Pengajaran Tata Bahasa Implisit dan Eksplisit

  • Published on
    08-Mar-2016

  • View
    47

  • Download
    2

DESCRIPTION

Dalam pengajaran tata bahasa, metode implisit dan eksplisit perlu diperhatikan untuk mencapai kesuksesan pemelajaran.

Transcript

PENGAJARAN TATA BAHASA:METODE IMPLISIT DAN EKSPLISIT DAN PENERAPANNYA DALAM PENGAJARAN BAHASA INGGRIS DI INDONESIA

Laporan Tugas MandiriMata Kuliah Linguistik Edukasional

oleh

Anisah Durrotul Fajri (1506701836)

Program Magister Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Pengetahuan BudayaUniversitas IndonesiaDepok 2015I. PENDAHULUANBahasa adalah salah satu aspek yang penting dalam kehidupan manusia. Di banyak bidang, bahasa menjadi aspek yang tidak dapat diabaikan fungsinya baik dalam ekonomi, politik, pendidikan, dan sebagainya. Oleh karenanya, pembelajaran bahasa kini menjadi salah satu bidang yang utama dalam pendidikan. Di Indonesia bahkan bahasa menjadi salah satu bidang yang di ujikan dalam Ujian Nasional. Di era global ini, masing-masing individu tidak hanya dituntut untuk menguasai satu bahasa saja. Adanya pertukaran informasi secara global mengakibatkan masing-masing individu menguasai dua bahkan tiga bahasa atau lebih sekaligus. Hal ini menjadikan pembelajaran bahasa kedua maupun pembelajaran bahasa asing menjadi sangat penting. Namun, pembelajaran bahasa kedua maupun bahasa asing bukanlah hal yang mudah. Seperti yang dikemukakan Brown (2007:1) bahwa pembelajaran bahasa adalah hal yang rumit. Brown mengungkapkan bahwa hal tersebut disebabkan oleh upaya seseorang yang sedang belajar bahasa kedua untuk keluar dari batas-batas bahasa ibu mereka ke bahasa baru dan segala aspek di dalamnya termasuk budaya, cara berpikir, cita dan tindakan. Pembelajaran bahasa tentunya tidak dapat dipisahkan dengan pengajaran bahasa karena pembelajaran didapatkan dari pengajaran. Oleh sebab itu, pengajaran bahasa haruslah memperhatikan aspek-aspek pembelajaran bahasa. Dengan kata lain pembelajaran bahasa haruslah juga memperhatikan budaya, cara berpikir, cita dan tindakan bahasa tersebut. Di samping itu tentunya pengajaran bahasa haruslah mencakup bentuk, makna dan penggunaannya.Berkaitan dengan pengajaran bahasa yang telah dipaparkan, dalam tulisan ini akan dibahas hasil studi pustaka penulis tentang pengajaran bahasa, dalam hal ini secara khusus akan mengulas tentang pengajaran bentuk atau tata bahasa. Pengajaran tata bahasa dalam tulisan ini akan dikhususkan pada metode pengajaran tata bahasa eksplisit dan implisit dalam pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia.

II. PENGAJARAN TATA BAHASAMenurut Cook (2008:18), tata bahasa adalah aspek bahasa yang paling unik. Karenanya, Cook menyatakan bahwa menurut para ahli bahasa, tata bahasa dipelajari dengan cara yang berbeda dari hal-hal lain yang dipelajari manusia. Sedangkan menurut Larsen dalam Spolsky (1999:612) mengungkapkan bahwa pengajaran tata bahasa tidak bisa dibatasi hanya pada penyajian bentuk-bentuk formal struktur tata bahasa jika siswa diharuskan dapat menggunakan tata bahasa untuk mencapai komunikasi yang bermakna. Kedua pernyataan tersebut menunjukkan adanya pertentangan pengajaran tata bahasa, di satu sisi pengajaran tata bahasa dianggap harus dipisahkan dengan aspek yang lain, sedangkan di sisi lain pengajaran tata bahasa tidak dapat dipisahkan dengan aspek lain karena tujuan pengajaran bahasa adalah untuk mencapai keterampilan komunikasi.Adanya pertentangan diantara para ahli bahasa tentang pengajaran tata bahasa inilah yang kemudian memunculkan adanya dua metode pengajaran bahasa, yaitu metode pengajaran eksplisit dan metode pengajaran implisit. Ellis (2009:3) memberikan perbedaan antara pembelajaran implisit dan eksplisit dalam dua prinsip berikut:a. Pembelajaran implisit berlangsung tanpa membuat tuntutan pada sumber perhatian pusat. Sebagai mana yang siungkapkan N. Ellis (2008: 125) dalam Ellis (2009:3) bahwa konspirasi dari ucapan-ucapan hafalan yang berkolaborasi secara produktif dalam menghasilkan skema linguistik memunculkan adanya generalisasi. Dengan demikian, pengetahuan yang dihasilkan adalah subsymbolik, mencerminkan sensitivitas statistik pada struktur yang dipelajari. Sebaliknya, pembelajaran eksplisit biasanya melibatkan hafalan serangkaian fakta secara berturut-turut dan dengan demikian membuat tuntutan berat pada working memory.b. Ellis juga menyatakan bahwa dalam pembelajaran implisit, pembelajar tetap tidak menyadari pembelajaran yang telah terjadi, meskipun jelas dalam respon perilaku yang mereka buat tercemin apa yang telah mereka pelajari. Dengan demikian, pembelajar tidak dapat melafalkan apa yang telah mereka pelajari. Dalam pembelajaran eksplisit, pembelajar menyadari bahwa mereka telah belajar sesuatu sehingga mereka dapat melafalkan apa yang telah mereka pelajari .

