of 78 /78
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA PADA SISWA SDNPLUPUH SRAGEN TAHUN AJARAN 2011/2012 SKRIPSI DisusunOleh: AL EsaHanafi K7108077 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE …/Penerapan...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN

  • Author
    buikiet

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE …/Penerapan...perpustakaan.uns.ac.id...

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE

    STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

    IPA PADA SISWA SDNPLUPUH SRAGEN

    TAHUN AJARAN 2011/2012

    SKRIPSI

    DisusunOleh:

    AL EsaHanafi

    K7108077

    FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

    UNIVERSITAS SEBELAS MARET

    SURAKARTA

    2013

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user ii

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE

    STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

    IPA PADA SISWA SDN PLUPUH SRAGEN

    TAHUN AJARAN 2011/2012

    Oleh:

    AL Esa Hanafi

    K7108077

    Skripsi

    Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana

    Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

    Jurusan Ilmu Pendidikan

    FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

    UNIVERSITAS SEBELAS MARET

    SURAKARTA

    2013

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user iii

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user iv

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user v

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user vi

    ABSTRAK

    Al Esa Hanafi. PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE STUDENTS TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP GAYA DALAM MATA PELAJARAN IPA KELAS IV SDN KARUNGAN 2 TAHUN AJARAN 2011/2012. Skipsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta: Agustus 2012. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan penguasaan konsep gaya melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Students Teams Achievement Divisions (STAD) pada siswa kelas IV SDN Karungan 2 Plupuh Sragen Tahun Ajaran 2011/2012.

    Penelitan ini berbentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah guru dan siswa kelas IV SDN Karungan 2 Plupuh Sragen Tahun Ajaran 2011/2012 berjumlah 15 siswa, 11 siswa laki-laki dan 4 siswa perempuan. Sumber data berupa informasi dari guru kelas IV, hasil pengamatan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Students Teams Achievement Divisions (STAD), dan dokumen resmi. Teknik pengumpulan data adalah wawancara, tes, observasi, dan dokumentasi. Validitas data menggunakan triangulasi data. Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif meliputi tiga buah komponen yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.

    Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Teams Achievement Divisions (STAD) dapat meningkatkan penguasaan konsep dan keaktifan belajar IPA materi gaya pada siswa kelas IV SDN Karungan 2 Plupuh Sragen Tahun Ajaran 2011/2012. Hal ini dapat dibuktikan dengan meningkatnya rata-rata kelas penguasaan konsep sebelum tindakan yaitu 61.67 dengan ketuntasan klasikal 33.33 %, siklus I rata-rata siswa 74 dengan ketuntasan klasikal 73.33%, berarti ketuntasan klasikal dari sebeleum tindakan ke siklus I naik 40 %. Siklus II rata-rata siswa 83.33 dengan ketuntasan klasikal 100 %, berarti ketuntasan klasikal dari siklus I ke siklus II naik 26.67 %. Untuk aspek keaktifan belajar, siklus I terdapat 7 atau 46,67% dari 15 siswa aktif, dan pada siklus II keaktifan siswa naik menjadi 11 atau 73,33% dari 15 siswa aktif.

    Kata Kunci : Penguasaan Konsep Gaya, Model Kooperatif tipe Students Teams Achievement Division (STAD).

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user vii

    ABSTRACT

    Al Esa Hanafi. THE APPLICATION OF THE COOPERATIVE LEARNING MODEL OF STUDENTS TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS TYPE TO IMPROVE THE MASTERY OF POWER CONCEPT IN THE NATURAL SCIENCE SUBJECT MATTER OF THE STUDENTS IN GRADE IV OF STATE PRIMARY SCHOOL KARUNGAN 2 IN ACADEMIC YEAR 2011/2012. Skripsi, Surakarta: The Faculty of Teacher Training and Education, Sebelas Maret University, Surakarta, August 2012. The objective of this research is to investigate the improvement of the mastery of power concept in the Natural Science subject through the application of the cooperative learning model of Students Teams Achievement Divisions (STAD) type of the students in Grade IV of State Primary School Karungan 2 of Plupuh, Sragen in Academic Year 2011/2012.

    This research used the classroom action research. It was conducted in two cycles. The subjects of the research were the students in Grade IV of State Primary School Karungan 2 of Plupuh, Sragen in Academic Year 2011/2012 as many as 15 students, 11 males and 4 females. The sources of the data were the class teacher, the results of observation on the learning process with the cooperative learning model of the STAD type, and official documents. The data of the research were gathered through in-depth interview, test, observation, and documentation. They were validated by using the data triangulation, and were then analyzed by using the interactive technique of analysis comprising three components, namely: data reduction, data display, and conclusion drawing or verification.

    The result of the research shows that the application of the cooperative leaning model of the STAD type can improve the mastery of power concept in Natural Science and the learning activeness of the students in Grade IV of State Primary School Karungan 2 of Plupuh, Sragen in Academic Year 2011/2012 as indicated by the following: Prior to the treatment the average score of the students is 61.67, and the classical completeness is 33.33 %. Following the treatment, the average score of the students becomes 74 in Cycle I and 83.33 in Cycle II respectively, and the classical completeness becomes 73.33 % in Cycle I and 100% in Cycle II, meaning that the classical completeness increases up to 40% from in Cycle I and 26.67 % in Cycle II. 7 (46.67%) out of 15 students in Cycle I and 11 (73.33) out of 15 students in Cycle II respectively are active in term of learning activeness.

    Keywords: The mastery of power concept and the cooperative learning model of Students Teams Achievement Division (STAD) type.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user viii

    MOTTO

    sekarang ini adalah ilmu pengetahuan dan teknologi

    (Alfin Toffler)

    (Sugiyanto)

    (Giring Ganesa)

    (QS. Ar-

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user ix

    PERSEMBAHAN

    Dengan segala doa dan puji syukur kehadirat ALLAH SWT

    Kupersembahkan skripsi ini untuk:

    Kedua orang tuaku tercinta yang selalu membimbingku, menasehati, dan

    mendoakan yang terbaik bagiku.

    Adik-adikku tersayang yang selalu memberikan canda dan tawa dalam

    hari-hariku.

    Indah Dwi yang selalu memotivasiku untuk maju.

    Teman-teman seperjuanganku angkatan 2008 S1 PGSD yang selalu

    memberikan inspirasi dan semangat bagiku untuk menjadi lebih baik lagi,

    terutama kelas A.

    Keluarga besar FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta dan

    Almamaterku tercinta.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user x

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT, yang telah

    melimpahkan segala rahmat, hidayah dan karunia- Nya, sehingga penulis dapat

    menyelesaikan skripsi Penelitian Tindakan Kelas ini di SD Negeri Karungan 2

    kecamatan Plupuh Kabupaten Sragen, dengan judul:

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE

    STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA PADA SISWA

    SDN PLUPUH SRAGEN TAHUN AJARAN 2011/2012. Penulis menyadari

    terselesaikannya penyusunan Skripsi Penelitian Tindakan Kelas ini tidak lepas

    dari bimbingan, arahan, petunjuk, dan saran-saran dari berbagai pihak, maka pada

    kesempatan ini penulis dengan tulus menyampaikan terima kasih kepada:

    1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret,

    yang telah memberikan izin penulisan skripsi.

    2. Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan yang telah memberikan persetujuan

    skripsi.

    3. Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang telah

    memberikan izin skripsi.

    4. Sekretaris Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang telah

    memberikan izin skripsi.

    5. Prof. Dr. H. Soegiyanto, S.U., selaku dosen pembimbing I.

    6. Bapak Joko Daryanto,S.Sn, M.Sn.,selaku dosen pembimbing II.

    7. Kepala SD Negeri Karungan 2 yang telah memberikan izin penulis untuk

    melakukan penelitian.

    8. Guru kelas IV SD Negeri Karungan 2 yang telah merelakan waktunya

    untuk wawancara dan memberi izin penulis melakukan penelitian di kelas

    IV.

    9. Ayah dan ibu tercinta yang telah memberikan dukungan baik secara moral

    maupun materiil.

    10. Adik-adik saya yang memotivasi saya untuk maju.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user xi

    11. Teman-teman PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta angkatan

    2008.

    12. Pembaca yang budiman serta semua pihak yang telah membantu

    terselesaikannya skripsi ini.

    Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari unsur

    kesempurnaan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang

    membangun demi kesempurnaan skripsi ini, dan semoga skripsi ini dapat

    bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan khususnya bagi penulis

    sendiri.

    Surakarta, 15 Januari 2013

    AL Esa Hanafi

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user xii

    DAFTAR ISI

    Halaman

    HALAMAN JUDUL .......................................................................... .... i

    HALAMAN PENGAJUAN...................................................................... ii

    PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN................................................. iii

    PERSETUJUAN........................................................................................ iv

    PENGESAHAN......................................................................................... v

    . vi

    ABSTRACT ....... Vii

    MOTTO..................................................................................................... viii

    PERSEMBAHAN...................................................................................... ix

    KATA PENGANTAR .......................................................................... . x

    DAFTAR ISI ......................................................................................... . xii

    DAFTAR TABEL.................................................................................... xv

    DAFTAR GAMBAR................................................................................ xvi

    DAFTAR LAMPIRAN............................................................................. xvii

    BAB I. PENDAHULUAN ............................................................... 1

    A. Latar Belakang Masalah ............................................... 1

    B. .... 4

    C. Tujuan Penelitian ......................................................... 4

    D. Manfaat Penelitian ....................................................... 5

    BAB II. LANDASAN TEORI .......................................................... 6

    A. Tinjauan Pustaka .......................................................... 6

    1. Hakikat Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD 6

    a. Pengertian Model Pembelajaran ....................... 6

    b. Macam-macam Model .... 7

    c. ....... 8

    d. Ciri- .. 10

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user xiii

    Halaman

    e. Student Teams Achievement Divisions........ .... 11

    1) Komponen Mode .. 12

    2) ... 14

    3) Langkah- .. 15

    4) ... 16

    2. Hakikat Penguasaan Konsep Gaya .......... 16

    a. .... 16

    b. ... 17

    c. Pengertian ..... 18

    d. 19

    e. Hakikat Gaya Dalam IPA di SD ........... 20

    1) Pengertian 20

    2) . 21

    3) .. 22

    4) . 22

    5) 23

    B. Hasil ... 23

    C. Kerangka Berpikir .... 24

    D. Hipotesis .... 25

    BAB III. METODE PENELITIAN ..................................................... 26

    A. Tempat dan Waktu Penelitian ...................................... 26

    B. Subjek Penelitian .......................................................... 26

    C. 26

    1. Bentuk .. 26

    2. .. 27

    D. Sumber Data ................................................................ 28

    E. Teknik Pengumpulan Data ........................................... 29

    1. . 29

    2. . 29

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user xiv

    Halaman

    3. . 29

    4. . 30

    F. Validitas Data .............................................................. 30

    G. Analisis Data ................................................................ 31

    H. Indikator Kinerja .......................................................... 32

    I. 33

    1. . 33

    2. Rancangan S 34

    BAB IV. HASIL 36

    A. Deskripsi Prat ..... 36

    B. 38

    1. De 38

    2. De 47

    C. 55

    BAB V. SIMPULAN, IMP 59

    A. 59

    B. 59

    C. 60

    DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 62

    LAMPIRAN ........................................................................................... 64

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user xv

    DAFTAR TABEL

    Halaman

    Tabel 1a:Kondisi Awal Nilai Konsep Gaya............................................ 2

