14
Jurnal Ilmu Ekonomi ISSN 2302-0172 Pascasarjana Universitas Syiah Kuala 14 Pages pp. 80- 93 Volume 2, No. 1,Februari 2014 - 80 PERAN SEKTOR KEUANGAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN DI INDONESIA Sovia Dewi 1 , Aliasuddin 2 , M. Shabri Abdul Majid 3 1) Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi Pascasarjana Universitas Syiah Kuala Banda Aceh 2,3) Dosen Fakultas Ekonomi dan Pasca Sarjana Universitas Syiah Kuala Abstract: This study aims at analyzing the role of financial development on poverty alleviation in Indonesia using annual data for the period of 1980-2014. The ARDL approach to cointegration is used to empirically examine the existence of long run equilibrium between financial development and poverty reduction. Additionally the VECM Granger Causality approach is used to detect the direction of the causal relationship between financial development and poverty reduction. Meanwhile, to measure the duration and magnitude of poverty in response to the relative strength of the financial development shocks the impulse response Functions (IRFs) and Variance decompositions (VDCs) were used. Money supply and domestic credit to the private sector ratio were used as the indicators for financial development while poverty measured by household consumption expenditure per capita, and economic growth measured by Gross Domestic Product (GDP) per capita. Our findings showed that there was a long run relationship between financial development, economic growth and poverty reduction in Indonesia. Furthermore, our result showed that there was a bidirectional between financial development and poverty reduction. Money supply and the ratio of private credit in poverty reduction were positively contributed by the innovative shocks stemming in poverty reduction. Therefore, to accelerate poverty reduction, the goverment may adopt a policy requiring all commercial banks to provide a certain percentage of loans to the SMEs (Small and Medium sized Enterprises) that will be helpfull for reducing poverty throug creating employment opportunities to growth. Keywords : Financial Development, Poverty, Growth, ARDL, VECM, Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran sektor keuangan terhadap pengentasan kemiskinan di Indonesia dengan menggunakan data tahunan untuk periode 1980-2014. Pendekatan ARDL untuk kointegrasi digunakan untuk membuktikan adanya keseimbangan jangka panjang antara sektor keuangan dengan pengentasan kemiskinan. Selain itu pendekatan VECM Kausalitas Granger digunakan untuk mendeteksi arah hubungan kausal antara sektor keuangan dan kemiskinan. Sementara itu, untuk mengukur jangka waktu dan besarnya kekuatan relatif kemiskinan dalam menanggapi guncangan yang dialami sektor keuangan digunakan Impulse Response Functions (IRFs) dan Variance Decompositions (VDCs). Jumlah uang beredar dan rasio kredit domestik untuk sektor swasta digunakan sebagai indikator pengembangan sektor keuangan, sementara itu kemiskinan diukur dengan pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita dan pertumbuhan ekonomi diukur dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan jangka panjang antara sektor keuangan, pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan di Indonesia. Selanjutnya, hasil menunjukkan adanya hubungan kausalitas dua arah antara sektor keuangan dengan kemiskinan. Kontribusi jumlah uang beredar dan rasio kredit swasta adalah positif dalam merespon guncangan yang berasal dari kemiskinan. Oleh karena itu, untuk mempercepat pengentasan kemiskinan, pemerintah dapat mengambil kebijakan untuk menuntut semua bank-bank komersial menyediakan fasilitas kemudahan akses pinjaman bagi kelompok miskin dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UKM). Melalui kebijakan tersebut akan membantu untuk mengurangi kemiskinan melalui penciptaan kesempatan kerja dan pada akhirnya akan mengarah kepada peningkatan pertumbuhan ekonomi. Kata kunci : Sektor Keuangan, Kemiskinan, Pertumbuhan Ekonomi, ARDL, VECM.

PERAN SEKTOR KEUANGAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN …

  • Upload
    others

  • View
    20

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: PERAN SEKTOR KEUANGAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN …

Jurnal Ilmu Ekonomi ISSN 2302-0172

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala 14 Pages pp. 80- 93

Volume 2, No. 1,Februari 2014 - 80

PERAN SEKTOR KEUANGAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN DI

INDONESIA

Sovia Dewi

1, Aliasuddin

2, M. Shabri Abdul Majid

3

1) Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi Pascasarjana Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

2,3)Dosen Fakultas Ekonomi dan Pasca Sarjana Universitas Syiah Kuala

Abstract: This study aims at analyzing the role of financial development on poverty alleviation in

Indonesia using annual data for the period of 1980-2014. The ARDL approach to cointegration is

used to empirically examine the existence of long run equilibrium between financial development

and poverty reduction. Additionally the VECM Granger Causality approach is used to detect the

direction of the causal relationship between financial development and poverty reduction.

Meanwhile, to measure the duration and magnitude of poverty in response to the relative strength

of the financial development shocks the impulse response Functions (IRFs) and Variance

decompositions (VDCs) were used. Money supply and domestic credit to the private sector ratio

were used as the indicators for financial development while poverty measured by household

consumption expenditure per capita, and economic growth measured by Gross Domestic Product

(GDP) per capita. Our findings showed that there was a long run relationship between financial

development, economic growth and poverty reduction in Indonesia. Furthermore, our result

showed that there was a bidirectional between financial development and poverty reduction.

Money supply and the ratio of private credit in poverty reduction were positively contributed by

the innovative shocks stemming in poverty reduction. Therefore, to accelerate poverty reduction,

the goverment may adopt a policy requiring all commercial banks to provide a certain percentage

of loans to the SMEs (Small and Medium sized Enterprises) that will be helpfull for reducing

poverty throug creating employment opportunities to growth.

Keywords : Financial Development, Poverty, Growth, ARDL, VECM,

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran sektor keuangan terhadap pengentasan

kemiskinan di Indonesia dengan menggunakan data tahunan untuk periode 1980-2014. Pendekatan ARDL

untuk kointegrasi digunakan untuk membuktikan adanya keseimbangan jangka panjang antara sektor

keuangan dengan pengentasan kemiskinan. Selain itu pendekatan VECM Kausalitas Granger digunakan

untuk mendeteksi arah hubungan kausal antara sektor keuangan dan kemiskinan. Sementara itu, untuk

mengukur jangka waktu dan besarnya kekuatan relatif kemiskinan dalam menanggapi guncangan yang

dialami sektor keuangan digunakan Impulse Response Functions (IRFs) dan Variance Decompositions

(VDCs). Jumlah uang beredar dan rasio kredit domestik untuk sektor swasta digunakan sebagai indikator

pengembangan sektor keuangan, sementara itu kemiskinan diukur dengan pengeluaran konsumsi rumah

tangga per kapita dan pertumbuhan ekonomi diukur dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan jangka panjang antara sektor keuangan, pertumbuhan

ekonomi dan pengentasan kemiskinan di Indonesia. Selanjutnya, hasil menunjukkan adanya hubungan

kausalitas dua arah antara sektor keuangan dengan kemiskinan. Kontribusi jumlah uang beredar dan rasio

kredit swasta adalah positif dalam merespon guncangan yang berasal dari kemiskinan. Oleh karena itu,

untuk mempercepat pengentasan kemiskinan, pemerintah dapat mengambil kebijakan untuk menuntut

semua bank-bank komersial menyediakan fasilitas kemudahan akses pinjaman bagi kelompok miskin dan

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UKM). Melalui kebijakan tersebut akan membantu untuk mengurangi

kemiskinan melalui penciptaan kesempatan kerja dan pada akhirnya akan mengarah kepada peningkatan

pertumbuhan ekonomi.

