kasih itu dirasakan dan dialami oleh sesama kita

secara khusus dalam komunitas dan setiap karya pelayanan yang kita lakukan.

Panggilan yang satu dan sama yang kita terima yang memungkinkan kita berada di

sini dan panggilan itu berasal dari Tuhan sendiri agar kita mengalami kasih-Nya

dan membagikan kasih itu pula kepada sesama kita lewat karya pelayanan. Karena

itu sekarang kita mau melihat, merasakan bagaimana Yesus mengasihi kita selama

ini dan bagaimana pula kita membagikan kasih itu hari ini dan pada hari yang akan

datang. Semoga juga pada pertemuan ini kita semakin disadarkan betapa berartinya

kita dihadapan Tuhan dengan kasih setia-Nya selalu membimbing langkah hidup

kita.

2) Lagu Pembuka: Kasih yang sempurna (teks)

3) Doa Pembuka:

Bapa yang mahabaik kami bersyukur dan berterimakasih atas berkat dan

kasih sayang-Mu yang Engkau curahkan bagi kami semua. Kasih itu juga yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 139: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

113

mengumpulkan kami dan membuat hati kami menjadi tenang dan bahagia.

Hadirlah bersama kami selama pertemuan ini supaya kami boleh menimba

kekuatan dari sabda-Mu dan dari kehadiran-Mu dalam diri kami masing-masing.

Dengan demikian iman kami semakin tumbuh dan suburlah kasih dalam hati kami

masing-masing sehingga persekutuan dan pelayanan kami ini menjadi lebih baik,

lebih harmonis dan menjadi persekutuan kasih karena Engkau yang meraja di

dalam-Nya. Demi Yesus Kristus Tuhan kami yang hidup dan meraja kini dan

sepanjang segala masa. Amin.

4) Langkah I: Mengungkap Pengalaman Hidup Peserta

Peserta dengan hening dan seksama menonton/menyaksikan film Mother

Theresia dari Kalkuta

Pendamping mengajak peserta untuk mengungkapkan kembali isi film

Mother Theresia dengan singkat oleh 1 atau 2 orang peserta.

Rangkuman singkat dari intisari film Mother Theresia

Kisah film yang telah kita saksikan bersama, menggambarkan situasi atau

keadaan di Kalkuta. Di sana banyak orang miskin dan menderita. Dalam kisah tadi

tampillah Mother Theresia. Mother Theresia adalah seorang biarawati. Ia

terpanggil untuk hadir di tengah-tengah mereka, setelah ia mengalami situasi yang

berbeda dengan apa yang ia alami di dalam biara. Oleh karena itu, setelah

mengalami pergulatan yang kuat ia memutuskan untuk meminta izin untuk

melayani orang-orang di Kalkuta. Ia sendiri berusaha menghadirkan wajah kasih

Kristus melalui pelayanannya. Ia sendiri tidak segan dan takut melayani orang-

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 140: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

114

orang yang menderita karena sakit parah. Ia hadir dan melayani semua oranng

tanpa membeda-bedakan jenis status maupun latar belakangnya.

Pengungkapan pengalaman:

Peserta diajak untuk mendalami film tersebut dengan tuntunan 2

pertanyaan:

Apa yang dilakukan Mother Theresia dalam mewujudkan Kasih Allah

kepada sesama?

Coba ceritakanlah pengalaman saudari dalam melakukan tindakan kasih di

dalam karya pelayanan!