    Tabel 1b:Perbedaan Pembelajaran 10

    15

    16

    Tabel 4:Distribusi Frekuensi Kondisi Awal IPA Materi Konsep Gaya... 37

    42

    44

    45

    Tabel 8:Hasil 51

    53

    54

    56

    Tabel 12:Nilai Rata- 57

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user xvi

    DAFTAR GAMBAR

    Halaman

    25

    Gambar 2:Tahap-ta 27

    33

    37

    43

    Gambar 6:Grafik prosentase Keaktifan Siswa Siklus 43

    44

    46

    52

    52

    53

    55

    Gambar 13:GrafikPeningkatan Nilai Rata- 56

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user xvii

    DAFTAR LAMPIRAN

    Halaman

    64

    65

    67

    82

    97

    103

    104

    105

    Lampiran 8: Nilai Penguasaan Konsep Gaya Prasiklus........................... 106

    107

    108

    109

    Lampiran 12:Lembar Ob 111

    112

    113

    114

    La 115

    116

    117

    Lampiran 19:Lembar Observasi Siswa Siklus II Perte 118

    Lampiran 20:Hasil Photo Pembelajaran........................................................ 119

    Lampiran 21:Hasil Pekerjaan Peserta Didik............................................... 121

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu pengetahuan yang

    mempelajari alam semesta, baik yang mempelajari alam semesta yang hidup

    maupun yang tidak hidup. Di dalam IPA pengetahuan diperoleh dengan jalan

    mengamati berbagai jenis dan perangkat lingkungan alam serta lingkungan

    buatan. Ilmu IPA yang diajarkan di sekolah dasar merupakan disiplin ilmu yang

    menuntut siswa supaya lebih aktif. Dalam mempelajari IPA idealnya tidak hanya

    berdiam diri mendengar penjelasan guru, tetapi memerlukan keaktifan dan

    keterampilan siswa.

    Pembelajaran di sekolah, idealnya termasuk pembelajaran IPA lebih

    banyak menganggap siswa sebagai subjek yang berkembang melalui pengalaman

    belajar sedangkan guru lebih berperan sebagai fasilitator dan motivator belajar

    bagi siswa, membantu dan memberikan kemudahan agar siswa mendapatkan

    pengalaman belajar sesuai dengan kemampuannya. Agar proses belajar mengajar

    tidak hanya berpusat pada guru, maka diperkenalkan beberapa alternatif model

    pembelajaran yaitu model pembelajaran kooperatif. Dalam model pembelajaran

    ini siswa lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam pembelajaran IPA,

    khususnya konsep gaya siswa harus mampu mengerti, memahami, dan menguasai

    konsep-konsep yang diajarkan. Proses transfer dan penguasaan konsep-konsep

    haruslah mendalam karena hal tersebut akan menjadi bekal dalam menghadapi

    tantangan hidup di masa mendatang. Strategi transfer dan penguasaan konsep

    dapat dilakukan dengan cara menerapkan model-model pembelajaran yang

    menarik sehingga proses mengerti, memahami dan menguasai konsep-konsep

    dapat menjadi lebih mudah.

    Penguasaan konsep pada materi gaya di kalangan siswa kelas IV Sekolah

    Dasar Negeri Karungan 2 masih jauh dari harapan. Berdasarkan wawancara

    dengan guru, pembelajaran kurang berhasil dengan ditandai prestasi atau nilai

    yang dicapai oleh siswa dalam pembelajaran IPA terutama dalam hal konsep gaya

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    2

    kurang memuaskan, karena hasil belajar yang dicapai oleh 15 siswa sebagian

    besar tergolong rendah dan belum sesuai dengan tujuan kompetensi yang akan

    dicapai, yaitu pencapaian nilai ketuntasan minimal 67. Dari jumlah 15 siswa yang

    mendapat nilai 67 ke atas (kategori tuntas) sebanyak 5 siswa (33%), yang

    mendapat nilai kurang dari 67 (kategori belum tuntas) sebanyak 10 siswa (67%).

    Dapat dilihat pada lampiran 5 halaman 103.

    Tabel 1a.Nilai Kondisi Awal Siswa

    KKM (67) JUMLAH SISWA PROSENTASE (%)

    TUNTAS 5 33%

    TIDAK TUNTAS 10 67%

    JUMLAH 15 100%

    Berdasarkan pengamatan, terlihat bahwa beberapa faktor yang menjadi

    penyebab kesulitan siswa dalam penguasaan konsep adalah model pembelajaran

    yang kurang efektif sehingga konsep gaya masih menggunakan metode ceramah

    dan tanya jawab yang kurang memotivasi semangat belajar siswa, dalam

    penyajian materi, terkadang mengakibatkan siswa merasa jenuh dan tidak

    bersemangat dalam belajar sehingga siswa merasa kesulitan dalam mengerti,

    memahami dan menghafal konsep-konsep.

    Model pembelajaran yang ideal untuk memperbaiki proses pembelajaran

    IPA pada materi konsep gaya salah satunya adalah dengan menerapkan model

    pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) agar

    dapat menunjang nilai pengusaan konsep gaya kelas IV pada siswa dapat

    meningkat. Model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement

    Divisions (STAD) adalah model pembelajaran yang memfokuskan pada

    kerjasama antar anggota kelompok agar semua anggota kelompok mampu

    mencapai tujuan belajar yang diharapkan.

    Isjoni(2009: 74) menjelaskan Student Teams Achievement Divisions

    (STAD) adalah tipe pembelajaran yang kooperatif dan menekankan pada adanya

    aktifitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    3

    membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang

    maksimal.

    Pembelajaran kooperatif tipe Students Teams Achievement Divisions

    mendorong dan memberi kesempatan kepada siswa untuk terampil

    berkomunikasi. Artinya, siswa didorong untuk mampu menyatakan pendapat atau

    idenya dengan jelas, mendengarkan orang lain dan menanggapinya dengan tepat,

    meminta umpan balik, serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan baik.

    Siswa juga mampu membangun dan menjaga kepercayaan, terbuka untuk

    menerima dan memberi pendapat serta ide-idenya. Cara-cara yang ditempuh

    untuk mengoptimalkan hasil belajar, terutama pada materi konsep gaya IPA kelas

    IV adalah dengan menekankan pada aktivitas belajar aktif dan kreativitas pada

    siswa selama proses pembelajaran berlangsung yang mengharuskan siswa agar

    lebih aktif dan mandiri di dalam kelas. Siswa dapat meningkatkan penguasaan

    konsep gaya kelas IV dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe

    Student Teams Achievement Divisions (STAD), siswa berinteraksi dengan siswa

    lain dalam kelompoknya untuk menggali pengetahuan bersama.

    Pembelajaran konsep gaya pada kelas IV diperlukan terobosan

    pembelajaran yang aktif dan inovatif, sehingga hasil belajar siswa khususnya pada

    materi konsep gaya dapat mencapai target ketuntasan minimal. Salah satunya

    dengan penerapan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions

    (STAD) maka adalah cara yang tepat, dimana pada proses pembelajarannya

    dibentuk kelompok-kelompok diskusi yang sederhana. Jadi siswa dapat saling

    bertukar pikiran dengan siswa lain dalam kelompoknya untuk dapat memahami

    konsep gaya kelas IV.

    Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, penulis bermaksud

    mengadakan penelitian dengan judul PENERAPAN MODEL

    PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN

    HASIL BELAJAR IPA PADA SISWA KELAS IV SDN PLUPUH SRAGEN

    TAHUN AJARAN 2011/2012

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    4

    B. Rumusan Masalah

    Untuk memberikan gambaran secara jelas mengenai arah penelitian,

    dibawah ini disajikan rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini,

    yaitu apakah dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student

    Teams Acievement Division (STAD) dapat meningkatkan penguasaan konsep

    gaya pada siswa kelas IV SDN Karungan 2 Plupuh Sragen Tahun Ajaran

    2011/2012?

    C. Tujuan Penelitian

    Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai

    dalam penelitian ini adalah mengetahui peningkatan penguasaan konsep gaya

    melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Acievement

    Division (STAD) pada siswa kelas IV SDN Karungan 2 Plupuh Sragen Tahun

    Ajaran 2011/2012.

    D. Manfaat Penelitian

    Hasil penelitian ini diharapkan dapat member manfaat baik bersifat

    teoritis maupun praktis sebagai berikut:

    1. Manfaat Teoritis:

    Memberikan kontribusi pemikiran mengenai proses pembelajaran IPA kelas

    IV penigkatan materi konsep gaya secara efektif dengan menerapkan model

    pembelajaran kooperatif tipe STAD.

    2. Manfaat Praktis:

    a. Bagi Siswa, untuk meningkatkan penguasaan siswa pada materi konsep

    gaya melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

    b. Bagi Guru Kelas, untuk mengembangkan kemampuannya dalam

    merancang dan melaksanakan pembelajaran IPA yang menarik dengan

    model pembelajaran yang inovatif seperti model pembelajaran kooperatif

    tipe STAD sehingga hasilnya akan lebih baik, serta menambah

    pengalaman guru untuk melaksanakan PTK.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    5

    c. Bagi Sekolah, untuk memberi gambaran tentang kompetensi guru dalam

    mengajar, dan kompetensi siswa dalam penerapannya, sehingga

    diharapkan kualitas proses dan hasil pembelajaran IPA khususnya pada

    materi konsep gaya dapat ditingkatkan.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    6

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Tinjauan Pustaka

    1. Hakikat Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams

    Achievement Divisions)

    a. Pengertian Model Pembelajaran

    Model pembelajaran merupakan salah satu bagian dari keseluruhan

    sistem belajar yang tidak dapat dipisahkan dari sistem lainnya. Model

    pembelajaran menjadi sangat penting seiring dengan majunya

    perkembangan jaman. Menurut Sugiyanto (2010:3) Model pembelajaran

    adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis

    dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan

    belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang

    pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas

    pembelajaran.