Kata kunci : Sektor Keuangan, Kemiskinan, Pertumbuhan Ekonomi, ARDL, VECM.

Page 2: PERAN SEKTOR KEUANGAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN …

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

81 - Volume 2, No. 1, Februari 2014

PENDAHULUAN

Berdasarkan laporan UNDP tahun 2014,

telah terjadi peningkatan jumlah penduduk

dunia yang hidup dalam kemiskinan pada garis

kemiskinan US $1,25 - $2,50 per hari sebanyak

1,2 juta orang atau 22% .

Di Indonesia sendiri dalam beberapa

dekade terakhir telah mengalami penurunan

tingkat kemiskinan dari 16,66% pada tahun

2004 menjadi 10,96% tahun 2014. Namun

tingkat penurunan kemiskinan tersebut mulai

mengalami perlambatan. Sebelumnya

peningkatan terjadi sebesar 1,27% pada periode

2008-2009. Namun setelah periode tersebut

mulai terjadi perlambatan tingkat penurunan

kemiskinan, pada 2011 hingga 2014 penurunan

tingkat kemiskinan hanya berkisar 0,5% saja.

Selain itu data Badan Pusat Statistik

(BPS) menunjukkan bahwa telah terjadi

peningkatan angka gini rasio dari 0,37 pada

2009 menjadi 0,41 pada 2014. Dengan

demikian dapat dikatakan ketimpangan

distribusi pendapatan dalam masyarakat

semakin melebar. Selanjutnya salah satu target

penting dari pengentasan kemiskinan yang

ditetapkan oleh Millenium Development Goals

(MDGs) tahun 2000 silam belum dapat dicapai.

Capaian target persentase penduduk yang hidup

dibawah garis kemiskinan nasional masih

11,47% dari target yang ditetapkan sebesar

7,55% (Bappenas, 2014).

Menurut Jonaidi (2012), melalui

peningkatan akses modal, kualitas pendidikan

dan derajat kesehatan orang miskin akan bisa

meningkatkan produktivitas mereka dalam

berusaha yang akan mengarah ke pertumbuhan

ekonomi.

Dari berbagai penyebab kemiskinan,

alasan pertumbuhan ekonomi dan akses

terhadap keuangan sangat berperan dalam

pengentasan kemiskinan. Dampak keuangan

terhadap kemiskinan sangat jelas bahwa

terjadinya perubahan tingkat pendapatan

sebagai akibat perubahan yang terjadi pada

sektor keuangan akan mengarah ke perubahan

tingkat kemiskinan.

Sektor keuangan mampu memobilisasi

tabungan dan menyalurkan kepada pihak-pihak

yang membutuhkan melalui kredit. Salah satu

indikator sektor keuangan dapat di lihat dari

rasio jumlah uang beredar terhadap PDB.

Peningkatan rasio jumlah uang beredar terhadap

PDB cukup signifikan, terjadi kenaikan sebesar

15,89 persen dalam waktu 5 tahun dari 21,41

persen tahun 2009 menjadi 37,3 persen pada

2013. Peningkatan indikator lainnya juga terjadi

pada rasio kredit domestik untuk sektor swasta

yang di sediakan sektor keuangan sebesar 36,96

persen pada 2009 meningkat menjadi 45,64

persen pada 2013.

Pentingnya sektor keuangan untuk

memberantas kemiskinan telah diakui, banyak

penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa

perkembangan sektor keuangan akan dapat

mengurangi tingkat kemiskinan. Beberapa studi

yang telah mengkaji hal tersebut diantaranya

Beck et al. (2007), Odhiambo (2009), Uddin et

al. (2014), Abosedra et al. (2015) dan Dhrifi

(2014) .

Namun penelitian sejenis belum banyak

Page 3: PERAN SEKTOR KEUANGAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN …

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Volume 2, No. 1, Februari 2014 - 82

dilakukan di Indonesia. Sepanjang pengamatan

penulis, hanya ditemukan satu penelitian yakni

studi Maryanto tahun 2013. Berdasarkan hal

tersebut diatas, maka diperlukan suatu

penelitian untuk menganalisis peran sektor

keuangan dalam pengentasan kemiskinan di

Indonesia.

KAJIAN PUSTAKA

Konsep Kemiskinan

Secara umum kemiskinan diartikan

kondisi ketidakmampuan pendapatan dalam

mencukupi kebutuhan pokok. World Bank

membuat garis kemiskinan absolut US$1

(berdasarkan PPP 2005 US$ 1.25) dan US$2

PPP (purchasing power parity/paritas daya

beli) per hari (bukan nilai tukar US$ resmi)

dengan tujuan untuk membandingkan angka

kemiskinan antar negara/wilayah dan

perkembangannya menurut waktu untuk

menilai kemajuan yang dicapai dalam

memerangi kemiskinan di tingkat

global/internasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) juga telah

memberikan acuan kemiskinan untuk membuat

Poverty line (garis kemiskinan). Acuan tersebut

dengan menggunakan pendekatan pengeluaran

konsumsi penduduk (consumption expenditure

approach) dengan batasan kemiskinan

berpatokan pada kcukupan kebutuhan kalori

(2100 kkal/kapita/hari) dan kebutuhan dasar

non makanan lainnya per hari. Nilai garis

kemiskinan digunakan untuk menentukan

kemiskinan mengacu pada kebutuhan minimum

yang dibutuhkan seseorang yaitu 2100 kalori

per kapita per hari, ditambah dengan kebutuhan

minimum non makanan yang merupakan

kebutuhan dasar seseorang yang meliputi:

papan, sandang, sekolah, transportasi serta

kebutuhan rumah tangga yang mendasarinya.

Jadi menurut BPS, jika seseorang/individu yang

pengeluarannya lebih rendah dari Garis

Kemiskinan maka seseorang/individu tersebut

dikatakan miskin.

