Petunjuk Praktikum Kimia Anorganik

  • Published on
    24-Oct-2015

  • View
    33

  • Download
    9

Embed Size (px)

DESCRIPTION

:D

Transcript

<p>PRAKTIKUM KIMIA DASAR I / ANORGANIKPS ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN- FAPERTA UNSOED</p> <p>Oleh: </p> <p>Tim Praktikum Kimia Dasar FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANPURWOKERTO2013KATA PENGANTAR</p> <p>Alhamdulillahirobbilalamin penulis sampaikan ke hadirat yang maha pengasih dan penyayang, Allah SWT, karena kesempatan yang telah diberikan kepada penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan petunjuk praktikum kimia anorganik ini. Buku petunjuk ini disusun sebagai panduan untuk mahasiswa dalam melaksanakan praktikum kimia anorganik dengan harapan bisa membantu pemahaman tentang teori yang didapatkan di kelas dan memberikan keterampilan dasar praktikum untuk mempelajari kimia yang lebih lanjut.</p> <p>Akhirnya penulis berharap semoga buku ini bisa digunakan secara tepat dan mengena sesuai dengan apa yang diharapkan.</p> <p>November, 2013Tim Praktikum Kimia Anorganik</p> <p>PERCOBAAN IPEMBUATAN DAN PENGENCERAN LARUTANSERTA REAKSI ASAM BASAA. TUJUAN PERCOBAANTujuan percobaan praktikum ini yaitu :1. Membuat larutan NaOH dan dari larutan H2SO4 serta pengenceran larutan H2SO42. Menghitung konsentrasi larutan dengan beberapa satuanB. DASAR TEORILarutan didefinisikan sebagai zat homogen yang merupakan campuran dari dua komponen atau lebih, yaitu antara zat terlarut dan zat pelarut. Senyawa dalam jumlah yang lebih besar disebut solvent (zat pelarut) dan senyawa yang berada dalam jumlah kecil disebut solute (zat terlarut). Jumlah zat terlarut dalam pelarut sangat bervariasi itulah sebabnya perlu mengetahui susunan atau konsentrasi yang tepat dalam larutan bila harus dilakukan suatu perhitungan pada reaksi kimia. Konsenstrasi larutan dapat dinyatakan dengan beberapa cara antara lain :1. Molaritas dari solute adalah jumlah mol solute per liter daei larutan dan biasanya dinyatakan dengan huruf besar M.2. Molalitas dari solute adalah jumlah mol solute per 1 kg.3. Persen berat adalah menyatakan banyaknya gram zat terlarut dalam 100 gram larutan.4. Persen volume menyatakan banyaknya ml zat terlarut dalam 100 ml larutan.5. Part per million menyatakan banyaknya mg zat terlarut dalam 1 kg atau 1 liter larutan.6. Fraksi mol adalah perbandingan dari jumlah suatu komponen dengan jumlah total mol dalam larutan.7. Normalitas dari suatu solute adalah jumlah gram ekuivalen solute per liter larutan.Untuk mengetahui perubahan warna dipakai suatu indikator. Indokator adalah zat yang warnanya berbeda dalam lingkungan yang sifatnya berlainan. Pada titrasi ini digunakan indikator asam basa. Indikator asam basa adalah senyawa organik golongan pewarna yang mampu memberikan perubahan warna apabila pH dari suatu larutan berubah. Ada beberapa indikator asam basa diantaranya adalah :1. Kertas lakmus.2. Larutan metil orange.3. Phenophtalein.Larutan adalah campuran homogen antara dua atau lebih senyawa yang terdispensi sebagai molekul, atom atau ion dengan komposisi yang bervariasi atau biasa dikatakan campuran homogen antara zat terlarut dan pelarut.Larutan dapat dibedakan menjadi :a. Larutan encer adalah larutan yang mengandung sejumlah kecil zat terlarut relatif terhadap jumlah zat pelarut.b. Larutan pekat adalah larutan yang mengandung sebagian besar jumlah zat terlarut.c. Larutan lewat jenuh adalah larutan yang tidak dapat melarutkan zat terlarut atau sudah terjadi pengendapan.d. Larutan belum jenuh adalah larutan yang masih bisa untuk melarutkan zat terlarut atau belum terjadi atau terbentuk endapan.e. Larutan tepat jenuh adalah larutan yang menimbulkan endapan.Yang menyatakan banyaknya zat terlarut dan pelarut dikenal istilah konsentrasi. Konsentrasi larutan dinyatakan dengan beberapa cara seperti persen berat (W/W), persen volume (V/V), persen lab, molalitas, molaritas, normalitas, ppm, ppb, fraksimol dan lain-lain. (Keenan, 1986).Titrasi asam basa adalah titrasi yang melibatkan reaksi netralisasi dimana asam bereaksi dengan sejumlah ekivalen basa. Kurva titrasi dibuat dengan memplot pH larutan sebagai fungsi dari volume titran yang ditambahkan. Titran selalu merupakan asam atau basa kuat, sedangkan analit bisa berubah basa atau asam kuat ataupun basa atau asam lemah (Djauhari, 1990).Indikator adalah suatu asam atau basa, maka jumlah yang harus ditambahkan hendaknya sesedikit mungkin, sedemikian rupa sehingga tidak mempengaruhi pH dan titran yang menyebabkan terjadinya perubahan sedikit. Dengan demikian indikator biasanya dibuat dengan konsentrasi beberapa persen saja dan ditambahkan sekitar 2-3 tetes ke dalam larutan yang titrasi. (Djauhari, 1990).Campuran asam basa dapat dititrasi secara bertahap bila ada perbedaan yang mencolok. Di sini harus ada perbedaan Ka sedikitnya 104. Bila campuran dua asam kuat dititrasi bersamaan, maka tidak akan ada perbedaan dengan titrasi asam kuat tunggal, sehingga hanya satu titik ekivalen. Hal yang sama juga terjadi untuk campuran asam lemah jika harga kedua Ka nya tidak jauh berbeda. (Schaum, 1998).Titrasi dalam pelarut bukan air asam dan basa dengan tetapan ionisasi kurang dari 10-7 dan 10-8 terlalu lemah untuk dititrasi secara akurat dalam larutan berair. Pelarut inert atau aprotik dan pelarut amfiprotik. Dengan pelarut amfiprotik, asam atau basa akan disesuaikan dengan kekuatan kation atau anion, dimana asam dan basa tersebut akan mengalami ionisasi sempurna. (Schaum, 1998).Dari tiga jenis wujud zat seharusnya terbentuk sembilam macam larutan, tetapi zat berwujud padat dan cair tidak dapat membentuk larutan dalam pelarut berwujud gas. Partikel yang berwujud padat dan cair dalam zat lain yang berwujud gas akan membentuk campuran heterogen. Sifat larutan sedikit menyimpang dari sifat pelarut karena adanya zat terlarut, penyimpangan semakin besar dan jika komposisi zat terlarut ditambah. Untuk menyatakan komposisi larutan secara kuantitatif disebut konsentrasi. (Syukri, 1999)C. ALAT DAN BAHANA. Alat</p> <p>Alat-alat yang dipergunakan pada percobaan ini adalah Erlenmeyer, buret, gelas piala, labu takar, pipet tetes, pipet Mohr, pipet gondok dan thermometer.