of 30/30
Perikanan Artisanal dan Perikanan Industri Kabupaten Pati: Analisis Bioekonomi Dampak Pelarangan Cantrang Penulis: Dr. Dian Wijayanto, S.Pi., M.M., M.S.E. Dr. Sardiyatmo, M.Si. Dr. Indradi Setiyanto, M.Pi., S.T. Faik Kurohman, S.Pi., Msi ISBN : 978-979-097-554-5 Cetakan Pertaman : Desember 2018 Penerbit : Undip Press, Jl Prof Soedarto, SH Semarang

Perikanan Artisanal dan Perikanan Industri Kabupaten Pati ...eprints.undip.ac.id/69798/1/Perikanan_Artisanal_dan_Perikanan_Industri...Perikanan Artisanal dan Perikanan Industri Kabupaten

  • View
    229

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Perikanan Artisanal dan Perikanan Industri Kabupaten Pati...

Perikanan Artisanal dan Perikanan Industri Kabupaten Pati:

Analisis Bioekonomi Dampak Pelarangan Cantrang

Penulis:

Dr. Dian Wijayanto, S.Pi., M.M., M.S.E.

Dr. Sardiyatmo, M.Si.

Dr. Indradi Setiyanto, M.Pi., S.T.

Faik Kurohman, S.Pi., Msi

ISBN : 978-979-097-554-5

Cetakan Pertaman : Desember 2018

Penerbit :

Undip Press, Jl Prof Soedarto, SH Semarang

Kata Pengantar

Buku ini disusun untuk memberikan gambaran mengenai permasalahan perikanan

artisanal dan perikanan industri di Kabupaten Pati. Perikanan artisanal dan perikanan industri

sama-sama penting bagi Kabupaten Pati. Oleh karena itu, perlu pengelolaan agar keduanya

dapat tumbuh tanpa memberikan kerugian yang signifikan satu sama lain.

Pelarangan terhadap penggunaan cantrang yang merupakan salah satu jenis perikanan

industri memiliki implikasi yang luas. Perikanan cantrang mempengaruhi perikanan artisanal,

dan keterkaitan tersebut dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan bioekonomi. Model

bioekonomi yang dipaparkan dalam buku ini merupakan pengembangan dari Model Gordon-

Schaefer.

Tim penulis mengucapsyukur kepada Allah atas terselesaikannya buku ini. Tim penulis

juga berterima kasih kepada FPIK Universitas Diponegoro yang telah memberikan dukungan

dana penelitian kepada kami. Harapannya, buku ini dapat memberikan manfaat bagi para

pemangku kepentingan yang berminat terhadap permasalahan perikanan artisanal dan

perikanan industri di Kabupaten Pati, serta pengembangan model bioekonomi multi gear.

Hormat kami,

Semarang, Oktober 2018

Tim Peneliti

Bab 1

Gambaran Umum Kabupaten Pati

Kabupaten Pati adalah salah satu kabupaten pesisir di pantai utara (Pantura) Jawa,

dengan panjang pantai mencapai 60 Km. Kabupaten Pati juga merupakan salah satu pensuplai

utama perikanan tangkap di Propinsi Jawa Tengah. Ditinjau dari sejarah dan kebudayaannya,

karakteristik masyarakat pesisir di Kabupaten Pati memang secara turun-temurun budaya

pesisir bersifat dominan, serta relatif banyak dijumpai profesi sebagai nelayan dan usaha terkait

dengan hasil perikanan.

1. Letak Geografis dan Astronomis

Kabupaten Pati terletak pada koordinat 6 25 7 00 Lintang Selatan (LS) dan 110

50 111 15 Bujur Timur (BT). Secara geografis, Kabupaten Pati berbatasan dengan

wilayah sebagai berikut (BPS Kabupaten Pati, 2017):

Perbatasan utara: Kabupaten Jepara dan Laut Jawa

Perbatasan selatan: Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Blora

Perbatasan barat: Kabupaten Kudus dan Kabupaten Jepara

Perbatasan timur: Kabupaten Rembang dan Laut Jawa.

Gambar 1. Peta Administrasi Kabupaten Pati

Secara administrasi, Kabupaten Pati terbagi dalam 21 kecamatan, yaitu: Sukolilo,

Kayen, Tambakromo, Winong, Pucakwangi, Jaken, Batangan, Juwana, Jakenan, Pati, Gabus,

Margorejo, Gembong, Tlogowungu, Wedarijaksa, Trangkil, Margoyoso, Gunungwungkal,

Cluwak, Tayu, dan Dukuhseti. Luas wilayah Kabupaten Pati adalah 150.368 ha, dan kecamatan

terluas adalah Kecamatan Sukolilo (15.874 ha), sedangkan kecamatan terkecil adalah

Kecamatan Tayu (1.266 ha). Kabupaten Pati memiliki 406 desa/kelurahan, 1.484 RW (rukun

warga) dan 7.585 RT (rukun tetangga).

2. Sejarah Kabupaten Pati Dasar hukum pembentukan Kabupaten Pati adalah Undang-Undang Nomor 13 Tahun

1950 Tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Djawa

Tengah. Dalam UU tersebut dijelaskan bahwa Propinsi Jawa Tengah memiliki 28 kabupaten,

termasuk Kabupaten Pati. Hari Jadi Kabupaten Pati diperingati pada tanggal 7 Agustus.

Diperkirakan pada tanggal 7 Agustus 1323, dilakukan kepindahan Kadipaten Pesantenan di

Desa Kemiri ke Desa Kaborongan, dan nama kadipaten berubah dari Kadipaten Pesantenan

menjadi Kadipaten Pati. Pemindahan kadipaten tersebut atas inisiatif dari Adipati Raden

Tambranegara sebagai pemimpin Kadipaten Pesantenan atau Kadipaten Pati.

Adipati Raden Tambranegara merupakan anak dari Raden Kembang Joyo. Raden

Kembang Joyo dikisahkan telah menyatukan beberapa wilayah, diantaranya Kadipaten

Paranggarudo, dan Kadipaten Carangsoko menjadi Kadipaten Pesantenan. Pembentukan

Kadipaten Pesantenan melalui kisah yang panjang dan dapat dipelajari pada Kitab Babad Pati.

