Click here to load reader

Penelitian Asi Eksklusif

  • View
    48

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Penelitian Asi Eksklusif

Text of Penelitian Asi Eksklusif

41

BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang

Air Susu Ibu atau yang sering disingkat dengan ASI merupakan satu-satunya makanan yang terbaik untuk bayi, karena memiliki komposisi gizi yang paling lengkap untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. ASI merupakan makanan yang pertama, utama, dan terbaik bagi bayi, yang bersifat alamiah. Dahulu pemberian ASI ekslusif berlangsung sampai bayi berusia 4 bulan, namun belakangan sangat dianjurkan agar ASI eksklusif diberikan sampai anak berusia 6 bulan. Bahkan ASI dapat diberikan hingga usia 2 tahun selama produksi ASI masih banyak atau ketika anak sudah tidak mau lagi minum ASI (Sugiarti, 2011).Pemberian ASI Eksklusif sangat dianjurkan. Maksud ASI Eksklusif disini adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa makanan tambahaan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih dan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan tim sejak lahir hingga bayi umur 6 bulan (Sugiarti, 2011). Praktek pemberian ASI di negara berkembang telah berhasil menyelamatkan sekitar 1,5 juta bayi per tahun dari kematian dan kesakitan. Atas dasar tersebut World Health Organization (WHO) merekomendasikan untuk hanya memberikan ASI sampai bayi 6 bulan. Setiap tahunnya lebih dari 25.000 bayi di Indonesia dan 1.3 juta bayi di seluruh dunia dapat diselamtkan dari kematian dengan pemberian ASI Ekskluisif (Depkes RI, 2008)Kurangnya pengetahuan Ibu tentang pentingnya ASI Eksklusif dipengaruhi oleh promosi produk-produk makanan tambahan dan susu formula. Kemajuan teknologi dan canggihnya komunikasi, serta gencarnya promosi susu formula sebagai pengganti ASI, membuat masyarakat kurang mempercayai kehebatan ASI (Prasetiyono, 2012). Upaya pemberian ASI Eksklusif yang dilakukan oleh Ibu yang aktif bekerja sering kali mengalami hambatan lantaran singkatnya masa cuti hamil dan melahirkan.Sebelum pemberian ASI Eksklusif berakhir secara sempurna, Ibu harus kembali bekerja. Inilah yang menjadikan bayi tidak memperoleh ASI Eksklusif (Prasetiyono, 2012).Bayi yang tidak mendapat ASI tidak Eksklusif memiliki resiko kematian karena diare 3,94 kali lebih besar dibandingkan bayi yang mendapat ASI Eksklusif. Melihat angka kematian bayi di Indonesia yang masih relatif tinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, menyusui dampaknya signifikan dalam menurunkan kematian anak. Hal ini berarti memiliki peranan penting dalam MDGs (Prasetiyono, 2012).Pemberian ASI Eksklusif juga sanagat bermanfaat bagi Ibu, pemberian ASI dapat memperkecil resiko terkena kanker payudara, kanker ovarium, dan osteoporosis.Pemberian ASI juga memberi manfaat secara sosial ekonomi, di mana bayi yang diberikan ASI memiliki daya tahan tubuh jauh lebih kuat dari yang tidak di beri ASI.Kondisi ini jelas memberi keuntungan untuk keluarga yang kurang mampu sehingga pengeluaran untuk berobat bayi dapat dikurangi. Ditambah lagi ASI adalah sesuatu yang sifatnya gratis sehingga orang tua tidak perlu membeli susu formula untuk bayi yang harganya mahal (Josefa, 2012).Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 menunjukkan bahwa pemberian ASI di Indonesia saat ini memperihatinkan, presentase bayi yang diberikan ASI Eksklusif sampai dengan 6 bulan hanya 15,3%. Hal inidisebabkan kesadaran masyarakat dalam mendorong peningkatan pemberian ASI masih relatif rendah (Depkes, RI 2011).Secara nasional cakupan pemberian ASI Eksklusif di Indonesia pada tahun 2009 mencapai angka 34,3%. Menurut penelitian Rohani (2007) menunjukan bahwa tingkat pengetahuan ibu sangat berpengaruh terhadap pemberian ASI Eksklusif, hal ini ditunjukan akan terjadi peningkatan pemberian ASI Eksklusif jika disertai dengan peningkatan pengetahuan tentang ASI Eksklusif (Sugiarti, 2011). Menurut Salfina (2003) mengatakan bahwa 75,6% ibu yang tidak memberikan ASI Eksklusif adalah ibu dengan pendidikan tamat SD, dan berstatus sebagai pekerja lepas atau buruh (Firmansyah, 2012).Cakupan bayi yang mendapat ASI Eksklusif di Desa Kalisampurno Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo tahun 2014 sebesar 23% (34 dari 149 bayi) yang mendapatkan ASI Eksklusif. Sedangkan dari seluruh desa yang berada di Kecamatan Tanggulangin yang memeberikan ASI Eksklusif yaitu 49,3% (597 dari 1347 bayi). Berdasarkan target nasional sekitar 70% cakupan ASI Eksklusif masih dibawah target (Dinkes Sidoarjo, 2014). Berdasarkan uraian diatas menunjukkan masih rendahnya tingkat pemebrian ASI Ekskluisf oleh ibu pada bayinya. Hal ini disebabkan oleh banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi ibu dalam memberikan ASI Ekskluisf, salah satunya adalah tingkat pengetahuan ibu terhadap pemberian ASI Ekskluisf. Oleh karena itu, sebagai upaya untuk lebih mengetahui dan memahami bagaimana pengaruh tingkat penegrtahuan ibu terhadap pemberian ASI Eksklusif maka peneliti mencoba mambahasnya dalam bentuk penelitian dengan judul Pengaruh Pengetahuan Ibu Tentang Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif Terhadap Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif di Desa Kalisampurno Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo.

B. Rumusan MasalahMasalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :Adakah Pengaruh Pengetahuan Ibu Tentang Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif Terhadap Pemberian ASI Eksklusif di Desa Kalisampurno Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo?C. Tujuan Penelitian1. Tujuan UmumMengetahui adanya pengaruh antara Pengetahuan Ibu Tetang Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif Terhadap Pemberian ASI Eksklusif di Desa Kalisampurno Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo.

