Peritonitis Tb

  • Published on
    23-Jul-2015

  • View
    675

  • Download
    29

Embed Size (px)

Transcript

<p>STATUS PASIEN I. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Status Agama Alamat : Tn D. : 41 thn : Laki-laki : Menikah : Katolik : Batu Ampar II Gang 9, Batu Alam RT/RW 01/04 Condet Batu Ampar Kramat Jati, Jakarta Timur. Pekerjaan Masuk RSUD BA : Wiraswasta : 24 April 2012</p> <p>II. KELUHAN UTAMA Pasien datang dengan keluhan sakit perut sejak 1 hari yang lalu.</p> <p>III.</p> <p>ANAMNESA Autoanamnesa dan alloanamnesa pada tanggal 24 April 2012.</p> <p>A. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke IGD RSUD BA dengan keluhan sakit di seluruh perut sejak 1 hari SMRS. Pasien mengaku sakit perut sudah berlangsung sejak 2 bulan yang lalu dan semakin lama semakin parah terutama sejak 1 hari SMRS. Sakit perutnya terjadi tiba-tiba dan terus-menerus, sakit dirasakan seperti mules di seluruh perut. Pasien mengaku hanya BAB 3x dalam 2 bulan1</p> <p>terakhir tetapi bias kentut. Selain itu pasien turut mengeluhkan terdapat mual muntah, muntah terjadi selepas tiap kali makan sehingga kurang asupan makanan tetapi pasien masih dapat minum. Sakit perut turut disertai dengan demam dan perut kembung. Pasien menyangkal terdapatnya keluhan nyeri ulu hati tetapi terdapat sesak nafas sejak 1 hari SMRS.</p> <p>B. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Bulan Maret 2012, pasien mengalami muntah-muntah, mencret dan demam Penyakit Diabetes Melitus Penyakit Asma Penyakit Hipertensi Penyakit Alergi Operasi sebelumnya Kecelakaan sebelumnya : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal</p> <p>C. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA Diabetes Melitus tidak ada, asma tidak ada, hipertensi disangkal. D. RIWAYAT PRIBADI dan SOSIAL EKONOMI Pasien adalah seorang laki-laki berumur 41 tahun dengan status gizi kurang, merokok dan tidak ada riwayat menggunakan obat-obatan terlarang. Pasien mempunyai status ekonomi. IV. PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan pada tanggal 24 April 2012 pada pukul 07.00 WIB Status Generalis</p> <p>2</p> <p>Keadaan Umum Kesadaran Tekanan Darah Nadi Pernafasan Suhu Status Emosi Umur menurut tafsiran Status Gizi Bentuk badan</p> <p>: Tampak sakit ringan : Apatis : 110/60mmHg : 88x /menit : 60x /menit : 37oC : Kesakitan : Lebih tua : Kurang : Habitus Atelektikus</p> <p>Cara berbaring dan mobilitas : Pasif</p> <p>KULIT Warna : Kuning langsat, pucat, tidak ikterik dan tidak terdapat hipopigmentasi maupun hiperpigmentasi. Lesi : Tidak terdapat lesi primer seperti macula, papul vesikula, pustule maupun lesi sekunder seperti jaringan parut atau keloid pada bagian tubuh yang lain. Rambut Turgor Keringat KEPALA3</p> <p>: Tumbuh rambut pada permukaan kulit. : Baik : Normal</p> <p> Ekspresi wajah Simetri wajah Nyeri tekan sinus</p> <p>: Ekspresif. : Simetris. : Tidak terdapat nyeri tekan sinus.</p> <p> Pertumbuhan rambut: Normal, tidak mudah dicabut, distribusi merata, warna hitam.