</p> <p>B. Bahan</p> <p>Bahan-bahan yang diperlukan pada percobaan ini adalah H2SO4, NaOH, indikator metil orange, PP dan metil merah.</p> <p>D. PROSEDUR KERJA1. Pembuatan Larutan H2SO4a. Menimbang labu takar 50 ml kosong (a gram), dan mengisi labu takar 50 ml dengan aquades sampai kira-kira nya, dan menimbang (b gram, kemudian ukur suhunya (t1)).b. Menimbang gelas ukur kosong (c gram), mengisi 1 ml H2SO4 pekat ke dalam gelas ukur, dan menimbangnya (d gram) dan mengukur volumenya, serta mengukur suhu dengan termometer (t2).c. Menuangkan H2SO4 pekat dengan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam labu takar, menepatkan labu takar dengan aquades sampai 50 ml, lalu mengocoknya agar homogen, menimbang larutan H2SO4 yang terjadi (e gram), mengukur suhu dengan termometer (t3).d. Menentukan sifat pelarutan asam sulfat dan konsentrasinya dalam satuan % (w/w), % (v/v), molalitas, molaritas, ppm, dan fraksi mol.</p> <p>2. Pembuatan Larutan NaOHa. Menimbang 2 butir (kurang lebih 0,3 gram) NaOH dan melarutkan dalam gelas piala dengan sedikit air..b. Merasakan larutan apakah terasa lebih panas, tetap atau lebih dingin dari sebelumnya.c. Memindahkan larutan tersebut kedalam labu takar 50 ml. Membilas gelas piala dengan aquades.d. Mengencerkan dan menepatkan sampai tanda tera, kocok supaya homogen.e. Menentukan konsentrasi NaOH yang dibuat dalam molaritas dan % (w/v).</p> <p>3. Pengenceran Larutan H2SO4a. Memipet 5 ml larutan H2SO4 yang telah dibuat pada prosedur A, memasukkannya ke dalam labu </p> <p>b. takar 50 ml.a. Mengencerkan dan menepatkan sampai tanda tera, serta mengocok supaya homogen.b. Menentukan konsentrasi H2SO4 hasil pengenceran.</p> <p>PERCOBAAN IISTOIKIOMETRI REAKSI</p> <p>A. TUJUAN PERCOBAAN1 Menentukan koefisien reaksi berdasarkan pembentukan endapan dan perubahan temperatur </p> <p>2 Menentukan hasil reaksi berdasarkan konsep mol</p> <p>B. DASAR TEORIIlmu kimia adalah ilmu yang dikembangkan berdasarkan eksperimen melalui pendekatan ilmiah. Ilmu kimia mempelajari perubahan zat baik secara fisik maupun secara kimia. Perubahan yang mengahasilkan zat baru yang jenis dan sifatnya berbeda dari zat pembentuknya disebut sebagai perubahan kimia atau reaksi kimia. Perubahan kimia ini dapat diamati dari terbentuknya hasil reaksi seperti timbulnya gas, endapan, terjadi perubahan warna dan perubahan kalor.</p> <p>Untuk memudahkan dalam merancang suatu eksperimen, maka perlu menuliskan persamaan reaksi kimia, yang menunjukkan zat-zat yang bereaksi dan hasil reaksi, untuk menunjukkan bahwa reaksi setara, diungkapkan dengan koefisien reaksi. Koefisien reaksi merupakan konversi yang menunjukkan jumlah atom atau molekul yang terlibat dalam reaksi atau menyatakan pula jumlah mol senyawa yang bereaksi. Contoh : reaksi antara gas nitrogen dan gas hidrogen membentuk gas amonia, persamaan reaksinya:</p> <p>N2 (g) + 3 H2 (g) 2 NH3 (g)</p> <p>Persamaan ini menyatakan bahwa 1 molekul nitrogen bereaksi dengan 3 molekul hidrogen membentuk 2 molekul amonia atau konversi ke mol menjadi 1 mol nitrogen bereaksi dengan 3 mil hidrogen menbentuk 2 mol amonia. Angka 1, 3 dan 2 adalah koefisien reaksi sebagai faktor konversi.