of 2 /2
Pikiran Rakyat Senin o Selasa 0 Rabu o Kamis o Jumat o Sabtu o Minggu 123 17 18 19 456 7 20 21 22 8 9 10 11 23 @ 25 26 o Mar OApr OMei OJun 0 Jul 0 Ags eJan OPeb 12 13 27 28 14 15 16 29 30 31 OSep OOkt ONov ODes lPerubahan DPR dengan Gedung K ESEKIAN kalinya DPR mengejutkan publik .. Bukan karena anggotanya tertangkap tangan menerima suap, manuver politik, apalagi prestasi kinerjanya. Akan tetapi, karena keputusan Ketua DPR untuk menernskan rencana pembangunan gedung barn DPR yang bernilai lebih dari Rp 1triliun. Publik pun ri- uh membiearakan hal ini terlebih karena isu ini sudah bergulir se- belumnya dan sudah mendapat reaksi negatif dari publik. Dibumbui kegagapan anggota BURT memberikan penjelasan pu- blik alasan pembangunan gedung barn, masyarakat makin riuh mengetahui bahwa di gedung barn itu akan dibangun kolam renang yang bisa dinikmati oleh para penghuni gedung. Meskipun DPR berdalih bahwa itu adalah bak pe- nampungan air untuk mengantisi- pasi terjadinya kebakaran, tetapi ba- hasa yang sudah dimuneulkan ke publik adalah kolam renang bukan bak penampungan air. Ketua DPR yang merangkap seba- gai Ketua BURT tetap mengotot me- nernskan rencana pembangunan gedung tersebut. Selain untuk menggantikan gedung lama DPR yang katanya sudah tidak layak dan membahayakan, gedung barn DPR mernpakan bagian dari grand de- sign usaha memperbaiki dan meningkatkan kinerja anggota de- aru wan yang menjadi sorotan publik. Yang menjadi pertanyaan publik selanjutnya kemudian tidak hanya tentang besarnya biaya yang dipakai untuk membangun gedung, tetapi sampai sejauh manakah rencana ini memang bisa mengubah wajah DPR menjadi institusi yang efektif dan efisien menjalankan fungsi dan pe- rannya. Apakah setelah pernbangun- an gedung DPR ini selesai, anggota dewan kemudian tidak akan kornpsi lagi, melahirkan banyak produk un- dang-undang, dan selalu meng- hadiri setiap agenda rapat? "Back to classic" Mari kita kembali mengingat ma- sa keeil kita. Ada masa ketika ingin bisa mengendarai sepeda ataupun ingin mahir berenang. Dua pengala- man ini tentunya bukan pengala- man mahal yang hanya dialami kalangan elite, sekelas anggota de- . wan masa keeilnya pastinya meng- alami ini. Ketika anak ingin bisa mernain- kan sepeda, langkah umum yang banyak dilakukan oleh orang tua adalah menyediakan sepeda buat mereka. Bila orang tua mampu, sepeda bisa dibeli, bila orang tuanya tidak mampu mereka meminjam atau menyewa sepeda. Akan tetapi, apakah ketika sepeda tersedia anak itu bisa langsung mengendarai sepe- da? Tentunya tidak. Tahap pertama adalah anak itu mesti meneoba mengendarai sepeda dan yang paling utama adalah anak itu mau dan berani belajar bersepe- da. Di sinilah kemudian yang sering menjadi biang kegagalan anak tidak bisa bersepeda. Menumbuhkan ke- mauan dan keberanian pada anak untuk bersepeda. Kalau ini tidak ter- jadi maka adanya sepeda tidak akan berpengaruh terhadap kemamp an mengendarai sepeda. Bagi orang tua yang benar-be ar ingin melihat anaknya bisa bersepe- da mereka pasti melakukan dial g dengan anaknya. Mereka akan membujuk anaknya untuk meneoba berani belajar bersepeda dengan mengatakan bahwa bersepeda itu adalah suatu kesenangan. Orang tua biasanya menyuruh anak mem- bayangkan mereka bisa bermain bersama-sama dengan anak lain ya, mengingatkan anaknya kalau mere- ka tidak bisa bersepeda maka mere- ka tidak bisa bermain dan tidak punya teman. Atau mungkin orang tua akan mengingatkan anaknya ke- mungkinan di kemudian hari ilia dikejar anjing, dia bisa melarikan diri dengan eepat karena bisa bersepeda. Orang tua yang paham dan benar- benar ingin melihat anaknya berse- peda, tidak eukup untuk menyedi- akan sepeda untuk anaknya, tetapi juga memberikan pemahaman kepada anaknya tentang bersepeda. Tidak eukup menyediakan peralat- . ,. .. ..• YUDHI MAFfAT~NANTARA POUSI didampingi petugas Pengamanan Dalam (Pamdal) memeriksa coretan di atap Gedung MPR RI, Ko pleks ---- Parlemen Senayan, Jakarta, 30 Juli 2010 lalu. Aksi corat-coret dengan cat semprot tersebut dilakukan aktor senior --- Pong Harjatmo, berisi tulisan "Jujur, Adil, Tegas" sebagai kritik untuk para wakil rakyat. *

