101
PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA INDONESIA TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA DI KELAS VIII SMP NEGERI 31 MAKASSAR OLEH ROSMAWATI 04.07.824.2012 PROGRAM PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2014

PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

  • Upload
    others

  • View
    14

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA INDONESIA TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA

INDONESIA DI KELAS VIII SMP NEGERI 31 MAKASSAR

OLEH

ROSMAWATI 04.07.824.2012

PROGRAM PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2014

Page 2: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

ABSTRAK ROSMAWATI, 2014. Pengaruh Kompetensi Kepribadian dan Sosial Guru Bahasa Indonesia terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia di Kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar (Dibimbing oleh M. Ide Said DM dan Irwan Akib).

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh kompetensi kepribadian guru terhadap hasil belajar bahasa Indonesia di kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar, dan (2) mengetahui pengaruh kompetensi sosial guru terhadap hasil belajar bahasa Indonesia di kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar.

Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan angket tentang kompetensi kepribadian guru, dan kompetensi sosial guru, serta dokumen dari nilai hasil belajar siswa yang diolah dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar yang berjumlah 230 orang, sedangkan sampel yang diambil sebanyak 70 orang melalui rumus Slovin. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh positif dan signifikan kompetensi kepribadian guru terhadap hasil belajar bahasa Indonesia di kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar dengan nilai t hitung dan (1,673 >1,995 ) nilai P = (0,050 > ,0,012) ߙ dan (2) terdapat pengaruh positif dan signifikan kompetensi sosial guru terhadap hasil belajar bahasa Indonesia di kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar dengan nilai t hitung (2,466 > 1,995) dan nilai P =( 0,016 < 0,05). Kata kunci: Kompetensi kepribadian guru, kompetensi sosial guru, hasil

belajar siswa.

Page 3: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

ABSTRACT

Rosmawati, 2014, The Influence of Personality and Social Competence of Indonesian Teachers towards the Indonesian Learning Outcomes in the eighth Grade of Junior High School 31 Makassar, (guided by H. M Ide Said DM, and Irwan Akib)

This study aims (1) to determine the effect of personal competence of teachers on learning outcomes of Indonesian language in the eighth grade of Junior High School 31 Makassar, and (2) to determine the effect of the social competence of teachers on learning outcomes in the eighth grade of Indonesian Junior High School 31 Makassar.

Data analysis techniques in this study using a questionnaire about teachers' personal competence and social competence, as well as documents from the value of student learning outcomes were processed using multiple linear regressive analysis.

The population of this research is the eighth grade students of SMP Negeri 31 Makassar, amounting to 230 people, while the sample taken 70 people through Slovin formula.

The analysis showed that: (1) there is a positive and significant impact on the teachers' personal competence on learning outcomes of Indonesian language in eighth grade of junior high school 31, Makassar by t-test value of 2.593 and P = 0.012, and (2) there is a positive and significant impact of teacher's social competence on learning outcomes of Indonesian language at eighth gra^lrTjunior High School 31, Makassar by t-test value of 2.466 and P = 0.016.

Page 4: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah swt. atas segala rahmat dan

hidayah-Nya yang dilimpahkan kepada penulis sehingga dapat

menyelesaikan tesis ini, guna memenuhi salah satu syarat untuk

memperoleh gelar Magister Pendidikan pada Program Studi Pendidikan

Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah

Makassar.

Penyusunan tesis ini tidak terlepas dari berbagai kendala dan

hambatan, tetapi berkat rahmat Allah swt. segala sesuatu dapat diatasi

dengan baik. Semuanya tidak terlepas dari bantuan yang sangat berharga

dari berbagai pihak sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu,

penulis mengucapkan rasa syukur, terima kasih serta penghargaan yang

tak terhingga kepada semua pihak yang telah membimbing dan

membantu penulis.

Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus penulis sampaikan

kepada Prof. Dr. H. M. Ide Said DM., M.Pd., Direktur Program

Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar sekaligus

pembimbing I.

Dr. H. Irwan Akib, M.Pd., Rektor Universitas Muhammadiyah

Makassar sekaligus pembimbing II, Dr. Abd. Rahman Rahim, M.Hum.,

Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia atas segala arahan

dan bimbingan yang diberikan sejak masa perkuliahan sampai pada

proses penyelesaian tesis ini.

Page 5: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

Terima kasih kepada seluruh keluarga dan kerabat yang telah

membantu, khususnya kepada kedua orang tua tercinta, kepada saudara-

saudara penulis yang tidak hentinya memberi motivasi dan mendukung

penulis selama menempuh pendidikan. Kawan-kawan seperjuangan,

mahasiswa S-2 Pendidikan Bahasa Indonesia Angkatan 2012 atas kerja

sama dan perhatiannya, penulis ucapkan terima kasih.

Penulis menyadari bahwa meskipun tesis ini telah dibuat dengan

usaha yang maksimal, masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kritik

dan saran untuk penyempurnaan tesis ini senantiasa penulis harapkan.

Penulis mengharapkan tesis yang sederhana ini dapat memberikan

manfaat bagi pengembangan pembelajaran bahasa Indonesia. Amin.

Makassar, Oktober 2014

Penulis,

Page 6: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................................................ i

HALAMAN PENGESAHAN ............................................................... ii

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ........................................ iii

ABSTRAK ......................................................................................... iv

ABSTRACT ....................................................................................... v

KATA PENGANTAR ......................................................................... vi

DAFTAR ISI ...................................................................................... viii

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah ......................................................... 1

B. Rumusan Masalah ................................................................. 9

C. Tujuan Penelitian .................................................................... 9

D. Manfaat Penelitian .................................................................. 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR .................... 15

A. Tinjauan Pustaka .................................................................... 15

1. Pengertian tentang Kompetensi Kepribadian, Sosial, dan Profesional Guru .............................................................. 16

2. Fungsi-Fungsi Kompetensi Kepribadian, Sosial, dan Profesional Guru ............................................................... 44

3. Pengelolaan Kelas ............................................................ 51

4. Ruang Lingkup Kompetensi Kepribadian dan Sosial Guru 52

B. Kerangka Pikir ........................................................................ 59

C. Hipotesis ................................................................................ 60

Page 7: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

BAB III METODE PENELITIAN ......................................................... 62

A. Variabel dan Desain Penelitian .............................................. 62

1. Variabel Penelitian ............................................................ 62

2. Desain Penelitian .............................................................. 62

B. Definisi Operasional Variabel ................................................. 63

C. Populasi dan Sampel ............................................................. 64

1. Populasi ............................................................................ 64

2. Sampel .............................................................................. 64

D. Instrumen Penelitian ............................................................... 65

E. Teknik Pengumpulan Data ..................................................... 66

F. Teknik Analisis Data ............................................................... 66

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................... 68

A. Hasil Penelitian ....................................................................... 68

1. Deskripsi Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar ................................................. 68

2. Deskripsi Responden berdasarkan Jenis Kelamin ............ 68

B. Analisis Deskriptif Variabel Penelitian dan Indikatornya ......... 72

1. Deskripsi Variabel Kompetensi Kepribadian Guru ............ 73

2. Deskripsi Variabel Kompetensi Sosial Guru ..................... 76

3. Analisis Regresi Berganda ................................................ 78

C. Pembahasan .......................................................................... 81

1. Pengaruh Kompetensi Kepribadian Guru terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa ....................................... 81

2. Pengaruh Kompetensi Sosial Guru terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa ................................................... 83

Page 8: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 87

A. Simpulan ................................................................................ 87

B. Saran ...................................................................................... 87

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... 89

LAMPIRAN ........................................................................................ 90 RIWAYAT HIDUP

Page 9: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

NILAI HASIL BELAJAR SISWA

No Nis JK Nilai 1 012910 L 82 2 012913 L 74 3 012922 L 94 4 012923 L 89 5 012925 L 90 6 012928 P 96 7 012931 P 84 8 012933 P 88 9 012935 P 82

10 012938 P 87 11 012927 L 76 12 012948 L 91 13 012950 L 88 14 012952 L 78 15 012954 L 84 16 0121128 P 83 17 01121139 P 85 18 012964 P 93 19 012965 P 89 20 012970 P 82 21 012960 L 76 22 01287 L 84 23 012990 L 74 24 012991 L 81 25 012993 L 77 26 012974 P 89 27 012976 P 85 28 012977 P 85

Page 10: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

No Nis JK Nilai 29 0121003 P 84 30 012962 L 87 31 0121000 L 78 32 0121001 L 80 33 0121019 L 80 34 0121021 L 80 35 0121022 L 75 36 0121010 P 84 37 0121911 P 85 38 0121014 P 95 39 0121015 P 84 40 0121043 P 82 41 0121029 L 78 42 0121031 L 80 43 0121035 L 79 44 0121059 L 76 45 0121044 P 83 46 0121045 P 80 47 0121046 P 82 48 0121054 P 84 49 0121074 P 82 50 01211144 P 84 51 0121066 L 76 52 0121068 L 77 53 0121073 L 76 54 0121077 P 80 55 0121079 P 89 56 0121083 P 82 57 0121083 P 82 58 0121089 P 88

Page 11: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

No Nis JK Nilai 59 0121113 P 79 60 0131381 P 79 61 0121093 P 75 62 0121100 L 77 63 0121101 L 80 64 0121102 L 79 65 0121116 P 79 66 0121118 P 80 67 0121119 P 81 68 01211120 P 84 69 0121122 P 83 70 0121123 P 85

Page 12: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masyarakat Indonesia saat ini berada di era reformasi. Era reformasi

adalah era baru setelah era orde baru. Era reformasi ditandai dengan

pelaksanaan hak asasi manusia secara utuh, dalam arti semua hak-hak

manusia dihargai dan dijunjung tinggi dengan memperhatikan hak-hak

orang lain. Namun hal ini disalah-artikan dalam pelaksanaannya. Hak-hak

seseorang diminta untuk dihargai dengan sebebas-bebasnya tanpa

memperhatikan hak-hak orang lain serta norma dan aturan yang berlaku.

Akibatnya, banyak terjadi masalah-masalah sosial di masyarakat. Sebagai

contoh adalah adanya tindak kekerasan yang terjadi di mana-mana,

tawuran antar-pelajar, kurangnya rasa hormat dan sopan santun kepada

orang yang lebih tua dan lain-lain.

Predikat guru pada zaman lampau merupakan predikat yang sangat

terhormat, baik di tengah-tengah masyarakat pendidikan maupun

masyarakat umum. Karena guru adalah gudangnya ilmu, figur kebajikan,

suri teladan, masagi dalam segala hal, dan pantas untuk ditiru. Seiring

dengan perubahan zaman, predikat guru kian lama kian memudar. Kata

“guru” terdengar tawar dan punya konotasi miskin. Kini guru bukan lagi

“ratu”, akan tetapi manusia biasa seperti pada umumnya manusia. Karena

guru seperti halnya manusia lain yang tidak luput dari kesalahan,

kekurangan, kelemahan yang manusiawi. “Guru juga manusia” dan itulah

1

Page 13: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

2

sebuah apologi yang senantiasa diungkapkan oleh guru manakala

terancam kredibilitasnya. Kemudian timbul pertanyaan, apakah tidak bisa

seperti guru dahulu? Puaskah jika selamanya mengharapkan

pemakluman dari masyarakat tentang lemahnya sebagai manusia?

Kenapa guru bisa? (Syarbini, 2012: 31-32).

Purwanto (1990: 2) mengemukakan bahwa persoalan guru di

Indonesia adalah masalah kualifikasi yang rendah, pembinaan yang

terpusat, perlindungan profesi yang belum memadai dan penyebarannya

yang tidak merata sehingga menyebabkan kekurangan guru di beberapa

daerah. Semua persoalan guru tersebut timbul oleh karena adanya

beberapa sebab dan masing-masing saling mempengaruhi.

Salah satu permasalahan pendidikan di Indonesia adalah

ketidakmampuan sumber daya manusia untuk cepat melakukan

penyesuaian terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Masalah pendidikan senantiasa muncul karena adanya tuntutan agar

institusi pendidikan termasuk guru menyesuaikan dengan segala

perkembangan yang ada dalam masyarakat. Selanjutnya, dikatakan pula

oleh Bafadal (2003: 20) bahwa idealnya guru yang didambakan adalah

guru yang memiliki kemampuan mewujudkan kinerja yang dapat

mengimplementasikan fungsi dan peranannya secara optimal melalui

keunggulan dalam mengajar, hubungan dengan siswa, hubungan sesama

guru, pihak lain, sikap, dan keterampilan profesionalnya yang dapat

terwujud apabila didukung kompetensi intelektual, sosial pribadi, moral,

spiritual, dan fisik.

Page 14: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

3

Nurdin dalam (Getteng, 2011: 2) mengatakan bahwa guru sebagai

salah satu komponen dalam kegiatan pembelajaran (KBM) memiliki

kompetensi yang sangat menentukan keberhasilan pembelajaran, karena

fungsi utama guru ialah merancang, mengelola, melaksanakan, dan

mengevaluasi pembelajaran. Kedudukan guru dalam kegiatan

pembelajaran juga sangat strategis dan menentukan. Pendidikan guru

strategis karena guru yang memiliki dan memilih bahan pelajaran yang

akan diajarkan kepada peserta didik. Salah satu faktor yang

mempengaruhi keberhasilan tugas guru ialah kinerja dalam merancang,

melaksanakan dan mengevaluasi proses pembelajaran.

Guru harus memiliki standar kompetensi, sehingga dalam mengajar

melakukan pengembangan silabus yang menjadi persiapan pengajaran

yang implementatif dengan kemampuan komprehensip yang dapat

menghantarkan guru menjadi tenaga profesional, sehingga mewujudkan

mutu yang berkualitas (Majid, 2011:4).

Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan penting dalam

pendidikan formal pada umumnya karena bagi peserta didik guru sering

dijadikan tokoh teladan, bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. Oleh

karena itu, guru seyogyanya memiliki perilaku yang kompetensi yang

memadai untuk mengembangkan peserta didik secara utuh. Untuk

melaksanakan tugasnya secara baik sesuai dengan profesi yang

dimilikinya, guru perlu menguasai berbagai hal terutama kompetensi

kepribadian, sosial, dan profesional.

Page 15: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

4

Kompetensi berasal dari bahasa Inggris competency yang berarti

kecakapan, kemampuan dan wewenang. Seseorang dinyatakan

kompeten di bidang tertentu jika menguasai kecakapan bekerja pada satu

bidang tertentu. Menurut Nana Syaodih (2005) kompetensi adalah

performan yang mengarah kepada pencapaian tujuan secara tuntas

menuju kondisi yang diinginkan.

Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial merupakan

kecakapan yang harus dimiliki oleh seorang guru bahasa Indonesia dalam

menjalankan profesinya di masyarakat baik sebagai pribadi maupun

sebagai anggota masyarakat, kompetensi profesional menyiratkan adanya

suatu keharusan memiliki kompetensi agar profesi itu berfungsi dengan

sebaik-baiknya.

Terdapat empat keterampilan berbahasa yang harus dikuasai

seseorang, baik siswa atau guru dalam kehidupan proses belajar

mengajar maupun dalam kehidupan sehari-harinya. Keempat

keterampilan tersebut adalah keterampilan menyimak, berbicara,

membaca, dan menulis. Keempat aspek keterampilan berbahasa tersebut

menjadi landasan pembelajaran sejak SD hingga perguruan tinggi. Setiap

pebelajar diberdayakan kompetensinya untuk menguasai keempat aspek

tersebut (meskipun sulit mencari orang yang menguasai keempatnya).

Guru bahasa Indonesia dalam mengajarkan pelajaran bahasa

Indonesia, mengharuskan siswanya menguasai keterampilan berbahasa

dimulai dari mendengarkan, kemudian berbicara, lalu membaca kemudian

Page 16: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

5

menulis atau mengarang. Tahapan awal yang sederhana adalah

mendengarkan, berbicara, selanjutnya tahapan yang setingkat lebih tinggi

adalah membaca, dan yang paling rumit adalah menulis atau mengarang

dalam bentuk tulis. Keterampilan berbahasa hanya dapat diperoleh dan

dikuasai dengan jalan praktik atau banyak berlatih (Tarigan, 2008: 2).

Membaca adalah kegiatan interaktif. Keterlibatan pembaca dengan

teks tergantung pada konteks. Orang yang senang membaca suatu teks

yang bermanfaat, akan menemui beberapa tujuan yang ingin dicapainya,

teks yang dibaca seseorang harus mudah dipahami sehingga terjadi

interaksi antara pembaca dan teks. Selain itu, Oka (2010: 21)

berpendapat bahwa membaca adalah proses pengolahan bacaan secara

kritis-kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang

bersifat menyeluruh tentang bacaan itu, dan penilaian terhadap keadaan,

nilai, fungsi, dan dampak bacaan itu.

Menulis adalah rangkaian proses berpikir. Proses berpikir berkaitan

erat dengan kegiatan penalaran. Penalaran yang baik dapat menghasilkan

tulisan yang baik pula. Bahkan, tanpa penalaran tidak akan ada

pengetahuan yang benar. Salah satu substansi menulis adalah penalaran"

yang baik. Hal ini berarti untuk menghasilkan simpulan yang benar harus

dilakukan penalaran secara cermat dengan berdasarkan pikiran yang

logis. Penalaran yang salah akan menuntun kepada simpulan yang salah.

Standar kompetensi menulis yang menarik tersebut adalah menulis

pengalaman dalam bentuk cerpen. Cerpen adalah cerita prosa yang fiktif

Page 17: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

6

dengan mempunyai panjang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak

serta adegan kehidupan nyata yang refresentatif dalam suatu keadaan

yang agak kacau atau kusut. Cerpen adalah sebuah karya sastra, namun

dalam memahaminya secara mendalam kita tidak boleh berhenti pada

penguraiannya, pengertiannya akan tetapi hendaknya selalu didasari

bahwa terciptanya sebuah cerpen ada yang melatarbelakangi dan

mempunyai ciri khas tersendiri yang menjadi ukuran atau standar diterima

atau tidaknya sebuah cerpen yang benar-benar bernilai sastra.

Sejak dikeluarkannya Undang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003

serta Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Indonesia Nomor 19 Tahun

2005 pendidikan di Indonesia mengalami perubahan yang sangat

mendasar. Mengapa arah pendidikan berubah secara mendasar, karena

yang menjadi ujung tombak pendidikan di lapangan adalah guru dan

Permen No. 19 tersebut mengatur tentang Standar Nasional Pendidikan

yang menyatakan guru adalah profesi ini. Inti Permen No. 19 Tahun 2005

tersebut harus dipedomani oleh guru dan pengelola pendidikan. Permen

tersebut tentang delapan standar pendidikan, meliputi: Standar Isi,

Standar Kompetensi Lulusan, Standar Proses, Standar Pendidik dan

Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar

Pengelolaan, dan Standar Penilaian.

Khususnya untuk kualitas guru bahasa Indonesia, terutama dalam

hubungannya dengan kompetensi dalam menyusun perencanaan

pembelajaran, dirasakan masih banyak yang belum memenuhi standar

Page 18: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

7

profesionalisme guru. Guru menurut Undang-Undang Guru dan Dosen

Nomor 14 Tahun 2005 adalah wajib memiliki loyalitas dan dedikasi,

kualifikasi akademik, sertifikat pendidikan, tanggung jawab, sehat jasmani

dan rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan

pendidikan nasional.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar

Nasional Pendidikan Pasal 28, dijelaskan bahwa guru yang profesional

adalah pendidik sebagai agen pembelajaran yang harus memiliki empat

jenis kompetensi yakni, kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional,

dan sosial. Masalah kompetensi sosial dan kompetensi profesionalisme

guru. Dalam hal ini, masih banyak guru bahasa Indonesia tidak memenuhi

kedua kualifikasi kompetensi tersebut. Ini terlihat dalam praktek hidup,

sudah banyak orang yang nilai akademiknya bagus tetapi prestasi

kerjanya tidak bagus, sudah banyak orang yang punya pengalaman kerja

bertahun-tahun tetapi hasil kerjanya belum mencerminkan

pengalamannya. Kalau mempergunakan ukuran kompetensi, maka dapat

dipastikan bahwa guru tersebut belum memiliki kompetensi yang baik

sehingga pada akhirnya hasil pendidikan yang mampu diberikan juga

relatif berkualitas rendah.

Dari kenyataan-kenyataan ini, sudah saatnya kompetensi guru

bahasa Indonesia ditingkatkan. Peningkatan kompetensi guru akan

memberi hasil pendidikan yang baik termasuk kompetensinya dalam

menyusun rencana pembelajaran yang baik. Sebab itu, dalam kaitannya

Page 19: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

8

dengan pencapaian proses menuju guru profesional yang memiliki

kepedulian sosial, maka peran kompetensi guru bahasa Indonesia dalam

proses perencanaan pembelajaran adalah sangat penting.

Kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru berdasarkan

peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 adalah

Kompetensi Kepribadian, Paedagogik, Professional, kompetensi

kepribadian adalah perpaduan antara pengetahuan, kemampuan, dan

penerapan dalam melaksanakan tugas di lapangan kerja. Kompetensi

guru terkait dengan kewenangan melaksanakan tugasnya, dalam hal ini

dalam menggunakan bidang studi sebagai bahan pembelajaran yang

berperan sebagai alat pendidikan, dan dapat disimpulkan bahwa

kompetensi guru adalah hasil dari penggabungan dari kemampuan-

kemampuan yang banyak jenisnya, dapat berupa seperangkat

pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan

dikuasai oleh guru dalam menjalankan tugas keprofesionalannya.

Kompetensi sosial artinya bahwa guru harus memiliki kemampuan

berkomuniksai sosial, baik dengan murid-muridnya maupun dengan

sesama teman guru, kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul

secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga

kependidikan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Hal

tersebut diuraikan dalam RPP tentang guru, bahwa kompetensi sosial

merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat, yang

sekurang-kurangnya memiliki kompetensi untuk berkomunikasi secara

lisan, tulisan, dan isyarat.

Page 20: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

9

Berdasarkan amanat Undang-Undang tentang pendidikan ini bahwa

pendidik atau guru harus berkomunikasi dan bergaul secara efektif

dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang

tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar Kompetensi sosial artinya

bahwa guru harus memiliki kemampuan berkomuniksai sosial, baik

dengan murid-muridnya maupun dengan sesama teman guru untuk

mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik

secara aktif mengembangkan potensi dirinya yang mencakup potensi

kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan. Untuk

menjadikan peserta didik berpotensi, maka guru haruslah lebih berpotensi.

Potensi guru yang dimaksud mencakup 5 (lima) kompetensi guru

berdasarkan Undang-Undang No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan

Dosen, maka kompetensi yang harus dimiliki seorang guru yaitu

kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan

kompetensi profesional.

Kompetensi guru harus mempunyai karakteristik tertentu. Lardirabal

(dalam Saud, 2010: 67) mengungkapkan bahwa kompetensi keguruan

meliputi kompetensi kepribadian, sosial, dan profesional. Guru dalam

proses belajar mengajar bahasa Indonesia, guru harus memiliki

kompetensi tersendiri guna mencapai harapan yang dicita-citakan dalam

melaksanakan pendidikan pada umumnya dan proses belajar mengajar

pada khususnya. Untuk memiliki kompetensi tersebut guru perlu membina

diri secara baik karena fungsi guru itu sendiri adalah membina dan

Page 21: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

10

mengembangkan kemampuan peserta didik secara profesional di dalam

proses belajar mengajar.

Kompetensi profesional yang merupakan kemampuan dasar guru

menurut Cooper (1984:15) terbagi dalam empat komponen, yakni:

1. Mempunyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia,

2. Mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang study yang di binanya,

3. Mempunyai sikap yang tepat tentang diri sendiri, sekolah, teman sejawat dan bidang study yang di binanya,

4. Mempunyai keterampilan dalam teknik mengajar.

Kemampuan profesional yang harus dimiliki guru dalam proses

belajar mengajar secara rinci dapat diuraikan dalam komponen-komponen

kompetensi profesional.

Guru profesional memerlukan beberapa persyaratan yang harus

dipenuhi; antara lain menyangkut dimilikinya kompetensi yang diperlukan.

Pasal 8 UU No. 14 Tahun 2005 atau yang lebih dikenal dengan UU Guru

dan Dosen secara eksplisit menyebutkan bahwa guru wajib memiliki

kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan

rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan

nasional.

Mengacu substansi Pasal 8 No. 14 Tahun 2005 tersebut di atas jelas

sekali bahwa kepemilikan kompetensi itu hukumnya wajib; artinya bagi

guru yang tidak mampu memiliki kompetensi akan gugur keguruannya.

Khusus tentang kompetensi ini dijelaskan pada Pasal 10 ayat (1) yang

menyebutkan kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8

Page 22: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

11

meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi

sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan

profesi. Sementara itu pada ayat (2) pasal yang sama disebutkan

ketentuan lebih lanjut mengenai kompetensi guru sebagaimana dimaksud

akan diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP).

Kompetensi merupakan kebulatan pengusaan pengetahuan,

ketrampilan, dan sikap yang ditampilkan saat untuk kerja. Kepmendiknas

Nomor: 045/U/2002 menyebutkan bahwa kompetensi sebagai tindakan

cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas

sesuai dengan pekerjaan tertentu.

Kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang berkaitan dengan

perilaku pribadi guru itu sendiri yang kelak harus memiliki nilai-nilai luhur

sehingga terpancar dalam perilaku sehari-hari. Hal ini dengan sendirinya

berkaitan erat dengan falsafah hidup yang mengharapkan guru menjadi

model manusia yang memiliki nilai-nilai luhur.

Dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

dikemukakan kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola

pembelajaran peserta didik. Depdiknas menyebut kompetensi ini dengan

kompetensi pengelolaan pembelajaran. Kompetensi ini dapat dilihat dari

kemampuan merencanakan program belajar mengajar, kemampuan

melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan

kemampuan melakukan penilaian.

Page 23: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

12

Kompetensi penyusunan rencana pembelajaran melipti:

1. Mampu mendeskripsikan tujuan 2. Mampu memilih materi 3. Mampu mengorganisir materi 4. Mampu menentukan metode/strategi pembelajaran 5. Mampu menentukan sumber belajar/media/alat peraga

pembelajaran

Dalam menjalankan tugas pembelajaran, seorang guru dituntut

memiliki kompleksitas kompetensi, salah satunya adalah kompetensi

sosial. Yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan

guru dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sosial di

sekitarnya, baik dengan peserta didik, sesama guru, tenaga kependidikan

orangtua/wali murid, dan masyarakat. Kompetensi sosial rnerupakan

prasyarat dan menjadi bagian penting dalam menun jang pelaksanaan

tugas guru, di samping kompetensi lainnya.

Tuntutan itu wajar, mengingat kedudukan guru sebagai orang yang

diharapkan dapat menjadi panutan, berkepribadian baik, bertindak dan

berkelakuan baik, mewujudkan interaksi dan komunikasi yang akrab dan

harmonis dalam berhubungan dengan orang lainnya.

Kompetensi pedagogik mengharuskan guru memiliki jiwa pendidik

yang mendarah daging. Artinya, nilai-nilai pendidikan tidak sekadar dihafal

secara teoretis, tetapi telah menjadi bagian dari perilaku dirinya. Begitu

pula dengan kompetensi kepribadian, mengisyaratkan adanya

kepemilikan pribadi yang paripurna (insan kamil). Dengan demikian,

diharapkan pribadi guru menjadi personifikasi nilai-nilai, bukan sekadar

kamuflase, sehingga menjadi contoh nyata yang dapat diteladani siswa.

Page 24: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

13

Kompetensi sosial tentu bermakna lebih luas lagi. Guru dituntut mampu

berperan maksimal dan ideal dalam berbagai tatanan pergaulan dengan

berbagai kalangan dan variasi pandangan. Kompetensi profesional

mengarah pada bidang profesi sehingga relatif mudah mengukurnya

mengingat indikatornya relatif jelas, yakni diukur dari kadar kemampuan

menyangkut bidang profesinya. Misalnya, guru Bahasa Indonesia harus

mampu membuat desain pembelajaran bahasa Indonesia,

mengajarkannya, mengadakan pengamatan proses, dan

mengevaluasinya.

Kompetensi tidak muncul begitu saja, tetapi perlu adanya

pembinaan, pelatihan, dan pengembangan, Guru merupakan salah satu

faktor penentu keberhasilan setiap usaha pendidikan dengan pengajaran.

Hal tersebut menunjukkan bahwa guru dituntuk untuk senantiasa berperan

aktif dan eksis dalam dunia pendidikan.

Berdasarkan uraian tersebut, ditetapkan judul dalam tulisan ini

“Pengaruh Kompetensi Kepruibadian Guru terhadap Hasil Belajar Bahasa

Indonesia Siswa Kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar”.

B. Rumusan Masalah

Adapun masalah yang akan dikaji-urai dalam penelitian ini sebagai

berikut:

1. Apakah kompetensi kepribadian guru berpengaruh terhadap hasil

belajar bahasa Indonesia di kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar?

Page 25: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

14

2. Apakah kompetensi sosial guru berpengaruh terhadap hasil belajar

bahasa Indonesia di kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar?

C. Tujuan Penelitian

Secara rinci tujuan penelitian ini dideskripsikan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengaruh kompetensi kepribadian guru terhadap

hasil belajar bahasa Indonesia di kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar.

2. Untuk mengetahui pengaruh kompetensi sosial guru terhadap hasil

belajar bahasa Indonesia di kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoretis

Secara teoretis manfaat penelitian ini yaitu:

a. Sebagai informasi bagi guru dalam proses pengenalan

pembelajaran.

b. Dapat memperkaya pengetahuan, wawasan siswa, guru, maupun

peneliti dalam kegiatan belajar mengajar.

2. Manfaat praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara praktis,

yaitu:

a. Untuk meningkatkan kinerja guru dalam melaksanakan

pembelajaran.

b. Untuk memecahkan permasalahan tentang strategi pembelajaran

yang dirasakan sulit untuk mencapai keberhasilannya secara

maksimal.

Page 26: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Tinjauan Pustaka

1. Penelitian yang Relevan

Peneliti yang pernah meneliti tentang kompetensi kepribadian sosial

guru antara lain, pertama, Rahmat (2010) dengan judul Strategi

Peningkatan Kompetensi Guru sekolah Menengah Kejuruan di Kabupaten

Tojo Una-Una provinsi sulawesi Tengah. Hasil penelitian ini adalah

strategi utama peningkatan kompetensi guru SMK di Kabupaten Tojo Una-

una Provinsi Sulawesi Tengah adalah strategi intensif yakni peningktan

kompetensi guru secara optimal dan memberdayakan potensi guru yang

ada. Adapun strategi operasionalnya adalah studi lanjut ke jenjang S1 dan

S2, meningkatkan kegiatan pelatihan materi ajar dan metodologi

pembelajaran berbasis multimedia, meningkatkan pelatihan penggunaan

internet, memperbanyak belajar sesuai dengan perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi, memperbanyak kegiatan magang, pelatihan

pemamfaatan alat baru di laboratorium/bengkel bagi guru yang bertugas

di lab/bengkel.

Kedua, Nukman (2010) dengan judul Studi tentang Pengaruh

Kompotensi Profesional Guru Bahasa Indonesia terhadap Prestasi Belajar

Bahasa Indonesia Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Turatea Kabupaten

Jeneponto. Hasil penellitian menunjukkan bahwa kompotensi professional

guru Bahasa Indonesia berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar

15

Page 27: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

16

Bahasa Indonesia siswa kelas IX SMP Negeri 1 Turatea Kabupaten

Jeneponto. Semakin baik tingkat kompotensi professional guru, maka

akan semakin baik pula prestasi belajar siswa. Pengaruh signifikan ini

terlihat dari adanya kompotensi profesional guru yang berada pada

kategori “baik”, ternyata paralel prestasi belajar siswa yang juga berada

pada kategori “tinggi”, hal ini didukung oleh hasil perhitungan statistic

dengan rumus analisis “product moment” yaitu hasil r hitung (0,713) > r

table (0,47). Dengan demikian hipotesis yang diajukan yaitu: “kompotensi

professional guru Bahasa Indonesia berpengaruh terhadap prestasi

belajar Bahasa Indonesia siswa kelas IX SMP Negeri 1 Turatea

Kabupaten Jeneponto”. “Hipotesis” dapat diterima”.

Ketiga, Jamaluddin (2010) dengan judul Pengaruh Kompetensi Guru

Bahasa Indonesia terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa SMA

Negeri 1 Tamalatea Kabupaten Jeneponto. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa kompetensi pedagogik guru bahasa Indonesia memberikan

pengaruh signifikan dalam meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia

siswa, yaitu berkontribusi 61,96% dan kompetensi profesional guru

bahasa Indonesia juga memberikan pengaruh signifikan dalam

meningkatkan hasil belajar siswa, yaitu berkontribusi 60,75%.

2. Pengertian tentang Kompetensi Kepribadian, Sosial, dan

Profesional Guru

Kompetensi merupakan kebulatan pengusaan pengetahuan,

ketrampilan, dan sikap yang ditampilkan saat untuk kerja. Kepmendiknas

Page 28: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

17

Nomor: 045/U/2002 menyebutkan bahwa kompetensi sebagai tindakan

cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas

sesui dengan pekerjaan tertentu. Jadi kompetensi guru dapat dipahami

sebagai tindakan kebulatan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang

berwujud tindakan cerdas dan tanggung jawab dalam melaksanakan

tugas sebagai agen pembelajaran (Muslich, 2007: 12).

Menurut Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 tentang

Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar

dan menengah serta pendidikan dini meliputi:

a. Kompetensi Pedagogik

b. Kompetensi Kepribadian

c. Kompetensi professional

d. Kompetensi sosial

Menurut Roqib dan Nurfuadi (2009:119) bahwa guru yang kompeten

akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif,

menyenangkan dan akan lebih mampu mengelola kelasnya, sehingga

belajar siswa berada pada tingkat optimal.

a. Pengertian Kompetensi Kepribadian Guru

Theodore dkk (dalam Agung, 2012: 76) mengemukakan, kepribadian

merupakan predisposisi dalam perwujudan tingkah laku. Kepribadian

dapat merupakan unsur bawaan sejak seorang dilahirkan, tetapi juga

dibentuk karena pengaruh unsur-unsur di luar diri.

Terutama yang terakhir itu, kepribadian diperoleh seseorang sebagai

bagian dalam masyarakat, sehingga dirinya menginternalisasi dan

Page 29: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

18

mensosialisasikan nilai-nilai yang berkembang di lingkungan sosialnya.

Melalui kepribadian itu pula seorang individu menjadikan predisposisi

dalam berhubungan dengan individu/kelompok lain.

