93
i PERBEDAAN PERTAMBAHAN BERAT BADAN BAYI USIA 6 BULAN YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF DAN SUSU FORMULADI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MOWEWE KABUPATEN KOLAKA TIMUR TAHUN 2017 SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program pendidikan Diploma IV jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kendari Oleh : ENDAH WIJIASTUTI SAPUTRO NIM P00312016066 KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KENDARI JURUSAN KEBIDANAN PROGRAM STUDI DIV TAHUN 2017

PERBEDAAN PERTAMBAHAN BERAT BADAN BAYI USIA 6 …repository.poltekkes-kdi.ac.id/405/1/skripsi.pdfgenetik, jenis kelamin, nutrisi, termasuk pemberian susu. Pemberian asi secara eksklusif

  • Upload
    others

  • View
    28

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

i

PERBEDAAN PERTAMBAHAN BERAT BADAN BAYI USIA 6 BULAN YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF

DAN SUSU FORMULADI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MOWEWE KABUPATEN KOLAKA TIMUR

TAHUN 2017

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program pendidikan Diploma IV jurusan Kebidanan

Poltekkes Kemenkes Kendari

Oleh : ENDAH WIJIASTUTI SAPUTRO

NIM P00312016066

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KENDARI

JURUSAN KEBIDANAN PROGRAM STUDI DIV

TAHUN 2017

ii

HALAMAN PENGESAHAN

PERBEDAAN TEKANAN DARAH ANTARA AKSEPTOR KB SUNTIK 1 BULAN ( CYCLOFEM) DENGAN AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN

(DEPO MEDROKSI PROGESTERON ASETAT/DMPA) DI PUSKESMAS MOWEWE KABUPATEN

KOLAKA TIMUR

Disusun dan diajukan oleh :

SELVINA LAKASA P00312016142

Skripsi ini telah diperiksa dan disahkan oleh tim penguji Politekhnik

Kementerian Kesehatan Kendari Jurusan Kebidanan yang disahkan

tanggal 26 Desember 2017.

Tim penguji

1

2

3

4

5

Dr.Kartini, S.SiT, M.Kes

Hj. Nurnasari.SKM, M.Kes

Aswita, S.SiT,MPH

Askrening,SKM,Mkes

Elyasari, SST,M.Keb

( ………………………)

( ………………………)

( ………………………)

( ………………………)

( ………………………)

Mengetahui, Ketua Jurusan Kebidanan

Politeknik Kesehatan Kendari

SULTINA SARITA SKM, M. Kes NIP. 19680602 199203 2 003

iii

LEMBAR PERSETUJUAN

PERBEDAAN PERTAMBAHAN BERAT BADAN BAYI USIA 6 BULAN

YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF DAN SUSU FORMULA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MOWEWE

KABUPATEN KOLAKA TIMUR TAHUN 2017

Disusun oleh:

ENDAH WIJIASTUTI SAPUTRO

NIM P00312016066

Telah disetujui oleh Dewan Pembimbing Prodi DIV Kebidanan

Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kendari

Kendari, November 2017

Pembimbing I ARSULFA, S.ST, M. Keb NIP.19740101 199212 2 001

Pembimbing II

WA ODE ASMA ISRA.SSiT, M.Kes NIP.19800627 200501 2 003

Mengetahui, Ketua Jurusan Kebidanan

SULTINA SARITA, SKM, M.Kes NIP.19680602199203 2 003

iv

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Penelitian ini tidak

terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar di suatu

perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat

karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain,

kecuali yang secara jelas dan tegas tertulis diacu dalam naskah ini dan

disebutkan dalam daftar pustaka.

Kendari, November 2017 Yang membuat pernyataan

Endah Wijiastuti Saputro

v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

NAMA : ENDAH WIJIASTUTI SAPUTRO

NIM : P00312016066

Tempat/Tanggal lahir : Mowewe, 21 Mei 1987

Agama : Islam

Jenis kelamin : Perempuan

Alamat : Jl. Pasaeno no 6 Kec. Mowewe Kab. Kolaka

Timur , Sulawesi Tenggara

e-Mail : [email protected]

Pendidikan :

Tahun 1991-1992 : TK Idhata, Mowewe

Tahun 1993-1999 : SDN 2 Inebenggi, Mowewe

Tahun 1999-2002 : Mts N 1, Kolaka

Tahun 2002-2005 : SMA N 1 , Kolaka

Tahun 2005-2008 : Poltekkes Kendari, Kota Kendari

Pekerjaan :

Tahun 20010-2017 : Bidan Desa, Dinkes Kolaka Timur

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan Rahmat, nikmat, karunia serta hidayah-Nya sehingga

penulis dapat menyelesaikan penyusuna Karya Tulis Ilmiah yang berjudul

“Perbedaan Pertambahan Berat Badan Bayi Usia 6 Bulan Yang Diberi ASI

Eksklusif dan Susu Formula, di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan

Mowewe kabupaten Kolaka Timur”.

Adapun maksud penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk

memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan Pendidikan DIV Jurusan

Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kendari.Penulisan sadar bahwa karya

tulis ilmiah ini dapat terselesaikan berkat dorongan dam bantuan dari

semua pihak. Oleh karena itu, penulis dengan setulus hati mengucapkan

terima kasih yang sebesar- besarnya kepada :

1. Ibu Askrening, SKM, M.Kes selaku Direktur Poltekkes Kendari.

2. Ibu Sultina Sarita, SKM .Mkes selaku Ketua Jurusan Kebidanan

3. Ibu Melania Asi, S.SiT M.Kes selaku Ketua Program Studi Diploma D-

IV Kebidanan.

4. Ibu Selvina lakasa Amkeb selaku Kepala Puskesmas Mowewe

5. Ibu Arsulfa SST, Mkeb selaku pembimbing I, yang telah bersedia

meluangkan waktu memberi bimbingan dan koreksinya dalam proses

penyusunan skripsi ini.

6. Ibu Wa Ode Asma Isra SsiT, Mkes selaku pembimbing II yang telah

bersedia memberi kritik dan saran baik teknik materi maupun teknik

penulisan skripsi ini.

vii

7. Ibu Elyasari SST,M.Keb, Ibu Feryani SSiT, MPH dan ibu Andi

Malahayati NSSiT, MKes selaku Penguji I, Penguji II dan Penguji III,

yang telah banyak memberikan masukan dalam penyusunan skripsi

ini.

8. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi D-IV Gizi yang telah memberi

bekal ilmu pengetahuan sehingga penulis dapat menyelesaikan studi

dan menyelesaikan penulisan skripsi ini.

9. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi D-IV Gizi yang telah banyak

memberikan masukan kepada penulis, baik selama dalam mengikuti

perkuliahan maupun dalam penulisan skripsi ini.

10. Suami, anak-anak dan orangtuaku saya tidak mampu sampai di titik

ini tanpa dukungan dan pengorbanan kalian.

Penulis menyadari karena keterbatsan pengetahuan dan

kemampuan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan

saran yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan untuk

kesempurnaan Penelitian.

Kendari, November2017

Penulis

viii

DAFTAR ISI

Hal

HALAMAN JUDUL

LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................... ii

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................ iii

HALAMAN PERNYATAAN .............................................................. iv

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ............................................................. v

KATA PENGANTAR ........................................................................ vi

DAFTAR ISI ..................................................................................... vii

DAFTAR TABEL .............................................................................. viii

DAFTAR GAMBAR .......................................................................... ix

DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................... x

BAB I PENDAHULUAN .................................................................... 1

A. Latar Belakang ................................................................. 1

B. Rumusan Masalah ........................................................... 5

C. Tujuan Penelitian ............................................................. 5

D. Manfaat Penelitian ........................................................... 6

E. Keaslian Penelitian .......................................................... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................... 12

A. Konsep Dasar Teori Bayi .................................................. 12

B.Konsep Dasar Teori Berat Badan ....................................... 17

C. Konsep Dasar Teori ASI Eksklusif .................................... 19

D. Konsep Dasar Teori Susu Formula ................................... 29

ix

E. Kerangka Konsep .......................................................... 35

BAB III METODE PENELITIAN .................................................... 42

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ..................................... 43

B. Kerangka Kerja ............................................................... 43

C. Subjek Penelitian .......................................................... 45

D. Identifikasi Variabel Penelitian ...................................... 48

E. Definisi Operasional Variabel ................................................. 49

F. Instrumen Penelitian ................................................................ 50

G. Pengolahan Data .................................................................... 51

H. Analisa Data ......................................................................... 53

I. Etika Penelitian ....................................................................... 54

J. Jalannya Penelitian ................................................................ 55

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………. … 50

A. Gambaran umum Puskesmas Mowewe………………………. 50

B. Hasil penelitian …………………………………………………... 53

C. Pembahasan …………………………………………………….. 59

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ………………………………….. 67

A. Kesimpulan ………………………………………………………. 67

B. Saran …………………………………………………………….. 67

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Teori ......................................................... 37

Gambar 3.1 KerangkaKonsep...................................................... 38

Gambar 4.1 Alur Desain Cross sectional ………………………… 40

Gambar 5.1 tenaga kesehatan puskesmas mowewe …………… 53

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Komposisi Kolostrum dan ASI ….………………………. 22

Tabel 2.2 Perbedaan Komposisi ASI dan susu Formula ……..... 32

Tabel2.3 Kebutuhan cairan pada bayi…………………………….. 33

Tabel 4 Distribusi frekuensi ibu yang bayinya diberi ASI Eksklusif berdasarkan usia…… ………………….……. 54

Table 5 Distribusi Karasteristik ibu yang bayinya diberi Susu

Formula berdasarkan usia……………………………..... 54 Tabel 6 Distribusi frekuensi ibu yang bayinya diberi Susu Formula berdasarkan usia…………..…………………. 55 Tabel 7Distribusi frekuensi ibu yang bayinya diberi ASI Eksklusif berdasarkan tingkat pendidikan …………. … 55 Tabel 8 Distribusi frekuensi ibu yang bayinya diberi susu formula berdasarkan tingkat pendidikan …………… … 56 Tabel 9 Distribusi frekuensi ibu yang bayinya diberi ASI Eksklusif berdasarkan pekerjaan …………………… … 56 Tabel 10.Distribusi frekuensi ibu yang bayinya diberi Susu Formula berdasarkan pekerjaan ……………………… … 57 Tabel.11. Distribusi Frekuensi bayi berdasarkan Asupan nutrisi bayi…………………………………………………….57 Tabel 12. Distribusi frekuensi berat badan bayi yang diberi ASI Eksklusif ……………………………………………………...… 58 Tabel 13.Distribusi frekuensi berat badan bayi yang diberi Susu Formula………………………………….………..…..… 58 Tabel 14. Tabulasi silang perbedaan pertambahan berat badan bayiusia 6 bulan yang diberi ASI Eksklusif dan Susu Formula………………………………………………… 58

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lembar permohonan menjadi responden

Lampiran 2 Lembar persetujuan menjadi responden

Lampiran 3 Lembar kuesioner

Lampiran 4 Tabel Rekapitulasi

Lampiran 5 Wilcoxon Signed Test

Lampiran 6 Tabel Herga Keritis

xiii

INTISARI

PERBEDAAN PERTAMBAHAN BERAT BADAN BAYI USIA 6 BULAN YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF DAN SUSU FORMULA DI WILAYAH

KERJA PUSKESMAS MOWEWE KABUPATEN KOLAKA TIMUR Endah wijiastuti saputro1, Arsulfa2,Wa ode Asma Isra3

Latar belakang :Pengukuran antropometri khusunya berat badan bayi, penting dalam pemeriksaan bayi maupun balita untuk menilai status gizi. Peningkatan berat badan bayi dapat dipengaruhi beberapa faktor seperti genetik, jenis kelamin, nutrisi, termasuk pemberian susu. Pemberian asi secara eksklusif akan menjamin nutrisi ideal dan mencegah kelebihan berat badan bayi. Sebaliknya pemberian susu formula pada bayi kurang dari 6 bulan beresiko tinggi terjadi kelebihan berat badan bayi. Tujuan penelitian : untuk mengetahui perbedaan pertambahan berat badan bayi usia 6 bulan yang diberi Asi eksklusif dan susu formula diwilayah kerja puskesmas mowewe tahun 2017 Metode : Jenis penelitian ini adalah analitik dimana bentuk desain yang digunakan adalah desain cross sectional, yang dilaksanakan pada Bulan Agustus 2017 bertempat di Wilayah Kerja Puskesmas Mowewe Kabupaten Kolaka Timur. Sampel penelitian menggunakan total sampling dari populasi yang ada, yang berjumlah 46 orang. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon pada tingkat kepercayaan 95% (α ≤ 0,05). Hasil : sebagian besar bayi yang mendapat Asi Eksklusif 60,86 % mengalamai pertambahan berat badan normal sedangkan bayi yang diberi susu formuka 73,91 % mengalami peningkatan berat badan tidak normal. Uji wilcoxon harga Z hitung( 4,472)ternyata lebih besar dari Z tabel (1,96) Kesimpulan :peningkatan berat badan bayi yang mendapat Asi Ekslusif lebih rendah dibandingkan dengan bayi yang mendapat susu formula. Kata kunci : Peningkatan berat badan, ASI eksklusif, susu formula

Daftar pustaka : 26 Literatur (2001-2010)

1. Mahasiswa Politekhnik Kemenkes kendari

2. Dosen Politeknik Kemenkes Kendari

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Menyusui merupakan hal yang umum terjadi pada semua

budaya dan selalu dilakukan karena kelangsungan hidup bayi

tergantung pada ASI. Menyusui merupakan salah suatu proses

alamiah yang universal, yang menjamin kelangsungan hidup dan

kesehatan anak. Namun karena kurangnya pengetahuan

masyarakat terhadap manfaat pemberian ASI, diet yang terbatas

dan lingkungan yang kurang sehat menyebabkan tingginya angka

kesakitan dan kematian bayi dan anak.Dinegara berkembang,

menyusui merupakan senjata terampuh untuk melindungi bayi,

mempunyai antibody kekebalan tubuh, memiliki rasa aman yang

lebih tinggi terutama ketika bayi saat tidur dan pemberian ASI lebih

menguntungkan dibandingkan dengan susu botol. (Maulana, 2009).

