Pertumbuhan Kraniofasial Postnatal

  • View
    462

  • Download
    57

Embed Size (px)

Text of Pertumbuhan Kraniofasial Postnatal

PERTUMBUHAN KRANIOFASIAL POSTNATAL

A. PendahuluanSalah satu ilmu yang mendasari ilmu ortodontik adalah pertumbuhan dan perkembangan / ilmu tumbuh kembang. Tiap bagian dari tubuh mempunyai pola pertumbuhan masing-masing, sehingga proporsi bagian-bagian tersebut selama pertumbuhan akan berubah. Pertumbuhan dipengaruhi oleh banyak faktor di antaranya : ras, keturunan, seks dan nutrisi.Pertumbuhan kepala sangat kompleks. Pada waktu bayi dilahirkan pusat-pusat pertumbuhan di kepala sudah bekerja aktif, sehingga besar kepala pada waktu dilahirkan adalah relatif besar, mendekati besar kepala orang dewasa. Tulang kepala terdiri dari dua kesatuan tulang yaitu : neukranium atau tulang kranial yang berisi otak dan viscero kranium atau tulang fasial.Dasar tempat otak terletak disebut basis kranii dan atasnya disebut calvaria kranii. Pada waktu bayi dilahirkan bagian-bagian tulang yang ada di calvaria dipisahkan oleh jaringan ikat fibrosa yang disebut : sutura dan fontanella yang lebarnya masing-masing berbeda, karena pertumbuhan bagian-bagian tersebut seperti os.frontale, os.Occipitale, os.parietale dan os.Temporale, maka sutura dan frontanella mengecil (Gambar III.1).Pertumbuhan bagian-bagian tulang calvaria itu, disebabkan karena pada tepi-tepinya terjadi ossifikasi dengan adanya aktivitas osteoblastus, keadaan ini merupakan petumbuhan ke arah lateral. Disamping pertumbuhan ke lateral, juga terjadi aposisi di bagian permukaan dan terjadi resorpsi di bagian dalam, karena adanya aktivitas dari osteoblastus, sehingga ruang otak bertambah besar. Pertumbuhan tulang sepanjang sutura, berlangsung terus sampai akhirnya sutura menutup pada kira-kira waktu remaja (Koesoemahardja, 1997). Diperkirakan sutura-sutura yang memisahkan wajah dari kranium tersusun sedemikian rupa, sehingga pertumbuhan sutura-sutura tersebut akan menggerakkan wajah ke arah depan dan bawah dalam kaitannya dengan kranium. Oleh sebab itu pertumbuhan sutura berlangsung aktif pada saat pembesaran kranium yang terjadi pada usia 6 atau 7 tahun.

Dalam proses pertumbuhan yang terjadi adalah :1. Pembesaran bentuk V dan remodeling tulang2. Pergerakan bentuk V ke arah lebar3. Terjadinya relokasi terus menerusTulang cranial terdiri dari :1. Satu os frontale2. Satu os occipitale3. Dua os parietale4. Satu os spenoidae5. Satu os etmoidale

Tulang fasial terdiri dari :

1. Maksila2. Dua os palatinum3. Dua os nasale4. Dua os concha nasalis inferior5. Dua os lacrimale6. Satu os vomer7. MandibulaPerbandingan tulang kranial dan tulang fasial yaitu : Waktu dilahirkan 8:1 Usia dewasa6:1 Dewasa2,5:1Perbandingan antara wajah dan kranium jelas terlihat berbeda pada waktu lahir daripada waktu dewasa. Wajah atau viserokranium berkembang lebih lambat dibandingkan kranium pada waktu intra uterin, sehingga waktu lahir wajah akan terlihat kecil pada dimensi vertikal dalam hubungannya dengan ukuran total kepala, bila dibandingkan dengan proporsi orang dewasa (Gambar III.2).Hal ini terjadi karena sesudah lahir wajah bertambah terus, sedangkan kranium pertumbuhannya melambat, karena kranium pada waktu lahir telah mencapai ukuran dewasa (Koesoemahardja, 1997).

