24

Pertemuan I ( Pengantar Filsafat)

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Pertemuan I ( Pengantar Filsafat)
Page 2: Pertemuan I ( Pengantar Filsafat)
Page 3: Pertemuan I ( Pengantar Filsafat)
Page 4: Pertemuan I ( Pengantar Filsafat)
Page 5: Pertemuan I ( Pengantar Filsafat)

A. Pengertian Filsafat

1. Arti Etimologi

Kata filsafat berasal dari kata Yunani filosofia, yang berasal dari kata kerja filosofein yang berarti mencintai keibijaksanaan. Kata tersebut juga berasal dari kata Yunani philosophis yang berasal dari kata kerja philein yang berarti mencintai, atauphilia yang berarti cinta, dan

sophia yang berarti kearifan. Dari kata tersebut lahirlah kata Inggris philosophy yang biasanya diterjemahkan sebagai "cinta kearifan". Arti kata tersebut di atas belum memperhatikan makna yang sebenarnya dari kata filsafat, sebab pengertian "mencintai" belum memperlihatkan keaktifan seorang filosof untuk memperoleh kearifan atau kebijaksanaan itu. Menurut pengertian yang lazim berlaku di Timur (Tiongkok atau di India), seseorang disebut filosof bila dia telah mendapatkan atau telah meraih kebijaksanaan. Sedangkan menurut pengertian yang lazim berlaku di Barat, kata "mencintai" tidak perlu meraih kebijaksanaan, karena itu yang disebut filosof atau "orang bijaksana" mempunyai pengertian yang berbeda dengan pengertian di Timur.

a. Konsep Plato

Plato memberikan istilah dengan dialektika yang berarti seni berdiskusi. Dikatakan demikian karena, filsafat harus berlangsung sebagai upaya memberikan kritik terhadap berbagai pendapat yang berlaku. Kearifan atau pengertian intelektual yang diperoleh lewat proses pemeriksaan secara kritis ataupun dengan berdiskusi. Juga diartikan sebagai suatu penyelidikan terhadap sifat dasar yang pengha¬bisan dari kenyataan. Karena seorang filosof akan selalu mencari sebab¬sebab dan asas-asas yang penghabisan (terakhir) dari benda-benda.

b. Konsep Cicero

I i

Cicero menyebutnya sebagai "ibu dari semua seni" (the mother of all the arts). Juga sebagai arts vitae.yaitu filsafat sebagai seni kehidupan.

c. Konsep al-Farabi

Menurut al-farabi, filsafat adalah ilmu yang menyelidiki hakikat yang sebenarnya dari segala yang ada (al-ilmu bit-maujudat bi ma hiya al-maujudat).

d. Konsep Rene Descartes'

Page 6: Pertemuan I ( Pengantar Filsafat)

Menurut Rene Descartes, filsafat merupakan kumpulan segala pengetahuan, di mana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok pe¬nyelidikannya.

e. Konsep Francis Bacon

Menurut Francis Bacon, filsafat merupakan induk agung dari ilmu ilmu, dan filsafat menangani semua pengetahuan sebagai bi¬dangnya.

f. Konsep John Dewey

Sebagai tokoh pragmatisme, John Dewey berpendapat bahwa filsafat haruslah dipandang sebagai suatu pengungkapan mengenai perjuangan manusia secara terus-menerus dalam upaya melakukan penyesuaian berbagai tradisi yang membentuk budi manusia terhadap kecenderungan-kecenderungan ilmiah dan cita-cita politik yang baru dan yang tidak sejalan dengan wewenang yang diakui. Tegasnya, filsafatsebagai suatu alat untuk membuat penyesuaian-penyesuaian di antara yang lama dan yang baru dalam suatu kebudayaan. Dari berbagai contoh di atas masih dapat ditambah lagi hingga berpuluh-puluh definisi (batasan pengertian filsafat). Kenyataannya, dari keragaman batasan pengertian filsafat tersebut melahirkan per¬soalan tersendiri yang membingungkan. Atas dasar uraian di atas, maka kami memberikan suatu konsep bahwa filsafat mempunyai pengertian yang multidimensi. Filsafat Sebagai Ilmu

Dikatakan filsafat sebagai ilmu karena di dalam pengertian fil- safat mengandung empat pertanyaan ilmiah, yaitu bagaimanakah, mengapakah, ke manakah, dan apakah.