Bayi di Indonesia yang mendapat ASI eksklusif terus

menurun. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)

dari 2003 hingga 2005, jumlah bayi enam bulan yang mendapatkan

ASI eksklusif menurun dari 7,9% menjadi 7,8%. Hasil SDKI 2007

menunjukkan penurunan jumlah bayi yang mendapatkan ASI

eksklusif hingga 7,2%. Pada saat yang sama, jumlah bayi di bawah

enam bulan yang diberi susu formula meningkat dari 16,7% pada

2002 menjadi 27,9% pada 2007.Data pemberian ASI Eksklusif

pada bayi 0-6 bulan disulawesi tenggara cenderung naik turun,

2

peningkatan signifikan dilaporkan pada tahun 2011 dengan

cakupan 63,8% atau naik sebesar 49,7% dari tahun sebelumnya,

namun angka tersebut terus menurun pada tiga tahun berikutnya

hingga mencapai 32,9% pada tahun 2014 dan ditahun 2015

kembali naik menjadi 54,15 %. Beberapa factor yang menyebabkan

rendahnya cakupan ASI eksklusif antara lain kebiasaan atau

budaya masyarakat setempat yang cenderung menyapi terlalu dini

dengan beragam alasan, maupun karena pencatatan dan

pelaporan yang tidak lengkap dari fasilitas kesehatan.

ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja, termasuk

kolostrum tanpa tambahan apapun sejak dari lahir, dengan kata

lain pemberian susu formula, air matang, air gula dan madu untuk

bayi baru lahir tidak dibenarkan. (Saleha, 2014).

Hasil rekomendasi WHO dan UNICEF pada pertemuan

tahun 1979 di jeneva tentang makanan bayi dan anak antara lain

berisi menyusui merupakan bagian terpadu proses reproduksi

yang memberikan makanan bayi secara ideal dan alamiah serta

merupakan dasar biologik dan psikologisyang dibutuhkan untuk

pertumbuhan. Memberikan susu formula dengan dalih apapun

pada bayi harus dihindarkan.( Prawirohardjo, 2002 ).

Pertumbuhan bayi yang menyusu secara murni adalah

dengan tercukupnya zat gizi yang terkandung dalam ASI dan

menyediakan antibodi atau zat kekebalan, sehingga dapat

menjamin pertumbuhan normal dan membantu melawan infeksi /

alergi. Keunggulan ASI lebih unggul dibandingkan susu bantuan /

3

susu formula karena ASI mengandung hampir semua zat gizi yang

diperlukan bayi. (Lewis, 2002).

Susu formula merupakan makanan yang diberikan pada bayi

apabila Air Susu Ibu (ASI) tidak tersedia, yang secara tunggal

dapat memenuhi kebutuhan gizi, pertumbuhan serta

perkembangan bayi dari umur 0-6 bulan. Bila alasan tertentu, bayi

tidak dapat diberikan ASI, maka susu formula ini tidak bisa

disamakan dengan ASI karena tidak ada satu pun susu formula

yang kandungannya dapat menyerupai kandungan ASI. Terutama

karena protein hasil olahan tubuh ibu sama sekali berbeda dari

protein olahan tubuh sapi (Roesli, 2000).

Pemberian susu buatan / formula pada bayi bisa

memyebabkan alergi karena mengandung bahan yang bisa

menyebabkan diare kronik dan dapat merangsang aktivasi system

IgE pada bayi baru lahir belum sempurna, sedangkan dalam jangka

panjang anak akan mudah kekurangan gizi dan obesitas. Selain itu

dampak bila bayi tidak diberiksn ASI Eksklusif dapat menurunkan

berat badan bayi, bayi juga akan mudah sakit karena tidak

mendapat zat immunoglobulin yang terkandung dalam colostrum

(Ruslina dan Rusli, 2008).

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilaksanakan peneliti

pada bulan 7 April 2017Di wilayah kerja puskesmas Kecamatan

Mowewe Kabupaten Kolaka Timur, jumlah bayi yang ada 168 orang

sekitar 30% atau sekitar 52 bayi bayi berusian 6 bulan yang diberi

4

ASI eksklusif dan yang diberi susu formula. Dari hasil wawancara

dengan 12 orang ibu yang mempunyai bayi usia 6 -12bulan

diperoleh keterangan bahwa 5 orang mengatakan bahwa bayinya

diberi ASI eksklusif sedangkan 7 orang ibu mengatakan bahwa

bayinya diberi susu formula. Upaya untuk mengurangi banyaknya

ibu yang tidak memberi ASI Eksklusif adalah dengan meningkatkan

pelayanan kesehatan, terutama dalam memberikan penyuluhan,

motivasi tentang ASI Eksklusif, dan bimbingan secara menyeluruh

dan efektif.

Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan penelitian

lebih lanjut tentang " Bagaimana Pertambahan Berat Badan Bayi

Usia 6 Bulan Yang Diberi ASI Eksklusif Dan Susu Formula". Oleh

karena itu diharapkan dari hasil penelitian ini membawa manfaat

yang besar bagi semua pihak.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas, maka

rumusan masalah penelitian adalah “Bagaimana perbedaan

pertambahan berat badan bayi usia 6 bulan yang diberi ASI

eksklusifdan susu formula di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan

Mowewe Kabupaten Kolaka Timur.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui apakah ada perbedaan

pertambahan berat badan bayi usia 6 bulan yang diberi ASI

5

Eksklusif dan susu formula, di Wilayah kerja Puskesmas

Kecamatan Mowewe Kabupaten Kolaka Timur

2. Tujuan khusus

a. Mengidentifikasi berat badan bayi usia 6 bulan yang

diberi ASI eksklusif.

b. Mengidentifikasi berat badan bayi usia 6 bulan yang

diberi susu formula tanpa ASI.

c. Menganalisa perbedaan pertambahan berat badan bayi

usia 6 bulan yang diberi ASI eksklusif dan susu formula.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Menambah wawasan dan pengetahuan tentang perbedaan

pertambahan berat badan bayi usia 6 bulan yang diberi ASI

eksklusif dan susu formula.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Peneliti

Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam bidang

penelitian ilmiah khususnya masalah perbedaan

pertambahan berat badan bayi usia 6 bulan yang diberi

ASI eksklusif dan susu formula.

b. Bagi Institusi

Sebagai bahan masukan dalam proses belajar mengajar

bagi institusi pendidikan serta pengembangan ilmu

pengetahuan tentang perbedaan pertambahan berat

6

badan bayi usia 6 bulan yang diberi ASI eksklusif dan

susu formula.

c. Bagi Ibu Yang Mempunyai Bayi Usia 6 Bulan

Diharapkan dapat menambah wawasan baru bagi

masyarakat khususnya pada ibu tentang perbedaan

pertambahan berat badan bayi usia 6 bulan yang diberi

ASI eksklusif dan susu formula.

d. Bagi Petugas Kesehatan

Sebagai masukan untuk memberi penyuluhan tentang

keuntungan ASI Eksklusif.

E. Keaslian Penelitian

Sri Sugiarsi, (2010) judul penelitian Studi Case Control

Kenaikan Berat Badan Pada Kelompok Bayi Usia 0 – 6 Bulan Yang

Diberi ASI Eksklusif dan Non ASI Eksklusif di Kecamatan Sukoharjo.

Tujuan penelitian adalah Menganalisis pengaruh pemberian Asi

eksklusif terhadap kenaikan berat badan bayi usia 0-6 bulan. Jenis

penelitian ini adalah descriptive comparative dengan rancangan

case Control. Simpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan

yang signifikan antara berat badan bayi usia 0 – 6 bulan yang diberi

ASI Eksklusif dengan yang tidak diberi ASI Eksklusif. Bayi yang

diberi ASI Eksklusif mengalami kenaikan berat badan yang normal

1,8 kali dibanding yang tidak diberi ASI Eksklusif.

Wahyu Dwi Yuni Nugraheni, (2011) judul penelitian

Perbedaan Berat Badan Pada Bayi Usia 0-6 Bulan Yang Diberikan

7

ASI Dengan Yang Diberikan MP-ASI Di Kecamatan Gunung Pati.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat badan bayi pada usia 0-

6 bulan terdapat perbedaan yang signifikan antara berat badan bayi

usia 0-6 bulan yang diberi ASI dengan berat badan bayi yang diberi

PASI p = 0,000 ( p < 0,05 ).

Nirmala Husin, (2009) judul penelitian Perbedaan

Peningkatan Berat Badan Bayi Usia 6 bulan Antara Yang Mendapat

ASI Eksklusif Dan Susu Formula Di Wilayah Kerja Puskesmas Ba’a

Kecamatan Lobalin Kabupaten Rote Ndao. Penelitian ini bertujuan

untuk mengetahui perbedaan peningkatan berat badan bayi usia 6

bulan antara yang mendapat ASI Eksklusif dan susu formula di

posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Ba’a, Kecamatan Lobalain

Kabupaten Rote Ndao.. Kesimpulan penelitian ini adalah rata-rata

pertambahan berat badan bayi usia 0-3 bulan dan usia 4-6 bulan

antara bayi usia 6-8 bulan yang diberi susu formula lebih tinggi dari

pada bayi yang diberi ASI eksklusif.

Perbedaan penelitian diatas dengan penelitian ini yaitu dari

judul “ Studi Case Control Kenaikan Berat Badan Pada Kelompok

Bayi Usia 0 – 6 Bulan Yang Diberi ASI Eksklusif dan Non ASI

Eksklusif di Kecamatan Sukoharjo” perbedaannya yaitu

menggunakanteknik multistage random sampling. Sedangkan

persamaan dengan judul “ Perbedaan Pertambahan Berat Badan

Bayi Usia 0-6 Bulan yang Diberi ASI Eksklusif dan susu Formula”

yaitu Respondennya bayi usia 0-6 bulan.

8

“Perbedaan Berat Badan Pada Bayi Usia 0-6 Bulan Yang

Diberikan ASI Dengan Yang Diberikan MP-ASI” penelitian ini

menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan studi komparatif.

Sedangkan persamaannya yaitu menggunakan responden bayi

usia 0-6 bulan.

“Perbedaan Peningkatan Berat Badan Bayi Usia 6 bulan

Antara Yang Mendapat ASI Eksklusif Dan Susu Formula”

perbedaannya yaitu statistik deskriptif dan disajikan dalam bentuk

tabel frekuensi distribusi. Sedangkan persamaannya dengan judul

“Perbedaan Peningkatan Berat Badan Bayi Usia 6 bulan Antara

Yang Mendapat ASI Eksklusif Dan Susu Formula”, yaitu mengukur

perbedaan pertambahan berat badan.

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP DASAR TEORI BAYI

1. Pengertian Bayi

a. Bayi merupakan manusia yang baru lahir sampai umur satu

tahun, namun tidak ada batasnya yang pasti. Pada masa ini

manusia sangat lucu dan menggemaskan tetapi juga rentan

terhadap kematian (Ana Maria Khoirunisa, 2009).

b. Bayi adalah anak dengan rentang usia 0 - 12 bulan (Sutomo,

2010).

c. Bayi merupakan makhluk hidup mungil calon manusia yang

berbentuk dari pertemuan antara sperma dan sel telur di

dalam rahim seorang wanita (Anneahira, 2010).

2. Pengertian Pertumbuhan Bayi

Pertumbuhan adalah bertambahnya jumlah dan

besarnya sel diseluruh bagian tubuh yang secara kuantitatif

dapat diukur, seperti tinggi badan, berat badan, dan lingkar

kepala (Nur, 2010).

Pertumbuhan (Growth) adalah berkaitan dengan

masalah perubahan dalam besar, jumlah ukuran atau dimensi

tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan

ukuran berat (gram,pound,kilogram), ukuran panjang

10

(Cm,meter),ukuran tulang dan keseimbangan metabolik (retensi

kalium dan nitrogen tubuh) (Soetjiningsih,2002).

Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah

sel serta jaringan interseluler berarti bertambahnya ukuran fisik

dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan sehingga dapat

diukur dengan satuan panjang dan berat.proses pertumbuhan

ini dapat dideteksi dalam kegiatan posyandu melalui KMS

(Soetjiningsih, 2002).

3. Ciri Pertumbuhan Bayi Sehat

a. Dalam pertumbuhan akan terjadi perubahan ukuran fisik,

seperti berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, lingkar

lengan, lingkar dada.

b. Pada pertumbuhan dan perkembangan terjadi hilangnya ciri-

ciri lama yang ada selama masa pertumbuhan, seperti

lepasnya gigi susu, dan hilangnya reflek-reflek tertentu.

4. Tahap Tumbuh Kembang Bayi

Tahap tumbuh kembang pada masa bayi antara lain :

(Chomaria, 2011)

a. Usia 1 bulan

1) Sering memasukkan jarinya kedalam mulut.

2) Melakukan gerakan refleks, seperti membuka mulut,

mencari puting susu, menghisap, dan menelan.

3) Sudah dapat tersenyum.

11

4) Jika pipinya disentuh, akan menggerakkan kepalanya ke

arah yang sama.

5) Memegang jari yang disodorkan pada telapak

tangannya.

6) Bayi akan menangis jika merasa lapar.

b. Usia 2 bulan

1) Dapat miring ke kanan dan ke kiri.

2) Dapat membedakan muka dan suara.

3) Dapat memegang benda yang diberikan selama

beberapa detik, dapat melepasnya.

4) Akan menghisap setiap benda yang dipegangnya, bayi

mulai mengeluarkan suara "a", "e", "h".

