of 202 /202
PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PAI DI SMP NEGERI 3 TANGERANG SELATAN SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Oleh : ENDANG NIM 1110011000018 JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2014

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP ...repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/25405/1/ENDANG-FITK.pdf · kooperatif tipe group investigation terhadap

Embed Size (px)

Text of PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP...

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN

KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION

TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA

PADA MATA PELAJARAN PAI

DI SMP NEGERI 3 TANGERANG SELATAN

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi

Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh :

ENDANG

NIM 1110011000018

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2014

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN

KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION (GI)

TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA

PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

DI SMP NEGERI 3 TANGERANG SELATAN

Skripsi ini Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Untuk

Memenuhi Persyaratan Memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd.I)

Oleh:

Endang

NIM: 1110011000018

Menyetujui,

Pembimbing

Tanenji, MA

NIP :19720712 199803 1 004

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2014

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI

Skripsi berjudul Pengaruh Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Group

Investigation (GI) Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran

Pendidikan Agama Islam di SMP N 3 Tangerang Selatan yang disusun oleh

Endang. NIM. 1110011000018, Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Ilmu

Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Jakarta. Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang

berhak untuk diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang ditetapkan

oleh fakultas.

Jakarta, 16 September 2014

Yang mengesahkan,

Pembimbing,

Tanenji, MA

NIP :19720712 199803 1 004

UJI REFERENSI

Seluruh referensi yang digunakan dalam penulisan skripsi yang berjudul

Pengaruh Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI)

Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama

Islam di SMP N 3 Tangerang Selatan yang ditulis oleh Endang. NIM :

1110011000018. Jurusan Pendidikan Agma Islam Fakultas Tarbiyah dan

Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullaj Jakarta, telah di uji

kebenarannya oleh dosen pembimbing pada tanggal 16 September 2014.

Jakarta, 16 September 2014

Tanenji, MA

NIP :19720712 199803 1 004

i

ABSTRAK

Endang. NIM 1110011000018. Pengaruh Strategi Pembelajaran Kooperatif

tipe Group Investigation terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran

PAI di SMP N 3 Tangerang Selatan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh strategi

pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation terhadap hasil belajar siswa

pada mata pelajaran PAI di SMP N 3 Tangerang Selatan. Metode yang digunakan

adalah metode kuasi eksperimen. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek

penelitian adalah siswa kelasVIII-8 dan kelas VIII-5 SMP N 3 Tangerang Selatan.

Kelas VIII-8 sebagai kelas eksperimen dengan menggunakan metode Group

Investigation dan siswa VIII-5 sebagai kelas kontrol dengan menggunakan metode

Puzzle. Instrument yang digunakan adalah tes hasil belajar. Soal tes hasil belajar

yang digunakan sebanyak 40 soal berbentuk pilihan ganda dan setelah melalui

proses uji validitas, terdapat 25 soal yang valid dengan reliabilitas 0,76 dan

termasuk kategori tinggi atau dengan kata lain instrumen ini layak digunakan

dalam penelitian. Teknik analisis data menggunakan metode statistik uji t (uji

beda), untuk menguji hipotesis penelitian dilakukan konsultasi pada tabel

distribusi t pada taraf signifikansi 0,05%.

Temuan hasil penelitian ini adalah adanya pengaruh penggunaan metode

Group Investigation terhadap hasil belajar PAI siswa. Hal ini ditunjukan dari hasil

pengujian hipotesis dengan menggunakan uji-t diperoleh nilai thitung > ttabel yaitu

2,4 > 2,000 dengan taraf signifikasi 0,05 %. Selain itu di lihat dari hasil

perhitungan post test kelas eksperimen yang menggunakan metode Group

Investigation (nilai rata-rata 86) menunjukan nilai yang lebih tinggi dibandingkan

dengan kelas kontrol yang menggunakan metode Puzzle (nilai rata-rata 75). Dari

penelitian ini dapat disimpulkan bahwa metode mengajar di Group Investigation

berpengaruh terhadap hasil belajar PAI siswa.

Kata kunci: Metode Group Investigation, Hasil Belajar, PAI.

ii

ABSTRACT

Endang. NIM 1110011000018. Effect of Cooperative Learning Strategies Group

Investigation to the Student Results on Subjects of PAI at Junior High School 3

Tangerang South..

One characteristic of batik from Cirebon are not found anywhere else is the

motive of "Mega Clouds", which is shaped like a cloud motif lumpy which usually

form a frame on the main picture. Class VIII-8 as an experimental class using

Group Investigation and the student class VIII-5 as a control by using a Puzzle.

Instrument used is the achievement test. Achievement test used by 40 multiple

choice questions of the test there are 25 questions were valid and reliability 0.76

including high category or in other words, these instruments are fit for use in

research. Analysis using statistical methods test "t" (difference test), to test the

hypothesis of the research carried out consultation on distribution table "t" at the

significance level of 0.05%.

The findings of this research is the influence of the use of methods of Group

Investigation on learning outcomes of students of PAI. It is shown from the results

of hypothesis testing using t-test obtained tcount> ttable ie 2,4 > 2.000 with a

significance level of 0.05%. In addition, in view of the results of post-test

calculations using the experimental class were Group Investigation (average

value 86) showed higher values than the control class that uses Puzzle method

(average value 75). From this study it can be concluded that the method of

teaching in the Group Investigation effect on student learning outcomes PAI.

Keywords: Method Group Investigation, Learning Outcomes, PAI.

iii

KATA PENGANTAR

Asalamualaikum Wr.Wb wr.wb

Al-hamdulillahi rabibbil-aalamiin. Puji syukur atas rahmat, taufiq dan

hidayah-Nya yang telah memberikan kelapangaan kepada penulis sehinnga dapat

menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Hanya kepada-Nya penulis memohon

pertolongan dan kemudahan dalam segala urusan. Allahumma shali alaa

sayyidina Muhammad wa alaa aali sayyidinaa Muhammad. Shalawat serta salam

semoga tetap tercurah kepada junjungan dan suri tauladan umat manusia, Nabi

Muhammad saw, makhluk mulia yang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang

kepada sesama manusia dan membawa kita pada jalan yang di ridhai Allah swt.

Terimakasih yang teramat banyak kepada kedua orang tua tercinta Ayahanda

Sutarmin dan Ibunda Supriati, atas segala pengorbanan dan kasih sayang yang

tercurahkan, yang telah mengajarkan penulis tentang kebaikan, arti cinta, makna

kehidupan dan yang telah mendidik penulis dengan penuh kasih sayang.

Dalam proses penyusunan skripsi dan belajar di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), penulis banyak mendapatkan

bantuan dari berbagai pihak, baik moril maupun materil, maka penulis

mengucapkan terima kasih juga kepada:

1. Ibu Dr. Hj. Nurlena Rifai, MA. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan.

2. Bapak Dr. H. Abdul Majjid Khon, M.Ag. Ketua Jurusan Pendidikan Agama

Islam.

3. Ibu Marhamah Saleh, Lc,. MA. Sekertaris Jurusan Pendidikan Agama

Islam.

4. Bapak Tanenji, MA. Dosen Pembimbing yang selalu meluangkan waktunya

untuk membimbing dan memotivasi kepada penulis.

5. Bapak Maryono, SE. M. M.Pd, Kepala sekolah SMP N 3 Tangerang Selatan

yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di

SMP N 3 Tangerang Selatan.

iv

6. Ibu Chairunnisa S.Pd. Guru PAI di SMP N 3 Tangerang Selatan yang telah

memberikan saran dan pengarahan dalam proses pelaksanaan pembelajaran.

7. Mamas-mamas ku tersayang Arifuddin, Ardiyansyah dan Ariswana yang

selalu memberikan dukungan dan motivasi kepada penulis secara moril

maupun nonmoril.

8. Abang Mursal Darwis S.SI yang selalu memberikan nasehat yang terdengar

indah dan menggugah, yang selalu memberikan kritikan meskipun

menyakitkan, dan yang telah mengubah hidup penulis dengan berusaha

lebih serius.

9. Sahabat-sahabat ku Septia Rahayu, Alis Arsita, Suprapti, Siti Maesaroh, Uni

Fadlilah, Siti Pujiati dan Yully Khusniah serta sahabat PAI angkatan 2010

yang senantiasa membantu dalam menyelesaikan penelitian.

10. Adik-adik SMP N 3 Tangerang Selatan yang telah mendukung proses

berjalannya penelitian.

Begitu panjang perjalanan untuk menempuh sebuah proses yang dinanti

untuk mendapatkan sebuah kebanggaan, lika-liku perjuangan, pengorbanan,

harapan dan semoga pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan

skripsi ini mendapatkan balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT, Amin.

.