    Anton Sukarno (2006 :144) pengertian model pembelajaran

    diharuskan mengandung unsur a) Pedoman, b) Pengelolaan Pembelajaran,

    c) Kerangka konseptual. Sedangkan Sugiyanto (2010: 3) menyebutkan ada

    beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih model atau

    strategi pembelajaran, yaitu: a) Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai;

    b) materi ajar; c) kondisi siswa; d) ketersediaan sarana prasarana belajar.

    Ada 8 prinsip dalam memilih strategi pembelajaran : (a)

    berorientasi pada tujuan; (b) mendorong aktivitas siswa; (c)

    memperhatikan aspek individual siswa; (d) menantang siswa untuk

    berfikir; (e) menimbulkan proses belajar yang menyenangkan; (f) mampu

    memotivasi siswa belajar lebih lanjut; (g) mendorong proses interaksi

    (Sugiyanto, 2010: 4).

    Model pembelajaran mengacu pendekatan yang akan digunakan,

    termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    7

    kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas

    (Agus Suprijono, 2009: 46 ).

    Dengan demikian dapat disimpulkan model pembelajaran

    merupakan salah satu bagian dari keseluruhan sistem belajar yang tidak

    dapat dipisahkan dari sub sistem yang lain. Model pembelajaran

    berhubungan dengan perencanaan yang dipilih untuk menyampaikan

    materi pelajaran dalam lingkungan instruksional tertentu. Hal tersebut

    meliputi lingkup dan urutan kegiatan yang dipilih oleh guru dalam proses

    belajar mengajar, agar dapat diberikan kemudahan dan fasilitas kepada

    siswa dalam setiap mencapai tujuan pembelajaran.

    b. Macam Macam Model Pembelajaran

    Model pembelajaran terbagi menjadi bebagai macam, Sri Anitah

    (2009: 47), menyebutkan macam-macam model pembelajaran terdiri dari:

    1) Model pembelajaran kolaboratif adalah model pembelajaran yang

    melibatkan dua orang atau lebih untuk bekerjasama dalam belajar.

    2) Model pembelajaran kontekstual adalah model pembelajaran yang

    memungkinkan peserta didik untuk memperkuat, memperluas, dan

    menerapkan pengetahuan maupun keterampilan akademiknya dalam

    berbagai lingkungan baik di dalam maupun di luar kelas.

    3) Problem solving dan discovery inquiry, diajarkan dengan tujuan

    menyiapkan peserta didik untuk memecahkan masalah dalam

    kehidupan sehari-hari. Melalui penemuan, peserta didik belajar secara

    intensif dengan mengikuti metode investigasi ilmiah di bawah supervisi

    guru.

    4) Experiental learning, peserta didik belajar denagn mencocokkan

    pengetahuan dan pengalaman baru, dengan mengganti dan memperluas

    pengatahuan lama.

    5) Model pembelajaran terpadu adalah pengintegrasian beberapa mata

    pelajaran dan digunakan secara bermakna untuk menginvestigasi dan

    mengembangkan konsep tertentu di dalam suatu topik.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    8

    6) Model quantum learning merupakan model pembelajaran yang

    menciptakan pembelajaran yang bergairah dan menyenangkan.

    7) Resource-based learning merupakan belajar terbuka, jarak jauh dan

    fleksibel.

    Sedangkan Sugiyanto (2009: 3) menyebutkan macam-macam

    model pembelajaran terdiri dari:

    1) Model pembelajaran kontekstual adalah konsep pembelajaran yang

    mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan

    dan situasi dunia nyata siswa.

    2) Model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran yang bertujuan

    untuk mengembangkan aspek keterampilan sosial sekaligus aspek

    kognitif dan aspek sikap siswa.

    3) Model pembelajaran kuantum, model ini disajikan sebagai salah satu

    model yang dapat dipilih guru agar proses pembelajaran dapat

    berlangsung secara menyenangkan.

    4) Model pembelajaran terpadu merupakan kegiatan mengajar dengan

    memadukan beberapa mata pelajaran dalam satu tema.

    5) Model Problem Based Learning (PBL), disini guru lebih harus sering

    memfungsikan diri sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga siswa

    dapat belajar untuk berpikir dan menyelesaikan masalahnya sendiri.

    Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa ada berbagai

    macam model pembelajaran inovatif, diantaranya adalah model

    pembelajaran berbasis masalah, kooperatif atau kolaboratif, quantum

    learning, pembelajaran terpadu, pembelajaran kontekstual, Problem

    solving dan discovery inquiry, Experiental learning, Resource-based

    learning, dan Problem Based Learning (PBL). Dalam penelitian ini

    peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

    c. Model Pembelajaran Kooperatif

    Dalam kegiatan belajar mengajar, banyak model-model

    pembelajaran yang sering diterapkan. Salah satunya adalah model

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    9

    pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Isjoni (2009:15)

    mengemukakan bahwa model pembelajaran cooperatif learning berasal

    dari kata kooperatif yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-

    sama dan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau

    satu tim.

    Dalam jurnal internasional yang ditulis Jacobs&Hannah

    cooperative learning, also known as collaborative

    learning, is a body of concepts and techniques for helping to maximize the

    benefits of cooperation among students

    yang juga dikenal sebagai pembelajaran kolaboratif, adalah suatu bentuk

    dari konsep dan tehnik untuk membantu memaksimalkan keuntungan-

    keuntungan kerjasama diantara siswa.

    Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi

    semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk- bentuk yang lebih dipimpin

    oleh guru atau diarahkan oleh guru (Agus Suprijono 2009: 54). Hal

    tersebut diperkuat dengan pendapat Sugiyanto (2009 : 37) Pembelajaran

    kooperatif (Cooperative learning) adalah pendekatan pembelajaran yang

    berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama

    dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.

    Dalam jurnal internasional yang ditulis oleh Johnson&Johnson

    cooperative learning exists when students work

    together to accomplish shared learning goals

    pembelajaran kooperatif ada ketika siswa-siswa bekerja bersama untuk

    berbagi dalam menyelesaikan tujuan pembelajaran. Model pembelajaran

    kooperatif merupakan suatu model pembelajaran siswa dalam kelompok-

    kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda-beda.

    `Dari pendapat yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh di atas dapat

    disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah model

    pembelajaran yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil yang bekerja

    sama dan saling membantu dalam memahami materi untuk mencapai

    tujuan belajar.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    10

    d. Ciri Ciri Model Pembelajaran Kooperatif

    Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang didalamnya

    terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Elemen-elemen pembelajaran

    kooperatif itu adalah saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka,

    akuntabilitas individual, dan keterampilan untuk menjalin hubungan antar

    pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja diajarkan (Sugiyanto,

    2009: 40- 42).

    Adapun elemen-elemen dalam pembelajaran kooperatif di atas

    dapat diuraikan sebagai berikut:

    1) Saling Ketergantungan Positif

    2) Interaksi Tatap Muka

    3) Akuntabilitas Individual

    4) Keterampilan Menjalin Hubungan antar Pribadi

    Dalam pembelajaran tradisional dikenal pula belajar kelompok,

    meskipun demikian, ada sejumlah perbedaan esensial antara kelompok

    belajar kooperatif dengan kelompok belajar tradisional (Sugiyanto, 2009:

    42- 43). Pada tabel 1 dapat dilihat perbedaan kelompok belajar kooperatif

    dengan tradisional.

    Tabel 1b. Perbedaan pembelajaran tradisional dengan pembelajaran kooperatif (Sugiyanto, 2009: 42- 43)

    Kelompok Belajar Kooperatif Kelompok Belajar Tradisional

    Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotif

    Guru sering membiarkan adanya siswa yang mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok

    Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok. Kelompok diberi umpan balik tentang hasil belajar anggotanya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat dapat memberikan bantuan

    Akuntabilitas individual sering diabaikan sehingga tugas-tugas sering diborong oleh salah seorang anggota kelompok, sedangkan anggota kelompok

    -atas keberhasilan temannya yang

    Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis,

    Kelompok belajar biasannya

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    11

    ras, eknik, dan sebagainya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan

    homogen.

    Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis atau bergilir untuk memberikan pengalaman pemimpin bagi para anggota kelompok

    Pemimpin kelompok sering ditentukan oleh guru/kelompok dibiarkan untuk memilih pemimpinnya dengan cara masing-masing.

    Ketrampilan social yang diperlukan dalam kerja gotong royong seperti kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, mempercayai orang lain, dan mengelola konflik secara langsung diajarkan

    Ketrampilan sosial sering tidak diajarkan tidak langsung

    Pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung, guru terus melakukan pemantauan melalui observasi dan melakukan intervensi jika terjadi masalah dalam kerja sama antar anggota kelompok

    Pemantauan melaui observasi dan intervensi sering dilakukan oleh guru pada saat belajar kelompok sedang berlangsung

    Guru memperhatikan secara langsung proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar

    Guru sering tidak memperhatikan proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar

    Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal (hubungan antar pribadi yangsaling menghargai)

    Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas

    e. Pengertian Student Teams-Achievement Divisions (STAD)

    Model pembelajaran STAD adalah salah satu Model pembelajaran

    yang dikemukakan oleh Slavin dan kawan-kawan dari universitas John

    Hopkins. Model pembelajaran ini merupakan teori belajar kontruktivisme

    yang berdasarkan pada teori pembelajaran kognitif, dimana para guru

    berfungsi sebagai fasilisator. Guru cukup menciptakan kondisi lingkungan

    belajar yang kondusif bagi siswa. Menurut teori ini siswa akan lebih

    mudah menemukan pengertian akan konsep-konsep yang sulit jika mereka

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    12

    dapat membicarakan dan mendiskusikan masalah tersebut dengan

    temannya.

    Isjoni (2009: 74) menjelaskan STAD adalah tipe pembelajaran

    kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara

    siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai

    materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.

    Slavin (2008: 11) mengatakan bahwa : Dalam STAD, para siswa

    dibagi dalam tim belajar yang terdiri atas empat orang yang berbeda-beda

    tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etniknya. Guru

    menyampaikan pelajaran, lalu siswa bekerja dalam tim mereka untuk

    memastikan pelajaran, lalu siswa bekerja dalam tim mereka untuk

    memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasai pelajaran.

    Selanjutnya, semua siswa mengerjakan kuis mengenai materi secara

    sendiri-sendiri, di mana saat itu mereka tidak diperbolehkan untuk saling

    bantu.

    Sehingga dapat penulis simpulkan bahwasanya Students Teams

    Achievement Divisions (STAD) adalah suatu model pembelajaran yang

    tersusun atas dasar kerjasama tim untuk memecahkan permasalahan yang

    sedang dihadapi.

    1) Komponen Model Student Team Achievement Division (STAD)

    Slavin (2008: 143-146) "STAD terdiri atas lima komponen

    utama dalam model STAD yaitu: presentasi kelas, tim, kuis, skor

    kemajuan individual, dan rekognisi tim". Komponen-komponen

    tersebut dalam pelaksanaan model pembelajaran STAD tidak dapat

    dipisah-pisahkan. Komponen tersebut dapat dijelaskan sebagai

    berikut:

    a) Presentasi kelas

    Materi dalam tipe STAD adalah pengenalan awal dalam presentasi

    kelas. Dalam presentasi kelas ini, guru mengajarkan materi secara

    langsung dalam pertemuan kelas. Presentasi kelas dalam tipe

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    13

    STAD berbeda dengan presentasi kelas yang dilakukan guru pada

    umumnya. Hal ini disebabkan karena presentasi kelas dalam tipe

    STAD hanya dilakukan pada hal-hal pokok saja. Dengan cara ini

    siswa dituntut untuk sungguh-sungguh dalam memperhatikan

    materi yang diberikan oleh guru dalam presentasi kelas karena akan

    membantu mereka dalam mengerjakan kuis dan menentuan skor

    dari pengerjaan kuis yang nantinya akan mempengaruhi skor

    kelompok mereka.

    b) Tim

    Kelompok terdiri dari 4-5 siswa yang mempunyai karakteristik

    yang berbeda-beda atau heterogen baik dalam penguasaan materi,

    jenis kelamin maupun keturunan. Fungsi utama dari kelompok

    adalah memastikan bahwa semua anggota kelompok dapat belajar

    dan juga untuk mempersiapkan anggota kelompok dalam

    memghadapi tes. Setelah guru mempresentasikan materi, kelompok

    segera mempelajari lembar kerja atau tugas yang diberikan oleh

    guru. Bila terdapat kesulitan maka anggota kelompok secara

    bersama mendiskusikan kesulitan tersebut, membandingkan

    jawaban-jawaban dari masing-masing anggota dan membetulkan

    kesalahan-kesalahan konsep dari anggota kelompok. Kelompok

    merupakan hal yang sangat penting dalam tipe STAD. Pada setiap

    pendapat, tekanan diberikan pada anggota kelompok yang terbaik

    dan anggota kelompok yang terbaik tersebut harus membantu

    anggota kelompok lain dalam penguasaan materi.

    c) Kuis

    Setelah kurang lebih 1-2 pertemuan dari presentasi guru dan 1-2

    kali kelompok melakukan latihan dalam kelompoknya, siswa diberi

    tes individu. Siswa tidak boleh saling membantu selama tes. Jadi

    setiap siswa bertanggung jawab secara individu dalam menguasai

    materi pembelajaran yang telah diberikan. Hasil selanjutnya diberi

    skor.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    14

    d) Skor kemajuan individual

    Maksud dari skor kemajuan individual adalah memberikan nilai

    pada setiap siswa yang dapat dicapai jika mereka bekerja keras dan

    mengerjakan lebih baik dari pada materi yang telah lampau.

    Keadaannya mungkin siswa mengalami peningkatan skor atau

    bahkan menurun. Kemudian guru menghitung besarnya skor

    perkembangan yaitu dengan membandingkan skor tes materi yang

    lalu dengan skor yang baru.

    e) Rekognisi tim

    Setelah melakukan kuis, perhitungan skor perkembangan individu

    dan skor kelompok dilakukan. Skor individu setiap anggota

    kelompok memberikan sumbangan pada skor kelompok

    berdasarkan skor pada kuis sebelumnya dengan skor kuis terakhir.

    2) Kelebihan dan Kelemahan Model STAD

    Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa Model STAD

    mempunyai kelebihan antara lain:

    (a) Siswa dan guru mendapatkan kemudahan untuk memahami materi

    pelajaran yang disampaikan.

    (b) Siswa secara kooperatif dapat menyelesaikan pokok-pokok materi

    yang dipelajari.

    (c) Siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya dengan adanya

    kerjasama semua unsur dalam kelas.

    (d) Siswa akan dapat meningkatkan kemampuannya dalam hal

    berdiskusi dan menyelesaikan tugas.

    Selain terdapat kelebihan, dalam model STAD juga terdapat

    adanya kelemahan antara lain:

    (a) Apabila ada siswa yang tidak cocok dengan anggota kelompoknya,

    maka siswa tersebut kurang bisa bekerja sama dalam memahami

    materi dan kurang bisa mengerjakan kuis.

    (b) Ada siswa yang kurang memanfaatkan waktu sebaik-baiknya

    dalam kelompok belajar.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    15

    (c) Apabila ada anggota kelompok yang malas, maka usaha kelompok

    dalam memahami materi maupun untuk memperoleh penghargaan

    tidak berjalan sebagaimana mestinya.

    3) Langkah-langkah Penerapan Model STAD

    Langkah-langkah dalam penerapan Model STAD sebagai

    berikut (Sugiyanto, 2009: 44) :

    (a) Para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok atau

    tim, masing-masing terdiri atas 4 atau 5 anggota kelompok. Tiap

    tim memiliki anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras,

    etnik, maupun kemampuan (tinggi, sedang, rendah).

    (b) Tiap anggota tim menggunakan lembar kerja akademik dan

    kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui

    tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota tim.

    (c) Secara individual atau tim, guru mengevaluasi untuk mengetahui

    penguasaan mereka terhadap bahan akademik yang telah

    dipelajari.

    (d) Tiap siswa dalam tiap tim diberi skor atas penguasaannya

    terhadap bahan ajar, dan kepada siswa secara individu atau tim

    yang meraih prestasi tinggi atau meraih skor sempurna diberi

    penghargaan. Para siswa mengumpulkan poin untuk tim mereka

    berdasarkan tingkat dimana skor kuis mereka melampaui skor

    awal mereka. Adapun kriteria poin kemajuan dapat dilihat pada

    tabel 2.

    Tabel 2. Kriteria Poin Kemajuan Skor Kuis Poin Kemajuan

    Nilai Sempurna 30 Lebih dari 10 poin diatas skor awal 30 Skor awal sampai 10 poin diatas skor awal 20 10 sampai 1 poin di bawah skor awal 10 Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 5

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    16

    (e) Ada tiga macam tingkatan penghargaan diberikan, ketiganya

    didasarkan pada rata-rata skor tim. Adapun tingkatan

    penghargaan dapat dilihat pada tabel 3.

    Tabel 3. Kriteria Penghargaan Kriteria (Rata-rata Tim) Penghargaan

    15-19 TIM BAIK

    20-24 TIM SANGAT BAIK

    25-30 TIM SUPER

    4) Penilaian/Skoring dalam Model STAD

    Muhamad Nur (2005:23), penilaian/scoring pada model

    pembelajaran kooperatif tipe STAD meliputi 3 hal yaitu :

    a) Skor Dasar

    Skor dasar adalah skor yang diperoleh dari rata-rata siswa pada

    kuis sebelumnya atau dapat juga diperoleh dari nilai final siswa

    dari tahun yang lalu.

    b) Skor perkembangan

    Skor perkembangan adalah skor perbandingan antara skor dasar

    dengan skor kuis. Skor ini diperoleh berdasarkan seberapa besar

    skor kuis siswa melampaui skor dasar mereka.

    c) Skor Kelompok

    Skor kelompok adalah jumlah dari skor perkembangan semua

    anggota kelompok dibagi jumlah anggota kelompok. Laporan nilai

    akhir dalam Model STAD didasarkan pada skor kuis sebenarnya,

    bukan didasarkan pada skor perkembangan atau skor kelompok.

    2. Hakikat Penguasaan Konsep Gaya

    a. Pengertian Penguasaan

    Kata penguasaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal

    dari kata kuasa yang berarti kemampuan atau kesanggupan untuk berrbuat

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    17

    sesuatu. Kata kuasa mendapat -

    yang berarti proses, cara, perbuatan menguasai atau menguasakan.

    Penguasaan bisa juga diartikan sebagai kesanggupan untuk menggunakan

    pengetahuan dan kepandaiannya (Tim Penyusun KBBI, 1990: 468). Begitu

    juga Abin Syamsuddin (2009:187) penguasaan adalah melakukan suatu

    tindakan untuk dapat menggunakan sesuatu dengan tepat, dapat

    memberikan contoh-contoh, dan sebagainya.

    Jadi seseorang dikatakan menguasai konsep apabila seseorang

    tersebut mampu/sanggup memahami dan memaknai sesuatu pengertian

    dari suatu konsep sehingga dapat menggunakannya dengan tepat, serta

    dapat memberikan contoh-contoh konsep tersebut.

    Adapun sifat-sifat atau ciri-ciri merupakan rancangan atau ide atas

    pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa kongkret, dan berupa

    gambaran mental dari obyek, proses atau apapun diluar bahasa yang

    digunakan oleh akal budi untuk dipergunakan memahami hal-hal yang lain

    (Tim Penyusun KBBI, 1990:456).

    Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan penguasaan

    adalah proses yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain

    seperti pengetahuan, kepandaian dsb.

    b. Pengertian Konsep

    Konsep merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan

    secara abstrak suatu objek. Melalui konsep, seseorang diharapkan dapat

    menyederhanakan pemikiran dengan menggunakan satu istilah. Parker

    dalam Faqih Samlawi dan Bunyamin Maftuh (2008: 11) menyatakan

    bahwa konsep adalah suatu gagasan yang ada melalui contoh- contohnya.

    Proses berpikir ini disebut konseptualisasi, yaitu suatu proses terus

    menerus yang berlangsung ketika seseorang menghadapi contoh-contoh

    baru dari suatu konsep.