</p> <p>Secara laboratorium, untuk mengetahui koefisien dalam persamaan kimia diperlukan sederetan data hasil percobaan. Salah satu cara sederhana untuk menentukan koefisien reaksi dengan metode variasi kontinu. Prinsip dasarnya dalam sederetan percobaan yang dilakukan, jumlah moler total campuran pereaksi dibuat tetap sedangkan jumlah molar masing-masing dibuat berubah secara teratur (diberagamkan secara beraturan dan kontu). Perubahan yang terjadi akibat adanya reaksi antara campuran pereaksi seperti massa, volum dan suhu dialurkan terhadap jumlah molar masing-masing pereaksi dalam suatu grafik, sehingga diperoleh titik optimum. Titik optimum yang terbentuk menyatakan perbandingan koefisien dari masing-masing pereaksi. </p> <p>C. ALAT DAN BAHAN1. Alat</p> <p>- gelas beker 50 ml</p> <p>(4)</p> <p>- mistar ukuran 20 cm(1)</p> <p>- termometer (2)</p> <p>2. Bahan</p> <p>- NaOH 0,1 M</p> <p>- NaOH 1,0 M</p> <p>- CuSO4 0,1 M</p> <p>- HCl 1,0 M</p> <p>D. CARA KERJA1. Stokiometri Reaksi Pengendapan</p> <p>a. Sediakan dua buah gelas beker 50 ml. Ke dalam 1 gelas beker masukkan 5 ml NaOH 0,1 M. Pada gelas beker yang lain masukkan 25 ml CuSO4 0,1 M. Campurkan kedua larutan itu kemudian kocok.</p> <p>b. Biarkan campuran tersebut agar endapan yang terbentuk berada di dasar gelas beker.</p> <p>c. Ukur tinggi endapan yang terbentuk menggunakan mistar (agar akurat terapkan satuan mili-meter).</p> <p>d. Lakukan cara yang sama dengan langkah (a-c) untuk percobaan berikut, dengan mengubah volume pereaksi masing-masing tetapi volume total tetap 30 ml, yaitu:</p> <p> 10 ml NaOH 0,1 M dan 20 ml CuSO4 0,1 M</p> <p> 15 ml NaOH 0,1 M dan 15 ml CuSO4 0,1 M</p> <p> 20 ml NaOH 0,1 M dan 10 ml CuSO4 0,1 M</p> <p> 25 ml NaOH 0,1 M dan 5 ml CuSO4 0,1 M</p> <p>e. Buat grafik yang menyatakan hubungan antara tinggi endapan (sumbu y) dan volume larutan (sumbu x), sehingga diperoleh titik optimum kurva.</p> <p>f. Dari grafik tentukan koefisien reaksi berdasarkan titik optimum yang diperoleh. Titik optimum menyatakan perbandingan koefisien reaksi.</p> <p>g. Bandingkan dengan koefesien reaksi yang diperoleh dari menyetarakan persamaan reaksi.h. Tentukan rendemen hasil reaksi dengan menggunakan konsep mol.</p> <p>2. Stokiometri Sistem Asam-Basa</p> <p>a. Ke dalam gelas beker 50 ml, masukkan 5 ml NaOH 1,0 M dan ke dalam gelas beker lainnya masukkan 25 ml HCl 1,0 M. Kemudian ukur temperatur kedua larutan tersebut (TM) dan diusahakan agar sama (dapat dilakukan dengan merendam kedua gelas beker tersebut dalam penangas air.</p> <p>b. Campurkan kedua larutan tersebut hingga volume total 30 ml, ukur temperatur campuran dan catat suhu maksimum yang konstan ( TA ).</p> <p>c. Lakukan cara yang sama untuk percobaan berikut dengan mengubah volume pereaksi masing-masing hingga volume total campuran adalah 30 ml, yaitu:</p> <p> 10 ml NaOH 1,0 M dan 20 ml HCl 1,0 M</p> <p> 15 ml NaOH 1,0 M dan 15 ml HCl 1,0 M</p> <p> 20 ml NaOH 1,0 M dan 10 ml HCl 1,0 M</p> <p> 25 ml NaOH 1,0 M dan 5 ml HCl 1,0 M</p> <p>d. Buat grafik yang menyatakan hubungan antara perubahan temperatur (sumbu y) dan volume asam/basa (sumbu x).e. Dari grafik tentukan koefisien reaksi berdasarkan titik optimum yang diperoleh. Titik optimum menyatakan perbandingan koefisien reaksi.