of 31 /31
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring perkembangan era yang semakin maju dimana perkembangan tersebut mencakup seluruh aspek manusia, secara otomatis terjadi pergeseran pola keoendudukan terutama pola penyakit di masyarakat. Semula penyakit terbanyak yang ditemukan adalah penyakit infeksi baik infeksi saluran nafas maupun gastro intestinal kepada penyakit-penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit kanker dan lain sebagainya. Penyakit lymfoma non hodgkin adalah salah satu penyakit yang tergolong dalam kasus interne/kasus penyakit dalam pada penyakit ini terjadi proliferasi abnormal sistem lymfoid dan struktur yang membentuknya terutama menyerang kelenjar getah bening. LNH belum diketahui secara pasti penyebabnya oleh karena itu penelitian terus dilakukan untuk mengembangkan kasus ini. Berbagai permasalahan dapat timbul karena kasus ini yang mana permsalahan tersebut dapat menyangkut seluruh aspek kehidupan dari manusia baik secara fisik, psikis, sosial maupun spiritual, secara fisik dapat menimbulkan tergangguanya pola nafas karena ada penekanan atau kesulitan dalam menelan makana sehingga mengakibatkan kurangbnya asupan nutrisi. Secara psikis penyakit ini dapat menimbulkan gangguan konsep diri terutama mengenai body image, ataupun bahkan bisa mengakibatkan perilaku

PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

Embed Size (px)

DESCRIPTION

PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep

Citation preview

Page 1: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seiring perkembangan era yang semakin maju dimana perkembangan tersebut

mencakup seluruh aspek manusia, secara otomatis terjadi pergeseran pola

keoendudukan terutama pola penyakit di masyarakat. Semula penyakit terbanyak

yang ditemukan adalah penyakit infeksi baik infeksi saluran nafas maupun gastro

intestinal kepada penyakit-penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan

pembuluh darah, penyakit kanker dan lain sebagainya.

Penyakit lymfoma non hodgkin adalah salah satu penyakit yang tergolong dalam

kasus interne/kasus penyakit dalam pada penyakit ini terjadi proliferasi abnormal

sistem lymfoid dan struktur yang membentuknya terutama menyerang kelenjar getah

bening. LNH belum diketahui secara pasti penyebabnya oleh karena itu penelitian

terus dilakukan untuk mengembangkan kasus ini.

Berbagai permasalahan dapat timbul karena kasus ini yang mana permsalahan

tersebut dapat menyangkut seluruh aspek kehidupan dari manusia baik secara fisik,

psikis, sosial maupun spiritual, secara fisik dapat menimbulkan tergangguanya pola

nafas karena ada penekanan atau kesulitan dalam menelan makana sehingga

mengakibatkan kurangbnya asupan nutrisi. Secara psikis penyakit ini dapat

menimbulkan gangguan konsep diri terutama mengenai body image, ataupun bahkan

bisa mengakibatkan perilaku menarik diri, secara sosial bi sa mengakibatkan

kerusakan interaksi sosial karena perilaku menarik diri atau kurang percaya diri dan

secara spiritual bisa menyalahkan Tuhan atas penyakit yang diberikan atau mungkin

sebaliknya justru lebih tekun beribadah karena ingin cepat sembuh.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam

makalah ini adalah :

1. Bagaimana klasifikasi dari penyakit Limfoma ?

2. Bagaimana kasus epidemiologi dari Limfoma ?

3. Apa etiologi dari penyakit Limfoma ?

4. Bagaimana stadium dari penyakit Limfoma ?

5. Bagaimana tanda dan gejala dari penyakit Limfoma ?

6. Bagaimana perjalanan patofisiologi dari Limfoma ?

Page 2: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

7. Bagaimana cara-cara pemeriksaan diagnostik dan laboratorium dari penyakit

Limfoma ?

8. Bagaimana tindakan penatalaksanaan pada pasien penderita Limfoma ?

9. Bagaimana proses pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien pederita

Limfoma ?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :

1. Untuk mengetahui klasifikasi dari penyakit Limfoma

2. Untuk mengetahui kasus epdidemiologi dari limfoma ?

3. Untuk mengetahui etiologi dari penyakit Limfoma

4. Untuk mengetahui stadium dari penyakit Limfoma ?

5. Untuk mengetahui tanda dan gejala dari penyakit Limfoma

6. Untuk mengetahui perjalanan patofisiologi dari Limfoma

7. Untuk mengetahui cara-cara pemeriksaan diagnostik dan laboratorium dari

penyakit Limfoma

8. Untuk mengetahui tindakan penatalaksanaan pada pasien penderita penyakit

Limfoma

9. Untuk mengetahui proses pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien pederita

Limfoma

D. Manfaat Penulisan

- Manfaat bagi Tim Penulis

Dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam membuat karya ilmiah dan

