Pengembangan Sistem Informasi Teknologi Pengolahan .Untuk industri besar, masalah air limbah mungkin

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Pengembangan Sistem Informasi Teknologi Pengolahan .Untuk industri besar, masalah air limbah mungkin

PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI TEKNOLOGI

PENGOLAHAN AIR

Oleh Heru Dwi Wahjono, B.Eng.

Kelompok Teknologi Pengelolaan Air Bersih dan Limbah Cair Direktorat Teknologi Lingkungan, Deputi Bidang Teknologi

Informasi, Energi, Material dan Lingkungan Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi

Jakarta, 1999

Pengembangan Sistem Informasi Teknologi Pengolahan Air

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Kebutuhan akan informasi teknologi khususnya paket teknologi yang siap pakai untuk menunjang berbagai sektor pembangunan dewasa ini sangatlah dibutuhkan oleh berbagai lapisan masyarkat khususnya masyarakat usaha kecil dan menengah (UKM). Menghadapi era globalisasi, teknologi informasi sangat dibutuhkan dalam rangka menyebarkan paket-paket informasi teknologi tersebut ke seluruh pelosok daerah di tanah air atau bahkan sampai ke seluruh dunia. Dengan memanfaatkan teknologi sistem informasi dan infrastruktur jaringan yang sudah ada di tanah air, informasi paket-paket teknologi ini akan disebarkan secara elektronik khususnya mengarah kepada kelompok industri atau usaha kecil dan menengah. Dengan adanya penyebaran informasi teknologi ini diharapankan dapat membantu mengatasi permasalahan kebutuhan teknologi yang sedang dialami oleh UKM, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksinya.

1.2. Masalah Air Bersih

Pengadaan air bersih di Indonesia khususnya untuk skala yang besar masih terpusat di daerah perkotaan, dan dikelola oleh Perusahan Air Minum (PAM) kota yang bersangkutan. Namun demikian secara nasional jumlahnya masih belum mencukupi dan dapat dikatakan relatif kecil yakni 16,08 % ( Supas 1995). Untuk daerah yang belum mendapatkan pelayanan air bersih dari PAM umumnya mereka menggunakan air tanah (sumur), air sungai, air hujan, air sumber (mata air) dan lainnya. Dari hasil survey penduduk antar sensus (SUPAS) 1995, prosentasi banyaknya rumah tangga dan sumber air minum yang digunakan di berbagai daerah di Indonesia sangat bervariasi tergantung dari kondisi geografisnya. Secara nasional yakni sebagai berikut :

16,0811,61

49,92

13,92

4,91

2,62

0,8Air Leding 16,08%

Air tanah denganpompa 11,61%Air sumur perigi49,92%Air sumber (mata air)13,92%Air sungai 4,91%

Air hujan 2,62%

Lain-lain 0,8%

Permasalahan yang timbul yakni sering dijumpai bahwa kulaitas air tanah maupun air sungai yang digunakan masyarakat kurang memenuhi syarat sebagai air minum yang sehat bahkan di beberapa tempat bahkan tidak layak untuk diminum. Air yang layak diminum, mempunyai standar persyaratan tertentu yakni persyaratan fisis, kimiawi dan bakteriologis, dan syarat tersebut merupakan satu kesatuan. Jadi jika ada satu saja parameter yang tidak memenuhi syarat maka air tesebut tidak layak untuk diminum. Pemakaian air minum yang tidak memenuhi standar kualitas tersebut dapat menimbulkan gangguan kesehatan, baik secara langsung dan cepat maupun tidak langsung dan secara perlahan.

Heru Dwi Wahjono, B.Eng. 2

Pengembangan Sistem Informasi Teknologi Pengolahan Air

Masalah air bersih yang memenuhi syarat kesehatan tidak hanya dialami oleh masyarakat umum, tetapai juga sering dialami oleh masyarakat industri khususnya industri kecil dan menengah yang bergerak di dalam industri proses khususnya proses pengolahan makanan dan minuman serta proses yang berhubungan dengan senyawa kimia. Masalah air bersih yang kurang memenuhi syarat tersebut sangat berpengarauh terhadap kualitas produk. Sebagai contoh di dalam industri makanan dan minuman jika air yang digunakan kurang baik maka produk yang dihasilkan juga kurang baik, apalagi jika air yang digunakan tidak steril maka produk yang dihasilkan dapat terkontaminasi oleh mikroorganisme patogen yang mana dapat membayakan konsumen. 1.3. Masalah Air Limbah Masalah pencemaran lingkungan di kota besar, khususnya DKI Jakarta telah menunjukkan gejala yang cukup serius, khususnya masalah pencemaran air. Penyebab dari pencemaran tadi tidak hanya berasal dari buangan industri dari pabrik-pabrik yang membuang begitu saja air limbahnya tanpa pengolahan lebih dahulu ke sungai atau ke laut, tetapi juga yang tidak kalah memegang andil baik secara sengaja atau tidak adalah masyarakat Jakarta itu sendiri. Yakni akibat air buangan rumah tangga yang jumlahnya makin hari makin besar sesuai dengan perkembangan penduduk maupun perkembangan kota Jakarta. Ditambah lagi rendahnya kesadaran sebagian masyarakat yang langsung membuang kotoran/tinja maupun sampah ke dalam sungai, menyebabkan proses pencemaran sungai-sungai yang ada di Jakarta bertambah cepat. Air limbah kota-kota besar di Indonesia khususnya Jakarta secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga yaitu air limbah industri dan air limbah domestik yakni yang berasal dari buangan rumah tangga dan yang ke tiga yakni air limbah dari perkantoran dan pertokoan (daerah kemersial). Saat ini pencemaran akibat limbah domistik telah menunjukkan tingkat yang cukup serius. Selain itu sumber pencemaran yang potensial adalah air limbah yang berasal dari kegiatan industri kecil menengah. Untuk industri besar, masalah air limbah mungkin dapat diatasi oleh pihak industri sendiri karena mempunyai modal yang cukup, tetapi untuk masalah limbah dari industri kecil dan menengah yang jumlahnya sangat banyak sekali tersebut belum tersentuh sama sekali. Sebagai contoh misalnya industri kecil tahu-tempe. Limbah industri tahu/tempe ini dapat menimbulkan pencemaran yang cukup berat karena mengandung polutan organik yang cukup tinggi. Dari beberapa hasil penelitian, konsentrasi COD (Chemical Oxygen Demand) di dalam air limbah industri tahu-tempe cukup tinggi yakni berkisar antara 7.000 - 10.000 ppm, serta mempunyai keasaman yang rendah yakni pH 4-5. Dengan kondisi seperti tersebut di atas, air limbah industri tahu-tempe merupakan salah satu sumber pencemaran lingkungan yang sangat potersial.