5) Dengan matanya, dapat mengikuti gerakan benda yang

terletak di dekat matanya.

c. Usia 3 Bulan

1) Dapat mengangkat kepala dan tubuhnya jika diletakkan

dalam posisi tengkurap.

2) Memegang mainan dengan kedua tangannya serta

menggerakkan mainan.

3) Melihat kesana kemari dan mencoba mencari suara

yang didengarnya.

4) Kala gembira, kesal atau marah, bayi dapat

mengeluarkan suara.

12

5) Dapat duduk dalam beberapa waktu jika ada yang

menopangnya.

6) Terkadang bayi berteriak - teriak, tidak mau tenang

umtuk waktu yang lama.

d. Usia 4 Bulan

1) Sudah memegang benda yang diletakkan ditangannya.

2) Bayi sudah bisa tengkurap, dan dapat menggeser

tubuhnya untuk mencapai dan memegang benda.

3) Memasukkan benda ke dalam mulutnya.

4) Mulai mengoceh dan tertawa jika diajak bercanda.

5) Reaksi emosi bayi sudah jelas misalnya dengan gerak

tubuh, rengekan, atau tangisan berirama jika bayi kesal.

e. Usia 5 Bulan

1) Bayi mengeluarkan ekspresi rasa senang atau tidak

senang.

2) Memberi respon dengan wajah mengoceh atau

tersenyum.

3) Membedakan wajah - wajah yang tersenyum, suara

ramah, dan suara amarah.

4) Mengulurkan tangan untuk minta digendong.

5) Dapat memindahkan benda dari tangan yang satu ke

tangan yang lain.

6) Membawa kakinya ke dalam mulut, dan menghisap jari

kakinya.

13

7) Meniru gerakan orang lain yang dilihatnya.

f. Usia 6 Bulan

1) Dapat menjatuhkan mainan yang diberikan, dan meminta

untuk diambilkan kembali.

2) Senang jika diberdirikan, serta mulai banyak

mengeluarkan suara.

3) Dapat membedakan orang dekat dan orang baru atau

orang asing.

4) Mulai mampu tersenyum pada bayi lain yang ada di

dekatnya.

5) Berbalik dari posisi terlentang menjadi posisi tengkurap,

atau sebaliknya.

6) Bila didudukkan, dapat duduk sendiri tanpa ditopang.

5. Deteksi Dini Tumbuh Kembang Bayi

Deteksi dini tumbuh kembang bayi melalui pemeriksaan

fisik, antara lain : (Nur, 2010).

a. Tinggi badan, berat badan, berguna untuk mendeteksi

gangguan pertumbuhan.

b. Ukuran kepala yag lebih kecil berhubungan erat dengan

gangguan perkembangan kognitif.

c. Bentuk kepala yag aneh berkaitan dengan sindrom,

gangguan tumbuh kembang.

14

6. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Dan

Perkembangan Bayi

Tumbuh kembang adalah proses kontinu sejak dari

konsepsi sampai maturitas / dewasa yang dipengaruhi oleh

faktor bawaan dan lingkungan. Faktor yang mempengaruhi

perkembagan pada seorang anak dipengaruhi oleh

kematangan dan latihan (belajar). Sedangkan pertumbuhan

antara lain : (Nur, 2010).

a. Faktor herediter meliputi fektor bawaan, jenis kelamin, ras,

suku bangsa.

b. Faktor lingkungan menurut Soetjiningsih, 1995 meliputi :

1) Faktor pranatal ( faktor yang mempengaruhi anak pada

waktu masih di dalam kandungan ).

2) Postnatal ( faktor yang mempengaruhi tumbuh

kembang anak setelah lahir ).

B. KONSEP DASAR TEORI BERAT BADAN

1. Pengertian Berat Badan

a. Berat Badan merupakan ukuran antropometri yang

terpenting dan paling sering digunakan pada bayi baru lahir

( neonatus ). Berat Badan digunakan untuk mendiagnosa

bayi normal atau BBLR. Dikatakan BBLR apabila berat

bedan bayi lahir di bawah 2500 gram. Pada masa bayi-balita,

berat badan dapat dipergunakan untuk melihat

pertumbuhan fisik maupun status gizi, kecuali terdapat

15

kelainan klinis dan sebagai dasar perhitungan dosis obat dan

makanan (Supriasa, 2000).

b. Berat Badan adalah salah satu parameter yang memberikan

gambaran masa tubuh (Supriasa, 2000).

2. Kenaikan Berat Badan Menurut Umur ( BB / U )

Dimana dalam keadaan normal keadaan kesehatan

baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan zat

gizi terjamin maka berat badan berkembang mengikuti

pertambahan umur. Sebaliknya dalam keadaan abnormal,

terdapat 2 kemungkinan perkembangan berat badan, yaitu

dapat berkembang cepat atau lebih lambat dari keadaan

normal. Berdasarkan karakteristik berat badan : maka

indeks berat badan menurut umur digunakan sebagai salah

satu cara pengukuran status gizi ( Supriasa, 2000 ). Kenaikan

berat badan bayi pada tahun pertama adalah berkisar

antara : Triwulan I kenaikan BB antara 700 - 1000 gr/bulan,

Triwulan II kenaikan BB antara 500 - 600 gr/bulan

(Soetjiningsih, 1995).

3. Faktor Yang Mempengaruhi Berat Badan Bayi Lahir

Berat badan lahir merupakan hasil interaksi dari

berbagai faktor melalui suatu proses yang berlangsung selama

berada dalam kandungan. Faktor yang dapat mempengaruhi

berat bayi lahir adalah sebagai berikut (Manuaba, 1998) :

16

a. Faktor Lingkungan Internal, yaitu meliputi umur ibu, ANC,

jarak kelahiran, paritas, status gizi, dan penyakit saat

kehamilan.

b. Faktor Lingkungan Eksternal, yaitu meliputi kondisi

lingkungan, asupan zat gizi dan tingkat sosial ekonomi ibu

hamil.

C. KONSEP DASAR TEORI ASI EKSKLUSIF

1. Pengertian Asi Eksklusif

a. ASI adalah zat yang mudah dicerna karena mengandung zat

gizi yang sesuai dan mengandung enzim - enzim untuk

mencerna zat - zat gizi yang terdapat dalam ASI. ASI

mengandung zat - zat gizi berkualitas tinggi yang berguna

untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi /

anak (Maulana, 2009).

b. ASI Eksklusif adalah pemberian ASI sedini mungkin setelah

lahir sampai bayi berumur 6 bulan tanpa pemberian

makanan lain. Setelah 6 bulan, bayi mulai dikenalkan

dengan dengan makanan lain dan tetap diberikan ASI

sampai bayi berumur 2 tahun (Purwanti, 2004).

World Health Organization (WHO) merekomendasikan

kepada ibu - ibu di seluruh dunia untuk memberikan ASI

Eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan untuk

memperoleh pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan yang

17

optimal. Setelah itu dapat diberikan MP-ASI. Pemberian ASI

Eksklusif ini menerapkan :

a. Inisiasi menyusui dini selama 1 jam setelah kelahiran bayi.

b. ASI Eksklusif diberikan kepada bayi hanya ASI saja tanpa

makanan tambahan atau minuman.

c. ASI diberikan secara "on demand" atau sesuai kebutuhan

bayi, setiap hari setiap malam.

d. ASI diberikan tidak menggunakan botol, cangkir maupun dot.

2. Manfaat Asi Eksklusif

Bagi bayi tidak ada pemberian yang lebih berharga dari

ASI. Hanya seorang ibu yang dapat memberikan makanan

terbaik bagi bayinya. Keuntungan tidak saja diperoleh bayi,

tetapi juga dirasakan oleh ibu, keluarga, negara, bahkan

lingkungan. Beberapa manfaat ASI eksklusif antara lain :

(Proverawati & Rahmawati, 2010)

a. Bagi Bayi

Manfaat pemberian ASI eksklusif bagi bayi antara lain :

(Khasanah, 2011)

1) ASI baik bagi pertumbuhan emas otak bayi.

2) ASI adalah sumber nutrisi terbaik bagi bayi.

3) ASI meringankan pencernaan bayi.

4) ASI meningkatkan kekebalan tubuh bayi.

5) ASI tidak mudah tercemar.

6) ASI mudah dicerna oleh bayi.

18

7) ASI menghindarkan bayi dari alergi.

8) ASI mengurangi resiko obesitas dikemudian hari.

b. Bagi Ibu dan Keluarga

Manfaat pemberian ASI Eksklusif bagi ibu dan keluarga

antara lain : (Khasanah, 2011)

1) ASI lebih menguntungkan secara ekonomis

Ibu tidak perlu mengeluarkan biaya untuk

makanan bayi sampai bayi berumur 4 atau 6 bulan. Dan

menghemat pengeluaran rumah tangga untuk membeli

susu formula.

2) ASI tidak pernah basi dan habis

ASI selalu diproduksi oleh pabriknya dipayudara

ibu. Bila gudang ASI telah kosong, ASI langsung

diproduksi, jika ASI tidak digunakan akan diserap

kembali oleh ibu.

3) Praktis dan tidak merepotkan

Ibu tidak perlu repot mempersiapkan alat dan

membuat minum bayi dan tidak perlu membeli.

4) Menyusi dapat menunda kehamilan

Pemberian ASI eksklusif yang tidak boleh

dihentikan sama sekali, dapat menunda haid dan

kehamilan sehingga bisa digunakan sebagai alat

kontrasepsi alamiah.

19

5) Mengurangi resiko berat badan berlebih

Dengan menyusui, lemak yang ada ditubuh akan

diubah menjadi ASI sehingga tidak meyebabkan

kegemukan dan cepat mengembalikan bentuk tubuh

seperti sebelumnya.

6) Mempercepat pengecilan ukuran rahim ibu

Isapan bayi saat menyusui mampu membantu

rahim menciut, mempercepat kondisi ibu untuk kembali

kemasa prakehamilan, dan mengurangi perdarahan.

7) Mengurangi resiko kanker payudara

Karena zat innate immune system yang terdapat

dalam ASI bisa memberikan perlindungan terhadap

jaringan payudara ibu sehingga bisa terhindar dari

ancaman kanker payudara.

8) Mengurangi resiko kanker rahim

Hormon yang berperan dalam produksi ASI

ternyata juga berperan menuntaskan proses nifas

sehingga rahim kembali bersih dari dari sisa - sisa

melahirkan.

9) Mengurangi stres dan kegelisahan ibu

Hormon oksitosin akan keluar saat ibu menyusui

bayinya, hormon ini berguna untuk mengurangi stres

yang alami sehingga ibu yang menyusui akan memiliki

perasaan yang positif.

20

c. Bagi Negara

Manfaat pemberian ASI eksklusif bagi negara antara lain :

(Kristiyanasari, 2009)

1) Menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi.

Adanya faktor protektif dan nutrien yang sesuai

dalam ASI menjamin status gizi bayi baik serta kesakitan

dan kematian anak menurun.

2) Menghemat devisa negara.

ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional.

Jika semua ibu menyusui diperkirakan dapat menghemat

devisa sebesar Rp. 8,6 milyar yang seharusnya dipakai

untuk membeli susu formula.

3) Mengurangi subsidi untuk Rumah Sakit

Subsidi rumah sakit berkurang, karena rawat

gabung akan memperpendek lama rawat ibu dan bayi,

mengurangi komplikasi persalinan dan infeksi

nosokomial, serta mengurangi biaya perawatan anak

sakit.

4) Peningkatan kualitas generasi penerus

Anak yang mendapat ASI dapat tumbuh secara

optimal sehingga kualitas generasi penerus bangsa akan

meningkat.

21

3. Jenis Asi Berdasarkan Waktu Produksi

Berdasarkan waktu produksi, ASI dapat dibedakan

menjadi 3 (tiga) kelompok secara terpisah antara lain :

(Proverawati &Rahmawati, 2010) & (Khasanah, 2011)

a. Kolostrum

Kolostrum adalah cairan yang dihasilkan oleh kelenjar

payudara setelah melahirkan ( 2 - 4 hari ), dengan

karakteristik cairan yang agak kental dibandingkan dengan

cairan susu kuning dibandingkan dengan cairan susu tahap

berikutnya, warna kuning keemasan atau krem, lebih kuning

dibanding dengan ASI mature, bentuknya agak kasar

karena mengandung butiran lemak dan sel - sel epitel,

dengan kasiat kolostrum sebagai berikut :

1) Kaya antibodi yang berguna untuk melindungi bayi

terhadap berbagai bakteri dan virus yang merugikan.

2) Pencahar yang berguna untuk membersihkan air

ketuban, dan membantu mencegah bayi kuning( ikterus ).

3) Faktor - faktor yang dapat membantu usus bayi

berkembang lebih matang, mencegah alergi dan keadaan

tidak tahan (intoleransi).

4) Kaya vitamin A dapat mengurangi / mencegah penyakit

mata pada bayi.

22

b. Transitional Milk ( ASI Peralihan )

ASI peralihan adalah ASI yang dihasilkan setelah

kolostrum (8 - 20 hari) dimana kadar lemak, laktosa, dan

vitamin larut air lebih tinggi dan kadar protein, mineral lebih

rendah, serta mengandung lebih banyak kalori dari

pada kolostrum.

c. Mature Milk ( ASI Matang )

ASI matang adalah ASI yang dihasilkan 21 hari setelah

melahirkan dengan volume bervariasi yaitu 300 - 850 ml /

hari tergantung pada besarnya stimulasi saat laktasi. 90%

adalah air yang diperlukan untuk memelihara hidrasi bayi,

10% kandungannya adalah karbohidrat, protein dan

lemak yang diperlukan untuk kebutuhan hidup dan

perkembangan bayi. ASI Matur merupakan nutrisi bayi yang

terus berubah di sesuaikan dengan perkembangan bayi

sampai usia 6 bulan.

