Click here to load reader

Perdarahan Post Partum

  • View
    19

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

bbgdg

Text of Perdarahan Post Partum

RETENSIO PLASENTA

A. PENGERTIANRetensio plasenta adalah apabila plasenta belum lahir setengah jam setelah janin lahir. (Winkjosastro, 2010)Retensio plasenta adalah belum lepasnya plasenta dengan melebihi waktu setengah jam. Keadaan ini dapat diikuti perdarahan yang banyak, artinya hanya sebagian plasenta yang telah lepas sehingga memerlukan tindakan plasenta manual dengan segera. Bila retensio plasenta tidak diikuti perdarahan maka perlu diperhatikan ada kemungkinan terjadi plasenta adhesiva, plsenta akreta, plasenta inkreta, plasenta perkreta. (Manuaba, 2006:176)

B. ETIOLOGI DAN PREDISPOSISIMenurut Winkjosastro (2007) sebab etensio plasenta dibagi menjadi 2 golongan ialah sebab fungsional dan sebab patologik anatomik.1. Sebab fungsional His yang kurang kuat (sebab utama) Tempat melekatnya yang kurang menguntungkan Ukuran plasenta terlalu kecil Lingkaran kontriksi pada bagian bawah perut2. Sebab patologi anatomik (perlekatan plasenta yang abnormal) plasenta belum terlepas dari dindng rahim karena melekat dan tumbuh lebih dalam. Menurut tingkat perlekatannya : Plasenta adhesiva : plasenta yang melekat pada desidua endometrium lebih dalam. Plasenta inkreta : villi khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus desidua endometrium sampai ke miometrium. Plasenta akreta : villi khorialis tumbuh menembus miometrium sampai ke serosa. Plasenta perkreta : villi khorialis tumbuh menembus serosa atau peritoneum dinding rahim.C. KOMPLIKASIPlasenta harus dikeluarkan karena dapat menimbulkan bahaya :1. PerdarahanTerjadi terlebih lagi bila retensio plasenta yang terdapat sedikit pelepasan hingga kontraksi memompa darah tetapi bagian yang melekat membuat luka tidak menutup.2. InfeksiKarena sebagai benda mati yang tertinggal didalam rahim meingkatkan pertumbuhan bakteri dibantu dengan pot dentre dari tempat perlekatan plasenta.3. Terjadi polip plasenta sebagai masa proliferative yang mengalami infeksi sekunder dan nekrosis.4. Terjadi degenerasi (keganasan) koriokarsinomaDengan masuknya mutagen, perlukaan yang semula fisiologik dapat berubah menjadi patologik (displastik-dikariotik) dan akhirnya menjadi karsinoma invasive, proses keganasan akan berjalan terus. Sel ini tampak abnormal tetapi tidak ganas. Para ilmuwan yakin bahwa beberapa perubahan abnormal pada sel-sel ini merupakan langkah awal dari serangkaian perubahan yang berjalan lambat, yang beberapa tahun kemudian bisa menyebabkan kanker. Karena itu beberapa perubahan abnormal merupakan keadaan pre kanker, yang bisa berubah menjadi kanker.5. Syok haemoragikSyok yang disebabkan oleh perdarahan yang banyak yang disebabkan oleh perdarahan antepartum.

D. PATOFISIOLOGISetelah bayi dilahirkan, uterus secara spontan berkontraksi. Kontraksi dan retraksi otot-otot uterus menyelesaikan proses ini pada akhir persalinan. Sesudah berkontraksi, sel miometrium tidak relaksasi, melainkan menjadi lebih pendek dan lebih tebal. Dengan kontraksi yang berlangsung kontinyu, miometrium menebal secara progresif, dan kavum uteri mengecil sehingga ukuran juga mengecil. Pengecilan mendadak uterus ini disertai mengecilnya daerah tempat perlekatan plasenta. Ketika jaringan penyokong plasenta berkontraksi maka plasenta yang tidak dapat berkontraksi mulai terlepas dari dinding uterus. Tegangan yang ditimbulkannya menyebabkan lapis dan desidua spongiosa yang longgar memberi jalan, dan pelepasan plasenta terjadi di tempat itu. Pembuluh darah yang terdapat di uterus berada di antara serat-serat otot miometrium yang saling bersilangan. Kontraksi serat-serat otot ini menekan pembuluh darah dan retaksi otot ini mengakibatkan pembuluh darah terjepit serta perdarahan berhenti.

