of 153 /153
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Masa remaja adalah suatu masa dimana individu dalam proses pertum- buhannya (terutama fisik) telah mencapai kematangan. Periode ini menunjukkan suatu masa kehidupan dimana kita sulit untuk memandang remaja itu sebagai anak-anak, namun juga tidak sebagai orang dewasa. Miller (1993) mengatakan … may be seen in the descriptive label given in this periode of life as a “storm and stress” period. Pada masa remaja, seseorang mengalami beberapa perubahan, baik secara fisik maupun secara psikis. Pada masa ini, terjadi perubahan dalam proses biologis, psikologis, sosiologis, budaya, dan historis (Lerner, 2002). Eisenstadt (1975:5) memandang remaja secara kultural yang digambarkan sebagai: The transition from childhood and adolescence to adulthood, the develop- ment of personal identity, psychological autonomy and self regulation, the attempt to link personal temporal transition to general cultural image and to cosmic rhytms, and to link psychological maturity to the emulsion of definite role models – these constitute the basic elements of any archetypal image of youth. However, the way in which these various elements of any archetypal image of youth. However, the way in which these various element become crystallized in concrete figurations differ greatly from society and within of the same society. Berdasarkan pemikiran di atas, proses perkembangan yang dialami remaja merupakan proses pematangan fisik dan pematangan sosial. Masa transisi yang dialami remaja, menuntut remaja untuk berjuang menemukan jati dirinya, kemandiriannya, dan self-regulasinya. Mereka hidup bersama orang dewasa, di- dalam masyarakat orang dewasa, mereka harus menyesuaikan diri dengan

PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAHfile.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/M.ARIES/Lap... · 2012-03-08 · 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Masa remaja adalah suatu

  • Author
    others

  • View
    1

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAHfile.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/M.ARIES/Lap... ·...

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. LATAR BELAKANG MASALAH

    Masa remaja adalah suatu masa dimana individu dalam proses pertum-

    buhannya (terutama fisik) telah mencapai kematangan. Periode ini menunjukkan

    suatu masa kehidupan dimana kita sulit untuk memandang remaja itu sebagai

    anak-anak, namun juga tidak sebagai orang dewasa. Miller (1993) mengatakan …

    may be seen in the descriptive label given in this periode of life as a “storm and

    stress” period. Pada masa remaja, seseorang mengalami beberapa perubahan,

    baik secara fisik maupun secara psikis. Pada masa ini, terjadi perubahan dalam

    proses biologis, psikologis, sosiologis, budaya, dan historis (Lerner, 2002).

    Eisenstadt (1975:5) memandang remaja secara kultural yang digambarkan

    sebagai:

    The transition from childhood and adolescence to adulthood, the develop-ment of personal identity, psychological autonomy and self regulation, the attempt to link personal temporal transition to general cultural image and to cosmic rhytms, and to link psychological maturity to the emulsion of definite role models – these constitute the basic elements of any archetypal image of youth. However, the way in which these various elements of any archetypal image of youth. However, the way in which these various element become crystallized in concrete figurations differ greatly from society and within of the same society.

    Berdasarkan pemikiran di atas, proses perkembangan yang dialami

    remaja merupakan proses pematangan fisik dan pematangan sosial. Masa transisi

    yang dialami remaja, menuntut remaja untuk berjuang menemukan jati dirinya,

    kemandiriannya, dan self-regulasinya. Mereka hidup bersama orang dewasa, di-

    dalam masyarakat orang dewasa, mereka harus menyesuaikan diri dengan

  • 2

    kehidupan, dimana pembatasan-pembatasan dan peraturan-peraturan yang berlaku

    sering dirasakan remaja sebagai suatu peraturan yang sangat berat.

    Bagi kebanyakan remaja, periode ini merupakan periode yang amat

    kritis, yang mungkin merupakan the best time atau the worst time. Jika remaja

    mampu mengatasi berbagai tuntutan yang dihadapinya secara integratif, maka ia

    akan menemukan jati dirinya. Sebaliknya bila gagal, ia akan berada pada krisis

    identitas yang berkepanjangan (Miller, 1993).

    Dreyer (dalam Archer & Waterman, 1983) mengemukakan bahwa masa

    remaja ditandai dengan kapabilitas intelektual yang lebih tinggi seperti logika

    formal operasional, penalaran analitis, kognisi sosial, penalaran moral, komitmen

    intelektual dan etik. Kesemua pendekatan ini menggambarkan bahwa pemikiran

    remaja ditandai oleh peningkatan pemikiran abstrak, mempertimbangkan sudut

    pandang yang berbeda ketika berusaha memecahkan masalah, dan menilai secara

    logis alternatif-alternatif ketika berusaha mencari jalan keluar dari dilema.

    Menurut Marcia (1980), pembentukan identitas merupakan tugas rumit

    yang harus diselesaikan secara bertahap, dan tanpa disadari. Masa remaja yang di-

    gunakan dalam penelitian ini adalah masa remaja akhir yang dikemukakan oleh

    Marcia (dalam Archer 1989), yaitu remaja berusia 18-22 tahun, mereka sudah

    memasuki perguruan tinggi, dan berada diantara SEMESTER 1 sampai 5.

    Dalam teori epigenetic Erikson (1968), masa remaja berada pada tahap

    kelima yaitu identity versus identity diffusion, yang menurut Erikson (dalam

    Miller, 1993) dijelask,an bahwa masa remaja merupakan masa terjadinya per-

    ubahan fisiologis yang cepat pada dirinya. Perubahan ini disertai dorongan sosial

    untuk memenuhi keputusan dalam masalah pendidikan dan kerja, memaksa

  • 3

    mereka untuk mempertimbangkan berbagai peran. “The overall task of the

    individual is to acquire a positive ego identity as her or he moves from one stage

    to the next”. Tugas dasar remaja adalah mengintegrasikan berbagai identifikasi

    yang dibawanya dari masa kanak-kanak kedalam situasi identitas yang lebih utuh

    (Erikson, dalam Rice,1996).

    Bila remaja tidak dapat mengintegrasikan identifikasi dan peran-peran-

    nya, ia akan menghadapi ‘kekaburan identitas’ (identity diffusion), memiliki

    kepribadian yang labil, tidak memiliki sikap bagi masa depannya, dan bahkan

    menunjukkan ketidaktertarikan dalam berbagai hal. Erikson memandang identitas

    sebagai suatu konsep integratif antara individu dengan lingkungannya. Menurut

    Marcia (dalam Archer,1989), disebutkan bahwa identitas adalah proses dimana

    individu menempatkan dirinya dalam dunia sosial.

    Masih menurut Marcia (1980), pembentukan identitas secara operasional

    dan konkrit didasarkan pada teori psikososial Erikson yaitu individu membuat

    suatu komitmen setelah melewati eksplorasi berbagai kemungkinan yang ada.

    Komitmen adalah titik kulminasi dari pembentukan identitas.

    Remaja harus menetapkan identitas dirinya, siapa saya saat ini, ingin

    menjadi apa saya dimasa dewasa nanti. Untuk menetapkan identitas dirinya

    remaja harus mencari informasi berbagai alternatif-alternatif pekerjaan untuk

    pencapaian status identitas vokasional, dan harus memilih serta menetapkan salah

    satu pekerjaan yang menjadi minatnya (komitmen), dengan demikian remaja

    tersebut memiliki identitas achievement dalam bidang vokasional.

    Ada dua hal yang menentukan apa identitas diri remaja, yaitu eksplorasi

    dan komitmen. Menurut Marcia (dalam Archer 1989), eksplorasi identitas adalah

  • 4

    aktivitas eksplorasi pada remaja akhir yang mengacu pada aktivitas kognitif dan

    tingkah laku. Eksplorasi adalah usaha yang dilakukan remaja akhir secara aktif

    untuk mencari dan memahami masalah-masalah yang menyangkut pekerjaan,

    agama, dan politik sehingga sampai pada sebuah keputusan.

    Archer (1989) mengemukakan bahwa komitmen merupakan titik akhir

    dari proses eksplorasi sebagai usaha pembentukan identitas. Komitmen merupa-

    kan aktifitas yang relatif tegas dan menarik tentang elemen-elemen identitas

    remaja, berperan sebagai pengarah menuju tindakan penuh arti pada sesuatu, yang

    dipilih dengan disertai keyakinan, kesetiaan, dan sulit untuk digoyang atau dipe-

    ngaruhi. Ketidakadaan komitmen menunjukkan bahwa remaja memiliki komitmen

    lemah dan mudah dipengaruhi serta mudah berubah.

    Ada empat tipe identitas diri yaitu: 1) confusion/diffusion (tidak melaku-

    kan eksplorasi dan tidak membuat komitmen), 2) foreclosure (tidak melakukan

    eksplorasi, tetapi membuat komitmen, biasanya hal ini dipengaruhi oleh orang

    tua), 3) moratorium (melakukan eksplorasi, tetapi tidak membuat komitmen),

    serta 4) achievement (melakukan eksplorasi dan membuat komitmen).

    Identitas diatas lebih fokus kepada pekerjaan, karir, sekolah atau prestasi

    yang berkaitan dengan materi. Ada pertanyaan yang bisa dimunculkan berkaitan

    dengan identitas diri remaja ini, yaitu berkaitan dengan pengalaman remaja

    tentang hal yang bersifat spiritual. Spiritual adalah perasaan yang berkaitan

    dengan hal-hal yang bersifat gaib yang tidak kasat mata. Sesuatu yang gaib ini

    dianggap sebuah realita sehingga manusia harus menemukan identitasnya dalam

    hal ini (Kiesling dkk., 2006).

  • 5

    Dalam konteks status identitas menurut Marcia, diterangkan bahwa status

    identitas ada empat kategori yaitu achievement, moratorium, diffusion, dan

    foreclosure. Empat tipe ini bergantung kepada eksplorasi dan komitmen mereka.

    Eksplorasi dan komitmen adalah dua proses yang ada dalam pembentukan iden-

    titas diri. Apakah mungkin dalam spiritualitas, remaja juga mengalami empat tipe

    status identitas ini? Misalnya, remaja yang secara spiritual diffusion, dia tidak

    melakukan eksplorasi dan tidak melakukan komitmen dalam pengalaman spi-

    ritualitasnya. Pertanyaan diatas adalah yang mendorong dibuatnya proposal pene-

    litian ini. Artinya tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui apakah remaja

    yang identitas dirinya moratorium, secara spiritual juga memiliki identitas

    moratorium? Apakah remaja yang identitas dirinya achievement, secara spiritual

    juga memiliki identitas achievement? Apakah remaja yang identitas dirinya

    foreclosure, secara spiritual juga memiliki identitas foreclosure? Apakah remaja

    yang identitas dirinya diffusion, secara spiritual juga memiliki identitas diffusion?

    Kiesling dkk. (2006) menemukan bahwa hanya ada tiga tipe status

    identitas spiritual, yaitu achievement, foreclosure, dan moratorium. Orang yang

    secara spiritual forclosured merasa bahwa keyakinan mereka ada sebelum mereka

    mendalaminya, sehingga mereka merasa mereka terpaksa untuk memeluknya.

    Orang yang secara spiritual achieved memiliki keyakinan dan pengalaman yang

    berbeda dengan orangtua mereka. Mereka juga merasa telah menemukan

    keyakinan dan pengalaman yang benar atau sesuai dengan mereka.

  • 6

    B. RUMUSAN MASALAH

    1. Apakah ada hubungan eksplorasi dan komitmen dengan spiritualitas?

    2. Apakah ada hubungan empat status identitas dan spiritualitas dengan

    variabel demografis: jenis kelamin, usia, tingkatan kuliah, perasaan

    akan pentingnya menjadi religius, perasaan akan pentingnya menjadi

    spiritual.

    3. Apakah ada perbedaan pengalaman spiritualitas antara remaja dengan

    status identitas yang berbeda?

    C. TUJUAN PENELITIAN

    1. Mengetahui hubungan status identitas dengan spiritualitas.

    2. Mengetahui hubungan status identitas dan spiritualitas dengan variabel

    demografis: jenis kelamin, usia, tingkatan kuliah, perasaan akan pen-

    tingnya menjadi religius, perasaan akan pentingnya menjadi spiritual.

