of 13/13
BIDANG KURIKULUM PENDEKATAN KURIKULUM Suatu pendekatan individual terhadap kurikulum mencerminkan bahwa pandangan seseorang mencangkup apa yang dirasa sebagai suatu pertimbangan yang penting. Pendekatan kurikulum mencerminkan posisi holistic atau metaorientation untuk merubah kurikulum filosofi, pandangan sejarah, psikologi dan teori pembelajaran, bagian-bagian dan pengetahuan penting dalam kurikulum, serta prinsip teori dan praktek kurikulum. Sebuah pendekatan menggambarkan tentang perkembangan dan rancangan kurikulum, peran pelajar, guru, dan ahli kurikulum dalam merencanakan kurikulum, tujuan kurikulum, serta isu-isu penting yang perlu diuji. Pendekatan kurikulum mencerminkan pandangan kita terhadap sekolah dan masyarakat. Dengan memahami suatu pendekatan kurikulum, bisa disimpulkan apakah pandangan seseorang yang professional bertentangan dengan pandangan organisasi formal. Meskipun suatu sekolah kadang-kadang cendrung menggunakan satu pendekatan kurikulum, banyak pendidik yang tidak bisa menggunakan hanya satu pendekatan akan tetapi dalam situasi tertentu mereka menggabungkan satu pendekatan dengan pendekatan yang lain. Pendekatan kurikulum bisa dilihat dari perspeksi teknik dan nonteknik atau ilmiah dan nonilmiah. 1. Pendekatan Behavioral-Rational Pendekatan ini merupakan pendekatan yang paling lama dan masih menjadi pendekatan utama kurikulum yang berasal dari Universitas Chicago. Pendekatan ini mengandalkan teknik dan prisip ilmiah, mencangkup bentuk dan strategi untuk merumuskan kurikulum.

PENDEKATAN KURIKULUM - annymath · PDF filekurikulum, serta prinsip teori dan praktek kurikulum. Sebuah pendekatan menggambarkan tentang perkembangan dan rancangan kurikulum, peran

  • View
    229

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of PENDEKATAN KURIKULUM - annymath · PDF filekurikulum, serta prinsip teori dan praktek...

  • BIDANG KURIKULUM

    PENDEKATAN KURIKULUM

    Suatu pendekatan individual terhadap kurikulum mencerminkan bahwa

    pandangan seseorang mencangkup apa yang dirasa sebagai suatu pertimbangan

    yang penting. Pendekatan kurikulum mencerminkan posisi holistic atau

    metaorientation untuk merubah kurikulum filosofi, pandangan sejarah, psikologi

    dan teori pembelajaran, bagian-bagian dan pengetahuan penting dalam

    kurikulum, serta prinsip teori dan praktek kurikulum. Sebuah pendekatan

    menggambarkan tentang perkembangan dan rancangan kurikulum, peran

    pelajar, guru, dan ahli kurikulum dalam merencanakan kurikulum, tujuan

    kurikulum, serta isu-isu penting yang perlu diuji.

    Pendekatan kurikulum mencerminkan pandangan kita terhadap sekolah

    dan masyarakat. Dengan memahami suatu pendekatan kurikulum, bisa

    disimpulkan apakah pandangan seseorang yang professional bertentangan

    dengan pandangan organisasi formal.

    Meskipun suatu sekolah kadang-kadang cendrung menggunakan satu

    pendekatan kurikulum, banyak pendidik yang tidak bisa menggunakan hanya

    satu pendekatan akan tetapi dalam situasi tertentu mereka menggabungkan satu

    pendekatan dengan pendekatan yang lain. Pendekatan kurikulum bisa dilihat dari

    perspeksi teknik dan nonteknik atau ilmiah dan nonilmiah.

    1. Pendekatan Behavioral-Rational

    Pendekatan ini merupakan pendekatan yang paling lama dan masih

    menjadi pendekatan utama kurikulum yang berasal dari Universitas Chicago.

    Pendekatan ini mengandalkan teknik dan prisip ilmiah, mencangkup bentuk dan

    strategi untuk merumuskan kurikulum.

