of 143 /143
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user PENGGUNAAN MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN SENI BUDAYA UNTUK MENINGKATKAN APRESIASI SISWA TERHADAP SENI KRIYA NUSANTARA DI KELAS XI IPS 1 SMA NEGERI 1 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012 SKRIPSI Oleh: ANGGI TRI DAMAYANTI K 3207001 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011

PENGGUNAAN MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN …... · PENGGUNAAN MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN SENI ... Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas ... Media

Embed Size (px)

Text of PENGGUNAAN MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN …... · PENGGUNAAN MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN SENI...

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    i

    PENGGUNAAN MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN SENI

    BUDAYA UNTUK MENINGKATKAN APRESIASI SISWA TERHADAP

    SENI KRIYA NUSANTARA DI KELAS XI IPS 1 SMA NEGERI 1

    SURAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012

    SKRIPSI

    Oleh:

    ANGGI TRI DAMAYANTI

    K 3207001

    FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

    UNIVERSITAS SEBELAS MARET

    SURAKARTA

    2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    ii

    PENGGUNAAN MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN SENI

    BUDAYA UNTUK MENINGKATKAN APRESIASI SISWA TERHADAP

    SENI KRIYA NUSANTARA DI KELAS XI IPS 1 SMA NEGERI 1

    SURAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012

    Oleh:

    ANGGI TRI DAMAYANTI

    K 3207001

    Skripsi

    Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar

    Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Seni Rupa

    Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni

    FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

    UNIVERSITAS SEBELAS MARET

    SURAKARTA

    2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    iii

    PERSETUJUAN

    Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji

    Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

    Surakarta.

    Surakarta, 21 Desember 2011

    Pembimbing I Pembimbing II

    Drs. Tjahjo Prabowo, M.Sn Adam Wahida, S.Pd, M.Sn

    NIP 19530429 198503 1 001 NIP 19730906 200501 1 001

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    iv

    PENGESAHAN

    Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas

    Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima

    untuk memenuhi syarat mendapatkan gelas Sarjana Pendidikan.

    Hari : Jumat

    Tanggal : 30 Desember 2011

    Tim Penguji Skripsi

    Nama Terang tanda tangan

    Ketua : Dr. Slamet Supriyadi, M.Pd : ......................................

    NIP 19621110 198903 1 003

    Sekretaris : Drs. Sudarsono, M.Hum : .......................................

    NIP 19531021 198503 1 001

    Anggota I : Drs. Tjahjo Prabowo, M.Sn : ........................................

    NIP 19530429 198503 1 001

    Anggota II : Adam Wahida, S.Pd, M.Sn : ........................................

    NIP 19730906 200501 1 001

    Disahkan oleh :

    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

    Universitas Sebelas Maret Surakarta

    Dekan

    Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd.

    NIP 19600727 198702 1 001

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    v

    ABSTRAK

    Anggi Tri Damayanti. PENGGUNAAN MULTIMEDIA DALAM

    PEMBELAJARAN SENI BUDAYA UNTUK MENINGKATKAN

    APRESIASI SENI KRIYA NUSANTARA PADA SISWA KELAS XI IPS 1

    DI SMA NEGERI 1 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012. Skripsi.

    Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

    Surakarta, Desember 2011.

    Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan

    apresiasi karya seni kriya Nusantara melalui pembelajaran menggunakan

    multimedia (gabungan media gambar gerak dan gambar diam yang diantaranya

    teks, gambar, grafis, animasi, dan audio) pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1

    Surakarta tahun ajaran 2011/2012.

    Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang menggunakan

    multimedia dalam pembelajaran karya seni kriya Nusantara. Subjek penelitian

    adalah siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Surakarta tahun ajaran 2011/2012

    yang berjumlah 23 siswa. Penelitian ini dilakukan pada akhir bulan Oktober

    hingga awal bulan Desember 2011, dengan dua siklus dan masing-masing siklus

    mencakup empat kegiatan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan

    refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi,

    teknik tes esai, teknik wawancara, dan dokumentasi untuk aspek kognitif, aspek

    psikomotor dan aspek afektif dalam bentuk lembar observasi.

    Target indikator yang telah dicapai pada penelitian ini yaitu: 1) Siswa

    mampu mengidentifikasi keunikan gagasan teknik dan bahan dalam karya seni

    kriya di wilayah Nusantara dengan baik pada siklus I mencapai 78% dan pada

    siklus II meningkat hingga 87%. 2) Siswa mampu menunjukkan sikap menghargai

    terhadap pembelajaran seni kriya Nusantara dengan baik pada siklus I mencapai

    82% dan pada siklus II menjadi 84%. 3) Siswa mampu membuat deskripsi

    makalah secara mandiri mengenai materi seni kriya Nusantara dengan baik pada

    siklus I mencapai 83% dan pada siklus II tetap 83%.

    Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran

    menggunakan multimedia dapat meningkatkan daya apresiasi siswa terhadap

    karya seni kriya Nusantara Surakarta pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1

    Surakarta tahun ajaran 2011/2012.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    vi

    ABSTRACT

    Anggi Tri Damayanti. THE USE OF MULTIMEDIA IN CULTURAL ART

    LEARNING TO IMPROVE THE APPRECIATION OF ARCHIPELAGO

    ARTISTIC SKILL IN THE XI IPS 1 GRADERS OF SMA NEGERI 1

    SURAKARTA IN THE SCHOOL YEAR OF 2011/2012. Thesis. Surakarta:

    Teacher Training and Education Faculty of Surakarta Sebelas Maret University,

    December 2011.

    The objective of this classroom action research is to improve the

    appreciation of Archipelago artistic skill through the learning using multimedia

    (combination of motion picture and still including text, picture, graphic,

    animation, and audio) in the XI IPS 1 graders of SMA Negeri (Public Senior High

    School) 1 Surakarta in the School Year of 2011/2012.

    This study belongs to a classroom action research using multimedia in the

    learning of Archipelago Artistic Skill. The subject of research was the XI IPS 1

    graders of SMA Negeri 1 Surakarta in the School Year of 2011/2012 consisted of

    23 students. This study was taken place on late October to early December 2011,

    with two cycles each of which encompassed four activities: planning, acting,

    observing and reflecting. The data was collected using observation, essay test,

    interview and documentation techniques for cognitive, psychomotor, and affective

    aspects in the form of observation sheet.

    The target of indicator achieved in this research included: 1) the students

    could identify well the uniqueness of technical idea and material in the artistic

    skill work in Archipelago area that reached 78% in cycle I and increased to 87%

    in cycle II. 2) The students could show the appreciation toward the Archipelago

    Artistic Skill learning well that reached 82% in cycle I and increased to 84% in

    cycle II. 3) The students could make a descriptive paper independently about the

    Archipelago Artistic Skill material well that reached 83% in cycle I and remained

    to be 84% in cycle II.

    Based on the result of research, it could be concluded that the learning

    using multimedia can improve the appreciation of Archipelago Artistic Skill in the

    XI IPS 1 graders of SMA Negeri 1 Surakarta in the School Year of 2011/2012.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    vii

    MOTTO

    MARIO TEGUH

    ---------------------------------

    Cita-Cita Adalah Impian Yang Bertanggal

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    viii

    PERSEMBAHAN

    Skripsi ini didedikasikan kepada:

    Alm. Bapak Dr. Ir. Deddi Maryadi, Dipl. SE, M.Si

    Ibu Atmy Pudjiwanti

    Mas Aditya Bambang Rochedi

    Teh Arin Ningsih Setiawan

    Mbak Adisti Sukma Sawitri

    June

    Sahabat-sahabat setia

    Teman-teman FKIP Seni Rupa angkatan 2007, adik dan kakak tingkatku

    Almamater Tercinta

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    ix

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan petunjuk,

    kemudahan serta rahmat-Nya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

    Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi

    Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya.

    Penulis menyadari bahwa dalam penyelesaian penulisan skripsi ini tidak

    lepas dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung

    maupun tidak langsung. Untuk itu, atas segala bentuk bantuannya, Penulis

    sampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada terhormat :

    1. Prof. Dr. M. Furqon Hidyatullah, M. Pd., Dekan Fakultas Keguruan dan

    Ilmu Pendidikan UNS Surakarta;

    2. Dr. Muh. Rohmadi, S.S., M.Hum. Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan

    Seni FKIP UNS Surakarta;

    3. Dr. Slamet Supriyadi, M.Pd., Ketua Program Pendidikan Seni Rupa

    Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP UNS Surakarta;

    4. Drs. Tjahjo Prabowo, M.Sn. Pembimbing I yang telah banyak memberikan

    petunjuk, arahan, dan bimbingan kepada penulis dalam menyusun skripsi;

    5. Adam Wahida, S.Pd, M.Sn., pembimbing II sekaligus Pembimbing

    Akademik yang telah banyak memberikan petunjuk, arahan dan bimbingan

    kepada penulis dalam menyusun skripsi terutama selama penulis menjadi

    mahasiswa di Program Pendidikan Seni Rupa FKIP UNS;

    6. Alm. Bapak, yang telah sabar menunggu dan mendukung saya baik secara

    materi maupun moral sampai beliau menghembuskan nafas terakhirnya;

    7. Ibu tersayang, yang ikut mendampingi saya dari jauh dan tiada hentinya

    memberikan doa serta dukungan;

    8. Bapak dan Ibu dosen Program Pendidikan Seni Rupa yang telah banyak

    memberikan ilmu dan masukan-masukan kepada penulis;

    9. Teman-teman FKIP Seni Rupa angkatan 2007;

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    x

    10. Kepala SMA Negeri 1 Surakarta yang telah memberikan ijin, sehingga

    penulis dapat melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini;

    11. Catur Darmawan, M.Pd selaku guru mata pelajaran seni budaya kelas XI

    IPS 1 SMA Negeri 1 Surakarta atas bimbingan, arahan, dan bantuannya.

    12. Siswa-siswi kelas XI IPS, khususnya XI IPS 1 SMA Negeri 1 Surakarta

    atas bantuan dan kerjasamanya.

    13. Berbagai pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini, baik

    secara langsung maupun tidak langsung sehingga skripsi ini dapat

    tersusun.

    Penulis juga mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun.

    Akhirnya penulis berharap mudah-mudahan skripsi ini bermanfaat bermanfaat

    bagi pengembangan ilmu pendidikan kesenirupaan, khususnya bagi penulis dan

    pihak-pihak yang berkepentingan pada umumnya.

    Surakarta, Desember 2011

    Penulis

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xi

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL .................................................................................

    HALAMAN PENGAJUAN ......................................................................

    HALAMAN PERSETUJUAN ..................................................................

    HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................

    ABSTRAK..................................................................................................

    ABSTRACT................................................................................................

    MOTTO......................................................................................................

    PERSEMBAHAN ......................................................................................

    KATA PENGANTAR ...............................................................................

    DAFTAR ISI...............................................................................................

    DAFTAR TABEL.......................................................................................

    DAFTAR GAMBAR..................................................................................

    DAFTAR LAMPIRAN...............................................................................

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    B. Rumusan Masalah..

