Pestisida Nabati

  • View
    489

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of Pestisida Nabati

PEMANFAATAN PESTISIDA NABATI DALAM PERDAGANGAN GLOBAL Oleh Ir. Handry R. D. Amanupunyo., MP Pendahuluan Menjelang era perdagangan bebas semua negara terutama negara-negara berkembang ingin memasukkan produk pertaniaannya di pasar global khususnya di negara-negara maju yang konsumennya memiliki daya beli tinggi. Namun untuk memasuki pasar global banyak persyaratan yang harus dipenuhi oleh produsen pertanian dari negara-negara berkembang, dalam persaingan mereka dengan para produsen dari negara-negara berkembang lainnya dan produsen domestik dari negara-negara industri sendiri. Karena pasar global saat ini sudah dikuasai oeh konsumen hijau yaitu konsumen sadar lingkungan, maka persyaratan lingkungan sudah merupakan persyaratan minimal yang harus dipenuhi oleh suatu komoditi pertanian untuk dapat menembus pasar global. Salah satu persyaratan lingkungan adalah aras kandungan residu pestisida tertentu harus berada di bawah aras tertentu yang ditetapkan oleh negara importir yang bersangkutan. Bila ditemukan kandungan pestisida di suatu komoditi pertanian berada atas MRLs (Maximum Residue Limits) yang berlaku di suatu negara, komoditi tersebut tidak dapat memasuki pasar di negara tersebut. Untuk memenuhi persyaratan tersebut, maka negara-negara yang ingin bersaing di pasar bebas harus mengusahakan agar dalam proses budidaya tanaman dan usaha tani menggunakan teknologi pengendalian hama yang tidak meninggalkan residu pestisida melebihi dari persyaratan yang ditetapkan. Salah satu alternatif teknologi pengendalian hama dan Penyakit tanaman adalah penggunaan pestisida nabati yang lebih bercirikan alami daripada ciri kimiawi. Dengan sifat-sifatnya yang mudah terurai, aman bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup, dapat diharapkan bahwa produk-produk pertanian yang diperlukan dengan pestisida nabati dapat diterima dan berdaya saing tinggi di pasar global. Namun perlu diingatkan di sini bahwa kandungan residu pestisida hanya merupakan salah satu persyaratan lingkungan, karena masih banyak persyaratan lingkungan lainnya yang harus dipenuhi oleh petani dari negara berkembang bila mereka memperoleh label lingkungan dan sukses memasuki pasar global. Makalah ini akan membahas mengenai label lingkungan, prospek pestisida nabati dalam memenuhi persyaratan label lingkungan, dan usaha-usaha yang harus dilakukan petani untuk dapat memperoleh label lingkungan dengan memanfaatkan pestisida nabati.

Label Lingkungan Label lingkungan atau ekolabel merupakan suatu label yang ditempelkan atau disertakan pada suatu produk yang berbentuk benda atau jasa yang menyatakan bahwa produk tersebut dihasilkan dan diproses dengan menggunakan pendekatan dan teknik yang tidak membahayakan lingkungan hidup dan kesehatan manusia, termasuk tidak menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. Sebagai atribut lingkungan, label lingkungan dapat berbentuk pernyataan atau deklarasi berwawasan lingkungan yang berupa label, simbol, pernyataan atau grafik yang ditempelkan pada produk atau disertakan dalam bentuk buletin teknik, reklame, dll. Ekolabel mempunyai beberapa tujuan antara lain: 1. 2. 3. ` 4. 5. 6. Menyediakan dan memberikan informasi yang jelas dan akurat kepada konsumen tentang bagaimana suatu produk dihasilkan, apakah memang berwawasan lingkungan, Membantu konsumen dalam mengambil keputusan dalam membeli suatu produk yang berwawasan lingkungan, Meningkatkan kinerja perusahaan/unit produksi penghasil produk dalam pengelolaan lingkungan hidup, Memasyarakatkan dan mendorong dunia industri untuk menerapkan proses produksi berwawasan lingkungan, Membangkitkan difensiasi harga antara produk ekolabel dengan produk yang tidak didaftarkan untuk memperoleh ekolabel atau produk yang tidak berekolabel, Memberikan keuntungan kompetitif dan akses ke pasar yang lebih besar bagi produkproduk yang berekolabel Meskipun ada Negara industri yang mempersyaratkan ekolabel, tetapi pada dasarnya ekolabel bersifat sukarela, tanpa ada persyarataan dari pemerintah. Ekolabel adalah sarana atau instrument yang disediakan bagi konsumen hijau untuk menentukan pilihannya. Karena itu penggunaan label lingkungan harus didasarkan pada informasi yang akurat, teruji dan tidak curang sehingga dapat mendorong berjalannya mekanisme peningkatan pengelolaan lingkungan hidup yang digerakkan oleh mekanisme pasar. Beberapa prinsip yang harus diikuti dalam pengembangan ekolabel: a. b. Label lingkungan harus akurat, teruji (verifiable), relevan dan benar Pihak yang membuat pernyataan/label harus menyediakan informasi yang relevan mengenai kinerja lingkungan produsen yang bersangkutan

c. d. e.

Label lingkungan harus disusun berdasarkan metode-metode ilmiah yang komprehensif dan menyeluruh Informasi mengenai proses dan metodologi yang digunakan dalam memberikan label lingkungan harus diketahui oleh konsumen Label lingkungan harus memasukkan dan mencakup daur hidup atau life-cycle produk atau jasa. Daur hidup produk/jasa merupakan tahap-tahap pembuatan produk/jasa yang saling terkait sejak pengambilan dari sumber daya alam/hayati sampai pembuangan akhir

f.

