26
Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Achievement Division (STAD) Berbantuan Schoology Dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa Pada Mata Pelajaran TIK Kelas IX A SMP Negeri 9 Salatiga Artikel Ilmiah Diajukan sebagai prasyarat penyusunan skripsi guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Komputer Oleh: Nama : John Yansen Wasanggay NIM : 702011168 Program Studi Pendidikan Teknik Informatika Dan Komputer Fakultas Teknologi Informasi Universitas Kristen Satya Wacana 2016

Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

  • Upload
    others

  • View
    9

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

Achievement Division (STAD) Berbantuan Schoology Dalam Meningkatkan

Keaktifan Siswa Pada Mata Pelajaran TIK Kelas IX A SMP Negeri 9

Salatiga

Artikel Ilmiah

Diajukan sebagai prasyarat penyusunan skripsi

guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Komputer

Oleh:

Nama : John Yansen Wasanggay

NIM : 702011168

Program Studi Pendidikan Teknik Informatika Dan Komputer

Fakultas Teknologi Informasi

Universitas Kristen Satya Wacana

2016

Page 2: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team
Page 3: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

i

LEMBAR PERSETUJUAN ARTIKEL ILMIAH

Page 4: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

ii

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI JURNAL

Page 5: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

iii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Page 6: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

iv

LEMBAR PENGESAHAN

Page 7: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

v

LEMBAR PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT

Page 8: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

2

1. Pendahuluan

Penggunaan metode pembelajaran yang kurang melibatkan aktifitas siswa

dalam proses pembelajaran dan kurangnya penggunaan media pembelajaran di

kelas, dapat berdampak pada rendahnya keaktifan siswa di kelas [1]. SMP Negeri

9 Salatiga adalah salah satu sekolah negeri yang terletak di kota Salatiga provinsi

Jawa Tengah. Berdasarkan hasil observasi awal di kelas IX A SMP N 9 Salatiga,

ditemukan bahwa masih digunakannya metode pembelajaran konvensional pada

proses pembelajaran TIK. Hal ini membuat proses pembelajaran di kelas berjalan

monoton, sehingga menyebabkan rendahnya keaktifan siswa di kelas. Rendahnya

keaktifan siswa di kelas, dapat dilihat dari rendahnya nilai rata-rata keaktifan

siswa pada observasi awal yang hanya sebesar 39,16% dengan kategori sangat

kurang. Penyampaian materi hendaknya harus dapat menumbuhkan berbagai

aktifitas belajar siswa di kelas, sehingga dengan demikian siswa dapat aktif

membangun pemahamannya dalam memahami materi pelajaran [2]. Salah satu

alternatif yang dapat digunakan adalah dengan mengunakan metode pembelajaran

yang lebih mengutamakan keterlibatan siswa di kelas [3]. Metode pembelajaran

yang lebih mengutamakan keterlibatan siswa di kelas salah satunya adalah metode

pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD).

Selain penggunaan meode pembelajaran, dibutuhkan juga pengggunaan

media pembelajaran agar dapat menunjang proses pembelajaran di kelas.

Pemanfaatan media pembelajaran yang digunakan adalah untuk melakukan

penyajian soal, pendistribusian soal, dan sebagai alat evalausi soal dan latihan.

Sehingga dengan demikian akan membantu dan mempermudah siswa dan guru

dalam pembelajaran koopertif tipe STAD. Salah satu media pembelajaran yang

dapat digunakan untuk melakukan hal-hal tersebut adalah Schoology. Melalui

penggunaan schoology, maka dapat membantu siswa dan guru dalam proses

pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, maka dapat

ditentuakan tujuan dari penelitian ini adalah pertama mengetahui apakah penerapan

metode pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan schoology dapat meningkatkan

keaktifan siswa. Kedua untuk mengetahui bagaimana respon siswa terhadap penerapan

metode pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan Schoology pada mata pelajaran

TIK SMP Negeri 9 Salatiga.

2. Kajian Pustaka

Hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Mustofa, tentang upaya

meningkatkan keaktifan siswa, menyimpulkan bahwa penerapan STAD dapat

meningkatkan keaktifan siswa [6]. Adapun penelitian lain yang dilakukan oleh

Tugiyo Aminoto & Hairul Pathoni, mengenai penerapan schoology,

menyimpulkan bahwa penerapan Schoology dapat meningkatkan keaktifan siswa

dan hasil belajar siswa [7]. Secara garis besar kedua penelitian tersebut

mempunyai kesamaan dan perbedaan dengan penelitian ini. Pertama penelitian

yang dilakukan oleh Mustofa sama meneliti mengenai keaktifan dan penerapan

STAD di kelas. Perbedaannya pada penelitian tersebut tidak memanfaatkan

Schoology dalam menyajikan LKS dan kuis. Kedua penelitian lain yang dilakukan

oleh Tugiyo Aminoto & Hairul Pathoni juga meneliti mengenai keaktifan dan

penerapan Schoology. Perbedaannya penelitian tersebut tidak menggunakan

Page 9: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

3

STAD sebagai metode pembelajaran di kelas. Untuk itu dalam penelitian ini akan

digunakan STAD dan schoology secara bersamaan dalam meningkatkan keaktifan

siswa.

Pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan pembelajaran yang

ditandai dengan siswa belajar dan bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil

secara kolaboratif yang beranggotakan 4 sampai dengan 5 orang dengan struktur

kelompok yang heterogen [8]. Pembelajaran kooperatif adalah suatu cara

pendekatan atau serangkaian strategi yang khusus dirancang untuk memberikan

dorongan agar siswa bekerjasama selama proses pembelajaran [9]. Berdasarkan

kedua pemahaman tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran

kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan siswa dalam sejumlah

kelompok belajar yang heterogen, yang saling bekerjasama dalam belajar.

Student Team Achivement Division (STAD) adalah metode yang

melibatkan siswa dalam kompetisi antar kelompok [2]. Pada pembelajaran STAD

siswa akan dibagi kedalam beberapa kelompok belajar yang heterogen, dimana

setiap kelompok pada umumnya terdiri dari 4 sampai 5 anggota kelompok [8].

Tujuan dari metode pembelajaran STAD adalah menumbuhkan keaktifan belajar

siswa, memotivasi siswa dan dapat terlibat dalam belajar [2]. STAD terdiri atas 5

komponen utama yakni: (1) presentasi awal yaitu presentasi mengenai materi awal

yang berfokus pada tugas setiap kelompok. (2) tim, yaitu pembagian kelompok

yang heterogen, yang terdiri dari 4 sampai dengan 5 orang. (3) kuis, yaitu

pemberian kuis untuk mengukur pemahaman siswa, dan juga bertujuan untuk

memperoleh skor peningkatan individu (4) skor kemajauan individual, yaitu

perhitungan skor kemajuan individual berdasarkan skor kuis terdahuluh siswa

dalam mengerjakan kuis, dengan skor kuis terkini siswa. (5) rekognisi tim, yaitu

pemberian penghargaan kepada setiap kelompok yang diperoleh setiap

memperoleh kriteria poin tertentu. Kriteria kemajuan poin siswa dapat dilihat

seperti pada Tabel 3 berikut ini.