</p> <p> Pembuluh darah Deformitas MATA Bentuk wajah Eksoftalmus Endoftalmus Gerakan Kelopak Pupil Konjungtiva Sklera TELINGA Daun telinga Liang telinga</p> <p>: Tidak terdapat pelebaran pembuluh darah. : Tidak terdapat deformitas</p> <p>: Simetris. : Tidak ada. : Tidak ada. : Normal tidak terdapat strabismus, deviasi maupun nistagmus. : Normal, tidak terdapat ptosis, edema. : OD dan OS isokor, RCL +/+, RTCL +/+ : Anemis +/+ : Tidak ikterik.</p> <p>: Normal, tofi (-) : Kulit tidak hiperemis, tidak terdapat serumen, cairan (-), darah (-).</p> <p> Membran tympani : Intak. Nyeri proc mastoid : Tidak ada.</p> <p>4</p> <p>HIDUNG Bagian luar Septum Mukosa hidung Cavum nasi : Normal, tidak terdapat deformitas. : Terletak ditengah dan simetris. : Tidak hiperemis, konka nasalis eutrofi : Perdarahan (-)</p> <p>MULUT DAN TENGGOROK Bibir Gigi-geligi</p> <p>: Tidak pucat tidak sianosis. : Jumlah lengkap. : Normoglosia. : Tenang, tidak hiperemis. : Tidak halitosis.</p> <p> Lidah Arcus faring Bau nafas LEHER Kelenjar tiroid Trakea</p> <p>: Tidak membesar, mengikuti gerakan, simetris. : Di tengah.</p> <p>KELENJAR GETAH BENING Leher Aksila Inguinal</p> <p>: Tidak terdapat pembesaran KGB di leher. : Tidak terdapat pembesaran KGB di aksila : Tidak terdapat pembesaran KGB di inguinal.</p> <p>THORAX Paru depan</p> <p>5</p> <p>i.</p> <p>Inspeksi a. Kulit : Tidak terdapat spider nevi, memar (-)</p> <p>b. Dada dalam keadaan statis : Bentuk normal, simetris. c. Dada dalam keadaan dinamis : Pernafasan abdominothoralkal, tidak ada bagian yang tertinggal saat bernafas. ii. Palpasi a. Vokal fremitus iii. Perkusi a. Perkusi seluruh lapang paru : Sonor pada kedua hemitorak. b. Batas paru hati c. Peranjakan hati d. Batas paru lambung iv. Auskultasi a. Bunyi nafas b. Bunyi nafas tambahan Paru belakang 1. Inspeksi : Suara nafas vesikuler pada kedua paru. : Tidak terdapat wheezing dan ronki. : ICS 7 midclavicula kanan. : 2 jari. : ICS 6 garis aksilaris anterior kiri. : Simetris pada kedua hemitorak.</p> <p>Tidak terdapat jaringan parut dan deformitas tulang. ii. Palpasi Vokal fremitus simetris pada kedua hemithorak iii. Perkusi</p> <p>6</p> <p>Batas paru belakang kanan thorakal 9 Batas paru belakang kiri thorakal 10 iiii. Auskultasi Bunyi nafas Bunyi nafas tambaan Jantung i. Inspeksi Iktus kordis ii. Palpasi Iktus kordis iii. Perkusi Batas jantung kanan Batas jantung kiri Batas atas jantung iv. Auskultasi Bunyi jantung Bunyi tambahan ABDOMEN (LIHAT STATUS LOKALIS) EKSTRIMITAS Ekstrimitas atas Utuh, tidak terdapat memar dan luka, akral hangat, tidak oedem7</p> <p>: Suara nafas vesikuler pada kedua paru. : Tidak terdapat wheezing dan ronki.</p> <p>: Terlihat</p> <p>: Teraba 1 jari linea midklavikula kiri, ICS 5</p> <p>: linea sternalis kanan ICS 4 : linea midklavikula ICS 5 : Garis sternalis kiri ICS 3</p> <p>: S1 S2 reguler : Tidak terdapat mur-mur dan gallop.</p> <p> Ekstrimitas bawah Utuh, tidak terdapat memar dan luka, akral hangat, tidak oedem STATUS LOKALIS Inspeksi o Simetriso o</p> <p>: Abdomen simetris : Tampak membuncit : Tidak terdapat jaringan parut, striae dan kelainan kulit</p> <p>Bentuk</p> <p>Kelainan kulit</p> <p>o Pelebaran vena</p> <p>: Tidak terdapat pelebaran vena.