Pertanyaan bagaimana menanyakan sifat-sifat yang dapat ditang¬kap atau yang tampak oleh indra. jawaban atau pengetahuan yang diperolehnya bersifat deskriptif (penggambaran). Pertanyaan mengapa menanyakan tentang sebab (asal mula) suatu objek. jawaban atau pengetahuan yang diperolehnya bersifat kausalitas (sebab akibat). Pertanyaan ke manamenanyakan apa yang terjadi di masa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang. jawaban yang diperoleh ada tiga jenis pengetahuan, yaitu:pertama, pengetahuan yang timbul dari hal-hal yang selalu berulang-ulang (kebiasaan), yang nantinya pengetahuan tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman. Ini dapat dijadikan dasar untuk mengetahui apa yang akan terjadi.Kedua, pengetahuan yang timbul dari pedoman yang terkandung dalam, adat istiadat/kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Dalam hal initidak dipermasalahkan apakah pedoman tersebut selalu dipakai atau tidak. Pedoman yang selalu dipakai disebut hukum. Ketiga, pengeta¬huan yang timbul dari pedoman yang dipakai (hukum) sebagai suatu hal yang dijadikan pegangan. Tegasnya, pengetahuan yang diperoleh dari jawaban ke manakah adalah pengetahuan yang bersifat normatif. Pertanyaan apakah yang menanyakan tentang hakikat atau inti mutlak dari suatu hal. Hakikat ini sifatnya sangat dalam(radix) dan tidak lagi bersifat empiris sehingga hanya dapat dimengerti oleh akal. jawaban atau pengetahuan yang diperolehnya ini kita akan dapatmengetahui hal-hal yang sifatnya sangat umum, universal, abstrak.

Dengan demikian, kalau ilmu-ilmu yang lain (selain filsafat) ber¬gerak dari tidak tahu ke tahu, sedang ilmu filsafat bergerak dari tidak tahu ke tahu selanjutnya ke hakikat. Untuk mencari/memperoleh pengetahuan hakikat, haruslah dilakukan dengan abstraksi, yaitu suatu perbuatan akal untuk

Page 7: Pertemuan I ( Pengantar Filsafat)

meng¬hilangkan keadaan, sifat-sifat yang secara kebetulan (sifat-sifat yang tidakharus ada/aksidensia), sehingga akhirnya tinggal keadaan/sifat yang harus ada (mutlak) yaitu substansia, maka pengetahuan hakikat dapat diperolehnya.

B. Filsafat Sebagai Cara Berfiikir

Berfikir secara filsafat dapat diartikan sebagai berpikir yang sangat mendalam sampai, maka pengetahuan hakikat, atau berpikir secara global/menyeluruh, atau berfikir yang dilihat dari berbagai sudut pandang pemikiran atau sudut pandang ilmu pengetahuan." Berpikir yangdernikian, ini sebagai upaya untuk dapat berpikir secara tepat dan benar serta dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.

1. Harus sistematis

Pemikiran yang sistematis ini dimaksudkan untuk menyusun suatu pola pengetahuan yang rasional. sistematis adalah masing-masing unsur saling berkaitan satu dengan yang lain secara teratur dalam suatu keseluruhan. Sistematika pemikiran seorang filosof banyak dipengaruhi oleh keadaan dirinya, lingkungan, zamannya,pendidikan, dan sistem pemikiran yang mempengaruhi.

2. Harus konsepsional

secara umum istilah konsepsional berkaitan dengan ide (gam bar) atau gambaran yang melekat pada akal pikiran yang berada dalam intelektual. Gambaran tersebut mempunyaii bentuk tangkapan sesuai dengan riilnya. Sehingga maksud darii 'konsepsional' tersebut sebagai upaya untuk menyusun suatu bagan yang terkonsepsi (jelas). Karena berpikir secara filsafat sebenarnya berpikir tentang hal dan prosesnya.

3. Harus koheren

Koheren atau runtut adalah unsur-unsurnya tidak boleh mengan¬dung uraian-uraian yang bertentangan satu sama lain. Koheren atau runtut di dalamnya memuat suatu kebenaran logis. Sebalik¬nya, apabila suatu uraian yang di dalamnya tidak memuat kebe¬naran logis, uraian tersebut dikatakan sebagai uraian yang tidakkoheren/runtut.

4. Harus rasional

Maksud rasional adalah unsur-unsurnya berhubungan secaralogis. Artinya, pemikiran filsafat harus diuraikan dalam bentuk yang logis, yaitu suatu bentuk kebenaran yang mempunyai kai¬dah-kaidah berpikir (logika).

5. Harus sinoptik

Sinoptik artinya pemikiran filsafat harus melihat hal-hal secara menyeluruh atau dalam kebersamaan secara integral.

Page 8: Pertemuan I ( Pengantar Filsafat)

6. Harus mengarah kepada pandangan dunia

Maksudnya adalah pemikiran filsafat sebagai upaya untuk me¬mahami semua realitas kehidupan dengan jalan menyusun suatu pandangan (hidup) dunia, termasuk di dalamnya menerangkan tentang dunia dan semua hal yang berada di dalamnya (dunia).