Perasaan apa yang suster alami ketika diutus melaksanakan tugas pelayanan

di tempat yang baru

Rangkuman

Dalam film tadi, Mother Theresia berusaha melakukan kehendak Allah

dengan melayani sesama dengan tulus. Mother Theresia berusaha memperlakukan

sesamanya sebagai saudara. Dalam kehidupan kita pun berusaha melakukan

tindakan ‘kasih’ kepada sesama kita misalnya mau membantu, mendengarkan,

membagi talenta dan lain sebagainya. Dengan sikap yang ‘mengasihi’ kita juga

menerima kasih dari sesama. Oleh karena itu sangat penting untuk selalu belajar

mengasihi dan melayani sesama supaya kita juga mengalami/menerima hal yang

sama dari Tuhan. Perasaan yang muncul ketika mengikuti tayangan film tadi, ada

rasa kagum, rasa takut karena orang-orang yang dihadapi Muder Theresa

mempunyai latarbelakang yang berbeda. Namun, Mother Theresia tetap

mempunyai prinsip yang kuat bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan orang yang

berharap kepada-Nya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 141: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

115

Langkah II: Mendalami Hidup Peserta

Peserta diajak untuk merefleksikan sharing pengalaman atau ceritera di atas

dengan bantuan 2 pertanyaan dibawah ini;

Tantangan apa yang paling besar, ketika para suster sedang melayani

sesama ?

Adakah pengalaman yang paling berkesan bagi para suster, ketika sedang

melaksanakan tugas pelayanan?

Dari jawaban yang telah diungkapkan oleh peserta, pendamping memberikan

arahan rangkuman singkat;

Setiap orang pasti mempunyai tantangan dalam melayani. Persoalannya

apakah besar atau kecil tergantung pada situasi di mana kita melayani dan

bagaimana kita menghadapinya. Ada orang jarang mengalami tantangan dalam

melayani, karena baginya pelayanan itu bagian dari hidupnya sehingga

melakukannya dengan kasih. Melakukan tindakan kasih merupakan hal penting

dalam hidup kita sebagai manusia. Sebagai religius kita dipanggil untuk mengasihi

sesama dengan cara melayani sesama. Kita semua dipanggil untuk melayani

sesama kita yang menderita, miskin, sakit dan lain sebagainya. Pelayanan yang kita

lakukan di dalam hidup sehari-hari merupakan suatu bentuk kerja sama kita dengan

Allah. Kita diajak oleh Allah untuk bekerja sama menghadirkan kerajaan Allah di

tengah-tengah umat. Menjadi rekan kerja berarti, mau dan siap diutus kemana pun

kita diutus.

Langkah III Menggali Pengalaman iman Kristiani

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 142: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

116

Peserta diajak untuk membacakan teks Kitab Suci secara bergantian dari

Injil Yohanes. Peserta diberi waktu hening sejenak sambil secara pribadi

mendalami atau membaca ulang teks Kitab Suci tersebut. Kemudian dilanjutkan

dengan pendalaman secara bersama.

Ayat-ayat mana yang menunjukkan kasih dalam pelayanan dalam teks

perikop di atas?

Apa makna ‘saling mengasihi’ dalam pelayanan yang dapat kita petik dari

perikop tersebut?

Sikap-sikap apa saja yang ingin Yesus tanamkan melalui perikop di atas

dalam hal saling mengasihi khususnya dalam pelayanan?

Peserta diajak untuk sendiri mencari dan menemukan pesan inti perikop

dengan jawaban atas tiga pertanyaan di atas. Pendamping memberikan tafsir dari

Injil Yohanes 15: 9 mengatakan ‘seperti Bapa telah mengasihi Aku demikianlah

juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah dalam kasihKu itu’. Kasih yang

dimaksudkan adalah Kasih Bapa terhadap Yesus, kasih Yesus kepada sahabat-

sahabat-Nya. Kasih Yesus itu ditanggapi dengan ketaatan kasih para murid

terhadap Yesus serta bersinar dalam kasih mereka satu sama lain, di mana kasih ini

menjadi sumber kegembiraan mereka. Ayat ini memberikan gambaran bahwa

Yesus mengasihi dan menjadikan kita sebagai sahabat-sahabat-Nya. Oleh karena

itu hendaknya kita pun mengasihi Dia dan sesama dalam hidup kita lewat setiap

pelayanan yang kita lakukan setiap hari.