Jakarta, 23 Oktober 2014

Wasalam,

Endang

v

DAFTAR ISI

SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH

LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN

ABSTRAK. ...................................................................................................... i

ABSTRACT ..................................................................................................... ii

KATA PENGANTAR ..................................................................................... iii

DAFTAR ISI .................................................................................................... v

DAFTAR TABEL ............................................................................................ ix

DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... x

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ............................................................... 1

B. Identifikasi Masalah ..................................................................... 6

C. Pembatasan Masalah .................................................................... 7

D. Perumusan Masalah ...................................................................... 7

E. Tujuan Penelitian ......................................................................... 8

F. Manfaat Penelitian ....................................................................... 8

BAB II KAJIAN TEORITIK, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN

HIPOTESIS PENELITIAN

A. Strategi Pembelajaran Kooperatif ................................................ 11

1. Pengertian Strategi Pembelajaran Kooperatif ......................... 11

2. Karakteristik Strategi Pembelajaran Kooperatif .................... 13

3. Konsep Dasar Strategi Pembelajaran Kooperatif .................... 15

vi

4. Aturan Dasar Pembelajaran Kooperatif .................................. 15

5. Ketrampilan Pembelajaran Kooperatif ................................... 16

6. Tujuan Pembelajaran kooperatif ............................................ 17

B. Metode Pembelajaran Group Investigation .................................. 18

1. Pengertian Metode Pembelajaran Group Investigation .......... 18

2. Langkah-Langkah Metode Pembelajaran Group Investigation 19

3. Kelebihan dan Kekurangan Metode Pembelajaran Group Investigation

................................................................................................. 20

C. Metode Pembelajaran Puzzle ........................................................ 21

D. Hasil Belajar Siswa ....................................................................... 22

1. Pengertian Hasil Belajar .......................................................... 22

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar................... 25

3. Kriteria Pengukuran Hasil belajar ........................................... 27

E. Hakekat Pendidikan Agama Islam ................................................ 28

F. Hasil Penelitian yang Relevan ..................................................... 29

G. Kerangka Pikir .............................................................................. 31

H. Hipotesis Penelitian ....................................................................... 34

BAB III METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian ....................................................... 36

B. Metode dan Desain Penelitian ....................................................... 36

C. Populasi dan Sampel Penelitian .................................................... 37

D. Variabel Penelitian ........................................................................ 38

E. Teknik Pengumpulan Data ............................................................ 38

F. Instrumen Penelitian...................................................................... 39

vii

G. Uji Coba Instrumen ....................................................................... 40

1. Uji Validitas ............................................................................ 40

2. Uji Reliabilitas ........................................................................ 41

3. Uji Taraf Kesukaran Soal ........................................................ 42

4. Daya Pembeda ......................................................................... 42

H. Teknis Analisis Data ..................................................................... 43

1. Uji Normalitas ......................................................................... 43

2. Uji Homogenitas ..................................................................... 44

3. Uji Hipotesis ........................................................................... 45

I. Hipotesis Statistik ......................................................................... 46

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .......................

A. Profil SMP N 3 Tangerang Selatan ............................................... 47

1. Sejarah Singkat Sekolah .......................................................... 47

2. Kategori Kelas ......................................................................... 47

3. Identitas, Georafis, dan Sarana Prasarana ............................... 48

4. Visi, Misi dan Motto ............................................................... 48

5. Guru dan Tenaga Kependidikan.............................................. 49

6. Siswa SMP Negeri 3 Tangerang Selatan ............................... 53

7. Sarana dan Prasarana............................................................... 53

B. Deskripsi Data ............................................................................... 56

1. Hasil Uji Validitas Soal .......................................................... 56

2. Hasil Uji Reliabilitas Soal ...................................................... 56

3. Hasil Uji Tingkat Kesukaran Soal .......................................... 56

4. Hasil Uji Daya Pembeda Soal ................................................ 57

viii

C. Kegiatan Pembelajaran.................................................................. 57

1. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran pada Kelas Eksperimen

(Metode Group Investigation) ................................................ 57

2. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran pada Kelas Kontrol (Metode

Puzzle) ..................................................................................... 58

D. Deskriptif Data .............................................................................. 59

1. Data Hasil Belajar PAI Siswa ................................................. 60

E. Pengujian Persyaratan Analisis ..................................................... 73

F. Uji Homogenitas ........................................................................... 74

G. Pengujian hipotesis dan pembahasan ............................................ 75

1. Uji Hipotesis Penelitian .......................................................... 75

2. Pembahasan hasil penelitian................................................... 76

H. Keterbatasan penelitian. ................................................................ 76

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................

A. Kesimpulan ................................................................................... 78

B. Saran .............................................................................................. 78

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... xi

LAMPIRAN-LAMPIRAN

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tabel penilaian dalam ranah kognitif. ................................................ 24

Tabel 3.1 Tabel desain penelitian pre-test dan post test kontrol group design ... 37

Tabel 3.2 Tabel matrik variable. ......................................................................... 38

Tabel 3.3 Tabel kriteria reliabilitas soal ............................................................. 41

Tabel 4.1 Tabel daftar Kepala Sekolah SMP 3 Tangerang Selatan................... 47

Tabel 4.2 Tabel jenjang Pendidikan dan Status Guru ........................................ 50

Tabel 4.3 Tabel data Jumlah Guru dan Statusnya .............................................. 51

Tabel 4.4 Tabel jenjang Pendidikan Tenaga Administrasi (TU) dan Statusnya 52

Tabel 4.5 Tabel tenaga Perpustakaan dan Laboratorium ................................... 52

Tabel 4.6 Tabel jumlah Siswa SMP N 3 Tangerang Selatan.............................. 53

Tabel 4.7 Tabel sarana dan Prasarana ................................................................ 53

Tabel 4.8 Tabel klasifikasi tingkat kesukaran butir soal 56

Tabel 4.9 Tabel klasifikasi tingkat daya pembeda ............................................. 57

Tabel 4.10 Tabel nilai Hasil pre-tes eksperimen .................................................. 60

Tabel 4.11 Tabel disribusi hasil pre-tes ekperimen .............................................. 61

Tabel 4.12 Tabel nilai hasil pre-tes kontrol .......................................................... 62

Tabel 4.13 Tabel disribusi hasil nilai pre-tes kontrol ........................................... 64

Tabel 4.14 Tabel nilai Hasil post-tes eksperimen................................................. 65

Tabel 4.15 Tabel disribusi hasil nilai pos-tes ekperimen ..................................... 67

Tabel 4.16 Tabel nilai post-tes kontrol ................................................................. 68

Tabel 4.17 Tabel disribusi hasil post-tes ekperiimen ........................................... 70

Tabel 4.18 Tabel keterangan diagran hasil pre-tes kelas ekperimen dan

kontrol................................................................................................ 71

Tabel 4.19 Tabel keterangan diagran hasil post-tes kelas ekperimen dan

kontrol................................................................................................. 72

Tabel 4.20. Tabel hasil uji normalitas pre-tes ekperimen dan kontrol .................. 73

Tabel 4.21 Tabel hasil uji normalitas post-tes ekperimen dan kontrol ................. 74

Tabel 4.22 Tabel hasil uji homogenitas ................................................................ 74

Tabel 4.23 Tabel hasil Uji Homogenitas Post-test ............................................... 75

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Diagram frekuensi nilai pre-tes kelas ekperimen. ................................ 61

Gambar 4.2 Diagram frekuensi nilai pre- tes kelas kontrol ..................................... 64

Gambar 4.3 Diagram frekuensi nilai post-tes kelas kontrol. .................................... 67

Gambar 4.4 Diagram frekuensi nilai post-tes kelas ekperimen. ............................... 69

Gambar 4.5 Diagram frekuensi hasil pre-test kelas eksperimen dan kelas

kontrol. ................................................................................................ 70

Gambar 4.6 Diagram frekuensi hasil post test kelas eksperimen dan kelas

kontrol. ................................................................................................ 72

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Hakikat manusia hidup di dunia ini adalah untuk belajar. Belajar

merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi,

ketrampilan dan sikap. Belajar adalah karakteristik yang membedakan

manusia dengan makhluk lain, yang merupakan aktivitas yang selalu

dilakukan sepanjang hayat manusia, bahkan tiada hari tanpa belajar.

Belajar merupakan kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang

sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang

pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan

pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik

ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya

sendiri. Oleh karenanya pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan

segala aspek, bentuk, dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para

pendidik khususnya para guru. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi

mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkaitan dengannya

mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang

dicapai oleh peserta didik.1

Menurut Trianto, Anthony Robins mendefinisikan belajar sebagai proses

menciptakan hubungan antara sesuatu (pengetahuan) yang sudah dipahami

dan sesuatu (pengetahuan) yang baru.2

Belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang agar memiliki

kompetensi berupa keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan. Belajar

juga dapat dipandang sebagai sebuah proses elaborasi dalam upaya pencarian

1 Asep Jihad., Abdul Haris, Evaluasi Pembelajaran, (Yogyakarta: Multi PressIndo, 2008),

h. 1. 2 Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Prenada, 2010),

Cet 3, h. 15.

2

makna yang dilakukan oleh individu. Proses belajar pada dasarnya dilakukan

untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensi personal.3

Ahli pendidikan modern merumuskan perbuatan belajar adalah sebagai

berikut: belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri

seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat

pengalaman dan latihan. Tingkah laku yang baru itu misalnya dari tidak tahu

menjadi tahu, timbulnya pengertian baru, timbul dan berkembangnya sifat-

sifat sosial, susila dan emosional.4

Menurut Syaiful Bahri Djamarah, para ahli psikologi dan pendidikan

mengemukakan rumusan yang berlainan sesuai dengan keahlian mereka

masing-masing.