Sektor Keuangan

Sektor keuangan merupakan bagian

dari perekonomian yang berkaitan dengan

transaksi-transaksi dari lembaga keuangan.

Lembaga keuangan sebagai lembaga perantara

(intermediary) dalam penyaluran tabungan

(saving) dan dana-dana lain untuk investasi

(investment). Menurut DFID (Departement For

International Development) sektor keuangan

adalah lembaga formal dan informal didalam

perekonomian yang memberikan pelayanan

keuangan kepada konsumen, para pelaku bisnis

dan lembaga keuangan lainnya. ADB (2013)

mereview tulisan Levine tahun 2004 tentang

lima fungsi dasar dari lembaga perantara

keuangan, yaitu mobilisasi tabungan, mengelola

resiko, memperoleh informasi tentang peluang-

peluang investasi, mengerahkan kontrol bagi

perusahaan, memperlancar transaksi dan

memfasilitasi pertukaran barang dan jasa.

Hubungan antara sektor keuangan

dengan pertumbuhan ekonomi di negara-negara

Sub–Sahara Afrika juga menjadi kajian Ahmed

(2013) yang menunjukan bahwa dengan adanya

liberalisasi dalam sektor keuangan akan

Page 4: PERAN SEKTOR KEUANGAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN …

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

83 - Volume 2, No. 1, Februari 2014

meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sektor

keuangan tidak hanya meningkatkan

perkembangan sektor swasta tetapi juga

mendorong sektor publik untuk melakukan

investasi infrastruktur dan memungkinkan

rumah tangga untuk investasi modal manusia

serta keuntungan untuk konsumsi (ADB, 2013).

Bukti lain ditunjukan oleh Uddin dan Shahbaz

(2013) di Kenya bahwa dalam jangka panjang

sektor keuangan berdampak positif terhadap

pertumbuhan ekonomi karena sektor keuangan

akan dapat menstimulasi peningkatan

pertumbuhan ekonomi.

Dengan adanya perkembangan sektor

keuangan menurut (DFID, 2004),

memungkinkan masyarakat miskin menarik

tabungan untuk memulai usaha mikro yang

akan mengarah ke akses yang lebih luas untuk

jasa keuangan, menghasilkan banyak lapangan

kerja, peningkatan pendapatan dan akhirnya

dapat mengurangi kemiskinan. Selanjutnya

perkembangan sektor keuangan akan dapat

menetes kebawah (trickle down) kepada orang

miskin melalui pengaruh pertumbuhan ekonomi.

Hal ini tersirat dari hubungan sektor keuangan

dengan pertumbuhan ekonomi bahwa

perkembangan sektor keuangan memiliki

dampak langsung pada standar hidup

masyarakat miskin.

Bahkan Devarajan et al. (2015)

meyakinkan dalam penelitiannya di Afrika

bahwa dalam jangka panjang pertumbuhan

ekonomi akan dapat menurunkan tingkat

kemiskinan, bahkan akan dapat tahan terhadap

goncangan eksternal yang timbul dari ekonomi

global seperti resesi.

Di Indonesia menurut Jonaidi (2012),

terdapatnya hubungan dua arah yang kuat

antara pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan.

Pertumbuhan ekonomi berpengaruh signifikan

terhadap pengurangan angka kemiskinan

PENELITIAN SEBELUMNYA

Hasil penelitian Beck et al. (2007)

menyimpulkan bahwa perkembangan sektor

keuangan berpengaruh dalam penurunan

kemiskinan bahkan dapat menurunkan

ketimpangan pendapatan. Perkembangan sektor

keuangan membantu masyarakat miskin dalam

pembiayaan yang berdampak pada peningkatan

pertumbuhan agregat hingga 60 persen.

Sementara penurunan ketimpangan pendapatan

dapat berkurang sebesar 40 persen.

Kajian Uddin et al. (2014) menunjukan

bahwa adanya hubungan jangka panjang antara

perkembangan sektor keuangan, pertumbuhan

ekonomi dan pengurangan kemiskinan.

Hubungan kausalitas dua arah terjadi antara

sektor keuangan dan pengentasan kemiskinan.

Sektor keuangan yang menyebabkan

kemiskinan dan sebaliknya. Kausalitas dua arah

juga ditemukan antara pertumbuhan ekonomi

dan kemiskinan.

Kajian Ho dan Odhiambo (2011)

melaporkan hal yang sama, bahwa dalam

jangka panjang pengentasan kemiskinan

menyebabkan perkembangan sektor keuangan.

Sedangkan dalam jangka pendek, terdapat efek

feedback (dua arah) antara pengentasan

kemiskinan dengan perkembangan sektor

Page 5: PERAN SEKTOR KEUANGAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN …

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Volume 2, No. 1, Februari 2014 - 84

keuangan.

Hasil studi Uddin et al. (2012) yang

melakukan kajian dinegara Bangladesh

menunjukkan terdapatnya kointegrasi antar

semua variabel yang digunakan. Selain itu

terdapat hubungan dua arah antara sektor

keuangan dengan pengentasan kemiskinan di

negara tersebut.

Penelitian Maryanto (2013) di

Indonesia menyimpulkan bahwa pertumbuhan

ekonomi dan perkembangan sektor keuangan

mempunyai hubungan jangka panjang dengan

penurunan tingkat kemiskinan. Hasil penelitian

ini juga menemukan bahwa perkembangan

sektor keuangan menyebabkan pertumbuhan

ekonomi dan mendukung supply leading

hypothesis di Indonesia.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan data

tahunan runtun waktu (time series) periode

1980-2014 yang diperoleh dari beberapa

sumber, seperti Statistik Ekonomi dan

Keuangan Indonesia (SEKI), Badan Pusat

Statistik (BPS), Bank Indonesia (BI), Data

World Bank, SESRIC (The Statistical,

Economic and Social Research and Training

Center for Islamic Countries), kepustakaan serta

literatur-literatur yang berkaitan dan

mendukung penulisan ini.