Cerita tersebut telah menjadi cerita rakyat dan telah menjadi kajian menarik oleh para

sejarahwan. Pembentukan Kadipaten Pesantenan dilatarbelakangi oleh konflik dua kadipaten

yang sebelumnya damai, yaitu Kadipaten Paranggarudo, dan Kadipaten Carangsoko. Konflik

tersebut terjadi karena insiden pernikahan antara Raden Jaseri atau Menak Jasari (putra Adipati

Yudhopati sebagai penguasa Kadipaten Paranggaruda) dengan Dewi Ruyung Wulan (putri dari

Adipati Puspo Handung Joyo sebagai penguasa Kadipaten Carangsoko). Namun, dikisahkan

bahwa Dewi Ruyung Wulan sebenarnya tidak menyukai Raden Jaseri, dan selanjutnya

melarikan diri dari pesta pernikahan dengan dibantu oleh Ki Dalang Soponyono.

Dalam pelariannya, Ki Dalang Soponyono sempat berselisih dengan Raden

Kembagjoyo di Dukuh Bantengan (Trangkil) wilayah Panewon Majasemi. Raden

Kembangjoyo adalah adik dari Panewu Sukmoyono sebagai penguasa Panewon Majasemi. Ki

Dalang Soponyono mencuri buah di persawahan milik Panewu Sukmoyono, dan selanjutnya

ditangkap oleh Raden Kembangjoyo untuk diperhadapkan kepada Panewu Sukmoyono.

Selanjutnya, Ki Dalang Soponyono bersama Dewi Ruyung Wulan dan kedua adik putri dari Ki

Dalang Soponyono menjelaskan permasalahan pelarian mereka kepada Panewu Sukmoyono,

dan justru Panewu Sukmoyono bersedia melindungi mereka. Kedua adik dari Ki Dalang

Soponyono selanjutnya menikah dengan Panewu Sukmoyono dan Raden Kembangjoyo,

sedangkan Dewi Ruyung Wulan rencananya akan dikembalikan kepada Adipati Puspo

Handung Joyo. Akhirnya, persembunyian Ki Dalang Soponyono dan Dewi Ruyung Wulan

diketahui oleh Kadipaten Paranggaruda dan terjadi pertempuran antara Kadipaten

Paranggaruda dan Pasewon Majasemi. Dalam pertempuran tersebut, Panewu Sukmoyono

gugur. Selanjutnya, Raden Kembangjoyo memimpin pasukannya untuk membalas kematian

Panewu Sukmoyono dan berhasil mengalahkan pasukan dari Kadipaten Paranggaruda.

Dikisahkan bahwa Raden Kembangjoyo bertempur menggunakan pusaka milik

Panewu Sukmoyono, yaitu Keris Rambut Pinutung dan Kuluk Kanigoro (sekarang dijadikan

sebagai bagian dari lambang Kabupaten Pati). Pertempuran antara pasukan Kadipaten

Paranggaruda dan pasukan gabungan dari pasukan Majasemi dan pasukan Kadipaten

Carangsoko merupakan pertempuran yang hebat hingga menyebabkan gugurnya Patih

Singopati dari Kadipaten Paranggaruda dengan Patih Singopadu dari Kadipaten Carangsoko.

Selanjutnya, Adipati Puspo Handung Joyo menikahkan Dewi Ruyung Wulan dengan Raden

Kembangjoyo, serta kisah selanjutnya Raden Kembangjoyo menggabungkan Kadipaten

Paranggaruda, Kadipaten Carangsoko dan Panewon Majasemi menjadi Kadipaten Pesanten.

Selanjutnya, Ki Dalang Soponyono diangkat sebagai patih oleh Raden Kembangjoyo. Raden

Kembangjoyo juga memindahkan pusat pemerintahannya ke Desa Kemiri dengan membuka

Hutan Kemiri. Nama Pesantenan terinspirasi dari minuman dawet yang terbuat dari santan

kelapa oleh Ki Sagola yang dijumpai ketika sedang membuka Hutan Kemiri. Selanjutnya,

kekuasaan Kadipaten Pesanten beralih dari Raden Kembangjoyo ke anaknya, yaitu Raden

Tambranegara. Akhirnya, Raden Tambranegara pada tanggal 7 Agustus 1323 mengubah

Kadipaten Pesantenan menjadi Kadipaten Pati, dan pusat administrasinya dipindahkan dari

Desa Kemiri ke Desa Kaborongan (sumber: www.patikab.go.id, diakses tanggal 2 April 2018).

Setelah kemerdekaan Indonesia, maka wilayah Kadipaten Pati dijadikan Kabupaten Pati

dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 sebagai sebagai dasar hukumnya.

3. Lambang dan Semboyan Kabupaten Pati

Lambang Kabupaten Pati ditetapkan dengan menghargai sejarah (yaitu terkandung

representasi dari Keris Rambut Pinutung dan Kuluk Kanigara) dan potensi wilayah dari

Kabupaten Pati. Lambang daerah Kabupaten Pati ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah No.

1 Tahun 1971. Lambang daerah Kabupaten Pati dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 2. Lambang Daerah Kabupaten Pati

Berikut adalah penjelasan dari arti lambang daerah Kabupaten Pati :

Bentuk lambang daerah Kab.Pati berbentuk perisai, yang memiliki arti pertahanan dan

perlindungan.

Sebuah bintang bersudut lima berwarna kuning melambangkan hasrat dari masyarakat

Kabupaten Pati untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila, serta bertaqwa kepada Tuhan

Yang Maha Esa.

Rantai bulat dan persegi merupakan lambang dari hasrat rakyat daerah Kabupaten Pati

dalam menghayati kehidupan sehari-harinya dilandasi atas rasa kemanusiaan yang adil

dan beradab.

Kayu jati yang melambangkan bahwa daerah Kabupaten Pati adalah penghasil kayu jati

yang memiliki nilai ekonomi tinggi bagi kesejahteraan masyarakat.

Pita merah putih melambangkan keberanian dan kesucian masyarakat Kabupaten Pati.

Kuluk Kanigara dan Rambut Pinuntung adalah Pusaka Pati yang melambangkan

kejayaan dan keutuhan daerah Kabupaten Pati.