    C. Tujuan Penelitian....

    D. Indikator Penelitian

    E. Manfaat Penelitian.

    BAB II LANDASAN TEORI

    A. Tinjauan Pustaka

    1. Multimedia dalam Pembelajaran..

    2. Media Pembelajaran.

    3. Apresiasi Seni...

    4. Seni Kriya Nusantara....

    a. Pengertian Seni Kriya.

    b. Fungsi dan Tujuan Penciptaan Seni Kriya.

    i

    ii

    iii

    iv

    v

    vi

    vii

    viii

    ix

    xi

    xiv

    xv

    xvii

    1

    6

    7

    7

    7

    9

    9

    10

    14

    20

    20

    21

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xii

    c. Unsur-Unsur Penciptaan Seni Kriya..

    d. Jenis-Jenis Penciptaan Seni Kriya di Nusantara

    e. Teknik dan Bahan Penciptaan Karya Seni Kriya...

    B. Penelitian yang Relevan.

    C. Kerangka Berpikir..

    D. Hipotesis Tindakan.

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN

    A. Tempat dan Waktu Penelitian....

    B. Subyek Penelitian ......

    C. Teknik Pengumpulan Data.

    D. Teknik Analisis Data

    E. Prosedur Penelitian.

    BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Deskripsi Awal...

    1. Letak dan Situasi Ruang SMA Negeri 1 Surakarta.

    2. Keberadaan Siswa

    3. Kondisi Awal Pembelajaran Siswa Kelas XI IPS 1

    SMA Negeri 1 Surakarta.

    a. Tahap Observasi Awal .

    b. Tahap Refleksi Awal ...

    B. Deskripsi Siklus I

    1. Perencanaan Tindakan Siklus I ...

    2. Pelaksanaan Tindakan Siklus I....

    3. Observasi Siklus I .......

    4. Refleksi Siklus I..

    C. Deskripsi Siklus II..

    1. Perencanaan Tindakan Siklus II..

    2. Pelaksanaan Tindakan Siklus II..

    3. Observasi Siklus II...

    4. Refleksi Siklus II.

    D. Deskripsi Antar Siklus

    21

    22

    22

    27

    29

    31

    33

    33

    34

    36

    36

    47

    47

    48

    49

    50

    55

    60

    59

    65

    75

    80

    86

    86

    91

    105

    110

    114

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xiii

    E. Pembahasan

    BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN SARAN

    A. Simpulan...

    B. Implikasi...

    C. Saran.

    Daftar Pustaka...

    Lampiran...

    118

    120

    121

    121

    123

    125

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xiv

    DAFTAR TABEL

    Tabel

    1. Perencanaan Siklus I Pertemuan 1..

    2. Perencanaan Siklus I Pertemuan 2..

    3. Perencanaan Siklus I Pertemuan 3

    4. Daftar Nilai Materi Karya Seni Kriya Nusantara Kelas XI IPS 1...

    5. Data Rata-Rata Ketercapaian Siklus I Pembelajaran Keunikan

    Gagasan Teknik dan Bahan dalam Karya Seni Kriya di Wilayah

    Nusantara ..........................................................................

    6. Evaluasi Aspek Tampilan Multimedia Siklus I...

    7. Evaluasi Aspek Isi Multimedia Siklus I..

    8. Data Rata-Rata Ketercapaian Siklus II Pembelajaran Keunikan

    Gagasan Teknik dan Bahan dalam Karya Seni Kriya di Wilayah

    Nusantara.

    9. Evaluasi Aspek Tampilan Multimedia Siklus II.....

    10. Evaluasi Aspek Isi Multimedia Siklus II.....

    11. Perbandingan Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II ..

    12. Data Perbandingan Ketercapaian Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II

    Pembelajaran Mengidentifikasi Keunikan Gagasan Teknik dan Bahan

    dalam Karya Seni Kriya di Wilayah Nusantara.....................................

    41

    42

    43

    54

    82

    84

    85

    111

    112

    113

    114

    117

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xv

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar dan Grafik

    1. Suasana Kelas yang Mulai Tidak Kondusif Setelah 15 Menit Pertama..

    2. Bagan Kerangka Berpikir

    3. Bagan Prosedur Penelitian..

    4. SMA Negeri 1 Surakarta Terletak di Jalan Monginsidi, Nomor 40

    Banjarsari, Surakarta...

    5. Kondisi Pembelajaran Apresiasi Seni, Guru Menggunakan Metode

    Ceramah di Kelas XI IPS 1. Proses pembelajaran tampak kondusif .

    6. Tampak siswa sedang bercanda dan tidak memperhatikan guru yang

    sedang menjelaskan materi di depan kelas .

    7. Guru sedang menulis dan menggambar ilustrasi di papan tulis untuk

    menarik perhatian siswa .

    8. Guru meminta salah satu siswa ke depan kelas untuk menjawab

    pertanyaan dan menuliskannya di papan tulis agar siswa kembali

    memperhatikan ...

    9. Grafik observasi awal pada mata pelajaran seni budaya kompetensi

    dasar keunikan gagasan teknik dan bahan dalam karya seni kriya di

    wilayah Nusantara menggunakan Multimedia....

    10. Siswa Sedang Melihat Multimedia Pengetahuan Pengertian Seni

    Kriya dan Unsur-Unsur Penciptaan Seni Kriya ..

    11. Siswa yang Berbicara dengan Temannya ...

    12. Siswa sedang melihat Multimedia tentang Fungsi dan Tujuan

    Penciptaan Seni Kriya...

    13. Siswa sedang Mengerjakan Soal Tes mengenai Pengertian Seni

    Kriya, Unsur-Unsur Penciptaan Seni Kriya, Fungsi dan Tujuan

    Penciptaan Seni Kriya...

    14. Grafik hasil Siklus I pada mata pelajaran seni budaya kompetensi

    dasar keunikan gagasan teknik dan bahan dalam karya seni kriya di

    4

    31

    40

    48

    50

    51

    51

    52

    55

    68

    68

    72

    75

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xvi

    wilayah Nusantara menggunakan Multimedia....

    15. Seluruh Siswa Memperhatikan Multimedia dengan Seksama ...

    16. Posisi Guru Menjelaskan Materi dengan Cara Berkeliling Untuk

    Memantau Siswanya ..

    17. Guru Menjelaskan Materi dengan Multimedia dan Berkeliling..

    18. Siswa Sedang Menyampaikan Pendapatnya Kepada Guru

    19. Siswa Memperhatikan Pengulasan Materi dari Guru Setelah Melihat

    Tampilan Multimedia .

    20. Siswa Sedang Mengerjakan Tes Esai untuk Menguji Pemahaman

    Mereka Tentang Materi ..

    21. Grafik hasil Siklus II pada mata pelajaran seni budaya kompetensi

    dasar keunikan gagasan teknik dan bahan dalam karya seni kriya di

    wilayah Nusantara menggunakan Multimedia ...

    22. Grafik hasil Observasi Awal, Siklus I, Siklus II pada mata pelajaran

    seni budaya kompetensi dasar keunikan gagasan teknik dan bahan

    dalam karya seni kriya di wilayah Nusantara menggunakan

    Multimedia .....

    80

    94

    95

    97

    100

    103

    104

    109

    118

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xvii

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran

    1. Silabus.

    2. Lampiran Observasi Awal...

    a. Foto Pelaksanaan Pembelajaran Observasi Awal..

    b. Lembar Observasi Awal Afektif Pertemuan 3..

    c. Lembar Observasi Awal Afektif Pertemuan 4..

    d. Lembar Hasil Observasi Awal Afektif Pertemuan 3.

    e. Lembar Hasil Observasi Awal Afektif Pertemuan 4.

    f. Daftar Nilai LKS Materi Karya Seni Kriya Nusantara Kelas XI IPS

    1

    g. Hasil Wawancara dengan Guru..

    h. Hasil Wawancara dengan Siswa.

    3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP)..

    4. Lampiran Siklus I

    a. Foto Kegiatan Pembelajaran Pertemuan 1.

    b. Foto Kegiatan Pembelajaran Pertemuan 2.

    c. Foto Kegiatan Pembelajaran Pertemuan 3.

    d. Lembar Observasi Afektif Pertemuan 1

    e. Lembar Observasi Afektif Pertemuan 2

    f. Lembar Observasi Afektif Pertemuan 3.

    g. Lembar Hasil Observasi Afektif Pertemuan 1..

    h. Lembar Hasil Observasi Afektif Pertemuan 2..

    i. Lembar Hasil Observasi Afektif Pertemuan 3...

    j. Lembar Hasil Tes Kognitif Pertemuan 3

    k. Lembar Soal Tes Kognitif Pertemuan 3.

    l. Lembar Hasil Makalah Psikomotor Pertemuan 3...

    m. Acuan Kriteria Penilaian Psikomotor

    n. Lembar Tugas Makalah Pertemuan 3.

    126

    129

    130

    132

    134

    136

    137

    138

    139

    143

    145

    173

    174

    175

    176

    177

    179

    181

    183

    184

    185

    186

    187

    188

    189

    191

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xviii

    o. Hasil Wawancara dengan Guru..

    p. Hasil Wawancara dengan Siswa.

    5. Lampiran Siklus II...

    a. Foto Kegiatan Pembelajaran Pertemuan 1.

    b. Foto Kegiatan Pembelajaran Pertemuan 2.

    c. Foto Kegiatan Pembelajaran Pertemuan 3.

    d. Lembar Observasi Afektif Pertemuan 1

    e. Lembar Observasi Afektif Pertemuan 2

    f. Lembar Observasi Afektif Pertemuan 3.

    g. Lembar Hasil Observasi Afektif Pertemuan 1..

    h. Lembar Hasil Observasi Afektif Pertemuan 2..

    i. Lembar Hasil Observasi Afektif Pertemuan 3...

    j. Lembar Hasil Tes Kognitif Pertemuan 3

    k. Lembar Soal Tes Kognitif Pertemuan 3.

    l. Lembar Hasil Makalah Psikomotor Pertemuan 3..

    m. Acuan Kriteria Penilaian Psikomotor.....

    n. Lembar Tugas Makalah Pertemuan 3....

    o. Hasil Wawancara dengan Guru..

    p. Hasil Wawancara dengan Siswa.

    q. Foto Peneliti pada saat Penelitian...

    6. Tampilan Multimedia..

    7. Perijinan..

    a. Surat Permohonan Izin Menyusun Skripsi.....

    b. Surat Keputusan Dekan FKIP UNS...

    c. Surat Permohonan Ijin Research...

    d. Surat Permohonan Ijin Research...

    e. Surat Keterangan dari SMA Negeri 1 Surakarta

    192

    193

    195

    196

    197

    199

    200

    202

    204

    206

    207

    208

    209

    210

    211

    212

    214

    215

    217

    218

    219

    225

    226

    227

    228

    229

    230

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar belakang Masalah

    Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan seni dan kebudayaan yang

    harus dijaga kelestariannya. Berbagai macam seni dan kebudayaan di nusantara

    tersebut memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh bangsa lain,

    sehingga tak heran jika karya seni dan budaya tersebut pada akhirnya menjadi

    identitas diri bangsa Indonesia. Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah

    Indonesia dalam rangka melestarikan seni dan kebudayaan Nusantara, diantaranya

    mengadakan berbagai macam festival seni dan kebudayaan, memperkenalkan seni

    dan kebudayaan bangsa ke dunia Internasional melalui pariwisata, mendukung

    setiap kegiatan masyarakat di daerah yang melakukan kegiatan semacam tradisi,

    dan berbagai macam usaha lainnya.