Tabel 3 Kriteria Kemajuan Poin Siswa [8]

Skor Kuis Poin Kemajuan

Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 0

10 – 1 poin di bawah skor awal 10

Skor awal sampai 10 poin 20

Lebih dari 10 poin di atas skor awal 30

Kertas jawaban sempurna (terlepas dari skor awal) 30

Kriteria penghargaan kelompok dapat lihat seperti pada Tabel 4 berikut.

Tabel 4 Kriteria Pemberian Penghargaan [8]

Kriterian Poin Penghargaan

15 Poin Rata-Rata TIM BAIK 20 Poin Rata-Rata TIM HEBAT 25 Poin Rata-Rata TIM SUPER

Page 10: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

4

Keaktifan Siswa adalah dimana siswa aktif terlibat secara intelektual dan

emosional dalam kegiatan belajar [11]. Siswa aktif adalah siswa yang terlibat

secara fisik, psikis, intelektual dan emosional secara terus menerus dalam proses

pembelajaran [12]. Keaktifan siswa adalah suatu keadaan dimana siswa

berpartisipasi secara aktif didalam sistem pembelajaran yang lebih berpusat

kepada diri siswa (student centered learning) yang lebih menekankan pada

aktifitas siswa secara fisik, mental, intelektual dan emosional, guna memperoleh

hasil belajar yang berupa perpaduan antara ranah kognitif, ranah afektif dan ranah

psikomotorik [13]. Dari ketiga pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa

keaktifan siswa adalah siswa yang terlibat secara terus menerus baik secara fisik,

psikis, intelektual maupun emosional dalam mengikuti proses pembelajaran di

kelas guna mencapai tujuan belajarnya. Keaktifan siswa di kelas dapat dinilai

berdasarkan indikator keaktifan siswa seperti: 1) Turut serta dalam melaksanakan

tugas belajarnya. 2) Terlibat dalam pemecahan permasalahan. 3) Bertanya kepada

siswa lain atau kepada guru apabilah tidak memahami persoalan yang

dihadapinya. 4) Berusaha mencari berbagai sumber informasi yang diperlukan

untuk pemecahan masalah. 5) Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan

petunjuk guru. 6) Menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya.

7) Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah sejenis. 8) Adanya

kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam

menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya [10].

Schoology adalah aplikasi LMS (Learning Managament System yang dapat

dijalankan secara online, dan dapat digunakan oleh guru dan siswa secara gratis

[5]. Schoology sangat mudah untuk digunakan karena schoology adalah aplikasi e-

elearning yang berbasis media sosial, yang dapat dijadikan solusi didalam

pembelajaran [14]. Salah satu fitur yang dapat dimanfaatkan oleh guru dan siswa

pada schoology adalah fitur Quiz. Fitur quiz pada schoology menyediakan

berbagai macam jenis soal, yang dapat diberdayakan oleh guru dan siswa dalam

menyajikan soal tes secara online bagi siswa [15]. Schoology dapat memudahkan

siswa dan guru dalam menyajikan, mendistribusikan materi dan mengevaluasi

soal secara praktis bagi guru dan siswa, sehingga sangat efisien [5].

3. METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 9 Salatiga, pada semester ganjil

tahun pelajaran 2014/2015 sebanyak 2 siklus. Penelitian ini menggunakan metode

penelitian tindakan kelas (PTK) atau Class Room Action Research, yaitu

penelitian yang bertujuan untuk menyelesaikan suatu masalah yang ada di kelas

[17]. Jenis dari penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan secara kolaboratif,

yaitu penelitian yang dilakukan secara bersama-sama dengan rekan kolaborator

dalam hal ini guru atau rekan lainnya [17].

Penetapan subjek penelitian ini dilakukan dengan melihat rekomendasi

dari guru pengampu mata pelajaran TIK yang ada di SMP Negeri 9 Salatiga.

Berdasarkan rekomendasi guru pengampu mata pelajaran TIK, maka dapat

ditetapkan subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas IX A SMP Negeri 9

Page 11: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

5

Salatiga yang berjumlah 30 siswa, yang terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 20

siswa perempuan.

Desain penelitian tindakan kelas ini menggunakan desain dari model

Kemmis dan Mc Taggart, yaitu desain yang setiap pelaksanaan tindakan siklusnya

terdiri dari empat tahapan. Tahapan tersebut yaitu tahap (1) perencanaan, yaitu

adalah tahap penyusunan perangkat pembelajaran, dan instrumen penilaian dan

penelitian dalam menunjang proses pembelajarn (2) pelaksanaan tindakan, yaitu

adalah tahap pelaksanaan penerapan tindakan siklus di kelas berdasarkan

perencanaan yang telah disusun (3) observasi, yaitu pengamatan terhadap

tindakan siklus yang diterapkan dan (4) refeleksi, yaitu melakukan evaluasi dan

penarikan kesimpulan berdasarkan tindakan siklus yang telah diterapkan [18].

Tahapan penelitian pada penelitian tindakan kelas ini secara keseluruan

dilaksanakan melalui 5 tahapan seperti ditujukan pada Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2 Tahapan Penelitiam No Tahap Penelitian Keterangan

1 Tahap Prapenelitian Pengurusan perizinan penelitian

Wawancara

Obsevasi awal

Study literature

2 Tahap Perencanaan Menyusun perangkat pembelajaran

Menyusun instrumen soal dan observasi

Menguji Instrumen tes

3 Tahap Pelaksanaan

Tindakan siklus

Memberikan tes awal pretest

Melakukan tindakan siklus sesuai dengan RPP

4 Tahap observasi Melakukan pengamatan terhadap aktifitas siswa dan segalah sesuatu yang

terjadi di kelas menggunakan lembar observasi dan catatan.

5 Refleksi, pengolahan

dan analisis Data

Mengolah hasil pretest

Mengolah hasil posttest

Mengolah hasil observasi

Menarik kesimpulan

Tahapan pertama adalah tahap prapenelitian, yaitu mengurus perizinan

penelitian di sekolah. Melakukan wawancara dengan guru untuk menentukan

subjek penelitian. Melakukan observasi awal di kelas pada saat proses

pembelajaran TIK di kelas IX A, yang bertujuan untuk mengidentifikasi masalah

awal. Melakukan proses pengamatan terhadap ketersedian sarana dan prasarana

penunjang pembelajaran TIK, seperti ketersedian lab komputer, internet,

perpustakaan dan proyektor. Melakukan study literature yang tujuannya untuk

memperoleh teori dari para ahli mengenai permasalahan yang telah ditemukan.

Tahap kedua adalah tahap perencanaan. Berdasarkan data awal yang telah

diperoleh maka dapat dilakukan perencanaan dan penyusunan perangkat

pembelajaran seperti RPP, materi, media pembelajaran dan penyusunan instrumen

tes dan intrumen observasi. Setelah itu dilakukan uji validitas dan reabilitas

terhadap instrumen tes. Uji validitas dan reabilitas soal dilakukan pada kelas yang

berbedah yaitu kelas IX B. Tahap ketiga adalah tahap pelaksanaan tindakan.

