PENGENALAN INSEKTISIDA agung.doc

  • View
    36

  • Download
    8

Embed Size (px)

Text of PENGENALAN INSEKTISIDA agung.doc

PENGENALAN INSEKTISIDA

PENGENALAN INSEKTISIDA(Laporan Praktikum Ilmu Hama Tumbuhan Umum)

Oleh

Agung Muhlis Kumbara1014121195

LABORATORIUM HAMA PENYAKIT TANAMANPROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

2012I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di sini adalah sangat luas, yaitu serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, kemudian nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran mikroskopis), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan. Pestisida juga diartikan sebagai substansi kimia dan bahan lain yang mengatur dan atau menstimulir pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman.Sesuai konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penggunaan pestisida ditujukan bukan untuk memberantas atau membunuh hama, namun lebih dititik beratkan untuk mengendalikan hama sedemikian rupa hingga berada dibawah batas ambang ekonomi atau ambang kendali. Selama ini, kita mengetahui bahwa pestisida sangat berguna dalam membantu petani merawat pertaniannya. Pestisida dapat mencegah lahan pertanian dari serangan hama. Hal ini berarti jika para petani menggunakan pestisida, hasil pertaniannya akan meningkat dan akan membuat hidup para petani menjadi semakin sejahtera. Dengan adanya pemahaman tersebut, pestisida sudah digunakan di hampir setiap lahan pertanian. Namun sekarang ini banyak pemahaman yang salah tentang penggunaan dosis dari pestisida ini. Para petani tidak mengindahkan anjuran pemakaian yang telah diterapkan oleh pemerintah.

Jika melihat besarnya kehilangan hasil yang dapat diselamatkan berkat penggunaan pestisida, maka dapat dikatakan bahwa peranan pestisida sangat besar dan merupakan sarana penting yang sangat diperlukan dalam bidang pertanian. Usaha intensifikasi pertanian yang dilakukan dengan menerapkan berbagai teknologi maju seperti penggunaan pupuk, varietas unggul, perbaikan pengairan dan pola tanam akan menyebabkan perubahan ekosistem yang sering diikuti oleh meningkatnya problema serangan jasad pengganggu. Demikian pula usaha ekstensifikasi pertanian dengan membuka lahan pertanian baru, yang berarti melakukan perombakan ekosistem, sering kali diikuti dengan timbulnya masalah serangan jasad pengganggu. Dan tampaknya saat ini yang dapat diandalkan untuk melawan jasad pengganggu tersebut yang paling manjur hanya pestisida. Memang tersedia cara lainnya, namun tidak mudah untuk dilakukan, kadang-kadang memerlukan tenaga yang banyak, waktu dan biaya yang besar, hanya dapat dilakukan dalam kondisi tertentu yang tidak dapat diharapkan efektifitasnya. Pestisida saat ini masih berperan besar dalam menyelamatkan kehilangan hasil yang disebabkan oleh jasad pengganggu.

Insektisida adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas semuajenis serangga seperti belalang, kepik, wereng, dan ulat. Insektisida juga digunakan untuk memberantas serangga dirumah, perkantoran atau gudang, seperti nyamuk, kutu busuk, rayap, dan semut. Contohnya adalah basudin, basminon, tiodan, diklorovinil dimetil fosfat, diazinon, dll.B. Tujuan

Tujuan dilakukannya praktikum kali ini adalah :

1. Untuk mengenal pestisida dan kegunaannya.

2. Mengetahui jenis-jenis dan bahan aktif yang terdapat di dalam pestisida.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Pestisida adalah bahan beracun yang dapat membunuh semua mahluk hidup termasuk organisme bermanfaat seperti; musuh alami, penyerbuk, pengurai, dan satwa. Seiring berjalannya waktu pestisida dibagi menjadi : Fungisida, Insektisida, Bakterisida, dan Nematisida. Fungisida adalah pestisida yang secara spesifik membunuh/menghambat jamur penyebab penyakit. Fungisida dibagi menjadi tiga berdasarkan cara kerjanya, yaitu : Fungisida non sistemik, fungisida sistemik, dan fungisida sistemik lokal(Mujim Subli, 2007).Penggunaan pestisida kimia pertama kali diketahui sekitar 4.500 tahun yang lalu (2.500 SM) yaitu pemanfaatan asap sulfur untuk mengendalikan tungau di Sumeria. Sedangkan penggunaan bahan kimia beracun seperti arsenic, mercury dan serbuk timah diketahui mulai digunakan untuk memberantas serangga pada abad ke-15. Kemudian pada abad ke-17 nicotin sulfate yang diekstrak dari tembakau mulai digunakan sebagai insektisida. Pada abad ke-19 diintroduksi dua jenis pestisida alami yaitu, pyretrum yang diekstrak dari chrysanthemum dan rotenon yang diekstrak dari akar tuba Derris eliptica. Pada tahun 1874 Othmar Zeidler adalah orang yang pertama kali mensintesis DDT (Dichloro Diphenyl Trichloroethane), tetapi fungsinya sebagai insektisida baru ditemukan oleh ahli kimia Swiss, Paul Hermann Muller pada tahun 1939 yang dengan penemuannya ini dia dianugrahi hadiah nobel dalam bidang Physiology atau Medicine pada tahun 1948. Pada tahun 1940an mulai dilakukan produksi pestisida sintetik dalam jumlah besar dan diaplikasikan secara luas. Beberapa literatur menyebutkan bahwa tahun 1940an dan 1950an sebagai era pestisida. Penggunaan pestisida terus meningkat lebih dari 50 kali lipat semenjak tahun 1950, dan sekarang sekitar 2,5 juta ton pestisida ini digunakan setiap tahunnya. Dari seluruh pestisida yang diproduksi diseluruh dunia saat ini, terdapat 75% yang digunakan dinegara-negara berkembang(Miller, 2004).

Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dengan menggunakan pestisida banyak dilakukan secara luas oleh masyarakat, karena pestisida mempunyai kelebihan dibandingkan dengan cara pengendalian yang lain, yaitu

antara lain:- dapat diaplikasikan secara mudah;- dapat diaplikasikan hampir di setiap tempat dan waktu;- hasilnya dapat dilihat dalam waktu singkat;- dapat diaplikasikan dalam areal yang luas dalam waktu singkat; dan

- mudah diperoleh, dapat dijumpai di kios-kios pedesaan sampai pasar swalayan di kota besar(Sutedjo, 2008).

Pestisida tidak hanya berperan dalam mengendalikan jasad-jasad pengganggu dalam bidang pertanian saja, namun juga diperlukan dalam bidang kehutanan terutama untuk pengawetan kayu dan hasil hutan yang lainnya, dalam bidang kesehatan dan rumah tangga untuk mengendalikan vektor (penular) penyakit manusia dan binatang pengganggu kenyamanan lingkungan, dalam bidang perumahan terutama untuk pengendalian rayap atau gangguan serangga yang lain. Pada umumnya pestisida yang digunakan untuk pengendalian jasad pengganggu tersebut adalah racun yang berbahaya, tentu saja dapat mengancam kesehatan manusia. Untuk itu penggunaan pestisida yang tidak bijaksana jelas akan menimbulkan efek samping bagi kesehatan manusia, sumber daya hayati dan lingkungan pada umumnya. Dalam bidang pertanian pestisida merupakan sarana untuk membunuh hama-hama tanaman. Dalam konsep Pengendalian Terpadu Hama, pestisida berperan sebagai salah satu komponen pengendalian(Haryono, 1996).

III. METODOLOGI PERCOBAANA. Alat dan BahanAlat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan adalah 15 contoh pestisida (insektisida).B. Cara Kerja

Adapun cara kerja dalam praktikum pengenalan insektisida adalah sebagai berikut:1. Baca dan perhatikan secara teliti semua informasi yang ada pada label kemasan fungisida yang tersedia.

2. Catat dan susun informasi penting seperti :

a) Nama dagang dan formulasi.

b) Nama bahan aktif dan kadarnya.

c) Jenis fungisida.

d) Konsentrasi, dosis, dan volume semprot.

e) Jenis komoditi dan OPT.

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan NoGambarFotoKeterangan

1Alliete 80 WP

a) Bahan aktif : Aluminium-etil fosfat 80%

b) Konsentrasi : 4 g Aliette 80 WP 1 Liter

c) Komuditi : Lada d) OPT : Busuk kaki Phytophthora palmivora vat. piperis

2Glio

a) Bahan Aktif : Gliocadium sp. Trichoderma sp.

b) Jenis penyakit : rebah kecambah, layu fusarium

c) Petunjuk penggunaan : 100 gr/25 kg pukan.

d) Komuditi : lada

3Furadan

a) Bahan aktif : Karbofuran 3%

b) Hama :Penggerek batang dan lalat daun pada tanaman padi.

c) Dosis : 5-10 gr/m2

4Decik

a) Bahan aktif : Delfametrin 25gr/l

b) Hama : Ulat grayak pada tanaman bawang merah

c) Hima trips pada tanaman cabaid) Dosis : 0,5-1 ml/l

5Proclaim 5 SG

a) Bahan aktif: : Emamektin benzoate 5%

b) Hama : Untuk mengendalikan hama pada tanaman bawang merah dan cabai.

c) Dosis : 1-2 gr/10L

larutan

6Pestisida Nabati

a) Bahan : Sirsak, jeringan, gadung racun. b) Hama: Wereng coklat, ulat grayak, ulat jengkal, ulat daun, belalang, trips, aphis dan lain lain.c) Dosis :1 liter dicampur dengan 15 liter air

7 Carbavin

a) Bahan aktif : Karbavil 85%

b) Hama: mengendalikan lalat daun dan wereng coklat pada tanaman padi

Dosis: c) 2-4 gr/liter

8 Ambush

a) Bahan aktif :Parmetrin 20gr/liter

b) Hama : Penghisap buah pada tanaman kakao Penggerek buah pada tanaman kapasc) Dosis: 0,5-1 ml/l

untuk tanaman

kakao 10ml/l untuk

tanaman kapas

9Trigard 75 WP

a) Bahan aktif : Siromazin 75%

b) Hama:Penggorok daun

c) Dosis : 0,15 - 0,30 gr/l

10Cascade

a) Bahan aktif : Flufenoksuron 50 gr/l

b) Hama : Ulat grayak pada tanaman bawang merah Ulat grayak pada tanaman kedelai

c) Dosis : 1 2 ml/l

untuk bawang

merah 0,75 1,5

ml/l

11Sevin 85 S

a) Bahan aktif: Karbaril 85%

b) Hama : Belalang, ulat grayak pada tanaman jagung

12Marshal 25 ST

a) Bahan aktif: Karbusulfan 25,53%

b) Hama : Lalat bibit pada tanaman padi gogo, jagung, dan kedelai.