    W.S.Winkel ( 1991 : 92 ) pengertian konsep adalah satuan arti

    yang mewakili sejumlah obyek yang memiliki cirri-ciri yang sama. Belajar

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    18

    konsep merupakan salah satu cara belajar dengan penguasaan yang kerap

    concept formation

    Konsep adalah kesepakatan bersama untuk penamaan (pemberian

    label) sesuatu dan merupakan alat intelektual yang membantu kegiatan

    berpikir dan memecahkan masalah (Faqih Samlawi dan Bunyamin

    Maftuh, 2001: 10). Penyederhanaan penamaan tersebut dilakukan agar

    lebih mudah dalam mengenal, mengerti, dan memahami sesuatu tersebut.

    kategori stimuli yang

    memiliki ciri-ciri umum. Stimuli merupakan obyek- obyek atau orang

    (person). Konsep-konsep tidak terlalu kongruen dengan pengalaman

    pribadi kita tetapi menyajikan usaha-usaha manusia untuk

    mengklasifikasikan pengalaman kita. Konsep adalah suatu yang sangat

    (Oemar Hamalik, 2003:162). Sedangkan Agus Suprijono (2009: 9)

    menjelaskan konsep sebagai suatu jaringan hubungan dalam objek,

    kejadian, dan lain-lain yang mempunyai ciri-ciri tetap dan dapat

    diobservasi.

    Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas maka dapat

    disimpulkan bahwa konsep adalah sesuatu penyajian atau ggasan yang

    umum mengenai ssesutu yang dapat berupa benda, peristiwa, atau

    kegiatan, yang didalamnya terkandung makna yang luas.

    c. Pengertian Penguasaan Konsep

    Berdasarkan definisi di atas seseorang dapat dikatakan telah

    menguasai suatu konsep jika individu mampu menyebutkan kesamaan-

    kesamaan dan perbedaan-perbedaan dari contoh-contoh yang menyajikan

    informasi tentang karakteristik dan nilai atribut dari konsep, kemudian

    dirumuskan kembali tentang konsep itu.

    Berikut merupakan beberapa hal yang harus dikuasai dalam

    penguasaan konsep:

    1) Dapat mendefinisikan konsep.

    2) Dapat memilih, membedakan antara contoh-contoh dari yang bukan

    contoh.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    19

    3) Mampu menyebutkan nama contoh-contoh serta ciri-ciri

    (properties) konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

    4) Dapat lebih mampu memecahkan masalah yang berkenaan

    dengan konsep tersebut.

    d. Hakikat Gaya

    Dorongan atau tarikan tersebut dapat menyebabkan kedudukan

    suatu benda berubah dari keadaan awalnya. Dalam sains, dorongan dan

    tarikan ini dikenal dengan sebutan gaya.

    Agus Riyadi (2011 : 1) Gaya merupakan dorongan , tarikan, dan

    putaran yang membuat benda bergeraklebih cepat atau lebih lambat,

    berubah arah atau bentuk. Sedangkan T. Hidayat (2011 : 2) menjelaskan

    gaya adalah dorongan atau tarikan yang menyebabkan laju suatu benda

    menjadi cepat atau lambat atau berubah bentuk, gaya dapat bekerja pada

    arah yang sama atau arah berlawanan. Ada dua faktor yang mempengaruhi

    gerak benda yaitu adanya gravitasi bumi dan dorongan atau tarikan. Berikut

    merupakan jenis-jenis gaya (Heri Sulistyanto dan Edi Wibowo, 2008: 92):

    1) Gaya Otot: Gaya otot merupakan gaya yang dihasilkan oleh tenaga otot.

    Contoh gaya otot adalah pada saat kita menarik atau mendorong meja,

    membawa belanjaan ibu, dan menendang bola. Karena terjadi sentuhan

    maka gaya ini termasuk gaya sentuh.

    2) Gaya Gesek antara Dua Benda: Gaya gesek merupakan gaya yang

    terjadi karena bersentuhannya dua permukaan benda. Contoh gaya

    gesek adalah gaya yang bekerja pada rem sepeda. Pada saat akan

    berhenti, karet rem pada sepeda akan bersentuhan dengan pelek sepeda

    sehingga terjadi gesekan yang menyebabkan sepeda dapat berhenti

    ketika dilakukan pengereman.

    3) Gaya Magnet: Gaya magnet merupakan gaya yang ditimbulkan oleh

    tarikan atau dorongan dari magnet. Contoh gaya magnet adalah,

    tertariknya paku ketika didekatkan dengan magnet. Benda-benda dapat

    tertarik oleh magnet jika masih berada salam medan magnet.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    20

    4) Gaya Gravitasi: Gaya gravitasi merupakan gaya yang ditimbulkan oleh

    tarikan bumi. Contoh gaya gravitasi adalah jatuhnya buah dari atas

    pohon dengan sendirinya. Semua benda yang dilempar ke atas akan

    tetap kembali ke bawah karena pengaruh gravitasi bumi.

    5) Gaya Listrik: Gaya listrik merupakan gaya yang terjadi karena aliran

    muatan listrik. Aliran muatan listrik ini ditimbulkan oleh sumber energi

    listrik. Contoh gaya listrik adalah bergeraknya kipas angin karena

    dihubungkan dengan sumber energi listrik. Muatan listrik dari sumber

    energi listrik mengalir ke kipas angin. Sehingga, kipas angin dapat

    bergerak.

    e. Hakikat Gaya dalam IPA di SD

    1) Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

    -

    dari kata-kata Bahasa

    dengan alam atau bersangkut paut dengan alam. Science artinya Ilmu

    pengetahuan. Jadi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau science itu secara

    harfiah dapat disebut sebagai ilmu tentang alam (Srini M. Iskandar,

    2001: 2).

    Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau sains, dalam bahasa inggris

    disebut dengan science mempunyai berbagai macam pengertian.

    Beberapa ahli di berbagai bidang merumuskan suatu definisi science.

    Menurut Carin, science adalah kumpulan pengetahuan yang

    tersusun secara sistematik, yang di dalam penggunaannya secara umum

    terbatas pada gejala alam. Perkembangan science tidak hanya

    ditunjukkan oleh kumpulan fakta saja, tetapi juga oleh timbulnya

    metode ilmiah dan sikap ilmiah.

    Sedangkan Websters : New Collegiate Dictionary (1981)

    natural science is knowledge concerned with the physical

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    21

    world and its phenomena

    pengetahuan tentang alam dan gejala-gejalanya.

    Purnells dalam Concise Dictionary of Science ( 1983 )

    Science is the broad field of humn knowledge,

    acquired by rules, laws, principles, theories, and hyphotheses

    Ilmu Pengetahuan Alam adalah pengetahuan manusia yang luas yang

    didapatkan dengan cara observasi dan eksperimen yang sistematik.

    H. W. Fowler mengemukakan IPA merupakan ilmu yang

    sistematis yang berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan

    didasarkan terutama atas pengamatan dan induksi.

    Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa IPA

    merupakan ilmu yang bersifat empirik dan membahas tentang fakta

    serta gejala alam. Fakta dan gejala alam tersebut menjadikan

    pembelajaran IPA tidak hanya verbal tetapi juga faktual.

    2) Tujuan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

    Tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di SD menurut

    Paolo dan Martin dalam Carin ( 1993 : 5 ) adalah untuk:

    a) Mengamati apa yang terjadi

    b) Mencoba memahami apa yang diamati

    c) Mempergunakan pengetahuan baru untuk meramalkan apa yang akan

    terjadi

    d) Menguji ramalan-ramalan di bawah kondisi-kondisi untuk melihat

    apakah ramalan tersebut benar.

    Ada beberapa alasan yang menyebabkan suatu mata pelajaran

    dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah untuk SD. Alasan-alasan ini

    dapat digolongkan menjadi empat golongan :

    a) Mata pelajaran itu berfaedah bagi kehidupan atau pekerjaan anak di

    kemudian hari

    b) Mata pelajaran itu merupakan bagian kebudayaan bangsa

    c) Mata pelajaran itu melatih anak berfikir kritis

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    22

    d) Mata pelajaran itu mempunyai nilai-nilai pendidikan yaitu

    mempunyai potensi dapat membentuk pribadi anak secara keseluruhan

    3) Fungsi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

    Mata pelajaran IPA di SD dan MI seperti pada Depdiknas (2006;

    2) berfungsi untuk:

    a) Menguasai konsep dan manfaat Sains dalam kehidupan sehari-hari

    serta,

    b) Untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi

    4) Ruang Lingkup Pembelajaran IPA di SD

    Ruang lingkup mata pelajaran Sains Depdiknas (2006: 2) meliputi

    dua aspek yaitu:

    a) Kerja ilmiah mencakup: penyelidikan/ penelitian, berkomunikasi

    ilmiah, pengembangan kreativitas dan pemecahan masalah, sikap dan

    nilai ilmiah.

    b) Penguasaan konsep :

    (a) Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu: manusia, hewan,

    tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan,

    (b) Benda/ materi, sifat-sifat dan kegunaanya meliputi: cair, padat dan

    gas,

    (c) Energi dan perubahann yang meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet,

    listrik, cahaya dan pesawat sederhana,

    (d) Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan

    benda- benda langit lainnya,

    (e) Sains, Lingkungan Teknologi, dan Masyarakat merupakan

    penerapan konsep sains dan saling keterkaitannya dengan

    lingkungan, teknologi dan masyarakat melalui suatu karya

    teknologi sederhana termasuk merancang dan membuat.

    5) Karakteristik Pembelajaran IPA di SD

    IPA merupakan disiplin ilmu yang memiliki ciri-ciri sebagaimana

    disiplin ilmu lainnya. Setiap disiplin ilmu, selain memiliki ciri umum, juga

    memiliki ciri khusus/ karakteristik. Ciri khusus Ilmu Pengetahuan Alam:

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    23

    a) IPA mempunyai nilai ilmiah

    b) IPA merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara

    sistematis

    c) IPA merupakan pengetahuan teoritis

    d) IPA meliputi empat unsur, yaitu produk, proses, aplikasi dan sikap

    e) IPA merupakan suatu rangkaian konsep yang saling berkaitan.

    B. Hasil Penelitian yang Relevan

    Efektivitas Model

    Kooperatif Tipe Student Teams-Achievement Divisions (STAD) Terhadap

    Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Geografi Pokok Bahasan Lingkungan

    Hidup Di Kelas X SMA MTA Surakarta Tahun Ajaran

    halaman 138 menyimpulkan hasil perhitungan statistik dengan uji-t pihak

    kanan membuktikan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif STAD

    diperoleh hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengajaran

    ceramah pada pokok bahasan lingkungan hidup. Hal ini membuktikan

    penerapan pendekatan pembelajaran kooperatif STAD lebih efektif daripada

    pendekatan pembelajaran ceramah. Hasil belajar ini dapat dilihat dari rata-rata

    tes siswa yang diberi pengajaran kooperatif STAD adalah 7,686 dengan gain

    score = 1,806 sedangkan rata-rata tes siswa yang diberi pengajaran ceramah

    adalah 6,625 dengan gain score = 1,084.

    2. Penelitian oleh Dedi Tri Sulistyo dengan judul Penerapan model pembelajaran

    kontekstual untuk meningkatkan penguasaan konsep gaya pada siswa kelas IV

    SD Negeri Tenggak 3 Sidoharjo Sragen tahun pelajaran 2010/2011. Jumlah

    siswa kelas IV SDN Tenggak 3 sebanyak 24 siswa yang terdiri dari 14 siswa

    laki laki dan 10 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data menggunakan

    observasi/pengamatan, kajian dokumen, tes dan wawancara. Teknik analisis

    data menggunakan teknik analisis model interaktif yang terdiri dari tiga

    komponen analisis yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan atau

    verifikasi. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    24

    penguasaan konsep gaya setelah dilaksanakan tindakan kelas dengan

    menerapkan model pembelajaran kontekstual. Hal ini dapat dilihat dari nilai

    rata-rata kelas juga terjadi peningkatan yaitu pada Nilai awal sebesar 57, 58,

    pada siklus I sebesar 69, 91; dan pada siklus II sebesar 77, 88. Untuk siswa

    tuntas belajar (nilai ketuntasan 65) pada Nilai awal 8 siswa atau 33, 33%,

    siklus I 20 siswa atau 83, 3% setelah dilakukan refleksi terdapat 4 siswa yang

    tidak tuntas (nilai ulangan dibawah 65), namun secara keseluruhan sudah

    meningkat hasil belajarnya bila dilihat dari presentase ketuntasan siswa, dan

    pada tes siklus II menjadi 91, 67% atau terdapat 2 siswa yang tidak tuntas.

    C. Kerangka Berfikir

    Kondisi awal pada siswa kelas IV SDN Karungan 2 guru menggunakan

    metode pembelajaran yang mengandalkan teknik ceramah yang kurang menarik

    perhatian siswa, sehingga hal ini menyebabkan penguasaan konsep gaya siswa

    kelas IV SD Negeri Karungan 2 masih rendah. Dengan melihat hasil belajar yang

    dicapai oleh 15 siswa sebagian besar tergolong rendah dan belum mencapai

    kriteria ketuntasan minimal 67. Dari jumlah 15 siswa yang mendapat nilai 67 ke

    atas (kategori tuntas) sebanyak 5 siswa (33%), yang mendapat nilai kurang dari 67

    (kategori belum tuntas) sebanyak 10 siswa (67%). Dengan kondisi yang seperti itu

    maka diperlukan suatu tindakan untuk meningkatkan penguasaan konsep gaya

    yaitu dengan diterapkannya model yang dapat menunjang siswa dalam memahami

    konsep-konsep yang ada dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

    khususnya pada materi gaya

    Penelitian tindakan kelas yang akan dilaksanakan di SD Negeri Karungan

    2, melalui perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi terlebih dahulu

    peneliti menerapkan model STAD. Pada siklus pertama peneliti mentargetkan

    keberhasilan belajar siswa dalam meguasai konsep gaya sebesar 70 %. Pada siklus

    kedua peneliti mentargetkan keberhasilan belajar siswa dalam meguasai konsep

    gaya sebesar 80 %. Apabila sampai siklus kedua belum mencapai target yang

    diingankan maka akan dilaksanakan siklus berikutnya sampai mencapai target

    yang diinginkan.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    25

    Kondisi akhir dari penelitian tindakan kelas ini dengan diterapkannya

    model pembelajaran STAD diharapkan dapat meningkatkan penguasaan konsep

    gaya pada siswa kelas IV SD Negeri Karungan 2.

    Untuk lebih jelasnya kerangka berfikir dalam penelitian ini dapat dilihat

    dalam gambar 1.

    Gambar 1. Kerangka Berpikir

    D. Hipotesis

    Berdasarkan landasan teori dan kerangka berpikir yang telah diuraikan di

    atas, dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut: Penerapan Model

    STAD dapat meningkatkan penguasaan konsep gaya pada siswa kelas IV SD

    Negeri Karungan 2 tahun ajaran 2011/2012.

    Siklus ke-n

    Kondisi Awal

    Guru menggunakan

    pembelajaran

    konvensional

    Penguasaan konsep gaya pada siswa

    masih rendah

    Tindakan

    Guru

    menggunakan

    Model STAD

    Perencanaan Pelaksanaan Pengamatan

    refleksi Siklus I (70 %)

    Kondisi Akhir

    Melalui Model STAD dapat meningkatkan penguasaan konsep gaya pada siswa

    Perencanaan Pelaksanaan Pengamatan

    refleksi

    Siklus II (80 %)

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    26

    BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

    A. Tempat dan Waktu Penelitian

    1. Tempat Penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan di SDN Karungan 2 Kecamatan Plupuh,

    Kabupaten Sragen. SDN Karungan 2 memiliki 6 ruang kelas. Kelas yang

    digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas adalah kelas IV.

    Pemilihan sekolah ini didasarkan atas beberapa pertimbangan,

    diantaranya adalah pertama waktu, biaya dan tempat penelitian yang dapat

    dijangkau dengan mudah oleh peneliti. Kedua, sekolah tersebut belum pernah

    digunakan sebagai obyek penelitian yang sejenis. Ketiga, hasil observasi

    penulis di lapangan terdapat permasalahan dalam pemahaman konsep gaya di

    SDN Karungan 2.

    2. Waktu Penelitian

    Waktu penelitian dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran

    2011/2012 dimulai bulan Januari sampai dengan bulan Juni 2012. Sebelum

    diadakan penelitian perlu ada persiapan antara lain pembuatan proposal dan

    perijinan, hal ini dilaksanakan pada bulan Januari dan Februari. Adapun

    rincian waktu kegiatan penelitian dapat dilihat pada lampiran 1

    B. Subjek Penelitian

    Yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas IV SD Negeri

    Karungan 2 tahun pelajaran 2011/2012 semester II sebanyak 15 siswa. Siswa

    kelas IV sebagai subjek yang akan diamati kegiatan pembelajarannya dan dikenai

    tindakan. Selain siswa, guru juga menjadi subjek penelitian berkaitan dengan

    kegiatan guru saat mengajar.

    C. Bentuk dan Strategi Penelitian

    1. Bentuk Penelitian Berdasarkan masalah yang diajukan dalam penelitian ini yang

    menekankan pada masalah perbaikan proses di kelas, maka jenis penelitian ini

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    27

    adalah Penelitian Tindakan Kelas. Sarwiji Suwandi (2009: 15) mengemukakan

    bahwa tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk mengadakan perbaikan

    atau peningkatan mutu praktik pembelajaran di kelas. Dengan menggunakan

    bentuk Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan akan mendapat informasi

    yang sebanyak-banyaknya untuk meningkatkan praktek-praktek pembelajaran

    di kelas secara professional.

    2. Strategi Penelitian

    Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif

    kualitatif dan jenis penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

    Menggunakan pendekatan jenis ini karena data yang akan diperoleh atau

    dikumpulkan berupa data yang langsung tercatat dari kegiatan di lapangan.

    Alasan mengadakan penelitian tindakan kelas adalah, karena PTK mengkaji

    masalah pendidikan yang berkaitan dengan pembelajaran di dalam kelas yang

    dilaksanakan oleh guru. Selain itu PTK dapat memecahkan masalah

    pembelajaran yang dihadapi guru kelas.

    Dalam penelitian ini menggunakan strategi model siklus. Wardhani

    (2007 : 2.3) menyatakan bahwa PTK dilaksanakan melalui proses pengkajian

    berdaur atau siklus yang terdiri dari empat tahap, yaitu merencanakan,

    melakukan tindakan, mengamati dan melakukan refleksi seperti pada gambar

    2.

    Gambar 2. Tahap-tahap dalam PTK

    Adapun rancangan penelitian yang digambarkan dalam tahap-tahap

    PTK adalah sebagai berikut :

    a. Perencanaan

    Kegiatan ini meliputi :

    Merencanakan

    Melakukan Tindakan Refleksi

    Mengamati dan Mengevaluasi

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    28

    1) Membuat perencanaan pengajaraan

    2) Membuat lembar observasi

    3) Membuat alat evaluasi

    4) Pembuatan instrument pembelajaran

    b. Pelaksanaan Tindakan

    Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan

    kegiatan pembelajaran sebagaimana yang telah direncanakan.

    c. Observasi dan Evaluasi

    Dalam tahap ini dilaksanakan observasi dan evaluasi terhadap

    pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi dan evaluasi

    yang telah dipersiapkan. Observasi dilakukan baik kepada siswa maupun

    guru dalam pembelajaran.

    d. Refleksi

    Dalam tahap ini data-data yang diperoleh melalui observasi dan

    evaluasi dikumpulkan dan dianalisis, guna mengetahui seberapa jauh

    tindakan telah membawa perubahan dan apa atau di mana perubahan terjadi.

    D. Sumber Data

    Keberhasilan suatu penelitian didukung oleh sumber data. Sumber data

    dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu : sumber data primer dan

    dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data

    tambahan seperti dokumen dan lain-

    Dalam penelitian ini sumber data primer yang dapat dimanfaatkan antara

    lain :

    1. Nara sumber yaitu, guru dan siswa kelas IV SDN Karungan 2.

    2. Dokumen atau arsip yang berupa daftar nilai kelas IV SDN Karungan 2.

    3. Hasil pengamatan dari pelaksanaan proses pembelajaran IPA pokok bahasan

    penguasaan konsep gaya di kelas IV SDN Karungan 2.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    29

    E. Teknik Pengumpulan Data

    Berdasarkan sumber data yang dikumpulkan dan untuk mempermudah

    pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data yang digunakan dalam

    penelitian ini adalah:

    1. Wawancara

    Wawancara adalah pertemuan antara dua orang untuk bertukar

    informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikonstruksikan makna

    dalam suatu topik tertentu.