E. PENANGANANApabila plasenta belum lahir dalam setengah sampai 1 jam setelah bayi lahir, apalagi bila terjadi perdarahan, maka harus segera dikeluarkan. Tindakan yang dapat dikerjakan adalah :1. Coba 1-2 kali dengan peasat Crede.2. Keluarkan plasenta dengan tangan (manual plasenta)Pasang infus cairan dektrosa 5%, ibu dalam posisi litotomi, dengan narkosa dan segala sesuatnya dalam keadaan suci hama.Teknik : tangan kiri diletakan difundus uteri, tangan kanan dimasukan dalam rongga rahim dengan menyusuri tal pusat sebagai penuntun. Tepi plasenta dilepas disisihkan dengan tepi-tepi jari tangan- bila sudah lepas ditarik keluar. Lakukan eksplorasi apakah ada luka-luka ssa-sisa plasenta dan bersihkanlah.Manual plasenta berbahaya karena dapat terjadi robekan jalan lahir (uterus) dan membawa infeksi.3. Bila perdarahan banyak berikan transfusi darah.4. Berikan juga obat-obatan seperti uterotonika dan antibiotika.

PLASENTA REST / SISA PLASENTA

A. PENGERTIANPlasenta rest merupakan bentuk perdarahan pasca-partus berkepanjangan sehingga patrun pengeluaran lokia diserta darah lebih dai 7-10 hari. Dapat terjadi perdarahan baru setelah patrun pengeluaran lokia normal, dan dapat berbau akibat infeksi plasenta rest. (Manuaba, 2008)Rest plasenta adalah tertinggalnya sisa plasenta dan membrannya dalam cavum uteri. (Saifuddin, A.B. 2002)Rest plasenta merupakan tertinggalnya bagian plasenta dalam uterus yang dapat menimbulkan perdarahan post partum primer atau perdarahan post partum sekunder. (Alhamnsyah, 2008)Perdarahan sisa plasenta adalah perdarahan ang terjadi akibat tertinggalnya kotiledon dan selaput kulit ketuban yang mengganggu kontraksi uterus dalam menjepit pembuluh darah dalam uterus shingga mengakitbatkan perdarahan. (Winkjosastro, 2008)

B. ETIOLOGI1. Perdarahan yang sudah terjadi pada kala III Hal ini disebabkan oleh pemijatan rahim yang tidak merata. Pijatan rahim sebelum plasenta lepas, pemberian uterotonika dan lain-lain.2. Tindakan pengeluaran plasenta dengan cara Brandt AndewKarena cara menekan dan mendorong uterus yang terlalu dalam sedangkan plasenta belum terlepas dari uterus. (Winkjosastro, 2008)

C. PREDISPOSISI 1. Usia ibu ( < 20 tahun atau > 35 tahun )Hal ini dikarenakan pada usia di bawah 20 tahun fungsi reproduksi seorang wanita belum berkembang dengan sempurna, sedangkan pada usia di bawah 35 tahun fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami penurunan dibandingkan funsi reproduksi normal sehingga kemungkinan terjadi rest plasenta.2. Jarak antar kelahiran.Dibutuhkan 2-4 tahun untuk mengembalikan kondisi tubh ibu seperti sebelumnya. Melahirkan dalam jarak waktu yang singkat mengakibatkan kontraksi uterus menjadi kurang baik dan organ reprosuksi ibu belum pulih secara sempurna.3. Anemia Bahaya persalinan pada ibu yang mengalami anemia adalah gangguan his (kekuatan mengejan). Kala I dapat berlangsung lama, kala II berlangsung lama sehingga menyebabkan ibu kelelahan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan. Kala ur dapat diikuti dengan retensio plasenta, perdarahan post partum karena atoni uteri dan plasenta rest, kala IV dapat terjadi perdarahan post-partum sekunder dan atonia uteri juga plasenta rest.