menambah wawasan khususnya tentang penyakit Limfoma dan ruang lingkupnya

- Manfaat bagi pembaca

Menjadi bahan masukan dalam menambah khazanah ilmu pengetahuan terutama

mengenai konsep tentang Limfoma dan ruang lingkupnya dalam bidang kesehatan

Page 3: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Medik Dari Limfoma

A.I. Pengertian dan Klasifikasi Limfoma

Limfoma (kanker kelenjar getah bening) merupakan bentuk keganasan dari

sistem limfatik yaitu sel-sel limforetikular seperti sel B, sel T dan histiosit

sehingga muncul istilah limfoma malignum (maligna = ganas). Dalam kondisi

normal, sel limfosit merupakan salah satu sistem pertahanan tubuh. Sementara

sel limfosit yang tidak normal (limfoma) bisa berkumpul di kelenjar getah

bening dan menyebabkan pembengkakan. Sel limfosit ternyata tak cuma beredar

di dalam pembuluh limfe, sel ini juga beredar ke seluruh tubuh di dalam

pembuluh darah karena itulah limfoma bisa juga timbul di luar kelenjar getah

bening. Dalam hal ini, yang tersering adalah di limpa dan sumsum tulang. Selain

itu, bisa juga timbul di organ lain seperti perut, hati, dan otak.

Pengertian tentang limfoma maligna antara lain menurut Danielle, (1999)

bahwa limfoma adalah malignansi yang timbul dari sistem limfatik. Pengertian

lain tentang limfoma maligna  menurut Susan Martin Tucker, (1998) adalah

suatu kelompok neoplasma yang berasal dari jaringan limfoid. Sedangkan

menurut Suzanne C. Smeltzer, ( 2001), mengemukakan bahwa limfoma maligna

adalah keganasan sel yang berasal dari sel limfoid. Pengertian lain tentang

limfoma maligna menurut Doenges, (1999) adalah kanker kelenjar limfoid.

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa limfoma maligna

adalah suatu jaringan tumor padat yang berasal dari sel limfoid dan bersifat

ganas.

Berdasarkan gambaran histopatologisnya, limfoma dibedakan menjadi dua

jenis, yaitu :

a. Limfoma Hodgkin (LH)

Limfoma jenis ini memiliki dua tipe. yaitu tipe klasik dan tipe nodular

predominan limfosit, di mana limfoma hodgkin tipe klasik memiliki empat

subtipe menurut Rye, antara lain : Nodular Sclerosis, Lymphocyte

Predominance, Lymphocyte Depletion, Mixed Cellularity

b. Limfoma Non-Hodgkin (LNH)

Formulasi Kerja (Working Formulation) membagi limfoma non-hodgkin

menjadi tiga kelompok utama, antara lain :

Page 4: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

- Limfoma Derajat Rendah

Kelompok ini meliputi tiga tumor, yaitu limfoma limfositik kecil,

limfoma folikuler dengan sel belah kecil, dan limfoma folikuler

campuran sel belah besar dan kecil

- Limfoma Derajat Menengah

Ada empat tumor dalam kategori ini, yaitu limfoma folikuler sel besar,

limfoma difus sel belah kecil, limfoma difus campuran sel besar dan

kecil, dan limfoma difus sel besar

- Limfoma Derajat Tinggi

Terdapat tiga tumor dalam kelompok ini, yaitu limfoma imunoblastik sel

besar, limfoma limfoblastik, dan limfoma sel tidak belah kecil.

Perbedaan antara LH dengan LNH ditandai dengan adanya sel Reed-

Sternberg yang bercampur dengan infiltrat sel radang yang bervariasi. Sel Reed-

Sternberg adalah suatu sel besar berdiameter 15-45 mm, sering berinti ganda

(binucleated), berlobus dua (bilobed), atau berinti banyak (multinucleated)

dengan sitoplasma amfofilik yang sangat banyak. Tampak jelas di dalam inti sel

adanya anak inti yang besar seperti inklusi dan seperti “Mata burung hantu”

(owl-eyes), yang biasanya dikelilingi suatu halo yang bening.

Gambar 1. Gambaran histopatologis (a) Limfoma Hodgkin dengan Sel Reed Sternberg dan (b) Limfoma Non Hodgkin

A.II. Epidemiologi Limfoma

Pada tahun 2002, tercatat 62.000 kasus LH di seluruh dunia. Di negara-

negara berkembang ada dua tipe limfoma hodgkin yang paling sering terjadi,

yaitu mixed cellularity dan limphocyte depletion, sedangkan di negara-negara

yang sudah maju lebih banyak limfoma hodgkin tipe nodular sclerosis.

Limfoma hodgkin lebih sering terjadi pada pria daripada wanita, dengan

distribusi usia antara 15-34 tahun dan di atas 55 tahun.

Page 5: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

Berbeda dengan LH, LNH lima kali lipat lebih sering terjadi dan

menempati urutan ke-7 dari seluruh kasus penyakit kanker di seluruh dunia.

Secara keseluruhan, LNH sedikit lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita.

Rata-rata untuk semua tipe LNH terjadi pada usia di atas 50 tahun.

