4
IJD 2rn6: Etlisi Kh66 KPPIKA XI, PERAWATANFRAKTUR ELLIS KELAS II AKIBAT TRAUMA PADA GIGI INSISIF SENTRALATAS PERMANEN ANAK LAKI.LAKI USIA 9 TAIIUN (Laporan Kasus) Marisa Edyans, Eeriandi Sutadi Deparremen Ilmu Kesehatan cigi AnakFakultas Kedokteran Gigi Universitas lndonesE Abstract Treatment ol Ellis ClassII Frrctures in Maxillsry Central Incisors Caused by Traum, on a 9 yesrs OId Boy Dental rrauma in childhood andadorescence is a common accidents, with the most accident-prone time is betwen 9 and l0 years ord. Boys affected ar almost twicethan girrs and the maxilrary central incisofs are the most affected. This report describes an Erris class II fractur; in ma{ilrary centrai incisors caused by tmuma on a 9 years old boys.The case was treated by pulp capping and restored by composrr materjal. IhdonesnnJou al of Deflktry 2006: Edisi Khusus KpptKC Xtt . i89_jg2 Key word: fauma,class Il ellis,composite restorauon Pendahuluan . . Tmumayang menlebabkan fiak-rur padagigi msrsrt permanen, merupakan pengalaman yang rnenalutkan pada pasien anak. Keadaan rnr membutul*an pengalaman,pnilaian dan penga- laman yang cukup mmadai pada seliap dokrer gigi.l Trauma pada gigi selalu harus dipertimbangkan sebagai suatu keadaan darurat dan harus sesera dilakxkan perawaBn unrut mengurangi rasasikir, mengurangi risiko bertambahnyakerusakan gigi sehingga menghasilkan prognosis yanglebih baik., Pada gigi sulung maupun gigi permarcn, trauma paling sering mengenai gigi anterior, ftrurama gigi insisif sentral rahang atas. Hal ini disebabkan posisinya yang paling menonjol dalam mulut dan paling sering menerima pukrlan langsung. _ Terjadinya ftaktur pada gigi anlerior didukung oleh faktor predisposisi antara lain accide prcne proJile dengan susunan gigi antenor yang protrusif dengan jarak oee4et yane bcsar, naloklusi kelasI ripe 2 ataukelaslt divisi I dan penutupan bibir yang tidaksempuma.l5 Ellis dan Davey melaporkan dari 4251 anak usiasekolah, 4, 2% pemah mengalami fraidur pada gigi anleflor. 'lnuma padagrgi permanen pating sering terjadi padausia9 dan l0 hhun. dan anak laki-laki lebih seringterkena traumadibandinganak perempuan dengan perbandingan 2:t. Hal lnr disebabkan anaklaki-laki lebihakrifdatam berman dan berolah raga.5 Etiologi t rjadinyarrauma gigi pada anak dibagi menjadi trauma langsung dantidak tangsung. Trauma langsung rcrjadi bila Bigi rerbenrur tangsunts oleh suaru objek sepenibola )ang keras. lingkat. araukepalan linju. Traumaridak langsung Frjadi alibat grakan mandibula yang menutup secam Da- tiba atau oklusi dengan cepat dan kerds terhadap rahang aras. misalnya karcna benruran lang lerasdr

PERAWATAN FRAKTUR ELLIS KELAS II AKIBAT TRAUMA PADA GIGI …

  • Upload
    others

  • View
    5

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: PERAWATAN FRAKTUR ELLIS KELAS II AKIBAT TRAUMA PADA GIGI …

IJD 2rn6: Etlisi Kh66 KPPIKA XI,

PERAWATAN FRAKTUR ELLIS KELAS II AKIBAT TRAUMAPADA GIGI INSISIF SENTRAL ATAS PERMANEN

ANAK LAKI.LAKI USIA 9 TAIIUN(Laporan Kasus)