PikiranRakyat - pustaka.unpad.ac.idpustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2011/01/pikiranrakyat-20110124... · tertangkap tangan menerima suap, manuver politik, apalagi prestasi kinerjanya

Embed Size (px)

Text of PikiranRakyat -...

Pikiran Rakyat Senin o Selasa 0 Rabu o Kamis o Jumat o Sabtu o Minggu

12317 18 19

456 720 21 22

8 9 10 1123 @ 25 26

oMar OApr OMei OJun 0 Jul 0 AgseJan OPeb12 1327 28

14 15 1629 30 31

OSep OOkt ONov ODes

lPerubahan DPR dengan GedungK ESEKIAN kalinya DPRmengejutkan publik ..Bukan karena anggotanyatertangkap tangan menerima suap,manuver politik, apalagi prestasikinerjanya. Akan tetapi, karenakeputusan Ketua DPR untukmenernskan rencana pembangunangedung barn DPR yang bernilailebih dari Rp 1triliun. Publik pun ri-uh membiearakan hal ini terlebihkarena isu ini sudah bergulir se-belumnya dan sudah mendapatreaksi negatif dari publik.

Dibumbui kegagapan anggotaBURT memberikan penjelasan pu-blik alasan pembangunan gedungbarn, masyarakat makin riuhmengetahui bahwa di gedung barnitu akan dibangun kolam renangyang bisa dinikmati oleh parapenghuni gedung. Meskipun DPRberdalih bahwa itu adalah bak pe-nampungan air untuk mengantisi-pasi terjadinya kebakaran, tetapi ba-hasa yang sudah dimuneulkan kepublik adalah kolam renang bukanbak penampungan air.

Ketua DPR yang merangkap seba-gai Ketua BURT tetap mengotot me-nernskan rencana pembangunangedung tersebut. Selain untukmenggantikan gedung lama DPRyang katanya sudah tidak layak danmembahayakan, gedung barn DPRmernpakan bagian dari grand de-sign usaha memperbaiki danmeningkatkan kinerja anggota de-

aruwan yang menjadi sorotan publik.

Yang menjadi pertanyaan publikselanjutnya kemudian tidak hanyatentang besarnya biaya yang dipakaiuntuk membangun gedung, tetapisampai sejauh manakah rencana inimemang bisa mengubah wajah DPRmenjadi institusi yang efektif danefisien menjalankan fungsi dan pe-rannya. Apakah setelah pernbangun-an gedung DPR ini selesai, anggotadewan kemudian tidak akan kornpsilagi, melahirkan banyak produk un-dang-undang, dan selalu meng-hadiri setiap agenda rapat?

"Back to classic"Mari kita kembali mengingat ma-

sa keeil kita. Ada masa ketika inginbisa mengendarai sepeda ataupuningin mahir berenang. Dua pengala-man ini tentunya bukan pengala-man mahal yang hanya dialamikalangan elite, sekelas anggota de- .wan masa keeilnya pastinya meng-alami ini.

Ketika anak ingin bisa mernain-kan sepeda, langkah umum yangbanyak dilakukan oleh orang tuaadalah menyediakan sepeda buatmereka. Bila orang tua mampu,sepeda bisa dibeli, bila orang tuanyatidak mampu mereka meminjamatau menyewa sepeda. Akan tetapi,apakah ketika sepeda tersedia anakitu bisa langsung mengendarai sepe-da? Tentunya tidak.

Tahap pertama adalah anak itu

mesti meneoba mengendarai sepedadan yang paling utama adalah anakitu mau dan berani belajar bersepe-da. Di sinilah kemudian yang seringmenjadi biang kegagalan anak tidakbisa bersepeda. Menumbuhkan ke-mauan dan keberanian pada anakuntuk bersepeda. Kalau ini tidak ter-jadi maka adanya sepeda tidak akanberpengaruh terhadap kemamp anmengendarai sepeda.