    3. Mengetahui perbedaan pengalaman spiritualitas antar remaja dengan

    status yang berbeda.

    D. MANFAAT PENELITIAN

    1. Manfaat bagi Pengembangan Teori

    Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pengayaan

    teori psikologi perkembangan dan psikologi remaja.

    2. Manfaat Praktis

    Apabila penelitian ini berhasil menemukan gambaran status identitas dan

    spiritualitas pada remaja, maka manfaatnya bisa diaplikasikan dalam pembinaan

  • 7

    remaja oleh Guru Konselor atau Psikolog di sekolah-sekolah jenjang SMU/SMK

    sehingga aspek spiritualitas remaja berkembang ke arah status identitas

    achievement.

    ���

  • 8

    BAB II

    STATUS IDENTITAS DAN SPIRITUALITAS REMAJA AKHIR

    A. TUGAS PERKEMBANGAN DAN KARAKTERISTIK REMAJA AKHIR

    Para ahli perkembangan membagi masa remaja menjadi beberapa fase.

    Rentang usia remaja dapat berbeda-beda tergantung pada latar belakang sejarah

    dan budaya (Santrock, 2007), tetapi di Amerika dan kebanyakan budaya pada saat

    ini, usia remaja dimulai pada usia 10/13 tahun dan berakhir antara usia 18/22

    tahun. Monks, Knoers, dan Haditono (1999) mengemukakan, secara global masa

    remaja berlangsung antara usia 12 sampai dengan 21 tahun, dengan pembagian

    yaitu: masa remaja awal (12-15 tahun), masa remaja pertengahan (15-18 tahun),

    dan masa remaja akhir (18-21 tahun).

    Pada masa remaja ini, ada sejumlah ciri yang membedakan remaja

    dengan masa perkembangan yang lain. Hurlock (1980) mengungkapkan ciri-ciri

    masa remaja, yaitu: (1) masa remaja sebagai periode yang penting, (2) masa

    remaja sebagai periode pealihan, (3) masa remaja sebagai periode perubahan,

    (4) masa remaja sebagai usia bermasalah, (5) masa remaja sebagai masa mencari

    identitas, (6) masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan, (7) masa

    remaja sebagai masa yang tidak realistik, dan (8) masa remaja sebagai ambang

    masa dewasa.

    Khusus pada remaja akhir, Pikunas (dalam Agustiani, 2006) mengemuka-

    kan adanya tujuh tugas-tugas perkembangan yang penting dan harus dilalui secara

    baik, dimana empat diantaranya adalah: (1) mencapai kemandirian emosional dari

  • 9

    orangtua dan figur-figur otoritas, (2) menemukan model untuk identifikasi, (3)

    menerima diri sendiri, mengandalkan kemampuan dan sumber-sumber yang ada

    pada dirinya, (4) memperkuat kontrol diri berdasarkan nilai-nilai dan prinsip-

    prinsip yang ada.

    Dimjati (2000:152-153) menambahkan, pada masa remaja akhir, sese-

    orang memperoleh keseimbangan kembali dalam hidupnya. Ia mulai membuat

    rencana hidup yang akan dijadikan pedoman dalam perbuatan selanjutnya untuk

    mencapai cita-citanya. Pada masa ini, remaja akhir telah mengetahui apa yang ia

    kehendaki, cita-cita mana yang akan dicapai, dan nilai hidup mana yang menjadi

    pedoman hidupnya. Oleh karena itu, norma-norma yang telah mereka alami

    sangat menentukan untuk pilihan norma mana yang akan diteruskan.

    B. IDENTITAS DIRI (EGO IDENTITY)

    Erikson (1958, 1959, 1963, 1968, 1969) merupakan orang yang pertama

    kali memperkenalkan krisis identitas (identity crisis). Istilah ini dikemukakannya

    bahwa ”Identity as the general picture one has of oneself” dan juga “identity as a

    state toward which one strive”. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh

    Miller (1993) bahwa dalam tugas perkembangan remaja, identitas merupakan

    struggle of adolescence. Remaja harus berjuang mempelajari perilaku-perilaku

    baru, ide-ide baru mengenai dirinya dan orang lain, membuat keputusan yang

    penting yang akan berpengaruh terhadap kehidupannya.

    Membuat keputusan merupakan hal yang penting dalam pencapaian

    identitas, untuk itu remaja harus berani mengambil keputusan yang sesuai dengan

  • 10

    apa yang mereka yakini. Atas dasar itu maka peluang-peluang untuk memainkan

    peran sosial baru, terbuka luas.

    Bagi remaja identitas dapat dipandang sebagai hasil coba-coba yang

    pada akhirnya mereka dapat menetukan peran mana yang paling cocok bagi

    dirinya. Apabila mereka menemukan perannya dalam membuat suatu keputusan,

    maka ia disebut telah mencapai sence of identity. Erikson (dalam Dacey,

    1997:185) mengemukakan ” if you were in state of identity, the various aspect of

    your self-concept would be in agreement other, they would be identical.”

    1. Pembentukan Identitas Diri

    Marcia (1993) mengemukakan bahwa pembentukan identitas merupakan

    peristiwa besar dalam perkembangan kepribadian. Peristiwa ini terjadi selama

    masa remaja akhir, dan merupakan tanda akhir dari masa kanak-kanak, serta

    diawalinya masa kedewasaan seseorang. Pembentukan identitas merupakan

    sintesis berbagai keterampilan, keyakinan, dan identitas masa kanak-kanak men-

    jadi bentuk keseluruhan yang unik dan mantap yang memberi ciri memadukan

    berlangsungnya masa lampau dan merupakan arah menuju masa depan.

    Pembentukan identitas merupakan proses yang rumit, mencakup komit-

    men terhadap orientasi seksual, penetapan ideologi dan pekerjaan. Proses pem-

    bentukan berjalan bertahap, tidak disadari, dan mungkin dianggap hal yang biasa.

    Awal pembentukan identitas terjadi/diawali saat bayi mengenal ibunya dan

    merasa dikenali ibunya, dan hal ini berlangsung selama rentang kehidupan dan

    mencapai krisisnya pada masa remaja (Miller, 1993). Pada masa remaja dia harus

    menyesuaikan pengalaman-pengalaman dan memori masa kanak-kanak dengan

  • 11

    realitas sekarang sebagai seorang pemuda yang matang, bukan sebagai kanak-

    kanak.

    a. Eksplorasi

    Menurut Marcia (dalam Archer, 1994), eksplorasi identitas adalah

    aktivitas eksplorasi pada remaja akhir yang mengacu pada aktivitas kognitif dan

    tingkah laku. Eksplorasi adalah usaha yang dilakukan remaja akhir secara aktif

    untuk mencari dan memahami masalah-masalah yang menyangkut pekerjaan,

    agama, dan politik sampai pada keputusan. Exploration (crisis) pertains to the

    examination of alternatives with the attention of establishing a firm of

    commitment in the near future (Archer dalam Marcia, 1993:178).

    Erikson (dalam Dacey, 1997:185), mengemukakan bahwa identity as a

    state toward which one strives. Remaja harus berusaha secara proaktif mencari

    berbagai informasi atau inisiatif dan motivasional dari dalam dirinya sendiri, serta

    harus dapat mempertimbangkan berbagai informasi yang dia peroleh dan

    memutuskan mana yang terbaik bagi dirinya atas dasar keyakinan pribadi.

    b. Komitmen identitas

    Archer (1994) mengemukakan bahwa komitmen merupakan titik akhir

    dari proses eksplorasi sebagai usaha pembentukan identitas. Waterman (dalam

    Archer, 1994:164) mengemukakan “commitment involves making a relativity firm

    choice about identity elements and anganging in significant activity directed

    toward implementation of that choice”.

    Komitmen merupakan aktifitas yang relatif tegas dan menarik tentang

    elemen-elemen identitas remaja, berperan sebagai pengarah menuju tindakan

  • 12

    penuh arti pada sesuatu yang dipilih dengan disertai keyakinan, kesetiaan, dan

    sulit untuk digoyang atau dipengaruhi. Ketidakadaan komitmen menunjukkan

    bahwa remaja memiliki komitmen lemah dan mudah dipengaruhi serta mudah

    berubah.

    c. Status Identitas

    Berdasarkan pada gagasan teoritik Erikson mengenai pembentukan

    identitas pada masa remaja, Marcia (1960, 1980) adalah orang pertama yang

    menggunakan istilah status identitas. Marcia percaya bahwa dalam pembentukan

    identitas ada dua faktor yang sangat esensial yaitu “crisis and commitment”.

    Untuk pilihannya Marcia mengajukan empat kemungkinan kategori ‘status’, dua

    status (Achievement dan Moratorium) merupakan status yang lebih tinggi dan

    kompleks daripada dua status yang lain (Diffusion dan Foreclosure). Kategori

    tersebut digambarkan dalam sebuah kuadran sebagai berikut:

    Gambar 2.1 Kategori Status Identitas

  • 13

    Penjelasannya adalah sebagai berikut:

    1. Status Identitas Diffusion

    Identity confusion/diffusion. “No crisis has been experienced, but

    commitment have been made” (Tidak melakukan eksplorasi, dan tidak mem-

    buat komitmen). Waterman (1988) menyatakan bahwa klasifikasi ini tidak

    menyatakan bahwa individu yang memiliki identitas diffusion tidak punya

    identitas tapi hanya pikiran atau gagasan mereka secara kebetulan tertahan

    dan perasaan identitas mereka hanya mempunyai peran yang tidak besar

    dalam mengarahkan mereka di berbagai bidang. Ada kesepakatan antar para

    pemerhati status identitas bahwa ada beberapa subtipe dalam staus identitas

    diffusion, tapi secara sistematis subtipe belum bisa dijelaskan (Waterman,

    1988;192). Sekalipun beda subtipe tapi mereka pada dasarnya memiliki level

    perkembangan yang sama (Marcia, 1980; Waterman, 1988).

    2. Status Identity Foreclosure

    “No crisis has been experienced, but commitment have been made,

    usually forced on the person by the parent” (Tidak melakukan eksplorasi,

    tetapi membuat komitmen, biasanya hal ini dipengaruhi oleh orang tua). Indi-

    vidu dengan status ini memiliki komitmen yang kuat akan keyakinan-

    keyakinannya tapi tidak banyak membuat alternatif dalam keyakinan-

    keyakinannya. Keyakinan yang dipegang kuat atau diberi komitmen yang

    tinggi biasanya adalah keyakinan yang pertama dipegang dan datang dari

    keluarga. Orang ini menjaga komitmennya karena merasa mendapat reward

    dan memperoleh arti sehingga tidak ada keinginan untuk mempertanyakan

  • 14

    nilai-nilai, tujuan-tujuan, dan keyakinan yang dipegang. Ada beberapa alasan

    lain mengapa mereka kurang melakukan refleksi adalah a) karena dia tidak

    membayangkan keyakinan itu bisa dipertanyakan, b) karena masyarakatnya

    tidak memberikan pilihan lain, c) karena menurutnya tantangan tidak harus

    datang dengan menentang keyakinan orang tua (Waterman 1988). Menurut

    beberapa penelitian orang dengan identitas ini sangat konformis dengan

    masyarakat (Baumeister, 1986).

    3. Status Identity Moratorium

    “Considerable crisis is being experienced, but no commitment are yet

    made” (Melakukan eksplorasi, tetapi tidak membuat komitmen). Orang de-

    ngan status identitas ini banyak melakukan pencarian terhadap banyak pilih-

    an keyakinan, nilai-nilai, dan tujuan tapi tidak secara penuh berkomitmen

    terhadap satu keyakinanpun. Individu dengan identitas moratorium dianggap

    berada dalam krisis. Krisis ini ditunjukkan dengan banyaknya melakukan

    eksplorasi pemikiran, kesadaran, dan intelektual terhadap elemen-elemen

    identitas dan ditandai dengan memiliki perilaku yang banyak berhubungan

    dengan orang-orang lain. Tingkat kecemasan dan jumlah pilihan dalam krisis

    ini sangat berbeda dari satu individu ke individu yang lain. Marcia (1980)

    menemukan bahwa orang yang moratorium memiliki kecemasan dan ke-

    bebasan yang tinggi.