    Usaha pemerintah dalam melestarikan seni dan kebudayaan juga

    dilakukan melalui pendidikan nasional. Crow & Crow (dalam Arif Rohman, 2009:

    6) berpendapat bahwa Pendidikan diartikan sebagai proses yang berisi berbagai

    macam kegiatan yang cocok bagi individu untuk kehidupan sosialnya dan

    membantu meneruskan adat dan budaya serta kelembagaan sosial dari generasi ke

    generasi. Hal ini sejalan dengan fungsi pendidikan (dalam Wiji Suwarno, 2009:

    31) yang menyatakan bahwa:

    Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem

    Pendidikan Nasional, tercantum bahwa Pendidikan Nasional berdasarkan

    Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945

    berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa

    yang bermartabat dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa. Selain

    itu, pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta

    didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang

    Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan

    menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

    Dengan begitu pendidikan nasional diharapkan dapat menjamin

    peningkatan mutu peserta didik yang berkarakter, terampil, sempurna lahir batin

    yang selalu memelihara nilai-nilai luhur pada seni budaya, sehingga dapat

    1

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    2

    mempertahankan dan menjaga kelestarian tradisi budaya, serta nilai-nilai kearifan

    bangsa dan identitas yang sengaja diwariskan kepada generasi muda.

    Pendidikan formal di Indonesia memiliki jenjang atau tahapan yang

    ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan

    dicapai, dan kemampuan yang akan dikembangkan. Jenjang pendidikan formal

    terdiri atas pendidikan dasar (SD, MI atau bentuk lain yang sederajat, SMP, MTs,

    dan yang sederajat), pendidikan menengah (SMA, MA, SMK, dan yang

    sederajat), dan pendidikan tinggi (universitas, akademi, institut, dan yang

    sederajat). Menurut pandangan Wiji Suwarno (2009: 45) bahwa Pendidikan

    menengah bersifat umum merupakan pendidikan formal yang ditujukan untuk

    menghasilkan lulusan yang memiliki karakter, kecakapan, dan keterampilan yang

    kuat untuk mengadakan timbal balik dengan lingkungan masyarakat, serta

    mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan

    tinggi.

    Sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia

    Nomor 2 tahun 1989 pada pasal 15 ayat 1 bahwa pendidikan menengah

    diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta

    menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki

    kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial,

    budaya, dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut

    dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi. (dalam Hasbullah, 2005: 289).

    Pada dasarnya dunia pendidikan saat ini telah lama menghadirkan proses

    pembelajaran seni (sekarang Seni Budaya) mulai dari pendidikan dasar hingga

    menengah. M. Jazuli (2008: 17) menyatakan bahwa Hakekat pendidikan seni

    adalah suatu proses kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan nilai-nilai yang

    bermakna didalam diri manusia melalui pembelajaran seni. Jadi,

    penyelenggaraan pendidikan seni di sekolah merupakan salah satu upaya

    pembelajaran dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya mementingkan

    kecerdasan intelektual, akal, dan penalaran saja, melainkan menjadi upaya dalam

    menanamkan nilai-nilai kesadaran dalam menghargai keberagaman yang

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    3

    mementingkan pengembangan kecerdasan estetis, perasaan, emosi, dan

    kreativitasnya.

    Untuk menumbuhkan kesadaran siswa dalam menghargai seni, sebaiknya

    dilakukan dengan pendekatan apresiasi yang sudah tidak asing lagi dalam dunia

    pendidikan seni. Apresiasi merupakan kegiatan seni yang mengembangkan tingkat

    apresiasi peserta didik pada kesenian dan kebudayaan. Hal ini didukung oleh M.

    Jazuli (2008: 84) yang berpendapat mengenai pentingnya kegiatan apresiasi:

    Apabila keragaman seni budaya dikenalkan dan dibelajarkan kepada

    siswa di sekolah, maka mereka akan mampu menghargai dan memahami

    keberagaman serta perbedaan bentuk dan jenis seni budaya yang berasal

    dari berbagai latar belakang budaya yang ada di wilayan Nusantara.

    Dengan mengenal, memahami, mengerti hasil seni budaya bangsa sendiri

    merupakan wahana utama untuk menanamkan cinta bangsa dan cinta

    sesamanya, yang pada gilirannya juga dapat meningkatkan ketahanan

    budaya bangsa.

    Salah satu arah kebijakan Garis-garis Besar Haluan Negara tentang

    sosial dan budaya yaitu: Melestarikan apresiasi nilai kesenian dan kebudayaan

    tradisional serta menggalakkan dan memberdayakan sentra-sentra kesenian untuk

    merangsang berkembangnya kesenian nasional yang lebih kreatif inovatif,

    sehingga menumbuhkan rasa kebanggaan nasional. (dalam UUD 1945 & GBHN,

    2009:121). Dengan demikian, melalui pendidikan kesenian dan kebudayaan

    diharapkan peserta didik dapat mengembangkan kesadaran dalam memelihara

    tradisi kebudayaan yang telah diwariskan oleh generasi terdahulu.

    Sesuai kurikulum pembelajaran seni budaya kelas XI IPS 1 semester 1 di

    SMA Negeri 1 Surakarta tahun ajaran 2011/2012, siswa dihadapkan dengan

    standar kompetensi yang harus dicapai dalam penelitian ini yaitu mengapresiasi

    karya seni kriya. Sedangkan kompetensi dasar yang ingin dicapai adalah

    mengidentifikasi keunikan gagasan teknik dan bahan dalam karya seni kriya di

    wilayah Nusantara.

    Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan sebanyak 4 kali, ternyata

    kondisi proses pembelajaran seni budaya di kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 1

    Surakarta tahun ajaran 2011/2012 pada umumnya kurang maksimal. Terutama

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    4

    pada tingkat mengidentifikasi keunikan gagasan teknik dan bahan dalam karya

    seni kriya di wilayah Nusantara. Proses pembelajaran belum menunjukkan hasil

    yang baik, yang dibuktikan dengan tidak kondusifnya suasana kelas setelah 15

    menit pelajaran berlangsung. Hal ini dibuktikan oleh setiap siswa yang melakukan

    aktivitasnya masing-masing. Sebagian besar siswa yang kurang antusias terhadap

    materi seni kriya Nusantara tersebut diantaranya melakukan kegiatan seperti

    mengganggu teman, berbicara dengan teman sebangku, bermain pulpen, tidur-

    tiduran, dan bahkan ada siswa yang secara sengaja berjalan-jalan pada saat guru

    sedang menerangkan di depan kelas.

    Gambar 1. Suasana Kelas yang Mulai Tidak Kondusif Setelah 15 Menit Pertama

    (dokumentasi: Anggi, 2011)

    Dapat diketahui bahwa selama ini guru menggunakan metode

    pembelajaran konvensional yaitu dengan ceramah, penugasan, pemberian contoh,

    dan lain-lain. Namun, metode pembelajaran ini memberikan hasil yang kurang

    optimal, karena mengakibatkan sebagian besar siswa masih memiliki kelemahan

    pada kemampuan kognitif atau pemahaman terhadap materi yang disampaikan,

    sehingga masih perlu mendapatkan perhatian untuk meningkatkan kemampuan

    kognitifnya. Hal ini dibuktikan pada saat guru memberikan tugas LKS dan

    mendapati nilai siswa yang mencapai KKM pada kompetensi dasar tersebut hanya

    39%, sedangkan 61% siswa lainnya belum mencapai KKM yang sudah ditentukan

    yaitu 75. Berdasarkan pernyataan hasil wawancara yang disampaikan oleh guru

    mata pelajaran Seni Budaya, Bapak Catur Darmawan, A.Md bahwa Nilai rata-

    rata siswa XI IPS 1 pada materi karya seni kriya nusantara masih tergolong rendah

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    5

    yaitu 73 dan belum mencapai ketuntasan nilai KKM yang ditentukan. Selain itu,

    dari segi psikomotor siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 1 Surakarta tahun

    ajaran 2011/2012, juga masih kurang. Hal ini ditunjukkan dari kurangnya

    kesesuaian antara tugas yang dikerjakan siswa dengan intruksi yang diberikan

    guru, kurangnya kerapian siswa dalam menyajikan tugas, masih sedikitnya

    kesungguhan siswa dalam mengerjakan tugas, dan ketepatan waktu siswa dalam

    mengumpulkan tugas. Jadi, berdasarkan observasi yang telah dilakukan selama 4

    kali pertemuan, dapat disimpulkan adanya permasalahan di kelas XI IPS 1 bahwa

    tingkat apresiasi siswa dalam mata pelajaran karya seni kriya nusantara masih

    kurang.

    Akan tetapi guru tidak berdiam diri setelah mengetahui permasalahan

    tersebut. Adapun upaya yang pernah dilakukan guru dalam permasalahan ini yaitu

    dengan mengupayakan penggunaan media visual berupa gambar dan alat peraga

    berupa hasil karya seni kakak kelas mereka terdahulu yang diharapkan mampu

    meningkatkan kemampuan apresiasi seni siswa pada pembelajaran seni budaya

    khususnya dalam mengidentifikasi keunikan gagasan teknik dan bahan dalam

    karya seni kriya di wilayah Nusantara. Namun, hal ini kurang memberikan hasil

    yang signifikan, karena metode atau media pembelajaran yang digunakan guru

    masih bersifat ala kadarnya, yakni hanya menggunakan gambar atau foto, sketsa,

    papan tulis, dan alat peraga saja. Sehingga upaya di atas mengakibatkan kurang

    terciptanya suasana pembelajaran yang kondusif dan cenderung membosankan.

    Berdasarkan permasalahan di atas, maka diperlukan sebuah solusi agar

    dapat meningkatkan segi kognitif, afektif dan psikomotor siswa. Beberapa solusi

    yang ditemukan ternyata lebih mengarah pada penggunaan media yang berbasis

    multimedia. Multimedia menjadi solusi media pembelajaran yang tepat, karena

    multimedia merupakan gabungan media gambar gerak dan gambar diam yang

    diantaranya teks, gambar, grafis, animasi, dan audio. Aneka media tersebut

    biasanya digabungkan menjadi satu kesatuan yang akan menghasilkan suatu

    informasi yang memiliki nilai komunikasi yang sangat tinggi. Artinya bahwa

    informasi yang tersaji tidak hanya dapat dilihat melalui hasil cetak saja, melainkan

    juga dapat didengar. Selain itu, dengan penggunaan multimedia oleh guru dalam

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    6

    proses pembelajaran, tentunya mampu meningkatkan daya apresiasi siswa. Hal ini

    karena, multimedia yang dibuat membentuk sebuah animasi yang mampu

    membangkitkan minat siswa karena penyajiannya yang berbeda. Dengan kata lain

    mulimedia ialah media yang mampu menyampaikan pesan atau informasi dengan

    membuat siswa, mengingat, melihat, mendengar dan mengerjakan, sehingga akan

    memungkinkan siswa dapat meraih hasil belajar sebesar 80% dari apa yang

    dipelajari.