1. James O. Whittaker, merumuskan belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.

2. Cronbach berpendapat bahwa learning is shown by change in behavior as a result of experienc. Belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukan

oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

3. Howard L. Kingkey bahwa belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.

4. Drs. Slameto merumuskan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah

laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu

itu sendiri dalam interaksi dengan lingkunganya.5

Belajar adalah suatu perubahan yang relatif permanen dalam suatu

kecenderungan tingkah laku sebagai hasil dari praktek atau latihan. Belajar

berbeda dengan pertumbuhan dewasa, dimana perubahan tersebut dari hasil

genetik. Perubahan tingkah laku individu sebagai hasil belajar ditunjukkan

dengan berbagai aspek seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, persepsi,

motivasi dan gabungan dari aspek-aspek tersebut.6

3 Benny A. Pribadi, Model Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Dian Rakyat, 2009), h.

6. 4 Abu Ahmadi, Psikologi Sosial, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), h. 256.

5 Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), Cet 2, h. 13.

6 Sudjana, nana. Teori-Teori Belajar dan Pengajaran, (Jakarta: Lembaga Penerbit

Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1990), h. 55.

3

Sedangkan pembelajaran merupakan komunikasi dua arah, dimana

kegiatan guru sebagai pendidik harus mengajar dan murid sebagai terdidik

yang belajar. Dari sisi siswa sebagai pelaku belajar dan sisi guru sebagai

pembelajar, dapat ditemukan adanya perbedaan dan persamaan. Hubungan

guru dan siswa adalah hubungan fungsional, dalam arti pelaku pendidik dan

pelaku terdidik. Dari segi tujuan akan dicapai baik guru maupun siswa sama-

sama mempunyai tujuan sendiri-sendiri. Meskipun demikian, tujuan guru dan

siswa tersebut dapat dipersatukan dalam tujuan instruksional.

Proses pembelajaran pada prinsipnya proses pengembangan moral

keagamaan, aktivitas dan kreativitas peserta didik melalui berbagai interaksi

dan pengalaman belajar. Namun demikian dalam implementasinya masih

banyak kegiatan pembelajaran yang mengabaikan aktivitas dan kreatifitas

peserta didik tersebut. Hal ini banyak disebabkan oleh model dan sistem

pembelajaran yang lebih menekankan pada penguasaan kemampuan

intelektual saja serta proses pembelajaran terpusat pada guru di kelas,

sehingga keberadaan peserta didik hanya menunggu uraian guru kemudian

mencatat dan menghafalnya.7

Dalam kegiatan belajar, Sardiman menjelaskan bahwa Rousscau

memberi penjelasan bahwa segala pengetahuan itu harus diperoleh dengan

pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, penyelidikan sendiri dengan bekerja

sendiri, dan dengan fasilitas yang diciptakan sendiri, baik secara rohani

maupun teknis.8 Hal ini menunjukan setiap orang yang belajar harus aktif,

tanpa ada aktifitas maka proses belajar tidak mungkin terjadi. Untuk

menumbuhkan sikap aktif, kreatif dan inovatif dari peserta didik tidaklah

mudah. Proses pembelajaran memposisikan siswa sebagai pendengar yang

mengakibatkan proses pembelajaran cenderung membosankan dan

menjadikan peserta didik malas belajar. Sikap peserta didik yang pasif tidak

7 Zurinal., Wahdi Sayuti, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Lembaga Penelitian Uin Jakarta dan

Jakarta Press, 2006), h. 117-118. 8 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rajawali Press, 2011), h.

96.

4

hanya terjadi pada satu mata pelajaran saja tetapi hampir pada semua mata

pelajaran termasuk Pendidikan Agama Islam (PAI).

Salah satu indikator keberhasilan proses belajar mengajar dapat dilihat

dari pencapaian hasil belajar peserta didik. Keberhasilan peserta didik dalam

belajar dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal. Salah satu faktor

eksternal yaitu metode pembelajaran, guru sebagai fasilitator dalam

pembelajaran harus mampu membuat siswa aktif dengan menerapkan

berbagai metode pembelajaran aktif guna meningkatkan hasil belajar peserta

didik. Faktor internal dalam belajar meliputi bakat, minat, motivasi, dan

kemampuan peserta didik. Kemampuan awal merupakan kemampuan yang

dimiliki oleh peserta didik sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Keanekaragaman kemampuan peserta didik yang ada akan berpengaruh

terhadap penguasan meteri pelajaran yang diajarkan guru di dalam kelas,

dengan demikian guru diharapkan dapat memilih metode yang baik dan tepat

sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan baik dan efektif.

Kondisi di SMP N 3 Tangerang Selatan, masih sering dijumpai adanya

permasalahan yang berkaitan dengan metode pembelajaran dalam mata

pelajaran Pendidikan Agama Islam. Selama ini dalam proses kegiatan belajar

mengajar siswa sangat pasif, siswa tidak menghiraukan materi yang

disampaikan bahkan ada beberapa siswa yang bercanda dengan temannya.

Sering kali guru terjebak dengan cara-cara konvensional yaitu berpusat pada

guru (teacher centered) yang hanya berorientasi pada pencapaian aspek-aspek

kognitif yang mengandalkan metode ceramah dalam pembelajarannya

sehingga menyebabkan kejenuhan, membosankan, dan siswa tertekan karena

harus mendengarkan guru bercerita beberapa jam tanpa memperhatikan siswa

terlibat dalam proses pembelajaran, ditambah lagi sarana prasarana yang

kurang memadai, media pembelajaran yang tidak tepat, dan lingkungan di

luar sekolah siswa yang kurang mendukung sehingga menyebabkan minat

dan hasil belajar siswa rendah.

5

Untuk mengatasi hal ini, maka diperlukan suatu strategi pembelajaran

yang tepat, menarik dan harus efektif sehingga siswa dapat aktif dalam

kegiatan pembelajaran dan dapat menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa

setelah proses pembelajaran berlangsung.

Salah satu starategi pembelajaran yang dapat dilakukan untuk

meningkatkan hasil belajar siswa adalah model pembelajaran kooperatif.

Belajar kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam pembelajaran

yang memungkinkan peserta didik bekerja sama untuk memaksimalkan

belajar mereka dalam kelompok. Selama belajar kooperatif, siswa akan

memiliki ketrampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik di dalam

kelompoknya, seperti keterampilan menjadi pendengar aktif, keterampilan

memberikan penjelasan kepada teman sekelompok dengan baik, berdiskusi

dan lain sebagainya.

Pembelajaran kooperatif ini didasarkan pada pandangan bahwa setiap

peserta didik mempunyai perbedaan-perbedaan dan persamaan antara satu

dengan yang lainnya. Perbedaan itu bukanlah untuk dipertentangkan atau

dipisahkan, melainkan harus diintegrasikan. Seorang peserta didik yang

cerdas, dapat disatukan dengan peserta didik yang kurang cerdas, sehingga

peserta didik yang kurang cerdas dapat dibantu oleh peserta didik yang

cerdas. Demikian pula persamaan yang dimiliki antara peserta didik yang satu

dengan yang lainnya dapat disinergikan sehingga dapat saling menunjang

secara optimal.9 Pembelajaran kooperatif berpotensi menjadikan kelas

sebagai tempat yang produktif dan menyenangkan, dimana siswa bisa belajar

bekerja sama dan bekerja sama dalam belajar.10

Terkait dengan berbagai variasi dalam model pembelajaran kooperatif,

yang diantaranya adalah Student Teams Achievement Division (STAD), Teams

Games Tournament (TGT), Think Pair Share (TPS), Jigsaw (tim ahli), dan Group

Investigation (GI). Akan tetapi di dalam penelitian ini penulis menggunakan

9 Abudin Nata, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Kencana,

2009), h. 155. 10

Thomas Lickona, Pendidikan Karakter, Terj. Lita S, (Bandung: Nusa Media, 2013), h.

254.

6

model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (investigasi

kelompok).

Metode pembelajaran Group Investigation merupakan suatu model

pembelajaran kooperatif yang menekankan proyek investigasi kelompok,

dimana siswa akan diberi proyek investigasi terkait dengan kehidupan sehari-

hari sesuai dengan materi pokok yang diberikan.

Sebagai bagian dari investigasi, para siswa mencari informasi dari

berbagai sumber baik di dalam maupun di luar kelas. Sumber-sumber

(bermacam buku, institusi, orang) menawarkan sederetan gagasan, opini,

data, solusi, ataupun posisi yang berkaitan dengan masalah yang sedang

dipelajari. Para siswa selanjutnya mengevaluasi dan mensintesiskan informasi

yang disumbangkan oleh tiap anggota kelompok supaya menghasilkan buah

karya kelompok. Model pembelajaran ini dilakukan dengan 6 tahap, yaitu:

seleksi topik, merencanakan kerjasama, implementasi, analisis dan sistesis,

penyajian hasil akhir dan evaluasi.11

Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, penulis

tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: PENGARUH

STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP

INVESTIGATION (GI) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA

MATA PELAJARAN PAI DI SMP NEGERI 3 TANGERANG

SELATAN

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, beberapa masalah

diidentifikasikan, sebagai berikut:

1. Pada proses pembelajaran, guru kurang melakukan variasi-variasi metode

pembelajaran, hal ini menyebabkan pembelajaran berlangsung secara

monoton dan mengakibatkan siswa menjadi jenuh. Hal ini terlihat dari

11

Robert E. Slavin, Cooperative Learning Teori Riset dan Praktik, (Bandung: Nusa

Media, 2005), h. 216.

7

hasil observasi bahwa guru lebih sering menggunakan metode ceramah

dan penugasan.

2. Rendahnya perhatian dan partisipasi siswa dalam pembelajaran PAI, hal

ini berdasarkan hasil observasi yang menyatakan bahwa siswa lebih

senang mengobrol dengan temannya, siswa lebih banyak mendengar dan

mencatat dan siswa enggan untuk bertanya.

3. Hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PAI yang diperoleh masih

banyak yang dibawah Ketuntasan Kriteria Minimal (KKM) yang telah

ditentukan.

4. Siswa masih dianggap sebagai objek belajar yang tidak memiliki potensi

dan pengetahuan. Hal ini didasarkan pada hasil observasi bahwa siswa

tidak diberi kesempatan untuk menemukan pengetahuannya sendiri,

siswa cenderung pasif dan lebih banyak mendapatkan pengetahuan dari

apa yang disampaikan guru.

C. Pembatasan Masalah

Dari pernyataan yang timbul dalam identifikasi masalah dan agar

penelitian ini mencapai sasaran dan tujuan yang diharapkan, maka dalam

penulisan penelitian ini, penulis membatasi masalah ini pada:

1. Pemilihan metode Group Investigation dalam pembelajaran PAI di SMP

N 3 Tangerang Selatan.

2. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran PAI dengan materi menghindari

perilaku tercela.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah yang ada, maka masalah yang akan

diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran yang menggunakan metode Group

Investigation?

8

2. Bagaimana hasil belajar setelah menggunakan metode Group

Investigation?

3. Apakah ada pengaruh pembelajaran dengan metode Group Investigation

terhadap hasil belajar PAI di SMP N 3 Tangerang Selatan?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini

adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran yang

menggunakan metode Group Investigation?

2. Untuk mengetahui bagaimana hasil belajar setelah menggunakan metode

Group Investigation?

3. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh pembelajaran dengan metode

Group Investigation terhadap hasil belajar PAI di SMP N 3 Tangerang

Selatan?

4. Manfaat Penelitian

Pembelajaran dengan menggunakan penelitian Metode Group

Investigation ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca untuk

dijadikan referensi dan dapat menjadi solusi kepada peneliti dalam

mengembangkan metode pengajaran khususnya untuk mata pelajaran PAI

sehingga peneliti dapat menerapkan metode pengajaran yang lebih

bervariasi kepada para siswa.

2. Secara Praktis

a. Bagi Peserta Didik

1) Menumbuhkan kerja sama serta rasa kebersamaan antar siswa.

2) Mengajak siswa untuk menjadi lebih aktif dalam proses belajar.

3) Meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PAI.

9

4) Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan bervariasi

serta dapat memperoleh pengalaman belajar.

5) Menumbuhkan rasa tanggung jawab pada setiap siswa.

6) Membuat siswa mempersiapkan diri sebaik mungkin dalam

diskusi kelompok.

b. Bagi Guru

1) Menambah wawasan tentang metode pembelajaran yang efektif

dalam mencapai tujuan pembelajaran.

2) Memberikan masukan mengenai model pembelajaran kooperatif

tipe Group Investigation.

3) Memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan

dan keterampilannya dalam menghidupakn suasana belajar di

kelas.

4) Mendorong guru untuk mempersiapkan metode belajar yang

bervariasi dalam setiap pembelajaran sehingga membuat belajar

mengajar lebih menyenangkan.

c. Bagi Sekolah

Memberikan masukan yang bermanfaat bagi sekolah dalam

rangka perbaikan proses belajar mengajar mata pelajaran PAI

khususnya dan mata pelajaran lain pada umumnya agar hasil

ketuntasan menjadi meningkat.

d. Bagi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Memberikan masukan kepada peneliti lain mengenai metode

Group Investigation sehingga dapat diteliti lebih lanjut mengenai

metode pembelajaran ini.

10

BAB II

KAJIAN TEORITIK, KERANGKA BERPIKIR

DAN PENGAJUAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Strategi Pembelajaran Kooperatif

1. Pengertian Strategi Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran yang bernaung dalam teori konstruktivis adalah

kooperatif. Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan

lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka

saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam

kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang

kompleks. Jadi, hakikat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi

aspek utama dalam pembelajaran kooperatif.12

Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi

semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin

oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif

dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan

pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi

yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah

yang dimaksud. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada

akhir tugas.13

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar

dan sengaja mengembangkan interaksi dan saling asuh antar siswa untuk

menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat

menimbulkan permusuhan.14

12

Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta:

Prestasi Pustaka, 2007), h. 41. 13

Agus Suprijono, Cooperatif Learning dan Teori Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta:

Pustaka Belajar, 2009), h. 54. 14

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,

(Jakarta: Kencana, 2010), h. 359.

11

Slavin mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah strategi

pembelajaran dimana peserta didik belajar dan bekerja dalam kelompok-

kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 6

orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen. Selanjutnya

dikatakan pula, keberhasilan dari kelompok tergantung dari kemampuan

dan aktifitas anggota kelompok, baik secara individual maupun secara

kelompok.15

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang

berorientasi pada tim (kelompok). Pada pembelajaran kooperatif ini

peserta didik berada dalam kelompok kecil dengan anggota sebanyak

kurang lebih 4 sampai 5 orang. Dalam belajar secara kooperatif ini terjadi

interaksi antara anggota kelompok. Semua anggota kelompok harus turut

terlibat, karena keberhasilan kelompok ditunjang oleh aktivitas

anggotanya, sehingga anggota kelompok saling membantu.16

Sehubungan dengan pengertian tersebut, penulis menambahkan

bahwa belajar kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam

pembelajaran yang memungkinkan peserta didik bekerja sama untuk

memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam

kelompok.

Sebuah analisis penelitian menunjukan, dalam kelompok siswa-

siswa akan belajar lebih cepat, dan bahwa pengalaman kelompok sering

beralih ke anggota-anggota kelompok sehingga mereka bekerja lebih

efektif. Akan tetapi ada beberapa keterbatasannya. Beberapa siswa yang

pandai tidak menikmati manfaat dari pengalaman belajar berkelompok,

dan bagi mereka proses social yang terjadi di dalam kelompok sebenarnya

merupakan hambatan bagi kegiatan belajar mereka. Namun keuntungan

15

Etin Solihatin dan Raharjo, Cooperatif Learning, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 4. 16

Suderajat, Muslihuddin, dan Ujang hendara, Revolusi Mengajar, (Bandung : HDP

Press. 2012), h. 59.

12

kerja kelompok ini terletak pada perubahan yang menyangkut motivasi,

emosi dan sikap.17

Melalui strategi pembelajaran kooperatif, siswa bukan hanya

belajar dan menerima apa yang disajikan oleh guru dalam proses belajar

mengajar, melainkan bisa juga belajar dari siswa lainnya, dan sekaligus

mempunya kesempatan untuk membelajarkan siswa yang lain, sehingga

semua siswa dapat menguasai materi pada tingkat penguasaan yang

relative sama atau sejajar. Pada saat siswa belajar dalam kelompok akan

berkembang suasana belajar yang terbuka dalam dimensi kesejawatan,

karena pada saat itu akan terjadi proses belajar kolaboratif dalam

hubungan pribadi yang saling membutuhkan. Pada saat itu juga siswa

belajar dalam kelompok kecil akan tumbuh dan berkembang pola belajar

tutor sebaya dan belajar secara bekerjasama. Pada saat proses

pembelajaran, guru bukan lagi berperan sebagai satu-satunya nara sumber,

tetapi berperan sebagai mediator, stabilisator dan menejer pembelajaran.18

Strategi pembelajaran kooperatif tampak akan dapat melatih

peserta didik untuk mendengar pendapat-pendapat orang lain dan

menyimpulkan dalam suatu pendapat, belajar untuk saling tolong

menolong, pendidik membentuk peserta didiknya untuk mudah memahami

materi dan sesama peserta didik saling membantu. Hal ini memang sangat

dianjurkan dalam Al-Quran untuk saling tolong menolong yang

dijelaskan dalam surat At-Taubat ayat 71 :

17

Mukhtar., Martinis Yamin, Metode Pembelajaran yang Berhasil, (Jakarta: Sasama

Mitra Suksesa, 2002), h. 49. 18

Masitoh., Laksmi Dewi, Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Direktorat Jendral

Pendidikan Islam Departemen Agama RI, 2009), h. 232.

13

Artinya: Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan,

sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.

mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang

munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah

dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya

Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. At-Taubah: 71).19

Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran

kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang menekankan peserta

didiknya untuk belajar bekerja sama dalam memecahkan suatu

permasalahan yang ada, dengan bentuk kelompok kecil, yang bertujuan

untuk mengasah imajinasi peserta didik, yang memiliki tingkat

kemampuan dengan latar belakang yang berbeda, mulai dari tingkat

kemampuan yang tinggi, sedang maupun yang rendah. Serta dapat

melatih peserta didik untuk bisa berinteraksi dengan baik antar sesama,

akan menciptakan pribadi-pribadi yang memiliki rasa tanggung jawab

dan mampu menghargai pendapat orang lain.

2. Karakteristik Strategi Pembelajaran Kooperatif

Sanjaya mengungkapkan pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan

dalam beberapa perspektif, yaitu Perspektif motivasi artinya penghargaan

yang diberikan kepada kelompok yang dalam kegiatannya saling

membantu untuk memperjuangkan keberhasilan kelompok, perspektif

sosial artinya melalui kooperatif setiap peserta didik akan saling

membantu dalam belajar, karena mereka ingin semua anggota kelompok

memperoleh keberhasilan, perspektif perkembangan kognitif artinya

dengan adanya interaksi antar anggota kelompok dapat mengembangkan

prestasi peserta didik untuk berfikir mengolah informasi.20

19

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, (Jakarta: Departemen Agama, 2007), h. 198. 20

Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru,

(Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2011), h. 206.

14

Adapun karakteristik atau pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan

sebagai berikut: 21

a. Pembelajaran secara tim

Pembelajaran kooperatif pembelajaran yang dilakukan secara

tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan, oleh karena itu,

tim harus mampu membuat setiap peserta didik belajar. Setiap anggota

tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan.

b. Didasarkan pada manajemen kooperatif

Manajemen mempunyai tiga fungsi yaitu 1) fungsi manajemen

sebagai perencanaan pelaksanaan menunjukan bahwa pembelajaran

kooperatif dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, dan langkah-

langkah pembelajaran yang sudah ditentukan. Misalnya tujuan apa

yang harus dicapai, bagaimana cara mencapainya, apa yang harus

digunakan untuk mencapai tujuan, dan lain sebagainya. 2) fungsi

manajemen sebagai organisasi, menunjukan bahwa pembelajaran

kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses

pembelajaran berjalan dengan efektif. 3) fungsi manajemen sebagai

kontrol, menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu

ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui bentuk tes maupun non

tes.

c. Kemampuan untuk bekerja sama

Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan

secara kelompok, oleh karenanya prinsip kebersamaan atau kerja sama

perlu ditentukan dalam pembelajaran kooperatif. Tanpa kerja sama

yang baik, pembelajaran kooperatif tidak akan mencapai hasil yang

maksimal.

d. Keterampilan bekerja sama

Keterampilan bekerja sama itu dipraktkikan melalui aktivitas

dalam kegiatan pembelajaran secara kelompok. Dengan demikian,

peserta didik perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan

21

Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, h. 208.

15

berkomunikasi dengan anggota lain dalam rangka mencapai tujuan

pembelajaran yang telah ditetapkan.

Pembelajaran koopertif dicirikan oleh struktur tugas, tujuan, dan

penghargaan kooperatif. Peserta didik yang bekerja dalam situasi

pembelajaran kooperatif didorong dan dikehendaki untuk bekerja sama

pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengoordinasikan

usahanya untuk menyelesaikan tugasnya. Dalam penerapan

pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu

sama lain untuk mencapai penghargaan bersama.

3. Konsep Dasar Strategi Pembelajaran Kooperatif

Dalam menggunakan model pembelajaran, ada beberapa konsep dasar

yang perlu diperhatikan, yaitu:

a. Perumusan tujuan belajar siswa harus jelas

b. Penerimaan yang menyeluruh oleh siswa tentang tujuan belajar

c. Ketergantungan yang bersifat pasif

d. Interaksi yang bersifat terbuka

e. Tanggung jawab individu

f. Kelompok bersifat heterogen

g. Interaksi sikap dan perilaku sosial yang positif

h. Tindak lanjut

i. Kepuasan dalam belajar.22

4. Aturan Dasar Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kelompok mempunyai aturan dasar, yaitu:

a. Siswa tetap berada dalam kelompoknya selama proses pembelajaran

berlangsung.

b. Siswa mengajukan pertanyaaan kepada kelompoknya sebelum

menayakan kepada gurunya.

22

Etin Solihatin dan Raharjo, Coopertif Learing Analisis Pembalajaran IPS, (Jakarta: Bumi

Aksara, 2009), cet.4, h. 6-9

16

c. Siswa harus memberikan umpan balik pada ide-ide temannya dan

siswa dianjurkan untuk menghindari pemberian kritik.23

5. Ketrampilan Pembelajaran Kooperatif

Sebagai suatu ketrampilan belajar, ketrampilan kooperatif memiliki

tingkat-tingkat, yaitu:

a. Ketrampilan kooperatif tingkat awal

1) Menggunakan kesepakan

2) Menghargai pendapat

3) Menggunakan suara pelan

4) Mengambil giliran dan berbagi tugas

5) Berada dalam kelompok

6) Berada dalam tugas

7) Mendorong partisipasi

8) Mengundang orang lain untuk berbicara

9) Menyelesaikan tugas tepat waktu

10) Menyebut nama orang memandang pembicara

11) Mengatasi gangguan

12) Menolong tanpa member jawaban

13) Menghormati perbedaan induvidu

b. Ketrampilan kooperatif tingkat menengah

1) Menunjukakan penghargaan dan empati

2) Mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara yang dapat diterima

3) Mendengarkaan secara aktif

4) Bertanya

5) Menggunakan pesan saya

6) Membuat ringkasan

7) Menafsirkan

8) Mengatur dan mengotganisasi

23

Suderajat, Muslihuddin, dan Ujang hendara, Revolusi Mengajar, (Bandung: HPD Press.

2012), h. 63.

17

9) Memeriksa ketepatan

10) Menerima tanggung jawab

11) Menggunakan kesabaran

12) Tetap tenang atau mengurangi ketegaangan

c. Ketrampilan kooperatif tingkat mahir

1) Mengelaborasi

2) Memeriksa secara cermat

3) Menanyakan kebenaran

4) Menganjurkan suatu posisi

5) Menetapkan tujuan

6) Berkompromi

7) Menghadapi masalah khusus.24

6. Tujuan Pembelajaran kooperatif

Tujuan pokok belajar kooperatif memaksimalkan belajar siswa untuk

meningkatkan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu

maupun kelompok. Karena siswa bekerja dalam suatu tim, maka dengan

sendirinya dapat memperbaiki hubungan di antara para siswa dari berbagai

latar belakang etnis dan kemampuan, mengembangkan keterampilan-

keterampilan proses kelompok dan pemecahan masalah.25

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga

tujuan pembelajaran yang sangat penting, yakni:

1) Prestasi akademik

Meskipun pembelajaram kooperatif mencangkup bebagai tujuan

sosial, namun pembelajaraan kooperatif dapat juga digunakan untuk

meningkatkan pretasi akademik.

2) Penerimaan akan keanakaragaman

24

Suderajat, Muslihuddin, dan Ujang hendara, Revolusi Mengajar, (Bandung: HPD Press.

2012), h. 63-64. 25

Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kencana, 2010), h.

57.

18

Efek penting ke dua dari model pembelajaran kooperatif adalah

penerimaan yang lebih luas dari orang-orang yang berbeda

berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan dan

ketidakmampuannya.

3) Pengembangan ketrampilan sosial

Efek penting ke tiga adalah mengajarkan kepada siswa

ketrampilan-ketrampilan kerjasama dan kolaborasi.26

B. Metode Pembelajaran Group Investigation

1. Pengertian Metode Pembelajaran Group Investigation

Group Investigation merupakan salah satu bentuk model

pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas

siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan

dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku

pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet. Siswa dilibatkan

sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk

mempelajarinya melalui investigasi. strategi ini menuntut para siswa

untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun

dalam keterampilan proses kelompok.

Dalam metode pembelajaran Group Investigation, interaksi sosial

menjadi salah satu faktor penting bagi perkembangan skema mental yang

baru. Dimana dalam pembelajaran ini memberi kebebasan kepada

pembelajar untuk berpikir secara analitis, kreatif, reflektif, dan

produktif.27

Menurut Sharan metode Group Investigation lebih menekankan

pada pilihan dan kontrol siswa dari pada menerapkan tehnik-tehnik

26

Suderajat, Muslihuddin, dan Ujang hendara, Revolusi Mengajar, (Bandung: HPD Press.

2012), h. 63. 27

Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang

Kreatif dan Efektif. (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 224.

19

pengajaran di ruang kelas. Dalam metode Group Investigation siswa

diberi kontrol dan pilihan penuh dan merencanakan apa yang ingin

dipelajari dan diinvestigasi. Menurut Rusman, Mafun menjelaskan bahwa

metode Group Investigation dapat dipakai guru untuk mengembangkan

kreatifitas siswa, baik secara perorangan maupun kelompok. 28

Dalam penjelasan di atas bahwa metode Group Investigation

adalah dalam investigasi kelompok siswa diberikan tanggung jawab

terhadap pekerjaan mereka, baik secara individu, berpasangan maupun

dalam kelompok. Dimana dalam pembelajaran Group Investigation

menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri

materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari.

2. Langkah-Langkah Metode Pembelajaran Group Investigation

a. Mengidentifikasi topik dan mengatur murid kedalam kelompok

1) Para siswa meneliti beberapa sumber, mengusulkan sejumlah topik,

dan mengategorikan saran-saran.

2) Para siswa bergabung dengan kelompoknya untuk mempelajari

topik yang mereka pilih.

3) Guru membantu dalam pengumpulan informasi dan memfasilitasi

pengaturan.

b. Merencanakan tugas yang akan dipelajari

1) Para siswa merencanakan bersama mengenai:

Apa yang akan kita pelajari?

Bagaimana kita mempelajarinya?

Siapa melakukan apa? (pembagian tugas)

Untuk tujuan atau kepentingan apa kita menginvestigasi topik ini?

c. Melaksanakan investigasi

1) Para siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data, dan

membuat kesimpulan

28

Dr. Rusman M. Pd, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme

Guru, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010), h. 222.

20

2) Setiap anggota kelompok berkontribusi untuk usaha-usaha yang

dilakukan kelompoknya

3) Para siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi dan

mensintensis semua gagasan.

d. Menyiapkan laporan akhir

1) Anggota kelompok menentukan pesan-pesan esensial dari

pembahasan mereka

2) Anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan,

dan bagaimana mereka akan membuat presentasi mereka

3) Wakil-wakil kelompok membentuk sebuah panitia acara untuk

mengkoordinasi rencana-rencana presentasi

e. Mempresentasikan laporan akhir

1) Presentasi yang dibuat untuk seluruh kelas dalam berbagai bentuk

2) Bagian presentasi tersebut harus dapat melibatkan pendengaran

secara aktif

3) Para pendengar tersebut mengevaluasi kejelasan dan penampilan

presentasi berdasarkan kriteria yang telah di tentukan seluruhnya

oleh anggota kelas.

f. Evaluasi

1) Para siswa saling memberi umpan balik mengenai topik tersebut

2) Guru dan murid berkolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran

siswa

3) Penilaian atas pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran paling

tinggi. 29

3. Kelebihan dan Kekurangan Metode Pembelajaran Group

Investigation

Penulis menambahkan kekurangan dan kelebihan strategi

pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation adalah sebagai berikut:

29

Robert E. Slavin, Cooperative Learning Teori Riset dan Praktik, (Bandung: Nusa

Media, 2005), h. 218.

21

a. Kelebihan :

1) Dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berpikir

mandiri, analitis, kritis, kreatif, reflektif dan produktif

2) Dapat melatih siswa untuk mengembangkan sikap saling

memahami dan menghormati (demokrasi)

3) Dapat melatih siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam

berkomunikasi

4) Dapat menumbuhkan sikap saling bekerjasama antar siswa

b. Kelemahan:

1) Siswa yang pandai akan cenderung mendominasi sehingga dapat

menimbulkan sikap minder dan pasif dari siswa yang lemah

2) Dapat terjadi siswa yang sekedar menyalin pekerjaan siswa yang

pandai tanpa memiliki pemahaman yang memadai

3) Dalam pelaksanaannya membutuhkan waktu yang relatif lama.

4) Sulit diterapkan apabila siswa tidak memiliki kemampuan

berkomunikasi yang baik.30

C. Metode Pembelajaran Puzzle

Mendesain tes uji pada teka-teki silang mengundang keterlibatan dan

partisipasi langsung. Teka-teki silang dapat diselesaikan secara individu

atau secara tim.

Prosedur pelaksanaaan Puzzle yaitu :

1. Mencurahkan gagasaan (brainstorming) beberapa istilah atau nama-

nama kunci yang berkaitan dengan pelajaran studi yang telah

diselesaikan.

2. Susunlah teka-teki silang sederhana, yang mencangkup item-item

sebanyak yang didapatkan. Hitamkan kotak-kotak yang tidak

diperlukan. (catatan : jika terlalu sulit untuk membuat teka-teki silang,

30

Penulis menambahkan kelebihan dan kekurangan strategi pembelajaran kooperatif tipe

Group Investigation.

22

deselangi dengan item-item yang menyenangkan, yang tidak

berkaaitan dengan pelajaran).

3. Buatlah contoh-contoh item-item silang, gunakan di antara macam-

macam berikut ini :

a) Definisi pendek, contohnya : tes yang digunakan untuk

menentukan reliabilitas

b) Kategori yang sesuai dengan item, contohnya : jenis gas

c) Lawan kata, contohnya : lawan kata dari haram

4. Bagikan teka-teki kepada peserta didik, baik secara individual maupun

secara tim.

5. Tentukan batasan waktu. Serahkan hadian kepada individu atau tim

dengan benda yang paling konkret.31

Metode pembelajaran aktif Puzzle dapat divariasikan sebagai berikut :

a) Perintahkan seluruh kelompok bekerja secara kooperatif untuk

menyelesaikan teka-teki silang.

b) Sederhanakan teka-teki silang dengan menentukan satu kata yang

menjadi kuncu untuk seluruh pelajaran. Tulislah teka-teki itu secara

saling horizontal. Gunakan kata yang meringkas poin-pooin lain

dalam sesi latihan dan susunlah kata itu secara vertical ke dalam

kata kunci.32

D. Hasil Belajar Siswa

1. Pengertian Hasil Belajar

Pengertian hasil belajar secara etimologi terdiri dari dua kata yaitu

kata hasil dan belajar, menurut kamus besar bahasa Indonesia kata

hasil adalah sesuatu yang diperoleh dengan usaha. Sedangkan kata

belajar adalah suatu perubahan dalam tingkah laku, perubahan itu

31

Mel, Silberman. Active Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif. (Yogyakarta: Pustaka

Insan Madani, 2009), h. 246-246. 32

Mel, Silberman. Active Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif., h.247.

23

dapat mengarah kepada tingkah laku yang baik, tetapi juga ada

kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.33

Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah

melalui kegiatan pembelajaran. Belajar itu sendiri merupakan suatu

proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk

perubahan perilaku yang relative menetap. Dalam kegiatan pembelajaran

atau kegiatan instruksional, biasanya guru menetapkan tujuan belajar.

Siswa yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan

pembelajaran atau tujuan instruksional.34

Menurut Nana Sudjana hasil belajar adalah kemampuan-

kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman-

pengalaman belajarnya.35

Menurut Muhibin Syah hasil belajar adalah

Perubahan sebagai akibat pengalaman belajar dan proses belajar siswa.36

Dari teori yang dikemukakan para ahli tentang hasil belajar

tersebut di atas, maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa hasil

belajar merupakan hasil yang dapat dicapai oleh siswa setelah diadakan

proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu dan materi

penyajian yang tertentu pula sebagai akibat pengalaman belajar sesuai

dengan tujuan yang telah disusun dalam indikator pembelajaran.

Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar dapat dilihat dari

tiga kategori ranah yaitu:

a) Ranah Kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang

terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan,

analisis, sintesis dan penilaian.

b) Ranah Afektif, berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif

meliputi lima jenjang kemampuan yaitu menerima, menjawab atau

33

Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remadja Karya, 1984), h. 81 34

Asep Jihad., Abdul Haris. Evaluasi Pembelajaran. (Yogyakarta: Multi PressIndo, 2008),

h. 14. 35

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, PT Remaja Rosdakarya,

Bandung, 2009, hlm. 22

36

Muhibin syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo persada, 2009), h. 216.

24

reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi dengan suatu nilai atau

kompleks nilai.

c) Ranah Psikomotor, meliputi keterampilan motorik, manipulasi

benda-benda, koordinasi neuromuscular (menghubungkan,

mengamati).

Dalam penelitian ini hasil belajar menurut teori Taksonomi Bloom

dibatasi dengan ranah kognitif saja. Beberapa kemampuan kognitif antara

lain:

a) Pengetahuan, tentang suatu materi yang dipelajari.

b) Pemahaman, memahami makna materi

c) Aplikasi atau penerapan penggunaan materi atau aturan teoritis yang

prinsip

d) Analisa, sebuah proses analisis teoritis dengan menggunakan

kemampuan akal

e) Sintesa, kemampuan memadukan konsep, sehingga menemukan

konsep baru

f) Evaluasi, kemampuan melakukan evaluatif atas penguasaan materi

pengetahuan.

Untuk mengukur dan memperoleh data hasil belajar peserta didik

adalah mengetahui garis-garis besar indikator yang dikaitkan dengan

jenis hasil belajar yang hendak diukur. Agar memudahkan dalam

menggunakan alat dan kiat evaluasi yang dipandang tepat, berikut adalah

tabel penyusunan jenis, indikator dan evaluasi hasil belajar.37

Tabel 2.1

Penilaian Dalam Ranah Kognitif

Ranah /Jenis hasil

belajar

Indikator Cara evaluasi

Ranah Kognitif

1. Pengetahuan

1. Dapat menjelaskan

2. Dapat menunjukkan

1. Tes tertulis

2. Observasi

37

Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Rosda, 2008),

h. 151.

25

2. Pemahaman

3. Penerapan

4. Analisis

5. Sintetis

6. Evaluasi

3. Dapat menyebutkan

1. Dapat menjelaskan

2. Dapat menguraikan

3. Dapat membedakan

1. Dapat menentukan

2. Dapatmenerapkan

atau memberikan

contoh

3. Dapat

menggambarkan

1. Dapat menguraikan

2. Dapat menemukan

3. Dapat

menyimpulkan

1. Dapat melengkapi

2. Dapat

menyimpulkan

3. Dapat membentuk

1. Dapat membuktikan

2. Dapat

Menyimpulkan

1. Tes tertulis

2. Observasi

1. Pemberian

tugas

1. Tes tertulis

2. observasi

1.Tes tertulis

2. observasi

1. Tes tertuli

2. Pemberian

tugas

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar

Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa

dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:

a. Faktor Internal Siswa

26

Adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang

meliputi dua aspek, yakni:

1) Aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah) yang menyangkut

keadaan jasmani individu, yaitu keadaan jasmani, keadaan fungsi-

fungsi jasmani tertentu terutama panca indera.

2) Aspek psikologis (yang bersifat rohaniah) yang berasal dari dalam

diri siswa seperti kecerdasan/intelegensi, bakat, minat, sikap dan

motivasi siswa.

b. Faktor Eksternal Siswa

Seperti halnya faktor internal siswa, faktor eksternal siswa juga

terdiri atas dua macam, yakni faktor lingkungan sosial dan faktor

lingkungan non sosial. Faktor sosial adalah hubungan antar manusia

yang terjadi dalam berbagai situasi sosial, diantaranya yaitu keluarga,

sekolah, teman dan masyarakat pada umumnya. Sedangkan faktor non

sosial yaitu lingkungan alam dan fisik seperti keadaan gedung dan

letaknya, rumah, ruang belajar, fasilitas belajar, buku-buku sumber

dan sebagainya.

c. Faktor Pendekatan Belajar

Disamping faktor-faktor internal dan eksternal siswa sebagaimana

yang telah dipaparkan di atas, faktor pendekatan belajar juga

berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses belajar siswa tersebut.

Seorang siswa yang terbiasa mengaplikasikan pendekatan belajar deep

misalnya, mungkin sekali berpeluang untuk meraih prestasi belajar

yang bermutu daripada siswa yang menggunakan pendekatan belajar

surface atau reproductive.38

Faktor-faktor di atas sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa

yang akan diperoleh dalam pencapaian tujuan.

38

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya, 2011). Cet.ke 18, h. 129-136.

27

3. Kriteria Pengukuran Hasil belajar

Untuk mengetahui baik buruknya hasil belajar peserta didik maka

diperlukan suatu tindakan yaitu evaluasi. Evaluasi merupakan suatu

penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah

ditetapkan dalam sebuah program. Menurut Tardif, evaluasi adalah proses

penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seorang siswa

sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.39

Dari pendapat di atas dapat

disimpulkan bahwa evaluasi sangat diperlukan dalam pendidikan dan

pengajaran untuk mengetahui tingkat kemampuan yang dicapai peserta

didik.

Dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran menempuh tiga fase

yaitu:

a. Pre tes (tes awal)

Dilakukan dengan tujuan mengetahui tingkat kemampuan

peserta didik terhadap materi pembelajaran yang akan dipelajari.

b. Proses-Proses

pembelajaran yang dilakukan pendidik berpegang pada

program kegiatan

c. Post tes (tes akhir evaluasi)

Materi pembelajaran yang diteskan dalam evaluasi sama

dengan pre tes.40

Melalui evaluasi tersebut akan dapat menghasilkan pengukuran yang

sesuai dengan kemampuan yang sebenarnya sehingga dapat diketahui

dengan pasti pada taraf masing-masing peserta didik itu memiliki

pengetahuan, sikap dan keterampilan. Taraf kemampuan keberhasilan

dinyatakan dengan evaluasi yakni dengan nilai.

39 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Pt. Raja grafindo Persada, 2009), h. 197.

40 Sumiati dan Asra, Metode Pembelajaran, (Bandung: CV. Wacana Prima, 2008), h. 12.

28

E. Hakekat Pendidikan Agama Islam

Sebelum membahas tentang pendidikan agama Islam terlebih dahulu

perlu dibahas tentang pengertian pendidikan itu sendiri. Para tokoh

berbeda pendapat dalam mendefinisikan pendidikan. Perbedaan itu

disebabkan karena masing-masing tokoh berbeda dalam memberikan

tekanan-tekanan dan tinjauan terhadap pendidikan.

Istilah pendidikan berasal dari kata didik dan memberikan awalan kata

Pe dan akhiran Kan yang mengandung arti Perbuatan. Istilah

pendidikan ini semua berasal dari bahasa Yunani yaitu Pedadogik yang

berarti bimbingan yang diberikan kapada anak. Paedagogy berasal dari

dua kata yaitu paedos yang berarti anak dan agoge yang berarti saya

membimbing atau memimpin. Istilah ini kemudian diterjemahkan ke

dalam bahasa Inggris dengan Education yang berarti pengembangan

anak bimbingan.41

Dalam pengertian yang sederhana, pendidikan sering dimaknai

sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-

potensi pembawaan, baik potensi jasmani maupun rohani sesuai dengan

nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan. Selain itu dalam

pengertiaan yang umum, pendidikaan juga diartikan dengaan proses

bimbingan, pengajaran dan pelatihan yang dilakukan oleh manusia kepada

manusia lain dalam rangka pencapaian keedewasaan.42

Secara terminologi, para ilmuan mendefinisikan pendidikan dalam arti

luas pada beberapa versi, salah satunya yaitu menurut Abdul Rahman An-

Nahlawi mengartikan pendidikan merupakan kegiatan yang betul-betul

memiliki tujuan, sasaran, dan target.43

41

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002 ), cet.Ke-4.hlm. 1 42

Wahdi Sayuti dan Zurinal Z, Ilmu Pendidikan Pengantar dan Dasar-Dasar Pelaksanaan

Pendidikan, (Jakarta: Jakarta Press, 2006), cet.I, h.1-2. 43

Abdul Rahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat,(Bina

Insani Press, 1995),h.21

29

Sedangkan pendidikan Islam menurut Zakiah Darajat adalah suatu

usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat

memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan yang

pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai

pandangan hidup.44

Dari beberapa pengertian yang dikemukan oleh beberapa ilmuan

dalam mendefinisikan pendidikan dan pendidikan Islam, maka penulis

mengambil kesimpulan bahwa pendidikan agama Islam adalah suatu

proses bimbingan dan bantuan secara sadar dan sengaja terhadap anak

didik dengan berlandaskan kepada ajaran Islam dalam pertumbuhan serta

perkembangan jasmani dan rohaninya. Pendidikan Agama Islam bukan

hanya sekedar penambahan pengetahuan akan tetapi bagaimana

pengetahuan dan pelaksanaan yang telah didapatkan itu dapat dipraktikkan

dalam kehidupan sehari-hari.

F. Hasil Penelitian yang Relevan

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan hasil penelitian sebelumnya

yang dianggap relevan sebagai acuan penelitian.

1. Penelitian yang dilakukan oleh Dwi Ana Pertiwi (2010) Mahasiswa

Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, yang berjudul Penerapan

kooperatif tipe Group Investigation untuk meningkatkan hasil belajar dan

untuk meningkatkan respon positif siswa dalam pelajaran PKN. Dari

hasil penelitiannya disebutkan bahwa terdapat Penerapan model

pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dapat meningkatkan

hasil belajar PKn pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Pekutatan. Hal

ini dapat dilihat dari peningkatan hasil belajarsiswa pada siklus I rata-rata

73,4 daya serap 73,4% dengan ketuntasan belajar 57,1% yang tergolong

dalam kualifikasi baik namun belum memenuhi KKM. Sedangkan skor

44

Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama islam Berbasis Kompetensi:

Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), cet.ke-

3,h.130

30

rata-rata hasil belajar pada siklus II meningkat menjadi 76,1, daya serap

76, 1% dengan ketuntasan belajar 82,8% yang tergolong dalam kualifikasi

baik dan sudah memenuhi KKM. Penerapan model pembelajaran

kooperatif tipe Group Investigation dapat menumbuhkan respon positif

siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Pekutatan dalam pelajaran PKn. Hal

ini dapat dilihat dari adanya peningkatan respon siswa pada setiap

siklusnya. Pada siklus I diperoleh respon rata-rata 36,8 dan meningkat

pada siklus II menjadi rata-rata 38,7 dengan kriteria respon positif.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dalam

pelajaran PKn di kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Pekutatan mengalami

kendala pada siklus I yaitu :(1) Pelaksanaan pembelajaran siklus I pada

pertemuan pertama siswa masih ribut dalam pembentukan kelompok dan

belum mampu memanfaatkan waktu seefisien mungkin sehingga

berpengaruh pada waktu jam pelajaran yang tersedia, (2) Pada pelaksanaan

siklus I ada anggota kelompok yang kurang aktif dalam hal kerjasamanya

untuk mengerjakan tugas diskusi, sehingga tugas yang diberikan lambat

terselesaikan, (3) Pada pelaksanaan siklus I ada anggota kelompok yang

ragu dalam mengemukakan pendapat, sehingga kelompok tersebut tidak

maksimal mendapatkan nilai yang diinginkan.45

2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yuniata Haffidianti (2011),

mahasiswa fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo,

Semarang, yang berjudul penerapan model pembelajaran Group

Investigation dalam upaya peningkatan hasil belajar peserta didik pada

materi pokok bangun ruang. Dari hasil penelitian tersebut menunjukan

bahwa dengan menerapkan model pembelajaran Group Investigation pada

materi pokok bangun ruang dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik

kelas VIII F MTs Negeri 1 Semarang tahun pelajaran 2010-2011. Hal ini

ditunjukan pada peningkatan hasil akhir tiap siklus yaitu pada pra siklus

rata-rata hasil belajar sebesar 52.97 dengan ketuntasan belajar 26.32%,

45

Sumber data diambil dari Perputakaan Digital Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

berbentuk PDF pada Tanggal 22 Juli 2014.

31

pada siklus I ratarata hasil belajar peserta didik meningkat menjadi 57.89

dengan ketuntasan klasikal 52.63%, dan pada siklus II rata-rata hasil

belajar peserta didik lebih meningkat lagi mencapai 74.90 dengan

ketuntasan klasikal 91.89%.46

3. Penelitian yang dilakukan oleh Mutmainah (2013), mahasiswa Universitas

Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, yang berjudul penerapan model

pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dalam meningkatkan

motivasi belajar Matematika di SDIT Bina Insani, menunjukan bahwa

Penerapan Model pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation

dapat meningkatkan Motivasi belajar matematika siswa. Hal ini

berdasarkan hasil yang diperoleh selama penelitian pada pengamatan,

angket motivasi, lembar panduan observasi dan wawancara.47

Pada hasil penelitian relevan di atas, peneliti mendapatkan kesimpulan

bahwa adanya pengaruh yang signifikan antara metode pembelajaran Group

Investigation terhadap hasil belajar dan hasil penelitian diatas menggunakan

metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Karena dalam hasil ketiga

penelitian tersebut menggunakan Penelitian Tindakan Kelas maka dari itu

peneliti ingin peneliti hasil belajar siswa menggunakan metode penelitian

quasi ekperimen dan dari beberapa penelitian yang peneliti baca penelitian

yang dilakukan hanya meneliti mata pelajaran umum, maka dari itu peneliti

ingin meneliti dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

G. Kerangka Pikir

Pendidikan Islam adalah suatu sistem kependidikan yang mencakup

seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah. Oleh karena itu,

islam mempedomani seluruh aspek kehidupan manusia muslim baik duniawi

maupun ukhrawi.