    Wawancara yang dilakukan peneliti bersifat lentur, tidak terstruktur

    ketat, tidak dalam suasana formal, dan dapat dilakukan berulang pada

    informan yang sama. Wawancara ini lebih tepat disebut wawancara

    mendalam (in-depth interviewing), dengan wawancara mendalam akan

    mendapat informasi yang rinci khususnya data mengenai konsep siswa.

    2. Dokumentasi

    St. Y. Slamet dan Suwarto (2007: 53) Dokumen merupakan sumber

    data yang sering memiliki posisi penting dalam penelitian kualitatif. Dokumen

    merupakan bahan tertulis ataupun film yang digunakan sebagai sumber data,

    dokumen sejak lama digunakan sebagai sumber data karena dalam banyak hal

    dokumen sebagai sumber data yang dapat digunakan untuk menguji,

    menafsirkan, bahkan untuk meramalkan.

    Teknik pengumpulan data ini bersumber dari dokumen/ arsip.

    Dokumen/ arsip tersebut berupa daftar nilai kelas IV.Dokumentasi ini berupa

    data hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan.

    3. Tes

    Menurut Suharsimi Arikunto (2007: 29) menjelaskan teknik tes

    adalah suatu alat pengumpul informasi yang berupa serentetan pertanyaan atau

    latihan yang dapat digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan,

    intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.

    Tes digunakan untuk mengetahui implikasi dari tindakan yang telah dilakukan

    terhadap tingkat penguasaan konsep gaya kelas IV.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    30

    Pemberian tes dimaksudkan untuk mengukur seberapa jauh

    kemampuan yang dicapai siswa setelah kegiatan pembelajaran tindakan. Tes

    yang diberikan dalam penelitian ini dilakukan tiap pertemuan kepada siswa

    kelas IV SD Negeri Karungan 2, yakni tes tertulis (soal-soal IPA pada materi

    konsep gaya).

    4. Observasi

    Observasi adalah pengamatan mengenai sesuatu yang diteliti untuk

    memperoleh data.Observasi ini digunakan untuk mendapatkan informasi

    tentang pelaksanaan pembelajaran, letak geografis, kondisi siswa dan

    masyarakat sekitar sekolah.

    Observasi atau pengamatan digunakan untuk mengoptimalkan

    kemampuan peneliti dari segi motif, kepercayaan, perhatian,perilaku tak sadar,

    kebiasaan , dan sebagainya (Slamet.St.Y. dan Suwarto. 2007: 44). Observasi

    yang dilaksanakan pada penelitian ini adalah observasi langsung dan

    partisipasi agar hasilnya seobyektif mungkin. Observasi langsung terhadap

    obyek yang diteliti, sedangkan observasi partisipatif yaitu pengamatan yang

    dilakukan dengan cara ikut ambil bagian atau melibatkan diri dalam situasi

    obyek yang diteliti.

    Observasi dilakukan pada siswa dan guru kelas IV SD Negeri

    Karungan 2 yang dilakukan pada setiap pertemuan untuk mengetahui situasi

    dan perkembangan dalam proses belajar mengajar mata pelajaran IPA dengan

    model STAD. Dalam penelitian ini yang dijadikan data observasi adalah

    keaktifan siswa selama pembelajaran dan kegiatan guru saat melaksanakan

    pembelajaran.

    F. Validitas Data

    Suatu informasi yang akan dijadikan data penelitian perlu diperiksa

    validitasnya sehingga data tersebut dapat dipertanggung jawabkan dan dapat

    dijadikan sebagai dasar yang kuat dalam menarik kesimpulan. Validitas dapat

    diketahui dengan menggunakan triangulasi data. Menurut Sarwiji Suwandi

    (2009:60), Triangulasi adalah teknik pemeriksaan validitas data dengan

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    31

    memanfaatkan sarana di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau

    pembandingan data itu. Adapun teknik yang digunakan dalam memeriksa

    validitas data dalam penelitian ini adalah dengan triangulasi sumber data dan

    triangulasi teknik metode. Trianggulasi data atau sumber yaitu dengan

    membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang

    telah diperoleh melalui berbagai sumber yang berbeda yaitu: (1) Pengamatan

    (observasi) dari proses pembelajaran dengan menggunakan model STAD; (2)

    Silabus dan RPP; (3) Tes dengan materi gaya; (4) Foto kegiatan belajar

    menggunakan model STAD. Triangulasi teknik yaitu dilakukan dengan cara

    mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Data yang

    diperoleh dari hasil observasi dicek dengan hasil tes, dan foto.

    G. Analisis Data

    Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model

    analisis kulitatif dengan model interaktif Miles & Huberman. Menurut Sugiyono

    (2003:91) model analisis interaktif mempunyai tiga buah komponen pokok, yaitu

    reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Aktivitasnya

    dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai suatu

    proses siklus.

    1. Reduksi data yaitu proses menyeleksi data awal, memfokuskan,

    menyederhanakan dan mengabstraksi data kasar yang ada dalam fieldnote.

    Proses ini berlangsung terus sepanjang pelaksanaan penelitian. Data reduksi

    adalah suatu bntuk analisis ang mempertegas, memperpendek, membuat fokus,

    membuang hal-hal yang tidak penting, dan mengatur data sedemikian rupa

    sehingga kesimpulan akhir dilakukan. Proses ini berakhir sampai laporan akhir

    penelitian selesai ditulis.

    2. Sajian data adalah suatu rangkaian organisasi informasi yang memungkinkan

    penelitian dapat dilakukan. Dengan melihat penyajian data, maka akan

    dimengerti apa yang terjadi dan memungkinkan untuk mengerjakan sesuatu

    pada analisis ataupun tindakan lain berdasarkan pengertian tersebut, dalam hal

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    32

    ini penyajian data meliputi berbagai jenis matriks, gambar, jaringan kerja dan

    tabel.

    3. Penarikan kesimpulan, apabila dalam tahapan ini ditemukan data yan akurat,

    maka peneliti tidak segan-segan untuk melakukan penyimpulan ulang. Peneliti

    dalam hal ini bersifat terbuka dan skeptis, namun demikian akan meningkat

    secara eksplisit dan memiliki landasan yang kuat. Kesimpulan akhir tidak akan

    terjadi sampai proses pengumpulan data berakhir.

    Untuk lebih jelasnya, proses analisis kualitatif dapat dijelaskan sebagai

    berikut :

    (a) Melakukan analisis awal bila data yang didapat di kelas sudah cukup, maka

    dapat dikumpulkan (b) Mengembangkan dalam bentuk sajian data, dengan

    menyusun coding dan matrik yang berguna untuk penelitian lanjut (c)

    Melakukan analisis data di kelas dan mengembangkan matrik antar kelas (d)

    Melakukan verifikasi, pengayaan dan pendalaman data apabila dalam

    persiapan analisis ternyata ditemukan data yang kurang lengkap atau kurang

    jelas, maka perlu dilakukan pengumpulan data lagi secara terfokus (e)

    Melakukan analisis antar kasus, dikembangkan struktur sajian datanya bagi

    susunan laporan (f) Merumuskan simpulan akhir sebagai temuan penelitian (g)

    Merumuskan implikasi kebijakan sebagai bagian dari pengembangan saran

    dalam laporan akhir penelitian.

    H. Indikator Kinerja

    Indikator kinerja merupakan rumusan kinerja yang akan dijadikan acuan

    dalam menentukan keberhasilan atau keefektifan penelitian. Dalam penelitian ini

    yang menjadi indikator kinerja adalah: apabila 80% dari jumlah siswa kelas IV

    mencapai nilai KKM, sedangkan nilai KKM untuk mata pelajaran IPA adalah

    67,00.

    I. Prosedur Penelitian Tindakan

    Mekanisme kerja dalam penelitian/pelaksanaan PTK ini diwujudkan

    dalam 2 siklus dimana setiap siklusnya mencakup 4 kegiatan, yaitu 1)

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    33

    perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) observasi, dan 4) refleksi. Langkah-langkah

    tersebut dapat divisualisasikan pada gambar 3.

    Iskandar (2009: 114)

    Gambar 3. Model Siklus Penelitian Tindakan Kelas

    Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai

    berikut:

    1. Rancangan Siklus I

    Siklus I ini direncanakan dua kali pertemuan selama 1 minggu yang

    dilaksanakan pada bulan Maret minggu ke-1.

    a. Perencanaan (Planning)

    Langkah-langkah dalam persiapan penelitian yaitu :

    1) Membuat skenario pembelajaran dengan model STAD

    2) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

    SIKLUS I

    Pengamatan

    Pelaksanaan

    Perencanaan I

    Indentifikasi Masalah

    Pelaksanaan

    Pengamatan

    Refleksi SIKLUS II

    Permasalahan baru Hasil Refleksi

    Refleksi

    ?

    Perencanaan II

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    34

    3) Menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam mengajar, misalnya

    buku-buku penunjang, dan alat tulis

    4) Menyiapkan peralatan dokumentasi, misalnya kamera

    5) Menyiapkan media yang dipakai yaitu gambar-gambar/benda yang

    nyata tentang materi gaya

    6) Menyiapkan soal tes setelah dilaksanakan pembelajaran.

    7) Menyiapkan lembar penilaian.