Sebelum pelaksanaan tindakan siklus, pertama terlebih dahuluh diberikan pretest.

Setelah pemebrian pretest, maka dapat dilaksanakan tahap pelaksanaan tindakan.

Berupa penerapan STAD dan schoology di kelas yang sesuai dengan perangkat

Page 12: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

6

pembelajaran yang telah disusun sebelumnya. Tahap keempat adalah tahap

observasi. Observasi dilakukan selama berlangsungnya proses pembelajaran pada

saat tindakan siklus sedang diterapkan. Observasi dilakukan untuk mengamati

keaktifan siswa di kelas. Observasi dilakukan oleh rekan kolabotor (guru TIK

SMP Negeri 9 Salatiga) dengan menggunakan lembar observasi keaktifan siswa

berbetuk checklist. Tahap kelima adalah tahap refleksi atau evalusi terhadap

tindakan siklus (proses pembelajaran) yang telah dilakukan. Hal ini bertujuan

untuk menilai sejauh mana keberhasilan yang telah dicapai dan sejauh mana

kekurangan yang ada, agar dapat menjadi bahan masukan untuk dapat dibenahi

pada tindakan siklus berikutnya. Jika tindakan siklus belum mencapai kriteria

telah ditentukan, maka tindakan siklus dapat dilanjutnya pada siklus berikutnya.

Tetapi jika sebaliknya maka tindakan siklus dapat di hentikan dan dapat

dilanjutkan untuk melakukan pengolahan dan analisis data setelah itu dapat

dilakukan penarikan kesimpulan dari penelitian ini.

Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah

metode observasi, angket dan tes. Observasi digunakan untuk mengamati

keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran STAD. Angket digunakan

untuk mengetahui respon siswa terhadap penerapan STAD berbantuan schoology.

Tes digunakan untuk mengukur pemahaman siswa, dan sebagai dasar untuk

menentukan kriteria penghargaan bagi setiap tim berdasarkan skor kuis setiap

siswa.

Instrumen penelitian yang digunakan pada penelitian terdiri dari intrumen

tes dan instrumen nontes. Instrumen tes terdiri dari pretest dan posttest. Instrumen

nontes yang digunakan berupa lembar observasi keaktifan siswa, dan angket

respon siswa.

Teknik analisisa data pada penelitian ini terdiri dari uji instrumen tes dan

analisa data kuantitatif. Data kuantitatif pada penelitian ini berupa data hasil

observasi keaktifan siswa, data angket respon siswa dan data hasil tes siswa.

Ketiga Data kuantitatif tersebut akan diolah secara deskriptif.

Indikator keberhasilan dari penelitian ini dapat tercapai apabilah

perbaikan terhadap permasalahan yang ada telah diperbaiki, sehingga akan

berdampak pada perbaikan terhadap keaktifan siswa. Berikut ini adalah urutan

indikator keberhasilan didalam penelitian ini.

1. Indikator keberhasilan keaktifan siswa minimal “baik”

2. Indikator respon siswa terhadap penerapan metode pembelajaran STAD

berbantuan schology minimal “baik”

Penenelitian ini memakai kriterian penilaian seperti yang ditunjukan pada Tabel 5

berikut ini. Tabel 5 Kriteria Penilaian [19]

Presentasi Kategori Kriteria

81% -100% A Sangat Baik

61% - 80% B Baik

41% - 60% C Cukup Baik

21% - 40% D Kurang Baik

0% - 20% E Jelek/sangat tidak baik

Page 13: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

7

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Proses penelitian ini dilakukan selama tiga minggu, pada minggu pertama

dilakukannya proses perizinan penelitian disekolah. Melakukan wawancara

terhadap guru pengampu mata pelajaran TIK, untuk menentukan subjek dari

penelitian ini. Berdasarkan rekomendasi guru, maka dapat ditetapakan kelas IX A

sebagai subjek dari penelitian ini. Selanjutnya melakukan observasi awal dengan

menggunakan lembar observasi keaktifan siswa yang telah disejui oleh dosen

pembimbing terhadap subjek dari penelitian ini. Selanjutnya melakukan observasi

terhadap ketersediaan sarana dan prasarana pendukung mata pelajaran TIK seperti

ketersedian lab komputer, proyektor, dan internet. Berdasarkan hasil observasi

awal di kelas IX A SMP N 9 Salatiga, ditemukan bahwa masih digunakannya

metode pembelajaran konvensional pada proses pembelajaran TIK. Hal ini

membuat proses pembelajaran di kelas berjalan monoton, sehingga menyebabkan

rendahnya aktifitas siswa di kelas dalam mengikuti proses pembelajaran.

Rendahnya nilai keaktifan siswa di kelas dapat dilihat dari rendahnya nilai rata-

rata keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran TIK yang hanya

sebesar 39,16% dengan kategori sangat kurang. Hasil dari pengamatan awal

terhadap kektifan siswa di kelas tersebut dapat dilihat pada Tabel 6 berikut ini

yang diamati dengan menggunakan lembar observasi keaktifan siswa.

Tabel 6 Pengamatan Awal Mengenai Keaktifan Siswa No. Indikator Jumlah Siswa Persentase 1 Siswa mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru dengan baik 12 40 2 Siswa berani mengemukakan pendapat 2 6,66 3 Siswa melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru 0 - 4 Siswa berani bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabilah tidak

memahami persoalan yang dihadapinya.

3 10

5 Siswa turut serta terlibat dalam melakukan tugas belajarnya 30

7

100 23.33 6 Siswa turut serta terlibat dalam pemecahan masalah

7 Siswa berusaha mencari berbagai sumber informasi yang diperlukan untuk

pemecahan masalah

10 33.33

8 Siswa melatih diri dalam memecahkan masalah atau soal 30 100 Jumlah 94 313,32 Presentase keaktifan = Jumlah skor yang diperoleh siswa X 100%

Jumlah seluruh siswa

39.16

Berdasarkan pokok permasalahan yang telah ditemukan, selanjutnya

dilakukan study literature untuk mencari definisi dari parah ahli mengenai

masalah yang ditemukan. Berdasarkan data dan study literature awal yang telah

diperoleh, maka dapat ditetapkan alternatif apa yang akan digunakan untuk

mengatasi masalah yang ada. Alternatif yang ditemukan dalam rangka untuk

meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, TIK yaitu adalah

dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan

Schoology. Sesudah ditetapkan alternatif yang akan digunakan, maka selanjutnya

dapat dilakukan tindakan siklus berupa penerapan metode pembelajaran

kooperatif tipe STAD berbantuan schoology.