2. Tujuan KhususMenganalisis Pengaruh Pengetahuan Ibu Tentang Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif Terhadap Pemberian ASI EksklusifD. Manfaat penelitianHasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk : 1. Bagi peneliti: Menambah pengetahuan di bidang ilmu kedokteran dan ilmu kesehatan masyarakat mengenai pemberian ASI Eksklusif serta menambah pengalaman dalam meneliti secara langsung di lapangan.2. Bagi masyarakat: a. Menambah wawasan ilmu pengetahuan kesehatan masyarakat khususnya dalam bidang ASI. b. Menambah pengetahuan ibu tentang ASI dan manfaat pemberian ASIc. Menambah pengetahuan ibu tentang pengertian dan pemberian ASI Eksklusif.3. Bagi instansi terkait : a. Menjadi masukan bagi Puskesmas Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo dalam rangka meningkatkan pemberian ASI Eksklusifb. Sebagai masukan bagi ibu agar dapat memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya sampai usia 6 bulan.c. Sebagai masukan bagi puskesmas dan tenaga ahli untuk menyarankan agar ibu memberikan ASI secara Eksklusif serta menjelaskan manfaat pemberian ASI terhadap ibu dan bayinya. d. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai sumbangan pemikiran dan bahan pertimbangan untuk memberikan ASI Eksklusif kepada bayi sampai usia 6 bulan.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

A.Pengertian PengetahuanPengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga), dan indera penglihatan (mata) (Notoatmodjo, 2005). Pengetahuan itu sendiri dipengaruhi oleh faktor pendidikan formal. Pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan, dimana diharapkan bahwa dengan pendidikan yang tinggi maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Akan tetapi perlu ditekankan, bukan berarti seseorang yang berpendidikan rendah mutlak berpengetahuan rendah pula. Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek, yaitu aspek positif dan negatif. Kedua aspek ini yang akan menentukan sikap seseorang semakin banyak aspek positif dan objek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tertentu (Dewi & Wawan, 2010).

1. Proses Perilaku TAHU Menurut Rogers (1974) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), perilaku adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia baik yang dapat diamati langsung dari maupun tidak dapat diamati oleh pihak luar (Dewi & Wawan, 2010). Sedangkan sebelum mengadopsi perilaku baru didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni : a. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek). b. Interest(merasa tertarik) dimana individu mulai menaruh perhatian dan tertarik pada stimulus. c. Evaluation (menimbang-nimbang) individu akan mempertimbangkan baik buruknya tindakan terhadap stimulus tersebut bagi dirinya, hal ini berarti sikap responden sudah baik lagi. d. Trial, dimana individu mulai mencoba perilaku baru. e. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus. Pada penelitian selanjutnya Rogers (1974) yang dikutip oleh Notoadmojo (2003), menyimpulkan bahwa pengadopsian perilaku yang melalui proses seperti diatas dan didasari oleh pengetahuan, kesadaran yang positif, maka perilaku tersebut akan berlangsung langgeng (ling lasting). Namun sebaliknya jika perilaku tersebut tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran, maka perilaku tersebut bersifat sementara atau tidak akan berlangsung lama. Perilaku manusia dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek fisik, psikis dan sosial yang secara terinci merupakan refleksi dari berbagai gejolak kejiwaan seperti pengetahuan, motivasi, persepsi, sikap dan sebagainya yang ditentukan dan dipengaruhi oleh faktor pengalaman, keyakinan, sarana fisik, dan sosial budaya. 2. Tingkat Pengetahuan (Wawan & Dewi,2010,) Pengetahun yang cukup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu (Notoatmodjo, 2003) : a. Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah pelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya. b. Memahami (Comprehention) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. c. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. d. Analisis (Analysis) Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya. e. Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

f. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kreteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. 3. Cara Memperoleh Pengetahuan (Notoatmodjo, 2010) Dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah dapat dikelompokan menjadi dua, yakni: a. Cara Memperoleh Kebenaran Nonilmiah 1) Cara Coba Salah (Trial and Error) Cara memperoleh kebenaran non ilmiah, yang pernah digunakan oleh manusia dalam memperoleh pengetahuan adalah melalui cara coba coba atau dengan kata yang lebih dikenal trial and error. Metode ini telah digunakan oleh orang dalam waktu yang cukup lama untuk memecahkan berbagai masalah. Bahkan sampai sekarang pun metode ini masih sering digunakan, terutama oleh mereka yang belum atau tidak mengetahui suatu cara tertentu dalam memecahkan suatu masalah yang dihadapi. Metode ini telah banyak jasanya, terutama dalam meletakan dasar-dasar mennemukan teori-teori dalam berbagai cabang iilmu pengetahuan. 2) Secara Kebetulan Penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena tidak disengaja oleh orang yang bersangkutan. Salah satu contoh adalah penemuan enzim urease oleh Summers pada tahun 1926. 3) Cara Kekuasaan atau Otoritas Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasaan kebiasaan dan tradisi-tradisi yang dilakukan oleh orang, tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan tersebut baik atau tidak kebiasaan seperti ini tidak hanya terjadi pada masyarakat tradisional saja, melainkan juga terjadi pada masyarakat modern. Para pemegang otoritas, baik pemimpin pemerintah, tokoh agama, maupun ahli ilmu pengetahuan pada prinsipnya mempunyai mekanisme yang sama di dalam penemuan pengetahuan. 4) Berdasarkan Pengalaman Pribadi Pengalaman adalah guru yang baik, demikian bunyi pepatah. Pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh karena itu pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu. 5) Cara Akal Sehat Akal sehat atau common sense kadang-kadang dapat menemukan teori atau kebenaran. Sebelum ilmu pendidikan ini berkembang, para orang tua zaman dahulu agar anaknya mau menuruti nasihat orang tuanya,atau agar anak disiplin menggunakan cara hukuman fisik bila anaknya berbuat salah, misalnya dijewer telinganya atau dicubit. Ternyata cara menghukum anak ini sampai sekarang berkembang menjadi teori atau kebenaran, bahwa hukuman adalah merupakan metode (meskipun bukan yang paling baik) bagi pendidikan anak. Pemberian hadiah dan hukuman (reward and punishment) merupakan cara yang masih dianut oleh banyak orang untuk mendisiplinkan anak dalam konteks pendidikan. 6) Kebenaran Melalui Wahyu Ajaran dan dogma agama adalah suatu kebenaran yang diwahyukan dari Tuhan melalui para Nabi. Kebenaran ini harus diterima dan diyakini oleh pengikut-pengikut agama yang bersangkutan, terlepas dari apakah kebenaran tersebut rasional atau tidak. 7) Kebenaran secara Intuitif Kebenaran secara intuitif diperoleh manusia cepat sekali melalui proses diluar kesadaran dan tanpa melalui proses penalaran atau berpikir. Kebenaran yang diperoleh melalui intuitif sukar dipercaya karena kebenaran ini tidak menggunakan cara-cara yang rasional dan yang sisitematis. Kebenaran ini diperoleh seseorang hanya berdasarkan intuisi atau suara hati atau bisikan hati saja. 8) Melalui Jalan Pikiran Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara berfikir manusia pun ikut berkembang. Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuannya. Dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikirannya, baik melalui induksi maupun deduksi. 9) Induksi Induksi adalah proses penarikan kesimpulan yang dimulai dari pernyataan-pernyataan khusus ke pertanyaan yang bersifat umum. Proses berpikir induksi berasal dari hasil pengamatan indra atau hal-hal yang nyata, maka dapat dikatakan bahwa induksi beranjak dari hal-hal yang konkret kepada hal-hal yang abstrak. 10) Deduksi Deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan umum yang ke khusus. Aristoteles (384-322SM) mengembangkan cara berpikir deduksi ini ke dalam suatu cara yang disebut silogisme. Silogisme merupakan suatu bentuk deduksi berlaku bahwa sesuatu yang dianggap benar secara umumpada kelas tertentu, berlaku juga kebenarannya pada semua peristiwa yang terjadi pada setiap yang termasuk dalam kelas itu b. Cara Ilmiah dalam Memperoleh Pengetahuan Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistimatis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut metode penelitian ilmiah, atau lebih popular disebut metodologi penelitian (research methodology). Cara ini mula-mula dikembangkan oleh Francis Bacon (1561-1626). Ia mengatakan bahwa dalam memperoleh kesimpulan dilakukan dengan mengadakan observasi langsung, dan membuat pencatatan-pencatatan terhadap semua fakta sehubungan dengan objek yang diamati. Pencatatan ini mencakup tiga hal pokok yakni : 1) Segala sesuatu yang positif, yakni gejala tertentu yang muncul pada saat dilakukan pengamatan 2) Segala sesuatu yang negatif, yakni gejala tertentu yang tidak muncul pada saat dilakukan pengamatan 3) Gejala-gejala yang muncul secara bervariasi, yaitu gejala-gejala yang berubah-ubah pada kondisi-kondisi tertentu. 4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan (Dewi & Wawan, 2010) 1) Pendidikan Pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Menurut YB Mantra yang dikutip Notoatmodjo (2003), pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan (Nursalam, 2003) pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi. Pendidikan adalah segala usaha untuk membina kepribadian dan mengembangakan kemampuan manusia baik jasmani maupun rohani yang berlangsung seumur hidup di luar sekolah. Dalam karya tulis ilmiah ini pendidikan diartikan sebagai pendidikan formal yang telah diselesaikaan oleh ibu menyusui dan dibuktikan dengan ijazah, Secara luas pendidikan mencakup seluruh proses kehidupan individu sejak dalam ayunan hingga liang lahat, berupa interaksi individu dengan lingkunganya, baik secara formal maupun informal. Proses dalam kegiatan pendidikan pada dasarnya melibatkan masalah perilaku individu maupun kelompok. Kegiatan formal maupun informal berfokus pada proses belajar mengajar, dengan tujuan agar terjadi perubahan perilaku, yaitu dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti dan dari tidak dapat menjadi dapat. Makin tinggi pendidikan seseorang, maka makin mudah untuk menerima informasi sehingga semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat sikap terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan, termasuk mengenai ASI Ekslusif. Faktor pendidikan ibu mempengaruhi dalam pemberian ASI eksklusif karena ibu yang berpendidikan tinggi umumnya memiliki kesibukan di luar rumah sehingga cenderung meninggalkan bayinya (Nurjanah, 2007).2) Pekerjaan Menurut Thomas yang dikutip oleh Nursalam (2003), pekerjaan adalah kebutuhan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. Bekerja bukan alasan untuk menghentikan pemberian ASI eksklusif selama paling sedikit 4 bulan dan bila mungkin sampai 6 bulan, meskipun cuti hamil hanya 3 bulan. Dengan pengetahuan yang benar tentang menyusui, perlengkapan memerah ASI, dan dukungan lingkungan kerja, seseorang ibu yang bekerja dapat memberikan ASI secara eksklusif Menurut Utami Roesli (2000:38).Status pekerjaan ibu mempengaruhi dalam pemberian ASI ekskluisf karena seorang ibu yang bekerja diluar rumah akan sulit dalam memberikan ASI eksklusif (Soenardi, 2006).3) Umur Menurut Elisabeth BH yang dikutip Nursalam (2003), usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Sedangkan menurut Hurlock (1998) semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam dalam berfikir dan bekerja. Umur adalah lama waktu hidup atau ada (sejak dilahirkan atau diadakan). Dalam karya tulis ilmiah ini umur diartikan sebagai umur ibu menyusui yang dihitung pada saat penelitian dilakukan. Terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses interaksi dengan lingkungan. Oleh karena itu, semakin cukup umur maka semakin dewasa dan matang dalam berfikir dan bertindak. Dari segi kepercayaan masyarakat, seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari pada orang yang belum cukup kedewasaannya. Dari pernyataan di atas, semakin bertambahnya umur ibu akan berpengaruh terhadap pengetahuan ibu menyusui tentang ASI Eksklusif (Notoatmodjo, 2010).4) MinatMinat diartikan sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu dengan adanya pengetahuan yang tinggi didukung minat yang cukup dari seseorang sangatlah mungkin seseorang tersebut akan berperilaku sesuai dengan apa yang diharapkan.5) Dukungan SuamiMenurut Roesli, 2000, dari semua dukungan bagi ibu menyusui dukungan suami / sang ayah adalah dukungan yang paling berati bagi ibu. Suami dapat berperan aktif dalam keberhasilan pemberian ASI khususnya ASI eksklusif dengan cara memberikan dukungan secara emosional dan bantuan-bantuan yang praktis. Untuk membesarkan seorang bayi, masih banyak yang dibutuhkan selain menyusui seperti menyendawakan bayi, menggendong dan menenangkan bayi yang gelisah, mengganti popok, memandikan bayi, membawa bayi jalan-jalan di taman, memberikan ASI perah, dan memijat bayi. Kecuali menyusui semua tugas tadi dapat dikerjakan oleh suami.Dukungan suami sangat penting dalam suksesnya menyusui, terutama untuk ASI eksklusif. Dukungan emosional suami sangat berarti dalam menghadapi tekanan luar yang meragukan perlunya ASI. suamilah yang menjadi benteng pertama saat ibu mendapat godaan yang datang dari keluarga terdekat, orangtua atau mertua. suami juga harus berperan dalam pemeriksaan kehamilan, menyediakan makanan bergizi untuk ibu dan membantu meringankan pekerjaan istri. Kondisi ibu yang sehat dan suasana yang menyenangkan akan meningkatkan kestabilan fisik ibu sehingga produksi ASI lebih baik. Lebih lanjut ayah juga ingin berdekatan dengan bayinya dan berpartisipasi dalam perawatan bayinya, walau waktu yang dimilikinya terbatas.(Roesli, 2000).Suami yang berperan mendukung ibu agar menyusui sering disebut breast feeding father. Pada dasarnya seribu ibu menyusui mungkin tidak lebih dari sepuluh orang diantaranya tidak dapat menyusui bayinya karena alasan fisiologis. Jadi, sebagian besar ibu dapat menyusui dengan baik. Ketaatan mereka untuk menyusui ekslusif 4-6 bulan dan dilanjutkan hingga dua tahun yang mungkin tidak dapat dipenuhi secara menyeluruh. Itulah sebabnya dorongan ayah dan kerabat lain diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan diri ibu akan kemampuan menyusui secara sempurna (Khomsan, 2006).6) PengalamanPengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang lain. Pengalaman yang sudah diperoleh dapat memperluas pengetahuan seseorang.7) Tingkat EkonomiDalam memenuhi kebutuahan primer ataupun sekunder, keluarga dengan status ekonomi baik lebih mudah tercukupi dibanding dengan keluarga dengan status ekonomi rendah, hal ini akan mempengaruhi kebutuhan akan informai termasuk kebutuhan sekunder. Jadi dapat disimpulkan bahwa ekonomi dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang tentang berbagai hal.Friedman (2004) status ekonomi seseorang dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:Penghasilan tipe kelas atas> Rp 1.000.000,Penghasilan tipe kelas menengah = Rp 500.000 Rp 1.000.000Penghasilan tipe kelas bawah< Rp 500.000