2.1. Metode EksplisitMetode eksplisit menurut Brown (2007:291) adalah metode pengajaran yang melibatkan kesadaran dan dengan tujuan. Dengan kata lain tata bahasa diajarkan secara langsung. Aturan-aturan tata bahasa dipaparkan secara langsung kepada pembelajar sehingga mereka mengetahui dengan sadar bahwa yang mereka pelajari adalah tata bahasa Bahasa Inggris.Telah bertahun-tahun metode pengajaran tata bahasa eksplisit ini dingunakan sebagai metode pengajaran tata bahasa yang utama, termasuk di Indonesia. Metode eksplisit pada umumnya digunakan dengan memisahkan tata bahasa dengan makna dan konteks pemakaiannya. Namun, penggunaan metode eksplisit dalam pengajaran tata bahasa telah menjadi perdebatan diantara para ahli bahasa. Dalam Cook (2008:40) beberapa ahli bahasa berpendapat bahwa pengajaran tata bahasa yang tidak melibatkan makna bukanlah pengajaran tata bahasa. Dengan demikian pengajaran tata bahasa secara eksplisit tetaplah harus memasukkan makna sebagai objek pengajarannya bukan hanya fokus pada bentuk saja.Dkhissi (2013:242) menyatakan bahwa pengajaran bahasa yang fokus pada penyampaian tata bahasa saja tanpa adanya penjelasan akan makna dapat merusak pengajaran dan pembelajaran bahasa. Menurutnya, pemahaman tata bahasa dapat membantu pembelajar dalam menghasilkan bentuk bahasa yang tepat dan berfungsi sebagai alat monitor penggunaan bahasa. Namun, menurutnya seseorang dapat menyampaikan suatu pesan hanya dengan menggunakan kosa kata saja. Sedangkan seseorang tidak akan dapat menyampaikan pesan hanya dengan tata bahasa saja. Oleh karena itu, metode eksplisit yang mengesampingkan penjelasan makna akan menjadi tidak penting bagi pembelajar karena pembelajar tidak akan dapat mencapai tujuan pembelajaran yaitu dapat menggunakan tata bahasa dalam fungsi-fungsi komunikatifnya. Dkhissi (2013:242) juga menekankan bahwa kombinasi antara tata bahasa dan makna bisa menjadi metode pengajaran yang terbaik.

