Peranan Elektroneurografi Sebagai Penilaian Neuropati ... ada riwayat gangguan saraf tepi sebelumnya

  • View
    2

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Peranan Elektroneurografi Sebagai Penilaian Neuropati ... ada riwayat gangguan saraf tepi sebelumnya

  •  

    1    

    PEMERIKSAAN ELEKTRONEUROGRAFI SEBAGAI PENILAIAN NEUROPATI

    PERIFER PADA PEKERJA TERPAPAR VIBRASI

    Alifa Dimanti*, Fitri Octaviana**, Jofizal Jannis**, Joedo Prihartono***

    ABSTRACT

    Background: Long term exposure to vibration may cause persistent sensorineuroral disorders as well as vascular and musculoskeletal disorders. Electroneurographic (ENG) examination is a gold standard to evaluate peripheral neuropathy due to vibration exposure in early phase. Hence, it can be used as an early detection before clinical manifestation occurs. Objectives: The main objectives of this study was to find the prevalence of HAVS based on Stockholm Workshop Scale (SWS), prevalence of peripheral neuropathy based on ENG examination in subject with vibration exposure, and to compare those results. Methods: This cross-sectional study included 42 bajaj drivers. All subjects were interviewed with Stockholm Workshop Scale and were done ENG examination in all of four extremities. Results: HAVS based on SWS occurs in 21.7% subjects while peripheral neuropathy as a result of ENG examination was 85.7% in both upper extremities and 14.3% and 7.1% in right and left lower extremities, respectively. Nerve Conduction Study (NCV) abnormality most common occurred in right motor radial nerves and left sensory median nerve. CTS-induced vibration in this study occurred in 19% and 16.7% in right and left hands. Axonopathy was found in all nerves that had been tested. Alcohol consumption has a significant correlation with peripheral neuropathy (p=0.019). Conclusion: Exposure to vibration caused disorders in peripheral nerves system such as motor and sensory neuropathy, axonopathy, and CTS-induced vibration. ENG examination can be used to detect neuropathy before clinical manifestation occurs. Keywords: HAVS, peripheral neuropathy, axonopathy, CTS-induced vibration

    ABSTRAK

    Latar belakang: Paparan vibrasi jangka panjang dapat menimbulkan gangguan pada sistem sensorineural yang menetap. Pemeriksaan elektroneurografi sebagai baku emas penilaian neuropati perifer diharapkan dapat digunakan sebagai deteksi dini terjadinya neuropati perifer akibat paparan vibrasi. Tujuan: Mengetahui angka kejadian HAVS berdasarkan SWS, neuropati perifer berdasarkan pemeriksaan elektroneurografi, serta hubungan keduanya, dan faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode: Studi potong lintang pada 42 pengemudi bajaj. Subjek diwawancara dengan menggunakan SWS dan dilakukan pemeriksaan ENG pada keempat ekstremitas. Hasil: HAVS berdasarkan SWS terjadi pada 21.7% subjek. Neuropati perifer berdasakan pemeriksaan ENG terjadi pada 85.7% ekstremitas atas kanan dan kiri serta ekstremitas bawah kiri 14.3% dan kanan 7.1%. Penurunan KHS pada subjek paling banyak terjadi pada N..Radialis motorik kanan dan N.Medianus sensorik kiri. STK akibat vibrasi pada tangan kanan dan kiri adalah 19% dan 16.7%. Aksonopati terjadi pada semua saraf yang diperiksa. Alkohol memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian neuropati perifer. Kesimpulan: Paparan vibrasi menimbulkan gangguan pada sistem saraf berupa neuropati motorik dan sensorik, aksonopati, dan sindroma terowongan karpal (STK). Pemeriksaan elektroneurografi dapat digunakan untuk mendeteksi neuropati sebelum timbul manifestasi klinis. Kata Kunci: HAVS, neuropati perifer, aksonopati, STK akibat getaran * Peserta Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi FKUI, Jakarta

