Click here to load reader

Perdarahan Post Partum

  • View
    70

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of Perdarahan Post Partum

  • BAB II TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Perdarahan Postpartum

    2.1.1 Pengertian Perdarahan Postpartum

    Perdarahan postpartum adalah perdarahan pervaginam 500 cc atau lebih

    setelah kala III selesai (setelah plasenta lahir) (Wiknjosastro, 2000).

    Fase dalam persalinan dimulai dari kala I yaitu serviks membuka kurang dari

    4 cm sampai penurunan kepala dimulai, kemudian kala II dimana serviks sudah

    membuka lengkap sampai 10 cm atau kepala janin sudah tampak, kemudian

    dilanjutkan dengan kala III persalinan yang dimulai dengan lahirnya bayi dan

    berakhir dengan pengeluaran plasenta. Perdarahan postpartum terjadi setelah kala III

    persalinan selesai (Saifuddin, 2002).

    Perdarahan postpartum ada kalanya merupakan perdarahan yang hebat dan

    menakutkan sehingga dalam waktu singkat wanita jatuh ke dalam syok, ataupun

    merupakan perdarahan yang menetes perlahan-lahan tetapi terus menerus dan ini juga

    berbahaya karena akhirnya jumlah perdarahan menjadi banyak yang mengakibatkan

    wanita menjadi lemas dan juga jatuh dalam syok (Mochtar, 1995).

    2.1.2 Penyebab Perdarahan Postpartum

    Penyebab perdarahan Postpartum antara lain :

    1. Atonia uteri 50% - 60%

    2. Retensio plasenta 16% - 17%

    Universitas Sumatera Utara

  • 3. Sisa plasenta 23% - 24%

    4. Laserasi jalan lahir 4% - 5%

    5. Kelainan darah 0,5% - 0,8% (Mochtar, 1995).

    2.1.3 Klasifikasi Perdarahan Postpartum

    Klasifikasi klinis perdarahan postpartum yaitu (Manuaba, 1998) :

    1. Perdarahan Postpartum Primer yaitu perdarahan pasca persalinan yang terjadi

    dalam 24 jam pertama kelahiran. Penyebab utama perdarahan postpartum primer

    adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta, robekan jalan lahir dan

    inversio uteri. Terbanyak dalam 2 jam pertama.

    2. Perdarahan Postpartum Sekunder yaitu perdarahan pascapersalinan yang terjadi

    setelah 24 jam pertama kelahiran. Perdarahan postpartum sekunder disebabkan

    oleh infeksi, penyusutan rahim yang tidak baik, atau sisa plasenta yang

    tertinggal.

    2.1.4 Gejala Klinik Perdarahan Postpartum

    Seorang wanita hamil yang sehat dapat kehilangan darah sebanyak 10% dari

    volume total tanpa mengalami gejala-gejala klinik, gejala-gejala baru tampak pada

    kehilangan darah sebanyak 20%. Gejala klinik berupa perdarahan pervaginam yang

    terus-menerus setelah bayi lahir. Kehilangan banyak darah tersebut menimbulkan

    tanda-tanda syok yaitu penderita pucat, tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan

    kecil, ekstrimitas dingin, dan lain-lain (Wiknjosastro, 2005).

    Universitas Sumatera Utara

  • 2.1.5 Diagnosis Perdarahan Postpartum

    Diagnosis perdarahan postpartum dapat digolongkan berdasarkan tabel berikut

    ini :

    Tabel 2.1 Diagnosis Perdarahan Postpartum No. Gejala dan tanda yang

    selalu ada Gejala dan tanda yang

    kadang-kadang ada Diagnosis

    kemungkinan 1. - Uterus tidak

    berkontraksi dan lembek

    - Perdarahan segera setelah anak lahir (Perdarahan Pascapersalinan Primer atau P3)

    - Syok

    - Atonia Uteri

    2. - Perdarahan segera (P3) - Darah segar yang

    mengalir segera setelah bayi lahir (P3)

    - Uterus kontraksi baik - Plasenta lengkap

    - Pucat - Lemah - Menggigil

    - Robekan jalan lahir

    3. - Plasenta belum lahir setelah 30 menit

    - Perdarahan segera (P3) - Uterus kontraksi baik

    - Tali pusat putus akibat traksi berlebihan

    - Inversio uteri akibat tarikan

    - Perdarahan lanjutan

    - Retensio Plasenta

    4. - Plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak lengkap

    - Perdarahan segera (P3)

    - Uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang

    - Tertinggalnya sebagian plasenta

    5. - Uterus tidak teraba - Lumen vagina terisi

    massa - Tampak tali pusat (jika

    plasenta belum lahir) - Perdarahan segera (P3) - Nyeri sedikit atau berat

    - Syok neurogenik - Pucat dan limbung

    - Inversio uteri

    Universitas Sumatera Utara

  • Tabel 2.1 (Lanjutan)

    No. Gejala dan tanda yang selalu ada

    Gejala dan tanda yang kadang-kadang ada

    Diagnosis kemungkinan

    6. - Sub-involusi uterus - Nyeri tekan perut

    bawah - Perdarahan lebih dari

    24 jam setelah persalinan. Perdarahan sekunder atau P2S.