    Penggunaan multimedia dalam penelitian ini harus diimbangi dengan

    adanya fasilitas yang memadai (yaitu berupa komputer, Liquid Crystal Display/

    LCD, dan proyektor) pada ruang kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Surakarta. Pada

    penelitian ini penggunaan multimedia dimanfaatkan untuk menjelaskan mengenai

    mata pelajaran Karya Seni Kriya Nusantara, mulai dari pengertian seni kriya,

    unsur-unsur penciptaan seni kriya, fungsi tujuan penciptaan seni kriya, jenis-jenis

    penciptaan seni kriya, teknik bahan penciptaan seni kriya dan ruang lingkup kriya.

    Hal di atas tidak lepas dari pandangan Cecep Kustandi & Bambang

    Sutjipto (2011: 78) bahwa Kelebihan multimedia adalah memberikan kemudahan

    kepada siswa untuk belajar secara individu maupun secara kelompok. Sehingga

    tidak menutup kemungkinan jika media pembelajaran multimedia dilakukan

    dalam sebuah kelompok atau forum, dan dalam penelitian ini multimedia

    diterapkan secara kelompok. Hal ini dimaksud dengan multimedia dioperasikan

    oleh guru di depan kelas. Dengan demikian, dengan menggunakan multimedia

    diharapkan dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang menyenangkan dan

    tidak membosankan sehingga mampu meningkatkan apresiasi karya seni kriya

    Nusantara pada siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Surakarta tahun ajaran

    2011/2012.

    B. Rumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang masalah dapat dirumuskan masalah penelitian

    sebagai berikut:

    Apakah penggunaan multimedia dalam pembelajaran seni budaya dapat

    meningkatkan apresiasi siswa terhadap seni kriya Nusantara di kelas XI IPS 1

    SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2011/2012?

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    7

    C. Tujuan Penelitian

    Skripsi ini merupakan penelitian tindakan kelas. Adapun tujuan

    penyusunan skripsi ini adalah sebagai berikut:

    Untuk meningkatkan apresiasi siswa terhadap seni kriya Nusantara di kelas XI

    IPS 1 SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2011/2012 melalui penggunaan

    multimedia dalam pembelajaran seni budaya.

    D. Indikator Keberhasilan Penelitian

    Indikator kerja merupakan tolak ukur keberhasilan penelitian yang

    dilakukan. Dalam penelitian tindakan kelas ini yang ditingkatkan adalah tingkat

    apresiasi seni siswa khususnya terhadap Karya Seni Kriya Nusantara, yaitu

    meningkat minimal 80% dari 23 siswa kelas XI IPS 1. Capaian target pada setiap

    indikator harus didasarkan pada tingkat kemampuan siswa sebelum adanya

    perbaikan. Target indikator tidak boleh terlalu rendah atau terlalu tinggi. Adapun

    indikator keberhasilan penelitian ini adalah sebagai berikut:

    1. Minimal 80% siswa mampu mengidentifikasi dengan baik keunikan gagasan

    teknik dan bahan dalam karya seni kriya di wilayah Nusantara.

    2. Minimal 80% siswa menunjukkan sikap menghargai terhadap seni kriya

    Nusantara dengan baik.

    3. Minimal 80% siswa mampu membuat deskripsi makalah secara mandiri

    mengenai seni kriya Nusantara ketika proses pembelajaran berlangsung.

    E. Manfaat Penelitian

    Adapun manfaat yang diperoleh dari proses pembelajaran apresiasi seni

    dengan menggunakan multimedia, yaitu:

    1. Bagi Guru

    a. Sebagai alternatif pilihan media dalam pembelajaran seni budaya.

    b. Dapat meningkatkan profesionalisme guru dalam menanggapi kemajuan

    teknologi informasi dan komunikasi (TIK),

    2. Bagi Siswa

    a. Pembelajaran apresiasi seni lebih menarik.

    b. Dapat memudahkan siswa dalam memahami materi pembelajaran.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    8

    3. Bagi Sekolah

    Sebagai alternatif pilihan media pembelajaran yang sudah ada.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    9

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Tinjauan Pustaka

    1. Multimedia dalam Pembelajaran

    Pengertian multimedia menurut Hackbarth (dalam Winarno et al, 2009:

    6) yaitu Sebagai suatu penggunaan gabungan beberapa media dalam

    menyampaikan informasi yang berupa teks, grafis atau animasi grafis, movie,

    video dan audio. Hackbarth melanjutkan bahwa Multimedia meliputi

    hypermedia dan hypertext. Hypermedia yaitu suatu penggunaan format presentasi

    multimedia yang meliputi teks, grafis diam atau animasi, bentuk movie, video atau

    audio. Hypertext yaitu bentuk teks, diagram statis, gambar dan tabel yang

    ditayangkan dan disusun secara tidak linier (urutan atau segaris). Sedangkan

    Merryl, et. all (dalam Winarno et al, 2009: 7) berpendapat bahwa Multimedia

    merupakan gabungan dari teks (tertulis), grafis (program cara penyampaian

    informasi), audio (dialog, cerita, efek suara), animasi, dan video yang bergerak ke

    dalam sebuah aplikasi komputer. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa

    multimedia merupakan suatu gabungan atau kombinasi media gambar gerak dan

    gambar diam yang diantaranya teks, gambar, grafis, animasi, audio dan video

    yang manfaatnya sebagai alat bantu dalam memudahkan siswa menerima pesan

    atau informasi yang disampaikan oleh guru secara efektif, efisien dan optimal.

    Menurut pendapat yang di ungkapkan oleh Cecep Kustandi & Bambang

    Sutjipto (2011: 78) bahwa Kelebihan multimedia adalah memberikan kemudahan

    kepada siswa untuk belajar secara individu maupun secara kelompok. Jadi, tidak

    menutup kemungkinan jika media pembelajaran multimedia dilakukan dalam

    sebuah kelompok atau forum, dan dalam penelitian ini multimedia diterapkan

    secara kelompok. Hal ini dimaksud dengan multimedia dioperasikan oleh guru di

    depan kelas.

    Multimedia tidak akan lepas dari peran sebuah komputer karena

    komputer memiliki respon cepat terhadap hasil belajar yang dilakukan oleh

    peserta didik. Selain itu, komputer telah membantu dunia pendidikan karena

    memiliki kemampuan menyimpan dan memanipulasi informasi sesuai dengan

    9

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    10

    kebutuhan, sehingga dengan adanya komputer, multimedia dapat digunakan

    sebagai media pembelajaran yang inovatif.

    Dalam penelitian tindakan kelas ini, multimedia dirasa lebih tepat karena

    siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan materi dari guru, tetapi juga aktivitas

    lain seperti mengingat, mengidentifikasi, dan multimedia dapat menarik perhatian

    siswa sehingga diharapkan mampu memecahkan masalah yang dihadapai XI IPS

    1 SMA 1 Negeri Suarakarta tahun ajaran 2011/2012. Proses pembelajaran seni

    kriya Nusantara dengan menggunakan multimedia belum pernah dilakukan

    sebelumnya oleh guru, sehingga dengan adanya media ini proses pembelajaran

    tidak membosankan, lebih efektif, dan menyenangkan.

    2. Media Pembelajaran

    a. Pengertian Media

    Kata media berasal dari Bahasa Latin, yakni medius yang secara

    harfiahnya berarti tengah, perantara atau pengantar. (Yudhi Munadi, 2008:

    6). Selain itu kata media dalam Bahasa Arab disebut wasali bentuk jama dari

    wasilah yakni sinonim al-wasth yang artinya tengah, lanjut Yudhi Munadi.

    Webster Dictionary (dalam Sri Anitah, 2009: 4), menambahkan bahwa Media

    atau medium adalah segala sesuatu yang terletak di tengah dalam bentuk jenjang,

    atau alat apa saja yang digunakan sebagai perantara atau penghubung dua pihak

    atau dua hal. Sehingga dapat dikatakan bahwa media adalah segala bentuk

    sesuatu yang menjadi perantara atau pengantar informasi.

    Untuk lebih menerangkan pengertian media, maka Association for

    Educational Communication and Technologi/ AECT (dalam Sri Anitah, 2008: 1)

    mendefinisikan Media sebagai segala bentuk yang digunakan untuk menyalurkan

    informasi. Dilanjutkan oleh pendapat Gerlach dan Ely (1980), Media adalah

    grafik, fotografi, elektronik, atau alat-alat mekanik untuk menyajikan, memproses,

    dan menjelaskan informasi lisan dan audio. (dalam Sri Anitah, 2009: 5). Dengan

    demikian dapat dikatakan lagi bahwa media adalah alat perantara digunakan

    untuk melakukan proses pengiriman atau penerimaan pesan antara dua orang atau

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    11

    lebih sehingga pesan tersebut dapat dipahami. Pesan ini dapat disampaikan

    melalui bentuk dan alat tertentu.

    Pendapat para ahli di atas sejalan dengan Bretz (1977) secara implisit

    menyatakan bahwa Media adalah sesuatu yang terletak di tengah-tengah, jadi

    suatu perantara yang menghubungkan semua pihak yang membutuhkan terjadinya

    suatu hubungan, dan membedakan antara media komunikasi dan alat bantu

    komunikasi. (Sri Anitah, 2008: 1).

    Dari uraian pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

    media adalah perantara pembawa pesan atau informasi dari komunikator, yang

    dapat mengandung maksud-maksud pengajaran melalui pemanfaatan alat bantu

    sehingga informasi tersebut dapat lebih mudah diterima dan dipahami.

    b. Media Pembelajaran

    Menurut Yudhi Munadi (2008: 4) kata Pembelajaran sengaja dipakai

    sebagai padanan kata dari intruction (bahasa Inggris). Yudhi Munadi

    menambahkan bahwa Pembelajaran adalah proses belajar, maka usaha-usaha

    yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses

    belajar dalam diri peserta didik. Sedangkan menurut ahli lain, Pembelajaran

    ialah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar

    merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. (Syaiful Sagala, 2006: 61).

    Definisi lain pembelajaran dikemukakan oleh Patricia L. Smith & Tillman J.