Pohon beringin melambangkan bahwa terdapat hasrat pengayoman dan kepemimpinan

dari pemerintah daerah Kabupaten Pati terhadap rakyatnya untuk menggalang

persaudaraan dan kesatuan.

Gunung, laut, dan tanah daratan, melambangkan kekayaan alam daerah Kabupaten Pati.

Rumah pencu melambangkan ciri khas rakyat daerah Kabupaten Pati dalam usaha

mencapai usaha cita-cita yang tinggi dalam mewujudkan kesejahteraan keluarga

Jumlah 21 buah genting krepus hias merupakan perlambang bahwa daerah Kabupaten

Pati terdiri 21 kecamatan.

Kapuk Randu menunjukan bahwa daerah Kabupaten Pati adalah daerah penghasil

kapuk randu.

Seuntai Padi dan Serangkai buah kapas merupakan lambang kemakmuran sandang dan

pangan (keadilan sosial) dari masyarakat Kabupaten Pati.

Seuntai padi berisi 17 butir adalah lambang tanggal proklamasi kemerdekaan RI.

Bambu Runcing adalah lambang perjuangan rakyat Kabupaten Pati pada waktu

merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI.

Bambu Runcing beruas 8 adalah lambang bulan proklamasi kemerdekaan Republik

Indonesia, yaitu Bulan Agustus.

Bambu Runcing beruas 4 dan serangkai buah kapas berisi 5 buah adalah lambang tahun

proklamasi Kemerdekaan RI, yaitu tahun 1945.

Kepala Banteng mengandung makna pemerintahan daerah Kabupaten Pati dalam

melaksanakan kewajiban selalu menjunjung tinggi azas kerakyatan yang dipimpin oleh

hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Tanda pengenal pati menunjukan daerah Kabupaten Pati.

Hiasan Ukiran di kanan dan kiri tanda pengenal Kabupaten Pati adalah lambang daya

cipta dengan nilai-nilai budaya dan budi pekerti yang tinggi dari masyarakat Kabupaten

Pati.

Kabupaten Pati memiliki semboyan Bumi Mina Tani. Mina berarti ikan, serta tani

merepresentasikan pertanian. Artinya, Kabupaten Pati mengandalkan perikanan dan pertanian

sebagai basis perekonomiannya. Hal itu memang terbukti bahwa pertanian dan perikanan

menyerap tenaga kerja paling besar. Meskipun sektor industri pengolahan telah berkembang di

Kabupaten Pati dan telah menjadi kontributor produk domestik bruto (PDRB) terbesar, namun

kontribusi pertanian dan perikanan bagi Kabupaten Pati juga relatif besar, yaitu di peringkat

dua. Selain itu, sektor industri pengolahan yang berkembang di Kabupaten Pati sebagian juga

merupakan industri yang mengolah hasil pertanian dan perikanan. Jadi memang perikanan dan

pertanian memiliki nilai stratejik bagi pembangunan wilayah Kabupaten Pati.

4. Karakteristik Sosial dan Ekonomi

Jumlah penduduk Kabupaten Pati pada tahun 2015 adalah 1.239.989 jiwa, terdiri dari

600.723 jiwa berjenis kelamin laki-laki, dan 639.266 jiwa berjenis kelamin perempuan. Rata-

rata laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Pati sebesar 0,37% per tahun dalam rentang waktu

tahun 2000 hingga 2010. Kecamatan Pati adalah kecamatan dengan kepadatan penduduk

tertinggi, yaitu 2.519 jiwa/Km2, sedangkan Kecamatan Pucakwangi merupakan kecamatan

dengan kepadatan penduduk terendah, yaitu 341 jiwa/Km2.

Sebagian besar penduduk Kabupaten Pati beragama Islam, yaitu mencapai 97%. Hal

itu mempengaruhi sistem nilai yang berkembang di masyarakat. Di Kabupaten Pati terdapat

beberapa pesantren yang memiliki pengaruh kuat, baik dalam kehidupan sosial, budaya

ekonomi, maupun politik. Terdapat 1.122 unit masjid dan 4.601 unit langgar sebagai sarana

ibadah penduduk yang beragama Islam. Selain beragama Islam, sebagian kecil dari penduduk

di Kabupaten Pati beragama Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Sebagian pengusaha berskala

besar di Kabupaten Pati beragama Kristen, Katolik dan Budha. Terdapat beberapa grup

perusahaan besar di Kabupaten Pati, diantaranya GarudaFood Group, Dua Kelinci Group dan

Pabrik Gula Trangkil dengan karyawan dapat mencapai lebih dari 5.000 orang. Meskipun

beragam dalam agama, namun kehidupan bermasyarakat di Kabupaten Pati relatif kondusif.

Gambaran sarana ibadah dan jumlah pemeluk agama dapat dilihat pada Tabel berikut

Tabel 1. Jumlah Pemeluk Agama dan Sarana Tempat Ibadah Sarana Tempat Ibadah Jumlah

Masjid (unit) 1.122

Gereja Kristen (unit) 159

Gereja Katolik (unit) 7

Vihara (unit) 37

Pura (unit) 1

Langgar (unit) 4.601

Agama Penduduk Jumlah

Islam (jiwa) 1.173.337

Kristen (jiwa) 29.123

Katolik (jiwa) 3.541

Hindu (jiwa) 123

Budha (jiwa) 7.305

Lainnya (jiwa) 200

Sumber: BPS Kabupaten Pati (2017)

Terdapat beberapa perguruan tinggi di Kabupaten Pati, diantaranya Sekolah Tinggi

Agama Islam Pati (STAIP), Sekolah Tinggi Agama Kristen Wiyata Wacana (STAKWW),

Sekolah Tinggi Agama Islam Mathaliul Falah (STAIMAFA), Akademi Kebidanan

(Akbid) Bakti Utama, Akbid Duta Dharma, Akademi Perawat (Akper) Pragola dan Akademi

Pertanian Pragola. Beberapa perguruan tinggi juga mengadakan kelas jarak jauh di

Kabupaten Pati, diantaranya Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia-