8) Sosial Budaya ( informasi )Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi. Budaya dan kebiasaan dalam keluarga dapat mempengaruhi pengetahuan, persepsi, dan sikap seseorang terhadap sesuatu misalnya dengan memperoleh pengetahuan dari media majalah, surat kabar, televisi, radio dan lain sebagainya.Kriteria Tingkat Pengetahuan (Dewi & Wawan, 2010) Menurut Arikunto (2006) pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterprestasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu : a. Baik : Hasil presentase 76%-100%. b. Cukup : Hasil presentase 56% - 75%. c. Kurang : Hasil presentase >65%. B. Pengertian Air Susu Ibu (ASI)ASI (Air Susu Ibu) adalah makanan terbaik dan alamiah untuk bayi. Air susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik bayi pada awal usia kehidupan,hal ini tidak hanya karena ASI mengandung cukup zat gizi tetapi karena ASI mengandung zat imunologik yang melindumgi bayi dari infeksi praktek menyusui dinegara berkembang telah berhasil menyelamatkan sekitar 1,5 juta bayi pertahun, atas dasar tersebut WHO merekomendasikan hanya untuk memberikan ASI sampai bayi berusia 0 sampai 6 bulan ( Depkes RI, 2005).Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam-garam anorganikyang diekskresi oleh kelenjar payudara ibu yang berguna sebagai makanan bagi bayinya (WHO, 2004). Air Susu Ibu adalah cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar payudara ibu melalui proses menyusui. Secara alamiah, ibu mampu menghasilkan ASI. ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik pada bayi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama. Pada masa kehamilan ibu, hormon tertenatu merangsang payudara untuk memperbanyak saluran-saluran air susu dan kelenjar-kelenjar air susu (Khasanan, 2011).

C. Pengertian ASI EksklusifASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur 0 sampai 6 bulan. Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI ekskluisf ini (Depkes RI, 2004).ASI ekslusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain, seperti susu formula, jeruk, madu, air teh dan air putih serta tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, bubur susu, biskuit, bubur nasi dan nasi tim kecuali vitamin, mineral dan obat (Roesli, 2010).D. Proses terbentuknya ASIProses terbentukya ASI dipengaruhi 2 reflek yaitu:a. Reflek ProlaktinRangsangan isapan bayi melalui serabut syaraf akan memacuhipofise anterior untuk mengeluarkan hormon prolaktin kedalamaliran darah. Prolaktin memacu sel kelenjar untuk sekresi ASI.Makin sering bayi menghisap makin banyak prolaktin dilepas olehhipofise, makin banyak pula ASI yang diproduksi oleh sel kelenjar.b. Reflek Aliran (Let Down Reflek)Adalah pancaran ASI dari payudara oleh karena pengaruh hormonoksitosin yang dikeluarkan oleh kelenjar hipofise yang dirangsangoleh hisapan bayi yang membuat kontraksi otot (Depkes RI,2005).