2.2. Metode ImplisitBerbeda dengan metode eksplisit, metode implisit menurut Brown (2007:291) adalah pembelajaran tanpa perhatian secara sadar. Dengan demikian pengajaran tata bahasa menggunakan metode implisit adalah pengajaran tata bahasa tanpa secara langsung. Dengan kata lain tata bahasa diajarkan secara kontekstual tanpa memberikan aturan-aturan tata bahasa tetapi tata bahasa hadir dalam konteks percakapan ataupun bacaan. Hal ini sejalan dengan pendapat Larsen dalam Spolsky (1999) bahwa pengajaran tata bahasa haruslah kembali pada tujuan pengajaran bahasa yaitu untuk mencapai kemampuan komunikatif. Dengan demikian tata bahasa diajarkan ketika muncul dalam komunikasi. Tata bahasa tidak diajarkan secara terpisah tetapi menjadi bagian dari pengajaran unsur-unsur bahasa yang lain.Pembelajaran tata bahasa saat ini telah banyak beralih ke metode pengajaran implisit. Para ahli bahasa terapan modern menyarankan agar tata bahasa dapat diserap secara tidak sadar ketika berkomunikasi, seperti halnya ketika anak belajar bahasa ibu mereka. Pengajaran tata bahasa haruslah ditujukan untuk membuat siswa mampu menghasilkan struktur tata bahasa yang akurat, bermakna, dan tepat (sesuai dengan kebutuhannya). Pengajaran tata bahasa dapat dikatakan kurang berhasil jika siswa dapat menghasilkan bentuk tata bahasa yang benar, tetapi tidak tahu apa maknanya dan kapan menggunakannya. Dengan demikian, agar siswa dapat menggunakan struktur tata bahasa yang akurat, bermakna, dan tepat maka isi dari pengajaran tata bahasa tidak boleh hanya mencakup bentuk saja, tetapi juga harus mencakup makna dan penggunaan struktur tata bahasa tersebut.

III. PENERAPAN METODE PENGAJARAN EKSPLISIT DAN IMPLISIT DALAM PENGAJARAN BAHASA INGGRIS DI INDONESIAPengajaran tata bahasa Bahasa Inggris di Indonesia pada umumnya masih menggunakan metode pengajaran eksplisit. Bahkan pengajaran Bahasa Inggris digeneralisasikan sebagai pengajaran tata bahasa. Namun demikian, di beberapa sekolah, pengajaran tata bahasa Bahasa Inggris telah berarih menggunakan metode implisit.3.1. Metode Eksplisit dan Implisit di Pendidikan FormalJika kita melihat pada pendidikan formal, yaitu sekolah dasar dan menengah, penggunaan metode pengajarannya masih belum memiliki keseragaman. Ada sekolah yang cenderung menggunakan metode eksplisit dan ada yang lebih cenderung menggunakan metose implisit. Bahkan di dalam satu sekolah bisa jadi antara guru Bahasa Inggris yang satu dan lainnya berbeda. Jadi, dapat dikatakan bahwa belum ada persamaan visi dalam penggunaan metode pengajaran di Indonesia sehingga semua kembali kepada pengajar masing-masing.Namun, bila kita menilik pada silabus terbaru, yaitu berdasarkan kurikulum 2013, sebenarnya pengajaran Bahasa Inggris sudah tidak lagi mengacu pada pembelajaran tata bahasa tetapi lebih kepada pengajaran Bahasa Inggris yang lebih mengacu pada konteks penggunaan dalam aktifitas akademik yang mereka hadapi. Kompetensi Dasar Pelajaran Bahasa Inggris sudah tidak lagi termuat secara eksplisit pengajaran tata bahasa di dalamnya. Berikut adalah Kompetensi Dasar Bahasa Inggris untuk SMP kelas IX yang penulis ambil sebagai contoh:KELAS: IX KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR

1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya

Mensyukuri kesempatan dapat mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar komunikasi Internasional.

2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya

1.1 Menghargai perilaku santun dan peduli dalam melaksanakan komunikasi antar pribadi dengan guru dan teman. 1.2 Menghargai perilaku jujur, disiplin, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam melaksanakan komunikasi transaksional dengan guru dan teman. 1.3 Menghargai perilaku tanggung jawab, peduli, kerjasama, dan cinta damai, dalam melaksanakan komunikasi fungsional.

3. Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata

3.1 Memahami teks untuk menyatakan setuju/tidak setuju, menanggapi jawaban tidak benar, dan menyatakan harapan atau doa. 3.2 Memahami tujuan, struktur teks, dan unsur kebahasaan dari teks khusus lisan dan tulis berbentuk label obat/makanan/minuman, ucapan selamat atas suatu kebahagiaan dan prestasi, pengumuman berisi pemberitahuan, iklan produk dan jasa, pendek dan sederhana. 3.3 Memahami tujuan, struktur teks, dan unsur kebahasaan dari teks naratif lisan dan tulis, berbentuk cerita rakyat, pendek dan sederhana. 3.4 Memahami tujuan, struktur teks, dan unsur kebahasaan dari teks ilmiah faktual (report) lisan dan tulis tentang benda, binatang dan peristiwa alam, pendek dan sederhana. 3.5 Memahami tujuan, struktur teks, dan unsur kebahasaan dari teks prosedur lisan dan tulis berbentuk resep, instruksi, dan manual, pendek dan sederhana 3.6 Memahami pesan dalam lagu.

4. Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori

4.1 Menyusun teks lisan untuk mengucapkan dan merespon pernyataan setuju/tidak setuju, tanggapan atas jawaban tidak benar, dan pernyataan harapan atau doa, dengan unsur kebahasaan yang benar dan sesuai konteks. 4.2 Menyusun teks khusus lisan dan tulis berbentuk label obat/makanan/minuman, ucapan selamat atas suatu kebahagiaan dan prestasi, pengumuman berisi pemberitahuan, iklan produk dan jasa, pendek dan sederhana, dengan memperhatikan tujuan, struktur teks, dan unsur kebahasaan, secara benar dan sesuai dengan konteks. 4.3 Menangkap makna dalam teks khusus berbentuk label obat/makanan/minuman, ucapan selamat atas suatu kebahagiaan dan prestasi, pengumuman berisi pemberitahuan, iklan produk dan jasa, lisan dan tulis, pendek dan sederhana. 4.4 Menyusun teks teks ilmiah faktual (report) lisan dan tulis, pendek dan sederhana, tentang benda, binatang dan peristiwa alam, dengan memperhatikan tujuan, struktur teks, dan unsur kebahasaan, secara benar dan sesuai dengan konteks. 4.5 Menangkap makna dalam teks ilmiah faktual (report) lisan dan tulis, pendek dan sederhana. 4.6 Menangkap makna teks naratif, lisan dan tulis, berbentuk cerita rakyat pendek dan sederhana. 4.7 Menyusun teks prosedur lisan dan tulis, pendek dan sederhana, berbentuk resep, instruksi, dan manual, dengan memperhatikan tujuan, struktur teks, dan unsur kebahasaan, secara benar dan sesuai dengan konteks. 4.8 Menangkap makna teks prosedur, lisan dan tulis, berbentuk resep, instruksi, dan manual, pendek dan sederhana. 4.9 Menangkap pesan dalam lagu

Sumber: Kurikulum 2013, Kompetensi Dasar SMP Kelas IXKementrian Pendidikan dan Kebudayaan 2013

Dalam Kompetensi Dasar tersebut tidak tercantum kompetensi penguasaan tata bahasa tertentu, tetapi kompetensinya lebih mengacu pada penggunaan Bahasa Inggris yang berkaitan dengan bidang akademik seperti penulisan teks, surat, dll. Dengan demikian, seharusnya berdasarkan kurikulum 2013, pengajaran Bahasa Inggris haruslah lebih menekankan pada penggunaan bahasa bukan pada penguasaan tata bahasa. Secara perangkat, pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia telah didukung oleh kurikulum yang mengacu pada pengajaran tata bahasa implisit bukan eksplisit. Namun, pada penerapannya masih perlu dikaji ulang apakah sudah sesuai dengan Kompetensi Dasar yang tercantum dalam kurikulum atau belum.

3.2. Metode Eksplisit dan Implisit di Pendidikan Non-FormalDalam pendidikan non-formal, penggunaan metode pengajaran Bahasa Inggris lebih tidak seragam. Hal ini disebabkan oleh tujuan pembelajaran Bahasa Inggris dalam pendidikan non-formal lebih bervariasi bukan hanya sekedar untuk menempuh Ujian Nasional sebagai tujuan utama pendidikan formal. Dengan demikian, distribusi pengajaran menggunakan metode eksplisit dan implisit lebih tak beraturan.Sebagai contoh pada kursus speaking Bahasa Inggris, tentu saja metode pengajarannya tidak berfokus pada tata bahasa saja. Tata bahasa tetaplah diajarkan dalam speaking, writing, listening, dan reading akan tetapi pengajarannya lebih menggunakan metode implisit karena tata bahasa bukanlah fokus utama pembelajaran. Namun demikian, jika tujuan diadakannya kursus adalah untuk menghadapi ujian TOEFL Paper Based yang di dalamnya memuat materi ujian struktur tata bahasa maka jelas pengajarannya terfokus pada tata bahasa dan tata bahasa harus diajarkan secara eksplisit sehingga pembelajar dapat menganalisa struktur bahasa yang benar dalam Bahasa Inggris dan dapat mengerjakan soal TOEFL dengan baik.Dengan demikian, metode pengajaran tata bahasa dalam pendidikan non-formal (kursus) lebih menekankan pada tujuan pembelajaran. Penggunaan metode implisit dan eksplisit bergantung pada tujuan akhir pembelajaran bahasa.