Di Indonesia sendiri, LNH bersama-sama dengan LH dan

leukemia menduduki urutan ke-6 tersering. Sampai saat ini

belum diketahui sepenuhnya mengapa angka kejadian penyakit

ini terus meningkat. Adanya hubungan yang erat antara

penyakit AIDS dan penyakit ini memperkuat dugaan adanya

hubungan antara kejadian limfoma dengan kejadian infeksi

sebelumnya.

A.III. Etiologi Limfoma

Penyebab dari penyakit limfoma maligna masih belum diketahui dengan

pasti. Ada 4 kemungkinan penyebabnya, yaitu : faktor keturunan, kelainan

sistem kekebalan, infeksi virus (HIV) atau bakteria (Helicobacter Pilori), virus

human T-cell leukemia/lymphoma (HTLV), Epstein-Barr virus (EBV), dan

toksin lingkungan (herbisida, pengawet dan pewarna kimia).

Dari keempat faktor diatas, terdapat faktor predisposisi yang memicu

munculnya limfoma pada seseorang, yaitu sebagai berikut :

1. Usia. Penyakit limfoma maligna banyak ditemukan pada usia dewasa muda

yaitu antara 18 – 35 tahun dan pada orang diatas 50 tahun

2. Jenis kelamin. Penyakit limfoma maligna lebih banyak diderita oleh pria

dibandingkan wanita

3. Gaya hidup yang tidak sehat. Risiko Limfoma Maligna meningkat pada

orang yang mengkonsumsi makanan tinggi lemak hewani, merokok, dan

yang terkena paparan UV

4. Pekerjaan. Beberapa pekerjaan yang sering dihubugkan dengan resiko tinggi

terkena limfoma maligna adalah peternak serta pekerja hutan dan pertanian.

Hal ini disebabkan adanya paparan herbisida dan pelarut organik.

A.IV. Stadium Limfoma

Penyebaran Limfoma dapat dikelompokkan dalam 4 stadium. Stadium I dan II

sering dikelompokkan bersama sebagai stadium awal penyakit, sementara

stadium III dan IV dikelompokkan bersama sebagai stadium lanjut.

Page 6: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

1. Stadium I : Penyebaran Limfoma hanya terdapat pada satu kelompok

yaitu kelenjar getah bening

2. Stadium II : Penyebaran Limfoma menyerang dua atau lebih kelompok

kelenjar getah bening, tetapi hanya pada satu sisi diafragma,

serta pada seluruh dada atau perut

3. Stadium III : Penyebaran Limfoma menyerang dua atau lebih kelompok

kelenjar getah bening, serta pada dada dan perut

4. Stadium IV : Penyebaran Limfoma selain pada kelenjar getah bening

setidaknya pada satu organ lain juga seperti sumsum tulang,

hati, paru-paru, atau otak

A.V. Tanda dan Gejala Limfoma

Tanda dan gejala dari limfoma dapat dibedakan berdasarkan klasifikasi

dari limfoma. Adapun tanda dan gejala dapat dilihat pada table. 1.1 berikut.

Pemeriksaan Limfoma Hodgkin Limfoma Non-Hodgkin

Anamnesis

Asimtomatik limfadenopati Gejala sistemik (demam

intermitten, keringat malam, BB turun)

Nyeri dada, batuk, napas pendek Pruritus Nyeri tulang atau nyeri

punggung

Asimtomatik limfadenopati

Gejala sistemik (demam intermitten, keringat malam, berat badan turun)

Mudah lelah Gejala obstruksi GI

(Gatrointestinal) tract dan Urinary tract

Teraba pembesaran limonodi pada satu kelompok kelenjar (cervix, axilla, inguinal)

Cincin Waldeyer dan kelenjar mesenteric jarang terkena

Hepatomegali dan Splenomegali Sindrom Vena Cava Superior Gejala susunan saraf pusat

(degenerasi serebral dan neuropati)

Melibatkan banyak kelenjar perifer

Cincin Waldeyer dan kelenjar mesenteric sering terkena

Hepatomegali dan Splenomegali

Massa di abdomen dan testis

Tabel 1.1 Tanda dan gejala Limfoma

A.VI. Patofisiologi dan Patogenesis Limfoma

Ada empat kelompok gen yang menjadi sasaran kerusakan

genetik pada sel-sel tubuh manusia, termasuk sel-sel limfoid, yang

dapat menginduksi terjadinya keganasan. Gen-gen tersebut adalah

Page 7: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

proto-onkogen, gen supresor tumor, gen yang mengatur apoptosis,

gen yang berperan dalam perbaikan DNA.

Proto-onkogen merupakan gen seluler normal yang

mempengaruhi pertumbuhan dan diferensiasi, gen ini dapat bermutai

menjadi onkogen yang produknya dapat menyebabkan transformasi

neoplastik, sedangkan gen supresor tumor adalah gen yang dapat

menekan proliferasi sel (antionkogen). Normalnya, kedua gen ini

bekerja secara sinergis sehingga proses terjadinya keganasan dapat

dicegah. Namun, jika terjadi aktivasi proto-onkogen menjadi onkogen

serta terjadi inaktivasi gen supresor tumor, maka suatu sel akan

terus melakukan proliferasi tanpa henti.

