Pewarnaan Dan Cara-cara Pewarnaan

  • View
    321

  • Download
    64

Embed Size (px)

DESCRIPTION

pewarnaan

Text of Pewarnaan Dan Cara-cara Pewarnaan

BAB I- 6 -BAB IPENDAHULUANLatar BelakangPengenalan bentuk (morfologi) mikroba, kecuali untuk kelompok mikroalga, harus dilakukan melalui pewarnaan terlebih dahulu. Karena tanpa melalui pewarnaa bentuk tersebut tidak akan dapat diamati secara jelas.Pewarnaan atau pengecatan terhadap mikroba, banyak dilakukan secara langsung bersama (bahan yang ada) ataupun secara tidak langsung (melalui biakan murni).Pewarna yang digunakan pada umumnya berbentuk senyawa kimia khusus yang akan memberikan reaksi kalau mengenai bagian tubuh jasad. Karena pewarna tersebut berbentuk ion yang bermuatan positif atau negatif.Sel bakteri bermuatan mendekati negatif kalau dalam keadaan pH mendekati netral. Sehingga kalau kita memberikan pewarna yang bermuatan positif, misalnya metilen biru, hasil pewarnaan akan jelas.Secara kimia, zat warna dapat digolongkan dalam senyawa basa dan senyawa asam. Jika warna terletak pada muatan positif maka senyawa tersebut dinamakan zat warna basa. Sebaliknya jika warna terdapat pada ion bermuatan negatif maka senyawa tersebut dinamakan zat warna asam.Contoh zat warna basa misalnya : metilen biru, safranin, merah netral dan sebagainya, dengan anionnya adalah Cl-, SO2-4, CH3COO-, CO-OHOO- dan sebagainya. Sedang zat warna asam misalnya Na eosinat, eosin, fukhsin, fukhsin asam, merah kongo dan sebagainya, dengan kationnya adalah Na+, K+, Ca2+, NH3+.Di samping zat warna asam dan zat warna basa juga didapatkan zat warna indiferen seperti suddan III, dimetil amid azo benzol dan zat warna netral seperti eosin metilen biru.Salah satu sifat dan zat warna asam pada umumnya mempunyai sifat bersenyawa lebih cepat dengan bagian-bagian sitoplasma, sedang zat warna basa mudah bereaksi dengan bagian-bagian inti sel.Pada praktikum kali ini dilakukan untuk mengamati bentuk morfologi mikroba percobaan ini agak rumit karena warna mikroba yang diamati cenderung bening maka dilakukan pewarnaan agar lebih mudah diamati bentuk morfologinya.Tujuan PercobaanMengetahui jenis-jenis pewarnaan dan cara-cara pewarnaanMengetahui tujuan dari pewarnaanMengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pewarnaanBAB IITINJAUAN PUSTAKA1.Pewarnaan SederhanaPada pewarnaan sederhana hanya digunakan hanya 1 macam zat warna saja agar meningkatkan kontras antara mikroorganisme dan sekelilingnya. Prosedur pewarnaan sederhana mudah dan cepat, sehingga pewarnaan ini sering digunakan untuk melihat bentuk, ukuran dan penataan mikrooragnisme. Pada bakteri dikenal berbagai bentuk, yaitu bulat (coocus), batang (basilus) dan spiral. Dengan pewarnaan sederhana dapat juga terlihat penataan bakteri. Pada coocus dapat terlihat penataan seperti rantai (streptokokus), buah anggur (stafilakokus), pasangan (diplokokus), bentuk kubus yang terdiri dari 4 atau 8 kokus (sarcinae).Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa). Zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya bermuatan positif).Pewarnaan sederhana ini memungkinkan dibedakannya bakteri dengan bermacam-macam tipe morfologi (coocus, basilus, vibrio, spirilum, dan sebagainya) dari bahan-bahan lainnya yang ada pada olesan yang diwarnai. Disamping itu dapat pula diamati struktur-struktur tertentu seperti endospora. Berbeda dengan spesimen hidup, sel-sel yang diwarnai terfiksasi pada kaca obyek sehingga dapat disimpan sebagai dokumentasi untuk jangka waktu lama. 2.Pewarnaan NegatifSeperti jelas tercemin dari namanya, metode ini bukan untuk mewarnai bakteri, tetapi hanya mewarnai latar belakangnya menjadi hitam gelap. Metode ini meliputi pencampuran mikroorganisme di dalam setetes tinta nigrosin lalu menyebarkannya di atas sebuah kaca obyek yang bersih. Pada pewarnaan ini mikroorganisme kelihatan transparan (tembus pandang) dan tampak jelas di anatara medan yang gelap karena pewarna-pewarna tersebut tidak menembus mikroorganisme. Teknik ini berguna untuk menentukan morfologi dan ukuran sel. Berbeda dengan metode-metode pewarna lain, pada pewarnaan negatif olesan tidak mengalami pemanasan ataupun perlakuan keras dengan bahan-bahan kimia, maka terjadinya penyusutan sel dan salah bentuk agak kurang sehingga penentuan sel dapat diperoleh dengan lebih cepat. Akan tetapi harus diperhatikan bahwa selama mengeringnya pewarna, sel-sel tersebut dapat saja mengalami penyusutan atau salah bentuk. Metode ini juga berguna untuk bakteri-bakteri tertentu, seperti spiroketa, yang sukar diwarnai Metode yang akan dipakai di sini menggunakan nigrosin. Berhasilnya metode ini bergantung pada hal-hal berikut: (1) kaca obyek harus betul-betul bersih ( bila terdapat sisa-sisa lemak atau debu pada kaca obyek, olesan mikroorganisme tidak akan merata); (2) jumlah nigrosan yang digunakan menentukan keberhasilan pewarnaan (kebanyakan mahasiswa cenderung untuk menggunakannya dalam jumlah yang berlebihan); (3) campuran mikroorganisme dan pewarna harus diseret di atas kaca obyek, bukan sekedar didorong.Beberapa mikroba sulit diwarnai dengan zat warna yang bersifat basa, tetapi mudah dilihat dengan pewarnaan negatif. Pada metode ini mikroba dicampur dengan nigrosin, kemudian digesekkan di atas kaca obyek. Zat warna tidak akan mewarnai bakteri, akan tetapi mewarnai lingkungan sekitar bakteri. Dengan mikroskop, mikroba akan terlihat tidak berwarna dengan latar belakang hitam. Pada metode ini preparat tidak dipanaskan di atas api, melainkan dikeringkan di udara.Ciri-ciri pewarnaan negaif, yaitu :Menggunakan zat warna bermuatan negatif.Penggunaan zat warna bermuatan negatif ini, menyebabkan zat warna tidak akan mewarnai permuakaan sel yang mempunyai muatan negatif.Pewarnaan ini bukan merupakan pewarnaan sel bakteri, karena sel bakteri tetap tidak berwarna setelah penambahan zat warna.Kesalahan yang sering dilakukan:Preparat ulas terlalu tebal sehingga lingkungan di sekeliling bakteri terlihat gelap dan mikroba tidak dapat dibedakan dengan lingkungan di sekelilingnya. Preparat ulas terlalu tipis sehingga tidak terjadi kontras yang tajam antara bakteri dengan lingkungan di sekitarnya.3.Pewarnaan GramPada tahun 1884, seorang bakteriologiwan Denmark Christian Gram secara kebetulan menemukan prosedur pewarnaan Gram. Pewarnaan ini mungkin merupakan salah satu prosedur yang amat penting dan dan paling banyak digunakan dalam klasifikasi bakteri. Dengan metode ini bakteri dapat dipisahkan secara umum menjadi dua kelompok besar yaitu :Organisme yang dapat menahan kompleks pewarna primer ungu kristal iodium sampai pada akhir prosedur (sel-sel tampak biru gelap atau ungu ), disebut gram positif.b.Organisme yang kehilangan kompleks warna ungu kristal