Perencanaan Tindakan Siklus I, berdasarkan data awal yang telah

diperoleh, maka selanjutnya dapat dibuat perencanaan penyusunan perangkat

Page 14: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

8

pembelajaran yang meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran

(RPP), materi, media pembelajaran dan instrument tes dan non tes yang akan

digunakan pada tindakan siklus I. Selanjutnya setelah instrument tes telah disusun,

maka dilakukan uji validitas dan reabilitas soal tes, yang dilakukan dengan

menggunakan aplikasi pengolah data statistik. Hasil dari 25 soal yang diujikan

pada kelas IX B, dengan jumlah 30 siswa, didapat 20 soal valid dan 5 soal tidak

valid. Soal yang tidak valid tersebut adalah soal nomor, 10, 14, 17, 23, 24, soal

yang valid tersebut kemudian diuji reabilitasnya yang mempunyai ketentuan jika

alpha> 0.05 maka data tersebut reliabel. Hasil pengujian menjukan bahwa Alpha

0.865> 0.05, maka soal dapat dinyatakan reabilitas bagus.

Pertemuan pertama (sebelum penerapan tindakan siklus) dilakukan

dengan tujuan untuk memperkenalkan metode pembelajaran STAD dan schoology

kepada siswa. Selain itu bertujuan juga untuk memberikan pretest. Waktu 45

menit pertama dimulai dengan guru memberikan pretest kepada siswa. Pemberian

pretest bertujuannya untuk mengukur kemamanpuan awal siswa dan selain itu

juga bertujuan untuk memperoleh skor awal siswa yang akan digunakan sebagai

dasar untuk pembentukan kelompok belajar siswa. Waktu 45 menit kedua, guru

memeperkenalkan metode pembelajaran STAD dan schoology kepada siswa.

Pengenalan mengenai STAD berupa pengenalan mengenai langkah-langkah

STAD, dan pengenalan 5 komponen utama STAD. Pengenalan mengenai

schoology yaitu berupa guru meperkenalkan schoology, membimbing dan

mendemonstrasikan cara untuk mengakses schoology dan melakukan proses

registrasi bagi setiap siswa pada schoology. Pada form registration siswa harus

melakukan registrasi sebagai student. Setelah itu guru akan memberikan kode

akses khusus bagi siswa, agar siswa dapat melakukan registrasi pada kelas yang

telah dibuat oleh guru pada schoology. Sesudah siswa telah memasukan kode

akses yang diberikan oleh guru, selanjutnya siswa dapat mengisi biodata lengkap

siswa dan setelah berhasil siswa akan langsung login pada halaman home

schoology. Selanjutnya guru akan memperkenalkan dan memperagakan cara

mengakses kelas yang telah dibuat oleh guru pada schoology. Pada halamana

Courses yang telah dibuat oleh guru, terdapat soal tes siswa dan juga LKS siswa.

Berikut adalah contoh interface kelas seperti ditunjukan pada Gambar 1.

Gambar 1 Interface Courses Yang Berisikan Soal Tes dan LKS Online

Page 15: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

9

Pada halaman courses, siswa dapat memilih untuk mengerjakan kuis atau

latihan. Jika telah dipilih maka siswa akan masuk pada interface intruksi

pengerjaan soal atau LKS. Pada inteface intruksi siswa dapat membaca intruksi

pengerjaan soal atau LKS. Setelah itu siswa dapat memulai mengerjakan kuis atau

LKS dengan menekan tombol biru yang bertulisan “Begin Tes/Quiz. Secara

otomatis siswa akan masuk langsung pada halaman kuis atau LKS. Berikut ini

adalah tampilan interface dari halaman intruction seperti yang ditunjukan pada

Gambar 2 dan contoh tampilan dari interface Quiz atau LKS seperti ditunjukan

pada Gambar 3.

Gambar 2 Tampilan Interface Intruction (Petunjuk Pengerjaan Kuis/LKS)

Gambar 3 Interface Kuis dan LKS Yang Berbentuk Pilihan Ganda.

Tahap selanjutnya guru akan mengajarkan siswa untuk menyimpan hasil

pekerjaan siswa. Caranya siswa cukup menekan tombol “submit” yang terletak

dibagian bawah dari akhir soal, maka secara otomatis jawaban siswa akan di

simpan. Tahap selanjutnya guru akan mengajarkan siswa agar siswa dapat

mengakses hasil pekerjaan siswa, caranya yaitu siswa dapat menggunakan tools

“Gradebook” untuk melihat hasil pekerjaannya. Tahap selanjutnya guru akan

mengajarkan cara siswa untuk melakukan Logout dari akun siswa, caranya cukup

dengan menekan tombol logout yang telah tersedia. Sesudah itu guru memberi

penguatan kepada siswa dan menutup pelajaran.

Pertemuan kedua (Tindakan Siklus I), dilaksanakan oleh peneliti yang

berperan sebagai guru TIK. Pada siklus I materi yang dibahas adalah dasar-dasar

Page 16: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

10

jaringan internet. Pokok materinya adalah internet. Pada siklus I digunakan 20

soal kuis dan LKS yang berbentuk pilihan ganda. Pada tindakan siklus I, guru

mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam, mempersiapkan media

pembelajaran, proyektor, sumber belajar, mengecek kehadiran siswa, dan

menyampaikan tujuan dari pembelajaran. Langkah selanjutnya adalah tahap-tahap

pembelajaran metode pembelajaran STAD berbantuan schoology yaitu, (1) guru

mempresentasikan materi awal yang mendukung tugas setiap kelompok siswa.

(2) guru membentuk 6 kelompok belajar (Tim) siswa yang heterogen. Setiap

kelompoknya terdiri dari 5 orang siswa dengan kemampuan dan gender yang

berbedah. (3) Setelah pembagian kelompok guru mengajarkan mengenai

keterampilan kooperatif kepada siswa seperti agar dapat berada dalam tugas, dapat

berbagi tugas, dapat menggunakan suara yang pelan saat diskusi, mempunyai

keberanian untuk bertanya, mendengar dengan baik, turut berpartisipasi, dan dapat

memeriksa ketepatan pengerjaan latihan. Pemberian latihan bagi setiap kelompok

bertujuan agar setiap kelompok dapat mempersiapkan anggotanya, agar dapat siap

mengerjakan kuis yang sifatnya individu. Hal ini karena nilai kuis setiap individu

akan hitung rata-ratanya dan dijadikan skor setiap kelompok. (4) Langkah

selanjutnya guru membimbing dan mengawasi setiap siswa agar dapat melakukan

diskusi kelompok dengan baik dan benar dalam menyelesaikan tugas kelompok,

yang telah disajikan oleh guru pada schoology. (5) Selanjutnya guru dan siswa

sama-sama membahas secara baik dan benar mengenai hasil dari tugas kelompok.

(6) Pada tahap selanjutnya guru memberikan kuis online bersifat individu agar

dapat di kerjakan oleh setiap siswa. (7) Selanjutnya guru dan siswa sama-sama

mengecek hasil pekerjaan tes siswa pada schoology. Berikut adalah tampilan

interface Results (hasil) kuis 1 pada interface guru yang menampilkan hasil

perolehan seluruh siswa setelah mengerjakan kuis 1.