Semarang (UPGRIS) dan Universitas Terbuka. Sebagian penduduk Kabupaten Pati

juga kuliah di luar kota, baik di wilayah Jakarta, Bandung, Semarang, Yogya maupun

kota-kota pendidikan lainnya. Di Kabupaten Pati juga berkembang sekolah dari tingkat

taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah tingkat atas (SLTA), baik yang berstatus

negeri maupun swasta. Tabel 2. Guru, Murid dan Fasilitas Pendidikan Kabupaten Pati Penjelasan Jumlah

Taman Kanak-Kanak (TK)

Sekolah (Unit) 518

Murid (Orang) 22.571

Guru (Orang) 1.895

Sekolah Dasar (SD) Negeri

Sekolah (Unit) 648

Murid (Orang) 85.136

Guru (Orang) 4.103

Sekolah Dasar (SD) Swasta

Sekolah (Unit) 31

Murid (Orang) 4.411

Guru (Orang) 335

Sekolah Tingkat Raudhotul Athfal (RA)

Sekolah (Unit) 216

Murid (Orang) 12.160

Guru (Orang) 1.067

Sekolah Tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) Negeri

Sekolah (Unit) 2

Murid (Orang) 653

Guru (Orang) 44

Sekolah Tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) Swasta

Sekolah (Unit) 205

Murid (Orang) 26.672

Penjelasan Jumlah

Guru (Orang) 2.457

Sekolah Tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri

Sekolah (Unit) 3

Murid (Orang) 1.831

Guru (Orang) 158

Sekolah Tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) Swasta

Sekolah (Unit) 133

Murid (Orang) 23.287

Guru (Orang) 2.588

Sekolah Tingkat Madrasah Aliyah (MA) Negeri

Sekolah (Unit) 2

Murid (Orang) 1.583

Guru (Orang) 124

Sekolah Tingkat Madrasah Aliyah (MA) Swasta

Sekolah (Unit) 61

Murid (Orang) 13.349

Guru (Orang) 1.484

Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri

Sekolah (Unit) 59

Murid (Orang) 29.999

Guru (Orang) 2.374

Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Swasta

Sekolah (Unit) 28

Murid (Orang) 3.106

Guru (Orang) 326

Sekolah Menengah Umum (SMU) Negeri

Sekolah (Unit) 8

Murid (Orang) 9.385

Guru (Orang) 1.010

Sekolah Menengah Umum (SMU) Swasta

Sekolah (Unit) 17

Penjelasan Jumlah

Murid (Orang) 4.783

Guru (Orang) 417

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

Sekolah (Unit) 45

Murid (Orang) 20.197

Guru (Orang) 1.260

Sumber: BPS Kabupaten Pati (2017)

Tersedia beberapa fasilitas kesehatan di Kabupaten Pati, mulai dari Puskesmas hingga

rumah sakit. Beberapa rumah sakit (RS) di Kabupaten Pati antara lain Rumah Sakit

Umum Daerah (RSUD) Soewondo, Rumah Sakit Umum (RSU) Islam Pati, RSU Mitra

Bangsa, RSUD Kayen, RSU Bantuan Pati, RSU Keluarga Sehat, RSU Budi Agung, RSU

Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah, RSU Sebening Kasih dan RSU As-

Suyuthiyyah. RSUD Soewondo merupakan satu-satunya fasilitas RSU berkelas B di

Kabupaten Pati. Tabel 3. Fasilitas Pendidikan Kabupaten Pati Fasilitas Kesehatan Keterangan

Puskesmas (Unit) 29

Puskesmas Pembantu (Unit) 50

Puskesmas Keliling (Unit) 38

Pos Kesehatan Desa (Unit) 231

Polindes (Unit) 175

Rumah Bersalin (Unit) 9

Klinik (Unit) 29

Rumah Sakit (Unit) 10

Apotik (Unit) 122

Toko Obat (Unit) 10

Optik (Unit) 10

Laboratorium 14

Sumber: BPS Kabupaten Pati (2017)

Berdasarkan tingkat penyerapan tenaga kerja, jenis lapangan pekerjaan

pertanian (termasuk perikanan) dapat menyerap tenaga kerja sebesar 30,7% (terbesar),

sedangkan sektor perdagangan 22,7%, jasa kemasyarakatan 16,5% dan industri

pengolahan 16,3%. Proporsi jumlah tenaga kerja laki-laki (57,5%) di Kabupaten Pati lebih

besar dibandingkan tenaga kerja

perempuan (42,5%). Namun, untuk perusahaan yang paling banyak menyerap tenaga kerja

adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri pengolahan. Hal itu diantaranya

jumlah perusahaan yang terbanyak bergerak di bidang industri pengolahan. Industri

pengolahan unggulan di Kabupaten Pati adalah dari jenis produk makanan dan

minuman (terdapat GarudaFood Group dan Dua Kelinci Group), serta jenis produk tapioka.

Tabel 4. Jumlah Perusahaan di Kabupaten Pati Tahun 2016

Sektor Jumlah

(Unit)

Skala

Kecil

Skala

Sedang

Skala

Menengah

Skala

Besar

Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 6 0 2 2 2

Pertambangan dan Galian 27 6 7 12 2

Industri Pengolahan 220 78 22 106 14

Listrik, Gas dan Air 2 0 0 1 1

Bangunan 19 5 1 12 1

Perdagangan Besar dan

Eceran, Rumah Makan dan

Hotel

154 49 13 88 4

Angkutan, Pergudangan,

dan Komunikasi

6 2 2 2 0

Keuangan, Asuransi, dan

Persewaan Bangunan Perusahaan

80 29 4 42 5

Jasa Kemasyarakatan 78 41 3 27 7

Jumlah 592 210 54 292 36

Sumber: BPS Kabupaten Pati (2017)

Kontribusi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan pada PDRB Kabupaten Pati

relatif dominan, yaitu di atas 26%. Hal itu menunjukkan bahwa perikanan menjadi

bidang usaha yang bersifat stratejik bagi Kabupaten Pati, termasuk perikanan tangkap.