  • Pendekatan yang telah diaplikasikan untuk seluruh mata pelajaran selama

    2/3 abad ini merupakan suatu badan referensi yang bertentangan dengan

    pendekatan yang lain. Berbagai macam pendekatan sekarang ini memberikan

    perhatian lebih terhadap masalah pengembangan dan perancangan. Masalah-

    masalah teoretikal yang bermanfaat adalah segala sesuatu yang berhubungan

    dengan persoalan teknis untuk pengembangan atau perancangan. Masalah-

    masalah praktikal adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan logika, tata

    tertib dan rasionalitas. Kesimpulannya, kebanyakan orang yang merencanakan

    dan mengembangkan kurikulum memanfaatkan pendekatan ini.

    2. Pendekatan Systems-Managerial

    Pendekatan ini berpendapat bahwa sekolah sebagai suatu system sosial

    dimana murid-murid, guru, ahli kurikulum, dan yang lain-lain berinteraksi

    berdasarkan norma dan kebiasaan tertentu.

    Pendekatan Systems-Managerial yang merupakan cabang dari Pendekatan

    Behavioral-Rational mencangkup prinsip-prisip rasional tetapi tidak terlalu

    mementingkan pendekatan behavioral.

    Pendekatan ini berasal dari sekolah awal yang terorganisasi dan

    administrative pada tahun 1920an dan 1930an, dan menggabungkan kurikulum

    inofatif dan perencanaan instruksional yang berpusat pada individu, kelompok,

    tingkat, dan aktifitas kerja sosial.

    Pendekatan System-Managerial menjadi model kurikulum dominan pada

    tahun 1950an dan 1960an untuk Association Supervision and Curriculum

    Development dan sekolah persatuan yang penting dan yang diperuntukkan.

    Untuk menyusun kurikulum menjadi suatu system seperti Engineering ,

    proses yang penting untuk perencanaan kurikulum adalah penggerak, direktur,

  • dan kepala sekolah; Langkah-langkahnya: pengembangan, perancangan,

    implementasi dan evaluasi; struktur: mata pelajaran, kursus, unit dan pelajaran.

    3. Pendekatan Intellectual-Academic

    Kadang-kadang pendekatan ini mengacu kepada pendekatan tradisional.

    Encyclopedic, synoptic, knowledge-oriented. Pendekatan ini lebih cendrung

    menjadi sejarah atau filosofi dan sosialisasi di alam sekitar. Pendiskusian

    pembuatan kurikulum ini biasanya secara ilmiah dan teori (bukan praktek) dan

    memperhatikan banyak aspek termasuk pembelajaran pendidikan.

    Pendekatan ini berasal dari kerja filosofi dan intelektual John Dewey,

    Henry Morrison, dan Boyd Bode yang menjadi popular antara tahun 1930an dan

    1950an.

    Setelah tahun 1950an, ketertarikan utama terhadap kurikulum berpusat

    kepada struktur disiplin dan metode kualitatif.

    4. Pendekatan Humanistic-Aesthetic

    Pendekatan ini berasal dari filosofi progress dan kegiatan perpindahan

    kurikulum dari 1920an dan 1930an yang mengutamakan kebutuhan dan

    ketertarikan anak yang dipelopori oleh Teachers College of Columbia University

    seperti Frederick Bosner, Hollis Caswell, William Kilpatrick, dan yang kurang

    berpengaruh Ellsworth Collings, L. Thomas Hopkins, dan Harrold Rugg.

    Dari perubahan ini, strategi kurikulum utama seperti ditingkat sekolah

    dasar, mencangkup pelajaran berdasarkan pengalaman hidup, permainan

    keloompok, kerja kelompok, drama, kerja lapangan, perusahaan sosial, pusat

    yang menarik dan kebutuhan anak. Kegiatan ini mencangkup penyelesaian

    masalah dan partisipasi murid. Pendekatan ini popular lagi pada tahun 1970an.

  • Ahli kurikulum yang percaya kepada pendekatan ini cendrung memberikan

    pembelajaran kooperaif, independent, kelompok kecil dan kegiatan sosial yang

    bertujuan untuk berkompetisi, dominan guru, kelompok besar dan hanya

    instruksi kognitif. Masing-masing anak pada pendekatan ini memiliki input yang

    bisa dipertimbangkan dalam kurikulum dan membagi tanggung jawab dengan

    orang tua, guru, dan ahli kurikulum dalam merencanakan kurikulum

    itu.Pendekatan Humanistic menghadirkan posisi minoritas dalam kurikulum.

    5. Reconceptualists

    Beberapa penulis kurikulum textbook memperhatikan bahwa

    reconceptualists menciptakan kembali sebuah pendekatan untuk kurikulum.