Sesuai kedudukan (status) yang dimiliki seseorang, kerapkali dituntut

untuk memiliki kepribadian tertentu dan mewujudkan dalam peran-peran

sosial yang diharapkan (roles expectation) dalam berhubungan dengan

orang lainnya. Kedudukan seorang anak misalnya, diharapkan memiliki

kepribadian tertentu yang sopan, santun, taat, patuh, rajin, saleh, dan

sebagainya, agar melalui kepribadiannya itu dapat digunakan sebagai

acuan menjalankan peran dan tingkah lakunya dalam berhubungan

dengan orang lainnya. Penyimpangan terhadap harapan tersebut akan

memunculkan label/cap sebagai anak berkepribadian buruk, nakal, tidak

tahu di adat, dan sebagainya dari lingkungan sosial di sekitarnya.

Tidak terlepas dengan kedudukan pendidik/guru diharapkan dapat

mendukung kepribadian tertentu, baik terkait dengan profesi kerja maupun

berhubungan dan berinteraksi dengan lingkungan sosial di sekitarnya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dan diberikan dalam pembelajaran

tentang kepribadian pendidik/guru, antara lain:

1) Profesi dan Etos kerja Guru

Seorang guru haruslah memahami kedudukan strategis guru dalam

mengembangkan dan membentuk kualitas sumberdaya manusia yang

tinggi. Pemahaman yang baik menuntut pula dukungan terhadap etos

kerja pendidik/guru yang tinggi. Dalam etos kerja ini terkandung

Page 30: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

19

seperangkat nilai yang perlu menjadi bagian integral dalam kepribadian

diri, seperti nilai protagonis, kejujuran, kerja keras, disiplin, dan lainnya.

Pengalaman negara maju membuktikan, bahwa etos kerja yang tinggi

telah membawa ke arah kemakmuran dan kesejahteraan hidup

masyarakatnya. Dengan etos kerja guru yang tinggi, guru merupakan

unsur potensial dalam menyebarkan, menanamkan, dan menularkan ke

peserta didik, sehingga dapat membawa ke arah pencapaian hasil belajar

peserta didik yang tinggi pula. Pemahaman guru mengenai etos kerja

dapat membangkitkan kesadaran diri dan menjadikan nilai-nilai tersebut

sebagai pedoman atau acuan dalam mewujudkan perilaku pelaksanaan

tugas bagi dirinya maupun memotivasi orang lain. Oleh karenanya, etos

kerja dan penjabarannya merupakan bahan ajar/materi yang perlu

diberikan dalam bridging program.

2) Perilaku individual

Guru merupakan unsur terdepan berlangsungnya kegiatan

pembelajaran. Sebagai pihak yang berhadapan langsung dengan peserta

didiknya, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai bahan/materi

ajar, tetapi juga dituntut untuk mampu mewujudkan perilaku yang terpuji di

depan peserta didiknya. Bukan itu semata, bahkan perilaku individual

tersebut harus menyelimuti segenap jalinan hubungan dan interaksi guru

dengan orang lainnya, baik dengan rekan sejawat/kolega maupun pihak-

pihak lainnya.

Oleh karenanya, bahan ajar/materi perilaku individual dalam upaya

membentuk dan mengembangkan kepribadian guru dinilai perlu diberikan

Page 31: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

20

dalam bridging program, terutama terkait dengan makna konsep self-

awareness (kesadaran diri), pengendalian emosi diri, motivasi, dan

sebagainya.

3) Kepemimpinan

Secara sederhana kepemimpinan dapat diartikan sebagai

kemampuan seorang pemimpin dalam menggerakan orang lainnya untuk

bertindak sesuai dengan kemauannya untuk mencapai tujuan tertentu.

Melalui pengertian ini, seorang guru dapat dianggap sebagai pemimpin

yang perlu memiliki kemampuan dalam mempengaruhi dan meng-

gerakkan peserta didiknya (siswa) untuk berbuat sesuatu (belajar,

menjalankan tugas, mengerjakan pekerjaan rumah, dan lain-lainnya) guna

mencapai tujuan hasil belajar tertentu.

Atas dasar itu berbagai konsep kepemimpinan pun merupakan

bahan/materi ajar yang perlu diberikan dalam bridging program, baik

teoritis maupun peraktis, agar guru dapat memahami sepenuhnya tentang

arti penting kepemimpinan, mewujudkan type gaya dan perilaku

kepemimpinan yang sesuai dengan situasi yang dihadapi, memahami

pentingnya pemilikan visi ke depan untuk mencapai tujuan dan hasil

belajar lebih baik, kemampuan merancang, merencanakan, meng-

implementasikan langkah-langkah yang diperlukan guna mewujudkan visi;

memahami peran penting guru sebagai agen perubahan/pembaharuan

(agent of change); memahami makna pentingnya keberanian untuk

mengambil resiko untuk perubahan dan kemajuan; dan lain-lainnya.

Page 32: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

21

4) Kemampuan komunikatif

Sebagai pihak yang langsung berhadapan dengan peserta didik

dalam menjalankan kegiatan belajar-mengajar, seorang guru dituntut

untuk memiliki kemampuan komunikasi dalam melak-sanakan tugasnya.

Bahkan kemampuan berkomunikasi dapat mempengaruhi dan menjadi

penentu keberhasilan atau kekurangberhasilan penyampaian dan

penyerapan bahan/materi ajar kepada peserta didiknya. Komunikasi yang

searah, kaku, monoton, kurang variatif, dan lain sejenisnya, tentu akan

membawa kejenuhan pada peserta didik dalam menerima pembelajaran,

sehingga penyerapan bahan/materi ajar kurang berjalan maksimal,

bahkan sulit dipahami oleh peserta didik. Sebaliknya, dengan kemampuan

yang baik, bukan hanya akan membawa kegairahan peserta didik/ siswa

dalam belajar, tetapi juga kemudahan, keingintahuan, dan penyerapan

bahan/materi ajar sesuai dengan tujuan dan hasil yang diharapkan.

Teori, jenis, teknik/metode, dan lain-lainnya mengenai komunikasi

kiranya menjadi salah satu bahan/materi ajar yang perlu diberikan dalam

bridging program, yang tidak terbatas dari segi teoritis, tetapi juga peraktis

berupa peraktek lapangan, simulasi, latihan, eksperimen, dan sebagainya.

Kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang berkaitan dengan

perilaku pribadi guru itu sendiri yang kelak harus memiliki nilai-nilai luhur

sehingga terpancar dalam perilaku sehari-hari. Hal ini dengan sendirinya

berkaitan erat dengan falsafah hidup yang mengharapkan guru menjadi

model manusia yang memiliki nilai-nilai luhur.

Page 33: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

22

Noddings (dalam Stronge, 2013: 25-26) menjelaskan bahwa

kebahagiaan guru dapat memengaruhi iklim kelas, dan dengan demikian

memengaruhi para murid. Selain itu, pengaruh psikologis guru pada para

murid telah dikaitkan dengan prestasi murid pada berbagai studi

efektivitas.

Di Indonesia sikap pribadi yang dijiwai oleh filsafat Pancasila yang

mengagungkan budaya bangsanya yang rela berkorban bagi kelestarian

bangsa dan negaranya termasuk dalam kompetensi kepribadian guru.

Dengan demikian pemahaman terhadap kompetensi kepribadian guru

harus dimaknai sebagai suatu wujud sosok manusia yang utuh.

Guru sebagai tenaga pendidik yang tugas utamanya mengajar,

memiliki karakteristik kepribadian yang sangat berpengaruh terhadap

keberhasilan pengembangan sumber daya manusia. Kepribadian yang

mantap dari sosok seorang guru akan memberikan teladan yang baik

terhadap anak didik maupun masyarakatnya, sehingga guru akan tampil

sebagai sosok yang patut “digugu” (ditaati nasihat/ucapan/perintahnya)

dan “ditiru” (di contoh sikap dan perilakunya). Kepribadian guru

merupakan faktor terpenting bagi keberhasilan belajar anak didik.

Dalam kaitan ini, Zakiah Darajat (dalam Syah, 2000: 225-226)

menegaskan bahwa kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia

menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya, ataukah

akan menjadi perusak atau penghancur bagi masa depan anak didiknya

terutama bagi anak didik yang masih kecil (tingkat dasar) dan mereka

yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah).

Page 34: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

23

Karakteristik kepribadian yang berkaitan dengan keberhasilan guru

dalam menggeluti profesinya adalah meliputi fleksibilitas kognitif dan

keterbukaan psikologis. Fleksibilitas kognitif atau keluwesan ranah cipta

merupakan kemampuan berpikir yang diikuti dengan tindakan secara

simultan dan memadai dalam situasi tertentu. Guru yang fleksibel pada

umumnya ditandai dengan adanya keterbukaan berpikir dan beradaptasi.

Selain itu, ia memiliki resistensi atau daya tahan terhadap ketertutupan

ranah cipta yang prematur dalam pengamatan dan pengenalan. Dalam

Undang-Undang Guru dan Dosen dikemukakan kompetensi kepribadian

adalah “kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan

berwibawa serta menjadi teladan peserta didik”. Surya (dalam Uno,

2008:138) menyebut kompetensi kepribadian ini sebagai kompetensi

personal, yaitu kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar

dapat menjadi guru yang baik. Kompetensi personal ini mencakup

kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri,

penerimaan diri, pengarahan diri, dan perwujudan diri.

Gumelar dan Dahyat (dalam Sagala, 2009:127) merujuk pada

pendapat Asian Institut for Teacher Education, mengemukakan

kompetensi pribadi meliputi: (1) pengetahuan tentang adat istiadat baik

sosial maupun agama, (2) pengetahuan tentang budaya dan tradisi, (3)

pengetahuan tentang inti demokrasi, (4) pengetahuan tentang estetika, (5)

memiliki apresiasi dan kesadaran sosial, (6) memiliki sikap yang benar

terhadap pengetahuan dan pekerjaan, dan (7) setia terhadap harkat dan

martabat manusia. Sedangkan kompetensi guru secara lebih khusus lagi

Page 35: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

24

adalah bersikap empati, terbuka, berwibawa, bertanggung jawab dan

mampu menilai diri pribadi. Johnson dalam Anwar (2004:63)

mengemukakan kemampuan personal guru, mencakup: (1) penampilan

sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan

terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya, (2)

pemahaman, penghayatan dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya

dianut oleh seorang guru, dan (3) kepribadian, nilai, sikap hidup

ditampilkan dalam upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan

teladan bagi para siswanya. Arikunto (1993:239) mengemukakan

kompetensi personal mengharuskan guru memiliki kepribadian yang

mantap sehingga menjadi sumber inspirasi bagi subjek didik, dan patut

diteladani oleh siswa. Berdasarkan uraian di atas, kompetensi kepribadian

guru tercermin dari indikator (1) sikap, dan (2) keteladanan.

b. Pengertian Kompetensi Sosial Guru

Dalam menjalankan tugas pembelajaran, seorang guru dituntut

memiliki kompleksitas kompetensi, salah satunya adalah kompetensi

sosial. Yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan

guru dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sosial di

sekitarnya, baik dengan peserta didik, sesama guru, tenaga kependidikan

orangtua/wali murid, dan masyarakat. Kompetensi sosial rnerupakan

prasyarat dan menjadi bagian penting dalam menun jang pelaksanaan

tugas guru, di samping kompetensi lainnya.

Page 36: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

25

Tuntutan itu wajar, mengingat kedudukan guru sebagai orang yang

diharapkan dapat menjadi panutan, berkepribadian baik, bertindak dan

berkelakuan baik, mewujudkan interaksi dan komunikasi yang akrab dan

harmonis dalam berhubungan dengan orang lainnya, dan sebagainya.

Di bawah ini dikemukakan sejumlah hal yang perlu dikuasai dan

dimiliki oleh guru terkait dengan kompetensi sosial, dan perlu menjadi

bahan/materi ajar dalam penerapan bridging program.

(1) Kemampuan adaptif dengan lingkungan sekitar

Seorang guru selayaknya memiliki kemampuan menyesuaikan diri

dengan lingkungan sosial yang dihadapi, baik dengan peserta didik

maupun masyarakat di sekitarnya. Dalam berhadapan dengan peserta

didik di kelas, seorang guru perlu menganggapnya sebagai komunitas

sosial kecil, dan kemudian mengembangkan strategi adaptif terhadap

lingkungan tersebut. Kelas dapat dianggap sebagai arena sosial di mana

interaksi dan komunikasi sosial berlangsung. Seorang guru perlu

melakukan penyesuaian diri dengan cara menggunakan gaya bahasa

yang mudah diterima dan dicerna oleh peserta didik misalnya, sehingga

membentuk dan menciptakan suasana akrab dengan diselinggi guyonan

segar misalnya. Kreativitas guru dibutuhkan untuk mengembangkan

suasana kelas yang kondusif yang dapat memberikan rasa senang, rasa

nyaman, mengasyikkan, penuh keakraban, bersemangat, dan lain-lain

nya, sehingga menimbulkan sikap riang dan gairah siswa dalam menerima

pembelajaran.

Page 37: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

26

Sebaliknya, guru yang kurang memiliki kemampuan

mengembangkan sikap adaptif hanya akan menimbulkan kehidupan sosial

komunitas kelas yang kurang berkembang, monoton, interaksi searah, dan

lain sejenisnya, sehingga akan dianggap kurang mengasyikkan tetapi juga

kurang membawa semangat belajar siswa. Simak saja, guru yang hanya

mengajar dengan menjejalkan bahan ajar/materi pelajaran, siswa yang

bersikap pasif, kurang komunikatif, otoriter, kaku, dan sebagainya hanya

akan membosankan dan menurunkan semangat belajar siswa.

Penerimaan bahan ajar/materi pelajaran kurang menimbulkan perhatian

dan memotivisir siswa. Siswa bukannya menerima pelajaran dengan riang

dan bergairah, tetapi sebaliknya berharap pembelajaran yang diberikan

oleh guru cepat usai. Untuk itu seorang guru harus mampu

mengadaptasikan diri, berkeasi, berinteraksi dan berkomunikasi, dan

mengembangkan jalinan hubungan yang harmonis dan sinergis.

Tidak terkecuali dengan lingkungan sosial lainnya, misalnya dengan

orang tua/wali murid, seorang guru diharapkan memiliki kemampuan

menyesuaikan diri yang tinggi. Di sekolah mungkin guru menghadapi

peserta didik yang tergolong kurang lancara dalam menerima dan

menyerap bahan/materi belajar yang diberikan, sehingga perlu perhatian

keluarga untuk membantu proses belajar siswa di rumah. Guru harus

mampu menjelaskan dan mengkomunikasikan secara baik kepada

orangtua siswa yang bersangkutan, agar mereka tergugah dan mau

memberikan perhatian ekstra dalam proses belajar anak (siswa) di rumah.

Sebaliknya dengan siswa yang tergolong pintar, mungkin guru dapat

Page 38: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

27

memberikan pujian dan mengharapkan orangtua untuk tetap memberi-kan

perhatian belajar anak di rumah, mempertahankan dan bahkan

meningkatkan prestasi belajar yang dicapainya.

Pengembangan kemampuan adaptif oleh guru amat dibutuhkan

dalam menghadapi lingkungan masyarakat sekitarnya. Terutama guru

yang berasal dari luar masyarakat, diperlukan pengembangan strategi

adaptif tertentu agar dapat diterima oleh lingkungan sosialnya. la bukan

hanya perlu memerankan diri dan mewujudkan interaksi dan komunikasi

yang baik, tetapi juga turut berpartisipasi aktif dalam acara atau kegiatan

sosial. Melalui usaha adaptifnya, cepat atau lamban seorang guru dapat

diterima oleh lingkungannya, serta menjadi bagian yang dianggap penting

dan dibutuhkan dalam kehidupan masyarakatnya. Sebaliknya, seorang

guru yang tidak dapat mengembangkan strategi adaptifnya cenderung

ditolak dan dijauhkan dari lingkungan masyarakatnya.

(2) Kemampuan pengendalian diri

Seseorang yang berprofesi sebagai pendidik tidak terlepas dari

harapan ling-kungan di sekitarnya untuk me wujudkansikap danperilaku

tertentu, bukanhanya sikap dan perilaku yang dapat ditauladani/panutan

tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan emosi diri.

Pengendalian emosi bagi diri sendiri maupun berhadapan dengan orang

lain pada dasarnya dapat dilatih dengan mengembangkan impulse-

impulse kontrol yang dapat menekan hawa nafsu maupun keinginan untuk

bersikap dan berperilaku yang kurang diharapkan oleh lingkungan

Page 39: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

28

sekitarnya, seperti ketersinggungan, cepat marah, kasar, arogansi, dan

sebagainya. Kemampuan pengendalian diri amat dibutuhkan bagi guru

sebagai pihak yang berhadapan dengan peserta didik dan lingkungan

sosial di sekitarnya dengan berbagai perbedaan karakteristik individual.

(3) Hubungan sesama profesi

Jalinan hubungan berlangsung antar sesama profesi guru, baik di

dalam maupun di luar sekolah, terkait dengan pelaksanaan tugas

pembelajaran maupun dalam bentuk lainnya. Berhubungan dengan

pelaksanaan tugas, pemerintah sejak lama menganjurkan untuk

membentuk Kelompok Kerja Guru atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran

(KKG/MGMP) sebagai wadah pertemuan guru. KKG/ MGMP merupakan

wadah di mana guru dapat bertukar pengalaman, sharing pengetahuan,

memecahkan permasalahan pelaksanaan tugas secara bersama, dan

sebagainya, sehingga tahap demi tahap diharapkan guru dapat

meningkatkan wawasan, pengetahuan, kemampuan dan keterampilan

mengajar, kompetensi, dan profesionalisme kerja.