Gambar 4 Interface Results Daftar Nilai Kuis Siklus 1

Gambar 4, menunjukan nilai perolehan setiap siswa dalam mengerjakan

kuis 1. Setelah itu untuk melihat nilai rata-rata kelas dalam mengerjakan kuis 1,

guru dapat melihatnya dari interface statistic, seperti ditunjukan pada gambar 5

berikut ini.

Page 17: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

11

Gambar 5 interface statistic (Interface guru)

Pada Gambar 5 menunjukan nilai rata-rata siswa kelas IX A, dalam

mengerjakan kuis 1 yaitu sebesar 74%. (10) Guru dan kolaborator menghitung

rata-rata skor peningkatan hasil belajar setiap siswa, berdasarkan nilai

perolehan setiap siswa dari hasil pengerjaan kuis. (12) Guru mengumumkan

kelompok mana saja yang memperoleh penghargaan atau rekognisi tim.

Rekognisi setiap tim pada siklus I dapat dilihat pada Tabel 7 berikut ini.

Tabel 7 Rekapitulasi Hasil Peningkatan Skor Kuis TIK Siklus I Kelompok Rata-rata Skor Dasar Rata-rata Skor

Kuis Siklus 1

Rata-rata Skor

Peningkatan

Penghargaan Tim

I 56,00 79,00 26,00 Tim Super

II 57,00 73,00 22,00 Tim Hebat 2

III 58,00 75,00 24,00 Tim Hebat 1

IV 59,00 68,00 20,00 Tim Hebat 3

V 56,00 78.00 24,00 Tim Hebat 1

VI 59,00 76.00 16,00 Tim Baik

Jumlah 345,00 449,00 132,00 -

Rata-rata 57,5 74,83 22 -

Pada Tabel 7 menjelaskan hanya kelompok I yang mendapatkan

pengahargaan tim super. (13) Tahap selanjutya setelah pengumuman penghargaan

tim, guru bertanya kepada siswa mengenai materi yang belum dipahami oleh

sidswa. Setelah itu guru memberi penguatan kepada siswa, dan selanjutnya guru

membimbing siswa untuk sama-sama membuat kesimpulan. Tak lupa pada akhir

pertemuan guru menyampaikan materi yang akan dibahas pada minggu depan.

Observasi Tindakan Siklus I, dilakukan oleh rekan kolaborator (guru TIK

SMP Negeri 9 Salatiga) yang bertugas untuk mengamati keaktifan siswa selama

berlangsungnya proses pembelajaran siklus satu. Proses pengamatan keaktifan

siswa mengacu pada indikator keaktifan siswa yang telah masukan kedalam

lembar observasi keaktifan siswa berupa checklist. Berikut ini adalah desain

penilaian keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran STAD

berbantuan schoology di kelas seperti ditunujukan pada Tabel 8.

Page 18: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

12

Tabel 8 Desain Penilaian Keaktifan Siswa Dalam Mengikuti Proses Pembelajaran STAD. No

.

Indikator 5 Komponen STAD

Presentasi

awal

Tim Kui

s

Kemajua

n

Individu

Rekognisi

Tim

Media

1 Siswa mendengarkan dan

memperhatikan penjelasan guru dengan

baik

2 Siswa berani mengemukakan pendapat

disaat diskusi kelompok. √

3 Siswa melaksanakan diskusi kelompok

sesuai dengan petunjuk guru √

4 Siswa berani bertanya kepada siswa lain

atau kepada guru apabilah tidak

memahami persoalan yang dihadapinya.

√ √ √ √ √

5 Siswa turut serta terlibat dalam

melakukan tugas belajarnya √ √ √ √ √

6 Siswa turut serta terlibat dalam

pemecahan masalah √ Schoology

7 Siswa berusaha mencari berbagai sumber

informasi yang diperlukan untuk

pemecahan masalah

√ Schoology

8 Siswa melatih diri dalam memecahkan

masalah atau soal dengan menggunakan

schoology

√ Schoology

Tabel 8 menjelaskan mengenai desain penilian keaktifan siswa dalam

mengikuti proses pembelajaran STAD. Indikator pertama menjelaskan bahwa

siswa akan dinilai keaktifannya apabilah siswa mendengarkan dan memperhatikan

penjelasan guru dengan baik pada saat presentasi awal guru. Indikator kedua

menjelaskan bahwa siswa akan dinilai keaktifannya apabilah siswa berani

mengemukan pendapat disaat diskusi kelompok. Indikator ketiga menjelaskan

bahawa siswa akan dinilai keaktifannya apabilah, siswa melaksanakan diskusi

kelompok sesuai dengan petunjuk guru seperti: agar dapat berada dalam tugas,

dapat berbagi tugas dalam mengerjakan latihan, dapat menggunakan suara yang

pelan saat diskusi, turut berpartisipasi, dan dapat memeriksa ketepatan pengerjaan

latihan. Indikator keempat menjelaskan siswa akan dinilai keaktifannya apabilah

siswa berani bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabilah tidak

memahami persoalan yang dihadapinya dalam diskusi tim. Indikator kelima

menjelasakan bahwa siswa akan dinilai keaktifannya apabilah siswa

melaksanakan tugas belajarnya seperti mencatat hal-hal penting pada saat

presetasi guru, mengerjakan LKS dalam tim, mengerjakan kuis, menilai

kemampuan dirinya melalui skor kemajuannya, dan menerima peghargaan.

Indikator keenam menjelasakan bahwa siswa akan dinilai keaktifannya apabilah

siswa turut serta terlibat dalam pemecahan masalah tim, seperti terilbat mencari

sumber informasi pada buku catatan, modul maupun bertanya pada guru untuk

memecahkan masalah. Indikator ketujuh menjelasakan bahwa siswa akan dinilai

keaktifannya apabila siswa berusaha mencari berbagai sumber informasi yang

diperlukan. Sumber infomasi tersebut berupa modul, catatan-catatan harian siswa

menegenai masalah yang dibahas yang digunakan siswa untuk pemecahan

masalah didalam tim.

Page 19: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

13

Berdasarkan hasil pengamatan mengenai keaktifan siswa di kelas pada

siklus I, diperoleh hasil bahwa keaktifan siswa telah mengalami peningkatan. Hal

tersebut dapat dilihat dari meningkatnya nilai rata-rata keaktifan siswa,

sebelumnya pada observasi awal sebesar 39,16%, pada siklus I naik menjadi

60,41%. Hasil observasi keaktifan siswa pada siklus I dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Rekeapitulasi Hasil Observasi Keaktifan Siswa Siklus I No. Indikator Banyaknya

siswa

Persentase

1 Siswa mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru

dengan baik

19 63,33

2 Siswa berani mengemukakan pendapat disaat diskusi

kelompok.

12 40

3 Siswa melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan

petunjuk guru

15 50

4 Siswa berani bertanya kepada siswa lain atau kepada guru

apabilah tidak memahami persoalan yang dihadapinya.