Teladan kasih yang telah diberikan oleh Yesus itu bersifat total, tanpa batas

karena demi kasih Yesus mau melayani sesamanya dan rela mengorbankan hidup-

Nya bagi sahabat-sahabat-Nya dan bagi kita semua. Ungkapan ini mengundang,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 143: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

117

mendorong kita semua untuk terus hidup dan tetap tinggal dalam Yesus melalui

kasih, karena dengan melakukan kasih itu hidup kita akan memiliki buah yang

banyak dengan demikian kita pantas disebut murid Yesus.

Sikap-sikap yang tampak dalam perikop ini Yesus hadir sebagai

sahabat/saudara yang bercirikan; kerendahan hati, keterbukaan, mendengarkan,

menerima satu sama lain. Kisah ini menggambarkan Yesus yang mengasihi

manusia seperti Bapa mengasihi-Nya demikian juga Ia mengasihi kita murid-

murid-Nya. Teladan ini menjadi penting supaya manusia saling mengasihi

sebagaimana Yesus telah mengasihi kita. Teladan ‘saling mengasihi’ merupakan

keutamaan inti dari seorang kristiani khususnya kita yang dipanggil secara khusus

dalam cara hidup sebagai SFD. Kasih akan menyuburkan keutamaan-keutamaan

lainnya. Oleh karena itu kita diminta Yesus untuk saling mengasihi sebagai

‘saudara/sahabat’ satu sama lain dengan cara melayani sesama dengan tulus dan

penuh semangat.

Langkah IV Menerapkan Iman Kristiani dalam situasi Peserta Konkrit.

Dalam sharing tadi kita telah menemukan sikap-sikap yang perlu kita miliki

dalam membawa kasih yakni dengan menjadi ‘saudara/sahabat’ satu sama lain.

Sebagai SFD kita mesti selalu membina relasi yang erat dan intim dengan Tuhan

karena melalui relasi itu kita mampu saling mengasihi dan buah-buah kasih itu

semakin menyuburkan hidup kita dalam kasih Tuhan sendiri.

Sebagai bahan refleksi agar kita dapat saling mengasihi dalam hidup kita,

mari kita lihat komunitas kita secara konkrit dengan merenungkan pertanyaan

dibawah ini:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 144: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

118

Sikap-sikap apa yang perlu kita usahakan agar semakin saling mengasihi

satu sama lain dalam komunitas kita?

Apakah saudara semakin disadarkan, ditegur atau diteguhkan untuk

menjadi ‘saudara’ satu sama lain di komunitas kita?

Saat hening diiringi dengan musik instrument ‘kasih pasti lemah lembut’

untuk secara pribadi merenungkan pesan Injil dengan situasi konkret dari

teman-teman. Kemudian peserta diminta untuk mengungkapkan hasil-hasil

permenungannya.

Rangkuman penerapan pada situasi peserta

Yesus telah memberi teladan bagi kita untuk ‘saling mengasihi’ seperti ia

telah mengasihi kita demikian juga kita saling mengasihi satu sama lain.

Hendaknya kita menjadi saudara bagi sesama kita terutama dalam komunitas kita

ini. Rela berkorban demi saudara kita sebagaimana Yesus telah mengorbankan

hidup-Nya bagi kita semua. Namun dengan kemampuan sendiri kita tidak mungkin

melakukan ini semua, maka Dialah yang sanggup membantu kita untuk

melaksanakan teladan-Nya dalam hidup kita.

Langkah V: Mengusahakan Suatu Aksi Konkrit

Saudara-saudara terkasih dalam Yesus Kristus, setelah kita bersama-sama

menggali pengalaman dalam hal ’saling mengasihi dan melayani’ dan melalui

kisah Mother Theresia kita semakin diperkaya. Dalam Injil Yohanes yang telah

kita dalami bersama, kita semakin memahami Yesus yang mengasihi kita oleh

karena itu hendaknya kita saling mengasihi satu sama lain dalam komunitas pun

kepada sesama yang lain. Mengasihi mengandung konsekuensi untuk rela

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 145: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

119

berkorban bagi sahabat-sahabatnya sebagaimana Yesus yang melayani orang

banyak rela mengorbankan hidupnya bagi kita sahabat-sahabat-Nya.