Saat ini pengelolaan air limbah industri tahu-tempe umumnya dilakukan dengan cara membuat bak penampung air limbah sehingga terjadi proses anaerob. Dengan adanya proses biologis anaerob tersebut maka kandungan polutan organik yang ada di dalam air limbah dapat diturunkan. Tetapi dengan proses tersebut efisiesi pengolahan hanya berkisar antara 50 % - 70 % saja. Dengan demikian jika konsertarsi COD dalam air limbah 7000 ppm, maka kadar COD yang keluar masih cukup tinggi yakni sekitar 2100 ppm, sehinga hal ini masih menjadi sumber pencemaran lingkungan.

Heru Dwi Wahjono, B.Eng. 3

Pengembangan Sistem Informasi Teknologi Pengolahan Air

1.4. Informasi Teknologi Pengolahan Air

Pada dasarnya masalah yang sering dihadapi oleh usaha kecil dan menengah adalah masalah penyediaan air bersih dari sumber air baku yang tidak bersih dan masalah pengolahan air limbah agar tidak mencemari lingkungan. Oleh karena itu untuk menanggulangi masalah-masalah ini mereka membutuhkan informasi bagaimana menyediakan air bersih untuk keperluan hidup dan usaha mereka, atau bagaimana mengolah air limbah yang dihasilkan dari kegiatan industri mereka.

Beberapa teknologi pengolahan air bersih dan pengolahan air limbah yang dapat

diterapkan untuk membantu usaha kecil dan menengah antara lain adalah :

a. Teknologi Pengolahan Air Bersih : 1. Alat pengolahan air bersih dengan saringan pasir lambat - upflow. 2. Alat pengolahan air sumur siap minum. 3. Filter untuk menghilangkan zat besi dan mangan dalam air. 4. Filter untuk menghilangkan kesadahan. 5. Teknologi pembuatan air mineral. 6. Alat pengolahan air asin menjadi air minum dengan sistem osmosis balik. 7. Teknologi pengolahan air gambut.

b. Teknologi Pengolahan Air Limbah : 8. Pengolahan air limbah rumah tangga dengan sistem biofilter anaerob-aerob. 9. Pengolahan air limbah rumah sakit. 10. Pengolahan air limbah industri tahu tempe. 11. Pengolahan air limbah elektroplating. 12. Pengolahan air limbah penyamakan kulit. 13. Pengolahan air limbah industri pabrik kecap. 14. Dsb.

Gambar 1. Teknologi Pengolahan Air Bersih

Gambar 2. Teknologi Pengolahan Air Limbah Untuk mempermudah para usaha kecil dan menengah dalam memperoleh informasi paket teknologi pengolahan air, maka penyajian dan penyebaran informasi paket teknologi ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi sistem informasi hypertext dalam jaringan global internet. Dengan memanfaatkan teknologi ini, maka para usaha kecil/menengah, para penyedia teknologi, yayasan pemberi modal, dan lain-lain akan terjaring sehingga mempermudah mereka dalam melakukan aktifitas industri dan bisnis mereka.

Heru Dwi Wahjono, B.Eng. 4

Pengembangan Sistem Informasi Teknologi Pengolahan Air

Gambar 3. Penyebaran Paket Informasi Teknologi Secara Elektronis dari Unit Kerja Teknis BPPT ke Usaha Kecil dan Menengah

Agar selalu dapat memberikan informasi teknologi yang terkini, proses editing dan penyajian informasi akan dilakukan oleh kelompok kerja atau unit teknis di lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi yang bergerak pada bidang keairan, yaitu kolompok Teknologi Pengololaan Air Bersih dan Limbah Cair, Direktorat Teknologi Lingkungan, Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, Material dan Lingkungan. Kelompok ini bertanggung jawab atas informasi paket teknologi yang diberikan. Sehingga jika muncul permintaan untuk bimbingan pelatihan, pelayanan konsultasi teknologi dan sebagainya, kelompok ini bertanggung jawab juga untuk memberikannya. Paket-paket teknologi yang telah ditulis dalam format hypertext disajikan melalui komputer Web server yang akan dikelola oleh kelompok ini, sehingga pos informasi dan pelayanan teknologi yang ada di sentra industri dapat mengakses langsung informasi tersebut, atau melalui Iptek Net sebagai pusat penelusuran informasi teknologi setelah data yang