Namun, gejala yang muncul tidak jarang wadah KKG/MGMP

mekanismenya belum cukup mampu melibatkan partisipasi guru

sebagaimana yang diharapkan. Tujuan pembentukan wadah iniseringkali

belum berjalan optimal sehingga upaya peningkatan kemam-puan,

keterampilan' kompetensi, dan profesional guru belum mencapai seperti

yang diharapkan, apalagi mengimbas terhadap peningkatan hasil belajar

peserta didiknya. Berbagai permasalahan dan kendala masih dihadapi

Page 40: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

29

baik berasal dari guru sendiri maupun penyelenggaraan KKG/MGMP. Dari

sisi guru, rendahnya motivasi pengembangan diri menjadi salah satu

faktor yang mempengaruhi rendahnya keterlibatan aktif dalam kegiatan

KKKG/MGMP. Bahkan keikutsertaan dalam kegiatan wadah ini tidak

jarang terdorong oleh keterpaksaan karena instruksi atasan, takut ditegur,

akan terkena sanksi, dan lain-lainnya.

Rendahnya motivasi pengembangan diri menyebabkan guru

cenderung mendukung sikap pasif stagnan, kurang kreatif, dan

sebagainya, sehingga rendah pula keinginan untuk meningkatkan

wawasan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, kompetensi dan

profesional kerja. Sebaliknya, wadah KKG/MGMP akan aktif, kreatif, dan

mampu melibatkan partisipatif apabila diikuti oleh guru yang senantiasa

termotivasi untuk melakukan pengembangan diri. Oleh karenanya

pembelajaran mengenai motivasi intrinsik dan ekstrinsik serta proses

pelatihan dan pembiasaan pengembangan diri, perlu diajarkan dan dilatih

dalam bridging program, yang nantinya akan berguna bagi calon guru

sendiri setelah diangkat dan bertugas menjadi guru, tetapi juga dapat

menyemarakkan keaktifan kegiatan wadah profesi guru.

(4) Keterlibatan dalam organisasi kemasyarakatan dan keagamaan

Guru merupakan salah satu kedudukan (status) yang ada di dalam

masyarakat dengan sejumlah peran sesuai kedudukannya itu. Sebagai

bagian dalam masyarakat, seorang guru tidak hanya menjalankan peran

mengajar kepada peserta didiknya di satuan pendidikan tempat bekerja,

Page 41: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

30

tetapi juga peran-peran sosial di lingkungan sosialnya. Bahkan di

lingkungan masyarakat tidak jarang kedudukan guru mendapat tempat

terhormat, disegani, ditauladani, dan lain sejenisnya.

Namun perlakuan atau label sedemikian rupa baru akan diperoleh

seorang guru apabila dirinya dinilai memiliki kepribadian, sikap, dan

perilaku sesuai dengan yang diharapkan oleh lingkungan masyarakatnya.

Nilai protagonis, demokratis, populis, humanis, dan sebagainya perlu

benar-benar didukung oleh seorang guru dalam mewujudkan kedudukan

dan peran sosial, serta digunakan sebagai acuan tindakan dan perilaku

sosialnya.

Berbagai peran sosial dapat diwujudkan oleh guru di lingkungan

sosialnya, antara lain keterlibatan aktif dalam organisasi kemasyarakatan

maupun keagamaan. Guru dapat berpartisipasi dan berperan aktif menjadi

pengurus dalam organisasi kemasyarakatan nonformal, seperti Rukun

Warga (RW), Rukun Tetangga (RT), Badan Pertimbangan Desa (BPD),

Keolahragaan, Kesenian, dan sebagainya. Demikian halnya, seorang guru

dapat berpartisipasi dan berperan aktif dalam organisasi maupun kegiatan

keagamaan, seperti pengurus Majelis Taklim, Panitya Pembangunan

Sarana Ibadah, menghadiri acara peringatan hari besar keagamaan, dan

lain-lainnya. Bahkan perilaku keibadahan seorang guru kerapkali menjadi

sorotan dan penilaian diri dari lingkungan sosialnya.

Kemampuan melibatkan diri dalam organisasi dan kegiatan di

lingkungan sosialnya, secara langsung maupun tidak langsung dapat

Page 42: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

31

mendukung kelancaran dan kekuranglancaran guru dalam menjalankan

tugas pembelajaran di tempat bekerja. Seorang guru yang dinilai memiliki

sikap dan perilaku baik oleh lingkungannya, tentu menjadi mudah untuk

mendekati orangtua dari siswa yang tergolong kurang atau lamban

menyerap materi pelajaran, agar dapat memberikan perhatian ekstra

terhadap proses belajar anak di rumah. Sebaliknya, seorang guru yang

jarang atau kurang bergaul, kurang bersahabat, arogan, dan lain

sejenisnya, akan menghadapi kendala untuk mendekati orangtua/wali dari

siswa yang dinilainya terkategori kurang atau lamban menyerap materi

pelajaran dan membutuhkan perhatian ekstra belajar di rumah.

Mengingat kompetensi sosial menjadi salah satu kompetensi yang

harus dimiliki oleh guru, pembekalan yang memadai perlu

diberikan/diajarkan dalam bridging program kepada mahasiswa LPTK

(calon guru). Pembekalan yang diajarkan bukan hanya berhubungan

dengan pentingnya pemahaman bentuk, metode/teknik berkomunikasi,

dan lain-lainnya, tetapi juga mengenai pengetahuan dan pemahaman

kemasyarakatan, mulai dari teori/konsep/paradigma tentang masyarakat,

sistem pengorganisasian dalam masyarakat, pola hubungan dan interaksi

sosial, bentuk kegiatan, dan lain-lainnya. Melalui pengetahuan dan

pemahaman ini seorang mahasiswa LPTK dapat menggunakannya

sebagai pedoman pengembangan strategi adaptif dalam menghadapi

lingkungan sosial di mana dirinya ditempatkan dan bekerja sebagai guru,

serta menghindarkan diri menjadi social deviants yang berada dalam

keadaan konflik dengan lingkungannya.

Page 43: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

32

Kompetensi sosial dalam kegiatan belajar ini berkaitan erat dengan

kemampuan guru dalam bekomunikasi dengan masyarakat di sekitar

sekolah dan masyarakat tempat guru tinggal sehingga peranan dan cara

guru berkomunikasi di masyarakat diharapkan memiliki karakteristik

tersendiri yang sedikit banyak berbeda dengan orang lain yang bukan

guru. Misi yang diemban guru adalah misi kemanusiaan. Mengajar dan

mendidik adalah tugas memanusiakan manusia. Guru harus mempunyai

kompetensi sosial karena guru adalah Penceramah Zaman (Langeveld,

1955), lebih tajam lagi ditulis oleh Ir. Soekarno dalam tulisan ” Guru dalam

masa pembangunan” menyebutkan pentingnya guru dalam masa

pembangunan adalah menjadi masyarakat. Oleh karena itu, tugas guru

adalah tugas pelayanan manusia.

Guru di mata masyarakat pada umumnya dan para peserta didik

merupakan panutan dan anutan yang perlu dicontoh dan merupakan suri

teladan dalam kehidupan sehari-hari. Guru merupakan tokoh dan tipe

makhluk yang diberi tugas dan beban membina dan membimbing

masyarakat ke arah norma yang berlaku. Guru perlu memiliki kompetensi

sosial untuk berhubungan dengan masyarakat dalam rangka

menyelenggarakan proses belajar mengajar yang efektif karena dengan

dimilikinya kompetensi sosial tersebut, otomatis hubungan sekolah

dengan masyarakat akan berjalan dengan lancar sehingga jika ada

keperluan dengan orang tua peserta didik atau masyarakat tentang

masalah peserta didik yang perlu diselesaikan tidak akan sulit

menghubunginya.

Page 44: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

33

Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa kompetensi sosial guru

merupakan kemampuan guru untuk memahami dirinya sebagai bagian

yang tidak terpisahkan dari masyarakat dan mampu mengembangkan

tugas sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Lebih dalam lagi

kemampuan sosial ini mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri

kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan

tugasnya sebagai guru.

Guru yang efektif adalah guru yang mampu membawa siswanya

dengan berhasil mencapai tujuan pengajaran. Mengajar di depan kelas

merupakan perwujudan interaksi dalam proses komunikasi. Menurut

Undang-Undang Guru dan Dosen kompetensi sosial adalah “kemampuan

guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien

dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan

masyarakat sekitar”. Surya (dalam Uno, 2008:138) mengemukakan

kompetensi sosial adalah kemampuan yang diperlukan oleh seseorang

agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain.

Dalam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan dalam interaksi

sosial dan melaksanakan tanggung jawab sosial. Gumelar dan Dahyat

(dalam Sagala, 2009:127) merujuk pada pendapat Asian Institut for

Teacher Education, menjelaskan kompetensi sosial guru adalah salah

satu daya atau kemampuan guru untuk mempersiapkan peserta didik

menjadi anggota masyarakat yang baik serta kemampuan untuk mendidik,

membimbing masyarakat dalam menghadapi kehidupan di masa yang

Page 45: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

34

akan datang. Untuk dapat melaksanakan peran sosial kemasyarakatan,

guru harus memiliki kompetensi, yaitu: (1) aspek normatif kependidikan,

yaitu untuk menjadi guru yang baik tidak cukup digantungkan kepada

bakat, kecerdasan, dan kecakapan saja, tetapi juga harus beritikad baik

sehingga hal ini bertautan dengan norma yang dijadikan landasan dalam

melaksanakan tugasnya, (2) pertimbangan sebelum memilih jabatan guru,

dan (3) mempunyai program yang menjurus untuk meningkatkan

kemajuan masyarakat dan kemajuan pendidikan. Johnson sebagaimana

dikutip Anwar (2004:63) mengemukakan kemampuan sosial mencakup

kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan

lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru.

Arikunto (1993:239) mengemukakan kompetensi sosial

mengharuskan guru memiliki kemampuan komunikasi sosial baik dengan

peserta didik, sesama guru, kepala sekolah, pegawai tata usaha, bahkan

dengan anggota masyarakat. Berdasarkan uraian di atas, kompetensi

sosial guru tercermin melalui indikator, yaitu: (1) interaksi guru dengan

siswa, (2) interaksi guru dengan kepala sekolah, (3) interaksi guru dengan

rekan kerja, (4) interaksi guru dengan orang tua siswa, dan (5) interaksi

guru dengan masyarakat.

c. Pengertian Kompetensi Profesional Guru

Kompetensi menurut Spencer (1993:9):

“A competency is an underlying characteristic of an individual that is causally related to criterion referenced effective and/or superior

Page 46: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

35

performance in a job situation. Underlying characteristic means the competency is a fairly deep and enduring part of a person’s personality and can predict behavior in a wide variety situations and job task. Competencies are underlying characteristic of people and indicate “ways of behaving or thinking, generalizing across situations, and enduring for a reasonably long period of time.” Artinya:

Kompetensi merupakan karakteristik yang mendasari seseorang yang kausal berkaitan dengan kriteria direferensikan dan/atau kinerja yang unggul efektif dalam situasi pekerjaan. Karakteristik Underlying berarti kompetensi adalah bagian yang cukup mendalam dan abadi kepribadian seseorang dan dapat memprediksi perilaku dalam berbagai situasi dan pekerjaan tugas yang luas. Kompetensi yang mendasari karakteristik orang dan menunjukkan "cara berperilaku atau berpikir, generalisasi menemukan situasi, dan bertahan untuk jangka waktu yang cukup lama". (Spencer, 1993:9) Karakteristik-karakteristik kompetensi dari Spencer sebagai berikut:

1) Motif, sesuatu yang membuat seseorang tergerak untuk melakukan tindakan, 2) Tindakan, yaitu respons dengan tindakan secara terus menerus terhadap situasi atau informasi, 3) Konsep kepribadian, yaitu sikap dan nilai-nilai yang dimiliki seseorang, 4) Pengetahuan yang dimiliki mengenai bidang tersebut, 5) Skill atau keterampilan, yaitu keahlian yang membentuk baik pikiran ataupun tindakan. Dari pengertian dan karakteristik yang dikemukakan oleh Spencer

bahwa kompetensi merupakan kemampuan atau keahlian yang harus

dimiliki oleh seseorang untuk suatu bidang pekerjaan yang ia tekuni

secara resmi. Kompetensi ini diperoleh dalam waktu yang lama. Ciri dari

kompetensi tersebut tidak hanya niat dan kemampuan yang ada, tetapi

keahlian dan keterampilan ini diwujudkan dalam sikap dan nilai sehari-hari

dalam melakukan pekerjaannya.

Sagala (2009:23) mengatakan bahwa makna kompetensi adalah

perpaduan dari penguasaan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap

Page 47: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

36

yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak dalam

melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Ia menambahkan bahwa

kompetensi merupakan gabungan dari kemampuan, pengetahuan,

kecakapan, sikap, sifat, pemahaman, apresiasi, dan harapan yang

mendasari karakteristik seseorang untuk berunjuk kerja dalam

melaksanakan tugas atau pekerjaan guna mencapai standar kualitas

dalam pekerjaan nyata.

Dengan demikian, kompetensi guru adalah perpaduan dari

pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang ia miliki, hayati dan

kuasai. Kemudian perpaduan dari pengetahuan dan keterampilan, juga

dan sikap yang ia miliki, hayati serta mampu diwujudkan dalam tugasnya

sehari-hari secara profesional.

Saud (2010:44) mendefinisikan bahwa kompetensi itu adalah: 1)

kecakapan atau kemampuan untuk mengerjakan sesuatu atau pekerjaan,

2) kompetensi merupakan suatu sifat (karakteristik) orang-orang

(kompeten) yang memiliki kecakapan, daya (kemampuan), otoritas

(kewenangan), kemahiran (keterampilan), dan pengetahuan. 3)

kompetensi ini menunjukkan kepada tindakan (kinerja) rasional yang

dapat mencapai tujuan-tujuannya secara memuaskan berdasarkan kondisi

(prasyarat yang diharapkan).

Usman (2010:14) mengatakan bahwa kompetensi merupakan

perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai

dengan kondisi yang diharapkan. Kompetensi guru merupakan

Page 48: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

37

kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban

secara bertanggung jawab dan layak.

Dari pengertian kompetensi beberapa pendapat ahli di atas dapat

disimpulkan bahwa kompetensi adalah kecapakan/keahlian atau

kemampuan yang dibekali dengan pengetahuan disertai tindakan dalam

mewujudkan tujuan yang ingin dicapai. Keahlian tersebut ditempuh

melalui proses dan waktu yang lama sehingga keahlian itu melekat dalam

diri seseorang (menjadi karakteristik) dan dengan pengetahuan serta

keahlian tersebut ia bisa mengambil manfaatnya.

Kompetensi guru berarti juga kecapakan/keahlian atau kemampuan

yang dibekali dengan pengetahuan untuk proses instruksional atau belajar

mengajar dan dilakukan dengan proses sadar serta penuh tanggung

jawab. Sadar yang dimaksud adalah selain mengetahui materi dan

keterampilan yang akan diberikan. Tanggung jawab yang dimaksud

adalah seorang guru memantau perkembangan kelas dari awal hingga

akhir dan ia berusaha agar seluruh isi kelas terstimulasi, paham, dan turut

berperan aktif dalam memperoleh pengetahuan dan kompetensi yang

diajarkan.

Guru dan dosen adalah pejabat profesional, sebab mereka diberi

tunjangan profesional. Guru sebagai pendidik profesional mempunyai citra

yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukkan kepada masyarakat

bahwa ia layak menjadi panutan atau teladan masyarakat sekelilingnya.

Danim (2011: 103-104) menjelaskan bahwa kata profesional merujuk

kepada dua hal. Pertama, orang yang menyandang suatu profesi, seperti

Page 49: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

38

“Toni seorang profesional”. Orang yang profesional biasanya melakukan

pekerjaan secara otonom dan dia mengabdikan diri pada pengguna jasa

disertai dengan rasa tanggung jawab atas kemampuan profesionalnya itu.

Istilah otonom di sini bukan berarti menafikan kolegalitas, melainkan harus

diberi makna bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh seorang penyandang

profesi ini benar-benar sesuai dengan keahliannya.

Kedua, kinerja atau performance guru dalam melakukan pekerjaan

yang sesuai dengan profesinya. Pada tingkat tinggi, kinerja ini dimuati

unsur-unsur kiat atau seni yang menjadi ciri tampilan profesional seorang

penyandang profesi. Seni atau kiat itu umumnya tidak dapat dipelajari

secara khusus, meski dapat saja diasah melalui latihan. Misalnya, seni

guru dalam mengolah pertanyaan siswa, memberikan umpan balik, dan

mengemas humor secara tepat selama mengajar. Termasuk di sini ialah

kemampuan intuitif, di mana seorang profesional sungguhan sering kali

tidak perlu mengumpulkan data terlalu banyak dan lama untuk mengambil

simpulan atas sebuah fenomena yang dihadapinya. Intuisi biasanya

muncul karena pengalaman yang berulang-ulang.

Sifat profesional berbeda dengan sifat paraprofesional atau tidak

profesional sama sekali. Sifat dimaksud adalah seperti apa yang dapat

ditampilkan dalam perbuatan, bukan yang dikemas dalam kata-kata yang

diklaim oleh pelaku secara individual. Untuk menunjukkan bahwa “saya

adalah seorang profesional”, karenanya, bukan dengan kata-kata,

melainkan dengan perbuatan.

Page 50: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

39

Menurut Saud (2010:23) profesional menunjuk pada dua hal.