Model persamaan linier dalam

penelitian ini adalah:

LPOVt = 0 + β1FD + β2 LPDB + εt .............(1)

Dimana POV adalah kemiskinan, FD

menunjukan pengukuran sektor keuangan dan

PDB adalah pertumbuhan ekonomi. Karena

pengukuran FD menggunakan dua proksi yakni

jumlah uang beredar (LM2) dan kredit

domestik untuk sektor swasta (CR), maka

persamaan (1) dapat di pecah menjadi sebagai

berikut:

LPOVt = 0 + β1LM2 + β2LPDB + εt .......(1.1)

LPOVt = 0 + β1CR + β2LPDB + εt ..........(1.2)

Adapun metode analisis yang

digunakan untuk stasioneritas data adalah uji

ADF (Augmented Dickey-Fuller) dan PP

(Phillips–Perron). Untuk memeriksa adanya

keseimbangan jangka panjang (long run

equilibrium) antara sektor keuangan dengan

kemiskinan digunakan teknik Autoregressive

Distributed Lag (ARDL). Selanjutnya rumus

empiris model ARDL yang dibentuk untuk

kointegrasi berdasarkan persamaan 1.1 dan 1.2

adalah:

ΔLPOVt = 01 + ∑ 11Δ (LPOVt−i)ni=1 + ∑ 12Δ(LM2t−i)

ni=1 +

∑ 13Δ(LPDBt−i)ni=1 + β11LPOVt-1 + β12LM2t-1 + β13LPDBt-1 +

ε1t ...........................................(2)

ΔLPOVt = 01 + ∑ 11Δ (LPOVt−i)ni=1 + ∑ 12Δ(CRt−i)

ni=1 +

∑ 13Δ(LPDBt−i)ni=1 + β11LPOVt-1 + β12CRt-1 + β13LPDBt-1 +

ε1t .............................................(3)

ΔLM2t = 02 + ∑ 21Δ(LM2t−i)ni=1 + ∑ 22Δ(LPOVt−i)

ni=1 +

∑ 23Δ(LPDBt−i)ni=1 + β21 (LPOVt-1) + β22(LM2t-1) + β23(LPDBt-

1) + ε2t ...........................(5)

Δ CRt = 02 + ∑ 21Δ(CRt−i)ni=1 + ∑ 22Δ(LPOVt−i)

ni=1 +

∑ 23Δ(LPDBt−i)ni=1 + β21 (LPOVt-1) + β22(CRt-1) + β23(LPDBt-1)

+ ε2t ..........................................................(5)

ΔLPDBt = 03 + ∑ 31Δ(LPDBt−i)ni=1 + ∑ 32Δ(LPOVt−i)

ni=1 +

∑ 33Δ(LM2t−i)ni=1 + β31(LPOVt-1) + β32(LM2t-1) + β33(LPDBt-1)

+ ε3t .........................................................(6)

ΔLPDBt = 03 + ∑ 31Δ(LPDBt−i)ni=1 + ∑ 32Δ(LPOVt−i)

ni=1 +

∑ 33Δ(CRt−i)ni=1 + β31 (LPOVt-1) + β32(CRt-1) + β33(LPDBt-1) +

Page 6: PERAN SEKTOR KEUANGAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN …

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

85 - Volume 2, No. 1, Februari 2014

ε3t ....................................(7)

Dimana P adalah pengeluaran konsumsi rumah

tangga perkapita, LM2 adalah jumlah uang

beredar, CR adalah kredit domestik untuk

sektor swasta, Y adalah pertumbuhan ekonomi,

1 sampai 4 koefisien jangka pendek, β1

sampai β4 adalah koefisien jangka panjang, t

adalah tahun, i adalah urutan lag dan ε adalah

error term. Hipotesis pengujian jangka panjang

yang digunakan adalah H0 : β11 = β21 = β31 = 0

(tidak berkointegrasi) melawan hipotesis

alternatif: H1 : β11 ≠ β21 ≠ β31 ≠ 0

(berkointegrasi).

Model Vector Error Correction Model

(VECM) dalam penelitian ini digunakan untuk

menguji hubungan kausalitas bivariat dan

multivariat antara sektor keuangan dengan

kemiskinan. Model VECM di estimasi sebagai

berikut:

ΔZt = α+ ΨiΔ𝑍t−1 +.........+ ΨkΔ𝑍t−k + Ω𝑍t−k +

εt .......................................(3.17)

Dimana 𝑍t = (P, FD, Y). α adalah n x 1 vektor

konstan masing-masingnya, Ψ adalah n x n

matrik (koefisien jangka pendek dinamis), Ω =

αβ′ dimana α adalah n x 1 vektor kolom yang

mewakili kecepatan penyesuaian jangka pendek

menuju ketidakseimbangan dan β′ adalah 1 x n

vektor baris kointegrasi yang menunjukan

matrik koefisien jangka panjang. εt adalah n x 1

vektor white noise error term dan k adalah

order autoregresi.

VDCs digunakan untuk menunjukkan

kekuatan relatif satu variabel terhadap variabel

lainnya. Sedangkan IRFs dapat menunjukan

tanggapan sementara goncangan satu variabel

terhadap goncangan variabel lainnya. Melalui

penerapan IRFs dalam penelitian ini akan dapat

diperiksa arah, jarak dan konsistensi tanggapan

kemiskinan untuk melakukan perubahan dalam

sektor keuangan dan pertumbuhan ekonomi.

HASIL PEMBAHASAN

Hasil Uji Akar Unit (Unit Root Test)

Hasil uji ADF dan PP menyatakan

bahwa kemiskinan, sektor keuangan dan

pertumbuhan ekonomi tidak stasioner pada

level. Variabel-variabel dalam penelitian ini

stasioner pada diferensi pertama (first

difference) atau dengan kata lain terintegrasi

pada order satu, I(1).

Autoregressive Distributed Lag (ARDL)

Pengujian adanya kointegrasi yang

berarti terdapatnya keseimbangan jangka

panjang antar variabel digunakan pendekatan

Autoregressive Distributed Lag (ARDL). Tabel

1 menunjukkan bahwa persamaan 2 hingga

persamaan 7 menghasilkan F-statistik yang

signifikan pada derajat kepercayaan 1%, 5%

dan 10%. Hasil ini membuktikan bahwa semua

variabel berkointegrasi yang berarti terdapatnya

keseimbangan jangka panjang antara sektor

keuangan dengan kemiskinan di Indonesia pada

periode 1980-2014.

Tabel 1. Hasil Uji Kointegrasi ARDL

Variabel

dependen/

independen

Panjang

lag

optimal

F-statistik Keputu

san

M

od

el

1

LPOV/LM2,LP

DB 6,6,6 4,1490*

Kointeg

rasi

Page 7: PERAN SEKTOR KEUANGAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN …

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Volume 2, No. 1, Februari 2014 - 86

LM2/LPOV,LP

DB 2,2,3 7,0204***

Kointeg

rasi

LPDB/LM2,LP

OV 3,3,1 6,1667***

Kointeg

rasi

Mo

del

2

LPOV/CR,LPD

B 6,6,5 5,4718**

Kointeg

rasi

CR/LPOV,LPD

B 1,4,2 9,5822***

Kointeg

rasi

LPDB/CR,LPO

V 5,6,6 6,7415***

Kointeg

rasi

Catatan : ***, ** dan * menunjukkan tingkat signifikansi

pada derajat 1%, 5% dan 10%. Nilai kritis bounds yang

diambil didasarkan dari Narayan (2005) (case II:

restricted intercept and no trend, dengan jumlah k = 2)

yaitu 4,94 – 6,02 pada tingkat 1%; 3,47 – 4,33 pada

tingkat 5% dan 2,84 – 3,62 pada tingkat 10%.

