Click here to load reader

PERENCANAAN STRATEGIS INDUSTRI KREATIF SEKTOR DESAIN

  • View
    1

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PERENCANAAN STRATEGIS INDUSTRI KREATIF SEKTOR DESAIN

Jurnal Tata Kota dan Daerah Volume 8, Nomor 2, 2016 79
PERENCANAAN STRATEGIS INDUSTRI KREATIF SEKTOR DESAIN GRAFIS
KOTA MALANG AKTOR PEMERINTAH DINAS PERINDUSTRIAN
Dimas Tri Rendra Graha, Budi Sugiarto Waloejo, Agus Dwi Wicaksono
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jalan Mayjen Haryono 167 Malang 65145 -Telp (0341)567886
[email protected]
ABSTRAK
Kota Malang adalah Kota Kreatif di Indonesia. Kota Malang memiliki industri kreatif Desain grafis sebagai
salah satu sektor unggulan. Namun Industri kreatif desain grafis kota malang juga memiliki permasalahan yang
menghambat perkembangannya antara lain, pembajakan desain, daya beli lokal yang rendah, dan hasil produk
yang diremehkan. Penelitian ini meneliti bagaimana cara mengembangkan desain grafis di kota Malang.
Metode mengembangkan desain grafis di Kota Malang dibatasi dengan menggunakan metode perencanaan
strategis. Aktor Perencanaan strategis yang dipilih adalah aktor pemerintahan yakni Dinas Perindustrian. Hasil
dari perencanaan strategis menunjukkan bahwa terdapat 3 pergeseran paradigma utama, yang menyangkut
perubahan produk Desain menjadi non cetak, perubahan gaya penyampaian pesan, dan perubahan persepsi
masyarakat mengenai desain. Value proposition terpilih berdasarkan pergeseran paradigma tersebut adalah
value proposition Costumer Intimacy. Visi yang harus diterapkan adalah “Mewujudkan Industri Kreatif Desain
Grafis yang berorientasi pada pelayanan konsumen dengan produk desain grafis non cetak yang personalized”.
Misi yang ditentukan adalah meningkatkan kegiatan pemasaran dan promosi, Meningkatkan kemampuan
Industri Desain grafis dalam memberikan produk desain non cetak personalized, Mengembangkan sarana
prasarana Desain Grafis serta mewujudkan iklim usaha desain yang kondusif. Berdasarkan hasil perencanaan
terdapat 16 rencana aksi yang perlu dilaksanakan oleh Dinas Perindustrian. Rencana Aksi tersebut terdiri dari
kegiatan yang menyangkut peningkatan pemasaran dan promosi, kegiatan edukasi konsumen, kegiatan
peningkatan kemampuan industri kreatif desain grafis, penyediaan sarana desain grafis, dan peningkatan
kapasitas dinas perindustrian.
ABSTRACT
Malang is one of Indonesia Creative City. Malang have creative industry such as design graphic as one of its
creative industries prime sector. However, Design Graphic Industries development has been struggles. Survey
found, Design Graphic obstruction such as design copyright violation, poor local buyer, and people perception
of design. This study aims to determine how to develop design graphic. Method of development used on this
study is strategic plan method. Subject planner on this study is Goverment Actor, Industrial Departement. This
research finds 3 major value shift, shift of design become digital product, shift of message delivery style, and
shift of people perception. Value proposition suitable use based on value shit is Costumer Intimacy. The result of
strategic planning show vision that needed to take is “Creating Design Graphic Creative Industry orientated to
costumer services with unprinted personalized design”. Mission used for design graphic industry is raise
promotion and marketing, increase design graphic capability, develop design infrastructure, and create
sustainable design bussiness climate. There are 16 action plans needed to be done by departement of industry.
Action plan consist of activity such as increase marketing and promotion, consumen education, increase design
graphic bussiness actor capability, develop design infrastructure and increase departement of industry capacity.
Keywords: Design-Graphic-Creative-Industries, Strategic-Plan, Costumer-Intimacy, Action-Plan.
Kreatif ditetapkan sebagai tulang punggung
perekonomian di Indonesia. Berdasarkan UU No.