Selain itu, komoditas budidaya unggulan dari Kabupaten Pati adalah ikan bandeng dan

udang. Sedangkan komoditas pertanian unggulan di Kabupaten Pati antara lain padi, jagung,

ketela pohon, dan jeruk. Komoditas pertanian unggulan dari Kabupaten Pati adalah sapi

potong. gambaran umum pertanian di Kabupaten Pati dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 5. Gambaran Umum Pertanian Kabupaten Pati Jenis Data Nilai

Luas Sawah (ha) 59.270

Jenis Data Nilai

Luas Lahan Pertanian Bukan Sawah (ha) 60.314

Produksi Padi Sawah (ton 631.899

Produksi Padi Ladang (ton) 14.169

Produksi Jagung (ton) 168.376

Produksi Kedelai (ton) 2.529

Produksi Kacang Tanah (ton) 2.496

Produksi Kacang Hijau (ton) 9.296

Produksi Ubi Kayu (ton) 661.976

Produksi Ubi Jalar (ton) 1.403

Sumber: BPS Kabupaten Pati (2017)

Kontribusi PDRB Kabupaten Pati terhadap PDRB Jawa Tengah sebesar

3,08%. Kontribusi tersebut masih kalah besar dibanding Kabupaten Kudus yang mencapai

8,24%. Hal itu diantaranya karena jumlah perusahaan di Kabupaten Kudus lebih banyak,

dan memiliki skala usaha yang besar, diantaranya Djarum Group (salah satu produsen

rokok terbesar di Indonesia) dan Pura Group yang bergerak di industri kertas, percetakan,

kemasan dan kimia industri. Sedangkan apabila dibandingkan daerah tetangga lainnya,

maka kontribusi PDRB Kabupaten Pati terhadap PDRB Jawa Tengah relatif lebih

besar, diantaranya Kabupaten Grobogan sebesar 1,99%, Kabupaten Blora sebesar

1,83%, Kabupaten Rembang sebesar 1,36% dan Kabupaten Jepara sebesar 2,19%.

Gambaran PDRB Kabupaten Pati dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 6. PDRB Kabupaten Pati Tahun 2016 (Rp. Miliyar) Lapangan Usaha Harga Berlaku Harga Konstan

Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 8 978 6 532

Pertambangan dan Penggalian 650 461

Industri Pengolahan 9 097 6 991

Pengadaan Listrik dan Gas 32 29

Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,

Limbah dan Daur Ulang

18 16

Konstruksi 2 534 2 012

Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi

Mobil dan Sepeda Motor

4 665 3 843

Transportasi dan Pergudangan 926 817

Lapangan Usaha Harga Berlaku Harga Konstan

Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 1 196 952

Informasi dan Komunikasi 674 702

Jasa Keuangan dan Asuransi 835 644

Real Estat 349 295

Jasa Perusahaan 73 58

Administrasi Pemerintahan, Pertahanan

dan Jaminan Sosial Wajib

1 189 895

Jasa Pendidikan 1 496 1 055

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 327 247

Jasa Lainnya 608 490

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 33 647 26 040

PDRB per Kapita (Rp Juta) 27,13 21,0

Keterangan: Basis harga konstan tahun 2010

Sumber: BPS Kabupaten Pati (2017)

Kontribusi kelompok usaha pertanian, kehutanan dan perikanan dalam PDRB

Kabupaten Pati relatif besar, yaitu diatas 20%. Hal itu menunjukkan bahwa perikanan

memiliki peranan stratejik bagi pembangunan Kabupaten Pati, baik terkait dengan

penyerapan tenaga kerja, pengentasan kemiskinan, penyediaan bahan pangan maupun

pertumbuhan ekonomi.

Bab 2

Perikanan Tangkap Kabupaten Pati

Kabupaten Pati merupakan salah satu kabupaten pesisir di Provinsi Jawa Tengah

yang terletak di pantai utara (pantura) Jawa. Oleh karena itu, potensi sumberdaya

perikanan Kabupaten Pati bersifat prospektif untuk dikembangkan.

1. Produksi Perikanan

Produksi perikanan Kabupaten Pati disuplai dari perikanan tangkap dan

perikanan budidaya. Proporsi perikanan tangkap bersifat dominan dan lebih besar dari

perikanan budidaya, namun pertumbuhan produksi perikanan budidaya lebih besar

dibandingkan pertumbuhan produksi perikanan tangkap.

Tabel 7. Data Produksi Perikanan Kabupaten Pati

Tahun Jenis perikanan (Kg)

Total (Kg) Tangkap Budidaya

2008 31.581.503 16.712.809 48.294.312

2009 35.485.399 18.547.025 54.032.424

2010 34.956.594 26.609.067 61.565.661

2011 39.750.812 29.916.030 69.666.842

2012 42.933.235 31.487.268 74.420.503

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, 2013

2. Kontribusi Perikanan dalam PDRB

Kontribusi perikanan dalam PDRB Kabupaten Pati relatif besar. Kabupaten

Pati merupakan kabupaten pesisir dimana masyarakat pesisir banyak mengandalkan

usaha perikanan, baik sebagai nelayan, pembudidaya ikan, pengolah ikan, perdagangan ikan

maupun usaha yang bersifat mendukung usaha perikanan, seperti transportasi, kredit,

perdagangan peralatan perikanan, pabrik es, kuliner dan penyediaan bahan bakar.

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati merupakan salah satu motor

bagi pertumbuhan pembangunan perikanan di Kabupaten Pati. Visi dan misi Dinas

Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati dirumuskan sebagai berikut :

1. Visi: Terwujudnya Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan yang Lestari dan

Bertanggungjawab untuk Kesejahteraan Masyarakat.

2. Misi:

a. Meningkatkan kualitas SDM aparat, pelayanan teknis dan administrasi bidang kelautan

dan perikanan.

b. Meningkatkan produksi dan produktivitas usaha bidang kelautan dan perikanan.

c. Meningkatkan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan yang optimal dan

berkelanjutan.

Esensi dari pernyataan visi dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati adalah

(1) keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan akan secara konsisiten diupayakan dan

(2) kekayaan alam dan lingkungan tidak saja dimanfaatkan untuk masyarakat saat ini, tetapi

juga untuk generasi yang akan datang.

Dalam perekonomian Kabupaten Pati, perikanan merupakan bagian dari sektor

pertanian, kehutanan dan perikanan. Kontribusi pertanian, kehutanan dan perikanan relatif

besar, yaitu diatas 20%, namun pertumbuhannya kecil.

