Pengantar Adat Bali

  • View
    1.865

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of Pengantar Adat Bali

Sebelum sangkep dirnulai umumnya dilakukan pengucapan doa oleh pemangku dengan sarana cane (mecane), kemudian nyakcak krama (absensi kehadiran) baru kemudian mebaosan (bermusyawarah). Sangkepan dipimpin oleh Pekaseh atau Klian Subak, yang didampingi oleh Penyarikan dan Patengen yang bertugas memandu pembicaraan dan rnerumuskan serta mencatat hasil-hasil sangkep. Keputusan rapat umumnya diambil secara musyawarah mufakat (parasparos). 2) Aspek palemahan Aspek palemahan subak tampak dalam wujud fisik subak berupa hamparan daerah persawahan yang dilengkapi dengan system irigasi subak. System irigasi mempunyai fasilitas fisik yang mirip dengan fasilitas irigasi yang dimiliki oleh sistem irigasi lain. Prototipe sistem fisik subak antara lain terdiri atas empelan/bendung dam yang berfungsi sebagai bangunan pengambilan air dari sumbernya. (umumnya sungai), aungan (terowongan), telabah (saluran primer), tembuku aya (bangunan bagi primer), telabah gede (saluran sekunder). , tembuku gede (bangunan bagi sekunder), telabah pemaron (saluran tersir), tembuku pemaron (bangunan bagi tersier), telabah penyahcah (saluran kuarter), tembuku penyahcah (bangunan bagi kuarter, yang terdiri atas penasan untuk sepuluh orang petani atau kanca), tembuku pengalapan (bangunan pemasukan air individual), serta tali kunda (saluran individual). Subak juga mempunyai beberapa bangunan pelengkap Seperti penguras (flushing), pekiuh (overflow) dan petaku (bangunan terjun). Abangan (talang) dan jengkuwung (gorong-gorong) juga umum ditemui dalam subak. Subak umumnya juga mempunyai saluran pembuangan khusus. Air buangan dari suatu petak sawah akan disalurkan kembali ksaluran irigasi74 3) Aspek parhyangan subak Aspek parhyangan subak adalah Pura Subak, tempat anggota subak mengaktualisasikan hubungannya dengan Tuhan. Pura sendiri

Tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan masyarakat (Hindu) karena setiap aspek kehidupan masyarakat Bali berhubungan langsung dengan berbagai jenis ritual yang dilaksanakan di pura, dari tingkat rumah tangga, desa, kabupaten, provinsi dan juga tempat kerja (profesi). Itu sebabnya, sejak lama Pulau Bali dikenal dunia dengan julukan the Island of Thousand Temples atziu the Island of Gods, suatu julukan yang tidak mengada-ada. Di pulau seluas sekitar 5632,86 km? ini terdapat ribuan pura tersebar di daerah pedesaan maupun perkotaan, daerah pesisir pantai maupun pegunungan. Kondisi sperti ini membuat Pulau Bali seperti ditebari ribuan buah pure, berbagai bentuk dan ukuran besar kecil, dengan status dan fungsi yang bervariasi. Keberadaan ribuan pura dengan arsitektur maupun mancanegara untuk datang ke Bali. Di Bali, istilah pura "yang juga disebut pahyangan, menunjuk kepada tempat suci untuk memuja Tuhan dengan segala manifestasinya serta roh suci leluhur orang-orang Bali. Dalam teologi Hindu, Tuhaxi yang disebut Ida Sanghyang Widi Waga merniliki banyak manifestasi (prabawa) yang disebut dengan Dewa. Disamping sebagai tempat suci untuk memuja Tuhan, pura juga merupakan tempat suci memuja roh suci leluhur orang-orang Bali, baik yang merupakan nenek moyang Bali sendiri maupun tokoh atau orang-orang suci yang berjasa umat Hindu di Bali. Dilihat dari segi karakteristik pura yang itu, jenis-jenis pura yang ada di Bali dapat dikualifikasikan dalam empat kelompok besar, yaitu: a. Pura Kahyangan Jagat, yaitu pura urnum tempat pemujaan Sanghyang Widi Waga/Tuhan Yang Mahaesa dengan segala manefestasinya (prabhawanya) serta roh suci para tokoh masayarakat Hindu sepcrtipendeta besar, penguasa dan lain-lainnya-. Pura Kahyangan Jagat ini terletak pada delapan penjuru mata angin dan ditengah-tengah pulau Bali. Kelompok pura yang termasuk Kahyangah Jagat ini adalah Pura Lempuyang (Puncak Bukit Bisbis,

Abang, Karangasem), Pura Andakasa (Bukit Andakasa, Manggis, Karangasem), Pura Batukaru (Gunung Batukaru, Penebel, Tabanan), Pura Batur (Desa Batur, Kintamani, Bangli), Pura Goa Lawah (Dawan,Klungkung), Pura Uluwatu (Kuta Selatan, Badung), Pura Pangelengan atau Pura Gunung Mangu (Gunung Mangu diperbatasan Tabanan dan Buleleng), dan Pura Besakih (Rendang, Karangasem). Dari delapan pura tersebut, tiga pura yaitu Pura Batur, Pura Andakasa, dan Pura Besakih masing-masing sebagai tempat rnemuja Wisnu, Brahma Siwa disebut Kahyangan Tiga Jagat, sedangkan enam kelompok pura, yaitu Pura Lempuyang, Uluwatu, Batukaru, Pura Gunung Mangu, dan Pura besakih disebut Sad Kahyangan75. b. Para Kahyangan Desa, yaitu pura yang disungsung oleh desa adat (sekarang disebut: desa pakraman) yang meliputi Kahyangan tiga (tiga buah pura di desa pakraman sebagai tempat manifestasi Tuhan meliputi Pura Desa /Bale Agung sebagai tempat pemujaan Brahma, Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Wisnu, dan Pura Dalem sebagai tempat pemujaan Siwa) dan Kahyangan Desa lainnya. c. Pura Swagina, yaitu pura fungsional (kekaryaan) dimana pemujanya (penyungsungnya) adalah mereka yang terikat oleh swagina (kekaryaan) atau profesi yang sama dalam sistern mata pncaharian hidupnya, seperti Pura Subak untuk para petani didacrah pertanian, dan Pura Melanting yang teletak di pasar-pasar yang disungsung oleh para pedagang dipasar, dan lain-lain. d. Pura Kawitan, yaitu pura yang pemujaannya ditentukan oleh ikatan wit (asal usul) berdasarkan ketunggalan leluhur atau garis keturunan secara geneologis, melipuiti

Sanggah/Merajan tempat pemujaan dalam setiap keluarga, Pura Ibu atau Paibon, Panri, Dadia 75 Lihat Ktut Soebandi, Pura Kawitan/Padharman dan Panyungsungan Jagat, Gunung Agung, 1981 ,h.79. Sedangkan menurut Sudaratmaja dan Widiyazid Scethama, Pura Subak Sebagai Pemelihara integritas Kelompok dan Ekosistem Lahan Sawah", dalam: Faisal Kasryno,dkk (Penyunting), Subak dan Kerta Masa Kearifan Lokal Mendukung Pertanian Berkelanjutan, Yayasan Padi Indonesia, Jakarta, 2003, h. 27, disebutkan yang termasuk Pura Sad Kahyangan adalah: Pura Silayukti, Pura Lempuyang, Pura Sakenan, Pura Luhur Batukaru, Pura Rambut Siwi, dan Pura Luhur Uluwatu.

atau Dalem Dadia, Padharman dan sejenisnya. Scperti dsebut di atas, salah satu jenis pura di Bali adalah pura subak yang dikelompokkan dalam kelompok Pura Swagina. Pura Subak adalah pura yang terletak dalam wilayah subak sebagai tempat pemujaan bagi para petani sawah secara individual maupun kelompok untuk memuja Dewi Sri. Pura Subak yang juga disebut pura air memiliki hierarki secara vertikal dan lokasi dimana sumber air diperoleh sampai ke tingkat pembagian di petak-petak sawah, misalnya mulai dari Pura Ulun Danu Batur terletak di pusat penyediaan air dipegunungan yang dipuja kelompok subak lintas kabupaten seperti Kabupaten Badung,Denpasar, Gianyar, Bangli dan Kabupaten lain Bali Selatan; Pura Ulun Suwi seperti Pura Laban Kedewatan yang dipuja oleh 57 subak_,yaitu subak-subak di Kabupaten Badung, Gianyar dan Denpasar; Pura Empelan Pura Bedugul yang dipuja oleh subak dengan beberapa tempek atau munduk sampai pada Pelinggih Pengalapan yang terletak pada petak sawah anggota subak. Pura Subak mempunyai fungsi keagamaan dan sosia176. Fungsi keagamaan diwujudkan dengan berbagai upacara baik yang dilakukan secara kolektif maupun individual sesuai dengan kperluan dan hierarki pura subak. Rangkan upacara keagamaan yang diselenggakan secara kolektif misalnya adalah upacara nangluk merana yang bertujuah untuk mengendalikan hama penyakit tanaman secara gain (niskala). Ada pula rangkaian upacarayang dilqkukan untuk keperluan untu_k memulai budi daya padi dalam suatu subak. Sebelum memulai menanam padi terlebih dahulu kelompok subak harus melakukan rangkaian uapacara yang tujuannya memohon air dari Ulun Danu baik secara langsung maupun tidak langsung. Kelompok Subak akan melakukan upacara magpag toya dengan mengikuti hirarki tersebut. Pada pura subak juga diselenggarakan upacara yang rutin dilakukan setiap enam bulan bali (210 hari), yaitu upacara piodalan (hari jadi) di pura yang bersangkutan. Disamping upacara yang dilakukan secara kolektif,1

76

Bandingkan dengan Sudaratmaja dan Wrdiyazid Soethama, op.cit.,h.29-35.

terdapat juga rangkaian kegiatan upacara yang dilakukan oleh petani berkaitan dengan fase-fase kegiatan pertanian di sawah, memasukkan padi ke lumbung. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa berbagai aktifitas usaha tani yang dilakukan oleh petani sawah tidak dapat dilepaskan dengan nilai-nilai agama Hindu yang diwadahi oleh aktifitas-aktitas upacara keagamaan dimana Pura Subak menjadi pusatnya. Dengan jelas dapat dilihat bahwa aktifitas-aktifitas ritual Itu mempersatukan anggota subak untuk mencapai tujuantujuannya, terutama untuk keberhasilan usaha tani mereka. Disamping itu, rangkaian aktifitas ritual itu umumnya dituangkan melalui peraturan awig-awig (peraturan) subak dimana tahapan upacara "keagamaan' di Pura , Subak diatur secara eksplisit dan harus diikuti Qleh anggota subak. Disinilah pura subak memerankan fungsi sebgai wadah berinteraksi anggota subak. Aktivitas-aktivitas anggota subak dalam melaksanakan rangkaian upacara keagamaan di atas, terutama upacara keagamaan yang diselenggarakan secara kolktif menjadi wadah pemersatu anggota subak sehingga mampu menjaga integritas kelompok. mulai semai, tanam, masa pertumbuhan padi, panen, sarnpai

C. Awig-awig Subak Seprti halnya desa pakraman, kehidupan dalam subak diatur oleh suatu aturan-aturan hukum yang dibuat oleh anggota subak secara musyawarah mufakat melalui sangkepan. Aturan-aturan tersebut disebut Awig-awig subak, yang berisi perintah, larangan dan kebolehan serta sanksi dalarn kelernbagaan subak. Pada awalnya bentuk umumnya tidak tertulis, tetapi belakangan ini (sejak 1969) pembuatan awig-awig dalam bentuk tertulis sering dilakukan, baik di desa pakraman ataupun subak. Aturan-aturan yang bersifat pokok dituangkan dalam tertulis, sedangkan aturan-aturan pelaksanaannya yang sifatnya lebih fleksibel dalam pararem-pararem tertulis. Parerem dalah keputusan-keputusan sangkepan yang mempunyai kekuatan mengikat bagi anggota subak.

D. Kewajiban Suba