Selanjutnya, Tabel 2. hasil estimasi

koefisien jangka panjang model ARDL

menunjukkan bahwa jumlah uang beredar

bertanda positif dan signifikan pada tingkat

kepercayaan 1% terhadap kemiskinan di

Indonesia. Apabila jumlah uang beredar

meningkat sebesar 1 persen maka akan

meningkatkan pengeluaran konsumsi rumah

tangga perkapita sebesar 0,1152%. Peningkatan

terhadap pengeluaran konsumsi rumah tangga

perkapita mengindikasikan terjadinya

penurunan kemiskinan. Koefisien jangka

panjang pertumbuhan ekonomi bertanda positif

dan tidak signifikan pada Model 1.

Tabel 2. Hasil Estimasi Model Jangka

Panjang ARDL

Variabel

dependen :

LPOV

Model 1

(6,6,6)

Model 2

(6,6,5)

Konstanta 4,8559** (2,2205)

1,0660** (2,3620)

M2 0,1152***

(2,7220) -

CR - 0,0029***

(3,3678)

LPDB 0,1559

(0,5080)

-0,2077*

(-1,6061)

Diagnosa uji

statistik

R2 0,9193 0.9548

R2 –Adj 0,7175 0,8595

D-W 2,2408 2,0114

χ2 (serial

korelasi) 2,4759 (p-

value = 0,1644)

2,0495 (p-

value =

0,1992)

χ2(heterosk

edastisitas) 2,0287 (p-value =

0,1531)

0,4728 (p-

value =

0,9189)

Catatan : ***,**dan * masing-masing menunjukkan tingkat

signifikansi 1%, 5% dan 10%; nilai dalam tanda kurung adalah

nilai t-statistik

Selanjutnya pada Model 2, Koefisien

rasio kredit domestik untuk sektor swasta

bertanda positif dan signifikan pada tingkat

kepercayaan 1%. Tanda positif tersebut sesuai

dengan yang diharapkan. Besar koefisien

0,0029 dapat diartikan kenaikan 1 persen dari

rasio tersebut, akan menyebabkan penurunan

kemiskinan sebesar 0,0029%. Sektor keuangan

yang mempunyai pengaruh positif terhadap

pengentasan kemiskinan di Indonesia konsisten

dengan hasil temuan Beck et al. (2007) dan

Dhrifi (2014) untuk negara-negara yang

berpendapatan tinggi dan menengah.

Namun koefisien pertumbuhan

ekonomi negatif dan signifikan pada tingkat

10% terhadap penurunan kemiskinan.

Peningkatan 1 persen pertumbuhan ekonomi

akan meningkatkan kemiskinan sebesar

0,2077%. Hal ini membuktikan kajian Zaman et

al. (2012) bahwa pertumbuhan ekonomi

menyebabkan peningkatan kemiskinan yang

diiringi dengan ketimpangan pendapatan.

Kontradiktif dengan hasil temuan Dhrifi (2014)

yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi

positif dan signifikan mempengaruhi penurunan

Page 8: PERAN SEKTOR KEUANGAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN …

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

87 - Volume 2, No. 1, Februari 2014

kemiskinan.

Namun pada Model 2, koefisien

pertumbuhan ekonomi negatif dan signifikan

pada tingkat 10% terhadap penurunan

kemiskinan. Peningkatan 1 persen pertumbuhan

ekonomi akan meningkatkan kemiskinan

sebesar 0,2077%. Hal ini membuktikan kajian

Zaman et al. (2012) bahwa pertumbuhan

ekonomi menyebabkan peningkatan kemiskinan

yang diiringi dengan ketimpangan pendapatan.

Nilai R2-adjusted untuk masing-masing

model adalah 0,7175 dan 0,8595 yang

menunjukkan bahwa secara bersama-sama

dalam jangka panjang sektor keuangan dan

pertumbuhan ekonomi berkontribusi

menjelaskan pengentasan kemiskinan di

Indonesia sebesar 71,75% dan 85,95%.

Kausalitas Bivariat

Hasil uji kausalitas bivariat menemukan

bahwa dengan menggunakan tingkat probability

α = 10%, kausalitas Granger membuktikan

adanya kausalitas satu arah (unidirectional

causality) antara variabel jumlah uang beredar

(LM2) dan kemiskinan (LPOV), namun tidak

sebaliknya. Hal ini menunjukkan bahwa

perubahan sektor keuangan di masa lalu

mempunyai pengaruh terhadap perubahan

kemiskinan di masa sekarang, namun tidak

sebaliknya. Hasil ini sama dengan kesimpulan

kajian Odhiambo (2010) di Kenya dan di

Zambia dan Moreno (2011) yang dilakukan

pada 35 negara-negara berkembang.

Demikian juga halnya dengan variabel

kemiskinan (LPOV) yang menyebabkan

perkembangan sektor keuangan melalui rasio

kredit swasta (CR) pada probabilita α = 5%,

tetapi tidak sebaliknya. Hal ini menunjukkan

bahwa perubahan tingkat kemiskinan di masa

lalu akan menyebabkan pengaruh terhadap

perubahan rasio kredit swasta di masa sekarang.

Dalam teori ekonomi dapat dijelaskan bahwa

salah satu cara dalam pengentasan kemiskinan

adalah melalui peningkatan pendapatan orang

miskin. Dengan adanya kredit untuk usaha bagi

orang miskin akan memungkinkan mereka

untuk memulai usaha mikro, sehingga akan

mengarah ke peningkatan pendapatan dan

perluasan lapangan kerja dan pada akhirnya

dapat mengurangi tingkat kemiskinan.

Pertumbuhan ekonomi (LPDB)

mempunyai kausalitas dua arah dengan

kemiskinan (LPOV) pada probabilita α=10%.

Hasil ini konsisten dengan kajian Uddin et al.

(2014) dan Abosedra et al. (2015). Selanjutnya

arah yang dideteksi dari jumlah uang beredar

(LM) ke pertumbuhan ekonomi adalah

unidirectional . Hal ini membuktikan teori

supply leading di Indonesia. Sementara

unidirectional juga terdapat dari sektor

keuangan CR ke pertumbuhan ekonomi yang

membenarkan berlakunya demand side

hypothesis di Indonesia yang mengatakan

bahwa sektor keuangan makin berkembang

setelah terjadinya pertumbuhan ekonomi.