Bagi orang tua yang benar-be aringin melihat anaknya bisa bersepe-da mereka pasti melakukan dial gdengan anaknya. Mereka akanmembujuk anaknya untuk meneobaberani belajar bersepeda denganmengatakan bahwa bersepeda ituadalah suatu kesenangan. Orang tuabiasanya menyuruh anak mem-bayangkan mereka bisa bermainbersama-sama dengan anak lain ya,mengingatkan anaknya kalau mere-ka tidak bisa bersepeda maka mere-ka tidak bisa bermain dan tidakpunya teman. Atau mungkin orangtua akan mengingatkan anaknya ke-mungkinan di kemudian hari iliadikejar anjing, dia bisa melarikandiri dengan eepat karena bisabersepeda.

Orang tua yang paham dan benar-benar ingin melihat anaknya berse-peda, tidak eukup untuk menyedi-akan sepeda untuk anaknya, tetapijuga memberikan pemahamankepada anaknya tentang bersepeda.Tidak eukup menyediakan peralat-

. ,.

.. ..

YUDHI MAFfAT~NANTARA

POUSI didampingi petugas Pengamanan Dalam (Pamdal) memeriksa coretan di atap Gedung MPR RI, Ko pleks---- Parlemen Senayan, Jakarta, 30 Juli 2010 lalu. Aksi corat-coret dengan cat semprot tersebut dilakukan aktor senior ---

Pong Harjatmo, berisi tulisan "Jujur, Adil, Tegas" sebagai kritik untuk para wakil rakyat. *

an, tetapi juga mengubah persepsisang anak tentang apa danbagaimana bersepeda.

Begitu juga ketika orang tua inginanaknya bisa berenang. Mengajakke kolam renang, sungai atau mem-buatkan kolam renang di rumah ha-nyalah langkah awal yang konven-sional mengajarkan anak bisa bere-nang. Dibutuhkan pemahaman darisang anak tentang manfaat bisa ber-enang dan bahayanya tidak bisa ber-enang. Untuk menstimuli anaknyaberenang, ada orang tua yang mem-berikan gambaran bila si anak men-galarni kecelakaan laut tetapi tidakbisa berenang. Kalau anak tidakmemiliki kemampuan berenang rna-ka anak tadi diingatkan akantenggelam seperti kapal karam danmati.

Begitu juga dengan orang dewasa.Adanya kendaraan tidak cukupmembuat orang bisa mengendaraikendaraan. Para pegawai membu-tuhkan perubahan persepsi kalaumengendarai sepeda motor kerjalebih efisien dan ekonomis sehinggapendapatan bisa dialokasikan untukkebutuhan lain. Berapa pun banyak-nya jumlah mobil yang ada di garasiseseorang, selama dia merasa nya-man, aman dan tidak bermasalahdengan keuangan, maka dia akanterus mengandalkan sopir pribadibukan dirinya untuk mengendaraimobil.

LembahAltoAdalah sekelompok peneliti yang

berkumpul di Lembah Palo Alto danmenyistematiskan pengalaman diatas. Menurut Rhenald pada 1950beberapa peneliti bertemu di Lem-bah Palo Alto, California. Merekaterdiri atas para ahli manajemen,psikologi, dan para terapis yangmelakukan apa yang mereka sebutsebagai mental research. Merekasangat berkepentingan terhadap pe-rubahan yang sedang melandadunia dan merasa risau terhadapsikap yang ditunjukkan oleh orang-orang yang katanya setuju terhadapperubahan tetapi gagal merespon-snya. Karena bekerja di Lembah Al-to, tim ini dikenal dengan sekutuThe Palo Alto School (Kasali, 2007;212).

Pada 1975, setelah berkumpul zgtahun, tim ini akhirnya berhasilmerumuskan apa yang mereka se-but dengan the law of change. ThePalo Alto School menyatakan mene-mukan bahwa ada duajenis peruba-han yang harus dilakukan setiaporang. Bila hanya satu perubahanyang dilakukan maka perubahan itubelum tentu akan berhasil. Kedu-anya itu adalah perubahan realitadan perubahan persepsi. Bila diru-muskan dalam kalimat sederhana,kira-kira ajaran The Palo AltoSchool adalah, "If you want to

change, you have to change twice.You not only need to change the re-ality of your situation, you alsoneed to change the perception ofthis reality".

Perubahan realita itu terjadi didalam sistem yang sama, berulang-ulang, berkelanjutan, supaya tetapsama hasilnya. Perubahan realitahanya memodifiksi komponen/-bagian dan tetap patuh pada aturanbaku yang berlaku (follow the rules).Retroactive feedback dan menjagakeseimbangan menjadi sesuatu yangsangat penting dalam perubahan re-alita.