Gen lain yang berperan dalam terjadinya kanker yaitu gen yang

mengatur apoptosis dan gen yang mengatur perbaikan DNA jika

terjadi kerusakan. Gen yang mengatur apoptosis membuat suatu sel

mengalami kematian yang terprogram, sehingga sel tidak dapat

melakukan fungsinya lagi termasuk fungsi regenerasi. Jika gen ini

mengalami inaktivasi, maka sel-sel yang sudah tua dan seharusnya

sudah mati menjadi tetap hidup dan tetap bisa melaksanakan fungsi

regenerasinya, sehingga proliferasi sel menjadi berlebihan. Selain itu,

gagalnya gen yang mengatur perbaikan DNA dalam memperbaiki

kerusakan DNA akan menginduksi terjadinya mutasi sel normal

menjadi sel kanker.

Page 8: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

Bagan 1. Bagan patogenesis Limfoma

A.VII. Pemeriksaan Penunjang Limfoma

Untuk mendeteksi limfoma harus dilakukan biopsi dari kelenjar getah

bening yang terkena, untuk menemukan adanya sel Reed-Sternberg. Untuk

mendeteksi Limfoma memerlukan pemeriksaan seperti sinar-X, CT scan, PET

scan, biopsi sumsum tulang dan pemeriksaan darah. Biopsi atau penentuan

stadium adalah cara mendapatkan contoh jaringan untuk membantu

dokter mendiagnosis Limfoma.

Ada beberapa jenis biopsy untuk mendeteksi limfoma maligna, yaitu

sebagai beikut :

1. Biopsi kelenjar getah bening, jaringan diambil dari kelenjar getah bening

yang membesar

Page 9: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

2. Biopsi aspirasi jarum-halus, jaringan diambil dari kelenjar getah bening

dengan jarum suntik. Ini kadang-kadang dilakukan untuk memantau

respon terhadap pengobatan

3. Biopsi sumsum tulang di mana sumsum tulang diambil dari tulang panggul

untuk melihat apakah Limfoma telah melibatkan sumsum tulang

A.VIII. Penatalaksanaan Limfoma

Untuk terapi bronchitis disesuaikan dengan penyebab, karena bronkitis

biasanya disebabkan oleh virus maka belum ada obat kausal. Obat yang sehari,

chloral hidrat 30 mg/Kg BB sebagai sedatif.

Penatalaksanaan limfoma maligna dapat dilakukan melalui

berbagai cara, yaitu sebagai berikut :

a. Pembedahan

Tata laksana dengan pembedahan atau operasi memiliki

peranan yang terbatas dalam pengobatan limfoma. Untuk

beberapa jenis limfoma, seperti limfoma gaster yang

terbatas pada bagian perut saja atau jika ada resiko

perforasi, obstruksi, dan perdarahan masif, pembedahan

masih menjadi pilihan utama. Namun, sejauh ini

pembedahan hanya dilakukan untuk mendukung proses

penegakan diagnosis melalui surgical biopsy

b. Radioterapi

Radioterapi memiliki peranan yang sangat penting dalam

pengobatan limfoma, terutama limfoma hodgkin di mana

penyebaran penyakit ini lebih sulit untuk diprediksi.

Beberapa jenis radioterapi yang tersedia telah banyak

digunakan untuk mengobati limfoma hodgkin seperti

radioimunoterapi dan radioisotope. Radioimunoterapi

menggunakan antibodi monoclonal seperti CD20 dan

CD22 untuk melawan antigen spesifik dari limfoma secara

langsung, sedangkan radioisotope menggunakan Iodine

atau Ytrium untuk iradiasi sel-sel tumor secara selektif.

Teknik radiasi yang digunakan didasarkan pada stadium

limfoma itu sendiri, yaitu : Untuk stadium I dan II secara mantel

Page 10: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

radikal, Untuk stadium III A/B secara total nodal radioterapi, Untuk stadium

III B secara subtotal body irradiation, Untuk stadium IV secara total body

irradiation

Gambar 2. Berbagai macam teknik radiasi

c. Kemoterapi

Merupakan teknik pengobatan keganasan yang telah lama digunakan dan

banyak obat-obatan kemoterapi telah menunjukkan efeknya terhadap

limfoma MEDIKASI

d. Imunoterapi

Bahan yang digunakan dalam terapi ini adalah Interferon-α, di mana

interferon-α berperan untuk menstimulasi sistem imun yang menurun

akibat pemberian kemoterapi

e. Transplantasi sumsum tulang

Transplasntasi sumsum tulang merupakan terapi pilihan apabila limfoma

tidak membaik dengan pengobatan konvensional atau jika pasien mengalami

pajanan ulang (relaps). Ada dua cara dalam melakukan transplantasi

sumsum tulang, yaitu secara alogenik dan secara autologus. Transplantasi

secara alogenik membutuhkan donor sumsum yang sesuai dengan

sumsum penderita. Donor tersebut bisa berasal dari saudara kembar, saudara

kandung, atau siapapun asalkan sumsum tulangnya sesuai dengan sumsum

tulang penderita. Sedangkan transplantasi secara autologus, donor sumsum

tulang berasal dari sumsum tulang penderita yang masih bagus diambil

kemudian dibersihkan dan dibekukan untuk selanjutnya ditanamkan kembali

dalam tubuh penderita agar dapat menggantikan sumsum tulang yang telah

rusak.