3 tahun 2014, Industri kreatif adalah Industri
yang mentransformasi dan memanfaatkan
kreatifitas, keterampilan, dan kekayaan
Creative City Conference pada Maret 2016. Kota
Malang menetapkan diri menjadi salah satu Kota
Kreatif dengan salah satu sektor industri kreatif
Desain grafis/ Desain Komunikasi Visual sebagai
sektor yang diunggulkan (Arifin, 2016). Banyak
hambatan pengembangan yang dialami oleh
sektor bisnis desain grafis. Permasalahan bisnis
yang kurang sustainable dapat dilihat dari umur
perusahaan desain grafis kota Malang yang
mayoritas masih muda dengan umur kurang dari
3 tahun (65,96%). Berdasarkan hasil survei,
permasalahan utama industri kreatif desain grafis
PERENCANAAN STRATEGIS INDUSTRI KREATIF SEKTOR DESAIN GRAFIS KOTA MALANG AKTOR PEMERINTAH
DINAS PERINDUSTRIAN
80 Jurnal Tata Kota dan Daerah Volume 8, Nomor 2, 2016
antara lain, Pembajakan desain yang tinggi
menjadi keluhan bagi 60% (18) pelaku industri
desain grafis, 66% pelaku industri mengeluhkan
daya beli lokal yang rendah, 70% pelaku
mengeluhkan hasil karya desain yang diremehkan
masyarakat umum. Disamping itu 43% pelaku
industri kreatif desain grafis juga mengeluhkan
pelaku desainer pemula yang menyebabkan
fluktuasi harga desain.
mengembangkan desain grafis di Kota Malang
dibatasi dengan menggunakan metode
perencanaan strategis. Metode Perencanaan
keunggulan. Keunggulan dari Perencanaan
Strategis adalah kemampuannya untuk
hendak dicapai, meningkatkan kemampuan
kecepatan merespon permasalahan (Bryson,
digunakan mengikuti alur perencanaan strategis
yang dimulai dari mengidentifikasi dan
menganalisis pergeseran paradigman,
Lingkup wilayah perencanaan adalah
malang. Pelaku perencanaan pada penelitian ini
adalah Dinas Perindustrian Kota Malang. Materi
perencanaan dibatasi dengan menggunakan
Leadership karya Treacy (2003).
pembuatan desain secara manual maupun
elektronik, dan dalam bidang komputer grafik.
Pembatasan ini dilakukan karena bidang kerja
Desain Grafis pada animasi, film dan video
berada dalam sektor industri kreatif yang berbeda
dalam pembagian 16 sektor industri kreatif
menurut BEKRAF (2016). Lingkup Materi
Desain Grafis dibatasi lebih lanjut pada pelaku
bisnis industri kreatif desain grafis. Pelaku bisnis
industri kreatif desain grafis dalam penelitian ini
adalah pelaku usaha/aktor bisnis industri kreatif
desain grafis baik formal/ informal, partime/
fulltime, bekerja perseorangan maupun dalam
perusahaan desain grafis.
Desain Grafis Kota Malang adalah metode
sampling non probability yakni Snowball
sampling. Snowball sampling adalah teknik
pengambilan sampling yang bermula dari satu
sample dan terus bertambah. Penarikan sample
pola ini dilakukan dengan menentukan sample
pertama. Sampel berikutnya ditentukan
seterusnya. Survei yang dilakukan menggunakan
survei populasi dengan total pelaku bisnis
industri kreatif desain grafis tersurvei 47 pelaku.
Analisa Aktor Desain Grafis
desain grafis kota malang diwujudkan dalam
sebuah analisa Network scan dan analisis
Quadruple Helix. Analisis Quadruple helix
adalah analisis evaluatif yang didapatkan dengan
membandingkan kondisi/peran aktor saat ini
dengan peran aktor yang seharusnya berdasarkan
kajian teori. Analisis Kelembagaan atau yang
disebut Network Scan Analysis adalah bagian dari
political analysis yang dilakukan untuk
mengidentifikasi hubungan antar Lembaga dan
besaran fungsi lembaga tersebut. Teori peran
aktor yang digunakan sebagai alat evaluasi
adalah peran aktor menurut Tayyiba (2008).