Label lingkungan seharusnya tidak menimbulkan pembatasan perdagangan yang tidak adil atau membuat diskriminasi perlakuan antara produk/jasa domestik dan yang berasal dari luar negeri

g.

Standar dan kriteria yang digunakan dalam pemberian ekolabel harus dikembangkan dan ditetapkan berdasarkan konsensus dengan mengikutsertakan semua pihak yang terkait dan tertarik (stakeholder).

Bagi Negara-negara berkembang sistem ekolabel dapat memberikan peluang untuk melaksanakan program pengelolaan lingkungan atau peluang lingkungan, dan peluang ekonomi karena peningkatan daya saing dan akses ke pasar global. Dengan demikian melalui penerapan ekolabel kedua tujuan yaitu ekonomi dan ekologi dapat dicapai melalui mekanisme pasar.

Persyaratan bebas residu pestisida Seperti dikemukakan di atas, persyaratan ekolabel meliputi banyak sekali persyaratan teknis yang rinci yang harus dipenuhi oleh suatu produsen agar produknya memperoleh label lingkungan. Persyaratan teknis tersebut mencakup semua tahap proses menghasilkan baik yang berbentuk barang atau jasa, termasuk produk hasil pertanian, proses produksi yang dinilai mencakup sejak tahap persiapan pembuatan atau penyediaan bahan baku, proses fabrikasi atau proses produksi, proses pengangkutan, peredaran dan pemasaran produk sampai ke proses pembuangan limbah. Rangkaian penilaian ini di istilah lingkungan hidup dikenal dengan proses from cradle to grave atau analisis daur hidup produk. Pada prinsipnya agar produk dapat memperoleh ekolabel harus ada jaminan informasi bahwa pada setiap tahap dari daur hidup proses produksi dilakukan dengan metode atau teknik yang tidak merusak lingkungan hidup dan membahayakn kesehatan manusia.

Kalau prinsip tersebut kita terapkan untuk komoditi pertanian seperti produk perkrbunan maka produsen harus dapat memberikan jaminan bahwa proses produk perkebunan dilakukan secara bersahabat terhadap lingkungan, sejak persiapan dan pengolahan tanah, perolehan bibit dan masukan produksi lain, kegiatan budidaya dan pemeliharaan tanaman, kegiatan pemanenan, pengemasan, distribusi, pemasaran sampai ke pembuangan limbah. Tentunya banyak pertanyaan dan persyaratan yang harus dijawab dan dipenuhi oleh suatu produsen/petani yang menginginkan memperoleh ekolabel dengan mengajukan permintaan pada lembaga pemberi sertifikat ekolabel. Banyak informasi relevan dalam kegiatan pemeliharaan dan perlindungan tanaman yang harus diberikan pada lembaga penilai untuk menjamin agar kegiatan perlindungan tanaman yang dilakukan tidak mengakibatkan resiko bagi kesehatan dan lingkungan hidup. Produsen harus menjawab beberapa pertanyaan yang terkait dengan perlindungan tanaman. Mungkin pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah antara lain mengenai teknik perlindungan tanaman yang dilakukan? Bila digunakan pestisida jenis pestisida apa yang digunakan dan berapa kali diperlakukan selama satu musim. Demikian juga informasi tentang teknik penggunaan atau penyemprotan pestisida dan siapa yang melakukan tindakan pengendalian. Informasi mengenai kadar residu pestisida yang berhasil dideteksi di jaringan tanaman sebelum dipasarkan juga akan ditanyakan. Dalam kaitan dengan persyaratan data mengenai teknik perlindungan tanaman tersebut informasi tentang pestisida nabati menjadi sangat relevan. Bila produsen/petani menggunakan pestisida nabati untuk usaha perlindungan tanaman, dia akan dapat memenuhi persyaratan khususnya pada proses pemeliharaan tanaman. Pertimbangan tersebut diberikan mengingat pestisida nabati adalah bahan alami yang mempunyai sifat-sifat yang memiliki resiko rendah bagi kesehatan dan lingkungan dibandingkan dengan teknik pengendalian dengan pestisida sintetik. Prospek Pestisida Nabati dalam kerangka PHT Pestisida alami adalah suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari alam, misalnya tumbuhan. Jenis pestisida ini mudah terurai (biodegradable) di alam, sehingga tidak mencemarkan lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak, karena residunya akan terurai dan mudah hilang.

Pestisida nabati dapat membunuh atau mengganggu serangan hama dan penyakit melalui cara kerja yang unik, yaitu dapat melalui perpaduan berbagai cara atau secara tunggal. Cara kerja pestisida nabati sangat spesifik, yaitu :

merusak perkembangan telur, larva dan pupa. menghambat pergantian kulit. mengganggu komunikasi serangga. menyebabkan serangga menolak makan. menghambat reproduksi serangga betina. mengurangi nafsu makan. memblokir kemampuan makan serangga. mengusir serangga. menghambat perkembangan patogen penyakit. Mengganggu permeabilitas Membran dinding sel Patogen sehingga

patogen tidak dapat mengahmbat keluar masuknya cairan ke dalam dan keluar sel. Dengan semakin meningkatnya kesadaran lingkungan dan keinginan untuk hidup selaras dengan alam serta berkembangnya konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT)