Click here to load reader

Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe filepengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe nht berbantu media lks pada materi kubus dan balok terhadap hasil

  • View
    252

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe filepengaruh penggunaan model pembelajaran...

1

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE NHT BERBANTU MEDIA LKS PADA MATERI KUBUS DAN

BALOK TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII

SMP PANGUDI LUHUR SALATIGA

JURNAL

Disusun untuk memenuhi sebagian syarat memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi S1 Pendidikan Matematika

Oleh

SRI PURWANINGSIH

202012068

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

2016

2

3

4

5

6

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE

NHT BERBANTU MEDIA LKS PADA MATERI KUBUS DAN BALOK

TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII

SMP PANGUDI LUHUR SALATIGA

Sri Purwaningsih1, Helti Lygia Mampouw

2, Erlina Prihatnani

3

Pendidikan Matematika FKIP Universitas Kristen Satya Wacana

Jalan Diponegoro No 52-60 Salatiga 1Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP UKSW, e-mail : [email protected] 2Dosen Pendidikan Matematika FKIP UKSW, e-mail : [email protected] 3Dosen Pendidikan Matematika FKIP UKSW, e-mail : [email protected]

Abstrak

Penelitian eksperimen semu ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penggunaan

model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) berbantu media LKS pada

materi kubus dan balok terhadap hasil belajar siswa kelas VIII SMP Pangudi Luhur Salatiga. Populasi

penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII (82 Siswa). Pengambilan sampel dengan cluster random

sampling menghasilkan siswa kelas VIII B (28 siswa) sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII A (27

siswa) sebagai kelas kontrol. Desain penelitian ini menggunakan the randomized control group

pretest-posttest design. Teknik pengumpulan data dengan metode dokumentasi, penilaian LKS,

observasi, dan tes. Instrumen dari penelitian ini terdiri dari instrumen lembar penilaian LKS,

observasi guru, dan tes. Analisis data yang digunakan adalah uji normalitas dengan Shapiro-Wilk, uji

homogenitas dengan Levene, dan uji rerata dengan independent sample t-test. Uji independent sample

t-test menyimpulkan bahwa kondisi awal kedua kelompok sampel seimbang untuk tingkat signifikan

5%. Adapun kondisi akhir menghasilkan nilai signifikansi kurang dari 0,05 dengan nilai rata-rata

kelas eksperimen (82,04) lebih tinggi dari pada kelas kontrol (75,07), sehingga dapat disimpulkan

bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT

berbantu media LKS terhadap hasil belajar siswa kelas VIII SMP Pangudi Luhur Salatiga.

Kata Kunci: model pembelajaran kooperatif, number heads together, lembar kerja siswa, kubus

balokkubus, ka

PENDAHULUAN

Pembelajaran matematika adalah suatu pembelajaran yang penting dan harus dipelajari

pada setiap jenjang pendidikan formal mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan

menengah bahkan juga di beberapa jurusan dalam Perguruan Tinggi untuk membekali peserta

didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta

kemampuan bekerjasama (Samsarif, 2009). Tujuan pembelajaran matematika di sekolah

menurut Depdiknas (2004) adalah untuk melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik

kesimpulan; mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan

penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat

prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba; mengembangkan kemampuan pemecahan masalah;

mengembangkan kemampuan menyampaikan infomasi dan mengkomunikasikan gagasan.

mailto:[email protected]:[email protected]:[email protected]

7

Pentingnya matematika tidak selalu diikuti dengan ketertarikan siswa terhadap matematika.

Puspawati (2009) menyatakan ketidaktertarikan siswa pada matematika dikarenakan

matematika merupakan mata pelajaran yang paling sulit dibandingkan dengan mata pelajaran

yang lain.

Kesulitan yang dialami siswa tercermin dari hasil belajar matematika siswa. Djamarah

(2000) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan salah satu indikator tercapai atau tidaknya

tujuan pembelajaran. Hasil belajar adalah hasil dari suatu interaksi tindak belajar mengajar

dan biasanya ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan guru, tes tersebut misalnya ulangan

harian, tugas-tugas pekerjaan rumah, tes lisan yang dilakukan selama pembelajaran

berlangsung, tes akhir semester, dan sebagainya (Nasution, 2006). Selain itu, Tirtonegoro

(2001) mengatakan bahwa hasil belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang

dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan

hasil yang sudah dicapai oleh setiap siswa dalam periode tertentu.