Pergeseran Paradigma (Value shift)
Pergeseran paradigma adalah terjadinya
mulai dari nilai, teknik terhadap fenomena yang
terjadi. Pergeseran paradigma dalam perencanaan
strategis diperlukan untuk masukan dalam
pembuatan visi-misi. Terdapat 2 metode untuk
menentukan pergeseran paradigma yakni dengan
melakukan studi literatur dan melakukan
wawancara terhadap ahli. Kedua metode tersebut
digunakan untuk melihat tren atau perkembangan
yang ada pada kondisi saat ini serta arahan
perkembangan yang dianggap ideal untuk masa
yang akan datang. Pergeseran paradigma dalam
sebuah sistem perindustrian mempengaruhi
proposition yang dapat diambil dan dijadikan
panduan dalam perencanaan strategis. Nilai
tersebut antara lain, Operasional Excellence,
Product Leadership dan Costumer Intimacy.
Nilai inti tersebut menjadi cita-cita dalam
pengembangan industri/ organisasi yang
memiliki produk yang dijual dengan harga yang
murah dengan penjualan massif. Nilai Product
Leadership akan menjual produk unik inovatif
Dimas Tri Rendra Graha, Budi Sugiarto Waloejo, Agus Dwi Wicaksono
Jurnal Tata Kota dan Daerah Volume 8, Nomor 2, 2016 81
dengan harga lebih mahal karena terdapat biaya
pengembangan produk. Costumer intimacy akan
dengan membangun kedekatan perusahaan
pelayanan, dan memiliki pemahaman yang lebih
terhadap kebutuhan konsumen. Pemilihan Value
Proposition ditentukan berdasarkan Value apa
yang dianggap penting bagi perusahaan dan hasil
dari analisis value shift/ pergeseran paradigma.
Critical Success Factor (CSF)
yang dilakukan setelah visi dan misi selesai
dibuat (setelah proses perencanaan strategis
Outcomes and Impact). Critical Success Factor
memiliki pengertian sebagai Faktor yang paling
berpengaruh dalam keberhasilan usaha untuk
pencapaian misi. Menentukan Critical Success
Factor, dilakukan dengan membuat prediksi
apabila visi misi sukses bagaimana dampaknya
dan kondisi apa saja yang berubah. Dampak
kesuksesan visi misi dilihat dari sudut pandang
finansial, sudut pandang konsumen, sudut
pandang pertumbuhan dan perkembangan serta
sudut pandang internal organisasi. Setelah
ditemukan Critical Succes Factor dari masing-
masing perspektif, dibuatlah pengukuran kinerja.
Pengukuran kinerja yang dilakukan dengan
perspektif Balance ScoreCard selanjutnya
sebuah organisasi (Hermawan, 2008)
internal (SW) maupun eksternal (OT) dari sebuah
organisasi. Dalam Analisis SWOT biasanya
dibuat sebuah matriks SWOT yang memuat
strategi yang dilakukan perusahaan/organisasi
eksternal. Hasil identifikasi internal eksternal
dapat bersumber dari subsistem industri, aktor
quadruple helix, dan kondisi internal dinas
perindustrian. Subsitem industri yang dimaksud
adalah sistem produksi industri. Secara umum,
sistem produksi industri industri tersebut terdiri
dari input dan output produksi seperti bahan
baku, tenaga kerja, modal, produk, dan limbah
(Hakim, 2008).
ST dan WT. Namun dalam penelitian ini
pembuatan matriks SWOT untuk strategi SO,
WO, ST dan WT tidak dilakukan. Hal ini
dikarenakan fungsi Analisis SWOT dalam
penelitian ini adalah untuk menggambarkan
kondisi lapangan serta masukan untuk rencana
aksi yang dibuat berdasarkan kondisi SWOT
masing-masing strategi.
kedua di Jawa Timur. Kota Malang terkenal akan
fungsinya sebagai kota pendidikan dan juga
sebagai kota transit untuk wisatawan. Kota
Malang dengan Jumlah penduduk 851.298 jiwa
memiliki angkatan kerja sebanyak 406.935 jiwa
yang terdiri dari 377.329 berkerja dan 29.606
jiwa sebagai pengangguran terbuka. Berdasarkan
data Kota Malang dalam angka jumlah pekerja
desain grafis tidak dapat diketahui jumlah
pastinya karena dibagi dalam 2 lapangan usaha
yakni kedalam industri pengolahan, dan tenaga
kerja jasa perusahaan. Jumlah tenaga kerja
industri pengolahan di kota malang adalah 53.922
jiwa sedangkan Jumlah tenaga kerja sektor
lapangan usaha Keuangan, Asuransi, Usaha
persewaan bangunan dan jasa perusahaan adalah
23.638 jiwa.
dasar harga berlaku pada tahun 2015 sebesar Rp.