C. Filsafat Sebagai Pandangan Hidup

Diartikan sebagai pandangan hidup karena filsafat pada haki¬katnya bersumber pada hakikat kodrat pribadi manusia (sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk Tuhan). Hal ini berarti bahwa filsafat mendasarkan pada penjelmaan manusia secara total dan sentral sesuai dengan hakikat manusia sebagai makhluk mono¬dualisme (manusia secara kodrat terdiri dari jiwa dan raga). Manusia secara total (menyeluruh) dan sentral di dalamnya memuat sekaligus sebagai sumber penjelmaan bermacam-macam filsafat sebagai berikut.

a. Manusia dengan unsur raganya dapat melahirkan filsafat biologi. yang semakin lugs. Hal itu dapat membantu penyelesaian ma¬salah yang selalu kita hadapi dengan cara yang lebih bijaksana.

b. Dasar semua tindakan adalah ide. Sesungguhnya filsafat di dalam¬nya memuat ide-ide yang fundamental. Ide-ide itulah yang akan membawa manusia ke arah suatu kemampuan untuk merentang kesadarannya dalam segala tindakannya, sehingga manusia akan dapat lebih hidup, lebih tanggap (peka) terhadap diri dan ling¬kungannya, lebih sadar terhadap hak dan kewajibannya.

c. Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kita semakin ditantang dengan memberikan alternatifnya. Di satu sisi kita berhadapan dengan kemajuan teknologi beserta dampak negatifnya, perubahan demikian cepatnya, pergeseran tata nilai, dan akhirnya kita akan semakin jauh dari tata nilai dan moral. Di sisi lainnya, apabila kita tidak berani menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, akhirnya kita akan menjadi manusia "terbelakang". Untuk itu kita berusaha untuk mengejar kemajuan tersebut dengan segala upaya. Dengan se¬makin jauhnya kita dengan tata nilai dan moral, akibatnya banyak ilmuwan kehilangan bobot kebijaksanaannya. Dengan demikian, apa yang dihasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi bersamaan itu pula manusia kehilangan pendirian dan dih ui kebingungan dan keraguan (skeptis). Tinggal menunggu mal etaka datang menghancurkan kehidupan manusia.

Mengingat hal-hal tersebut di atas, kita sangat memerlukan suatu Emu yang sifatnya memberikan pengarahan (ilmu pengarahan) atau Bence of direction. Dengan ilmu tersebut, manusia akan dibekali suatu kebijaksanaan yang di dalamnya memuat nilai-nilai kehidupan yang sangat diperlukan oleh umat manusia. Hanya ilmu filsafatlah yang dapat diharapkan mampu memberi manusia suatu integrasi dalam membantu mendekatkan manusia pada nilai-nilai kehidupan untuk mengetahui mana yang pantas kita tolak, mana yang pantas kita se tujui, mana yang pantas kita ambit sehingga dapat memberikan makna kehidupan.

Page 9: Pertemuan I ( Pengantar Filsafat)

Kegunaan filsafat ini sering muncul bagi para pemula belajar filsafat. Masalah tersebut harus dituntaskan. Selagi masalah tersebut masih berada dalam diri seorang yang sedang belajar filsafat, maka orang tersebut akan selalu mendapatkan keraguan terhadap filsafat. Apakah filsafat bermanfaat bagi saya?

Filsafat berguna bagi manusia apabila filsafat tersebut mem¬perlihatkan kemajuan yang positif bagi kehidupan manusia.

D. Metode-metode Filsafat Bagaimana Seorang Filosof Bekerja?

Para ahli pikir (filosof dalam melaksanakan pekerjaannya tidak berbeda dengan cara bekerjanya sebuah pabrik. Bekerjanya seorang ahli pikir (filosof) adalah berpikir, yaitu mengadakan kegiatan ke¬filsafatan, sedangkan bekerjanya sebuah pabrik menghasilkan proses produksi.

Kegiatan berpikir atau kegiatan kefilsafatan sesungguhnya berupa "perenungan". Perenungan tersebut untuk menyusun suatu bagan yang konsepsional, tidak boleh memuat pernyataan-pernyataan yang sifatnya kontradiktif, hubungan bagian yang satu dengan yang lainnya harus logis, dan harus mampu memberi penjelasan tentang pandangan dunia. Dengan kata lain, kegiatan kefilsafatan berarti bagaimana seorang ahli pikir memulai bekerja — proses bekerjanya — sampai pada suatu kesimpulan. Sebagai perangkat berpikir adalah analisis dan sintesis. Dalam menganalisis dan mensintesis para ahli pikir menggunakan alas pemikiran berupa logika, deduksi, analogi, dan komparasi.

1. Analisis

Pengertian analisis dalam kegiatan filsafat adalah rincian istilah¬imM atau pernyataan-pernyataan dalam bagian-bagiannya sehingga bona dapat melakukan pemeriksaan atas makna yang terkandung. Sdogai contoh adalah perkataan "nyad'di bawah ini.

– Apakah sebuah meja itu sesuatu yang nyata? – Apakah impian itu sesuatu yang nyata?

Akksud analisis adalah melakukan pemeriksaan secara konsepsionalmidWap makna dan istilah yang kita pergunakan dalam pernyataan !mg kita buat. Dengan analisis, kita akan memperoleh makna yang boru, dan menguji istilah-istilah dengan berbagai contoh.