Memikirkan niat-niat dan bentuk keterlibatan kita yang baru (pribadi,

bersama) untuk lebih menghayati kehadiran sebagai ’saudara’ bagi sesama yang

lain terutama dalam melayani sesama melalui karya pelayanan yang menjadi

kekhasan kongregasi

Keputusan apa yang hendak kita lakukan untuk mewujudkan saling

mengasihi terkhusus dalam setiap karya dan pelayanan yang kita lakukan?

Hal-hal apa saja yang perlu kita perhatikan dalam mewujudkan keputusan

tersebut?

Peserta diberikan kesempatan dalam suasana hening memikirkan sendiri-

sendiri tentang niat pribadi-bersama yang akan dilakukan. Sambil merumuskan

niat-niat di iringi musik instrument.

Niat pribadi dapat diungkapkan dalam kelompok. Pendamping mengajak

peserta untuk membicarakan dan mendiskusikan bersama niat bersama secara

konkrit yang dapat segera di wujudkan di antara mereka agar semakin masing-

masing menghayati dan mencintai tugas pelayanan dan merasakan kehadiran

mereka sebagai ‘saudara’ satu sama lain.

Pendamping memberikan kesempatan hening sejenak untuk merenungkan

niat pribadi/ bersama yang akan diwujudkan sementara itu lilin dan salib

diletakkan di tengah kemudian lilin dinyalakan. Doa umat secara spontan di awali

oleh pendamping kemudian dilanjutkan peserta, doa Bapa Kami.

5) Doa Penutup

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 146: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

120

Allah Bapa sumber kasih sejati kami bersyukur atas kehadiran-Mu yang

boleh kami rasakan selama proses pendalaman ini dan Engkau menyampaikan

kebijaksanaan-Mu bagi kami semua sehingga kami terbantu menyelami kasih-Mu

yang kami wujudkan di dalam pelayanan hidup kami sehari-hari. Kami mohon

supaya Roh-Mu selalu menuntun kami dalam hidup ini agar kami mampu

membagikan kasih dan cinta-Mu kepada sesama melalui pelayanan kami. Demi

Yesus Kristus Putera-Mu yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa.

Amin.

6) Lagu penutup: Hidup Rukun dan Damai (MB. 530)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 147: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

BAB V

PENUTUP

Pada bab ini, penulis akan membuat kesimpulan dan saran. Penulis akan

menyimpulkan uraian skripsi ini dalam beberapa pokok penting sebagai penegasan

tentang peran doa dalam hidup dan dalam karya pelayanan para SFD. Selanjutnya,

penulis menyampaikan beberapa saran penting demi meningkatkan penghayatan

hidup doa yang harus menjadi dasar karya pelayanan para SFD.

A. Kesimpulan

Dalam hidup manusia termasuk para religius doa merupakan gerak Allah

menuju kepada manusia dan manusia menuju kepada Allah. Ada ritme pertemuan

yang terdiri dari sapaan dan jawaban. Allah membiarkan diri agar dilihat, dialami,

dirasakan, ditemui, dan dialami oleh religius. Dalam doa, religius diajak untuk

melihat Allah dalam kemuliaan-Nya. Doa merupakan pertemuan dan pengalaman

akan Allah dalam aneka ragam suasana dan sifatnya, seperti suasanan takut, gentar,

kagum, syukur, hormat, percaya dan penyerahan. Ini merupakan suasana

penghayatan iman yang sungguh istimewa dalam diri manusia termasuk religius

lewat doa.

