Click here to load reader

Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT ... · PDF file1 pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe tgt berkolaborasi nht terhadap hasil belajar matematika siswa kelas xi

  • View
    295

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT ... · PDF file1 pengaruh model pembelajaran...

1

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT

BERKOLABORASI NHT TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA

SISWA KELAS XI MIA SMA ISLAM SUDIRMAN AMBARAWA

JURNAL

Disusun Untuk Memenuhi Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi S1 Pendidikan Matematika

Oleh

WIDIYA ASTUTI

202012074

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

2016

2

3

4

5

6

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT

BERKOLABORASI NHT TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA

SISWA KELAS XI MIA SMA ISLAM SUDIRMAN AMBARAWA

Widiya Astuti1

Erlina Prihatnani2

Tri Nova Hasti Yunianta3

Pendidikan Matematika FKIP Universitas Kristen Satya Wacana

Jl. Diponegoro 52 60 Salatiga, Jawa Tengah 50711 1Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP UKSW, e-mail : [email protected]

2Dosen Pendidikan Matematika FKIP UKSW, e-mail : [email protected]

3Dosen Pendidikan Matematika FKIP UKSW, e-mail : [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TGT

berkolaborasi NHT terhadap hasil belajar matematika dalam materi peluang. Jenis penelitian ini merupakan

penelitian eksperimen semu dengan desain the randomize control group pretest-posttest design. Populasi

dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XI MIA SMA Islam Sudirman Ambarawa Semester 2 Tahun

Pelajaran 2015/2016. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling dan diperoleh

siswa kelas XI MIA 3 (kelas eksperimen) yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT

berkolaborasi NHT dan siswa kelas XI MIA 2 (kelas pembanding) yang diajar dengan model pembelajaran

kooperatif tipe TGT yang masing-masing terdiri dari 32 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian

ini adalah posttest untuk mengukur hasil belajar matematika siswa. Uji coba validasi instrumen tes meliputi

validasi ahli, validitas butir soal, dan reliabilitas instrumen. Analisis data terdiri dari uji normalitas dengan

uji kolmogorov-smirnov, uji homogenitas dengan uji Levene dan uji beda rerata dengan independent sample

t-test. Semua uji dilakukan pada taraf signifikansi 5% dengan alat bantu perhitungan software SPSS 16.0 for

windows. Uji beda rerata untuk data pretest menghasilkan signifikansi sebesar 0,756 (lebih dari 0,05),

artinya kondisi kemampuan awal kedua kelas seimbang. Adapun analisis data posttest menghasilkan nilai

rata-rata kelas eksperimen (67,00) lebih tinggi dari kelas pembanding (47,53) dengan hasil uji beda rerata

menghasilkan nilai signifikansi mendekati nol yang kurang dari 0,05. Hal ini berarti hasil belajar siswa yang

dikenai model pembelajaran kooperatif tipe TGT berkolaborasi NHT secara signifikan lebih baik, sehingga

dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TGT berkolaborasi NHT

terhadap hasil belajar matematika bagi siswa kelas XI MIA SMA Islam Sudirman Ambarawa.

Kata Kunci : teams games tournament (tgt), numbered head together (nht), hasil belajar, peluang

PENDAHULUAN

Matematika mempunyai peran yang sangat penting baik dalam kehidupan sehari-hari maupun

dalam pengembangan ilmu pengetahuan lain. Tanpa mengesampingkan pentingnya disiplin ilmu

lain, matematika memberikan sumbangan langsung dan mendasar terhadap bidang ekonomi,

kesehatan, pendidikan, pertahanan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan lain-lain. Diperlukan

penguasaan matematika yang kuat guna menguasai dan memanfaatkan teknologi di masa depan

(Mulbar, 2012).

Menurut Bruner (Dahar, 2011:79), siswa dalam belajar matematika hendaknya berpartisipasi

secara aktif dengan konsep dan prinsip-prinsip untuk memperoleh pengalaman dan melakukan

eksperimen-eksperimen. Sejalan dengan itu, Cobb (Suherman, 2003:71) menyebutkan bahwa dalam

mailto:[email protected]:[email protected]:[email protected]

7

belajar matematika, siswa dituntut untuk terlibat aktif dalam mengkonstruksi pengetahuan

matematika. Tujuan pembelajaran matematika adalah untuk membekali peserta didik dengan

kemampuan berfikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif serta kemampuan bekerjasama

(Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006).