    Ragan 1993 (dalam Benny A. Pribadi, 2009: 9) yaitu Pengembangan dan

    penyampaian informasi dan kegiatan yang diciptakan untuk memfasilitasi

    pencapaian tujuan yang spesifik. Sedangkan konsep pembelajaran menurut

    Corey (dalam Syaiful Sagala, 2006: 61), adalah Proses dimana lingkungan

    seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam

    tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons

    terhadap situasi tertentu, ... .. Dengan demikian, kesimpulannya adalah

    pembelajaran merupakan proses tindakan atas berlangsungnya pengiriman

    informasi dari seorang pendidik kepada peserta didik agar mampu meningkatkan

    kualitas hidupnya yang serangkaian aktivitas tersebut sengaja diciptakan dengan

    maksud untuk memudahkan terjadinya proses belajar.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    12

    Di sisi lain, Gagne & Briggs (1975) mengungkapkan hubungan antara

    media dan pembelajaran yang dapat diartikan, Media pembelajaran meliputi alat

    secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran, yang terdiri

    dari antara lain buku, tape recorder, kaset, video camera, video recorder, film,

    slide (gambar bingkai), foto, grafik, televisi, dan komputer. (dalam Azhar Arsyad,

    2005: 4). Yudhi Munadi (2008: 5) menjelaskan bahwa Media pembelajaran

    adalah sumber-sumber belajar selain guru yang disebut sebagai penyalur atau

    penghubung pesan ajar yang diadakan dan tidak diciptakan secara terencana oleh

    guru atau pendidik.

    Pendapat lain dinyatakan oleh Sri Anitah (2009: 2) yang menjelaskan

    bahwa Media pembelajaran adalah setiap orang, bahan, alat, atau peristiwa yang

    dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan pelajar menerima pengetahuan,

    keterampilan, dan sikap. Melalui pendapat para ahli di atas, maka dapat

    disimpulkan bahwa media pembelajaran menjadi aspek penting dalam

    keberlangsungan sebuah proses pembelajaran peserta didik dalam kelas, karena

    mampu mengoptimalkan penyampaian bahan ajar dan minat peserta didik.

    Jadi media pembelajaran adalah sebuah alat bantu dalam proses belajar

    mengajar (PBM) yang dikemas oleh pendidik atas dorongan adanya gagasan baru

    yang merupakan produk untuk melakukan langkah-langkah belajar, dengan

    menekankan proses penyampaian pesan dari sumber belajar melalui saluran atau

    media tertentu ke penerima pesan. Pesan yang dikomunikasikan adalah isi ajaran

    atau didikan seperti yang ada di dalam suatu kurikulum. Sumber pesan bisa

    pendidik, penulis buku, pencipta media ataupun peserta didik. Penerima pesan

    adalah peserta didik dan pendidik, sedangkan salurannya adalah media

    pembelajaran, sehingga memperoleh kemajuan hasil belajar. Dalam hal ini,

    tentunya pesan yang dimaksudkan ialah materi pembelajaran yang disampaikan

    oleh guru dengan media yang dikembangkan yaitu multimedia.

    Manfaat media pembelajaran menurut Hamalik (dalam Cecep Kustandi

    & Bambang Sutjipto, 2011: 21) mengemukakan bahwa:

    Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat

    membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan

    motivasi, dan rangsangan kegiatan belajar, bahkan membawa pengaruh

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    13

    psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap

    orientasi pembelajaran akan sangat membantu siswa meningkatkan

    pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya,

    memudahkan penafsiran, memadatkan informasi, serta meningkatkan

    motivasi dan minan belajar siswa dalam belajar.

    Menurut Azhar Arsyad (2005: 24) Manfaat media pembelajaran dalam

    proses pembelajaran yaitu:

    1) Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar,

    2) Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan

    pembelajaran,

    3) Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru

    tidak kehabisan tenaga,

    4) Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati,

    melakukan, mendemostrasikan, memerankan, dan lain-lain.

    Encyclopedia of Educational Research dalam Hamalik (dalam Cecep

    Kustandi & Bambang Sutjipto, 2011: 25) merincikan manfaat media

    pembelajaran, sebagai berikut:

    1) Meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir, sehingga mengurangi verbalisme,

    2) Memperbesar perhatian siswa, 3) Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, sehingga

    membuat pembelajaran lebih mantap,

    4) Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa,

    5) Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu, terutama melalui gambar hidup,

    6) Membantu tumbuhnya pengertian yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain, dan membantu efisiensi serta keragaman yang lebih banyak dalam

    belajar.

    Maka dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa fungsi dan manfaat

    penggunaan media dalam proses pembelajaran yakni memberikan tempat

    terpenting dalam kegiatan mengajar, karena dapat mengefisiensikan dan

    mengefektifkan proses penyampaian materi, selain itu dapat mengembangkan

    kemampuan dan keterampilan melalui pengalaman peserta didik di dalam kelas.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    14

    Menurut Yudhi Munadi (2008: 57) menyatakan bahwa:

    Jenis media yang terakhir ialah multimedia yakni media yang melibatkan

    berbagai indera dalam sebuah proses pembelajaran. Termasuk dalam

    media ini adalah segala sesuatu yang memberikan pengalaman secara

    langsung bisa melalui komputer dan internet, bisa juga melalui

    pengalaman berbuat dan pengalaman terlibat.

    Dalam hal ini komputer merupakan alat elektronik yang masuk dalam

    kategori multimedia, karena komputer mampu melibatkan berbagai indera dan

    organ tubuh seperti telinga (audio), mata (visual), dan tangan (kinetik). Perlu

    diketahui bahwa hadirnya multimedia merupakan hasil revolusi dari

    perkembangan teknologi dan komunikasi (TIK). Berdasarkan kriteria media

    pembelajaran yang baik diakronimkan dengan VISUALS, yaitu singkatan dari:

    1) Visible : Mudah dilihat

    2) Interesting : Menarik

    3) Simple : Sederhana

    4) Useful : Isinya berguna atau bermanfaat

    5) Accurate : Benar (dapat dipertanggungjawabkan)

    6) Legimate : Masuk akal dan sah

    7) Structured : Terstruktur

    3. Apresiasi Seni

    Apresiasi berasal dari bahasa inggris, apretiation yaitu suatu kegiatan

    untuk melihat, menonton, menikmati, menilai, dan menghargai suatu karya seni.

    Nooryan Bahari (2008:148) menyatakan bahwa Istilah apresiasi berasal dari kata

    Latin appretiatus yang merupakan bentuk past participle, yang artinya to value at

    price atau penilaian pada harga. Apresiasi seni rupa berarti mengenal,

    memahami, dan memberikan penghargaan atau tanggapan estetis terhadap karya

    seni rupa. Untuk melakukan kegiatan apresiasi seni, seseorang terlebih dulu harus

    memiliki pengertian, pemahaman, pemaknaan secara baik terhadap sebuah karya

    seni. Materi apresiasi seni pada dasarnya adalah pengenalan tentang konsep atau

    makna, bentuk, dan fungsi seni rupa. (Taufik, 2003:7). Apresiasi dapat dilakukan

    oleh siapa saja, dan pada berbagai cabang seni. Hal itu berguna menambah

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    15

    pengalaman estetis sebagai bekal mencipta suatu karya seni. Makin banyak

    menikmati suatu karya seni memperbanyak wawasan seni seseorang. Apresiasi

    merupakan kegiatan menghargai dan mengerti sebuah karya yang nantinya akan

    berhubungan dengan kritik seni.

    Kegiatan apresiasi seni akan memunculkan ide atau gagasan untuk

    mencipta suatu karya seni, sehingga kegiatan apresiasi ini dikelompokkan

    apresiasi kreatif. Ide atau gagasan yang dimunculkan oleh seorang seniman sangat

    dipengaruhi pengalaman dalam berapresiasi, meskipun pengalaman itu tidak

    dominan. Penciptaan suatu karya seni banyak dipengaruhi berbagai faktor.

    Feldman 1981 (dalam Nooryan, 2008: 150), menyatakan bahwa Apresiasi

    bukanlah sebuah proses pasif, ia merupakan proses aktif kreatif, agar secara

    efektif mengerti nilai suatu karya seni, dan mendapatkan pengalaman estetik.

    Kegiatan apresiasi seni tidak hanya dilakukan dengan metode ceramah

    saja, tetapi juga dapat dilakukan dengan cara lain misalnya dengan melakukan

    kunjungan langsung ke museum seni, pameran, berdialog dengan seniman dan

    pengrajin seni, atau melihat tayangan pengetahuan tentang sebuah karya seni

    melalui media komputer, televisi, video, dan lain-lain. Hal ini didukung oleh

    pernyataan Yayah Khisbiyah (2001: xii) bahwa Apresiasi bisa juga diajarkan

    melalui pengalaman langsung. Misalnya, siswa menonton pertunjukan atau

    pameran, mendengarkan rekaman, menonton video, dan berpraktik serta

    berimprovisasi sendiri dengan instrumen dan unsur-unsur kesenian lainnya.

    Kegiatan apresiasi seni dapat dikatakan berhasil jika siswa mampu

    memahami dan menghargai sebuah karya seni. Yayah Khisbiyah (2001:105)

    berpendapat bahwa Apresiasi seni dapat didefinisikan sebagai dicapainya

    kemampuan untuk memahami kesenian dengan penuh pengertian. Sehingga jika

    siswa telah mampu mengenali, memahami, dan menjaga sebuah kesenian dengan

    baik, maka baru dapat dikatakan siswa tersebut telah berapresiasi dengan baik.

    Dalam apresiasi seni, hendaknya siswa diberikan pemahaman dan pengenalan

    mengenai kesenian tradisi Nusantara. Sehingga siswa mampu mengenali dan ikut

    menjaga melestarikan jati diri bangsanya sendiri.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    16

    Dalam materi apresiasi seni di kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Surakarta

    tahun ajaran 2011/2012, dipilih materi karya seni kriya Nusantara untuk

    diapresiasi lebih lanjut. Hal ini merupakan langkah yang tepat agar siswa mampu

    memahami lebih dalam karya seni kriya yang ada di wilayah Nusantara. Dalam

    kata pengantarnya Yayah juga mengatakan bahwa Jenis kesenian yang dipilih

    (dalam apresiasi seni) seyogyanya adalah kesenian tradisi Nusantara, karena

    sebagai anak bangsa, peserta didik sudah selayaknya mengetahui khazanah

    kesenian tradisi bangsanya sendiri. Lebih lanjut lagi, Yayah mengatakan

    Dengan demikian, apresiasi terhadap kesenian tradisional Nusantara ini

    diharapkan membantu peserta didik mengenal jati dirinya sekaligus memahami

    pluralitas bangsanya.

    Dalam materi apresiasi seni yang disampaikan adalah pengetahuan dasar

    mengenai seni kriya Nusantara. Di antaranya adalah pengertian seni kriya, unsur-

    unsur penciptaan seni kriya, fungsi tujuan penciptaan seni kriya, jenis-jenis

    penciptaan seni kriya, teknik bahan penciptaan seni kriya dan ruang lingkup kriya.

    Dengan mengenalkan siswa lebih dalam mengenai pemahaman dan pengetahuan

    tentang seni kriya Nusantara, maka diharapkan siswa mampu meningkatkan

    apresiasinya terhadap pembelajaran seni kriya Nusantara.

    Berdasarkan silabus kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Surakarta tahun ajaran

    2011/2012, materi seni kriya Nusantara dalam pelajaran Seni Budaya didominasi

    oleh praktek. Hal tersebut mengakibatkan penyampaian teori tentang karya seni

    kriya Nusantara sangat sedikit dan kurang, sehingga pada saat guru menjelaskan

    teori siswa menjadi kurang antusias dengan materi pembelajaran tersebut. Hal

    tersebut karena merasa tidak butuh dan lebih memilih pembelajaran praktek.