3.3. Pengaruh Sistem Tes terhadap Penggunaan Metode Eksplisit dan ImplisitSelanjutnya yang tidak kalah penting dari bentuk pendidikan formal dan non-formal adalah bentuk sistem tes di Indonesia. Bentuk tes sebagai tujuan akhir pembelajaran sangatlah mempengaruhi metode pengajaran yang digunakan. Tidak dapat dipungkiri bahwa kehadirn ujian di akhir pembelajaran menjadi fokus terpenting proses pembelajaran.Pada pendidikan formal sudah kita ketahui bahwa ada Ujian Nasional di setiap tingkatan pendidikan yang menjadi fokus utama pengajaran bahasa. Kisi-kisi Ujian Nasional yang dikeluarkan setiap tahunnya jelas mempengaruhi capaian pembelajaran. Sebagai contoh berikut adalah kisi-kisi Ujian Nasional untuk SMP:Sumber: Kisi-kisi Ujian Nasional SMP 2014Badan Standar Nasional Pendidikan

Dari kisi-kisi tersebut dapat kita lihat bahwa tidak ada tata bahasa secara eksplisit dalam Ujian Nasional tetapi tata bahasa diujikan dalam penggunaannya dalam writing dan reading. Sehingga pengajaran bahasa lebih fokus pada penggunaan bahasa dalam menulis dan membaca. Dengan demikian, ketika berfokus pada dua bentuk ujian tersebut maka pengajarannya lebih kepada metode implisit.Namun, disamping Ujian Nasional dalam dunia akademik juga marak digunakan, khususnya Bahasa Inggris, adalah tes TOEFL. Tes TOEFL ini kini menjadi prasyarat untuk lulus perguruan tinggi dan juga untuk mencari pekerjaan. Walaupun saat ini suda hada TOEFL iBT yang tidak memasukkan aspek struktur tata bahasa tapi lebih pada penggunaan bahasa dalam mendengar, berbicara, membaca dan menulis, tetapi sistem penilaiannya yang sukar dan biayanya yang mencapai jutaan rupiah membuatnya tidak digunakan secara luas di Indonesia. Tes TOEFL di Indonesia lebih banyak menggunakan bentuk tes tulis yang mencakup materi struktur tata bahasa di dalamnya sehingga dalam kelas-kelas persiapan TOEFL pengajaran tata bahasa dilakukan dengan metode eksplisit.242IV. PENUTUPPerdebatan penggunaan metode pengajaran tata bahasa Bahasa Inggris yang tak berujung antara para ahli bahasa, nampaknya harus kita kembalikan lagi pada hakikat pengajaran bahasa dan tujuan pengajaran bahasa. Jika melihat pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia di pendidikan formal yang dalam kurikulumnya tidak mencakup tata bahasa secara eksplisit maka metode yang sebaiknya digunakan adalah pengajaran tata bahasa secara implisit. Namun, pada kasus program persiapan tes TOEFL yang mencakup struktur tata bahasa secara eksplisit maka pengajarannya juga hasus secara eksplisit. Sehingga penggunaan metode eksplisit dan implisit harus kembali pada tujuan akhir pembelaharan Bahasa Inggris.

V. DAFTAR PUSTAKA Brown, H. D. 2007. Principles of Language Learning and Teaching. New York: Addison Wesley Longman, Inc.Cook, Vivian. 2008. Second Language Learning and Language Teaching. London: Hodder Education, Dkhissi, Yahya. 2013. An Integrative Model of Grammar Teaching: from Academic to Communicative Needs. Arab World English Journal: Volume.4 Number.1, 2013 pp. 239- 256Ellis, Rod, et al. 2009. Implisit and Explicit Knowledge in Second Language Learning, Testing and Teaching. Bristol: Multilingual Matters.Kurikulum 2013: Kompetensi Dasar Sekolah Menengah Pertama (SMP)/ Madrasah Tsanawiyah (Mts). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2013Peratuaran Badan Standar Nasional Pendidikan Nomor: 0027/P/BSNP/IX/2014. Tentang Kisi-kisi Ujian Nasional untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun Pelajaran 2014/2015.Spolsky, Bernard. 1999. Concise Encyclopedia of Educational Linguistics. Oxford: Elsevier Science Ltd.

Recommended

View more >