    ** Staf Departemen Neurologi FKUI / RSCM, Jakarta

  •  

    2    

    *** Staf Departemen Komunitas FKUI, Jakarta

    PENDAHULUAN Seiring dengan pesatnya perkembangan industri dan kemajuan teknologi, penggunaan alat-alat listrik selama proses industri sering digunakan dan hampir selalu menimbulkan getaran yang dapat memengaruhi pekerja industri. Disamping itu, kebutuhan akan alat transportasi murah dan terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat, menempatkan bajaj sebagai salah satu alat transportasi pilihan. Namun, alat transportasi ini juga memiliki keterbatasan, antara lain getaran dengan frekuensi >1000 Hz dan bising dengan intensitas lebih dari 64 dB (Arifiani). Paparan terhadap getaran dengan frekuensi di luar kisaran 0,5 – 100 Hz1 atau paparan terhadap getaran yang melebihi 1000 jam kerja dapat menimbulkan manifestasi klinis.2,3 Manifestasi klinis yang disebabkan oleh paparan vibrasi adalah neuropati perifer, yang merupakan salah satu komponen gangguan pada Hands-Arm Vibration Syndrome (HAVS). Hand-Arm Vibration Syndrome (HAVS) merupakan sindroma klinis yang melibatkan gangguan sensorineural, vaskular, dan muskuloskeletal. Kelainan yang timbul dapat bersifat reversibel bila pajanan getaran dihentikan pada tahap dini. Namun pada keadaan lanjut, kelainan dapat menetap dan menimbulkan berbagai permasalahan medis, gangguan fungsional pada tangan dan lengan yang dapat mengakibatkan kecelakaan, serta gangguan sosial berupa penurunan kualitas hidup. Kelainan ini bersifat kronis dan seringkali terlambat dideteksi sehingga terjadi kecacatan yang menetap.2 Prevalensi HAVS sangat bervariasi di berbagai negara dan pada berbagai bidang pekerjaan, yaitu 6% pada pekerja di Amerika dan 100% pada pekerja tambang di India. Prevalensi HAVS di Indonesia pengemudi bajaj adalah 23.6%.3 Patofisilogi terjadinya HAVS diduga akibat interaksi berbagai mekanisme berikut: 1.Disfungsi neural—ketidakseimbangan otonom dan disfungsi reseptor dan ujung saraf yang menimbulkan general neuronal loss di saraf perivaskular kutaneus yang mengandung calcitonin gene-related peptide (CGRP).4 2. Vasodisregulasi akral lokal—Disfungsi endotel timbul akibat paparan getaran pada lengan-tangan: rusaknya protein Gα1, berkurangnya pelepasan atau meningkatnya metabolisme dan degradasi nitric oxide (NO), prostasiklin dan atau endotelium-derived hyperpolarizing factor; meningkatnya pelepasan endoperoksida atau produksi reactive oxygen species (ROS); peningkatan pembentukan endothelin-1; penurunan sensitifitas otot halus pembuluh darah terhadap NO, prostasiklin dan atau endotelium-derived hyperpolarizing factor; rusaknya transduksi sinyal sel endotel; defisiensi zat untuk pembentukan enzim NO-sintase (arginine); perubahan NO-sintase atau salah satu ko-faktornya. 3. Shear stress dan 4. Aktivasi sel dan viskositas darah. Faktor-faktor lain diduga berperan pada terjadinya HAVS, antara lain faktor genetik4, karakteristik getaran1, proses kerja, lingkungan kerja, dan faktor individual.4,5 Diagnosis HAVS ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang lainnya. Pemeriksaan fisik neurologis yang dilakukan meliputi pemeriksaan raba halus, nyeri, suhu, aesthesiometry, Vibration perception threshold, Uji Phalen (wrist flexion) dan uji Tinel (tunnel percussion) untuk menyingkirkan sindroma terowongan karpal secara klinis.1 Tidak ada satu pemeriksaan pun yang cukup spesifik dan sensitif untuk menegakkan diagnosis HAVS.6 Pemeriksaan neurofisiologi, kecepatan hantaran saraf, dianggap sebagai pemeriksaan baku emas untuk menilai neuropati perifer akibat pajanan getaran.

  •  

    3    

    Kriteria HAVS ditegakkan berdasarkan Stockholm Workshop Scale (SWS) yang bersifat subjektif. Skala ini memiliki komponen vaskular dan sensorineural yang masing-masing tidak berhubungan.1,2,6,7 Pemeriksaan kecepatan hantar saraf (KHS) adalah pemeriksaan yang tidak invansif dan lebih sesuai digunakan untuk evaluasi suatu populasi; kelainan pada kecepatan hantar saraf, khususnya sensorik, merupakan gambaran dini kerusakan saraf perifer dan sebagai indikator neuropati subklinis yang paling konsisten.8,9 Kecepatan hantar saraf (KHS) secara langsung dipengaruhi oleh diameter serabut saraf dan tebalnya lapisan mielin atau selubung saraf.8 Dasgupta pada tahun 1996 menunjukkan kemungkinan adanya hubungan neuropati idiopatik dengan okupasi. Mekanisme patologis komponen neurologis HAVS hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Beberapa teori yang dikemukakan adalah adanya cedera pada saraf perifer yang menyebabkan terjadinya degenerasi Wallerian, demielinisasi segmental, atrofi dan degenerasi aksonal, serta gangguan primer badan sel.10 Biopsi yang diambil dari pekerja yang terpapar vibrasi menunjukkan adanya degenerasi aksonal.11 Gambaran neuropati perifer pada pekerja yang menderita HAVS telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Pemeriksaan KHS pada 162 subjek dengan kemungkinan diagnosis HAVS ditemukan gambaran Sindroma terowongan karpal (SKT)—sebagai gambaran neuropati nervus medianus— pada tangan kanan dan kiri masing-masing 33% dan 22%; dan neuropati ulnaris sisi kanan dan kiri masing-masing 11% dan 9% (Lander et al).11 Penelitian lain di India hanya dilakukan pemeriksaan KHS motorik, didapatkan penurunan KHS motorik pada n.medianus, n.ulnaris, dan n.radialis (Dasgupta10). Sebaliknya, dalam penelitian mengenai SKT pada pekerja yang terpapar vibrasi terdapat penurunan KHS sensorik n.medianus dan n.ulnaris yang disertai dengan pemanjangan latensi distal saraf tersebut, tetapi tidak ditemukan penurunan KHS motorik (Koskimies et al).12 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran hasil pemeriksaan elektroneurografi, mengetahui angka kejadian HAVS berdasarkan SWS, mengetahui angka kejadian neuropati perifer pada ekstremitas atas berdasarkan pemeriksaan elektroneurografi pada pekerja terpapar vibrasi, dan mengetahui faktor risiko yang berperan menimbulkan neuropati pada HAVS. METODE PENELITIAN Studi potong-lintang ini dilakukan di Laboratorium Elektrofisiologi Departemen Neurologi dengan menyertakan 42 pengemudi bajaj. Sampel didapatkan melalui consecutive sampling. Kriteria inklusi pada penel