    Penyampaian materi yang kurang oleh guru juga menjadi faktor lain penyebab

    siswa kurang antusias dengan materi seni kriya Nusantara. Akibat dari kurangnya

    antusiasme siswa, rata-rata hasil belajar pada aspek kognitif siswa XI IPS 1 SMA

    Negeri 1 Surakarta tahun ajaran 2011/2012 pada materi seni kriya Nusantara

    belum sampai pada standar penilaian yang telah ditentukan yaitu 73, yang secara

    otomatis berpengaruh pada tingkat apresiasi siswa terhadap seni kriya Nusantara

    itu sendiri.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    17

    Kegiatan apresiasi yang ditingkatkan dalam penelitian ini adalah

    pemahaman (kognitif) siswa terhadap materi, sikap menghargai (afektif), dan

    keterampilan siswa dalam menyusun kembali isi tentang materi seni kriya

    Nusantara ke dalam sebuah makalah yang dibuat secara mandiri dengan rapi dan

    sistematis (psikomotor). Peningkatan kegiatan tersebut dinilai melalui hasil

    pengamatan selama penelitian berlangsung di kelas dan nilai tes berdasarkan

    indikator yang sudah ditentukan. Pada hasil akhirnya, apresiasi siswa dikatakan

    baik jika siswa memenuhi indikator-indikator yang telah ditentukan. Rincian

    penjelasan segi kognitif, afektif dan psikomotor siswa yang akan mengacu pada:

    a. Segi Kognitif

    Istilah kognitif berasal dari bahasa latin, yaitu cognoscere yang berarti

    tahu atau mengenali. (Aden Bagus, http://id.shvoong.com). Ranah kognitif

    sangat berhubungan erat dengan kemampuan berpikir, diantaranya menghafal,

    memahami, menganalisis, dan sebagainya. Ranah ini merujuk kepada kemampuan

    subyek belajar dalam kecerdasan atau intelektualitasnya, seperti pengetahuan yang

    dikuasai maupun cara berpikir. Dalam penelitian tindakan kelas ini nilai kognitif

    diukur melalui hasil tes esai. Tes dilakukan setiap akhir pertemuan baik pada uji

    terbatas maupun uji lapangan. Pada setiap tes akan mencakup keenam tingkatan

    ranah kognitif.

    Menurut Martinis Yamin (2006, 28:31) bahwa Kawasan kognitif terdiri

    dari enam tingkatan dengan aspek belajar berbeda-beda. Keenam tingkat tersebut

    yaitu:

    1) Tingkatan Pengetahuan (knowledge)

    Pada level ini menuntut siswa untuk mampu mengingat informasi yang

    telah diterima sebelumnya. Contoh: siswa dapat menyebutkan kembali

    unsur-unsur seni kriya.

    2) Tingkat Pemahaman (comprehension)

    Pada tahap ini siswa dituntut berkemampuan dalam menjelaskan

    pengetahuan, informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri.

    Dalam hal ini siswa diharapkan menerjemahkan, atau menyebutkan

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    18

    kembali yang telah didengar dengan menggunakan kalimat sendiri.

    Contoh: siswa dapat menjelaskan tentang teknik dan pengertian kriya.

    3) Tingkat Penerapan (aplication)

    Penerapan merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan

    informasi yang telah dipelajari ke dalam situasi yang baru. Contohnya

    seperti siswa dapat mengemukakan penerapan benda-benda seni kriya

    yang ada di sekitarnya dalam kehidupan sehari-hari.

    4) Tingkat Analisis (analysis)

    Analisis adalah kemampuan untuk mengindentifikasi yang dalam hal ini

    siswa diharapkan mampu menunjukkan hubungan di atara berbagai

    gagasan dengan cara membandingkan gagasan tersebut dengan standar,

    prinsip atau prosedur yang telah dipelajari. Contoh: siswa dapat

    menganalisis jenis-jenis seni kriya di Nusantara.

    5) Tingkat Sintesis (synthesis)

    Sintesis diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan

    menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga

    terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh. Contoh: siswa mampu

    mengkategorikan benda seni kriya di sekitarnya berdasarkan fungsi dan

    tujuan benda kriya tersebut.

    6) Tingkat Evaluasi (evaluation)

    Dengan evaluasi diharapkan siswa mampu membuat penilaian dan

    keputusan tentang nilai suatu gagasan, metode, produk atau benda

    dengan menggunakan kriteria tertentu. Contoh: siswa dapat mengkritik

    tentang ruang lingkup seni kriya.

    Keenam tingkatan tersebut terkandung pada soal-soal tes yang diberikan

    kepada siswa setelah proses pembelajaran menggunakan multimedia dilaksanakan

    pada setiap pertemuan. Soal-soal yang mengandung keenam tingkatan tersebut

    diberikan kepada siswa dengan tujuan agar dapat mengukur tingkat kemampuan

    kognitif siswa secara maksimal. Sehingga diharapkan pada akhir penelitian ini

    mendapatkan hasil yang valid mengenai keefektifan multimedia dalam

    meningkatkan kemampuan kognitif siswa.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    19

    b. Segi Afektif

    Menurut Martinis Yamin (2006, 32) bahwa Kawasan afektif merupakan

    tujuan yang berhubungan dengan perasaan, emosi, sistem nilai, dan sikap hati

    yang menunjukkan penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu. Martinis

    melanjutkan bahwa Tujuan afektif dapat disebut sebagai minat, sikap hati, sikap

    menghargai, sistem nilai dan kecenderungan emosi.

    Jenis kategori ranah afektif dari yang paling sederhana hingga kompleks

    menurut Martinis Yamin (2006, 33-36) yakni:

    1) Tingkat Menerima (receiving)

    Menerima diartikan sebagai proses pembentukan sikap dan perilaku

    dengan cara membangkitkan kesadaran tentang adanya (stimulus)

    tertentu yang mengandung estetika. Contoh: siswa mendengarkan

    penjelasan guru tentang materi karya seni kriya Nusantara dengan penuh

    perhatian dan sungguh-sungguh tanpa melakukan aktivitas yang tidak

    mendukung proses pembelajaran.

    2) Tingkat Tanggapan (responding)

    Tanggapan diartikan dari segi kemauan atau kemampuan untuk bereaksi

    terhadap suatu kejadian (stimulus) dengan cara berpartisipasi dalam

    berbagai bentuk. Contoh: siswa tepat dalam memberikan pertanyaan atau

    pendapat mengenai materi karya seni kriya Nusantara tanpa keluar dari

    konteks materi tersebut.

    3) Tingkat Menilai (valuing)

    Menilai dapat diartikan sebagai kemauan untuk menerima kenyataan

    setelah seseorang itu sadar bahwa objek tertentu mempunyai nilai atau

    kekuatan, dengan cara menyatakan dalam bentuk sikap atau perilaku

    posirif atau negatif. Contoh: siswa bekerja sama untuk tidak saling

    melakukan aktivitas yang tidak mendukung selama proses pembelajaran

    berlangsung.

    4) Tingkat Organisasi (organization)

    Organisasi dapat diartikan sebagai kemungkinan untuk

    mengorganisasikan nilai-nilai, menentukan hubungan antar nilai dan

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    20

    menerima bahwa suatu nilai itu lebih dominan dibanding nilai yang lain

    apabila kepadanya diberikan berbagai nilai. Contoh: siswa akan hadir

    dalam setiap jam pelajaran seni budaya tepat waktu tanpa keluar pada

    saat pergantian jam pelajaran.

    5) Tingkat Karakteristik (characterization)

    Karakteristik adalah sikap dan perbuatan yang secara konsisten dilakukan

    seseorang selaras dengan nilai-nilai yang dapat diterimanya, sehingga

    sikap dan perbuatan itu seolah-olah menjadi ciri-ciri pelakunya. Contoh:

    siswa tepat waktu dalam mengumpulkan tugas pada hari yang sudah

    ditentukan oleh guru.

    c. Segi Psikomotor

    Kawasan psikomotor menurut Martinis Yamin (2006, 37) adalah

    Kawasan yang berorentasi kepada keterampilan motorik yang berhubungan

    dengan anggota tubuh, atau tindakan yang memerlukan koordinasi antara syaraf

    dan otot. Contoh: siswa membuat makalah secara mandiri dan kedalaman isi

    dengan sistematis tentang materi karya seni kriya Nusantara pada saat proses

    pembelajaran berlangsung dengan rapi dan dapat dibaca.

    4. Seni Kriya Nusantara

    a. Pengertian Seni Kriya

    Techne (Yunani), ars (Latin), kuns (Jerman) dan art dalam Bahasa

    Inggris, semuanya memiliki pengertian yang sama yakni keterampilan dan

    kemampuan. Keterampilan dan kemampuan yang dikaitkan dengan tujuan dalam

    seni seperti estetis (keindahan), etis, dan nilai praktis. Sedangkan Kriya adalah

    bidang keilmuan yang mempelajari pengetahuan, keterampilan dan kreatifitas

    berkarya rupa, yang bertolak dari pendekatan medium, kepekaan estetik,

    kebutuhan keseharian dan mengandalkan keterampilan manual. Menurut T.

    Bahtiar, Seni kriya (seni kerajinan tangan, handycraft) dapat diartikan, suatu

    bentuk atau karya yang dikerjakan secara manual atau dibantu dengan alat lain

    sebagai benda yang berguna bagi kepentingan manusia.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    21

    Seni kriya seringkali disebut sebagai handycraft yang berarti kerajinan

    tangan. Seni kriya termasuk dalam kategori seni rupa terapan, yaitu seni yang

    selain memiliki aspek-aspek keindahan, juga menekankan aspek kegunaan atau

    fungsi praktis (http://www.scribd.com). Dengan kata lain, seni kriya ialah seni

    kerajinan tangan manusia yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan peralatan

    kehidupan sehari-hari dengan tidak melupakan pertimbangan artistik dan

    keindahan.

    b. Fungsi dan Tujuan Penciptaan Seni Kriya

    Pembuatan sebuah karya seni kriya tentu tidak dibuat begitu saja, akan

    tetapi memiliki fungsi dan tujuan tersendiri. Berikut ini merupakan fungsi dan

    tujuan pembuatan seni kriya.

    1) Sebagai benda pakai, adalah seni kriya yang diciptakan mengutamakan

    fungsinya, adapun unsur keindahannya hanyalah sebagai pendukung.

    Misalnya kursi ukir, meja ukir, cermin dengan bingkai unik, dan lain-lain.

    2) Sebagai benda hias, yaitu seni kriya yang dibuat sebagai benda pajangan

    atau hiasan. Jenis ini lebih menonjolkan aspek keindahan daripada aspek

    kegunaan atau segi fungsinya. Misalnya guci, hiasan dinding, dan lain

    sebagainya.

    3) Sebagai benda mainan, adalah seni kriya yang dibuat untuk digunakan.

    Misalnya mobil-mobilan, boneka wayang, dan lain-lain.

    c. Unsur-Unsur Penciptaan Seni Kriya

    Berikut ini merupakan unsur yang membentuk seni kriya, diantaranya

    ialah aspek kegunaan dan estetika.