2. Sintesis

Sintesis sebagai upaya mencari kesatuan di dalam keragaman. maksudnya, mengumpulkan suatu pengetahuan yang dapat diperoleh. Karena dalam menyusun sistem pemikiran seorang ahli pikir (filosof) mendasarkan pikirannya pada sejumlah besar bahan yang dicari. Lebih banyak keterangan yang diperoleh, hasilnya akan lebih baik dan lebih akurat.

Logika adalah ilmu pengetahuan tentang penyimpulan yang lurus serta menguraikan tentang aturan-aturan membicarakan penarikan kesimpulan bukandari pernyataan yang umum, melainkan dari

Page 10: Pertemuan I ( Pengantar Filsafat)

pernyataan yang khusus.Kesimpulannya bersifat probabilitas berdasarkan atas pernyataan yang telah diajukan.

(Logika) deduksi membicarakan cara untuk mencapai suatu kesimpulan dengan terlebih dahulu mengajukan pernyataan mengenai semua/sejumlah di antara suatu kelompok barang tertentu.

Analogi dan komparasi merupakan upaya, untuk mencapai suatukesimpulan dengan menggantikan dengan apa yang kita cobs untuk membuktikannya dengan sesuatu yang serupa, dengan hal. tersebut. Menyimpulkan kembali apa yang mengawali penal~lran kita.

Dalam bidang filsafat terdapat beberapa metode. Metode ber¬asal dari katameta-hodos, artinya menuju, melalui cara, jalan. Metode Bering diartikan sebagai jalan berpikir dalam bidang keilmuan. Metode dalam bidang filsafat adalah sebagai berikut.

a. Metode Kritis, yaitu dengan menganalisis istilah dan pendapat, dengan mengajukan pertanyaan secara terus-menerus sampai ha¬kikat yang ditanyakan.

b. Metode intuitif, yaitu dengan melakukan introspeksi intuitif, dengan memakai simbol-simbol.

c. Metode analisis abstraksi, yaitu dengan jalan memisah-misah-, kan atau menganalisis di dalam angan-angan (di dalam pikiran) hingga sampai pada hakikat (ditemukan jawaban).

E. Sejarah Kelahiran Filsafat

Berbicara tentang kelahiran dan perkembangan filsafat pada awal kelahirannya tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan (ilmu) pengetahuan yang munculnya pada masa peradaban Kuno (masa Yunani).

Pada tahun 2000 SM bangsa Babylon yang hidup di lembah Sungai Nil (Mesir) dan Sungai Efrat, telah mengenal alas pengukur berat, tabel bilangan berpangkat, tabel perkalian dengan menggunakan sepuluh jari.

Piramida yang merupakan salah satu keajaiban dunia itu, yang ternyeta pembuatannya menerapkan geometri dan matematika, me¬nunjukkan cara berpikirnya sudah tinggi. Selain itu, mereka pun sudah dapat mengadakan kegiatan pengamatan benda-benda langit, baik bintang, bulan, matahari sehingga dapat meramalkan gerhana baikgerhana bulan maupun gerhana matahari. Ternyata ilmu yang mereka pakai dewasa ini disebut astronomi.

Di India dan Cina waktu itu telah ditemukan cara pembuatan terms dan kompas (sebagai penunjuk arch).

1. Masa Yunani

Yunani terletak di Asia Kecil. Kehidupan penduduknya sebagai nelayan dan pedagang, sebab sebagian besar penduduknya tinggal di daerah pantai, sehingga mereka dapat menguasai jalur perdagangan di Laut Tengah.

Page 11: Pertemuan I ( Pengantar Filsafat)

Kebiasaan mereka hidup di alam bebas sebagai nelayan itulah mewarnai kepercayaan yang dianutnya,- yaitu berdasarkan kekuatan alam sehingga` beranggapan bahwa hubungan manusia dengan Sang Mafia Pencipta bersifat formalitas. Artinya, kedudukan Tuhan terpisah dengan kehidupan manusia. -'

Kepercayaan, yang bersifat formalitas (natural religion) tidak memberikan kebebasan kepada manusia, ini ditentang oleh Homerus" dengan dua buah karyanya yang terkenal, yaitu Iliac dan Odyseus. Kedua karya Homerus itu memuat nilai-nilai yang tinggi dan bersifat edukatif. Sedemikian besar peranan karya Homerus, sama kedudukan¬nya seperti wayang purwa di Jawa. Akibatnya masyarakat lebih kritis dan rasional.

Pada abad ke-6 SM, bermunculan para pemikir yang keperca¬yaannya bersifat rasional (cultural religion) menimbulkan pergeseran. Tuhan tidak lagi terpisah dengan manusia, melainkan justru menyatu dengan kehidupan manusia. Sistem kepercayaan yang natural religious berubah menjadi sistem cultural religious.

Dalam sistem kepercayaan natural religious ini manusia terikat oleh tradisionalisme. Sedangkan dalam sistem kepercayaan kultural religius ini memungkinkan manusia mengembangkan potensi dan budayanya dengan bebas, sekaligus dapat mengembangkan pemikiran¬nya untuk menghadapi dan memecahkan berbagai misteri kehidupan/ alam dengan akal pikiran.

Ahli pikir pertama kali yang muncul adalah Thales (± 625 - 545 SM) yang berhasil mengembangkan geometri dan matematika; Liokippos dan Democritos mengembangkan teori materi; Hipocrates mengembangkan ilmu kedokteran, Eudid mengembangkan geometri deduktif; Socrates mengembangkan teori tentang moral; Plato me¬ngembangkan teori tentang ide; Aristoteles mengembangkan teori yang menyangkut dunia dan bends dan berhasil mengumpulkan data 500 jenis binatang (ilmu biologi). 6uatu keberhasilan yang luar biasa dari Aristoteles adalah menemukan sistem pengaturan pemikiran (logika formal) yang sampai sekarang masih dikenal.

Para ahli pikir Yunani Kuno ini mencoba membuat konsep ten-tang asal mula alam walaupun sebelumnya sudah ads tentang konsep tersebut. Akan tetapi, konsepnya bersifat mitos yaitu mite kosmogonis (tentang asal usul alam semesta) dan mite kosmologis (tentang asal usul Berta sifat kejadian-kejadian dalam alam semesta) sehingga konsep mereka sebagai mencari arche (asal mula) slam semesta. Hal itu disebutnya sebagai filosof alam.

Karena arah pemikiran filsafatnya pada alam semesta, corak pemikirannya disebut kosmosentris. Sementara itu, Para ahli pikir, seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles yang hidup, pada mass Yunani Klasik arah pemikirannya pada manusia, maka corak pemikiran fil¬safatnya disebut antroposentris. Hal ini disebabkan arah pemikiran para ahli pikir Yunani Klasik tersebut memasukkan manusia sebagai subjek yang harus bertanggung jawab terhadap segala tindakannya

Page 12: Pertemuan I ( Pengantar Filsafat)

E.     Sejarah Kelahiran FilsafatBerbicara tentang kelahiran dan perkembangan filsafat pada awal kelahirannya tidak dapat

dipisahkan dengan perkembangan (ilmu) pengetahuan yang munculnya pada masa peradaban Kuno (masa Yunani).

Pada tahun 2000 SM bangsa Babylon yang hidup di lembah Sungai Nil (Mesir) dan Sungai Efrat, telah mengenal alas pengukur berat, tabel bilangan berpangkat, tabel perkalian dengan menggunakan sepuluh jari.

Piramida yang merupakan salah satu keajaiban dunia itu, yang ternyeta pembuatannya menerapkan geometri dan matematika, menunjukkan cara berpikirnya sudah tinggi. Selain itu, mereka pun sudah dapat mengadakan kegiatan pengamatan benda-benda langit, baik bintang, bulan, matahari sehingga dapat meramalkan gerhana baikgerhana bulan maupun gerhana matahari. Ternyata ilmu yang mereka pakai dewasa ini disebut astronomi.

Di India dan Cina waktu itu telah ditemukan cara pembuatan terms dan kompas (sebagai penunjuk arch).

1.      Masa YunaniYunani terletak di Asia Kecil. Kehidupan penduduknya sebagai nelayan dan pedagang,

sebab sebagian besar penduduknya tinggal di daerah pantai, sehingga mereka dapat menguasai jalur perdagangan di Laut Tengah.

Kebiasaan mereka hidup di alam bebas sebagai nelayan itulah mewarnai kepercayaan yang dianutnya,- yaitu berdasarkan kekuatan alam sehingga` beranggapan bahwa hubungan manusia dengan Sang Mafia Pencipta bersifat formalitas. Artinya, kedudukan Tuhan terpisah dengan kehidupan manusia. -'

Kepercayaan, yang bersifat formalitas (natural religion) tidak memberikan kebebasan kepada manusia, ini ditentang oleh Homerus" dengan dua buah karyanya yang terkenal, yaitu Iliac dan Odyseus. Kedua karya Homerus itu memuat nilai-nilai yang tinggi dan bersifat edukatif. Sedemikian besar peranan karya Homerus, sama kedudukannya seperti wayang purwa di Jawa. Akibatnya masyarakat lebih kritis dan rasional.

Pada abad ke-6 SM, bermunculan para pemikir yang kepercayaannya bersifat rasional (cultural religion) menimbulkan pergeseran. Tuhan tidak lagi terpisah dengan manusia, melainkan justru menyatu dengan kehidupan manusia. Sistem kepercayaan yang natural religious berubah menjadi sistem cultural religious.

Dalam sistem kepercayaan natural religious ini manusia terikat oleh tradisionalisme. Sedangkan dalam sistem kepercayaan kultural religius ini memungkinkan manusia mengembangkan potensi dan budayanya dengan bebas, sekaligus dapat mengembangkan pemikirannya untuk menghadapi dan memecahkan berbagai misteri kehidupan/ alam dengan akal pikiran.