E. Komposisi ASI dibedakan menjadi 3 macam :a. KolostrumAdalah cairan yang dihasilkan oleh kelenjar payudara setelah melahirkan (2-4 hari) yang berbeda karakteristik fisik dankomposisinya dengan ASI matang dengan volume 150-300 ml/hari.Berwarna kuning keemasan atau krem (creamy). Lebih kental dibandingkan dengan cairan susu tahap berikutnya. Kolostrum mempunyai kandungan yang tinggi protein, vitamin yang terlarutdalam lemak, mineral-mineral dan imunoglobin. Imunoglobin inimerupakan antibodi dari ibu untuk bayi yang juga berfungsi sebagaiimunitas pasif untuk bayi. Imunitas pasif akan melindungi bayidengan berbagai virus dan bakteri yang merugiakan. Kolostrum jugamerupakan pembersih usus bayi yang membersihkan mekoniumsehingga mukosa usus bayi yang baru lahir segera bersih dan siap menerima ASI.b. ASI peralihanAdalah ASI yang dihasilkan setelah kolostrum (8-20 hari) dimana kadar lemak, laktosa, dan vitamin larut air lebih tingg dan kadar 10 protein, mineral lebih rendah, serta megandung lebih banyak kaloridaripada kolostrum.c. ASI maturAdalah ASI yang dihasilkan 21 hari setelah melahirkan dengan volume bervariasi yaitu 300-850 ml/hari tergantung pada besarnya stimulasi saat laktasi. 90% adalah air karbohidrat, protein dan lemakyang diperlukan untuk kebutuhan hidup dan perkembangan bayi. ASI matur merupakan nutrisi bayi yang terus berubah disesuiakan dengan perkembangan bayi sampai 6 bulan. Volume ASI pada tahun pertama adalah 400-700 ml/ 24 jam, tahun kedua 200-400 ml/24jam, dan sesudahnya 200 ml/24 jam.Ada 2 tipe ASI matur:1) Foremilk: jenis ini dihasikan selama awal menyusui dan mengandung air, vitamin-vitamin dan protein.2) Hind-milk: jenis ini dihasilkan setelah pemberian awal saatmenyusui dan mengandung lemak tingkat tinggi dan sangat diperlukan untuk pertambahan berat badan bayi. Kedua jenis tersebut diatas adalah sangat dibutuhkan ketika ibumenyusui yang akan menjamin nutrisi bayi secara adekuat yang diperlukan sesuai tumbuh kembang bayi (Atikah, 2010).1. Kandungan Komposisi Zat Gizi Dalam ASI adalah sebagai berikut :a. KarbohidratKarbohidrat dalam ASI berbentuk laktosa (gula susu) yangjumlahnya tidak terlalu bervariasi setiap hari, dan jumlahnya lebihbanyak ketimbang dalam PASI. Rasio jumlah laktosa dalam ASI dan PASI adalh 7:4, sehingga ASI terasa lebih manis dibandingkan PASI. Hal ini menyebabkan bayi yang sudah mengenal ASI dengan baik cenderung tidak mau minum MPASI. Dengan demikian, pemberian ASI semakin berhasil. Hidrat arang dalam ASI merupakan nutrisi penting yang berperan dalam pertumbuhan sel saraf otak, serta pemberian energi untuk kerja sel-sel sel-sel saraf. Di dalam usus, sebagian laktosa akan diubah menjadi asam laktat, yang berfungsi mencegah pertumbuhan bakteri yang berbahaya, serta membantu penyerapan kalsium dan mineral-mineral lain.b. ProteinProtein dalam ASI lebih rendah bila dibandingkan dengan PASI.Meskipun begitu, whey dalam protein ASI hampir seluruhnya terserap oleh sistem pencernaan bayi.Hal ini dikarenakan whey ASI lebih lunak dan mudah dicerna ketimbang whey PASI. Kasein yang tinggi dengan dengan perbandingan 1 dan 0,2 akan membentuk gumpalan yang relatif keras dalam lambung bayi. Itulah yang menyebabkan bayi yang diberi PASI sering menderita susah buangair (sembelit), bahkan diare dan defekasi dengan feses berbentuk biji cabe yang menunjukkan adanya makanan yang sukar diserap oleh bayi yang diberi PASI.c. LemakSekitar setengah dari energi yang terkandung dalam ASI berasal darilemak yang lenih mudah dicerna dan diserap oleh bayi ketimbang PASI. Hal ini dikarenakan ASI lebih banyak mengandung enzimpemecah lemak (lipase). Kandungan total lemak dalam ASI para ibubervariasi satu sama lain, dan berbeda-beda dari satu fase menyusuike fase berikutnya. Pada mulanya, kandungan lemak rendah,kemudian meningkat jumlahnya. Komposisi lemak pada menit-menit awal menyusui awal menyusui berbeda dengan 10 menit kemudian.Demikian halnya dengan kadar lemak pada hari pertama, kedua, dan seterusnya, yang akan terus berubah sesuai kebutuhan energi yang diperlukan dalam perkembangan tubuh bayi. Jenis lemak dalam ASI mengandung banyak omega-3, omega-6, dan DHA yang dibutuhkan dalam pembentukan sel-sel jaringan otak. Meskipun produk PASI sudah dilengkapi ketiga unsur tersebut, susu formula tetap tidak menagandung enzim, karena enzim mudah rusak bila dipanaskan. Dengan tidak adanya enzim, bayi sulit menyerap lemak PASI, sehingga menyebabkan bayi lebih mudah terkena diare. Jumlah asam linoleat dalam ASI sangat tinggi dan perbandingannya dengan PASI adalah 6:1. Asam linoleat inilah yang berfungsi memacu perkembangan sel saraf otak bayi.d. MineralASI mengandung mineral yang lengkap. Walaupun kadarnya relative rendah, tetapi bisa mencukupi kebutuhan bayi sampai berumur 6 bulan. Zat besi dan kalsium dalam ASI merupakan mineral yang sangat stabil, mudah diserap tubuh, dan berjumlah sangat sedikit. Sekitar 755 dari zat yang terdapat dalam ASI dapat diserap oleh usus. Lain halnya dengan zat basi yang bisa terserap dalam PASI, yang hanya berjumlah sekitar 5-10%. ASI juga mengandung natrium, kalium, fosfor, dan klor yang lebih sedikit ketimbang PASI. Meskipun sedikit, ia tetap mencukupi kebutuhan bayi. Kandungan mineral dalam PASI cukup tinggi. Jika sebagian besar tidak dapt diserap, maka akan memperberat kerja usus bayi, serta mengganggu sistem keseimbangan dalam pencernaan, yang bisa merangsang pertumbuhan bakteri yang merugikan. Inilah yang menjadikan perut bayi kembung, dan ia pun gelisah lantaran gangguan metabolisme.e. VitaminApabila makanan yang dikonsumsi oleh ibu memadai, berarti semuavitamin yang diperlukan bayi selam 6 bulan pertama kehidupannya dapat diperoleh dari Asi. Sebenarnya, hanya ada sedikit vitamin D dalam lemak susu. Terkait itu, ibu perlu mengetahui bahwa penyakit polio jarang menimpa bayi yang diberi ASI, bila kulitnya sering terkena sinar matahari. Vitamin D yang larut air terdapat dalam susu. Mengenai hal ini perlu diketahui bahwa vitamin tersebut bisa ditambahkan kedalam vitamin D yang larut lemak. Dan jumlah vitamin A, tiamin dan vitamin C bervariasi sesuia makanan yang dikonsumsi oleh ibu. (Dwi sunar, 2009)

F. Hal- hal yang mempengaruhi produksi ASIa. MakananProduksi ASI sangat dipengaruhi oleh makanan yang dimakan ibu,apabila makanan ibu secara teratur dan cukup mengandung gizi yangdiperlukan akan mempengaruhi produksi ASI.b. Ketenangan Jiwa dan fikiranProduksi ASI sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan, ibu yangselalu dalam keadaan tertekan, sedih, kurang percaya diri danberbagai bentuk ketegangan emosional akan menurunkan volume ASI bahkan tidak akan terjadi produksi ASI.c. Penggunaan alat kontrasepsiPada ibu yang menyusui bayinya penggunaan alat kontrasepsihendaknya diperhatikan karena pamakaina kontrasepsi yang tidaktepat dapat mempengaruhi produksi ASI.d. Perawatan payudaraDengan merangsang buah dada akan mempengaruhi hypopise untukmengeluarkan hormon progesteron dan estrogen lebih banyak lagi dan hormon oxytocin.