    4. Status Identitas Achievement

    . “Numerous crisis have been experienced and resolved, and relatively

    permanent commitment have been made” (Melakukan eksplorasi dan mem-

  • 15

    buat komitmen). Identitas ini tidak diteorikan sebagai identitas yang per-

    manen, tetap, dan tidak tergantikan, tapi identitas ini adalah identitas terkini

    yang dimiliki individu. Keadaan dimana keyakinan, tujuan, dan keyakinan

    dirasakan nyaman dan bermakna bagi dirinya dan dorongan untuk berubah

    tidak diberi ruang untuk terjadi (Marcia, 1980). Orang yang achievement

    cenderung lebih reflektif dan memiliki stress yang rendah.

    Orang-orang yang ketika diukur memiliki salah satu empat status

    identitas itu, tidak berarti selamanya akan memiliki status identitas itu. bisa

    jadi status identitas mereka berubah menjadi lebih baik atau menjadi lebih

    buruk atau mengalami penurunan. Ada tiga kemungkinan untu setiap status

    identitas. Untuk orang yang memiliki status diffusion: (a) bisa saja mening-

    kat usaha eksplorasi sehingga berubah ke status diffusion (D→M), (b) bisa

    berubah dengan menerima atau melakukan komitemen terhadap alternatif

    awal dan berubah menjadi foreclosure (D→F), atau (c) akan tetap dalam

    status diffusion (D→D). Status foreclosure: (b) bisa mulai mempertimbang-

    kan atau merubah komitmen yang dipegangnya semula (F→M), (b) tetap

    menjadi foreclosure (F→F), atau (c) turun ke status diffusion jika dia tidak

    melakukan komitmen yang baru untuk mengganti komitmen yang sebelum-

    nya. Untuk morartorium: (a) bisa meningkatkan komitmennya sehingga men-

    jadi achievement (M→A), (b) bisa saja berhenti melakukan eksplorasi

    sehingga menjadi diffusion (M→D), atau (c) menghentikan eksplorasi alter-

    natif sehingga menjadi diffusion (M→D). Untuk identitas achievement: (a)

    bisa tetap mempertahankan identitasnya (A→A), (b) memikirkan kembali

  • 16

    komitmen sebelumnya dan mulai eksplorasi yang baru sehingga menjadi

    moratorium (A→M), atau (c) atau jatuh ke status diffusion jika tidak me-

    nemukan komitmen yang baru. (A→D) (Waterman, 1982). Status identitas

    menurut banyak penelitian sebelumnya seperti self esteem dan kemandirian.

    C. SPIRITUALITAS

    Ada tiga peteori utama mengenai spiritualitas yang menggambarkan

    proses spiritualitas. Pertama, James W. Fowler (1981), Daniel Helminiak (2001),

    dan Ken Wilber (2000). Fowler (1981) menciptakan model perkembangan spirit-

    ualitas berdasarkan kepada model ego, moral, kogntif, dan perkembangan

    psikososial, serta melakukan penelitian empiris. Helminiak (2001) juga men-

    dasarkan teori perkembangan spiritualnya kepada teori perkembangan manusia

    dan teologi, tetapi tidak melakukan penelitian empiris. Wilber (2000)

    menciptakan modelnya dengan melakukan penggabungan model-model yang ada

    sebelumnya dalam spiritual (termasuk Fowler dan Helminiak), juga berdasarkan

    kepada bidang filsafat, mistik, dan perkembangan. Dalam penelitian ini

    difokuskan hanya kepada teori yang dikembangkan oleh Fowler (1981).

    a. Teori Fowler

    James Fowler sangat dikenal di bidang kepercayaan dan spiritual. Fowler

    pada awalnya mengikuti model perkembangan psikososial Erikson, tapi kemudian

    menggabungkan aspek-aspek perkembangan struktural Kohlberg dan Piaget

    dalam membentuk penalaran kognisi dan moral (Fowler, 1981). Menurut model

  • 17

    strukturalis, pendewasaan struktur secara bertahap mendorong perubahan kuali-

    tatif dalam proses berfikir seseorang.

    Di bidang teologis, dia sangat mengikuti teologi multidimensional

    Richard Niebuhr. Bagi Niebuhr (1989), kepercayaan tidak terbatas pada konteks

    religius. Niebuhr menjelaskan bahwa struktur relasional kepercayaan, di samping

    mengenai ikatan kepercayaan dan kesetiaan antara orang dan kelompok yang

    bersedia menyertakan dirinya untuk terlibat dalam sebuah kelompok yang

    memiliki nilai dan kekuatan yang sama.

    Teori Fowler terbentuk melalui penelitian empiris yang bersumber dari

    259 wawancara dengan anak-anak dan orang dewasa, yang awalnya dilakukan di

    Amerika (Fowler, 1981; Fowler & Dell, 2004). Persentase perbedaan jenis

    kelamin responden adalah setara (50% laki-laki dan 50% perempuan). Namun

    pemeluk agamanya kurang seimbang dalam mewakili populasi Amerika. Dalam

    sampel awalnya, yang beragama Protestan sebanyak 45% subyek, 36,5% Katolik,

    11,2% Yahudi, 3,6% Kristen Ortodoks, dan 4,6% yang lain-lainnya (Fowler &

    Dell, 2004).

    Fowler (1981) mendasarkan modelnya tentang kepercayaan karena dia

    meyakini bahwa kepercayaan, dibanding dengan keimanan atau agama, adalah

    kategori yang paling fundamental dalam pencarian orang berkaitan dengan hal

    yang transenden. Kepercayaan, secara umum merupakan istilah universal bagi

    semua manusia, yang di mana-mana memiliki kemiripan, sekalipun bentuk dan isi

    praktisnya sangat beragam.

    Fowler mengembangkan teori tentang tahap perkembangan dalam ke-

    yakinan seseorang (stages of faith development) sepanjang rentang kehidupan

  • 18

    manusia. Menurutnya, kepercayaan merupakan orientasi holistik yang menun-

    jukkan hubungan antara individu dengan alam semesta. Perkembangan tahap

    spiritualitas yang dia teorikan dia yakini pasti dialami oleh manusia. Selain itu dia

    menyatakan bahwa penentuan tahap perkembangan spiritual seseorang tidak ber-

    kaitan dengan penilaian terhadap kepercayaan seseorang (Fowler & Dell, 2005).

    Tahap awal spiritual Fowler adalah tahap awal yang terjadi mulai dari

    bayi dalam kandungan sampai usia dua tahun. Kepercayaan yang samar adalah

    ciri “mutualitas dan kepercayaan/trust” atau “tidak adanya kepercayaan” yang

    berkembang dalam tahap ini; yang mengendalikan perkembangan kepercayaan

    (Fowler 1981). Selama periode ini, perkembangannya lebih kepada neurologis

    dan fisikal dibanding dengan tahap-tahap lainnya. Masa transisi ke tahapan

    selanjutnya bermula ketika bayi mulai menggunakan bahasa, cerita, dan

    permainan ritual (Fowler, 1981).

    Teori perkembangan spiritual Fowler terbagi atas enam tahap, yaitu (a)

    kepercayaan intuitif-proyektif (intuitive-projective faith) yang terjadi pada masa

    anak-anak awal, usia 2 sd. 6 tahun; (b) kepercayaan mitikal-literal (mythic-literal

    faith) terjadi pada masa anak-anak akhir, usia 7 sd. 11 tahun; (c) kepercayaan

    sintetik konvensional (synthetic-conventional faith) terjadi pada masa remaja, usia

    12 sd. 20; (d) kepercayaan individuatif-reflektif (individuation/ reflective faith)

    terjadi pada masa dewasa awal, usia 20 sd. 40; (e) kepercayaan konjungtif

    (conjungtive faith) terjadi pada masa dewasa hingga tua, usia 40 sd. 60 tahun; dan

    (f) kepercayaan universal (universalizing faith) terjadi pada masa tua hingga

    meninggal, usia lebih dari 60 tahun.

  • 19

    Pada tahap pertama, kepercayaan intuitif-proyektif (usia anak-anak awal

    atau 2-6 tahun), masih terdapat karakter kejiwaan yang belum terlindungi dari

    ketidaksadaran. Anak masih belajar untuk membedakan khayalannya dengan

    realitas yang sesungguhnya. Anak-anak dalam tahapan ini menggabungkan

    elemen-elemen cerita dan gambar yang mereka terima dari lingkungannya yaitu

    keluarga dan budaya, untuk menciptakan cara imajinatif mereka sendiri gambaran

    tentang Tuhan dan apa yang dia takutkan (Fowler, 1981). Hal ini juga terjadi

    waktu di mana pemerolehan makna didasarkan kepada pengamalan emosional dan

    perseptual mulai muncul sebagai peningkatan penguasaan dan penggunaan bahasa

    (Fowler & Del, 2004). Selain itu anak-anak pada tahap ini mulai mengalami

    pengalaman eksistensial berkaitan dengan kematian dan bahaya, kurang mampu

    mengambil persepktif yang sederhana, dan tidak bisa membedakan antara fantasi

    dan realitas. Dalam tahap ini perasaan yang dalam kepada kepercayaan atau

    perkembangan religius dapat terinternalisasi dan bertindak sebagai agen yang

    memberi informasi secara positif atau negatif di sepanjang hidup.

    Pada tahap kedua, kepercayaan mythikal-literal (usia sekolah, 7-12

    tahun), seseorang telah mulai mengembangkan kepercayaan yang kuat dalam

    kepercayaannya. Anak juga sudah mengalami prinsip saling ketergantungan

    dalam alam semesta, namun ia masih melihat kekuatan kosmik dalam bentuk

    seperti yang terdapat pada manusia (anthropomorphic). Dalam tahap ini, anak

    mengekspresikan pemaknaan dan pemahaman melalui cerita dan dongeng, karena

    mereka mencoba membedakan mana yang nyata dan mana yang harus dipercayai.

    Dalam tahapan ini, keyakinan, moral, dan simbol dimaknai dengan cara inter-

    pretasi literal. Pandangan sederhana mulai muncul, tapi kemampuan mengenali

  • 20

    perasaan, sikap, dan pengendalian diri belum berkembang (Fowler & Del, 2004).

    Selain itu, pandangan mereka tentang Tuhan (kekuatan yang lebih besar) bekerja

    dalam konteks peraturan atau orang tua yang menerapkan keadilan dan hukuman.

    Faktor pertama yang membawa kepada tahap ketiga adalah kontradiksi dalam

    cerita-cerita yang memancing pemikiran atas makna-makna.

    Pada tahap ketiga, kepercayaan sintetik-konvensional (usia remaja), se-

    seorang mengembangkan karakter kepercayaan terhadap kepercayaan yang di-

    milikinya. Ia mempelajari sistem kepercayaannya dari orang lain di sekitarnya,

    namun masih terbatas pada sistem kepercayaan yang sama. Sekalipun tahap ini

    muncul ketika remaja, bisa saja akan menetap dan permanen di sepanjang masa

    dewasa jika keseimbangan dalam tahap ini tidak pernah terganggu (Fowler, 1981).

    Menurutnya (1981) tahap tiga adalah sebuah tahap konformitas dimana mereka

    sangat menuntut harapan dan penilaian yang kuat dari oang lain dan belum cukup

    jelas identitas dan penilaian mandiri mereka untuk membangunn dan menjaga

    pandangan yang independen.

    Dalam tahap sintetis-konvensional, pandangan interpersonal mulai mun-

    cul. Kapasitas untuk menilai pandangan orang lain, dan khususnya teman sebaya

    mereka, dapat membuat remaja sangat sensitif dengan pandangan orang lain.

    Pada tahap keempat, kepercayaan individuatif-reflektif (usia dewasa),

    merupakan tahap percobaan dan pergolakan, dimana individu mulai mengem-

    bangkan tanggung jawab pribadi terhadap kepercayaan dan perasaannya. Individu

    memperluas pandangannya untuk mencapai jalan dalam kehidupannya. Diri

    (identitas) dan pandangan berbeda dengan orang lain dan menjadi faktor utama

    dalam mereaksi, menginterpretasi, dan menilai tindakan diri sendiri atau orang

  • 21

    lain. Menurut Fowler, ada dua faktor penting yang menandai tahapan ini.

    Pertama, individu harus mampu merefleksikan secara kritis keyakinan, nilai, dan

    komitmen yang telah dibentuk pada tahap sebelumnya, sintetik-konvensional.

    Kedua, individu harus berjuang di sepanjang masa moratorium (mengambil istilah

    Marcia) untuk mengembangkan identitas diri yang didasarkan kepada kemampuan

    untuk berfikir secara independen pandangan-pandangan yang ditanam sebelum-

    nya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan selama tahapan ini sama dengan per-

    tanyaan eksistensial yang dihadapi oleh individu selama moratorium: Siapa kamu

    jika kamu bukan anak, siswa, teman, pekerja, dan seterusnya? Semua keyakinan

    yang dipegang sebelumnya dipertanyakan, keyakinan dan kepercayaan lain mulai

    dilihat untuk mempertimbangkan kemungkinan apakah nilai-nilai tersebut layak

    dipegang. Setelah terjadi eksplorasi ini, kepercayaan awal individu bisa saja di-

    tinggalkan atau ditolak, tapi jika dipertahankan, maka akan disertai dengan pilihan

    intensional (Fowler & Dell, 2004). Pengalaman spiritual remaja pada tahap ketiga

    dan sebagian tahap keempat akan diteliti dalam penelitian ini.

    Pada tahap kelima, kepercayaan konjungtif (dewasa hingga tua), sese-

    orang mulai mengenali berbagai pertentangan yang terdapat dalam realitas keper-

    cayaannya. Terjadi transendensi terhadap kepercayaan dibalik simbol-simbol yang

    diwariskan oleh sistem. Tahap ini menggabungkan diri dan pandangan-pandangan

    yang banyak menekan dan tidak dikenali dalam beradaptasi dengan realitas secara

    afektif dan kognitif yang ada pada tahap empat. Tahap ini dicirikan dengan

    kematangan dan pola pikir dewasa yang mampu melihat kebenaran di semua jenis

    kepercayaan dan pandangan serta memiliki kemampuan, keinginan, dan keter-

    bukaan untuk ikut serta berdiskusi dengan kepercayaan lain yang berbeda untuk

  • 22

    memantapkan perkembangan dan pemahaman (Fowler & Dell, 2004). Gambaran

    singkatnya tahap ini adalah kemampuan untuk menghadapi dan memahami

    paradoks di sepanjang hidup. Pemahaman ini seringkali memunculkan keinginan

    untuk berhubungan dengan Tuhan (atau kekuatan yang lebih tinggi) dengan cara-

    cara yang baru dan berbeda.

    Pada tahap keenam, kepercayaan universal (usia tua hingga meninggal),

    terjadi sesuatu yang disebut pencerahan. Manusia mengalami transendensi pada

    tingkat pengalaman yang lebih tinggi sebagai hasil dari pemahamannya terhadap

    lingkungan yang konfliktual dan penuh paradoksial. Orang yang pada tahap ini

    melihat semua orang sebagai makhluk yang harus ditolong dan diasuh, tidak per-

    duli jenis kelamin, etnis, usia, kelas sosial, agama, keyakinan politik, dan status

    ekonominya. Dia datang sebagai rahmatan lil alamin (mengambil istilah Islam).

    Orang ini tetap hidup sebagai manusia yang memiliki keterbatasan dan inkon-

    sistensi, tapi keinginan dan tindakannya sangat berbeda yaitu melihat semua orang

    bahagia. Tahap enam ini dianggap luar biasa, hanya beberapa orang saja yang

    mencapai tahapan ini, seperti Gandhi, Martin Luther King, dan Ibu Teresa

    (Fowler, 1981). Menurut Fowler, kebanyakan manusia berhenti pada tahap 4, dan

    kebanyakan tidak pernah mencapai tahap 5 dan tahap 6 (Hasan, 2006: 298).

    b. Teori Daniel Helmeniak

    Daniel Helmeniak juga sangat berpengaruh di bidang perkembangan

    spiritual. Dia seorang mantan pendeta, pendidik, professor dan filosuf yang minat

    terkininya adalah perkembangan spiritual homoseksual. Helmeniak (1987) men-

    dasarkan model perkembangan spiritualnya pada model perkembangan ego

  • 23

    Loevinger dan model perkembangan kepercayaan Fowler. Helmeniak (1987)

    menyatakan, teori perkembangan Fowler dan Loevinger mencakup aspek-aspek

    perkembangan manusia yang sangat luas dan pengantar yang jelas tentang empat

    karakteristik perkembangan spiritual yang dia ciptakan tidak bertentangan dengan

    teori keduanya, tapi melengkapi dan menegaskan teori Fowler dan Loevinger. Dia

    meyakini bahwa perkembangan spiritual harus dilihat dengan kacamata yang

    sama dengan model perkembangan lain seperti perkembangan ego dan perkem-

    bangan moral.

    Helmeniak (1987) mendefinisikan perkembangan spiritual dengan empat

    karakteristik: 1) prinsip intrinsik transendensi-diri yang otentik, 2) keterbukaan

    subyek terhadap prinsip ini, 3) integritas atau keutuhan subyek dalam bertanya,

    dan 4) seorang dewasa yang kritis dan tanggung jawab. Love (2002) lebih jauh

    menjelaskan bahwa yang dimaksud Helemeniak “otentik” adalah orang yang

    selalu berkomitmen untuk terbuka, bertanya, jujur, dan memiliki niat yang baik”.

    Seperti Fowler, Helmeniak (1987) menyatakan spiritualitasnya bukan sebuah

    fenomena agama, tapi sebuah fenomena manusia. Dia menyadari bahwa Tuhan

    adalah sentral dalam spiritualitas sebagian besar orang, tapi dia menekankan

    bahwa spiritualitas adalah komponen dasar manusia dan beragam agama hanyalah

    beragam cara dalam mengekspresikannya (Helmeniak, 1996).

    Helmeniak (1987) menjelaskan dalam beberapa kesempatan bahwa per-

    kembangan spiritual hanya fenomena orang dewasa. Dia memberi penjelasan

    bahwa level perkembangan, bukan usia kronologis, yang membedakan apa yang

    dimaksud dengan “dewasa”. Titik awal perkembangan spiritual adalah “tahap

  • 24

    konformis”. Tahap ini dicirikan dengan perasaan yang mendalam dan pandangan

    yang sangat rasional, menerima dasar otoritas eksternal dan didukung oleh pene-

    rimaan orang lain. Ciri ini menyebabkan adanya keterbukaan kepada konsep

    bahwa remaja dapat mengalami pengalaman spiritual.

    Teori spiritual Helmeniak mencakup lima tahap: Conformist, Conscien-

    tious/Conformist, Conscientious, Compassionate, dan Cosmic. Helmeniak

    (1987:78) percaya bahwa “perkembangan spiritual bisa muncul jika mulai me-

    ninggalkan Tahap Konformis (teori Loevinger, 1976) atau Synthetic-Conventional

    (teori Fowler, 1981), tapi perpindahan tahap itu sulit dan beresiko. Menurut teori

    Helmeniak perpindahan ini idealnya terjadi di masa dewasa awal, tapi jarang

    sekali terjadi ada pengabaian spiritual hingga usia baya.

    Jarang juga terjadi orang terus berada pada Tahap Conformist atau

    Synthetic Convenstional atau terus berada pada level transisi (Conscienti-

    ous/Conformist) atau Self Aware (Loevinger) atau Tahap 3 dan 4 di sepanjang

    hidupnya. Tahap ini dicirikan dengan kemampuan seseorang untuk memegang

    teguh agama warisan dan mulai mempertanyakan dan mengambil tanggung jawab

    atas tindakan dan keyakinan. Menurut Love (2002:361-362) dua tahap ini me-

    wakili pengalaman remaja yang bergerak dari tahap pencarian pengakuan dan

    pengarahan dari lingkungan eksternal dalam pembuatan pemaknaan menuju

    kesadaran diri dan kebebasan diri.

    c. Ken Wilber: Model Integral

    Ken Wilber bagi banyak orang dikenal sebagai pendiri Psikologi Trans-

    personal (Bidwell, 1999) dan juga sangat berpengaruh di bidang perkembangan

  • 25

    spiritual. Sekalipun dianggap memiliki pandangan filosofis yang sangat kuat, dia

    telah memancing pendukung dan kritikus sekaligus terhadap karya-karyanya.

    Model integral Wilber adalah sebuah model yang kompleks yang menggabungkan

    beberapa model dari beberapa bidang dan dikumpulkan menjadi lima bagian:

    kuadran, garis, tipologis, kondisi, dan level/tahap (Wilber, 2000).

    Wilber menjelaskan bahwa tidak hanya ada satu garis perkembangan

    seperti ego atau kognitif, tapi ada sekitar dua lusin garis seperti kognisi, moralitas,

    kreativitas, emosi, ego, identitas kelamin, dan spiritualitas dan tidak ada satu

    garispun yang bisa diklaim lebih berpengaruh daripada yang lainnya. Menurut

    Wilber, garis-garis ini relatif independen, yang berarti bahwa bagi sebagian besar

    orang dapat saling berkembang satu sama lain, pada level yang berbeda, dengan

    dinamika yang berbeda, dan pada waktu yang berbeda. Pada dasarnya orang bisa

    memiliki taraf tinggi secara kognitif, sedang pada kreativitas, dan rendah secara

    emosional pada saat yang sama. Sekalipun masing-masing garis independen, tapi

    garis-garis itu saling berhubungan.

    Wilber (2000) mengambil kesimpulan bahwa sebagai manusia, orang

    bisa sampai ke tahap yang berbeda pada garis perkembangan yang berbeda, bisa

    juga mengalami kondisi yang mengkhawatirkan atau luar biasa (seperti peng-

    alaman hampir mati) pada setiap tahap kehidupan. Dia menjelaskan bahwa “cara

    kondisi atau realitas itu dialami dan diinterpretasi tergantung kepada sejauhmana

    tingkat perkembangan orang itu mencapai pengalaman puncak. Dengan kata lain,

    anak usia 15 tahun bisa memiliki pengalaman spiritual puncak tapi akan

    memahami dan menginterpretasinya dari orang yang dominan baginya yang

  • 26

    memiliki tahap perkembangan yang lebih stabil. Teori ini membuka peluang bagi

    remaja untuk memiliki pengalaman spiritual yang lebih tinggi yang mungkin tidak

    dialami oleh orang yang sudah sampai kepada tahap spiritual yang lebih atas.

    D. SPIRITUALITAS REMAJA

    Spiritualitas remaja, menurut Fowler (1981), berada dalam tahap tiga

    atau synthetic-conventional faith. Dalam tahapan ini yang dimulai pada masa

    remaja, keyakinan remaja bisa menjadi permanen pada masa dewasa jika tidak

    ada tantangan atau hambatan dalam masa remaja. Menurut Fowler (1981) tahapan

    ketiga ini adalah tahapan seorang yang konformis. Remaja menjalani keyakin-

    annya karena ada tuntutan dan penilaian orang lain dan belum memiliki pegangan

    yang kuat sebagai individu yang mandiri yang menjadi identitas dirinya. Dalam

    tahapan ini pandangan interpersonal sangat kuat sekali mengambil peran.

    Pandangan orang lainlah yang menjadi dorongan mereka menjalani keyakinannya,

    khususnya teman sebayanya. Nilai-nilai yang dimiliki teman-temannya sangat

    mengusik remaja untuk memilikinya dan menerapkan nilai-nilai yang dimiliki

    oleh para temannya (Fowler & Dell, 2004). Keadaan ini membuat para remaja

    sangat tergantung kepada orang lain, kepada keyakinan dan prinsip-prinsip yang

    dimiliki dan dijalankan oleh orang lain, terutama teman sebaya. Mereka melaku-

    kan ini sebagai afirmasi identitas mereka (Fowler & Dell, 2004).