Tabel 2.1 Komposisi kolostrum dan ASI

1. Energi Kkal 58.0 70

2. Protein G 2,3 0,9

3. Kasein Mg 140,0 187,0

4. Laktosa G 5,3 7,3

5. Lemak G 2,9 4,2

6. Vitamin A Ug 151,0 75,0

7. Vitamin B1 Ug 1,9 14,0

8. Vitamin B2 Ug 30,0 40,0

9. Vitamin B12 Mg 0,05 0,1

10. Kalsium Mg 39,0 35,0

11. Zat Besi ( Fe )

Mg 70,0 100,0

12. Fosfor Mg 14,0 15,0

23

Sumber : Proverawati & Rahmawati, 2010.

4. Faktor Kekebalan Yang Terkandung Di Dalam Asi

Pemberian ASI sampai bayi mencapai usia 4 - 6 bulan,

akan memberikan kekebalan terhadap berbagai macam

penyakit karena ASI adalah cairan yang mengandung zat

kekebalan tubuh yang dapat melindungi dirinya dari berbagai

penyakit infeksi, bakteri, virus, jamur maupun parasit. Dengan

adanya zat anti infeksi dalam ASI maka bayi terhindar dari

berbagai macam infeksi. ASI mengandung faktor - faktor

kekebalan seperti :

a. Faktor Bifidus

Merupakan suatu karbohidrat yang diperlukan untuk

bayi / anak dalam pertumbuhan bakteri menguntungkan,

yaitu bakteri Lactobacillus bifidus (Khasanah, 2011).

b. Faktor Lactoferin

Laktoferin adalah suatu protein yang mengikat zat

besi yang terdapat dalam ASI. Zat besi yang terikat tidak

dapat digunakan oleh bakteri usus yang berbahaya sehingga

bakteri tidak dapat tumbuh (Khasanah, 2011).

c. Faktor Laktospirosidase

Faktor Laktospirosidase merupakan enzim yang

terdapat dalam ASI yang membantu membunuh bakteri

berbahaya (Khasanah, 2011).

d. Faktor Lisozim

24

Lisozim merupakan salah satu enzim yang terdapat

dalam ASI. Enzim tersebut memiliki fungsi membunuh

berbagai macam bakteri dan kuman, serta berperan sebagai

pelindung terhadap berbagai macam virus (Khasanah,

2011).

e. Faktor Interferon

Interferon berfungsi menghambat pertumbuhan virus

sehingga tubuh bayi bisa terhindar dari beragam penyakit

yang disebabkan oleh virus (Khasanah, 2011).

f. Faktor Limfosit dan makrofag

Sel Limfosit dan makrofag mampu mengeluarkan zat

antibodi untuk meningkatkan imunitas terhadap penyakit

tubuh bayi (Khasanah, 2011).

g. Faktor Sel - Sel Fagosit

Faktor Sel - Sel Fagosit berfungsi sebagai pemakan

bakteri berbahaya bagi tubuh bayi (Khasanah, 2011).

5. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian Asi

Faktor - faktor yang mempengaruhi pemberian ASI, diantaranya

adalah :

a. Pekerjaan

Adanya emansipasi dalam segala bidang kerja dan di

kebutuhan masyarakat menyebabkan turunnya kesedihan

menyusui dan lamanya menyusui. Karena pengaruh teman,

25

tetangga, atau orang terkemuka yang memberikan susu

formula kepada anaknya.

b. Faktor psikologis

Faktor psikologis dapat dicontohkan seorang wanita

yang takut kehilangan daya tarik, mereka beranggapan

bahwa menyusui akan merusak penampilan.

c. Faktor fisik ibu

Alasan yang cukup sering bagi ibu menyusui adalah

karena ibu sakit, dan terjadinya bendungan ASI yang

mengakibatkan ibu merasa sakit waktu bayinya menyusui.

Bendungan ASI disebabkan karena ASI tidak terhisap

seluruhnya oleh bayi setiap kali menyusu, dapat diatasi

dengan mengurut payudara perlahan - lahan atau dengan

memompa ASI, selain itu luka diputing susu dan kelainan

pada puting susu ibu juga menjadi faktor kesukaran ibu

dalam memberikan ASI.

d. Faktor kesehatan anak

Pada waktu anak sakit akan terjadi kesukaran dalam

pemberian ASI karena anak menolak untuk menyusu. Akan

tetapi hal ini dapat diatasi dengan jalan memompakan ASI ke

dalam botol kemudian diberikan kepada bayi melalui botol.

e. Kurangnya informasi petugas kesehatan

Sehingga masyarakat khususnya pada ibu kurang

mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat

26

pemberian ASI. Dan penyuluhan kepada masyarakat

mengenai manfaat pemberian ASI akan meningkatkan

pemahaman masyarakat.

f. Faktor informasi

Meningkatnya sarana periklanan susu buatan melalui

distribusi, iklan dan promosi susu buatan berlangsung terus

meningkat tidak hanya di televisi, radio dan surat kabar

melainkan juga di tempat - tempat praktek swasta dan klinik -

klinik kesehatan masyarakat, yang menimbulkan tumbuhnya

ketidaksediaan ibu menyusui.

g. Faktor pendidikan ibu

Seorang ibu yang memiliki pendidikan formal yang

rendah belum tentu tidak mampu menyusun makanan yang

memenuhi persyaratan gizi dan memberikan ASI secara

tepat dibandingkan dengan ibu yang lebih tinggi

pendidikannya.

h. Pengetahuan

Kurangnya informasi dan pengetahuan tentang

manfaat ASI dan pemberian susu buatan.

D. KONSEP DASAR TEORI SUSU FORMULA

1. Pengertian Susu Formula

a. Menurut WHO ( World Health Organization ), Susu Formula

adalah susu yang sesuai dan bisa diterima sistem tubuh

bayi. Susu Formula yang baik tidak menimbulkan gangguan

27

saluran cerna seperti diare, muntah atau kesulitan buang air

besar. Gangguan lainnya seperti batuk, sesak dan gangguan

kulit.

b. Susu Formula merupakan susu sapi yang susunan nutrisinya

diubah sedemikian rupa hingga dapat diberikan kepada bayi

tanpa memberikan efek samping. Susu formula berfungsi

sebagai pengganti ASI. Susu formula memiliki peranan

penting dalam makanan bayi karena seringkali digunakan

sebagai satu - satunya sumber gizi bagi bayi (Khasanah,

2011).

c. Susu formula adalah susu yang dibuat dari susu sapi atau

susu buatan yang diubah komposisinya dan diformulasikan

sedemikian rupa sehingga dapat dipakai sebagai pengganti

ASI dan dapat memberikan keseimbangan zat gizi bagi bayi

(Lewis, 2002).

2. Manfaat Susu Formula

Menurut Arlene Eissenberg (2002) dalam bukunya

mengenai susu formula, Manfaat pemberian susu formula

adalah sebagai berikut:

a. Susu Formula Bagi Bayi

Manfaat pemberian susu formula bagi bayi yaitu

kepuasan yang lebih lama bagi bayi karena formula susu

sapi yang dibuat dari susu sapi lebih sulit dicerna dari pada

28

ASI, dan endapan besar sehingga meningkatkan rasa

kenyang pada bayi yang lebih lama.

b. Susu Formula sebagai Nutrisi

Susu Formula Bayi adalah susu yang jumlah kalori,

vitamin dan mineral harus sesuai, untuk meningkatkan daya

tahan tubuh dan mencapai tumbuh kembang yang optimal.

Penggunaan susu formula sesuai usia anak selama tidak

menimbulkan gangguan fungsi tubuh dan saluran cerna.

c. Susu Formula Meningkatkan Kecerdasan

Penambahan AA, DHA, Spingomielin pada susu

formula sebenarnya tidak merupakan pertimbangan utama

pemilihan susu yang terbaik. Penambahan zat yang

diharapkan berpengaruh terhadap kecerdasan anak

memang masih sangat kontroversial. Terdapat dua faktor

penentu kecerdasan anak, yaitu faktor genetika dan faktor

lingkungan.

1) Faktor genetika / keturunan adalah yang tidak dapat

diubah karena sudah merupakan faktor bawaan dari

kedua orang tua (Khasanah, 2011).

2) Faktor lingkungan adalah faktor yang sangat menentukan

tercapai atau tidaknya potensi bawaan (Khasanah, 2011).

d. Pemberian Susu Formula Pada Bayi Untuk Ibu

Pemberian susu formula pada bayi ditahun pertama

biasanya dilakukan karena keadaan - keadaan yang terjadi

29

pada ibu yaitu Puting rata, Puting lecet, Payudara bengkak,

Saluran Susu Tersumbat, Imfeksi payudara, Abses

payudara, dan pekerjaan (Prawirohardjo, 2005).

3. Jenis Susu Formula

a. Susu Formula Adaptasi

Susu Gormula Adaptasi ( adapted ) adalah susu

formula yang disesuaikan dengan kebutuhan bagi bayi yang

baru lahir sampai umur 6 bulan. Pada umur dibawah 3 - 4

bulan fungsi saluran pencernaan dan ginjal belum sempurna

sehingga pengganti ASInya harus mengandung zat - zat gizi

yang mudah dicerna dan tidak mengandung mineral yang

berlebihan maupun kurang (Khasanah, 2011).

b. Susu Formula Awal Lengkap

Susu Formula awal lengkap ( complete starting

formula ) berarti susunan zat gizinya lengkap dan

pemberiannya dapat dimulai setelah bayi dilahirkan. Berbeda

dengan formula adaptasi, susu formula ini memiliki kadar

protein yang lebih tinggi, komposisi zat gizi lain tidak

disesuaikan dengan yang terdapat dalam ASI, kadar mineral

lebih tinggi dibandingkan dengan formula adaptasi

(Khasanah, 2011).

c. Susu Formula Follow-up

Susu formula follow-up adalah susu formula lanjutan

yang gunanya untuk mengganti formula bayi yang sedang

30

dipakai dengan susu formula tersebut. Susu Formula follow-

up diperuntukkan bagi bayi berumur 6 bulan keatas dengan

asumsi bahwa bayi yang berumur lebih dari 6 bulan memiliki

fungsi organ-organ yang sudah memadai, sehingga tidak

memberatkan fungsi pencernaan dan ginjal pada bayi

(Khasanah, 2011).

d. Susu Formula Prematur

Susu formula prematur digunakan untuk bayi yang

lahir prematur. Susu formula premature komposisi zat

gizinya lebih besar dibandingkan dengan formula biasa

karena pertumbuhan bayi prematur yang cepat sehingga

membutuhkan zat-zat yang lebih banyak. Susu formula

tersebut mengandung lebih banyak protein, dan kadar

beberapa mineralnya seperti : kalsium dan natrium yang

lebih tinggi (Khasanah, 2011).

e. Susu Soya

Susu soya yang berbahan dasar yang diganti

dengan sari kedelai yang diperuntukkan bagi bayi yang

memiliki alergi terhadap protein susu sapi, tetapi tidak alergi

terhadap protein kedelai. Karena protein susunya telah

dipecah sempurna.

E. KANDUNGAN SUSU FORMULA

Kandungan zat gizi susu formula untuk bayi dibawah 6

bulan lebih spesial karena secara alami, usus bayi kecil belum

mampu mencerna nutrisi susu dengan baik. Maka komposisi

31

nutrisinya diformulasikan lebih rendah dari susu formula untuk

bayi 6 bulan kebawah yang cukup bulan, antara lain :

(Khasanah, 2011)

a. Lemak

Kadar lemak disarankan antara 2,7 – 4,1 gr tiap 100 ml.

Komposisi asam lemaknya harus sedemikian hingga bayi

umur 1 bulan dapat menyerap sedikitnya 85%.

b. Protein

Kadar protein dalam susu formula harus berkisar antara 1,2

dan 1,9 gr tiap ml. Pemberian protein yang terlalu tinggi

dapat menyebabkan tingginya kadar ureum, amoniak, serta

asam amino tertentu dalam darah. Perbedaan antara protein

ASI dan susu formula terletak pada kandungannya dan

perbandingannya antara protein jenis whey dan kaseinnya.

c. Karbohidrat

Kandungan karbohidrat yang disarankan pada susu formula

yaitu antara 5,4 – 8,2 gr tiap 100 ml. Karbohidrat hanya atau

hampir seluruhnya memakai laktosa, selebihnya glukosa

atau maltosa. Tidak dibenarkan pada pembuatan susu

formula untuk memakai tepung atau madu, atau disarankan

(acidified) karena belum diketahui efek sampingnya dalam

jangka pendek maupun jangka panjang.

d. Mineral

Mineral dalam susu sapi seperti natrium, kalium, kalsium,

fosfor, magnesium, khlorida, lebih tinggi 3 sampai 4 kali

32

dibandingkan dengan yang terdapat dalam ASI. Pada

pembuatan susu formula adaptasi kandungan mineral

diturunkan jumlahnya antara 0,25 dan 0,34 gr tiap 100 ml.

Penurunan kadar mineral sangat diperlukan karena BBL

belum dapat mengsekresi dengan sempurna kelebihannya.

e. Vitamin

Berbagai vitamin ditambahkan pada pembuatan susu

formula hingga dapat mencukupi kebutuhan sehari hari.