Hasil studi Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 2011

menunjukkan bahwa penguasaan matematika siswa Indonesia berada pada peringkat 38 dari

42 Negara. Tidak jauh berbeda dari hasil TIMSS, hasil studi Programme for International

Student Assesment (PISA) pada tahun 2012 menunjukkan bahwa Indonesia berada pada

peringkat 64 dari 65 Negara (OECD PISA, 2014). Selain itu, berdasarkan data yang

dikeluarkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan, menunjukkan bahwa hasil UN untuk mata

pelajaran matematika tahun pelajaran 2014/2015 tingkat SMP/MTs di Kota Salatiga dengan

perolehan rata-rata (62,93) masih rendah dibanding mata pelajaran lain (Puspendik, 2015).

Hal ini mengindikasikan belum optimalnya hasil belajar matematika di Indonesia, khususnya

di Salatiga.

Hasil belajar siswa dapat dipengaruhi oleh model pembelajaran yang digunakan. Utami

(2012) mengungkapkan bahwa dalam memilih model pembelajaran, guru hendaknya memilih

model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif dalam

pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang menuntut siswa untuk berpartisipasi aktif

dalam pembelajaran adalah model Cooperative Learning.

Cooperative Learning merupakan model pembelajaran yang memberikan kesempatan

kepada siswa untuk berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok, peran guru dalam

model ini lebih sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan penghubung ke arah

pemahaman siswa yang lebih tinggi (Slavin, 2008). Johnson & Johnson (Trianto, 2010: 57)

mengemukakan bahwa tujuan pokok pembelajaran kooperatif adalah memaksimalkan belajar

siswa untuk meningkatkan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun

8

kelompok. Zamroni (Trianto,2010: 57) menyebutkan bahwa manfaat penerapan pembelajaran

kooperatif adalah dapat mengurangi kesenjangan pendidikan khususnya dalam wujud input

pada level individual, dan untuk mengembangkan solidaritas sosial di kalangan siswa.

Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah Numbered Heads Together (NHT).

NHT merupakan model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Spencer Kagan

dimana model pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk saling

membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang tepat (Lie, 2002). Selain itu,

Hamdani (2011) mengungkapkan bahwa NHT adalah metode belajar dengan cara setiap

siswa diberi nomor dan dibuat suatu kelompok, kemudian secara acak guru memanggil

nomor dari siswa. Adapun langkah-langkah model NHT menurut Lie (2002) adalah 1)

Penomoran; 2) Pengajuan pertanyaan; 3) Diskusi kelompok; 4) Pemanggilan nomor; 5)

Tanggapan dari teman; 5) Penarikan kesimpulan.

NHT dapat digunakan untuk mengecek pemahaman anak terhadap mata pelajaran

dengan cara melibatkan lebih banyak peserta didik menelaah materi yang tercakup sehingga

dapat meningkatkan penguasaan akademik dan kemampuan berpikir kritis. Kagan (Lie, 2002)

menyebutkan bahwa NHT memiliki kelebihan, antara lain dapat meningkatkan hasil belajar

siswa, memudahkan guru dalam pembagian tugas, siswa belajar melaksanakan tanggung

jawab pribadinya dalam saling terkaitan dengan rekan-rekan kelompoknya, kelas menjadi

lebih aktif, setiap siswa mendapat kesempatan untuk berekspresi dan mengeluarkan

pendapatnya, muncul jiwa kompetensi yang sehat, waktu untuk mengoreksi hasil kerja siswa

lebih efektif dan efisien. Terdapat beberapa penelitian yang telah menunjukkan bahwa NHT

lebih baik dari model pembelajaran lainnya diantaranya penelitian Margana (2010) dalam

pembelajaran matematika pada materi persamaan dan pertidaksamaan kuadrat bagi siswa

kelas X SMA, penelitian Risqi (2014) terhadap siswa kelas III SD dalam materi pecahan.

Kedua penelitian itu menunjukkan bahwa NHT menghasilkan hasil belajar lebih baik

dibandingkan model pembelajaran lainnya.

Selain penggunaan model pembelajaran yang tepat, hasil belajar juga dapat dipengaruhi

oleh media pembelajaran yang digunakan (Arsyad, 2010). Lebih lanjut, Arsyad menyatakan

bahwa dalam menyalurkan pesan, merangsang pikiran, perasaan dan kemampuan siswa

dibutuhkan media pembelajaran untuk mendorong terjadinya proses belajar mengajar yang

efektif dan efisien. Sejalan dengan hal tersebut, Utami (2012) menyatakan bahwa media

pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat

Search related