Kongregasi SFD sebagai anggota Gereja dan masyarakat menyadari tugas

panggilannya yang penting, yaitu mewartakan nilai-nilai Kerajaan Allah kepada

dunia melalui hidup doa dan karya pelayanan. Dengan meneladani semangat hidup

St. Fransiskus dan Muder Constansia van der Linden, para SFD mampu memaknai

hidup doa dalam karya pelayanannya sehingga setiap anggota kongregasi SFD

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 148: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

122

bekerja dengan tanggung-jawab dan dengan penuh sukacita tanpa melalaikan

pekerjaannya dan tanpa melalaikan hidup doanya. Doa membatu para SFD dalam

mengembangkan misi pelayanan dan meningkatkan kinerja setiap anggota. Dengan

semangat doa dan rajin bekerja, para SFD dimampukan untuk membangun

masyarakat yang adil dan sejahtera selaras dengan kehendak Yesus Kristus. Para

SFD memaknai doa sebagai penopang dan kekuatan dalam hidup panggilannya.

Hal inilah yang memampukan para SFD untuk setia pada panggilan hidup

membiara mereka, setia dalam melaksanakan doa dan tugas pelayanan.

Para SFD setia menimba hidup rohani seperti dari perayaan Ekaristi,

devosi-devosi, rekoleksi, retret, pendalaman Kitab Suci, pendalaman spiritualitas

kongregasi dan lain sebagainya. Kesetiaan dalam mengikuti doa dan

memperhatikan hidup rohani turut membawa dampak positif bagi para SFD, yakni

mereka disadarkan untuk menghayati hidupnya secara lebih bertanggung jawab.

Doa bersama, pribadi dan pendalaman spiritualitas kongregasi sebagai hal yang

penting dan mendasar untuk dihidupi. Artinya para SFD membuat doa sebagai

dasar hidup dalam karya pelayanan. Berbagai macam cara yang dapat digunakan

para SFD dalam memaknai doa dalam karya pelayananya itu; misalnya, dengan

latihan mengolah diri terus-menerus, memperdalam kehidupan rohani, dan lain

sebagainya.

Dalam karya tulis ini, penulis meyusun salah satu contoh program katekese

model SCP untuk membantu para suster SFD meningkatkan penghayatan hidup

doa dalam karya pelayanan, baik dalam kongregasi maupun dalam Gereja secara

umum. Melalui program ini, para SFD juga didorong untuk terbuka dan bersedia

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 149: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

123

mengkomunikasikan pengalaman-pengalamannya. Mereka diharapkan

merefleksikan seluruh hidupnya di dalam terang iman, entah duka maupun suka.

Dengan program katekese ini, para suster SFD semakin setia dalam

panggilan mereka dan mencintai tugas perutusan yang diberikan kongregasi

dengan penuh keikhlasan, kegembiraan dan kasih persaudaraan. Dalam

melaksanakan tugas perutusannya, kongregasi SFD turut ambil bagian dalam

perutusan Gereja dan ingin memberikan sumbangan bagi perkembangan tubuh

Kristus yang mistik, meneruskan karya penebusan-Nya dengan memberi bantuan

guna meringankan penderitaan jasmani dan rohani lewat segala karya yang ada

dalam Kongregasi.

A. Saran

Ada pun saran yang ditawarkan oleh penulis melalui karya tulis ini ialah

untuk:

1. Membantu meningkatkan hidup doa dan karya pelayanan, para SFD hendaknya

memanfaatkan peluang dan segala sarana dan prasarana yang disiapkan

kongregasi dalam setiap komunitas untuk semakin meningkatkan penghayatan

anggota akan makna doa dalam hidup mereka. Para SFD perlu menanamkan

dalam diri mereka sikap percaya bahwa Allahlah yang telah memanggil mereka

untuk bekerja di kebun anggur-Nya. Dengan demikian, para SFD akan menjadi

semakin setia dalam mengikuti dan melaksanakan doa pribadi maupun doa

bersama.

2. Para SFD dianjurkan untuk semakin memperdalam penghayatan hidup doa St.

Fransiskus dan Muder Constansia van der Linden (ibu pendiri) agar dapat

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 150: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

124

semakin menjiwai dan menyemangati hidup panggilan mereka. Hal ini bisa

dilaksanakan dalam bentuk seminar penghayatan spiritualitas kongregasi.

Seminar ini bisa diadakan minimal dua kali setahun; terutama dalam momen-

momen penting dalam kongregasi, misalnya, pada hari ulang tahun berdirinya

kongregasi dan pesta pelindung kongregasi.

