Pengaruh Kearifan Lokal Terhadap Sikap Etnis Nias dalam ... III...Kearifan Lokal dan Sikap Etnis Nias

  • View
    229

  • Download
    6

Embed Size (px)

Text of Pengaruh Kearifan Lokal Terhadap Sikap Etnis Nias dalam ... III...Kearifan Lokal dan Sikap Etnis...

22

BAB III

KOTA GUNUNGSITOLI

Kearifan Lokal dan Sikap Etnis Nias Terhadap Para Pendatang

A. Gambaran Umum Kota Gunungsitoli

1. Sejarah Singkat

Berdasarkan salah satu sumber tertulis yang ada, secara historis momentum

lahirnya Kota Gunungsitoli bersamaan dengan kelahiran Pelabuhan Luahanou,

tepatnya pada hari Sabtu tanggal 7 April 1629.1 Terdapat banyak pendapat

mengenai nama Gunungsitoli itu sendiri. Ada yang mengatakan bahwa nama

Gunungsitoli berasal dari istilah Onozitoli, yaitu suatu nama kampung (banua),

yang memiliki arti: ono = anak, zitoli atau sitoli = nama orang. Pendapat lain

mengatakan bahwa nama Gunungsitoli berasal dari kata Hilisiteoli, yang

memiliki arti: hili = gunung, dan siteoli = yang berjejer.2

Namun, salah seorang tokoh masyarakat sekaligus budayawan dan seniman

Nias bernama F. Zebua, dalam salah satu bukunya menuliskan bahwa nama

Gunungsitoli berasal dari istilah Hiligatoli. Ia mengatakan sebagai berikut:

Asal-usul logis, benar, argumentatif dan historis-fundamental serta dapat dipertanggungjawabkan tentang sebutan Gunungsitoli berasal dari istilah Hiligatoli, nama gunung dalam pusat kota Gunungsitoli sekarang (persambung-an Hilihati sekarang). Nama Gunung itu berasal dari nama orang Tolianaa, dengan panggilan sehari-hari Katoli = Gatoli. Katoli ini adalah putera sulung baginda Lchzitlu Zebua (cikal-bakal Banua Hilihati). Tolianaa dikuburkan di gunung itu sebelum timbulnya pelabuhan Luahanou dan sebelum timbulnya istilah gunungsitoli itu. Kemudian Hiligatoli itu diterjemahkan dalam bahasa Melayu yang berakulturasi dengan

1Marinus Telaumbanua (penyunting), Kota Gunungsitoli Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya

(Gunungsitoli Pulau Nias, 1996), 124. 2 Ibid., 70-71.

23

bahasa Nias menjadi gunungsitoli, yaitu: Hili = Gunung; Gatoli dari Katoli = Ka Toli = Si Toli atau Sitoli (nama orang tersebut di atas).3 Dalam bukunya, secara historis F. Zebua menuliskan perkembangan Kota

Gunungsitoli dilihat dari beberapa aspek, antara lain:

Mengenai statusnya: sejak lahirnya kota Gunungsitoli pada tahun 1629, masih sebagai pelabuhan alam terbuka, dan disebut Luaha. Kemudian hari menjadi pasar pelabuhan dan disebut Fasa dan sejak tahun 1755 menjadi kota pelabuhan dan disebut kade. Terakhir pada tahun 1840 menjadi ibu kota pemerintahan dan disebut Ina Mbanua (Ina Mbanua Dan Niha) hingga sekarang. Mengenai penduduk dan populasinya: pada awalnya adalah homogen Ononiha tetapi heterogen mado (dari Sitlu Tua). Kemudian mulai pada tahun 1700 terjadi heterogen etnis (Ononiha, Aceh, Minangkabau). Seterusnya pada tahun 1755 bertambah heterogen dengan datangnya etnis Belanda (VOC) dan etnis Melayu. Lalu pada tahun 1840 orang Belanda partikulir berganti dengan orang Belanda Gubernemen. Pada tahun 1850 ditambah lagi oleh etnis Cina. Pada tahun 1865 datang etnis Jerman dan pada tahun 1940/1942 datang orang Jepang. Sejak tahun 1945, masa Indonesia merdeka, penduduk menjadi heterogen dalam hal etnis dan mado (marga) secara terus-menerus dan silih berganti.4 Sebelum pemekaran Kabupaten Nias menjadi 4 (empat) kabupaten

(Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Barat dan Kabupaten

Nias Utara) serta 1 (satu) kota, yaitu Kota Gunungsitoli; maka Gunungsitoli

merupakan Ibu Kota Kabupaten Nias secara keseluruhan. Namun demi

peningkatan pelayanan publik dan upaya percepatan pembangunan serta

peningkatan kesejahteraan masyarakat, maka oleh masyarakat bersama-sama

dengan Pemerintah dirasa sangat perlu untuk membentuk sebuah daerah otonom

baru untuk merealisasikan program pelayanan dan pembangunan di atas. Oleh

karena itu, dengan memperhatikan aspirasi seluruh komponen masyarakat

tersebut serta demi efektifitas dan efisiensi pembangunan, Pemerintah telah

3Ibid., 71-73. 4Ibid., 124-125

24

melakukan kajian secara mendalam dan menyeluruh mengenai kelayakan

pembentukan daerah dan berkesimpulan bahwa perlu dibentuk Kota

Gunungsitoli.5 Maka pada tahun 2008 terbentuklah Kota Gunungsitoli sebagai

hasil dari pemekaran Kabupaten Nias.

2. Letak Geografis dan Batas-Batas Wilayah

Seperti telah disebutkan di atas, Kota Gunungsitoli merupakan salah satu

daerah otonom baru di Provinsi Sumatera Utara yang baru diresmikan oleh

Menteri Dalam Negeri, Mardiyanto, pada tanggal 29 Oktober 2008.

Kota Gunungsitoli adalah salah satu daerah kota di Propinsi Sumatera Utara yang mempunyai jarak 85 mil laut dari Sibolga (daerah Propinsi Sumatera Utara). Luas wilayah Kota Gunungsitoli adalah sebesar 469,36 km (0,63 % dari luas wilayah Propinsi Sumatera Utara).6 Secara administratif, dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 47

Tahun 2008, Kota Gunungsitoli terdiri dari 6 (enam) kecamatan, yaitu:7

1. Kecamatan Gunungsitoli Utara 2. Kecamatan Gunungsitoli Alooa 3. Kecamatan Gunungsitoli 4. Kecamatan Gunungsitoli Selatan 5. Kecamatan Gunungsitoli Barat 6. Kecamatan Gunungsitoli Idanoi

Wilayah Kota Gunungsitoli berbatasan dengan:8

Sebelah Utara : Kecamatan Sitlu ri (Kabupaten Nias Utara)

Sebelah Selatan : Kecamatan Gid dan Kecamatan Hili Serangkai (Kabupaten

Nias)

5Badan Pusat Statistik Kabupaten Nias & Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota

Gunungsitoli: Gunungsitoli Dalam Angka 2010 ,(No. Publikasi: 12015.10.10), xvii. 6Ibid., 3. 7Ibid., xvii. 8Ibid., 3.

25

Sebelah Timur : Samudera Indonesia

Sebelah Barat : Kecamatan Alasa Talumuzi dan Namhalu Esiwa (Kabupaten

Nias Utara), dan Kecamatan Hiliduho (Kabupaten Nias)