    Jika dilihat dari pandangan teori status identitas, maka teori Fowler ini

    masuk dalam status identitas foreclosure karena remaja membuat sebuah komit-

    men untuk menjalankan keyakinannya dikarenakan ada faktor luar, baik oleh

    orangtua atau teman sebaya, tanpa ada sebuah pencarian atau eksplorasi tentang

  • 27

    keyakinan atau spiritualitasnya. Mereka menjalankan keyakinan karena sudah

    menjadi mafhum bahwa remaja harus menjalankannya tanpa harus ada bantahan

    atau sifat kritis. Remaja yang foreclosure memiliki sebuah ideologi tapi tidak

    pernah ada keinginan untuk mengkritisi ideologinya, bahkan tidak sadar akan

    ideologi yang dia miliki.

    Selain itu, Fowler (1981) meyakini bahwa banyak literatur mengenai

    konversi remaja yang mengatakan bahwa dorongan religius remaja adalah untuk

    mengenal Tuhan yang mengetahui, menerima, dan menasbihkan dirinya begitu

    dalam, dan yang menjadi penjamin pasti dirinya dengan pembentukan mitos

    identitas dan keyakinan personal. Dorongan ini juga dapat dikaitkan dengan

    pengalaman seseorang dalam hal perasaan saling terikat dan percaya, positif atau

    negatif, selama berada dalam tahapan keyakinan yang mantap. Transisi menuju

    tahap keempat terjadi ketika ada perkembangan keyakinan atau ada potensi untuk

    menjadi keyakinan yang menetap, yang merupakan sebuah proses sadar dan aktif.

    Fowler (1981) mengatakan bahwa akan terjadi masa transisi ke tahapan keempat

    jika nilai, norma, dan keyakinan remaja mulai tertantang atau terhalangi, atau

    ketika status foreclosure remaja mulai berbenturan atau bertentangan dengan

    pengalaman baru. Seringkali pengalaman berada di luar rumah, baik secara fisik

    atau psikis, atau kedua-duanya, bisa membangkitkan eksplorasi diri, latar

    belakang, dan nilai yang mendorong menuju kepada tahapan transisi (Fowler,

    1981). Sekali lagi merujuk kepada teori status identitas Marcia (1966, 1980),

    proses ini akan menjadi transisi ke arah status moratorium yang terjadi pada

    permulaan eksplorasi personal, spiritual, dan psikologis yang mendalam.

  • 28

    E. TEMUAN TEORITIS DAN EMPIRIS HUBUNGAN IDENTITAS DAN SPIRITUALITAS

    Para pencipta teori perkembangan seperti Erikson (1950), Fowler (1981),

    Lerner dkk. (2003), Lerner & Alberts, dkk. (2005), Marcia (1980); semua

    menyatakan bahwa sangat mungkin pada remaja untuk melakukan eksplorasi dan

    komitmen kepada ideologi dan nilai-nilai seperti spiritualitas. Sebaliknya,

    Helmeniak (1996) menyatakan bahwa spiritualitas tidak akan muncul sampai

    masa dewasa. Selain itu, Lerner, Alberts dkk. (2005), Fowler (1981), Helmeniak

    (1996), serta Wilber (2000) setuju bahwa seperti perkembangan identitas, spiritu-

    alitas adalah perilaku manusia yang sangat jelas keberadaannya.

    Satu cara untuk menghubungkan antara status identitas dan spiritualitas

    adalah mengambil model status identitas Marcia dan mengaplikasikannya ke

    dalam domain spiritualitas. Penelitian sebelumnya yang melakukan ini dalam

    menghubungkan antara status identitas dan domain spiritualitas adalah penelitian

    Griffith dan Griggs (2001) yang menulis artikel teoritis yang berjudul “Religious

    Identity Status as a Model to Understand, Assess, and Interact with Client

    Spirituality”. Kedua peneliti ini mengambil empat kategori identitas status dan

    menerapkan kerangka konseptual yang didefinisikan dengan eksplorasi dan

    komitmen dalam domain perkembangan identitas religius. Keduanya memberi

    istilah model mereka dengan “identitas religius”. Apa yang mereka lakukan bisa

    juga dilakukan pada domain spiritualitas. Griffith dan Griggs (2001) menyatakan

    bahwa orang secara religius diffused tidak melakukan eksplorasi spiritualitas

    mereka dan tidak juga ada usaha untuk melakukannya atau berkomitmen. Status

    identitas religius forclosure adalah orang yang menjalani pengalaman

  • 29

    spiritualitas sebagai konformitas atau sekedar menjalani aturan yang ditetapkan

    oleh agama yang dianutnya agar diterima oleh lingkungannya. Status identitas

    religius moratorium dialami seseorang jika orang itu mulai mempertanyakan

    keyakinan religius mereka. Eksplorasi dalam identitas religius moratorium sangat

    penting dalam membentuk sebuah identitas yang terinternalisasi dan utuh.

    Identitas status religius achievement terjadi jika seseorang melakukan eksplorasi

    nilai dan keyakinan, kemudian nilai-nilai itu merasuk dan menyatu menjadi

    dirinya. Perubahan dari satu identitas ke identitas yang lain tidak linier. Identitas

    diffusion bisa langsung berubah ke achievement atau sebaliknya.

    Penelitian yang selama ini dilakukan dalam psikologi lebih banyak me-

    ngaitkan status identitas dengan religiusitas daripada spiritualitas. Sanders (1998)

    meneliti hubungan antara identitas ego religius dan kematangan kepercayaan

    religius pada 292 mahasiswa Kristen (M=19,8 tahun). Dellas Identity Status

    Inventory-Religious Beliefs (DISI-R) dan the Faith Maturity Scale (FMS)

    digunakan dalam penelitian ini. Hasilnya menunjukkan bahwa orang dengan

    identitas diffusion kurang matang dalam keyakinan religius daripada tiga status

    yang lain. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya tentang status

    identitas. Penelitian ini semuanya pada subyek Kristen yang mungkin berbeda

    pada subyek dengan keyakinan berbeda. Penelitian lainnya dilakukan oleh

    Markstorm-Adams, Hofstra, dan Dougher (1994) yang meneliti apakah ada

    perbedaan identitas antara dua kelompok remaja religius minoritas, dan apakah

    frekuensi kehadiran ke gereja sebagai bukti komitmen identitas. Penelitian ini

    terdiri dari 38 remaja Mormon dan 47 non-Mormon (Katolik dan Protestan) yang

    merupakan siswa SMA. Menurut penelitian ini, demografis religius 90% adalah

  • 30

    Mormon dan sisanya adalah religius kedaerahan yang lain. Dengan demikian

    kereligiusan mereka tidak berdasarkan kepada Katolik dan Protestan. Mereka juga

    menemukan bahwa kehadiran ke gereja bukan merupakan bukti komitmen iden-

    titas mereka. Penelitian terakhir adalah Fulton (1997) yang meneliti hubungan

    antara status identitas, orientasi religius, dan prasangka anti Kulit Hitam dan

    Homoseksual pada 176 orang Kaukasia, lulusan S1 Christian Liberal Arts College

    di California Utara. Penelitian ini menggunakan Extended Objective Measure of

    Ego-Identity Status (EOM-EIS) (Adams dkk. 1989), The Revised Age Universal

    Intrinsic-Extrinsic Measure (Gorsuch & McPherson, 1989). The Quest Scale (Q)

    (McFarland, 1989) dan alat ukur sikap anti-Kulit Hitam dan antihomoseksual.

    Peneliti ini mengajukan empat hipotesis: (a) partisipan dengan identitas achieved

    akan memiliki skor Intrinsic yang tinggi, skor Quest yang rendah, dan skor

    prasangka yang rendah daripada status identitas yang lain, (b) identitas mora-

    torium akan memiliki skor Q yang tinggi, skor I yang rendah, dan skor prasangka

    yang rendah, (c) identitas foreclosure akan memiliki social ekstrinsik (Es) dan

    ekstrinsik personal (Ep) yang tinggi, skor Q yang rendah, dan skor prasangka

    yang tinggi, dan (d) identitas diffusion akan memiliki skor I yang rendah dan skor

    prasangka yang tinggi. Hasilnya hampir semua hipotesis di atas terbukti dalam

    penelitian ini.

    Berdasarkan penelitian di atas, maka selayaknya jika kita bisa mengambil

    kesimpulan untuk melakukan penelitian tentang identitas spiritualitas mahasiswa.

    Menurut penelitian-penelitian tadi, kaitan antara agama dan perkembangan

    identitas telah terbukti, tapi belum ditemukan pengalaman spiritual dengan status

    identitas.

  • 31

    Ada dua pendapat mengenai hubungan antara status identitas dan

    spiritualitas. Pertama, Erikson (1950), Fowler (1981), Lerner dkk. (2003), Lerner,

    Alberts dkk., (2005), dan Marcia (1980) yang berpendapat bahwa ada potensi

    dalam remaja untuk memiliki komitmen dan eksplorasi dalam perkembangan

    spiritualitas mereka. Sebaliknya, Helmeniak (1996) menyatakan bahwa tidak ada

    eksplorasi dan komitmen pada remaja dalam hal spiritualitas. Dia berpendapat

    bahwa pada masa dewasalah mulai berkembang spiritualitas yang sebenarnya.

    Memang pada masa apapun akan berkembang spiritualitas, tapi spiritualitas yang

    sebenar-benarnya berkembang ada pada masa dewasa.

    F. KERANGKA BERPIKIR

    Spiritualitas adalah konsep yang subyektif dalam hal pengalaman dan

    oleh kerena itu sulit untuk dikonsepkan (Reed, 1992). Karena sifatnya yang

    subyektif ini, ada beberapa cara untuk menghubungkan perkembangan identitas

    dengan spiritualitas, yaitu: (a) spiritualitas adalah sikap yang dimiliki pada tahap

    perkembangan manapun (Wilber, 2000), (b) spiritualitas berkembang dengan cara

    yang sama secara kognitif dan emosional (Fowler, 1981), dan (c) spiritualitas

    tidaklah tergantung kepada perkembangan kognitif tapi berhubungan dengannya

    (Fowler, 1981; Wilber, 2000). Tiga peteori ini sepakat bahwa spiritualitas adalah

    perilaku atau nilai manusia yang jelas, yang bisa dimiliki dan bisa berkembang

    sebagai proses antarwaktu seperti identitas. Namun, tiga peteori ini tidak membuat

    pembatasan yang jelas apakah mereka cenderung menilai spiritualitas sebagai

    perilaku atau proses. Faktanya, definisi spuiritualitas masih tetap samar dengan

    deskripsinya baik sebagai perilaku atau proses yang di lain waktu akan meng-

  • 32

    ancam validitas penelitian juga menciptakan kesulitan bagi penemuan validitas

    konstruk. Hasil dari penelitian ini akan menambah pembahasan untuk pencarian

    kejelasan yang lebih jauh. Untuk penelitian ini, hubungan antara identitas dan

    spiritualitas dipahami saling berkaitan (Benson, Roehkepartin, & Rude, 2003) dan

    begitu juga dengan konsep spiritualitas dan religiusitas, saling berkait, tapi tidak

    sampai saling bergantung satu sama lain (Elkins, Hedstrom, Hughes, Leaf, &

    Saunders, 1998).

    Erikson (1959) menyatakan bahwa selama masa remaja wacana pem-

    bentukan identitas adalah proses yang mencakup pembentukan makna yang

    abstrak. Dengan kata lain, proses perkembangan identitas adalah puncak dari

    kemampuan untuk mencari dan menghubungkan zat yang berada di atas diri.

    Lerner, Alberts dkk. (2005) memperluas rumusan teori Erikson bahwa proses ini,

    pembuatan makna abstrak dan pembuatan makna abstrak dan menghubungkan

    dengan zat yang lebih tinggi, pada dasarnya adalah spiritual.

    Sama dengan Erikson (1950, 1959), Fowler (1981) menyatakan bahwa

    teori stataus identitas Marcia (1980) berdasarkan kepada asumsi bahwa remaja

    memiliki potensi untuk berkembang lebih sehat. Menurut Marcia (1980) teori

    status identitas tidak menjelaskan proses linier, tapi sebuah cara untuk meng-

    klasifikasikan remaja perkembangan identitas remaja yang tengah dijalani oleh

    remaja waktu itu dan mungkin akan berubah lagi di waktu lain.