Tabel 8. Perkembangan Kontribusi Perikanan dalam PDRB Kabupaten Pati (%)

Tahun % Kontribusi Pertanian, Kehutanan dan Perikanan dalam PDRB

2012 27,70 %

2013 27,47%

2014 26,26%

2015 27,08%

2016 26,68%

Sumber: BPS Kab. Pati (2017)

3. Perikanan Tangkap Jumlah nelayan di Kabupaten Pati memiliki kecenderungan semakin bertambah secara

runtut waktu. Namun, pertumbuhan tersebut cenderung didorong oleh pertumbuhan jumlah

penduduk. Hasil wawancara mendalam dengan sebagian nelayan menunjukkan bahwa nelayan

tidak ingin anaknya meneruskan profesi nelayan dari orang tuanya, terutama nelayan artisanal

dan nelayan ABK. Hal itu disebabkan tingkat pendapatan yang dinilai tidak sepadan dengan

resiko kerja di laut maupun beban fisik yang berat. Jadi anak nelayan cenderung beralih profesi

apabila mendapatkan peluang bekerja di sektor lain, terutama harapannya bekerja di sektor

formal, yaitu di perusahaan, PNS, TNI maupun Polri.

Tabel 9. Jumlah Nelayan Kabupaten Pati

Tahun Nelayan (orang)

Jumlah (orang) Juragan Pendega

2008 2.521 3.667 6.197

2009 2.521 3.676 6.197

2010 2.029 4.056 6.085

2011 1.285 4.963 6.248

2012 1.501 4.747 6.248

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, 2013

Produksi dan nilai produksi perikanan laut di Kabupaten Pati mengalami

fluktuasi dengan tren meningkat. Secara umum, produksi perikanan laut dipengaruhi

oleh musim, permintaan maupun kondisi khusus, misalnya isu pelarangan cantrang.

Peraturan pelarangan cantrang membuat suasana memanas, antara pihak yang pro

maupun kontra. Beberapa kali terjadi demonstrasi, baik di tingkat kabupaten, propinsi

maupun di ibu kota Jakarta. Tabel 10. Produksi dan Nilai Produksi Perikanan Tangkap Kabupaten Pati

Tahun Produksi

(Kg)

Nilai

Produksi

(Rp.)

Estimasi Harga Rata-

rata (Rp/Kg)

2008 31.581.503 164.973.545.800 5.224

2009 35.485.399 150.813.905.700 4.250

2010 34.956.594 178.692.512.270 5.112

2011 39.750.812 211.448.329.500 5.319

2012 42.933.235 205.780.321.500 4.793

Sumber: Dinas Kelautan dan Prikanan Kabupaten Pati, 2013

PPP Bajomulyo merupakan fishing base terbesar di Kabupaten Pati. Terdapat dua TPI

di PPP Bajomulyo. PPP Bajomulyo dan PPI Banyutowo merupakan fishing base bagi

perikanan industri di Kabupaten Pati, dengan kapal yang digunakan di atas 30 GT dan

alat tangkap yang digunakan antara lain purse seine, jaring cumi dan cantrang. PPI

Banyutowo merupakan fishing base bagi perikanan artisanal dan perikanan industri.

Beberapa alat tangkap perikanan artisanal yang berpangkalan di PPI Banyutowo antara lain

gill net, dan trammel net.

Tabel 11. Produksi Ikan per TPI di Kabupaten Pati

No TPI Jumlah produksi (Kg)

2008 2009 2010 2011 2012

1 Bajumulyo I 5.194.677 6.668.993 10.983.549 10.177.057 11.197.818

2 Bajumulyo II 24.518.723 27.572.498 22.603.319 28.371.858 30.855.942

3 Pecangaan 3.923 4.437 21.891 12.228 18.975

4 Margomulyo 3.074 4.269 3.915 1.846 2.959

5 Sambiroto 694 536 11.013 5.692 10.404

6 Alasdowo - - - 676 1.470

7 Banyutowo 1.565.995 965.465 1.124.700 954.923 596.655

8 Puncel 184.977 161.279 97.857 114.707 134.763

Jumlah 31.472.063 35.377.479 34.846.244 39.638.987 42.818.986

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, 2013

Secara jumlah unit, perikanan di Kabupaten Pati didominasi oleh perikanan

artisanal yang menggunakan perahu motor tempel. Namun, jumlah produksi perikanan

industry sangatlah besar. Selain di PPI Banyutowo, nelayan artisanal di Kabupaten

memiliki fishing base di PPI Pecangaan, PPI Margomulyo, PPI Sambiroto, PPI Alasdowo

dan PPI Puncel. TPI Margomulyo hanya aktif pada saat musim ikan, sehingga tidak

dilakukan lelang jika jumlah bakul dan nelayan terlalu sedikit.

Tabel 12. Armada Penangkapan Ikan Kabupaten Pati

Tahun Jumlah perahu/motor tempel

Jumlah Kapal motor Motor tempel

2008 418 2.178 2.596

2009 450 2.178 2.628

2010 350 1.813 2.163

2011 221 1.286 1.507

2012 350 1.374 1.724

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, 2013

Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan di Kabupaten Pati antara lain: purse

seine, pancing prawe, dogol, jaring insang monofilament, jaring insang multifilament,

jaring pejer, jaring trammel, pancing holer, dan cantrang. Sebagian nelayan

menggunakan alat tangkap ganda atau multi-gear, misalnya menggunakan gill net dan

trammel net, yaitu menggunakan trammel net pada saat musim udang dan menggunakan

gill net di musim lainnya.

Tabel 13. Alat Tangkap Ikan Kabupaten Pati

Alat penangkap ikan Tahun

2007 2008 2009 2010 2011 2012

Purse Seine 93 93 126 125 132 132

Pancing Prawe 394 394 397 397 359 359

Dogol 68 68 68 68 68 68

Jaring Insang Monofilament 39 39 39 39 26 26

Jaring Insang Multifilament 500 500 500 500 468 468

Jaring Pejer 609 609 609 609 547 547

Jaring Trammel 1.245 1.245 1.245 1.245 1.178 1.178

Pancing Holer - - 31 31 31 31

Cantrang 40 40 44 44 44 44

Jumlah 2.988 2.988 3.059 3.058 2.855 2.853

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, 2013

4. Pelabuhan Perikanan

Kabupaten Pati memiliki beberapa TPI, diantaranya TPI Bajomulyo I, TPI

Bajomulyo II, TPI Pecangan, TPI Margomulyo, TPI Sambiroto, TPI Alas Dowo, TPI

Banyutowo dan TPI Puncel. Hasil perikanan tangkap terbesar di Kabupaten Pati di

dominasi oleh TPI Bajomulyo Unit I dan TPI Bajomulyo Unit II. Alat tangkap yang

banyak dioperasikan di TPI Bajomulyo Unit I adalah cantrang dan jaring cumi-cumi.