Kausalitas Granger Multivariat

Berdasarkan VECM

Analisis kausalitas multivariat dapat

menyelidiki pergerakkan jangka pendek dan

Page 9: PERAN SEKTOR KEUANGAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN …

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Volume 2, No. 1, Februari 2014 - 88

jangka panjang variabel. Selain itu pengujian

ini dilakukan untuk mengetahui arah dan

kausalitas dari masing-masing variabel dalam

model, karena dalam hasil kointegrasi sebatas

hanya menyatakan hubungan tetapi belum arah

kausalitas. Hasil kausalitas multivariat

ditunjukkan dalam Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Kausalitas Multivariat VECM

Variabe

l Dependen

Variabel Independen

ΣΔLPO

V

ΣΔLP

DB

ΣΔLM

2

ΣΔCR

ECT(-1)

Model

1

ΔLPO

V -

2,7211*

(0,0732)

4,5076**

(0, 0150) -

-0,8536***

[-3,9546]

ΔLPD

B

6,3086**

(0,0144) -

4,7383**

(0,0304) -

-0,0468**

[-3,3622]

ΔLM2

3,5205*

(0.0621)

5,2025**

(0,0240)

-

- -0,4948**

[-2,6975]

Mo

del

2

ΔLPO

V -

5,3214**

(0,0226) -

5,3158**

(0,0227)

-1,2593***

[-5,5721]

ΔLPD

B

4,1502**

(0,0289) - -

3,3894**

(0,0513)

-0,1919*

[-1,7116]

ΔCR

2,8351*

(0,0620)

6,8415**

*

(0,0024)

- -

-0,0131

[-0,0784]

Catatan : *, ** dan *** menunjukkan α = 10%, 5% dan 1%. Nilai dalam tanda (.)

menunjukkan probabilitas pada uji-F sedangkan nilai dalam tanda [.] merupakan nilai t-statistik.

Model 1 mempunyai nilai ECT yang

negatif dapat diinterpretasikan sebagai adanya

mekanisme dalam memperbaiki

ketidakseimbangan variabel dependen terhadap

variabel independen. Kecepatan sistem Model 1

dalam menyesuaikan kembali

ketidakseimbangan jangka pendek untuk

menuju keseimbangan jangka panjang adalah

antara 4,6% hingga 85,36% per tahun. Dengan

demikian dapat dikatakan bahwa pengentasan

kemiskinan dalam menyesuaikan

ketidakseimbangan yang terjadi pada jangka

pendek akibat shock sektor keuangan akan

membutuhkan waktu kurang lebih 2 tahun

untuk mencapai keseimbangan jangka

panjangnya.

Hasil estimasi ECT Model 2

menyatakan bahwa antara 19,19% hingga

125,9% per tahun kecepatan penyesuaian

ketidakseimbangan jangka pendek untuk

menuju jangka panjang. Besarnya koefisien

ECT pada Model 2 mengindikasikan bahwa

Model 2 memiliki kecepatan penyesuaian

sistem sangat cepat untuk menyamakan kembali

tingkat ketidakseimbangannya ketika terjadi

guncangan dibandingkan Model 1.

Kausalitas dua arah (bidirectional)

diketahui terjadi antara perkembangan sektor

keuangan dengan pengentasan kemiskinan

(LPOV), baik dengan menggunakan variabel

jumlah uang beredar (LM2) maupun dengan

variabel rasio kredit domestik untuk sektor

swasta (CR) untuk mengukur perkembangan

sektor keuangan.

Hal ini bermakna bahwa pengaruh

sektor keuangan dapat menyebabkan

pengentasan kemiskinan dan sebaliknya

pengaruh kemiskinan juga dapat menyebabkan

perkembangan sektor keuangan di Indonesia.

Selain itu pertumbuhan ekonomi juga

mempunyai kausalitas dua arah terhadap

kemiskinan, demikian juga halnya terhadap

sektor keuangan. Hasil ini konsisten dengan

kesimpulan yang diperoleh Ho dan Odhiambo

(2011) di negara China, Uddin et al. (2012),

(2014) dan Abosedra et al. (2015).

Fenomena bi-directional causality

Page 10: PERAN SEKTOR KEUANGAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN …

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

89 - Volume 2, No. 1, Februari 2014

antara sektor keuangan, pertumbuhan ekonomi

dan pengentasan kemiskinan di Indonesia

mungkin dapat dijelaskan oleh alasan berikut.

Upaya pengentasan kemiskinan yang dilakukan

akan dapat mengembangkan sektor keuangan

apabila intermediasi keuangan memberikan

ruang dan insentif yang lebih untuk

berpartisipasinya kelompok-kelompok miskin

dalam pasar keuangan. Pemanfaatan yang

efektif dari sumber-sumber domestik melalui

sektor keuangan akan berdampak positif

terhadap pertumbuhan ekonomi dan

pengentasan kemiskinan.

Ketiga variabel tersebut terlihat saling

mempengaruhi satu sama lainnya, sehingga

apabila dilakukan kebijakan terhadap

pengentasan kemiskinan misalnya, maka sektor

keuangan dan pertumbuhan ekonomi juga harus

dikontrol secara bersamaan perkembangannya

untuk mengiringi kebijakan yang dilakukan

tersebut.

Impulse-Response Functions (IRFs)

Hasil estimasi IRF dalam 20 periode

(tahun) dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Impulse Response Kemiskinan dengan Sektor

Keuangan

Sebagaimana yang ditunjukkan oleh

Gambar 1. baris pertama, respon yang diberikan

variabel kemiskinan (LPOV) akibat adanya

shock pada variabel jumlah uang beredar (LM2)

menunjukkan respon yang positif hingga

periode 2. Namun pada periode 3-9 serta

periode 12 sampai berikutnya, kemiskinan

merespon negatif goncangan yang terjadi pada

jumlah uang beredar Hal ini mengindikasikan

bahwa dalam jangka panjang pertambahan

jumlah uang beredar berdampak negatif

terhadap pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Peningkatan jumlah uang beredar dalam

masyarakat yang tidak dikontrol oleh

pemerintah dapat menyebabkan terjadinya

inflasi. Inflasi dapat mengakibatkan

menurunnya daya beli masyarakat sehingga

berpengaruh kepada konsumsi dan tingkat

kesejahteraan masyarakat.

Selanjutnya respon kemiskinan

terhadap goncangan pertumbuhan ekonomi

(LPDB) adalah positif sampai periode 12.

Namun sampai akhir periode, kemiskinan

merespon goncangan pada pertumbuhan

ekonomi dengan negatif. Hal ini dapat

disebabkan dengan kebijakkan pertumbuhan

ekonomi yang tidak berpihak pada masyarakat

miskin sehingga dapat memperlebar jurang

ketimpangan pendapatan.