51.827,98 (Milyar Rp), sedangkan atas dasar
harga konstan sebesar Rp. 41.951,56 (Milyar
Rp). menurut data PDRB kota Malang kontribusi
Desain Grafis adalah sebesar 2,46% namun
belum dapat dijadikan tolak ukur dikarenakan
hasil prosentase tersebut masih bercampur
dengan industri kreatif sektor lain seperti
percetakan, dan kriya.
kebijakan tujuan penataan ruang kota malang
2037 yakni “mewujudkan kota malang sebagai
pusat kegiatan Nasional (PKN) yang produktif,
dan berkelanjutan, dengan basis pendidikan,
perdagangan dan jasa, industri kecil, menengah,
industri kreatif, pariwisata, serta sarana perkotaan
yang mantap dan mandiri.”
Pelaku bisnis merupakan kunci bagi
pengembangan industri kreatif. Ekonomi kreatif
yang mengandalkan kekayaan intelektual dan ide
sebagai bahan bakar utama memerlukan pelaku
bisnis yang senantiasa berkembang. Dalam
Industri Kreatif Desain grafis, pelaku usaha
bisnis desain grafis itu berada di bidang usaha
jasa konsultan ataupun industri pengolahan.
Pelaku industri desain grafis adalah pelaku bisnis
yang unik. Mayoritas pelaku adalah pelaku bisnis
yang tidak memiliki karyawan atau bekerja
sendiri. Banyak pelaku tidak memiliki kantor,
hanya bekerja dirumah, semua pekerjaan
dilakukan secara online. Pelaku industri kreatif
desain grafis juga terkadang hanya mengandalkan
PERENCANAAN STRATEGIS INDUSTRI KREATIF SEKTOR DESAIN GRAFIS KOTA MALANG AKTOR PEMERINTAH
DINAS PERINDUSTRIAN
82 Jurnal Tata Kota dan Daerah Volume 8, Nomor 2, 2016
bisnisnya sebagai part time dan memiliki
pekerjaan tetap lain. Hal ini tidak hanya
menyebabkan Pelaku industri kreatif tidak
terdata. Disamping itu sikap pelaku industri
kreatif desain grafis cenderung tertutup, dan
menolak untuk diwawancarai.
Desain Grafis Kota Malang Umur Industri Desain Grafis Kota
Malang Jumlah (%)
1-2 tahun 5 10,64% 2-3 tahun 8 17,02%
3-4 tahun 4 8,51%
Gambar 1. Pendapatan per bulan Industri kreatif
desain grafis
kesimpulan. Kesimpulan pertama adalah semakin
besar umur industri desain grafis, maka semakin
besar pendapatannya. Kesimpulan kedua, Pelaku
industri kreatif desain yang memiliki target pasar
luar negeri cenderung memiliki pendapatan lebih
besar. Pelaku yang bekerja fulltime di industri
kreatif desain grafis memiliki pendapatan yang
lebih tinggi. Pelaku yang bekerja berkelompok
memiliki pendapatan yang lebih besar
dibandingkan pelaku yang bekerja sendirian.
Gambar 2. Peta persebaran pelaku bisnis
Tenaga Kerja Desainer Grafis yang ada
di kota Malang terdiri dari tenaga kerja yang
berasal dari pendidikan desain Grafis, belajar
otodidak dan non desain Grafis. Tenaga kerja non
desain Grafis adalah tenaga kerja yang tidak
memiliki latar belakang desain Grafis, tidak
berkerja sebagai desainer Grafis namun tetap
bekerja di bisnis desain Grafis. Contoh dari
tenaga kerja non desain Grafis adalah tenaga
kerja akuntan, dan tenaga kerja Programmer.