10 33,33

5 Siswa turut serta terlibat dalam melakukan tugas belajarnya 30 100

6 Siswa turut serta terlibat dalam pemecahan masalah 15 50

7 Siswa berusaha mencari berbagai sumber informasi yang

diperlukan untuk pemecahan masalah

14 46,66

8 Siswa melatih diri dalam memecahkan masalah atau soal

dengan menggunakan schoology

30 100

Jumlah 145 483,32

Total Rata-Rata Keaktifan Siswa 60,41

Untuk memperoleh tanggapan siswa mengenai penerapan STAD dan

schoology, maka setelah pembelajaran siklus I telah selesai, guru akan

membagikan lembar angket respon siswa kepada siswa, dan menjelaskan cara

untuk mengisinya. Berikut adalah rekapitulasi hasil dari pengisian angket respon

siswa pada siklus I, seperti yang ditunjukan pada Tabel 10 berikut.

Tabel 10 Rekapitulasi Hasil Angket Respon Siswa Pada Siklus I

Berdasarkan Tabel 10, menunjukan bahwa hasil perhitungan berada pada

interval setuju dan sangat setuju dengan presentase skor sebesar 86,93% , dengan

makna sangat baik. Perhitungan secara jelas dapat dilihat seperti sebagai berikut

ini.

No Pembelajaran TIK yang baru saja saya ikuti Skor total

Jawaban

Persentase

%

1 Lebih menyenangkan dari pada biasanya 139 96.66

2 Membantu saya lebih mudah memahami materi 141 94

3 Mendorong saya belajar lebih giat 130 86.66

4 Membuat saya berani bertanya kepada guru dan teman 105 70

5 Menimbulkan rasa senang dalam belajar 136 90.66

6 Menumbuhkan keberanian saya dalam mengemukakan pendapat 140 93.33

7 Menumbuhkan rasa percaya diri saya dalam menyelesaikan soal 111 74

8 Menjadi tertantang dalam mengerjakan soal 138 92

9 Melalatih kreaktifitas dan keterampilan penggunaan TIK saya 132 88

10 Membuat saya tidak merasa bosan dalam belajar 132 88

Jumlah 1304 2608

86,93

Page 20: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

14

Presentase = 1304 X 100%

150

= 130400

150

= 86,93

Reflleksi Tindakan Siklus I, berdasarkan hasil dari proses pelaksanaan

siklus I, maka dapat dibuatkan refleksi untuk mengevaluasi pelaksanan siklus I.

Hasil refleksi yang dilakukan terhadap proses pembelajaran pada siklus I dapat

dilihat pada Tabel 11 berikut.

Tabel 11 Hasil Refleski Siklus I No Keberhasilan Hal Yang Perlu Diperbaiki Solusi

1

Nilai rata-rata keaktifan siswa

yang sebelumnya sebesar 39,16%

dengan kategori kurang baik,

telah naik menjadi 60,41%

dengan kategori cukup baik.

1. Siswa masih malu untuk

mengemukakan pendapat disaat

diskusi kelompok.

1. Guru perlu mengintruksikan siswa

agar dapat membagi tugas dalam

mengerjakan latihan. Contoh soal

nomor 1-5 di kerjakan si A dan si B.

Dan soal nomor 6-10 dikerjakan

oleh si C dan D, begitu seterusnya,

kemudia dicek ketepatanya bersama-

sama. Dengan demikian siswa dapat

mengemukakan pendapatnya.

2. Siswa masih malu untuk bertanya

kepada siswa lain atau kepada guru

apabilah tidak memahami

persoalan yang dihadapinya. 2 Respon siswa terhadap penerapan

STAD dan schoology sangat baik,

yaitu sebesar 86,93%.

3 Diskusi kelompok sudah berhasil

berjalan cukup baik, meskipun

ada beberapa hal yang masih

perlu diperbaiki lagi.

3. Belum semua siswa yang

melaksanakan diskusi kelompok

sesuai dengan petunjuk guru,

seperti agar jangan ramai saat

dikusi, menggunakan giliran saat

bicara dan berani bertanya jika

tidak paham.

4. Guru harus dapat membuat siswa

untuk berani bertanya. Caranya

dengan mendekati siswa dan

bertanya langsung kepada siswa, apa

ada yang belum dipahami 4 Semua siswa telah dapat

meggunakan schoology ddengan

baik alam mengejakan latihan dan

kuis 3. Guru perlu menjelasakan bahwa

dalam diskusi tim, ada aturannya

sehingga siswa harus dapat

mengikuti petunjuk guru.

4. Solusinya sama dengan solusi

nomor satu.

4. Siswa belum semuanya turut serta

terlibat dalam pemecahan masalah,

hal ini karena siswa yang memiliki

kemampuan tingggi masih

mendominasi diskusi pada diskusi

kelompok.

Berdasarkan hasil refleksi siklus I, diputuskan agar dapat dilakukan lagi

siklus II. Hal ini dilakukan agar dapat memperbaiki hasil tindakan siklus I, yang

secara keseluruan belum mencapai indikator dari penelitian ini. Hal ini dapat

dilihat dari masih rendahnya nilai rata-rata keaktifan siswa yang hanya sebesar

60,41% dengan kategori cukup baik.

Perencanan Tindakan Siklus II, berdasarkan hasil refleksi dari tindakan

siklus I, maka dapat dibuat perencanaan untuk melakukan perbaikan pada siklus

II. Perencanaan tersebut meliputi, persiapan dan penyusunan perangkat

pembelajaran seperti RPP, materi, media pembelajaran, LKS, instrumen tes dan

instrumen penelitian. Setelah instrument tes telah disusun, maka dilakukan uji

validitas dan reabilitas soal tes, yang dilakukan dengan menggunakan aplikasi

pengolah data statistik. Hasil dari 25 soal yang diujikan pada kelas IX B, dengan

jumlah 30 siswa, didapat 20 soal valid dan 5 soal tidak valid. Soal yang tidak

valid tersebut adalah soal nomor, 5, 10, 13, 19, 22, soal yang valid tersebut

kemudian diuji reabilitasnya yang mempunyai ketentuan jika alpha> 0.05 maka

data tersebut reliabel. Hasil pengujian menjukan bahwa Alpha 0.879> 0.05, maka

soal dapat dinyatakan reabilitas bagus.

Page 21: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

15

Pertemuan ketiga (Tindakan Siklus II), dilaksanakan oleh peneliti yang

berperan sebagai guru TIK. Pada siklus I pokok materi yang dibahas adalah dasar-

dasar jaringan internet dengan sub materinya adalah jaringan komputer

berdasarkan cakupan wilayahnya. Pada siklus I digunakan 20 soal kuis dan 20

soal LKS berbentuk pilihan ganda. Pada tindakan siklus II dimulai dengan guru

mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam. Selanjutnya guru

mempersiapkan media pembelajaran, proyektor, sumber belajar, mengecek

kehadiran siswa, mempersiapkan siswa, dan menyampaikan tujuan dari

pembelajaran. Langkah selanjutnya adalah tahap-tahap pembelajaran metode

pembelajaran STAD berbantuan schoology, yaitu (1) guru mempresentasikan

materi awal yang mendukung tugas setiap kelompok. (2) Guru mengintruksikan

setiap siswa agar bergabung pada tim nya masing-masing dengan teratur dan

tenang. (3) Guru menjelaskan kepada siswa mengenai keterampilan kooperatif

kepada siswa seperti, agar dapat berada dalam tugas, dapat berbagi tugas, dapat

menggunakan suara yang pelan saat diskusi, mempunyai keberanian untuk

bertanya, mendengar dengan baik, turut berpartisipasi, dan dapat memeriksa

ketepatan pengerjaan latihan. (4) Guru membimbing dan mengawasi siswa untuk

melakukan diskusi kelompok dan mendorong siswa agar dapat berpartisifasi

didalam diskusi kelompok. (5) Guru dan siswa sama-sama membahas hasil

penegrjaan LKS secara baik dan benar. (6) Guru memerintahkan siswa untuk

mengakses soal kuis pada schoology, agar dapat mengerjakannya secara individu.

(7) Selanjutnya guru dan siswa sama-sama mengecek hasil pekerjaan tes siswa

pada schoology. Berikut adalah tampilan interface Results pada interface guru

yang menampilkan (nilai) perolehan seluruh siswa setelah mengerjakan kuis 2.

Gambar 6 Interface Result (Daftar Nilai Kuis 2)

Pada Gambar 6, menunjukan nilai perolehan setiap siswa dalam

mengerjakan kuis 2. Setelah itu untuk melihat nilai rata-rata kelas dalam

mengerjakan kuis 2, guru dapat melihatnya pada interface statistics, seperti

ditunjukan pada Gambar 7 berikut ini.

Page 22: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

16

Gambar 10 interface statistic (Interface guru)

Gambar 7 menunjukan nilai rata-rata siswa kelas IX A, dalam mengerjakan

kuis 2, yaitu sebesar 85,5%. (8) Guru dan rekan kolaborator menghitung rata-rata

skor peningkatan hasil belajar setiap siswa, berdasarkan nilai perolehan setiap

siswa dari pengerjaan kuis, dalam menentukan kriteria penghargaan bagi setiap

kelompok. (9) Guru mengumumkan kelompok mana saja yang memperoleh

penghargaan atau rekognisi tim. Rekognssi setiap tim pada siklus II dapat dilihat

pada Tabel 11 berikut ini.

Tabel 11 Rekapitulasi Hasil Peningkatan Skor Kuis TIK Siklus II Kelompok Rata-rata Skor Dasar

(Kuis 1)

Rata-rata Skor

Kuis 2

Rata-rata Skor

Peningkatan

Penghargaan Tim

I 79,00 92,00 25 Tim Super 2

II 73,00 86,00 22 Tim Hebat 2

III 75,00 88,00 20 Tim Hebat 3

IV 68,00 78,00 24 Tim Hebat 1

V 78.00 88,00 26 Tim Super 1

VI 76.00 81,00 22 Tim Hebat 2

Jumlah 449,00 513,00 110,5 -

Rata-rata 74,83 85,50 22 -

Pada Tabel 11, menunjukan bahwa hanya 2 kelompok yang memperoleh

poin tertinggi dengan kriteria penghargaan Tim Super, yaitu pertama adalah

kelompok V dan kedua adalah kelompok I. (10) Tahap selanjutya setelah

pengumuman penghargaan, guru bertanya kepada siswa mengenai materi yang

belum dipahami oleh siswa. Untuk menjawab pertanyaan siswa, guru memintah

setiap relawan dari setiap kelompok untuk dapat memberikan pendapatnya. Setiap

relawan yang dimintah adalah setiap siswa yang dianggap kurang begitu aktif di

kelas. Setelah itu guru memberi penguatan kepada siswa, dan selanjutnya guru

membimbing siswa untuk sama-sama membuat kesimpulan. Tak lupa pada akhir

pertemuan guru menyampaikan materi yang akan dibahas pada minggu depan dan

menutup pelajaran.

Observasi Siklus II, dilakukan oleh rekan kolaborator (guru TIK SMP

Negeri 9 Salatiga) yang bertugas untuk mengamati keaktifan siswa selama

Page 23: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

17

berlangsungnya proses pembelajaran siklus dua. Proses pengamatan aktifitas

siswa mengacu pada indikator keaktifan siswa. Berdasarkan hasil pengamatan

mengenai keaktifan siswa di kelas pada siklus II, diperloeh hasil bahwa keaktifan

siswa telah mengalami peningkatan yang sangat baik. Hal ini dapat ditunjukan

dengan meningkatnya nilai rata-rata keaktifan siswa yang sebelumnya pada masa

prapenelitian sebesar 39, 16%, pada siklus I naik menjadi 60,41%, dan pada siklus

II naik menjadi 87,49% dengan kategori sangat baik. Berikut adalah data

rekapitulasi hasil penilaian keaktifan siswa pada siklus II seperti yang ditunujukan

pada Tabel 12.

Tabel 12 Rekeapitulasi Hasil Observasi Keaktifan Siswa Pada Siklus II No. Indikator Banyak Siswa Persentase

1 Siswa mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru dengan baik 25 83,33

2 Siswa berani mengemukakan pendapatnya. 22 73,33

3 Siswa melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru 24 80

4 Siswa berani bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabilah tidak

memahami persoalan yang dihadapinya.

19 63,33

5 Siswa turut serta terlibat dalam melakukan tugas belajarnya 30 100 6 Siswa turut serta terlibat dalam pemecahan masalah 30 100

7 Siswa berusaha mencari berbagai sumber informasi yang diperlukan untuk

pemecahan masalah

30 100

8 Siswa melatih diri dalam memecahkan masalah atau soal dengan menggunakan

Schoology

30 100

Jumlah 238 699,99

Total Rata-Rata 87,49%

Berdasarkan rekapitulasi hasil lembar observasi keaktifan siswa dari

sebelum penerapan STAD dan schoology hingga sesudah penerapan STAD dan

schoology pada siklus I dan II, maka dapat dibuat diagram histogram untuk

melihat peningkatan rata-rata keaktifan siswa, seperti ditunjukan pada Gambar 7

berikut ini.

Gambar 8 Diagram Histogram Peningkatan Keaktifan Siswa

Setelah pembelajaran selesai, kemudian guru membagikan lembar angket

respon siswa kepada siswa dan menjelaskan cara untuk mengisi lembar angket

respon siswa. Adapun hasil dari pengisian angket respon siswa terhadap

penerapan metode pembelajaran STAD berbantuan schoology pada siklus II,

dapat dilihat seperti ditunjukan pada Tabel 13 berikut.

Page 24: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

18

Tabel 13 Rekapitulasi Hasil Angket Respon Siswa Pada Siklus II

Tabel 12 menunjukan bahwa terjadi peningkatan respon siswa terhadap

penerapan tindakan siklus, yang semulah pada siklus I sebesar 86,93% pada siklus

II naik menjadi 92.66% dengan interval sangat baik. Hal ini berarti siswa

merespon sangat baik terhadap penerapan metode pembelajaran STAD

berbantuan schoology.