Ahli pikir pertama kali yang muncul adalah Thales (± 625 - 545 SM) yang berhasil mengembangkan geometri dan matematika; Liokippos dan Democritos mengembangkan teori materi; Hipocrates mengembangkan ilmu kedokteran, Eudid mengembangkan geometri deduktif; Socrates mengembangkan teori tentang moral; Plato mengembangkan teori tentang ide; Aristoteles mengembangkan teori yang menyangkut dunia dan bends dan berhasil mengumpulkan data 500 jenis binatang (ilmu biologi). 6uatu keberhasilan yang luar biasa dari Aristoteles adalah menemukan sistem pengaturan pemikiran (logika formal) yang sampai sekarang masih dikenal.

Page 13: Pertemuan I ( Pengantar Filsafat)

Para ahli pikir Yunani Kuno ini mencoba membuat konsep ten-tang asal mula alam walaupun sebelumnya sudah ads tentang konsep tersebut. Akan tetapi, konsepnya bersifat mitos yaitu mite kosmogonis (tentang asal usul alam semesta) dan mite kosmologis (tentang asal usul Berta sifat kejadian-kejadian dalam alam semesta) sehingga konsep mereka sebagai mencari arche (asal mula) slam semesta. Hal itu disebutnya sebagai filosof alam.

Karena arah pemikiran filsafatnya pada alam semesta, corak pemikirannya disebut kosmosentris. Sementara itu, Para ahli pikir, seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles yang hidup, pada mass Yunani Klasik arah pemikirannya pada manusia, maka corak pemikiran filsafatnya disebut antroposentris. Hal ini disebabkan arah pemikiran para ahli pikir Yunani Klasik tersebut memasukkan manusia sebagai subjek yang harus bertanggung jawab terhadap segala tindakannya.

2.      Masa Abad PertengahanMasa ini diawali dengan lahirnya filsafat Eropa. Sebagaimana halnya dengan filsafat

Yunani yang dipengaruhi oleh kepercayaan, maka t atau pemikiran pada abad pertengahan pun dipengaruhi oleh rcayaan Kristen. Artinya, pemikiran filsafat abad pertengahan Adominasi oleh agama. Pemecahan semua persoalan selalu didasarkanms dogma agama, sehingga corak pemikiran kefilsafatannya bersifat amsentris.

Baru pada abad ke-6 Masehi, setelah mendapatkan dukungan dari Karel Agung," maka didirikanlah sekolah-sekolah yang memberi p*aran gramatika, dialektika, geometri, aritmatika, astronomi, dan musik. Keadaan yang demikian akan mendorong perkembangan pemikiran filsafat pada abad ke-13 yang ditandai berdirinya universitasuniversitas dan ordo-ordo. Dalam ordo-ordo inilah mereka mengabdikan dirinya untuk kemajuan ilmu dan agama, seperti Anselmus (1033-1109), Abaelardus (1079-1143), Thomas Aquinas (1225-1274).

Di kalangan Para ahli pikir Islam (periode filsafat Skolastik Islam) muncul: Al-Kindi, Al-RrAbi, Ibnu Sina, Al-Gazali, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, Ibnu Rusyd. Periode Skolastik Islam ini berlangsung tahun 850-1200. Pada masa itulah kejayaan Islam berlangsung dan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Akan tetapi, setelah jatuhnya kerajaan Islam di Granada di Spanyol tahun 1492 mulailah kekuasaan politik Barat menjarah ke Timur.11 Suatu prestasi yang paling besar dalam kegiatan ilmu pengetahuan terutama dalam bidang filsafat.  Di gini mereka merupakan masa rantai yang mentransfer filsafat Yunani, sebagaimana yang dilakukan oleh sarjana-sarjana Islam di Timer terhadap Eropa dengan menambah pikiran-pikiran Islam sendiri. Para filosof Islam sendiri sebagian menganggap bahwa filsafat Aristoteles benar, Plato dan Alquran benar. Mereka mengadakan perpaduan dan sinkretisme antara agama dan filsafat. Kemudian pikiran-pikiran ini masuk ke Eropa yang merupakan sumbangan Islam yang paling besar, yang besar pengaruhnya terhadap ilmu pengetahuan dan pemikiran filsafat terutama dalam bidang teologi dan ilmu pengetahuan alam.11Peralihan dari abad pertengahan ke abad modern dalam sejarah filsafat disebut sebagai masa peralihan (masa transisi), yaitu munculnya Renaissance dan Humanisme, yang berlangsung pada abad 15-16. Munculnya Renaissance dan Humanisme inilah yangmengawali masa abad modern. Mulai zaman modern inilah peranan ilmu alam kodrat •sangat menonjol sehingga akibatnya pemikiran filsafat semakin dianggap sebagai pelayan teologi, yaitu sebagai suatu sarana untuk menetapkan kebenaran-kebenaran mengenai Tuhan yang dapat dicapai oleh akal manusia.