</p> <p> Palpasio o o o o</p> <p>Nyeri tekan Defens muskular Hati Limpa Ballotemen</p> <p>: Di seluruh lapangan abdomen. : Terdapat defens muskular. : Tidak dapat dinilai. : Tidak dapat dinilai. : Tidak dapat dinilai.</p> <p> Perkusi o Abdomeno</p> <p>: Timpani : Terdapat nyeri ketok pada seluruh lapangan abdomen</p> <p>Nyeri ketok</p> <p>8</p> <p> Auskultasi o Bising usus : Negatif</p> <p>V. PEMERIKSAN PENUNJANG A. LABORATORIUM (24 April 2012) Pemeriksaan Hematologi Rutin Leukosit Hemoglobin Hematokrit Trombosit : 22000 /ul : 10.5 g/dl : 31 % (5.000-10.000) (P:14-18, W:12-16) (P:43-51, W:38-46)</p> <p>: 722.000 ribu/mm3 (150-400)</p> <p>Pemeriksaan Faal Hati: SGOT SGPT : 22 u/dl : 18 u/dl</p> <p>Pemeriksaan Faal Ginjal: Ureum Kreatinin Pemeriksaan Kimia Darah Glukosa sewaktu Elektrolit :9</p> <p>: 47 mg/dl : 0.77 mg/dl</p> <p>: 140 mg/dl</p> <p>Natrium (Na) Kalium (K) Clorida (Cl) VI. RESUME</p> <p>: 127 mmol/L : 3.8 mmol/L : 89 mmol/L</p> <p>Seorang laki-laki, 41 tahun dating dengan keluhan nyeri di seluruh lapangan abdomen sejak 2 bulan yang lalu dan semakin parah sejak 1 hari SMRS. Nyeri terus-menerus disertai mual muntah selepas makan, demam, perut kembung dan hanya bisa BAB 3x dalam 2 bulan terakhir. Sesak nafas dirasakan sejak 1 hari SMRS. Pemeriksaan fisik: TD 110/60 mmHg, N 88x/menit, S 37C, RR 60x/menit. Mata CA(+/+), abdomen : inspeksi tampak buncit, palpasi DM(+) , NT (+), BU (-). Laboratorium Hb 10.5 g/dl, Leukosit 22ribu/ul, Trombosit 722ribu/ul, GDS :140 mg/dl, Na :127 mmol/L, Cl :89 mmol/L</p> <p>VII. DIAGNOSIS KERJA Suspek peritonitis Suspek ileus paralitik VIII. DIAGNOSIS BANDING Ileus obstruksi.</p> <p>IX. PENATALAKSANAAN Rawat Puasa Pasang NGT Rontgen abdomen 3 posisi Konsul dr Bedah10</p> <p> Pengobatano</p> <p>Infus Asering: PanAmin G 2 : 1 20tetes/menit</p> <p>o Cefotaxim 2x1 gr o Dulkolak 1x1 supp</p> <p>Follow up( 25 April 2012) Subjektif Nyeri di seluruh perut Mual muntah + Demam + Flatus + Perut kembung Tidak bias makan dan minum biasa Objektif TD : 110/60 mmHg N : 88x/menit S : 37 C RR : 60x/menit Px Fisik Mata CA (+/+) Abdomen Inspeksi : Perut buncit Palpasi : DM (+), NT (-) Perkusi : timpani Auskultasi : BU (-) Lab ( 24 April 2012) Hb 10.5 g/dl Leukosit 22ribu/ul Assessment Suspek peritonitis et TB Penatalaksanaan Pro laparatomi eksplorasi Periksa BT/CT Konsul jantung, interna. Certriaxone 2x1 gr Dulcolax 1x1 supp</p> <p>11</p> <p>Trombosit 722ribu/ul LED :38 mm/jam GDS :140 mg/dl Na Cl :127 mmol/L :89 mmol/L</p> <p>USG abdomen Tampak cairan bebas di rongga abdomen dan peri lienalis.</p> <p>PERBAHASAN KASUS Pada kasus ini ditegakkan diagnosa Suspek peritonitis et cause TB berdasarkan dari</p> <p>anamnesa, pemeriksaan fisik dan dibantu oleh hasil pemeriksaan penunjang. Dari anamnesa didapatkan pasien mengeluhkan terdapatnya nyeri perut yang berterusan sejak 2 bulan yang lalu.12</p> <p>Nyeri dirasakan seperti mules dan tidak dinyatakan terdapat nyeri yang spesifik disesuatu region di perut yang dapat merujuk kepada diagnosa seperti appendik dan sebagainya. Selain itu pasien turut mengeluhkan terdapatnya keluhan-keluhan lain seperti perut kembung, anoreksia, dan konstipasi yang mendukung adanya keterlibatan kelainan usus. Pasien turut mengeluhkan terdapat demam yang menunjukkan adanya suatu proses inflamasi. Keluhan seperti adanya batuk disangkal. Keluhan seperti keringat malam tidak ditanyakan. Pasien juga berasa sesak nafas akibat dari tekanan intaabdomen meningkat yang mendorong diafragma sehingga berasa sesak nafas. Riwayat TB paru dan keluarag yang menderita TB tidak ditanyakan. Dari pemeriksaan fisik yang mendukung didapatkan anemis tanpa adanya perdarahan yang menunjukkan pasien menderita penyakit yang kronis. Pada status lokalis didapatkan perut yang terlihat buncit, defens muscular, nyeri pada seluruh lapang abdomen, dan bising usus yang negatif menunjukkan pasien telah mengalami peritonitis. Dari pemeriksaan penunjang didapatkan Hb 10.5g/dl, leukosit 22ribu/ul, LED 38 mm/jam, Na 127 mmol/L, Cl 89 mmol/L GDS 140 mg/dl dan yang terutama pada USG abdomen didapatkan gambaran asites. Penatalaksanaan darurat yang dilaksanakan pada kasus ini berupa laparatomi ekplorasi menurut saya suatu tindakan yang sudah benar berdasarkan terdapatnya perforasi, obstruksi dan asites yang berkemungkinan berupa nanah yang harus dikeluarkan dengan segara untuk mengelakkan pasien dari menjadi sepsis dan untuk laparatomi diagnostic dengan mengambil cairan asites dan dilakukan pemeriksaan laboratorium.</p> <p>PERITONITIS TUBERKULOSIS Pendahuluan</p> <p>13</p> <p>Tuberculosis peritoneal merupakan suattu peradangan peritoneum parietal atau visceral yang disebabkan oleh kuma Mycobacterium tuberculosis, dan terlihat penyakit ini juga sering mengenai seluruh peritoneum, alat-alat system gastrointestinal, mesenterium dan organ genital interna.1 Penyakit ini jarang berdiri sendiri dan biasanya merupakan kelanjutan proses tuberkulosa dari tempat lain terutama dari tuberkulosa paru, namun sering ditemukan bahawa pada waktu diagnose ditegakkan proses tuberkulosa di paru sudah tidak kelihatan lagi. Hal ini bisa terjadi keranan proses tuberkulosa di paru mungkin sudah menyembuh terlebih dahulu sedangkan penyebarannya masih berlangsung di tempat lain.2 Di negara yang sedang berkembang peritonitis tuberkulosis masih sering dijumpai termasuk di Indonesia, sedangkan di Amerika dan negara Barat lainnya walaupun sudah jarang ada kecenderungan meningkat dengan meningkatnya jumlah penderita AIDS dan Imigran. Kerana perjalanan penyakitnya yang berlangsung perlahan-lahan dan sering tanpa keluhan atau gejala yang jelas maka diagnose sering tidak terdiagnosa atau terlambat ditegakkan.3 Tidak jarang penyakit ini mempunyai keluhan menyerupai penyakit lain seperti sirosis hati atau neoplasma dengan gejala asites yang tidak terlalu menonjol. Epidemiologi Peritonitis tuberkulosis lebih sering dijumpai pada wanita dibanding pria dengan perbandingan 1.5:1 dan lebih sering pada decade ke 3 dan 4.4,5 Peritonitis tuberkulosis dijumpai 2% dari seluruh tuberculosis paru dan 59.8% dari tuberculosis abdominal.5 Di Amerika Serikat penyakit ini adalah ke-6 terbanyak di antara penyakit TB extra-paru sedangkan penelitian lain menemukan hanya 5-20% dari penderita tuberculosis peritoneal yang mempunyai TB paru yang aktif.6,7 Pada saat ini dilaporkan bahawa kasus tuberculosis peritoneal di negara maju semakin meningkat dan peningkatan ini sesuai dengan meningkatnya insiden AIDS di negara maju.1</p> <p>14</p> <p>Di Asia dan Afrika yang dimana kasus tuberculosis masih merupakan suatu masalah masyarakat dan sangat banyak dijumpai, peritonitis tuberculosis masih merupakan masalah yang penting. Daldiono dengan cara laparoskopi menemukan sebanyak 15 kasus di RSCM Jakarta selama periode 1968-1972 sedangkan di Medan Zain Lh melaporkan ada 8 kasus selama periode 1993-1995.8 Patogenesis Peritoneum dapat dikenai oleh tuberculosis melalui beberapa cara: 1. Melalui penyebaran hematogen terutama dari paru-paru 2. Melalui sputum TB aktif yang tertelan 3. Melalui dinding usus yang terinfeksi 4. Dari kelenjar limfe ynag terinfeksi 5. Melalui tuba falopi yang terinfeksi Peritonitis tuberkulosa terjadi bukan sebagai akibat penyebaran perkontinuitatum tapi sering kerana reaktifasi proses laten yang terjadi pada peritoneum yang diperoleh melalui penyebaran hematogen preses primer terdahulu ( infeksi laten Dorman infection). Seperti diketahui lesi tuberkulosa biasa mengalami supressi dan menyembuh. Infeksi masih dalam fase laten selama hidup namun infeksi tadi bisa berkembang menjadi tuberkulosa pada setiap saat, jika organism intarselluler tadi mulai bermutiplikasi secara cepat.2 Patologi Terdapat 3 bentuk peritonitis tuberkulosa.2,3</p> <p>1. Bentuk eksudatif</p> <p>15</p> <p>Bentuk ini dikenal juga sebagai bentuk yang basah atau bentuk asites yang banyak, gejala yang menonjol adalah perut membesar dan berisi cairan (asites). Pada bentuk ini perlengketan tidak banyak dijumpai. Tuberkel sering dijumpai kecil-kecil berwarna putih kekuningan milier, Nampak tersebar di peritoneum atau pada alat-alat tubuh yang berada di rongga peritoneum. Disampaing partikel yang kecil-kecil yang dijumpai tuberkel lebih besar sampai sebesar kacang tanah. Disekitar tuberkel terdapat reaksi jariangan peritoneum berupa kongesti pembuluh darah. Eksudat dapat terbentuk cukup banyak, menutupi tuberkel dan peritoneum sehingga merubah dinding perut menjadi tegang. Cairan asites kadang-kadang bercampur darah dan kelihatan kemerahan sehingga mencurigakan kemungkinan adanaya keganasan. Omentum dapat terkena sehingga terjadi penebalan dan teraba seperti benjolan tumor. 2. Bentuk adhesif Disebut juga sebagai bentuk kering atau plastic dimana cairan tidak banyak dibentuk. Pada jenis ini lebih banyak terjadi perlengketan. Perlengketan yang luas antara usus dan peritoneum sering memberikan gambaran seperti tumor, kadang-kadang terbentuk fistel. Hai ini disebabkan kerna perlengketan dinding usus dan peritoneum parietal yang kemudiannya timbul proses nekrosis. Bentuk ini sering menimbulkan keadaan ileus obstruksi. Turberkel-tuberkel biasanya lebih besar. 3. Bentuk campuran Bentuk ini kadang-kadang disebut juga kista, pembengkakan kista terjadi melalui proses eksudasi bersama-sama dengan adhesi sehingga t...</p>