    ������������

  • 33

    BAB III

    METODE PENELITIAN

    A. METODE PENELITIAN

    Pendekatan penelitian ini adalah kuantitatif. Metode yang digunakan

    adalah metode survey dengan desain cross-sectional dan deskriptif dengan tiga

    instrumen kuesioner yaitu 1) kuesioner untuk mengungkap informasi demografis

    dari partisipan, 2) Ego Identity Process Questionnaire (EIPQ, Balistreri dkk.,

    1995), dan 3) Human Spiritual Scale (Wheat, 1991). Desain survey meneliti

    sebuah sampel dari sebuah populasi untuk memperoleh deskripsi kuantitatif

    tentang kecenderungan, sikap, atau opini sebuah populasi. Survey digunakan di

    banyak bidang ilmu, termasuk poendidikan, kesehatan, ekonomi, dan psikologi

    (Fink, 2003). Survey yang baik memiliki enam karakter, tujuan yang bisa dicapai

    dan spesifik, desain penelitian yang jelas, populasi dan sampel yang bisa di-

    jangkau, instrumen yang reliabel dan valid, analisis yang tepat, dan pelaporan

    hasil yang akurat (Fink, 2003).

    Disini, alasan pengambilan metode survey sebagai metode penelitian

    adalah karena dengan survey dapat dilakukan generalisasi pada sebuah populasi

    dengan beradasarkan kepada sampel yang kecil dan dengan cepat dapat mem-

    peroleh data yang besar dan beragam.

    B. SUBYEK PENELITIAN

    Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah mahasiswa UPI dengan

    rentang usia 18 sampai 22 tahun. Setiap fakultas diambil rata-rata 60 mahasiswa.

    Berikut adalah gambaran mahasiswa yang menjadi subyek penelitian.

  • 34

    Tabel 3.1 Daftar Jumlah Subyek di Setiap Fakultas

    Fakultas Subyek

    Ilmu Pendidikan 74 orang

    Pendidikan Ekonomi dan Bisnis 63 orang

    Pendidikan Bahasa dan Seni 67 orang

    Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial 64 orang

    Pendidikan Olahraga dan Kesehatan 60 orang

    Pendidikan Tekonologi dan Kejuruan 70 orang

    Pendidikan Mat. dan Ilmu Pengetahuan Alam 68 orang

    C. WAKTU DAN LOKASI PENELITIAN

    Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni sampai bulan September 2009.

    Lokasi penelitian adalah Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.

    D. INSTRUMEN

    Ada tiga kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu 1) kue-

    sioner untuk mengungkap informasi demografis dari partisipan, 2) Ego Identity

    Process Questionnaire (EIPQ, Balistreri dkk., 1995), yang telah diadaptasi ke

    bahasa Indonesia yang digunakan untuk menentukan status identitas partisipan, 3)

    Human Spiritual Scale (Wheat, 1991) yang juga telah diadaptasi ke bahasa

    Indonesia yang didesain untuk mengukur seberapa tinggi tingkat spiritualitas

    partisipan.

    1. Kuesioner Demografis

    Dalam skala demografis ini mahasiswa ditanya bagaimana sikapnya atau

    seberapa penting berperilaku religius dan spiritual, dan bagaimana mereka menilai

  • 35

    diri mereka sendiri apakah religius atau spiritual dan kedua-duanya sekaligus.

    Selain itu juga diminta informasi tentang jenis kelamin dan usia.

    a. Ego Identity Process Quetionaire

    Skala ini terdiri dari dua subskala yaitu skala eksplorasi dan komitmen.

    Dalam dua skala tersebut akan ditentukan mahasiswa yang memiliki tingkat

    eksplorasi rendah dan tinggi dan komitmen rendah dan tinggi. Skala ini terdiri

    dari 32 item dengan msing-masing 16 item untuk subskala eksplorasi dan komit-

    men. Skala menggunakan skala Likert dengan lima kategori jawaban.

    Skala ini telah melalui analisis item dengan teknik korelasi item-total

    terkoreksi dan analisis reliabilitas dengan metode Alpha. Item-item dalam

    eksplorasi yang layak digunakan adalah 10 item dan demikian juga dengan item-

    item dalam skala komitmen. Selain itu, reliabilitas kedua skala juga diperoleh

    melalui SPSS dengan tingkat reliabilitas yang sedang. Berikut adalah korelasi

    item total 10 item final dan estimasi reliabilitas skala ini:

    1) Analisis Item dan Reliabilitas Skala Eksplorasi

    Tabel 3.2 Analisis Item dan Reliabilitas Skala Eksplorasi

    R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S - S C A L E (A L P H A) Mean Std Dev Cases 1. VAR00001 5.2022 1.3479 465.0 2. VAR00002 3.5892 1.7742 465.0 3. VAR00005 5.0366 .8934 465.0 4. VAR00008 4.1849 1.1672 465.0 5. VAR00009 4.3011 1.0746 465.0 6. VAR00010 4.8538 .8735 465.0 7. VAR00012 4.4323 .9332 465.0 8. VAR00013 3.3806 1.0982 465.0 9. VAR00014 4.5097 1.0131 465.0 10. VAR00016 3.3075 1.5278 465.0

  • 36

    N of Statistics for Mean Variance Std Dev Variables SCALE 42.7978 37.5840 6.1306 10 Item-total Statistics Scale Scale Corrected Mean Variance Item- Alpha if Item if Item Total if Item Deleted Deleted Correlation Deleted VAR00001 37.5957 30.8836 .3260 .6637

    VAR00002 39.2086 28.3249 .3236 .6749

    VAR00005 37.7613 32.5226 .4184 .6517

    VAR00008 38.6129 31.2378 .3820 .6526

    VAR00009 38.4968 32.8281 .2924 .6683

    VAR00010 37.9441 31.6951 .5212 .6381

    VAR00012 38.3656 32.6635 .3796 .6563

    VAR00013 39.4172 32.9764 .2697 .6721

    VAR00014 38.2882 32.3047 .3693 .6565

    VAR00016 39.4903 29.7160 .3322 .6652

    Reliability Coefficients N of Cases = 465.0 N of Items = 10 Alpha = .6830

    Dari sepuluh item yang dipilih jadi item final ada beberapa item yang

    memiliki korelasi item total yang lebih kecil dari 0,3. Item-item itu diambil karena

    jika item tersebut dihapus maka itemnya tidak memadai untuk dipakai mengukur

    eksplorasi. Item-item itu dimsukkan dengan pertimbangan bahwa item-item itu

    tidak begitu jauh dari 0,3. Item-item itu berada diatas 0,25 yang merupakan nilai

    yang bisa diterima jika kondisi mendesak.

    Reliabilitas skala ini sebesar 0,683 yang cukup untuk dikatakan tinggi

    untuk skala yang hanya berisikan 10 item.

  • 37

    2) Analisis Item dan Reliabilitas Skala Komitmen

    Tabel 3.3 Analisis Item dan Reliabilitas Skala Komitmen

    RELIABILITY ANALYSIS - SCALE (ALPHA)

    Mean Std Dev Cases 1. VAR00001 5.0944 .8268 466.0 2. VAR00002 4.3820 1.0716 466.0 3. VAR00003 5.0365 .9116 466.0 4. VAR00005 5.1567 .8596 466.0 5. VAR00006 2.9464 1.2509 466.0 6. VAR00010 4.7511 .9494 466.0 7. VAR00012 3.9528 1.1958 466.0 8. VAR00013 4.1717 1.1624 466.0 9. VAR00015 4.4893 1.1307 466.0 10. VAR00016 3.9206 1.3361 466.0 N of Statistics for Mean Variance Std Dev Variables SCALE 43.9013 29.7795 5.4571 10 Item-total Statistics Scale Scale Corrected Mean Variance Item- Alpha if Item if Item Total if Item Deleted Deleted Correlation Deleted VAR00001 38.8069 25.7863 .3942 .6438

    VAR00002 39.5193 24.9383 .3450 .6484

    VAR00003 38.8648 26.3666 .2758 .6607

    VAR00005 38.7446 26.1389 .3301 .6527

    VAR00006 40.9549 24.9894 .2579 .6682

    VAR00010 39.1502 25.3838 .3653 .6459

    VAR00012 39.9485 24.5092 .3243 .6530

    VAR00013 39.7296 23.3590 .4512 .6260

    VAR00015 39.4120 24.5697 .3507 .6472

    VAR00016 39.9807 23.9072 .3128 .6578

    Reliability Coefficients N of Cases = 466.0 N of Items = 10 Alpha = .6741

    Dari sepuluh item yang dipilih jadi item final ada beberapa item yang

    memiliki korelasi item total yang lebih kecil dari 0,3. Item-item itu diambil karena

    jika item tersebut dihapus maka itemnya tidak memadai untuk dipakai mengukur

    eksplorasi. Item-item itu dimsukkan dengan pertimbangan bahwa item-item itu

    tidak begitu jauh dari 0,3. Item-item itu berada diatas 0,25 yang merupakan nilai

  • 38

    yang bisa diterima jika kondisi mendesak. Reliabilitas skala ini sebesar 0,674

    yang cukup untuk dikatakan tinggi untuk skala yang hanya berisikan 10 item.

    Berdasarkan tingkat eksplorasi dan komitmen akan ditentukan status

    identitas mereka dengan skema kuadran sebagai berikut:

    Gambar 3.1 Kuadran Status Identitas

    Penentuan tingkat atau norma penyekoran eksplorasi sebagai berikut:

    Tabel 3.4 Norma Skor Eksplorasi

    Kategori Skoring

    Tinggi > =M 43>

    Rendah ≤ =M 43≤

    Sedangkan, penentuan tingkat atau norma penyekoran komitmen adalah sebagai

    berikut:

    Tabel 3.5 Norma Skor Komitmen

    Kategori Skoring

    Tinggi > =M 44>

    Rendah ≤ =M 44≤

  • 39

    b. Human Spiritual Scale

    Skala ini terdiri dari 16 item pernyataan dalam bentuk skala Likert yang

    terdiri dari lima kategori jawaban. Skor skala ini adalah skor total dari 16 item

    yang direspons oleh responden. Skala ini memiliki reliabilitas yang tinggi. Berikut

    adalah tabel reliabilitas skala Human Spiritual Scale.

    1) Analisis Item dan Reliabilitas Human Spiritual Scale

    Tabel 3.6 Analisis Item dan Reliabilitas Human Spiritual Scale

    R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S - S C A L E (A L P H A) Mean Std Dev Cases 1. VAR00002 2.2500 1.2634 464.0 2. VAR00003 3.4009 .9742 464.0 3. VAR00005 4.5625 .6063 464.0 4. VAR00006 4.2823 .7465 464.0 5. VAR00007 4.4375 .6134 464.0 6. VAR00008 3.9461 .7909 464.0 7. VAR00009 3.4698 .8664 464.0 8. VAR00010 4.3815 .6854 464.0 9. VAR00011 4.4784 .6436 464.0 10. VAR00012 4.1918 .6923 464.0 11. VAR00014 4.1207 .7569 464.0 12. VAR00015 3.1983 .9612 464.0 13. VAR00017 3.6573 .7948 464.0 14. VAR00018 3.9763 .7647 464.0 15. VAR00019 4.2198 .7253 464.0 16. VAR00020 3.6961 .8795 464.0 N of Statistics for Mean Variance Std Dev Variables SCALE 62.2694 41.4499 6.4382 16 Item-total Statistics Scale Scale Corrected Mean Variance Item- Alpha if Item if Item Total if Item Deleted Deleted Correlation Deleted VAR00002 60.0194 35.3538 .2995 .7986 VAR00003 58.8685 35.8164 .4017 .7828 VAR00005 57.7069 38.8642 .2934 .7894 VAR00006 57.9871 37.4296 .3791 .7840

  • 40

    VAR00007 57.8319 37.9069 .4193 .7825 VAR00008 58.3233 36.3532 .4688 .7775 VAR00009 58.7996 36.5278 .3983 .7826 VAR00010 57.8879 36.7347 .5110 .7760 VAR00011 57.7909 37.2931 .4761 .7788 VAR00012 58.0776 37.4324 .4177 .7818 VAR00014 58.1487 37.6215 .3506 .7859 VAR00015 59.0711 36.5068 .3460 .7875 VAR00017 58.6121 37.5425 .3363 .7870 VAR00018 58.2931 36.1990 .5071 .7750 VAR00019 58.0496 37.2956 .4096 .7821 VAR00020 58.5733 36.0205 .4410 .7792 RELIABILITY ANALYSIS - SCALE (ALPHA) Reliability Coefficients N of Cases = 464.0 N of Items = 16 Alpha = .7939

    Penentuan tingkat atau norma penyekoran spiritualitas adalah sebagai

    berikut:

    Tabel 3.7 Dasar Norma Skor Spiritualitas

    Kategori Dasar Skoring

    Tinggi 1+ ×

  • 41

    Dengan batasan itu maka akan diperoleh kategori skor sebagai berikut:

    Tabel 3.8 Norma Skor Spiritualitas

    Kategori Dasar Skoring

    Tinggi 69>

    Sedang 58 69−

    Rendah 57≤

    E. ANALISIS DATA

    Ada beberapa analisis yang digunakan dalam penelitian ini:

    1) Analisis deskriptif, yaitu menggambarkan dengan tabel frekuensi-

    frekuensi, rata-rata, deviasi standar, yang berkaitan dengan data dalam beberapa

    kelompok. Kelompok yang akan dideskripsikan adalah deskripsi tingkat univer-

    sitas, fakultas dan setiap status identitas.