3 .     M a s a A b a d M o d e r nPada masa abad modern ini pemikiran filsafat berhasil menempatkan manusia pada

tempat yang sentral dalam pandangan kehidupan sehingga corak pemikirannya antroposentris, yaitu pemikiran filsafatnya mendasarkan pada akal pikir dan pengalaman.

Page 14: Pertemuan I ( Pengantar Filsafat)

Di atas telah dikemukakan bahwa munculnya Renaissance dan Humanisme sebagai awal masa abad modern di mana para ahli (filosoO menjadi pelopor perkembangan filsafat (kalau pada masa abad pertengahan yang menjadi pelopor perkembangan filsafat adalah para pemuka agama). Pemikiran filsafat masa abad modern ini berusaha meletakkan dasar-dasar bagi metode induksi secara modern, Berta membuka sistematika yang sifatnya logis-ilmiah. Pemikiran filsafat diupayakan lebih bersifat praktis, artinya pemikiran filsafat diarahkan pada upaya manusia agar dapat menguasai lingkungan alam, dengan menggunakan berbagai penemuan ilmiah.

Karena semakin pesatnya orang menggunakan metode induksi/ eksperimental dalam berbagai penelitian ilmiah, akibatnya perkembangan pemikiran filsafat mulai tertinggal oleh perkembangan ilmuilmu alam kodrat (natural sciences). Rene Descartes (1596-1650) sebagai bapak filsafat modern yang berhasil melahirkan suatu konsep dari perpaduan antara metode ilmu alam dengan ilmu pasti ke dalam pemikiran filsafat. Upaya ini dimaksudkan, agar kebenaran dan kenyataan filsafat jugs sebagai kebenaran dan kenyataan yang jelas dan terang.

Pada abad ke-18, perkembangan pemikiran filsafat mengarah pada filsafat ilmu pengetahuan, di mana pemikiran filsafat diisi dengan upaya manusia, bagaimana cara/sarana apa yang dipakai untuk mencari kebenaran dan kenyataan. Tokoh-tokohnya antara lain George Berkeley (1685-1753), David Hume (1711-1776), Rousseau (1722-1778).

Di jerman muncul Christian Wolft (1679-1754) dan Immanuel Kant (1724-1804), yang mengupayakan agar filsafat menjadi ilmu pengetahuan yang pasti dan berguna, yaitu dengan cara membentuk pengertian-pengertian yang jelas dan bukti yang kuat.

Abad ke-19, perkembangan pemikiran filsafat terpecah belch. Pemikiran filsafat pada scat itu telah mampu membentuk suatu kepribadian tiap-tiap bangsa dengan pengertian dan caranya sendiri. Ada filsafat Amerika, filsafat Prancis, filsafat Inggris, filsafat Jerman. Tokoh-tokohnya. adalah: Hegel (1770-1831), Karl Marx (1818-1883), August Comte (1798-1857), JS. Mill (1806-1873), John Dewey (18581952).

Akhirnya, dengan munculnya pemikiran filsafat yang bermacammacam ini, berakibat tidak terdapat lagi pemikiran filsafat yang mendominasi. Giliran selanjutnya, lahirlah filsafat Kontemporer atau filsafat dewasa ini.

4.      Masa Abad Dewasa Ini (Filsafat Abad ke-20)Filsafat Dewasa Ini atau Filsafat Abad ke-20 juga. disebut FilsafatKontemporer. Ciri khas

pemikiran filsafat ini adalah desentralisasi manusia karena pemikiran filsafat abad ke-20 ini memberikan perhatian yang khusus kepada bidang bahasa dan etika sosial.

Dalam bidang bahasa terdapat pokok-pokok masalah, yaitu arti kata-kata dan arti pernyataan-pernyataan. Masalah ini muncul karena realitas sekarang ini banyak bermunculan berbagai istilah yang cara pemakaiannya Bering tidak dipikirkan secara mendalam sehingga menimbulkan tafsir yang berbeda-beds (bermakna ganda). Maka, timbullah filsafat analitika, yang di dalamnya membahas tentang cars berpikir untuk mengatur pemakaian kata-kata/istilah-istilah yang menimbulkan kerancuan, sekaligus dapat menunjukkan bahayabahaya yang terdapat di dalamnya. Karena bahasa sebagai objek terpenting dalam pemikiran filsafat, pars ahli pikir menyebutnya sebagai logosentris.

Bidang etika sosial memuat pokok-pokok masalah apakahyang bmdak kita perbuat di dalam masyarakat dewasa ini.

Kemudian, pada paruh pertama abad ke-20 ini timbul aliranaliran kefilsafatan, seperti Neo-Thomisme, Neo-Kantianisme, NeoHegelianisme, Kritika Ilmu, Historisme, Irasionalisme, Neo-Vitalisme, Spiritualisme, Neo-Positivisme. Aliran-aliran di atas sampai sekarang

Page 15: Pertemuan I ( Pengantar Filsafat)

tinggal sedikit yang masih bertahan. Sementara itu, pada awal belahan akhirabad ke-20 muncul aliran-aliran kefilsafatan yang lebih dapat memberikan corak pemikiran dewasa ini, seperti Filsafat Analitik, Fisafat Eksistensi, Strukturalisme, Kritika Sosial.