Pertama penampilan seseorang yang sesuai dengan tuntutan yang

seharusnya, tapi bisa juga menunjuk pada orangnya. Profesionalisme

menunjuk pada proses menjadikan seseorang sebagai profesional melalui

pendidikan prajabatan dan/atau dalam jabatan. Proses pendidikan dan

latihan ini biasanya lama dan intensif.

Walter Johnson (dalam Rusman, 2011:17) mengatakan bahwa

profesional adalah seseorang yang menampilkan tugas khusus yang

mempunyai tingkat kesulitan lebih dari biasa dan mempersyaratkan waktu

persiapan dan pendidikan cukup lama untuk menghasilkan pencapaian

kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan yang berkadar tinggi. Tilaar

masih dalam Rusman (2011:18) menjelaskan profesional adalah

seseorang yang menjalankan pekerjaannya sesuai dengan tuntutan

profesinya. Seorang profesional menjalankan kegiatannya berdasarkan

profesionalisme, bukan secara amatiran. Profesionalisme bertentangan

dengan amatirisme.

Mengacu dari beberapa definisi di atas, makna profesionalisme

adalah suatu pekerjaan atau aktivitas yang dikerjakan berdasarkan

profesinya, pekerjaan ini merupakan suatu pekerjaan yang dijalani dengan

sungguh-sungguh bukan amatiran dan tentu saja pekerjaan tersebut

harus memenuhi syarat tertentu untuk bisa mengikuti standar profesinya.

Syarat-syarat tertentu tersebut bisa syarat waktu pendidikan yang cukup

lama, keterampilan, dan pengetahuan.

Page 51: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

40

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seorang guru yang

profesional adalah seorang guru yang ahli, bukan amatiran, sambilan,

atau sementara dalam menjalankan tugasnya sebagai guru karena makna

profesionalisme bertentangan dengan amatirisme. Seorang guru

profesional akan bertindak secara sungguh-sungguh dan akan terus-

menerus meningkatkan mutu karyanya secara sadar melalui pendidikan

dan pelatihan.

Yamin dan Maisah (2010:28) mengatakan bahwa guru profesional

adalah guru yang mengedepankan mutu dan kualitas layanan produknya.

Layanan guru harus memenuhi standardisasi kebutuhan masyarakat,

bangsa, dan penggunaannya serta memaksimalkan kemampuan peserta

didik berdasar potensi dan kecakapan yang dimiliki masing-masing

individu.

Menurut Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan

Dosen, kompetensi profesional adalah “kemampuan penguasaan materi

pelajaran secara luas dan mendalam”. Surya (dalam Uno, 2008:138)

mengemukakan kompetensi profesional adalah berbagai kemampuan

yang diperlukan agar dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional.

Kompetensi profesional meliputi kepakaran atau keahlian dalam

bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkannya beserta

metodenya, rasa tanggung jawab akan tugasnya dan rasa kebersamaan

dengan sejawat guru lainnya. Gumelar dan Dahyat (dalam Ahmadi,

2003:127) merujuk pada pendapat Asian Institut for Teacher Education,

Page 52: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

41

yang mengemukakan bahwa kompetensi profesional guru mencakup

kemampuan dalam hal: (1) mengerti dan dapat menerapkan landasan

pendidikan baik filosofis, psikologis, dan sebagainya, (2) mengerti dan

menerapkan teori belajar sesuai dengan tingkat perkembangan perilaku

peserta didik, (3) mampu menangani mata pelajaran atau bidang studi

yang ditugaskan kepadanya, (4) mengerti dan dapat menerapkan metode

mengajar yang sesuai, (5) mampu menggunakan berbagai alat pelajaran

dan media serta fasilitas belajar lain, (6) mampu mengorganisasikan dan

melaksanakan program pengajaran, (7) mampu melaksanakan evaluasi

belajar, dan (8) mampu menumbuhkan motivasi peserta didik.

Johnson (dalam Anwar, 2004:63) mengemukakan kemampuan

profesional mencakup: (1) penguasaan pelajaran yang terkini atas

penguasaan bahan yang harus diajarkan, dan konsep-konsep dasar

keilmuan bahan yang diajarkan tersebut, (2) penguasaan dan

penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan, (3)

penguasaan proses-proses kependidikan, keguruan, dan pembelajaran

siswa.

Arikunto (1993:239) mengemukakan kompetensi profesional

mengharuskan guru memiliki pengetahuan yang luas dan dalam tentang

subject matter (bidang studi) yang akan diajarkan serta penguasaan

metodologi yaitu menguasai konsep teoretik, maupun memilih metode

yang tepat dan mampu menggunakannya dalam proses belajar mengajar.

Page 53: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

42

Depdiknas (2004: 9) mengemukakan kompetensi profesional

meliputi: (1) pengembangan profesi, pemahaman wawasan, dan

penguasaan bahan kajian akademik.Pengembangan profesi meliputi: (1)

mengikuti informasi perkembangan iptek yang mendukung profesi melalui

berbagai kegiatan ilmiah, (2) mengalihbahasakan buku pelajaran/karya

ilmiah, (3) mengembangkan berbagai model pembelajaran, (4) menulis

makalah, (5) menulis/menyusun diktat pelajaran, (6) menulis buku

pelajaran, (7) menulis modul, (8) menulis karya ilmiah, (9) melakukan

penelitian ilmiah (action research), (10) menemukan teknologi tepat guna,

(11) membuat alat peraga/media, (12) menciptakan karya seni, (13)

mengikuti pelatihan terakreditasi, (14) mengikuti pendidikan kualifikasi,

dan (15) mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum.Pemahaman

wawasan meliputi: (1) memahami visi dan misi, (2) memahami hubungan

pendidikan dengan pengajaran, (3) memahami konsep pendidikan dasar

dan menengah, (4) memahami fungsi sekolah, (5) mengidentifikasi

permasalahan umum pendidikan dalam hal proses dan hasil belajar, dan

(6) membangun sistem yang menunjukkan keterkaitan pendidikan dan luar

sekolah.

Penguasaan bahan kajian akademik meliputi: (1) memahami struktur

pengetahuan, (2) menguasai substansi materi, (3) menguasai substansi

kekuasaan sesuai dengan jenis pelayanan yang dibutuhkan siswa.

Berdasarkan uraian di atas, kompetensi profesional guru tercermin dari

indikator (1) kemampuan penguasaan materi pelajaran, (2) kemampuan

Page 54: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

43

penelitian dan penyusunan karya ilmiah, (3) kemampuan pengembangan

profesi, dan (4) pemahaman terhadap wawasan dan landasan pendidikan.

Danim (2011: 105-108) mengemukakan bahwa guru profesional

memiliki ciri-ciri sebagai profesional sungguhan. Ciri-ciri itu terefleksi dari

perilaku kesehariannya sebagai guru profesional. Jika pendidikan

merupakan salah satu instrumen utama pengembangan sumber daya

manusia, berarti guru memiliki tanggung jawab untuk mengemban tugas

itu. Siapa saja yang menyandang profesi sebagai guru, dia harus secara

kontinu menjalani profesionalisasi. Namun, masalah esensial yang

dihadapi dalam pengelolaan guru di Indonesia saat ini tidak lagi semata-

mata terletak pada bagaimana menghasilkan guru yang bermutu melalui

lembaga pendiikan tenaga kependidikan, tetapi sejauh mana profesi itu

dapat diakui oleh negara sebagai profesi yang sesungguhnya. Hasil studi

beberapa ahli mengenai sifat-sifat atau karakteristik profesi, yang secara

taat asas dimiliki dan dijunjung tinggi oleh guru profesional, menghasilkan

simpulan sebagai berikut:

1) Kemampuan intelektual yang diperoleh melalui pendidikan.

2) Memiliki pengetahuan spesialisasi.

3) Menjadi anggota organisasi profesi.

4) Memiliki pengetahuan praktis yang dapat digunakan langsung oleh

orang lain atau klien.

5) Memiliki teknik kerja yang dapat dikomunikasikan atau communicable.

6) Memiliki kapasitas mengorganisasikan kerja secara mandiri atau self-

organization.

Page 55: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

44

7) Mementingkan kepentingan orang lain (altruism).

8) Memiliki kode etik.

9) Memiliki sanksi dan tanggung jawab komunitas.

10) Mempunyai sistem upah.

11) Budaya profesional

12) Melaksanakan pertemuan profesional tahunan.

3. Fungsi-Fungsi Kompetensi Kepribadian, Sosial, dan Profesional

Guru a. Fungsi Kompetensi Kepribadian Guru

Setiap subjek mempunyai pribadi yang unik, masing-masing

mempunyai ciri dan sifat bawaan serta latar belakang kehidupan. Banyak

masalah psikologis yang dihadapi peserta didik, banyak pula minat,

kemampuan, motivasi dan kebutuhannya. Semua memerlukan bimbingan

guru yang berkepribadian dapat bertindak sebagai pembimbing, penyuluh

dan dapat menolong peserta didik agar mampu menolong dirinya sendiri.

Di sinilah letak kompetensi kepribadian guru sebagai pembimbing dan suri

teladan. Guru adalah sebagai panutan yang harus digugu dan ditiru dan

sebagai contoh pula bagi kehidupan dan pribadi peserta didiknya.

Dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantoro dalam sistem Amongnya yaitu guru

harus:

Ing ngarso sungtulodo Ing madyo mangun karso Tut wuri handayani

Artinya bahwa guru harus menjadi contoh dan teladan,

membangkitkan motif belajar siswa serta mendorong/memberikan

Page 56: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

45

motivasi dari belakang. Dalam arti Anda sebagai seorang guru dituntut

melalui sikap dan perbuatan menjadikan dirinya pola panutan dan ikutan

orang-orang yang di pimpinnya. Dalam hal ini siswa-siswa di sekolahnya,

juga sebagai seorang guru dituntut harus mampu membangkitkan

semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang-orang yang

dibimbingnya serta harus mampu mendorong orang-orang yang di

asuhnya agar berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.

Guru bukan hanya pengajar, pelatih dan pembimbing, tetapi juga

sebagai cermin tempat subjek didik dapat berkaca. Dalam relasi

interpersonal antar guru dan subjek didik tercipta situasi didik yang

memungkinkan subjek didik dapat belajar menerapkan nilai-nilai yang

menjadi contoh dan memberi contoh. Guru mampu menjadi orang yang

mengerti dari siswa dengan segala problematikanya, guru juga harus

mempunyai wibawa sehingga siswa segan terhadapnya. Hakikat guru

pendidik adalah bahwa ia digugu dan ditiru.

Berdasarkan uraian di atas, fungsi kompetensi kepribadian guru

adalah memberikan bimbingan dan suri teladan, secara bersama-sama

mengembangkan kreativitas dan membangkitkan motif belajar serta

dorongan untuk maju kepada anak didik.

b. Fungsi Kompetensi Sosial Guru

Guru ada dan hidup di masyarakat. Masyarakat dalam proses

pembangunan sekarang ini menganggap guru sebagai anggota

masyarakat yang memiliki kemampuan, keterampilan yang cukup luas,

yang mau ikut serta secara aktif dalam proses pembangunan.

Page 57: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

46

Posisi Anda sebagai seorang/calon guru perlu menyadari bahwa

guru tidak mungkin lepas dari kondisi sosial di masyarakat yang sifatnya

kompleks. Untuk itu peran dan fungsi guru yang perlu Anda pelajari

adalah sebagai berikut:

1) Motivator dan Inovator dalam Pembangunan Pendidikan

Sebagai ilustrasi guru yang berada di desa berperan sebagai

agen perubahan di masyarakat berusaha aktif dalam mencerdaskan

kehidupan masyarakat desa dengan senantiasa memberikan motivasi

kepada masyarakat untuk ikut serta menyukseskan program wajib

belajar dan mendorong mereka untuk tetap menyekolahkan anaknya

ke jenjang yang lebih tinggi.

2) Perintis dan Pelopor Pendidikan

Sebagai contoh kepeloporan yang dilakukan guru dalam kegiatan

penggalangan dana dari masyarakat mampu untuk memberikan

beasiswa bagi siswa berprestasi yang kurang mampu di sekolahnya,

keaktifan guru sebagai tutor di balai desa dalam menunjang program

kejar paket A dan paket B.

3) Penelitian dan Pengkajian Ilmu Pengetahuan

Sebagai seorang guru yang memiliki kemampuan dalam ilmu

pengetahuan dituntut untuk senantiasa berusaha melakukan berbagai

penemuan khususnya berkaitan dengan permasalahan pendidikan

yang ada di masyarakat sehingga diharapkan dengan penemuannya

dapat dilakukan pencarian solusinya baik secara individu maupun

Page 58: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

47

kelembagaan. Hasil dari penelitian guru dapat dipublikasikan secara

luas kepada masyarakat pendidikan.

4) Pengabdian

Menyadari akan tuntutan yang demikian besar terhadap tanggung

jawab guru di masyarakat, maka anda sebagai salah satu ujung

tombak dunia pendidikan perlu melibatkan diri dalam kegiatan di

masyarakat yang relevan dengan dunia pendidikan terutama dalam

mencerdaskan kehidupan bangsa. Misalnya anda dapat melakukan

pengabdian di masyarakat dengan memberikan penerangan mengenai

wajib belajar kepada masyarakat dalam kegitan kelurahan,

memberikan diklat mengenai berbagai keeterampilan praktis yang

dapat meningkatkan kewirausahaan dikalangan pemuda putus sekolah

menjadi narasumber dalam kegiatan latihan kepemimpinan di karang

taruna dan lain-lain.

c. Fungsi Kompetensi Profesional Guru

Ada 4 kompetensi profesional guru:

1) Mempunyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia.

2) Mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang di

binanya.

3) Mempunyai sikap yang tepat tentang diri sendiri, sekolah, teman

sejawat, dan biudang studi yang dibinanya.

4) Mempunyai keterampilan dalam teknik mengajar.

Page 59: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

48

4. Pengelolaan Kelas

a. Penguasaan Bahan Bidang Studi

Kompetensi pertama yang harus dimiliki seorang guru adalah

penguasaan bahan bidang studi. Penguasaan ini menjadi landasan pokok

untuk keterampilan mengajar. Yang dimaksud dengan kemampuan

menguasai bahan bidang studi menurut Cece (1994) adalah kemampuan

mengetahui, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, menyintesiskan

dan mengevaluasi sejumlah pengetahuan keahlian yang diajarkannya.

Ada dua hal dalam mengausai bahan bidang studi:

1) Menguasai bahan bidang studi dan kurikulum sekolah.

Untuk menguasai bahan bidang studi dan kurikulum sekolah

dapat dilakukan dengan cara:

a) Mengkaji bahan kurikulum bidang studi.

b) Mengkaji isi buku-buku teks bidang studi yang bersangkutan.

c) Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang disarankan dalam kurikulum

bidang studi yang bersangkutan.

2) Menguasai bahan pendalaman/aplikasi bidang studi. Hal ini dilakukan

dengan cara:

a) Mempelajari ilmu yang relevan.

b) Mempelajari aplikasi bidang ilmu ke dalam bidang ilmu lain (untuk

progam-progam studi tertentu).

c) Mempelajari cara menilai kurikulum bidang studi.

Page 60: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

49

b. Kemampuan mengelola progam belajar mengajar

Kemampuan mengelola progam belajar mengajar mencakup

kemampuan merumuskan tujuan instruksional, kemampuan mengenal dan

menggunakan metode mengajar, kemampuan memilih dan menyusun

prosedur instruksional yang tepat, kemampuan melaksanakan progam

belajar mengajar, kemampuan mengenal potensi (entry behavior) peserta

didik, serta kemampuan merencanakan dan melaksanakan pengajaran

remedial.

Secara rinci, menurut Sciever (dalam Spencer, 1993:33) kemampuan

mengelola program belajar mengajar dapat dilakukan dengan cara berikut:

1) Merumuskan tujuan instruksional. Kemampuan ini dilakukan dengan

cara:

a) Mengkaji kurikulum bidang studi

b) Mempelajari ciri-ciri rumusan tujuan instruksional.

c) Mempelajari tujuan instruksional bidang studi yang bersangkutan.

d) Merumuskan tujuan instruksional bidang studi yang bersangkutan.

2) Mengenal dan dapat menggunakan metode mengajar. Kemampuan ini

dapat dilakukan dengan cara:

a) Mempelajari macam-macam metode mengajar.

b) Menggunakan macam-macam metode mengajar.

3) Memilih dan menyusun prosedur instruksional yang tepat. Kemampuan

ini dapat dilakukan dengan cara:

a) Mempelajari kriteria pemilihan materi dan prosedur mengajar.

Page 61: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

50

b) Menggunakan kriteria pemilihan materi dan prosedur mengajar.

c) Merencanakan program pelajaran.

d) Menyusun satuan pelajaran.

4) Melaksanakan program belajar mengajar. Kemampuan ini dapat

dilakukan dengan cara:

a) Mempelajari fungsi dan peran guru dalam proses belajar mengajar.

b) Menggunakan alat bantu belajar mengajar.

c) Menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar.

d) Memonitor proses belajar peserta didik.

e) Menyesuaikan rencana program pengajaran dengan situasi kelas.

5) Mengenal kemampuan (entry behaviour) anak didik. Kemempuan ini di

lakukan dengan cara:

a) Mempelajari tingkat perkembangan dan faktor-faktor yang

mempengaruhi pencapaian prestasi belajar.

b) Mempelajari prosedur dan teknik untuk mengidentifikasi

kemampuan peserta didik.

c) Menggunakan prosedur dan teknik untuk mengidentifikasi

kemampuan peserta didik.