Refleksi Siklus II, berdasarkan proses pengamatan terhadap proses

pembelajaran pada siklus II, maka dapat dibuat refleksi. Hasil pengamatan yang

dilakukan terhadap proses pembelajaran pada siklus II oleh rekan kolaborator,

ditemukan bahwa: 1) Nilai rata-rata keaktifan siswa yang sebelumnya pada siklus

sebesar 60,41% dengan kategori cukup baik, pada siklus II telah naik menjadi

87,49% dengan kategori sangat baik. 2) Respon siswa terhadap penerapan STAD

dan schoology sangat baik, yaitu sebesar 86,97% pada siklus I, pada siklus II naik

menjadi 92,66%. 3) Siswa sudah berani untuk mengemukakan pendapat disaat

diskusi kelompok. 4) Siswa telah berani untuk bertanya kepada siswa lain atau

kepada guru apabilah tidak memahami persoalan yang dihadapinya. 5) Semua

siswa telah yang melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru,

seperti agar jangan ramai saat dikusi, menggunakan giliran saat bicara dan berani

bertanya jika tidak paham. 6) Siswa telah semuanya turut serta terlibat dalam

pemecahan masalah, hal ini karena siswa yang memiliki kemampuan tingggi tidak

lagi mendominasi diskusi. Kekurangan yang ditemui pada pelaksanaan siklus II

adalah, pada saat proses pembelajaran STAD

5. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian ini, maka

dapat disimpulkan bahwa: pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan

schoology terbukti dapat meningkatkan keaktifan siswa. Hal ini dapat dilihat dari

meningkatnya nilai rata-rata keaktifan siswa yaitu sebelum penerapan tindakan

siklus, nilai rata-rata keaktifan siswa sebesar 39,16%, dengan kategori cukup baik.

Pada siklus I kemudian naik menjadi 60,41% dengan kategori cukup baik Pada

siklus II kemudian selanjutnya naik menjadi 87,49% dengan kategori sangat baik.

Penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan schoology

Pembelajaran TIK yang baru saja saya ikuti Skor total

Jawaban

Persentase

%

1 Lebih menyenangkan dari pada biasanya 145 96.66

2 Membantu saya lebih mudah memahami materi 141 94

3 Mendorong saya belajar lebih giat 143 95.33

4 Membuat saya berani bertanya kepada guru dan teman 137 91.33

5 Menimbulkan rasa senang dalam belajar 136 90.66

6 Menumbuhkan keberanian saya dalam mengemukakan pendapat 142 94.66

7 Menumbuhkan rasa percaya diri saya dalam menyelesaikan soal 139 92.66

8 Menjadi tertantang dalam mengerjakan soal 140 93.33

9 Melalatih kreaktifitas dan keterampilan penggunaan TIK saya 135 90

10 Membuat saya tidak merasa bosan dalam belajar 132 88

Jumlah 1390 2780

Rata-Rata 92.66

Page 25: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

19

terbukti juga mendapat respon positif dari siswa dengan kategori sangat baik. Hal

ini dapat dilihat dari meningkatnya respon siswa pada siklus I sebesar 87,4%.

Pada siklus II naik menjadi 92,66% dengan kategori sangat baik. Penerapan

metode pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan schoology terbukti juga

dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran TIK yang ditunjukan

dengan meningkatnya skor rata-rata hasil belajar siswa pada setiap siklusnya.

6. Saran.

Penerapan STAD berbantuan schoology pada penelitian ini hanya

menggunakan fitur quiz pada schoology. Sehingga bagi peneliti lain yang

mungkin tertarik untuk melakukan penelitian penerapan STAD berbantuan

schoology mungkin dapat menggunakan fitur lain yang ada pada schoology,

seperti fitur assignment, galery, chatting dan fitur lainnya sebagai bahan

penelitian.

7. Daftar Pustaka

[1] Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka setia.

[2] Abdullah, Ridwan, Sani 2013, Inovasi Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara.

[3] Susilana, Rudi dan Cepi Riyana. 2009. Media Pembelajaran Hakikat

Pengembangan, Pemanfaatan, Penilaian. Bandung: CV Wahana Prima.

[4] Huda. 2011. Cooperative Learning Metode Teknik Struktur dan Model

Penerapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

[5] Schoology website. 2015. Expect More From Your Learning Management

System. Online. https://www.schoology.com/faqs.php. 10 Oktober 2015

(18:00).

[6] Abidin, Muchlas. 2012. Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Mata

Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Melalui Model Pembelajaran

Kooperatif Tipe Student Team Achievment Division (Stad) Pada Siswa Kelas

V Madrasah Ibtidaiyyah Negeri Tegalrejo Sidorejo Ponjong Gunungkidul

Yogyakarta. Skripsi Universitas Islam Negeri Sunan kalijaga.Online

http://digilib.uinsuka.ac.id/10149/1/BAB%20I,%20IV,%20DAFTAR%20PU

STAKA.pdf. 09 sepetember 2015 (11.56).

[7] Mustofa. 2014. Upaya Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Melalui

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams

Achievement Divisions) Di Kelas VII C SMP Islam Diponegoro Surakarta.

Skripsi Univeristas Sebelas Maret Surakarta. Online.

http://eprints.uns.ac.id/20866/. 09 sepetember 2015 (12.30).

[8] Yusron, Narulita dan Zubaedi. 2011. Cooperative Learning Teori, Riset dan

Praktik. Bandung: Nusa Media

[9] Andayani. 2015. Probelema Dan Aksioma Dalam Metodelogi Pembelajaran

Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Deepublish.

[10] Warsono dan Hariyanto. 2012. Pembelajaran Aktif Teori dan Asesmen.

Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

[11] Ahmadi, Abu & Widodo Supriyono. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka

Cipta.

Page 26: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team

20

[12] Hollingsworth, Pat & Gina Lewis. 2008. Pembelajaran Aktif Meningkatkan

Keasyikan Kegiatan Di Kelas. Jakarta: PT Macanan Jaya Cemerlang

[13] Jamal Ma’mur Asmani. 2011. 7 Tips Aplikasi PAKEM (Pembelajaran Aktif,

Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Yogyakarta : Diva Press.

[14] Oemar Hamalik. (2005). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi

Aksara.

[15] Schoology website. 2015. Frequently Asked Questions.

Online.https://www.schoology.com/k-12.php. 10 Oktober 2015 (:17.50)

[16] Collins,K.2015. Course Materials: Tests/Quizzes.

https://support.schoology.com/hc/en-us/articles/207163137-Course-

Materials-Tests-Quizzes. 10 Oktober 2015 (18.15).

[17] Kunandar. 2014. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai

Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: PT Grajafindo Persada.

[18] Tukiran Taniredja dkk. 2010. Penelitian Tindakan Kelas Untuk

Pengembangan Profesi Guru Praktik, Prakstis, dan Mudah. Bandung:

Alfabeta.

[19] Saur Tampubulon. 2014. Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan

Profesi Pendidik dan Keilmuan. Jakarta: Erlangga.