    Tetapi recoceptualists ini kekurangan model untuk mengembangkan dan

    merancang kurikulum dan mereka lebih cendrung focus pada ideology dan

    masalah moral pendidikan yang lebih besar dan institusi ekonomi dan politik

    masyarakat. Karena kekurangan model perencanaan kurikulum, hal tersebut

    perlu didiskusikan kembali dalam koneks filosofi atau politik bukan hanya sebagai

    pendekatan kurikulum. Berdasarkan aktifisme filosofi dan sosial seperti Counts,

    Rugg, and Benjamin, kurikulum baru ini perlu difikirkan, dipertimbangkan, dan

    dikonsepkan kembali. Tidak hanya melakukan tantangan tradisional, ilmiah, dan

    pandangan rasional kurikulum, tetapi juga mengkritik pegangan mereka dalam

    menentukan subjek dan imperfek sendiri dalam menentukan nilai.

    PENGERTIAN KURIKULUM

    Kurikulum bisa didefinisikan sebagai sebuah rencana untuk suatu kegiatan,

    atau document tertulis yang mencangkup strategi untuk mencapai tujuan atau

    akhir (Tyler dan Taba). Kebanyakan orang-orang Behavioral dan System-

    Managerial setuju dengan definisi ini seperti J. Galen Sailor mendefinisikan

    kurikulum sebagai suate perencanaan untuk menyediakan serangakaian

  • kesempatan orang untuk dididik. Menurut David Pratt, kurikulum didsusun

    berdasarkan tujuan pendidikan formal dan/atau suatu pelatihan. Menurut

    pandangan Wiles dan Bondi, kurikulum sebagai suatu perencanaan untuk tujuan

    belajar dalam menentukan pelajaran apa yang penting.

    Pengertian kurikulum secara luas berhubungan dengan pengalaman

    pelajar. Pandangan ini mempertimbangkan hamper segala sesuatu di sekolah,

    bahkan diluar sekolah (selama hal itu direncanakan) sebagai bagian dari

    kurikulum (Dewey). Menurut pandangan Caswell dan Campbells (1930an),

    kurikulum adalah segala pengalaman anak yang berada dibawah bimbingan guru.

    Kurikulum juga bisa didefinisikan sebagai suatu system yang berhubungan

    debgan orang dan proses atau susunan pengajar dan prosedur untuk

    mengimplementasikan system itu. Kurikulum juga bisa dipandang sebagai

    lapangan belajar.

    Terakhir, kurikulum juga didefinisikan sebagai persoalan mata pelajaran

    (matematika, ilmu pengetahuan, bahasa Inggris, sejarah, dll) atau isi (cara

    menyusun dan memisahkan informasi).

    Masalah Definisi

    Keberagaman pengertian kurikulum membuat orang bingung. Ada dua

    definisi yang dipakai secara umum seperti yang dititik beratkan oleh Doll, setiap

    sekolah memiliki suatu perencanaan, kurikulum formal, tetapi juga memiliki

    suatu yang tidak direncanakan, nonformal, dan tidak tertulis yang juga harus

    dipertimbangkan. Yang direncanakan seperti tujuan umum, tujuan khusus, mata

    pelajaran, dan susunan pelajaran; yang tidak direncanakan seperti interaksi

    psikilogi sosial, interaksi murid dengan guru khususnya perasaan, sikap dan

    kebiasaan mereka. Kita tidak bisa hanya memperhatikan kurikulum terencana

    saja.

  • Dengan kata lain, sebuah paying yang lebar-seperti pengertian kurikulum

    sebagai hasil pengalaman sekolah. Hal itu berarti bahwa hampir semua yang

    terjadi di sekolah bisa dikelompokkan dan diskusikan dalam bentuk kurikulum.

    Kurikulum sama dengan pendidikan. Hal itu juga berarti bahwa hampir tiap

    bidang disiplin di sekolah pendidikan mempunyai implikasi untuk kurikulum atau

    bagian dari bidang kurikulum.

    Latar Belakang Masalah Definisi Kurikulum

    Isi dan persoalan mata pelajaran berhubungan. Apakah cocok unuk

    membicarakan pembelajaran sosial atau kurikulum matematika atau kurikulum

    secara umum? Apakah ada prinsip-prinsip umum kurikulum yang

    mengaplikasikan seluruh mata pelajaran, atau prinsip-prinsip khusus yang

    mengaplikasikan mata pelajaran tertentu? Haruskah persoalan mata pelajaran

    disusun te