Sedangkan pada TPI Bajomulyo Unit II, alat tangkap yang banyak digunakan nelayan adalah

purse seine.

PPP Bajomulyo secara astronomis terletak pada koordinat 111o8'30"BT dan 6 o

42'30" LS di Desa Bajomulyo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Fasilitas-fasilitas yang

dimiliki PPP Bajomulyo antara lain: Fasilitas Pokok: Tanah, Dermaga/Turap, Kolam Pelabuhan, Break Water,

Jalan komplek.

Fasilitas Fungsional: Gedung lelang, Reservoir, Tower, Listrik PLN, Genset, SPBB,

SPDN, dan Sound Sistem.

Fasilitas Penunjang. Pada Unit I tersedia Gedung Pertemuan, MCK umum, Gudang

basket, Pos Jaga, Eks kantor UPBI, Cold storage, Musholla, Ruang genset, Area parkir,

dan Pagar keliling. Sedangkan pada Unit II tersedia Gedung lelang, Pasar bangsal,

Pengepakan ikan, Listrik PLN, Gedung Basket, MCK, Areal parkir depan tempat

lelang, Lampu penerangan dermaga, Gedung pos jaga dan doorlup, Drainase induk,

Kios perdagangan umum, Kantor Airud, SSB Pos Jaga, Gapura dan Pagar, Pagar

Bangunan Lelang, dan Kantor pengawasan.

5. Sumberdaya Ikan Terdapat pembagian wilayah pengelolaan perairan (WPP) di Indonesia. Propinsi Jawa

Tengah di bagian pantai utara (Pantura), termasuk Kabupaten Pati, berada pada Wilayah

Pengelolaan Perikanan (WPP 712), yaitu untuk Laut Jawa. Potensi pada WPP 712 adalah

981.680 ribu ton/tahun, dimana WPP 712 meliputi 8 provinsi, yaitu Lampung, Banten, Jakarta,

Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan

(Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.47/Men/2016).

Tabel 14. Estimasi Sumberdaya Ikan WPP 712

No Kelompok SDI WPP 712 (ton)

1 Ikan Pelagis Besar 104.017

2 Ikan Pelagis Kecil 303.886

3 Ikan Demersal 320.432

4 Udang Penaeid 58.390

5 Ikan Karang 59.146

6 Lobster 979

7 Kepiting 10.077

8 Rajungan 22.637

9 Cumi-Cumi 102.142

Jumlah 981.680

Sumber : Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.47/MEN/2016

6. Permasalahan Cantrang Disamping memiliki potensi sumberdaya ikan, perikanan tangkap di Kabupaten Pati

juga mengalami masalah terkait dengan pro dan kontra pelarangan alat tangkap cantrang.

Bahkan isu pro dan kontra pelarangan cantrang telah menjadi isu nasional. Cantrang

merupakan alat tangkap aktif yang dioperasikan menyentuh dasar perairan. Cantrang

dioperasikan dengan menebar tali selambar secara melingkar, dilanjutkan penurunan jaring dan

ditarik hingga waktu tertentu. Cantrang yang berkembang saat ini sudah dilakukan modifikasi

oleh nelayan dan diperbesar ukurannya.

Permasalahan perikanan cantrang telah menjadi isu nasional yang dinilai sebagian

pihak sudah menjadi isu yang tidak produktif. Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan, alat

tangkap cantrang dinilai tidak ramah lingkungan. Namun, larangan penggunaan alat tangkap

cantrang dinilai sebagian nelayan dapat menurunkan penghasilan nelayan dan suplai industri

pengolahan ikan tertentu (diantaranya industri surimi dan tepung ikan) dapat terganggu.

Sedangkan bagi sebagian nelayan artisanal, operasi alat tangkap cantrang dinilai mengurangi

hasil tangkapan, sehingga nelayan artisanal cenderung setuju dengan pelarangan cantrang.

Oleh karena itu, permasalahan alat tangkap cantrang merupakan permasalahan yang kompleks,

karena melibatkan banyak pihak dan bersifat multi dimensi keilmuwan, yaitu teknologi

perikanan (termasuk interdependensi alat tangkap), sumberdaya ikan, regulasi, sosial dan

ekonomi.

Alat tangkap cantrang dalam statistik perikanan tangkap tergolong dalam pukat tarik

berkapal bersama dengan payang (pair seines), dogol (danish seines) dan lampara dasar. Total

jumlah gabungan alat tangkap dogol, cantrang, dan lampara dasar secara nasional pada tahun

2014 adalah 25.012 unit, dengan 20% berpangkalan di Propinsi Jawa Tengah. Produksi

gabungan alat tangkap dogol, cantrang, dan lampara dasar di Propinsi Jawa Tengah mencapai

80.983 ton atau 25% dari produksi nasional.

Tabel 15. Produksi, dan Trip Dogol, Cantrang, dan Lampara Dasar

Keterangan Nasional Jawa Tengah

Nilai %

Jumlah Unit Dogol, Cantrang, dan Lampara Dasar (Unit) 25.012 5.069 20%

Jumlah Trip Dogol, Cantrang, dan Lampara Dasar (Trip) 2.027.795 273.786 14%

Produksi Dogol, Cantrang, dan Lampara Dasar (ton) 326.483 80.983 25%

Sumber: KKP (2015)

Sumber: KKP (2015)

Gambar 3. Proporsi Hasil Tangkapan Dogol, Cantrang, dan Lampara Dasar Jumlah cantrang di Propinsi Jawa Tengah sebesar 3.209 unit pada tahun 2004, lalu

meningkat menjadi 5.100 unit pada tahun 2007 dan bertambah menjadi 10.758 unit pada tahun

2015. Seiring dengan peningkatan jumlah cantrang, telah terjadi penurunan catch per unit effort

(CPUE) dari cantrang, yaitu 8,66 ton pada tahun 2004 menjadi 4,84 ton pada tahun 2007. Hal

itu mengindikasikan bahwa sumberdaya ikan daerah operasi cantrang di Jawa Tengah

(termasuk di Kabupaten Pati) sudah mengalami tekanan eksploitasi yang signifikan.