D. KOMPLIKASI1. Sumber infeksi dan perdarahan potensial2. Terjadi plasenta polip3. Degenerasi korio karsinoma4. Dapat menimbulkan gangguan pembekuan darah

E. PATOFISIOLOGITertinggalnya plasenta atau selaput janin yang menghalangi kontraksi uterus sehingga masih ada pembuluh darah yang tetap terbuka.Sewaktu suatu bagian dari plasenta satu atau lebih lobus tertinggal, maka uterus tidak dpat berkontraksi secara efektif. (Saifuddin, 2002)

F. PENANGANANTindakan penanganan meliputi pemasangan infus profilaksis, pemberian antibiotik adekuat, pemberian uterotonik (oksitosin dan/atau metergin), dan tindakan definitif dengan kuretase dan dilakukan pemeriksaan patologi-anatomik (PA). (Manuaba, 2008)Menurut Saifuddin (2002), penanganan pada plasenta rest yaitu :1. Raba bagian dalam uterus untuk mencari sisa plasenta. Eksplorasi manual uterus menggunakan teknik yang serupa dengan teknik yang digunakan untuk mengeluarkan plasenta yang tidak keluar.2. Kelurkan sisa plasenta dengan tangan, cunam ovum, atau kuret besar. Catatan : jaringan yang melekat dengan kuat, mungkin plasenta akreta. Usaha untuk melepaskan plasenta yang melekat kuat dapat mengakibatkan perdarahan berat atau perforasi uterus, yang biasanya membutuhkan tindakan histerektomi.3. Jika perdarahan berlanjut, lakukan uji pembekuan darah dengan menggunakan uji pembekuan darah sederhana. Kegagalan terbentuknya pembekua darah setelah 7 menit atau terbentuknya pembekuan darah yang lunak yang mudah hancur menunjukan adnya kemnungkinan koagulopati.

Sumber :Manuaba, I.A.C. 2008. Gawat-Darurat Obstetri-Ginekologi dan Obstetri-Ginekologi Sosial Untuk Profesi Bidan. Jakarta:EGCManuaba, I.B.G. 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB. Jakarta:EGCSaifuddin, A.B. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono PrawirohardjoSastrawinata, S. 2004. Ilmu Kesehatan Reproduksi : Obstetri Patologi. Jakarta:EGC

ATONIA UTERI

A. PENGERTIANAtonia uteri adalah suatu kondisi dimana myometrium tdak dapat berkontraksi dan bila ini terjadi maka darah yang keluar dari bekas melekatnya plasenta menjadi tidak terkendali. (Buku acuan APN, 2008).Menurut Azwar (2004), atonia uterus adalah tidak berkontaksinya uterus dalam 15 detik setelah dilakukan rangsangan taktil (pemjatan) fundus uteri.

B. ETIOLOGI1. Disfungsi uterus : atonia uteri primer merupakan disfungsi intrinsik uterus. 2. Kerja uterus yang tidak efektif : kerja uterus yang tidak efektif selama dua kala persalinan yang pertama kemungkinan besar akan diikuti oleh kontraksi serta retraksi myometriumyang jelek dalam kala III.3. Kelelahan akibat partus lama : bukan hanya rahim yang lelah cenderung berkontraksi lemah setelah melahirkan, tetapi ibu juga yang keletihan kurang mampu bertahan terhadap kehilangan darah.4. Myoma uteri : myoma uteri dapat menimbulkan perdarahan denan gangguan kontraksi serta retraksi myometrium.

C. PREDISPOSISI1. UmurUsia < 20 tahun atau > 35 tahun mempengaruhi keadaan dan kemampuanuterus untuk berkontra