e. FisiologiTerbentuknya ASI dipengaruhi hormon terutama prolsktin inimerupakan hormon laktogenik yang menentukan dalam hal pengadaan dan mempertahnkan sekresi air susu.f. Faktor istirahatBila kurang istirahat akan mengalami kelemahan dalam menjalankanfungsinya dengan demikian pembentukan dan pengeluaran ASI berkurang.g. Faktor isapan anakBila ibu menyusui anak segera jarang dan berlangsung sebentarmaka hisapan anak berkurang dengan demikian pengeluaran ASI berkurang (Weni, 2009)G. Volume Produksi ASI Pada bulan terakhir kehamilan, kelenjar-kelenjar pembuat ASI mulai menghasilkan ASI. Dalam kondisi normal, pada hari pertamadan kedua sejak bayi lahir, air susu yang dihasilkan sekitar 50-100ml/hari. Jumlahnya pun meningkat hingga 500ml pada minggu kedua.Dan, produksi ASI semakin efektif dan terus menerus meningkat pada10-14 hari setelah melahirkan. Kondisi tersebut berlangsung hingga beberapa bulan kedepan.Bayi yang sehat mengkonsumsi 700-800ml ASI setiap hari setelah memasuki masa 6 bulan volume pengeluaran air susu mulai menurun.Sejak saat itu, kebutuhan gizi tidak lagi dapat dipenuhi oleh ASI, dan harus mendapatkan makanan tambahan.Secara fisiologis, ukuran payudara tidak mempengaruhi volume air susu yang diproduksi. Artinya, jumlah ASI yang diproduksi tidak tergantung pada besar atau kecilnya payudara. Jumlah produksi ASI bervariasi setiap hari, karena dipengaruhi oleh kandungan nutrisi ibu.ASI yang dibutuhkan oleh bayi sesuai tingkat pertumbuhan dan perkebangannya. Semakin sehat bayi, semakin banyak ASI yang harus dikonsumsinya.Menurut Deddy Volume ASI yang diproduksi dipengaruhi oleh kondisi psikis seorang ibu dan makanan yang dikonsumsinya. Oleh karena itu, ibu tidak boleh merasa stress dan gelisah secara berlebihan.Keadaan ini sangat berpengaruh terhadap volume ASI pada minggupertama menyusui bayi (Deddy Muchtadi ,2010).Jumlah air susu pada ibu yang kekurangan gizi sekitar 500-700ml setiap hari selama 6 bulan pertama, 400-600ml pada 6 bulan kedua, serta 300-500ml pada tahun kedua kehidupan bayi. Kekurangan gizi dikarenakan cadangan lemak yang tersimpan dalam tubuh ibu pada masa kehamilan ttidak mencukupi kebutuhan, yang kelak akan digunakan sebagai salah satu komponen ASI dan sumber energi selama menyusui. Meskipun begitu, peningkatan konsumsi makanan pada ibu hamil belum tentu meningkatkan maningkatkan produksi air susunya. Sebenarnya, gizi dalam makanan yang dikonsumsi oleh ibu hamil itulah yang menjadi faktor dominan yang berpengaruh terhadap volume produksi ASI. Pada beberapa kasus, jumlah produksi ASI pada ibu yang kekurangan gizi sering kali menurun, dan akhirnya berhenti sama sekali. Didaerah-daerah yang banyak ditemui ibu yang sangatkekurangan gizi, dapat dicermati adanya marasmus pada bayi bayi yang berumur enam bulan, yang hanya diberi ASI (Dwi Sunar, 2009).H. Kualitas fisik ASI yang baikSebenarnya, tampilan ASI berbeda setiap saat lantaran kandungannya berubah-ubah, termasuk kandungan lemak dan warna ASI. Hal-hal yang perlu diketahui oleh ibu adalah:a. Jumlah lemak dalam ASI akan berfluktuatif dari hari kehari. ASI yangkeluar pada menit-menit pertama setelah persalinan akan berbedawarnanya dengan ASI yang keluar dihari berikutnya.b. ASI yang baru saja diperas mengandung banyak protein dan terlihatlebih encer ketimbang ASI yang dikeluarkan pada menit-menitberikutnya.c. warna ASI tidak tergantung pada makanan dan minuman yangdikonsumsi oleh ibu.d. Pewarna makanan, minuman soda, jus buah dan hidangan penutup yang mengandung gelatin tidak mengubah warna ASI menjadi pinkatau oranye.e. ASI berwarna pink mengindikasikan adanya darah dalam ASI. Halini dikarenakan puting payudara lecet.f. Dalam kondisi normal ASI segar, berbau dan beraroma manis.g. Jika ASI perasan berbau asam, pahit, dan anyir mungkin ASI telah basi ( Dwi, 2009).I.Manfaat ASIa. Bagi bayi1) Dapat membantu memulai kehidupannya dengan baik. Bayi yang diberi ASI mempunyai kenaikan berat badan yang baik setelahlahir, pertumbuhan setelah periode perinatal baik, danmengurangi kemungkinan obesitas.2) Mengandung antibodi3) ASI mengandung komposisi yang tepat.4) Mengurangi kejadian karies dentis.5) Memberi rasa nyaman dan aman pada bayi dan adanya ikatanantara ibu dan bayi.6) Terhindar dari alergi.7) ASI meningkatkan kecerdasan bagi bayi (weni K, 2009).b. Bagi ibu1) Aspek kontrasepsiHisapan mulut bayi pada putting susu merangsang ujung syarafsensorik sehingga post anterior hipofise mengeluarkanprolaktin. Prolaktin masuk keindung telur, menekan produksi estrogen akibatnya tiak ada ovulasi.2) Aspek kesehatan ibuIsapan bayi pada payudara akan merangsang terbentuknyaoksitosin oleh kelenjar hipofisis. Oksitosin membantu involusiuterus dan mencegah terjadinya perdarahan pasca persalinan.3) Aspek penurunan berat badanIbu yang memberikan ASI eksklusif ternyata lebih mudah dan lebih cepat kembali keberat badan semula seperti sebelum hamil.4) Aspek psikologisIbu yang menyusui akan merasa bangga dan diperlukan, rasa yang dibutuhkan oleh semua manusia (Weni K, 2009).c. Bagi Keluarga1) Aspek ekonomiASI tidak perlu dibeli, sehingga dana yang seharusnya digunakanuntuk membeli susu formula dapat digunakan untuk membeli susu formula dapat digunakan untuk keperluan lain.