46

Sumber data diambil dari Perputakaan Digital IAIN Walisongo Semarang berbentuk PDF

pada Tanggal 22 Juli 2014. 47

Sumber data diambil dari Perputakaan Digital Universitas Islam Negeri berbentuk PDF

pada Tanggal 22 Juli 2014..

32

Upaya meningkatkan hasil belajar pada pembelajaran PAI perlu

diperhatikan seingga proses pembalajaran yang dilakukan harus diupayakan

dan mampu menuntun siswa untuk berfikir kreatif, membentuk sikap positif,

memecahkan masalah dan memungkinkan siswa untuk mengorganisasikan

belajarnya sendiri, sehingga pada akhirnya siswa dapat memahami konsep

konsep PAI secara benar dan utuh serta dapat mengamalkannya dalam

kehidupan sehari-hari.

Proses pembelajaran terjadi ketika ada interaksi antara guru dengan

siswa, siswa dengan guru dan antara siswa dengan siswa. Guru berupaya

membelajarkankan siswa dengan berbagai cara, salah satunya dengan

pembelajaraan kooperatif. Pembelajaran kooperatif sebagai salah satu metode

yang dapat menjadikan siswa lebih aktif selama proses belajar mengajar,

selain itu juga melatih siswa untuk mampu mensosialisaskikan ilmunya dalam

kehidupan bermasyarakat.

Dalam proses belajar mengajar di kelas, cara seorang guru

menyampaikan materi pelajaran sangat mempengaruhi proses belajar

mengajar tersebut. Untuk itu guru dituntut kreatifitasnya dalam menciptakan

suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga tujuan pembelajaran

dapat tercapai.

Salah satunya adalah metode pembelajaran kooperatif learning.

Pembelajaran kooperatif turut menambah unsur-unsur interaksi sosial pada

proses pembelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif learning siswa belajar

bersama dalam kelompok-kelompok kecil dan saling membantu satu sama

lain, namun pembelajaran kooperatif tidak sekedar kerja kelompok biasa

tetapi peran dan keaktifan siswa diutamakan dengan memberikan kesempatan

kepada siswa untuk mengemukakan dan mengembangkan pemikirannya.

Pembelajaran kooperatif learning mempunyai banyak model, salah

satunya adalah metode Group Investigation. Dalam metode Group

Investigation siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing

kelompok dituntun untuk mendiskusikan jawaban dari pertanyaan yang

diberikan oleh guru. Dengan metode Group Investigation siswa harus

33

berperan aktif dalam menjawab pertayaan yang mereka peroleh. Sehinga

terciptalah suasana belajar yang menyenangkan.

Metode Group Investigation adalah salah satu strategi dalam

pembelajaran kooperatif yang diharapkan dapat membantu siswa untuk lebih

aktif dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran akan terasa hidup,

menyenangkan dan tidak membosankan.

Metode pembelajaran Group Investigation yang diterapkan diharapkan

dapat meningkatkan motivasi siswa secara efektif, karena pembelajaran

kooperatif memiliki beberapa kelebihan dalam mengembangkan potensi

siswa, seperti terjadinya hubungan saling ketergantungan positif

mengembangkan semangat kerja kelompok, dan semangat kebersamaan, serta

menumbuhkan komunikasi yang efektif dan semangat kompetisi diantara

anggota kelompok. Atas dasar inilah metode Group Investigation diajukan

sebagai permasalahan penelitan untuk diterapkan di dalam kegiatan

pembelajaran dengan tujuan menghilangkan kejenuhan siswa dalam belajar

ke arah pembelajaran yang lebih menciptakan interaktif sesama siswa,

sehingga siswa dapat terlibat dalam proses belajar mengajar tidak hanya

mendengarkan guru saja yang menerangkan materi pelajaran, melainkan

siswa yang lebih berperan aktif dalam proses belajar mengajar. Dengan

demikian siswa dapat terdorong minat dan motivasinya untuk belajar yang

pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Bila semua itu

dilakukan maka tujuan dari pembelajaran akan tercapai dan hasil belajar pun

akan lebih baik.

Sedangkan pembelajaran yang diterapkan di kelas kontrol ialah metode

Puzzle. Masih banyak di sekolah-sekolah para guru hanya menggunakan

metode-metode klasik dalam pembelajaran yang pada akhirnya berdampak

pada kejenuhan siswa dan tidak terjadi interaksi antara guru dengan murid.

Pembelajaran PAI bukan hanya mempelajari konsep-konsep semata yang

megharuskan siswa untuk mendengarkan keterangan guru di papan tulis juga

menjadikan buku satu-satunya sumber belajar sehingga pembelajaran terasa

kurang kondusif padahal guru dituntut untuk memiliki variasi-variasi

34

pembelajaran yang lebih menyenangkan ketimbang hanya menggunakan

metode-metode klasik.

Dari sini kita dapat mengetahui adanya perbandingan antara metode

Group Investigation pada kelas eksperimen dengan metode Puzzle pada kelas

kontrol antara lain:

1. Metode Group Investigation lebih mendorong motivasi belajar siswa yang

berdampak pada hasil belajarnya.

2. Suasana belajar lebih menyenangkan.

3. Terjadinya interaksi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.

Dapat dilihat dari manfaat dan keuntungan dari metode Group

Investigation dibandingkan dengan metode Puzzle yang diterapkan pada kelas

kontrol ini memberikan pengertian bahwa siswa dapat mengembangkan pola

pikir dan pengetahuan mereka serta membuat suasana belajar lebih menarik

ketika pembelajarn itu dilakukan dengan metode Group Investigation.

Setelah mengkaji teori-teori metode Group Investigation dan hasil belajar

serta keterkaitan teoritis keduanya peneliti berasumsi bahwa diduga terdapat

perbedaan hasil belajar antara pembelajaran yang menggunakan Group

Investigation dengan pembelajaran yang menggunakan metode puzzle pada

mata pelajaran PAI.

H. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah suatu jawaban sementara terhadap suatu masalah

sampai terbukti kebenarannya oleh data atau fakta yang dikumpulkan dari

lapangan.48

Berdasarkan pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa hipotesis

merupakan pernyataan atau jawaban sementara yang kebenarannya belum

dapat dipastikan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu. Maka hipotesis

yang didapat dari penelitian yaitu adanya pengaruh metode Group

48

Suharsimi Arikuto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT

Rineka Cipta, 2006), h. 71.

35

Investigation terhadap pembelajaran PAI di SMP 3 Tangerang Selatan

rincian sebagai berikut :

: Tidak ada pengaruh hasil belajar PAI kelas VIII dengan menggunakan

metode mengajar kooperatif tipe Group Investigation.

: Ada pengaruh hasil belajar PAI kelas VIII dengan menggunakan metode

mengajar kooperatif tipe Group Investigation.

36

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP N 3. Bertempat di Jl. Ir. H. Juanda,

Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan

pada semester ganjil tahun pelajaran 2014-2015 yaitu pada tanggal 07

Agustus sampai tanggal 12 September 2014.

B. Metode dan Desain Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Quasi

Eksperimen. Eksperimen ini juga sering disebut eksperimen semu. Tujuannya

adalah untuk memprediksi keadaan yang dapat dicapai melalui eksperimen

yang sebenarnya dan tidak ada manipulasi terhadap seluruh variabel yang

relavan.49

Metode ini dilakukan dengan memberikan perlakuan kepada subjek

penelitian kemudian memberikan tes pada subjek penelitan. Desain ini

mempunyai kelompok kontrol tetapi tidak berfungsi sepenuhnya untuk

mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan

eksperimen. Quansi Ekxperimen digunakan karena pada kenyataannya sulit

mendapatkan kelompok control yang digunakan untuk penelitian.50

Desain penelitian yang digunakan adalah satu kelompok eksperimen

dengan pre-test dan post test (pretest-posttest control group design). Pada

desain ini, menggunakan satu kelompok eksperimen atau satu kelompok

kontrol. Kelompok eksperimen mendapatkan pre-test, perlakuan (treatment)

dengan pembelajaran dan setelah itu diberi post test. Kelompok kontrol

diberikan pre-test, perlakuan (treatment) dengan pembelajaran yang berbeda

dengan kelas eksperimen dan setelah itu diberi post test.

Desain penelitian dapat dilihat pada tabel diberikut ini:

49

Zainal Arifin, Penelitian Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), h. 74. 50

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R &

D, (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2009), h. 114

37

Table 3.1

Desain penelitian pre-test dan post test control group design

Kelas Pre-test Treatment Post-test

Eksperimen T1 XE T2

Kontrol T1 XK T2

Keterangan:

T1 = pre-test (tes hasil belajar sebelum mendapatkan perlakuan)

T2 = post test (tes hasil belajar sesudah men