3. Membuat program untuk mengadakan pendalaman iman dengan model SCP

tentang pendalaman konstitusi dan kharisma kongregasi SFD yang

dilaksanakan setiap bulan pekan pertama.

4. Mengadakan pembelajaran bersama dalam komunitas masing-masing untuk

semakin mendalami sejarah pendiri kongregasi dan spiritualitas Fransiskan.

5. Lebih meningkatkan kegiatan-kegiatan rohani yang sudah ada dalam

kongregasi SFD, seperti adorasi, mengikuti perayaan Ekaristi setiap harinya,

latihan doa terus-menerus, ziarah tahun rohani dan lain sebagainya.

6. Mengadakan kursus penyegaran hidup doa dan spiritualitas kongregasi SFD.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 151: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

125

DAFTAR PUSTAKA

Agudo, Filomena, FMM. (1988). Aku Memilih Engkau. Yogyakarta: Kanisius

Anggaran Dasar Ordo III Regular St. Fransiskus Asisi (2002) Jakarta SEKAFI

Cahyadi Krispurwana, T, SJ. (2003). Jalan Pelayanan Ibu Teresa. Jakarta: Obor

Cardinal, Bernardin, Joseph. (1988). Pelayanan-pelayanan Baru. Pusat Pastoral

Yogyakarta

Celano, Thomas. (1984). St. Fransiskus dari Asisi: Riwayat hidup yang pertama

dan kedua (sebagian). Jakarta. SEKAFI

Clementina van Vooren & Sr. Emmanuel Claerhout. Sr. SFD. (1983). Sejarah

Ringkas Kongregasi Suster-suster Fransiskanes. Dongen dikeluarkan

pada tanggal 8 September 1983 di Dongen. (Dokumen Kongregasi)

Conti, Martino. (2006). Identitas Fransiskan. Sekretariat Keluarga Fransiskan

Indonesia (SEKAFI). Jakarta

Darminta, J .(1982). Berbagai Segi Penghayatan Hidup Religius Sehari-hari.

Yogyakarta: Kanisius

__________.(1983). Tuhan Ajarilah kami Berdoa. Yogyakarta: Kanisius

__________.(1994). Nabi dan Martir Bersama Yesus. Yogyakarta: Kanisius

__________.(2001). Yesus Sang Pendoa. Yogyakarta: Kanisius

Dister, Syukur Nico. (2011). Semangat Hamba Allah Yohanna Dari Yesus.

Yogyakarta: Kanisius

Dopo, Eduardo R. dkk. (1992) Keprihatinan Sosial Gereja. Yogyakarta: Kanisius

Eko Riyadi, St. (2011). Yohanes “Firman Menjadi Manusia”. Yogyakarta:

Kanisius

Green, Thomas, H. (1988). Bimbingan Doa. Yogyakarta: Kanisius

Groenen, Cletus, P. OFM. (1986). Fransiskus di Hadapan Allah. Jakarta SEKAFI

__________.(2000). Kisah Ketiga Sahabat. Riwayat Hidup St. Fransiskus Asisi;

Jakarta SEKAFI

Groome, Thomas, H. (1997). Shared Christian Praxis: Suatu Model Berkatekese.

(F.X. Heryatno Wono Wulung, Penyadur). Yogyakarta: Lembaga

Pengembangan Kateketik Puskat. (Buku asli diterbitkan 1991).

Harjawiyata, Frans. OSC. (1979). Bentuk-bentuk Hidup Religius. Yogyakarta:

Kanisius.

__________.(1997). Yesus dan Situasi Zamanya-Nya (Editor). Yogyakarta:

Kanisius

Hayon, Niko, SVD. (1992). Cinta yang Mengabdi. Ende: Nusa Indah

Hetu, Inocens, Ruben. (2007). Tahap-tahap Doa Kodrati. Yogyakarta: Kanisius.