Berdasarkan gambar 3 Tenaga kerja non desain
yang berjumlah 8% tersebut tidak bisa menjadi
tolak ukur kemampuan desainer grafis Kota
Malang. Sehingga tolak ukur pekerja desain
grafis hanyalah berasal dari pendidikan DKV dan
Pekerja Otodidak.
hanya memiliki 3 aktivitas yakni Proses Kreasi
desain grafis, Desktop Publishing dan
Komersialisasi.
Dimas Tri Rendra Graha, Budi Sugiarto Waloejo, Agus Dwi Wicaksono
Jurnal Tata Kota dan Daerah Volume 8, Nomor 2, 2016 83
Gambar 3. Komposisi Tenaga Kerja Pelaku
Desain Grafis Kota Malang
kreatif desain grafis cukup beragam. Produk
tersebut mulai dari desain, marketing sales kit,
company program, desain web, cover buku,
desain power point, hingga desain font. Semua
produk tersebut masih termasuk dalam produk
desain grafis karena masih sesuai dengan hakekat
desain grafis yakni pembuatan desain secara
manual maupun elektronik yang dilakukan untuk
menyampaikan gagasan atau ide. Produk Desain
grafis kemudian dikelompokkan ke dalam 3
kelompok besar yakni Desain, marketing sales
kit, dan company program. Rincian masing-
masing produk yang dihasilkan oleh pelaku
industri kreatif desain grafis terdapat pada
gambar 4.
Berdasarkan hasil survei, pelaku industri
desain grafis yang melayani permintaan pasar
lokal adalah 74,47% dari total populasi. Pelaku
industri desain grafis yang melayani permintaan
Nasional adalah 31,91% dari total populasi
perusahaan desain grafis dan pelaku industri
desain grafis yang melayani pasar internasional
berjumlah 34,04% dari total populasi. Namun
pelaku industri kreatif desain grafis yang
mngerjakan permintaan internasional belum tentu
mengerjakan permintaan pasar dalam negeri.
Rincian pemasaran industri kreatif desain grafis
dapat dilihat pada gambar 5.
Gambar 5. Jangkauan Pemasaran Desain Grafis
Kota Malang
Grafis Kota Malang dibagi kedalam 3 klasifikasi.
Klasifikasi 1
desain grafis terdiri dari pelaku yang bekerja
sendirian dengan pendapatan kurang dari lima
juta rupiah perbulan. Klasifikasi ini terdiri dari 33
pelaku bisnis desain grafis. Jumlah pelaku desain
grafis yang melayani permintaan lokal mencapai
84,85% (28) dari populasi klasifikasi pertama,
dan yang melayani permintaan Nasional
mencapai 27,27% (9) dari populasi klasifikasi
pertama. Sedangkan pelaku bisnis desain grafis
dari klasifikasi pertama yang melayani
permintaan internasional hanya 15,15% (5) dari
populasi klasifikasi pertama. Umur Industri
kreatif Desain grafis dalam klasifikasi pertama
mayoritas (22;67%) berumur kurang dari 2 tahun.
Masalah yang dialami oleh klasifikasi 1
pelaku bisnis desain grafis masih sama dengan
keseluruhan masalah yang dialami oleh
klasifikasi lain. Masalah tersebut adalah hasil
karya desain yang diremehkan, daya beli lokal
yang rendah, pembajakan desain serta banyaknya
desainer pemula yang asal menjual desain dengan
harga murah. Permasalahan lain yang spesifik
terjadi dalam klasifikasi 1 pelaku bisnis desain
grafis adalah masalah dengan percetakan yang
menggratiskan pembuatan desain. Permasalahan
Klasifikasi 2
bekerja sendirian dan bekerja secara full time.
Klasifikasi kedua pelaku bisnis memiliki populasi
sebesar 9 pelaku Industri Kreatif desain grafis.