6) Merencanakan dan melaksanakan pengajaran remedial. Kemampuan

ini dapat di lakukan dengan cara:

a) Mempelajari faktor-faktor kesulitan belajar.

b) Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik.

c) Menyusun rencana pengajaran remedial.

Page 62: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

51

d) Melaksanakan pengajaran remedial.

c. Pengelolaan Kelas

Kemempuan ini menggambarkan keterampilan guru dalam

merancang, menata dan mengatur sumber-sumber belajar, agar tercapai

suasana pengajaran yang efektif, dan efisien. Jenis kemampuan yang

perlu dimiliki guru adalah:

1) Mengatur tata ruang kelas untuk pengajaran. Kemampuan ini dapat

dikuasai dengan cara berikut:

a) Mempelajari macam-macam pengaturan tempat duduk dan setting

ruangan kelas sesuai dengan tujuan-tujuan instruksinal yang

hendak dicapai.

b) Mempelajari kriteria penggunaan macam-macam pengaturan

tempat duduk dan setting ruangan.

2) Menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif. Kemampuan ini

dapat dikuasai dengan cara berikut:

a) Mempelajari faktor-faktor yang mengganggu iklim belajar mengajar

yang kondusif.

b) Mempelajari strategi dan prosedur pengelolaan kelas yang bersifat

preventif.

c) Menggunakan strategi dan prosedur pengelolaan kelas yang

bersifat preventif.

d) Menggunakan ptosedur pengelolaan kelas yang bersifat kuratif.

Page 63: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

52

5. Ruang Lingkup Kompetensi Kepribadian dan Sosial Guru

a. Ruang Lingkup Kompetensi Kepribadian

Untuk meningkatkan kompetensi, guru dituntut untuk menatap dirinya

dan memahami konsep dirinya. Guru harus mampu berkaca pada dirinya

sendiri. Bila ia berkaca ia akan melihat bukan satu pribadi, tetapi ada tiga

pribadi yaitu:

1) Saya dengan konsep diri saya (self concept)

2) Saya dengan ide saya (self idea)

3) Saya dengan realita diri saya (self reality)

Ruang lingkup kompetensi kepribadian guru tidak lepas dari falsafah

hidup, nilai-nilai yang berkembang di tempat guru berada, tetapi ada

beberapa hal yang bersifat universal yang mesti dimiliki oleh guru dalam

menjalankan fungsinya sebagai makhluk individu (pribadi) yang

menunjang keberhasilan tugas pendidikan yang diembannya.

Kemampuan pribadi menurut Sanusi (Sagala, 2009: 23) mencakup

hal-hal sebagai berikut:

1) Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan situasi pendidikan

beserta unsur-unsurnya.

2) Pemahaman, penghayatan dan penampilan nilai-nilai yang

seyogiyanya dianut oleh seseorang guru.

3) Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan

teladan bagi siswanya.

Kompetensi kepribadian yang perlu dimiliki guru antara lain sebagai

berikut:

Page 64: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

53

1) Guru sebagai manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa berkewajiban

untuk meningkatkan iman dan ketaqwaannya kepada Tuhan, sejalan

dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya. Dalam hal ini guru

mesti beragama dan taat dalam menjalankan ibadahnya. Contoh:

seorang guru laki-laki yang beragama Islam pada hari jumat

melaksanakan ibadah sholat Jumat di tempat dia tinggal atau di

sekolah yang ada masjidnya bersama warga sekolah yang lainnya dan

sebaliknya agar dihindari perilaku untuk menyuruh orang lain

beribadah sementara dia malah bermain catur dengan orang yang

tidak pernah beribadah.

2) Guru memiliki kelebihan dibandingkan yang lain. Oleh karena itu perlu

di kembangkan rasa percaya pada diri sendiri dan tanggung jawab

bahwa ia memiliki potensi yang besar dalam bidang keguruan dan

mampu untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapinya.

Contoh: seorang guru yang telah mengikuti penataran tentang metode

CBSA berani untuk menerapkannya dalam kegiatan belajar mengajar

di kelas dan mengevaluasi serta menyosialisasikan hasilnya kepada

rekan guru-guru yang lain dan mengajak untuk mengembangkan

metode yang telah dicobanya. Sebaliknya agar dihindari perilaku yang

ragu-ragu untuk mencoba apa yang telah dimiliki dan takut merasa

gagal dengan apa yang dicobanya.

3) Guru senantiasa berhadapan dengan komunitas yang berbeda dan

beragam keunikan dari peserta didik dan masyarakatnya maka guru

perlu untuk mengembangkan sikap tenggang rasa dan toleransi dalam

Page 65: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

54

menyikapi perbedaan yang ditemuinya dalam berinteraksi dengan

peserta didik maupun masyarakat. Contoh: dalam situasi belajar

mengajar di kelas guru mengembangkan metode diskusi dalam mata

pelajaran tertentu dan memberikan kesempatan kepada murid untuk

menyampaikan pendapatnya bahkan mau pendapat yang yang

berbeda dari murid dengan alasan yang rasional dan sebaliknya agar

dihindari perilaku yang ingin menang sendiri dan menganggap dirinya

paling benar serta tidak mau menerima masukan dari siapapun

termasuk dari murid-murid.

4) Guru diharapkan dapat menjadi fasilitator dalam menumbuh

kembangkan budaya berpikir kritis di masyarakat, saling menerima

dalam perbedaan pendapat dan menyepakatinya untuk mencapai

tujuan bersama maka dituntut seorang untuk bersikap demokratis

dalam menyampaikan dan menerima gagasan-gagasan mengenai

permasalahan yang ada di sekitarnya sehingga guru menjadi terbuka

dan tidak menutup diri dari hal-hal yang berada di luar dirinya.

5) Guru mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan pembaharuan,

baik dalam bidang profesinya maupun dalam spesialisnya.

b. Ruang Lingkup Kompetensi Sosial Guru

Sanusi (dalam Sagala, 2009: 28) mengungkapkan kompetensi sosial

mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja

dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru.

Page 66: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

55

Menurut Amijaya (dalam Siddik, 2009) kompetensi kemasyarakatan

atau kompetensi sosial guru, berkaitan dengan kompetensi

profesionalnya. Ia terwujud dalam bentuk partisipasi sosial seseorang guru

dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat dimana ia berada, baik secara

formal maupun informal.

Jenis-jenis kompetensi sosial yang harus dimiliki guru (menurut

Cece, 1994) adalah sebagai berikut:

1) Terampil berkomunikasi dengan peserta didik dan orang tua peserta

didik

Keterampilan berkomunikasi dengan orang tua peserta didik, baik

melalui bahasa lisan maupun tertulis, sangat diperlukan oleh guru.

Penggunaan bahasa lisan dan tertulis yang baik dan benar diperlukan

agar orang tua peserta didik dapat memahami bahan yang

disampaikan oleh guru, dan lebih dari itu agar guru dapat menjadi

teladan bagi siswa dan masyarakat dalam menggunakan bahasa

secara baik dan benar. Guru dalam hal ini menciptakan suasana

kehidupan sekolah sehingga terjalin pertukaran informasi timbal balik

untuk kepentingan peserta didik dan senantiasa menerima dengan

lapang dada setiap kritik membangun yang disampaikan orang tua

terhadap sekolahnya.

Sebagai ilustrasi pada waktu rapat dengan orang tua peserta

didik, guru menyampaikan sambutan dengan tata bahasa yang baik

Page 67: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

56

dan tidak bertele-tele dalam menyampaikan program sekolah serta

berusaha untuk menampung permasalahan yang dihadapi orang tua,

tentang perkembangan pendidikan anak-anaknya dengan penuh

perhatian. Dalam menyampaikan informasi tentang pendidikan di

sekolah, pihak sekolah menerbitkan buletin yang berisi kegiatan

pendidikan dan artikel mengenai dunia pendidikan dari para guru yang

di kemas dalam bahasa yang mudah di pahami dan menarik perhatian

pembacanya.

2) Bersikap simpatik

Mengingat peserta didik dan orang tuanya berasal dari latar

belakang pendidikan dan sosial ekonomi keluarga yang berbeda, guru

dituntut untuk mampu menghadapinya secara individual dan ramah. Ia

diharapkan dapat menghayati perasaan peserta didik dan orang tua

yang dihadapinya sehingga dapat berhubungan dengan mereka

secara luwes. Mereka selalu siap memberikan bantuan kepada guru

secara individual dengan kondisi sosial psikologis guru dan sesuai

dengan latar belakang sosial ekonomi dan pendidikannya.

Sebagai ilustrasi, anda dapat merasakan bagaimana senyuman

ibu guru saat kali pertama Anda ditanya tentang nama, alamat dan

orang tua Anda ketika di SD dahulu, dan sejumlah pengalaman lain

yang Anda rasakan tentang perilaku simpatik guru-guru Anda sehingga

merasa dekat dengan mereka dan tidak ada perasaan takut apalagi

membencinya.

Page 68: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

57

3) Dapat Bekerja Sama dengan Dewan Pendidikan/Komite Sekolah

Guru harus dapat menampilkan dirinya sedemikian rupa,

sehingga kehadirannya diterima di masyarakat. Dengan cara demikian,

dia akan mampu bekerja sama dengan Dewan Pendidikan/Komite

Sekolah baik di dalam maupun di luar kelas. Untuk itu guru perlu

memahami kaidah-kaidah psikologis yang melandasi perilaku manusia,

terutama yang berkaitan dengan hubungan antar manusia. Sebagai

ilustrasi, guru yang ada di sekolah harus mengetahui karakteristik

lingkungan sosial budaya masyarakat ditempat guru bekerja dan di

tempat tinggalnya sehingga adaptasi yang dilakukan akan lebih

diterima oleh masyarakat. Apalagi berkaitan dengan program sekolah

yang secara tidak langsung memerlukan dukungan dari pihak orang

tua, dalam hal ini lembaga Dewan Pendidikan/Komite Sekolah yang

merupakan wakil dari orang tua peserta didik dan masyarakat

(stakeholder).

Contoh guru yang ditinggal di daerah religius (pesantren), untuk

dapat berkomunikasi dengan baik dia harus mengikuti berbagai bentuk

pertemuan majlis taklim agar dapat berhubungan dengan tokoh-tokoh

masyarakat yang dianggap karismatik dan memiliki fatwa di dalam

kehidupan masyarakat agar mereka dapat dijadikan sebagai

penasehat dalam lembaga Dewan Pendidikan/Komite Sekolah. Dari

hasil hubungan yang harmonis tersebut diharapkan tercipta suatu

anggapan bahwa kemajuan bersama antara pihak sekolah dan

masyarakat.

Page 69: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

58

4) Pandai Bergaul dengan Kawan Sekerja dan Mitra Pendidikan

Guru diharapkan dapat menjadi tempat mengadu oleh sesama

kawan sekerja dan orang tua peserta didik, dapat diajak berbicara

mengenai berbagai kesulitan yang di hadapi guru lain atau orang tua

berkenaan dengan anaknya, baik di bidang akademis ataupun sosial.

Sebagai ilustrasi kehidupan di sekolah merupakan gambaran

kehidupan di masyarakat yang penuh dinamika. Oleh karena itu, guru-

guru dan murid-murid yang ada di dalamnya memiliki sifat yang

berbeda, ada yang pendiam, pemalu, pemarah, penakut, agresif dan

sebagainya. Untuk itu terutama guru-guru harus mampu menjalin

hubungan yang harmonis di antara mereka sendiri dan tidak segan

untuk saling berbagai pengalaman sehingga merupakan satu kesatuan

yang utuh dalam membina pendidikan di sekolah.

Sebagai contoh seorang guru yang sedang mengalami musibah

akan merasa ringan dan terbantu karena rekan guru yang lain

memperhatikan dan membantunya dalam mengatasi persoalan yang

dihadapi.

5) Memahami Dunia Sekitarnya (Lingkungannya)

Sekolah ada dan hidup dalam suatu masyarakat. Masyarakat

yang ada di sekitar sekolah selalu mempengaruhi perkembangan

pendidikan di sekolah, karena itu guru wajib mengenal dan menghayati

dunia sekitar sekolah, minimal masyarakat kelurahan/desa dan

kecamatan dimana sekolah dan guru berada. Dunia lingkungan

Page 70: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

59

sekolah mungkin dunia industri, dunia pertanian, dunia perkebunan,

dunia perikanan dan lain-lain tentunya dunia lingkungan di sekitar

sekolah tersebut memiliki adat istiadat, kepercayaan, tata cara, sikap

dan tingkah laku masyarakatnya yang berada. Guru menyebarkan dan

turut merumuskan program-program pendidikan kepada dan dengan

masyarakat sekitarnya sehingga sekolah tersebut berfungsi sebagai

pusat pembinaan dan pengembangan kebudayaan di tempat itu. Guru

berperan agar dirinya dan sekolahnya dapat berfungsi sebagai unsur

pembaruan bagi kehidupan dan kemajuan daerahnya. Untuk lebih

memahami dunia sekitarnya, guru turut bersama-sama masyarakat

sekitarnya dalam berbagai aktivitas dan mengusahakan terciptanya

kerja sama yang sebaik-baiknya antara sekolah, orang tua dan

masyarakat bagi kesempurnaan usaha pendidikan atas dasar

kesadaran bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama

antar pemerintah, orang tua peserta didik dan masyarakat.

B. Kerangka Pikir

Kompetensi kepribadian dan sosial guru sangat penting dalam

menghasilkan output pendidikan yang berkualitas, berkompetensi, dan

berdaya saing di dalam masyarakat.

Kompetensi kepribadian guru adalah kompetensi yang berkaitan

dengan perilaku pribadi guru itu sendiri yang kelak harus memiliki nilai-

nilai luhur sehingga terpancar dalam perilaku sehari-hari. Hal ini dengan

Page 71: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

60

sendirinya berkaitan erat dengan falsafah hidup yang mengharapkan guru

menjadi model manusia yang memiliki nilai-nilai luhur.

Kompetensi sosial guru dalam kegiatan belajar ini berkaitan erat

dengan kemampuan guru dalam bekomunikasi dengan masyarakat di

sekitar sekolah dan masyarakat tempat guru tinggal sehingga peranan

dan cara guru berkomunikasi di masyarakat diharapkan memiliki

karakteristik tersendiri yang sedikit banyak berbeda dengan orang lain

yang bukan guru. Misi yang diemban guru adalah misi kemanusiaan.

Apabila guru memiliki kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial

yang baik, maka diharapkan hasil belajar siswa juga meningkat. Guru

sebagai pendidik profesional mempunyai citra yang baik di masyarakat

apabila dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa hasil belajar siswa

yang ia ajar memiliki nilai yang tinggi.

Adapun bagan kerangka pikir dapat dilihat berikut ini:

Gambar 1. Bagan kerangka pikir

C. Hipotesis

Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

Kompetensi Kepribadian Guru yang Baik

Kompetensi Sosial Guru yang Baik

Visi dan Misi SMP Negeri 31

Makassar

Hasil Belajar Bahasa Indonesia

Siswa yang Meningkat

Page 72: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

61

1. Kompetensi kepribadian guru berpengaruh positif dan signifikan

terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas VIII SMP Negeri

31 Makassar.

2. Kompetensi sosial guru berpengaruh positif dan signifikan terhadap

hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas VIII SMP Negeri 31

Makassar.

Page 73: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

62

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Variabel dan Desain Penelitian

1. Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini ada tiga yaitu kompetensi kepribadian guru

sebagai variabel bebas (X1) dan kompetensi sosial guru sebagai variabel

bebas (X2) serta hasil belajar bahasa Indonesia sebagai variabel terikat

(Y).

2. Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasi atau penelitian yang

ingin mengetahui hubungan pengaruh antara tiga variabel. Oleh karena

itu, untuk memperoleh data yang akurat sesuai dengan masalah penelitian

ini dirancang secara deskriptif kuantitatif yang desain atau model

penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian

yang bersifat korelasi dengan pola sebagai berikut:

X1 : Kompetensi kepribadian guru (variabel bebas)

X2 : Kompetensi sosial guru (variabel bebas)

Y : Hasil belajar bahasa Indonesia siswa (variabel terikat)

X1

X2

Y

62

Page 74: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

63

B. Definisi Operasional Variabel

Untuk menjelaskan penelitian ini perlu dijelaskan variabel yang

terdapat dalam penelitian ini. Namun, terlebih dahulu dijelaskan beberapa

istilah berikut.

1. Kompetensi kepribadian guru merupakan kompetensi yang berkaitan

dengan perilaku pribadi guru itu sendiri yang kelak harus memiliki nilai-

nilai luhur sehingga terpancar dari perilaku sehari-hari. Indikator yang

harus diteliti yaitu: (a) penampilan sikap dalam menjalankan tugas, (b)

pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang

seyogyanya dianut oleh seorang guru, dan (c) kepribadian, nilai, sikap

hidup ditampilkan dalam upaya untuk menjadikan dirinya sebagai

panutan dan teladan bagi para siswanya.

2. Kompetensi sosial guru merupakan kemampuan guru untuk

memahami dirinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari

masyarakat dan mampu mengembangkan tugas sebagai anggota

masyarakat dan warga negara. Indikator yang harus diteliti yaitu: (a)

interaksi guru dengan siswa, (b) interaksi guru dengan kepala sekolah,

(c) interaksi guru dengan rekan kerja, (d) interaksi guru dengan orang

tua siswa, dan (e) interaksi guru dengan masyarakat.

3. Hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh murid

dalam mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan

pendidikan yang diharapkan yang diwujudkan dengan hasil belajar

yang didapat oleh siswa.