Bab 3

Klasifikasi Alat Tangkap

Terdapat beragam alat tangkap yang dipergunakan dalam usaha perikanan tangkap.

Variasi alat tangkap di Indonesia sangat beragam. Meskipun pemerintah telah memiliki SNI

alat tangkap, namun pada kenyataannya, alat tangkap yang berkembang di nelayan sangat

beragam. Nelayan memodifikasi alat tangkapnya untuk optimalisasi hail tangkapan dengan

orientasi jangka pendek.

1. Klasifikasi Alat Tangkap

Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik

Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.

06/MEN/2010, sebagai berikut:

1. Jaring lingkar (surrounding nets);

2. Pukat tarik (seine nets);

3. Pukat hela (trawls);

4. Penggaruk (dredges);

5. Jaring angkat (lift nets);

6. Alat yang dijatuhkan (falling gears);

7. Jaring insang (gillnets and entangling nets);

8. Perangkap (traps);

9. Pancing (hooks and lines);

10. Alat penjepit dan melukai (grappling and wounding)

Sumber: Seafish (2005)

Gambar 4. Ilustrasi Beberapa Alat Tangkap dalam Perairan

Menurut Oxvig and Hansen (2007), alat tangkap di eropa barat dibagi dalam 4

kelompok, yaitu trawl, danish seine, purse seine dan mono net. Sedangkan klasifikasi alat

tangkap secara internasional dapat dilihat pada tabel dibawah. Cantrang termasuk danish seine,

namun karena sudah dimodifikasi dan mirip dengan trawl, maka ada yang menyebut sebagai

danish trawl.

Tabel 16. International Standard Statistical Classification of Fishing Gear (ISSCFG,1980)

Kategori Alat Singkatan ISSCFG Surrounding Nets 01.0.0 With purse lines (purse seines) PS 01.1.0 - one boat operated purse seines PS1 01.1.1 - two boats operated purse seines PS2 01.1.2 Without purse lines (lampara) LA 01.2.1 Seine Nets 02.0.0 Beach seines SB 02.1.0 Boat or vessel seines SV 02.2.0 - Danish seines SDN 02.2.1 - Scottish seines SSC 02.2.2 - pair seines SPR 02.2.3

Kategori Alat Singkatan ISSCFG Seine nets (not specified) SX 02.9.0 Trawls 03.0.0 Bottom trawls 03.1.0 - beam trawls TBB 03.1.1 - otter trawls OTB 03.1.2 - pair trawls PTB 03.1.3 - nephrops trawls TBN 03.1.4 - shrimp trawls TBS 03.1.5 - bottom trawls (not specified) TB 03.1.9 Midwater trawls 03.2.0 - otter trawls OTM 03.2.1 - pair trawls PTM 03.2.2 - shrimp trawls TMS 03.2.3 - midwater trawls (not specified) TM 03.2.9 Otter twin trawls OTT 03.3.0 Otter trawls (not specified) OT 03.4.9 Pair trawls (not specified) PT 03.5.9 Other trawls (not specified) TX 03.9.0 Dredges 04.0.0 Boat dredges DRB 04.1.0 Hand dredges DRH 04.2.0 Lift Nets 05.0.0 Portable lift nets LNP 05.1.0 Boat-operated lift nets LNB 05.2.0 Shore-operated stationary lift nets LNS 05.3.0 Lift nets (not specified) LN 05.9.0 Falling Gear 06.0.0 Cast nets FCN 06.1.0 Falling gear (not specified) FG 06.9.0 Gillnets and Entangling Nets 07.0.0 Set gillnets (anchored) GNS 07.1.0 Driftnets GND 07.2.0 Encircling gillnets GNC 07.3.0 Fixed gillnets (on stakes) GNF 07.4.0 Trammel nets GTR 07.5.0 Combined gillnets-trammel nets GTN 07.6.0 Gillnets and entangling nets (not specified) GEN 07.9.0 Gillnets (not specified) GN 07.9.1 Traps 08.0.0 Stationary uncovered pound nets FPN 08.1.0 Pots FPO 08.2.0 Fyke nets FYK 08.30 Stow nets FSN 08.4.0 Barriers, fences, weirs, etc. FWR 08.5.0 Aerial traps FAR 08.6.0 Traps (not specified) FIX 08.9.0 Hooks and Lines 09.0.0

Kategori Alat Singkatan ISSCFG Handlines and pole-lines (hand-operated)1 LHP 09.1.0 Handlines and pole-lines (mechanized)1 LHM 09.2.0 Set longlines LLS 09.3.0 Drifting longlines LLD 09.4.0 Longlines (not specified) LL 09.5.0 Trolling lines LTL 09.6.0 Hooks and lines (not specified) LX 09.9.0 Grappling and Wounding 10.0.0 Harpoons HAR 10.1.0 Harvesting Machines Pumps HMP 11.1.0 Mechanized dredges HMD 11.2.0 Harvesting machines (not specified) HMX 11.9.0 Miscellaneous Gear2 MIS 20.0.0 Recreational Fishing Gear RG 25.0.0 Gear not Know or Not Specified NK 99.0.0

Keterangan: 1 termasuk jigging lines 2 termasuk: hand and landing nets, drive-in-nets, menangkap ikan dengan tangan dengan atau

tanpa alat selam, pengunaan racun dan bom, melatih binatang dan menggunakan listrik Sumber: http://www.fao.org/3/a-bt986e.pdf

Sumber: Seafish (2005) dan Oxvig and Hansen (2007)

Gambar 5. Trawl

Sumber: Seafish (2005) dan Oxvig and Hansen (2007)

Gambar 6. Seine Net

Sumber: Seafish (2005) dan Oxvig and Hansen (2007)

Gambar 7. Purse Seine

Sumber: Oxvig and Hansen (2007), Seafish (2015)

Gambar 8. Gill Net