Page 11: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

B. Konsep Keperawatan Dari Limfoma

ASUHAN KEPERAWATAN Tn. R

DENGAN DIAGNOSA LIMFOMA NON-HODGKIN

DI RUANG FLORENCE RUMAH SAKIT X

Tanggal Pengkajian : 28 Oktober 2012, Pukul : 09.00 WITA, Oleh : Mahasiswa I

B.I. Pengkajian

Identitas

Pasien

Nama : Tn. R

Tempat/Tanggal Lahir : Buton, 2 Agustus 1982

Status Perkawinan         : Kawin

Pendidikan : S1 Managemen

Pekerjaan           : Manajer

Suku/Bangsa                 : Buton

Tanggal Masuk RS        : 25 Oktober 2012

No. RM           : 002-006-0089

Ruang          : Florence

Diagnosa Medis       : Lymfoma Non Hodgkin (LNH)

Keluarga/Penanggung jawab

Nama          : Asrini

Hubungan             : Istri

Umur             : 29 Tahun

Pendidikan             : S1 Hubungan Internasional

Pekerjaan                     : Pengacara

Alamat                    : Samarinda

Riwayat kesehatan

Kesehatan pasien

1. Keluhan Utama : Nyeri menelan

2. Alasan utama masuk RS  : Pasien mengatakan nyeri saat menelan

3. Riwayat Penyakit Sekarang

Page 12: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

Pasien mengatakan sejak kurang lebih 4 bulan yang lalu sebelum

masuk Rumah sakit pertama kali disadarai di leher kiri berukuran

sebesar telur ayam, padat kenyal dan makin lama makin membesar,

mula-mula benjolan tidak nyeri tekan, tetapi sejak 2 bulan yang lalu

pada benjolan timbul luka-luka kemerahan bila ditekan terasa nyeri,

nyeri dirasakan saat benjolan ditekan dan tidak menyebar, nyeri

tidak timbul bila tidak di tekan dan waktu menelan terasa nyeri

dileher. Kemudian timbul juga benjolan di leher kanan sebesar

kelereng, padat dan nyeri tekan, juga muncul benjolan yang sama di

bawah rahang kanan. Kurang lebih 2 bulan yang lalu pasien sering

merasa sesak di tenggorokan,. Banyak berkeringat di malam hari

dan sulit menelan. Satu minggu sebelum MRS pasien mengatakan

bernafas agak susah, nyeri telan tambah hevat di bawa ke dokter tapi

tidak sembuh

4. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien mengatakan tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya . Pasien

mengatakan tidak pernah mempunyai riwayat penyakit tekanan darah

tinggi, kencing manis, atau penyakit menular seperti TBC atau

penyakit lain yang menyebabkan harus Masuk rumah sakit. Penyakit

yang p[ernah diderita hanya batuk pilek dan panas biasa dan dengan

berobat atau membeli obat kemudian sembuh

5. Riwayat Penyakit Keluarga

Pasien mengatakan dari pihak keluarga tidak ada yang menderita

penyakit yang sama dengan dirinya. Menurut klien dan keluarga dari

pihak keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit hypertensi,

penyakit DM ataupun penyakit menular lain seperti TBC yang

menyebabkan harus MRS di Rumah Sakit. Penyakit yang pernah

diderita hanyalah batuk, pilek dan panas biasa dan berobat ke dokter

atau membeli obat kemudian sembuh

Pemeriksaan Fisik

Tanda-tanda vital :