    - Perdarahan bervariasi (ringan atau berat, terus menerus atau tidak teratur) dan berbau (jika disertai infeksi)

    - Anemia - Demam

    - Perdarahan terlambat

    - Endometritis atau sisa plasenta (terinfeksi atau tidak)

    7. - Perdarahan segera (P3) (Perdarahan intraabdominal dan atau vaginum)

    - Nyeri perut berat

    - Syok - Nyeri tekan perut - Denyut nadi ibu

    cepat

    - Robekan dinding uterus (ruptura uteri)

    Sumber : Saifuddin, 2002

    2.2 Perdarahan Postpartum Primer

    2.2.1 Pengertian Perdarahan Postpartum Primer

    Perdarahan Postpartum Primer yaitu perdarahan pasca persalinan yang terjadi

    dalam 24 jam pertama kelahiran. Penyebab utama perdarahan postpartum primer

    adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta, robekan jalan lahir dan inversio

    uteri (Manuaba, 1998).

    Universitas Sumatera Utara

  • 2.2.2 Penyebab Perdarahan Postpartum Primer

    a. Atonia Uteri

    Atonia uteri merupakan kegagalan miometrium untuk berkontraksi setelah

    persalinan sehingga uterus dalam keadaan relaksasi penuh, melebar, lembek dan tidak

    mampu menjalankan fungsi oklusi pembuluh darah. Akibat dari atonia uteri ini

    adalah terjadinya perdarahan. Perdarahan pada atonia uteri ini berasal dari pembuluh

    darah yang terbuka pada bekas menempelnya plasenta yang lepas sebagian atau lepas

    keseluruhan (Faisal, 2008).

    Miometrium terdiri dari tiga lapisan dan lapisan tengah merupakan bagian

    yang terpenting dalam hal kontraksi untuk menghentikan perdarahan pasca

    persalinan. Miometrum lapisan tengah tersusun sebagai anyaman dan ditembus oeh

    pembuluh darah. Masing-masing serabut mempunyai dua buah lengkungan sehingga

    tiap-tiap dua buah serabut kira-kira berbentuk angka delapan. Setelah partus, dengan

    adanya susunan otot seperti tersebut diatas, jika otot berkontraksi akan menjepit

    pembuluh darah. Ketidakmampuan miometrium untuk berkontraksi ini akan

    menyebabkan terjadinya pendarahan pasca persalinan (Faisal, 2008).

    Atonia uteri dapat terjadi sebagai akibat :

    1. Partus lama

    2. Pembesaran uterus yang berlebihan pada waktu hamil, seperti pada hamil

    kembar, hidramnion atau janin besar

    3. Multiparitas

    4. Anestesi yang dalam

    5. Anestesi lumbal

    Universitas Sumatera Utara

  • Selain karena sebab di atas atonia uteri juga dapat timbul karena salah

    penanganan kala III persalinan, yaitu memijat uterus dan mendorongnya ke bawah

    dalam usaha melahirkan plasenta, dimana sebenarnya plasenta belum terlepas dari

    dinding uterus (Wiknjosastro, 2005).

    b. Retensio Plasenta

    Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir setengah jam

    setelah janin lahir. Hal tersebut disebabkan (Wiknjosastro, 2005) :

    1. Plasenta belum lepas dari dinding uterus

    2. Plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan.

    Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan, tapi bila

    sebagian plasenta sudah lepas akan terjadi perdarahan dan ini merupakan indikasi

    untuk segera mengeluarkannya. Plasenta belum lepas dari dinding uterus disebabkan :

    1. Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta adhesiva)

    2. Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab villi korialis menembus

    desidua sampai miometrium (plasenta akreta)

    3. Plasenta merekat erat pada dinding uterus oleh sebab villi korialis menembus

    sampai di bawah peritoneum (plasenta perkreta).

    Plasenta sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar, disebabkan

    oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III,

    sehingga terjadi lingkaran kontriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi

    keluarnya plasenta (inkarserasio plasenta).

    Universitas Sumatera Utara

  • c. Sisa Plasenta

    Sewaktu suatu bagian dari plasenta tertinggal, maka uterus tidak dapat

    berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan.

    Perdarahan postpartum yang terjadi segera jarang disebabkan oleh retensi potongan-

    potongan kecil plasenta. Inspeksi plasenta segera setelah persalinan bayi harus

    menjadi tindakan rutin. Jika ada bagian plasenta yang hilang, uterus harus

    dieksplorasi dan potongan plasenta dikeluarkan (Faisal, 2008).

    d. Robekan Jalan Lahir

    Robekan jalan lahir dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. Perdarahan

    pasca persalinan dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh

    robekan serviks atau vagina (Saifuddin, 2002). Setelah persalinan harus selalu

    dilakukan pemeriksaan vulva dan perineum. Pemeriksaan vagina dan serviks dengan

    spekulum juga perlu dilakukan setelah persalinan.

    Robekan jalan lahir selalu memberikan perdarahan dalam jumlah yang

    bervariasi banyaknya. Perdarahan yang berasal dari jalan lahir selalu harus dievaluasi

    yaitu sumber dan jumlah perdarahan sehingga dapat diatasi. Sumber perdarahan dapat

    berasal dari perineum, vagina, serviks, dan robekan uterus (ruptura uteri). Perdarahan

    dapat dalam bentuk hematoma dan robekan jalan lahir dengan perdarahan bersifat

    arterill atau pecahnya pembuluh darah ven