Page 75: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

64

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Menurut Sugiyono (2003: 55), populasi atau universe adalah jumlah

keseluruhan dari unit analisis yang ciri-cirinya akan diduga. Berdasarkan

pengertian ini, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah

semua siswa kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar sebanyak 230 orang.

Tabel 1. Keadaan Populasi

No Kelas Jenis Kelamin

Jumlah Laki-Laki Perempuan

1. VIII.A 15 17 32 2. VIII.B 17 15 32 3. VIII.C 15 19 34 4. VIII.D 16 20 36 5. VIII.E 16 15 31 6. VIII.F 15 18 33 7. VIII.G 17 15 32

Jumlah 111 119 230 Sumber: Dokumentasi SMP Negeri 31 Makassar

2. Sampel

Menurut Sugiyono (2003: 56), sampel adalah sebagian yang

diambil dari populasi dengan menggunakan cara-cara tertentu.

Berdasarkan definisi tersebut dan mengingat jumlah populasi dalam

penelitian ini cukup banyak, serta keterbatasan penulis baik dari segi dana

dan waktu, maka penelitian ini hanya menggunakan penelitian sampel.

Karena populasinya sudah diketahui, maka untuk mendapatkan

sampel (n) dalam populasi, akan digunakan rumus Slovin (Sugiyono,

2003:56), sebagai berikut:

Page 76: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

65

21NnNe

di mana : n = Ukuran sampel minimum yang akan diambil N = Ukuran populasi e = Persen kelonggaran ketidaktelitian yang digunakan karena

kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir (error) antara ±1% s.d ±10%. Dalam penelitian ini digunakan 10% (0,10).

Dari rumus tersebut dapat diketahui besaran sampel dari siswa kelas

VIII SMP Negeri 31 Makassar yang menjadi responden adalah sebagai

berikut:

= 230

1 + 230. (0,1)ଶ

= 230

1 + 230(0,1)ଶ

= 230

1 + 230(0,01)

= 230

1 + 2,3

= 2303.3

= 69.70

Jadi, n = 69,70 atau dibulatkan menjadi 70 siswa dari semua kelas

VIII. Jadi, sampel yang diteliti dalam penelitian ini sebanyak 70 orang

siswa.

D. Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian ini berupa kuesioner. Angket atau

kuesioner merupakan suatu teknik atau cara pengumpulan data secara

Page 77: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

66

tidak langsung karena peneliti tidak bertanya jawab secara langsung

(Syaodih, 2005). Kuesioner ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus

dijawab atau direspons oleh siswa.

E. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data melalui penelitian lapangan dilakukan dengan

cara observasi ke lokasi penelitian. Teknik yang digunakan dengan cara

ini adalah:

1. Angket (kuesioner), teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui

penyebaran angket kepada siswa yang menjadi sampel. Angket ini

berisi pertanyaan-pertanyaan tentang identitas responden dan

variabel-variabel penelitian untuk mencari informasi yang lengkap dari

permasalahan yang dibahas. Sasaran yang diharapkan dari penelitian

ini adalah menghasilkan jawaban responden yang terstruktur untuk

diolah dan dianalisis lebih lanjut untuk menguji hipotesis penelitian.

Variabel yang diukur adalah kompetensi kepribadian guru, kompetensi

sosial guru, dan hasil belajar siswa.

2. Tes, menggunakan butir soal/instrumen soal untuk mengukur hasil

belajar siswa.

F. Teknik Analisis Data

Metode analisis data adalah suatu metode yang digunakan untuk

mengolah hasil penelitian guna memperoleh simpulan. Adapun metode

analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda.

Page 78: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

67

Analisis regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui

pengaruh kompetensi guru (X1) dan kompetensi sosial guru (X2) terhadap

hasil belajar bahasa Indonesia siswa (Y).

= + ଵ ଵ + ଶଶ +

Keterangan:

Y : Hasil belajar bahasa Indonesia siswa.

X1 : Kompetensi kepribadian guru

X2 : Kompetensi sosial guru

b1 : Koefisien regresi kompetensi kepribadian guru

b2 : Koefisien regresi kompetensi sosial guru

a : Konstanta

Page 79: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

68

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini menjawab rumusan untuk memberikan jawaban

atas rumusan masalah pada penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk

mendeskripsikan pengaruh kompetensi kepribadian guru terhadap hasil

belajar bahasa Indonesia di kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar,

mendeskripsikan pengaruh kompetensi sosial guru terhadap hasil belajar

bahasa Indonesia di kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar, dan

mendeskripsikan penerapan kompetensi kepribadian dan sosial guru

terhadap hasil belajar siswa kelas VIII terhadap pembelajaran bahasa

Indonesia di kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar. Setelah data terkumpul,

maka selanjutnya data dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif

dan inferensial untuk mengetahui gambaran setiap variabel.

1. Deskripsi Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas VIII SMP

Negeri 31 Makassar

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan pada siswa

kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar yang berjumlah 70 orang, maka

peneliti dapat mengumpulkan data hasil belajar bahasa Indonesia siswa

melalui dokumentasi nilai. Adapun data hasil belajar bahasa Indonesia

siswa kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar adalah sebagai berikut:

68

Page 80: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

69

Tabel 4.1 Distribusi dan Presentase Skor Hasil Belajar Keterampilan Menyimak Siswa Kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar

Interval nilai Kategori Frekuensi presentase

0 - 55 Sangat Rendah 9 12,86

56 - 65 Rendah 22 31,43

66 - 75 Sedang 10 14,29

76 - 85 Tinggi 22 31,43

86 - 100 Sangat Tinggi 7 10

Jumlah 70 100

Tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa hasil belajar menyimak dari 70

siswa kelas VIII Negeri 31 Makassar, sekitar 9 orang atau 12,86% yang

berada dalam kategori sangat rendah, 22 orang atau 31,43% nilainya

berada dalam kategori rendah, 10 orang atau 14,29% nialainya berada

dalam kategori sedang, 22 orang atau 31,42% nilainya berada dalam

kategori tinggi dan 9 orang atau 12,86% yang nilainya berada dalam

kategori sangat tinggi. Untuk hasil belajar keterampilan berbicara dapat

dilihat pada tabel 4.2 di bawah ini.

Tabel 4.2 Distribusi dan Presentase Skor Hasil Belajar Keterampilan Berbicara Siswa Kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar

Interval nilai Kategori Frekuensi presentase

0 - 55 Sangat Rendah 20 28,57

56 - 65 Rendah 18 25,71

66 - 75 Sedang 13 18,57

76 - 85 Tinggi 19 27,14

86 - 100 Sangat Tinggi 0 0

Jumlah 70 100

Page 81: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

70

Tabel 4.2 di atas menunjukkan bahwa hasil belajar berbicara dari 70

siswa kelas VIII Negeri 31 Makassar, sekitar 20 orang atau 28,57% yang

berada dalam kategori sangat rendah, 18 orang atau 25,71% nilainya

berada dalam kategori rendah, 13 orang atau 18,57% nialainya berada

dalam kategori sedang, 19 orang atau 27,14% nilainya berada dalam

kategori tinggi dan tak seorangpun yang nilainya berada dalam kategori

sangat tinggi. Untuk hasil belajar membaca cerpen dapat dilihat pada

tabel 4.3 di bawah ini.

Tabel 4.3 Distribusi dan Presentase Skor Hasil Belajar Membaca Cerpen Siswa Kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar

Interval nilai Kategori Frekuensi presentase

0 - 55 Sangat Rendah 9 12,86

56 - 65 Rendah 12 17,14

66 - 75 Sedang 32 45,71

76 - 85 Tinggi 9 12,86

86 - 100 Sangat Tinggi 8 11,43

Jumlah 70 100

Tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa hasil kegiatan membaca

cerpen dari 70 siswa kelas VIII Negeri 31 Makassar, sekitar 9 orang atau

12,86% yang berada dalam kategori sangat rendah, 12 orang atau

17,14% nilainya berada dalam kategori rendah, 32 orang atau 45,71%

nialainya berada dalam kategori sedang, 9 orang atau 12,86% nilainya

berada dalam kategori tinggi dan 8 orang atau 11,43% yang nilainya

berada dalam kategori sangat tinggi.

Page 82: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

71

Untuk hasil belajar keterampilan menulis cerpen dapat dilihat pada

tabel 4.4 di bawah ini.

Tabel 4.4 Distribusi dan Presentase Skor Hasil Belajar Keterampilan Menulis Cerpen Siswa Kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar

Interval nilai Kategori Frekuensi presentase 0 - 55 Sangat Rendah 0 0

56 - 65 Rendah 4 5,71 66 - 75 Sedang 48 68,57 76 - 85 Tinggi 16 22,86

86 - 100 Sangat Tinggi 2 2,86

Jumlah 70 100

Tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa hasil kegiatan menulis cerpen

dari 70 siswa kelas VIII Negeri 31 Makassar, tak seorangpun siswa yang

berada dalam kategori sangat rendah, 4 orang atau 5,71% nilainya berada

dalam kategori rendah, 48 orang atau 68,57% nialainya berada dalam

kategori sedang, 16 orang atau 22,86% nilainya berada dalam kategori

tinggi dan 2 orang atau 2,86% yang nilainya berada dalam kategori sangat

tinggi.

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Bahasa Indonesia

Siswa Kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar Interval Frekuensi Persentase 74 - 77 11 15,7 78 - 81 18 25,7 82 - 85 26 37,1 86 - 89 9 12,9 90 - 93 3 4,3 94 - 97 3 4,3 Jumlah 70 100

Page 83: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

72

Tabel distribusi frekuensi data hasil belajar bahasa Indonesia siswa

di atas, menunjukkan bahwa frekuensi tertinggi berada pada interval 82 –

85 dengan frekuensi 26 orang dan persentase 37,1%, sedangkan

frekuensi terendah pada interval 90 – 93 dan 94 – 97 dengan frekuensi

masin-masing 3 orang dan persentase sebesar 4,3%.

2. Deskripsi Responden berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil Lampiran 2 maka dapat diketahui karakteristik

responden berdasarkan jenis kelamin sebagaimana pada tabel berikut.

Tabel 4.6 Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Frekuensi Persen (%)

Laki-laki 30 42,8

Perempuan 40 57,2

Total 70 100

Dari tabel di atas diketahui bahwa jumlah responden (siswa) dengan

jenis kelamin laki-laki yakni sebanyak 30 orang (42,8%) dan jumlah

responden jenis kelamin perempuan yakni sebanyak 40 orang (57,2%).

Jumlah responden keseluruhan sebanyak 70 orang. Hal ini menunjukkan

bahwa responden yang paling banyak adalah perempuan.

B. Analisis Deskriptif Variabel Penelitian dan Indikatornya

Analisis deskriptif variabel penelitian dan indikatornya dikelompokkan

(dikategorikan) berdasarkan nilai rata-rata (mean) dari kualitas variabel

penelitian dan indikatornya. Adapun pengelompokannya dapat dilihat

pada tabel berikut.

Page 84: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

73

Tabel 4.7 Kategori Nilai Rata-rata (Mean) Instrumennya

No. Rata-rata Kategori

1 1 ≤ rata-rata < 1,85 Sangat tidak kompeten

2 1,85 ≤ rata-rata < 2,65 Tidak kompeten

3 2,65 ≤ rata-rata < 3,45 Cukup kompeten

4 3,45 ≤ rata-rata < 4,25 Kompeten

5 4,25 ≤ rata-rata ≤ 5,00 Sangat kompeten Adapun deskripsi tersebut akan diuraikan berikut ini.

1. Deskripsi Variabel Kompetensi Kepribadian Guru

Variabel kompetensi kepribadian terdiri atas 5 item pernyataan

(unsur). Adapun deskripsi item pernyataan pada tabel berikut ini.

Tabel 4.8 Deskripsi Item Pernyataan Variabel Kompetensi Kepribadian

Guru

Item Pertanyaan Tanggapan responden Rata

-rata Kategori STS TS C

S S SS

Bertindak sesuai dengan norma agama, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia (X1.1)

0 0 5 55 10 4,07 Kompeten

Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat (X1.2)

0 0 7 48 15 4,11 Kompeten

Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa (X1.3)

0 0 4 55 11 4,10 Kompeten

Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri (X1.4)

0 0 1 58 11 4,14 Kompeten

Menjunjung tinggi kode etik profesi guru (X1.5) 0 0 4 57 9 4,07 Kompeten

Sumber: Lampiran 3 (diolah)

Page 85: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

74

Dari tabel di atas dapat diuraikan tanggapan responden siswa kelas

VIII SMP Negeri 31 Makassar terhadap kuesioner kompetensi kepribadian

guru yang diberikan sebagai berikut:

a. Dari 70 responden yang memberikan tanggapan tentang pernyataan 1

bahwa guru “Bertindak sesuai dengan norma agama, sosial, dan

kebudayaan nasional Indonesia”, tidak ada responden yang

menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju, 5 orang menyatakan

cukup setuju, 55 orang menyatakan setuju dan 10 orang menyatakan

sangat setuju. Rata-rata tanggapan responden terhadap pernyataan 1

adalah 4,07, ini berarti guru dalam hal item pernyataan 1 berada dalam

kategori kompeten.

b. Dari 70 responden yang memberikan tanggapan tentang pernyataan 2

bahwa guru “Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak

mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat”, tidak ada

responden yang menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju, 7

orang menyatakan cukup setuju, 48 orang menyatakan setuju dan 15

orang menyatakan sangat setuju. Rata-rata tanggapan responden

terhadap pernyataan 2 adalah 4,11, ini berarti guru dalam hal item

pernyataan 2 berada dalam kategori kompeten.

c. Dari 70 responden yang memberikan tanggapan tentang pernyataan 3

bahwa guru “Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil,

dewasa, arif, dan berwibawa”, tidak ada responden yang menyatakan

sangat tidak setuju dan tidak setuju, 4 orang menyatakan cukup setuju,

55 orang menyatakan setuju dan 11 orang menyatakan sangat setuju.

Page 86: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

75

Rata-rata tanggapan responden terhadap pernyataan 3 adalah 4,10, ini

berarti guru dalam hal item pernyataan 3 berada dalam kategori

kompeten.

d. Dari 70 responden yang memberikan tanggapan tentang pernyataan 4

bahwa guru “Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi,

rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri”, tidak ada responden

yang menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju, 1 orang

menyatakan cukup setuju, 58 orang menyatakan setuju dan 11 orang

menyatakan sangat setuju. Rata-rata tanggapan responden terhadap

pernyataan 4 adalah 4,14, ini berarti guru dalam hal item pernyataan 4

berada dalam kategori kompeten.

e. Dari 70 responden yang memberikan tanggapan tentang pernyataan 5

bahwa guru “Bertindak sesuai dengan norma agama, sosial, dan

kebudayaan nasional Indonesia”, tidak ada responden yang

menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju, 4 orang menyatakan

cukup setuju, 57 orang menyatakan setuju dan 9 orang menyatakan

sangat setuju. Rata-rata tanggapan responden terhadap pernyataan 5

adalah 4,07, ini berarti guru dalam hal item pernyataan 5 berada dalam

kategori kompeten.

Dari uraian di atas di tunjukkan bahwa dari 5 unsur yang digunakan

untuk mengukur variabel kompentensi kepribadian guru, yang paling tinggi

nilai rata-ratanya adalah “Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang

tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri” sebesar 4,14

dengan kategori kompeten.

Page 87: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

76

2. Deskripsi Variabel Kompetensi Sosial Guru

Variabel kompetensi sosial terdiri atas 4 item pernyataan. Adapun

deskripsi item pernyataan sebagaimana tertera pada tabel berikut ini.

Tabel 4.9 Deskripsi Item Pernyataan Variabel Kompetensi Sosial Guru

Item Pernyataan Tanggapan responden Rata

-rata Kategori STS TS C

S S SS

Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi (X2.1)

0 0 7 59 4 3,96 Kompeten

Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat (X2.2)

0 0 9 53 8 3,99 Kompeten

Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya (X2.3)

0 0 7 53 10 4,04 Kompeten

Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan dalam bentuk lain (X2.4)

0 0 12 51 7 3,93 Kompeten

Sumber: Lampiran 3 (diolah)

Dari tabel di atas dapat diuraikan tanggapan responden siswa kelas

VIII SMP Negeri 31 Makassar terhadap kuesioner kompetensi sosial guru

yang diberikan sebagai berikut:

Page 88: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

77

a. Dari 70 responden yang memberikan tanggapan tentang pernyataan 1

bahwa guru “Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak

diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi

fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi”, tidak ada

responden yang menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju, 7

orang menyatakan cukup setuju, 59 orang menyatakan setuju dan 4

orang menyatakan sangat setuju. Rata-rata tanggapan responden

terhadap pernyataan 1 adalah 3,96, ini berarti guru dalam hal item

pernyataan 1 berada dalam kategori kompeten.

b. Dari 70 responden yang memberikan tanggapan tentang pernyataan 2

bahwa guru “Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun

sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat”,

tidak ada responden yang menyatakan sangat tidak setuju dan tidak

setuju, 9 orang menyatakan cukup setuju, 53 orang menyatakan setuju

dan 8 orang menyatakan sangat setuju. Rata-rata tanggapan

responden terhadap pernyataan 2 adalah 3,99, ini berarti guru dalam

hal item pernyataan 2 berada dalam kategori kompeten.

c. Dari 70 responden yang memberikan tanggapan tentang pernyataan 3

bahwa guru “Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah

republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya”, tidak ada

responden yang menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju, 7

orang menyatakan cukup setuju, 53 orang menyatakan setuju dan 10

orang menyatakan sangat setuju. Rata-rata tanggapan responden

Page 89: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

78

terhadap pernyataan 3 adalah 4,04, ini berarti guru dalam hal item

pernyataan 3 berada dalam kategori kompeten.

d. Dari 70 responden yang memberikan tanggapan tentang pernyataan 4

bahwa guru “Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan

profesi lain secara lisan dan tulisan dalam bentuk lain”, tidak ada

responden yang menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju, 12

orang menyatakan cukup setuju, 51 orang menyatakan setuju dan 7

orang menyatakan sangat setuju. Rata-rata tanggapan responden

terhadap pernyataan 4 adalah 3,93, ini berarti guru dalam hal item

pernyataan 4 berada dalam kategori kompeten.