    1) Utility atau aspek kegunaan

    a) Security: mengenai keamanan dalam menggunakan benda seni

    tersebut.

    b) Comfortable: mengenai kenyamanan dalam menggunakan benda

    seni tersebut.

    c) Flexibility: yaitu keluwesan penggunaan.

    2) Estetika atau syarat keindahan

    Adanya keindahan pada sebuah benda terapan dapat menambah rasa

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    22

    senang, nyaman dan puas bagi pemakainya. Dorongan orang memakai,

    memiliki, dan menyenangi menjadi lebih tinggi jika barang itu

    diperindah dan berwujud estetik.

    d. Jenis-Jenis Penciptaan Seni Kriya di Nusantara

    1) Seni kerajinan kulit, adalah kerajinan yang menggunakan bahan baku dari

    kulit yang sudah dimasak, kulit mentah atau kulit sintetis. Contohnya: tas,

    sepatu, wayang dan lain-lain.

    2) Seni kerajinan logam, ialah kerajinan yang menggunakan bahan logam

    seperti besi, perunggu, emas, perak. Sedangkan teknik yang digunakan

    biasanya menggunakan sistem cor, ukir, tempa atau sesuai dengan bentuk

    yang diinginkan. Contohnya pisau, barang aksesoris, dan lain-lain.

    3) Seni ukir kayu, yaitu kerajinan yang menggunakan bahan dari kayu yang

    dikerjakan atau dibentuk menggunakan tatah ukir. Kayu yang biasanya

    digunakan adalah: kayu jati, mahoni, waru, sawo, nangka dan lain-lain.

    Contohnya mebel, relief dan lain-lain.

    4) Seni kerajinan anyaman, kerajinan ini biasanya menggunakan bahan rotan,

    bambu, daun lontar, daun pandan, serat pohon, pohon pisang, enceng

    gondok, dll. Contohnya: topi, tas, keranjang dan lain-lain.

    5) Seni kerajinan batik, yaitu seni membuat pola hias di atas kain dengan

    proses teknik tulis (casting) atau teknik cetak (printing). Contohnya: baju,

    gaun dan lain-lain.

    6) Seni kerajinan keramik, adalah kerajinan yang menggunakan bahan baku

    dari tanah liat yang melalui proses sedemikian rupa (dipijit, butsir, pilin,

    pembakaran dan glasir) sehingga menghasilkan barang atau benda pakai

    dan benda hias yang indah. Contohnya: gerabah, piring dan lain-lain.

    e. Teknik dan Bahan Penciptaan Karya Seni Kriya

    Ada beberapa teknik pembuatan benda-benda kriya yang disesuaikan

    dengan bahan. Alat dan cara yang digunakan antara lain cor atau tuang, mengukir,

    membatik, menganyam, menenun, dan membentuk.

    1) Teknik cor (cetak tuang)

    Ketika kebudayaan perunggu mulai masuk ke Indonesia, maka

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    23

    mulai dikenal teknik pengolahan perunggu. Terdapat beberapa benda kriya

    dari bahan perunggu seperti gendering perunggu, kapak, bejana, dan

    perhiasan. Teknik cetak pada waktu itu ada dua macam:

    a) Teknik tuang berulang (bivalve)

    Teknik bivalve disebut juga teknik menuang berulang kali karena

    menggunakan dua keping cetakan terbuat dari batu dan dapat dipakai

    berulang kali sesuai dengan kebutuhan (bi berarti dua dan valve berarti

    kepingan). Teknik ini digunakan untuk mencetak benda-benda yang

    sederhana baik bentuk maupun hiasannya.

    b) Teknik tuang sekali pakai (a cire perdue)

    Teknik a cire perdue dibuat untuk membuat benda perunggu yang

    bentuk dan hiasannya lebih rumit, seperti arca dan patung perunggu.

    Teknik ini diawali dengan membuat model dari tanah liat, selanjutnya

    dilapisi lilin, lalu ditutup lagi dengan tanah liat, kemudian dibakar

    untuk mengeluarkan lilin sehingga terjadilah rongga, sehingga

    perunggu dapat dituang ke dalamnya. Setelah dingin cetakan tanah liat

    dapat dipecah sehingga diperoleh benda perunggu yang diinginkan.

    Disamping teknik cor ada juga teknik menempa yang bahan-bahannya

    berasal dari perunggu, tembaga, kuningan, perak, dan emas. Bahan tersebut dapat

    dibuat menjadi benda-benda seni kerajinan, seperti keris, piring, teko, dan tempat

    lilin. Saat ini banyak terdapat sentra- sentra kerajinan cor logam seperti kerajinan

    perak.

    2) Teknik Ukir

    Alam Nusantara dengan hutan tropisnya yang kaya menjadi penghasil

    kayu yang bisa dipakai sebagai bahan dasar seni ukir kayu. Mengukir

    adalah kegiatan menggores, memahat, dan menoreh pola pada permukaan

    benda yang diukir. Di Indonesia, karya ukir sudah dikenal sejak zaman

    batu muda. Pada masa itu banyak peralatan yang dibuat dari batu seperti

    perkakas rumah tangga dan benda-benda dari gerabah atau kayu. Benda-

    benda itu diberi ukiran bermotif geometris, seperti tumpal, lingkaran,

    garis, swastika, zig zag, dan segitiga. Umumnya ukiran tersebut selain

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    24

    sebagai hiasan juga mengandung makna simbolis dan religius. Dilihat dari

    jenisnya, ada beberapa jenis ukiran antara lain ukiran tembus (krawangan),

    ukiran rendah, Ukiran tinggi (timbul), dan ukiran utuh. Karya seni ukir

    memiliki macam-macam fungsi antara lain:

    a) Fungsi hias, yaitu ukiran yang dibuat semata-mata sebagai hiasan dan

    tidak memiliki makna tertentu.

    b) Fungsi magis, yaitu ukiran yang mengandung simbol-simbol tertentu

    dan berfungsi sebagai benda magis berkaitan dengan kepercayaan dan

    spiritual.

    c) Fungsi simbolik, yaitu ukiran tradisional yang selain sebagai hiasan

    juga berfungsi menyimbolkan hal tertentu yang berhubungan dengan

    spiritual.

    d) Fungsi konstruksi, yaitu ukiran yang selain sebagai hiasan juga

    berfungsi sebagai pendukung sebuah bangunan.

    e) Fungsi ekonomis, yaitu ukiran yang berfungsi untuk menambah nilai

    jual suatu benda.

    3) Teknik Membatik

    Kerajinan batik telah dikenal lama di Nusantara. Akan tetapi

    kemunculannya belum diketahui secara pasti. Batik merupakan karya seni

    rupa yang umumnya berupa gambar pada kain. Proses pembuatannya

    adalah dengan cara menambahkan lapisan malam dan kemudian diproses

    dengan cara tertentu atau melalui beberapa tahapan pewarnaan dan

    tahapnglorod yaitu penghilangan malam. Alat dan bahan yang dipakai

    untuk membatik pada umumnya sebagai berikut:

    a) Kain polos, sebagai bahan yang akan diberi motif (gambar). Bahan

    kain tersebut umumnya berupa kain mori, primissima, prima, blaco,

    dan baju kaos.

    b) Malam, sebagai bahan untuk membuat motif sekaligus sebagai

    perintang masuknya warna ke serat kain (benang).

    c) Bahan pewarna, untuk mewarnai kain yaitu naptol dan garam diasol.

    d) Canting dan kuas untuk menorehkan lilin pada kain.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    25

    e) Kuas untuk nemboki yaitu menutup malam pada permukaan kain yang

    lebar.

    Sesuai dengan perkembangan zaman, saat ini dikenal beberapa teknik

    membatik antara lain sebagai berikut:

    a) Batik celup ikat, adalah pembuatan batik tanpa menggunakan malam

    sebagaia bahan penghalang, akan tetapi menggunakan tali untuk

    menghalangi masuknya warna ke dalam serat kain. Membatik dengan

    proses ini disebut batik jumputan.

    b) Batik tulis adalah batik yang dibuat melalui cara memberikan malam

    dengan menggunakan canting pada motif yang telah digambar pada

    kain.

    c) Batik cap, adalah batik yang dibuat menggunakan alat cap (stempel

    yang umumnya terbuat dari tembaga) sebagai alat untuk membuat

    motif sehingga kain tidak perlu digambar terlebih dahulu.

    d) Batik lukis, adalah batik yang dibuat dengan cara melukis. Pada teknik

    ini seniman bebas menggunakan alat untuk mendapatkan efek-efek

    tertentu. Seniman batik lukis yang terkenal di Indonesia antara lain

    Amri Yahya.

    e) Batik modern, adalah batik yang cara pembuatannya bebas, tidak

    terikat oleh aturan teknik yang ada. Hal tersebut termasuk pemilihan

    motif dan warna, oleh karena itu pada hasil akhirnya tidak ada motif,

    bentuk, komposisi, dan pewarnaan yang sama di setiap produknya.

    f) Batik printing, adalah kain yang motifnya seperti batik. Proses

    pembuatan batik ini tidak menggunakan teknik batik, tetapi dengan

    teknik sablon (screen printing). Jenis kain ini banyak dipakai untuk

    kain seragam sekolah.

    Daerah penghasil batik di Jawa yang terkenal diantaranya Pekalongan,

    Solo, Yogyakarta, Rembang dan Cirebon.

    4) Teknik Anyam

    Benda-benda kebutuhan hidup sehari-hari, seperti keranjang, tikar, topi

    dan lain-lain dibuat dengan teknik anyam. Bahan baku yang digunakan

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    26

    untuk membuat benda-benda anyaman ini berasal dari berbagai tumbuhan

    yang diambil seratnya, seperti bambu, palem, rotan, mendong, pandan dan

    lain-lain.

    5) Teknik Tenun

    Teknik menenun pada dasarnya hamper sama dengan teknik menganyam,

    perbedaannya hanya pada alat yang digunakan. Untuk anyaman kita cukup

    melakukannya dengan tangan (manual) dan hampir tanpa menggunakan

    alat bantu, sedangkan pada kerajinan menenun kita menggunakan alat

    yang disebut lungsi dan pakan. Daerah penghasil tenun ikat antara lain.

    6) Teknik Membentuk

    Pengertian teknik membentuk di sini yaitu membuat karya seni rupa

    dengan media tanah liat yang lazim disebut gerabah, tembikar atau

    keramik. Keramik merupakan karya dari tanah liat yang prosesnya melalui

    pembakaran sehingga menghasilkan barang yang baru dan jauh berbeda

    dari bahan mentahnya. Teknik yang umumnya digunakan pada proses

    pembuatan keramik, diantaranya:

    a. Teknik coil (lilit pilin)

    Cara pembentukan dengan tangan langsung seperti coil, lempengan

    atau pijat jari merupakan teknik pembentukan keramik tradisional

    yang bebas untuk membuat bentuk- bentuk yang diinginkan.