TD  :160/100 mmHg

ND            : 125 x/menit

RR : 26 x/menit

Page 13: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

S. Axila : 36,5OC

Kepala

- Ekspresi wajah tampak sedikit gelisah, bentuk oval tampak bersih

tidak ditemukan adanya bekas luka ekspresi wajah tampak sedikit

gelisah/cemas, kadang menyeringai saat menelan, pasien tampak

menyeringai saat leher ditekan

- Rambut : Pendek, warna hitam, bersih, rambut tidak mudah dicabut

bentuk kepala oval dan tidak ada nyeri tekan. Rambut hitam dan

tidak rontok, agak kotor dan tidak ada ketombe, tidak ditemukan

adanya kutu

- Kulit kepala : bersih, tidak didapatkan adanya bekas luka, ataupun

benjolan abnormal

- Mata. Simetris, konjungtiva tarsal warna merah muda, sclera tidak

ikterus, pupil isokor, fungsi penglihatan baik, tidak ada bercak reflek

cahaya (+), kornea jernih

- Hidung : Mucosa hidung warna merah muda, simetris, septum nasi

tegak berada di tengah, tidak terdapat adanya polip, bersih dan fungsi

penciuman baik

- Telinga : Simetris, auricula tidak ada infeksi, liang telinga warna

merah muda, bersih tidak didapatkan adanya cerumen yang mengeras

ataua menggumpal, fungsi pendengaran baik ditandai dengan pasien

bisa menjawab pertanyaan dengan spontan

- Mulut : Mucosa merah muda, bibir merah muda, tidak kering, lidah

bersih, gigi bersih tidak ada caries, tidak ada radang pada tonsil,tidak

terdapat stomatitis, fungsi mengunyah, pengecapan baik

Leher

- Asimetris

- Terdapat pembesaran kelenjar lymfe pada leher kiri multiple dengan

diameter kurang l;ebih 20 cm, terdapat benjolan dibawah rahang

kanan diameter 4 – 5 cm terdapat benjolan pada leher kanan dengan

Page 14: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

diameter kurang lebih 5 cm, terdapat radang pada leher kiri,

konsistensi benjolan padat, kenyal dan nyeri tekan

- Movement tidak maksimal nyeri saat menoleh kekiri

- Trachea : mengalami deviasi

- Vena jugularis dan arteri carotis tak terevakuasi

Pemeriksaan Thorak

a) Pulmonum

- Inspeksi : bentuk thorak simetris, bersih, tak tampak adanya

tarikan intercostae yang berlebihan, pernafasan dan iramareguler

teratur,terdapat pembesaran kelenjar lymfe axila kanan dan kiri,

nafas spontan

- Palpasi : Tidak ada benjolan abnormal, tidak ada nyeri tekan,

gerak nafasreguler, tidak ada pernafasan tertinggal, tidak ada

krepitasio

- Perkusi : sonor pada paru kanan dan kiri

- Auskiulatsi : suara nafas vesikuler, Tidak ada suara ronkhi

ataupun wheezing pada paru kanan dan kiri

b) Cor

- Inspeksi : Tidak terlihat adanya ictus cordis, pulsasi jantung tidak

tampak

- Palpasi : Teraba Ictus Cordis pada ICS IV – V sinestra MCL,

pulsasi jantung teraba pada apek, Thrill tidak ada

- Perkusi : suara redup (pekak/dullness) pada daerah jantung

- Auskultasi : S1 dan S2 tunggal, tidak ada suara tambahan dari

jantung

Abdomen

- Inspeksi : Simetris, bersih, tidak didapatkan adanya benjolan atau

bekas luka, supel, perut datar dan tidak membuncit

- Palpasi : Tidak terdapat nyeri tekan, tidak teraba masssa abnormal

- Perkusi : Suara tympani perut

- Auscultasi : Peristaltik usus 14 – 16 x/menit

Inguinal-genetalia dan anus

- Pembesaran kelenjar limfe inguinalis kanan dan kiri kurang

lebih 2 cm padat dan kenyal

Page 15: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

- Jenis kelamin laki – laki, bersih, tidak didapatkan adanya jamur dan

infeksi

- Fungsi eliminasi lancar

Integumen

- Turgor baik, warna kulit sawo matang, tidak ada alergi

- Tidak ada alergi atau iritasi kulit, tidak ada kelainan postur tubuh,

pergerakan maksimal

- Terdapat benjolan pada leher kiri dengan diameter ± 20 cm

- Kuku warna merah muda

B.II. Diagnosa Keperawatan

Setelah data dikumpulkan dilanjutkan dengan analisa data untuk

menentukan diagnosa keperawatan. Menurut Doenges (1999), diagnosa

keperawatan pada klien post operasi laparatomy dan biopsy dengan indikasi

limfoma maligna sebagai berikut :

1. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif, insisi

bedah

2. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan

kehilangan berlebihan, misalnya : muntah, perdarahan, diare

3. Nyeri (akut) berhubungan dengan adanya insisi bedah

4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum, penurunan

cadangan  energi, peningkatan laju metabolik dari produksi leukosit masif

5. Konstipasi atau diare berhubungan dengan penurunan masukan diet,

perubahan proses pencernaan

6. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan

penurunan darah dan nutrisi kejaringan sekunder pembedahan

7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi yang akurat 

mengenai perawatan di rumah

B.III. Perencanaan Inervensi, dan Evaluasi

Setelah dignosa keperawatan ditemukan, maka dilanjutkan dengan menyusun

perencanaan untuk masing-masing diagnosa yang meliputi prioritas dignosa

keperawatan, penetapan tujuan dan kriteria evaluasi sebagai berikut :

1. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif, insisi

bedah

Tujuan : tidak terjadi infeksi atau penyebaran infeksi

Page 16: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

Kriteria Evaluasi :