    8) Membuat lembar observasi.

    b. Pelaksanaan (Action)

    Penerapan tindakan merupakan pelaksanaan dari rencana

    pembelajaran (RPP) yang telah dipersiapkan. Secara garis besar, tindakan

    yang akan dilaksanakan yaitu melalui model pembelajaran STAD dalam

    pembelajaran materi gaya. Dalam hal ini, pelakasanaan pembelajaran

    dilakukan dalam dua kali pertemuan.

    c. Pengamatan (Observasi)

    Kegiatan observasi dilaksanakan untuk mengamati tingkah laku

    dan sikap siswa ketika mengikuti pembelajaran IPA materi konsep gaya

    dengan menerapkan model STAD. Observasi juga dilakukan pada peneliti

    yang berperan sebagai guru yang menerapkan model STAD.

    d. Refleksi (Reflection)

    Refleksi dilakukan setelah mengadakan pengamatan. Dalam

    pembelajaran pada siklus I ini tentang konsep gaya didapatkan suatu

    kendala yaitu adanya nilai siswa yang belum mencapai hasil yang

    diharapkan atau tindakan belum tercapai secara optimal, maka perlu

    adanya perbaikan pada siklus II. Pencapaian ketuntasan siswa siklus I

    sebesar 73,3% dengan rata-rata kelas 74. Diputuskan penelitian dilanjutkan

    pada siklus II karena siklus I hanya mencapai 73,3% sedangkan indikator

    2. Rancangan Siklus II

    Siklus I ini direncanakan dua kali pertemuan selama 1 minggu yang

    dilaksanakan pada bulan Mei minggu ke-1

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    35

    .

    a. Perencanaan (Planning)

    Pada tahap perencanaan dalam siklus II ini dipersiapkan rencana

    pembelajaran yang telah diperbaiki dan disempurnakan dari rencana

    pembelajaran siklus I. Materi yang diajarkan masih sama dengan materi

    pada siklus I. akan tetapi, perencanaan pada siklus II ini merupakan

    perbaikan dari siklus I. Segala sesuatu yang dipersiapkan pada siklus II,

    masih sama seperti siklus I. Hanya saja, perencanaan siklus II lebih

    dipersiapkan lebih matang lagi untuk memperbaiki kelemahan pada siklus

    I, berdasarkan hasil analisis dan pembahasan siklus I.

    b. Pelaksanaan (Action)

    Tindakan pada siklus II sesuai dengan rencana pembelajaran yang

    telah disusun. Tindakan pada siklus II merupakan penyempurnaan

    tindakan pada siklus I. Pada tahap ini guru mengoptimalkan penggunaaan

    model STAD untuk memperbaiki kekurangan dan masalah yang muncul

    pada siklus I. Melalui model ini dapat melibatkan dan mengaktifkan

    peserta didik dengan bimbingan guru, sehingga aktifitas/sikap peserta

    didik dalam pembelajaran dapat diperbaiki.

    c. Pengamatan (Observasi)

    Pada siklus II ini selama proses pembelajaran berlangsung, peserta

    didik tetap diamati. Pengamatan dilakukan untuk melihat peningkatan

    hasil tes evaluasi pembelajaran dan perubahan perilaku/aktivitas peserta

    didik.

    d. Refleksi (Reflection)

    Refleksi dilakukan untuk mengetahui keefektivan penggunaan

    model pembelajaran STAD bagi materi penguasaan konsep gaya dan

    memperbaiki sikap/perilaku peserta didik saat mengikuti pembelajaran.

    Pencapaian ketuntasan siswa pada siklus II sebesar 100% dengan rata-rata

    kelas sebesar 83,3. Diputuskan penelitian dihentikan pada siklus II karena

    indikator ketercapaian telah dicapai sehingga peneliti telah berhasil.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    36

    BAB IV

    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Deskripsi Pra Tindakan

    Kelas yang digunakan untuk penelitian adalah kelas IV yang terdiri dari

    11 siswa laki-laki dan 4 siswa perempuan, dengan guru kelas yang bernama

    Bapak Sutardjo. Kegiatan awal yang dilakukan adalah mengadakan kegiatan

    survey awal untuk mengetahui keadaan sebenarnya serta mencari informasi dan

    menemukan berbagai kendala yang dihadapi sekolah dalam proses pembelajaran

    Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) khususnya kelas IV. Setelah mengadakan

    wawancara dengan guru kelas IV, mengamati kegiatan siswa melalui observasi

    pembelajaran di kelas, diketahui bahwa pembelajaran IPA salah satunya materi

    Gaya dirasa sulit bagi siswa. Hal ini dikarenakan siswa kurang antusias ketika

    pembelajaran berlangsung, sehingga penguasaan konsep dan keaktifan siswa

    dalam pembelajaran IPA materi Gaya masih rendah.

    Rendahnya penguasaan konsep dan keaktifan belajar siswa diketahui dari

    hasil observasi siswa dalam pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Karungan 2

    yang ditunjukkan sebelum tindakan dengan menggunakan nilai siswa kelas IV

    pada materi gaya dan lembar observasi. Penguasaan konsep diukur dengan

    menggunakan tes penguasaan konsep, lembar observasi digunakan untuk

    mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam pembelajaran.

    Dari siswa kelas IV yang berjumlah 15, terdapat 5 siswa atau 33,33%

    yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 67 dalam aspek penguasaan

    konsep gaya mata pelajaran IPA pada kondisi awal (lampiran 9). Untuk lebih

    jelasnya maka kondisi awal penguasaan konsep gaya siswa kelas IV dapat dilihat

    pada tabel 4.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    37 Tabel 4. Distribusi Frekuensi Penguasaan Konsep Gaya Mata Pelajaran IPA Siswa

    Kelas IV pada Kondisi Awal

    No Interval Frekuensi

    (fi) Nilai Tengah

    (xi) fi.xi Persentase

    (%) 1 20 34 1 26,5 26,5 6,67 2 35 49 0 41,5 0 0 3 50 64 9 56,5 508,5 60,00 4 65 79 4 71,5 286 26,67 5 80 94 1 86,5 86,5 6,67 Jumlah 15 907,5 100%

    Nilai rata-rata kelas = 61,67 Ketuntasan Klasikal 33,33%

    Berdasarkan tabel 4 penguasaan konsep Gaya mata pelajaran IPA kelas IV

    SDN Karungan 2 di atas dapat disajikan dengan grafik pada gambar 4.

    Gambar 4. Grafik Penguasaan Konsep Gaya Mata Pelajaran IPA Kelas IV pada Kondisi Awal

    Berdasarkan tabel 4 dan gambar 4 penguasaan konsep gaya mata

    pelajaran IPA siswa kelas IV sebelum diterapkan penggunaan model

    pembelajaran kooperatif tipe STAD diperoleh rata-rata kelas sebesar 61,67. Siswa

    yang memperoleh nilai 20-34 sebanyak 1 siswa atau 6,67%. Siswa yang

    memperoleh nilai 50-64 sebanyak 6 siswa atau 40,00%. Siswa yang memperoleh

    nilai 65-79 sebanyak 7 siswa atau 46,67%. Siswa yang memperoleh nilai 80-94

    sebanyak 1 siswa atau 6,67%. Siswa yang mendapat nilai di bawah 67 (KKM)

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    38

    yaitu sebanyak 10 siswa atau 66,66%, dan siswa yang mendapat nilai di atas

    KKM yaitu 5 siswa atau 33,33%. Hal ini dapat diartikan bahwa ketuntasan

    klasikal sebesar 33,33% masih berada di bawah ketuntasan belajar yang

    ditetapkan yaitu sebesar 80 (KKM), dengan kata lain

    penguasaan konsep gaya mata pelajaran IPA kelas IV SDN Karungan 2 masih

    tergolong rendah.

    Berdasarkan nilai evaluasi IPA materi gaya yang masih rendah dan

    banyak siswa yang belum dapat mencapai KKM dapat diambil simpulan

    sementara, bahwa penguasaan konsep gaya pada siswa kelas IV SDN Karungan 2

    masih rendah. Maka dari itu diperlukan suatu inovasi pembelajaran IPA materi

    gaya melalui Penggunaan model kooperatif tipe STAD. Dengan Penggunaan

    model kooperatif tipe STAD diharapkan penguasaan konsep gaya pada siswa akan

    mengalami peningkatan sehingga ketuntasan belajar siswa dapat tercapai.

    B. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian

    Proses penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Dimana setiap

    siklusnya terdiri dari 2 kali pertemuan dan tiap pertemuan terdiri dari 2 jam

    pelajaran (2 x 35 menit). Penelitian ini dilaksanakan melalui 4 tahapan yaitu: (1)

    perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan atau observasi, dan (4) refleksi.

    1. Deskripsi Siklus I

    Tindakan siklus I dilaksanakan pada tanggal 3 sampai dengan 4 Mei

    2012. Jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran pada siklus I sebanyak 15 siswa

    yang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 4 siswa perempuan. Adapun tahapan yang

    dilakukan adalah sebagai berikut:

    a. Perencanaan

    Kegiatan perencanaan siklus I dilaksanakan pada hari Senin, 30 April 2012.

    Peneliti dan guru kelas mendiskusikan rancangan tindakan yang akan

    dilaksanakan. Rancangan tindakan yang dilaksanakan berdasar pada solusi

    permasalahan yang muncul yaitu penerapan model pembelajaran kooperatif

    tipe STAD. Selanjutnya disepakati bahwa pelaksanaan tindakan pada siklus I

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    39

    akan dilaksanakan selama dua kali pertemuan yaitu pada tanggal 3 dan 4 Mei

    2012. Adapun deskripsi perencanaan siklus I adalah sebagai berikut:

    1) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

    Peneliti dan guru kelas menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

    (RPP) IPA selama 2 kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 35 menit

    setiap pertemuannya. RPP yang disusun meliputi: standar kompetensi,

    kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, dampak pengiring,

    materi pembelajaran, metode dan model pembelajaran, langkah-

    langkah pembelajaran, sumber dan media pembelajaran, dan penilaian

    (lampiran 3a).

    2) Mempersiapkan Fasilitas dan Sarana Pendukung

    Fasilitas dan sarana yang dipersiapkan untuk pelaksanaan

    pembelajaran adalah: a) Menyiapkan media pembelajaran; b) Ruang

    kelas didesain sesuai dengan model pembelajaran kooperatif yaitu

    meja kelas ditata sesuai jumlah kelompok; c) menyiapkan alat peraga

    yang diperlukan pada materi gaya dan kamera digital untuk

    pendokumentasian proses pembelajaran IPA.

    3) Menyiapkan Lembar Pengamatan dan Lembar Penelitian

    Lembar pengamatan digunakan untuk merekam segala aktivitas siswa

    selama pelaksanaan pembelajaran IPA berlangsung. Pengamatan yang

    dilakukan meliputi penggunaan pembelajaran kooperatif tipe STAD,

    perilaku berkarakter, keterampilan sosial siswa, psikomotorik siswa,

    dan keaktifan belajar siswa Pedoman dan lembar pengamatan dapat

    dilihat dalam lampiran. Lembar penilaian disusun berdasarkan kisi-kisi

    soal yang telah disesuaikan dengan indikator dan tujuan pembelajaran

    yang akan dicapai.

    b. Pelaksanaan

    Dalam tahap ini peneliti berkolaborasi dengan guru kelas

    melaksanakan pembelajaran penguasaan konsep gaya mata pelajaran IPA.

    Peneliti sebagai pengajar dan guru sebagai observer.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    40

    1) Pertemuan Ke-1

    Pertemuan ke-1 pelajaran IPA kelas IV mempelajari tentang konsep

    gaya.

    Adapun langkah-langkah pembelajarannya yaitu: guru memulai

    pembelajaran dengan mengkondisikan siswa. Guru mengucapkan

    salam dan melakukan presensi. Guru membe