2) Aspek psikologisKebahagiaan keluarga bertambah, karena kelahiran lebih jarang,sehingga suasana kejiwaan ibu baik dan dapat mendekatkan hubungan bayi dengan keluarga.3) Aspek kemudahanMenyusui sangat praktis, karena dapat diberikan dimana sajadan kapan saja (weni K, 2009).

BAB IIIA. Kerangka Konsep

Pengetahuan tentang Air Susu Ibu (ASI) EksklusifPendidikanUsiaDukungan SuamiInformasiAda beberapa faktor pengetahuan ibu yang berkaitan dengan masalah penelitian ini antara lain seperti yang digambarkan berikut ini:

PekerjaanIRTWiraswastaPNS

TINDAKAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF

EkonomiPenghasilan AtasPenghasilan MenengahPenghasilan Bawah

PengalamanMinat

BAGAN 3.1Kerangka Konsep Penelitian

TIDAK DITELITIDITELITIKet : B. Uraian Kerangka Konsep

Pendidikan ibu mempunyai pengaruh terhadap pemberian ASI Ekslusif karena ibu yang berpendidikan tinggi umunya mempunyai kesibukan di luar rumah sehingga cendereung meininggalkan bayinya (Nurjanah, 2007)Umur ibu mempengaruhi dalam pemberian ASI Eksklusif karena semakin cukup umur ibu maka semakin dewasa dan matang dalam berfikir dan bertindak dalam pemberian ASI Ekskluisf (Soenardi, 2006)Dukungan suami mempengaruhi dalam pemberian ASI Eksklusif karena dukungan suami merupakan dorongan yang sangat berperan dalam pemberian ASI Eksklusif (Roesli, 2000).Informasi berpengaruh terhadap pemberian ASI Eksklusif karena melaui media masa, ibu dapat memperoleh penegetahuan termasuk sala satunya tentang ASI Eksklusif. (Roesli, 2000).

C. Hipotesis1. Ada pengaruh antara pengetahuan ibu tentang Air Susu Ibu (ASI) eksklusif terhadap pemberian ASI Eksklusif di Desa Kalisampurno Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo.

BAB IVMETODE PENELITIAN

A. Jenis penelitianJenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pengambilan data secara cross sectional karena pengumpulan data variable bebas dan variable terikatnya dilakukan satu kali dalam kurun waktu tertentu.

B.LokasidanWaktuPenelitian1. Lokasi PenelitianLokasi penelitian adalah di Desa Kalisampurno Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo.2. Waktu PenelitianPenelitian ini akan dilaksanakan pada tanggal 14 Juni 2015 sampai selsesai.

C. Populasi dan Sampel1.PopulasiMenurut Sugiono, populasi merupakan seluruh objek atau objek dengan karakteristik tertentu yang akan diteliti, bukan hanya objek atau subjek yang diplejari saja tetapi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki subjek atau objek tersebut. Populasi dikatakan sebagai kumpulan orang, indivdu atau objek yang akan diteliti sifat-sifat atau karrakterisktiknya (Hidayat, 2010)Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki anak Batita (Bayi Usia dibawah Tiga Tahun) di Desa Kalisampurno Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo sebanyak 149 orang yang datang di posyandu 1-4 di Desa Kalisampurno Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo. 2. SampelSampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Hidayat,2010).Sampel penelitian ini adalah semua ibu yang menyusui bayinya lebih dari 6 bulan sampai 2 tahun yang datang di Desa Kalisapurno Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo.Adapun kriteria inklusi dari subjek penelitian:a. Ibu yang memberikan ASI pada bayinya lebih dari 6 bulan 2 tahunb. Rutin datang ke posyandu setiap bulannyac. Bersedia diwawancaraiKriteria eksklusi :a. Ibu yang memberikan ASI pada bayinya 6 bulan

3. Besar sampelSampel minimal yang diperlukan berdasarkan rumus mencari jumlah minimal dengan rumusbesar sampel menurut Sudigdo (2011) yaitu :

`n = Z2.P.Q d2Keterangan :n = Besar sampel yang diperlukanZ = Nilai standart score dari suatu distribusi normal dengan kesalahan d = Presisi absolute yang ditetapkan oleh peneliti yaitu berapa penyimpangan dari yang diharapkan peneliti terhadap proporsi. Pada penelitian ini menggunakan nilai 0,1P = Proporsi kejadian (34/149=0,228 0,23 )Q = 1 Pn = 1,962 x 0,23 x (1 0,23) ( 0,1)2

n = 68,034768Jadi besar sampel ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya lebih dari 6 bulan 2 tahun yang digunakan dalam penelitian ini adalah 68 orang.

4. Cara penarikan sampelCara penarikan sampel dalam penelitian ini adalah dengan tehnik Cluster Random Sampling

Kerangka operasional

Populasisemua ibu yang memiliki Batita ( bayi dibawah usia tiga tahun) di Desa Kalisampurno Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo.

Cluster Random Sampling

Sampelsemua ibu yang menyusui bayinya lebih dari 6 bulan 2 tahun yang datang di Posyandu di Desa Kalisampurno Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo.

Dilakukanpengukuranmelauikuesioner :1`.Pendidikan ibu menyusui2. Umur ibu menyusui3. Dukungansuami4. Informasitentang ASI

Gambar 4.1Kerangka operasional pengetahuan ibu terhadap pemberian ASI EksklusifC. Variabel PenelitianMenurut Notoatmojo (2010) variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang suatu konsep pengertian tertentu, misalnya umur, jemis kelamim, pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, pengetahuan, pendapatan, penyakit dsb.1. Variabel bebas (independen)a. Pendidikan ibub. Umur Ibuc. Dukungan suamid. Informasi tentang ASI2. Variabel terikat (dependen)a. Pemberian ASI EksklusifI. Definisi Operasional dan Cara PengukuranNOVARIABEL DEPENDENT (Y)Definisi OperasionalCara UkurKategoriSkala Ukur

1.Pemberian ASI EkslusifPerilaku ibu yang memberikan ASI saat lahir hingga usia 6 bulan tanpa makanan penggantiKuesioner1. Ya2. TidakNominal

VARIABEL INDEPENDENT (X)

2.Pendidikan IbuTingkat Pendidikan Ibu saat dilakukan wawancaraKuesioner1. Rendah (SLTA)2.Tinggi (SLTA)Nominal

3.UmurTingkat kematangan pemikiran terhadap suatu permasalahan berdasarkan wawancaraKuesioner1Kurang(25th)Nominal