Orang Yunani yang hidup pada abad ke-6 SM mempunyai sissemkepercayaan, bahwa segala sesuatunya harus diterima sebagai suatu kebenaran yang bersumber pada mitos atau dongeng-dongeng. Artinya, suatu kebenaran lewat akal pikir (logos) tidak berlaku, yang berlaku hanya suatu kebenaran yang bersumber pada mitos (dongengdongeng).

Setelah pada abad ke-6 SM muncul sejumlah ahli pikir yang menentang adanya mitos. Mereka menginginkan pertanyaan tentang misteri alam semesta ini jawabannya dapat diterima akal (rasional). Keadaan yang demikian ini sebagai suatu demitologi, artinya suatu kebangkitan pemikiran untuk menggunakan akal-pikir dan meningOkan hal-hal yang sifatnya mitologi. Upaya pars ahli pikir untuk mengarahkan pada suatu kebebasan berpikir ini menyebabkan banyak orang yang mencoba membuat suatu konsep yang dilandasi kekuatan akal pikir secara mumi. Maka, timbullah peristiwa ajaib The Greek Mira-de, yang nantinya dapat dijadikan sebagai landasan peradaban dunia.

Berikut ini terdapat tiga faktor yang menjadikan filsafat Yunani lahir.a.       Bangsa Yunani yang kaya akan mitos (dongeng), di mana mitos dianggap sebagai awal dari

upaya orang untuk mengetahui atau mengerti. Mitos-mitos tersebut kemudian disusun secara sistematis yang untuk sementara kelihatan rasional sehingga muncul mitos selektif dan rasional, seperti syair karya Homerus, Orpheus dan lain-lain.

b.      Karya Sastra Yunani yang dapat dianggap sebagai pendorong kelahiran filsuf Yunani, karya Homerus mempunyai kedudukan yang sangat penting untuk pedoman hidup orang-orang Yunani yang didalamnya mengandung nilai-niai edukatif.

c.        Pengaruh ilmu-ilmu pengetahuan yang berasal dari Babylonia (Mesir) di Lembah Sungai Nil. Kemudian, berkat kemampuan dan kecakapannya, ilmu-ilmu tersebut dikembangkan sehingga me-reka mempelajarinya tidak didasarkan pada aspek praktisnya raja, tetapi juga aspek teoretis kreatif

Dengan adanya ketiga faktor tersebut, kedudukan mitos digeser oleh logos(akal), sehingga setelah pergeseran tersebut filsafat lahir.

Pengertian filsafat pada saat itu masih berwujud ilmu pengetahuan yang masih global, sehingga nantinya satu demi satu berkembang dan memisahkan diri menjadi ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.

Zaman Yunani terbagi menjadi dug periode, yaitu periode Yunani Kuno dan periode Yunani Klasik. Periode Yunani Kuno diisi oleh ahli pikir alam (Thales, Anaximandros, Pythagoras, Xenophanes, dan Democritos). Sedangkan pada periode Yunani Klasik diisi oleh ahli pikir seperti Socrates, Plato, Aristoteles.

Page 16: Pertemuan I ( Pengantar Filsafat)

Tolak Ukur Kompetensi

Materi Pembinaan : Dasar-dasar Filsafat

No Jadwal Materi Alokasi Waktu Tujuan1 Pertemuan I Pendahuluan

dasar-dasar FilsafatTopik :1. Pengenalan Mind map global2. Latar belakang pembahasan Filsafat3. Tujuan Pembahasan Filsafat

120 menit - Peserta pembinaan mengenal dan paham pola konsep dalam bentuk mind map

- Peserta pembinaan mengetahui alasan untuk pembahasan filsafat

- Memahami nilai penting dan tujuan pembahasan Filsafat

2 Pertemuan II Dasar-dasar FilsafatTopik :1.Pengertian Filsafat2. Filsafat sebagai cara berfikir3. Filsafat sebagai pandangan hidup4. Metode-metode Filsafat Bagaimana Seorang Filosof Bekerja?5. Sejarah dan tokoh2 dalam perkembangan filsafat

120 menit - Dapat mengerti dan memhami arti filsafat dalam bahasa maupun pengertian-pengertian para ahli

- Cara berfikir filsafat yang sangat mendalam sampai, maka pengetahuan hakikat, atau berpikir secara global/menyeluruh, atau berfikir yang dilihat dari berbagai sudut pandang

Page 17: Pertemuan I ( Pengantar Filsafat)

pemikiran atau sudut pandang ilmu pengetahuan.

- hakikat kodrat pribadi manusia (sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk Tuhan).

- bagaimana seorang ahli pikir memulai bekerja — proses bekerjanya —sampai pada suatu kesimpulan.

- Mengetahui Sejarah dan tokoh filsafat sesuai zaman

Page 18: Pertemuan I ( Pengantar Filsafat)