Marisa Edyans, Eeriandi SutadiDeparremen Ilmu Kesehatan cigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas lndonesE

Abstract

Treatment ol Ellis Class II Frrctures in Maxillsry Central Incisors Caused by Traum, on a 9 yesrsOId Boy

Dental rrauma in childhood and adorescence is a common accidents, with the most accident-prone timeis betwe€n 9 and l0 years ord. Boys affected ar€ almost twice than girrs and the maxilrary central incisofs arethe most affected. This report describes an Erris class II fractur€; in ma{ilrary centrai incisors caused bytmuma on a 9 years old boys. The case was treated by pulp capping and restored by composrr€ materjal.IhdonesnnJou al of Deflktry 2006: Edisi Khusus KpptKC Xtt . i89_jg2

Key word: fauma, class Il ellis, composite restorauon

Pendahuluan

. . Tmuma yang menlebabkan fiak-rur pada gigimsrsrt permanen, merupakan pengalaman yangrnenalutkan pada pasien anak. Keadaan rnrmembutul*an pengalaman, p€nilaian dan penga-laman yang cukup m€madai pada seliap dokrer gigi.lTrauma pada gigi selalu harus dipertimbangkansebagai suatu keadaan darurat dan harus seseradilakxkan perawaBn unrut mengurangi rasa sikir,mengurangi risiko bertambahnya kerusakan gigisehingga menghasilkan prognosis yang lebih baik.,

Pada gigi sulung maupun gigi permarcn,trauma paling sering mengenai gigi anterior,ftrurama gigi insisif sentral rahang atas. Hal inidisebabkan posisinya yang paling menonjol dalammulut dan paling sering menerima pukrlanlangsung. _ Terjadinya ftaktur pada gigi anleriordidukung oleh faktor predisposisi antara lainaccide prcne proJile dengan susunan gigi antenor

yang protrusif dengan jarak oee4et yane bcsar,naloklusi kelas I ripe 2 atau kelas lt divisi I danpenutupan bibir yang tidak sempuma.l5

Ellis dan Davey melaporkan dari 4251 anakusia sekolah, 4, 2% pemah mengalami fraidur padagigi anleflor. 'lnuma pada grgi permanen patingsering terjadi pada usia 9 dan l0 hhun. dan anaklaki-laki lebih sering terkena trauma dibanding anakperempuan dengan perbandingan 2:t. Hal lnrdisebabkan anak laki-laki lebih akrifdatam bermandan berolah raga.5

Etiologi t€rjadinya rrauma gigi pada anakdibagi menjadi trauma langsung dan tidak tangsung.Trauma langsung rcrjadi bila Bigi rerbenrur tangsuntsoleh suaru objek sepeni bola )ang keras. lingkat.arau kepalan linju. Trauma ridak langsung Frjadialibat g€rakan mandibula yang menutup secam Da-tiba atau oklusi dengan cepat dan kerds terhadaprahang aras. misalnya karcna benruran lang leras dr

Page 2: PERAWATAN FRAKTUR ELLIS KELAS II AKIBAT TRAUMA PADA GIGI …

dagu ketika terjatuh_ atau berkelahi, alau akibalkecelakaan lalu lintas 1'

Klasifikasi tauma pada gigi didasarkan olehb€berapa faktor seperti etiologi, anatomi, patologi,atau perawatannya. Terdapat b€berapa klasifikasitrauma yang telah dikemukakan, di anlaranya adalahklasifikasi WHO, klasifikasi Andreasen, danklasifikasi Elljs.T Ellis dan Davey telah berhasilmengklasifikasikan semua trauma pada gigi denganjelas. Ellis mengklasifikasikan trauma pada gigimenjadi 8 kelas, yaitu kelas l, lrakur pada mahkotagigi mengenai sedikit atau tidak sama sekali dentin;kelas 2, liaktur mahkota yang luas, mengenai dentintetapi tidak nenyebabkan pulpa terbuka; kelas 3,liaktur mahkota yang luas, mengenai dentin danmenyebabkan pulpa terbuka; kelas 4, trauma yangrneny€babkan gigj nonvital, dengan atau tanpakehilangan struktur mahkota; kelas 5, gigi a!,ulse;kelas 6, fraldur pada akar dengan atau tanpa iiakturnahkota; kelas-7, gigi berg€ser; dan kelas 8,