    2) Uji korelasi, yaitu korelasi antara status identitas dan tingkat

    spiritualitas. Statistik yang digunakan dalam uji korelasi ini adalah korelasi

    kontingensi, karena dua variabel (status identitas) memiliki level pengukuran

    nominal. Level pengukuran dua variabel itu nominal karena responden

    dikelompokkan dalam empat kelompok status identitas dan tiga kelompok tingkat

    spiritualitas.

    3) Melakukan uji beda tingkat spiritualitas untuk antar status identitas,

    jenis kelamin, usia, dan perasaan akan pentingnya religius dan spiritualitas.

    Analisis ini akan menggunakan ujit t dan analysis of variance (ANOVA).

  • 42

    4) Analisis demografis. Analisis menggambarkan bagiamana kaitan

    antara karakteristik demografis subyek berkaitan dengan variable eksplorasi,

    komitmen, dan spiritualitas. Variabel demografis diantaranya usia, jenis kelamin,

    perasaan pentingnya religiusitas, perasaan pentingnya spiritualitas, dan penilaian

    diri apakah sebagai orang yang religius atau spiritualitas.

    ������������

  • 43

    BAB IV

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    A. GAMBARAN DEKSRIPTIF UNIVERSITAS DAN FAKULTAS

    1. Universitas Pendidikan Indonesia

    Tabel 4.1 Statistik Deksriptif Eksplorasi, Komitmen, dan Spiritualitas Mahasiswa UPI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

    EKSPLORASI KOMITMEN SPIRITUALITAS

    Mean 42.7918 43.9013 62.8090

    N 466 466 466

    Std. Deviation

    6.12536 5.45706 6.38041

    Minimum 23.00 21.00 43.00

    Maximum 60.00 59.00 80.00

    Variance 37.520 29.779 40.710

    Range 37 38 37

    a. Eksplorasi

    Rata-rata eksplorasi mahasiswa UPI sebesar 42,79 dengan skor paling

    rendah sebesar 23 dan skor paling tinggi sebesar 60. Skor terendah yaitu 23 berarti

    memililiki rata-rata skor item sebesar 2,3 dan skor ini jauh lebih tinggi dari skor

    teoritis paling rendah yaitu 10. Skor tertinggi memiliki rata-rata skor item sebesar

    6 atau skor paling maksimal yang bisa dicapai dalam skala eksplorasi yang jumlah

    itemnya sebanyak 10 item dengan opsi jawaban sebanyak 6 dengan rentang skor 1

    sampai 6.

    b. Komitmen

    Rata-rata komitmen mahasiswa UPI sebesar 42,79 dengan skor paling

    rendah sebesar 21 dan skor paling tinggi sebesar 59. Skor terendah yaitu 21 berarti

  • 44

    memililiki rata-rata skor item sebesar 2,1 dan skor ini jauh lebih tinggi dari skor

    teoritis paling rendah yaitu 10. Skor tertinggi memiliki rata-rata skor item sebesar

    5,9 atau hanya berbeda 0,01 dengan skor paling maksimal yang bisa dicapai

    dalam skala komitmen yang jumlah itemnya sebanyak 10 item dengan opsi

    jawaban sebanyak 6 dengan rentang skor 1 sampai 6.

    c. Spiritualitas

    Rata-rata spiritualitas mahasiswa UPI sebesar 62,81 dengan skor paling

    rendah sebesar 43 dan skor paling tinggi sebesar 80. Skor terendah yaitu 43

    memiliki rata-rata skor item sebesar 2,6 dan skor ini jauh lebih tinggi dari skor

    teoritis paling rendah yaitu 16. Skor tertinggi memiliki rata-rata skor item sebesar

    5 atau berbeda 1 skor dengan rata-rata skor paling maksimal yang bisa dicapai

    dalam skala spiritualitas yang jumlah itemnya sebanyak 16 item dengan opsi

    jawaban sebanyak 6 dengan rentang skor 1 sampai 6.

    Tabel 4.2 Frekuensi Tingkat Spiritualitas Mahasiswa UPI

    99 21.2 21.2 21.2

    294 63.1 63.1 84.3

    73 15.7 15.7 100.0

    466 100.0 100.0

    Rendah

    Sedang

    Tinggi

    Total

    ValidFrequency Percent Valid Percent

    CumulativePercent

    Sebagian besar mahasiswa UPI tingkat spiritualitasnya sedang, yaitu

    sebesar 63 persen. Sebagian lain mereka memiliki tingkat spiritualitas rendah

    yaitu sebesar 21,2 persen yang sedikit lebih banyak dari tingkat spiritualitas tinggi

    yang sebesar 15,7 persen. Bahkan diantara mereka yang memiliki spiritualitas

    tinggi ada yang memiliki skor sempurna yaitu 80.

  • 45

    d. Status Identitas

    Tabel 4.3 Status Identitas Mahasiswa UPI

    111 23.8 23.8 23.8

    156 33.5 33.5 57.3

    100 21.5 21.5 78.8

    99 21.2 21.2 100.0

    466 100.0 100.0

    Achievement

    Diffusion

    Foreclosure

    Moratorium

    Total

    ValidFrequency Percent Valid Percent

    CumulativePercent

    Dari 466 mahasiswa yang menjadi sampel dalam penelitian ini, paling

    banyak status identitas mereka adalah diffusion, yaitu sebanyak 156 mahasiswa

    atau sebesar 33,5 persen. Jumlah mahasiswa yang masuk ke status identitas

    achievement sebanyak 111 mahasiswa atau sebesar 23,8 persen atau yang

    terbanyak kedua setelah diffusion. Selanjutnya, status identitas foreclosure

    sebanyak 100 mahasiswa atau sebesar 21,5 persen atau terbanyak ketiga dan ter-

    banyak terakhir adalah status identitas moratorium, yaitu sebanyak 99 mahasiswa

    atau 21,2 persen.

    2. Fakultas Ilmu Pendidikan

    Tabel 4.4 Statistik Deksriptif Eksplorasi, Komitmen, dan Spiritualitas Mahasiswa UPI

    Fakultas Ilmu Pendidikan FAKULTAS

    ILMU PENDIDIKAN

    EKSPLORASI KOMITMEN SPIRITUALITAS

    Mean 44.0000 42.6892 63.2027

    N 74 74 74

    Std. Deviation 5.56899 4.95991 6.64559

    Minimum 24.00 30.00 43.00

    Maximum 58.00 54.00 79.00

    Variance 31.014 24.601 44.164

  • 46

    a. Eksplorasi

    Rata-rata eksplorasi mahasiswa UPI Fakultas Ilmu Pendidikan sebesar

    44,00 dengan skor paling rendah sebesar 24 dan skor paling tinggi sebesar 58.

    Rata-rata skor ini lebih besar dua angka daripada rata-rata skor mahasiswa UPI.

    Skor terendahnya berbeda 1 angka lebih besar dengan skor UPI, sementara itu

    skor tertingginya berbeda 2 angka lebih rendah dari skor yang diperoleh maha-

    siswa UPI.

    b. Komitmen

    Rata-rata skor komitmen mahasiswa UPI Fakultas Ilmu Pendidikan

    sebesar 42,69 dengan skor paling rendah sebesar 30 dan skor paling tinggi sebesar

    54. Rata-rata skor ini lebih kecil 1,3 dari rata-rata skor mahasiswa UPI. Skor

    terendahnya sembilan angka lebih besar dari skor UPI, sementara itu skor

    tertingginya lebih kecil enam angka dari skor yang diperoleh mahasiswa UPI.

    c. Spiritualitas

    Rata-rata skor spiritualitas mahasiswa UPI Fakultas Ilmu Pendidikan

    sebesar 63,20 dengan skor paling rendah sebesar 43 dan skor paling tinggi sebesar

    79. Rata-rata skor ini lebih besar 0,4 dari rata-rata skor mahasiswa UPI. Skor

    terendahnya sama besarnya dengan skor UPI, sementara itu skor tertingginya

    lebih kecil satu angka dari skor yang diperoleh mahasiswa UPI.

  • 47

    d. Status Identitas

    Tabel 4.5 Status Identitas Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan

    27 36.5 36.5 36.5

    19 25.7 25.7 62.2

    13 17.6 17.6 79.7

    15 20.3 20.3 100.0

    74 100.0 100.0

    Achievement

    Diffusion

    Foreclosure

    Moratorium

    Total

    ValidFrequency Percent Valid Percent

    CumulativePercent

    Dari 74 mahasiswa yang menjadi sampel dari Fakultas Ilmu Pendidikan,

    paling banyak status identitas mereka adalah achievement, yaitu sebanyak 27

    mahasiswa atau sebesar 36,5 persen. Jumlah mahasiswa yang masuk ke status

    identitas diffusion sebanyak 19 mahasiswa atau sebesar 25,7 persen atau yang

    terbanyak kedua setelah achievement. Selanjutnya, status identitas foreclosure

    sebanyak 13 mahasiswa atau sebesar 17,6 persen atau terbanyak keempat dan

    terbanyak ketiga adalah status identitas moratorium, yaitu sebanyak 15 mahasiswa

    atau 20,3 persen.

    3. Fakultas Pendidikan Mat. dan Ilmu Pengetahuan Alam

    Tabel 4.6 Statistik Deksriptif Eksplorasi, Komitmen, dan Spiritualitas Mahasiswa UPI

    Fakultas Pendidikan Mat. dan Ilmu Pengetahuan Alam

    FAKULTAS

    PENDIDIKAN MAT.

    DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

    EKSPLORASI KOMITMEN SPIRITUALITAS

    Mean 42.8088 43.6618 62.9706

    N 68 68 68

    Std. Deviation 4.68805 5.60546 6.66461

    Minimum 31.00 27.00 48.00

    Maximum 56.00 54.00 77.00

    Variance 21.978 31.421 44.417

  • 48

    a. Eksplorasi

    Rata-rata eksplorasi mahasiswa UPI Fakultas Pendidikan Mat. dan Ilmu

    Pengetahuan Alam sebesar 42,81 dengan skor paling rendah sebesar 31 dan skor

    paling tinggi sebesar 56. Rata-rata skor ini lebih tinggi 0,01 dari rata-rata skor

    mahasiswa UPI. Skor terendahnya lebih tinggi delapan angaka dari skor terendah

    UPI, sementara itu skor tertingginya berbeda empat angka lebih rendah dari skor

    yang diperoleh mahasiswa UPI.

    b. Komitmen

    Rata-rata skor komitmen mahasiswa UPI Fakultas Pendidikan Mat. dan

    Ilmu Pengetahuan Alam sebesar 43,66 dengan skor paling rendah sebesar 27 dan

    skor paling tinggi sebesar 54. Rata-rata skor ini lebih kecil 0,3 dari rata-rata skor

    mahasiswa UPI. Skor terendahnya enam angka lebih besar dari skor UPI,

    sementara itu skor tertingginya lebih kecil lima angka dari skor yang diperoleh

    mahasiswa UPI.

    c. Spiritualitas

    Rata-rata skor spiritualitas mahasiswa UPI Fakultas Pendidikan Mat. dan

    Ilmu Pengetahuan Alam sebesar 62,97 dengan skor paling rendah sebesar 48 dan

    skor paling tinggi sebesar 77. Rata-rata skor ini lebih tinggi 0,17 dari rata-rata

    skor mahasiswa UPI. Skor terendahnya lima angka lebih besar dari skor UPI,

    sementara itu skor tertingginya lebih kecil tiga angka dari skor yang diperoleh

    mahasiswa UPI.