B. Pertumbuhan Kranium1. Dasar KepalaPertumbuhan kranium merupakan indikator pertumbuhan otak, oleh karena itu pada antropometri pengukuran lingkar kepala dipakai sebagai petunjuk pertumbuhan otak. Pertumbuhan dan perkembangan otak sangat menentukan kecerdasan seseorang (Wongsoredjo, 1990 cit.Koesoemahardja, 1997). Pada tahap ini otak berkembang untuk meningkatkan aktivitas fisik dan mental. Setelah itu laju pertumbuhan menurun dan pada usia 7 tahun pertumbuhan kranium sudah mencapai 90% kemudian kranium akan membesar dengan perlahan sampai maturasi/pematangan (Gambar III.3).Jumlah tulang karanial pada bayi dewasa terdapat perbedaan. Beberapa tulang yang pada waktu dewasa merupakan satu tulang, sedangkan waktu lahir terdiri dari beberapa tulang yang terlepas satu sama lain (Foster, 1990).Pertumbuhan kartilago pada sinkondrosis spheno occipitalis dapat membesar dimensi antero posterior dari dasar tengkorak. Pertumbuhan dari kartilago septum hidung, akan membuat hidung, lebih ke depan dari posisi semula di bawah bagian depan kranium.

Pada pertumbuhan periosteal dan endosteal, terlihat adanya aposisi pada permukaan periosteum yang tentunya akan menambah besarnya kepala dalam segala dimensi. Pertumbuhan ini mengakibatkan tulang-tulang menjadi sangat tebal. Oleh karena itu resorpsi tulang dibutuhkan untuk mendapatkan ketebalan dan kekuatan yang benar. Walaupun demikian pertumbuhan periosteal tidak hanya bersifat aposisi pada permukaan luar tulang dan resorpsi tulang pada permukaan dalam.Remodeling tulang yang berlebihan juga terjadi, sering terlihat adanya resorpsi tulang pada permukaan luar dan aposisi tulang pada permukaan dalam. Resorpsi endosteal dan penambahan tulang dari dalam Konselus juga diperlukan untuk mempertahankan ketebalan lapisan kortikal tulang. Jadi ketiga mekanisme pertumbuhan tulang ini memegang peranan penting pada pembesaran dasar tengkorak.Pertumbuhan kartilago, khususnya pada sinchondrosis spheno occipitale, menyebabkan terjadinya pelebaran daerah anteroposterior. Menurut Powell dan Brondie (1964 cit, Foster 1990), sinchondrosis baru terossifikasi sesudah usia 12-16 tahun, oelh karena itu pertumbuhan aktif terjadi sampai usia pubertas.Pertumbuhan sutura pada sutura spheno occipitalis akan membatasi tulang spheno dan occipitalis yang memungkinkan terjadinya pertumbuhan lateral dari kranium yang berlangsung aktif sampai usia 6-7 tahun. Pertumbuhan periosteal dan endosteal menyebabkan penambahan dari dasar tulang-tulang kranium baik ukuran maupun tebalnya. Pertumbuhan sutura khususnya sangat aktif pada tahun-tahun pertama, tulang-tulang yang semula saling terpisah pada saat bayi akan lahir, akan tumbuh bersama. Sutura pada garis tengah, normalnya berossifikasi pada usia 8 tahun, kemudian terlihat pertumbuhan sutura pada daerah kranium tidak aktif lagi pada usia 8 tahun. Pertumbuhan periosteal dan endosteal, serta penambahan ukuran dan ketebalan tulang akan mengubah bentuknya. (Contoh : tulang parietal pada waktu terlihat datar, akan terlihat cembung pada akhir episode pertumbuhan, Foster, 1997).Basis kranii dibentuk oleh kartilago, dan pertumbuhannya berlangsung sepanjang sphenoethmoidale, sphenooccipitale, inetersphenoidale, interocci-pitale dan occipitale sampai kira-kira usia 25 tahun (pertumbuhan enkhondral). Pertumbuhan ini akan mengakibatkan kranium bertambah panjang, dan mendorong mandibula ke depan (Sperber, 1976, cit. Koesoemahardja, 1997). Pada waktu gigi molar pertama tetap erupsi adalah waktu di mana pertumbuhan basis kranii mencapai pertumbuhan yang paling besar (Mokhtar, 1998).