Sementara gambar pada baris kedua

menunjukkan respon yang terjadi antara

variabel LPOV, LPDB dan CR. Variabel

kemiskinan (LPOV) rata-rata memberikan

-.02

-.01

.00

.01

.02

.03

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LPOV to LPOV

-.02

-.01

.00

.01

.02

.03

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LPOV to LM2

-.02

-.01

.00

.01

.02

.03

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LPOV to LPDB

-.10

-.05

.00

.05

.10

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LM2 to LPOV

-.10

-.05

.00

.05

.10

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LM2 to LM2

-.10

-.05

.00

.05

.10

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LM2 to LPDB

-.04

-.02

.00

.02

.04

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LPDB to LPOV

-.04

-.02

.00

.02

.04

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LPDB to LM2

-.04

-.02

.00

.02

.04

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LPDB to LPDB

Response to Cholesky One S.D. Innovations

-.02

-.01

.00

.01

.02

.03

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LPOV to LPOV

-.02

-.01

.00

.01

.02

.03

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LPOV to LM2

-.02

-.01

.00

.01

.02

.03

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LPOV to LPDB

-.10

-.05

.00

.05

.10

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LM2 to LPOV

-.10

-.05

.00

.05

.10

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LM2 to LM2

-.10

-.05

.00

.05

.10

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LM2 to LPDB

-.04

-.02

.00

.02

.04

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LPDB to LPOV

-.04

-.02

.00

.02

.04

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LPDB to LM2

-.04

-.02

.00

.02

.04

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LPDB to LPDB

Response to Cholesky One S.D. Innovations

-.04

-.02

.00

.02

.04

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LPOV to LPOV

-.04

-.02

.00

.02

.04

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LPOV to CR

-.04

-.02

.00

.02

.04

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LPOV to LPDB

-8

-4

0

4

8

12

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of CR to LPOV

-8

-4

0

4

8

12

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of CR to CR

-8

-4

0

4

8

12

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of CR to LPDB

-.04

-.02

.00

.02

.04

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LPDB to LPOV

-.04

-.02

.00

.02

.04

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LPDB to CR

-.04

-.02

.00

.02

.04

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of LPDB to LPDB

Response to Cholesky One S.D. Innovations

Page 11: PERAN SEKTOR KEUANGAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN …

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Volume 2, No. 1, Februari 2014 - 90

respon positif hingga akhir periode terhadap

goncangan pada variabel rasio kredit swasta

(CR). Namun reaksi yang diberikan oleh

pengentasan kemiskinan terhadap perubahan

goncangan petumbuhan ekonomi cukup

berfluktuasi. Awal periode shock pertumbuhan

ekonomi direspon dengan negatif, pada periode

3-4 direspon positif namun kembali negatif

pada periode 5 hingga 8. Akhirnya sampai akhir

periode kemiskinan selalu merespon positif

perubahan pertumbuhan ekonomi.

Analisis Variance Decompositions

Untuk menginvestigasi peranan sektor

keuangan dalam pengentasan kemiskinan maka

digunakan analisis variance decomposition.

Dengan menggunakan analisis VDCs dalam

penelitian ini maka dapat diperoleh gambaran

bagaimana pengaruh perkembangan sektor

keuangan melalui variabel jumlah uang beredar

(LM2) dan rasio kredit swasta (CR) terhadap

pengentasan kemiskinan (LPOV).

Hasil VDCs menunjukkan dalam

jangka pendek, pengaruh variabel jumlah uang

beredar jika dilihat pada periode ke-6 sampai

pada periode ke-16 memberikan kontribusi

yang relatif lebih besar dibandingkan dengan

kontribusi pertumbuhan ekonomi dalam

menjelaskan variasi kemiskinan. Namun dalam

jangka panjang terjadi sebaliknya, varians

pertumbuhan ekonomi mampu memberikan

kontribusi relatif lebih besar yakni 28,51%

dibandingkan varians sektor keuangan (LM2)

yang sebesar 24,27% dalam menjelaskan

goncangan kemiskinan (LPOV).

Selanjutnya kontribusi sektor keuangan

yang diwakili oleh variabel CR berkontribusi

sebesar 1,71% dalam menjelaskan pengentasan

kemiskinan dalam jangka panjang. Sementara

pertumbuhan ekonomi mampu memberikan

kontribusi yang relatif lebih besar yakni 56,61%

terhadap pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Uji Stabilitas Model

Selanjutnya plot statistik CUSUM dan

CUSUMQ pada Gambar 4.6 menunjukkan

berada dalam dua garis kritis dan signifikan

pada tingkat 5%. Hal ini mempunyai implikasi

bahwa Error Correction Term (ECT) cukup

stabil dalam jangka panjang.

Dengan demikian dapat dinyatakan

bahwa kedua model baik yang menggunakan

variabel jumlah uang beredar maupun variabel

rasio kredit domestik untuk sektor swasta

sebagai pengukuran sektor keuangan stabil pada

periode 1980-2014.

a. Model 1

b. Model 2

Gambar 2. Hasil Pengujian CUSUM dan CUSUMQ

Residual Model 1 dan Model 2

-10.0

-7.5

-5.0

-2.5

0.0

2.5

5.0

7.5

10.0

2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

CUSUM 5% Significance

-0.4

0.0

0.4

0.8

1.2

1.6

2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

CUSUM of Squares 5% Significance

-10.0

-7.5

-5.0

-2.5

0.0

2.5

5.0

7.5

10.0

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

CUSUM 5% Significance

-0.4

0.0

0.4

0.8

1.2

1.6

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

CUSUM of Squares 5% Significance

Page 12: PERAN SEKTOR KEUANGAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN …

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

91 - Volume 2, No. 1, Februari 2014

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil analisa yang dilakukan

terhadap peran sektor keuangan dalam

pengentasan kemiskinan di Indonesia dari

rentang waktu 1980-2014, dapat diambil

diambil kesimpulan bahwa terdapat

keseimbangan jangka panjang antara sektor

keuangan dengan pengentasan kemiskinan di

Indonesia.

Dalam jangka panjang, jumlah uang

beredar dan rasio kredit swasta berpengaruh

positif dan signifikan terhadap pengentasan

kemiskinan. Hal ini menyiratkan bahwa dalam

jangka panjang pertambahan jumlah uang

beredar kenaikkan rasio kredit swasta akan

menurunkan tingkat kemiskinan di Indonesia.

Kecepatan dalam menyesuaikan

keseimbangan jangka pendek untuk menuju

keseimbangan jangka panjang adalah sebesar

85,36% untuk variabel jumlah uang beredar dan

125,9% untuk variabel rasio kredit swasta.

Hasil ini menyatakan bahwa kecepatan

penyesuaian jangka pendek ke jangka panjang

variabel rasio kredit swasta lebih cepat

dibandingkan kecepatan penyesuaian variabel

jumlah uang beredar.

