Perdarahan Post Partu

  • View
    228

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Perdarahan Post Partu

  • 8/10/2019 Perdarahan Post Partu

    1/24

    RIZKA UTAMI (1102010251)

    SKENARIO 1 : Perdarahan Persalinan

    BLOK EMERGENCY

    Perdarahan Post Partum

    Definisi

    Perdarahan postpartum adalah perdarahan pervaginam 500 cc atau lebih setelah kala III selesai

    (setelah plasenta lahir) (Wiknjosastro, 2000).

    Fase dalam persalinan dimulai dari kala I yaitu serviks membuka kurang dari 4 cm sampai penurunan

    kepala dimulai, kemudian kala II dimana serviks sudah membuka lengkap sampai 10 cm atau kepala

    janin sudah tampak, kemudian dilanjutkan dengan kala III persalinan yang dimulai dengan lahirnya

    bayi dan berakhir dengan pengeluaran plasenta. Perdarahan postpartum terjadi setelah kala III

    persalinan selesai (Saifuddin, 2002).

    Perdarahan postpartum ada kalanya merupakan perdarahan yang hebat dan menakutkan sehingga

    dalam waktu singkat wanita jatuh ke dalam syok, ataupun merupakan perdarahan yang menetes

    perlahan-lahan tetapi terus menerus dan ini juga berbahaya karena akhirnya jumlah perdarahan

    menjadi banyak yang mengakibatkan wanita menjadi lemas dan juga jatuh dalam syok (Mochtar,

    1995).

    Etiologi

    1. Perlukaan jalan lahir : ruptur uteri, robekan serviks, vagina dan perineum, luka episiotomi.

    2. Perdarahan pada tempat menempelnya plasenta karena : atonia uteri, retensi plasenta, inversio

    uteri.

    3.Gangguan mekanisme pembekuan darah.

    Penyebab perdarahan paska persalinan terlambat biasanya disebabkan oleh sisa plasenta

    atau bekuan darah, infeksi akibat retensi produk pembuangan dalam uterus sehingga terjadi sub

    involusi uterus.

    Faktor resiko

    Anastesia umum

    Persalinan lama

    Persalinan cepat

    Kelainan uterus-leiomiomata, kelainan konginetal

    Uterus yang terlalu terengang karena kehamilan ganda, hidramnion, atau bayi yang sangatbesar

    Plasenta previa

    Solusio plasenta

    Multiparitas

    Preeklampsia dan eklampsia

    Klasifikasi

    Klasifikasi klinis perdarahan postpartum yaitu (Manuaba, 1998) :

    1. Perdarahan Postpartum Primer yaitu perdarahan pasca persalinan yang terjadi dalam 24 jam

    pertama kelahiran. Penyebab utama perdarahan postpartum primer adalah atonia uteri, retensio

    plasenta, sisa plasenta, robekan jalan lahir dan inversio uteri. Terbanyak dalam 2 jam pertama.

  • 8/10/2019 Perdarahan Post Partu

    2/24

    2

    2. Perdarahan Postpartum Sekunder yaitu perdarahan pascapersalinan yang terjadi setelah 24 jam

    pertama kelahiran. Perdarahan postpartum sekunder disebabkan oleh infeksi, penyusutan rahim

    yang tidak baik, atau sisa plasenta yang tertinggal.

    Patofisiologi

    Pada dasarnya perdarahan terjadi karena pembuluh darah didalam uterus masih terbuka. Pelepasan

    plasenta memutuskan pembuluh darah dalam stratum spongiosum sehingga sinus-sinus maternalis

    ditempat insersinya plasenta terbuka.

    Pada waktu uterus berkontraksi, pembuluh darah yang terbuka tersebut akan menutup, kemudian

    pembuluh darah tersumbat oleh bekuan darah sehingga perdarahan akan terhenti. Adanya

    gangguan retraksi dan kontraksi otot uterus, akan menghambat penutupan pembuluh darah dan

    menyebabkan perdarahan yang banyak. Keadaan demikian menjadi faktor utama penyebab

    perdarahan paska persalinan. Perlukaan yang luas akan menambah perdarahan seperti robekan

    servix, vagina dan perinium.

    a. Atonia Uteri

    Atonia uteri merupakan kegagalan miometrium untuk berkontraksi setelah persalinan sehingga

    uterus dalam keadaan relaksasi penuh, melebar, lembek dan tidak mampu menjalankan fungsi oklusi

    pembuluh darah. Akibat dari atonia uteri ini adalah terjadinya perdarahan. Perdarahan pada atonia

    uteri ini berasal dari pembuluh darah yang terbuka pada bekas menempelnya plasenta yang lepas

    sebagian atau lepas keseluruhan (Faisal, 2008).

    Miometrium terdiri dari tiga lapisan dan lapisan tengah merupakan bagian yang terpenting dalam

    hal kontraksi untuk menghentikan perdarahan pasca persalinan. Miometrum lapisan tengah

    tersusun sebagai anyaman dan ditembus oeh pembuluh darah. Masing-masing serabut mempunyai

    dua buah lengkungan sehingga tiap-tiap dua buah serabut kira-kira berbentuk angka delapan.Setelah partus, dengan adanya susunan otot seperti tersebut diatas, jika otot berkontraksi akan

    menjepit pembuluh darah. Ketidakmampuan miometrium untuk berkontraksi ini akan menyebabkan

    terjadinya pendarahan pasca persalinan (Faisal, 2008).