Adapun perubahan persepsiadalah perubahan yang keluar darisistem lama, menemui sesuatu yangbaru, tidak meneruskan hal yangsama dan memiliki kejutan. Dalamperubahan realita orang merombakcara berpikir atau melihat, asumsi,hipotesis, dan pandangannya. Pe-rutaran lama sudah tidak bisa di-pakai dan harus diganti secaramenyeluruh. Orang yang melakukanperubahan persepsi mesti berani un-tuk melawan arus, break therule/order. Ketimbang menga-gungkan keseimbangan, balance,perubahan persepsi menimbulkanchaos dan kejutan.

Dalam dunia manajemen menu-rut Rhenald, kebanyakan orang le-bih banyak melakukan perubahannrealita. Misalnya saja perbaikangedung, menambah produk baru dipasar, rnembangun merek, mela-kukan pelatihan, menerapkanlayanan prima, komputerisasi, bal-ance score card, dan lain sejenisnya.Akan tetapi, sangat minim yangmelakukan perubahan persepsi.

Orang terus bersikukuh melaku-kan perubahan realita tetapi alpamelakukan perubahan persepsi.Seperti orang dewasa yang inginberhenti merokok hanya dengancara menghapus anggaran merokokdan membeli permen saja (peruba-han realita). Akan tetapi, dia masihmengatakan "sekali-kali merokoktidak apalah". Tidak ada perubahanpersepsi dalam dirinya. Atau orangdewasa yang ingin menurunkan be-rat badan cukup hanya denganmengambil kegiatan olah raga (fit-ness) dan diet makanan (perubahanrealita). Akan tetapi, dia tidak maumengubah persepsi bahwa kelebihanberat badan tidak hanya menggang-gu kesehatan, tetapi juga mengan-cam kehidupan. Orang bisa matikarena serangan jantung atau strokekarena kolesterol (perubahanpersepsi).

Seperti orang yang selalu datangterlambat ke kantor maka kita tidakbisa mengubahnya dengan hanyamenuntutnya untuk datang tepatwaktu (perubahan realita) tanpamengindahkan perubahan dalampersepsi bahwasannya telat masuk

kantor itu akan merugikan dirisendiri dan semua orang (peruba-han persepsi).

GedungBaruDi sinilah kemudian kita lihat bo-

long besar dari alasan pembangu-nan gedung baru DPR yangdikaitkan dengan perbaikan kinerjaanggota dewan. Ide ini hanyamengindahkan satu perubahan (pe-rubahan realita) tetapi tidak mensyi-ratkan adanya perubahan caraberpikir (perubahan persepsi). Iro-nisnya kemudian kita lebih banyakmelihat anggota dewan yang lebihmengedepankan perubahan realitaketimbang perubahan persepsi.Oleh karena itu, tidak aneh kalaukemudian yang muncul ke publikadalah tentang tuntutan kenaikangaji, tunjangan, perbaikan rumah di-nas, dll.

Saat ini publik belum mendengaradanya usaha anggota dewan yangingin melakukan perubahan lalumelakukan perubahan persepsi. Halini misalnya bisa diwujudkan den-gan dibuatnya regulasi khusus buatanggota dewan yang melanggarhukum dengan timbalan hukumyang lebih berat. Yang terjadi justrusebaliknya, anggota dewan yangmelakukan tindak pidana korupsilebih banyak dilindungi oleh par-tainya ketimbang didorong untukdiganjar hukuman yang lebih beratdari biasanya.

Bila pola perubahan yang digagasDPR seperti ini maka sebetulnyadengan sangat mudah kita akanmelihat pola perubahan lanjutan-nya. Bila sekarang yang dituntutadalah adanya gedung baru denganfasilitas kolam renang di lantai at ,besoknya pasti akan muncul tunt -tan adanya kolam renang di lantaibawah atau tengah karena semuaanggota dewan sangat membu-tuhkannya. Ujung-ujungnya sem alantai pun dituntut mempunyai ko-lamrenang

Gagasan pembangunan gedungbaru DPR benar pada satu sisi, mes-ti dilanjutkan dengan kebenaran pa-da sisi lain berupa perubahan carapikir dan persepsi. Bila hal ini tidakdilakukan maka yang terjadi tidakhanya kerugian bagi masyarakat,tetapi kerugian bagi semua pihak.Kerugiannya tidak sekadar adanyaanggaran yang dihambur-ham-burkan, tetapi juga kepercayaanpublik terhadap legislatif. Bila sudahseperti ini maka bangunan sistempolitik yang sedang kita tata pun ter-ancam mendapat penolakan daripublik. Ujung-ujungnya, perilakuanggota dewan tidak hanyamerugikan mereka, tetapi jugamerugikan tatanan kehidupanbernegara di negeri ini. (Delianur,alumnus Fikom Unpad, pemerhatidunia komunikasi)***

1