  • 49

    d. Status Identitas

    Tabel 4.7 Status Identitas Mahasiswa

    Fakultas Pendidikan Mat. dan Ilmu Pengetahuan Alam

    14 20.6 20.6 20.6

    26 38.2 38.2 58.8

    16 23.5 23.5 82.4

    12 17.6 17.6 100.0

    68 100.0 100.0

    Achievement

    Diffusion

    Foreclosure

    Moratorium

    Total

    ValidFrequency Percent Valid Percent

    CumulativePercent

    Dari 68 mahasiswa yang menjadi sampel dari Fakultas Pendidikan Mat.

    dan Ilmu Pengetahuan Alam, paling banyak status identitas mereka adalah

    diffusion, yaitu sebanyak 26 mahasiswa atau sebesar 38,2 persen. Jumlah maha-

    siswa yang masuk ke status identitas achievement sebanyak 14 mahasiswa atau

    sebesar 20,6 persen atau yang terbanyak ketiga setelah diffusion. Selanjutnya,

    status identitas foreclosure sebanyak 16 mahasiswa atau sebesar 23,5 persen atau

    terbanyak kedua dan yang paling sedikit adalah status identitas moratorium, yaitu

    sebanyak 12 mahasiswa atau 17,6 persen.

    4. Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis

    Tabel 4.8 Statistik Deksriptif Eksplorasi, Komitmen, dan Spiritualitas Mahasiswa UPI

    Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis

    FAKULTAS

    PENDIDIKAN

    EKONOMI DAN BISNIS

    EKSPLORASI KOMITMEN SPIRITUALITAS

    Mean 40.5397 42.9683 60.9683

    N 63 63 63

    Std. Deviation 6.98345 5.09892 5.29445

    Minimum 24.00 31.00 52.00

    Maximum 56.00 59.00 75.00

    Variance 48.769 25.999 28.031

  • 50

    a. Eksplorasi

    Rata-rata eksplorasi mahasiswa UPI Fakultas Pendidikan Ekonomi dan

    Bisnis sebesar 40,54 dengan skor paling rendah sebesar 24 dan skor paling tinggi

    sebesar 56. Rata-rata skor ini lebih rendah 2,25 dari rata-rata skor mahasiswa UPI.

    Skor terendahnya lebih tinggi satu angka dari skor terendah UPI, sementara itu

    skor tertingginya sama dengan skor yang diperoleh mahasiswa UPI.

    b. Komitmen

    Rata-rata skor komitmen mahasiswa UPI Fakultas Pendidikan Ekonomi

    dan Bisnis sebesar 42,97 dengan skor paling rendah sebesar 31 dan skor paling

    tinggi sebesar 59. Rata-rata skor ini lebih kecil 0,93 dari rata-rata skor mahasiswa

    UPI. Skor terendahnya sepuluh angka lebih besar dari skor UPI, sementara itu

    skor tertingginya lebih kecil satu angka dari skor yang diperoleh mahasiswa UPI.

    c. Spiritualitas

    Rata-rata skor spiritualitas mahasiswa UPI Fakultas Pendidikan

    Ekonomi dan Bisnis sebesar 60,97 dengan skor paling rendah sebesar 52 dan skor

    paling tinggi sebesar 75. Rata-rata skor ini lebih rendah 1,83 dari rata-rata skor

    mahasiswa UPI. Skor terendahnya sembilan angka lebih besar dari skor UPI,

    sementara itu skor tertingginya lebih kecil lima angka dari skor yang diperoleh

    mahasiswa UPI.

  • 51

    d. Status Identitas

    Tabel 4.9 Status Identitas Mahasiswa

    Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis

    9 14.3 14.3 14.336 57.1 57.1 71.4

    7 11.1 11.1 82.511 17.5 17.5 100.063 100.0 100.0

    AchievementDiffusionForeclosureMoratoriumTotal

    ValidFrequency Percent

    ValidPercent

    CumulativePercent

    Dari 63 mahasiswa yang menjadi sampel dari Fakultas Pendidikan

    Ekonomi dan Bisnis, paling banyak status identitas mereka adalah diffusion, yaitu

    sebanyak 36 mahasiswa atau sebesar 57,1 persen. Jumlah mahasiswa yang masuk

    ke status identitas achievement sebanyak 9 mahasiswa atau sebesar 14,3 persen

    atau yang terbanyak ketiga setelah diffusion dan moratorium. Selanjutnya, status

    identitas foreclosure sebanyak 7 mahasiswa atau sebesar 11,1 persen atau yang

    paling sedikit dan yang terbanyak ketiga adalah status identitas moratorium, yaitu

    sebanyak 11 mahasiswa atau 17,5 persen.

    5. Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

    Tabel 4.10 Statistik Deksriptif Eksplorasi, Komitmen, dan Spiritualitas Mahasiswa UPI

    Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

    FAKULTAS

    PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

    EKSPLORASI KOMITMEN SPIRITUALITAS

    Mean 43.0625 44.7969 62.9688

    N 64 64 64

    Std. Deviation 5.57168 5.13988 6.46595

    Minimum 30.00 34.00 47.00

    Maximum 55.00 57.00 77.00

    Variance 31.044 26.418 41.809

  • 52

    a. Eksplorasi

    Rata-rata eksplorasi mahasiswa UPI Fakultas Pendidikan Ilmu Penge-

    tahuan Sosial sebesar 43,06 dengan skor paling rendah sebesar 30 dan skor paling

    tinggi sebesar 55. Rata-rata skor ini lebih tinggi 0,27 dari rata-rata skor mahasiswa

    UPI. Skor terendahnya lebih tinggi tujuh angka dari skor terendah UPI, sementara

    itu skor tertingginya lebih rendah tiga angka dari skor yang diperoleh mahasiswa

    UPI.

    b. Komitmen

    Rata-rata skor komitmen mahasiswa UPI Fakultas Pendidikan Ilmu

    Pengetahuan Sosial sebesar 44,79 dengan skor paling rendah sebesar 34 dan skor

    paling tinggi sebesar 57. Rata-rata skor ini lebih tinggi 0,89 dari rata-rata skor

    mahasiswa UPI. Skor terendahnya 13 angka lebih besar dari skor UPI, sementara

    itu skor tertingginya lebih kecil tiga angka dari skor yang diperoleh mahasiswa

    UPI.

    c. Spiritualitas

    Rata-rata skor spiritualitas mahasiswa UPI Fakultas Pendidikan Ilmu

    Pengetahuan Sosial sebesar 62,97 dengan skor paling rendah sebesar 47 dan skor

    paling tinggi sebesar 77. Rata-rata skor ini lebih tinggi 0,17 dari rata-rata skor

    mahasiswa UPI. Skor terendahnya empat angka lebih besar dari skor UPI,

    sementara itu skor tertingginya lebih kecil tiga angka dari skor UPI.

  • 53

    d. Status Identitas

    Tabel 4.11 Status Identitas Mahasiswa

    Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

    22 34.4 34.4 34.4

    20 31.3 31.3 65.6

    12 18.8 18.8 84.4

    10 15.6 15.6 100.0

    64 100.0 100.0

    Achievement

    Diffusion

    Foreclosure

    Moratorium

    Total

    ValidFrequency Percent Valid Percent

    CumulativePercent

    Dari 64 mahasiswa yang menjadi sampel dari Fakultas Pendidikan Ilmu

    Pengetahuan Sosial, paling banyak status identitas mereka adalah achievement,

    yaitu sebanyak 22 mahasiswa atau sebesar 34,4 persen. Jumlah mahasiswa yang

    masuk ke status identitas diffusion sebanyak 20 mahasiswa atau sebesar 31,3

    persen atau yang terbanyak kedua setelah achievement. Selanjutnya, status

    identitas foreclosure sebanyak 12 mahasiswa atau sebesar 18,8 persen atau yang

    terbanyak ketiga, dan yang paling sedikit adalah status identitas moratorium, yaitu

    sebanyak 10 mahasiswa atau 15,6 persen.

    6. Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan

    Tabel 4.12 Statistik Deksriptif Eksplorasi, Komitmen, dan Spiritualitas Mahasiswa UPI

    Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan

    FAKULTAS PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN

    EKSPLORASI KOMITMEN SPIRITUALITAS

    Mean 42.7333 46.0833 63.5500

    N 60 60 60

    Std. Deviation 5.04511 6.61352 6.42143

    Minimum 25.00 21.00 50.00

    Maximum 55.00 59.00 80.00

    Variance 25.453 43.739 41.235

  • 54

    a. Eksplorasi

    Rata-rata eksplorasi mahasiswa UPI Fakultas Pendidikan Olahraga dan

    Kesehatan sebesar 42,73 dengan skor paling rendah sebesar 25 dan skor paling

    tinggi sebesar 55. Rata-rata skor ini lebih rendah 0,06 dari rata-rata skor

    mahasiswa UPI. Skor terendahnya lebih tinggi dua angka dari skor terendah UPI,

    sementara itu skor tertingginya sama dengan skor tertinggi yang diperoleh

    mahasiswa UPI.

    b. Komitmen

    Rata-rata skor komitmen mahasiswa UPI Fakultas Pendidikan Olahraga

    dan Kesehatan sebesar 46,08 dengan skor paling rendah sebesar 21 dan skor

    paling tinggi sebesar 59. Rata-rata skor ini lebih tinggi 2,1 dari rata-rata skor

    mahasiswa UPI. Skor terendahnya sama dengan dari skor terendah UPI, semen-

    tara itu skor tertingginya sama dengan skor yang diperoleh mahasiswa UPI.

    c. Spiritualitas

    Rata-rata skor spiritualitas mahasiswa UPI Fakultas Pendidikan Olah-

    raga dan Kesehatan sebesar 63,55 dengan skor paling rendah sebesar 50 dan skor

    paling tinggi sebesar 80. Rata-rata skor ini lebih tinggi 0,75 dari rata-rata skor

    mahasiswa UPI. Skor terendahnya tujuh angka lebih besar dari skor terendah UPI,

    sementara itu skor tertingginya sama dengan skor tertinggi UPI.

  • 55

    d. Status Identitas

    Tabel 4.13 Status Identitas Mahasiswa

    Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan

    15 23.8 23.8 23.8

    15 23.8 23.8 47.6

    21 33.3 33.3 81.0

    12 19.0 19.0 100.0

    63 100.0 100.0

    Achievement

    Diffusion

    Foreclosure

    Moratorium

    Total

    ValidFrequency Percent Valid Percent

    CumulativePercent

    Dari 63 mahasiswa yang menjadi sampel dari Fakultas Pendidikan

    Olahraga dan Kesehatan, paling banyak status identitas mereka adalah fore-

    closure, yaitu sebanyak 21 mahasiswa atau sebesar 33,3 persen. Jumlah maha-

    siswa yang masuk ke status identitas diffusion dan achievement sebanyak 15

    mahasiswa atau sebesar 23,8 persen atau yang terbanyak kedua setelah

    foreclosure. Selanjutnya, status identitas yang paling sedikit adalah status identitas

    moratorium, yaitu sebanyak 12 mahasiswa atau sebesar 19 persen.

    B. PERBANDINGAN EKSPLORASI, KOMITMEN DAN SPIRITUALITAS ANTAR FAKULTAS

    1. Analisis Varians Eksplorasi antar Fakultas

    Dalam uji beda ini diajukan hipotesis sebagai berikut:

    H0: Tidak ada perbedaan eksplorasi yang signifikan antar mahasiswa di faklutas-fakultas UPI.

    H0 : µ1 ≠ µ2 = µ3 = µ4 = µ5 = µ6

    Uji hipotesis:

    H0 ditolak jika nilai probabilitas ≤ 0,05.

    H0 diterima jika nilai probabilitas > 0,