2. WajahPertumbuhan wajah seseorang umumnya ditentukan oleh : ras, jenis kelamin, genetik dan usia. Pada usia tertentu wajah dan kepala mempunyai pola pertumbuhan yang berbeda-beda (Mokhtar, 1998). Pertumbuhan tulang-tulang wajah ini berlangsung sepanjang sutura yang menghubungkan tulang muka dan tulang kranial, serta antara tulang-tulang muka sendiri. Hubungan antara tulang muka dan tulang kranial melalui sutura frontonasalis, sutura frontomaksilaris, sutura zygomatico temporalis dan sutura palatina.Pada waktu basis kranii tumbuh ke anterior, tulang muka juga tumbuh ke anterior dan inferior. Pertumbuhan ini erat kaitannya dengan pertumbuhan maksila, mandibula dan nasopharynx. Pada pertumbuhan sinus-sinus yang berisi udara, selain pertumbuhan sepanjang sutura, juga terjadi pertumbuhan secara aposisi di permukaan dan resorpsi di bagian dalam tulang muka. Sinus maksilaris merupakan sinus yang terbesar, dan tumbuh cepat mengikuti erupsi gigi atas. Pertumbuhan sinus frontalis yang ada di atas orbitsa terjadi dengan cara yang sama dan menyebabkan kranium bertambah panjang (Koesoemahardja, 1997).Laju pertumbuhan wajah mencapai puncaknya pada waktu lahir dan akan menurun dengan tajam, serta mencapai minimal pada masa prapubertas. Anak perempuan pertumbuhannya 2 tahun lebih cepat dibandingkan dengan anak laki-laki (Gambar III.4).Setelah itu laju pertumbuhannya akan meningkat lagi sampai mencapai puncaknya pada masa pubertas, lalu menurun lagi dan melambat sampai pertumbuhan berhenti pada akhir masa remaja. Pertumbuhan wajah normalnya dikaitkan dengan erupsi gigi geligi susu antara usia 1-3 tahun, dan ggi geligi tetap antara usia 6-14 tahun. Gigi yang erupsi dan prosesus alveolarisnya yang sedang berkembang akan menambah ukuran tulang rahang (Foster, 1990).Perkembangan wajah pada umumnya mengikuti laju pertumbuhan dari bagian tubuh lainnya, dan terlihat sedikit lebih lambat. Bagian hidung dan bagian atas wajah akan berkembang ke depan, yang disebabkan karena pertumbuhan kartilaginus dari septum hidung. Wajah berkembang ke arah depan dan bawah dalam kaitannya dengan kranium.

Pertumbuhan periosteal dan endosteal sangan berperan penting pada pertumbuhan wajah. Pada akhirnya, fungsi dianggap mempunyai peranan penting dalam menentukan bentuk wajah, dan diperkirakan bahwa tulang-tulang wajah khususnya bisa dipengaruhi pertumbuhannya melalu fungsinya.Hasil dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan normal dari kranium dan orbita adalah hasil reaksi dari pertumbuhan otak dan mata. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa pertumbuhan lidah, gigi geligi, otot-otot wajah serta fungsi pengunyahan (Scott, 1970 cit. Foster, 1997).

3. MaksilaMaksila ini merupakan bagian dari tulang kranium. Dengan sendirinya pertumbuhan basis kranium mempengaruhi perkembangan maksila. Posisi dan hubungan maksila terhadap kranium tergantung dari pertumbuhan sutura sphenooccipitalis dan sphenoethmoidalis. Maksila ini berhubungan dengan beberapa bagian kranium, melalui sutura frontamaksilaris, sutura zygomatikomaksilaris, sutura zygomatikoemporalis dan sutura palatinus.Pertumbuhan pada sutura-sutura menyebabkan maksila bergerak ke dapan dan ke bawah, sehingga kranium bergeser ke belakang dan