Tabel 2.2 Perbedaan komposisi ASI dan susu formula

Komposisi / 100 ml ASI Matur Susu Formula

Kalori 75 67

Protein 1,2 1,5

Lactalbumin ( % ) 80 60

Kasein ( % ) 20 40

Air ( ml ) 87,1 90

Lemak ( gr ) 4,5 3,8

Karbohidrat 7,1 6,9

Ash ( gr ) 0,21 0,34

Mineral

Na 16 21

K 53 69

Ca 33 46

P 14 32

Mg 4 5,3

Fe 0,05 1,3

Zn 0,15 0,42

Vitamin

A ( iu ) 182 210

C ( mg ) 5 5,3

D ( iu ) 2,2 42

E ( iu ) 0,08 0,04

Thiamin ( mg ) 0,01 0,04

Riboflafin (mg ) 0,04 0,06

Niacin ( mg ) 0,2 0,

Ph Alkaline Acid

Bacteria iontent Sterile Sterile

Sumber : Kristiyanasari, 2009

33

F. FREKUENSI DAN JUMLAH KEBUTUHAN CAIRAN BAYI

Pemberian susu formula dengan takaran yang kurang

tepat dapat mengganggu pertumbuhan bayi, sedangkan

pemberian yang berlebihan dapat menyebabkan bayi

mengalami berat badan berlebihan atau obesitas (Khasanah,

2011).

Tabel 2.3 kebutuhan cairan pada bayi

Usia Rata – rata berat

badan

Jumlah cairan dalam 24 jam

( ml )

Jumlah cairan per Kg berat badan dalam 24

jam ( ml )

3 hari 3,0 250 – 300 80 – 100

10 hari 3,2 400 – 500 125 – 150

3 bulan 5,4 750 – 850 140 – 160

6 bulan 7,3 950 – 1100 130 – 155

9 bulan 8,6 1100 – 1250 125 – 145

G. KELEMAHAN SUSU FORMULA

Beberapa kelemahan susu formula dibandingkan

dengan ASI diantaranya adalah : (Khasanah, 2011)

a. Kandungan susu formula tidak selengkap ASI.

b. Mudah tercemar dan sulit dicerna.

c. Menimbulkan diare dan sering muntah.

d. Infeksi, alergi, obesitas.

e. Pemborosan.

f. Kekurangan vitamin dan zat besi.

g. Terlalu banyak garam.

h. Lemak dan protein yang tidak cocok.

34

H. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN SUSU

FORMULA

Faktor yang mempengaruhi pemberian susu formula

yang diberikan pada bayi adalah : (Khasanah, 2011)

a. Adanya perubahan struktur masyarakat dan keluarga

Salah satu tradisi yang mulai memudar adalah ibu mulai

meninggalkan ASI dan lebih memilih memberikan susu

formula.

b. Kemudahan yang didapat sebagai hasil kemajuan teknologi

Berbagai merk dagang susu formula sebagai kemajuan

teknologi yang dianggap setara dengan ASI dan mudah

didapatkan oleh ibu membuatnya beranggapan bahwa

pemberian ASI dan susu formula untuk bayi adalah sama.

c. Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang

memberikan susu formula

Persepsi masyarakat mengenai gaya hidup mewah

membawa dampak menurunnya kesediaan ibu untuk

menyusui, susu formula merupakan nutrisi yang terbaik

untuknya.

d. Meningkatnya promosi susu formula sebagai pengganti ASI

Promosi susu formula bertujuan membentuk persepsi bahwa

bayi akan sehat dan cerdas apabila diberi susu formula pun

ditambahkan seperti omega-3, DHA, probiotik.

35

e. Kenaikan tingkat partisipasi wanita dan emansipasi dalam

segala bidang kerja

f. Merasa ketinggalan zaman jika mnyusui

Adanya anggapan bahwa memberikan susu formula kepada

bayi sebagai salah satu simbol bagi kehidupan tingkat sosial

yang lebih tinggi, terdidik.

g. Faktor fisik ibu

Karena ibu sakit, baik sebentar maupun lama. Dan lebih

berbahaya untuk mulai memberi susu formula kepada bayi

daripada membiarkan bayi menyusu dari dirinya yang sakit.

h. Kurangnya penyuluhan dari petugas kesehatan

Masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan

tentang manfaat pemberian ASI. Penyuluhan kepada

masyarakat seputar menyusui dan pentingnya pemberian

ASI.

36

F. KERANGKA TEORI

Gambar 2.1 Kerangka TeoriFaktor –faktor yang mempengaruhi pertambahan berat badan bayi usia 6 bulan yang diberi Asi eksklusif dan susu formula (Utami Roesli,2004 Mengenal Asi Eksklusif)

FAKTOR EKSTERNAL YANG

MEMPENGARUHI PERTAMBAHAN

BERAT BADAN BAYI

1. Faktor Pranatal

a. Gizi

b. Mekanis

c. Toksin / zat kimia

d. Endokrin

e. Radiasi

f. Infeksi

g. Kelainan umum

h. Psikologi Ibu

2. Faktor Persalinan

a. Trauma kepala

b. Asfiksia

3. Faktor Postnatal

a. Gizi Bayi :

(ASI Eksklusif &Susu

formula)

b. Perawatan kesehatan

c. Infeksi

d. Sanitasi Lingkungan

FAKTOR INTERNAL YANG

MEMPENGARUHI PENINGKATAN

BERAT BADAN BAYI

1. Ras / bangsa

2. Keluarga

3. Umur

4. Jenis kelamin

5. Genetik / kromosom

Indikator Pertumbuhan Bayi :

1. TB / PB

2. Berat Badan

3. Lingkar Kepala

4. Lila

37

ASI EKSKLUSIF

SUSU FORMULA

G. KERANGKA KONSEP

Gambar 2.1 Kerangka Konsep Perbedaan Pertambahan Berat Badan Bayi Usia 6 Bulan Yang Diberi ASI Eksklusif dan Susu Formula Di Wilayah kerja Puskesmas Mowewe Kabupaten Kolaka Timur (Utami Roesli,2004 Mengenal Asi Eksklusif)

Keterangan :

: : Variabel bebas

: Variabel terikat

: Berpengaruh

BERAT BADAN BAYI

38

H. HIPOTESIS

Hipotesis merupakan jawaban bersifat sementara terhadap

suatu permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang

terkumpul (Arikunto, 2000). Adapun hipotesa dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut:

H0: Tidak ada perbedaan pertambahan berat badan bayi usia 6

bulan yang diberi ASI Eksklusif dan susu formula .

H1: Ada perbedaan pertambahan berat badan bayi usia 6 bulan

yang diberi ASI Eksklusif dan susu formula .

40

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Dan Desain Penelitian.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitianyang

digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian

analitik, yaitu untuk membandingkan antara perbedaan

pertambahan berat badan bayi usia 6 bulan yang diberi ASI

Eksklusif dan susu formula(Sugiyono, 2012).

Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini

adalah “cross sectional”. Rancangan Retrospektif yaitu

Rancangan cross sectional yaitu penelitian yang pengukuran

dan pengamatannya dilakukan secara simultan pada satu saat

(sekali waktu) (Ari S & Saryono, 2010).

Gambar 4.1 Alur penelitian

BAYI USIA 6 BULAN

DIBERI ASI EKSKLUSIF DIBERI SUSU FORMULA

BERAT

BADAN

NORMAL

BERAT

BADAN

TIDAK

NORMAL

BERAT

BADAN

NORMAL

BERAT

BADAN

TIDAK

NORMAL

41

B. Tempat Dan Waktu Penelitian

Penelitian akan telah dilakukan di Wilayah kerja Puskesmas

Kecamatan Mowewe, Kabupaten Kolaka Timur Penelitian

dilaksanakan mulai dari penyusunan proposal sampai dengan

proses penelitian, yang dilakukan mulai bulan Agustus 2017

C. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang

mempunyai bayi usia 6 bulan yang diberi ASI Eksklusif dan yang

diberi susu formula, di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan

Mowewe, Kabupaten Kolaka timur dengan jumlah 46 orang .

D. Sampel

Sampel adalah Semua ibu yang mempunyai bayi usia 6

bulan yang diberi ASI Eksklusif dan yang diberi susu formula, yang

selalu berkunjung ke posyandu dan ditimbang setiap bulan selama

6 bulan berturut-turut di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan

Mowewe Kabupaten Kolaka Timur.

E. Besar Sampel

Besar sampel ditetapkan berdasarkan pengambilan

sampel yang dilakukan secara total sampling yaitu 23 bayi yang

diberi asi eksklusif dan 23 bayi yang diberi susu formula

42

F. Identifikasi Variable Penelitian.

1. Variabel Independen (bebas)

Variabel Independen merupakan variabel yang

mempengaruhi variabel lain, artinya apabila variabel independen

berubah maka akan mengakibatkan perubahan variabel lain.

Nama lain variabel independen adalah variabel bebas, risiko,

prediktor, kausa (Riyanto, 2011). Variabel independen dalam

penelitian ini adalah ASI Eksklusif dan susu formula.

2. Variabel Dependen

Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi

oleh variabel lain, artinya variabel dependen berubah akibat

perubahan pada variabel bebas. Nama lain variabel dependen

adalah variabel terikat, efek, hasil, outcame, respon, atau event

(Riyanto, 2011). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah

perbedaan pertambahan berat badan bayi usia 6 bulan.

G. Definisi Operasional

1. Berat badan bayi

Defenisi operasional berat badan bayi adalah salah satu

parameter yang memberikan gambaran massa tubuh, instrument

yang digunakan adalah koesioner dan dokumentasi melalui KMS,

parameter yang digunakan yaitu berat badan bayi pada 3 bulan

pertama(TM 1) = 700-1000 gr/bln dan pada 3 bulan ke dua (TM II)

= 500-600 gr/bln, skala ukur ordinal. Kode yang digunakan untuk

jawaban Ya diberi asi eksklusif =1, diberi susu formula = 0, criteria

pertambahan berat badan normal=1, berat badan tidak normal= 0

43

2. Asi eksklusif

Defenisi operasional adalah bayi yang hanya diberi Asi saja

sampai berumur 6 bulan, parameter yang digunakan yaitu

pemberian asi eksklusif pada bayi usia 6 bulan. Skala yang

digunakan adalah skala nominal kode untuk pertanyaan dengan

jawaban ya=1, tidak = 0, criteria diberi asi eksklusif dan tidak

diberi asi eksklusif

3. Susu formula

Defenisi operasional adalah bayi yang diberi susu hewani / nabati

yang susunan nutrisinya diubah sedemikian rupa hinggga dapat

diberikan kepada bayi tanpa memberikan efek samping.

Parameter yang digunakan adalah pemberian susu formula pada

bayi, skala nomina, kode untuk pertanyaan dengan jawaban ya=1

tidak = 0. Criteria diberi susu formula dan tidak diberi susu

formula.

H. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan

untuk pengumpulan data. Instrumen penelitian ini dapat berupa :

kuesioner (daftar pertanyaan), formulir observasi, formulir-formulir lain

yang berkaitan dengan pencatatan data dan sebagainya

(Notoatmodjo, 2010). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini

adalah dokumentasi dan lembar kuesioner.

Dokumentasi merupakan metode pengumpulan data dengan

cara mengambil data yang berasal dari dokumen asli. Dokumen asli

44

tersebut dapat berupa gambar, tabel, atau daftar periksa, dan film

dokumenter (Alimul, 2007).

Kuesioner diartikan sejumlah pertanyaan tertulis yang

digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti

laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang diketahui (Arikunto,

2010)

Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan

dokumentasi dan lembar kuesioner yang berisikan pertanyaan-

pertanyaan yang bersifat tertutup dan terstruktu. Pertanyaan dalam

penelitian ini berhubungan dengan pemberian asupan nutrisi pada

bayi sampai usia 6 bulan.

I. Pengelohan Data

Dalam proses pengolahan data terdapat langkah – langkah

yang harus ditempuh (Alimul, 2007), antara lain :

1. Editing

Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data

yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada

tahap pengumpulan data atau setelah data terkumpul (Alimul,

2007).

2. Coding

Coding / kodean yaitu mengubah data berbentuk kalimat atau

huruf menjadi data angka atau bilangan (Notoatmodjo, 2010).

3. Skoring (pemberian skor)

45

Skoring (pemberian skor) adalah kegiatan untuk memberikan skor

sesuai jawaban yang dipilih oleh responden.

a. Untuk variabel bayi usia 6 bulan yang diberi ASI Eksklusif dan

yang diberi susu formula, maka setelah data dikumpulkan

melalui data sekunder / studi dokumentasi, kemudian diberi

skor sesuai dengan data yang benar dari setiap KMS. Dengan

memberi pernyataan bila jawaban :

Ya = Nilainya 1

Tidak = Nilainya 0

Kriteria penilaian untuk responden dalam penelitian ini yaitu :

1) Yang diberi ASI Eksklusif

2) Yang diberi susu formula

4. Tabulating

Tabulating adalah kegiatan untuk memasukkan data yang masuk

kedalam tabel – tabel yang telah disiapkan kemudian menghitung

banyaknya frekuensi untuk tiap data yang terkumpul baik data

umum maupun data khusus (Alimul, 2007).

J. Analisa Data

Untuk mengetahui perbedaan perambahan berat badan bayi usia

6 bulan yang diberi ASI Eksklusif dan susu formula digunakan Rumus

Wilcoxon Match Pairs Test:

T- µT

σT

Z =

46

Dimana:

T = jumlah jenjang/rangking yang kecil

n(n+1)

4

√ ( )( )

Dengan demikian,

T-µT T - ( )

σT√ ( )( )

Harga z tabel dibandingkan dengan harga z hitung.

z hitung < z tabel Ho diterima atau H1 ditolak artinya tidak ada

perbedaan pertambahan berat badan bayi usia 6 bulan yang diberi

ASI Esklusif dan susu formula di Wilayah Kerja Puskesmas

Kecamatan Mowewe Kabupaten Kolaka Timur z hitung > z tabel

Ho ditolak dan H1 diterima artinya adaperbedaan pertambahan

berat badan bayi usia 6 bulan yang diberi ASI Esklusif dan susu

formula di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Mowewe

Kabupaten Kolaka Timur. Teknik ini digunakan untuk menguji

hipotesis komparatif dua sampel yang berkolerasi bila datanya

berbentuk ordinal (Sugiyono, 2012)

K. Etika Penelitian

Kode etik penelitian adalah suatu pedoman etika yang berlaku

untuk setiap kegiatan penelitian yang melibatkan antara pihak peneliti,

µT =

σT =

z = =

47

pihak yang diteliti (subyek penelitian) dan masyarakat yang akan

memperoleh dampak hasil penelitian tersebut (Notoatmodjo, 2010).

Dalam melakukan penelitian, peneliti mendapatkan

rekomendasi dari Direktur Poltekkes Kemenkes Kendari, selanjutnya

peneliti mengajukan permohonan ijin kepada Puskesmas Kecamatan

Mowewe Kabupaten Kolaka Timur untuk studi pendahuluan dan

penelitian. Setelah mendapat persetujuan barulah melakukan

penelitian dengan memberikan informed consent dan kesempatan

pada responden (seluruh ibu yang mempunyai bayi 6 bulan) untuk

menerima atau menolak menjadi responden, peneliti menemui subyek

yang akan dijadikan responden untuk menjelaskan beberapa hal yang

meliputi :

1. Lembar Persetujuan (Informed consent)

Informed Consent merupakan bentuk persetujuan antara

peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan

lembar persetujuan. Informed Consent tersebut diberikan

sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar

persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan Informed Consent

adalah agar subyek mengerti maksud dan tujuan penelitian,

mengetahui dampaknya (Alimul, 2007).

2. Tanpa Nama (Anonimity)

Masalah etika kebidanan merupakan masalah yang

memberikan jaminan dalam penggunaan subyek penelitian

dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama

48

responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode

pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan

disajikan (Alimul, 2007).

3. Kerahasiaan (Confidentialy)

Masalah ini merupakan masalah etika dengan

memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi

maupun masalah – masalah lainnya. Semua informasi yang

telah dikumpulkan dijamin kerahasiaan oleh peneliti, hanya

kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset

(Alimul, 2007).

L. Jalannya Penelitian

Proses pengumpulan data dalam melakukan penelitian untuk

mendapatkan responden meliputi langkah – langkah sebagai berikut :

1. Mendapat surat pengantar dari Poltekkes Kemenkes Kendari

2. Mengurus ijin di Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan

Masyarakat

3. Mengurus surat perijinan kepada Puskesmas Kecamatan

Mowewe Kabupaten Kolaka Timur

4. Setelah mendapat ijin, peneliti mendatangi calon responden pada

saat mereka datang di Posyandu.

5. Memberikan penjelasan tentang tujuan dari penelitian kepada

calon responden dan memohon kesediaan untuk berpartisipasi

dalam penelitian ini. Apabila mereka bersedia menjadi responden

maka dipersilahkan untuk menandatangani Informed Consent.

49

6. Responden yang bersedia menandatangani Informed Consent

maka peneliti akan menimbang berat badan bayi yang menjadi

responden.

7. Responden harus mengisi semua biodata yang ada dilembar

rekapitulasi dan diserahkan kembali kepada peneliti, untuk

dilakukan pengolahan, pengecekan kelengkapan, mengedit,

memberi kode, memberi skor, dan mentabulasi data.

50

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran umum Puskesmas Mowewe

1. Wilayah Kerja

Terdiri atas 3 Kelurahan dan 7 Desa, yang merupakan

wilayah adminitratif Kecamatan/Puskesmas Mowewe Kabupaten

Kolaka Timur.

2. Luas Wilayah

Wilayah Puskesmas yaitu 3,675 m2. Puskesmassecara

geografis mencakup jazirah Tenggara Pulau Sulawesi.

Luas Wilayah menurut kelurahan/desa sangat beragam.

Desa Ulumowewe merupakan wilayah yang terluas yaitu:

25,07km2dan wilayah terkecil yaitu Desa Puuosu yaitu: 7,00km2.

3. Jumlah Desa/Kelurahan

Tabel 1.Jumlah Desa/Kelurahan di Wilayah Kerja Puskesmas Mowewe

No Kelurahan/Desa Luas Jumlah

Penduduk Wilayah (km2)

1 Kelurahan Inebenggi 20,40 1,244

2 Kelurahan Woitombo 10,76 1,889

3 Kelurahan Horodopi 13,39 1,007

4 Desa Puuosu 7,00 475

5 Desa Nelombuu 8,98 872

6 Desa Ulumowewe 25,07 487

7 Desa Watupute 23,13 941

8 Desa Lapangisi 11,48 578

9 Desa Lambotua 7,02 451

10 Desa Sabi-sabila 16,06 445 Jumlah 143,29 8,429

Sumber : Kecamatan Mowewe (2017)

51

4. Batasan – batasan Wilayah :

- Sebelah Utara kecamatan Uluiwoi

- Sebelah Barat kecamatan Kolaka

- Sebelah selatan Kecamatan Wundulako

- Sebelah Timur Kecamatan Tinondo

5. Keadaan alam :

Keadaan alam 100% dataran dengan dataran rata

6. Prasarana transportasi :

60 % jalan aspal, 40 % jalan tanah/berbatu

7. Mata pencaharian :

Umumnya petani sekitar 50 %, PNS 30 %, Lain – lain 20 %

(Sumber : Seksi Pemerintahan Kec. Mowewe Tahun 2016)

8. Sarana Kesehatan

a. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM)

Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi

masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan dengan

pendekatan; Pemeliharaan, Peningkatan kesehatan

(promotif), Pencegahan penyakit (preventif), Penyembuhan

penyakit (kuratif), dan Pemulihan kesehatan (rehabilitatif)

yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu,

danberkesinambungan. Sedangkan usaha-usaha Kesehatan

Masyarakat meliputi:

1. Program Pelayanan Kesehatan Dasar

2. Program kesehatan ibu dan anak (KIA)

3. Program Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)

4. Keluarga Berencana (KB)

5. Program Hygiene Sanitasi (HS) Lingkungan

6. Hygiene Perusahaan dan kesehatan kerja

7. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat (PKM)

8. Program Gizi Masyarakat

52

0

5

10

15

20

25

1 3 2

22 23

2 3 2 1 1

9. Pemeriksaan, Pengobatan dan Perawatan Kesehatan

Masyarakat

10. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)

11. Usaha kesehatan gigi, mata dan jiwa

12. Rehabilitasi

13. Usaha-usaha farmasi dan laboratorium kesehatan

14. Statistik kesehatan

9. Tenaga Kesehatan

Dalam pembangunan kesehatan diperlukan berbagai tenaga

kesehatan yang memiliki kemampuan upaya melaksanakan upaya

kesehatan dengan paradigma hidup sehat, yang mengutamakan

upaya peningkatan, pemeliharaan kesehatan dan pencegahan

penyakit. Pengadaan tenaga kesehatan di laksanakan melalui

upaya pendidikan dan pengembangan tenaga kesehatan melalui

pelatihan oleh pemerintah maupun masyarakat.

Saat ini tenaga Kesehatan yang bertugas di Puskesmas

Mowewe pada tahun 2017, selengkapnya pada Gambar Berikut ini :

Gambar 1. Tenaga Kesehatan Puskesmas Mowewe Tahun 2017

Sumber : Puskesmas Mowewe(2017)

53

B. Hasil Penelitian

Hasil penelitian diperoleh dari proses pengumpulan data yang dilakukan

pada bayi usia 6 bulan di semua posyandu di wilayah kerja puskesmas

mowewe kabupaten kolaka timur pada bulan oktober 2017. Data penelitian

diperoleh secara primer dari hasil kuesioner yang diisi oleh responden dan

secara sekunder melalui hasil penimbangan setiap bulan yang tercatat di

KMS.Pada penelitian ini didapatkan sebanyak 43 sampel yang memenuhi

kriteria.

Penyajian data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu, data umum

dan data khusus. Data umum menyajikan tentang usia ibu, pendidikan,

pekerjaan, dan asupan nutrisi bayi. Data khusus menyajikan tentang

variabel yang akan diteliti, yaitu Perbedaan pertambahan berat badan bayi

usia 6 bulan yang diberi ASI Eksklusif dan Susu Formula.

1. Distribusi frekuensi ibu yang bayinya diberi ASI Eksklusif berdasarkan usia.

Tabel 4. Distribusi frekuensi ibu yang bayinya diberi ASI Eksklusif berdasarkan usia Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mowewe kabupaten Kolak Timur tahun 2017

Usia Ibu (Tahun) Frekuensi (F) Persentase (%)

20 – 25 tahun 4 17,40

26 – 30 tahun 17 73,91

31 – 35 tahun 2 8,69

Jumlah 23 100

Berdasarkan tabel 4 di atas dapat diketahui distribusi frekuensi sebagian

besar ibu usia 26 - 30 tahun yaitu sebanyak 17 orang( 73,91%). Sedang

sebagian kecil ibu usia 31 - 35 tahun yaitu sebanyak 2 orang (8,69%)

2. Karasteristik ibu yang bayinya diberi Susu Formula berdasarkan usia

54

Tabel 5.Distribusi frekuensi ibu yang bayinya diberi Susu Formula berdasarkan usia di Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mowewe kabupaten Kolaka Timur tahun 2017

Usia Ibu (Tahun) Frekuensi (F) Persentase (%)

20 – 25 tahun 7 30,43

26 – 30 tahun 13 56,53

31 – 35 tahun 3 13,04

Jumlah 23 100

Berdasarkan tabel 5 di atas dapat diketahui distribusi frekuensi sebagian

besar ibu usia 26 – 30 tahun yaitu sebanyak 13 orang(56,53%). Sedang

sebagian kecil ibu usia 31 – 35 tahun yaitu sebanyak 3 orang (13,04%)

3. Karakteristik Ibu yang Bayinya Diberi ASI Eksklusif Berdasarkan Pendidikan Tabel 6.Distribusi frekuensi ibu yang bayinya diberi ASI Eksklusif berdasarkan tingkat pendidikan di Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mowewe kabupaten Kolaka Timur tahun 2017

Pendidikan Frekuensi (F) Persentase (%)

SD 4 17,39

SMP 6 26,08

SMA 13 56,53

AKADEMIK / PT 0 0

Jumlah 23 100

Berdasarkan tabel 6. di atas dapat diketahui distribusi frekuensi

sebagian besar ibu yang berpendidikan SMA sebanyak 13 orang

(56,53%). Sedangkan sebagian kecil ibu yang berpendidikan SD

sebanyak 4 orang (17,39%).

4. Karakteristik Ibu Yang Bayinya Diberi Susu Formula Berdasarkan Pendidikan .

55

Tabel 7. Distribusi frekuensi ibu yang bayinya diberi susu formula berdasarkan tingkat pendidikan di Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mowewe kabupaten Kolaka Timur tahun 2017

Pendidikan Frekuensi (F)

Persentase (%)

SD 3 13,04

SMP 10 43,48

SMA 9 39,13

AKADEMIK / PT 1 4,35

Jumlah 23 100

Berdasarkan tabel 7. di atas dapat diketahui distribusi frekuensi

sebagian besar ibu yang berpendidikan SMP sebanyak 10 orang

(43,48%). Sedangkan sebagian kecil ibu yang berpendidikan

Akademik/PT sebanyak 1 orang (4,35%).

5. Karakteristik Ibu Yang Bayinya Diberi ASI Eksklusif Berdasarkan Pekerjaan Tabel 8.Distribusi frekuensi ibu yang bayinya diberi ASI Eksklusif berdasarkan pekerjaan di Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mowewe kabupaten Kolaka Timur tahun 2017

B

e

r

dasarkan tabel 8. diatas dapat diketahui distribusi frekuensi sebagian

besar ibu yang tidak bekerja (IRT) sebanyak 16 orang

(69,57%).sedangkan sebagian kecil ibu yang Swasta sebanyak 7

orang (30,43%).

6. Karakteristik Ibu Yang Bayinya Diberi Susu Formula Berdasarkan Pekerjaan

Pekerjaan Frekuensi (F) Persentase (%)

Tidak Bekerja (IRT) 16 69,57

Swasta / Wiraswasta 7 30,43

PNS 0 0

Jumlah 23 100

56

Tabel 9.Distribusi frekuensi ibu yang bayinya diberi Susu Formula berdasarkan pekerjaan di Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mowewe kabupaten Kolaka Timur tahun 2017

Pekerjaan Frekuensi (F) Persentase (%)

Tidak Bekerj(IRT) 8 34,78

Swasta / Wiraswasta 14 65,22

PNS 1 4,3

Jumlah 23 100

Berdasarkan tabel 9. diatas dapat diketahui distribusi frekuensi

sebagian besar ibu yang Swasta / Wiraswasta sebanyak 15 orang

(65,22%).sedangkan sebagian kecil ibu yang tidak bekerja (IRT)

sebanyak 8 orang (34,78%).

7. Karakteristik Bayi Diberi Berdasarkan Asupan Nutrisi Bayi. Tabel 10. Distribusi Frekuensi bayi berdasarkan Asupan nutrisi bayi di Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mowewe kabupaten Kolaka Timur tahun 2017

Asupan Nutrisi Frekuensi (F) Prosentase (%)

ASI Eksklusif 23 50

Susu Formula 23 50

Jumlah 46 100

Berdasarkan tabel 10. diatas dapat diketahui bahwa sebagian

besar dari ibu adalah ibu bayi yang diberi ASI Eksklusif, yaitu

sebanyak 23 orang (50%), dan yang sebagian adalah ibu bayi yang

diberi susu formula, yaitu sebanyak 23 orang (50%).

8. Pertambahan Berat Badan Bayi yang Diberi ASI Eksklusif

57

Tabel 11. Distribusi frekuensi berat badan bayi yang diberi ASI Eksklusif di Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mowewe kabpaten Kolaka Timur tahun 2017

Tabel 11. menunjukan bahwa sebagian besar dari bayi yang

diberi ASI Eksklusif pertambahan berat badan bayi normal yaitu

sebanyak 14 bayi (60,86%), dan 9 bayi yang diberi ASI Eksklusif

(47,3%) pertambahan berat badan bayi tidak normal.

9. Pertambahan Berat Badan Bayi yang Diberi Susu Formula

Tabel 12 .Distribusi frekuensi berat badan bayi yang diberi Susu

Formula di Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mowewe kabupaten

Kolaka Timur tahun 2017

Berat Badan Frekuensi (F) Persentase

(%)

Normal 6 26,09

Tidak Normal 17 73,91

Jumlah 23 100

Tabel 12. menunjukan bahwa sebagian besar dari bayi yang

diberi Susu Formula pertambahan berat badan bayi normal yaitu

sebanyak 6 bayi (26,09%), dan 17 bayi yang diberi Susu Formula

(73,91%) pertambahan berat badan bayi tidak normal.

10. Perbedaan pertambahan berat badan bayi usia 6 bulan yang diberi ASI Eksklusif dan Susu Formula

Berat Badan Frekuensi (F) Prosentase (%)

Normal 14 60,86

Tidak Normal 9 39,14

Jumlah 23 100

58

Tabel 12. Tabulasi silang perbedaan pertambahan berat badan bayi usia 6 bulan yang diberi ASI Eksklusif dan Susu Formula di Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mowewe kabupaten Kolaka Timur tahun 2017

Berat Badan

Asupan Nutrisi Jumlah Asi

Eksklusif Susu Formula

F % F % F %

Normal 14 70 6 30 20 100

Tidak Normal 9 34,61 17 65,39 26 100

Jumlah 46 = 0,025

Tabel 12. menunjukan mengenai perbedaan pertambahan beratbadan

bayi yang diberi ASI Eksklusif dan Susu Formula , dari 46 bayi, 23 bayi

yang diberi ASI Eksklusif (50%) yang pertambahan berat badannya

normal sebanyak 14 bayi (30,43%), dan 9 bayi (19,57%) pertambahan

berat badan tidak normal, sedangkan dari 23 bayi yang diberi Susu

Formula (50%) terdapat 6 bayi (13,04%) pertambahan berat badannya

normal dan 17 bayi (36,96%) pertambahan berat badannya tidak

normal.

Hasil analisa ini menggunakan rumus wilcoxon, untuk

mengetahui perbedaan pertambahan berat badan bayi yang diberi ASI

Eksklusif dan Susu Formula dapat dilihat dari nilai harga Z hitung.

Pada penelitian ini peneliti menggunkan taraf kesalahan ( )sebesar

0,025, dari hasil uji wilcoxon diperoleh nilai harga Z hitung lebih besar

dari Z tabel sebesar (4,472 > -1,96 harga (-) tidak diperhitungkan

karena harga mutlak) maka H0 ditolak dan H1 diterima, berarti

59

kesimpulannya adalah ada perbedaan pertambahan berat badan bayi

yang diberi ASI Eksklusif dan Susu Formula.

C. Pembahasan

1. Pertambahan Berat Badan Bayi yang Diberi ASI Eksklusif

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 11 dari 23 bayi yang

diberi ASI Eksklusif didapatkan hasil 14 bayi (60,86%)

pertambahan berat badan Normal.

ASI Eksklusif adalah pemberian ASI sedini mungkin setelah

lahir sampai bayi berumur 6 bulan tanpa pemberian makanan

lain. Setelah 6 bulan, bayi mulai dikenalkan dengan dengan

makanan lain dan tetap diberikan ASI sampai bayi berumur 2

tahun (Purwanti, 2004).

Berdasarkan data diatas pada tabel 11 bahwa bayi yang

mendapat ASI Eksklusif sejumlah 14 bayi (60,86%) hampir

sebagian dari jumlah 23 responden, bahwa pada bayi yang

diberi ASI Eksklusif cenderung tidak mengalami kelebihan berat

badan karena dalam ASI banyak mengandung zat-zat yang

tepat yang dapat dicerna dengan baik oleh saluran pencernaan

bayi. Bayi yang diberi ASI mempunyai berat badan normal

dikarenakan komposisi ASI yang tepat dan menyediakan

antibodi atau zat kekebalan untuk membantu melawan infeksi /

alergi.

60

Berdasarkan data yang didapat pada tabel 4 ibu dengan

usia 20 – 25 tahun ada 4 orang (17,40%), usia 26 – 30 tahun

ada 17 orang(73,91%) dan usia 31 – 35 tahun ada 2 orang

(8,69%) masing-masing bayi diberi ASI Eksklusif.

Menurut teori Notoatmodjo (2010) menyebutkan bahwa

semakin cukup umur, maka tingkat berfikir dan bertindak

seseorang lebih rasional, hal ini sebagai akibat dari pengalaman

dan kematangan jiwanya sehingga memungkinkan mudahnya

seseorang dalam hal menerima informasi secara baik dan fungsi

meningatnya juga berjalan dengan baik.

Berdasarkan data yang diperoleh pada tabel 4 yaitu antara

usia 26-30 tahun ibu bayi lebih banyak memberikan ASI

Eksklusif pada bayinya. Semakin dewasa seseorang semakin

banyak pula informasi yang diperoleh sehingga membentuk pola

pikir yang semakin baik dan memungkinkan pencerminan sikap

secara positif dalam seluruh aspek kehidupan.

Berdasarkan data yang didapat pada tabel 6 dapat

diketahui ibu yang berpendidikan SD ada 4 ibu bayi (17,39%),

pendidikan SMP ada 6 ibu bayi (26,08%), dan pendidikan SMA

ada 13 ibu bayi (56,53%). Menurut toeri Friedman (2005),

dijelaskan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan

seseorang, maka perilaku akan lebih bersifat langgeng. Dengan

kata lain ibu yang tahu dan paham tentang manfaat pemberian

61

ASI Eksklusif, maka ibu akan berperilaku sesuai dengan apa

yang diketahui.

Berdasarkan data yang diperoleh ibu dengan pendidikan

tinggi tentunya memiliki tingkat pemahaman cukup baik dalam

menerima informasi, dan pendidikan yang tinggi memudahkan

seseorang untuk memahami sesuatu, sehingga mereka

mengetahui dengan benar tentang kapan waktu pemberian ASI

eksklusif yang tepat pada bayi. Sedangkan ibu dengan

pendidikan yang kurang masih belum mengetahui tentang

kapan waktu pemberian ASI eksklusif yang tepat sehingga bayi

dapat tepat mendapatkan ASI eksklusif sesuai dengan umurnya.

Berdasarkan data yang diperoleh pada tabel 11 sebagian

bayi yang diberi ASI Eksklusif yaitu 9 bayi (39,14%) mengalami

pertambahan berat badan tidak normal. ASI eksklusif adalah

pemberian ASI tanpa makanan dan minuman pendamping

(termasuk air jeruk, madu, air gula), yang dimulai sejak bayi

baru lahir sampai usia 6 bulan. (Ari Sulistyawati,2009).

Berdasarkan data yang diperoleh pada tabel 8 pekerjaan

dapat diketahui bahwa sebagian besar dari pekerjaan ibu bayi

adalah IRT, yaitu 16 ibu bayi (69,57%), dan paling sedikit adalah

swasta /wiraswasta, yaitu 7 ibu bayi (30,43%). Menurut Azwar

(2002) mengatakan bahwa semakin seseorang berinteraksi

maka akan terjadi hubungan timbal balik yang pada akhirnya

62

mempengaruhi pola perilaku masing-masing individu, sebaliknya

jika seseorang kurangnya interaksi akan mempengaruhi tingkat

pemahaman dan pengalamanan mereka tentang suatu hal.

Berdasarkan data yang diperolehyaitu ibu yang tidak bekerja

(IRT) lebih banyak memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya,

Karena ibu yang tidak bekerja (IRT) lebih banyak mempunyai

waktu dengan bayinya karna ibu selalu dirumah sehingga ibu

dapat memberikan ASI kepada bayinya setiap waktu.

2. Pertambahan Berat Badan Bayi yang Diberi Susu Formula

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 12 dari 23 bayi yang

diberi susu formula didapatkan hasil 6 bayi (26,09%)

pertambahan berat badan Normal. Susu Formula merupakan

susu sapi yang susunan nutrisinya diubah sedemikian rupa

hingga dapat diberikan kepada bayi tanpa memberikan efek

samping. Susu formula berfungsi sebagai pengganti ASI. Susu

formula memiliki peranan penting dalam makanan bayi karena

seringkali digunakan sebagai satu - satunya sumber gizi bagi

bayi (Khasanah, 2011).

Berdasarkan data yang diperolehsebagian bayi yang

pertambahan berat badan normal dikarenakan susu formula

berfungsi sebagai pengganti ASI yang susunan nutrisinya

diubah sedemikian rupa.

63

Berdasarkan data yang diperoleh pada tabel 9 berdasarkan

pekerjan dapat diketahui bahwa sebagian besar dari pekerjaan

ibu bayi adalah swasta / wiraswasta, yaitu 15 ibu bayi (65,22%),

dan paling sedikit adalah IRT, yaitu 8 ibu bayi (34,78%).

Menurut teori prasetyo (2009) beragam faktor yang menjadikan

kendala ketika menyusui antara lain ibu bekerja diluar rumah,

ASI belum keluar saat hari pertama, kurangnya pemahaman ibu

mengenai kolostrum serta ibu beranggapan kandungan gizi ASI

rendah.

Menurut peneliti hal ini sesuai dengan data diatas bahwa ibu

yang bekerja diluar rumah cenderung lebih memilih memberikan

susu formula untuk bayinya dari pada ASI.

Berdasarkan data yang diperoleh pada tabel 12sebagian bayi

yang diberi susu formula yaitu 17 bayi (73,91%) mengalami

pertambahan berat badan tidak normal. Susu formula adalah susu

yang dibuat dari susu sapi atau susu buatan yang diubah

komposisinya dan diformulasikan sedemikian rupa sehingga dapat

dipakai sebagai pengganti ASI dan dapat memberikan

keseimbangan zat gizi bagi bayi (Lewis, 2002). Karena dalam

susu formula kandungan lemak lebih banyak daripada kandungan

protein dan pemberiannya dapat dilakukan oleh siapa saja.

Berdasarkan data yang diperoleh bayi yang diberi susu

formula sebagian besar mengalami pertambahan berat badan

64

yang tidak normal, hal ini dikarenakan efek dari pemberian dan

juga kandungan dari susu formula. Seharusnya bayi yang diberi

susu formula harus diberikan sesuai dengan takaran yang berada

di box susu agar pertambahan berat badannya tidak melebihi atau

kurang dari standart pertambahan berat badan.

3. Perbedaan Pertambahan Berat Badan Bayi Usia 6 Bulan yang

Diberi Asi Eksklusif dan Susu Formula

Berdasarkan hasil tabulasi silang pada tabel 13 dapat

diketahui mengenai perbedaan pertambahan berat badan bayi

usia 6 bulan yang diberi ASI Eksklusif dan susu formula, didapat

bahwa dari 46 bayi meliputi 23 bayi yang diberi ASI Eksklusif

(50%) terdapat 14 bayi yang diberi ASI Eksklusif (70%) yang

memiliki pertambahan berat badan normal, dan 9 bayi yang diberi

ASI Eksklusif (34,91%) memiliki pertambahan berat badan bayi

tidaknormal. Sedangkan bayi yang diberi susu formula meliputi 23

bayi (50%) terdapat 6 bayi yang diberi susu formula (30%) yang

memiliki pertambahan berat badan normal, dan 17 bayi yang

diberi susu formula (65,39%) memiliki pertambahanberat badan

tidak normal. Dari data tersebut yang pertambahan berat badan

normal lebih banyak bayi yang diberi ASI Eksklusif dibanding bayi

yang diberi susu formula, dan pertambahan berat badan tidak

normal lebih banyak bayi yang diberi susu formula dibanding bayi

yang diberi ASI Eksklusif.

65

Menurut Simposium Nasional (2014), Bayi yang

mendapatkan ASI umumnya tumbuh lebih cepat pada2-3 bulan

pertama kehidupannya, tetapi lebih lambat dibanding dengan bayi

yang tidak mendapat ASI eksklusif. Hasil yang mirip juga

diperlihatkan oleh penelitian lain, berat badan bayi yang

mendapat ASI eksklusif lebih ringan dibanding bayi yang

mendapat susu formula sampai usia 6 bulan. Hal ini bukan berarti

bahwa berat lebih pada bayi yang mendapat susu formula, lebih

baik dibanding bayi yang mendapat ASI. Berat berlebih pada bayi

yang mendapat susu formula justru menandakan terjadi

kegemukan.

Berdasarkan hasil analisa menggunakan rumus wilcoxon,

untuk mengetahui perbedaan pertambahan berat badan bayi yang

diberi ASI Eksklusif dan Susu Formula dapat dilihat dari nilai

harga Z hitung. Pada penelitian ini peneliti menggunkan taraf

kesalahan ( )sebesar 0,025, dari hasil uji wilcoxon diperoleh nilai

harga Z hitung lebih besar dari Z tabel sebesar (4,472 > -1,96

harga (-) tidak diperhitungkan karena harga mutlak) maka H0

ditolak dan H1 diterima, berarti kesimpulannya adalah ada

perbedaan pertambahan berat badan bayi yang diberi ASI

Eksklusif dan Susu Formula.

Berdasarkan data yang diperoleh pertambahan berat badan

normal pada bayi usia 6 bulan cenderung lebih banyak bayi yang

66

diberi ASI Eksklusif dibanding bayi yang diberi susu formula,

pada bayi yang diberi ASI Eksklusif kebutuhan gizi yang didapat

sudah sesuai dengan yang dibutuhkan tubuh bayi. Sedangkan

bayi yang diberi susu formula mendapatkan gizi yang berlebih

dari yang dibutuhkan tubuh bayi karena kandungan susu formula

lebih banyak lemak daripada protein selain itu, cara pemberian

susu formula juga dapat mempengaruhi pertambahan berat

badan bayi.

67

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dengan judul

perbedaan pertambahan berat badan bayi usia 6 bulan yang diberi

ASI Eksklusif dan susu formula di Wilayah kerja Puskesmas

Kecamatan Mowewe kabupaten Kolaka Timur tahun 2017dengan

jumlah sampel 46 ibu bayi usia 6 bulan, 23 ibu bayi yang diberi ASI

Eksklusif dan 23 ibu bayi yang diberi Susu formula, maka diperoleh

kesimpulan sebgai berikut.

1. Sebagian besar bayi yang diberi ASI Eksklusif sebanyak

14(60,86%) mengalami pertambahan berat badan normal.

2. Sebagian besar bayi yang diberi Susu formula sebanyak 17

(73,91%) mengalami pertambahan berat badan tidak normal.

3. Terdapat perbedaan pertambahan berat badan bayi yang diberi

ASI Eksklusif dengan bayi yang diberi susu formula di Wilayah

kerja Puskesmas Kecamatan Mowewe kabupaten Kolaka Timur

tahun 2017

B. Saran

1. Pemberian asi eksklusif pada bayi selama 6 bulan diperlukan

untuk memperoleh berat badan yang ideal.

67

68

2. Pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan sebaiknya

dihindari untuk menghindari gangguan pertumbuhan bayi

mapun obesitas dikemudian hari.

69

Lampiran 1

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada :

Yth. Ibu Bayi

Dengan hormat,

Saya yang bertanda tangan di bawah ini adalah Mahasiswa Poltekkes

Kemenkes Kendari Program Studi DIV Kebidanan :

Nama : Endah Wijiastuti Saputro

NIM : P0031206066

Akan mengadakan penelitian dengan judul “ Perbedaan Pertambahan

Berat Badan Bayi Usia 6 Bulan Yang Diberi ASI Eksklusif dan Susu

Formula Di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Mowewe Kabupaten

Kolaka Timur ”. Untuk itu kami mohon bantuan kepada ibu, kiranya bersedia

memberikan informasi dengan cara lembar rekapitulasi terlampir.

Kerahasiaan semua informasi akan dijaga dan hanya digunakan untuk

kepentingan penelitian.

Atas perhatian, kerjasama dan kesediaannya dalam berpartisipasi

sebagai responden dalam penelitian ini, saya menyampaikan banyak terima

kasih dan berharap informasi anda akan berguna, khususnya dalam

penelitian ini.

Hormat Saya,

70

Lampiran 2

INFORMED CONSENT

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama :

Umur :

Alamat :

Berdasarkan penjelasan yang telah diberikan, bersama ini kami

menyatakan tidak keberatan untuk menjadi responden dalam studi penelitian

yang berjudul “Perbedaan Pertambahan Berat Badan Bayi Usia 6 Bulan

Yang Diberi ASI Eksklusif dan Susu Formula Di Wilayah Kerja

Puskesmas Kecamatan Mowewe Kabupaten Kolaka Timur

Demikian pernyataan yang kami buat tanpa ada kepaksaan dan

tekanan dari pihak manapun.

Kendari, 2017

Responden

Keterangan

*) coret yang tidak perlu

71

Lampiran 3

LEMBAR KOESIONER

PERBEDAAN PERTAMBAHAN BERAT BADAN BAYI USIA 6 BULAN

YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF DAN SUSU FORMULA WILAYAH KERJA

PUSKESMAS KECAMATAN MOWEWE KABUPATEN KOLAKA TIMUR

Petunjuk : Isilah biodata anda dan bayi anda secara lengkap, benar, dan

jujur apa adanya agar didapatkan data yang benar, akurat dan

objektif.

A. Identitas Responden

1. Identitas Orang Tua

a. Nama Inisial : Ny.”.....”

b. Umur : ........th

c. Pendidikan :

Tidak tamat SD

SD

SMP

SMA

Akademi / PT

72

d. Pekerjaan :

Tidak Bekerja (IRT)

PNS

Wiraswasta / Swasta

2. Identitas Bayi

a. Nama inisial :

b. Umur :

c. BB Lahir :

d. Asupan Nutrisi :

1. Apakah bayi ibu selama usia 0-6 bulan hanya ibu beri ASI

tanpa memberi makanan tambahan apapun (Nasi,pisang, dll)

dan susu formula?

Ya

Tidak

2. Apakah bayi ibu selama usia 0-6 bulan hanya ibu beri susu

formula tanpa memberi ASI dan makanan tambahan apapun

(Nasi,pisang,dll)?

Ya

Tidak

73

Lampiran 4

TABEL REKAPITULASI DATA PERBEDAAN PERTAMBAHAN BERAT BADAN BAYI USIA 6 BULAN YANG DIBERI ASI

EKSKLUSIF DAN SUSU FORMULA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MOWEWE KABUPATEN KOLAKA TIMUR

TAHUN 2017

ASI EKSKLUSIF

NO Pertambahan BB Jumlah - - 2 S T MT Kategori

Normal Tidak Normal

1 1 1 0,6086 0,3914 0,1531 1,1674 53,352 50 √

2 1 1 0,3914 0,1531 53,352 √

3 1 1 0,3914 0,1531 53,352 √

4 0 0 - 0, 6086 0,3703 44,787 √

5 1 1 0,3914 0,1531 53,352 √

6 0 0 - 0, 6086 0,3703 44,787 √

7 1 1 0,3914 0,1531 53,352 √

8 1 1 0,3914 0,1531 53,352 √

9 1 1 0,3914 0,1531 53,352 √

10 0 0 - 0, 6086 0,3703 44,787 √

11 1 1 0,3914 0,1531 53,352 √

12 0 0 - 0, 6086 0,3703 44,787 √

13 1 1 0,3914 0,1531 53,352 √

14 0 0 - 0, 6086 0,3703 44,787 √

15 0 0 - 0, 6086 0,3703 44,787 √

16 1 1 0,3914 0,1531 53,352 √

17 0 0 - 0, 6086 0,3703 44,787 √

74

18 1 1 0,3914 0,1531 53,352 √

19 1 1 0,3914 0,1531 53,352 √

20 1 1 0,3914 0,1531 53,352 √

21 0 0 - 0, 6086 0,3703 44,787 √

22 0 0 - 0, 6086 0,3703 44,787 √

23 1 1 0,3914 0,1531 53,352 √

Keterangan :

a. ASI eksklusif

Pertambahan BB Normal : 60,86 %

Pertambahan BB Tidak Normal : 39,14 %

= 14 = 0,6086 MT = 1150,011= 50 23 23

S = √( )

√( )

= √

= √ = 1,1674

T = 50 + 10 [

]

75

SUSU FORMULA

NO Pertambahan BB Jumlah - - 2 S T MT Kategori

Normal Tidak Normal

1 1 1 0,2608 0,7392 0,5464 0,9454 57,818 50 √

2 1 1 0,7392 0,5464 57,818 √

3 0 0 - 0,2608 0,0680 47,242 √

4 0 0 - 0,2608 0,0680 47,242 √

5 1 1 0,7392 0,5464 57,818 √

6 0 0 - 0,2608 0,0680 47,242 √

7 0 0 - 0,2608 0,0680 47,242 √

8 0 0 - 0,2608 0,0680 47,242 √

9 0 0 - 0,2608 0,0680 47,242 √

10 0 0 - 0,2608 0,0680 47,242 √

11 0 0 - 0,2608 0,0680 47,242 √

12 1 1 0,7392 0,5464 57,818 √

13 0 0 - 0,2608 0,0680 47,242 √

14 0 0 - 0,2608 0,0680 47,242 √

15 0 0 - 0,2608 0,0680 47,242 √

16 0 0 - 0,2608 0,0680 47,242 √

17 0 0 - 0,2608 0,0680 47,242 √

18 1 1 0,7392 0,5464 57,818 √

19 1 1 0,7392 0,5464 57,818 √

20 0 0 - 0,2608 0,0680 47,242 √

76

21 0 0 - 0,2608 0,0680 47,242 √

22 0 0 - 0,2608 0,0680 47,242 √

23 0 0 - 0,2608 0,0680 47,242 √

Keterangan :

a. Susu Formula

Pertambahan BB Normal : 26,09 %

Pertambahan BB Tidak Normal : 73,91 %

= 6 = 0,2608 MT = 1150,022= 50 23 23

S = √( )

√( )

= √

= √ = 0,9454

T = 50 + 10 [

]

Lampiran 5

Wilcoxon Signed Ranks Test

Test Statisticsb

Pertambahan BB – Group

Z -4.472a

Asymp. Sig. (2-

tailed)

.000

a. Based on positive ranks.

b. Wilcoxon Signed Ranks Test

= taraf error >< taraf signifikan

5% (0,05) 95%

= 0,05 = 0,025

2

Zhitung = 4,472 > Ztabel = 1,96

Bila taraf kesalahan = 0,025, maka harga z tabel = 1,96. Harga z hitung

4,472 ternyata lebih besar dari -1,96 (ingat harga (-) tidak diperhitungkan karena

harga mutlak), dengn demikian H0 ditolak H1 diterima. Jadi ada perbedaan

pertambahan berat badan bayi usia 6 bulan yang diberi ASI eksklusif dan Susu

formula di Wilayah kerja PuskesmasMowewe Kabupaten kolaka Timur Tahun

2017

Lampiran 6

TABEL HARGA-HARGA KRITIS Z DALAM OBSERVASI

DISTRIBUSI NORMAL

z 0,00 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05 0,06 0,07 0,08 0,09

0,0 0,5000 0,4960 0,4920 0,4880 0,4840 0,4801 0,4761 0,4721 0,4681 0,4641

0,1 0,4602 0,4562 0,4522 0,4483 0,4443 0,4404 0,4364 0,4325 0,4286 0,4247

0,02 0,4207 0,4168 0,4129 0,4090 0,4052 0,4013 0,3974 0,3936 0,3897 0,3859

0,3 0,3821 0,3783 0,3745 0,3707 0,3669 0,3632 0,3594 0,3557 0,3520 0,3483

0,4 0,3446 0,3409 0,3372 0,3336 0,3300 0,3264 0,3228 0,3192 0,3156 0,3121

0,5 0,3086 0,3050 0,3015 0,2981 0,2946 0,2912 0,2877 0,2877 0,2810 0,2776

0,6 0,2743 0,2709 0,2676 0,2643 0,2611 0,2578 0,2546 0,2546 0,2489 0,2451

0,7 0,2420 0,2389 0,2358 0,2327 0,2297 0,2266 0,2236 0,2236 0,2177 0,2148

0,8 0,2119 0,2090 0,2061 0,2033 0,2005 0,1977 0,1949 0,1949 0,1894 0,1867

0,9 0,1841 0,1814 0,1788 0,1762 0,1736 0,1711 0,1685 0,1685 0,1635 0,1611

1,0 0,1587 0,1562 0,1535 0,1515 0,1492 0,1469 0,1446 0,1423 0,1401 0,1379

1,1 0,1357 0,1335 0,1314 0,1292 0,1271 0,1251 0,1230 0,1220 0,1190 0,1170

1,2 0,1151 0,1131 0,1112 0,1093 0,1075 0,1056 0,1038 0,1020 0,1003 0,0985

1,3 0,0968 0,0951 0,0934 0,0918 0,0901 0,0885 0,0809 0,0853 0,0838 0,0823

1,4 0,0808 0,0793 0,0778 0,0764 0,0749 0,0735 0,0721 0,0708 0,0694 0,0681

1,5 0,0668 0,0655 0,0643 0,0630 0,0618 0,0606 0,0594 0,0581 0,0571 0,0559

1,6 0,0548 0,0537 0,0526 0,0516 0,0505 0,0495 0,0485 0,0475 0,0465 0,0455

1,7 0,0445 0,0436 0,0427 0,0418 0,0409 0,0401 0,0392 0,0384 0,0375 0,0367

1,8 0,0359 0,0351 0,0344 0,0336 0,0329 0,0322 0,0314 0,0307 0,0301 0,0294

1,9 0,0287 0,0281 0,0274 0,0268 0,0262 0,0256 0,0250 0,0244 0,0239 0,0233

2,0 0,0228 0,0222 0,0217 0,0212 0,0207 0,0202 0,0197 0,0192 0,0188 0,0183

2,1 0,0179 0,0174 0,0170 0,0166 0,0162 0,0158 0,0154 0,0150 0,0146 0,0143

2,1 0,0139 0,0136 0,0132 0,0129 0,0125 0,0122 0,0119 0,0116 0,0113 0,0110

2,3 0,0107 0,0104 0,0102 0,0099 0,0096 0,0094 0,0091 0,0089 0,0087 0,0084

2,4 0,0082 0,0080 0,0078 0,0075 0,0073 0,0071 0,0069 0,0068 0,0066 0,0064

2,5 0,0062 0,0060 0,0059 0,0057 0,0055 0,0054 0,0052 0,0051 0,0049 0,0048

2,6 0,0047 0,0045 0,0044 0,0043 0,0041 0,0040 0,0039 0,0038 0,0037 0,0036

2,7 0,0035 0,0034 0,0033 0,0032 0,0031 0,0030 0,0029 0,0028 0,0027 0,0026

2,8 0,0026 0,0025 0,0024 0,0023 0,0023 0,0022 0,0021 0,0021 0,0020 0,0019

2,9 0,0019 0,0018 0,0018 0,0017 0,0016 0,0016 0,0015 0,0015 0,0014 0,0014

3,0 0,0013 0,0013 0,0013 0,0012 0,0012 0,0011 0,0011 0,0011 0,0010 0,0010

3,1 0,0010 0,0009 0,0009 0,0009 0,0008 0,0008 0,0008 0,0008 0,0007 0,0007

3,2 0,0007

3,3 0,0005

3,4 0,0003

3,5 0,0023

3,6 0,0016

3,7 0,0011

3,8 0,0007

3,9 0,0005

4,0 0,0003