Gambar 1 : Peta Kepulauan Nias Kota Gunungsitoli

3. Populasi Penduduk

Jumlah penduduk Kota Gunungsitoli berdasarkan Sensus Penduduk pada

tahun 2009 adalah 104.260 jiwa. Sex Ratio Kota Gunungsitoli adalah sebesar

26

96,45 artinya jika ada 10.000 perempuan di Kota Gunungsitoli maka ada 9.645

laki-laki di Kota Gunungsitoli pada Mei tahun 2009. Hal ini berarti bahwa

persentase banyaknya penduduk berjenis kelamin perempuan lebih besar

daripada laki-laki yaitu perempuan 51% (63.915 jiwa) sedangkan laki-laki 49%

(61.651 jiwa). Secara khusus dalam Kecamatan Gunungsitoli, jumlah penduduk

adalah 60.169 jiwa, dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 30.036 jiwa dan

jumlah penduduk perempuan 30.133 jiwa.9

4. Motto Kota Gunungsitoli

Sejak diresmikannya Kota Gunungsitoli sebagai salah satu daerah otonom

baru di Provinsi Sumatera Utara, maka dirumuskan sebuah motto pelayanan

sebagai jiwa (semangat/visi) seluruh masyarakat, secara khusus bagi Pemerintah

Kota dan beserta seluruh jajarannya dalam melaksanakan misi pembangunan dan

pelayanan publik. Motto tersebut ialah Gunungsitoli Kota Samaeri. Istilah

samaeri dalam bahasa Nias mengandung makna mengayomi, memelihara, dan

menuntun. Istilah ini juga biasa digunakan terhadap tanggung jawab orangtua

dalam membesarkan, mendidik, dan menyediakan kebutuhan hidup anak-

anaknya, sehingga mereka bisa mandiri dan memiliki masa depan yang cerah di

masa yang akan datang.

Kemudian istilah samaeri ini diaplikasikan dalam misi pemerintahan dan

pembangunan dengan uraian sebagai berikut: SA = Satukan langkah dan tekad,

9Ibid., 38-39.

27

MA = Mandiri, E = Ekonomi kerakyatan, RI = Beriman.10 Motto Gunungsitoli

Kota Samaeri ini lebih lanjut diterjemahkan dalam misi:

SAtukan langkah dan tekad mewujudkan kota Mandiri yang berbudaya, sejahtera dan berwawasan lingkungan, dengan penguatan program Ekonomi, pendidikan, kesehatan, pariwisata dengan dukungan masyarakat beRIman, yang takut akan Tuhan sehingga memperoleh curahan berkat berkelimpahan yang dapat dinikmati secara bersama-sama.11

5. Kebudayaan Masyarakat Nias (Gunungsitoli)

Dalam konteks kemasyarakatan, secara umum telah diterima bahwa etnis

Nias merupakan penduduk asli Pulau Nias. Pulau Nias biasa dikenal dengan

nama Tan Niha, artinya: Bumi Manusia. Penduduk asli Pulau Nias dikenal

dengan sebutan Ono Niha, yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai

manusia atau anak manusia. Sebutan ini merujuk kepada suku (orang) Nias asli.

Sedangkan etnis-etnis pendatang dari luar (orang lain/orang asing) disebut

dengan istilah Ndrawa, misalnya Ndrawa Aceh (orang asing dari Aceh), orang

Belanda disebut sebagai Ndrawa Hulandro (orang asing dari Belanda). Istilah

Hulandro itu diambil dari istilah Holland, suatu nama atau istilah lain yang

dipakai di Eropa untuk menyebut negeri Belanda. Sedangkan etnis Cina atau

orang keturunan Cina disebut dengan Gehai (Kehai).12

Dalam masyarakat Nias, salah satu mite menceritakan bahwa asal usul suku

Nias diturunkan dari lapisan langit atau Teteholi Ana'a. Dalam hal ini sering

10http://www.depdagri.go.id/pages/profil-daerah/kabupaten/id/12/name/sumatera-utara/detail/1278/kota-gunung-sitoli/ 6 Mei 2012.

11Ibid., 12Johannes Maria Hammerle, Asal-Usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi.., 7.

28

dipakai istilah yang memiliki arti atau makna yang sama, yaitu: ladada, lafailo,

yang memiliki arti: mereka diturunkan.13

Masyarakat Gunungsitoli sebagai bag