pada waktiu pembilasan dengan alkohol namun kemudian terwarnai oleh pewarna tandingan , safranin (sel-sel tampak merah muda ), disebut gram negatif. Karena kemampuannya untuk membedakan suatu kelompok bakteri tertentu dari kelompok lainnya, pewarnaan gram disebut juga pewarnaan diferensial.Sekalipun mekanisme yang tepat dari pewarnaan Gram masih belum jelas, diketahui bahwa komposisi dinding sel bakteri Gram positif berbeda dari bakteri Gram negatif dan ini diduga berperanan dalam terjadinya reaksi Gram yang berbeda-beda.Faktor faktor yang juga dapat menimbulkan keragaman dalam reaksi gram ialah :Pelaksanaan fiksasi panas terhadap olesan.Kerapatan sel terhadap olesan.Konsentrasi dan umur reagen-reagen yang digunakan untuk pewarnaan gram.Sifat , komsentrasi dan jumlah pemucat yang dipakai.Sejarah biakan4.Pewarnaan SporaJenis-jenis bakteri tertentu, terutama yang tergolong ke dalam genus Bacillus dan Clostridium, membentuk suatu struktur di dalam sel pada tempat-tempat yang khas, disebut endospora. Endospora dapat bertahan hidup dalam keadaan kekurangan nutrient, tahan terhadap panas dan unsur-unsur fisik lainnya seperti pembekuan, kekeringan, radiasi ultraviolet serta terhadap bahan-bahan kimia yang dapat menghancurkan bakteri yang tidak membentuk spora. Ketahanan tersebut disebabkan oleh adanya selubung spora yang tebal dank eras. Endospora merupakan bentuk kehidupan yang paling resisten yang diketahui sejauh ini; organisme yang bersangkutan dapat bertahan dalam debu dan tanah selama bertahun-tahun. Misalnya, adanya endospora dalam debu menjelaskan mengapa Bacillus merupakan kontaminan umum dalam laboratorium.Sifat endospora yang demikian itu menyebabkan dibutuhkannya perlakuan yang keras untuk mewarnainya. Prosedur pewarnaan Gram misalnya, tidak dapat mewarnainya. Hanya bila diberi perlakuan panas yang cukup, pewarna yang sesuai dapat menembus endospora. Tetapi, sekali pewarna tersebut memasuki endospora, sukar dihilangkan. Ada dua metode yang umum dipakai, yaitu metode Schaeffer-Fulton dan metode Dorner. Yang akan anda pakai disini adalah metode yang pertama (lihat prosedur). Metode Dorner menggunakan nigrosin dan menghasilkan spora berwarna merah dan sporangium yang tak berwarna.Ukuran dan letak endospora di dalam sel merupakan ciri-ciri yang digunakan untuk membedakan spesies-spesies bakteri yang membentuknya.Spora pada bakteri merupakan struktur yang tahan-panas dan bahan kimia. Spora dibentuk oleh bakteri tertentu untuk mengatasi lingkungan yang tidak menguntungkan bagi bakteri. Contoh bakteri pembentuk spora adalah Bacillus, Clostridium, Thermoactinomyces, dan Sporosarcina. Spora terbentuk dalam sel sehingga seringkali disebut sebagai endospora ; dalam sel bakteri hanya terdapat 1 spora. Spora ini tidak berfungsi untuk reproduksi.Dalam lingkungan yang menguntungkan spora bergerminasi kembali menjadi seperti vegetatif, sebaliknya jika tidak menguntungkan sel vegetatif berubah menjadi spora. Lingkungan yang tidak menguntungkan disebabkan langkanya sumber karbon, energi, atau fosfat. Selain itu bahan yang bersifat toksik, suhu yang tidak sesuai, atau lingkungan yang kering (hipotonik) menginduksi pembentukan spora. Spora tahan terhadap suhu dan bahan kimia yang mematikan sel vegetatif. Sebagai contoh, spora Clostridium botulinum tahan terhadap suhu mendidih selama beberapa jam. Keke