- Meningkatkan penyembuhan luka dengan benar, bebas tanda

infeksi/inflamasi, drainase purulen, eritema, dan demam

- Tidak menunjukkan merah, bengkak, pada daerah luka

- Luka kering bebas dari drainase purulen, eritema, demam, bengkak, dan

nyeri

- Leukosit dalam batas normal 4800-10800 /ul

Intervensi :

- Monitor  tanda-tanda vital tiap 8 jam, perhatikan demam, menggigil,

meningkatnya nyeri

- Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka aseptik

- Observasi tanda-tanda infeksi seperti nyeri, panas, merah dan bengkak

pada luka operasi, catat karakteristik luka, adanya eritema, dan  daerah

pemasanngan infus

- Lakukan perawatan luka secara aseptik dan antiseptik sesuai program

- Berikan informasi yang tepat, jujur pada pasien

- Berikan antibiotik sesuai indikasi

2. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan

kehilangan berlebihan, misalnya : muntah, perdarahan, diare

Tujuan : volume cairan adekuat atua dapat dipertahankan

Kriteria Evaluasi :

- Mempertahankan keseimbangan cairan dibuktikan oleh kelembaban

membran mukosa, turgor kulit baik, tanda vital stabil, dan secara

individual haluaran urine adekuat

- Masukan dan keluaran seimbang (balance)

Intervensi :

- Monitor TTV tiap 8 jam

- Monitor intake dan output (hitung balance cairan dalam 24 jam)

- Observasi adamya perdarahan yang berlabihan

- Observasi karakteristik luka terhadap adanya peradangan, juga balutan

agar tetap kering

- Lihat membran mukosa, kaji turgor kulit dan pengisian kapiler

Page 17: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

- Auskultasi bising usus, catat kelancaran flatus, gerakan usus

- Berikan sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukan per oral dimulai,

dan lanjutkan dengan diet sesuai toleransi

- Berikan cairan IV dan elektrolit

3. Nyeri (akut) berhubungan dengan adanya insisi bedah

Tujuan : nyeri hilang, minimal berkurang atau dapat dikontrol

Kriteria Evaluasi :

- Melaporkan nyeri hilang/terkontrol

- Tampak rileks, mampu tidur/istirahat dengan tepat

Intervensi :

- Ukur TTV tiap 8 jam

- Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, beratnya (skala 0-10). Selidiki dan

laporkan perubahan nyeri dengan tepat

- Pertahankan istirahat dengan posisi semi-Fowler

- Dorong ambulasi diri

- Berikan aktivitas hiburan

- Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam bila nyeri nyeri timbul atau teknik

mengalihkan perhatian

- Berikan analgesik sesuai indikasi

- Berikan kantong es pada abdomen

4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum, penurunan

cadangan  energi, peningkatan laju metabolik dari produksi leukosit masif

Tujuan :  klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari

Kriteria Evaluasi :

- Laporan peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur

- Berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari sesuai tingkat kemampuan

- Menunjukkan penurunan tanda fisiologis tidak toleran, misal ; nadi,

pernafasan, dan tekanan darah masih dalam batas normal

Intervensi :

- Evaluasi laporan kelemahanm, perhatikan ketidakmampuan untuk

beraprtisipasi dalam aktifitas sehari-hari

- Berikan lingkungan tenang dan periode istirahat tanpa gangguan. Dorong

istirahat sebelum makan

Page 18: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

- Implementasikan teknik penghematan energi. Bantu ambulasi/aktifitas

lain sesuai indikasi

- Berikan kebersihan mulut sebelum makan dan berikan antiemetik sesuai

indikasi

5. Konstipasi atau diare berhubungan dengan penurunan masukan diet,

perubahan proses pencernaan.

Tujuan : klien dapat BAB sesuai dengan polanya setiap hari

Kriteria Evaluasi :

- Membuat/kembali pola normal dari fungsi usus

- Menunjukkan perubahan prilaku/pola hidup, yang diperlukan sebagai

penyebab, faktor pemberat

- Frekuensi bising usus 3-15 x/menit

- BAB lembek dan lancar serta tidak nyeri pada saat BAB

Intervensi :

- Observasi warna feses, konsistensi, frekuensi, dan jumlah

- Auskultasi bunyi usus

- Awasi masukan dan haluaran dengan perhatian khusus pada

makanan/cairan

- Dorong masukkan cairan 2500-3000 ml/hari dalam toleransi jantung

- Hindari makan yang mengandung gas

- Kaji kondisi kulit perianal dengan sering, catat perubahan dalam kondisi

kulit atau mulai kerusakan. Lakukan perawatan perianal setiap defekasi

bila terjadi diare

- Konsul dengan ahli gizi untuk memberikan diet seimbang dengan tinggi

serat dan bulk

- Berikan pelembek feses, stimulasi ringan, laksatif pembentuk bulk, atau

enema sesuai indikasi, pantau keefektifan

- Berikan obat antidiare, misal ; difenoksilat hidroklorida dengan atropin

(Lomotil) dan obat pengabsorbsi air, misal Metamucil.

6. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan

penurunan darah dan nutrisi kejaringan sekunder pembedahan

Tujuan : tidak terjadi kerusakan integritas kulit atau integritas kulit dapat

dipertahankan

Kriteria Evaluasi :

Page 19: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

- Mempertahankan integritas kulit

- Mengidentifikasi faktor risiko/prilaku individu untuk mencegah cedera

dermal

- Tidak ada iritasi pada daerah luka operasi

- Tidak ada lesi

Intervensi :

- Kaji integritas kulit, cata perubahan pada turgor kulit, gangguan warna

hangat lokal, eritema, ekskoriasi

- Ubah posisi secara periodik dan pijat permukaan tulang bila pasien tidak

bergerak atau ditempat tidur

- Ajarkan permukaan kulit kering dan bersih, batasi penggunaan sabun

- Bantu untuk latihan rentang gerak pasif atau aktif

7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi yang akurat 

mengenai perawatan di rumah.

Tujuan : mengatakan pengertiannya tentang prosedur pembedahan dan

penanganannya.

Kriteria Evaluasi :

- Klien atau orang terdekat mengungkapkan pengertian tentang perawatan

di rumah dan perawatan tindak lanjut

- Menyatakan pemahaman proses penyakit, pengobatan dan potensial

komplikasi

- Berpartisipasi dalam program pengobatan

Intervensi :

- Kaji ulang pembatasan aktifitas pascaoperasi

- Diskusikan perawatan insisi, termasuk mengganti balutan, pembatasan

mandi, dan kembali kedokter untuk mengangkat jahitan/pengikat

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas, Tim Penulis dapat menarik beberapa

kesimpulan bahwa :

1. Limfoma (kanker kelenjar getah bening) merupakan bentuk keganasan dari sistem

limfatik yaitu sel-sel limforetikular seperti sel B, sel T dan histiosit

Page 20: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

2. Berdasarkan gambaran histopatologisnya, limfoma dibedakan menjadi dua jenis,

yaitu : Limfoma Hodgkin (LH) dan Limfoma Non-Hodgkin (LNH). Formulasi

Kerja (Working Formulation) membagi limfoma non-hodgkin menjadi tiga

kelompok utama, antara lain : Limfoma Derajat Rendah, Limfoma Derajat

Menengah, dan Limfoma Derajat Tinggi

3. Di Indonesia sendiri, LNH bersama-sama dengan LH dan

leukemia menduduki urutan ke-6 tersering

4. Ada 4 kemungkinan penyebabnya, yaitu : faktor keturunan, kelainan sistem

kekebalan, infeksi virus seperti (HIV) atau bakteria (Helicobacter Pilori), virus

human T-cell leukemia/lymphoma (HTLV), Epstein-Barr virus (EBV), dan toksin

lingkungan (herbisida, pengawet dan pewarna kimia)

5. Penyebaran Limfoma dapat dikelompokkan dalam 4 stadium

6. Tanda dan gejala dari limfoma dapat dibedakan berdasarkan klasifikasi dari

limfoma

7. Untuk mendeteksi Limfoma memerlukan pemeriksaan seperti sinar-X, CT scan,

PET scan, biopsi sumsum tulang dan pemeriksaan darah

8. Penatalaksanaan limfoma maligna dapat dilakukan melalui

berbagai cara, yaitu sebagai berikut : Pembedahan, Radioterapi,

Kemoterapi, Transplantasi sumsum tulang, dan Imunoterapi

9. Adapun asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien penderita limfoma

adalah Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan, Intervensi dan Evaluasi

B. Saran

Melalui kesimpulan diatas, adapun saran yang diajukkan oleh Tim Penulis

adalah :

1. Mahasiswa dapat menginterpretasikan dengan baik dalam melakukan tindakan

keperawatan dalam praktik, khususnya pada pasien yang mengalami penyakit

Limfoma Maligna

DAFTAR RUJUKAN

Brunner and Suddarth. 2002. Text Book of Medical – Surgical Nursing (Agung, Penerjemah). Philadelphia

Carpenito, Lynda Juall. 2000. Hand Book Of  Nursing Diagnosis. (Monica Ester, Penerjemah). Philadelphia.

Page 21: PenunPENUNTUN PERSENTASE ASKEP LIMFOMA.docxtun Persentase Askep Limfoma

Doenges, M. 2000. Nursing Care Planns (I Made Kariasa, Penerjemah). Philadelphia. F.A Davis Company

Niakurniasih, Sudiariandini S. (1997). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : FKUI

Henderson, M.A. 1992. Ilmu Bedah Perawat. Jakarta : Yayasan Mesentha Medica

Schwartz, Seymour. 2000. Intisari Prinsip Ilmu Bedah. Jakarta : Buku Kedokteran EGC

Smeltzer, Suzzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Price Anderson Sylvia, Milson Mc Carty Covraine. Patofisiologi Edisi 4. Jakarta : Buku Kedokteran EGC

Ww w. Google. Com /Asuhan Keperawatan Pada Pasien Penderita Limfoma. 201 3

Www. Infokes. Com/Program Studi Keperawatan . 2013