    Bentuknya tidak selalu simetris. Teknik ini sering dipakai oleh

    seniman atau para penggemar keramik.

    b. Teknik tatap batu/ pijat jari

    c. Teknik slab (lempengan)

    d. Teknik putar

    Teknik pembentukan dengan alat putar dapat menghasilkan banyak

    bentuk yang simetris (bulat, silindris) dan bervariasi. Cara

    pembentukan dengan teknik putar ini sering dipakai oleh para

    pengrajin di sentra-sentara keramik. Pengrajin keramik tradisional

    biasanya menggunakan alat putar tangan (hand wheel) atau alat putar

    kaki (kick wheel). Para pengrajin bekerja di atas alat putar dan

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    27

    menghasilkan bentuk-bentuk yang sama seperti gentong, guci dll.

    e. Teknik Cetak

    Teknik pembentukan dengan cetak dapat memproduksi barang dengan

    jumlah yang banyak dalam waktu relatif singkat dengan bentuk dan

    ukuran yang sama pula. Bahan cetakan yang biasa dipakai adalah

    berupa gips, seperti untuk cetakan berongga, cetakan padat, cetakan

    jigger maupun cetakan untuk dekorasi tempel. Cara ini digunakan

    pada pabrik-pabrik keramik dengan produksi massal, seperti alat alat

    rumah tangga piring, cangkir, mangkok gelas dll.

    Disamping cara-cara pembentukan diatas, para pengrajin keramik

    tradisonal dapat membentuk keramik dengan teknik cetak pres, seperti yang

    dilakukan pengrajin genteng, tegel dinding maupun hiasan dinding dengan

    berbagai motif seperti binatang atau tumbuh-tumbuhan.

    B. Penelitian yang Relevan

    Penelitian mengenai penggunaan multimedia dalam pembelajaran adalah

    penelitian yang dilakukan oleh Agung Bayu Saputro (2010) yang berjudul

    Penggunaan Multimedia Untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa Dalam Berkarya

    Seni batik di SMP Negeri I Eromoko Tahun Pelajaran 2009/2010.

    Pada penelitian ini, memiliki permasalahan pokok yaitu rendahnya minat,

    perhatian, serta kreativitas siswa pada mata pelajaran seni rupa topik bahasan

    kriya batik di SMP Negeri 1 Eromoko. Kurangnya antusiasme siswa terhadap

    pembelajaran ini mengakibatkan siswa melakukan aktivitas lain pada saat guru

    sedang menjelaskan materi pelajaran, yang akhirnya berdampak pada kurang

    maksimalnya penyampaian dan penerimaan materi pelajaran. Hal ini

    mengakibatkan pemahaman siswa tentang materi seni rupa menjadi rendah, untuk

    itu guru memerlukan media dalam menyampaikan materi agar siswa lebih mudah

    memahami materi pelajaran. Dalam penelitian tersebut, dengan menggunakan

    bantuan multimedia, pembelajaran menjadi semakin menarik, dan pemahaman

    siswa terhadap materi meningkat, sehingga meningkatkan motivasi siswa dalam

    berprestasi. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah penggunaan multimedia

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    28

    sebagai media pada pembelajaran seni rupa pokok bahasan kriya batik terbukti

    dapat meningkatkan mutu proses pembelajaran dan meningkatkan kreativitas

    siswa dalam berkarya desain ragam hias pola batik.

    Sementara pada penelitian ini, kondisi siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri

    1 Surakarta memiliki permasalahan yang hampir sama dengan kedua penelitian di

    atas, yaitu rendahnya antusiasme siswa terhadap pembelajaran yang berakibat

    pada kurangnya pemahaman siswa terhadap materi.

    Dari hasil penelitian di atas, dapat dikatakan bahwa dengan pembelajaran

    menggunakan multimedia, dapat meningkatkan antusiasme siswa terhadap karya

    seni kriya Nusantara yang secara otomatis berakibat pada meningkatnya

    pemahaman siswa terhadap materi. Hal ini sejalan dengan kebutuhan

    permasalahan penelitian ini yaitu kemampuan siswa dalam mengapresiasi karya

    seni. Dalam kegiatan apresiasi seni dalam pembelajaran seni budaya

    membutuhkan pemahaman dan pengenalan lebih mengenai sebuah karya seni atau

    kemampuan siswa dalam mengidentifikasi keunikan gagasan teknik dan bahan

    dalam karya seni kriya di wilayah Nusantara, sebelum akhirnya siswa dapat

    mengapresiasi karya seni tersebut dengan baik.

    Dengan demikian, diasumsikan bahwa pemahaman siswa dapat

    ditingkatkan melalui pembelajaran menggunakan multimedia. Peningkatan

    pemahaman siswa mengenai materi ditunjukkan dengan kemampuan siswa dalam

    mengidentifikasi karya seni tersebut dengan baik, yang kemudian akan diikuti

    oleh peningkatan apresiasi seni siswa.

    Penerapan multimedia dalam penelitian ini merupakan salah satu

    alternatif variasi proses pembelajaran dalam upaya membantu siswa

    meningkatkan apresiasi seninya pada pembelajaran materi kriya seni, yang pada

    akhirnya diikuti oleh meningkatnya apresiasi siswa terhadap karya seni kriya

    Nusantara itu sendiri. Dengan menggunakan multimedia sebagai salah satu solusi

    permasalahan dalam penelitian ini, diharapkan apresiasi seni siswa dapat

    meningkat dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    29

    C. Kerangka berpikir

    Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan proses penyampaian dan

    penerimaan pesan maupun informasi antara informan dengan penerima informasi.

    Agar proses dan tujuan penyampaian informasi tersebut dapat tercapai dengan

    maksimal, maka biasanya dibutuhkan adanya perantara atau media tertentu yang

    disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan proses pembelajaran tersebut.

    Keberhasilan proses pembelajaran di sekolah bergantung kepada metode

    pengajaran dan seberapa besar antusiasme siswa terhadap proses pembelajaran

    yang dilakukan, serta media yang digunakan dalam proses pembelajaran tersebut.

    Pembelajaran apresiasi seni sangat dibutuhkan terutama bagi generasi

    muda untuk melatih kepekaannya dalam menghargai, memahami, dan

    menanggapi karya seni yang dimiliki bangsanya. Ada berbagai macam karya seni

    dan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia, salah satu diantaranya berupa karya

    seni kriya yang lebih mendominasi karya seni di Indonesia. Dalam proses

    mengapresiasi sebuah karya seni, hendaknya dilakukan terlebih dahulu

    pengenalan dan pemahaman mengenai karya seni tersebut.

    Pemerintah telah banyak mengupayakan berbagai alternatif cara agar

    generasi muda bangsa dapat mengenali jati diri bangsanya dengan baik. Salah satu

    di antaranya melalui bidang pendidikan. Dalam silabus kelas XI IPS 1, disebutkan

    bahwa kompetensi dasar yang harus dicapai siswa salah satunya ialah

    mengidentifikasi keunikan gagasan teknik dan bahan dalam karya seni kriya di

    wilayah Nusantara. Itu artinya, sebelum siswa lebih jauh mengapresiasi karya seni

    kriya, siswa haruslah terlebih dahulu memiliki kemampuan dalam

    mengidentifikasi atau mengenali dan memahami dengan baik segala sesuatu

    tentang karya seni kriya Nusantara seperti yang disebutkan dalam silabus. Dengan

    adanya pemahaman dan pengenalan siswa terhadap karya seni yang dimiliki

    bangsanya, maka diharapkan sebagai generasi penerus bangsa ia dapat ikut

    berperan serta dalam melestarikan seni dan kebudayaan yang dimiliki bangsa

    Indonesia.

    Kondisi proses pembelajaran seni budaya di kelas XI IPS 1 SMA Negeri

    1 Surakarta tahun ajaran 2011/2012 sebenarnya sudah cukup baik, namun dari

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    30

    segi apresiasi seni siswa pada pembelajaran masih kurang. Hal ini dibuktikan

    dengan kurangnya sikap menghargai siswa dengan menunjukkan sikap yang tidak

    antusias ketika guru sedang menjelaskan materi karya seni kriya Nusantara karena

    melakukan aktivitas masing-masing sehingga mengurangi kualitas proses

    pembelajaran. Selain itu rata-rata nilai LKS siswa belum mencapai nilai KKM

    yang telah ditentukan, dengan demikian menunjukkan kognitif (pemahaman)

    siswa terhadap karya seni kriya Nusantara masih lemah. Kurangnya apresiasi

    siswa terhadap materi karya seni kriya Nusantara juga dapat dilihat dari sedikitnya

    siswa yang membuat makalah secara mandiri yang dihasilkan dari daya tangkap

    mereka setelah mendengar penjelasan materi dari guru, sehingga mengakibatkan

    ikut lemahnya aspek psikomotor siswa dalam proses pembelajaran tersebut. Oleh

    karena itu, dapat disimpulkan kembali bahwa ternyata siswa kelas XI IPS 1 SMA

    Negeri 1 Surakarta tahun ajaran 2011/2012 belum dapat mengapresiasi karya seni

    kriya Nusantara dengan baik sesuai harapan sekolah berdasarkan silabus.

    Permasalahan di atas mendorong peneliti untuk mencari alternatif media

    pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan apresiasi seni siswa, yaitu

    dengan mengembangkan multimedia. Multimedia dipilih dalam tindakan

    penelitian ini dikarenakan memiliki beberapa kelebihan diantaranya dapat

    memberikan kemudahan kepada siswa untuk belajar seni kriya nusantara secara

    individual maupun secara kelompok, selain itu juga dapat mendorong motivasi

    belajar siswa dan dapat memberikan kemudahan bagi guru dalam menyampaikan

    materi dengan lengkap dan berurutan. Selanjutkan penggunaan multimedia

    tersebut diterapkan ke dalam siklus I dan II dengan tujuan untuk meningkatkan

    kemampuan siswa dalam mengidentifikasi keunikan gagasan teknik dan bahan

    dalam karya seni kriya di wilayah Nusantara yang berdasarkan indikator

    penelitian. Sehingga kehadiran multimedia dengan berbagai program dan

    aplikasinya diharapkan memberikan manfaat yang optimal.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    31

    Adapun gambar alur kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah

    sebagai berikut:

    TINDAKAN

    SIKLUS I SIKLUS II

    Melalui Multimedia: lebih menarik, efektif, menyenangkan, dan komunikatif.

    D.

    Gambar 2. Bagan Kerangka Berpikir

    D. Hipotesis Tindakan

    Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah

    penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk

    kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru

    didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris

    yang diperoleh melalui pengumpulan data. (Sugiyono, 2010:64).

    Proses Pembelajaran Apresiasi Karya Seni Kriya Nusantara

    Kompetensi Dasar yang Harus

    dicapai Siswa:

    Siswa mampu mengidentifikasi

    keunikan gagasan teknik dan bahan

    dalam karya seni kriya di wilayah

    Nusantara

    Fakta:

    Kurangnya antusias siswa saat guru

    menjelaskan materi, rata-rata nilai

    LKS siswa yang belum mencapai

    nilai KKM yang telah ditentukan, dan

    masih sedikit s