48; 64%
21; 28%
6; 8%
PERENCANAAN STRATEGIS INDUSTRI KREATIF SEKTOR DESAIN GRAFIS KOTA MALANG AKTOR PEMERINTAH
DINAS PERINDUSTRIAN
84 Jurnal Tata Kota dan Daerah Volume 8, Nomor 2, 2016
Pelaku pada klasifikasi kedua cenderung (4;44%)
merupakan pelaku dengan umur perusahaan
diatas 5 tahun. Pelaku binis klasifikasi kedua
67% (6) memiliki keunggulan perusahaan yakni
pembuatan desain yang menyesuaikan
permintaan Internasional.
internasional cenderung memiliki penghasilan
bulan berubah-ubah meskipun memiliki nilai
yang besar. Pelaku bisnis desain yang masih
tidak memiliki nama biasanya mendapat
konsumen dari luar negeri dengan sistem
kompetisi.
pada klasifikasi 3 adalah pelaku desain grafis
yang memiliki tenaga kerja lebih dari 1, bekerja
secara kelompok atau berbentuk sebuah
perusahaan. Pelaku industri kreatif desain grafis
pada klasifikasi ini berjumlah 5 pelaku industri
dengan 2 pelaku industri sudah memiliki ruang
kerja/kantor pribadi. 3 pelaku yang tidak
memiliki ruang kerja, bekerja secara online, dan
hanya berkumpul di ruang publik/cafe jika
diperlukan.
klasifikasi 3 memiliki pemasaran yang tersebar di
tingkat lokal, nasional, dan internasional secara
merata. Sifat pekerjanya juga hampir rata antara
part time dan full time dengan 60% lebih kearah
fulltime. 5 pelaku industri dalam klasifikasi ini
terdiri dari 2 pelaku dengan umur perusahaan 2-3
tahun, 1 pelaku dengan umur perusahaan 3-4
tahun, 1 pelaku dengan umur usaha 4-5 tahun
serta 1 pelaku dengan umur usaha lebih dari 5
tahun.
Rencana Strategis dan Rencana Kerja di bidang
perindustrian, sebagai pelaksana koordinasi dan
kerja sama dengan asosiasi dunia usaha
pelaksanaan pembinaan, sebagai pengembang
sebagai pelaksana fasilitasi permodalan dan
pelatihan teknis manajemen di bidang industri,
sebagai pelaksana promosi produk industri serta
sebagai pelaksana monitoring dan evaluasi
kegiatan.
struktur industri berupa operasional pusat
pengembangan industri kreatif digital, Festival
Industri Kreatif (Pameran, festival film animasi,
fiksi dan dokumenter), Penyediaan Katalog, dan
website ekonomi kreatif Kota Malang.
Pada awal tahun 2017 Dinas
Perindustrian dan Perdagangan dipisah menjadi 2
dinas yakni Dinas Perindustrian dan Dinas
Perdagangan. Rencana Strategis masing-masing
Sekretariat, Bidang Perdagangan, Bidang
Dinas Perindustrian lebih difokuskan pada
industri kreatif kuliner, desain, film,
games/aplikasi, ilustrasi, videografi. Sedangkan
Analisis Aktor
evaluatif yang didapatkan dengan
dengan peran aktor yang seharusnya berdasarkan
kajian teori.
Menciptakan sinergi kolaborasi Akademisi,
serta pemberian insentif. Berdasarkan hasil
analisis Aktor pemerintahan sudah melaksanakan
peranannya sebagai aktor pendukung industri
kreatif. Namun Peran pemerintah dalam
menciptakan iklim usaha ekonomi kreatif yang
kondusif baru ada dalam tahap penyusunan
rencana. Hal ini dikarenakan adanya perubahan
susunan dalam unsur pemerintahan yang baru
terjadi pada awal tahun 2017. Adanya perubahan
susunan pemerintahan dapat membantu Peranan
pemerintahan dalam mendukung industri kreatif.
Aktor Akademisi memiliki peran sebagai
Lembaga riset/ kajian untuk engine creative, dan
memberi masukan kebijakan kepada pemerintah.
Akademisi sudah tergabung dalam Komite
ekonomi kreatif sehingga dapat memberikan
masukan kebijakan dalam pemerintahan. Aktor
akademisi sudah memenuhi fungsi perannya
sebagai pemberi masukan kebijakan. Namun
peranan untuk menjadi engine creative masih
perlu ditingkatkan. Peranan ini dapat telaksana
dengan mengadakan workshop pelatihan metode
produksi desain kreatif baru yang lebih terbuka
Dimas Tri Rendra Graha, Budi Sugiarto Waloejo, Agus Dwi Wicaksono
Jurnal Tata Kota dan Daerah Volume 8, Nomor 2, 2016 85
untuk umum utamanya menarget pada komunitas
dan bisnis desain grafis.
kegiatan yang mendorong sektor kreatif serta
memberi masukan pada pemerintah. Aktor
Komunitas beberapa sudah memenuhi perannya
sesuai dengan hasil kajian teori. Namun terdapat
komunitas yang lebih memilih untuk mandiri dari
membatasi kolaborasi yang dilakukan dengan
pemerintah ataupun aktor lain seperti komunitas
Pena Hitam.