Jacobs, Tom, SJ. (1988). Karya Roh dalam Gereja. Yogyakarta: Kanisius

Kapitel. (2011). Kapitel Umum Kongregasi Suster-Suster Fransiskus Dina (SFD)

Indonesi (Dokumen Kongregasi). Yogyakarta.

Konfrensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik; Buku Informasi dan

Referensi. Yogyakarta; Kanisius

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 152: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

126

Konfrensi Waligereja Indonesi. (2006). Kitab Hukum Kanonik. (Edisi Resmi

Bahasa Indonesi diundangkan oleh Paus Yohannes Paulus II). Jakarta

KWI

Konferensi Wali Gereja Regio Nusa Tenggara. (1995). Katekismus Gereja Katolik.

Flores-NTT: Nusa Indah

Konsili Vatikan II. (1993). Gaudium Et Spes , (Konstitusi Pastoral tentang Gereja

dalam Dunia Modern oleh R. Hardawiryana, Penerjemah). Obor.

Jakarta.

Konstitusi Kongregasi Suster Fransiskus Dina, (SFD). (2007). (Dokumen

Kongregasi)

Koptari, (1987). Spiritualitas Pelayanan. Jakarta

Ladjar, Leo, L. OFM. (1988). Fransiskus dan Karya-karya-Nya. Yogyakarta;

Kanisius

Leks, Stefan. (2003). Tafsir Injil Markus. Yogyakarta: Kanisius.

__________.(2003). Tafsir Injil Lukas. Yogyakarta: Kanisius.

Lembaga Alkitab Indonesia. (2007). Alkitab. Jakarta: Percetakan LAI

Lukasik, A. (1991). Memahami Perayaan Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius

Mangunhardjana, A. (1986). Pembinaan. Arti dan Metodenya. Yogyakarta:

Kanisius.

Njiolah, Hendrik, P. Pr. (2003). Tuhan Ajarilah Kami Berdoa. Pustaka Nusatam.

Yogyakarta

Nouwen, Henri, J, M. (1986). Cakrawala Hidup Baru. Yogyakarta: Kanisius

Purwatma, M. Pr. (2014). Komunitas Para Murid Demi Kerajaan Allah. Seri

Pastoral 426 Yogyakarta; Kanisius

Raat, Judith, de. (2000). Sebuah Harta Tersembunyi: Spiritualitas Suster-Suster

Fransiskanes Dongen, Etten, dan Roosendal. Jakarta. Luceat

Raaymakers, Marie Joseph. SFD. (1991). Bersatu Hati. Dongen. (Dokumen

Kongregasi)

Ridick, Joice, Sr. SSCC. (1987). Kaul Melimpah dalam Bejana Tanah Liat

Yogyakarta: Kanisius

Rudiyanto, F. MA. (1994). Doa Mengetuk Hati Allah. Jakarta: Obor

diter; dari buku Prayer Seeking the Heart of Gad (Muder Teresa dan

Bruder Roger). Oleh: Michael Benyaminmali

Setyakarjana, J. S. (1993). Pedoman Umum Katekese. Yogyakarta: Puskat

SFD. (2007). Pedoman Pembinaan dan Pendidikan Suster Fransiskus Dina.

Yogyakarta (Dokumen kongregasi

Sumarno Ds. (2013). Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik

Paroki. Diktat semester VI. Program Studi Ilmu Pendidikan

Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Jurusan Ilmu Pendidikan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma

Talbot, John Michael dan Rabey Steve. (2007). Ajaran-ajaran St. Fransiskus.

Bina Media. Medan

Tengah Kapitel. (2013). Hasil Evaluasi Tengah Kapitel Suster-Suster Fransiskus

Dina (SFD). (Dokumen Kongregasi)

Yohannes Paulus II (1995). Pedoman-pedoman pembinaan dalam lembaga-

lembaga religius. Seri Dokumen Gerejani No.16. Jakarta;

Depertemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 153: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

127

__________.(1996). Vita Consecrata (Hidup Bakti). Seri Dokumen Gerejani No,

51. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI

__________.(1990). Redemptoris Missio (Tugas Perutusan Sang Penebus). Seri

Dokumen Gerejani No,14. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan

Penerangan KWI

__________.(1992). Catechesi Tradendae. (R. Hardawirjana, penerjemah).

Jakarta: DokPend KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1979)

Van Breemen, G, P, SJ .(1983). Kupanggil Engkau dengan Namamu. Yogyakarta:

Kanisius

Zita, SFS. (2008). Muder Yohana Yesus; diterj; Nico Syukur Dister, OFM.