4.Dukungan suamiMenciptakan suasana positif seperti menyediakan sarana dan prasarana (pump breast, babby carrier) serta dukungan penuh terhadap pemberian ASIKuesioner1.Berpengaruh (Ya)2. Tidak berpengaruh(Tidak)Nominal

5.Informasi tentang ASIMelalui media masa ibu dapat memperoleh pengetahuan tentang pentingnya pemberian ASI EksklusifKuesionr1. Media Elektronik (TV, radio)2. Media Massa (koran, majalah)3. Petugas Kesehatan (dokter, bidan dll)Nominal

Gambar 4.2 Definisi Operasional Sumber hasil wawancara

G. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data1.Teknik Pengumpulan DataDalam penelitian ini data yang dikumpulkan meliputi:a. Data primerMerupakan data yang diperoleh dari pengamatan di lapangan, dilakukan secara langsung melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner pada ibu dan data yang diperoleh terdiri atas :1. Data pendidikan ibu di Desa Kalisampurno Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo2. Data umur ibu di Desa Kalisampurno Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo3. Data dukungan suami di Desa Kalisampurno Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo4. Data informasi Ibu di Desa Kalisampurno Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo.b. Data SekunderMerupakan data yang didapatkan secara tidak langsung yang bermanfaat untuk mendukung penelitian dan hanya digunakan untukmelengkapi data primer yang telah ada, dalam penelitian ini data sekundernya diperoleh dari data Desa Kalisampurno Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo.

2. Instrumen Pengumpulan DataInstrumen yang digunakan dalam pengumpulan data menggunakan kuesioner berupa pertnayaan tertutup (close ended) dan berbentuk multiple choice untuk mendapatkan data tentang variabel dependent dan independent.

H.Pengolahan dan Analisis Data1`. Pengolahan Dataa. Seleksi dataPemeriksaan data di lakukan lapangan, mulai dari mengecek nama dan kelengkapan identitas sehingga dapat menghasilkan data yang akurat untuk pengelolaan data. Selanjutnya memeriksa apakah semua kuesioner sudah terjawab dengan tepat dan jelasb. Pemberian kodeSetelah dilakukan editing kemudian penulis memberikan kode pada tiap data sehingga memudahkan dalam melakukan analisis data.c. Pengelompokan dataPada tahap ini, mengelompokkan jawaban responden yang sama kemudian dapat dituliskan dalam bentuk tabel dan langkah selanjutnya adalah memasukkan data ke dalam program komputer untuk dianalisis (Hasan, 2009)

2. Analisis dataHasil penelitian akan ditampilkan dalam bentuk tabel silang. Untuk mengetahui hubungan antara variabel dependent dan variabel independent dilakukan uji chi square, jika hasil tidak memenuhi syarat maka yang dibaca adalah fishers exact test (Riyono, 1992). Kemudian dilanjutkan dengan uji Kontingensi yang bertujuan untuk menilai besarnya pengaruh pengetahuan ibu terhadap pemberian ASI Eksklusif. Uji statistik dilakukan untik mengetahui apakah ada pengaruh pengetahuan ibu terhadap pemberian ASI Eksklusif di Desa Kalisampurno Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS for wind.

BAB VHASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Desa KalisampurnoDesa Kalisampurno merupakan salah satu desa di Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur dengan luas wilayah 107.787 hektar/m2. Desa ini merupakan desa binaan dari wilayah Puskesmas Tanggulangin dan terbagi menjadi 4 wilayah kerja posyandu .Desa ini mempunyai 59 Rukun Tetangga (RT), 9 Rukun Warga (RW). Jumlah penduduk Desa Kalisampurno pada tahun 2015 adalah 3726 penduduk laki-laki & 4429 penduduk perempuan dengan jumlah keseluruhan 8155 jiwa. (Puskesmas Tanggulangin, 2014).B. Letak GeografisDesa Kalisampurno merupakan salah satu desa di Kecamatan Tanggulangin dan bagian dari wilayah kerja Puskesmas Tanggulangin, terletak di daerah dataran rendah terdiri pemukiman dan berbagai industrial dengan batas wilayah sebagai berikut (Puskesmas Tanggulangin).

1. Sebelah utara: Desa Kludan2. Sebelah selatan: Desa Wunut Kec. Porong3. Sebelah barat: Desa Kedensari4. Sebelah timur: Desa Ketapang /KalitengahC. Data DemografiJumlah penduduk Desa Kalisampurno adalah 8155 jiwa. Menurut jenis kelamin laki-laki terdapat 3726 jiwa dan perempuan 4429 jiwa sedangkan jumlah kepala keluarga (KK) sekitar 1023. Jumlah Wanita Usia Subur (WUS) adalah 302 jiwa dan Pasangan Usia Subur (PUS) berkisar 344 pasang. D. Data Kesehatan Masyarakat1. Jumlah kematian umum: 21 jiwa2. Jumlah kematian bayi (0-1 tahun): 1 jiwa3. Jumlah kematian Anak balita (1-5 tahun):-4. Jumlah kematian ibu bersalin:-5. Jumlah K1 bumil: 1 jiwa6. Jumlah K4 bumil:24 jiwa7. Jumlah bumil risti:8 jiwa8. Jumlah persalinan nakes:24 jiwa9. Jumlah persalinan oleh dukun:-10. Jumlah ibu nifas dapat yankes standart:24 jiwa11. Jumlah kelahiran hidup:24 jiwa12. Jumlah KN 1:24 jiwa13. Jumlah KN 2:24 jiwa14. Jumlah bayi dengan risiko tinggi (risti):7 bayi15. Jumlah kelahiran BBLR:-16. Jumlah rata-rata:211 anak17. Jumlah rata-rata balita yang naik BB:19618. Jumlah rata-rata balita tidak naik BB:15 anak19. Jumlah bayi Bawah Garis Merah (BGM):1 anak20. Jumlah balita BGM (13-69 bulan):-21. Jumlah bayi BB pada pita kuning diatas garis merah:2 bayi22. Jumlah balita BB pada pita kuning diatasgaris merah:1123. Jumlah bayi yang Inisiasi Menyusu Dini 9 IMD):2424. Jumlah bayi dengan ASI Ekskluisf :34 bayi25. Jumlah bayi (6-11 bulan) dapat vit.A (warna biru):4926. Jumlah balita (12-59 bulan) dapat vit.A (warna merah):21127. Cakupan imunisasi dasar lengkap 25 tahun sebanyak 58,8%, sedangkan responden yang memiliki umur 15-25 tahun sebanyak 26,5%, dan responden yang memliki umur