Pemeriksaan pasien yang mengalami fi"ktLrterdiri dari p€rn€riksaan darurat dan pemeriksaanlanjutan. Pemeriksaan darurat meliputi keadaanumum dan keadaan klinis. Pemeriksaan keadaanumum meliputi identitas, riwayat kasus, dan riwayatmedis. Identitas meliputi nama, umut alamat danjenis kelamin. Pada p€meriksaan riwayat kasusdicaraf adanya keluhan atau gejala sakit spontanpada gigi s€lama mengunyah, rasa s€nsitif terhadaptekanan atau p€rkusi, dan adanya mobilitas gigjgeligi. Dilanjurkan dengan penanlaan mengenaiterjadinya cedera, sebab, bagaimana, dan di manaterjadinya trauma. Untuk riwayat medis dilakukanpencatatan m€ngenai riwayat kesehatan umum yangrelevan seperti pasien pemah dirawat sebelumnya,apakah ada alergi terhadap obat-obatan, statusimunisasi anti toksoid serum (ATS), apakah anakmenderita kelainan danh, jantung, dan Iain-lain.Pemeriksaan klinis dilakrkan setelah daerah yangtelah terkena trauma dibersihkan dengan air hangatdengan hati-hati. K€mudian dicatat tipe, perluasanfraktur, perubahan l€tak gigi. luka, perdarahan, danpembengkakan. Kemudian dilakukan palpasiperlahan di jaringan sekeliling gigi untuk melihatkegoyangan. Pemeriksaan vitalitas gigi pada saatsegera set€lah terjadi trauma tidak dianjurkan,karena keaalaan ini akan menambah b€ban pulpa danpulpa yang baru mengalami tuma biasanya dalamke&daan syok sehingga tes vitalitas menjadi tidakakurat. "'

Pemeriksaan lanjutan meliputi pemeriksaankembali klinis lengkap yang t€rdiri dari pemerikaanekstra oml dan inrra oral, serta dilakukan

pemeriksaan radiologis. Hal ini bertujuan untukmengetahui pertumbuhan dan p€rkembangan gigi!bentuk puipa, perluasan {iaktur sena adanya frakturakar. frahtur tulang alveolar. adanya benda dsinedalamjaringan dan kelainan-kelainan lain di oaerantersebut. Selain itu pemeriksaan radiologis bergunauntuk menentukan djagnosis yang akan diban-dingkan dengan pemeriksaan pada saat konrrol yangakan dalang. Dengan pemeriksaan yang teliti danlengkap akan diperoleh diagnosis yang lengkapsesuai dengan klasifikasi kerusakan gigi al(ibattrauma sehingga dapat_direncanakan perawaransecara lengkap dan tepat.4Y

Fraktur Ellis k€las II akibat trauma adalahfiaktur mahkota yang meliputi email dan o€nrmtetapi pulpa belum terbuka. cejala yang patings€ring terjadi adalah nyeri apabila terkena tekanandari nakanan pada d€ntin yang sensitif. Secaraklinis, terlihat fraktur email-d€ntin arah borizonralm€liputi seluruh permukaan insisal dan frakturemail-dentin arah diagonal, yang dapat melipurisudut insisal-proksimal." Fraktur ini ditandai dengand€ntin yang berwama kuning hingga rnerah muda.tePada keadaan ini tubuli d€ntin terbuka sehingga gigimenjadi lebih sensitif terhadap Bngsang termal danrekanan makanan." Pada fra[lur Ellis kelas It. gigianak yang mengalami fraktur m€miliki lebih banyaklaringan pulpa daripada denfin yang melindunginya.Pada anak usia di bawah 12 tahun, kasus mlmembutuhkan penanganan segera, karena jarakantara dentin yang terbuka dengan pulpa lebihpendek, sehingga memudahkan pulpa terinfeksi.eUntuk mengurangi sensitivitas pada dentin yangterbuka tersebut, pada perawatan, dentin dilapisioleh lapisan pelindung seperti kalsium hidroksida,oksida s€ng eugenol, RMCI atau sem€n Fuji lX agarterlindung dari pengaruh termal, mekanis, danbakteri '"

Kalsium hidroksida yang diaplikasikan padadenLin )ang lerbula merupakan pelindung denlnyang adekual." " Bahan rni sangal €Ieklif dalammeningkatkan pembentukan dentin s€kunder yangmenghasilkan suatu lapisan dentin yang tebal, yangdapat membantu melindungi pulpa dari iriran-iritans€perti produk-produk toksik dari bahan restoratifatau agen-agen perusak yang berpenetrasi nelaluikebo€oran mikro. Penggunaan kalsium hidroksidadianggap menguntungkan karena tidakmemp€ngaruhi akivitas odontoblas dan prosespolimerisasi bahan komposit. "

Restorasi gigi anterior yang mengalami fraktursebaiknya tidak ditunda sampai kunjungan ber-ikutnya. Restorasi tersebut penting unruk memper-tahankan fungsi bicara dan estetih mencegah

Page 3: PERAWATAN FRAKTUR ELLIS KELAS II AKIBAT TRAUMA PADA GIGI …

pergeseran gigi sebelahnya rnengisi ruang yanglo.ong. o\er eruDi i pigi anragonir oan pergeralan*€ ffd$ klialgjgj yalgnengalami ftajitur.:

Bahan resin komposit merupaka.n baian yangDal ing .rmum dipunakdn uDtu\ mere\torai giSiinsisif yang mengalami fiaktur.t: Bahan ini daparberlingsi sebagai resiorasi semi permanen. Bahanini idcal untuk merestorasi gigi anredor karenasecara estetik memuaskan. Resin kompositmempunyai kestabilan warna yang baik datamJnrgka waktu lama dan dapat dipolcs untuknrendapatkan hasil akbir yang baik. J'

Restorasi resin komposir mernpunyai k€ter-batasan, karena itu dibutuhkan restorasi yangrreTberikan ni lai esre. ik ddn lepudsan pada parieD.Umumnya restorasi akhir dari ilakur gigi insisifada{ah mahkota jaket. Restorasi mablera jaketsebaiknya ditunda sanpai usia anak mencapai 18lahun. seiring dengan rnengecilnya kamar prlpasehingga preparas i dapat dilakukan dengan aman.!

l,dporan Kasus

Pada ianggal 30 Agustus 2005, datang seoranganak laki'laki usia 9 tahun, diartar oleh ibunya, keKlinik Kedokteran Cjigi Anak FKG til. Berdasarkananmnesa dengan ibuny4 didapatkan keluhan utamagigi depan aras kanan patah karena terrabrak tiangtenpat tidur pada saat bermain, sejak 2 bulan yanglalu. Gigi lersebut terasa ngilu bila makan dante.kena ail dil€in.

Pada riwayat kasus, didapatkan keadaan umumanak baik, lidak mempunyai riwayat alergi! dantjdak ada penyakit sistemik. Pemeriksaan ekstra oraltidak menem*an kelaimn. Pemeriksan intra oraltidak ada kclainan yang berhubuDgan denganlrauma. Cigi 1l nengalami fraktur mahkota yangm€ngenai email dan dentin. ?ada tes termal denganmenggunakan butiran kapas .yang dibeti eth),l-thhride gigi tetasz ngilu. Tidak rerdapar nyeri tekandan kegoyangan gigi. Pada radiog.afgigi I I lerliharadarya gans ffahur pada sepertiga rengab mahkota,belur mengeMr pulpd. r ida,k rerdrpar kelainanperiapeks, pemb€ntukan akar m€ncapai sepe.tigaapeks dan apeks gigi belum terbentuk sempuma.Status oklusi adalah Angle kelas I, gigi tldistolabioverci. Cigi ll didiagmsis sebagai frakrurEllis kelas II.

Rencana perawalen untuk gigi l1 adalahpenarnbalan komposit dengan mahkok seluloid,dengan rrbrrr" kalsium hidroksida. Pada gigi lain

dilakukan perawatan sesuai dengan indikasi danaplikasi topikal dengan larutan fluor.

Pada tanggal 1 September 2005, gigi tldireslorasi dengan resin komposit de4ar mahkotaseluloid, dan sebelumnya dentin dilapisi denganjrbrar€ kalsiun hidroksida. Pada kunjunganberikutrrya, tanggal 27 Seprember 2005, dilakukankontrol pada gigi I i dan rerlihat bahwa turnpatdmasih baik. Iddk dda kelainan. dn resr viul i ras gigidengzn ethyl crlo/i1" memberikan hasil yangpositit

Cornbd 2.lni€ ora ll Sebelum Perawaran

Pembshasan

Pada laporan kasus ini, seorang anakperempuan usia 9 tahun darang dengan k€luhanadanya ftaktur gigi ll akibar anak menabmk tia gtempat tidur pada waldu bermain. Trauma pada gigipermanen sering terjadi pada usia 9 dan t0 tahunkarena pada usia ini anak sedang aktif datambernain dan bcrolah rcgd. cigi \ang pal ing scr ingierkena adalah insisif seniral fahang aras, karenaposisinya yang paling menodol dalam mulursehingga mudah terk€na pukulan langsung dandidukung oleh adanya faktor predisposisi antara lain

Gambar l-Foro Periapeks 11

t 9 l

Page 4: PERAWATAN FRAKTUR ELLIS KELAS II AKIBAT TRAUMA PADA GIGI …

accident prone ptufle, dengan susunan gigi anlerror\ane DrotruriI d^n iTak ovPrjel yang besar.matof lusi t 'e las I l ipe 2 alau kelas l l d iv is i I danpenutupan bibir yang tidak sempuma' Padaoemeriksaan klinis didapatkan posisi gigi I Iahtolabioversi. Posisi gigi 1l yang malposis'iersebut dapat merupakan faldor predisposisi yangmemudahkan gigi tersebut mengalami trauma atauciai rersebut berubal posisi karena mengaldmlLr-ma aan uaru dilalukan pera$alan selelah 2bulan .Diagnosa dari kasus ini adalah fraktur Elliskelas II.

Perawalan )ang dilakukan adalah reelorasidensan resin komposit dengan mahkota seluloid,rani. .ebetumrya diapl ikarrkan kalsium hrdrols 'dapada denrin Kalsium hidrolsida dipi l ih larenaefektjf dalam pembentukan dentin sekunder yangmenqhasilkan suatu lapisan dentin yang lebal yangmem-bantu melindungi pulpd.' Mahkola seluloiddrpilih sesuai dengan gigr yang akan direnorasi agardaoat membantu memperbaiki ukuran serta bentuks'qi tersebur. Selelah dircstorasi. dilakulanlengasahan paAa bagian disLal dari resin komposirunruk memperbaiki malposti distoldbio\ersi gigi1 1 .

Pada kasus ini bahan restorasi yang dipilihadalah resin komposit Balan ini mempunyalkualitas estetik yang memuaskan, memiliki stabilitas\ ama \ans baik dalam waklu yang lama dan dapatdipole;de;gan bail. Resin komposit sebagai suarubahan yang plastis, mempunyai kekuatan yang.ulup rahan lerhadap daya Lunyah dan mempunyaidaya lekat Frhadap jaringan gigi )ang cukup baikPada kasus ini rcslorasi dengan resin komposjlm€rupakan restorasi s€mi permanen, umumnyarestoiasi akhir dari fiaktur gigi insisif adalahmahkota jaket. Resto&si ini sebaiknya djtundasampai anak b€rusia 18 1ahun, seiring denganmengecilnya kamar pulpa, sehingga aman padawaktu dilakukan Preparasi "

Penyembuhan pulpa gigi permanen memakanwaktu 6 sampai I minggrr. Setelah 8 minggu dapatdipastikan keadaan vitalitas pulpanya' Pada kasusini tes t€rmal dilakukan pada setiap kunjungan'untuk memastikan vitalitas pulpa Pada kontrolt€rka,hir didapatkan tes termal positif danmenunjukkan gigi yang mengalami trauma masrhvital.

Kesimpulan

T€lah dilakukan perawatan pada ftaktur Elliskelas II akibat trauma pada gigi insisif sentral tetapatas. pada pasien anak laki-laki berusia 9 tahunPada gigi tersebut dilakukan restorasi dengan bahanresin komposit dengan mahkota seluloid Padadenl in yang lerbula. d iapl ikar ikan kdLiumhroro l " ida unrul mehndungi pulpa dar i inva ' ibakteri dan rangsaangan termal, serta membentukdenrn reparat i l Sete lah d i la lu lan pe 'a$atan pd" ienmerasakan keluhannya hilang, secara estetik gigjrerlihatbaik dan gigi masih vital.

Daftar Acuan

LL Mc Donald RE. Avery DR. Dentisby lu the Chil.lahd Adoleveht. Sr. Lo\is: Mosby. 1994: 485_503

2. And law RJ. Rock W. ,'1 Manual oI Pedotlaktics 3"ed. Edinburgh: churchillLivingstone l9922ll'3

3. Welbury RR P.dtatl,c D?trlrr,?. 2^ ed. Ncw Yo*:Oxford Unilersity Prcss, 2001 :241 -69

4. Bauer JC. Dentist'! Iot Childten New Yorki McCBw-Hi l l Bool , Conpan), lNC. l a59: 4 lb-5

a Finn SB. rlhi.dl P.dodonx.\.a'". Philadelphia: WBSaundors Co.. 1973: 224"46

6. Pinkham JR. Pedbttic De6tistry: InJoncr TroughAdolescetue. PhiladelPhia: WB Saund.rs 1984: 209-l 0

7. Andreasen JO. Traubatic lti*ies of lhe TeethCopenhagen: Munskga?idi 1972 :95-106

8. Ellis RG, Daley KW. ft? Clossifcatian andnedtheht t'ities of the Teeth of Childtuh 5tr ed.Chicago: Year Book Medical Publisher. lnc; 1970:t4-5,t92-93

9. Camp IH dan Stewa.d C. Dektal Tiouna Angtsl. 42000. Available at h$p://www$rombosis"consult.corvarliclos/Textbook/139-dental htn

10. Ravel D. Mahagenent oI D.ntal Travka ih ChtldrenAusust l. 2003. Available at !g!]ld!!IaL9!9q9!orqltopic50traumahtnl

I L Broken o. Knock Otrt Teeth 2004 Available at httpT/www.emedicisehealih.cor/articlov20488_5 dp

12. Cdtaldi CR, BI'ss GA'. Dentistry Jbr Adolesce'cePhilad€lphia: WB Saunde6. 1980,3 85-92

13. Wei SHY. Pediattic Dentistry: Total Patie"t Carc'Philadelphia: Loa & FebriEer.P 1988i275_86

14. Kruger E, Schilli w. O/al and MuittolbcialTraanotology. Chicago: Quintes€nce Publ 1982,182-4

t92