Pewarnaan Tahan Asam Dan Pewarnaan Spora_popy Sarah C_260110130136

  • View
    71

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

mikro

Text of Pewarnaan Tahan Asam Dan Pewarnaan Spora_popy Sarah C_260110130136

  • LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI FARMASI

    PEWARNAAN TAHAN ASAM

    Senin, 10 Maret 2015

    Kelompok I

    Senin, Pukul 13.00 16.00 WIB

    Nama NPM

    Popy Sarah Chairunnisa 260110130136

    LABORATORIUM MIKROBIOLOGI FARMASI

    FAKULTAS FARMASI

    UNIVERSITAS PADJADJARAN

    2015

    Nilai TTD

    (Dhiya) (Emanuella) (Puspagita)

  • I. Tujuan

    Mengamati dua kelompok bakteri, yaitu bakteri tahan asam dan bakteri tak

    tahan asam, dengan menggunakan prosedur pewarnaan tahan asam pewarnaan

    (Ziehl-Neelsen). Memahami setiap langkah dan reaksi-reaksi kimia yang terjadi

    dalam prosedur tersebut.

    II. Prinsip

    1. Pemanasan

    Pemanasan bakteri tahan asam diperlukan untuk memuaikan dinding sel

    bakteri agar zat warna dapat masuk ke dalam sel bakteri.

    2. Penetrasi Zat Warna

    Penembusan zat warna ke dalam sel bakteri.

    3. Pewarnaan Tahan Asam

    Pewarnaan tahan asam adalah tipe pewarnaan differensial lebih dari satu

    pewarna untuk membedakan suatu mikroorganisme dengan kandungan

    dinding sel peptidoglikan serta disusun lebih dari 60% lipid kompleks yang

    tahan terhadap dekolorisasi dengan alkohol asam.

    4. Impermeabilitas Dinding Sel Bakteri Tahan Asam

    Dinding sel hidrofobik dan impermeabel terhadap perwarnaan dan bahan

    kimia lain pada cairan atau larutan encer. Ketika proses pewarnaan, bakteri

    tahan asam ini melawan dekolorisasi dengan asam sehingga bakteri tersebut

    disebut bakteri tahan asam.

    5. Teknik Aseptis

    Teknik aseptis adalah proses tanpa kontaminasi untuk menjamin preparasi

    bebas dari mikroba kontaminan. Teknik aseptik digunakan sepanjang

    percobaan berlangsung baik alat, bahan, lingkungan sekitar maupun praktikan.

    Untuk alat dan bahan dapat diterapkan metode sterilisasi.

  • III. Teori Dasar

    Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan

    sifat-sifat yang khas begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak

    berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri yang ada di suspensikan.

    Salah satu cara unutk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah di

    identifikasi adalah dengan cara metode pengenceran atau pewarnaan. Hal tersebut

    berfungsi untuk mengetahuisifat fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding

    sel bakteri melalui serangkaian pengecetan atau pewarnaan (Dwidjoseputro,

    1998).

    Melihat dan mengamati bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit, karena

    selain bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil. Unutk

    mengatasi hal tersebut maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bakteri

    sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah diamati. Oleh karena itu teknik

    pewarnaan sel bakteri ini merupakan salah satu cara yang paling utama dalam

    penelitian-penelitian mikrobiologi (Dwidjoseputro, 1998).

    Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spirilum, dan

    sebagainya) dapat dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana. Istilah

    pewarna sederhana dapat diartikan dalam mewarnai sel-sel bakteri hanya

    digunakan satu macam zat warna saja (Gupte, 1990). Kebanyakan bakteri mudah

    bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya bersifat

    basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat warna yang digunakan untuk

    pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya

    bermuatan positif). Faktor-faktor yang mempengaruhi pewarnaan bakteri yaitu

    fiksasi, peluntur warna , substrat, intensifikasi pewarnaan dan penggunaan zat

    warna penutup. Suatu preparat yang sudah meresap suatu zat warna, kemudian

    dicuci dengan asam encer maka semua zat warna terhapus. sebaliknya terdapat

    juga preparat yang tahan terhadap asam encer. Bakteri-bakteri seperti ini

    dinamakan bakteri tahan asam, dan hal ini merupakan ciri yang khas bagi suatu

    spesies (Dwidjoseputro, 1994).

  • Bakteri tahan asam adalah jenis bakteri yang tidak dapat diwarnai dengan

    pewarnaan anilin biasa kecuali dengan menggunakan fenol dan dengan

    pemanasan. Bakteri ini memilki dinding sel berlilin karena mengandung sejumlah

    besar materi lipoidal oleh karena itu bakteri ini hanya dapat diwarnai dengan

    pewarnaan BTA (Acid-Fast Stain). Dinding sel hidrofobik dan impermeabel

    terhadap pewarnaan dan bahan kimia lain pada cairan atau larutan encer. Ketika

    proses pewarnaan, bakteri tahan asam ini melawan dekolorisasi dengan asam

    sehingga bakteri tersebut disebut bakteri tahan asam (Ball, 1997).

    Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang langsing, lurus atau berbentuk

    filamen. Bakteri ini bersifat aerobik, tidak membentuk spora, non motil, tahan

    asam, dan merupakan bakteri gram positif. Namun, ketika Mycobacteria diberi

    warna oleh pewarnaan gram, maka warna tersebut tidak dapat dihilangkan

    dengan asam. Oleh karena itu, maka mycobacteria disebut sebagai Basil Tahan

    Asam atau BTA. Beberapa mikroorganisme lain yang juga memiliki sifat tahan

    asam, yaitu spesies Nicardia, Rhodococcus, Legionella micdadei, dan protozoa

    Isospora dan Cryptosporidium. Pada dinding sel mycobacteria, lemak

    berhubungan dengan arabinogalaktan dan peptidoglikan di bawahnya. Struktur ini

    menurunkan permeabilitas dinding sel, sehingga mengurangi efektivitas dari

    antibiotik. Lipoarabinomannan adalah suatu molekul lain dalam dinding sel

    mycobacteria, berperan dalam interaksi antara inang dan patogen, menjadikan M.

    tuberculosis dapat bertahan hidup di dalam makrofaga. Mikobakteria dapat

    tumbuh lebih cepat pada pH 6 dan 8 dengan pH optimum sekitar 6.5 - 6.8 untuk

    tipe pathogen. Sel mikobakteria terdiri dari tiga lapisan penting yaitu lipid,

    protein, dan polisakarida (Thomas, 1999).

    Mycobacterium tuberculosis termasuk gram positif, berbentuk batang panjang

    atau pendek, tidak berspora, tidak berkapsul, pertumbuhan sangat lambat (2-8

    minggu), suhu optimal 37-380C yang merupakan suhu normal manusia.

    Pertumbuhannya membutuhkan tambahan makanan seperti darah, egg yolk,

    serum, dan bahan kimia tertentu. Dalam jaringan, basil tuberkel adalah bakteri

    batang lurus dengan ukuran sekitar 0,4 3 m. Pada media buatan, bentuk

  • kokoid dan filamentous tampak bervariasi dari satu spesies ke spesies lain. Segera

    setelah diwarnai dengan pencelupan dasar mereka tidak dapat didekolorisasi oleh

    alkohol, tanpa memperhatikan pengobatan dengan iodine. Basil tuberkel secara

    umum dapat diwarnai dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen. Media untuk membiakan

    mikobakteria adalah media nonselektif dan media selektif. Media selektif berisi

    antibiotik untuk mencegah pertumbuhan kontaminan bakteri dan fungi yang

    berlebihan. Ada tiga formulasi umum yang dapat digunakan untuk kedua media

    nonselektif dan selektif, yaitu media agar semisintetik (middlebrook 7H10 dan

    7H11), media telur inspisasi (Lowenstein-jensen), media kaldu (broth media)

    (Jawetz et al., 2001).

    Mikobakteria merupakan aerobik obligat yang memperoleh energi dari

    oksidasi beberapa senyawa sederhana. Penambahan CO2 meningkatkan

    pertumbuhan. Tidak ada aktivitas biokimia yang menandai. Dan kecepatan

    pertumbuhan lebih rendah dari pada sebagian besar bakteri. Waktu untuk

    menggandakan basil tuberkel sekitar 18 jam, bentuk saprofit cenderung tumbuh

    lebih cepat, poliferasi terjadi pada temperatur 22-23C, untuk menghasilkan

    pigmen yang lebih banyak dan mengurangi bentuk cepat asam daripada bentuk

    patogenik. Mikobakteria cenderung lebih resisten terhadap agen kimia daripada

    bakteri lain karena sifat hidrofobik permukaan sel dan pertumbuhannya. Basil

    tuberkel reisten terhadap kekeringan dan bertahan hidup selama periode waktu

    yang lama dalam sputum kering. Variasi dapat terjadi dalam koloni, pigmentasi,

    virulensi, temperatur petumbuhan yang optimal dan beberapa tanda pertumbuhan

    atau seluler lainnya (Fardiaz, 1992).

    Bakteri tahan asam dapat diamati dengan teknik pewarnaan Ziehl Neelson,

    Kinyoun Gabber, dan Fluorochrom. Pengambilan sputum (sekret paru-paru atau

    ludah) untuk analisis tuberculosis dapat dilakukan setiap saat dikenal ada 3 jenis

    sputum: Sputum pagi : sputum yang dikeluarkan oleh penderita pada saat bangun

    pagi. Spot sputum : sputum yang dikeluarkan pada saat itu. Collection sputum:

    sputum yang keluar dan ditampung selama 24 jam Sputum yang telah diperoleh

    dapat disimpan dalam lemari es selama satu minggu. Teknik pewarnaan Ziehl-

  • Neelsen, yaitu dengan menggunakan zat warna carbol fuchsin 0,3 %, asam

    alkohol 3 %, dan methylen blue 0,3%. Pada pemberian warna pertama, yaitu

    carbol fuchsin, BTA bersifat mempertahankannya. Carbol fuchsin merupakan

    fuksin basa yang dilarutkan dalam larutan fenol 5 %. Larutan ini memberikan

    warna merah pada sediaan dahak. Fenol digunakan sebagai pelarut untuk

    membantu pemasukan zat warna ke dalam sel bakteri sewaktu proses pemanasan.

    Fungsi pemanasan untuk melebarkan pori-pori lemak BTA sehingga carbol

    fuchsin dapat masuk sewaktu BTA dicuci dengan larutan pemucat, yaitu asam

    alkohol, maka zat warna pertama tidak mudah dilunturkan. Bakteri kemudian

    dicuci dengan air mengalir untuk menutup pori- pori dan menghentikan

    pemucatan. BTA akan terlihat berwarna merah, sedangkan bakteri yang tidak

    tahan asam akan melarutkan carbol fuchsin dengan cepat sehingga sel bakteri

    tidak berwarna. Setelah penambahan zat warna kedua yaitu methylen blue,