Pemerintah telah merumuskan standar minimum suatu proses pembelajaran. Standar ini juga

harus digunakan dalam pembelajaran matematika agar tujuan pembelajaran matematika dapat

tercapai. Standar proses minimum tersebut tercantum dalam Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013.

Peraturan tersebut menyebutkan bahwa pembelajaran (matematika) hendaknya diselenggarakan

sesuai dengan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, serta penilaian proses

pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan. Akan

tetapi tidak semua pembelajaran telah berjalan seperti yang diharapkan.Masih terdapat

pembelajaran matematika yang berfokus pada guru dan tidak memberi ruang siswa untuk aktif

(Sari, 2013).

Guru hendaknya menerapkan model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk dapat

berpartisipasi aktif dalam pembelajaran matematika. Salah satu model pembelajaran yang memberi

kesempatan siswa untuk aktif dalam pembelajaran adalah model pembelajaran kooperatif. Model ini

menuntut siswa untuk bekerja sama dalam belajar dan bertanggung jawab terhadap teman satu

timnya. Proses ini menjadikan siswa lebih aktif dan guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Model

pembelajaran kooperatif menurut Slavin (2005: 4) adalah strategi pembelajaran yang mendorong

siswa bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas

atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama. Pembelajaran kooperatif menurut

Jhonson dalam Huda (2011: 31) adalah working together to accomplish shared goal, artinya

pembelajaran dengan cara bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Meskipun demikian, proses

ini bukan merupakan proses yang mudah dilakukan di kelas.

Salah satu kendala untuk mewujudkan kerja kelompok yang bagus adalah sulitnya guru untuk

memberi dorongan kepada siswa yang mempunyai kemampuan lebih untuk bersedia membantu

teman yang kurang menguasai materi dan mengatasi keengganan atau ketidakmauan siswa yang

kesulitan untuk bertanya. Salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang dapat meminimalisasi

kelemahan ini adalah Teams Games Tournament (TGT).

Pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mudah

diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran

siswa sebagai tutor sebaya dengan adanya reinforcement (bertukar informasi) di dalam kelompok

serta mengandung permainan, dimana dalam permainan tersebut terdapat persaingan individu

dengan kemampuan yang setara dalam turnamen (Slavin, 2005). Menurut Slavin (2005: 166),

8

Suprijono (2009: 65), dan Trianto (2010: 84) terdapat lima tahap dalam TGT, yaitu tahap presentasi

di kelas, tahap tim, tahap game, tahap turnamen, dan tahap penghargaan kelompok.

Tahap presentasi di kelas adalah tahap dimana guru menyampaikan materi dalam penyajian

kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, dan diskusi yang

dipimpin guru. Tahap tim adalah tahap dimana masing-masing kelompok mengerjakan soal dan

memastikan semua anggota kelompok benar-benar belajar. Satu kelompok terdiri dari siswa-siswa

dengan kemampuan yang berbeda (heterogen). Tahap game adalah tahap dimana dari masing-

masing kelompok adu cepat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari guru untuk mendapatkan poin

kelompok. Tahap turnamen adalah tahap dimana dari masing-masing anggota kelompok akan

bertanding dengan anggota kelompok lain yang memiliki kemampuan homogen untuk

memperebutkan poin yang akan dibawa kepada kelompoknya. Tahap penghargaan kelompok

adalah tahap pemberian penghargaan kelompok kepada kelompok yang memiliki poin tertinggi

(hasil poin di game dan turnamen).

Salah satu kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah pengelompokan siswa

yang dilakukan secara heterogen sehingga besar kemungkinan pada masing-masing kelompok

terdapat siswa yang mendominasi. Hal ini memang berdampak baik pada tahap tim, namun pada

game dominasi siswa tertentu dalam menjawab pertanyaan yang diberikan akan membuat anggota

lainnya tidak berperan aktif dan hanya bergantung pada siswa tersebut. Oleh karena itu, muncul ide

untuk menggabungkan TGT dengan model pembelajaran lain yang dapat mengatasi kelemahan ini.

Model yang dapat digunakan adalah model yang memberikan peluang yang sama kepada setiap

siswa untuk menjawab pertanyaan yang diajukan sehingga tidak ada dominasi siswa tertentu dalam

mewakili kelompoknya. Salah satu model yang memenuhi kriteria tersebut adalah Numbered Head

Together (NHT).

Adapun langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe NHT menurut Slavin (2005:

256), Suprijono (2009: 92), Kosasih (2010: 61), dan Trianto (2010: 63) adalah: 1) Penomor

Search related