    Atonia uteri dapat terjadi sebagai akibat :

    1. Partus lama

    2. Pembesaran uterus yang berlebihan pada waktu hamil, seperti pada hamil kembar, hidramnion

    atau janin besar

    3. Multiparitas

    4. Anestesi yang dalam

    5. Anestesi lumbal

    Selain karena sebab di atas atonia uteri juga dapat timbul karena salah penanganan kala III

    persalinan, yaitu memijat uterus dan mendorongnya ke bawah dalam usaha melahirkan plasenta,

    dimana sebenarnya plasenta belum terlepas dari dinding uterus (Wiknjosastro, 2005).

    b. Retensio Plasenta

    Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir setengah jam setelah janin lahir. Hal

    tersebut disebabkan (Wiknjosastro, 2005) :

    1. Plasenta belum lepas dari dinding uterus

    2. Plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan.

  • 8/10/2019 Perdarahan Post Partu

    3/24

    3

    Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan, tapi bila sebagian plasenta

    sudah lepas akan terjadi perdarahan dan ini merupakan indikasi untuk segera mengeluarkannya.

    Plasenta belum lepas dari dinding uterus disebabkan :

    1. Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta adhesiva)

    2. Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab villi korialis menembus desidua sampaimiometrium (plasenta akreta)

    3. Plasenta merekat erat pada dinding uterus oleh sebab villi korialis menembus sampai di bawah

    peritoneum (plasenta perkreta).

    Plasenta sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar, disebabkan oleh tidak adanya

    usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III, sehingga terjadi lingkaran kontriksi

    pada bagian bawah uterus yang menghalangi keluarnya plasenta (inkarserasio plasenta).

    c. Sisa Plasenta

    Sewaktu suatu bagian dari plasenta tertinggal, maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif

    dan keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan. Perdarahan postpartum yang terjadi segera jarangdisebabkan oleh retensi potongan-potongan kecil plasenta. Inspeksi plasenta segera setelah

    persalinan bayi harus menjadi tindakan rutin. Jika ada bagian plasenta yang hilang, uterus harus

    dieksplorasi dan potongan plasenta dikeluarkan (Faisal, 2008).

    d. Robekan Jalan Lahir

    Robekan jalan lahir dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. Perdarahan pasca persalinan

    dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh robekan serviks atau vagina

    (Saifuddin, 2002). Setelah persalinan harus selalu dilakukan pemeriksaan vulva dan perineum.

    Pemeriksaan vagina dan serviks dengan spekulum juga perlu dilakukan setelah persalinan.

    Robekan jalan lahir selalu memberikan perdarahan dalam jumlah yang bervariasi banyaknya.

    Perdarahan yang berasal dari jalan lahir selalu harus dievaluasi yaitu sumber dan jumlah perdarahansehingga dapat diatasi. Sumber perdarahan dapat berasal dari perineum, vagina, serviks, dan

    robekan uterus (ruptura uteri). Perdarahan dapat dalam bentuk hematoma dan robekan jalan lahir

    dengan perdarahan bersifat arterill atau pecahnya pembuluh darah vena. Untuk dapat menetapkan

    sumber perdarahan dapat dilakukan dengan pemeriksaan dalam dan pemeriksaan spekulum setelah

    sumber perdarahan diketahui dengan pasti, perdarahan dihentikan dengan melakukan ligasi

    (Manuaba, 1998).

    e. Inversio Uteri

    Inversio uteri merupakan keadaan dimana fundus uteri masuk ke dalam kavum uteri, dapat secara

    mendadak atau terjadi perlahan (Manuaba, 1998).

    Pada inversio uteri bagian atas uterus memasuki kavum uteri, sehingga fundus uteri sebelah dalammenonjol ke dalam kavum uteri. Peristiwa ini jarang sekali ditemukan, terjadi tiba-tiba dalam kala III

    atau segera setelah plasenta keluar. Sebab inversio uteri yang tersering adalah kesalahan dalam

    memimpin kala III, yaitu menekan fundus uteri terlalu kuat dan menarik tali pusat pada plasenta

    yang belum terlepas dari insersinya.

    Menurut perkembangannya inversio uteri dibagi dalam beberapa tingkat (Wiknjosastro, 2005) :

    1. Fundus uteri menonjol ke dalam kavum uteri, tetapi belum keluar dari ruang tersebut

    2. Korpus uteri yang terbalik sudah masuk ke dalam vagina

    3. Uterus dengan vagina semuanya terbalik, untuk sebagian besar terletak di luar vagina.

    Gejala-gejala inversio uteri pada permulaan tidak selalu jelas. Akan tetapi, apabila kelainan itu sejak

    awal tumbuh dengan cepat, seringkali timbul rasa nyeri yang keras dan bisa menyebabkan syok.

  • 8/10/2019 Perdarahan Post Partu

    4/24

    4

    Gejala KlinikSeorang wanita hamil yang sehat dapat kehilangan darah sebanyak 10% dari volume total tanpa

    mengalami gejala-gejala klinik, gejala-gejala baru tampak pada kehilangan darah sebanyak 20%.

    Gejala klinik berupa perdarahan pervaginam yang terus-menerus setelah bayi lahir. Kehilangan

    banyak darah tersebut menimbulkan tanda-tanda syok yaitu penderita pucat, tekanan darah rendah,

    denyut nadi cepat dan kecil, ekstrimitas dingin, dan lain-lain (Wiknjosastro, 2005).

    Diagnosis

  • 8/10/2019 Perdarahan Post Partu

    5/24

  • 8/10/2019 Perdarahan Post Partu

    6/24

    6

    Perbaikan ute