Sukabumi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 154: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 155: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

LAMPIRAN

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 156: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

(1)

Lampiran 1: Lirik lagu

KU BERSYUKUR PADA-MU YESUS

Ku bersyukur pada-Mu Yesus, yang tlah mengubahkan hidupku

Tak ada yang seperti Engkau mengasihi ku

Kau menuntun jalan hidup ku, bawaku masuk rencana-Mu

Tak ada yang seperti Engkau Yesus Tuhanku

Kaulah Tuhan keslamatan ku, Kekuatan dan perisaiku

kutak gentar karna janji-Mu slalu memliharaku

Kupercaya dalam tangan-Mu ada masa depan hidupku

Kutak gentar karna janji-Mu slalu hidup dalam ku..

BETAPA KITA TIDAK BERSYUKUR (MB 489

Betapa kita tidak bersyukur bertanah air kaya dan subur;

lautnya luas, gunungnya megah, menghijau padang, bukit dan lembah.

Ref; Itu semua berkat karunia Allah yang Agung, Mahakuasa;

Itu semua berkat karunia Allah yang Agung, Mahakuasa.

Alangkah indah pagi merekah bermandi cah’ya surya nan cerah,

ditingkah kicau burung tak henti, bunga pun bangkit harum berseri. Ref

Bumi yang hijau, langitnya terang, berpadu dalam warna cemerlang;

indah jelita, damai dan teduh, persada kita jaya dan teguh. Ref

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 157: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

(2)

KASIH YANG SEMPURNA

Kasih yang sempurna telah, kut'rima dari-Mu

bukan kar'na kebaikanku, hanya oleh kasih karunia-Mu

Kau pulihkan aku, layakkanku, 'tuk dapat memanggil-Mu, Bapa

Reff: Kau b'ri yang kupinta, saat kumencari, kumendapatkan

kuketuk pintu-Mu dan Kau bukakan, s'bab Kau Bapaku, Bapa yang kekal

Tak kan Kau biarkan, aku melangkah hanya sendirian

Kau selalu ada bagiku, s'bab Kau Bapaku, Bapa yang kekal

HIDUP RUKUN DAN DAMAI (MB. 530)

Alangkah bahagianya , Hidup rukun dan damai

Didalam persaudaraan, Bagai minyak yang harum

Refren : Alangkah bahagianya, Hidup rukun dan damai

Ibarat embun yang segar, Pada pagi yang cerah

Laksana anggur yang lezat, Kan pemuas dahaga. Ref

Begitulah berkat Tuhan, Dengan berlimpah ruah

Turun ke atas mereka, Kini dan selamanya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 158: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

(3)

Lampiran 2 : Teks Injil

Teks Kitab Suci Injil Yohanes 15: 9 -17

15:9 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu;

tinggallah di dalam kasih-Ku itu.

15:10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku,

seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

15:11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu

dan sukacitamu menjadi penuh.

15:12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah

mengasihi kamu.

15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan

nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

15:14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan

kepadamu.

15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang

diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah

memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-

Ku.

15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku

telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan

buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku,

diberikan-Nya kepadamu.

15:17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 159: PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI - core.ac.uk file(Ams 16:3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

(4)

Teks Injil Markus 1:35-39

1:35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke

tempat yang sunyi dan berdoa di sana.

1:36 Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia;

1:37 waktu menemukan Dia mereka berkata: "Semua orang mencari Engkau."

1:38 Jawab-Nya: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan,

supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang."

1:39 Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah

ibadat mereka dan mengusir setan-setan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI