perancangan saluran tersier dan kuarter

  • Published on
    04-Nov-2015

  • View
    6

  • Download
    0

DESCRIPTION

Tujuan utama dari penelitian ini adalah melakukan kajian perencanaan Saluran Tersier dan SaluranKuarter Daerah Irigasi Ranah Singkuang Kabupaten Kampar melalui variasi pola tanam. Daerah IrigasiRanah Singkuang denganluas fungsionalnya adalah 241.5 Ha.Pengolahan lahan pertanian di lokasi jugahanya dilakukan dua kali dalam setahun dengan pola tanam Padi-Padi-Bera.

Transcript

  • Kajian Perencanaan Saluran Tresier dan Kuarter Irigasi Kecamatan Kampar

    Sutopo, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Riau Page 121

    KAJIAN PERENCANAAN SALURAN TERSIER DAN KUARTER PADA DAERAH

    IRIGASI RANAH SINGKUANG KECAMATAN KAMPAR KABUPATEN KAMPAR

    Sutopo

    ABSTRAK

    Tujuan utama dari penelitian ini adalah melakukan kajian perencanaan Saluran Tersier dan Saluran Kuarter Daerah Irigasi Ranah Singkuang Kabupaten Kampar melalui variasi pola tanam. Daerah Irigasi

    Ranah Singkuang denganluas fungsionalnya adalah 241.5 Ha.Pengolahan lahan pertanian di lokasi juga

    hanya dilakukan dua kali dalam setahun dengan pola tanam Padi-Padi-Bera.

    Metode penelitian yang digunakan adalah kriteria perencanaan irigasiyang diterbitkan oleh Departemen Pekerjaan umum Republik Indonesia sebagai dasar penetapan dimensi Saluran Tersier dan

    Saluran Kuarter pada Daerah Irigasi Ranah Singkuang Kabupaten Kampar untuk kebutuhan air irigasi.

    Hasil utama dari penelitian dengan menetapkan empat alternatif awal pola tanam yang direncanakan maka diperoleh nilai debit terbesar 1,381 lt/dt/ha dengan pola tanam Padi-Padi-Bera pada awal tanam Januari

    periode I. Hasil analisadimensi saluran sekunder dan tersier bentuk trapezium pada Daerah Irigasi Ranah

    Singkuang Kabupaten Kampar berturut-turut untuk lebar dasar saluran (b) 0.42 m dan 0.2 m,kedalaman air di saluran (h) 0.42 m dan 0.2 m dan tinggi jagaan (w) 0.14 m dan 0.67 dan kemiringan dasar saluran (I) 1.8 x

    10-4

    dan 1.8 x 10-4

    .

    Kata kunci : perencanaan, kebutuhan air irigasi, pola tanam, saluran sekunder, saluran tersier, dimensi saluran

    ABSTRACT

    The aim of this research is planning secondary and tertiary canalin Ranah Singkuang Irrigation

    Area ofKampar District through variation of crop patterns. Ranah Singkuang Irrigation area functional is 241.5 Ha.The processing of agricultural land at the location is also done twice a year with padi-padi-bero

    crop pattern.

    This research method used of criteria design irrigation at published Public Works Republic of

    Indonesia to obtain secondary and tertiary canal dimension in Ranah Singkuang Irrigation Area, District Kampar for net field requirement.

    The results of four early planting alternative planned. Crop pattern is obtained which get the greatest

    discharge 1,381 lt/s/ha is padi-padi-bero at early planting January period I. Result of analysis for secondary and tertiary trapezium canal dimension respectively for width of canal (b) 0.42 m and 0.2 m, water level of

    canal (h) 0.42 m and 0.2 m , working of canal (w) 0.14 m dan 0.67 and sloope of canal (I) 1.8 x 10-4

    and 1.8

    x 10-4

    .

    Key words : design, net field requirement, crop pattern,secondary canal, tertiary canal, canal dimension.

    1. LATAR BELAKANG

    Tingkat pertumbuhan penduduk yang

    semakin tinggi merupakan suatu tantangan bagi

    pemerintah dalam penyediakan bahan pangan

    terutama beras, hal ini mendorong pemerintah,

    petani dan unsur terkait untuk dapat meningkatkan

    produktivitas padi sebagai bahan makanan pokok.

    Peningkatan produktivitas padi ini dapat dilakukan

    dengan cara pengaturan air secara tepat dan benar.

    Pengaturan air secara tepat dan benar dapat

    dilakukan salah satunya dengan membangun suatu

    sistim pengairan yang dapat dikontrol pembagian

    airnya yaitu dengan sistim irigasi dengan saluran

    yang direncanakan.

    Menurut laporan dari Badan Ketahahan

    Pangan Provinsi Riau (2007) bahwa prioritas

    pembangunan Provinsi Riau dalam mendukung

    kegiatan Operasi Pangan Riau Makmur (OPRM)

    khususnya bidang Sumber Daya Air (SDA) adalah

    mendukung upaya swasembada pangan Nasional

    dan kegiatan pertanian di Riau. Masih bersumber

    dari Badan Ketahanan Pangan Provinsi Riau (2007)

    bahwa sektor pertanian memegang peranan penting

    karena lebih 60% penduduknya bergerak pada

    sektor tersebut. Hal ini didukung oleh kondisi

  • Page 122 JURNAL APTEK Vol. 4 No.2 Juli 2012

    geografis sangat mendukung guna di

    kembangkannya sektor pertanian khususnya

    tanaman pangan. Namun dengan segala potensi

    yang dimiliki Provinsi Riau diketahui bahwa

    Provinsi Riau masih mengalami defisit beras

    130.000 ton/tahun Daerah Irigasi (DI) Ranah

    Singkuang yang terletak di Kecamatan Kampar

    Kabupaten Kampar merupakan salah satu daerah

    target kegiatan OPRM yang sangat potensial bagi

    pertanian dengan memiliki daerah yang relatif

    datar serta berpotensi besar menjadi daerah

    pertanian yang dapat menghasilkan lumbung padi

    Kabupaten Kampar. Faktor kendala mendasar yang

    dihadapi DI Ranah Singkuang dalam upaya

    meningkatkan hasil produksi padi adalah tata

    kelola pangairan yang masih bersifat semi teknis

    sehingga pembagian air ke petak sawah tidak

    merata. Maka penetapan tujuan utama penelitian

    adalah melakukan perencanaan Saluran Tersier

    dan Kuarter Pada Daerah Irigasi (DI) Ranah

    Singkuang Kecamatan Kampar Kabupaten Kampar

    dengan luas areal pengairan 241,5 ha di Kelurahan

    Air Tiris dengan sumber air Bendung Ketaman.

    Konsep Perimbangan Air Pada Sawah

    Air irigasi yang masuk ke petak sawah

    akan digunakan oleh tanaman untuk transpirasi dan

    tanah akan melepaskan evaporasi. Dan air yang

    ada di areal pertanian akan merembes kelapisan

    tanah yang disebut infiltrasi dan selanjutnya

    rembesan itu akan diteruskan ke lapisan yang

    paling dalam, peristiwa ini disebut perkolasi

    vertikal untuk rembesan kebawah dan perkolasi

    lateral untuk rembesan ke samping, air untuk

    evaporasi dan transpirasi disebut juga

    evapotransirasi. Menurut Triatmodjo (2008) secara

    empiris Van de Goor menyusun persamaan 1

    seperti di bawah ini :

    Is + Re + Ig = S + U + Gv +

    Gh + Os ..................................................... (1)

    Dengan Is adalah jumlah air yang masuk, Re

    adalah curah hujan efektif, Ig adalah air yang

    masuk dari bawah permukaan, S adalah jumlah air

    yang ada sebelumnya, U adalah evapotransirasi,

    Gv adalah perkolasi kebawah, Gh adalah perkolasi

    ke samping dan Os adalah air yang keluar dari

    petakan sawah. Apabila Ig sama dengan 0 dan P

    sama dengan penjumlahan Gv + Gh yang

    merupakan jumlah keseluruhan perkolasi (P), maka

    persamaan 1 dapat ditulis kembali menjadi

    persamaan 2 seperti di bawah ini :

    Is = (U Re) + S + P + O ....................... (2)

    Dengan nilai (U Re) besar kebutuhan air

    komsumtif. Dan pada petakan sawah S adalah

    jumlah air untuk penjenuhan tanah, dimana pada

    saat pengolahan tanah hal tersebut sudah terpenuhi

    maka kebutuhan air saat pemeliharaan dapat ditulis

    kembali menjadi persamaan 3 seperti di bawah ini.

    Is = (U Re) + P ........................................... (3)

    Dengan Ossama dengan 0, melalui pintu

    pembuangan air

    Evapotranspirasi

    Menurut Soemarto (1995) bahwa

    evapotranspirasi adalah peristiwa berubahnya air

    menjadi uap ke udara bergerak dari permukaan

    tanah, permukaan air dan penguapan melalui

    tanaman.Jika air yang tersedia dalam tanah cukup

    banyak maka evapotranspirasi itu disebut

    evapotranspirasi potensial.Faktor-faktor yang

    mempengaruhi evapotranpirasi potensial adalah

    temperatur udara, kecepatan angin, kelembaban

    udara dan penyinaran matahari. Untuk selanjutnya

    evapotranspirasi potensial dapat dihitung dengan

    menggunakan rumus penman Modifikasi seperti

    persamaan 4 di bawah ini :

    Eto = c [w x Rn + (I w) x f(U)

    x (ea ed) ] ............................................. (4)

    Dengan ea adalah tekanan uap jenuh dalam mm-

    bar dalam fungsi t, t adalah temperatur

    berdasarkan dari data stasiun pengamatan dan d

    adalah tekanan uap nyata engan

    RH adalah kelembaban udara relatif berdasarkan

    hasil stasiun pengamatandan f(U) adalah fungsi

    angin. Dimana f(U) adalah persamaan 5 seperti di

    bawah ini:

    f(U) = 0.27. [1 + U2 / 100] ........................... (5)

    Dengan U2 adalah kecepatan angin pada

    ketinggian pengukuran 2 meter yang disajikan

    pada Persamaan 6 di bawah ini :

    U2 = U x (2/x)0.15

    ............................................. (6)

    Dengan Xadalah tinggi pengukuran dalam m, W

    adalah faktor koreksi temperatur terhadap radiasi,

    dan Rns adalahradiasi gelombang pendek netto

    dalam mm/hari yang disajikan seperti pada

    Persamaan 7 di bawah ini:

    ............................. (7)

  • Kajian Perencanaan Saluran Tresier dan Kuarter Irigasi Kecamatan Kampar

    Sutopo, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Riau Page 123

    Sedangkan Rs adalah r adiasi sinar matahari

    yang disajikan seperti pada Persamaan 8 di bawah

    ini:

    ......................... (8)

    Dengan Ra adalah radiasi ektra terextrialdan

    Rsadalah radiasi gelombang pendek yang

    memenuhi batas atmosfir (angka Angkot). Besar

    angka angot berhubungan dengan letak lintang dan

    letak bulan, n/Nadalah perbandingan penyinaran

    matahari dalam satu hari yang dinyatakan dalam

    persen, radalah koefisien pemantulan / angka

    albedo dan Rnladalah radiasi gelombang netto

    dalammm/hari yang diekspresikan menggunakan

    Persamaan 9 seperti di bawah ini.

    Rn1 = f (T) x f (ed) x (n/N) ........................ (9)

    Perkolasi

    Menurut Soemarto (1995) bahwa perkolasi

    adalah gerakan air ke bawah zona tidak jenuh,

    yang terletak diantara permukaan tanah sampai

    kepermukaan air tanah (zona jenuh). Bersumber

    dari Kriteria Perencaanaan 01 (1986) bahwa

    perkolasi merupakan proses penjenuhan lapisan

    permukaan tanah. Laju perkolasi sangat tergantung

    pada sifat-sifat tanah.Laju perkolasi dapat

    mencapai 1-3 mm/hari.

    Hujan Efektif (Re)

    Masih bersumber dari Kriteria

    Perencaanaan 01 (1986) bahwa hujan efektif

    adalah curah hujan yang jatuh di daerah irigasi

    yang langsung dapat dimanfaatkan untuk

    memenuhi kebutuhan air bagi tanaman. Untuk

    irigasi padi curah hujan efektif bulanan diambil 70%

    dari curah hujan minimum tengah bulanan dengan

    periode ulang 5 tahun. Efektif tanaman padi

    dihitung dengan Persamaan 10 sebagai berikut.

    Re = (70% x R80) x 1/15 ......................... (10)

    Dengan dari urutan susunan data

    bulanan dan dimensi n adalah periode lama

    pengamatan.

    Penggunaan Konsumtif

    Masih bersumber dari Dirjen Dikti (1997)

    bahwa penggunaan konsumtif adalah sejumlah air

    diperlukan untuk mengganti air yang hilang akibat

    dari penguapan. Dihitung dengan Persamaan 11

    seperti di bawah ini.

    Etc = Kc x Eto ................................... (11)

    Dengan Etcadalah penggunaan konsumtif,

    Kcadalah koefisien tanaman dan Eto adalah

    evapotranspirasi potensial

    Kebutuhan air untuk pengelolahan tanah

    Kebutuhan air irigasi adalah kebutuhan

    air mulai dari pengolahan tanah hingga masa panen.

    Untuk menghitung jumlah kebutuhan air dipakai

    metode yang digunakan oleh Van de Goor dan

    Zijlstra (KP-01,1986) yang disajikan seperti pada

    Persamaan 12 seperti di bawah ini.

    IR = M.ek / (e

    k 1) ................................ (12)

    DenganIRadalah kebutuhan air ditingkat

    persawahan, M adalah kebutuhan air untuk

    mengganti kehilangan air akibat evaporasidan

    perkolasi disawah yang sudah dijenuhkan yang

    disajikan seperti pada Persamaan 13 sebagai

    berikut:

    M = Eo + P ......................................... (13)

    Dengan Eoadalah evaporasi air terbuka yang di

    ambil (1,1 x Eto), P adalah perkolasi.

    Penggantian Lapisan Air

    Bersumber dari penggantian lapisan air

    dilakukan setelah pemupukan menurut

    kebutuhan.Jika tidak ada jadwal biasanya

    dilakukan dua kali. Masing-masing 50 mm (atau

    3,3 mm/hari selama 0.5 bulan) selama sebulan

    setelah transplantasi (pemindahan bibit tanaman).

    (KP-01,1986)

    Kebutuhan air di sawah

    Kebutuhan air untuk pertumbuhan

    tanaman tergantung dari umur tanaman terdiri dari

    penggunaan konsumtif, perkolasi, adanya curah

    hujan serta untuk keperluan penggantian lapisan air.

    Kebutuhan air di sawah untuk tanaman padi

    dihitung dengan Persamaan 14ditambah dengan

    pergantian lapisan air sehingga menjadi :

    NFR = Etc + P Re+ WLR .................... (14)

    Dengan NFR adalah kebutuhan air disawah, Etc

    adalah penggunaa konsumtif untuk tanaman dalam

    mm/hari, WLRadalah penggantian lapisan air

    dalam mm/hari, Re adalah curah hujan efektif

    dan Padalah perkolasi.

    Efisiensi irigasi

    Masih bersumber dari Kriteria

    Perencaanaan 01 (1986) bahwa efisiensi irigasi

    adalah perbandingan jumlah air yang dipakai untuk

  • Page 124 JURNAL APTEK Vol. 4 No.2 Juli 2012

    kebutuhan tanaman dengan jumlah air yang keluar

    dari pintu pengambian. Besarnya Efisiensi irigasi

    akibat kehilangan air diperkirakan sebagai berikut

    saluran primer sebesar 90 %, saluran sekunder

    sebesar 90 % dan saluran tersier sebesar 80 %.

    Masih bersumber dari Kriteria Perencaanaan 03

    (1986) maka efisiensi menyeluruh yang digunakan

    adalah 0,9 x 0,9 x 0,8 = 0,65 .

    Pola Tanaman

    Masih bersumber dari Sudjarwadi (1979)

    bahwa pola tanaman adalah suatu sistem dalam

    menentukan jenis jenis tanaman atau pengaliran

    tanaman produksi pada suatu daerah tertentu yang

    disesuaikan dengan persediaan air yang ada dalam

    suatu periode musim hujan dan musim kemarau.

    Penentuan pola tanam merupakan hal halyang

    perlu dipertimbangkan untuk memenuhi kebutuhan

    air bagi tanaman.Tujuan dari penerapan pola tanam

    adalah menghindarkan adanya ketidak seragaman

    tanaman, melaksanakan waktu tanam sesuai

    dengan jadwal yang telah ditetapkan, efisiensi

    irigasi dan peningkatan produksi pangan.

    Selanjutnya Tabel 2 adalah mendiskripsikan

    hubungan antara pola tanam dalam setahun dengan

    kondisi ketersediaan air di jaringan irigasi.

    Debit saluran

    Debit saluran adalah untuk menghitung

    banyaknya air yang diperlukan untuk memenuhi

    kapasitas air pada petak sawah dengan

    menggunakan Persamaan 15, Persamaan16 dan

    Persamaan 17 adalah sebagai berikut :

    Saluran Primer

    Q = (A x NFR ) / (Effprimer x Eff sek

    x Eff ter) ........................................................... (15)

    Saluran Sekunder

    Q = (A x NFR ) / ( Eff sek x Eff ter) .................... (16)

    Saluran Tersier

    Q = (A x NFR ) / ( Eff ter) ................................. (17)

    Dengan Q adalah debit air yang dibutuhkan dalam

    m3/dt, A adalah luas area yang diairi dalam

    ha, Eff adalah efisiensi irigasi dan NFR adalah

    kebutuhan air disawah dalam mm/hari.

    Dimensi Saluran Irigasi

    Dimensi saluran irigasi dapat dihitung

    dengan menggunakan rumus Manning yang

    disajikan seperti pada Persamaan 18 dan

    Persamaan 19 di bawah ini:

    V= 1/n x R2/3

    x I1/2

    ................................. (18)

    Q = A x V ........................................... (19)

    DenganQ adalah debit saluran dalam m3/dt, n

    adalah koefisien Manning, R adalah jari jari

    hidrolis dalam m dan I adalah kemiringan saluran,

    V adalah kecepatan aliran dalam m/detik dan

    A adalah luas penampang basah saluran dalam m2.

    Selanjutnya desain saluran irigasi umumnya

    menggunakan saluran yang berpenampang

    trapesium karena lebih mudah dan ekonomis.

    Untuk menetapkan tinggi jagaan saluran (w) dapat

    di hitung dengan Persamaan 20 seperti di bawah

    ini :

    W = 1/3 x h ............................................. (20)

    2. METODOLOGI PENELITIAN

    Lokasi Penelitian

    Penelitian dilakukan Daerah Irigasi (DI) Ranah

    Singkuang yang terletak di Kecamatan Kampar

    Kabupaten Kampar dengan luas areal pengairan

    241,5 ha di Kelurahan Air Tiris dengan sumber air

    Bendung Ketaman.

    Ketersediaan Data

    Data curah hujan

    Data curah hujan yang digunakan dalam penelitian

    ini adalah data curah hujan bulanan disajikan

    sepanjang 10 tahun dari tahun 2002 sampai tahun

    2012 dari dari Stasiun curah hujan Bangkinang.

    Data curah hujan bulanan tersebut selanjutnya

    dianalisa guna mengetahui harga curah hujan rata-

    rata pada lokasi penelitian. Sedangkan data Jumlah

    hari hujanyang tersedia digunakan untuk

    menganalisa harga evapotranspirasi terbatas.

    Data Klimatologi

    Untuk memeperkirakan besarnya evaporasi dan

    evapotranspirasi yang terjadi pada daerah

    penelitian merupakan areal persawahan sangat

    diperlukan dukungan data klimatologi dari stasiun

    pengukuran yang dapat mewakili. Data klimatologi

    terdiri dari data temperatur, data kelembaban udara,

    data kecepatan angin, dan penyinaran matahari.

  • Kajian Perencanaan Saluran Tresier dan Kuarter Irigasi Kecamatan Kampar

    Sutopo, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Riau Page 125

    Data Debit Sungai

    Bersumber dari Dinas Tanaman Pangan dan

    Hortikultura dan Irigasi Kabupaten Kampar

    disajikan data debit Sungai Ketaman pada tahun

    2011.

    3. ANALISA DAN PEMBAHASAN

    Analisa Hidrologi

    Perhitungan Evapotranspirasi

    Perhitungan Evapotranspirasi potensial

    menggunakan metode pendekatan Pennman

    Modifikasi hasil selengkapnya disajikan seperti

    pada Gambar 1 di bawah ini:

    Gambar 1. Perhitungan ETo Menggunakan

    Pennman Modifikasi

    Perhitungan Curah Hujan Effektif

    Perhitungan curah hujan effektif diambil dari harga

    curah hujan bulanan Stasiun pencatat hujan

    Kampar.Data-data yang digunakan adalah data

    curah hujan selama 10 tahun yaitu dari tahun 2002-

    2012. Untuk perhitungan curah hujan disajikan

    seperti pada Gambar 2 di bawah ini:

    Gambar 2.Hasil Perhitungan Curah Hujan Effektif

    Perhitungan Kebutuhan Air

    Bersumber dari hasil perhitungan kebutuhan air

    berdasarkan harga evapotranspirasi, curah hujan

    dengan pola tanam padi-padi-bero. Dengan

    mengambil empat alternatif mulai masa tanam

    untuk penyiapan lahan yaitu :

    Masa tanam bulan Januari periode 1 untuk

    periode tanam Padi I bulan Januari dan

    Padi II bulan Mei II.

    Masa tanam bulan April periode 1 untuk

    periode tanam Padi I bulan April dan Padi

    II bulan Agustus II.

    Masa tanam bulan Juni periode 1 untuk

    periode tanam Padi I bulan Juni dan Padi

    II bulan Oktober II.

    Masa tanam bulan Agustus periode 1

    untuk periode tanam Padi I bulan Agustus

    dan Padi II bulan Desember II.

    Untuk perhitungan kebutuhan air irigasi alternatif I

    sampai IV hasil selengkapnya disajikan seperti

    pada Gambar 3 di bawah ini:

    Gambar 3. Grafik Hubungan Antara Nilai Kebutuhan Air Irigasi Untuk

    Berbagai Alternatip Pola Tanam I

    sampai IV

    Berdasarkan hasil perhitungan kebutuhan air di

    sawah (NFR) yang disajikan pada Gambar 3 di

    atas untuk berbagai alternatif pola tanam I

    sampai IV maka dipilih Alternatip I karena

    diperoleh nilai NFR maksimum 1,381 lt/dt/ha.

  • Page 126 JURNAL APTEK Vol. 4 No.2 Juli 2012

    Perhitungan Debit Saluran

    Dengan menetapkan kebutuhan air irigasi

    (NFR) maksimum adalah sebesar 1,381 lt/dt/ha

    untuk pola tanam alternatip I, langkah selanjutnya

    menghitung debit saluran Tersier B dengan

    menggunakan Persamaan 17 yang hasil

    selengkapnya adalah sebagai berikut :

    Q = (A x NFR ) / ( Eff ter)

    Q = (58 x 1.381 ) / (0.8) = 100.05 lt/dt

    Hasil perhitungan debit untuk saluran sekunder

    disajikan seperti pada Gambar 4 di bawah ini.

    Gambar 4. Grafik Hasil Perhitungan Debit Saluran Sekunder Daerah Irigasi Ranah

    Singkuang Kabupaten Kampar

    Langkah selanjutnya hasil perhitungan debit untuk

    saluran tersier disajikan seperti pada Gambar 5 di

    bawah ini.

    Gambar 5. Grafik Hasil Perhitungan Debit Saluran

    Sekunder Daerah Irigasi Ranah

    Singkuang Kabupaten Kampar

    Analisa Debit di Pintu Pengambilan

    Dengan menetapkan kebutuhan air irigasi

    (NFR) maksimum adalah sebesar 1,381 lt/dt/ha

    untuk pola tanam alternatip I, langkah selanjutnya

    menghitung debit saluran primer dengan

    menggunakan Persamaan 15 dengan contoh

    perhitungan Saluran Primer

    Q = (241.5 x 1.381 ) / (0.65)

    Q = 513 lt/dt

    maka debit air yang diharapkan dari sungai untuk

    mengairi sawah sebesar 0,513 m3/dt sedangkan

    debit sungai Ketaman dengan debit maksimum

    sebesar 1,520 m3/dt dan minimum sebesar 0,505

    m3/dt seperti yang terlihat pada Gambar 5seperti di

    bawah ini dapat memenuhi kebutuhan air pada

    sawah

    Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Dan Irigasi

    Kabupaten Kampar

    Gambar 5. Grafik Nilai Debit Rata-rata Sungai

    Ketaman

    Perhitungan Dimensi Saluran

    Saluran Tersier b1

    Luas areal yang dialiri = 58 Ha

    Debit (Q ) = 0.1005 m3/dt

    b/h = 1 atau b=h untuk m=1

    Kekasaran Manning (n) = 0.015

    Kecepatan aliran (v) = 0.3 m/dt

    Berdasarkan data-data di atas maka akan

    diperoleh hasil yang disajikan seperti pada tabel 1

    di bawah ini :

  • Kajian Perencanaan Saluran Tresier dan Kuarter Irigasi Kecamatan Kampar

    Sutopo, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Riau Page 127

    Tabel 1. Hasil Perhitungan Dimensi Saluran

    Tersier b1

    Parameter Rumus Hasil

    Luas

    penampang

    basah saluran (A)

    A= Q/V

    0.334

    Keliling

    penampang

    basah saluran (P)

    P= b+ h

    (m2+1)

    1/2

    1.562

    Jari-jari

    hidrolis (R) R=A/P

    0.192

    Kedalaman Air (h)

    h 0.408

    Lebar dasar

    saluran (b) b

    0.408

    Kemiringan Saluran (I)

    I= [(v.n)/R2/3

    ]1/2 0.00018

    Tinggi

    jagaan (w) W=1/3xh

    0.136

    Sumber : Hasil Perhitungan

    4. KESIMPULAN

    Berdasarkan hasil kajian perencanaan Saluran

    Tersier dan Saluran Kuarter pada Daerah Irigasi

    Ranah Singkuang Kabupaten Kampar, maka

    didapatkan kesimpulan sebagai berikut :

    Dengan melakukan empat variasi awal

    tanam kebutuhan air di sawah (NFR)

    dengan pola tanam padi-padi-bero untuk

    alternatip I akan diperoleh nilai NFR

    maksimum sebesar 1,381 lt/dt/ha.

    Dimensi saluran tersier dan kuarter

    berturut - turut untuk lebar dasar saluran

    (b) 0.42 m dan 0.2 m, tinggi air pada

    saluran (h) 0.42 m dan 0.20 m, tinggi

    jagaan (w) 0.14 m dan 0.67 m dan

    kemiringan dasar saluran (I) 1.8 x 10-4

    dan 1.8 x 10-4

    .

    DAFTAR PUSTAKA

    Direktorat Jenderal Pengairan. 1986. Standar

    Perencanaan Irigasi KP-01. Bandung: C.V.

    Galang Persada

    Direktorat Jenderal Pengairan. 1986. Standar

    Perencanaan Irigasi KP-02. Bandung: C.V.

    Galang Persada

    Sudjarwadi. 1979. Pengantar Teknik Irigasi.

    Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

    Soemarto, C.D. 1979. Hidrologi Teknik, Jakarta:

    Erlangga.

    Triatmodjo, Bambang. 2008. Hidrologi Terapan.

    Yogyakarta: Beta Offset

  • Page 128 JURNAL APTEK Vol. 4 No.2 Juli 2012

Recommended

View more >