PENGARUH PEMBELAJARAN LINTAS BUDAYA TERHADAP KUALITAS PELAYANAN INDUSTRI PARIWISATA

  • View
    277

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

PENGARUH PEMBELAJARAN LINTAS BUDAYA TERHADAP KUALITAS PELAYANAN INDUSTRI PARIWISATAI Nengah Aristana oneman_onehero@yahoo.com nengah.aristana@triatma-mapindo.ac.idSEKOLAH TINGGI PARIWISATA TRIATMA JAYA 2011AbstrakDalam pembelajaran kooperatif bertujuan agar maha siswa memahami pengaruh pembelajaran lintas budaya dengan baik karena. Dengan pemberlajaran lintas budaya yang didapatkan mahasiswa dan calon tenga kerja yang akan memasuki industri pariwisata diharapkan dapat meningkatkan kualit

Text of PENGARUH PEMBELAJARAN LINTAS BUDAYA TERHADAP KUALITAS PELAYANAN INDUSTRI PARIWISATA

PENGARUH PEMBELAJARAN LINTAS BUDAYA TERHADAP KUALITAS PELAYANAN INDUSTRI PARIWISATA

I Nengah Aristana oneman_onehero@yahoo.com nengah.aristana@triatma-mapindo.ac.id

SEKOLAH TINGGI PARIWISATA TRIATMA JAYA 2011

AbstrakDalam pembelajaran kooperatif bertujuan agar maha siswa memahami pengaruh pembelajaran lintas budaya dengan baik karena. Dengan pemberlajaran lintas budaya yang didapatkan mahasiswa dan calon tenga kerja yang akan memasuki industri pariwisata diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan yang akan diberikan kepada wisatawan. Dari hasil pembahasan yang dilakukan ditemukan berapa erat hubungan atau pengaruh antara pembelajaran lintas budaya terhadap kualitas pelayanan dalam industri pariwisata. Maka tujuan dari tulisan ini diharapkan mampu memberikan masukan untuk institusi agar labih menekankan seberapa pentingnya hal-hal yang berhubungan dengan wisatawan seperti: kebiasaan, budaya, social, dan prilaku dari wisatawa itu sendiri. Dengan demikian para lulusan yang nantinya akan menjadi calon tenaga kerja agar lebih siap dan matang dalam menghadapi dunia kerja dalam hal ini Industri Pariwisata itu sediri. Key word: Lintas Budaya dan Kualitas Budaya.

ABSTRACTThe aims of cooperative learning is the student can compehend the influence of cross cultural learning well. By cross cultural learning which is gotten by the student and the candidate of the employee entering tourism industry is hoped can increase the quality of service given to the tourist. From the discussion conducted it is found a tight relationship / connection between cross cultural learning towards the quality of service in tourism industry. From this uniting, it is hoped that this uniting can give suggestion for institution in or den to emphasize how important the things which are connected / associate with tourism such as habit, culture, social and the attitude from the tourist themselves. So the graduation of the candidates of employee are more ready and well prepared in in facing the jobs opportunity in this case the tourism itself.

Key word: cross cultural and Cultures Quality

1. 1. Latar Belakang Pariwisata adalah kegiatan dinamis manusia dalam mengisi waktu luangnya dengan hal-hal yang menyenangkan termasuk berwisata dengan motivasi kultural. Saat berwisata, wisatawan tentunya ingin dilayani untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Mereka melakukan kontak sosial terutama dengan tuan rumah dan penyedia jasa. Interaksi sosial dan multikulturalisme menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari dan lintas budaya pun menjadi kondisi yang tidak bisa dipungkiri apalagi dengan pergerakan kegiatan wisata yang mengarah pada globalisasi maka lintas budaya pasti akan terjadi. Institusi dan perusahaan di industri pariwisata berusaha untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan wisatawan terutama dalam hal kesiapan tenaga kerjanya untuk memberikan pelayanan sebaik mungkin. Namun yang sering terjadi, institusi dan perusahaan di industri pariwisata secara intensif melatih keterampilan mahasiswa dan karyawan. Materi pembelajaran yang mengasah kemampuan mahasiswa dan karyawan dirancang sedemikian rupa agar menghasilkan lulusan yang kompeten, namun seringkali terlupakan, bahwa pelayanan kepada wisatawan tidak hanya membutuhkan kemahiran tetapi juga membutuhkan kepekaan dan pemahaman psikologis wisatawan melalui pemahaman lintas budaya. Hasilnya, mereka adalah personil siap kerja

tetapi tidak siap berinteraksi dengan wisatawan karena mereka tidak memahami bentuk karakteristik wisatawan. Semangat lintas budaya dengan dasar saling memahami di atas merupakan proses terus-menerus, bukan proses sekali jadi dan sesudah itu berhenti. Di sinilah setiap mahasiswa dan karyawan yang akan terjun di industri pariwisata dituntut untuk belajar terus-menerus atau belajar berkelanjutan. Proses pembelajaran lintas budaya harus terus-menerus dan berkesinambungan dilakukan. Bertolak belakang dari kondisi tersebut, maka penulisan ini mengambil topik Pengaruh Pembelajaran Lintas Budaya Terhadap Kualitas Pelayanan Dalam Industri Pariwisata. 1.2. Rumusan Masalah Penulisan ini mengungkap jawaban dari pertanyaan berikut:a. Apa manfaat pembelajaran lintas budaya bagi mahasiswa dan calon tenaga

kerja di industry pariwisata?b. Bagaimana proses pembelajaran yang menarik sehingga semangat lintas

budaya dapat dengan mudah diterima oleh mahasiswa dan calon tenaga kerja yang akan terjun di industri pariwisata? 1.3. Tujuan Penulisan Penulisan bertujuan untuk:a. Mengenalkan manfaat pembelajaran lintas budaya bagi mahasiswa dan calon tenaga

kerja di industri pariwisata.

b. Mengetahui proses pembelajaran yang menarik sehingga semangat lintas budaya

dapat dengan mudah diterima oleh mahasiswa dan calon tenaga kerja yang akan memasuki industri pariwisata 1.4. Ruang Lingkup Penelitian ini mengulas tentang pelaksanaan pembelajaran lintas budaya dalam kepariwisataan yang dilakukan pada institusi pendidikan dan pelatihan yaitu Sekolah Tinggi Pariwisata Triatma Jaya. Kajian Teori 2.1. Pembelajaran Pembelajaran adalah proses interaksi antara murid atau siswa atau peserta didik dengan pendidik dimana mereka memiliki sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pembelajaran, peserta diberi pelajaran bukan sekedar menguasai isi pelajaran tetapi juga mencapai sesuatu tujuan yang ditentukan (aspek kognitif), mengalami perubahan sikap (aspek afektif), serta peningkatan keterampilan (aspek psikomotor). Pembelajaran mengutamakan

adanya interaksi antara sumber belajar dengan peserta. Pembelajaran merupakan suatu proses proses terus-menerus, bukan proses sekali jadi dan sesudah itu berhenti. Perkembangan jaman menuntut untuk belajar terusmenerus atau belajar berkelanjutan agar tujuan pembelajaran dapat berkembang dan terpelihara dengan baik. 2.2. Pariwisata Pariwisata adalah fenomena yang unik dimana wisata menjadi intinya. Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagai dari kegiatan tersebut yang dilakukan oleh wisatawan (sebutan bagi orang yang melakukan kegiatan tersebut) secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata Pariwisata merupaka segala sesuatu yang berhubungan dengan pengusahaan obyek dan daya tarik wisata serta usaha-usahanya yang terkait dibidang tersebut yang pada pada dasarnya mengandung beberapa unsur yaitu: a. Manusia, baik sebagai pelaku maupun sebagai penyedia jasa. b. Kegiatan dengan beragam tujuan atau motivasi perjalanan. c. Interaksi antara wisatawan dengan wisatawan, wisatawan dengan tuan rumah, dan wisatawan dengan penyedia jasa. Kepergian setiap wisatawan ke destinasi wisata di luar tempat tinggalnya menyebabkan mereka bertemu dengan orang-orang dari budaya yang berbeda sehingga dipastikan dalam pariwisata terjadi multikulturalisme dan lintas budaya.

2.3. Lintas Budaya Lintas budaya terjadi ketika manusia dengan budayanya berhubungan dengan manusia lain yang berasal dari budaya berbeda, berinteraksi dan bahkan saling mempengaruhi. Lintas budaya adalah istilah yang sering digunakan untuk menjabarkan situasi ketika sebuah budaya berinteraksi dengan budaya lain dan keduanya saling memberikan pengaruh dan dampak baik positif maupun negatif, seperti yang terjadi dalam setiap kegiatan wisata, dimana wisatawan dipastikan melakukan interaksi dan memberikan dampak baik positif maupun negatif kepada masyarakat setempat. Perbedaan budaya timbul karena sifatnya dinamis dan berevolusi sehingga perlu beragam pendekatan untuk memahami kebudayaan seperti dengan berasimilasi, melakukan integrasi dan menyadari lintas budaya. Lintas Budaya menciptakan nilai untuk menentukan mana yang tepat dan mana yang dapat diterima oleh budaya lain. Lintas budaya membuat manusia dapat berkomunikasi dengan baik dan pada akhirnya, lintas budaya dapat mempererat manusia dengan manusia lain dan memberikan keunikan pada diri manusia dan masyarakat. Dengan saling berbagi pengalaman dan pengetahuan, manusia dan manusia lain berupa untuk saling memahami dan melengkapi sehingga terciptakan perdamaian dan harmonisasi kehidupan melalui lintas budaya. 2.4. Pembelajaran lintas budaya

Pemahaman tentang lintas budaya sudah merupakan hal yang penting untuk dapat menciptakan harmonisasi bermasyarakat dan perlu dilakukan terusmenerus dan berkesinambungan. Pengetahuan tentang lintas budaya berguna meningkatkan kemampuan mengenal perbedaan antar budaya dan kemampuan belajar hidup bersama di tengah perbedaan dapat dibentuk, dipupuk, serta dikembangkan dengan beragam kegiatan, keberanian, dan kegemaran seperti perantauan budaya, kesadaran lintas budaya dan pembelajaran lintas budaya. Lintas budaya dapat dipelajari melalui pendidikan dalam keluarga, sosialisasi nilai-nilai dalam masyarakat baik melalui pergaulan sosial maupun media, dan melalui pembelajaran multikultur, yaitu pembelajaran yang dapat menfasilitasi peserta dalam memahami materi pembelajaran tanpa adanya kendala perbedaan latar belakang cultural (Bryant dalam Mendatu, 1996) dan pemahaman akan keberagaman dan penghargaan akan perbedaan, serta bagaimana bersikap dan bertindak dalam situasi multietnikmultikultur (Matsumoto dalam Mendatu, 1996). Metodelogi Populasi dan Sampel Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa STIPAR Triatma Jaya yang telah menempuh praktek kerja industri. Jumlah populasi yang digunakan sebanyak 40 orang mahasiswa yang terdiri dari 16 mahasiswa laki-laki d