Dari uraian di atas ditunjukkan bahwa dari 4 unsur yang digunakan

untuk mengukur variabel kompentensi sosial, yang paling tinggi nilai rata-

ratanya adalah “Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah

republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya” sebesar 4,04

dengan kategori kompeten.

3. Analisis Regresi Berganda

Untuk mengetahui pengaruh kompetensi kepribadian dan kompetensi

sosial terhadap hasil belajar bahasa Indonesia di kelas VIII SMP Negeri

31 Makassar, maka dilakukan uji regresi linear berganda. Analisis regresi

linier berganda digunakan karena variabel bebas dalam penelitian ini lebih

dari satu, yaitu kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Berikut

hasil uji regresi linier berganda yang dilakukan.

Page 90: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

79

Tabel 4.10. Rangkuman Hasil Analisis Regresi Berganda Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

B Std. Error Beta t Sig.

1 (Constant) 21.073 6.968 3.024 .004

Menulis .310 .699 .036 .443 .659

Membaca -.618 .356 -.137 -1.736 .087

Berbicara .391 .357 .090 1.095 .278

Menyimak -.060 .333 -.015 -.180 .858

Kepribadian 1.673 .610 .435 2.743 .008

Kompetensi Sosial 1.711 .743 .368 2.301 .025 a. Dependent Variable: Hasil Belajar

Sumber : Data primer diolah, 2014

Berdasarkan hasil uji regresi yang dilakukan, dapat dibuat

persamaan sebagai berikut:

Y = 21,073 + 1,673X1 + 1,711X2

Artinya:

a = 21,073, artinya apabila kompetensi kepribadian dan kompetensi

sosial guru dalam keadaan konstan/tetap, maka hasil belajar bahasa

Indonesia siswa adalah sebesar 21,07.

b1 = 1,673, artinya apabila kompetensi kepribadian meningkat 1

persen, maka hasil belajar bahasa Indonesia siswa akan meningkat

sebesar 1,673 persen.

b2 = 1,711, artinya apabila kompetensi sosial meningkat 1 persen,

maka hasil belajar bahasa Indonesia siswa akan meningkat sebesar 1,711

persen.

Berdasarkan hasil pengujian di atas dapat diketahui bahwa nilai

koefisien regresi untuk kompetensi kepribadian guru bernilai positif 1,673.

Page 91: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

80

Pengaruh positif yang diberikan kompetensi kepribadian guru terhadap

hasil belajar bahasa Indonesia siswa adalah signifikan. Hal ini dapat

diketahui dari nilai t hitung > t tabel (3,024 > 0,610) dan nilai p = 0,008 (<

0,05). Hal ini berarti bahwa kompetensi kepribadian guru dapat

meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia siswa. Nilai koefisien regresi

untuk kompetensi sosial guru bernilai positif 1,711. Pengaruh positif yang

diberikan kompetensi sosial guru terhadap hasil belajar bahasa Indonesia

siswa adalah signifikan. Hal ini dapat diketahui dari nilai t hitung > t tabel

(2,301 > 1,995) dan nilai p = 0,025 (< 0,05). Hal ini berarti bahwa

kompetensi sosial guru dapat meningkatkan hasil belajar bahasa

Indonesia siswa.

Dengan demikian, hipotesis dalam penelitian ini terbukti, yaitu

“Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan kompetensi kepribadian

guru terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa positif dan

kompetensi kepribadian guru terhadap hasil belajar bahasa Indonesia

siswa”.

Untuk mengetahui keeratan hubungan antara variabel kompetensi

kepribadian guru (X1) dan kompetensi sosial guru (X2) dengan hasil

belajar bahasa Indonesia siswa (Y), maka dilakukan uji korelasi. Dari

Tabel 4.6 di atas didapat nilai korelasi (R) sebesar 0,611 dengan nilai P =

0,000. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat dan signifikan

antara variabel kompetensi kepribadian guru (X1) dan kompetensi sosial

guru (X2) dengan hasil belajar bahasa Indonesia siswa (Y).

Page 92: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

81

Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengetahui seberapa

besar kontribusi variabel bebas dalam menjelaskan variasi variabel terikat.

Dari tabel 4.6 di atas diperoleh koefisien determinasi (R2) sebesar 0,611

(61,1%). Ini berarti bahwa variasi variabel terikat hasil belajar bahasa

Indonesia siswa (Y) dapat dijelaskan oleh variabel kompetensi kepribadian

guru (X1) dan kompetensi sosial guru (X2) sebesar 58,4%, sedangkan

sisanya 41,6% dijelaskan oleh variabel-variabel lain diluar variabel yang

diteliti.

C. Pembahasan

Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan

signifikan antara kompetensi kepribadian guru dan kompetensi sosial

guru terhadap hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar.

Berikut adalah pembahasan masing-masing untuk variabel kompetensi

kepribadian guru dan kompetensi sosial guru.

1. Pengaruh Kompetensi Kepribadian Guru terhadap Hasil Belajar

Bahasa Indonesia Siswa

Berdasarkan hasil analisis data dengan bantuan program SPSS 22

diperoleh nilai beta untuk variabel kompetensi kepribadian guru sebesar

0,435 (atau 43,5%). Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi kepribadian

guru memberi kontribusi sebesar 43,5% dalam meningkatkan hasil belajar

bahasa Indonesia siswa di kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar. Semakin

baik atau kompeten guru dalam kompetensi kepribadiannya maka

diharapkan semakin baik pula hasil belajar bahasa Indonesia siswa.

Page 93: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

82

Hal ini sejalan dengan pendapat Roqib dan Nurfuadi (2009:119)

bahwa guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan

belajar yang efektif, menyenangkan dan akan lebih mampu mengelola

kelasnya, sehingga belajar siswa berada pada tingkat optimal. Hal ini

sejalan pula dengan pendapat Noddings (dalam Stronge, 2013: 25-26)

bahwa kebahagiaan guru dapat memengaruhi iklim kelas, dan dengan

demikian memengaruhi para murid. Selain itu, pengaruh psikologis guru

pada para murid telah dikaitkan dengan prestasi murid pada berbagai

studi efektivitas.

Guru sebagai tenaga pendidik yang tugas utamanya mengajar,

memiliki karakteristik kepribadian yang sangat berpengaruh terhadap

keberhasilan pengembangan sumber daya manusia. Kepribadian yang

mantap dari sosok seorang guru akan memberikan teladan yang baik

terhadap anak didik maupun masyarakatnya, sehingga guru akan tampil

sebagai sosok yang patut “digugu” (ditaati nasihat/ucapan/perintahnya)

dan “ditiru” (dicontoh sikap dan perilakunya). Kepribadian guru merupakan

faktor terpenting bagi keberhasilan belajar anak didik.

Zakiah Darajat (dalam Syah, 2000: 225-226) menegaskan bahwa

kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan

pembina yang baik bagi anak didiknya, ataukah akan menjadi perusak

atau penghancur bagi masa depan anak didiknya terutama bagi anak didik

yang masih kecil (tingkat dasar) dan mereka yang sedang mengalami

kegoncangan jiwa (tingkat menengah).

Page 94: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

83

Karakteristik kepribadian yang berkaitan dengan keberhasilan guru

dalam menggeluti profesinya adalah meliputi fleksibilitas kognitif dan

keterbukaan psikologis. Fleksibilitas kognitif atau keluwesan ranah cipta

merupakan kemampuan berpikir yang diikuti dengan tindakan secara

simultan dan memadai dalam situasi tertentu. Guru yang fleksibel pada

umumnya ditandai dengan adanya keterbukaan berpikir dan beradaptasi.

Selain itu, ia memiliki resistensi atau daya tahan terhadap ketertutupan

ranah cipta yang prematur dalam pengamatan dan pengenalan. Surya

(dalam Uno, 2008:138) menyebut kompetensi kepribadian ini sebagai

kompetensi personal, yaitu kemampuan pribadi seorang guru yang

diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. Kompetensi personal ini

mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri,

penerimaan diri, pengarahan diri, dan perwujudan diri.

2. Pengaruh Kompetensi Sosial Guru terhadap Hasil Belajar Bahasa

Indonesia Siswa

Berdasarkan hasil analisis data dengan bantuan program SPSS 22

diperoleh nilai beta untuk variabel kompetensi sosial guru sebesar 0,368

(atau 36,8%). Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi sosial guru

memberi kontribusi sebesar 38,6% dalam meningkatkan hasil belajar

bahasa Indonesia siswa di kelas VIII SMP Negeri 31 Makassar. Semakin

baik atau kompeten guru dalam kompetensi sosialnya maka diharapkan

semakin baik pula hasil belajar bahasa Indonesia siswa.

Kompetensi sosial guru merupakan kemampuan guru untuk

memahami dirinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat

Page 95: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

84

dan mampu mengembangkan tugas sebagai anggota masyarakat dan

warga negara. Lebih dalam lagi kemampuan sosial ini mencakup

kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan

lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru.

Kompetensi sosial guru berkaitan erat dengan kemampuan guru

dalam bekomunikasi dengan masyarakat di sekitar sekolah dan

masyarakat tempat guru tinggal sehingga peranan dan cara guru

berkomunikasi di masyarakat diharapkan memiliki karakteristik tersendiri

yang sedikit banyak berbeda dengan orang lain yang bukan guru. Misi

yang diemban guru adalah misi kemanusiaan. Mengajar dan mendidik

adalah tugas memanusiakan manusia. Guru harus mempunyai

kompetensi sosial karena guru adalah Penceramah Zaman (Langeveld,

1955). tugas guru adalah tugas pelayanan manusia.

Guru perlu memiliki kompetensi sosial untuk berhubungan dengan

masyarakat dalam rangka menyelenggarakan proses belajar mengajar

yang efektif karena dengan dimilikinya kompetensi sosial tersebut,

otomatis hubungan sekolah dengan masyarakat akan berjalan dengan

lancar sehingga jika ada keperluan dengan orang tua peserta didik atau

masyarakat tentang masalah peserta didik yang perlu diselesaikan tidak

akan sulit menghubunginya. Guru yang efektif adalah guru yang mampu

membawa siswanya dengan berhasil mencapai tujuan pengajaran.

Mengajar di depan kelas merupakan perwujudan interaksi dalam proses

komunikasi.

Page 96: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

85

Menurut Gumelar dan Dahyat (dalam Sagala, 2009:127) kompetensi

sosial guru adalah salah satu daya atau kemampuan guru untuk

mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang baik

serta kemampuan untuk mendidik, membimbing masyarakat dalam

menghadapi kehidupan di masa yang akan datang. Untuk dapat

melaksanakan peran sosial kemasyarakatan, guru harus memiliki

kompetensi, yaitu: (1) aspek normatif kependidikan, yaitu untuk menjadi

guru yang baik tidak cukup digantungkan kepada bakat, kecerdasan, dan

kecakapan saja, tetapi juga harus beritikad baik sehingga hal ini bertautan

dengan norma yang dijadikan landasan dalam melaksanakan tugasnya,

(2) pertimbangan sebelum memilih jabatan guru, dan (3) mempunyai

program yang menjurus untuk meningkatkan kemajuan masyarakat dan

kemajuan pendidikan. Johnson (dalam Anwar, 2004:63) mengemukakan

kemampuan sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri

kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan

tugasnya sebagai guru.

Penelitian ini juga sejalan dengan pendapat Arikunto (1993:239)

bahwa kompetensi sosial mengharuskan guru memiliki kemampuan

komunikasi sosial baik dengan peserta didik, sesama guru, kepala

sekolah, pegawai tata usaha, bahkan dengan anggota masyarakat.

Kompetensi sosial guru tercermin melalui indikator, yaitu: (1) interaksi guru

dengan siswa, (2) interaksi guru dengan kepala sekolah, (3) interaksi guru

Page 97: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

86

dengan rekan kerja, (4) interaksi guru dengan orang tua siswa, dan (5)

interaksi guru dengan masyarakat.

Page 98: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

87

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan uraian dari hasil penelitian dan pembahasan, maka

dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

1. Terdapat pengaruh positif dan signifikan variabel kompetensi

kepribadian guru terhadap hasil belajar bahasa Indonesia di kelas VIII

SMP Negeri 31 Makassar, hal ini ditunjukkan dengan nilai t hitung

yang lebih besar pada nilai t tabel (1,673 > 1,995) dan nilai P yang

lebih kecil pada α (0,012 < 0,05). Semakin baik atau kompeten guru

dalam kompetensi kepribadiannya maka diharapkan semakin baik pula

hasil belajar bahasa Indonesia siswa.

2. Terdapat pengaruh positif dan signifikan variabel kompetensi sosial

guru terhadap hasil belajar bahasa Indonesia di kelas VIII SMP Negeri

31 Makassar, hal ini ditunjukkan dengan nilai t hitung yang lebih besar

pada nilai t tabel (2,466 > 1,995) dan nilai P yang lebih kecil daripada

α (0,016 < 0,05). Semakin baik atau kompeten guru dalam kompetensi

sosialnya maka diharapkan semakin baik pula hasil belajar bahasa

Indonesia siswa.

B. Saran

Dalam rangka peningkatan kompetensi guru, maka dikemukakan

beberapa saran sebagai berikut:

87

Page 99: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

88

1. Pemerintah memberi kesempatan yang semakin luas kepada guru

untuk meningkatkan kompetensinya termasuk menambah beasiswa

dan fasilitas pendukung.

2. Pemerintah dan sekolah bermitra dengan perguruan tinggi untuk

meningkatkan kompetensi guru, baik untuk meningkatkan pendidikan

maupun kualitasnya.

3. Para guru agar memberdayakan dan memanfaatkan kompetensi yang

dimiliki dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

Page 100: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

89

DAFTAR PUSTAKA Agung, Iskandar. 2012. Menghasilkan Guru Kompeten dan Profesional.

Jakarta: Bee Media Indonesia. Ahmadi, Abu. 2003. Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta. Anwar, Arifin. 2004. Profil Baru Guru & Dosen Indonesia. Jakarta: Pustaka

Indonesia & Pokja Diknas. Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian. Yogyakarta: Rineka

Cipta. Bafadal, Ibrahim. 2003. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah

Dasar. Jakarta: Bumi Aksara. Cece, Wijaya. 1994. Kemampuan Dasar Guru dalam Proses Belajar

Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Cooper, James, M. 1984. Peranan Guru dalam Pendidikan. Bandung:

Remaja Rosda Karya. Danim, Sudarwan. 2011. Pengembangan Profesi Guru: dari Pra-Jabatan,

Induksi, ke Profesional Madani. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Depdiknas. 2004. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama. Jakarta:

Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Jamaluddin. 2010. Pengaruh Kompetensi Guru Bahasa Indonesia

terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa SMA Negeri 1 Tamalatea Kabupaten Jeneponto. Tesis. Makassar: PPs Unismuh Makassar.

Muslich, Masnur. 2007. Sertifikasi Guru menuju Profesionalisme Pendidik.

Jakarta: Bumi Aksara. Peraturan Pemerintah No.19 Th. 2005 tentang Standar Pendidikan

Nasional, Pasal 28 ayat 3. Purwanto,M. Ngalim. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya. Roqib, Moh & Nurfuadi. 2009. Kepribadian Guru (Upaya Mengembangkan

Kepribadian Guru yang Sehat di Masa Depan). Purwakarto: Grafindo Litera Media.

89

Page 101: PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN SOSIAL GURU BAHASA

90

Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers. Sagala, Syaiful. 2009. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga

Kependidikan. Bandung: Alfabeta. Saud, Udin Syaefudin. 2010. Pengembangan Profesi Guru. Bandung:

Alfabeta. Siddik. 2009. Pengaruh Kreativitas dan Motivasi Berprestasi terhadap

Profesionalisme Guru pada Sekolah Dasar di Kecamatan Kahu Kabupaten Bone. Tesis tidak dipublikasikan PPs Universitas Muhammadiyah Makassar.

Spencer, Lyle M. 1993. Competence at Work: Models for Superior

Performance. USA: John Wiley & Sons, Inc. Stronge. 2013. Kompetensi Guru-Guru Efektif. Edisi Kedua. Jakarta: PT

Indeks. Sugiyono. 2003. Statistika untuk Penelitian. Cetakan Kelima. Bandung:

CV Alfabeta. Syah, Muhibbin. 2000. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.

Bandung: Remaja Rosda Karya. Syaodih S., Nana. 2005. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya. Syarbini, Amirulloh. 2012. Buku Pintar Pendidikan Karakter: Panduan

Lengkap Mendidik Karakter Anak di Sekolah, Madrasah, dan Rumah. Jakarta: Asa Prima Pustaka.

Uno, Hamzah B. 2008. Profesi Kependidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Usman, Moh. Uzer. 2010. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja

Rosdakarya. Yamin, Martinis dan Maisah. 2010. Standardisasi Kinerja Guru. Jakarta:

Gaung Persada Pers.