Uji kausalitas bivariat menyatakan

bahwa adanya hubungan satu arah

(unidirectional) antara jumlah uang beredar

dengan kemiskinan dan kemiskinan dengan

rasio kredit swasta. Feedback ditemukan pada

pertumbuhan ekonomi dengan rasio kredit

swasta.

Hasil kausalitas multivariat

menunjukkan adanya pola kausalitas dua arah

(bidirectional) antara antara sektor keuangan,

pertumbuhan ekonomi dan pengentasan

kemiskinan di Indonesia.

Berdasarkan hasil impulse response,

pengentasan kemiskinan memberikan respon

yang berfluktuatif terhadap goncangan yang

terjadi pada jumlah uang beredar dan

pertumbuhan ekonomi. Namun respon yang

selalu positif diberikan oleh kemiskinan dalam

menanggapi perubahan yang dialami variabel

rasio kredit swasta.

Hasil variance decompositions

mengungkapkan bahwa varians pertumbuhan

ekonomi memiliki kekuatan relatif yang lebih

besar dibandingkan dengan sektor keuangan

dalam merespon perubahan pengentasan

kemiskinan di Indonesia. Model yang dibangun

cukup stabil yang dapat dibuktikan dari nilai

CUSUM dan CUSUMQ yang signifikan pada

tingkat 5%.

Saran

Feedback antara perkembangan sektor

keuangan, pertumbuhan ekonomi dan

pengentasan kemiskinan di Indonesia

menyiratkan bahwa kebijakan yang akan

diambil untuk pengentasan kemiskinan dapat

meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang

lebih tinggi, selanjutnya lebih jauh akan dapat

memfasilitasi pengembangan sektor keuangan.

Peningkatan pertumbuhan ekonomi di

Indonesia berdampak positif dalam pengentasan

kemiskinan, namun penurunan kemiskinan

tersebut belum diiringi dengan pemerataan

distribusi pendapatan. Kenyataannya

Page 13: PERAN SEKTOR KEUANGAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN …

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Volume 2, No. 1, Februari 2014 - 92

ketimpangan makin meningkat, dimana makin

melebarnya rentang pendapatan antara si kaya

dan si miskin. Untuk menyelaraskan

pengentasan kemiskinan tersebut pemerintah

dapat memfokuskan kebijakan pada sektor

keuangan, terutama bank-bank komersil untuk

menyediakan porsi pembiayaan lebih besar

untuk usaha kecil yang akan membantu

penurunan kemiskinan melalui penciptaan

kesempatan kerja.

Secara teoritis studi ini masih banyak

keterbatasan, untuk itu diharapkan bagi peneliti

selanjutnya untuk menggunakan jenis data yang

berbeda dalam mengukur variabel – variabel

yang digunakan. Misalnya, kemiskinan yang

diukur melalui jumlah orang miskin, tingkat

pendapatan dan lain sebagainya. Sektor

keuangan yang diukur melalui rasio cadangan

bank terhadap aset bank, aset lancar (M3/PDB)

dan proksi lainnya,. Terakhir, akan lebih baik

kiranya bagi peneliti selanjutnya untuk

menggunakan data dengan jangka waktu yang

lebih panjang.

DAFTAR PUSTAKA

Abosedra, S., Shahbaz, M., dan Nawaz, K.

(2015). Modelling causality between

financial deepening and poverty

reduction in Egypt. Social Indicator

Research, DOI 10.1007/s 11205-015-

0929-2.

ADB. (2013). Financial sector development,

economic growth and poverty

reduction: a literature review, Working

Paper Series. 173. Mandaluyong City,

Philippines, Manila, Philippines:

www.adb.org/economics.

Ahmed, A. (2013). Effect of financial

liberalization on financial market

development and economic

performance of the SSA: an empirical

assessment. Economic Modelling, 30,

261-273.

Bappenas. (2014). Laporan pencapaian tujuan

pembangunan milenium di Indonesia

tahun 2013. Jakarta: Bappenas.

Beck, T., Demirguc-Kunt, A., & Levine, R.

(2007). Finance, inequality and the

poor. Economic Growth, 12, 27-49.

Devarajan, S., Go, D. S., Maliszewska, M.,

Osorio-Rodarte, I., & Timmer, H.

(2015). Stress-Testing Africa's Recent

Growth and Poverty Performance.

Journal of Policy Modelling, 37, 521-

547.

DFID. (2004). Financial Sector Development:

A Pre-requisite For Growth and

Poverty Reduction? Department for

International Development, Policy

Division, London.

Dhrifi, A. (2014). Financial development and

the "Growth-Inequality-Poverty"

triangle. Knowledge Economy.

Ho, S.-Y., & Odhiambo, M. (2011). Finance

and Poverty Reduction in China: an

Empirical Investigation. International

Bussiness Economic Research Journal,

10, 103-114.

Jonaidi, A. (2012). Analisis Pertumbuhan

Ekonomi dan Kemiskinan di Indonesia.

Jurnal Kajian Ekonomi, vol1(1), 140-

164.

Maryanto, B. (2013). Analisis Perkembangan

Sektor Keuangan, Pertumbuhan

Ekonomi dan Kemiskinan di Indonesia

Pendekatan: Kausalitas Dalam VECM.

Tesis. Universitas Indonesia.

Moreno, S. P. (2011). Financial development

and poverty in developing countries: a

Page 14: PERAN SEKTOR KEUANGAN DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN …

Jurnal Ilmu Ekonomi

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

93 - Volume 2, No. 1, Februari 2014

causal analysis. Empirical Economy,

41, 57-80.

Odhiambo, M. (2009). Finance-Growth-Poverty

Nexus in South Africa: a Dynamic

Causality Lingkages. Socio-Economic,

38, 320-325.

Odhiambo, M. N. (2010). Is Financial

Development a Spur to Poverty

Reduction? Kenya's Experience.

Journal Econ. Study, 37, 343-353.

Odhiambo, N. M. (2010). Finance-investment-

growth nexus in South Africa: an

ARDL bounds testing procedure.

Economic Change Restructure, 43,

205-219.

Shahbaz, M. (2009). Financial Performance and

Earnings of Poor People: A Case Study

of Pakistan. Journal Yasar University,

4, 2557-2572.

Todaro, M. P. (2004). Pembangunan Ekonomi

di Dunia Ketiga. Jakarta: Erlangga.

Uddin, G. S., & S, B. (2013). The causal Nexus

Between Financial Development and

Economic Growth in Kenya. Economic

Modelling, 35, 701-707.

Uddin, G. S., Shahbaz, M., Arouri, M., &

Teulon, F. (2014). Financial

Development and Poverty Reduction

Nexus: A Cointegration and causality

Analysis in Bangladesh. Economic

Modelling, 36, 405-412.