Pergesaran Paradigma
menentukan outcome dan impact yang diinginkan
oleh pelaku perencanaan strategis. Pergeseran
paradigma akan membahas mengenai pandangan
apa dalam industri kreatif desain grafis yang
merupakan pandangan ideal dan dapat dijadikan
panduan hingga masa yang akan datang.
Pergeseran paradigma terjadi pada teknik
penggambaran dimulai dari banyaknya media
untuk membuat desain grafis mulai dari pensil
kertas, linografi, dye, ukir kayu, hingga alat
percetakan, menjadi satu media penggambaran
yakni menggunakan komputer. Semua karya
visual yang menggunakan media komputer tidak
hanya lebih canggih namun juga menghasilkan
karya yang jauh lebih baik.
Pergeseran paradigma kedua terjadi di
sisi konten desain grafis. Gaya penyampaian
pesan yang awalnya to the point pun mulai
berubah, menjadi lebih halus tapi tetap
menyampaikan maksud. Hal ini dapat dijumpai
mulai dari iklan rokok 76 dengan Jin yang
mengabulkan permintaan hingga poster rokok
malboro dengan gambaran seorang koboi
penunggang kuda. Sebelum pergeseran
yang berasal dari perusahaan yang sama-sama
rokok akan sama semua.
Pergeseran paradigma yang ketiga
mengembangkan desain grafis di masyarakat
lokal. Arahan pengembangan tersebut adalah
upaya peningkatan kesadaran bahwa desain grafis
tidak berarti desain gratis.
Gambar 6. Pergeseran Paradigma
yang berubah ke arah yang lebih abstrak namun
tetap sesuai tujuan, menjadi landasan dalam
menentukan value proposition.
abstrak sesuai tujuan pembuatan desain akan
menyebabkan hasil karya visual/produk desain
grafis berbeda antara satu konsumen dengan
konsumen lain. Dengan paradigma baru ini
produk dari 2 konsumen pengusaha mobil
tersebut bisa berbeda dan sifat produk desain
grafis akan beragam dan sangat spesifik antara
satu konsumen dengan konsumen lain meskipun
permintaan karya visual produknya hampir sama.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Industri
kreatif desain grafis kota malang sangat cocok
dengan nilai inti Costumer Intimacy.
Visi-Misi Industri Kreatif Desain Grafis kota
Malang
ditetapkan visi industri kreatif desain grafis
adalah sebagai berikut:
dengan produk desain grafis non cetak yang
personalized”
PERENCANAAN STRATEGIS INDUSTRI KREATIF SEKTOR DESAIN GRAFIS KOTA MALANG AKTOR PEMERINTAH
DINAS PERINDUSTRIAN
86 Jurnal Tata Kota dan Daerah Volume 8, Nomor 2, 2016
Visi industri kreatif desain grafis
memiliki 2 nilai utama yang harus dipegang nilai
tersebut antara lain adalah pelayanan konsumen,
produk desain grafis non cetak yang
personalized.
Bentuk utama dalam value proposition Costumer
Intimacy yang mengandalkan pelayanan
untuk memenuhi kebutuhan dari tiap konsumen
dengan solusi yang paling baik. Costumer
intimacy menuntut pengetahuan untuk menggali
masalah yang dihadapi oleh konsumen, berkerja
sama dengan konsumen dan menghasilkan
pemecahan masalah dalam bentuk produk yang
bervariasi.
dalam desain grafis kota Malang adalah Produk
yang non cetak dilandaskan pada pergeseran
paradigma dari desain grafis. Produksi desain
grafis non cetak menuntut adanya peningkatan
teknologi yang digunakan baru komputer dan
software yang secara berkala harus diperbarui.
Produk desain non cetak juga…