</p> <p>f. Bandingkan dengan koefesien reaksi yang diperoleh dari menyetarakan persamaan reaksi.</p> <p>g. Tentukan rendemen hasil reaksi dengan menggunakan konsep mol.</p> <p>E. ANALISIS DATAPada percobaan D.2 dan D.3, berdasarkan grafik yang diperoleh dari data antara perubahan temperatur / tinggi endapan terhadap volume masing-masing pereaksi ditentukan stokiometri reaksi dengan mengubah satuan volume masing-masing pereaksi pada titik optimum menjadi mol.</p> <p>mol = molaritas larutan (M) x volume larutan (V)</p> <p>Sehingga diperoleh perbandingan mol = perbandingan koefisien reaksi.</p> <p>PERCOBAAN III</p> <p>ARGENTOMETRIA. TUJUAN PERCOBAAN</p> <p>Adapun yang menjadi tujuan dari percobaan ini adalah</p> <p>1. Untuk membuat larutan argentum nitrat (AgNO3) sebagai larutan standard.</p> <p>2. Untuk membuat larutan natrium klorida (NaCl) 0,01 N.</p> <p>3. Untuk menstandardisasi larutan NaCl dengan larutan standard AgNO3.</p> <p>4. Menetapkan kadar/kemurnian natrium klorida (NaCl) dalam garam dapur kotor dengan menggunakan metode Mohr.</p> <p>B. DASAR TEORI</p> <p>Argentometri adalah suatu proses titrasi yang menggunakan garam argentum nitrat (AgNO3) sebagai larutan standard. Dalam titrasi argentometri, larutan AgNO3 digunakan untuk menetapkan garam-garam halogen dan sianida karena kedua jenis garam ini dengan ion Ag+ dari garam standard AgNO3 dapat memebentuk suatu endapan atau suatu senyawa kompleks sesuai dengan persamaan reaksi berikut ini :</p> <p>NaX + Ag+ ( AgX + Na+ ( X = halida )</p> <p>KCN + Ag+ ( AgCN + K+KCN + AgCN ( K{Ag(CN)2}Garam AgNO3 mempunyai kemurnian yang tinggi, sehingga garam tersebut dapat digunakan sebagai larutan standard primer. Larutan standard AgNO3 0,1 N dapat dibuat dengan melarutkan 16,99 gram AgNO3 dalam 1 liter aquades.</p> <p>Seperti halnya pada proses titrasi netralisasi, pada proses argentometri pun dapat digambarkan proses titrasinya meskipun pembuatan kurva ini tidak dimaksudkan untuk memilih dan menentukan jenis indikator yang akan digunakan untuk menentukan saat tercapainya titik ekivalen, sehingga untuk pembuatan kurva ini sebagai ordinatnya bukan lagi besarnya pH larutan melainkan besarnya pAg atau pX dalam larutan.</p> <p>Argentometri termasuk salah satu cara analisis kuantitatif dengan sistem pengendapan. Cara analisis ini biasanya dipergunakan untuk menentukan ion-ion halogen, ion perak, ion tiosianat serta ion-ion lainnya yang dapat diendapkan oleh larutan standardnya. Dalam titrasi argentometri ini terdapat 4 cara untuk menentukan titik akhir atau titik ekivalen, yaitu :</p> <p>1. Dengan cara Liebig</p> <p>Dalam titrasi argentometri yang disebut dengan titrasi pembentukan kompleks adalah titrasi terhadap larutan garam sianida. Proses ini mula-mula dikemukakan oleh Liebig pada tahun 1851, akhirnya dikenal sebagai titrasi argent...</p>